Setengah Juta Anak Setiap Tahun Alami Efek Samping Obat

SAYUR = Say No To Puyer
http://puyer.wordpress.com

sumber : http://kesehatan.kompas.com/read/xml/2009/09/29/11340132/setengah.juta.anak.setiap.tahun.alami.efek.samping.obat

Setengah Juta Anak Setiap Tahun Alami Efek Samping Obat
Selasa, 29 September 2009 | 11:34 WIB

*KOMPAS.com *— Peresepan obat yang irasional sudah tentu merugikan
konsumen karena bisa menimbulkan efek samping yang berbahaya, terutama
bagi bayi dan anak-anak kecil. Studi terkini menunjukkan, lebih dari
setengah juta anak di Amerika Serikat setiap tahunnya mengalami efek
samping dari pengobatan yang diterimanya.

Berdasarkan analisis data dari /National Center for Health Statistics/
terhadap pasien rawat jalan antara tahun 1995-2005 diketahui ada 585.992
pasien anak hingga remaja usia 18 tahun yang berobat. Kebanyakan memang
melakukan rawat jalan, tapi 22 persen di antaranya harus dirawat di unit
gawat darurat akibat efek samping obat tadi.

“Kami menemukan bahwa dari 1000 anak ada 13 pasien yang berobat karena
efek samping obat. Ini mengindikasikan mereka mengalami komplikasi
serius,” kata ketua peneliti Dr.Florence Bourgeois dari divisi gawat
darurat pediatrik di Children’s Hospital Boston,AS.

Mayoritas pasien yang berobat adalah anak berusia 4 tahun ke bawah (43
persen), dan diikuti dengan remaja usia 15-18 (23 persen). Gejala efek
samping yang paling sering dikeluhkan adalah masalah kulit (45 persen)
dan pencernaan (16,5 persen). Sekitar 52 persen anak dilaporkan juga
mengalami reaksi alergi.

Obat antibakteri seperti penisilin merupakan obat yang paling sering
menimbulkan efek samping. Menurut data ada 27,5 persen kunjungan
gara-gara obat tersebut dan 40 persennya adalah anak berusia kurang dari
4 tahun.

Di urutan kedua dalam obat yang paling sering menimbulkan efek samping
adalah obat-obatan saraf (6,5 persen) dan hormon (6 persen). Dua jenis
obat ini biasanya diterima oleh pasien remaja, yang menggambarkan
peningkatan penggunaan obat untuk gangguan emosional dan kontrasepsi di
kalangan remaja.

Hasil studi tersebut dipublikasikan dalam jurnal ilmiah /Pediatrics.
/Dalam laporannya, para peneliti menyarankan agar para dokter lebih
berhati-hati dalam meresepkan obat untuk anak-anak hingga remaja. Selain
itu. para dokter juga diharapkan bisa memberi informasi yang mungkin
dibutuhkan para orangtua.

“Salah satu cara untuk mengurangi efek samping yang tak diharapkan
adalah para dokter harus punya informasi yang lengkap mengenai efek
samping suatu obat dan melakukan perbandingan efektivitas suatu obat.
Informasi ini bisa didapatkan dari data dan bukti nyata penggunaan obat,
bukan hanya dari keterangan di label obat,” kata Bourgeois.

Dengan semakin terdidiknya orangtua, seharusnya orangtua juga makin
kritis terhadap rasional tidaknya peresepan yang dilakukan para dokter.

Iklan

HIB DAN ANCAMAN KEMATIAN BAYI

SUMBER : MILIST BALITA-ANDA

sumber : harian Pikiran Rakyat
Satrio Widianto (wartawan harian Pikiran Rakyat)

Kendati teknologi dan berbagai penemuan sudah demikian
banyak, penyakit-penyakit infeksi masih menjadi salah
satu penyebab kesakitan dan kematian pada bayi dan
balita. Upaya pencegahan telah dilakukan dengan cara
memperbaiki sanitasi, perbaikan gizi, dan kondisi
kehidupan masyarakat. Akan tetapi upaya ini ternyata
belum cukup.

Imunisasi masih menjadi tindakan pencegahan paling
efektif karena terbukti paling ampuh mencegah penyakit
infeksi. Imunisasi bagi bayi dan balita bukan saja
sangat menguntungkan secara individu, sebagai
pelindung dari penyakit, kecacatan, bahkan kematian.
Imunisasi juga bermanfaat bagi masyarakat secara luas
untuk mencegah penularan penyakit infeksi di antara
masyarakat, terutama bagi penyakit infeksi yang
ditularkan melalui kontak langsung dengan
penderitanya.
Melalui imunisasi, bayi dan balita akan menjadi kebal
terhadap penyakit infeksi tertentu. Sementara itu,
melalui program imunisasi massal, akan dicapai tujuan
akhir yaitu eradikasi penyakit dari suatu negara
bahkan dunia.

Penyakit yang berbahaya kadang-kadang pada awalnya
sulit diketahui karena tidak punya gejala spesifik
sehingga sangat sulit untuk mendeteksinya. Akibatnya
fatal jika tidk tertangani dengan segera dan tepat.
Hal ini tentu sangat mencemaskan, apalagi jika
penyakit tsb. menyerang balita yang belum dapat
mengungkapkan rasa tak enak pada tubuhnya.

Salah satu penyakit infeksi yang berbahaya dan tidak
memiliki gejala spesifik adalah penyakit Hib
(Haemophillus Influenzae tipe B). Ini bukanlah
penyakit sejenis influenza yang disebabkan oleh virus
influenza, tapi disebabkan oleh bakteri gram negatif,
yang bernama Haemophillus influenzae yang terbagi atas
jenis yang berkapsul dan tidak berkapsul.

Tipe yang tidak berkapsul umumnya tidak ganas dan
hanya menyebabkan infeksi ringan, sedangkan tipe yang
berkapsul terbagi atas 6 serotipe dari A sampai F. Di
antara jenis yang berkapsul, tipe B merupakan tipe
yang paling ganas dan 95% penyebab dari semua infeksi
akibat Haemophylus influenzae. Selain itu, tipe ini
juga menjadi salah satu penyebab tersering dari
kesakitan dan kematian pada bayi dan anak berumur
kurang dari 5 tahun.

Infeksi Haemophyllus influenzae tipe B atau lebih
dikenal sebagai Hib adalah infeksi yang paling sering
menyebabkan meningitis (radang selaput otak).
Penyakit lain akibat infeksi Hib adalah pneumonia
(radang paru) dan epiglotitis (radang tulang rawan
tenggorokan).
Prof. Dr. dr. Sri Rezeki S. Hadinegoro, Sp.A. (K),
Ketua Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia
(IDAI) mengakui, penyakit ini beresiko tinggi,
menimbulkan kematian pada bayi. Kalaupun sembuh,
meningitis Hib dapat menyebabkan gangguan pendengaran,
mental, dan otak.

Penyakit akibat Hib yang telah dikenal sejak 50 tahun
terakhir ini diketahui sebagai salah satu gangguan
kesehatan serta penyebab kesakitan dan kematian,
terutama bagi balita. “anak-anak di bawah usia 5
tahun merupakan kelompok anak yang paling rentan
terinfeksi Hib, sedangkan usia yang paling beresiko
adalah antara 2 bulan hingga 18 bulan. Sekitar 5-10%
dari mereka yang terinfeksi akan meninggal. Infeksi
akut Hib juga menyerang bayi berusia di bawah 6 bulan,
dengan tingkat kematian mencapai 40%,” kata Prof. Sri
Rezeki.

Di negara barat, Hib menyebabkan penyakit pada 20-200
per 100.000 penduduk. Perbedaan angka kejadian tsb.
disebabkan perbedaan teknis pemantauan, teknik
pengambilan materi pemeriksaan, teknis pemeriksaan
laboratorium, dan pola penggunaan antibiotik.

