Saat ‘Tiba Waktunya’ Melahirkan


sumber : cyberjob.cbn.net.id
Mother And Baby

Ahli medis tidak bisa memastikan kapan waktu yang tepat ibu akan bersalin. Sejauh ini mereka hanya kompeten menentukan tanggal perkiraan. Meski demikian, dalam kenyataannya sebagian besar wanita dapat menduga dengan tepat awal proses persalinannya, dan tiba dengan selamat di rumah sakit — tidak terlalu cepat, tidak terlambat — disebabkan naluri, keberuntungan, dan tentu saja kontraksi yang nyeri.

Hormon prostaglandin — diproduksi selama kehamilan –‘bertanggung jawab’ sebagai pencetus persalinan. Bahan alami yang diproduksi rahim ini meningkat jumlahnya dan merangsang terjadinya kegiatan otot rahim dan menimbulkan pelepasan oksitosin oleh kelenjar pituari, keduanya faktor penting dalam mulainya proses persalinan.

Selain itu, ibu pun akan mengalami perubahan fisik pra-persalinan — bisa diketahui sebulan atau beberapa jam sebelum persalinan — dengan ciri khas: dimulainya efasi (penipisan) dan dilatasi (pelebaran) rahim yang dapat diketahui dokter. Ada juga beberapa ciri yang dapat dirasakan sendiri: menurunnya janin, perasaan bertambahnya tekanan pada pinggul dan lubang anus, turun atau berhentinya kenaikan berat badan, perubahan kadar energi, perubahan pada pengeluaran dari vagina, lepasnya sumbat lendir, keluarnya flek atau bercak darah, bertambahnya kontraksi Braxton Hicks, dan diare.

Di bawah ini ciri dimulainya persalinan. Hubungi ahli medis atau pergilah ke rumah sakit jika mengalami satu atau beberapa gejala ini:

1. Kontraksi makin menjadi (bukannya mereda) bila dilakukan kegiatan atau berganti posisi.

2. Nyeri dimulai di bagian bawah punggung kemudian menyebar ke bagian bawah perut, mungkin juga menyebar ke kaki. Kontraksi mungkin seperti gangguan pada saluran pencernaan dan disertai diare.

3. Kontraksi menjadi lebih sering dan nyeri, dan biasanya (tapi tidak selalu) lebih teratur.
0
4. Adanya darah dari vagina, merah muda atau benang darah.

5. Pecahnya membran/ketuban. Sekitar 15% dari persalian, ketuban pecah sebelum persalinan dimulai (berupa tetesan atau semburan).

Persiapan Persalinan

Rumah sakit memiliki prosedur berbeda dalam penanganan persiapan persalinan, tetapi ada aktivitas standar yang biasanya diterapkan (selain kegiatan administratif, yang biasanya diambil alih keluarga) saat ibu masuk ruang persiapan persalinan. Yang pertama adalah mengganti baju ibu dengan baju rumah sakit. Dilanjutkan dengan pemeriksaan dalam untuk mengetahui berapa pembukaan mulut rahim — pembukaan satu berarti mulut rahim terbuka satu sentimeter, pembukaan dua untuk dua sentimeter, dst.

Adakalanya juga dilakukan enema, yaitu pengosongan saluran pencernaan, yang bertujuan menghindari adanya bahan buangan pada saluran anus yang akan menghambat jalan keluar janin, menghindari terjadinya kontaminasi pada lingkungan kelahiran yang steril akibat pengeluaran tinja secara tak sengaja ketika ibu mengejan, dan guna menghindari rasa malu atau hambatan ibu mengejan.

Prosedur berikutnya mencukur rambut kemaluan dilanjutkan pengolesan cairan antiseptik. Tujuannya mengurangi kontaminasi bakteri sekaligus memudahkan episiotomi.

TAHAP PERTAMA PERSALINAN
“Masih Boleh Jalan-jalan…”
1. Merupakan fase terlama, tetapi tidak nyeri.

2. Pembukaan leher rahim (dilatasi) mencapai bukaan tiga.

3. Kontraksi berlangsung 30-45 detik, dengan jarak antara satu kontraksi ke kontraksi berikutnya 5-20 menit. Semakin lama semakin sering.

