Penyakit Virus


SUMBER : http://cybermed.cbn.net.id/cbprtl/Cybermed/PDA/detail.aspx?x=Health+News&y=Cybermed|0|0|5|5267

Ada puluhan, bahkan lebih dari seratus penyakit yang disebabkan oleh virus pada manusia. Pada hewan lebih banyak lagi. Sebagian virus langsung menyerang manusia. Sebagian kecil virus pada hewan bisa menyerang manusia juga (zoonotic virus). Dua-duanya sama-sama ganas.

Sudah ditemukan lebih dari 30 grup virus yang mengintai manusia. Masing-masing memiliki subgrup sendiri. Tidak selalu mudah dikenali. Kadang tidak jelas gejalanya. Sebagian penyakit degeneratif juga “diperankan” oleh virus, selain berpotensi mencetuskan kanker juga.

Virus ada di sekitar kita, meski tidak tampak oleh mata telanjang. Virus tergolong bibit penyakit paling alit. Perlu mikroskop elektron karena ukurannya hanya perseratus dan yang lebih besar hanya persepuluh mikron.

Virus bertebaran di udara bebas. Bisa berasal dari udara napas pengidap virus yang tersembur sewaktu batuk, bersin. Virus flu berasal dari udara napas pasien flu. Virus lain berasal dari saluran pencernaan.

Penularan virus juga bisa melalui hubungan seks (Hepatitis B dan C, HIV, herpes) selain kontak langsung dengan kulit (cacar air, cacar) yang ada penyakit virusnya, atau gigitan hewan atau serangga (rabies, demam berdarah dengue).

Tak semua ada vaksin

Berbeda dengan bakteri, kuman, atau parasit, virus hidup di dalam sel inang yang ditumpanginya, ia mengacaukan sel tubuh yang dihuninya. Selain penyebab infeksi, sebagian virus juga pencetus kanker (oncogenic). Virus human papilloma (HPV) pencetus kanker leher rahim (carcinoma cervices uteri), selain tumor Burkitt.

Kalau bibit penyakit lain mudah dibasmi dengan antibiotika, virus tidak. Baru sebagian kecil virus bisa ditumpas dengan obat antivirus (idoxuridine, amantadine, methisaxone). Belum semua penyakit virus ada vaksinnya. Baru ada vaksin polio, rabies, campak, campak jerman, gondong (mumps), Hepatitis B, cacar air, cacar, demam kuning (yellow fever), radang selaput otak (meningitis), dan flu.

Ya, virus erat kaitannya dengan daya tahan tubuh. Ditentukan oleh seberapa kuat kekebalan tubuh. Bayi membawa kekebalan tubuh dari ibu. Dengan bertambahnya umur, kekebalan dasar tubuhnya menurun, dan pemberian imunisasi meningkatkannya kembali.

Imunisasi tidak untuk mengebalkan tubuh dari semua virus. Virus demam berdarah (DBD) belum ada penangkalnya. Begitu juga HIV (Human Immunodeficiency Virus). Perlu dilakukan pencegahan lain: DBD dengan menumpas nyamuk pembawa virus (Aedes aegypti dan Aedes albopyctus), HIV dengan menghindar dari perilaku seks menyimpang. Selebihnya memperkuat daya tahan tubuh.

Rajin membersihkan

Ratusan jenis virus berseliweran di sekitar kita. Ada di udara yang kita hirup, di air yang kita minum, atau di makanan yang kita santap, selain di jemari tangan kita. Waktu flu burung berjangkit, dan SAR (severe acute respiratory diseases) mewabah, semua tempat umum berpotensi jadi sumber penular.

Di Singapura ada petugas yang setiap saat menyeka tombol lift (elevator), gagang telepon umum, pegangan pintu, kursi, meja yang sering disentuh orang. Di bagian-bagian itu virus SAR dan flu burung melekat.

Selain memakai masker penutup hidung, kebersihan tangan perlu dijaga. Cuci tangan setiap pulang bepergian. Tidak sembarang memasukkan jari tangan ke liang hidung atau mulut, karena kemungkinan jemari tangan tercemar virus.

Nasib saja kalau orang terjangkit virus yang belum ada vaksinnya. Kalau udara pernapasan dimasuki virus penyebab radang otak (ensefalitis) atau radang selaput otak (meningitis), nasib namanya kalau mendadak kejang, lalu koma. Sebagian langsung meninggal. Yang lain adalah gangguan saraf wajah, ada juga yang mengenai saraf mata, pendengaran, atau bagian otak lain. Tak jarang yang menyisakan kelumpuhan.

