Batuk dan Pilek, Penyakit atau Gejala?


sumber : Harian Jurnal Bogor, PESAT II Bogor

Batuk disertai pilek sudah menjadi tamu rutin bagi anak-anak saat
cuaca sedang tak menentu. Pada umumnya, batuk dan pilek bukanlah suatu
hal yang membahayakan, namun seringkali membuat orangtua menjadi
panik. Guna meningkatkan pemahaman orangtua terhadap batuk dan pilek
pada anak, Yayasan Orang Tua Peduli (YOP) didukung oleh WHO (World
Health Organization) Indonesia dan Jurnal Bogor mengadakan PESAT
(Program Edukasi Kesehatan Anak Untuk Orang Tua) yang turut membahas
batuk dan pilek. Lantas bagaimana bahasannya? Berikut petikan
wawancara Nasia Freemeta Iskandar dari Jurnal Bogor dengan narasumber
YOP, dr. Farian Sakinah.

1. Banyak orangtua yang beranggapan bahwa batuk-pilek merupakan
penyakit, namun ada juga yang bilang kalau itu sebuah gejala. Jadi,
mana yang benar?

Batuk dan pilek sebetulnya bukanlah penyakit, melainkan gejala
sekaligus mekanisme pertahanan tubuh untuk membersihkan saluran napas.
Jadi orangtua tak perlu panik saat melihat anaknya batuk-pilek karena
itu menandakan saluran napasnya sedang dibersihkan dari benda asing,
termasuk kuman penyakit.

2. Lalu, darimana orangtua bisa membedakan batuk berbahaya dan tidak?

Berbahaya atau tidaknya bisa diperhatikan dari perjalanan batuk serta
kondisi-kondisi lain yang menyertainya. Hal ini jugalah yang
menentukan apakah anak membutuhkan penanganan serius atau cukup
perawatan di rumah saja. Walaupun kadang suara batuk terdengar
mengkhawatirkan, tetapi umumnya batuk bukan merupakan suatu tanda yang
berbahaya.

3. Namun orangtua mana yang tak khawatir bila melihat keadaan anaknya
lemas dan lesu?

Anak tampak lebih lesu ketika sedang sakit adalah hal yang wajar. Bila
anak masih terlihat beraktifitas itu menunjukkan bahwa kondisi anak
baik dan tidak membutuhkan penanganan yang serius. Kondisi yang perlu
dikhawatirkan adalah bila anak lemas sampai tidak bisa bangun sama
sekali, tidur yang sulit sekali dibangunkan, mengerang, dan tidak bisa
mengisap ASI (pada bayi kecil), atau tidak berespon dengan rangsangan
yang diberikan.

4. Lantas apa yang paling sering menyebabkan batuk-pilek pada anak?

Penyakit tersering yang menyebabkan batuk pilek disertai demam umumnya
common cold (selesma) atau influenza. Batuk dengan atau tanpa pilek
umumnya disebabkan oleh infeksi virus. Oleh karena itu, tidak
membutuhkan antibiotik. Batuk karena infeksi virus bisa berlangsung
hingga dua minggu. Batuk yang membutuhkan antibiotik hanya batuk yang
disebabkan oleh bakteri yaitu pertusis, atau batuk yang menyertai
pneumonia bakteri (setelah ada pemeriksaan kuman penyebab).

5. Apakah obat-obatan batuk dan pilek dapat membantu proses penyembuhan?

Obat tersebut mungkin dapat menghentikan batuk, tetapi tidak
menyembuhkan. Justru menghalangi proses pengeluaran benda asing,
termasuk kuman penyebab batuk. Efek samping antitusif (penekan batuk)
dapat menekan pernapasan, sehingga anak menjadi sulit bernapas.
Mukolitik (pengencer dahak) tidak terbukti efektif pada anak, justru
efek sampingnya berupa gangguan pada saluran cerna. Dekongestan mampu
mengurangi produksi sekret hidung (ingus) tapi memiliki efek samping
yang cukup hebat pada kerja jantung dan pembuluh darah. Antihistamin
seperti CTM, klorfenirmain, atau difenhidramin dapat membuat anak
mengantuk, sehingga sulit diobservasi. Selain itu, mengentalkan sekret
(dahak, atau ingus) akan mempersulit anak mengeluarkannya. Memang
batuk bisa membuat anak tidak tidur, tetapi tidak perlu sampai
memberikan obat batuk dan pilek.

6. Apa yang perlu dilakukan orangtua bila anaknya terkena gejala batuk-pilek?

Bila anak tidak dalam kondisi yang serius dan butuh penanganan lebih
lanjut, orangtua dapat memberikan perawatan di rumah saat anak
batuk-pilek berupa:

1. Pemberian cairan yang membantu meredakan batuk misalkan air
hangat dicampur dengan madu (ingat tidak untuk anak di bawah 1 tahun),
juga boleh dengan minuman hangat atau dingin lainnya yang disukai oleh
anak.

2. Lembabkan udara bisa dengan mengatur kelembaban pada AC di
rumah atau dengan menggunakan air mendidih yang ditampung dalam ember
dan diletakkan di dekat tempat tidur anak.

3. Jangan buat ruangan menjadi panas, karena dapat mengeringkan
udara dan meningkatkan batuk.

4. Untuk membantu serangan batuk, pangku anak, bungkukan sedikit,
dan tepuk tepuk atau usap usap punggung untuk melancarkan aliran
dahak.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s