4. Ibu masih dapat melakukan aktivitas ringan seperti berjalan-jalan, menonton TV, membaca, menyamankan diri dengan mandi atau berendam, melakukan teknik relaksasi, dan tidur — tetapi jangan posisi telentang. Istirahat sangat penting saat ini karena kemungkinan nanti tak bisa beristirahat. Ibu juga disarankan tetap tenang.

5. Ibu dibolehkan makan tapi tak terlalu banyak dan bukan makanan sulit cerna seperti daging, produk susu, dan lemak, untuk menghindari lambung penuh.

6. Disarankan untuk buang air kecil dengan teratur guna mencegah tertahannya cairan di kandung kemih.

TAHAP KEDUA PERSALINAN
“Begini Salah, Begitu Salah”
1. Lebih pendek dari fase pertama, yaitu 2-3,5 jam.
2. Kegiatan rahim lebih aktif dan mencapai lebih banyak hal dalam waktu lebih singkat.

2. Kontraksi makin kuat, lama, dan sering. Umumnya 3-4 menit sekali, dan berlangsung 40-60 detik.

3. Pola kontraksi mungkin tidak teratur, saat ini setiap kontraksi bisa mempunyai puncak kontraksi yang lamanya 40-50% dari lama seluruh kontraksi.

4. Pembukaan leher rahim mencapai 7 sentimeter.

5. Pastikan ibu sudah berada di rumah sakit.

6. Kemungkinan besar ibu mulai merasa tak nyaman, tak bisa bicara saat kontraksi, bertambahnya sakit punggung, rasa tak enak pada kaki, letih, bertambahnya pengeluaran lendir dan darah. Secara emosional ibu gelisah, makin sulit untuk tenang dan santai. Ibu disarankan melakukan latihan pernapasan, sering buang air kecil, berganti posisi untuk mencari posisi yang nyaman, beristirahat di sela kontraksi (mengingat cadangan tenaga semakin berkurang), minum untuk menghindari dehidrasi.

7. Pecahnya membran/ketuban bisa terjadi saat ini.

8. Ibu akan dipindahkan ke ruang bersalin/partus.

TAHAP KETIGA PERSALINAN
“Duuh, Begini Toh, Jadi Ibu!”
1. Fase ini paling melelahkan dan berat.

2. Kontraksi meningkat, kuat dan lama.

3. Pembukaan leher rahim mencapai 7-10 sentimeter, dan peningkatan pembukaan berjalan dalam waktu singkat, 15 menit – 1 jam.

4. Ibu akan merasakan tekanan kuat pada bagian bawah punggung dan/atau perineum, pengeluaran lendir dan darah bertambah karena makin banyak pembuluh kapiler yang pecah, kaki mungkin kejang, merasa mual/muntah atau mengantuk yang tak tertahan karena aliran oksigen di otak pindah ke daerah persalinan, juga kehabisan tenaga.

5. Secara emosional ibu mungkin tak berdaya dan pasrah — seolah hidup di ujung tali — merasa frustrasi karena belum boleh mengejan, juga ciut, cepat tersinggung, bingung, gelisah, sulit memusatkan perhatian, juga sulit beristirahat.

6. Bertahanlah, pada akhir fase ini leher rahim akan terbuka penuh dan tiba waktunya untuk mengejan dan mendorong bayi Anda keluar.

TAHAP KEEMPAT PERSALINAN
“Satu… Dua… Tiga… Dorooong!”
1. Fase ini berlangsung bisa dalam 10 menit atau 1-2 jam.

2. Pembukaan sudah lengkap, bantuan Anda kini diperlukan untuk mendorong keluar bayi, dengan jalan mengejan.

3. Terasa dorongan sangat kuat untuk mengejan, tekanan sangat kuat pada anus, kontraksi sangat jelas terlihat dengan rahim terangkat setiap kontraksi, bertambahnya pengeluaran lendir dan darah, rasa geli, peregangan, panas atau tersengat pada vagina ketika kepala mulai muncul, dan perasaan basah dan licin saat bayi muncul.

4. Ibu bisa berpindah ke posisi mengejan.

5. Mulai mengejan sekuat mungkin, namun samakan irama dorongan Anda dengan instruksi dokter agar efisien, lantaran dorongan yang tak terkendali akan menghamburkan tenaga dan hanya sedikit kemajuan yang tercapai.

6. Lemaskan seluruh tubuh termasuk paha dan perineum ketika mengejan.

7. Embuskan napas, atau napas dengan pendek dan cepat.

8. Istirahat di antara waktu kontraksi.

9. Jangan frustrasi bila melihat kepala bayi muncul, namun masuk lagi. Kelahiran adalah proses yang berpola dua langkah maju satu langkah mundur.

