Kesehatan ada di dapur bukan di restoran

sumber : Dr. Handrawan Nadesul

Lemak dan kolesterol dibutuhkan tubuh setiap hari. Seperti kolesterol, ada jenis kolesterol jahat ada juga jenis yang baik. Begitu juga dengan lemak. Kalau lemak takjenuh justru menyehatkan, lemak jenuh malah membahayakan kalau kita rakus mengkonsumsinya.

Rata-rata mulut orang modern sudah dirusak oleh enaknya menu berlemak. Porsi lemak dalam menu harian sering kebablasan melebihi takaran yang dibutuhkan tubuh. Porsi lemak jenuh hampir selalu lebih besar dari porsi lemak takjenuh. Itu maka nilai menu Polyunsaturated fat/Saturated fat (P/S) orang modern cenderung rendah atau sekitar 0,33 jika lemak takjenuh hanya 25% sedang lemak jenuhnya mencapai 75%.

Yang menyehatkan mestinya punya nilai ratio kebalikannya. Lemak tak jenuh (P) yang 75% dari total lemak yang dimakan, dan lemak jenuhnya (S) cukup 25% saja, sehingga ratio P/S yang terbilang tinggi harus di atas 3.0.

Akibat cenderung kelebihan porsi menu berlemak, tubuh menggendong kelebihan lemak. Lemak yang berlebih paling banyak disimpan pada organ ginjal, hati, dan jantung, selain di bawah kulit. Gajih di kulit ini yang membuat orang terlihat tambun. Fungsi gajih sebagai cadangan kalau sewaktu-waktu tubuh kekurangan makan, atau sedang berpuasa, untuk diubah menjadi tenaga.

Menu lemak porsi berlebih bukan cuma bikin badan tak sedap dipandang. Kadar lemak darah triglyceride (TG) ikut meninggi juga. Jika sudah begitu, umumnya kolesterolnya juga ikut tinggi pula.

TG tinggi sama buruknya dengan kolesterol tinggi. Sekutu keduanya membawa orang memikul risiko kena jantung koroner, stroke, dan semua jenis penyakit pembuluh darah. Karat lemak penyumpal pada pipa pembuluh darah akan lebih cepat terbentuk juga pada pembuluh darah bolamata, ginjal, dan hampir di semua bagian tubuh mana saja.

Repotnya budaya makan yang salah mengantarkan hidup jadi sesat. Anggapan gemuk itu makmur, membawa para ibu berpikir untuk memberi anak porsi makan kelewat berlebihan, sejak anak masih bayi mula. Jangan lupa, yang bikin lemak berlebih dalam tubuh bukan cuma menu berlemak belaka, melainkan karbohidrat juga. Makan nasi sebakul setiap hari bikin cadangan lemak tubuh tambah menumpuk juga.

Jika sejak kecil anak kelebihan porsi makan maupun menu lemaknya, sel-sel lemak tubuhnya bukan saja gemuk-gemuk, tapi juga beranak-pinak lebih banyak dari yang dimiliki anak normal. Itu sebab jika patron sel lemak tubuh sudah terbentuk begitu, tak mungkin bisa dikempiskan lagi. Itu berarti gemuk sedari kecil jadi malapetaka di usia tua. Maka di mana-mana negara maju sekarang mulai belajar dari kesalahan di masa lalu. Bahwa tidak gemuk itu sehat, dan gemuk berarti sedang menggali kubur sendiri.

Seperti kolesterol, lemak bukan harus dijadikan musuh. Serba sedikit dan secukupnya saja tubuh membutuhkan keduanya setiap hari. Selain buat transpor vitamin A,D,E, dan K, beberapa jenis lemak bersifat esensial, atau tidak boleh tidak ada dalam menu.

Salah satu lemak esensial dalam bentuk asam lemak linoleac dan linolenac, selain beberapa asam lemak esensial yang jika sampai kekurangan, tubuh jadi sakit. Eksem dan penyakit kulit bisa muncul jika menu harian kekurangan linoleac, sebab tubuh tidak bisa memproduksinya sendiri. Kolesterol sendiri dibutuhkan buat pembuat hormon.

Lemak jenuh berasal dari lemak hewani, sedang lemak takjenuh berasal dari bahan nabati. Tubuh butuh kedua-duanya, namun lemak takjenuh lebih berharga ketimbang lemak jenuh. Maka pilihan paling sehat memang tetap berpihak pada lemak takjenuh yang berasal dari tumbuh-tumbuhan, seperti minyak bunga matahari, minyak zaitun, minyak jagung, dan sejenisnya. Sedang minyak jenuh dari minyak kelapa, minyak hewan, secukupnya saja.