Beberapa laporan dari negara di Asia menunjukkan bahwa
Hib menjadi penyebab utama dan terbanyak yang
menimbulkan penyakit meningitis. Sementara itu, di
Indonesia, Hib menjadi penyebab 33% dari kasus
meningitis. Hasil riset lanjutan melaporkan bahwa Hib
merupakan 38% penyebab meningitis pada bayi dan anak
berumur kurang dari 5 tahun. Penyebabnya adalah
bakteri Hib yang ditularkan melalui udara dan kontak
langsung dengan penderita.
Meningitis adalah penyakit yang disebabkan oleh virus
dan bakteri, tapi lebih sering akibat infeksi bakteri
Hib. Penyakit ini biasanya menyerang anak-anak pada
usia lima tahun, diawali dengan gejala sakit
tenggorokan. Akan tetapi, gejala tsb. kemudian
membuat kondisi kesehatan pasien semakin parah
disertai dengan kaku leher, photofobia (takut melihat
cahaya), demam, sakit kepala akut, nyeri sendi,
muntah, mengantuk, gelisah, dan delirium (mengigau).
Pada beberapa pasien anak-anak, serangan meningitis
bisa datang secara mendadak dan beberapa jam setelah
muncul gejala, kemudian pasien meninggal.

Secara keseluruhan, tingkat kematian penyakit
meningitis akibat bakteri Hib mencapai sekitar 5%.
Meskipun dapat disembuhkan, sering pasien menderita
kecacatan, terutama gangguan pendengaran.
Selain itu, Haemophyllus influenzae juga menjadi
penyebab pneumonia atau radang paru. Penelitian
membuktikan bahwa pneumonia disebabkan oleh virus pada
25-75% kasus, sedangkan bakteri biasanya ditemukan
pada kasus yang berat. Kematian umumnya disebabkan
oleh infeksi bakteri.

Pada penderita pneumonia, kantung udara di dalam
paru-paru dipenuhi banyak cairan lain sehingga
mengganggu fungsi paru-paru. Akibatnya, oksigen sulit
mencapai aliran arah. Bila oksigen di dalam darah
sedikit, sel-sel tubuh tidak dapat bekerja dengan baik
sehingga bisa menimbulkan kematian.
Sebelum diperkenalkan vaksin, Hib merupakan bakteri
penyebab pneumonia dan diduga bertanggung jawab
terhadap 5-18% kejadian pneumonia. Radang paru atau
pneumonia lebih sering terjadi di negara-negara
berkembang dengan prevalensi 5-15%. Anak-anak di
bawah 4 tahun termasuk kelompok paling rentan
menderita penyakit ini. Gejalanya demam,
menggigil/gemetar, napas pendek, batuk dan sakit dada.
Di negara maju, imunisasi telah menurunkan kejadian
infeksi Hib hingga lebih dari 95%, termasuk pneumonia.

Penyakit lain yang disebabkan oleh bakteri Hib ini
adalah Epiglotitis, yaitu penyakit radang tulang rawan
tenggorokan akibat infeksi penutup tulang rawan
pangkal tenggorokan. Penyakit ini paling sering
terjadi pada anak-anak usia 2-4 tahun.
Penyakit ini dengan cepat menyerang tubuh, diawali
dengan sakit tenggorokan dan demam. Kemudian,
Epiglotis menjadi merah terang, bengkak dan sakit,
merusak/mengganggu jalan napas dan menyebabkan
penderitanya mengalami sulit bernapas dan menelan.
Anak jadi resah dan gelisah serta cenderung duduk
tegak dengan leher menengadah dan dagu menonjol
sebagai upaya untuk mengurangi gangguan jalan napas.
Pasien bisa meninggal dalam waktu beberapa jam
kemudian akibat mati lemas karena kekurangan napas
atau septisemia.

Sangat disayangkan, Hib tidak memiliki gejala yang
spesifik dan hanya dapat diketahui setelah terjadi
kerusakan pada selaput saluran pernapasan. Gejala
umum yang muncul adalah demam, rinitis, sakit
tenggorokan, batuk, lelah, nyeri otot dan kepala,
muntah dan diare. Haemophyllus influenzae hanya
ditemukan pada manusia. Penularan terjadi melalui
udara dan kontak langsung dengan penderita. Sebagian
besar orang yang mengalami infeksi tidak menjadi
sakit, tapi menjadi pembawa kuman (carrier) karena Hib
menetap di tenggorokan. Prevalensi carrier yang lebih
dari 3% menunjukkan angka cukup tinggi.

Penelitian pendahuluan di Lombok menunjukkan
prevalensi pembawa kuman sebesar 4,6%, suatu angka
yang cukup tinggi. Bila prevalensi pembawa kuman
cukup banyak, kemungkinan kejadian meningitis dan
pneumonia akibat Hib biasanya juga tinggi. Data yang
ada menunjukkan bahwa Hib memang merupakan penyebab
meningitis yang terbanyak.
Mengenai pengobatan yang perlu dilakukan, di masa lalu
pengobatan penyakit akibat infeksi Hib dengan
memberikan obat antibiotik sesegera mungkin untuk
menyelamatkan penderita. Akan tetapi, sekarang
pengobatan dengan antibiotik saja ternyata tidak cukup
ampuh, mengingat bakteri Hib dewasa ini sudah banyak
yang kebal terhadap pengobatan antibiotik. Di Amerika
diperkirakan 40$ bakteri Hib resisten terhadap obat
antibiotik ampisilin.

Kenyataan ini menyebabkan para ilmuwan kesehatan
kemudian memusatkan perhatian pada upaya pencegahan
penyakit Hib. Mereka akhirnya memutuskan bahwa
imunisasi Hib adalah satu-satunya cara paling praktis
dan efektif untuk mencegah terjadinya penyakit akibat
bakteri Hib.
Sekarang ini vaksin Hib umumnya sudah tersedia di
banyak negara, termasuk Indonesia. Bahkan, beberapa
negara di antaranya telah memasukkan vaksinasi Hib ke
dalam jadwal imunisasi wajib untuk bayi dan balitanya.
Di negara yang telah berkembang, imunisasi menurunkan
kejadian infeksi Hib hingga lebih dari 95%, termasuk
untuk kasus pneumonia. Pemberian vaksin Hib sedini
mungkin akan melindungi bayi dan balita dari terserang
penyakit meningitis atau radang selaput otak,
pneumonia dan epiglotitis.
Salah satu vaksin Hib yang diproduksi GlaxoSmithKline
(GSK) memuat komponen PRP-T (konjugasi
polyribosyl-ribitol phosphate dengan tetanus toxoid)
yang terbukti memberikan kekebalan tubuh yang paling
optimal dibandingkan dengan vaksin konjugasi Hib
dengan bakteri lainnya. Vaksin Hib ini dikenal dengan
nama Hiberix.

“Vaksin Hiberix dapat digunakan sebagai vaksin
tersendiri atau dikombinasikan secara praktis dengan
vaksin lain seperti dengan vaksin Infanrix, yaitu
vaksin untuk penyakit-penyakit Difteri, Pertusis,
Tetanus (DPT) dengan efek samping seperti demam,
merah, dan bengkak di sekitar suntikan yang sangat
minimal,” kata dr. Fransiscus Chandra, Direktur
Medikal GaxoSmithKline.
“Memang awalnya, vaksin Hib terbuat dari kapsul
Polyribosyribitol phosphate (PRP), namun ternyata
vaksin yang terbuat dari PRP murni ini kurang efektif.
Jadi vaksin yang digunakan adalah konjugasi PRP
dengan berbagai komponen bakteri lain. Yang beredar
di Indonesia saat ini adalah vaksin konjugasi dengan
membran protein luar dari Neisseria menigitidis
(PRP-OPM) dan konjugasi dengan toksoid tetanus
(PRP-T),” jelasnya.

Pada suntikan pertama, vaksin Hib PRP-OPM dapat
menghasilkan level proteksi yang lebih cepat
dibandingkan dengan PRP-T. Namun secara keseluruhan,
setelah suntikan ke-3 maka vaksin Hib PRP-T dapat
menghasilkan level proteksi yang jauh lebih tinggi
Pemberian vaksin Hib saat ini telah direkomendasikan
WHO/PAHO dan GAVI. Untuk bayi usia 2-6 bulan
diberikan imunisasi Hib sebanyak 3 dosis dengan
interval satu bulan. Bayi berusia 7-12 bulan
diberikan vaksinasi Hib sebanyak 2 dosis dengan
interval waktu satu bulan. Sementara itu, anak
berumur 1-5 tahun cukup diberikan imunisasi Hib
sebanyak 1 dosis, dengan dosis ulangan pada umur 15
bulan. Mengingat Hib lebih sering menyerang bayi
kecil (26% terjadi pada bayi berumur 2-6 bulan dan 25%
pada bayi berumur 7-11 bulan), vaksin Hib sebaiknya
telah diberikan sejak usia 2 bulan. Vaksin Hib tidak
dianjurkan diberikan sebelum bayi berumur 2 bulan
karena bayi tsb. belum dapat membentuk antibodi.
Setelah pemberian vaksin, efek samping yang mungkin
timbul adalah demam, nyeri, atau bengkak pada tepat di
area bekas suntikan. Namun, ada produk vaksin yang
efek sampingnya dapat ditekan lebih rendah lagi.
Sebagaimana yang dikatakan oleh Fransiscus, vaksin Hib
ini terbukti memiliki reaksi lokal yang rendah
sehingga mengurangi rasa tak nyaman pada anak.

