Belajar, Berpikir,dan Menerima Pengalaman Baru

Sumber : cyberjob.cbn.net.id

sumber : Mother And Baby
Di masa batita anak memasuki proses belajar, berpikir, dan menerima pengalaman baru. Yuk, kita bantu!

Serunya masa batita! Ini karena di masa batita, anak belajar lebih banyak ketimbang masa lain dalam hidupnya. Ada begitu banyak yang harus dipelajari. Mulai cara berteman, cara mengenal berbagai perasaan – percaya, sayang, empati, marah, takut – mengenal berbagai bentuk, rasa, warna, suasana, dan banyak lagi. Selain lewat pengalaman, semuanya dipelajari batita lewat bahasa. Namun yang paling seru dan menantang ternyata belajar lewat pengalaman, lho. Ini lantaran saat itu batita boleh mencoba berbagai hal langsung dan sendiri. Misal, ketika belajar mengenal bola. Batita boleh memegang sendiri bolanya, melempar, menendang, lalu melakukan apa saja untuk memuaskan ingin tahu; menduduki bola, menaruh bola di atas kepala, memukul dan mengempiskan bola.

Mengapa experential learning sangat menyenangkan bagi batita? Ini karena semua batita lahir dengan rasa ingin tahu yang besar, yang mendorongnya memulai proses belajar sedini mungkin. Dalam berbagai referensi tumbuh-kembang disebutkan idealnya orangtua dapat memelihara dan mengasah keingintahuan batita tersebut, lewat pola asuh yang memberi ruang penyaluran ekspresi dan kreativitas. Jika orangtua ikut berpartisipasi dan mendukung batita mulai belajar berbagai hal, kelak dia akan tetap mencari dan menjadi peserta yang aktif dan semangat dalam proses pembelajaran. Sebaliknya, jika orangtua tidak mendukung proses pencarian batita, bisa saja dia berhenti mencari atau sedikitnya, jadi tidak bersemangat.

Untuk menyuburkan rasa ingin tahu dan menumbuhkan kecintaan batita belajar selama hidup, berikut beberapa tips yang bisa dijadikan panduan:

Terima, dukung, dan jawablah semua pertanyaan anak.
Karena banyak yang perlu dipelajari, jangan heran bila batita banyak sekali mengajukan pertanyaan. Kadang Anda mungkin malas dan lelah menjawab. Jangan lho, cobalah bertahan terus menjawab pertanyaan yang tak ada habisnya itu, sebab anak memang berhak mengetahui semua jawaban pertanyaannya (meski setiap jawaban biasanya membuahkan pertanyaan lainnya). Tentu saja jawaban Anda harus disesuaikan dengan usia anak, atau buatlah penjelasan dengan kalimat singkat dan sederhana.

Jika anak tidak mendapat jawaban atau menerima jawaban yang tidak memuaskan (misal, “Ah kamu terlalu kecil untuk mengerti”) biasanya mereka akan berhenti bertanya. Rasa ingin tahu dan minat eksplorasinya pun berhenti di titik ini. Sayang, kan?

Terima dan dukung penjelajahannya.
Eksplorasi anak kadang merepotkan karena membuat ruangan jadi berantakan. Tetapi percayalah, melalui proses eksplorasi ini anak mendapatkan “penemuannya”, yaitu bahwa dunia ini penuh dengan hal dan kejadian menarik yang perlu dialami agar anak memahaminya. Jadi, tahanlah keinginan Anda menghentikan penjelajah kecil ini, hanya demi kerapihan dan kebersihan semata. Sebab pada saat sama Anda bisa menghambat proses belajarnya yang penting. Selama penjelajahannya masih dalam taraf aman dan bisa ditolerir, biarkan saja ini terjadi.

Terima dan dukung percobaannya.
Pikiran batita selalu dipenuhi berbagai pertanyaan ingin tahu. “Apa yang akan terjadi jika aku mencabut bunga dari tanaman di kebun?”, “Apa yang terjadi bila aku mencubit temanku?” Meski tak ingin menghentikan semangatnya, tetapi Anda juga tak ingin membiarkan “ilmuwan cilik” ini menghancurkan tanaman kesayangan, atau membuat anak tetangga menangis, bukan?

Untuk itu cobalah berupaya menghentikan percobaannya dengan penjelasan, yang Anda ingin hindarkan adalah akibat buruk yang bisa menimpanya atau temannya. Jadi bukan melarang proses pembelajarannya. Cobalah alihkan perhatian anak pada hal lain yang mungkin menarik perhatiannya, namun tidak membahayakan.

Kenalkan anak pada berbagai situasi lingkungan.
Ajaklah anak bermain ke museum, taman bermain, toko, pasar, dan semua tempat yang aman dan cocok, yang dapat memberi pengalaman belajar. Umumnya anak menyerap banyak hal dari yang dia lihat. Lalu, Anda dapat menambah apa yang dipelajarinya dengan mengajukan pertanyaan dan menambahkan hasil pengamatan Anda sendiri.

Kenalkan padanya banyak pengalaman.
Bermain ayunan, bermain luncuran, bermain air di kolam, memasukkan tepung ke adonan, dan mencorat coret dengan crayon serta lainnya, merupakan kegiatan yang penuh dengan pengalaman bagi batita. Kemungkinan mendapatkan pengalaman ini sangat berharga dan komentar-komentar Anda dapat meningkatkannya, seperti “Lihat, semakin keras kamu mendorong, semakin tinggi ayunannya” atau “Lihat, kalau adonannya kamu aduk, tepungnya akan menyatu dengan telur” dan sebagainya.

