Setelah Punya Adik,Kok, Rewel dan Seperti Bayi Lagi!


SUMBER : cyberjob.cbn.net.id

Mother And Baby

Kemarin-kemarin si batita sudah pintar, deh. Sejak punya adik, kok, jadi seperti bayi lagi?

Kelakuan Gilang (2 tahun 6 bulan) belakangan ini membingungkan kedua orangtuanya. Habis, Si Kakak yang kemarin-kemarin sudah pintar dan banyak capaiannya, sekarang kok bertingkah mirip adik bayinya (9 bulan)? Misal, kalau mengambil sesuatu bukannya berjalan, malah merangkak. Bicaranya jadi ‘bubbling’ lagi. Kalau mau apa-apa pakai acara menangis dulu. Dan manjanya minta ampun. Ke mana-mana maunya digendong. Bukan cuma itu. Capaian-capaian yang menunjukkan kecerdasan si batita juga bak hilang tertiup angin. Gilang sekarang malas berhitung lagi atau meneriakkan alfabet seperti kebiasaannya kemarin. Selain kecewa, ayah-ibunya pun jadi kerepotan karena seperti mengurus dua ‘bayi’ kembar.

Menjadi kakak ternyata bukan hal mudah bagi batita. Menurut psikolog pendidikan anak Dra. Miranda D.Z., M.Psi., ada beban psikologis yang harus ditanggung batita saat dia menyadari dirinya tak lagi sendiri. “Dan tidak setiap batita siap menjadi kakak. Ketidaksiapan ini diperlihatkan batita melalui kemunduran sikap dan perilaku. Misal, bila awalnya sangat mandiri, tiba-tiba dia menjadi sangat tergantung pada orangtua,” ungkap Miranda.

Protes

Jangan dulu cemas mengira batita yang sudah pintar betul-betul ‘mentah’ kembali. Besar kemungkinan kemunduran sikapnya hanya sementara sebagai wujud protes pada ayah-ibu. Protes? Benar, adakalanya batita berharap dengan menunjukkan sikap seperti bayi (baca: seperti adik) orangtua akan lebih memahami bahwa ia membutuhkan perhatian yang mungkin selama ini tersita oleh adik.
Miranda melanjutkan, kemunduran sikap juga bisa merupakan cara kakak batita mengungkapkan keinginan. “Umumnya kakak yang masih batita merasa dengan sedikit manja atau rewel, keinginannya akan lebih mudah terpenuhi dan lebih mudah menarik perhatian orangtua,” jelasnya.

Keadaan ini memang cukup merepotkan. Tapi Miranda menyarankan orangtua tidak perlu khawatir karena perilaku kakak akan berubah saat dia memasuki usia 4 tahun. Di usia ini si kakak mulai mengenal lingkungan lebih luas. Umumnya dia mulai bersekolah sehingga mempunyai kesempatan berbagi dengan teman-teman yang memiliki pengalaman sama.

Tapi jika rasanya terlalu lama menunggu hingga batita berusia 4 tahun, ayah-ibu bisa kok, membantu batita menjadi dirinya sendiri sekarang juga, yaitu dengan menciptakan lingkungan tumbuh kembang yang suportif. Caranya, menjadi orangtua yang lebih positif, memberi kakak perhatian lebih sampai dia merasa ‘posisinya di rumah’ aman kembali, dan utamanya, melibatkan batita dalam pergaulan dengan teman sebaya atau lingkungan lebih luas — bukan cuma dengan adik di rumah.

Tumbuhkan Perasaan Bangga Sebagai Kakak

Tanpa disadari, orangtua kadang banyak menaruh harapan pada batita saat dia berpredikat menjadi kakak. Misal, Anda berharap batita menjadi seorang pelindung, penolong, dan membantu Anda menghadapi kehadiran anggota keluarga baru. Seringkali orangtua pun berharap si batita memahami kerepotan-kerepotan di rumah. Padahal menurut Miranda, ini tidak adil. “Kita tidak bisa menempatkan batita sebagai ‘korban’. Posisinya sebagai kakak saja sudah cukup membebani. Sebenarnya untuk menjadi kakak pun batita membutuhkan waktu. Karena itu, sebagai langkah awal jangan pernah orangtua menuntut apa pun dari batita.”