Kalau lemak jenuh bikin penyakit, lemak takjenuh justru menghapuskan penyakit. Maka sekarang banyak ditawarkan makanan sehat terbuat dari lemak takjenuh ganda termasuk khasiat minyak ikan dari laut dalam sebagai senjata anti terhadap lemak jahat TG maupun kolesterol jahat LDL (Low Density Lipoprotein).

Dalam sebuah bahan makanan bisa terkandung lemak maupun kolesterol sekaligus. Hanya minyak nabati murni yang berisi lemak belaka. Daging merah mengandung lemak selain kolesterol juga. Maka selain membatasi lemak jenuh dari daging merah (kambing, babi, sapi), perlu cenderung memilih daging putih dari pilihan daging kelinci, unggas, ikan, dan sejenisnya selain perlu memperbanyak jenis minyak nabati.

Tapi jangan lupa. Minyak takjenuh bisa berubah teroksidasi menjadi lemak jenuh jika dipanaskan, atau dipakai berulang. Maka tak sehat mengkonsumsi minyak jelantah, atau kebiasaan jajanan gorengan, yang tak jelas jenis minyaknya, apakah minyak bekas entah dari mana, dan sudah berapa kali dipakai ulang.

Kalau begitu berapa banyak tubuh membutuhkan lemak? Rata-rata kita membutuhkan sekitar 15 persen lemak sehari dari total kalori. Orang dewasa dengan kerja kantoran butuh sekitar 2.500 kalori sehari. Jadi kebutuhan lemaknya sekitar 375-450 kalori. Oleh karena 1 gram lemak setara dengan 9 kalori, maka kebutuhan lemak sehari sekitar 40-50 Gram saja.

Namun konsumsi lemak berbeda-beda antar lintas kultur, pola dan kebiasaan makan, maupun ras tertentu. Penduduk di hawa dingin seperti di Eskimo butuh lemak lebih banyak buat penghangat tubuh.

Tapi kultur Barat cenderung punya pola konsumsi lemak rata-rata sampai 35-35 persen dari total kalori sehari. Kultur itu yang membawa generasi mereka menyimpan ancaman penyakit jantung dan stroke. Tanpa sadar kita meniru kesalahan fatal budaya Barat, ketika setiap hari kita masih saja memilih burger, hotdog, fried chicken, dan fastfood yang semua orang tahu kalau itu jenis makanan ‘ampas’ junkfood sebab yang kebanyakan tertinggal berupa gula, garam, dan lemak, selain bumbu penyedap, pengawet, dan zat warna buatan, yang sudah hampa gizi dan kehilangan vitamin.

Sungguh mungkin kita lupa kalau kita punya pisang rebus, jagung bakar, pepes ikan, dan lalapan yang jauh lebih kaya gizi. Selain bukan tergolong menu pembawa maut yang bikin kita mati prematur, makanan lokal jauh lebih segar. Jadi sesungguhnya umur kita juga ditentukan oleh apa masakan di dapur dan seberapa bijak menu yang tersaji di meja makan ibu setiap hari.

ALERGI DAN STEVENS JOHNSON SYNDROME

sumber : http://tonang.blogsome.com/2005/06/23/alergi-dan-stevens-johnson-syndrome-sabtu-21-mei-2005/
Oleh : Hannah K Damar

Seorang anak sering sakit-sakitan, batuk pilek, kadang demam dan gatal-gatal pada tangan dan kaki yang hilang timbul. Hampir setiap minggu dia pergi ke dokter. Banyak dokter dia datangi. Namun penyakit anak ini tidak kunjung sembuh sampai akhirnya dia memutuskan berobat ke luar negeri. Ternyata di sana penyakit ini sembuh dengan sendirinya. Dia pun kembali ke tanah air. Akan tetapi, yang terjadi, anak ini kembali sakit. Akhirnya dia menyadari ada sesuatu yang tidak cocok, mungkin alergi sebagai penyebabnya. Setelah dilakukan tes ternyata debu yang berasal dari karpet dan sofa yang jarang dibersihkan yang menjadi penyebabnya. Setelah barang-barang tersebut dibersihkan dan dipindahkan, kini anak itu jarang sakit-sakitan lagi.

Contoh kasus di atas menunjukkan alergi terhadap sesuatu bisa menimbulkan penyakit yang berkepanjangan. Untungnya alergi seperti itu tidak berlebihan dan bisa diketahui sumbernya sehingga bisa dihindari. Namun ada pula alergi yang timbul secara berlebihan dan bermanifestasi sebagai keadaan yang berpotensi fatal yang dikenal dengan Stevens Johnson Syndrome (SJS).