Kenalkan daya khayal.
Anak dapat belajar dari khayalan – seperti dari buku, video, dongeng, film, dll – sebanyak yang dapat dia pelajari dari hidup sesungguhnya. Karena itu, ajaklah dia bermain peran. Dalam dunia khayalan, anak dapat berubah menjadi orang dewasa atau apa pun sesuai keinginannya.

Hindarkan menonton TV berlebihan.
Cara tercepat menghentikan pikiran adalah menyalakan televisi. Memang benar anak bisa mendapatkan informasi dari program terpilih di TV, tetapi ini adalah proses belajar pasif. Anak tidak didukung belajar sendiri dan menjadi peserta aktif. Akhirnya mereka bisa menjadi pelajar yang malas, dan dorongan alami mereka untuk menemukan segala sesuatunya sendiri, jadi terhambat – karena sudah disajikan di TV!

Masukkan proses belajar dalam kegiatan sehari-hari.
Dengan sedikit usaha sebetulnya Anda bisa semahir guru di kelas-kelas pre school. Anda dapat mengenalkan angka, warna, huruf, dari kegiatan sehari-hari. Ini bukan agar anak jadi pintar berhitung dan membaca sedini mungkin, namun untuk mengembangkan minatnya pada bidang ini kelak, dan untuk menciptakan lingkungan yang mendukung proses belajar.

Mendukung proses belajar dengan membina harga diri anak.
Agar mampu belajar, anak perlu senang pada dirinya sendiri. Jangan pernah memandang remeh atau mencela anak, yang membuat percaya dirinya mundur, dan membutnya kurang suka pada dirinya.

Buatlah pengalaman menjadi menyenangkan.
Jika anak merasa terpaksa dan tertekan dalam belajar, dihukum atau diejek bila gagal, atau dihadapkan cara belajar yang resmi terlalu dini, mereka bisa menjadi takut belajar, dan bukannya menyukai belajar.

Berikan teladan.
Tunjukkan pada anak sesungguhnya tidak pernah terlalu tua bagi seseorang untuk menjelajah, mencoba, dan menemukan. Belajar adalah kegiatan seumur hidup. Ini juga berlaku bagi ayah-ibu. Semangat belajar Anda akan menular pada anak. (Rahmi Hastari/WTETTY)

Dalam mencari pengalaman melalui eksplorasi, batita kerap melakukan kesalahan atau kecelakaan tak disengaja. Misal, tercakar kucing saat membelai Si Pussy, memecahkan vas bunga ibu, atau tersenggol knalpot motor yang panas. Perasaan sakit, takut, dan bersalah yang timbul pada anak bisa membekas menjadi trauma, lho. Menurut Risatianti Kolopaking, S. Psi, untuk mengatasinya sebaiknya orangtua melakukan pengawasan dan segera memberi penjelasan pada anak.

Ini karena menurut psikolog pendidikan yang praktek di RS Hermina, Bekasi ini, batita sebenarnya tidak tahu apakah dia melakukan kesalahan atau tidak, sebelum orangtuanya memberikan penjelasan. ”Jangan langsung dimarahi atau disalahkan, karena rasa trauma bisa timbul justeru karena omelan Anda itu, bukan akibat peristiwanya,” terang lulusan Fakultas Psikologi Padjajaran Bandung ini.

Selama orangtua mampu memberikan penjelasan yang benar dan bisa dimengerti, lanjut Risa, anak tidak akan mengalami trauma terhadap yang dialami. Justeru, “Ada tiga hal sebenarnya yang bisa didapat anak dari pengalaman tidak menyenangkan, yaitu, dia belajar memecahkan masalah, bisa membaca situasi, dan bisa menganalisa sendiri masalah yang telah dihadapi.” (b Rahmi)

Sumber: Tabloid Ibu Anak

Iklan

Abses Gusi

Sumber : http://www.pdpersi.co.id

PENYEBAB
• Infeksi dari akar gigi atau gigi-gigi di sekitar abses, atau infeksi gusi atau keduanya.
YANG DAPAT ANDA LAKUKAN
• Minum obat pereda sakit bila perlu dan jangan menggigit pada gigi yang sakit
• Berkumur air garam hangat sehabis makan
• Segera periksa ke dokter gigi.
TINDAKAN DOKTER
• Untuk infeksi gigi, kantong infeksi harus dibersihkan
• Mungkin diperlukan perawatan akar gigi
• Pada kasus yang ekstrim, perlu antibiotika atau gigi perlu di cabut
• Untuk infeksi apikal (akar gigi), diperlukan perawatan akar gigi bila gigi bisa diselamatkan

Ayahku Sibuk Terus!

Sumber : cyberjob.cbn.net.id

sumber : Mother And Baby
Figur dan kehadiran ayah sangat penting bagi balita. Tapi bagaimana kalau ayah tak pernah punya waktu?

“Bu, kok ayah kerja terus? Aku pengen main sama ayah,” keluh Sandi. Mata belonya memancarkan kekecewaan. Aneka mainan yang memenuhi kamarnya tak bisa mengobati kerinduannya. Bagaimana tidak. Sandi hampir tak punya kesempatan bermain bersama ayahnya. Setiap kali hanya kata ‘sibuk’ yang keluar dari mulut ibunya sebagai alasan. Padahal Sandi sangat menikmati saat-saat bersama ayahnya. Ia bisa bermain dengan lebih gembira dan kreatif bersama sang ayah. Sebagai anak laki-laki, ia juga menemukan tokoh identifikasi sebagai model untuk dirinya.

