Ayahku Sibuk Terus!


Sumber : cyberjob.cbn.net.id

sumber : Mother And Baby
Figur dan kehadiran ayah sangat penting bagi balita. Tapi bagaimana kalau ayah tak pernah punya waktu?

“Bu, kok ayah kerja terus? Aku pengen main sama ayah,” keluh Sandi. Mata belonya memancarkan kekecewaan. Aneka mainan yang memenuhi kamarnya tak bisa mengobati kerinduannya. Bagaimana tidak. Sandi hampir tak punya kesempatan bermain bersama ayahnya. Setiap kali hanya kata ‘sibuk’ yang keluar dari mulut ibunya sebagai alasan. Padahal Sandi sangat menikmati saat-saat bersama ayahnya. Ia bisa bermain dengan lebih gembira dan kreatif bersama sang ayah. Sebagai anak laki-laki, ia juga menemukan tokoh identifikasi sebagai model untuk dirinya.

Sayang, karena pertemuan Sandi dan ayahnya sangat jarang, balita ini tak mendapatkan salah satu elemen pendidikan yang seharusnya ia terima. Keadaan ini, menurut psikolog pendidikan anak Prof. DR. Utami C. Munandar, akan menimbulkan berbagai masalah psikologis. Mulai dari lambannya perkembangan motorik, kurang berkembangnya kecerdasan emosional, hingga menurunnya tingkat kecerdasan intelektual.

Penelitian National Center for Education Statistics dan National Household Education menunjukkan, keterlibatan orangtua terutama ayah sangat berpengaruh pada tingkat prestasi anak. Semakin tinggi keterlibatan ayah dalam pengasuhan dan kepeduliannya secara langsung terhadap pendidikan anak akan membuat anak mendapatkan prestasi yang optimal. Menurut Myriam Medzian dalam bukunya Boys will be Boys, jika ayah ikut berbagi dalam pengasuhan atau mengasuh anaknya sendiri, anak laki-lakinya akan tumbuh menjadi pribadi yang memiliki empati dan kompetisi sosial yang baik.

Artinya, ayah tak hanya sebagai berperan sebagai pencari kebutuhan ekonomi keluarga semata. Utami menyarankan, ayah mesti secara sengaja menyediakan waktu untuk bisa berinteraksi dengan anak. “Waktu itu tidak boleh sisa dari aktivitas lain, tapi harus sengaja diusahkan agar pertemuan antara ayah dan anak jadi berkualitas,” jelas guru besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia ini.

Saat ini yang terjadi malah sebaliknya. Anak mendapatkan waktu sisa dari keseluruhan aktivitas kehidupan ayah. Tak sedikit ayah yang menjadikan kebutuhan anak untuk bertemu dengannya sebagai kepentingan nomor sekian. Akibatnya, interaksi antara ayah-anak tak berjalan efektif.

Bila waktu pertemuan dengan anak mendapat perhatian khusus, secara otomatis ayah akan menyiapkan dirinya untuk menjadi orang yang menyenangkan saat berinteraksi dengan si kecil. Ayah tidak akan memikirkan hal lain saat bermain bersama balitanya. Dengan begitu ayah dapat mengeluarkan ide-ide menarik yang dapat memicu kreativitas anak saat bersamanya.

Tiga Cara

Hubungan yang dekat antara ayah dengan anak tidak dapat terjalin dengan sendirinya. Dalam buku Biosocial Perspective on Paternal Behavior and Involvement disebutkan, ayah bisa menjalin kedekatan dengan anak melalui tiga cara. Pertama, dengan kontak langsung. Misalnya ayah meluangkan waktu dengan bermain, memandikan anak-anak, atau mengajari anak tentang berbagai hal. Kedua, ayah menjaga agar selalu bisa dihubungi oleh anak. Anak mendapatkan waktu yang cukup panjang sehingga bisa berdiskusi dengan ayah, kapanpun anak inginkan. Ketiga, dengan selalu memupuk rasa tanggung jawab akan kesejahteraan anak.

Itu artinya, kesempatan ayah untuk memiliki ikatan yang cukup kuat seperti halnya ibu bisa dilakukan dalam keadaan apapun, meski ayah tak punya kesempatan berinteraksi langsung dengan anak. Yang terpenting, adanya jalinan komunikasi yang tidak terputus, di mana ayah memiliki rasa tanggung jawab yang besar untuk mengetahui keadaan anaknya. “Jadi, tak harus selalu bertemu secara fisik. Pada kondisi tertentu, ayah bisa memanfaatkan fasilitas apapun untuk menjaga agar hubungan dengan anak tetap terjalin,” ungkap Utami.

Namun, tentu saja, kondisi seperti ini harus dijelaskan kepada anak. Balita memerlukan alasan yang bisa diterimanya mengapa mereka tak bisa bertemu orangtuanya secara langsung. Penjelasan ini harus dikomunikasikan dengan baik sehingga tidak terjadi salah persepsi. “Jangan lupa meminta pendapat apakah anak merasa keberatan dengan interaksi yang selama ini dilakukan.”

Dengan begitu, meski ayah tak bisa melakukan kontak langsung dengan anak, balita tak akan kehilangan figur ayah. Anak akan tetap merasa ayah mereka selalu berada di dekatnya. Ia pun tetap bisa menemukan figur atau model maskulin dalam keluarganya.

Dalam hal hubungan antara ayah dan anak, peranan ibu, menurut Utami turut berpengaruh. Ibu yang bisa memberikan kesempatan yang luas kepada ayah untuk dekat dengan anak bisa ikut membangun hubungan antara anak dan ayah yang lebih baik. “Akan sangat efektif bila ibu mengingatkan ayah untuk meluangkan waktu untuk anak, dan memberikan kepercayaan penuh saat ayah bersama anak.” Mila Meiliasari

Sumber: Tabloid Ibu Anak

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s