Rangsang Kemajuan Anak

SUMBER : http://cidera-otak.blog.friendster.com

Memberikan Rangsangan Kemajuan Pada Anak

Dengan adanya kata-kata pertama, langkah-langkah pertama yang dapat dilakukan oleh anak, maka permainan belajar akan lebih menyenangkan. Beri kesempatan pada anak anda untuk menjelajahi dan belajar tenang dunia dan kemajuannya, dan bentuklah kemajuan fisik, sosial, intelektual dan emosionalnya dengan melakukan

beberapa hal berikut :

Bahan-bahan untuk mengembangkan kreatifitas (Creative materials)

Mainan untuk melatih ketrampilan tangan (Dexterity toys)

Mainan untuk di kamar mandi (Bath toys for water play)

Permainan mengikuti pemimpin (Follow the leader play)
Buku, majalah, dan segala sesuatu yang bergambar (Books, magazines, anything and pictures)

Bahan untuk bermain pura-pura (Materials for pretend play)

Tempat yang aman untuk belajar memanjat (Space safe for supervised climbing)

Lingkungan yang bervariasi (A varied environment)

Pujian (Applause)

Bahan-bahan untuk mengembangkan kreatifitas

Mencoret-coret dengan crayon adalah kegiatan yang sangat memuaskan bagi banyak anak. Rekatkan kertas pada alas meja, lantai, atau dinding ,alas lainnya agar kertas tidak menggeser ketika dicoreti, dan singkirkan crayon segera setelah crayon disalah-gunakan untuk mencoret bagian yang tidak boleh dicoret atau jika >>>>>>>> bayi memasukkan crayon ke dalam mulutnya,> orgtua ada lah contoh yg baik>>>>>( bayi normal saja perlu di ajari terlebih dahulu, sebelum ia dapat menguasai )

Iklan

Jumlah Juluran Di Otak

SUMBER : http://cidera-otak.blog.friendster.com/

Makin Cerdas, makin Besar Jumlah Juluran di Otak

Gizi.net – SECARA genetika, otak anak yang terlahir memang tidak bisa diubah lagi, namun bisa direkayasa oleh lingkungan sekitarnya. Dalam makalah yang ditulis Prof Dr Soemarmo Markam SpS, Dr Andre Mayza SpS, dan Dr Herry Pujiasuti SpS, dari bagian Neurologi FKUI/RSUPN Cipto Mangunkusumo, dijelaskan otak manusia bisa dimaksimalkan fungsinya dengan merekayasa lingkungan sekitarnya.

Menurut Prof Soemarmo, ketika bayi lahir berat otak kurang lebih 350 gram. Pada perkembangannya, terjadi penambahan berat otak bayi. Pada umur tiga bulan berat otak 500 gram, usia enam bulan 650 gram, umur sembilan bulan beratnya mencapai 750 gram, menginjak umur 12 bulan menjadi 925 gram, dan pada umur 18 bulan mencapai 1.000 gram.

Satuan yang membentuk otak ialah sel saraf yang merupakan neurochips, yang jumlahnya sedikitnya 100 miliar buah. Sel saraf ini mempunyai banyak synapsis (sambungan antarneuron). Semakin banyak synapsis, semakin banyak neuron yang menyatu membentuk unit-unit. Kualitas kemampuan otak dalam menyerap dan mengolah informasi tergantung pada banyaknya neuron yang membentuk unit-unit.

Setelah bayi lahir, jumlah sel sarafnys sendiri tidak bertambah lagi, karena sel saraf tidak dapat membelah diri lagi. Tetapi, synapsis–juluran, istilah awamnya mempunyai daya untuk bercabang-cabang dan membuat ranting-ranting hingga usia lanjut.

Keajaiban otak ini bila diprogram dengan cara belajar, maka cabang dan ranting juluran saraf akan tumbuh dan berkembang dan saling menjalin dan membentuk hubungan (networking)

“Sebaliknya, apabila tidak digunakan, cabang-cabang ini akan melisut atau mengecil dan dapat menghilang hingga hubungan antarsel menjadi kurang rimbun, atau lebih gersang,” ujar Prof Soemarmo.

