Cacar Air TAK CUMA MENYERANG SI KECIL


http://www.tabloidnova.com/articles.asp?id=12471

Penyakit “klasik” ini belakangan mewabah lagi. Bisa
menyerang siapa saja, tak peduli bayi maupun orang
dewasa. Bisa sembuh sendiri, tapi bisa butuh
penanganan khusus, terutama jika yang diserang adalah
bayi yang baru lahir.

Penyakit cacar air (varisela) bisasanya ditandai
dengan keluhan tubuh mendadak lemas, tak mau makan,
demam, dan gatal-gatal. Menurut dr. H.M. Vinci
Ghazali, MBA, MM. dari Kid’s World, Jakarta, penyebab
cacar aiar adalah virus varicella-zoster. Virus ini
ditularkan melalui percikan ludah penderita, atau
melalui benda-benda yang terkontaminasi oleh cairan
dari lepuhan kulit penderita.

Karena gejalanya seringkali tidak khas, khususnya pada
fase awal sebelum muncul kelainan kulit (prodormal),
banyak orang “terkecoh” dengan penyakit ini. Gejala
tubuh lemas, demam, malas makan, mirip dengan gejala
banyak penyakit lain seperti flu atau campak. “Baru
setelah muncul erupsi atau kelainan pada kulit, gejala
khas varisela mulai jelas,” kata dokter yang akrab
dipanggil Vinci ini menjelaskan.

Pada gejala berikutnya, varicela menimbulkan erupsi
(lesi/kerusakan) kulit. Lesi ini bentuknya mulai dari
gambaran yang tidak khas, yang diikuti dengan
melenting (vesicle). “Kalau sudah melenting, dalam
waktu rata-rata 24 jam, cairan di dalamnya mulai
keruh, lantas 24 jam berikutnya mulai timbul rasa
gatal.”

Jika vesicle ini digaruk, maka ia akan pecah dan
terbuka. Akibatnya, kulit tidak lagi mempunyai
perlindungan dan bisa kemasukan bakteri. Misalnya,
jika mandi dengan air yang tidak bersih. “Ini yang
disebut infeksi sekunder akibat bakteri,” tandas
Vinci. Kalau infeksi seperti ini terjadi, berarti
penyakit virus cacar air akan ditambah dengan penyakit
bakteri kulit. Penyembuhannya pun tidak lagi primer
dan biasanya akan mengakibatkan terbentuknya jaringan
ikat (scar) yang akan meninggalkan bekas. “Ini yang
mungkin dulu menyebabkan orang tua melarang anaknya
yang kena cacar air untuk mandi,” lanjut Vinci

TIGA MINGGU
Erupsi atau munculnya kelainan kulit merupakan fase
kedua gejala varisela. Begitu fase erupsi ini muncul,
bisa dipastikan anak terkena cacar air. Biasanya,
erupsi varisela dimulai dari sentrum, yaitu daerah
tengah badan (perut), baru kemudian melebar ke
samping. “Itu sebabnya, seringkali bagian perut dan
badan penderita mengalami erusi, tapi bagian mukanya
tidak. Jika pengobatan yang diberikan efektif dan
kekebalan penderita tinggi, bisa jadi cuma badannya
yang erupsi, lalu sembuh,” jelas Vinci.

Erupsi awal ditandai oleh semacam gambaran kemerahan
(eritema), yang lama-lama di atasnya akan terbentuk
vesicle. “Kalau diperhatikan, vesicle ini rata, tidak
ada lekukan di tengahnya (unumbilicated vesicle).
Kalau ada lekukan di tengah vesicle, biasanya bukan
cacar air,” tambah Vinci. Jadi, jika terlihat ada
vesicle, dan mulainya dari bagian tengah badan ke
samping, didahului oleh gejala lemas, demam disertai
napsu makan menurun, “Maka kita sudah harus memikirkan
kemungkinan anak terkena cacar air. Apalagi jika
sekitar 2 minggu sebelumnya ada kontak dengan
penderita cacar air.”

Penularan varisela sebetulnya sudah dimulai sebelum
terjadinya fase erupsi, yaitu pada masa inkubasi.
“Nah, 24 jam sebelum erupsi sudah menulari. Selama
itu, ia akan menulari terus. Jadi, jangan dianggap
kalau sudah sembuh tidak menularkan. Menurut
penelitian, sekitar 12 hari setelah sembuh, baru aman.
Tapi agar lebih aman, sebaiknya 3 minggu setelah
sembuh jangan melakukan kontak, supaya tidak tertular
atau menularkan,” kata Vinci.

