Sehat Mulut, Gigi & Gusi


sumber : http://www.pdgi-online.com

Menggosok gigi setidaknya dua kali sehari sudah menjadi salah satu ritual keseharian kita.

Sehat Mulut, Gigi & Gusi

Menggosok gigi setidaknya dua kali sehari sudah menjadi salah satu ritual keseharian kita.

“Upacara” itu setidaknya mampu mencegah hadirnya plak, biang keladi sejumlah masalah dimulut.

Banyak orang mengaku telah menggosok gigi setiap hari. Namun, mereka masih saja mengeluh dihantam masalah gigi. Entah giginya berlubang, gusi meradang, gigi berkarang, atau mulut bau naga. Lantas, apanya yang salah? Giginya atau cara menggosoknya?

Berawal dari plak

Sejumlah penelitian menunjukkan, biang kerok penyebab beberapa masalah yang menimpa rongga mulut itu tak tahunya dental plaque atau plak gigi. Berupa lapisan tipis bening yang menempel pada permukaan gigi, terkadang juga ditemukan pada gusi dan lidah. Lapisan itu tidak lain kumpulan sisa makanan, dan biasanya ditemani segelintir bakteri dan sejumlah protein dari air ludah.

Celakanya, plak selalu ngendon di dalam mulut karena bisa terbentuk setiap saat. Ia akan hilang setelah dibersihkan secara mekanik dengan cara menggosok gigi. Akan makin bersih kalau dilanjutkan dengan menggunakan benang gigi.

Bila dibiarkan saja, plak yang akan menumpuk akan mengalami klasifikasi, lalu mengeras. Ujung-ujungnya, terbentuklah karang gigi atau calculus yang keras dan melekat erat pada leher gigi. Itulah sebabnya gigi pada bagian itu berwarna kehitaman, kecokelatan, atau kehijauan.

Gangguan yang ditimbulkan oleh karang gigi biasanya lebih parah. Jika dibiarkan menumpuk, karang gigi dapat meresorbsi (menyerap) tulang alveolar penyangga gigi. Akibatnya jelas, gigi menjadi goyang.

Karena tampak oleh mata telanjang dan berhubungan dengan kosmetik, karang gigi lebih sering mencuri perhatian. Sayangnya, kita tidak bisa mengatasinya sendiri. Perlu bantuan dokter gigi untuk menghilangkannya dengan cara scaling. Artinya, ya membuang karang gigi.

Bakteri-bakteri seperti Stertoccus mutans dan Streptoccus sanguine yang pada keadaan normal memang berada di dalam rongga mulut- juga menimbulkan persoalan. Ketika gerombolan bakteri itu bertemu dengan sisa makanan (khususnya yang mengandung gula sukrosa) berikut enzim dari saliva, akan terjadi reaksi fermentasi yang menghasilkan asam. Bila asam itu terus menerus diproduksi, akan terjadi proses demineralisasi atau pelunakan lapisan email gigi terdekat (email bagian terluat dan terkeras dari gigi). Karena email melunak, timbullah karies atau gigi berlubang.

Kalau menemukan spot (noktah) putih atau kecokelatan pada gigi, itu pertanda awal terjadinya karies. Semakin lama noktah semakin membesar, membentuk sebuah lubang. Biasanya masih belum ada keluhan rasa sakit pada tahap ini. Namun, ketika proses demineralisasi berlanjut sampai ke lapisan gigi berikutnya, yakni dentin, timbullah rasa ngilu saat terkena rangsangan.
Terang saja ngilu karena dentin memiliki pori-pori yang berhubungan dengan jaringan saraf gigi.

Plak pada jaringan gusi yang tidak dibersihkan secara teratur juga dapat mengiritasi gusi sehingga gusi menjadi merah, mudah berdarah, dan terkadang membengkak. Ini gejala awal terjadinya gingivitis (radang gusi). Namun, karena terkadang tidak disertai rasa sakit, gejala itu luput dari perhatian dan cenderung dibiarkan saja. Bila radang gusi terus dibiarkan, gigi bisa goyang, dan akhirnya copot sendiri.

