Anak Agresif, Normalkah?


source : cyberjob.cbn.net.id
Mother And Baby

Si kecil sangat agresif. Kerap memukul atau menendang teman, teriak-teriak sampai melempar-lempar benda. Normalkah agresivitas seperti itu?

Nico melotot pada kakaknya, Deni. Serta merta tangannya terjulur dan memegang leher Deni.
“Eh, eh, eh, kenapa ini?” teriak sang ayah sembari mendekati keduanya.
“Deni nggak mau ngasih mainannya, sih! Hayo, kasihin nggak?” mata bulat Nico masih melotot.
“Ini kan punya Deni, huhuhu….”

Thomas geleng-geleng kepala. Dua jagoannya selalu saja ribut. Terutama Nico. Bisa dibilang si adik lah yang selalu tak mau kalah, tak segan-segan merebut atau memukul kakaknya. Pada teman-temannya pun demikian. Nico cenderung agresif dan menguasai. Thomas dan Nina, istrinya, sering khawatir dengan keagresifan putranya.

Bu, Pak, si kecil bertingkah agresif sebenarnya wajar-wajar saja. Banyak anak, terutama laki-laki, cenderung agresif, secara refleks memukul atau menendang temannya bila ia tak menyukai sesuatu. Atau berteriak dan melempar-lemparkan benda-benda saat ia tengah marah. Dan menurut pakar, kelakuan agresif merupakan salah satu ciri anak usia balita.

Dalam buku What to Expect the Toddler Years karya Einsenberg, Murkoff & Hathaway, dijelaskan, banyak perilaku agresif anak usia ini berhubungan dengan frustrasi. Frustrasi karena tak diperhatikan orangtua, frustrasi karena keinginannya tak dipenuhi, frustrasi karena ia tak bisa melakukan keterampilan yang seharusnya ia kuasai.

Pengaruh Internal

Ada beberapa pendapat tentang penyebab timbulnya agresivitas ini, yang semuanya bermuara pada rasa frustrasi. Namun ada satu hal yang disetujui Eisenberg dkk., bahwa sebagian besar faktor penyebab anak bersikap agresif karena pengaruh orangtua. Dr. Seto Mulyadi, psikolog dan pengamat anak juga mensinyalir demikian, perilaku agresif anak bisa diperoleh dari berbagai sumber, dan salah satunya dari orangtua.
Contoh yang mudah, si kecil sering dinakali kawannya dan hampir selalu menangis setelahnya. Adakalanya orangtua menyarankan anak, “Jangan menangis dong. Kamu harus berani. Sesekali boleh dibalas, bla-bla-bla….” Saran tersebut secara tak sadar mengarahkan anak untuk bertindak agresif.

Perilaku yang menggambarkan agresivitas juga adakalanya ditampilkan keluarga. Ayah pada ibu, ibu pada ayah, orangtua pada pembantu rumah tangga atau pada anggota keluarga lainnya. Contoh perilaku seperti itu membuat anak yang masih dalam masa imitasi (meniru) segera belajar bahwa itu adalah cara terbaik untuk mendapatkan apa yang diinginkan

Tak Dapat Ditoleransi bila…

Agresivitas di satu sisi menunjukkan bahwa si upik dan buyung kita berani, mau bertindak lebih dahulu, mau menunjukkan keinginannya, akan tetapi di sisi lain bisa dianggap over dan tak dapat ditoleransi.
Agresivitas anak harus Anda atasi segera bila ia mulai suka memukul adik, kakak, teman atau siapa saja untuk merespons ketaksukaannya; cenderung merebut benda bukan miliknya sendiri secara paksa; mau menang sendiri; tak suka jika ditegur, dengan cara marah-marah atau memukul yang menegurnya; melempar-lempar benda untuk menunjukkan kekesalannya, dsb.

Bu, Pak, seorang anak yang secara terus-menerus berkeinginan untuk menyakiti orang lain, dari segi fisik maupun emosional, perlu diajak untuk santai dan Anda pun perlu mengambil langkah-langkah tertentu:

1. Pada usia 5-6 tahun, si kecil sudah cukup umur untuk mengerti perkataan bila Anda berkata, “Jika kamu terus memukuli temanmu, tentu teman-temanmu tidak akan mau mengundangmu saat mereka membuat pesta ulang tahun.”

2. Ajarkan padanya cara yang bisa dilakukan untuk melampiaskan keagresifannya. Kegiatan menggambar atau menempel adalah hal yang paling efektif dalam meredam keagresifannya. Kegiatan lain bisa juga berupa aktivitas fisik, seperti mengajaknya joging, bermain bola, bertinju atau melompat-lompat.

3. Tak ada salahnya kok, bila si kecil marah. Jangan menjadi geram bila Anda melihat si kecil tengah marah-marah. Sebaliknya, bantulah ia melepaskan amarahnya tanpa harus menyakiti orang lain.

4. Jangan-jangan Anda terlalu keras. Disiplin yang terlalu berlebihan bisa membuat anak merasa frustrasi. Kendurkan sedikit agar si kecil merasa lebih rileks.

5. Atau, Anda kurang memperhatikannya? Mulailah sejak sekarang untuk memberi perhatian dan merespons semua perilaku positif anak.

6. Atau, Anda berdua tak konsisten dalam mendidik anak? Ayah bilang A, Ibu B, akibatnya si kecil tak punya pegangan dan mau nyelonong semaunya sendiri. Jika ya, segera komunikasikan untuk satu kata dalam menerapkan disiplin pada si kecil.

7. Perlu hukuman. Jika agresivitasnya masih tinggi, hukuman menjadi penting. Asal, Anda menerapkannya dengan konsisten dan tak membahayakan anak. b Rahmi Hastari

Sumber: Tabloid Ibu Ana

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s