Ayah Lagi Ayah Melulu!

SUMBER : cyberjob.cbn.net.id

Mother And Baby

Kian banyak batita amat-sangat dekat dengan ayahnya, ketimbang dengan ibu.

“Bobok sama ayah…”
“Mandi sama ayah…”
“Ayah gendong! Ibu sana!”

Keributan ini sering terjadi di rumah-rumah pasangan muda masa kini. Itu lho, ulah si kecil yang lebih memilih ayah ketimbang ibu. Sesekali memang asyik sih, bagi ibu-ibu bisa lebih rileks dan tidak digelendotin si kecil melulu, kan? Tapi ada juga ibu yang akhirnya cemburu, terutama kalau batita selalu memilih ayahnya, bahkan sedikit ‘mengesampingkan’ dan lebih ‘kejam’ lagi, ‘mengusir’ ibu. Mau tahu perasaan Ibu saat itu? Seolah tugas sucinya sebagai ‘yang mengandung dan menyusui’ anak, tidak diakui, deh.

Sama Ayah Lebih Seru…

Sebenarnya, menyenangkan lho, bila si upik atau buyung dekat dengan ayahnya. Terus terang hal ini sangat menolong ibu — terutama ibu super sibuk — untuk menikmati waktu istirahat, juga waktu bagi dirinya sendiri. Lagi pula kita tahu, kedekatan antara ayah dan anak akan sangat bermanfaat bagi perkembangan jiwa anak. Ini lantaran anak yang dekat dengan ayah akan mendapatkan duplikasi yang komplet dari dua figur berbeda: ayah (pria) dan ibu (wanita).

Justru ‘rugi’ bagi perkembangan anak jika dia kurang dekat dengan ayahnya, karena transformasi sifat-sifat seorang ayah (pria) akan kurang diturunkan pada anak. Bagaimana kedekatan anak dengan ayahnya terbangun? Sedikit berbeda dengan kedekatan anak dengan ibu yang sifatnya naluriah, kedekatan ayah dengan anak akan terjalin erat bila ayah mampu berkomunikasi dengan baik dan mempunyai kualitas hubungan optimal dengan anaknya.

Memang, sebagai pencari nafkah ayah mungkin tidak hadir 24 jam bersama anak, tapi menurut psikolog pendidikan Prof. DR. Utami Munandar, bila ayah mampu menciptakan suasana menyenangkan bersama anaknya pada saat mereka bersama — the quality time — batita akan mempunyai kesan positif pada ayah.

Tentu saja, lanjut Utami, suasana yang menyenangkan itu harus didasarkan pada pola asuh dan pendidikan yang baik. Misal, bukan bermanja-manja berlebihan, atau melanggar aturan/disiplin yang diterapkan di rumah.

Selain itu, kedekatan ayah dengan anak juga bisa timbul akibat kecocokan satu sama lain, misal, dari segi karakter, minat, hobi, atau gesture ayah yang menarik di mata anak. Faktor chemistry — ketertarikan akibat pengaruh unsur-unsur kimiawi di dalam tubuh — juga bisa menjadi penyebab dekatnya hubungan ayah-anak.

Meski demikian, ada juga kedekatan batita pada ayah yang disebabkan alasan kurang tepat: justru karena batita kurang mendapat perhatian dari ayah! Perilaku ‘lebih memilih ayah’ pun dilakukan batita lebih sebagai upaya menarik perhatian ayah.

Ibu Pun Nggak Pede…

Sebenarnya, lanjut Utami, perilaku si kecil yang lebih memilih ayah tidak berpengaruh buruk selama tak mengganggu kegiatan ayahnya dan tak menganggu perkembangan emosional anak. Selain itu, “Yang baik adalah jangan sampai kedekatan itu menjadi ketergantungan bagi batita. Misal, batita selalu mengharapkan ayahnya membantu kapan saja, dia lebih memilih ayah untuk segala kegiatan, atau dia menggantungkan semua pilihannya pada ayahnya. Kedekatan seperti ini justru mendorong batita untuk tidak mandiri dan over dependent.”

Yang juga harus diwaspadai adalah, jangan juga ketergantungan batita membuat ibu merasa tidak pede (percaya diri).
Utami melanjutkan, idealnya batita memiliki kedekatan yang sama antara dengan ayah dan dengan ibu. Tetapi jika kondisi ideal ini tidak terjadi di rumah kita, tak perlu khawatir.

Ayah atau Ibu Sama Saja

Tidak buruk sama sekali bila si kecil lebih memilih ayah untuk aneka kegiatan yang ingin dilakukannya. Sesekali waktu biarlah si kecil lebih memilih ayahnya. Ini memberi kesempatan pada ayah untuk lebih dekat dengan batitanya. Untuk menghindari perilaku ini agar tak menjadi ketergantungan berlebihan, camkan pada si kecil bahwa ayah dan ibu siap membantunya. Untuk itu ayah atau ibu perlu menunjukkan ketertarikan yang sama pada batitanya.