Pertumbuhan otak bisa dilihat dari peningkatan
beratnya. Tetapi, itu bukan disebabkan bertambahnya jumlah sel saraf,
melainkan tumbuhnya cabang juluran dan terbentuknya simpai lemak di
sekitar serat-serat saraf yang sudah ada.

Lalu, bagaimana mekanisme perkembangan itu terjadi?

Menurut dr Andre Mayza SpS, ketika bayi lahir, sebagian berkas-berkas saraf ada yang belum dapat berfungsi dengan baik karena adanya isolasinya, yaitu simpai lemak belum terbentuk. Ia memberi contoh pada bayi yang baru lahir belum dapat berdiri dan berjalan. Bayi hanya dapat melakukannya setelah berkas saraf yang mengurus gerakan mendapatkan simpai lemak yang sempurna.

Pertumbuhan jaringan otak ini tentu memerlukan gizi yang baik. Anak memerlukan semua bahan makanan dalam jumlah cukup, seperti karbohidrat, lemak, protein, vitamin, dan mineral. Kekurangan gizi pada usia dini dapat mengakibatkan terganggunya pertumbuhan otak dengan akibat daya kerjanya berkurang

Kepekaan Indera Bayi

KEPEKAAN INDERA BAYI TENTUKAN KECERDASAN

Membicarakan stimulasi untuk bayi memang tak ada habisnya. Sesudah kelahiran, otak bayi mengalami lompatan perluasan jaringan. Jaringan ini muncul berkat berlangsungnya kegiatan listrik yang dipicu pengalaman indera si bayi. Lebih jauh, stimulasi melalui indera akan memperhalus sambungan dari cabang-cabang sel-sel saraf di otak.

Bayi baru lahir, seperti yang dapat dilihat dari tatapan matanya, memang sudah dapat melihat tetapi masih buram. Untuk bisa mencapai kemampuan melihat yang kompleks, indra penglihatan bayi harus dilatih sejak ia lahir. Kalau tidak, maka sistem penglihatannya tidak berkembang.

Melalui indera pendengarannya, bayi juga mulai belajar merangkai ritme dan bahasa, bahkan sejak dalam kandungan. Para peneliti menemukan, bahwa berbicara banyak pada bayi akan mempercepat proses penguasaan kata-kata baru. Kata-kata yang menyenangkan akan menghangatkan jiwanya. Ditambah sentuhan penuh kasih sayang, maka bayi pun belajar merangkai perasaannya. Perlakuan tidak baik pada bayi akan menghasilkan reaksi berupa kecemasan yang meningkat dan stres yang tinggi. Jadi jelas, stimulasi inderawi merupakan kebutuhan vital yang tak boleh tidak dipenuhi.

sumber :NAKITA

Celebral Palsy

KELAINAN BAYI’ Celebral Palsy

Memahami Cerebral Palsy

Perasaan Lanneke Alexander campur aduk antara sedih, frustasi, dan putus asa saat tahu putra pertamanya, Anthony, terkena cerebral palsy. Sampai usia enam bulan, dokter masih menyatakan Anthony normal. Gejala kelainan mulai terlihat saat Anthony sering demam dan kejang-kejang. Tak seperti bayi seusianya, Anthony hanya mampu tidur terlentang dan lumpuh total, ia seperti tak punya tulang belakang.

Anthony tidak sendirian. Menurut Dr.Dwi P.Widodo, Sp.A (K), MMed, dari divisi neurologi, Departemen Ilmu Kesehatan Anak, FKUI-RSCM, jumlah anak Indonesia yang menderita cerebral palsy mencapai seribu anak per satu juta kelahiran.

Cerebral palsy (CP) adalah gangguan kontrol terhadap fungsi motorik karena kerusakan yang terjadi pada otak yang sedang berkembang. “Bisa terjadi saat masih dalam kandungan (75 persen), saat proses kelahiran (5 persen) atau setelah dilahirkan (15 persen),” kata Dwi.