Sayang, karena pertemuan Sandi dan ayahnya sangat jarang, balita ini tak mendapatkan salah satu elemen pendidikan yang seharusnya ia terima. Keadaan ini, menurut psikolog pendidikan anak Prof. DR. Utami C. Munandar, akan menimbulkan berbagai masalah psikologis. Mulai dari lambannya perkembangan motorik, kurang berkembangnya kecerdasan emosional, hingga menurunnya tingkat kecerdasan intelektual.

Penelitian National Center for Education Statistics dan National Household Education menunjukkan, keterlibatan orangtua terutama ayah sangat berpengaruh pada tingkat prestasi anak. Semakin tinggi keterlibatan ayah dalam pengasuhan dan kepeduliannya secara langsung terhadap pendidikan anak akan membuat anak mendapatkan prestasi yang optimal. Menurut Myriam Medzian dalam bukunya Boys will be Boys, jika ayah ikut berbagi dalam pengasuhan atau mengasuh anaknya sendiri, anak laki-lakinya akan tumbuh menjadi pribadi yang memiliki empati dan kompetisi sosial yang baik.

Artinya, ayah tak hanya sebagai berperan sebagai pencari kebutuhan ekonomi keluarga semata. Utami menyarankan, ayah mesti secara sengaja menyediakan waktu untuk bisa berinteraksi dengan anak. “Waktu itu tidak boleh sisa dari aktivitas lain, tapi harus sengaja diusahkan agar pertemuan antara ayah dan anak jadi berkualitas,” jelas guru besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia ini.

Saat ini yang terjadi malah sebaliknya. Anak mendapatkan waktu sisa dari keseluruhan aktivitas kehidupan ayah. Tak sedikit ayah yang menjadikan kebutuhan anak untuk bertemu dengannya sebagai kepentingan nomor sekian. Akibatnya, interaksi antara ayah-anak tak berjalan efektif.

Bila waktu pertemuan dengan anak mendapat perhatian khusus, secara otomatis ayah akan menyiapkan dirinya untuk menjadi orang yang menyenangkan saat berinteraksi dengan si kecil. Ayah tidak akan memikirkan hal lain saat bermain bersama balitanya. Dengan begitu ayah dapat mengeluarkan ide-ide menarik yang dapat memicu kreativitas anak saat bersamanya.

Tiga Cara

Hubungan yang dekat antara ayah dengan anak tidak dapat terjalin dengan sendirinya. Dalam buku Biosocial Perspective on Paternal Behavior and Involvement disebutkan, ayah bisa menjalin kedekatan dengan anak melalui tiga cara. Pertama, dengan kontak langsung. Misalnya ayah meluangkan waktu dengan bermain, memandikan anak-anak, atau mengajari anak tentang berbagai hal. Kedua, ayah menjaga agar selalu bisa dihubungi oleh anak. Anak mendapatkan waktu yang cukup panjang sehingga bisa berdiskusi dengan ayah, kapanpun anak inginkan. Ketiga, dengan selalu memupuk rasa tanggung jawab akan kesejahteraan anak.

Itu artinya, kesempatan ayah untuk memiliki ikatan yang cukup kuat seperti halnya ibu bisa dilakukan dalam keadaan apapun, meski ayah tak punya kesempatan berinteraksi langsung dengan anak. Yang terpenting, adanya jalinan komunikasi yang tidak terputus, di mana ayah memiliki rasa tanggung jawab yang besar untuk mengetahui keadaan anaknya. “Jadi, tak harus selalu bertemu secara fisik. Pada kondisi tertentu, ayah bisa memanfaatkan fasilitas apapun untuk menjaga agar hubungan dengan anak tetap terjalin,” ungkap Utami.

Namun, tentu saja, kondisi seperti ini harus dijelaskan kepada anak. Balita memerlukan alasan yang bisa diterimanya mengapa mereka tak bisa bertemu orangtuanya secara langsung. Penjelasan ini harus dikomunikasikan dengan baik sehingga tidak terjadi salah persepsi. “Jangan lupa meminta pendapat apakah anak merasa keberatan dengan interaksi yang selama ini dilakukan.”

Dengan begitu, meski ayah tak bisa melakukan kontak langsung dengan anak, balita tak akan kehilangan figur ayah. Anak akan tetap merasa ayah mereka selalu berada di dekatnya. Ia pun tetap bisa menemukan figur atau model maskulin dalam keluarganya.

Dalam hal hubungan antara ayah dan anak, peranan ibu, menurut Utami turut berpengaruh. Ibu yang bisa memberikan kesempatan yang luas kepada ayah untuk dekat dengan anak bisa ikut membangun hubungan antara anak dan ayah yang lebih baik. “Akan sangat efektif bila ibu mengingatkan ayah untuk meluangkan waktu untuk anak, dan memberikan kepercayaan penuh saat ayah bersama anak.” Mila Meiliasari

Sumber: Tabloid Ibu Anak

Pacarku Namanya.

Sumber : cyberjob.cbn.net.id
Sumber : Mother And Baby
Banyak balita sudah mengenal kata ‘pacar’. Tapi ini bukan berarti ia tumbuh dewasa lebih cepat, lho.