Berikan Pengertian

Adakalanya ayah sangat sibuk. Tapi tentu saja, batita tidak bisa memahami hal ini begitu saja, sehingga tak jarang mereka memaksakan kehendak. Misal, bila ingin dimandikan ayah, tak ada pilihan lain dan tak ada orang lain. Nah, inilah saatnya memberikan pengertian pada batita bahwa ayah pun perlu mengerjakan hal lain — seperti ibu pada saat berbeda.

Pemahaman ini sebaiknya dibarengi dengan pilihan yang sama menariknya. Misal, bila si kecil ingin mandi bersama ayah tapi ayah sangat sibuk tawarkan mandi bersama ibu, tapi acara mandi jadi spesial karena boleh membawa mobil-mobilan ke dalam bak mandi. Poin terpenting tahap ini adalah pastikan si kecil mendapatkan sesuatu yang sama menariknya, baik bersama ibu atau ayah.

Orangtua yang Mau Belajar

Mungkin ibu sedikit cemburu bila si kecil lebih memperhatikan atau lebih memilih ayahnya. Tenang Bu, jangan kecewa dulu. Mungkin Ibu perlu belajar dari ayah apa yang membuat ‘semua menjadi lebih menarik bila bersama ayah’. Anda bisa mengamati kebersamaan batita saat bersama ayah.

Jangan Pernah Mengkritik Ayah atau Ibu di Hadapan Batita

Tanpa disadari, kita sering membentuk kesan buruk tentang pasangan pada batita. Misal, “Hayo jangan nakal, nanti Ibu kasih tahu ayah, lho!” Kalimat lain yang mungkin keluar dari ayah, “Ayo sini sama Ayah saja. Ibu memang galak, ya?”

Secara tak langsung melalui kalimat-kalimat seperti ini batia menerima citra buruk tentang ayah atau ibunya. Bila ibu mendapatkan citra lebih buruk, tak heran bila batita akan lebih memilih ayah untuk berbagai kegiatan. b Mila Meiliasari

Sumber: Tabloid Ibu Anak

Iklan

Bila Anak Syok

sumber : cyberjob.cbn.net.id

Mother And Baby
Baru saja Anda melihat si kecil lincah bermain di lapangan. Tapi begitu perhatian Anda sebentar beralih ke buku bacaan, terdengar teriakan si kecil, ia terjatuh, dengan keadaan wajah pucat, napas terengah-engah, keringat dingin keluar, denyut nadinya cepat tapi lemah, serta mengeluh kehausan, lalu pingsan. Ini semua pertanda anak mengalami syok. Mungkin hal ini karena anak sakit dan kaget. Syok juga bisa terjadi karena pendarahan hebat disebabkan tulang rusuk atau panggul yang patah hingga terjadi perubahan mendadak di dalam tubuh. Keadaan ini mengakibatkan darah tiba-tiba turun akibat kekurangan cairan atau kerja jantungnya tergantung.

Beberapa upaya yang bisa Anda lakukan untuk menolong si kecil adalah :

* Bila akibat perdarahan, segera baringkan si kecil di atas lantai atau permukaan yang rata.

* Angkat kedua kakinya dan letakkan di atas tumpukkan bantal sampai lebih tinggi dari jantungnya.

* Lepaskan pakaiannya yang ketat, lalu miringkan kepalanya ke salah satu sisi.

* Usahakan agar tubuh si kecil tetap hangat dengan menyelimutinya. Tetapi, jaga jangan sampai ia merasa kepanasan.

* Kalau si kecil pingsan, miringkan tubuhnya agar jalan napasnya tidak tertutup lidah. Sambil menunggu dokter, periksa terus pernapasannya.

Sumber: Tabloid Ibu Anak

Bayi Rewel

SUMBER : cyberjob.cbn.net.id

Mother And Baby

Bayi selalu ingin merasa nyaman. Bila tidak, ia jadi rewel bahkan mengamuk. Bagaimana supaya ia tetap nyaman dalam berbagai situasi?

Ada bayi yang memiliki pembawaan ‘rewel’. Bila situasi tidak nyaman sedikit saja, ia pasti menangis atau mengamuk. Sebaliknya, ada juga bayi yang amat sangat tenang. Biasanya, ia baru menangis bila kondisinya sudah benar-benar ‘menyakitkan’.

Menurut psikolog pendidikan anak Universitas Indonesia Dra. Ike Anggraika, M.Si., perbedaan pembawaan bayi sangat tergantung banyak hal. Mulai pengaruh yang diterima bayi saat dalam kandungan hingga trauma yang diperoleh saat lahir. Ibu hamil yang sering mendapatkan tekanan, Ike mencontohkan, kemungkinan akan melahirkan bayi yang rewel.

Bayi yang mendapat trauma lahir (misalnya menjalani proses kelahiran yang mengakibatkan luka serius), bayi yang lahir dengan kelainan (misalnya kelainan jantung atau penyakit bawaan) kemungkinan juga akan berpembawaan sedikit rewel. “Tapi tidak selalu begitu. Sebab tidak jarang bayi yang lahir normal dan sempurna pun rewel. Mungkin ini pengaruh keturunan atau sifat bawaan dari orangtuanya,” ungkap Ike.