Tuntutan yang ditunjukkan orangtua, seperti meminta kakak mengalah, memintanya memahami perilaku adik, atau meminta lebih toleran, justru akan membuat si kakak ‘sakit hati’. Batita akan merasa dirinya dijadikan korban setelah dia menjadi kakak. Akibatnya, dia pun menunjukkan sikap kurang kooperatif, bahkan mungkin, itu tadi, menunjukkan kemunduran sikap yang justru membuat Anda tambah repot dan sedikit frustrasi.

Miranda menyarankan hati-hati dalam memberi pemahaman pada batita bahwa dia kini sudah menjadi kakak. Tidak perlu mengingatkannya terus. Yang perlu ditumbuhkan justru kebanggaan menjadi kakak. “Misal, dengan menunjukkan sikap positif pada kakak batita. Caranya, jadikanlah kakak contoh positif bagi adik. Tunjukkan pada kakak bahwa setiap perilaku baiknya mendapatkan penghargaan. Yakinkan pula bahwa adik sangat respek padanya,” papar Miranda.

Yang tak kalah penting, meski cukup repot dengan kehadiran bayi baru, jangan sampai mengabaikan kakak batita, lho. Apalagi sampai mendelegasikan pengasuhan batita sepenuhnya pada orang lain, sementara orangtua full mengurus adik. Batita bisa merasa kehilangan kasih sayang utuh dari orangtua yang biasanya dia nikmati sebagai anak tunggal. Kemunduran sikapnya bisa jadi merupakan kompensasi kekecewaan itu, dengan harapan ayah-ibu akan berpaling lagi padanya.

“Kasihan dia kalau sudah begitu. Karena itu usahakan kakak batita mendapatkan perhatian yang memang layak didapatkannya. Ibu bisa mengkomunikasikan hal ini bersama ayah,” tandas Miranda.
Psikolog yang kerap menjadi pembicara masalah psikologi anak di layar kaca ini melanjutkan, pandai-pandailah orangtua mengatur perhatian agar jangan hanya tercurah pada adik.

Bila sebelumnya kakak mendapatkan perhatian penuh dari ibu, setelah ada adik, ayah bisa mengambil alih peranan itu. Hal ini memang tak mudah, tetapi tetap bisa diupayakan. “Saya anjurkan pembagian pengasuhan ini sudah dilakukan sejak adik belum lahir,” Miranda menutup wawancara. b Mila Meiliasari

Sumber: Tabloid Ibu Anak

Iklan

3 thoughts on “Setelah Punya Adik,Kok, Rewel dan Seperti Bayi Lagi!

  1. Benar,pengalaman itu juga saya rasakan.Sejak awal kehamilan adik pertama pun saya sudah merasakan perubahan tingkah laku sang kakak yang jadi rewel dan manja. Padahal saya sendiri belum yakin kalo saya lagi hamil anak kedua..tapi dengan adanya perubahan tingkah laku anak pertama saya jadi menduga anak saya rewel karena udah tahu duluan bahwa dia akan punya adik..Bagaimana bisa ya sang kakak bisa mengetahui lebih dulu bahwa dia akan punya adik?

  2. Selamat Siang …
    Anak Pertama saya usia 3 thn 2 bln. saya lg mengandung jalan 2 bulan tp anak sy yg pertama ini manja banget, tdk mau ditinggal sm ayah dan bunda nya kerja…
    pasti menangis, kl kita b’dua ada dirumah juga hrs ada disamping selalu, tdk boleh jauh-jauh darinya.
    bagaimana cara kami mengatasi sikap dan perilaku anak kami yang pertama ini.

    terima kasih atas bantuannya …

  3. bunda….kakak mngkin lg cr perhatian anakku yg pertama umur 5 thn kadang” msh jg caper dan anakku yg kedua umurnya 5 bln smua sama kok bunda….semoga sabar ya bunda….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s