Tidak setiap tubuh yang dimasuki virus penyakit berat pasti jatuh sakit. Faktor kekebalan tubuh menentukan apakah virus akan dilawan dan kalah oleh sistem imunitas tubuh. Makin kuat daya tahan tubuh, makin kecil kemungkinan terjangkit penyakit virus.

Namun, dengan bertambahnya umur, sistem kekebalan tubuh menurun. Artinya risiko terjangkit penyakit virus makin besar. Tidak ada cara lebih baik untuk memelihara kekebalan dan daya tahan tubuh daripada memilih hidup tertib. Jadwal makan, jadwal jeda dan tidur, jadwal bergerak badan yang ditata tertib dan teratur, diharapkan mampu menjaga daya tahan tubuh tetap kokoh.

Juga jangan takut makan. Umumnya banyak berpantang agar tidak gemuk dan agar lemak darah tidak tinggi. Ini justru memperlemah daya tahan tubuh. Untuk membangun sistem imunitas, kita butuh menu harian lengkap. Tak cukup hanya sayur mayur, perlu aneka menu berprotein. Protein tak cukup dari nabati (plant-base protein), perlu protein hewani juga (animal-base protein).

Gugus protein bernama asam amino. Tubuh butuh puluhan asam amino untuk memelihara sel-sel tubuh, selain membangun sistem imunitas. Nilai biologis protein ditentukan oleh seberapa lengkap kandungan asam amino dan asam amino esensial.

Protein hewani lebih lengkap daripada protein nabati. Telur memiliki biological value (BV) paling sempurna karena lengkap kandungan asam amino esensialnya.

Selain kecukupan gizi dalam menu harian, tubuh perlu cukup bergerak. Aliran darah harus deras mengalir sampai ke pelosok tubuh agar setiap sel mendapatkan makanan dan oksigen. Hanya dengan bergerak, darah deras mengalir, sehingga seluruh sel mendapat kecukupan makan dan pasokan zat kekebalan.

Zat kekebalan buatan tubuh ada yang berupa sel darah putih, ada yang berupa cairan (imunoglobulin). Kualitas keduanya ditentukan oleh kelengkapan menu harian. Sekarang ada bahan berkhasiat yang mendongkrak sistem imunitas tubuh. Zat ini tergolong imunomodulator. Karena untuk melawan virus hanya mengandalkan kekebalan tubuh, saat virus menyerang, bahan yang bersifat imunomodulator jadi andalan.

Superbug

Di Eropa, jenis virus influenza tergolong ganas. Tak jarang sampai mematikan. Imunisasi flu dinilai bermanfaat, terutama bagi kelompok usia lanjut. Flu pada kelompok usia tua makin berat dibanding kanak-kanak.

Infeksi virus memperlemah kondisi tubuh. Tubuh dalam kondisi tak berdaya dan rentan ditunggangi bibit penyakit lain, sehingga terjadi apa yang disebut superbug. Muncul infeksi baru. Kalau semula ingus masih bening encer, bila sudah ditunggangi kuman, berubah kental hijau kekuningan. Ini petunjuk pasien flu mulai perlu diberi antibiotika.

Karena virus tak mempan antibiotika, pemberian pada pasien flu yang belum berkomplikasi, mubazir belaka. Kasus herpes penyakit virus yang perlu diberikan antivirus. Kendati bukan untuk membasmi virusnya (yang masih bercokol di bawah kulit sepanjang hayat), antivirus mempercepat kesembuhan, selain mencegah tidak sering kambuh berulang.

Ada juga jenis virus yang masa tunasnya panjang. Virus HIV bisa sampai 8 tahun penyakit AIDS-nya baru muncul. Jenis “slow virus” ini sering tidak jelas awal gejalanya. Diduga sejumlah penyakit degeneratif juga diperankan oleh kehadiran virus-virus tertentu, termasuk kejadian sumbatan pembuluh koroner jantung, atau pembuluh darah otak. Adanya virus EpsteinBarr, misalnya.

Jadi selain potensi mencetuskan kanker, virus tertentu juga mendukung kejadian beberapa penyakit degeneratif. Dan ini bentuk serangan bagi kelompok usia lanjut. Sekali lagi, makin bertambah umur, kita makin perlu menguatkan sistem imunitas demi terhindar dari kemungkinan kanker, selain penyakit virus yang belum semua ada obat antinya.

Oleh:
Dr. Handrawan Nadesul
Dokter Umum
Sumber: Senior

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s