Ketika Kontraksi Makin Lama Makin Kuat…


sumber : cyberjob.cbn.net.id
sumber : Mother And Baby

Jarang terjadi, persalinan yang langsung ‘mbrojol’ begitu saja. Umumnya, ibu akan melalui tiga tahap yang melelahkan.

Pada tahap pertama, ada tiga fase yang akan ibu rasakan. Fase pertama disebut fase tenang atau laten. Biasanya berlangsung 9 jam untuk anak pertama, 4 jam untuk kehamilan selanjutnya. Ibu merasakan gejala persalinan seperti sakit punggung saat kontraksi, gangguan pencernaan, perasaan hangat di perut, dan pengeluaran lendir yang bebercak darah.
Kontraksi yang terjadi akan menarik leher rahim ke atas, dan selanjutnya memaksa leher rahim membuka mulutnya makin lama makin lebar (dilatasi). Fase tenang terjadi sampai mulut rahim membuka 2-3 jari (4-5 cm). Pembukaan tiga jari atau 5 cm berarti sudah separo pembukaan sempurna — pembukaan 10. Sampai pembukaan sempurna ini memakan waktu sekitar 13 jam untuk anak pertama dan 7 jam untuk kehamilan berikutnya. Pada fase ini kepala bayi masuk ke rongga panggul, sedangkan kantung ketuban biasanya masih utuh. Kepala bayi mulai maju menekan kandung kemih serta saluran pembuangan feses.

Sebelum memasuki fase aktif, ibu boleh tenang-tenang dulu di rumah. Tapi segera hubungi dokter bila ketuban pecah dan airnya berwarna keruh atau kehijauan, atau perdarahan berwarna merah menyala. Atau, bila tidak ada gerakan janin. Bila tak mengalami itu semua, ibu boleh melanjutkan aktivitas misalnya tidur (jangan telentang), pekerjaan rutin lain, atau jalan-jalan di sekitar rumah. Jangan lupa sering pipis agar cairan tak tertahan dalam kantung kemih, yang bisa menghambat proses persalinan.

Bila kontraksi terjadi setiap 10 menit, pergilah ke rumah sakit terdekat. Fase aktif lalu dimulai. Kontraksi makin kuat, lama, dan sering. Umumnya 3 atau 4 menit sekali dan berlangsung selama 40-60 detik. Pembukaan leher rahim sampai 7 cm. Pola kontraksi mungkin tidak teratur. Saat ini, semua yang tak enak mulai ibu rasakan. Sakit punggung makin bertambah, sakit pada kaki, keletihan, bertambahnya pengeluaran lendir dan darah. Kantung ketuban juga bisa pecah pada saat ini. Ibu mungkin makin gelisah dan tegang. Tapi cobalah melakukan teknik pernapasan, segera setelah kontraksi menguat. Minumlah air putih bila diizinkan dokter dan istirahat di sela-sela kontraksi. Jalan-jalanlah di sekitar rumah sakit atau kerap mengubah posisi berbaring. Jangan lupa untuk sering-sering buang air kecil.

Fase ketiga, disebut fase transisi. Ini tahap yang paling berat dan melelahkan. Kontraksi makin kuat, sekitar 2 atau 3 menit sekali selama 60-90 detik dengan puncak kontraksi sangat kuat yang lamanya hampir sepanjang kontraksi itu sendiri. Bukaan leher rahim mendekati 10 cm, yang berlangsung antara 15 menit sampai 1 jam.

Pada masa ini, ibu merasakan tekanan sangat kuat pada bagian bawah punggung, pengeluaran lendir dan darah bertambah, ada tekanan pada anus dengan atau tanpa dorongan untuk mengejan. Tapi ibu masih dilarang mengejan dulu. Untuk menghindari dorongan mengejan, tariklah napas pendek dan cepat atau embuskan napas. Mengejan sebelum pembukaan sempurna dapat menyebabkan leher rahim membengkak, yang akibatnya dapat menunda persalinan.

Kantung Ketuban Pecah

Setelah proses persalinan tahap pertama berlalu, ibu mulai memasuki persalinan tahap kedua. Awal tahap ini biasanya ditandai dengan pecahnya kantung ketuban. Ketuban dapat pecah lebih awal dan terkadang sebelum bayi siap lahir. Namun umumnya, ketuban pecah pada akhir tahap pertama.