Kalau gigi sensitif

– Bisa terjadi, gigi kita tidak berlubang, tetapi ketika menenggak minuman dingin atau panas, mengunyah makanan manis atau asam, tiba-tiba gigi terasa ngilu. Kalau itu yang terjadi, mungkin gigi kita sensitif.

Ada beragam penyebab gigi sering terasa ngilu bila terkena rangsangan suhu atau rasa. Diantaranya karena terjadi abrasi pada leher gigi atau turunnya gusi (retaksi gingiva) yang menyebabkan akar gigi terbuka. Gigi terabrasi atau gusi turun biasanya akibat tindakan kita sendiri yang kurang tepat. Umpamanya, cara menggosok gigi yang tidak benar atau memakai sikat gigi yang terlalu keras bulunya.

Gigi sensitif bisa pula akibat terkikisnya email gara-gara mekai pasta gigi yang mengandung bahan bersifat terlalu abrasif. Karena email tererosi, dentin menjadi terbuka, tidak terlindung. Akibatnya, gigi menjadi sensitif bila terkena rangsangan.

Usia tua juga bisa menyebabkan gigi sensitif, gara-gara retraksi (penurunan) gusi yang terjadi secara fisiologis. Gigi sensitif bisa pula timbul setelah dilakukan scaling. Pada saat itu akar gigi terekspos, sehingga peka terhadap rangsangan. Namun, pada kasus ini biasanya rasa ngilu akan hilang dengan sendirinya begitu gusi menutup kembali.

Biasanya, pasta gigi khusus untuk gig sensitif mengandung sodium monofluorofosfat atau strontium klorida. Menurut penelitian, kedua bahan itu akan membantu menutup poripori dentin yang terbuka sehingga melindungi jaringan saraf dari rangsangan suhu atau rasa. Efeknya baru terasa setelah beberapa saat pemakaian dihentikan. Maka pemakaian teratur pasta gigi khusus untuk gigi sensitif ini sangat dianjurkan.

Makanan yang bersifat asam, seperti minuman bersoda dan makanan masam, sebaiknya dihindari. KAndungan asam akan turut meningkatkan suasana asam yang akan mengikis bahan pelindung yang menutup pori-pori dentin.

MENGATASI BAU MULUT

– Pernah dengar istilah halitosis?Ya, itulah nama lain bau mulut.

Bau mulut merupakan hasil metabolisme kuman rongga mulut dan sisa-sisa makanan, yang berupa gas yang disebut Volatile Sulfur compound (VSCs). Gas ini terdiri atas zat hidrogen Sulfid, metil mercaptan, demetil disulfid, dan dimetil sulfid. Zat-zat tersebut selalu dihasilkan dalam proses metabolisme dari bakteri atau flora rongga mulut. Jadi VSCs dalam keadaan normal pasti ada pada rongga mulut semua orang.

Namun, dia akan menjadi masalah ketika terjadi peningkatan kadar VSCs didalam mulut, yakni ketika ada peningkatan aktivitas bakteri anaerob didalam mulut yang menyebabkan bau dari VSCs ini akan tercium oleh indera penciuman. Peningkatan aktivitas itu bisa karena rendahnya kadar oksigen di dalam rongga mulut yaitu saat produksi saliva atau air liur menurun, bisa juga karena adanya karang gigi atau gigi berlubang (karies).

Cara mengatasinya antara lain :

– Jagalah kesehatan dan kebersihan gigi dan mulut dengan menggosok gigi dua kali sehari, pagi dan malam sebelum tidur.
– jangan lupa sikatlah juga lidah anda, karena permukaan lidah yang tidak rata memungkinkan adanya sisa makanan tersangkut disana.
– Usahakan sesering mungkin mengonsumsi air putih, tetapi hindari minum kopi karena akan memperparah keadaan.
– Mengunyah permen karet yang sweetless atau yang tidak mengandung gula juga bisa membantu untuk merangsang produksi saliva, terutama bagi mereka yang memiliki saliva kental.
– Mengunjungi dokter gigi anda. Mungkin ada gigi yang berlubang atau ada karang gigi.

Oleh : Drg. Agnes Susi Ardini, di Surabaya

Iklan

One thought on “Sehat Mulut, Gigi & Gusi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s