Penyebab CP sampai saat ini belum diketahui, diduga terjadi karena bayi lahir prematur sehingga bagian otak belum berkembang sempurna, bayi yang lahir tidak langsung menangis sehingga otak kekurangan oksigen, atau karena adanya cacat tulang belakang dan pendarahan di otak. “CP merupakan penyakit yang didapat, artinya pada awalnya otak normal, lalu terjadi gangguan, entah itu virus atau bakteri yang menyebabkan radang otak atau penyakit lain, ketika gangguan itu berlalu, otaknya ada yang rusak, nah terjadilah CP,” paparnya.

Empat Tipe

Secara umum CP dikelompokkan dalam empat tipe, yaitu spastic, athetoid, hypotonic, dan tipe kombinasi. Pada tipe spastic atau kaku-kaku, penderita bisa terlalu lemah atau terlalu kaku. Tipe spastic adalah tipe yang paling sering muncul, sekitar 65 persen penderita CP masuk dalam tipe ini.

Athetoid untuk tipe penderita yang tidak bisa mengontrol gerak ototnya, biasanya mereka punya gerakan atau posisi tubuh yang aneh. Kombinasi adalah campuran spastic dan athetoid.

Sedangkan hypotonic untuk anak-anak dengan otot-otot yang sangat lemah sehingga seluruh tubuh selalu terkulai. Biasanya berkembang jadi spastic atau athetoid. CP juga bisa berkombinasi dengan gangguan epilepsi, mental, belajar, penglihatan, pendengaran, maupun bicara.

Ciri-ciri

Gejala CP sudah bisa diketahui saat bayi berusia 3-6 bulan, yakni saat bayi mengalami keterlambatan perkembangan. Menurut Dwi, ciri umum dari anak CP adalah perkembangan motorik yang terlambat, refleks yang seharusnya menghilang tapi masih ada (refleks menggenggam hilang saat bayi berusia 3 bulan), bayi yang berjalan jinjit atau merangkak dengan satu kaki diseret.

“Begitu ada petunjuk keterlambatan, misalnya bayi belum bisa tengkurap atau berguling, segeralah bawa ke dokter untuk pemeriksaan,” ujarnya. Pemeriksaan yang dilakukan oleh dokter mendeteksi CP pada umumnya melakukan CT-Scan dan MRI untuk mengukur lingkar otak, serta melakukan tes lab untuk menelusuri apakah si ibu memiliki riwayat infeksi seperti toksoplasma atau rubella.

Terapi

Sampai saat ini belum ada obat yang bisa menyembuhkan CP. Namun tetap ada harapan untuk mengoptimalkan kemampuan anak CP dan membuatnya mandiri.

Ngeces Tidak Normal, Bila…

sumber : http://cidera-otak.blog.friendster.com

Oleh: Dr. Luh Karunia Wahyuni, SpRM

Sehari-hari sering kita jumpai anak balita dengan air liur yang menetes dari sudut bibir, terus menerus disertai mulut yang selalu terbuka, dapat diibaratkan seperti keran bocor. Anak seperti tidak peduli dengan pipi, dagu dan leher yang selalu basah. Kondisi seperti itu disebut drooling (ngeces).

Pada dasarnya kontrol terhadap ngeces terjadi bertahap sesuai dengan perkembangan anak. Kontrol ini berhubungan dengan posisi tubuh anak, kegiatan yang sedang dilakukan anak, kemampuan anak mengontrol gerakan mulut serta tingkat perkembangan gerak anak.

Jangan-jangan tumbuh gigi
Ngeces sering terjadi saat anak sedang mempelajari keterampilan gerak yang baru dan berlanjut sampai anak mencapai kemampuan melakukan gerakan secara otomatis. Sering terjadi pula selama, sebelum dan setelah tumbuh gigi baru.

Pada usia 1-3 bulan, anak jarang ngeces karena produksi air liur masih minimal. Saat usia 6 bulan, anak akan ngeces pada posisi berbaring, terlentang, tengkurap atau duduk. Demikian bila anak mulai bicara (babling), meraih, menunjuk atau tumbuh gigi. Usia 9 bulan, anak dapat duduk atau merangkak tanpa ngeces. Pada usia ini anak akan ngeces saat makan makanan tertentu.