Atasi Kerewelan dengan Benar

Tangisan atau amukan bayi rewel acap membuat kita, para orangtua, kebingungan. Apalagi bila kita sudah mencoba menangani tapi bayi tetap rewel. Bingung bercampur lelah dan khawatir, akhirnya membuat kita panik. Padahal, kepanikan hanya akan membuat bayi bertambah rewel.

Untuk itulah penanganan yang tepat diperlukan. Selama ini, menurut Ike, setiap orangtua mempunyai cara khusus untuk mengatasi kerewelan bayi mereka. Ada yang mencoba menenangkan dengan menempatkan bayi di ayunan. Ada yang menenangkan dengan memutar alunan musik merdu. Ada yang menimang-nimang sambil membawa bayi pergi dari ruangan tempat menangis sembari mencari udara yang lebih segar.

Sayangnya, lanjut Ike, tidak jarang orangtua menangani kerewelan bayi dengan cara yang kurang tepat. Maksudnya, cara-cara yang dilakukan kurang mendidik. Contohnya, ada bayi asyik menggigit-gigit ikat pinggang ayahnya. Ia menangis karena tiba-tiba ibunya melarangnya. Bayi itu terus menangis, seolah meminta ikat pinggang tersebut. Tak berhasil membujuknya, akhirnya si ibu menyerah dan memberikan lagi ikat pinggang kepada bayinya untuk digigit-gigit.

“Tindakan ibu tadi keliru. Sebab ikat pinggang bukanlah sesuatu yang aman untuk digigit bayi. Selain itu, ia tak menunjukkan konsistensi dalam sikap, padahal ia tengah mendidik bayinya. Ibu tadi juga tidak mencoba mengalihkan perhatian bayi kepada hal lain, sehingga bayi merasa direbut ‘kenyamanannya’ tanpa mendapatkan ganti yang sebanding,” terang Ike. Selain itu, cara menangani kerewelan yang tidak benar menyebabkan bayi tumbuh menjadi anak yang sulit dikendalikan.

Melakukan tindakan yang benar adalah kunci menangani kerewelan bayi. Berikut beberapa tips yang bisa diterapkan bila bayi Anda rewel dalam berbagai kondisi:

Ganti suasana yang lebih nyaman
Bayi bisa tertekan karena bosan dengan situasi atau posisi yang sama. Atau, ia merasa sendirian atau tidak diperhatikan. Kadang bayi juga mendapatkan salah satu bagian tubuhnya terasa sakit. Misalnya, kakinya pegal karena posisi yang salah. Atau badannya sakit karena tempat yang ditempati tidak nyaman (sempit, keras, berpermukaan kasar, dll).

Kasus yang sering terjadi adalah bayi menangis saat didudukkan di kursi makan, bahkan berontak atau menepis makanan yang disodorkan. Jika kursinya nyaman, kemungkinan hal ini disebabkan bayi merasa bosan harus duduk di kursi yang itu-itu juga. Biasanya ini terjadi pada bayi 2-4 bulan.

Untuk mengatasinya, pindahkan kursi makan ke tempat yang berbeda. Pilih tempat yang menarik atau pemandangannya lebih lega. Misalnya pekarangan rumah. Bila masih rewel, ubah lagi posisi kursi. Atau bila perlu pindahkan bayi dari kursi beberapa saat.

Perdengarkan suara-suara lembut
Puisi, lagu-lagu, atau senandung lembut yang bermakna dari mulut ayah atau ibu dapat menenangkan bayi yang rewel. Ada penelitian yang menunjukkan, suara lembut berirama yang keluar dari mulut manusia dapat menciptakan suasana yang lebih nyaman. Bila mendengar suara-suara seperti itu, bayi umumnya akan lebih kooperatif.

Beri sentuhan
Sentuhan akan membuat bayi yang rewel merasa nyaman. Banyak bayi yang sedang menangis berhenti perlahan saat tangan ibu atau ayahnya menyentuh bagian tubuhnya atau menggendongnya. Cara ini rupanya membuat bayi merasa nyaman karena ia merasa orang terdekatnya selalu berada di sisinya. Jadi, ia merasa terlindungi.

Beri pijatan lembut
Pijatan lembut adalah salah satu bentuk sentuhan. Tapi dengan pijatan, bayi akan merasa hangat karena aliran darahnya lebih lancar. Cara ini bisa digunakan untuk mengatasi bayi yang menangis setiap kali dimasukkan ke dalam bak mandi. Selain merasa nyaman, pijatan membuat bayi rileks, tidak takut atau stres.

Jagalah Emosi Anda

Faktor lain yang menentukan keberhasilan Anda menenangkan bayi rewel adalah sikap yang tepat. Yaitu:

Tetap tenang. Rasa khawatir atau lelah menangani bayi rewel kerap membuat kita panik. Namun sebaiknya Anda tetap tenang, karena sikap panik hanya akan membuat bayi bertambah rewel dan stres.