Meski demikian, manfaat imunisasi masih jauh lebih
besar, mengingat sebagian penyakit masih belum ada
obatnya. Dalam hal ini, vaksin merupakan salah satu
bentuk obat yang paling aman, efektif, dan dapat
menurunkan biaya kesehatan.
Orang tua diharapkan lebih memahami berbagai jenis
imunisasi yang dibutuhkan oleh bayi karena pencegahan
lebih baik daripada mengobati. Orang tua juga berhak
menanyakan vaksin yang akan diberikan kepada bayinya,
termasuk efek samping akibatnya. Orang tua atau siapa
pun yang ingin mengetahui tentang vaksin dan
penyakitnya kini bisa mendapat akses lebih mudah
dengan membuka situs di http://www.worldwidevaccine.com.
Dengan memahami segala sesuatu sejak dini, niscaya
tingkat kesakitan dan kematian pada bayi akan bisa
berkurang secara signifikan.

MEMAHAMI TANGISAN BAYI

sumber : http://www.tabloid-nakita.com/artikel.php3?edisi=01003&rubrik=bayi

*T**ak usah panik jika bayi menangis. Anda dapat mengatasinya dengan mudah
jika tahu sebabnya. Jangan pula berpikir, ia anak yang rewel. Menangis
adalah cara si kecil berkomunikasi dengan Anda.*

* *

Setiap bayi pasti menangis dan beberapa di antara mereka lebih sering
menangis dibanding yang lain. Anak cengeng? Bukan! Yang jelas, menangis
adalah cara ia berkomunikasi dengan Anda. Khususnya selama 12 bulan pertama
kehidupannya. Lewat tangis, ia memberitahukan kebutuhan-kebutuhannya kepada
Anda seperti rasa lapar, lelah, pedih, dan keadaan tubuh yang tak
menyenangkan lainnya, serta untuk memenuhi keinginan diperhatikan.

Pada umumnya bayi sering menangis pada minggu-minggu pertama kehidupan, baik
siang maupun malam. Ini karena bayi yang baru lahir masih berada dalam fase
penyesuaian dari dalam kandungan ke dunia luar. Jadi, jika ia sering
menangis, “Tak usah cemas! Sering atau jarangnya bayi yang baru lahir
menangis, salah satu faktornya adalah keturunan. Mungkin waktu kecil, ibu
atau ayahnya juga begitu, rewel,” kata *Dr. Najib Advani SpA. MMed. Paed.*,
dokter anak di Sub. Bag, Kardiologi Anak FKUI-RSCM ini.

Banyak-sedikitnya tangisan, menurut Elizabeth B. Hurlock dalam bukunya yang
dialih-bahasakan, *Perkembangan Anak II,* berbeda-beda menurut cepat dan
memadainya pemenuhan kebutuhan dan keinginan mereka. Jika dipenuhi dengan
segera, bayi kemudian hanya akan menangis karena merasa sakit dan tertekan.
Setelah umur dua minggu, ada sebagian bayi yang menangis berlebihan. Dalam
kebanyakan kasus dilaporkan, orangtua bayi tersebut tak cepat memperhatikan
tangis bayinya dan tak konsisten menanggapinya.

Jumlah tangisan juga bervariasi menurut “saat harinya”, bertepatan dengan
saat jadwal bayi. Misalnya, bayi paling sering menangis sebelum saatnya
diberi makan dan sebelum waktunya tidur malam. Ketika bayi dapat
menyesuaikan diri dengan jadwal waktu makan dan tidur, tangisan pada
saat-saat tersebut berkurang.

Jangan hentikan tangisnya dengan cara mengangkatnya setiap kali ia rewel
atau menangis. Carilah apa yang salah dan jika tak terlalu serius, segera
alihkan perhatiannya. Menurut Dr. Najib, secara garis besar bayi menangis
dibagi dua kelompok. Pertama, bayi menangis tanpa penyakit, seperti lapar,
haus, perasaan tidak enak atau tidak nyaman (kepanasan, kedinginan, popok
basah, suara berisik, dan lainnya), tumbuh gigi, saat buang air kecil,
kesepian, lelah, atau kolik. Kedua, bayi menangis karena ada sesuatu
penyakit seperti infeksi, radang tenggorokan, radang telinga, hernia,
sumbatan usus, autisma, dan sebagainya.

Jika bayi menangis karena penyakit, periksakan ia ke dokter. Tapi jika
tidak, Anda dapat membantu menenangkannya. Berikut jenis-jenis penyebab
serta penanganan tangis bayi sesuai usianya.

* *

*ARTI TANGISAN BAYI 0-3 BULAN*

Pada umumnya, para ibu mengartikan tangis bayi sebagai tanda lapar.
Ingatlah, menangis tak selalu berarti lapar. Arti tangis berbeda-beda,
masing-masing merupakan tanda komunikasi yang jelas sebagai ungkapan pesan
kepada Anda tentang apa yang ia butuhkan. Gerakan tubuh yang menyertai
tangis dapat membantu Anda lebih memahaminya. Makin keras dan makin lama
tangis, makin kuat kebutuhannya.

** “Saya lapar.”*

Tangis lapar biasanya berpola. Ia menangis, lalu stop untuk bernafas,
menangis lagi, lalu stop untuk bernafas. Biasanya diselingi gerakan
mengisap. Jika sangat lapar, tangisnya lebih keras dan terus-menerus.

Jika ia masih menangis saat disusui ASI, coba lihat hidungnya. Ada
kemungkinan bibir atasnya menutupi hidung dan ia sulit bernafas, sehingga
menangis.

** “Saya bosan.”*

Tangis bosan biasanya pendek, diikuti keheningan, lalu tangis pendek lagi.
Tangisnya akan berlanjut jika Anda tak segera mendekatinya dan mengajaknya
bermain.

** “Saya lelah.”*

Tangis lelah berupa rengekan. Ia mungkin akan menggosok-gosok wajahnya dan
memutar kepalanya dari satu sisi ke sisi lain. Sebuah usapan atau gerakan
berirama cukup menenangkan ia dan bisa membuatnya tidur.

** “Saya kesepian.”*

Beberapa bayi butuh perhatian lebih dibanding bayi lainnya dan mulai merasa
kesepian ketika ia ditinggalkan sendiri untuk waktu lama. Tangis kesepian
berupa rengekan setiap menit dan kadang diikuti air mata. Emongan yang lama
membuatnya senang.

** “Saya tak nyaman.”*

Biasanya suara tangis melengking dan jelas, nafas agak tersendat, tapi lalu
nafasnya menjadi cepat diikuti tangis lain. Mungkin lengannya terjepit,
pantatnya kotor, tertusuk peniti, atau mungkin ia kedinginan/kepanasan.

** “Saya kolik.”*

Bayi sering menangis karena kolik atau kejang/kram usus. Hingga kini belum
diketahui penyebab kolik. Ada dugaan, sistem pencernaan bayi belum sempurna
sehingga timbul gangguan pencernaan. Kolik dialami pada 3 bulan pertama
kehidupan dan biasanya terjadi sore hari menjelang malam.

Tangis kolik sangat keras disertai jeritan dan episodik: suatu saat timbul,
suatu saat hilang, tapi hanya satu atau dua menit, lalu menangis lagi.
Biasanya diikuti gerakan tangan ke arah perut, badan mengencang, dan kadang
disertai buang angin. Menggosok perutnya dengan minyak telon dapat membantu
menenangkannya.

** “Saya sakit.”*

Rasa sakit diungkapkan dengan tangis melengking, keras, diselingi rintihan
serta rengekan. Tangis bayi yang perutnya mulas, lebih melengking dan lebih
ribut. Hubungi dokter anak Anda jika ia menunjukkan gejala-gejala sakit
tertentu.