“Bu, Mas Ugo kan udah punya pacar. Namanya Desi, giginya gupis sama kaya Mas Ugo,” celetuk Lani, balita yang baru duduk di TK nol besar ini.
“Pacar!?” Wina setengah berteriak. “Memangnya pacar itu apa sih?” tanya ibu muda ini kepada buyungnya.
“Desi kan sama gupisnya kaya Mas Ugo. Jadi namanya pacar Mas Ugo,” jelas balita itu polos.

Mendengar penjelasan putrinya, sesaat Wina terpingkal-pingkal. Tapi ada sedikit kekhawatiran di benaknya. Ibu muda ini terkejut menghadapi perkembangan putri keduanya. Bagi Wina, anak kecil tak pantas bicara soal pacar. Tapi ia sendiri bingung bagaimana harus menjelaskannya.

Menurut psikolog perkembangan anak Dra. Iesye Widodo, untuk menjelaskan sesuatu pada anak memang tidak boleh sembarangan. Orangtua harus siap menjawab pertanyaan beruntun dari penjelasan yang diberikannya. Termasuk menjelaskan perihal pacaran pada balita. “Apalagi setiap balita memiliki pemahaman berbeda tentang pacaran. Ada yang berpikir pacaran itu hanya sebatas pertemanan, kesamaan minat, atau pacaran dalam arti kasih sayang,” ungkap Iesye.

Karena itu, sebaiknya orangtua merespon perkembangan pengetahuan balita itu. Berikan penjelasan yang memang perlu diketahui anak. Ada baiknya, sebelum menjelaskan pengertian pacaran, tanyakan dulu apa makna pacaran di mata balita. Ini memudahkan kita memberikan penjelasan yang perlu diketahui anak.

Tanggapilah pengetahuan baru balita ini dengan santai. Banyak orangtua khawatir bila anaknya mengatakan soal pacaran di usia sangat dini, ia akan tumbuh dewasa lebih cepat. “Bahkan ada orangtua yang malu bila anaknya mengenal kata pacaran. Padahal, ini sama sekali tidak perlu. Mengenal kata pacaran bagi balita adalah hal yang wajar. Adapun dampaknya justru tergantung dari pengarahan dan penjelasan orangtua,” papar Iesye.

Sekedar Sebutan

Saat ini, kata ‘pacaran’ sangat mudah ditemukan. Bahkan, anak usia 4 tahun pun bisa jadi sudah mengenalnya. TV sebagai media yang paling akrab dengan anak disebut Iesye menjadi penyebabnya. Tayangan yang melontarkan kata ‘pacaran’ pun kini sudah tak terbatas pada tontonan untuk orang dewasa saja. Pada film-film kartun anak pun, kata ‘pacaran’ seringkali muncul. Wajar bila balita saat ini sudah akrab dengan kata itu.

Sebenarnya, kata pacaran bisa saja tak berarti apa-apa bagi anak. Tidak akan berbahaya, dan tidak akan mendorong si kecil berperilaku negatif. Kecuali bila anak memahami kata pacaran seperti yang dipahami orang dewasa. Tapi sejauh ini, menurut Iesye, balita hanya memahami kata pacaran sebagai pertemanan antara laki-laki dan perempuan. Bahkan, hanya dipahami sebagai sebuah sebutan yang tidak berarti apa-apa atau mungkin cuma sekedar rasa sayang seorang anak pada anak lain.

Yang perlu dikhawatirkan adalah pergaulan antara si upik yang masih balita dengan anak-anak di atas usianya, yang punya pengertian pacaran lebih jauh daripada si balita. Yang perlu diwaspadai juga oleh orangtua adalah tayangan-tayangan yang mempertontonkan adegan yang tak sepatutnya dilihat anak. “Perkembangan kata ‘pacaran’ akan berakibat buruk bila anak sudah melihat tontotan seperti itu,” jelas Iesye.

Jangan Buat Anak Curiga

Ekspresi orangtua saat mendengar kata pacaran yang keluar dari mulut si kecil juga bisa berdampak pada pemahaman pacaran anak, lho. Bila orangtua menunjukkan sikap khawatir berlebihan, malu, atau takut, anak akan curiga dengan kata-kata baru yang ditemukannya. Kecurigaan ini akan membuat si anak merasa tidak nyaman. Bisa jadi ia bertanya pada orang yang tidak tepat. “Dan kita akan kesulitan mengetahui apa yang sudah ditemukan anak tentang pacaran,” kata psikolog dari RS Harapan Kita, Jakarta ini.

Bila orangtua tak suka si kecil mengenal kata pacaran atau mengucapkannya, sebaiknya lakukan pendekatan yang lebih halus. Mulailah dari lingkungan di luar anak. Caranya, jangan pernah mengucapkan kata pacaran di hadapan anak atau menanyakan hal-hal seperti ‘Eh, katanya kamu sudah punya pacar, ya?’, ‘Hmm, pacar siapa sih, anak ganteng ini?’ dan kalimat sejenis lainnya. Semakin jarang anak mendengar kata tersebut semakin mudah ia melupakannya.

Adapun cara menjelaskan arti pacaran, Iesye menyarankan orangtua menerangkannya dengan sederhana. Misalnya, katakanlah bahwa pacaran adalah pertemanan antara pria dan wanita yang sudah dewasa. Bila masih anak-anak seperti balita, bukan pacaran, tapi istilahnya ‘teman perempuan’ atau ‘teman laki-laki’. Penjelasan ini cukup jelas dan tidak terlalu berlebihan bagi anak. Mila Meiliasar
Sumber: Tabloid Ibu Anak

Nah…Nah..Mulai Corat-Coret Tembok

Sumber : cyberjob.cbn.net.id

sumber : Mother And Baby
Dinding penuh coretan ciri khas rumah dengan batita. Apa memang harus selalu begitu?