Pilih penanganan yang tepat. Anda-lah yang lebih mengenal bayi Anda, sehingga Anda pula yang lebih mengetahui penanganan yang paling tepat untuk menanganinya saat rewel.

Konsisten. Sejak nol tahun, bayi harus mendapat pola asuh yang konsisten. Artinya, dalam keadaan rewel sekalipun kita tidak boleh memberi kelonggaran. Cari solusi yang tidak menciptakan masalah baru.

Jaga emosi. Tidak perlu menunggu sampai merasa marah jika bayi menangis terus. Ketika kekesalan sudah muncul, mintalah suami atau anggota keluarga lain menangani bayi. Meninggalkan bayi rewel sejenak biasanya efektif untuk memperbaiki suasana hati. b Mila Meiliasari

Sumber: Tabloid Ibu Anak

Setelah Punya Adik,Kok, Rewel dan Seperti Bayi Lagi!

SUMBER : cyberjob.cbn.net.id

Mother And Baby

Kemarin-kemarin si batita sudah pintar, deh. Sejak punya adik, kok, jadi seperti bayi lagi?

Kelakuan Gilang (2 tahun 6 bulan) belakangan ini membingungkan kedua orangtuanya. Habis, Si Kakak yang kemarin-kemarin sudah pintar dan banyak capaiannya, sekarang kok bertingkah mirip adik bayinya (9 bulan)? Misal, kalau mengambil sesuatu bukannya berjalan, malah merangkak. Bicaranya jadi ‘bubbling’ lagi. Kalau mau apa-apa pakai acara menangis dulu. Dan manjanya minta ampun. Ke mana-mana maunya digendong. Bukan cuma itu. Capaian-capaian yang menunjukkan kecerdasan si batita juga bak hilang tertiup angin. Gilang sekarang malas berhitung lagi atau meneriakkan alfabet seperti kebiasaannya kemarin. Selain kecewa, ayah-ibunya pun jadi kerepotan karena seperti mengurus dua ‘bayi’ kembar.

Menjadi kakak ternyata bukan hal mudah bagi batita. Menurut psikolog pendidikan anak Dra. Miranda D.Z., M.Psi., ada beban psikologis yang harus ditanggung batita saat dia menyadari dirinya tak lagi sendiri. “Dan tidak setiap batita siap menjadi kakak. Ketidaksiapan ini diperlihatkan batita melalui kemunduran sikap dan perilaku. Misal, bila awalnya sangat mandiri, tiba-tiba dia menjadi sangat tergantung pada orangtua,” ungkap Miranda.

Protes

Jangan dulu cemas mengira batita yang sudah pintar betul-betul ‘mentah’ kembali. Besar kemungkinan kemunduran sikapnya hanya sementara sebagai wujud protes pada ayah-ibu. Protes? Benar, adakalanya batita berharap dengan menunjukkan sikap seperti bayi (baca: seperti adik) orangtua akan lebih memahami bahwa ia membutuhkan perhatian yang mungkin selama ini tersita oleh adik.
Miranda melanjutkan, kemunduran sikap juga bisa merupakan cara kakak batita mengungkapkan keinginan. “Umumnya kakak yang masih batita merasa dengan sedikit manja atau rewel, keinginannya akan lebih mudah terpenuhi dan lebih mudah menarik perhatian orangtua,” jelasnya.

Keadaan ini memang cukup merepotkan. Tapi Miranda menyarankan orangtua tidak perlu khawatir karena perilaku kakak akan berubah saat dia memasuki usia 4 tahun. Di usia ini si kakak mulai mengenal lingkungan lebih luas. Umumnya dia mulai bersekolah sehingga mempunyai kesempatan berbagi dengan teman-teman yang memiliki pengalaman sama.

Tapi jika rasanya terlalu lama menunggu hingga batita berusia 4 tahun, ayah-ibu bisa kok, membantu batita menjadi dirinya sendiri sekarang juga, yaitu dengan menciptakan lingkungan tumbuh kembang yang suportif. Caranya, menjadi orangtua yang lebih positif, memberi kakak perhatian lebih sampai dia merasa ‘posisinya di rumah’ aman kembali, dan utamanya, melibatkan batita dalam pergaulan dengan teman sebaya atau lingkungan lebih luas — bukan cuma dengan adik di rumah.

Tumbuhkan Perasaan Bangga Sebagai Kakak

Tanpa disadari, orangtua kadang banyak menaruh harapan pada batita saat dia berpredikat menjadi kakak. Misal, Anda berharap batita menjadi seorang pelindung, penolong, dan membantu Anda menghadapi kehadiran anggota keluarga baru. Seringkali orangtua pun berharap si batita memahami kerepotan-kerepotan di rumah. Padahal menurut Miranda, ini tidak adil. “Kita tidak bisa menempatkan batita sebagai ‘korban’. Posisinya sebagai kakak saja sudah cukup membebani. Sebenarnya untuk menjadi kakak pun batita membutuhkan waktu. Karena itu, sebagai langkah awal jangan pernah orangtua menuntut apa pun dari batita.”