*ARTI TANGISAN BAYI 4-12 BULAN*

Mulai usia 3-4 bulan, Anda akan melihat perubahan nyata pada si kecil.
Tangisnya mulai berkurang karena ia sekarang mulai tahu apa yang ada di
sekelilingnya. Ia mau mendengarkan dan tertarik terhadap segala sesuatu di
sekelilingnya.

** “Saya lapar.”*

Rasa lapar masih nyata menyebabkan ia menangis. Ia mulai mengkonsumsi
makanan padat. Ia pun lebih aktif dibanding sebelumnya dan karenanya cepat
lelah. Bayi yang aktif, kebutuhan makannya lebih banyak. Makanan kecil dan
minuman dapat memulihkan energinya.

** “Saya tumbuh gigi.*

Biasanya bayi mulai tumbuh gigi usia 6 bulan ke atas. Biasanya tangisnya
muncul di sore hari, kuat seperti tangis sakit karena ada rasa nyeri.

** “Saya cemas.”*

Mulai usia 7 atau 8 bulan, kebanyakan bayi menangis karena cemas, terutama
saat ia “kehilangan” Anda. Baginya, Anda adalah dasar dari rasa amannya. Ia
akan tenang “menjelajahi dunia” selama Anda berada dalam pandangannya. Jika
Anda meninggalkannya atau ia tak melihat Anda, meski Anda ada di dekatnya,
ia akan menangis.

** “Saya ingin diperhatikan.”*

Lewat usia 6 bulan, ia mulai mempelajari, menangis ialah suatu alat untuk
memperoleh perhatian. Bayi usia 7 atau 8 bulan cukup menyadari, dengan
menangis, Anda akan segera berlari mendekatinya. Lebih baik Anda tak
buru-buru menggendongnya, tapi hiburlah atau ajak main.

** “Saya sakit.”*

Rasa sakit yang ia alami lebih karena benturan-benturan pada fisiknya saat
ia bergerak aktif. Meski tidak luka, tetap memungkinkan ia menangis. Mungkin
lebih karena rasa kaget. Mengalihkan perhatiannya dapat menolong ia
melupakan sakitnya dengan cepat.

**”Saya sangat lelah.”*

Lelah berlebihan ditunjukkan oleh rengekan, lekas marah, dan akhirnya
menangis. Menjelang akhir tahun pertamanya, ia mempunyai kehidupan yang
penuh dengan pengalaman baru, yang membuatnya kehabisan energi sebelum ia
kehilangan semangat. Ia butuh pertolongan Anda untuk membuatnya cukup rileks
seperti tidur.

**”Saya marah.”*

Mulai usia 9 bulan, dalam dirinya mulai berkembang konsep, “Saya ingin.” dan
kemarahan merupakan caranya untuk menunjukkan rasa frustrasinya ketika
sesuatu tak diperoleh sesuai keinginannya. Seolah ia dibuat jengkel oleh
batasan-batasan, beberapa di antaranya merupakan rintangan fisik seperti
kursi tinggi dan kursi dorong, yang terasa menghalanginya saat ia ingin
berkembang lebih leluasa.

Ia juga terhalang oleh kemampuan komunikasinya yang masih baru. Karena tak
bisa mengungkapkan keinginannya dengan kata-kata, ia akan menggenggam erat
kepalan tangannya dan pipinya memerah, untuk menunjukkan pada Anda bahwa ia
tak puas dengan situasi yang ada.

*Julie Erikania.Foto:Dok.Nakita*

*
*

*Menghentikan Tangis*

Ada banyak cara yang dapat Anda lakukan untuk menentramkan bayi Anda.
Pilihlah sesuai kebutuhannya.

**Gendong.*
Gendong ia dalam posisi tegak lurus dengan perut menempel di dada Anda,
tepuk-tepuk punggungnya dengan lembut. Bawa ia berjalan-jalan mengelilingi
ruangan atau ke ruangan lain. Bisa juga dengan cara meletakkannya di kereta
bayi dan dorong perlahan-lahan dengan hati-hati. Jika kondisi Anda tak
memungkinkan untuk menggendongnya sambil berjalan, letakkan ia di lengan,
sementara Anda duduk di kursi goyang. Goyangan yang lembut akan
menenangkannya.

** Usap atau tepuk-tepuk lembut.*
Beberapa bayi dapat ditenangkan hanya oleh sentuhan Anda, tanpa harus
menggendongnya. Ia bisa tenang hanya karena ditepuk-tepuk pantatnya atau
diusap-usap punggungnya, sambil Anda bersenandung lembut.

** Beri sesuatu untuk diisap*.
Hampir setiap bayi menjadi tenang dengan mengisap. Beri ia mainan khusus
untuk digigit atau bimbing ia menemukan jari-jemarinya untuk dimasukkan ke
mulutnya. Bisa juga Anda menggunakan jari kelingking Anda yang sudah
dibersihkan untuk ia isap.

** Alihkan perhatiannya.*
Anda dapat mengalihkan perhatiannya dengan memperlihatkan sesuatu yang
menarik sehingga ia lupa pada tangisnya. Gambar-gambar warna-warni atau
mainan aneka bentuk dan warna akan mempesonanya. Cermin juga bisa digunakan.
Ia akan senang melihat wajahnya sendiri.

** Tunggu amarahnya mereda.*
Anda tak selalu dapat menenangkan bayi yang frustrasi. Bahkan jika ia tak
senang duduk di kursinya, Anda tak dapat memecahkan masalah dengan
memindahkan dan mengangkatnya. Ketika tak ada hasilnya, cobalah untuk
rileks. Jangan terpaku untuk menghentikan tangisnya jika Anda menemukan tak
ada hal serius atau sesuatu yang salah. Tunggu saja sampai kemarahannya
reda. Setelah amarahnya reda, beri kata-kata yang menyejukkan dan buat ia
asyik dengan mainan penuh warna. Rangkulan dan gendongan juga bisa
menentramkannya. Kasih sayang Anda bukan hanya mengerem kemarahannya, tapi
juga akan membantu si kecil mengembangkan rasa aman dan perasaan baik.
Ketika ia besar, ia akan belajar berdasarkan ini untuk menenangkan diri
begitu ia marah, dan ia akan belajar untuk dapat mengendalikan diri atau
menjaga tetap tenang tanpa kemarahan meledak-ledak.

*Julie*

*
*

*Jika Tangisnya Tak Kunjung Berhenti*

Jika ia tak berhenti menangis, boleh jadi karena Anda sangat cemas dan
gugup. Ingatlah, ketegangan Anda akan menular padanya. Ia dapat merasakannya
dari otot-otot lengan Anda yang mengeras saat Anda menggendongnya, maupun
dari raut wajah Anda yang menunjukkan kecemasan.

Nah, ketika ia melihat sinyal-sinyal tersebut, ia tahu ada yang salah dan
ini akan membuatnya merasa lebih buruk. Tangisnya menjadi lebih keras
sebagai hasil dari kecemasan Anda. Di pihak lain, Anda pun semakin bertambah
cemas. Jadi, bersikap rileks dan lakukan cara-cara berikut:
*1.* Katakan pada diri Anda untuk percaya diri. Suatu tangisan bayi bukan
refleksi dari ketidakmampuan Anda sebagai orangtua. Cobalah untuk tak
melemahkan rasa percaya diri Anda.
*2.* Bersikap realistis. Bayi Anda akan banyak menangis pada banyak
kesempatan, tak apa-apa. Anda perlu merancang standar yang realistis untuk
diri sendiri.
*3.* Jika Anda tak tahu lagi harus bagaimana menenangkannya, tinggalkan si
kecil di boksnya. Minta suami Anda untuk mengambil alih.
*4.* Bicarakan dengan suami. Berurusan dengan tangis bayi memang bisa
menyulitkan. Katakan padanya, bagaimana cemasnya Anda. Berbagi perasaan
dengan suami akan membantu membuat diri Anda lebih tenang.
*5*. Terima pertolongan ketika ditawarkan. Sebuah pelepasan dari
“tanggungjawab” akan mengurangi kecemasan Anda. Anda akan merasa lebih enak
setelah satu atau dua jam kemudian.
*6.* Ingatlah, segalanya pasti akan menjadi mudah. Penelitian membuktikan,
tangisan bayi akan berkurang tingkatannya mulai usia 4 bulan. Nanti ia akan
lebih mudah dikendalikan.
*7.* Jika Anda mencurigai tangisan si kecil disebabkan penyakit tertentu,
segera periksakan ke dokter anak.