Rasanya percuma pasangan Feyla dan Taufik berdiskusi panjang-lebar memilih warna cat paling okey sewaktu mereka mengganti cat tembok rumah mereka bulan lalu. Sore ini tembok navy blue dove mereka tiba-tiba penuh hiasan motif “batik”, hasil corat-coret Daffa (2 tahun) menggunakan spidol – entah dapat dari mana spidolnya. Rasanya Feyla mau menangis campur tertawa melihat temboknya yang cantik jadi berantakan hanya dalam sekejap.

Tapi kata Taufik, ”Nggak apa-apa, biar Daffa kreatif.”Perkembangan Motorik Halus. Pada usia batita anak mulai terampil mencorat-coret. Ini disebabkan karena sejak usia tersebut semua gerakan yang melibatkan keterampilan tangan dan jari-jemarinya – motorik halus – sudah lebih berkembang. Salah satunya adalah keterampilan menggenggam. Kegiatan corat-coret dilakukan anak sebagai proses pengakuan diri bahwa dirinya bisa melakukan apa yang dilakukan orang dewasa, salah satunya menulis.
Kegiatan ini menurut Psikolog Mesta Limbong juga melatih kerja otot motorik tangan.

”Anak yang terbiasa melatih tangannya meski sekedar corat – coret, akan memudahkan ketika kelak belajar menulis,” ujar psikolog perkembangan ini. Lewat kegiatan corat-coret yang sepertinya iseng-iseng ini pula sebenarnya anak sedang menumpahkan kreatifitas.
“Corat-coret dilakukan anak sesuai imajinasinya. Apa yang ada dalam fantasinya diperlihatkan dalam bentuk coretan. Makanya hasilnya pun macam-macam sesuai imajinasi dan kreatifitasnya,” tutur Mesta.

Dalam sebuah referensi, psikolog perkembangan dari AS Elizabeth B. Hurlock juga mengungkapkan kegiatan corat coret anak, selain menunjukkan kemampuan motorik, juga merupakan kegiatan menciptakan konstruksi atau bentuk apa saja, menggunakan benda dan situasi sehari-hari. Pada saat yang sama anak mengubah bentuk tersebut agar sesuai khayalan. ”Di masa awal permainan konstruktif ini, sarana yang bisa digunakan si kecil untuk menggambar antara lain kertas, cat, cat air, pensil warna, krayon dan spidol,” tulis Hurlock.

Dari dua paparan psikolog di atas, rasa-rasanya sih, kita sepakat aktivitas mengembangkan kreatifitas dan kemampuan motorik si kecil memang sangat penting. Tapi sebaiknya kita juga paham untuk melakuakn kegiatan tersebut bukan berarti membolehkan anak mengubah rumah kita menjadi “galeri” hasil corat-coretnya. Dalam hal tertentu, ujar Mesta, anak perlu tahu bahwa mencorat-coret tembok rumah, sebenarnya tidak diperbolehkan, karena hal tersebut mengandung unsur merusak. Jika orangtua melarangan anak mencorat-coret tembok, sebenarnya bukan berati membatasi kebebasan atau mematikan kreatifitasnya yang sedang tumbuh, melainkan mengarahkannya agar tidak merusak lingkungannya.

Kelak, larangan mencorat-coret tembok rumah ini juga berlaku bagi rumah orang lain atau lingkungan umum. ini sekaligus pendidikan moral untuk mencegah perbuatan vandalisme, bukan? Tetapi menurut mesta, ”Supaya efektif dan tidak mematikan kreatifitas anak, larangan sebaiknya disertai dengan memberi anak tempat khusus untuk menyalurkan kesukaannya.

Di bawah ini tips bagi ayah-ibu jika aktivitas corat-coret batita mulai merambah ke dinding rumah.
1. Tahan Diri Untuk Tidak Marah.Ketika Anda mendapatkan si kecil tengah “menghias: dinding, lakukanlah hitungan sampai sepuluh sebelum Anda memberi respon. Ingat, anak mungkin saja bangga akan hasil karyanya, dan mengharapkan orang-orang di sekelilingnya menghargainya juga. Menyalahkan usahanya bukan hanya menyakiti harga dirinya, tetapi juga menghambat bakat artistiknya. Atau jika dia menikmati perhatian yang ditimbulkan lukisan dindingnya, anak justru akan mengulangi perbuatannya. Daripada memarahi hasil seni si kecil, sebaiknya dengan tenang Anda menjelaskan pilihan medianya keliru.
2.
3. Berikanlah Media Pengganti. Kemudian, sementara keinginan kreatifnya masih ada, dudukanlah anak dan tunjukkan kertas adalah tempat kita bisa menggambar. Makin besar kertasnya, makin besar kemungkinannya mencorat coret di atasnya. Jadi bukan di tembok, di lemari, atau pun di lainnya. Anda bisa merekatkan kertas pada lantai, pada meja atau tembok agar tidak bergeser saat disentuh si kecil. Biarkan dia bekerja tanpa perlu Anda awasi, tetapi tetaplah memberikan perhatian agar dia tidak kembali corat-coret di tembok.
4.
5. Ajak Serta Membersihkan Dinding. Untuk lebih menekankan pesan bahwa dinding bukan untuk digambari, ajaklah anak membantu Anda membersihkan dinding dengan lap basahnya sendiri. Ada baiknya tidak menggunakan bahan kimia yang membahayakan, atau sesuatu yang mungkin bisa tertelan atau dikunyah oleh anak.
6.
7. Sediakan Waktu Khusus Menggambar. Setiap hari sediakan waktu untuk kegiatan menggambar yang diawasi oleh Anda atau pengasuha anak, sehingga anak mempunyai banyak kesempatan mengungkapkan bakat artistiknya. Jika tidak ada yang dapat mengawasi kegiatan menggambar anak, simpanlah alat menggambar di tempat yang tidak terjangkau olehnya.
8. Berikan Penghargaan. Akhirnya, tempelkan dengan bangga kertas berisikan hasil karya anak di dinding, lemari atau kulkas. Penghargaan pada kreasi di atas kertasnya ini kemungkinan besar akan memberi inspirasi pada anak untuk mengalihkan energi artistiknya di kertas lebih banyak lagi.(Rahmi Hastari/Berbagai sumber)

