Batuk, Mekanisme Perlindungan Tubuh


sumber : republika online

Prof dr Hadiarto Mangunnegoro SpP FCCP
Ahli Pulmonologi RS Persahabatan

Apa sesungguhnya batuk itu?

Batuk bisa merupakan suatu penyakit, bisa juga tidak. Batuk dari sananya, dari Penciptanya, bukan untuk penyakit. Itu untuk perlindungan, mekanisme defensif dari seorang manusia. Itu adalah fungsi dasar batuk.

Batuk mana yang merupakan mekanisme pertahanan dan mana yang disebut penyakit?
Biasanya kita lihat dari intensitas dan durasinya. Kalau untuk pertahanan, biasanya sebentar. Batuk itu ‘kan untuk mengeluarkan dengan cepat suatu benda yang ada dalam saluran napas. Batuk kecepatannya bisa puluhan kilometer per jam. Kalau bersin bisa ratusan kilometer per jam. Dengan kecepatan seperti itu, dengan sendirinya mereka bekerja cepat sekali. Kalau melalui sistem dahak, pelan ‘kan, mungkin makan waktu beberapa jam sampai satu hari baru keluar.

Kalau batuk terus-menerus, lama, berjam-jam, berhari-hari, apalagi berbulan-bulan, itu sudah hampir pasti bukan suatu keadaan yang fisiologi. Itu sudah merupakan suatu manifestasi dari suatu penyakit. Artinya batuk ditimbulkan suatu proses yang terus-menerus berjalan. Saya ambil contoh saja proses seperti infeksi pada saluran napas, bronkhitis.

Apa yang menimbulkan batuk?

Batuk ‘kan refleksnya di saluran pernapasan, disebabkan oleh rangsangan yang ada di saluran itu. Bahkan daerah perut pun bisa merangsang batuk. Kemungkinannya adalah kuman atau partikel itu masuk karena tersedot melalui hidung atau mulut, masuk ke dalam saluran pernapasan.

Tapi mungkin juga karena sebab internal. Artinya dalam tubuh sendiri misalnya terdapat sinusitis. Nah biasanya ada lendir. Lendir itu akan turun. Kemudian dia biasanya akan tertelan melalui kerongkongan, atau dia bisa ke saluran napas, terutama waktu tidur, dan ini menyebabkan batuk. Di samping itu karena lendirnya ada kumannya, menyebabkan infeksi saluran napas.

Penyebab lain yang di luar masalah paru; lambung juga dapat menyebabkan batuk. Dan barangkali baru belakangan ini mulai agak banyak dibahas, yaitu yang kita sebut sebagai reflax. Reflax artinya pencernaan itu ‘kan mestinya terus sampai ke usus, tapi dia balik lagi akhirnya sampai kerongkongan. Dari lambung itu cairannya umumnya berisikan asam, asam ini yang kemudian bisa mengiritasi saluran napas dan itu bisa menyebabkan batuk.

Yang penting adalah membedakan batuk akut atau kronik. Biasanya batasannya macam-macam, tapi umumnya minggu. Jadi kalau batuk lebih dari seminggu itu subakut. Tapi kalau kronik, yang dihubungkan dengan TBC, itu kira-kira tiga minggu ke atas.

Nah ini penting karena yang paling banyak menyebabkan batuk yang di bawah tiga minggu biasanya flu dan alergi. Kalau flu, nanti bisa dibedakan lagi, apakah ini flu saja atau ada komplikasi yang lain. Kita sebagai dokter harus menentukan, dia harus dikasih antibiotik atau tidak. Dia harus di-follow-up atau tidak. Dia harus diperiksa nggak dahaknya, harus di-rontgen atau tidak.

Apa yang perlu diperhatikan dalam menggunakan obat batuk?

Orang mengira obat batuk adalah obat yang bisa menghilangkan batuk, karena itu mereka selalu mencoba minum obat-obat batuk yang dijual. Tapi ‘kan kebanyakan kemudian tidak hilang, kalau itu batuknya karena penyakit. Kalau dia flu, makan obat atau tidak, satu minggu akan baik. Jadi obat batuk dalam hal ini nggak terlalu penting. Dia hanya untuk simtomatik. Virus flu itu self limiting, hidupnya terbatas, paling lama dua minggu. [arp]

© 2002 Hak Cipta oleh Republika Online

Jangan Pernah Sepelekan Batuk

Batuk, bagi kebanyakan orang, adalah hal biasa dan sama dalam setiap kemunculannya. Padahal ada beberapa jenis batuk, sehingga penting bagi seseorang untuk mengenali batuk yang dideritanya. Jenis batuk yang berbeda membutuhkan pengobatan yang berbeda pula.

