Batuk Anak Belum Tentu TBC


sumber : milist asiforbaby

Batuk pada anak memang bikin kuatir, karena biasanya sangat mengganggu
anak (gak mau makan, gak bisa tidur). Oleh sebab itu, perlu sekali
para orangtua mempelajari batuk yang berbahaya dan tidak berbahaya
pada anak.

Bagaimana dengan TBC pada anak?

Nah, penegakan diagnosis TB pada anak dan dewasa memang beda.
Penegakan diagnosis TB pada dewasa menggunakan tes dahak (BTA),
sedangkan pada anak-anak lebih kompleks lagi, harus menggunakan sistem skoring.

Kenapa?
Karena pada anak-anak, gejala TB justru biasanya tidak disertai batuk
berkepanjangan.
Kuman TB pada anak biasanya tidak “berdiam” di paru-paru (walaupun
penularannya memang lewat sal. nafas), tapi di kelenjar getah bening.
Sehingga anak yang sakit TB seringkali tidak batuk.

Jika anak tinggal seatap dengan penderita TB dengan BTA positif, maka
memang harus diberikan profilaksis (pencegahan) berupa INH. Dengan
catatan, anak telah dipastikan tidak sakit TB dan tidak menunjukkan
gejala TB.

Di bawah aku copas-kan potongan artikel dari IDAI yang mudah2an bisa
memperjelas ya. Perlu aku tambahin, penting sekali untuk menegakkan diagnosis TB dengan hati-hati dan mengikuti panduan yang benar.
Soalnya pengobatan TB sangat berat dan lama, dan memiliki banyak efek
samping, misalnya kerusakan fungsi hati dan ginjal sampai ke
penglihatan.
Sayangnya, di Indonesia, diagnosis TB sering dilakukan dengan tidak
cermat, hanya berdasar pada hasil rontgen atau hasil tes mantoux saja,
atau malah dari BB yang pas-pasan dan gejala batuk berkepanjangan
saja. Padahal, batuk umumnya memang berlangsung sampai 1-2 minggu.

Disimak ya artikelnya… mudah-mudahan bermanfaat.
Semoga berkenan.

ditulis oleh
Sari Intan Kailaku
AIMI – Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia

======================================

Diagnosis Tuberkulosis (TB)
Diagnosis Tuberkulosis Pada Orang Dewasa.
Diagnosis TB paru pada orang dewasa dapat ditegakkan dengan ditemukannya BTA
pada pemeriksaan dahak secara mikroskopis. Hasil pemeriksaan dinyatakan
positif apabila sedikitnya dua dari tiga SPS BTA hasilnya positif.
Bila hanya 1 spesimen yang positif perlu diadakan pemeriksaan lebih lanjut
yaitu foto rontgen dada atau pemeriksaan spesimen SPS diulang.
Kalau hasil rontgen mendukung TB, maka penderita diidagnosis sebagai
penderita TB BTA positif.
Kalau hasil rontgen tidak mendukung TB, maka pemeriksaan lain, misalnya
biakan.
Apabila fasilitas memungkinkan, maka dapat dilakukan pemeriksaan lain,
misalnya biakan.
Bila tiga spesimen dahak negatif, diberikan antibiotik spektrum luas
(misalnya kotrimoksasol atau Amoksisilin) selama 1-2 minggu. Bila tidak
ada perubahan, namun gejala klinis tetap mencurigakan TB, ulangi pemeriksaan
dahak SPS :
Kalau hasil SPS positif, didiagnosis sebagai penderita TB BTA positif.
Kalau hasil SPS tetap negatif, lakukan pemriksaan foto rontgen dada, untuk
mendukung diagnosis TB.
– Bila hasil rontgen mendukung TB, diagnosis sebagai penderita TB BTA
negatif rontgen positif.
– Bila hasil ropntgen tidak mendukung TB, penderita tersebut bukan TB.
====================================================

Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkolosis.

(sumber : Pedoman Nasional TB Anak 2005, UKK Pulmonologi PP IDAI)

Pengobatan Pencegahan untuk Anak
“semua anak yg tinggal serumah atau kontak erat dengan penderita TBC BTA
positif beresiko lebih besar untuk terinfeksi. Infeksi pada anak ini dapat
berlanjut menjadi penyakit tuberkulosis sebagian menjadi penyakit yang lebih
serius yg dapat menimbulkan kematian.
Pada semua anak, terutama balita yg tinggal serumah atau kontak erat dengan
penderita TBC BTA Positif perlu dilakukan pemeriksaan :
1. Bila anak mempunyai gejala2 spt TBC harus dilakukan pemeriksaan lebih
lanjut sesuai dengan alur deteksi dini TBC anak.
2. Bila anak balita tidak mempunyai gejala seperti TBC, harus diberikan
pengobatan pencegahan dengan Isoniasid(INH) dengan dosis 5 mg per kg berat
badan per hari selama 6 bulan. Bila anak tersebut belum pernah mendapat
imunisasi BCG perlu diberi BCG setelah pengobatan pencegahan INH selesai.”

Diagnosa TB
pada anak yang paling logis, menurut kelompok kerja TBC anak (IDAI, DEPKES &
WHO 2004), adalah dengan sistem skoring. Orang tua bisa melakukan sendiri
dalam menghitung skornya, ada 8 parameter sebagai berikut :
1. Kontak dengan penderita TB (tidak jelas = 0 poin, hanya laporan keluarga
atau
kontak dengan penderita yg sudah berobat = 1 poin, kontak dengan penderita
TB
aktif = 3 poin)
2. Uji Tuberkolin/ Tes Mantoux (negatif = 0 poin, positif = 3)
3. Berat badan anak berdasarkan KMS (dibawah garis merah atau riwayat BB
turun
atau tidak naik 2bln berturut-turut = 1 poin, secara klinis gizi buruk = 2
poin)
4. Demam tanpa sebab jelas (tidak ada = 0 poin, lebih dari 2 minggu = 1
poin)
5. Batuk berkepanjangan ( 3 minggu = 1 poin)
6. Pembesaran kelenjar di sekitar leher (ukuran lebih dari 1 cm, jumlah
lebih
dari 1 buah, tidak nyeri saat di tekan = 1 poin)
7. Pembengkakan tulang/sendi panggul, lutut (bila ada pembengkakan = 1 poin)
8. Foto rontgen (normal = 0 poin, suspect/curiga = 1 poin)
Anak dikatakan positif TB bila skor dari ke-8 parameter di atas adalah
MINIMAL 6 POIN.

Gejala Umum (non spesifik) TB Anak :
– demam lama/berulang > 2minggu tanpa sebab yang jelas (singkirkan dulu
kemungkinan ISK, tifoid, malaria,dll), bisa disertai keringat di malam hari.
Umumnya demamnya tidak terlalu tinggi.
– anoreksia/nafsu makan menurun disertai gagal tumbuh, penurunan BB, atau BB
tidak naik sama sekali 2 bulan berturut-turut
– batuk lama > 3 minggu dengan menyingkirkan kemungkinan penyebab lain (kalo
batuk berulang kemungkinan asma, batuk flu juga bisa lama tergantung daya
tahan
tubuh)
– diare kronik/tidak sembuh-sembuh
(sumber : Pedoman Nasional TB Anak 2005, UKK Pulmonologi PP IDAI)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s