*Julie*

TINJAUAN PUSTAKA MASALAH PEMBERIAN POLIFARMASI

SUMBER : MILIST BALITA-ANDA

sumber: http://www.tempo.co.id/medika/arsip/022002/pus-1.htm

by: G.M. AMAN (Lab. Farmakologi FK UNUD )

PENDAHULUAN
Pemberian polifarmasi pada pasien tidak saja menjadi problema di
negara-negara yang sedang berkembang, tapi juga merupakan masalah yang cukup
serius di negara yang telah maju. Banyak obat yang tidak ada hubungannya
dengan penyakit pasien diberikan pada pasien, yang tentu saja merupakan
pemborosan dan meningkatkan insiden penyakit karena obat.

Dalam suatu survei di Zimbabwe, dokter Raymond mendapatkan banyak dokter di
Zimbabwe memberikan obat sampai 14 jenis. Tujuh jenis di antaranya
sebenarnya tidak diperlukan sama sekali oleh pasien, sedangkan tiga jenis
obat lainnya diberikan untuk melawan efek samping obat lain(1). Selain itu,
dalam sebuah workshop tentang Penggunaan Obat Rasional di Pakistan terungkap
masih banyak terdapat pemberian obat secara polifarmasi dengan perkiraan
rata-rata 3,6 jenis obat per satu resep(2). Dalam sebuah survei di Denpasar
juga didapatkan 84,4% resep yang diberikan pada pasien anak mengandung lebih
dari 4 jenis zat aktif(3).

Faktor penyebab dari pemberian obat secara polifarmasi tidak saja terletak
pada dokter sebagai pemberi obat, tapi juga pada sediaan obat yang ada, yang
memang sudah dalam bentuk polifarmasi. Sediaan obat dalam bentuk polifarmasi
masih banyak dipasarkan di Indonesia, seperti sirup obat batuk, sirup obat
flu, juga ada dalam bentuk tablet yang mengandung 4 sampai 6 bahan aktif.
Dokter seringkali terjebak kalau kurang hati-hati, karena kurang hafal pada
kandungan sediaan obat polifarmasi.

Di samping penyebab di atas, penggunaan polifarmasi juga bisa disebabkan
oleh faktor pasien. Beberapa pasien kadang-kadang minta supaya setiap gejala
yang dirasakannya diberikan obat secara tersendiri, misalnya pasien minta
obat sakit kepala, obat nyeri badan, atau obat demam. Padahal, sebenarnya
semua gejala tersebut dapat diatasi dengan satu jenis obat karena semua
gejala yang dideritanya merupakan kumpulan gejala dari suatu penyakit. Dalam
tulisan ini akan dibahas beberapa jenis polifarmasi yang sering ditemukan
dalam praktik, dan beberapa jenis sediaan polifarmasi yang beredar di
pasaran Indonesia.

JENIS POLIFARMASI YANG DIBERIKAN
Beberapa jenis polifarmasi yang sering diberikan ialah:

KOMBINASI ANTARA DUA JENIS OBAT ATAU LEBIH YANG MEMPUNYAI EFEK YANG SAMA
ATAU MIRIP UNTUK MENGOBATI SATU SIMPTOM
Seringkali parasetamol dikombinasi dengan salicylamide dan acetylsalicylic
acid untuk mengobati pasien demam. Ketiga obat ini termasuk golongan
antipyretic analgetic yang digunakan untuk menghilangkan demam dan rasa
nyeri. Tujuan utama kombinasi obat sebenarnya untuk tercapainya potensiasi
dan menurunkan efek samping obat. Tapi, contoh kombinasi di atas tidak
menunjukkan adanya tujuan tersebut, malah menimbulkan efek samping yang
lebih banyak, yang dapat ditimbulkan oleh masing-masing obat.

Jenis kombinasi seperti ini tidak saja ditulis secara tersendiri oleh
dokter, tapi juga telah ada sediaan obat dalam bentuk kombinasi tetap
seperti kombinasi antara parasetamol dengan salicylamide, antara acetyl
salicylic acid dengan parasetamol, atau antara metampyron dengan
salicylamide. Kombinasi analgesik ini tidak memberikan keuntungan secara
nyata, malah mungkin dapat menimbulkan bahaya dan yang jelas harganya akan
menjadi lebih mahal.

Menggunakan kombinasi analgesik juga akan mengkombinasi efek samping
masing-masing kelas analgesik sebagai konsekuensinya. Kombinasi ini lebih
sering menyebabkan kerusakan ginjal daripada penggunaan secara tunggal.
Banyak lagi contoh-contoh polifarmasi yang tersedia dalam bentuk kombinasi
tetap seperti obat reumatik, obat batuk, obat diare, obat asma bronkhiale,
dsb yang dianggap tidak rasional dan mengundang lebih bayak timbulnya efek
samping.

MEMBERIKAN OBAT KOMBINASI DENGAN MAKSUD MENGURANGI ATAU MENGHILANGKAN EFEK
SAMPING OBAT UTAMA
Sama seperti contoh di atas, kombinasi sejenis ini tidak saja ditulis secara
tersendiri oleh dokter, tapi juga tersedia dalam bentuk kombinasi tetap.

Obat anti rheumatic (anti inflamasi) secara umum dapat menimbulkan iritasi
mukosa lambung, baik secara langsung ataupun secara tidak langsung melalui
proses penekanan synthese prostaglandin. Untuk mengurangi efek iritasi ini
maka obat anti rheumatic ini dikombinasi dengan antasida, antagonis reseptor
H2 (cimetidine, ranitidine), proton pump inhibitor (PPI), atau dengan
derivate PGEI (misoprostol).

Tujuan kombinasi obat di sini ialah mengurangi efek samping obat utama,
tidak mengharapkan terjadinya potensiasi, tapi mengabaikan proses interaksi
obat yang dikombinasi, yang mungkin saja mengurangi efek obat utama. Dalam
hal ini, obat kombinasi yang diberikan juga mempunyai efek samping dan
kemungkinan lebih besar daripada obat utama. Kalau demikian halnya, maka
akan berderet jumlah obat yang fungsinya menghilangkan efek samping obat
lainnya, tapi justru akan menambah efek samping yang baru, sehingga akhirnya
menyimpang dari tujuan pengobatan semula.

Selain contoh obat kombinasi di atas, masih banyak lagi ditemukan di pasaran
obat kombinasi yang sejenis. Misalnya, efek ngantuk Chlorpheniramine maleate
dihilangkan dengan cafein, efek insomnia dari Aminophyline atau ephedrine
dengan phenobarbital.

MEMBERIKAN OBAT KOMBINASI DENGAN MAKSUD MENINGKATKAN ABSORPSI (RATE OF
ABSORPTION AND EXTEND OF ABSORPTION) OBAT UTAMA
Secara klinis, kombinasi ini ada yang bermakna dan ada pula yang tidak
bermakna. Dalam hal ini, harus dipertimbangkan tentang efikasi obat,
risk/benefit ratio, dan tentu saja harga.

Contoh yang menarik ialah kombinasi antara parasetamol dengan metoklopramid.
Metklopramid mempengaruhi rate of absorption paracetamol sehingga puncak
konsentrasi parasetamol dalam darah cepat dicapai. Tetapi, tidak
mempengaruhi extend of absorption, sehingga jumlah parasetamol yang terdapat
dalam darah tidak berubah. Efek yang sama efektifnya akan didapat dengan
memberikan parasetamol dosis yang agak lebih tinggi. Kalau dipertimbangkan
secara cost/benefit ratio maka didapat bahwa kombinasi antara metoklopramid
dan parasetamol sama efektifnya dengan parasetamol dosis agak tinggi dengan
harga yang jauh lebih murah dan tidak menambah efek samping obat.

Berbeda halnya dengan kombinasi antara ergotamin dengan kafein. Ergotamin
sulit diabsorpsi di saluran cerna sehingga untuk membantu absorspsinya (rate
& extend of absorption) setiap 1 mg ergotamin/dikombinasi dengan 100 mg
cafein. Kombinasi ini akan mempercepat dan memperbanyak absorpsi ergotamin
(4).

Walaupun kombinasi ini secara cost/benefit ratio menguntungkan, tapi tetap
dianggap kurang rasional, karena ada cara pemberian yang lebih efektif,
yaitu pemberian secara intravena atau intramuskuler.