Pada dasarnya, batuk diciptakan Tuhan sebagai mekanisme pertahanan tubuh. “Itu mekanisme defensif dari seorang manusia. Inilah fungsi dasar batuk,” ungkap ahli pulmonologi dari RS Persahabatan, Prof dr Hadiarto Mangunnegoro SpP FCCP.

Dengan batuk, berati kita mengeluarkan dengan cepat sesuatu benda yang berada dalam saluran napas. Kecepatan batuk bisa mencapai puluhan kilometer per jam. Dengan kecepatan seperti itu, batuk merupakan mekanisme pertahanan yang bekerja dengan cepat sekali.

Namun demikian, ungkap Hadiarto, batuk juga bisa merupakan suatu penyakit, atau lebih tepatnya manifestasi dari suatu penyakit. Persoalannya, mana yang merupakan penyakit dan mana yang tidak. Untuk membedakannya, ujar mantan ketua Asosiasi Ahli Pulmonologi Indonesia ini, biasanya dilihat dari intensitas dan durasi batuk.

Batuk yang berfungsi sebagai pertahanan hanya berlangsung sesaat. “Jadi kalau sudah keluar barangnya, ya sudah,” ujarnya. Sementara batuk yang merupakan penyakit, mempunyai durasi yang panjang. “Kalau batuknya terus-menerus, lama, berjam-jam, berhari-hari, apalagi berbulan-bulan, itu sudah hampir pasti bukan suatu keadaan yang fisiologi. Jadi kalau dia ternyata setelah dua minggu batuknya terus, dan malahan tambah parah, itu sudah pasti penyakit. Dia harus mencari pengobatan,” ujarnya.

Batuk seperti ini, sambungnya, sudah merupakan manifestasi dari suatu penyakit. Artinya, batuk tersebut ditimbulkan karena adanya suatu proses yang berjalan terus-menerus. Misalnya karena infeksi pada saluran napas atau bronkhitis.

Ia mengungkapkan, batuk yang merupakan manifestasi dari penyakit disebabkan dua hal: infeksi (pada saluran napas) dan noninfeksi. Di Indonesia dan negara-negara berkembang, kasus infeksi pada saluran napas tergolong tinggi. TBC misalnya, merupakan penyebab kematian ketiga di Indonesia. Sementara pneumoni (radang paru) menduduki urutan keempat. “Tapi di negara maju sekalipun, seperti Amerika, pneumoni penyebab keenam kematian,” ungkap Hadiarto.

Batuk noninfeksi paling banyak disebabkan asma, disusul bronkhitis kronik, serta kanker. “Tiga ini yang paling banyak,” ujar Hadiarto.

Jenis-jenis batuk

Menurut Hadiarto, pada intinya batuk terbagi dua; batuk kering dan batuk berlendir. Membedakan keduanya penting mengingat masing-masing memerlukan penanganan yang berbeda pula. Banyak orang mengira batuk lendir dan batuk kering sama saja.

Untuk batuk kering, ujar Hadiarto, obat yang diperlukan adalah yang disebut antitusif. Obat ini berfungsi untuk menekan rangsangan batuk Sementara untuk batuk berlendir, harus diberikan obat yang bisa merangsang pengeluaran lendir (ekspektoran).

“Tapi sering masyarakat menggunakan ini keliru. Batuk berlendir dikasih untuk menekan, misalnya Kodein. Memang batuknya hilang atau jauh berkurang, tapi napas jadi sesak,” papar anggota eksekutif Asia Pacific Society of Respirology ini.

Napas sesak tersebut, katanya, disebabkan lendir yang tidak bisa keluar akibat ditekannya rangsangan batuk. Lendir yang tertahan mengganggu aliran udara pada saluran pernapasan.

Batuk kering biasanya dipicu rangsangan atau iritasi yang diakibatkan debu (kendati batuk berdahak juga bisa karena iritasi, ini terjadi pada penderita alergi). Rangsangan/iritasi debu ini bisa menimbulkan efek batuk yang berlainan pada setiap orang.