Istilah Stevens Johnson Syndrome akhir-akhir ini memang kerap terdengar di meia massa. Meskipun nama penyakit ini sudah lama dikenal di kalangan medis, namun karena penderitanya jarang sehingga kurang diketahui masyarakat. SJS bisa terjadi karena adanya kompleks imun di dalam tubuh. Ketika terjadi ikatan anatar antigen dan antibodi yang disebut sebagai kompleks imun, kompleks imun tersebut menimbulkan reaksi pada tempat dia mengendap sehingga menimbulkan kerusakan jaringan. SJS ini secara khusus melibatkan kulit dan membran mukosa atau selaput lendir

Nama lain dari kerusakan proses imunologi ini adalah erythema multiforme atau kemerahan pada kulit dengan berbagai bentuk. Erythema ini terbagi atas dua, yaitu erythema minor dan mayor. Erythema Multiforme yang berat mayor itu dinamakan Stevens Johnson Syndrome yang namanya diberikan sesuai dengan penemunya, AM Stevens dan SC Johnson.

SJS sebetulnya merupakan reaksi hipersensitivitas. Gell and Combs membagi reaksi hipersensivitas menjadi empat kelompok. Pertama adalah reaksi anafilaksis, yaitu reaksi yang sangat cepat timbul dan sering fatal, biasanya reaksi ini diperantarai imunoglobulin E. Kelompok kedua adalah reaksi sitotoksik yang menyebabkan kematian dan kerusakan sel. Kelompok ketiga, yakni reaksi imun kompleks. Reaksi ini terjadi jika ada alergen dari luar, misalnya obat-obatan yang bereaksi dengan antibodi yang ada dalam tubuh. Kemudian antibodi dan alergen bersatu dan kompleks imunnya merusak oragan-organ tertentu. Adapun kelompok keempat, yaitu reaksi hipersensitivitas tipe lambat. Reaksi alergi ini tidak segera terjadi,tetapi justru berlangsung setelah beberapa hari atau minggu. Contoh yang dapat kita jumpai adalahpemakaian kosmetik yang baru menimbulkan alergi setelah beberapa kali pemakaian. SJS diduga merupakan bagian dari reaksi kelompok tiga atau empat. Selain itu, contoh yang paling jelas juga kalau kita membuat reaksi pada kulit dengan melakukan tes mantoux. Reaksiny baru bisa dibaca tiga hari kemudian.

Penyebab SJS itu sendiri bisa dikategorikan empat kelompok, yakni obat-obatan, infeksi, keganasan seperti kanker, serta penyebab yang tidak ditahui pasti atau idiopatik. SJS bisa disebabkan oleh obat-obatan seperti antibiotika golongan penisilin, cefalosforin, dan sulfa, obat-obatan anti nyeri seperti non steroid anti inflammatory drugs (NSAIDs), allopurinol untuk aam urat, phenytoin, karbamazepin, barbiturat untuk obat anti kejang dan epilepsi. Contoh penyebab infeksi adalah virus herpes simplex (HSV), AIDS, infeksi virus coxackie, influensa, hepatitis, mumps (gondongan), infeksi mycoplasma, lymphogranuloma venereum (LGV), infeksi ricketsia, dan variola. Infeksi bakteri misalnya, disebabkan oleh grup A betastreptokokus, diphteria, brucellosis, mycobacteriae, mycoplasma pneumonia, tularemia, dan typhoid.

Infeksi juga bisa disebabkan oleh jamur seperti coccidiodomycosis, dermatophytosis, dan histoplasmosis. Sementara infeksi parasit seperti pada penderita malaria dan trichomoniasis. Pada anak-anak, infeksi sering terjadi disebabkan leh virus Epstein Barr dan enterovirus.

Penyebab lainnya adalah kanker seperti karsinoma dan limfoma. Kita harus ingat, di satu sisi, yaitu sekitar 25 persen * 50 persen penderita SJS tak jelas penyebab pastinya. Untuk orang dewasa, SJS biasanya desebabkan kanker dan obat-obatan. Adapun pada anak lebih banyak karena infeksi.

Untuk pencegahannya adalah dengan cara menghindari alergen karena memang penyebab masalahnya adalah alergi. Nah, hal inilah yang sulit karena seringkali kita tak mengetahui alergi apa yang ada pada diri kita sendiri.

SJS biasanya mulai timbul dengan gejala-gejala seperti infeksi saluran pernapasan atas yang tidak spesifik., kadang-kadang 1-14 hari. Ada demam, susah menelan, menggigil, nyeri kepala, rasa lelah, seringkali juga muntah-muntah dan diare. Muncul kelainan kulit seperti koreng, melepuh, sampai bernanah, serta sulit makan dan minum. Bahkan juga mengenai saluran kencing menyebabkan nyeri.

Kelainan kulit bisa dimulai dengan bercak kemerahan tersebar hingga tumbuh lenting-lenting yang berair dan membesar hingga menimbulkan koreng, terutama pada selaput lendir seperti di hidung, mulut, mata, alat kelamin, dan lain-lain. Berat ringannya manifestasi klinis SJS bervariasi pada tiap individu bisa dari yang ringan sampai berat menimbulkan gangguanpernafasan dan infeksi berat sampai mematikan.