MEMBERIKAN KOMBINASI OBAT YANG TAK ADA HUBUNGANNYA DENGAN KINETIK DAN
DINAMIK OBAT SERTA DENGAN PENYAKIT PASIEN.
Kombinasi antara metampiron dengan vitamin neurotropik (B1, B2, B6, B12)
banyak beredar di pasaran yang dikemas alam bentuk kombinasi tetap. Indikasi
utama pemberian vitamin adalah penderita defisiensi vitamin(5). Vitamin
neurotropik ini tidak menyembuhkan mialgia, sefalgia, ataupun atralgia dan
pemberiannya pada pasien yang tak memerlukan akan membuang-buang obat dan
uang.

Contoh lain ialah pemberian antara antasid dengan tranquilizer seperti
diazepam atau klordiazepam pada pasien yang menderita gastritis.
Tranquilizer bukan obat gastritis, tapi obat penenang yang diberikan pada
pasien yang mengalami ansietas. Tidak menjadi masalah kalau pasiennya juga
menderita ansietas, tapi kalau tidak maka diazepam atau klordiazepoksid yang
diberikan akan menjadi mubazir. Malah akan menambah efek samping atau
menimbulkan masalah ketergantungan.

MEMBERIKAN OBAT LEBIH DARI 3 JENIS DALAM SEKALI PEMBERIAN, JUGA TERMASUK
KATEGORI POLIFARMASI.
Pemberian obat jenis ini sering diberikan pada pasien dengan banyak keluhan
atau memang menderita banyak penyakit seperti diabetes mellitus, hipertensi,

hiperkolesterolemia, dan rheumathoid arthritis. Dalam keadaan seperti ini,
dokter harus bijaksana dalam mempertimbangkan dan menentukan penyakit
dasarnya serta penyakit yang merupakan komplikasi penyakit dasar.

MEMBERIKAN OBAT KOMBINASI DENGAN TUJUAN TIMBULNYA EFEK POTENSIASI.
Pemberian kombinasi obat ini sering dilakukan pada antibiotika, baik secara
kombinasi tetap atau tidak tetap. Sampai saat sekarang, hanya ada dua jenis
antibiotika kombinasi tetap yang benar-benar bermakna secara klinik dan
diakui oleh WHO, yaitu kotrimaksazol (kombinasi antara trimethoprim dengan
sulfametoksazol) dan koamoksiklaf (kombinasi antara amoksilin dengan asam
klavulonat).

Sedangkan kombinasi lainnya harus dapat dibuktikan secara laboratoris
sebelum dipakai. Kombinasi jenis ini juga sering dilakukan pada analgesik,
terutama kombinasi dengan kafein. Banyak orang menganggap bahwa kafein
adalah suatu analgesik yang poten dan dapat meningkatkan efek analgesik obat
lain. Namun belum ada bukti penelitian yang menunjang pernyataan tersebut.

SEDIAAN OBAT POLIFARMASI
Tersedianya sediaan obat polifarmasi banyak memberi andil pada pemberian
obat secara polifarmasi. Sirup batuk bahkan ada yang mengandung 6 zat aktif,
seperti difeenhidramin, amonium klorida, mentol, alkohol, natrium sitrat,
dan dekstrometorfan.

Yang paling tidak rasional terlihat dalam antara ekspektoran (amonium
klorida, natrium sitrat) dengan antitusif dekstrometorfan(6). Harus diingat
bahwa batuk merupakan proses fisiologi untuk mengeluarkan dahak atau lendir
yang mengental pada bronkhus pada jenis batuk yang produktif. Kalau
dikombinasi dengan antitusf maka batuk akan terhenti dan dahak dan lendir
yang kental tidak bisa keluar dengan lancar. Sedangkan antitusif hanya
digunakan pada pasien yang batuk nonproduktif yang sampai mengganggu
tidurnya. Kalau diperhatikan maka sediaan obat batuk di atas banyak
mengandung zat aktif yang sebenarnya tidak diperlukan.

Ada pula sediaan obat flu yang mengandung 6 bahan aktif dalam satu tablet,
yaitu parasetamol, salisilamid, phenylpropanolamine (PPA), dekstrometorfan,
klorfeniramin, dan kafein. Obat flu ini dibuat untuk pasien flu dengan
gejala demam, hidung buntu, batuk, alergi dan ngantuk. Kombinasi ini
maksudnya ada untuk menguatkan obat lainnya. Ada pula yang bertujuan untuk
menghilangkan efek samping obat utama. Kalau semua gejala ada pada pasien,
mungkin obat kombinasi ini cocok dan pas untuk pasien ini. Tetapi, kalau
pasien hanya demam dan hidung buntu maka bahan aktif lainnya seperti
dektrometorfan, klorfeniramin, dan kafein menjadi mubazir, tidak diperlukan,
dan dapat menimbulkan efek samping obat.

Ada pula sediaan obat untuk asma bronkial yang terdiri dari prednisolon,
efedrin, teofilin, fenobarbital, dan klorfeniramin maleat(7). Penderita asma
bronkial yang ringan cukup diberikan efedrin dan teofiline, sedangkan
penggunaan prednisolon seharusnya diberikan pada pasien yang mengalami
status asthmaticus atau pasien dengan eksaserbasi akut yang berat(8).
Pemberian fenobarbital malah merupakan indikasi kontra pada pasien asma
bronkial karena dapat menyebabkan depresi nafas dan spasme bronkhus yang
menambah sesaknya pasien(9).

Begitu juga pemberian klorfeniramin maleat suatu antihistamin yang mempunyai
efek antikolinergik (atropin like effect) merupakan indikasi kontra pada
pasien asma bronkhiale, karena dapat mengentalkan cairan lendir bronkhus
sehingga pasien bertambah sulit bernapas.

Selain sediaan obat seperti disebutkan di atas, di bawah ini beberapa contoh
sediaan obat polifarmasi yang tidak rasional seperti:
(a) obat antasid tersedia dalam bentuk kombinasi antara magnesium trisikat,
alumunium hidrosid, papaverin HCl, klordiazepoksid, vitamin B1, B2, B6, B12
kalsium pantothenat, nikotinamid;
(b) obat anti asma yang terdiri dari ekstrak belladona, efedrin, kafein,
parasetamol, teofilin, khlorfeniramin,
(c) obat antikolik yang terdiri dari metampiron, salisilamid, fenobarbital,
cafein, hiosin N, metilbromide,
(d) obat analgesik yang terdiri dari metampiron, khlordiazepoksid, diazepam,
vitamin B1, B2, B6, B12, kafein,
(e) obat anti reumatik yang terdiri dari prednisolon, sulfirin,
fenilbutazone, magnesium trisilicate(7).

Dari contoh di atas, terlihat banyak penggunaan kafein. Kafein bukanlah
suatu analgesik atau antiinflamasi, juga tidak dapat memperkuat efek
analgesik atau anti inflamasi obat lain. Malah, ia dapat meningkatkan efek
iritasi aspirin terhadap lambung.

RESIKO YANG DIHADAPI
Semakin banyak bahan aktif yang diminum oleh pasien, semakin banyak
kemungkinan efek samping yang akan timbul. Kalau pasien ternyata alergi
obat, sulit untuk menentukan bahan aktif yang mana sebagai penyebab
alerginya.

KESIMPULAN
Dari uraian di atas, dapat ditarik kesimpulan seperti berikut:
1. Pemberian obat secara polifarmasi lebih banyak ruginya daripada untungnya
bagi pasien.
2. Banyak bahan obat aktif yang mubazir sehingga timbul pemborosan obat dan
uang.
3. Kemungkinan timbulnya interaksi obat semakin besar.
4. Kemungkinan timbulnya efek toksik dan efek samping serta penyakit karena
obat semakin meningkat.