WASPADA KOMPLIKASI
Cacar air kebanyakan memang menyerang anak-anak, tapi
bukan berarti bayi dan orang dewasa tak bisa kena.
Hampir sebagian besar orang dewasa di Indonesia pernah
terkena cacar air ketika mereka kecil. “Jadi, mereka
yang sekarang sudah menjadi ibu rata-rata sudah
memiliki kekebalan (antibodi) terhadap varisela, yang
dibentuk ketika mereka terkena varisela saat kecil.
Asumsinya, karena ibu-ibu di Indonesia saat ini sudah
memiliki antibodi, maka bayi-bayi yang dilahirkan pun
memiliki antibodi,” jelas Vinci.

Setelah lahir, bayi-bayi itu pun membawa antibodi
varisela pasif dari ibunya. “Tapi antibodi pasif ini
usianya pendek. Ketika anak berusia di atas setahun,
antibodi tadi akan menipis. Nah, pada saat menipis
inilah, anak mulai bisa tertular. Ini yang menyebabkan
seakan-akan yang kena cacar air hanya anak, bukan
bayi,” lanjut Vinci.

Seandainya para ibu tidak memiliki antibodi dan bayi
di dalam kandungan mereka tidak terlindungi oleh
antibodi varisela, maka bisa terjadi bayi lahir dengan
varisela (nenatal varicela), atau terkena varisela
pada saat berada di dalam rahim (congenital varicela).
Jika si ibu terkena cacar air sebulan sebelum
melahirkan, maka bayi akan mengalami lahir dengan
cacar air stadium ringan. Yang berbahaya adalah jika
si ibu terkena cacar air sekitar seminggu sebelum
melahirkan. “Bisa-bisa bayinya lahir dengan cacar air
berat, yang bisa berakibat fatal. Waktu yang hanya
seminggu itu tidak cukup bagi ibu untuk membentuk
antibodi, akibatnya janin tidak terlindungi ketika
lahir, karena ia belum bisa membuat antibodi sendiri.”

Cacar air pada bayi yang belum memiliki antibodi
sendiri bisa mengakibatkan beragam komplikasi, dari
cacat di sistem saraf, kelumpuhan, kelainan mata,
pneumonia, peradangan jantung, bahkan berakibat fatal
(kematian). Akibatnya, pengobatannya pun menjadi
serius, misalnya denan memberikan varicella-zoster
imunoglobulin. Kalau kejadiannya sampai lebih jauh
lagi, misalnya terjadi kecacatan, tentu pengobatannya
khusus.”

SEMBUH SENDIRI
Cacar air yang ringan pada anak biasanya akan sembuh
sendiri, sesuai daya tahan tubuh anak. Sementara untuk
pengobatan varisela disesuaikan dengan tahapnya. Jika
tahapnya di kulit, diobati dengan obat lokal (kulit).
“Kalau gatal-gatal, diberikan anti-gatal, kalau ada
infeksi sekunder, diberikan anti-bakteri, dan
sebagainya sesuai kebutuhan,” kata Vinci.

Pengobatan kedua adalah pengobatan sistemik. “Untuk
yang ringan, diberikan obat untuk menghilangkan
gejala. Kalau berat, misalnya ada demam, diberikan
obat demam. Kalau disertai komplikasi, tentu diobati
sesuai komplikasi yang muncul,” lanjutnya.

DILARANG MANDI?
“Tidak usah mandi kalau sedang terkena cacar air,”
begitu biasanya dulu orang tua kita mengingatkan.
Benarkah cacar air tak boleh terkena air? Yang jelas,
mandi akan membuat bagian-bagian vesicle (melenting)
yang sudah mati akan lepas. “Tapi dengan syarat,
mandinya dengan air bersih yang tidak mengandung
bakteri (tidak terkontaminasi oleh bakteri),” kata
Vinci. Jika air yang digunakan untuk mandi tidak
bersih, bisa-bisa malah menimbulkan infeksi sekunder.
“Begitu ada infeksi sekunder, berarti penyembuhannya
tidak primer, yang menyebabkan kemungkinan terjadinya
scar atau bekas lebih banyak.”

Bagaimana mencegah cacar air? “Yang pertama tentu
dengan menghindari kontak dengan penderita cacar air,”
jelas Vinci. Selain itu, anak usia 12-18 bulan
sebaiknya diberikan imunisasi varisela. “Sementara
vaksinasi pada orang dewasa diberikan terutama pada
mereka yang kekebalan atau daya tahan tubuhnya
rendah.”

Cacar Air dr medicastore
(Varisela, Chickenpox) adalah suatu infeksi virus
menular
yang menyebabkan ruam kulit berupa sekumpulan
bintik-bintik kecil
yang datar maupun menonjol, lepuhan berisi cairan
serta keropeng,
yang menimbulkan rasa gatal.

PENYEBAB
Penyebabnya adalah virus varicella-zoster.
Virus ini ditularkan melalui percikan ludah penderita
atau melalui
benda-benda yang terkontaminasi oleh cairan dari
lepuhan kulit.
Penderita bisa menularkan penyakitnya mulai dari
timbulnya gejala
sampai lepuhan yang terakhir telah mengering. Karena
itu, untuk
mencegah penularan, sebaiknya penderita diisolasi
(diasingkan).