Selain SJS, ada pula bentuk alergi lain yang dikenal dengan Toxic Epidermal Necrolysis Syndrome (TENS). Bedanya, kalau pada SJS terutama terjadi antara selaput lendir dengan kulit seperti hidung, mata, mulut, serta alat-alat vital sampai anus, sedangkan TENS menyebabkan kulit melepuh, mengelupas seperti ketika kulit habis terbakar.

Penyakit SJS bisa mengenai semua umur dari anak-anak sampai orang tua, laki-laki dan perempuan, walaupun dilaporkan banyak wanita yang cenderung terkena SJS dibandingkan dengan laki-laki seperti ang diungkap dalam website SJS. Namun kecenderungan ini tidak menyebutkan diskriminasi rasial atau diskriminasi seksual.

Di Amerika kejadian dari kasus ini lebih banyak terjadi pada awal musim semi dan musim dingin. Namun, belum diketahui banyak, kenapa kasus ini muncul di awal kedua musim tersebut. Sementara itu, di Indonesia kasus ini muncul tidak mengenal musim. Angka kematian karena penyakit ini di seluruh dunia mencapai 3 persen-15 persen, terutama disebabkan oleh gagal napas dan infeksi yang berat.

SJS juga bisa mengenai mata dan menimbulkan kebutaan akibat adanya peradangan pada kornea atau selaput bening mata. Jika erjadi infeksi atau inflamasi pada seluruh bola mata disebut panophthalmitis. Kasus ini terjadi pada sekitar 3 persen-10 persen pasien. SJS bisa menyebabkan perlukaan pada alat kelamin hingga menjadi jaringanparut dan menyebabkan kesulitan berkemih.

Dalam praktk sehari-hari sebaiknya dokter dan pasien saling mengingatkan apakah ada alergi terhadap obat-obatan tertentu bisa akan diberikan obat-obatan. Pertanyaan singkat dari seorang dokter tentang apakah si pasien alegi terhadap sesuatu sangat penting untuk diprhatikan karena hal ini sangat menentukan obat-obatan yang bakal diberikan untuk mengurang sakit pasien. Misalnya, bila pasien alergi dengan antalgin, dokter pasti tidak akan memberikan obat yang mengandung antalgin.

Jika pasien tidak mengetahui jens obatnya, minimal memberitahukan ke dokter penyakit yang pernah diderita dan juga gejala yang pernah dirasakan setelah minum obat tertentu. Pasien jangan ragu mengatakan kepada dokter jika memang mengalami banyak alergi, misalnya sering bersin karena debu, suka gatal-gatal jika makan makanan tertentu. Hal ini sangat membantu dokter untuk berhati-hati memberikan obat terlebih lagi jika pasien menyadari adanya alergi dengan obat tertentu. Yang sulit adalah kalau pasien tidak pernah tahu ada riwayat alergi sebelumnya sehingga dokter sulit memprediksikan kemungkinan reaksi alergi. Reaksi seperti ini bisa saja terjadi. Biasanya dokter akan berhati-hati dengan melakukan tes kulit sebelum memberikan obat terutama suntikan antibiotika. Namun, cara ini juga masih mempunyai keterbatasan karena tidak semua obat bisa dilakukan tes kulit mengingat brat molekul obat tersebut.

Tes kulit yang negatif tidak berarti bahwa pasien pasti 100 persen tidak akan alergi terhadap obat tersebut, karena tes dilakukan dalam waktu singkat. Saat dilakukan tes kulit tidak ada gatal, tidak ada bentol sama sekaliataupun kemerahan, tetapi ketika obat tersebut disuntikkan bisa saja masih timbul reaksi. Tes kulit poitif menunjukkan pasien ini alergi sehingga dokter tidak akan memberikan obat tersebut karena akda kemungkinan besar akan timbul reaksi alergi.

Memang untuk menilai ada tidaknya alergi adalah dengan challenge test, artinya orang tersebut diberikan obat dahulu untuk mengetahui alergi atau tidak. Apabila timbul reaksi, berarti pasien tersebut mengalami alergi. Masalah kembai muncul ketika challenge test itu ternyata langsung menimbulkan reaksi yang berlebihan dan fatal. Dalam hal ini tes seperti ini tidak dilakukan.

SJS tidak hanya terjadi karena obat suntikan. Namun, bisa juga timbul karena obat yang diminum. Kasus demikian banyak terjadi dan cukup menyulitkan dokter dalam mengobati.

