Bijak Mengonsumsi Penghilang Nyeri


sumber : cybermed.net.id

Nyeri yang muncul tiba-tiba membuat orang dengan gampangnya meminum obat penghilang nyeri. Padahal, jika dikonsumsi terus menerus bisa mengakibatkan gagal ginjal hingga kelainan pada hati.

Banyak jenis obat bebas dijual di pasaran. Selain mudah didapat, yang membuat banyak orang mengonsumsinya karena harganya yang tergolong murah. Di negara-negara dengan penduduk yang padat, penggunaan obat bebas dianggap wajar. Namun, banyak efek sampingan bisa terjadi ketika obat ini dikonsumsi semudah mengonsumsi kacang goreng.

Obat penghilang nyeri adalah obat yang tergolong dalam analgesic- antipyretic. Memang biasanya obat ini mujarab meredakan nyeri, sekaligus pereda demam. Namun, jika diminum tanpa aturan yang jelas, ginjal, hati, dan darah bisa rusak. Biasanya obat analgesic-antipyretic dipilah sesuai dengan kekuatan antinyeri dan antidemamnya. Ada jenis yang lebih kuat menghilangkan nyeri, ada pula jenis yang lebih kuat meredakan demam. Jenis obat dipilih sesuai kebutuhan kasusnya.

Efek samping dari pemakaian obat seperti ini secara terus-menerus dan dalam jangka waktu yang lama bisa menyebabkan gangguan pencernaan. Pasien maag perlu berhati-hati mengonsumsi obat jenis ini. Selain berisiko menimbulkan perdarahan lambung dan usus, analgetic-antipyretic merusak ginjal, hati, dan darah.

Selain itu, obat ini bisa mengganggu kualitas pendengaran. Bahkan, pengguna obat ini bisa mengalami vertigo (rasa berputarputar dan pusing). Gangguan pendengaran akan menjadi parah seiring dengan kuping yang terasa berdenging (tinnitus). Selain itu, sel darah putih bisa berkurang, atau mudah terjadi perdarahan di organ mana saja akibat menurutnya zat pembeku darah.

“Akibat rutin minum obat penghilang rasa nyeri bisa pula menyebabkan demam tinggi tanpa sebab yang jelas. Bisa juga muncul depresi, kejang-kejang, atau perubahan perilaku. Jika kelebihan dosis, pernapasan akan tertekan, dan mungkin berakhir fatal,” kata Dr Erwin Tanuwidjaya dari Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP).

Dr Erwin menuturkan, ada pula jenis obat sakit kepala yang merusak sel darah (hemoglobin). Selain itu, sel darah merah menjadi lebih mudah hancur sehingga orang yang sangat gemar meminum obat penghilang nyeri bisa kurang darah (anemia haemolytic). “Obat golongan ini ada juga yang merusak ginjal. Jika kebanyakan, lama kelamaan bisa berakhir gagal ginjal. Selain itu, ada pula jenis yang punya sifat pencetus kanker ginjal, dan kandung kemih,” kata dia.

Obat-obat analgesic-antipyretic, menurut dia, tergolong obat paling sering menimbulkan alergi. Bahkan, seseorang yang berbakat alergi tidak akan tahan terhadap beberapa jenis atau semua jenis obat golongan ini. Begitu minum atau disuntik, langsung muncul alergi kulit berupa biduran (kaligata). “Jika kondisinya berat, alergi bisa saja disertai sesak napas, mual-muntah, dan bisa jadi sampai serangan shock,” ucap dokter yang membuka praktik di kawasan Kelapa Gading tersebut.

Untuk menghindari gejala-gejala dan efek samping dari obat penghilang nyeri, Erwin mengatakan, ada baiknya mengonsumsi obat penghilang nyeri dengan sangat hati-hati. Atau minumlah obat hanya atas anjuran dokter yang bersangkutan. “Walaupun obatnya lebih murah, belum tentu kualitasnya bagus,” katanya.

Kehati-hatian dalam mengonsumsi obat penghilang rasa nyeri juga diungkapkan Dr Kurniawan. Menurut dia, kesehatan diawali dengan proses bagaimana seseorang mengatur pola dan gaya hidupnya. Mengonsumsi obat yang sesuai dan dengan resep dokter merupakan salah satu alasan seseorang bisa lebih sehat dibandingkan yang selalu mengonsumsi penghilang nyeri. “Apa pun jenis obat, pastilah mengandung zat kimia di dalamnya. Obat yang diberikan dengan resep dokter saja harus hati-hati diberikan apalagi yang dijual bebas di pasar,” katanya.

Obat analgetik tanpa resep umumnya sangat efektif untuk mengatasi nyeri ringan sampai sedang untuk jenis nyeri somatik pada kulit, otot, lutut, rematik, dan pada jaringan lunak lainnya, serta pada nyeri haid dan sakit kepala. Namun, obat ini tidak begitu efektif untuk nyeri viseral. “Obat analgetika tanpa resep biasanya digunakan untuk nyeri akut dan sering juga digunakan untuk terapi tambahan pada penyakit-penyakit kronik yang diikuti rasa nyeri. Namun, belum terbukti bahwa obat ini bisa menyembuhkan nyeri neuropatik,” tutur dia.

Berdasarkan lokasi asalnya, nyeri dapat dikategorikan menjadi beberapa kelas yaitu nyeri somatik, viseral, dan neuropatik. Nyeri somatik adalah nyeri yang berlokasi di sekitar otot atau kulit, umumnya berada di permukaan tubuh. Nyeri viseral adalah nyeri yang terjadi di dalam rongga dada atau rongga perut. Sementara nyeri neuropatik terjadi pada saluran saraf sensorik.

Kondisi yang menyebabkan nyeri viseral, antara lain adalah iskemia (kekurangan darah) pada organ atau jaringan tubuh (seperti pada penyakit angina ectoris/serangan jantung), kejang otot perut, regangan fisik suatu organ, regangan pada usus, dan sebagainya yang semuanya terjadi di dalam rongga perut atau dada. Tidak seperti nyeri somatik, nyeri viseral ini umumnya tidak dapat dirasakan secara tepat lokasinya, kadang terasa seperti di berbagai tempat pada kulit atau otot, tapi sebenarnya berada di dalam rongga badan.
(Koran SI/Koran SI/tty)

Sumber: Okezone

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s