Batita Kurang Gaul

Sumber : cyberjob.cbn.net.id

sumber : Mother And Baby
Saat batita lain mulai berteman dengan sebaya, ada batita yang lebih memilih bermain sendirian setiap saat.

Gadis tadinya mengira dengan memasukan puterinya Prilly (2,7 bulan) ke pre-school, Si Kecil berambut brindil itu akan lebih mudah berkawan. Ternyata hingga bulan ke-6 di pre-school tetap saja Prilly lebih suka bermain dan beraktivitas sendirian. Jarang ibunya melihat Si Kecil asyik bermain berdua teman sebaya atau sekedar berbagi ayunan. Sifat penyendiri atau soliter Prilly semakin mencolok ketika Septi membantu memasangkan si kecil dengan anak lain. Prilly tetap tidak menunjukkan minat menjalin persahabatan, malah semakin tenggelam dalam keasyikkannya sendiri.

Belum Prioritas
Semestinya ayah-ibu tak perlu kuatir jika batitanya belum menunjukan minat bergaul. Bagi kebanyakan anak seusia ini, berteman dengan anak sebaya lainnya ternyata belum menjadi prioritas. Mereka sudah cukup senang bermain sendirian di sebelah atau di dekat-dekat temannya, kok. Jadi tidak perlu bermain bersama dalam artian saling berinteraksi.

Orang dewasa pun kerap salah sangka. Jika menyaksikan dua batita yang kelihatannya sedang asyik bermain bersama, mereka kira dua batita itu benar-benar berkomunikasi dalam permainan. Padahal jika diperhatikan lagi, seringkali sesungguhnya hanya posisi dua batita itu saja yang berdekatan atau bersebelahan. Boleh jadi masing-masing ternyata tengah asyik dengan permainannya sendiri, bahkan mereka berada di dunia khayalan dan imajinasi yang berbeda dan terpisah.

Ada juga tipikal batita yang memang lebih memilih bermain bersama anak yang lebih besar atau bahkan orang dewasa, ketimbang sebayanya. Ini karena unsur persaingan menjadi lebih kecil. Mereka tak perlu bersaing untuk berebut mainan yang sama atau untuk menunggu giliran. Dengan kata lain, bermain bersama orang dewasa jauh lebih aman.

Pilihan untuk bermain sendiri ketimbang berkelompok juga dipengaruhi oleh karakter bawaan batita. Batita berkarakter sanguinist yang bercirikan sifat terbuka, senang berteman, periang, dan supel, tentu lebih mudah masuk ke dunia pergaulan teman sebaya ketimbang batita yang berkarakter melankolis yang tertutup, atau plegmatis yang lebih suka menjadi pengamat dari jauh ketimbang segera bergabung dalam hiruk-pikuk pertemanan.

Khusus menyoal sifat “senang mengamati”, sejumlah psikolog perkembangan menyatakan sebenarnya hampir setiap batita menghabiskan 20% waktunya untuk mengamati ketimbang ambil bagian dalam sesuatu. Mengamati bisa berarti memandangi kawan sebayanya bermain atau memandangi hiruk-pikuk anak bermain. Ketika batita menginjak usia dua tahun, waktu pengamatan berkurang menjadi 14% – dimana saat itu batita sudah mulai mau ambil bagian. Jadi sebenarnya setiap batita memiliki periode hanya menjadi pengamat dulu sebelum betul-betul bergaul. Namun perlu diketahui orangtua, mengamati bukan berarti tidak berpartisipasi. Justru pengamatan salah satu cara batita berperan serta dalam aktivitas lingkungan.

Selanjutnya, meski ada beberapa batita lebih ramah dan cepat terlibat dalam apa yang terjadi – permainan, percakapan, aktivitas – banyak juga yang perlu meluangkan waktu untuk terus mengamati dari luar sebelum mengambil tindakan. Ada juga yang sudah cukup puas memperhatikan dari jauh sehingga mereka tidak terlalu ingin bergabung dengan kelompoknya. Mereka memang anak-anak jenis pengamat.

Memang ada keuntungan lebih yang bisa diperoleh batita yang mulai bergaul dengan sebayanya di usia dini. Anak yang mudah berteman di usia ini, biasanya sudah mempunyai pengalaman sosial lebih baik ketimbang si soliter. Mereka lebih mudah bermain berpasangan, lebih cepat mendapatkan sahabat, juga memiliki kesempatan melatih diri mengatasi konflik di antara teman sebaya. Keuntungan lainnya adalah mereka akan terlatih menjadi pemain tim.