SJS ini bisa disembuhkan bila pasien cepat datang mencari pertolongan dan reaksi yang timbul tidak berat. Tingkat kematian juga tidak tergolong tinggi, mencapai 3 persen-15 persen, tetapi jika sudah terkena SJS bisa berpotensi mematikan.

(dr.Hannah K Damar, SPKK. Pengajar FK UPH dan Dokter Spesialis Penyakit Kulit dan Kelamin, Siloam Gleneagles Hospital Lippo Karawaci Siloam Healthcare group).

Q & A Flek paru

sumber : milist sehat

18/03/2005
Q : Siang Ibu Purnamawati
Sebelumnya saya makasih banyak atas balasan email saya pada tgl 14 Febuari 2005 mengenai penyakit anak saya Batuk dan selesma kurun waktu lama
Untuk ibu ketahui keadaan kota Pekanbaru saat ini sungguh sangat tidak baik. Kabut dan asap ada dimana mana…
Untuk ibu ketahui pd tgl 1 Febuari saya kembali ke dokter spesialis anak sekalian ronsen karen batuk dan selesma yang tidak sembuh juga. Hasil ronsen menunjukkan adanya flek di paru paru dan adanya kelenjer getah bening di belakang telinga anak saya. Dokter tersebut juga mengatakan keadaan seperti anak saya ini memang lagi banyak dia tangani saat saat sekarang ini.
Dokter memberikan obat yang harus di makan selama 6 bulan, nama obatnya RIMCURE dgn dosis pemakaian 1 kali sehari 1 1/4 tablet di makan pada pagi hari sebelum makan pagi. Pemberian dosis obat 1 1/4 ini kata dokter disesuaikan dengan berat badan anak saya lebih kurang 12 kg.
Yang ingin saya tanyakan sama ibu :Apakah yang dilakukan dokter spesialis tersebut udah benar bu..?Apakah ada efek samping terhadap anak saya dari pemakaian obat dalam jangka waktu 6 bln atau lebih (jika fleknya di parunya belum hilang)… Misalnya : dapat menimbulkan penyakit yang berbahaya.Apakah benar bu, obat tersebut tidak boleh lupa makan, karena sampe lupa makan pengobataanya harus kembali dari semula. Hal ini saya tanyakan mengingat anak saya sangat sulit sekali dikasi obat. Mungkin dia trauma karena keseringan makan obat.
Saya rasa cukup sampai disini dulu email saya bu, maaf ya bu karena email saya kepanjangan dan semoga ibu mau mebalasnya. Terima kasih bu…
Wassalam dari saya,Dewi – Pekanbaru

A : Dear DewiThanks atas emailmuSaya agak prihatin membaca emailmu ini … Pertama, kalau kondisi lingkungan Riau saat ini sedang buruk, maka dapat dimengerti bila anakmu batuk pilek jangka lama. Kedua, obat yang diberikan kepada anakmu adalah obat TBC yang umumnya efek sampingnya kuat sekali terutama terhadap hati …Di lain pihak, kita tidak bisa mendiagnosis TBC pada anak berdasarkan foto ronsen. Seharusnya ada prosedur pemeriksaan lainnya seperti test Mantoux, lab darah dan mengkaji pertumbuhannya misalnya BBnya cenderung turun, anaknya sering demam sumeng. Ketiga, saya usul kamu second opinion ke DSA lain karena saya pribadi tidak melihat ada bukti bahwa anakmu sakit TBC. Keempat, saya selalu menekankan dan mengingatkan pada para orang tua bahwa dalam dunia kedokteran tidak pernah diajarkan suatu penyakit bernama flek paru. Ditext book kedokteran pun tidak ada istilah iniPemakaian istilah flek paru sangat menyesatkan dan sangat membodohi konsumen… seharusnya dokter bisa lebih tegas… TBC atau bukan
Nah… yang dinyatakan flek paru dalam bahasa kedokteran maksudnya infiltrat… ada lendir di paru-paru anakmu dan itu tidak mengherankan .. mungkin ia alergi terhadap kondisi Riau saat ini sehingga produksi lendirnya meningkat .. karena produksi lendirnya meningkat maka ia harus batuk agar lendirnya terlontar keluar dari saluran nafas dan tertelan …. Ahhh kalau saya … tidak akan saya berikan obatnya… observasi anakmu dan second opinion ya
wati