Tuntutan yang ditunjukkan orangtua, seperti meminta kakak mengalah, memintanya memahami perilaku adik, atau meminta lebih toleran, justru akan membuat si kakak ‘sakit hati’. Batita akan merasa dirinya dijadikan korban setelah dia menjadi kakak. Akibatnya, dia pun menunjukkan sikap kurang kooperatif, bahkan mungkin, itu tadi, menunjukkan kemunduran sikap yang justru membuat Anda tambah repot dan sedikit frustrasi.

Miranda menyarankan hati-hati dalam memberi pemahaman pada batita bahwa dia kini sudah menjadi kakak. Tidak perlu mengingatkannya terus. Yang perlu ditumbuhkan justru kebanggaan menjadi kakak. “Misal, dengan menunjukkan sikap positif pada kakak batita. Caranya, jadikanlah kakak contoh positif bagi adik. Tunjukkan pada kakak bahwa setiap perilaku baiknya mendapatkan penghargaan. Yakinkan pula bahwa adik sangat respek padanya,” papar Miranda.

Yang tak kalah penting, meski cukup repot dengan kehadiran bayi baru, jangan sampai mengabaikan kakak batita, lho. Apalagi sampai mendelegasikan pengasuhan batita sepenuhnya pada orang lain, sementara orangtua full mengurus adik. Batita bisa merasa kehilangan kasih sayang utuh dari orangtua yang biasanya dia nikmati sebagai anak tunggal. Kemunduran sikapnya bisa jadi merupakan kompensasi kekecewaan itu, dengan harapan ayah-ibu akan berpaling lagi padanya.

“Kasihan dia kalau sudah begitu. Karena itu usahakan kakak batita mendapatkan perhatian yang memang layak didapatkannya. Ibu bisa mengkomunikasikan hal ini bersama ayah,” tandas Miranda.
Psikolog yang kerap menjadi pembicara masalah psikologi anak di layar kaca ini melanjutkan, pandai-pandailah orangtua mengatur perhatian agar jangan hanya tercurah pada adik.

Bila sebelumnya kakak mendapatkan perhatian penuh dari ibu, setelah ada adik, ayah bisa mengambil alih peranan itu. Hal ini memang tak mudah, tetapi tetap bisa diupayakan. “Saya anjurkan pembagian pengasuhan ini sudah dilakukan sejak adik belum lahir,” Miranda menutup wawancara. b Mila Meiliasari

Sumber: Tabloid Ibu Anak

Bila Anak Tersedak

sumber : cyberjob.cbn.net.id
Mother And Baby

Sudah berulang kali Anda mengingatkan si kecil agar tidak makan sambil berlari atau tertawa. Tetapi, berulangkali pula hal itu dilakukan anak, sampai akhirnya kekhawatiran itu terjadi. Anak tersedak makanannya.

Tersedak atau masuknya benda asing, berupa makanan, permen, kacang, uang logam dan sebagainya, ke dalam tenggorokan atau saluran napas bisa menyebabkan anak sulit bernapas. Bahkan mengakibatkan kematian bila tidak segera diatasi.

Dalam keadaan tersedak, jangan sekali-kali mencoba mengeluarkan sendiri benda yang masuk ke dalam tenggorokan dengan cara memasukkan tangan ke dalam mulutnya, Karena, bila tidak hati-hati, hal itu akan menyebabkan benda asing tersebut, makin terdorong masuk ke dalam.

Bila kondisi ini terjadi pada bayi, pertolongan pertama adalah sebagai berikut :
* Baringkan si kecil dalam posisi telungkup di atas lengan Anda, wajah menghadap ke bawah, sementara dada dan rahangnya di atas telapak tangan Anda. Tepuk-tepuklah punggungnya beberapa kali dengan posisi telapak tangan Anda dalam keadaan miring.

* Segera balikkan tubuhnya sehingga telentang kembali diatas pangkuan Anda, aturlah agar posisi kepalanya lebih rendah dari tubuhnya.

* Lihatlah bagian dalam mulut. Kalau memungkinkan, keluarkan benda asing yang menyangkut di tenggorokannya dengan jari Anda. Namun, bila hal ini tidak mungkin dilakukan, dorong dadanya dengan hentakan 3-5 kali sampai benda yang menyumbat tenggorokannya dikeluarkan.

* Bila hal ini belum berhasil juga segera bawa anak ke rumah sakit terdekat.

Sedangkan untuk menolong balita yang tersedak, Anda bisa melakukan :

* Baringkan anak dalam posisi telentang di atas lantai, lalu mintalah ia membuka mulutnya. Bila memungkinkan, keluarkan benda yang membuatnya tersedak dengan jari tangan Anda.