Dalam What to Expect the Toddler Years juga disebut batita yang mudah bergaul dengan teman sebaya umumnya memang telah dibiasakan untuk itu. Mungkin lantaran pernah menghabiskan waktu di tempat penitipan anak, serumah dengan beberapa kakak/adik atau sepupu, atau dibesarkan di keluarga besar. Sebaliknya, batita yang dibesarkan di keluarga kecil – hanya dengan ayah-ibu yang sibuk bekerja dan seorang baby sitter – ditambah jarang bepergian atau diperkenalkan kepada orang lain, mungkin tak akan secepat kawannya yang disebut di atas. Anak yang lambat atau susah berteman, dengan sendirinya perlu mendapatkan pengalaman sosial, bukannya dibiarkan tenggelam dalam kesendiriannya. Banyak hal bisa dilakukan orangtua untuk itu. Tapi sebaiknya jangan memaksa. Sangat wajar bila anak baru benar-benar siap bergaul dalam waktu 1-2 tahun mendatang setelah masa batitanya lewat.

BERTEMAN YUK, NAK…

Banyak orang yang semasa kanak-kanaknya susah berteman dan bergaul, akhirnya menjadi orang dewasa yang populer dengan segudang teman dan sahabat, sibuk dengan aktivitas sosial, menjadi anggota team work yag andal, dll. Kesempatan ini pun berlaku bagi si kecil yang selama ini agak tertinggal dalam dunia pergaulan. Memiliki anak soliter atau introvert bukan sesuatu yang mencemaskan sepanjang kita tahu cara menghadapinya.
1. Hindari pemaksaan. Ketimbang memaksa anak untuk berteman, lebih baik beri dukungan dengan membina ketrampilan sosialnya. Misal, mengajarkan mereka cara bersopan-santun, sifat tolong-menolong, berbagi, menunggu giliran, memberi dan meminta maaf, dll.

2. Jadilah temannya. Jika si kecil pemalu, maka ayah atau ibunya adalah teman pertama yang dapat membantunya berkawan. Sebaliknya jika si kecil agresif terhadap orang lain, kitalah yang memberitahu sikap seperti itu tidak disenangi anak lain. Bila kita ikut menjauhi si kecil, ia akan makin terbenam dalam kesendiriannya.

3. Ajak dan biarkan anak mengenali situasi. Kadang anak ingin mengenali situasi dulu sebelum memulai pertemanan. Apalagi kalau si kecil kebetulan tipe pengamat yang tidak begitu senang terlibat langsung dalam berbagai kegiatan. Bisa saja si kecil hanya mengamati dari jauh teman-teman barunya, sebelum akhirnya berani bergabung. Dan ini perlu waktu. Jadi berikan waktu khusus dan tak usah buru-buru.

4. Jadilah ‘penghubung’ atau ice breaker. Kalau si kecil susah berteman karena pemalu, kita bisa memberi usul. Misal, “Kayaknya temanmu X suka mainan ini, deh. Yuk kita tanya, mau nggak main sama kamu.”

5. Minta bantuan guru/instruktur kelas. Jika si kecil sudah tercatat sebuah kelompok bermain tetapi seringkali kesepian karena tak punya teman, jelaskan hal ini pada gurunya, dan mintalah bantuannya.

6. Libatkan diri dalam permainan. Jika si kecil masih susah juga berteman, kita bisa mengajaknya melakukan permainan atau kegiatan yang gembira. Lalu, ajak teman-temannya. Tetapi ini sebaiknya tidak dijadikan kebiasaan. Karena nanti anak tak pernah belajar membuka kontak sendiri.

7. Biarkan si kecil dengan kecepatan perkembangan sosialnya. Tidak masalah jika di usia batita anak hanya mau bermain dengan anggota keluarga saja. Toh, saat ini pun memiliki banyak teman sebaya belum begitu penting baginya. b Rahmi/Toddler Years

Aku Nggak Mecahin, Kok!

Sumber : cyberjob.cbn.net.id

sumber : Mother And Baby

Mengakui kesalahan dan belajar bertanggung jawab bukan hal mudah bagi anak. Ia butuh panduan dari orangtua.

“Bukan aku yang mecahin piringnya! Aku cuma mau pakai sebentar! Mama kok marah?” teriakan Rintan melengking. Anak berumur 5 tahun itu berlari ke kamarnya dan membanting pintu. Brak! Ia menangis.

Polah putri pertama Wanti membuat ibu muda ini kesal. Bagaimana tidak. Ia melihat sendiri putrinya memecahkan piring antik yang ada di atas bufet. Ingin sekali Wanti marah. Tapi, ia kuatir tindakannya salah.

Paham Tanggung Jawab

Anak usia 5 tahun sebenarnya sudah memahami tanggung jawab. Hanya, menurut psikolog perkembangan anak Dra. Henny Eunike Wirawan, M.Psi., pemahaman rasa tanggung jawab si kecil masih sangat terbatas. “Anak baru memahami tanggung jawab yang sederhana. Misal, ia harus mengerjakan PR yang ditugaskan gurunya. Sebab kalau tidak, ia akan ditegur.”

Konsep sederhana ini menggambarkan, anak hanya mau bertanggung jawab terhadap kesalahan yang benar-benar ia lakukan. Tapi bila perilaku buruk itu terjadi karena suatu alasan yang menurutnya jelas, umumnya anak tak mau mengakuinya. Seperti yang dilakukan Rintan. Bocah itu tak mengakui memecahkan piring, sebab ia beralasan, ia cuma ingin memakai piring itu untuk mengalasi kuenya.