TUBERKULOSIS

sumber : situs IDAI

Diagnosis Tuberkulosis (TB)
Diagnosis Tuberkulosis Pada Orang Dewasa. Diagnosis TB paru pada orang dewasa dapat ditegakkan dengan ditemukannya BTA pada pemeriksaan dahak secara mikroskopis. Hasil pemeriksaan dinyatakan positif apabila sedikitnya dua dari tiga SPS BTA hasilnya positif. Bila hanya 1 spesimen yang positif perlu diadakan pemeriksaan lebih lanjut yaitu foto rontgen dada atau pemeriksaan spesimen SPS diulang. Kalau hasil rontgen mendukung TB, maka penderita diidagnosis sebagai penderita TB BTA positif. Kalau hasil rontgen tidak mendukung TB, maka pemeriksaan lain, misalnya biakan. Apabila fasilitas memungkinkan, maka dapat dilakukan pemeriksaan lain, misalnya biakan. Bila tiga spesimen dahak negatif, diberikan antibiotik spektrum luas (misalnya kotrimoksasol atau Amoksisilin) selama 1 ? 2 minggu. Bila tidak ada perubahan, namun gejala klinis tetap mencurigakan TB, ulangi pemeriksaan
dahak SPS : Kalau hasil SPS positif, didiagnosis sebagai penderita TB BTA positif. Kalau hasil SPS tetap negatif, lakukan pemriksaan foto rontgen dada, untuk
mendukung diagnosis TB.
– Bila hasil rontgen mendukung TB, diagnosis sebagai penderita TB BTA
negatif rontgen positif.
– Bila hasil ropntgen tidak mendukung TB, penderita tersebut bukan TB.
====================================================

Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkolosis.

(sumber : Pedoman Nasional TB Anak 2005, UKK Pulmonologi PP IDAI)

Pengobatan PEncegahan untuk Anak “semua anak yg tinggal serumah atau kontak erat dengan penderita TBC BTA positif beresiko lebih besar untuk terinfeksi. Infeksi pada anak ini dapat berlanjut menjadi penyakit tuberkulosis sebagian menjadi penyakit yang lebih serius yg dapat menimbulkan kematian.
Pada semua anak, terutama balita yg tinggal serumah atau kontak erat dengan penderita TBC BTA POsitif perlu dilakukan pemeriksaan :
1. Bila anak mempunyai gejala2 spt TBC harus dilakukan pemeriksaan lebih
lanjut sesuai dengan alur deteksi dini TBC anak.
2. Bila anak balita tidak mempunyai gejala seperti TBC, harus diberikan
pengobatan pencegahan dengan Isoniasid(INH) dengan dosis 5 mg per kg berat
badan per hari selama 6 bulan. Bila anak tersebut belum pernah mendapat
imunisasi BCG perlu diberi BCG setelah pengobatan pencegahan INH selesai.”

Diagnosa TB
pada anak yang paling logis, menurut kelompok kerja TBC anak (IDAI, DEPKES &
WHO 2004), adalah dengan sistem skoring. Orang tua bisa melakukan sendiri kok dalam
menghitung skornya, ada 8 parameter sebagai berikut :
1. Kontak dengan penderita TB (tidak jelas = 0 poin, hanya laporan keluarga atau kontak dengan penderita yg sudah berobat = 1 poin, kontak dengan penderita TB aktif = 3 poin)
2. Uji Tuberkolin/ Tes Mantoux (negatif = 0 poin, positif = 3)
3. Berat badan anak berdasarkan KMS (dibawah garis merah atau riwayat BB turun atau tidak naik 2bln berturut-turut = 1 poin, secara klinis gizi buruk = 2
poin)
4. Demam tanpa sebab jelas (tidak ada = 0 poin, lebih dari 2 minggu = 1 poin)
5. Batuk berkepanjangan ( 3 minggu = 1 poin)
6. Pembesaran kelenjar di sekitar leher (ukuran lebih dari 1 cm, jumlah lebih dari 1 buah, tidak nyeri saat di tekan = 1 poin)
7. Pembengkakan tulang/sendi panggul, lutut (bila ada pembengkakan = 1 poin)
8. Foto rontgen (normal = 0 poin, suspect/curiga = 1 poin)
Anak dikatakan positif TB bila skor dari ke-8 parameter di atas adalah MINIMAL 6 POIN.

Gejala Umum (non spesifik) TB Anak :
– demam lama/berulang > 2minggu tanpa sebab yang jelas (singkirkan dulu
kemungkinan ISK, tifoid, malaria,dll), bisa disertai keringat di malam hari.
Umumnya demamnya tidak terlalu tinggi.
– anoreksia/nafsu makan menurun disertai gagal tumbuh, penurunan BB, atau BB
tidak naik sama sekali 2 bulan berturut-turut
– batuk lama > 3 minggu dengan menyingkirkan kemungkinan penyebab lain (kalo
batuk berulang kemungkinan asma, batuk flu juga bisa lama tergantung daya
tahan
tubuh)
– diare kronik/tidak sembuh-sembuh
(sumber : Pedoman Nasional TB Anak 2005, UKK Pulmonologi PP IDAI)

Mendiagnosa TBC Pada Anak

sumber : http://arifianto.blogspot.com/2006/03/bagaimana-dokter-membodohi-pasien.html

