TIADA PRESTASI TANPA GIZI”


SUMBER : http://agribisnews.com/opini/46-tiada-prestasi-tanpa-gizi.html

Written by rochadi tawaf

Merebaknya kasus gizi buruk atau mal-nutrisi pasca krisis ekonomi tahun 1997 yang lalu hingga kini, hampir setiap hari masih dapat kita baca dan saksikan di berbagai media masa. Menurut Depkes (2004) bahwa pada tahun 2003 terdapat sekitar 5 juta Balita kurang gizi, 3,5 juta anak dalam tingkat kurang gizi, dan 1,5 juta anak status gizi buruk Selanjutnya, berdasarkan hasil penelitian Unicef yang dipublikasikan tahun 1999, oleh perwakilan PBB/UNICEF untuk Indonesia dan Malaysia, menyatakan bahwa akibat gizi buruk di Indonesia setiap 2 menit seorang Balita meninggal, setiap 40 detik lahir seorang Balita abnormal dan setiap 20 menit seorang ibu meninggal sewaktu persalinan dengan indikator IQ turun 10 point, fisik lemah, penyakit jantung dan kencing manis (Dinas Peternakan dan Perikanan Kab. Bandung, 2002).

Oleh karenanya, indikator konsumsi protein hewani suatu bangsa dapat pula dijadikan salah satu tolok ukur keberhasilan pembangunan bangsa itu. Hal ini disebabkan antara konsumsi gizi dengan prestasi manusia sangatlah erat hubungannya. Salah satu komponen gizi yang menjadi sangat penting adalah protein hewani. Protein ini, berasal dari hasil produksi ternak dan ikan, memiliki karakteristik asam-asam amino yang tidak dimiliki oleh protein dari sumber lainnya (nabati).

Konsumsi Protein

Saat ini, konsumsi protein hewani masyarakat kita masih jauh dari norma gizi yang disarankan oleh FAO. Menurut Ditjen Peternakan (2004) bahwa konsumsi pangan hewani sebesar 86,9 gr/kapita/hari dari target 150 gr/kapita/hari, yang berasal dari komoditi peternakan sebesar 36,5 gr/kapita/hari (42 %). Oleh karenanya, untuk konsumsi pangan hewani yang masih di bawah standar Pola Pangan Harapan (PPH) perlu terus ditingkatkan. Tidak jauh berbeda, dari sisi produksi (suplai) yaitu berdasarkan analisis dari Pola Pangan Harapan (PPH) menunjukkan bahwa saat ini tingkat pencapaian konsumsi masyarakat Indonesia akan protein hewani asal ternak baru mencapai setara daging 5,9 kg/kapita/tahun; telur 5,4 kg/kapita/tahun dan susu 1,2 kg/kapita/tahun (Susenas 2003) dari standar minimum norma gizi 6 gram/kapita/hari (yang setara dengan daging 10,1 kg/kapita/tahun, telur 3,5 kg/kapita/tahun dan susu 6,4 kg/kapita/tahun).

Menurut Data dari berbagai sumber, ternyata konsumsi Pangan asal hewani di beberapa negara tetangga, jauh lebih tinggi ketimbang di Indonesia. Seperti; Konsumsi daging di Malaysia pada tahun 2003 (46,87 kg/Kapita/tahun), Thailand (25 kg/Kapita/tahun), Fhilipina (24,96 kg/Kapita/tahun), China (39 kg/Kapita/tahun) dan Jepang (25,97 kg/Kapita/tahun). Konsumsi telur di Malaysia tahun 2003 (17,62 kg/Kapita/tahun), Thailand (9,15 kg/Kapita/tahun) dan Filipina (4,51 kg/Kapita/tahun), China (10,10 kg/Kapita/tahun) dan Jepang (20,54 kg/Kapita/tahun). Sedangkan konsumsi susu cair per tahun di Cina 6.345 juta liter, Pakistan 28.671 juta liter, Thailand dan Vietnam tidak jauh dengan Indonesia, sebanyak 58 juta liter (Indonesia, 62 juta liter/tahun)

Dampak Konsumsi Protein

Selanjutnya Ahmad Rusfidra (2005) menyatakan bahwa Konsumsi protein hewani yang rendah banyak terjadi pada anak usia bawah lima tahun (balita), terlihat pada merebaknya kasus busung lapar dan mal-nutrisi. Usia balita disebut juga sebagai periode “the golden age” (periode emas pertumbuhan) dimana sel-sel otak anak manusia sedang berkembang pesat. Pada fase ini, otak membutuhkan suplai protein hewani yang cukup agar berkembang optimal. Asupan kalori-protein yang rendah pada anak balita berpotensi menyebabkan terganggunya pertumbuhan, meningkatnya risiko terkena penyakit, mempengaruhi perkembangan mental, menurunkan performa mereka di sekolah dan menurunkan produktivitas tenaga kerja setelah dewasa. Namun, sebenarnya pembentukan sel otak manusia terjadi sejak dalam kandungan. Oleh karenanya, bagi ibu hamil dan menyusui sangat dianjurkan untuk mengonsumsi protein hewani (daging, telur dan susu) yang cukup bagi kesehatan dirinya maupun bayinya.