Penyangkalan yang dilakukan anak bukan karena ia tak mau bertanggung jawab. Ia cuma tak ingin berada di posisi yang tak nyaman karena dipersalahkan, serta takut orangtuanya marah dan kecewa pada perilakunya.

Pemahaman yang terbatas ini masih perlu terus dikembangkan, agar si kecil punya rasa tanggung jawab yang utuh. Untuk itu anak sangat membutuhkan bantuan orangtua. “Latihlah si kecil bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukan, tanpa harus membuatnya merasa malu atau menyudutkannya,” saran Henny, yang juga dosen di Universitas Tarumanagara, Jakarta. Berikut beberapa saran Henny agar orangtua bisa efektif membangun rasa tanggung jawab si kecil.
1. Tidak Disudutkan

Saat si kecil berbuat salah, seringkali orangtua memaksanya mengakui kesalahan itu dengan cara yang kurang benar. Misal, melalui debat panjang dengannya. Padahal, itu tidak perlu dilakukan. Bila Anda melihat sendiri kesalahan itu dilakukannya, katakan bahwa Anda melihat ia melakukan perbuatan itu. Ajak si kecil ke tempat di mana hanya ada Anda dan dia. Dengan begitu, anak tak akan merasa sungkan untuk mengakui kesalahannya dan menyadari bahwa orangtua masih menghargainya.
2. Fokuskan pada Perbaikan

Meski tak mau mengakui kesalahannya di hadapan Anda, si kecil tetap saja menunjukkan rasa bersalahnya dengan ekspresi takut pada wajah atau gerak tubuh. Perasaan khawatir ini muncul karena ia merasa tak mungkin mampu memperbaiki kesalahannya. Satu-satunya jalan, ia menyangkal perbuatan buruknya.

Orangtua perlu membantu dengan cara memfokuskan diri pada perbaikan yang perlu dilakukan si kecil, bukan pada kesalahan yang sudah dilakukannya. Bantulah ia memperbaiki kesalahannya. Bila si kecil merusak barang milik temannya, bantu ia memperbaiki benda tersebut dan berikan keberanian padanya untuk mau meminta maaf.

Mendesak anak mengakui kesalahannya bukanlah hal penting. Yang paling penting adalah membuatnya mengerti bahwa perilaku buruknya berakibat tidak baik bagi orang lain dan dirinya. Berikan hukuman hanya bila ia melakukan kesalahan yang betul-betul disengaja.
3. Berikan Kepercayaan

Perasaan tanggung jawab akan muncul bila anak merasa mampu mengemban tanggung jawab itu. Untuk itu orangtua perlu membangun rasa mampu pada diri anak agar ia percaya pada dirinya dan memiliki harga diri. Memiliki rasa mampu berarti memilki sumber daya, kesempatan, dan kemampuan untuk mempengaruhi keadaan hidupnya sendiri.

Berikan kesempatan pada si kecil untuk membuat pilihan dan keputusan, menunjukkan kecakapannya, dan mengerjakan tugas yang sesuai kemampuannya. Orangtua perlu menciptakan peluang tersebut. Setiap kali kemampuan anak bertambah, ia perlu diberi kesempatan untuk mempraktikan kemampuannya. Berikan pula sumber daya dan sarana yang cukup agar si kecil mudah melakukannya. Bila si kecil wajib merapikan kamarnya, berikan lemari penyimpan barang di kamarnya dsb.
4. Beri Contoh yang Jelas

Orangtua adalah contoh paling dekat bagi anak. Orangtua yang tidak bertanggung jawab tak bisa mengajarkan anak-anak mereka untuk bertangung jawab. Berikut beberapa sikap orangtua yang tak bisa jadi contoh yang baik: orangtua yang menyalahkan orang lain untuk kesulitan yang mereka alami; tidak tegas; melupakan; mengalihkan tanggung jawab; atau menyerahkan keputusan pada orang lain.
Bila orangtua melakukan tugasnya dengan niat baik, komitmen, dan kepastian yang besar, anak cenderung meniru karakter seperti itu. Karena penting sekali bagi orangtua menjadi teladan dalam bertanggung jawab. Orangtua bisa memberikan contoh yang sederhana betapa pentingnya tanggung jawab itu.
5. Melaksanakan Komitmen

Tanggung jawab erat kaitannya dengan komitmen. Pengertian komitmen ini perlu dipahami anak agar ia bertanggung jawab terhadap komitmen yang sudah diputuskannya. Misal, bila si kecil berjanji akan mengembalikan mainan temannya, lalu karena sesuatu hal ia tak bisa memenuhinya, bantu ia memenuhi kometmen itu dengan memberinya jalan. Bila tidak, ajak si kecil meminta maaf pada temannya dan buatlah janji di lain waktu.
6. Berikan Pilihan

Seringkali kita menganggap tanggung jawab yang kita berikan pada si kecil dipahami dan disukainya. Padahal, bisa jadi ia mampu melakukan hal lain yang lebih baik. Misal, Anda meminta si kecil untuk menghafal sebuah lagu, padahal ia sama sekali tak menyukai lagu itu. Akan lebih baik bila kita memberi kesempatan padanya untuk menunjukkan rasa tanggung jawabnya dengan memberi banyak pilihan dan kesempatan. Sebenarnya hal yang paling menakjubkan pada perkembangan tanggung jawab si kecil adalah saat melihat ia menunjukkan kepeduliannya terhadap suatu perbuatan atau kewajiban. b Mila Meiliasari

Sumber: Tabloid Ibu Anak