Cukup sukar mendiagnosis TB pada Anak, dibandingkan dengan pada dewasa. Dengan ilmu kedokteran yang terus berkembang, dokter dan dokter spesialis anak yang tidak memperbaharui ilmunya, seringkali menggunakan perangkat yang tidak tepat dalam mendiagnosis TB pada Anak. Berlandaskan pada keluhan tidak spesifik (batuk lama, padahal seringkali batuk akibat alergi, bukan infeksi, berat badan sukar naik, dan demam hilang-timbul), ditambah gambaran Rontgen penuh ‘flek’ (sukar membedakan gambarannya dengan batuk-pilek biasa), langsung saja dokter mendiagnosis TB dan mengobatinya. Padahal obat TB Anak yang terdiri atas tiga kombinasi obat berbeda mempunyai efek samping, dan harus dimetabolisme di hati dan ginjal. Jika penggunaannya tidak tepat, bisa menimbulkan efek samping yang lebih buruk dibandingkan keuntungannya minum obat.

Setidaknya dokter di Indonesia bisa menggunakan panduan berikut yang mudah diakses di situs GERDUNAS TBC (Gerakan Terpadu Penanggulangan TBC Nasional) mengenai alur deteksi dini dan rujukan TB pada Anak.

Hal-hal yang mencurigakan TBC :

1. Mempunyai sejarah kontak erat dengan penderita TBC yang BTA positif
2. Terdapat reaksi kemerahan lebih cepat (dalam 3-7 hari) setelah imunisasi dengan BCG.
3. Berat badan turun tanpa sebab jelas atau tidak naik dalam 1 bulan meskipun sudah dengan penanganan gizi yang baik (failure to thrive).
4. Sakit dan demam lama atau berulang, tanpa sebab yang jelas.
5. Batuk-batuk lebih dari 3 minggu.
6. Pembesaran kelenjar limfe superfisialis yang spesifik.
7. Skrofuloderma.
8. Konjungtivitis fliktenularis.
9. Tes tuberkulin yang positif (>10 mm).
10. Gambaran foto rontgen sugestif TBC.

Dengan setidaknya tiga dari gejala di atas, seorang anak boleh memulai terapi obatnya.

΄Flek Paru΄ Istilah yang Rancu
Informasi Singkat Tentang Tuberkulosis (TB) Anak

Penulis: Darmawan Budi S

Banyak sekali anak-anak yang divonis sebagai ΄flek paru΄ dan harus menjalani ΄hukuman΄ minum obat jangka lama, paling tidak hingga 6 bulan. Jika ditanyakan kepada orangtuanya apa yang dimaksud flek paru ? Biasanya orang tua pasien tidak tahu, Bila ditanya lebih lanjut apakah anaknya mendapat obat yang membuat air seninya berwarna merah ? Jika jawabnya “Ya” kemungkinan besar yang dimaksudkan sebagal ΄flek paru΄ adalah Tuberkulosis / Tbc paru atau saat ini disebut TB saja.

Apakah semua gambaran “flek” pada paru berarti TB ?
Tidak !!! Semua penyakit di paru (dan itu banyak sekali jenisnya) dapat memberi gambaran ΄flek΄ yang tidak dapat dibedakan dengan TB. Bahkan orang sehatpun pada Rontgen parunya akan ada gambaran bercak-bercak putih yang istilah medisnya infiltrat. Sebagai contoh Mike Tyson jika dironsen juga ada ΄flek΄nya, tapi dia sama sekali tidak Sakit TB. Jadi tidak bisa mendiagnosis Sakit TB hanya dari Rontgen saja !

Gambaran Rontgen seperti apa yang menunjukkan adanya TB paru ?
TB paru dapat memberikan gambaran infiltrat yang lebih khusus pada foto Rontgen, istilahnya gambaran yang sugestif TB. Misalnya gambaran miller (bercak kecil putih merata di seluruh paru), atau gambaran atelektasis (gambaran putih padat akibat pengerutan sebagian paru), dll. Sekalipun gambarannya sugestif TB, foto Rontgen saja tidak bisa dijadikan dasar tunggal diagnosis TB, tetap harus disertai gejala dan tanda sakit TB, dan pemeriksaan penunjang lain.

Jadi diperlukan pemeriksaan lain, apakah itu ?
Ya, pertama-tama jika seorang anak dicurigai Sakit TB harus dibuktikan dulu adanya Infeksi TB (adanya kuman TB dalam tubuh seseorang). Caranya dengan uji tuberkulin atau yang lazim dikenal sebagai Mantoux test. Jika hasilnya negatif berarti tidak ada infeksi, dan bila infeksinya saja tidak ada bagaimana mungkin bisa sakit TB.