Pada usia 15-18 bulan anak ngeces bila melakukan gerakan halus seperti makan sendiri. Sedangkan pada usia 2 tahun anak seharusnya tidak ngeces lagi sekalipun melakukan gerakan yang sudah trampil seperti menggambar, makan sendiri atau bermain.

Jika kita cermati penjelasan di atas, ngeces pada usia tertentu masih dianggap normal. Penjelasan di atas dapat dipergunakan oleh orangtua sebagai patokan untuk mengenali apakah ngeces masih dalam batas wajar.

Tidak normal, bila…
Ada berbagai kondisi yang menyebabkan ngeces tidak lagi sebagai suatu keadaan yang normal misalnya:

* Mulut terbuka terus sehingga anak sulit menelan. Kita dapat mencoba merasakan menelan air liur saat mulut terbuka, betapa sulitnya. Mulut yang terbuka terus kemungkinan berhubungan dengan infeksi saluran napas yang kronis atau hidung selalu mampet.
* Frekuensi tidak adekuat sehingga air liur menumpuk dan terjadilah ngeces. Pada dasarnya manusia normal akan menelan ludah 2 kali per menit saat sadar dan 1 kali per menit saat tidur.
* Adanya gangguan pada saraf cranialis yang bertanggung jawab terhadap proses menelan.Makan dari sendok butuh keterampilan tersendiri. Bisa jadi, Anda harus uji coba selama beberapa kali sampai bayi betul-betul terbiasa.

Pentingnya Variasi

Gangguan Jantung

sumber : http://cidera-otak.blog.friendster.com/2009/02/

Di Usia 7 Bulan, Anakku Mesti Operasi Jantung”

Putri keduaku lahir prematur. Dengan berat badan hanya kg ia harus menjalani operasi, karena klep jantungnya tidak menutup.

Setelah menikah selama lima tahun dengan Anni Haryani (34 tahun) warganegara Indonesia yang tinggal di Bandung, tak terperikan gembiranya aku, Abdul Rahim bin Ismail (50 tahun), tatkala anak yang aku tunggu-tunggu hadir di pangkuan kami.

Aku dan Anni telah berobat ke mana-mana, termasuk pada dokter terkenal yang berhasil membuat pasangan yang mendamba anak memperolehnya. Namun, pada kami tidak demikian. Aku khawatir. Usiaku tidak muda lagi (aku menikah di usia 43 tahun ) dan terus bertambah.

Istriku yang berbeda usia 16 tahun dengan aku, baru hamil setelah menjalani pengobatan alternatif. Anak pertama kami Syarifah Nuraini yang kami panggil Syasya (kini 6,5 tahun) lahir pada 18 Oktober 1997. Ia hampir saja lahir prematur delapan bulan, namun dapat ditahan hingga bisa lahir tepat waktu. Syukurlah, Syasya tak mengalami gangguan kesehatan.

Enam tahun kemudian, lahir anak kedua kami Syarifah Nur Aisah atau Aisah pada 22 Desember 2003. Cerita kelahiran Aisah tidak semulus kakaknya. Ia lahir ketika usia kandungan istriku baru 32 minggu.

Mencoba bertahan

Awal cerita ini bermula ketika di usia kandungan 32 minggu tiba-tiba Anni mengalami kontraksi dan mulas terus menerus. Awalnya cuma lima menit sekali, dan lalu berlanjut tiga menit sekali. Akhirnya, karena Anni tak tahan, kami pergi ke dokter kandungan langganan kami, dr. Sofie Sp.OG. Dokter meminta kami untuk segera ke rumah sakit.

Kami pergi ke Rumah Sakit Bersalin (RSB) Teja di Bandung, tempat Syasya dilahirkan. Suster segera melakukan pemeriksaan dan langsung mengontak dokter kandungan kami. Dokter meminta istriku untuk bertahan, karena usia kandungan belum cukup umur. Namun, bayiku sudah berada di posisi lahir. Pembukaan sudah delapan. Artinya, bayi sudah mau lahir.

