Batita Kurang Gaul


sumber : Mother And Baby

Saat batita lain mulai berteman dengan sebaya, ada batita yang lebih memilih bermain sendirian setiap saat.

Gadis tadinya mengira dengan memasukan puterinya Prilly (2,7 bulan) ke pre-school, Si Kecil berambut brindil itu akan lebih mudah berkawan. Ternyata hingga bulan ke-6 di pre-school tetap saja Prilly lebih suka bermain dan beraktivitas sendirian. Jarang ibunya melihat Si Kecil asyik bermain berdua teman sebaya atau sekedar berbagi ayunan. Sifat penyendiri atau soliter Prilly semakin mencolok ketika Septi membantu memasangkan si kecil dengan anak lain. Prilly tetap tidak menunjukkan minat menjalin persahabatan, malah semakin tenggelam dalam keasyikkannya sendiri.

Belum Prioritas
Semestinya ayah-ibu tak perlu kuatir jika batitanya belum menunjukan minat bergaul. Bagi kebanyakan anak seusia ini, berteman dengan anak sebaya lainnya ternyata belum menjadi prioritas. Mereka sudah cukup senang bermain sendirian di sebelah atau di dekat-dekat temannya, kok. Jadi tidak perlu bermain bersama dalam artian saling berinteraksi.

Orang dewasa pun kerap salah sangka. Jika menyaksikan dua batita yang kelihatannya sedang asyik bermain bersama, mereka kira dua batita itu benar-benar berkomunikasi dalam permainan. Padahal jika diperhatikan lagi, seringkali sesungguhnya hanya posisi dua batita itu saja yang berdekatan atau bersebelahan. Boleh jadi masing-masing ternyata tengah asyik dengan permainannya sendiri, bahkan mereka berada di dunia khayalan dan imajinasi yang berbeda dan terpisah.

Ada juga tipikal batita yang memang lebih memilih bermain bersama anak yang lebih besar atau bahkan orang dewasa, ketimbang sebayanya. Ini karena unsur persaingan menjadi lebih kecil. Mereka tak perlu bersaing untuk berebut mainan yang sama atau untuk menunggu giliran. Dengan kata lain, bermain bersama orang dewasa jauh lebih aman.

Pilihan untuk bermain sendiri ketimbang berkelompok juga dipengaruhi oleh karakter bawaan batita. Batita berkarakter sanguinist yang bercirikan sifat terbuka, senang berteman, periang, dan supel, tentu lebih mudah masuk ke dunia pergaulan teman sebaya ketimbang batita yang berkarakter melankolis yang tertutup, atau plegmatis yang lebih suka menjadi pengamat dari jauh ketimbang segera bergabung dalam hiruk-pikuk pertemanan.

Khusus menyoal sifat “senang mengamati”, sejumlah psikolog perkembangan menyatakan sebenarnya hampir setiap batita menghabiskan 20% waktunya untuk mengamati ketimbang ambil bagian dalam sesuatu. Mengamati bisa berarti memandangi kawan sebayanya bermain atau memandangi hiruk-pikuk anak bermain. Ketika batita menginjak usia dua tahun, waktu pengamatan berkurang menjadi 14% – dimana saat itu batita sudah mulai mau ambil bagian. Jadi sebenarnya setiap batita memiliki periode hanya menjadi pengamat dulu sebelum betul-betul bergaul. Namun perlu diketahui orangtua, mengamati bukan berarti tidak berpartisipasi. Justru pengamatan salah satu cara batita berperan serta dalam aktivitas lingkungan.

Selanjutnya, meski ada beberapa batita lebih ramah dan cepat terlibat dalam apa yang terjadi – permainan, percakapan, aktivitas – banyak juga yang perlu meluangkan waktu untuk terus mengamati dari luar sebelum mengambil tindakan. Ada juga yang sudah cukup puas memperhatikan dari jauh sehingga mereka tidak terlalu ingin bergabung dengan kelompoknya. Mereka memang anak-anak jenis pengamat.