SARAN
Supaya pengobatan lebih mendekati rasional maka disarankan hal-hal berikut:
1. Sediaan obat polifarmasi harus dikurangi di pasaran.
2. Sediaan obat kombinasi tetap yang dalam bentuk polifarmasi sebaiknya yang
bersifat potensiasi dengan harga yang tidak lebih mahal dari masing-masing
komponen.
3. Obat sirup batuk atau sirup obat flu sebaiknya berisi tidak lebih dari 3
bahan aktif.
4. Kurangi penjualan obat bebas (over the counter).
5. Promosi obat harus dibatasi. Sebaiknya dilakukan oleh medical
representative yang terlatih, dan tidak lagi lewat media masa, radio, serta
televisi.
6. Para dokter harus mengetahui dan memahami kandungan obat kombinasi yang
diresepkan. Jangan meresepkan obat yang belum diketahui kandungannya.
7. Pemakaian obat harus tetap berpegang pada paling sedikit 4 faktor, yaitu
efficacy ‘khasiat obat’, safety ‘keamanan obat’, suitability ‘kesesuaian
obat pada pasien’, dan cost ‘harga obat’ sehingga dapat dipilih obat yang
efektif, aman, tidak ada indikasi kontra, serta harganya dapat dijangkau
masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA
1. Raymond T. Mossop. Essential Drugs Monitor No. 21,1996
2. Rational drug use workshop for universities in Pakistan. Essential Drugs
Monitor No. 16,1993
3. Aman G.M. Polypharmacy in pediatric practice in Denpasar. Majalah
Kedokteran Udayana Vol.31, No. 109, Juli 2000
4. Burkhalter A, Julius D.J, Katzung B.G. Clinical pharmacology of ergot
alkaloids in Basic & Clinical Pharmacology a Lange Medical Book, seventh
edition. Edited by Bertram G Katzung MD, PhD, 1998
5. Chetley A. Vitamine preparation. Problem Drugs, Amsterdam, Health Action
International, 1993
6. Chetley A. Cough and cold preparations. Problem drugs, Amsterdam, Health
Action International, 1993
7. IIMS, 1994
8. Xaliner .M.A, Barnes P.J, Persson CLG.A. Asthma, Its Pathology and
Treatment, Vol. 49, 195)
9. Hartog R. Barbitutate Combinations, risks without benefits. Essential
Drugs Monitor No. 16.1993

Resep Praktis Selama Tidak Ada Asisten

sumber : http://beingmom.org/2009/09/resep-praktis-selama-tidak-ada-asisten/

Udang Goreng Mentega

Bahan:

250 gr udang jerbung ukuran sedang, sudah dikupas & dibelah punggungnya

½ bawang bombay ukuran sedang, iris memanjang

1 sdm margarin

2 sdm minyak goreng

2 sdm kecap manis

1 sdm saus tomat

Lada

Garam

Cara membuat :

1. Kucuri udang dengan air jeruk nipis, diamkan 10 menit, bilas dgn air
2. Bumbui dengan lada & garam. Diamkan 15 menit.
3. Panaskan wajan, masukkan minyak goreng & margarin
4. Masukkan bawang bombay, tumis hingga layu,
5. Tambahkan udang, aduk hingga berubah warna
6. Bumbui dengan kecap manis & tomat
7. Angkat dan hidangkan

Tips :

* Sebelum libur, kupas & bersihkan udang. Simpan di freezer dalam plastik sekali pakai. 1-2 jam sebelum memasak, keluarkan plastik udang supaya es nya mencair.
* Udang bisa diganti dengan cumi-cumi yang diiris berbentuk cincin.
* Bisa juga diganti dengan sayap ayam. Goreng sayap ayam terpisah terlebih dahulu hingga matang, kurangi minyak goreng bekas menggoreng ayam, tambahkan margarin baru tumis dengan bawang bombay.

Semur Telur

Bahan :

4 butir telur ayam

6 siung bawang merah, iris tipis

3 sdm kecap manis

1 sdm minyak goreng

1 sdm margarin

750 ml air

Lada

Garam

Cara membuat :

1. Rebus telur hingga matang, dinginkan, kupas
2. Panaskan minyak & margarin, tumis bawang merah iris hingga harum.
3. Tambahkan air, kecilkan api
4. Masukkan kecap manis dan telur, lada & garam, didihkan
5. Angkat dan hidangkan

Tips :

* Cetak telur rebus menggunakan egg mold berbagai bentuk supaya lebih menarik bagi anak-anak

SUP BAKMOY

Bahan :

150 gr ayam kampung cincang

100 gr udang cincang

1 buah tahu putih – goreng sebentar kmd potong kecil2

1 ikat daun bawang kecil & seledri – potong kecil2

3 siung bawang putih – geprek

750 ml kaldu ayam

2 sdm kecap manis

1 sdm saus tiram

Lada

garam

Cara :

1. Tumis bawang putih sampai harum.
2. Masukkan ayam dan udang cincang, masak sampai berubah warna.
3. Masukkan tahu goreng, aduk rata.
4. Tuangi kaldu, masak hingga mendidih.
5. Tambahkan kecap manis, saus tiram & lada, garam.
6. Taburi dengan daun bawang seledri.
7. Hidangkan.

Tips :

* Sebagai pelangkap, tambahkan krupuk udang dan telur puyuh rebus yang dicetak dengan egg mold
* Buat kaldu ayam sebelum libur. Dinginkan dan simpan kaldu dalam kemasan sekali pakai.

Mozarella STICK

Bahan :

250 gr keju mozarella potongan

1 butir telur – kocok lepas

2 sdm terigu

8 sdm tepung bread crumbs warna kuning

Lada

Garam

Minyak untuk menggoreng

Cara membuat :

1. Iris keju mozarella memanjang berbentuk korek api tebal, kira-kira ½ x ½ cm. Sisihkan
2. Campur terigu, bread crumbs, lada & garam, aduk rata.
3. Celup 1 potong keju ke dalam telur kemudian gulingkan ke dalam campuran terigu & bread crumbs.
4. Lakukan hingga potongan keju habis.
5. Ulangi proses di atas hingga 2 kali sehingga keju benar-benar terbalut dalam bread crumbs.
6. Simpan dalam wadah tertutup di freezer minimal 2 jam.
7. Goreng potongan keju dengan minyak hingga terendam sebentar saja hingga berwarna kuning keemasan.
8. Angkat dan tiriskan
9. Hidangkan dengan saus tomat atau mayones

Tips :

* Usahakan untuk mengenakan sarung tangan plastik atau gunakan garpu sehingga keju tidak tersentuh oleh tangan
* Jangan simpan keju mozarella yang sudah dibaluri tepung di dalam freezer terlalu lama, maksimum 2 hari.

Salad Bayam

Bahan :

1 kantong bayam hijau organik

Air untuk merebus

2 sdm kecap asin / kecap ikan

1 sdt minyak wijen

Biji wijen untuk taburan

Cara membuat

1. Petik daun bayam dan cuci hingga bersih
2. Didihkan air secukupnya supaya bayam bisa terendam
3. Rebus bayam hingga lunak, tiriskan.
4. Tempatkan bayam rebus dalam wadah
5. Bumbui dengan kecap asin dan minyak wijen, aduk rata
6. Taburi dengan biji wijen

Tips :

* Pilih bayam organik yang berdaun lebar karena lebih empuk

Telur KUKUS

Bahan :

3 butir telur – kocok lepas

100 gr ayam cincang

100 ml air

100 gr soun – rendam dengan air panas hingga empuk

Lada, garam

Cara membuat :

1. Campur telur kocok, ayam cincang dan soun hingga rata. Tambahkan air. Bumbui lada garam.
2. Tuang ke dalam pinggan tahan panas
3. Kukus hingga matang, kurleb 20 menit
4. Angkat dan hidangkan

Tips :

* Ayam cincang bisa diganti dengan daging sapi cincang. Pilih daging sapi dengan sedikit lemak.

BisKuit pizza

Bahan :

2 lembar smoked beef, potok kotak-kotak kecil

¼ butir bawang bombay, cincang

2 sdm margarin/ mentega

Lada

Garam

1 bungkus biskuit cream crackers

Margarin/ mentega untuk olesan

Keju mozarella

Cara membuat :

1. Panaskan margarin, tumis bawang bombay hingga layu.
2. Tambahkan smoked beef, aduk rata
3. Bumbui dengan lada & garam
4. Angkat, sisihkan.
5. Oles satu sisi biskuit dengan margarin
6. Taruh 1 sdm tumisan smoked beef diatasnya
7. Tutup dengan keju mozarella
8. Panggang sebentar hingga keju meleleh
9. Hidangkan dengan saus tomat

Tips :

* Tumisan smoked beef bisa disiapkan sebelum libur. Simpan dalam wadah tertutup dalam kulkas/ freezer
* Smoked beef bisa diganti dengan sosis yang dipotong kecil-kecil
* Keju mozarella bisa diganti dengan keju kraft quick melt
* Tumisan smoked beef bisa diganti dengan saus daging untuk spaghetti
* Biskuit bisa diganti dengan roti tawar

Disiplin Tanpa Ancaman

sumber : http://beingmom.org/2006/08/disiplin-tanpa-ancaman/

Sumber : diterjemahkan secara bebas dari http://www.babycenter.com

Kebanyakan orang tua menggunakan ancaman untuk mengontrol perilaku anak, terutama saat kondisi tidak menguntungkan (misalnya saat lelah, banyak pekerjaan, atau terburu-buru). Hal ini tidak saja membuat anak kehilangan harga dirinya, tetapi juga menimbulkan ketakutan pada diri anak dan menyebabkan ia memberontak melawan anda.