Saat dokter datang ia minta izin padaku untuk segera melakukan tindakan. Aku langsung menyetujuinya. Yang penting, istri dan anakku selamat. Istriku pun melahirkan secara normal.

Berat badan bayi prematur kami hanya 1500 gram. Saat dilakukan pemeriksaan, dokter anak yang memeriksa, dr. Abdurrahman Sp.A, langsung melihat organ-organ anakku memang belum bekerja sempurna.

Pertama,

dokter mendeteksi paru-paru Aisah belum berkembang. Dadanya mendekuk ke dalam, dan waktu bernapas mengeluarkan bunyi. Dalam istilah kedokteran ini disebut Hyaline Membrane Disease . Selang lima menit, aku dipanggil dokter. Menurutnya, anakku harus segera dirawat di rumah sakit yang mempunyai peralatan lengkap.

Hanya selang sepuluh menit dari waktu dilahirkan, Aisah dilarikan ke Rumah Sakit (RS) Borromeus, Bandung, yang memiliki peralatan lebih lengkap. Antara lain, alat bantu pernapasan bayi. Istriku bahkan belum sempat bertemu Aisah.

Gangguan jantung

Di RS Borromeus, Aisah langsung dirawat di NICU ( Neonatus Intensive Care Unit ) dan dipantau terus. Ketika dilakukan echocardiography (perekaman posisi dan gerakan dinding jantung atau struktrur dalam jantung melalui gema yang diperoleh dari pancaran gelombang ultrasonik), ada gangguan pada jantungnya, sehingga badan Aisah membiru.

Dokter mengatakan ada gangguan pada aliran darahnya. Tetapi, karena RS Borromeus tidak punya ahli jantung, mereka merujuk Aisah ke Rumah Sakit Anak dan Bersalin (RSAB) Harapan Kita, Jakarta. Selain karena peralatan dokter anak dan jantung lumayan lengkap, di area RSAB itu ada pula rumah sakit khusus jantung.

Istriku gelisah bukan main mendengar apa yang dialami buah hati yang baru dilahirkannya. Apalagi, ketika itu aku, yang berkebangsaan Singapura, sedang berada di Singapura untuk mengurus surat izin tinggal di Indonesia bagi anak pertamaku, Syasya. Padahal, apa pun tindakan yang akan dilakukan pada Aisah harus menunggu izinku sebagai ayahnya.

Jangan ditanya perasaan aku dan istriku mengetahui anak kami mengalami gangguan jantung. Rasanya seperti buah tomat dilempar dari lantai sepuluh. Hancur hatiku! Rasanya aku mau menangis. Tapi, tak ada air mata yang keluar.

Setelah urusan di Singapura selesai, tanggal 8 Januari 2004, kembali ke Bandung. Keesokan harinya aku berkonsultasi dengan dokter anak, dan tanggal 10 Januari 2004, pukul 05.00, agar tak terjebak macet, anakku langsung dibawa dengan ambulans ke RSAB Harapan Kita, Jakarta.

Khawatir keracunan darah

Di RSAB Harapan Kita, aku langsung bertemu dokter spesialis jantung anak, dr. Poppy Sp.J. Anakku diperiksa lagi, dilakukan echocardiography lagi, dan dianalisa lagi.

Dokter menjelaskan bahwa jantung anakku mengalami kelainan. Menurutnya, anakku harus menjalani operasi pada jantungnya agar klep jantungnya menutup. Kalau tidak ditutup, dikhawatirkan Aisah akan mengalami keracunan darah.

Aku tak bisa membayangkan jantung darah dagingku harus diutak-atik. Bayangkan, jantung anak usia tujuh bulan sebesar apa? Jantung orang dewasa saja hanya sebesar genggaman tangan. Mungkin jantung Aisah hanya sebesar jantung ayam! Tapi, aku serahkan semua pada dokter yang menangani anakku.

Setelah lima hari di RSAB Harapan Kita, tanggal 15 Januari 2004 dilakukan operasi pada siang hari jam 13.00 selama dua jam. Operasi dilakukan oleh tim dokter ahli jantung RS Jantung Harapan Kita dengan tim dokter anak RSAB Harapan Kita.