* Bisa juga benda yang menyumbat tenggorokan dikeluarkan dengan cara menekan dada anak dengan hentakan sebanyak 5 kali. Letakkan salah satu telapak tangan Anda di atas dahinya, sementara telapak tangan lainnya di atas dadanya.

* Cara lain adalah menepuk-nepuk dadanya, sementara tubu hsi kecil dalam posisi berbaring miring.

* Bila hal ini belum berhasil juga segera bawa anak ke rumah sakit terdekat.

Sumber: Tabloid Ibu Anak

Mengapa Caisar

sumber : cyberjob.cbn.net.id
Mother And Baby

Pada persalinan cesar atau c-section, dokter membuat sayatan pada perut dan rahim ibu, dan mengeluarkan bayi melalui bagian yang disayat ini. Dokter kadang tidak memutuskan melakukan operasi cesar sampai tahap proses persalinan dimulai. Namun bukan berarti operasi cesar merupakan prosedur darurat.

Ibu bisa saja menjalani persalinan cesar yang tak terencana bila ada beberapa alasan ini:

* Mulut rahim berhenti membuka atau bayi gagal turun ke saluran lahir dan upaya-upaya yang telah dilakukan untuk merangsang kontraksi rahim gagal.

* Denyut jantung bayi menjadi tak teratur dan dokter tidak bisa memperbaiki keadaan ini, dan dokter menentukan bahwa bayi tak bisa meneruskan tahap-tahap berikutnya dalam persalinan normal.

* Tali pusat turun ke mulut rahim dan tertekan, sehingga menurunkan masukan oksigen untuk bayi

* Ada tanda-tanda plasenta sudah copot dari dinding rahim, dan ini membahayakan bayi.

Persalinan cesar yang terencana bisa dilakukan jika:

* Sebelumnya ibu pernah melakukan persalinan cesar

* Bayi sungsang (pantat di bawah) atau melintang

* Ibu mengandung kembar tiga atau lebih

* Ibu mengalami placenta previa. Plasenta menempel di bagian rahim yang rendah sehingga menghalangi janin keluar melalui mulut rahim

* Saat persalinan, infeksi herpes genital ibu kambuh

* Kondisi pre-eklampsia ibu memburuk sehingga berbahaya untuk melahirkan secara normal,

* Bayi punya penyakit atau kelainan bawaan yang membuatnya berisiko jka dilahirkan secara normal.

* Bayi punya ukuran tubuh yang besar.

Prosedur Operasi Cesar0

1. Biasanya, suami bisa mendampingi selama proses persiapan dan operasi, kecuali jika operasi itu dilakukan akibat keadaan darurat.

2. Jika operasi dilakukan tidak direncanakan namun bukan darurat, dokter yang menangani persalinan akan menjelaskan mengapa memutuskan untuk persalinan cesar. Ibu atau suami akan diminta menandatangani lembar persetujuan.

3. Ahli anestesi lalu mulai bekerja, menyiapkan suntikan epidural, yang akan mematirasakan separo tubuh bagian bawah.

4. Kateter dipasang untuk mengeluarkan air kemih, selang infus dipasang.

5. Anestesia dilakukan, lalu staf operasi menaikkan kain penutup sehingga ibu tidak bisa melihat dokter melakukan operasi. Suami bisa mendampingi ibu dengan duduk di samping kepala ibu.

6. Setelah anestesia memberikan efek kepada ibu, dokter akan membuat sayatan di perut ibu, lalu di bagian bawah rahim.

7. Bayi dikeluarkan dan diangkat sehingga ibu bisa melihatnya, lalu diserahkan ke dokter anak atau perawat. Sementara staf lain memeriksa si bayi, dokter akan mengeluarkan plasenta

8. Bayi akan diserahkan ke si ayah, yang bisa mendekatkannya ke ibu sementara si ibu dijahit — yang bisa mencapai 30 menit.

9. Setelah semua dijahit, ibu dipindahkan ke tempat tidur lain dan dipindahkan ke ruang recovery. Ibu bisa memeluk bayi, setelah itu bisa mulai mencoba menyusui.

Pijat Perineum Kurangi Episiotomi

Pada minggu ke-34 kehamilan, ibu bisa mulai memijat daerah perineum, area di antara vagina dan anus. Pijatan pada perineum ini dapat meningkatkan kemampuan meregang area ini, sehingga kemungkinan ibu mengalami episiotomi (sayatan pada pintu vagina untuk mempermudah keluarnya bayi) maupun robekan akibat persalinan jadi lebih kecil. Pijat perineum ini memang belum selalu terbukti meningkatkan fleksibilitas otot di area ini. Tapi tak ada salahnya dicoba, kan?

* Dengan tangan yang bersih dan kuku dipotong, cobalah teknik pijat ini sendiri, atau bisa juga suami melakukannya. Jika melakukan sendiri, jangan lupa taruh cermin yang cukup besar di depan ibu, agar lebih familiar dengan area perineum.