Pada orang biasa, ungkap Hadiarto, rangsangan tersebut hanya menimbulkan batuk satu-dua kali. Tapi pada penderita alergi, rangsangan ini bisa menimbulkan refleks batuk yang berkepanjangan.

Pada penderita alergi, jelasnya, rangsangan tersebut menimbulkan reaksi alergik. “Akhirnya menjadi proses yang kemudian ujung-ujungnya adalah saluran pernapasan menjadi lebih basah karena produksi lendirnya lebih banyak. Dan karena produksi lendirnya banyak, refleks batuknya meningkat,” paparnya.

Obat batuk

Masih banyak masyarakat yang salah mengerti mengenai obat batuk. Obat batuk, ujar Hadiarto, hanya bisa menghilangkan batuk yang diakibatkan oleh iritasi (debu). Bahkan tanpa obat sekalipun batuk tersebut akan hilang dengan sendirinya. Sementara batuk yang diakibatkan penyakit, tidak bisa hilang oleh obat batuk.

“Jadi kalau orang bilang obat batuk, terus terang saya nggak ngerti apa yang dimaksud dengan obat batuk. Orang mengira obat batuk itu adalah obat yang bisa menghilangkan batuk, karena itu mereka selalu mencoba minum obat-obat batuk yang dijual, dengan harapan batuknya hilang. Tapi ‘kan kebanyakan tidak hilang, kalau itu batuknya karena penyakit,” paparnya.

Menurut Hadiarto, yang penting diperhatikan sebelum mengonsumsi obat batuk adalah mengenali apakah batuk yang diderita diakibatkan flu atau hal lain. “Sebenarnya orang kalau tadinya sehat, lalu kena batuk, itu hampir dipastikan dia flu. Jadi dia nggak usah terlalu khawatir karena saluran napasnya itu steril,” ujarnya.

Pada orang biasa, penyakit flu akan hilang dalam waktu sekitar seminggu. “Dia makan obat batuk atau tidak, kira-kira satu mingguan dia akan baik. Jadi obat batuk dalam hal ini nggak terlalu penting. Dia hanya untuk simtomatik (mengurangi gejala-gejala),” ujarnya.

Namun demikian jika batuk terus berlangsung kendati sudah menghabiskan satu botol obat batuk, maka ada sesuatu yang tidak benar. Karenanya, ujar Hadirto, orang tersebut harus memeriksakan diri ke dokter. “Saya tak jarang mendapat pasien, dia bilang ‘sudah habis enam botol macam-macam merek, sama saja batuk terus.’ Itu sudah nggak bener,” paparnya.

Bagi penderita batuk yang diakibatkan alergi, kata Hadiarto, pemberian obat-obatan ada gunanya. Ini mengingat obat batuk mengandung antihistamin yang menekan reaksi alergi. Namun demikian, lanjutnya, antihistamin mempunyai efek samping membuat kantuk.

Hal lainnya yang perlu mendapat perhatian adalah asma. Penyakit ini salah satu gejala utamanya adalah batuk. “Orang mengira asma itu hanya kalau napasnya bunyi. Padahal gejala yang pertama adalah batuk,” ujar Hadiarto. Yang paling penting, sambungnya, pasien harus bertanya kepada dokter apakah dia menderita asma atau tidak, karena pengobatannya berbeda.

Ketua Indonesian Pharmaceutical Watch (IPhW — Lembaga Pemerhati Masalah Kefarmasian Indonesia) Drs Amir Hamzah Pane Apt MM meminta masyarakat berhati-hati dalam melihat promosi obat batuk, terutama tujuan spesifik obat yang ditawarkan. “Jangan menggeneralisasi obat batuk,” tegasnya.

Ia mengatakan masyarakat perlu memperhatikan dengan seksama kandungan obat batuk. Obat batuk, sambungnya, terbagi tiga jenis: dekongestan, antitusif, dan ekspektoran. “Masing-masing mempunyai target terapi yang spesifik,” ungkap staf ahli Komisi VII DPR ini. {rp]

© 2002 Hak Cipta oleh Republika Online

Iklan

5 thoughts on “Batuk, Mekanisme Perlindungan Tubuh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s