Setelah operasi, keadaan anakku membaik, tapi tetap harus dipantau. Kira-kira seminggu kemudian, tanggal 25 Januari 2004, mulai terlihat perubahan. Aisah tampak lebih sehat.

Sampai saat ini (saat wawancara dilakukan tanggal 17 Februari 2004, Red. ) anakku masih dirawat di inkubator. Ia mulai mau minum banyak. Aisah diberi ASI dan susu formula, karena ASI istriku tidak begitu banyak.

Karena refleks mengisapnya belum ada, Aisah tidak minum langsung dari botol atau payudara ibunya. Susu diberikan menggunakan sendok. Kadang-kadang refleks menelannya pun belum baik. Aisah lupa kalau harus menelan. Tapi, perlahan-lahan, Aisah belajar minum dari botol walau refleks mengisapnya belum bagus (saat Ayahbunda bertemu Aisah, ia sudah pandai mengisap dari botol walau perlahan, Red. ).

Boleh pulang

Sudah dua bulan Aisah di inkubator. Walau masih dirawat di inkubator, ia tidak lagi menggunakan alat bantu napas (oksigen). Yang menggembirakan, di usia memasuki sembilan bulan, berat badan Aisah mencapai 2850 gram. Dalam dua bulan, berat badannya naik kurang-lebih 1400 gram (Tanggal 23 Februari 2004, kondisi Aisah membaik dan diperbolehkan pulang dengan berat badan mencapai 3100 gram. Fungsi jantung dan paru-parunya pun membaik, Red. ).

Aku mengucapkan terimakasih kepada semua tim dokter yang menangani anakku di RSAB Harapan Kita, baik tim dokter anak bagian perinatologi maupun tim dokter jantung anak dari RS Jantung Harapan Kita, juga dokter kebidanan dan dokter anak kami di Bandung, serta seluruh staf di RS Borromeus dan RS Teja, Bandung. Melalui merekalah Tuhan menganugerahkan kesehatan kepada Aisah, sehingga sampai hari ini dia tetap berada di tengah-tengah kami.

Laila Andaryani Hadis

dr. Rudy Firmansjah B.Rifai, SpA
Ketua Tim Perawatan dan Penanganan Aisah,
Bagian Perinatologi RSAB Harapan Kita, Jakarta

————>>>>>>>>>
Lahir Prematur Sebabkan Jantung Aisah Mengalami Gangguan

Apa yang terjadi pada Aisah adalah suatu kondisi yang disebut Patent Ductus Arteriosus ( PDA). PDA merupakan gangguan jantung yang terjadi bila ductus arteriosus atau DA (pembuluh darah janin sementara yang menghubungkan aorta – batang nadi – dan pembuluh darah paru) tidak menutup.

DA berada dalam kondisi terbuka waktu bayi masih di dalam rahim. DA ini berfungsi sebagai short cut yang mengalirkan darah ke seluruh tubuh. Ini karena ketika di dalam rahim janin mendapatkan oksigen dan nutrisi dari ibunya melalui plasenta dan tali pusat, bukan dari paru-paru.

Setelah lahir, saat paru-paru berkembang, DA secara otomatis menutup. Penutupan DA ini menjamin darah menuju paru-paru mengambil oksigen untuk dibawa ke seluruh tubuh. Penutupan DA biasanya terjadi saat bayi lahir dalam usia kandungan yang cukup, ketika terjadi perubahan hormon yang menyebabkan paru-paru tersebut terisi udara. Jika DA menutup secara sempurna, darah dipompa dari jantung menuju paru-paru, kembali ke jantung dan dialirkan ke seluruh tubuh melalui aorta.

Pada sebagian bayi, terutama bayi yang lahir prematur, karena paru-parunya belum berkembang , DA tetap terbuka atau tidak menutup secara sempurna. Keadaan ini menyebabkan aliran darah dalam jumlah berlebihan masuk ke paru-paru. Akibatnya, cepat atau lambat, paru-paru penuh darah dan akhirnya menyebabkan pembesaran bilik jantung kanan. Inilah yang terjadi pada Aisah. Ia lahir prematur pada usia kandungan 32 minggu, dan paru-parunya belum berkembang secara sempurna.