* Duduklah di tempat yang nyaman, buka dan lebarkan kedua kaki dengan posisi setengah duduk. Oleskan vitamin E -dari kapsul vitamin E yang dipecah- atau minyak sayur murni pada jari-jari tangan, jempol, dan area perineum.

* Masukkan jempol tangan sekitar 1-1,5 inci (atau satu ruas jari) ke dalam vagina. Tekan jempol ke arah anus dan ke samping pada saat yang bersamaan. Dengan perlahan namun kuat, tekan bagian dalam vagina sehingga terasa sedikit panas dan otot di daerah itu meregang.

* Tahan tekanan ini sekitar 2 menit, sampai perasaan panas akibat regangan mulai menghilang

* Dengan lambat dan lembut pijat bagian bawah saluran vagina ke depan dan belakang. Kaitkan dua jempol tangan Anda pada sisi saluran vagina dan dengan lembut tarik bagian ini, seperti yang akan kepala bayi lakukan saat persalinan. Lakukan ini selama 3-4 menit.

* Akhirnya, pijat jaringan di antara jempol dan jari telunjuk ke depan dan ke belakang sekitar 1 menit. Lakukan pijatan dengan lembut, karena sentuhan yang kasar dapat menyebabkan gesekan atau pembengkakan pada jaringan yang sensitif ini

* Selama pemijatan, hindari tekanan pada uretra (bukaan saluran kemih) karena bisa menyebabkan iritasi dan infeksi.

Pijatan perineum ini tidak untuk semua orang, dan juga mungkin tak membantu pada semua kasus. Yang tak kalah penting, pilihlah bidan atau dokter yang berpengalaman membantu persalinan tanpa episiotomi.

Sumber: Tabloid Ibu Anak

Ketika Kontraksi Makin Lama Makin Kuat…

sumber : cyberjob.cbn.net.id
sumber : Mother And Baby

Jarang terjadi, persalinan yang langsung ‘mbrojol’ begitu saja. Umumnya, ibu akan melalui tiga tahap yang melelahkan.

Pada tahap pertama, ada tiga fase yang akan ibu rasakan. Fase pertama disebut fase tenang atau laten. Biasanya berlangsung 9 jam untuk anak pertama, 4 jam untuk kehamilan selanjutnya. Ibu merasakan gejala persalinan seperti sakit punggung saat kontraksi, gangguan pencernaan, perasaan hangat di perut, dan pengeluaran lendir yang bebercak darah.
Kontraksi yang terjadi akan menarik leher rahim ke atas, dan selanjutnya memaksa leher rahim membuka mulutnya makin lama makin lebar (dilatasi). Fase tenang terjadi sampai mulut rahim membuka 2-3 jari (4-5 cm). Pembukaan tiga jari atau 5 cm berarti sudah separo pembukaan sempurna — pembukaan 10. Sampai pembukaan sempurna ini memakan waktu sekitar 13 jam untuk anak pertama dan 7 jam untuk kehamilan berikutnya. Pada fase ini kepala bayi masuk ke rongga panggul, sedangkan kantung ketuban biasanya masih utuh. Kepala bayi mulai maju menekan kandung kemih serta saluran pembuangan feses.

Sebelum memasuki fase aktif, ibu boleh tenang-tenang dulu di rumah. Tapi segera hubungi dokter bila ketuban pecah dan airnya berwarna keruh atau kehijauan, atau perdarahan berwarna merah menyala. Atau, bila tidak ada gerakan janin. Bila tak mengalami itu semua, ibu boleh melanjutkan aktivitas misalnya tidur (jangan telentang), pekerjaan rutin lain, atau jalan-jalan di sekitar rumah. Jangan lupa sering pipis agar cairan tak tertahan dalam kantung kemih, yang bisa menghambat proses persalinan.

Bila kontraksi terjadi setiap 10 menit, pergilah ke rumah sakit terdekat. Fase aktif lalu dimulai. Kontraksi makin kuat, lama, dan sering. Umumnya 3 atau 4 menit sekali dan berlangsung selama 40-60 detik. Pembukaan leher rahim sampai 7 cm. Pola kontraksi mungkin tidak teratur. Saat ini, semua yang tak enak mulai ibu rasakan. Sakit punggung makin bertambah, sakit pada kaki, keletihan, bertambahnya pengeluaran lendir dan darah. Kantung ketuban juga bisa pecah pada saat ini. Ibu mungkin makin gelisah dan tegang. Tapi cobalah melakukan teknik pernapasan, segera setelah kontraksi menguat. Minumlah air putih bila diizinkan dokter dan istirahat di sela-sela kontraksi. Jalan-jalanlah di sekitar rumah sakit atau kerap mengubah posisi berbaring. Jangan lupa untuk sering-sering buang air kecil.

Fase ketiga, disebut fase transisi. Ini tahap yang paling berat dan melelahkan. Kontraksi makin kuat, sekitar 2 atau 3 menit sekali selama 60-90 detik dengan puncak kontraksi sangat kuat yang lamanya hampir sepanjang kontraksi itu sendiri. Bukaan leher rahim mendekati 10 cm, yang berlangsung antara 15 menit sampai 1 jam.

