Ayah Lagi Ayah Melulu!


SUMBER : cyberjob.cbn.net.id

Mother And Baby

Kian banyak batita amat-sangat dekat dengan ayahnya, ketimbang dengan ibu.

“Bobok sama ayah…”
“Mandi sama ayah…”
“Ayah gendong! Ibu sana!”

Keributan ini sering terjadi di rumah-rumah pasangan muda masa kini. Itu lho, ulah si kecil yang lebih memilih ayah ketimbang ibu. Sesekali memang asyik sih, bagi ibu-ibu bisa lebih rileks dan tidak digelendotin si kecil melulu, kan? Tapi ada juga ibu yang akhirnya cemburu, terutama kalau batita selalu memilih ayahnya, bahkan sedikit ‘mengesampingkan’ dan lebih ‘kejam’ lagi, ‘mengusir’ ibu. Mau tahu perasaan Ibu saat itu? Seolah tugas sucinya sebagai ‘yang mengandung dan menyusui’ anak, tidak diakui, deh.

Sama Ayah Lebih Seru…

Sebenarnya, menyenangkan lho, bila si upik atau buyung dekat dengan ayahnya. Terus terang hal ini sangat menolong ibu — terutama ibu super sibuk — untuk menikmati waktu istirahat, juga waktu bagi dirinya sendiri. Lagi pula kita tahu, kedekatan antara ayah dan anak akan sangat bermanfaat bagi perkembangan jiwa anak. Ini lantaran anak yang dekat dengan ayah akan mendapatkan duplikasi yang komplet dari dua figur berbeda: ayah (pria) dan ibu (wanita).

Justru ‘rugi’ bagi perkembangan anak jika dia kurang dekat dengan ayahnya, karena transformasi sifat-sifat seorang ayah (pria) akan kurang diturunkan pada anak. Bagaimana kedekatan anak dengan ayahnya terbangun? Sedikit berbeda dengan kedekatan anak dengan ibu yang sifatnya naluriah, kedekatan ayah dengan anak akan terjalin erat bila ayah mampu berkomunikasi dengan baik dan mempunyai kualitas hubungan optimal dengan anaknya.

Memang, sebagai pencari nafkah ayah mungkin tidak hadir 24 jam bersama anak, tapi menurut psikolog pendidikan Prof. DR. Utami Munandar, bila ayah mampu menciptakan suasana menyenangkan bersama anaknya pada saat mereka bersama — the quality time — batita akan mempunyai kesan positif pada ayah.

Tentu saja, lanjut Utami, suasana yang menyenangkan itu harus didasarkan pada pola asuh dan pendidikan yang baik. Misal, bukan bermanja-manja berlebihan, atau melanggar aturan/disiplin yang diterapkan di rumah.

Selain itu, kedekatan ayah dengan anak juga bisa timbul akibat kecocokan satu sama lain, misal, dari segi karakter, minat, hobi, atau gesture ayah yang menarik di mata anak. Faktor chemistry — ketertarikan akibat pengaruh unsur-unsur kimiawi di dalam tubuh — juga bisa menjadi penyebab dekatnya hubungan ayah-anak.

Meski demikian, ada juga kedekatan batita pada ayah yang disebabkan alasan kurang tepat: justru karena batita kurang mendapat perhatian dari ayah! Perilaku ‘lebih memilih ayah’ pun dilakukan batita lebih sebagai upaya menarik perhatian ayah.

Ibu Pun Nggak Pede…

Sebenarnya, lanjut Utami, perilaku si kecil yang lebih memilih ayah tidak berpengaruh buruk selama tak mengganggu kegiatan ayahnya dan tak menganggu perkembangan emosional anak. Selain itu, “Yang baik adalah jangan sampai kedekatan itu menjadi ketergantungan bagi batita. Misal, batita selalu mengharapkan ayahnya membantu kapan saja, dia lebih memilih ayah untuk segala kegiatan, atau dia menggantungkan semua pilihannya pada ayahnya. Kedekatan seperti ini justru mendorong batita untuk tidak mandiri dan over dependent.”

Yang juga harus diwaspadai adalah, jangan juga ketergantungan batita membuat ibu merasa tidak pede (percaya diri).
Utami melanjutkan, idealnya batita memiliki kedekatan yang sama antara dengan ayah dan dengan ibu. Tetapi jika kondisi ideal ini tidak terjadi di rumah kita, tak perlu khawatir.

Ayah atau Ibu Sama Saja

Tidak buruk sama sekali bila si kecil lebih memilih ayah untuk aneka kegiatan yang ingin dilakukannya. Sesekali waktu biarlah si kecil lebih memilih ayahnya. Ini memberi kesempatan pada ayah untuk lebih dekat dengan batitanya. Untuk menghindari perilaku ini agar tak menjadi ketergantungan berlebihan, camkan pada si kecil bahwa ayah dan ibu siap membantunya. Untuk itu ayah atau ibu perlu menunjukkan ketertarikan yang sama pada batitanya.

Berikan Pengertian

Adakalanya ayah sangat sibuk. Tapi tentu saja, batita tidak bisa memahami hal ini begitu saja, sehingga tak jarang mereka memaksakan kehendak. Misal, bila ingin dimandikan ayah, tak ada pilihan lain dan tak ada orang lain. Nah, inilah saatnya memberikan pengertian pada batita bahwa ayah pun perlu mengerjakan hal lain — seperti ibu pada saat berbeda.

Pemahaman ini sebaiknya dibarengi dengan pilihan yang sama menariknya. Misal, bila si kecil ingin mandi bersama ayah tapi ayah sangat sibuk tawarkan mandi bersama ibu, tapi acara mandi jadi spesial karena boleh membawa mobil-mobilan ke dalam bak mandi. Poin terpenting tahap ini adalah pastikan si kecil mendapatkan sesuatu yang sama menariknya, baik bersama ibu atau ayah.

Orangtua yang Mau Belajar

Mungkin ibu sedikit cemburu bila si kecil lebih memperhatikan atau lebih memilih ayahnya. Tenang Bu, jangan kecewa dulu. Mungkin Ibu perlu belajar dari ayah apa yang membuat ‘semua menjadi lebih menarik bila bersama ayah’. Anda bisa mengamati kebersamaan batita saat bersama ayah.

Jangan Pernah Mengkritik Ayah atau Ibu di Hadapan Batita

Tanpa disadari, kita sering membentuk kesan buruk tentang pasangan pada batita. Misal, “Hayo jangan nakal, nanti Ibu kasih tahu ayah, lho!” Kalimat lain yang mungkin keluar dari ayah, “Ayo sini sama Ayah saja. Ibu memang galak, ya?”

Secara tak langsung melalui kalimat-kalimat seperti ini batia menerima citra buruk tentang ayah atau ibunya. Bila ibu mendapatkan citra lebih buruk, tak heran bila batita akan lebih memilih ayah untuk berbagai kegiatan. b Mila Meiliasari

Sumber: Tabloid Ibu Anak

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s