Kasus PDA pada bayi prematur, berkisar 60 – 70 persen, tapi tidak semua bergejala. Apa yang dilakukan pada Aisah adalah mengikat PDA sehingga DA -nya menutup dan akhirnya fungsi jantung dan paru-paru Aisah berfungsi normal.

Operasi dilakukan oleh dokter ahli jantung anak dari RS Jantung Harapan Kita. Sedangkan perawatan Aisah dipantau tim dokter anak perinatologi dari RSAB Harapan Kita. Tim dokter berjumlah 10 orang, terdiri dari tiga orang tim dokter bedah jantung anak dan tujuh orang tim dokter perinatologi. Operasi ini berhasil dan Aisah kembali ke orang tuanya.

Bila Napas Si Kecil Bermasalah

http://cidera-otak.blog.friendster.com/

By Dr. Darmawan BS, SpA(K) – Divisi pulmonologi , Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM,

Dok, napas anak saya bunyi dan kalau diraba seperti ada getaran, bahaya tidak dok, saya takut ada flek paru” Banyak orang tua yang khawatir bila anaknya mengalami keluhan ini, bila tidak diluruskan, orang tua seringkali shopping ke banyak dokter karena khawatir.

Chesty child adalah suatu istilah yang longgar untuk menggambarkan seorang bayi/anak yang tampaknya mudah sekali mengalami gejala di saluran napas, atau disebut chestiness. Gejala pernapasan ini berupa batuk, mengi (napas ngik-ngik), stridor, napas berbunyi (noisy breathing) atau ‘sekedar’ napas grok-grok. Fenomena ini cukup sering dijumpai dalam praktek sehari-hari, sayangnya kita tidak mempunyai padanan kata yang tepat. Karena ini merupakan istilah longgar dapat diterapkan dari neonatus dengan napas grok-grok hingga anak-anak yang mengalami keluhan batuk kronik berulang. Biasanya mulai bergejala sejak umur sangat muda hingga awal usia sekolah.

Perlu dikomunikasikan

Terkadang pada keadaan berat, orang tua melaporkan bahwa bila diraba dada si anak akan terasa getaran napasnya. Bila tidak ditangani dengan baik, orang tua akan terus khawatir dan berkeliling ‘shopping’ ke banyak dokter. Ada juga yang akhirnya dipenuhi kekhawatirannya oleh dokter dengan dinyatakan sebagai flek paru. Bila masih bayi, kemungkinan penyebab yang paling sering ditanyakan adalah “Apakah bukan karena waktu lahir petugas kurang bersih merawat jalan napasnya?” Jawaban praktisnya adalah “Bila memang kurang bersih waktu lahirnya, anak saat ini mestinya sudah ada di surga. Nyatanya si kecil masih di sini, jadi pasti bersih waktu petugas merawat jalan napasnya”.

Untuk itu kita perlu lebih cermat menangani kasus chesty child. Suatu survei tentang kepuasan pasien oleh dr. Steven Feldman baru-baru ini disimpulkan pasien akan puas bila dapat menjalani komunikasi dengan dokternya, serta dokter yang suportif dan care. Kuncinya komunikasi, memberi penjelasan pada orang tua pasien dengan bahasa awam apa yang dialami anaknya.

Selalu memproduksi lendir

Saluran napas setiap saat akan memproduksi sekret (lendir) yang bermanfaat untuk fungsi pernapasan itu sendiri. Sekret ini akan dibersihkan oleh sistem bersihan mukosilier di dinding saluran napas. Bila jumlah sekret sedikit, secara tak sadar akan tertelan, bila banyak, akan merangsang refleks batuk. Pada bayi muda, kemampuan bersihan ini belum optimal hingga sekretnya tak bisa dibersihkan sempurna. Itulah mengapa bayi kecil sering bernapas grok-grok. Tetapi semakin ia besar, meningkat pula kemampuan bersihan mukosilier hingga gejala diharapkan akan membaik seiring perjalanan waktu.