Berikut ini adalah cara-cara yang dapat anda gunakan untuk menghindarkan anda dari “keharusan” mengeluarkan ancaman :

1. Anda ingin si kecil : Pergi ke ranjangnya dan tetap berada di sana
Daripada : “Jika kamu pergi dari ranjangmu sekali lagi, Mama akan marah”
Katakan : “Setelah Mama mengantarmu ke ranjang, Mama ingin kamu tetap diam disana”
Alasan : Perilaku yang diharapkan dinyatakan dengan jelas dan tanpa emosi

2. Anda ingin si kecil : Menghabiskan makan malamnya
Daripada : “Kamu harus tetap duduk di meja makan sampai kamu menghabiskan makananmu”
Katakan : “Sebentar lagi waktunya tidur lho… Tidak ada waktu lagi untuk makan cemilan”
Alasan : Membiarkannya mengambil keputusan

3. Anda ingin si kecil : Menggosok gigi
Daripada : “Tidak ada cerita sebelum tidur jika kamu tidak mau menggosok gigi”
Katakan : “Sekarang waktunya tidur. Apa yang ingin kamu lakukan lebih dulu ? “
Alasan : Memberitahunya saat ini adalah waktu untuk melakukan “ritual sebelum tidur” tanpa menghukum

4. Anda ingin si kecil : Berperilaku baik di toserba
Daripada : “Berhenti berlari-lari sekarang juga, atau kamu tidak boleh menonton TV”
Katakan : “Bisa tolong Mama mencari sereal kesukaanmu ?”
Alasan : Mengalihkan perilaku negatif dan menawarkan alternatif perilaku positif

5. Anda ingin si kecil : Meminta tanpa merengek
Daripada : “Jika kamu merengek sekali lagi, Mama akan ambil mainanmu”
Katakan : “Mama mau mendengarkanmu, tapi kamu harus mengucapkannya dengan jelas agar Mama mengerti”
Alasan : Memberitahunya bahwa anda mau mendengarkan permintaannya, tapi tidak menyukai caranya meminta

6. Anda ingin si kecil : Merapikan mainannya
Daripada : “Kamu tidak akan mendapat makan malam sebelum kamu membereskan mainanmu”
Katakan : “Ayo ambil mainanmu dan letakkan di kotaknya. Kamu mau melakukannya sebelum atau sesudah makan ?”
Alasan : Anda menyatakan harapan anda dengan jelas, dan memberikan si kecil pilihan

7. Anda ingin si kecil : Berhenti mengadu
Daripada : “Mama tidak akan mendengarkan ocehanmu”
Katakan : “Sepertinya kamu kesal dengan kakakmu. Kamu perlu memberitahunya kenapa kamu kesal padanya”
Alasan : Membantu si kecil mengerti bahwa mereka perlu menyelesaikan masalah mereka sendiri

8. Anda ingin si kecil : Bersikap tenang dalam mobil
Daripada : “Jika kamu berteriak sekalli lagi, kita akan pulang saja”
Katakan : “Mama jadi sulit untuk menyetir. Kita harus berhenti sampai kamu bisa tenang”
Alasan : Memberitahunya akibat, batasan dan konsekuensi dari perilakunya

BAYI TAK BUTUH KEHANGATAN BERLEBIHAN

source : milist balita-anda

dr. H. M. Hadat, Sp.A

Niat mulia tak selamanya berbuah positif. Memberi
kehangatan yang berlebihan pada bayi, mis., bisa jadi
bumerang. Selama ini orang tua begitu takut bayinya
kedinginan, sehingga merasa perlu mempersenjatai
putra-putri tersayang dengan baju hangat, selimut,
topi, sarung tangan, sampai kaus kaki tebal. Bahkan
ada orang tua yang sampai menutup rapat-rapat pintu,
jendela, lubang angin, melarang pemakaian kipas angin,
mematikan AC hanya agar bayinya selamat dari bahaya
masuk angin.

Tak ketinggalan, kebiasaan membaluri minyak telon atau
minyak kayu putih di tubuh bayi. Padahal di samping
bikin kepanasan, minyak-minyak itu juga bisa mengubah
kulit bayi menjadi kehitaman dan hangus. Pendek kata,
banyak orang tua tak sadar, kepungan sarana dan
prasarana penghangat justru menjadi penyebab bayi
menangis lantaran kegerahan.

Gerah membuat bayi banyak mengeluarkan keringat,
sehingga kehilangan banyak air dengan garam-garamnya.
Alhasil, dia jadi gampang haus, badan lemah sehingga
mudah terkena batuk-pilek. Jadi banyak orang tua
selama ini memperlakukan bayinya secara salah alias
salah kaprah. Begitulah kira-kira. Mengapa? Karena
bayi punya jaringan asam cokelat!

Begini penjelasannya:
Setiap manusia butuh energi untuk melakukan beragam
aktivitas. Energi itu datang dari hasil pembakaran
gula, lemak, maupun protein. Kelebihan gula dalam
darah, mis., diubah oleh hormon insulin menjadi
glikogen, sehingga kadar gula darah tetap dalam
batas-batas normal. Glikogen ini menjadi cadangan
energi yang terutama disimpan di dalam otot, jantung,
dan hati. Cadangan energi glikogen hanya cukup untuk
memenuhi kebutuhan energi tubuh selama 24 jam. Hal
ini berbeda dengan cadangan energi dari lemak yang
dapat memenuhi kebutuhan energi tubuh selama beberapa
pekan. Karena tidak larut dalam air, pembakaran lemak
jadi lebih stabil dan lebih dapat diandalkan ketimbang
pembakaran gula yang larut dalam air. Itu sebabnya,
jika ada beban pekerjaan nan berat, jantung dan otot
lebih banyak memakai energi dari lemak.

Selanjutnya, kelebihan lemak dalam darah akan disimpan
di jaringan lemak. Jaringan lemak sendiri ada 2
macam. Pertama, jaringan lemak putih yang menyimpan
lemak dalam selnya, dan tersebar di seluruh tubuh,
terutama rongga perut dan jaringan di bawah kulit.
Kedua, jaringan lemak cokelat, terutama terdapat pada
bayi yang lahir cukup bulannya dan terbatas ada di
jaringan bawah kulit leher dan punggung.

Jaringan lemak cokelat ini makin berkurang dan
menyusut pada anak yang lebih besar dan hanya
tertinggal sedikit pada orang dewasa. Dia bisa
membuang kelebihan energi, mis., akibat makan
berlebihan, dengan membakarnya menjadi panas.
Keistimewaan lain, selnya dapat menyimpan sampai 40%
lemak bayi. Kenaikan suhu tubuh oleh jaringan ini
bisa mencapai tiga kali lipat ketimbang kenaikan suhu
yang disebabkan aktivitas olahraga.

Jelas sudah, dengan bekal jaringan lemak cokelatnya,
bayi tidak mudah kedinginan. Sebaliknya, mudah
kepanasan. Dibandingkan dengan orang dewasa muda,
daya tahan bayi terhadap udara dingin lebih tinggi
sekitar 50 der.C. Jadi, jika orang dewasa sudah
menggigil pada suhu 20 der.C, bayi tidak merasakan hal
yang sama. Buat bayi suhu 20 der.C setara dengan 25
der.C. Sebaliknya, suhu 25 der.C yang cukup dingin
buat orang dewasa bisa bikin bayi kegerahan. Sebab,
25 der.C-nya orang dewasa sama dengan 30 der.C-nya
bayi.

Itu sebabnya, meski berada di ruang ber-AC, bayi belum
tentu kedinginan. Juga tak perlu dipanasi dengan
minyak telon atau minyak kayu putih. Susu pun tidak
perlu selalu dicampur dengan air hangat. Bayi berumur
beberapa bulan bahkan lebih suka susunya didinginkan
di lemari es. Kalau boleh memilih, bayi pasti lebih
suka mandi dengan air dingin, apalagi kalau udara
sedang panas. Kesimpulannya, jangan membandingkan
kondisi bayi dengan kita, orang dewasa!