Kenali Gejala Kurang Gizi


sumber : http://www.jurnalbogor.com

Bogor – Bayi atau balita kurus mungkin sering diidentikkan sebagai gejala kurang makan. Padahal belum tentu begitu, karena bisa jadi anak tersebut mengalami permasalahan yang lebih besar yaitu malnutrisi. Malnutrisi itu sendiri terbagi menjadi tiga yaitu kurang gizi, baik itu ringan, sedang, atau parah. Terlalu banyak gizi atau overnutrition yang ditandai dengan kelebihan berat badan atau obesitas, serta kurang salah satu zat gizi, seperti zat besi, yodium, atau terlalu banyak mengkonsumsi vitamin.
Dokter Umum dari Klinik Tanah Sareal Bogor, dr. Bambang M. Raharja mengatakan, gejala malnutrisi datang secara perlahan bahkan mungkin tanpa disadari. Namun jika semua pihak memiliki kesadaran dan pengetahuan tentang pemberian nutrisi yang baik untuk kesehatan anak, maka kematian anak akibat malnutrisi dapat dicegah.
”Caranya dengan memperhatikan benar asupan seluruh zat gizi yang dibutuhkan oleh si anak seperti karbohidrat, lemak, protein, vitamin, serta mineral. Apabila ada salah satu jenis zat gizi saja berkurang, maka anak pun telah masuk kategori mengalami malnutrisi,” ujar Bambang kepada Jurnal Bogor, kemarin.
Setelah itu, lanjut Bambang, orangtua harus aktif memonitor pertumbuhan anak-anak mereka dengan membawanya ke pos pelayanan terpadu (posyandu) atau puskesmas untuk diketahui jika ada penurunan status gizi. Selain itu, ada baiknya juga melakukan pendidikan dan pelatihan terkait bagaimana memberikan makanan yang baik bagi bayi. ”Dalam hal ini pemerintah dan seluruh pihak terkait harus mau bekerjasama. Saat ini kan sudah banyak program pemerintah yang bertujuan meminimalis risiko terjadinya malnutrisi,” tegasnya.
Menurut Bambang, gejala dari malnutrisi ini berbeda-beda. Bagi anak-anak yang menderita marasmus atau penyakit kurang energi dan protein, maka pertumbuhannya akan terlambat, anak tampak kurus tinggal kulit pembalut tulang, terlihat tua, kulit keriput, serta perut cekung. Sedangkan kwashiokor, yaitu penyakit kekurangan protein dengan gejala utama pertumbuhan terlambat, tangan, kaki, wajah tampak bengkak, serta pandangan mata agak sayu.
”Tak hanya secara fisik, malnutrisi juga memiliki pengaruh besar pada menurunnya tingkat kecerdasan karena terjadi gangguan pada otak. Berbeda lagi bila anak dengan malnutrisi jenis terlalu banyak gizi, dapat mengganggu perkembangan saraf otak pernapasan, jantung, lambung, sampai bentuk tulang dan otot. Bahkan penyakit-penyakit yang rentan muncul ialah obesitas, jantung, dan diabetes,” katanya.
Setidaknya sebanyak 53 persen kematian anak di negara-negara berkembang disebabkan karena kurang gizi. Sedangkan untuk dunia, kurang gizi bertanggungjawab secara langsung atau pun tidak langsung untuk 60 persen dari 10.9 juta kematian pertahun pada anak-anak di bawah usia lima tahun. Dari angka kematian anak akibat kurang gizi di dunia, dua per tiga penyebabnya sering diasosiasikan dengan pola makan yang tidak tepat, yang biasa terjadi pada tahun pertama kehidupan anak.
Nasia Freemeta

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s