Jika seseorang pernah menderita cacar air, maka dia
akan memiliki
kekebalan dan tidak akan menderita cacar air lagi.
Tetapi virusnya
bisa tetap tertidur di dalam tubuh manusia, lalu
kadang menjadi aktif
kembali dan menyebabkan herpes zoster.

GEJALA
Gejalanya mulai timbul dalam waktu 10-21 hari setelah
terinfeksi.
Pada anak-anak yang berusia diatas 10 tahun, gejala
awalnya berupa
sakit kepala, demam sedang dan rasa tidak enak badan.
Gejala tersebut
biasanya tidak ditemukan pada anak-anak yang lebih
muda, gejala pada
dewasa biasanya lebih berat.

24-36 jam setelah timbulnya gejala awal, muncul
bintik-bintik merah
datar (makula). Kemudian bintik tersebut menonjol
(papula), membentuk
lepuhan berisi cairan (vesikel) yang terasa gatal,
yang akhirnya akan
mengering. Proses ini memakan waktu selama 6-8 jam.
Selanjutnya akan
terbentuk bintik-bintik dan lepuhan yang baru.
Pada hari kelima, biasanya sudah tidak terbentuk lagi
lepuhan yang
baru, seluruh lepuhan akan mengering pada hari keenam
dan menghilang
dalam waktu kurang dari 20 hari.

Papula di wajah, lengan dan tungkai relatif lebih
sedikit; biasanya
banyak ditemukan pada batang tubuh bagian atas (dada,
punggung,
bahu). Bintik-bintik sering ditemukan di kulit kepala.

Papula di mulut cepat pecah dan membentuk luka terbuka
(ulkus), yang
seringkali menyebabkan gangguan menelan. Ulkus juga
bisa ditemukan di
kelopak mata, saluran pernafasan bagian atas, rektum
dan vagina.
Papula pada pita suara dan saluran pernafasan atas
kadang menyebabkan
gangguan pernafasan.

Bisa terjadi pembengkaan kelenjar getah bening di
leher bagian
samping.

Cacar air jarang menyebabkan pembentukan jaringan
parut, kalaupun
ada, hanya berupa lekukan kecil di sekitar mata.
Luka cacar air bisa terinfeksi akibat garukan dan
biasanya disebabkan
oleh stafilokokus.

KOMPLIKASI

Anak-anak biasanya sembuh dari cacar air tanpa
masalah. Tetapi pada
orang dewasa maupun penderita gangguan sistem
kekebalan, infeksi ini
bisa berat atau bahkan berakibat fatal.

Adapun komplikasi yang bisa ditemukan pada cacar air
adalah:
– Pneumonia karena virus
– Peradangan jantung
– Peradangan sendi
– Peradangan hati
– Infeksi bakteri (erisipelas, pioderma, impetigo
bulosa)
– Ensefalitis (infeksi otak).

DIAGNOSA
Diagnosis ditegakkan berdasarkan ruam kulit yang khas
(makula,
papula, vesikel dan keropeng).

PENGOBATAN
Untuk mengurangi rasa gatal dan mencegah penggarukan,
sebaiknya kulit
dikompres dingin. Bisa juga dioleskan losyen kalamin,
antihistamin
atau losyen lainnya yang mengandung mentol atau fenol

Untuk mengurangi resiko terjadinya infeksi bakteri,
sebaiknya:
– kulit dicuci sesering mungkin dengan air dan sabun
– menjaga kebersihan tangan
– kuku dipotong pendek
– pakaian tetap kering dan bersih.

Kadang diberikan obat untuk mengurangi gatal
(antihistamin).
Jika terjadi infeksi bakteri, diberikan antibiotik.
Jika kasusnya berat, bisa diberikan obat anti-virus
asiklovir.

Untuk menurunkan demam, sebaiknya gunakan
asetaminofen, jangan
aspirin.
Obat anti-virus boleh diberikan kepada anak yang
berusia lebih dari 2
tahun. Asiklovir biasanya diberikan kepada remaja,
karena pada remaja
penyakit ini lebih berat. Asikloir bisa mengurangi
beratnya penyakit
jika diberikan dalam wakatu 24 jam setelah munculnya
ruam yang
pertama.
Obat anti-virus lainnya adalah vidarabin.

PENCEGAHAN
Untuk mencegah cacar air diberikan suatu vaksin.
Kepada orang yang belum pernah mendapatkan vaksinasi
cacar air dan
memiliki resiko tinggi mengalami komplikasi (misalnya
penderita
gangguan sistem kekebalan), bisa diberikan
immunoglobulin zoster atau
immunoglobulin varicella-zoster.

Vaksin varisela biasanya diberikan kepada anak yang
berusia 12-18
bulan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s