Memang ada keuntungan lebih yang bisa diperoleh batita yang mulai bergaul dengan sebayanya di usia dini. Anak yang mudah berteman di usia ini, biasanya sudah mempunyai pengalaman sosial lebih baik ketimbang si soliter. Mereka lebih mudah bermain berpasangan, lebih cepat mendapatkan sahabat, juga memiliki kesempatan melatih diri mengatasi konflik di antara teman sebaya. Keuntungan lainnya adalah mereka akan terlatih menjadi pemain tim.

Dalam What to Expect the Toddler Years juga disebut batita yang mudah bergaul dengan teman sebaya umumnya memang telah dibiasakan untuk itu. Mungkin lantaran pernah menghabiskan waktu di tempat penitipan anak, serumah dengan beberapa kakak/adik atau sepupu, atau dibesarkan di keluarga besar. Sebaliknya, batita yang dibesarkan di keluarga kecil – hanya dengan ayah-ibu yang sibuk bekerja dan seorang baby sitter – ditambah jarang bepergian atau diperkenalkan kepada orang lain, mungkin tak akan secepat kawannya yang disebut di atas. Anak yang lambat atau susah berteman, dengan sendirinya perlu mendapatkan pengalaman sosial, bukannya dibiarkan tenggelam dalam kesendiriannya. Banyak hal bisa dilakukan orangtua untuk itu. Tapi sebaiknya jangan memaksa. Sangat wajar bila anak baru benar-benar siap bergaul dalam waktu 1-2 tahun mendatang setelah masa batitanya lewat.

BERTEMAN YUK, NAK…

Banyak orang yang semasa kanak-kanaknya susah berteman dan bergaul, akhirnya menjadi orang dewasa yang populer dengan segudang teman dan sahabat, sibuk dengan aktivitas sosial, menjadi anggota team work yag andal, dll. Kesempatan ini pun berlaku bagi si kecil yang selama ini agak tertinggal dalam dunia pergaulan. Memiliki anak soliter atau introvert bukan sesuatu yang mencemaskan sepanjang kita tahu cara menghadapinya.
1. Hindari pemaksaan. Ketimbang memaksa anak untuk berteman, lebih baik beri dukungan dengan membina ketrampilan sosialnya. Misal, mengajarkan mereka cara bersopan-santun, sifat tolong-menolong, berbagi, menunggu giliran, memberi dan meminta maaf, dll.

2. Jadilah temannya. Jika si kecil pemalu, maka ayah atau ibunya adalah teman pertama yang dapat membantunya berkawan. Sebaliknya jika si kecil agresif terhadap orang lain, kitalah yang memberitahu sikap seperti itu tidak disenangi anak lain. Bila kita ikut menjauhi si kecil, ia akan makin terbenam dalam kesendiriannya.

3. Ajak dan biarkan anak mengenali situasi. Kadang anak ingin mengenali situasi dulu sebelum memulai pertemanan. Apalagi kalau si kecil kebetulan tipe pengamat yang tidak begitu senang terlibat langsung dalam berbagai kegiatan. Bisa saja si kecil hanya mengamati dari jauh teman-teman barunya, sebelum akhirnya berani bergabung. Dan ini perlu waktu. Jadi berikan waktu khusus dan tak usah buru-buru.

4. Jadilah ‘penghubung’ atau ice breaker. Kalau si kecil susah berteman karena pemalu, kita bisa memberi usul. Misal, “Kayaknya temanmu X suka mainan ini, deh. Yuk kita tanya, mau nggak main sama kamu.”

5. Minta bantuan guru/instruktur kelas. Jika si kecil sudah tercatat sebuah kelompok bermain tetapi seringkali kesepian karena tak punya teman, jelaskan hal ini pada gurunya, dan mintalah bantuannya.

6. Libatkan diri dalam permainan. Jika si kecil masih susah juga berteman, kita bisa mengajaknya melakukan permainan atau kegiatan yang gembira. Lalu, ajak teman-temannya. Tetapi ini sebaiknya tidak dijadikan kebiasaan. Karena nanti anak tak pernah belajar membuka kontak sendiri.

7. Biarkan si kecil dengan kecepatan perkembangan sosialnya. Tidak masalah jika di usia batita anak hanya mau bermain dengan anggota keluarga saja. Toh, saat ini pun memiliki banyak teman sebaya belum begitu penting baginya. b Rahmi/Toddler Years

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s