Pada saat ini pembukaan jalan lahir sudah sempurna, yakni pembukaan 10 cm. Bersamaan dengan pecahnya ketuban, Ibu akan merasakan dorongan yang sangat kuat untuk mengejan, karena kepala bayi menekan jaringan di bagian tengah panggul. Selanjutnya, otot-otot perut akan bergerak mendorong bayi ke bawah. Ibu pun mulai merasakan tekanan yang sangat kuat pada anus. Kontraksi juga sangat jelas terlihat, dengan rahim terangkat setiap kali kontraksi. Pengeluaran lendir bercampur darah pun bertambah. Tahap ini biasa memakan waktu sekitar 1,5 jam.

Pada saat ini, bila Ibu merasa ada dorongan untuk mengejan, dan sudah ada instruksi, dokter atau bidan akan meminta Ibu mengubah posisi mengejan. Posisi setengah duduk atau setengah jongkok merupakan posisi terbaik, karena posisi ini memanfaatkan gaya berat dan menambah gaya dorong Ibu. Inilah saatnya ibu bekerja keras untuk mengejan sekuat mungkin.

Mengejanlah seefisien mungkin, dengan melakukan langkah-langkah berikut: Tarik beberapa kali napas yang dalam, bertepatan saat kontraksi terjadi. Tarik napas sekali lagi dan tahan. Ketika kontraksi mencapai puncaknya, mengejanlah (dorong) sekuat tenaga sampai Ibu tidak lagi dapat menahan napas.

Saat mengejan, lemaskan seluruh tubuh, termasuk paha dan daerah perineum. Sikap tegang justru melawan usaha mengejan yang Ibu lakukan. Bila dokter atau bidan menginstruksikan berhenti mengejan, berhentilah, lalu embuskan napas atau bernapas dengan pendek dan cepat. Jangan panik. Bila Ibu panik dan mendorong secara tak teratur, akan menghamburkan tenaga dan memperlambat proses persalinan. Cobalah konsentrasi. Samakan irama dorongan Ibu dengan instruksi dokter atau bidan.

Perlu diperhatikan, Ibu harus mengikuti setiap dorongan mengejan. Jangan mencoba menahan napas dan mengejan di setiap kontraksi. Menahan napas untuk jangka waktu yang lama akan membuat Ibu kelelahan, bahkan mengurangi oksigen ke janin. Juga menambah risiko pecahnya pembuluh darah di mata dan wajah. Tariklah napas dalam beberapa kali ketika kontraksi mereda, cara ini dapat mengembalikan keseimbangan pernapasan. Bila Ibu sungguh lelah karena fase kedua ini berjalan lambat, dokter mungkin akan meminta Ibu untuk tidak mengejan lagi selama beberapa kontraksi, sehingga Ibu dapat mengumpulkan tenaga kembali.

Pada saat kontraksi yang ditambah daya dorong ibu, kepala bayi menggeser hingga ke dekat pintu keluar. Setiap kontraksi terjadi, kepala bayi maju sedikit, dan tertarik mundur bila kontraksi berhenti. Tetapi gerakan maju terus berlangsung dan semakin cepat ketika kepala mulai terlihat dari luar. Saat ini kepala bayi berhasil meregangkan pintu lubang vagina beserta jaringan-jaringan di sekitarnya serta lubang pelepasnya. (Tekanan dari bayi dan dorongan kuat membuat seluruh daerah perineum juga mendapat tekanan besar. Feses di saluran anus bisa keluar juga dan ini tak perlu ditahan-tahan, karena dapat menghambat kelancaran proses persalinan).

Setelah beberapa kali kontraksi, kontraksi yang terakhir akan mendorong bayi lebih jauh dan kepalanya lepas dari lubang vagina. Berturut-turut muncul dahi, mata, hidung, dan dagunya. Begitu dilahirkan, bayi akan memutar kepalanya ke samping Ibu. Kemudian seluruh bagian tubuhnya meluncur ke luar dari saluran persalinan. Si bayi pun lahir!

Sumber: Tabloid Ibu Anak

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s