Jangan Sentuh !


Sumber : cyberjob.cbn.net.id
sumber : Mother And Baby

Kekerasan terhadap anak-anak semakin meningkat. Tak ada salahnya balita dibekali keterampilan untuk mengamankan dirinya sendiri.

“Kevin takut, Bu. Kevin takut!” teriak si kecil Kevin. Wajahnya pucat dan matanya merah. Buyung berambut ikal ini menangis sesenggukan di pangkuan ibunya. Melihat keadaan putranya, Lidya terkejut. Ia terus menanyai putranya berkali-kali. Tapi Kevin tak bisa menjawab selain kata ‘takut’.

Esok harinya Kevin tak mau pergi ke sekolah. Ia juga jadi sangat pendiam. Kevin kerap mengeluh sakit tapi tak mau menunjukkan di bagian tubuh mana rasa sakit yang dideritanya. Keadaan ini membuat Lidya cemas. Ia segera membawa si kecilnya ke dokter. Dari situlah kondisi Kevin yang sebenarnya terungkap.

Rupanya, bocah lima tahun itu mendapat perlakukan buruk dari seseorang yang sebenarnya sudah dikenalnya di sekolah. Kevin mengaku pernah dipaksa untuk melakukan hubungan intim melalui anus. Akibatnya ia mengalami trauma fisik maupun psikis. Balita itu pun harus menjalani terapi yang cukup lama untuk memulihkan keadaannya.

Kekerasan di Mana-Mana

Kisah Kevin bisa terjadi di mana-mana. Bukan tak mungkin hal ini pun terjadi pada anak-anak kita. “Balita adalah sasaran yang cukup rentan untuk mengalami abuse atau kekerasan dari lingkungan sekitarnya,” kata pakar pendidikan Dra. Henny Supolo Sitepu. “Itu sebabnya, balita perlu mendapatkan ketrampilan mengamankan diri sendiri sejak dini.”

Menurut Henny, balita mempunyai keterbatasan untuk bisa menangkap atau mendeteksi bahaya yang mengintainya. Akibatnya, mereka menjadi sasaran yang cukup mudah. Keterbatasan ini seringkali dimanfaatkan orang-orang yang tidak bertanggung jawab untuk mendapatkan keuntungangan. Sebaliknya, sebagai korban, balita akan mengalami trauma berkepanjangan akibat kekerasan yang ia terima.

Untuk itu, orangtua dan guru perlu mengasah sensitivitas balita mengenai keadaan yang dapat mengancam dirinya, tanpa harus membuat balita merasa ketakutan atau tidak nyaman. “Cara yang paling efektif, dengan mengajari melalui dongeng,” ungkap Henny.

Para orangtua atau guru dapat menceritakan bagaimana dan apa yang harus dilakukan anak bila menghadapi keadaan yang membahayakan dirinya. “Dalam cerita inilah kita mengajarkan pada anak ketrampilan menghadapi bahaya atau kekerasan yang mengancam anak-anak. Melalui cerita, apa yang kita sampaikan akan mengalir lebih ringan,” jelas Henny.

Inti dari cerita itu adalah menyampaikan pada anak lingkungan atau hal-hal apa saja yang kira-kira berbahaya bagi dirinya. Dengan begitu, si kecil dilatih untuk lebih waspada dan ikut berperan dalam mengamankan dirinya. “Sebagai korban, si kecil juga harus punya keberanian untuk melakukan sesuatu,” jelas penulis buku-buku pendidikan ini.

Berani Teriak & Menolak

Selain mengetahui lingkungan yang kira-kira berbahaya bagi diri anak, si kecil pun perlu mengetahui bentuk-bentuk kekerasan yang biasa terjadi pada anak-anak. Yang paling sering adalah kekerasan seksual, penculikan, penjambretan, dan pemberian sesuatu yang tidak semestinya, misalnya narkoba. Umumnya kekerasan seperti ini terjadi di luar rumah.

Untuk itu, menurut Henny, sangat penting bagi anak untuk tahu bagian-bagian tubuh pribadi mereka. Bagian tubuh ini sangat rentan sebagai obyek kekerasan. “Tekankan pada anak, bagian tubuh yang sangat pribadi ini tidak boleh disentuh oleh siapapun, kecuali ibu atau pengasuh mereka. Itu pun untuk membantu mereka membersihkannya,” jelas Henny.

Bila si kecil sudah memahaminya, tanamkan keberanian padanya untuk berteriak bila ada orang lain yang berani menyentuhnya. Keberanian berteriak ini harus diajarkan. Seringkali anak-anak merasa takut, apalagi bila mereka sudah diancam. Ajarkan ketrampilan ini dalam bentuk permainan sehingga si kecil tidak merasa ketakutan atau merasa terancam.

Keberanian berteriak ini pun akan sangat bermanfaat bila si kecil menghadapi situasi penculikan. Saat ini kasus penculikan terhadapt anak-anak menurut data Yayasan Anak Idonesia terus meningkat. Meskipun anggkanya tidak signifikan tapi penculikan terhadap balita sering terjadi. Bila si kecil mempunyai sedikit keberanian, setidaknya kasus penculikan akan lebih mudah diketahui.

Selain itu, anak-anak perlu diajarkan untuk berani menolak makanan atau benda pemberian dari orang yang tak dikenalnya. Keberanian ini perlu terus ditanamkan karena bagi anak-anak, makanan, terutama yang bentuknya lucu dan beraneka warna, sangat menarik mereka. Anak-anak dengan pemikirannya yang masih polos, tentu juga tak punya pikiran negatif. Apalagi menganggap makanan yang diberikan orang lain padanya sebagai makanan yang buruk.

Keterampilan lain yang tak boleh dilupakan orangtua adalah meminta si kecil untuk selalu pamit bila mereka ingin pergi ke luar rumah. “Termasuk saat mereka bermain ke rumah temannnya yang tak jauh dari tempat tinggal anak.” Kebiasaan ini penting orangtua terapkan agar mempermudah mencari anak bila waktu pulang sudah tiba. Mila Meiliasari

Sumber: Tabloid Ibu Anak

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s