Pada masa ini, ibu merasakan tekanan sangat kuat pada bagian bawah punggung, pengeluaran lendir dan darah bertambah, ada tekanan pada anus dengan atau tanpa dorongan untuk mengejan. Tapi ibu masih dilarang mengejan dulu. Untuk menghindari dorongan mengejan, tariklah napas pendek dan cepat atau embuskan napas. Mengejan sebelum pembukaan sempurna dapat menyebabkan leher rahim membengkak, yang akibatnya dapat menunda persalinan.

Kantung Ketuban Pecah

Setelah proses persalinan tahap pertama berlalu, ibu mulai memasuki persalinan tahap kedua. Awal tahap ini biasanya ditandai dengan pecahnya kantung ketuban. Ketuban dapat pecah lebih awal dan terkadang sebelum bayi siap lahir. Namun umumnya, ketuban pecah pada akhir tahap pertama.

Pada saat ini pembukaan jalan lahir sudah sempurna, yakni pembukaan 10 cm. Bersamaan dengan pecahnya ketuban, Ibu akan merasakan dorongan yang sangat kuat untuk mengejan, karena kepala bayi menekan jaringan di bagian tengah panggul. Selanjutnya, otot-otot perut akan bergerak mendorong bayi ke bawah. Ibu pun mulai merasakan tekanan yang sangat kuat pada anus. Kontraksi juga sangat jelas terlihat, dengan rahim terangkat setiap kali kontraksi. Pengeluaran lendir bercampur darah pun bertambah. Tahap ini biasa memakan waktu sekitar 1,5 jam.

Pada saat ini, bila Ibu merasa ada dorongan untuk mengejan, dan sudah ada instruksi, dokter atau bidan akan meminta Ibu mengubah posisi mengejan. Posisi setengah duduk atau setengah jongkok merupakan posisi terbaik, karena posisi ini memanfaatkan gaya berat dan menambah gaya dorong Ibu. Inilah saatnya ibu bekerja keras untuk mengejan sekuat mungkin.

Mengejanlah seefisien mungkin, dengan melakukan langkah-langkah berikut: Tarik beberapa kali napas yang dalam, bertepatan saat kontraksi terjadi. Tarik napas sekali lagi dan tahan. Ketika kontraksi mencapai puncaknya, mengejanlah (dorong) sekuat tenaga sampai Ibu tidak lagi dapat menahan napas.

Saat mengejan, lemaskan seluruh tubuh, termasuk paha dan daerah perineum. Sikap tegang justru melawan usaha mengejan yang Ibu lakukan. Bila dokter atau bidan menginstruksikan berhenti mengejan, berhentilah, lalu embuskan napas atau bernapas dengan pendek dan cepat. Jangan panik. Bila Ibu panik dan mendorong secara tak teratur, akan menghamburkan tenaga dan memperlambat proses persalinan. Cobalah konsentrasi. Samakan irama dorongan Ibu dengan instruksi dokter atau bidan.

Perlu diperhatikan, Ibu harus mengikuti setiap dorongan mengejan. Jangan mencoba menahan napas dan mengejan di setiap kontraksi. Menahan napas untuk jangka waktu yang lama akan membuat Ibu kelelahan, bahkan mengurangi oksigen ke janin. Juga menambah risiko pecahnya pembuluh darah di mata dan wajah. Tariklah napas dalam beberapa kali ketika kontraksi mereda, cara ini dapat mengembalikan keseimbangan pernapasan. Bila Ibu sungguh lelah karena fase kedua ini berjalan lambat, dokter mungkin akan meminta Ibu untuk tidak mengejan lagi selama beberapa kontraksi, sehingga Ibu dapat mengumpulkan tenaga kembali.

Pada saat kontraksi yang ditambah daya dorong ibu, kepala bayi menggeser hingga ke dekat pintu keluar. Setiap kontraksi terjadi, kepala bayi maju sedikit, dan tertarik mundur bila kontraksi berhenti. Tetapi gerakan maju terus berlangsung dan semakin cepat ketika kepala mulai terlihat dari luar. Saat ini kepala bayi berhasil meregangkan pintu lubang vagina beserta jaringan-jaringan di sekitarnya serta lubang pelepasnya. (Tekanan dari bayi dan dorongan kuat membuat seluruh daerah perineum juga mendapat tekanan besar. Feses di saluran anus bisa keluar juga dan ini tak perlu ditahan-tahan, karena dapat menghambat kelancaran proses persalinan).

Setelah beberapa kali kontraksi, kontraksi yang terakhir akan mendorong bayi lebih jauh dan kepalanya lepas dari lubang vagina. Berturut-turut muncul dahi, mata, hidung, dan dagunya. Begitu dilahirkan, bayi akan memutar kepalanya ke samping Ibu. Kemudian seluruh bagian tubuhnya meluncur ke luar dari saluran persalinan. Si bayi pun lahir!

Sumber: Tabloid Ibu Anak