Selain itu, berdasarkan berbagai analisa para ahli, ternyata pula bahwa untuk kecerdasan seseorang, protein hewani sangat dibutuhkan bagi daya tahan tubuh. Lebih jauh Shiraki et al. (1972) yang disitasi oleh Ahmad Rusfidra, telah membuktikan peranan protein hewani dalam mencegah terjadinya anemia pada orang yang menggunakan otot untuk bekerja keras, seperti bagi para pekerja fisik dan olahragawan. Gejala anemia tersebut dikenal dengan istilah “sport anemia”. Penyakit ini dapat dicegah dengan mengonsumsi protein yang tinggi, yaitu 50 % harus berasal dari hewani (daging, telur dan susu). Mengingat pentingnya protein hewani bagi segala lapisan usia, maka konsumsi produk hasil peternakan semestinya dipacu terus menuju tingkat konsumsi ideal. Jika tidak, sangat beresiko akan terbentuknya masyarakat yang tidak sehat.

Berdasarkan uraian tersebut, wajar jika terpuruknya olah raga di negeri ini (lihat hasil SEA Games yang lalu, ternyata Indonesia hanya menduduki Peringkat V) merupakan salah satu manifestasi dari rendahnya konsumsi gizi masyarakat, khususnya protein hewani asal ternak (daging, telur dan susu) dibanding dengan negara tetangga. Karena itu, konsumsi protein hewani harus dipacu untuk terus ditingkatkan guna mewujudkan SDM yang cerdas, kreatif, produktif dan sehat serta berprestasi. Ibarat kata pepatah “tiada prestasi tanpa gizi yang cukup” bagi keberhasilan pembangunan suatu bangsa.

Susu sapi

Diantara berbagai sumber protein hewani, yang menarik dikaji untuk diketahui adalah susu. Dalam kajian ini, yang disebut susu adalah susu yang diproduksi oleh sapi perah. Susu sapi ternyata merupakan komoditi yang paling banyak dikonsumsi oleh masyarakat di dunia. Hal tersebut beralasan, karena susu sapi memiliki zat-zat gizi yang hampir sama kualitasnya dengan Air Susu Ibu (ASI) seperti tampak pada Tabel di bawah. Susu juga merupakan sumber kalsium, riboflavin, dan vitamin A, sementara itu susu yang sudah difortifikasi (diperkaya) juga banyak mengandung vitamin D. Sehingga para ahli sangat merekomendasikan, bahwa susu dapat digunakan sebagai pengganti ASI bagi anak balita khususnya.

Tabel : Perbandingan Kandungan Gizi Susu Sapi dengan ASI

No.

Zat-Zat Gizi

ASI

Susu Sapi

1.

2.

3.

4.

5.

Total Solid (%)

Casein (%)

Laktosa (%)

Lemak (%)

Enersi (Kkal/Kg)

12,9

0,4

7,1

4,5

720,0

12,7

2,6

4,6

3,9

660,0

Keterangan : dari berbagai sumber (Jannes and Sloan, 1970)

Berdasarkan data tersebut, tidak diragukan lagi bahwa fungsi dan peran susu dapat menggantikan ASI sehingga akan berdampak bagi peningkatan dan pembentukan kecerdasan bangsa. Rendahnya konsumsi susu di dalam negeri, selain disebabkan oleh kemampuan ekonomi (daya beli) dan tingkat pendidikan masyarakat juga terutama disebabkan oleh faktor “lactose intolerance”, yaitu kemampuan adaptasi perut orang Indonesia yang rendah terhadap lactose(gula susu). Untuk itu perlu diatasi dengan membiasakannya mengonsumsi; susu pasteurisasi atau sterilisasi (susu cup, susu kotak atau susu bantal) hasil olahan yang kadar lemaknya telah disesuaikan dengan kemampuan adaptasi perut orang Indonesia. Setelah terbiasa, baru kemudian mengonsumsi susu segar.

Mengapa Fresh Milk ?

Pengertian fresh milk, selain susu segar termasuk didalamnya susu pasteurisasi dan sterilisasi. Membiasakan masyarakat untuk mengonsumsi fresh milk, akan jauh lebih baik dan bermanfaat bagi berbagai pihak ketimbang mengonsumsi susu olahan lainnya. SKM dengan kandungan gula sekitar (40) % yang berfungsi sebagai bahan pengawet, diproses dengan cara evaporasi. Sedangkan susu bubuk, diproses dengan temperatur sangat tinggi, akan mengurai zat-zat gizi yang ada pada susu murni. Sesuai pendapat ahli gizi Prof Dr. Ir. Made Astawan MS mengatakan, bahwa susu bubuk, yang diolah melalui proses pengeringan dengan suhu tinggi memiliki kadar dan mutu gizi lebih rendah daripada susu cair. Proses fortifikasi yakni penambahan zat-zat gizi ke dalam susu bubuk tidak akan sepenuhnya seperti semula. Menurut kajian Profil konsumsi susu di Indonesia (Ali Khomsan, 2004) menunjukkan, bahwa susu segar hanya memberikan kontribusi 17,9 persen dari total konsumsi susu. Sisanya, sebesar 82,1 persen merupakan konsumsi susu bubuk, berarti mayoritas konsumen susu di Indonesia memilih susu bubuk dibandingkan dengan susu cair.

Berdasarkan fenomena tersebut, tentu akan berdampak terhadap semakin membesarnya impor bahan bakunya (milk powder). Jika saja konsumen beralih mengonsumsi fresh milk, maka produksi susu peternakan sapi perah rakyat akan meningkat. Sebab bahan bakunya berasal susu segar yang diproduksi dari peternakan rakyat, tentu pula akan menghemat devisa. Dengan kata lain, jika konsumen mengonsumsi fresh milk, dengan harga yang jauh lebih murah, kualitasnya lebih baik daripada susu bubuk dan SKM, juga akan membantu meningkatkan kesejahteraan peternak sapi perah rakyat di dalam negeri…. semoga.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s