Awas Anemia Defisiensi Besi


Sumber : http://www.jawapos.com

SEMARANG – Waspadai bila perilaku anak sering terlihat mangantuk dan malas belajar. Sebab, bisa jadi perilaku ini merupakan ciri khas seorang anak yang mengalami defisiensi besi.

Dokter Indrayani Ps Msi Med SpPK, spesialis gizi dan laboratorium RS Telogorejo Semarang mengungkapkan hal itu. Menurutnya, survei kesehatan rumah tangga pada 2001 menunjukkan para penderita gangguan ADB (anemia defisiensi besi) sebagian besar adalah anak balita dan usia anak sekolah. “Persentasenya, sebesar 40,5 persen ada anak balita dan 47,3 persen lagi adalah usia anak sekolah,” terang Indrayani dalam seminar “Pengaruh Anemia Defisiensi Besi pada Tumbuh Kembang Anak” kemarin.

Dijelaskan, ADB sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang seorang anak. Dan usia pertumbuhan merupakan masa terpenting dalam kehidupan seseorang. Pada masa ini pembentukan beberapa bagian organ tubuh terjadi. “Yang jelas ADB bisa berpengaruh pada postur tubuh dan kecerdasan anak,” tuturnya.

Ditambahkan, ADB pada anak usia sekolah menyebabkan perkembangan otak dan otot anak menjadi tidak optimal. Sehingga gangguan itu bisa menurunkan kualitas sumber daya manusia (SDM).

Kekurangan zat besi ini biasanya sudah dimulai sejak dalam kandungan. Ibu hamil yang mengalami kekurangan zat besi, maka secara otomatis akan berdampak pada si anaknya.

“Hingga saat ini penyakit anemia defesiensi besi (ADB), khususnya pada anak, masih menjadi persoalan serius dan memberikan andil cukup besar atas rendahnya kualitas SDM,” papar Indrayani.

Dikatakan, zat besi sangat penting dalam peningkatan kualitas SDM. Sebab, zat besi memacu pertumbuhan sel, juga berfungsi sebagai profilerasi dan deferensi sel termasuk sel syaraf, otot dan tulang.

Indrayani mengungkapkan kekurangan zat besi dapat mengganggu perkembangan fungsi kognitif yang akan berpengaruh terhadap kecerdasan anak. Jika perkembangan otak terganggu maka kecerdasan anak tidak akan tumbuh optimal.

Ciri-ciri yang terlihat pada penderita ADB antara lain balita gemuk tapi empuk (ngglombyor). “Gemuk tapi tidak kencang ini sebagai akibat kurang zat besi yang berpengaruh pada pembentukan sel otot kurang,” ungkapnya.

Selain itu, daya tahan tubuh anak juga berkurang, jantung berdebar, perut sering kembung, mual, kulit dan selaput lendir pucat di kelopak mata, bibir, telapak tangan, lidah halus dan sering sariawan. Penyebab utama ADB adalah kurangnya masukan zat besi dari makanan atau minuman, kehilangan darah, cadangan besi di sumsum tulang habis karena infeksi cacing tambang.

ADB dapat diobati dengan pemenuhan gizi yang cukup pada makanan yaitu daging, hati dan ikan. Buah yang banyak mengandung vitamin C sehingga sangat bagus untuk penyerapan zat besi di usus. Lainnya, yaitu mengubah kebiasaan minum teh dengan susu tinggi kalsium, pengobatan untuk infeksi cacing dan mengkonsumsi suplemen zat besi.

Selain itu, ketika bayi lahir harus diberi ASI (air susu ibu) karena ASI merupakan sumber utama zat besi. Dan baru pada usia 4 bulan, anak dapat diberi suplemen zat besi. (eny/jpnn)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s