10. Bila perlu dokter akan melakukan episiotomi, yang didahului pembiusan lokal di perineum sehingga tak menimbulkan nyeri. Episiotomi dilakukan saat puncak kontraksi.

TAHAP KELIMA (TERAKHIR) PERSALINAN
“Lega! Selamat Datang, Nak!”
1. Tahap paling melegakan karena yang terburuk telah berlalu.

2. Pada tahap terakhir ini plasenta yang telah menjadi teman bayi berbulan-bulan di dalam kandungan, dikeluarkan dan digunting.

3. Ibu masih merasakan kontraksi ringan, masing-masing berlangsung 1 menit.

4. Bila plasenta telah keluar, penjahitan kembali episiotomi akan dilakukan.

5. Kemungkinan ibu merasa sangat lelah, haus atau lapar — khususnya bila persalinan berjalan lama. Secara emosional ibu akan merasa sangat lega, bersemangat (atau justru tak terlalu peduli), diiringi rasa tak sabar menunggu penjahitan selesai dan ibu dibawa ke kamar pemulihan.

Kemungkinan Tindak Darurat

Adakalanya terjadi ‘gangguan teknis’ pada persalinan menyangkut kondisi ibu dan janin. Ahli medis berpengalaman umumnya biasa mengatasi hal-hal ini, sehingga tak perlu khawatir. Apa saja keadaan yang mungkin menimbulkan kekawatiram selama persalinan?
* Terbaliknya rahim, terjadi akibat plasenta keluar ‘menarik’ fundus atau puncak rahim — berakibat membalikkan rahim seperti kita membalikkan kaus kaki. Mengatasinya, rahim dibalikkan oleh tangan dokter dan perdarahan ibu diatasi dengan cairan intravena atau transfusi darah.

* Robeknya rahim, diakibatkan adanya jaringan parut pada rahim yang mungkin disebabkan bedah cesar terdahulu. Mengatasinya, persalinan cesar dan bila mungkin dilanjutkan dengan perbaikan rahim.

* Tersangkutnya pundak bayi (distosia pundak) di jalan lahir setelah kepala muncul, membuat persalinan ‘macet’. Mengatasinya ada berbagai cara, memutar bayi dan pundak bagian belakang coba dikeluarkan lebih dulu, menarik lutut ibu ke arah perut semaksimal mungkin, melakukan episiotomi lebar, atau memasukkan bayi kembali dan dilakukan operasi cesar.

* Janin yang terganggu, mungkin akibat kekurangan oksigen, penyakit ibu (anemia, darah tinggi, jantung), posisi tubuh ibu yang menekan pembuluh darah besar, terjepitnya tali umbilikal, pemisahan prematur dari plasenta, gangguan fungsi, aktivitas rahim terlalu lama/berlebihan, kelainan bentuk, perdarahan, atau anemia janin. Mengatasinya, disesuaikan dengan jenis gangguan. Umumnya ibu dirujuk untuk melahirkan secara prematur lewat cesar, lalu dokter menangani bayi secara khusus.

* Luka pada vagina dan leher rahim akibat proses persalinan sehingga terjadi perdarahan. Dokter akan menjahit luka dan jika perlu ibu diberi transfusi darah.

* Perdarahan pascalahir, disebabkan berbagai hal: rahim lemas dan sulit mengerut akibat persalinan terlalu lama, rahim yang pernah mengembang besar akibat kehamilan kembar, janin terlalu besar, atau cairan amniom (air ketuban) terlalu banyak, bentuk plasenta tak normal, fibroid, atau ibu yang terlalu lemah karena anemia, kelelahan, atau pre-eklampsia. Mengatasinya, tergantung penyebabnya, namun biasanya ibu akan diberi cairan intravena (infus) atau jika perlu, transfusi darah.

* Infeksi pascalahir, jarang terjadi jika persalinan di tangan ahli medis. Kasus umum adalah endometritis (infeksi pada pelapis rahim) akibat pecahnya membran terlalu dini atau sisa plasenta tertinggal di rahim. Ada juga kasus infeksi dari luka pada leher rahim, vagina, atau vulva. Mengatasinya, pemberian antibiotik. b Bod

Sumber: Tabloid Ibu Anak

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s