Cari penyebab

Bila gejala chestiness berat atau berlanjut, perlu dicari dan ditelusuri faktor lain yang berperan. Pajanan asap rokok merupakan satu hal yang wajib digali informasinya bila bertemu dengan pasien chesty child. Merokok pasif merupakan salah satu penyebab tersering terjadinya chestiness, dan dapat merupakan penyebab tunggal. Pajanan ini bukan hanya terjadi bila si perokok merokok dalam rumah. Merokok di teras, garasi, dan kamar mandi bisa menimbulkan polusi karena asap bisa menelusup ke mana pun. Penghindaran asap rokok ini saja biasanya sudah sangat mengurangi keluhan pasien, atau gejala chestiness hilang sama sekali.

Selain asap rokok, keluhan chestiness akan lebih menonjol bila ada riwayat alergi dalam keluarga. Perlu ditelusuri adanya alergi dalam keluarga ayah dan ibu pasien. Kalau perlu ditelusuri hingga buyutnya. Sebagian besar chesty child, yaitu sekitar separuhnya ternyata mengalami asma. Oleh karena itu, bila berjumpa dengan chesty child, perlu penggalian ke arah asma. Misalnya ada pola berulang, gejala memburuk malam hari, dan gejal amembaik dengan pemberian obat asma. Juga perlu ditanyakan adanya faktor pencetus baik lingkungan (debu rumah, bulu binatang, asap, dll), pencetus makanan (es, coklat, makanan bervetsin), atau tertular salesma (common cold), aktifitas fisis berlebihan, udara dingin, dan sebagainya.

Sebagian chesty child lain, gejala muncul sebagai manifestasi akut infeksi respiratorik akut (IRA) berulang karena virus (recurrent viral ARI) tanpa kelainan lain. Hingga saat ini belum jelas benar mengapa pada sebagian anak mudah megnalami chestiness ini. Tapi mengingat ditemukannya pola sama dalam keluarga, diduga faktor genetik ikut berperan. Anak ‘sehat’ megnalami beberapa kali episode IRA, normalnya tak lebih dari 6-8 kali pertahun dengan durasi kurang dari seminggu, umumnya 2-3 hari. Pada chesty child, episode batuk pilek lebih sering terjadi, bisa dengan atau tanpa demam. Pencetus chestiness tidak selalu karena IRA, tapi dapat karena berbagai hal lain, sperti polutan baik dalam rumah atau luar rumah. Durasi chestiness juga berlangsung lebih lama, lebih dari seminggu atau bahkan lebih dari dua minggu.

Pada sebagian kecil chesty child dapat ditemukan penyakit dasar yang lebih serius seperti refluks gastroesofagus (aliran balik cairan lambung ke esofagus), laringotrakeomalasia (kelemahan saluran tenggorokan dan trakea), gangguan menelan, bronkiektasis, dan lain-lain. Pada anak dengan gangguan saraf otot (neuromuskular), misalnya palsi serebral biasanya jug amengalami gejala chestiness. Pada pasien tersebut terjadi gangguan fungsi otot menelan dan atau otot yang berperan dalam proses batuk. Biasanya pasien juga mengalami gangguan fungsi bersihan mukosilier berlanjut. Sebagai hasilnya, pasien dengan gangguan neuromuskular juga menjadi chesty child dengan gejala makin berat bila ada faktor pendukung, misalnya IRA atau polutan dan alergen.

Waspadi berbagai kelainan

Tampak terlihat kalau chesty child mencakup anak dengan kelainan klinis pernapasan yang luas, termasuk batuk kronik berulang. Pendekatan klinis praktisnya adalah pertama mencari kemungkinan pajanan asap rokok sebagai penyebabnya. Langka kedua, digali kemungkinan ke arah asma. Biasanya sebagian besar sudah terjaring dalam dua hal tersebut. Bila tidak, lanjutkan penelusuran ke arah penyakit dasar lain yang lebih serius. Tidak lupa kemungkinan kelainan bawaan bila terjadi paa usia sangat muda. Perlu diingat pula kemungkinan kelainan neuormuskular sebagai faktor dasar terjadinya chestiness.