Jika hasil uji Mantoux positif apakah berarti sakit TB ?
Belum tentu. Hasil uji Mantoux positif hanya menunjukkan adanya Infeksi TB, bukan menandakan pasiennya Sakit TB. Jadi harus dibedakan antara Infeksi TB dengan Sakit TB. Orang dewasa di Indonesia umumnya sudah terinfeksi TB tanpa sakit TB, sehingga jika dilakukan uji Mantoux pada orang dewasa di Indonesia maka umumnya akan positif.

Ada yang mengatakan uji Mantoux bisa negatif padahal ada Sakit TB, apa benar ?
Benar. Uji Mantoux dapat memberikan hasil negatif palsu yang disebut anergi. Anergi dapat dijumpai pada keadaan tertentu misalnya gizi buruk, Sakit TB yang berat, tifus yang berat, campak, cacar air, menggunakan obat steroid jangka lama, dan berbagai keadaan lain yang menyebabkan penekanan sistem imun (kekebalan) tubuh, Jika tidak ada salah satu keadaan tersebut sangat kecil kemungkinannya terjadi anergi.

Bagaimana dengan pemeriksaan darah ?
Biasanya pemeriksaan darah yang dimaksudkan untuk TB adalah LED (laju endap darah) dan hitung jenis limfosit, Kedua pemeriksaan ini nilai diagnostiknya untuk TB rendah, jauh lebih rendah dibanding foto Rontgen, sehingga hanya digunakan sebagai data tambahan.

Adakah pemeriksaan darah lain untuk TB ?
Ada, yaitu pemeriksaan PCR dan serologis, seperti PAP TB, Mycodot, ICT dll. Namun semua pemeriksaan itu tidak lebih unggul daripada uji Mantoux, Semua pemeriksaan itu jika positif juga hanya menunjukkan adanya Infeksi TB, tidak bisa untuk menentukan ada tidaknya Sakit TB.

Lalu apa bedanya Sakit TB dengan Infeksi TB ?
Jika orang (dewasa atau anak) mengalami Sakit TB akan menunjukkan gejala dan tanda Sakit TB. Sedangkan jika hanya terinfeksi TB tanpa sakit TB tidak akan ada gejala dan tanda sakit TB.

Apa gejala dan sakit TB pada anak ?
Gejala dan tanda Sakit TB pada anak sangat luas variasinya, mulal dari yang sangat ringan sampai sangat berat. Gejala dan tanda yang mengawali kecurigaan Sakit TB pada anak di antaranya adalah MMBB (Masalah Makan dan Berat Badan), demam lama atau berulang, gampang / sering tertular sakit batuk pilek, adanya benjolan yang banyak di leher, diare yang sulit sembuh dll. TB juga dapat menyerang berbagai organ di seluruh tubuh sehingga bisa timbul gejala pincang jika mengenai sendi panggul atau lutut, benjolan banyak di leher, bisa juga terjadi kejang jika mengenai susunan saraf pusat / otak.

Apakah batuk lama atau berulang juga merupakan gejala Sakit TB ?
Batuk lama atau berulang merupakan salah satu gejala utama Sakit TB pada orang dewasa. Pada anak batuk lama / berulang dapat merupakan gejala Sakit TB, tapi bukan gejala utama. Pada anak ada penyakit lain yang gejala utamanya batuk lama / berulang yaitu asma. Banyak kasus asma pada anak yang keliru divonis TB. Asma dengan TB merupakan dua penyakit yang sama sekali berbeda namun sering dikelirukan.

Apakah jika ada tersebut berarti sakit TB ?
Belum tentu. Berbagai gejala tadi bukan ΄monopoli΄ Sakit TB, tapi dapat juga disebabkan oleh berbagai penyakit lain. Itulah sebabnya uji Mantoux sangat penting untuk menentukan dulu apakah ada Infeksi TB atau tidak, Jika tidak ada Infeksi TB, berarti berbagai gejala tadi disebabkan oleh penyakit lain.

Sebenarnya apa penyebab TB, apakah penyakit keturunan atau penyakit menular ?
TB bukan penyakit keturunan, tapi penyakit menular. TB menupakan salah satu bentuk penyakit infeksi. Penyakit infeksi adalah penyakit yang disebabkan masuk dan berkembangbiaknya kuman dalam tubuh seseorang. Kuman adalah makhluk hidup yang sangat kecil sekali (mikro onganisme = mikroba = jasad renik) yang hanya dapat dilihat dengan mikroskop. Ada jutaan jenis kuman salah satu di antaranya adalah kuman TB.

Bagaimana cara penularannya ?
Ada beberapa cara penularan, tapi yang paling sering adalah melalui saluran respiratonik (pernapasan). Pasien TB dewasa dengan TB paru, jika batuk, bersin, menyanyi, atau bicara akan menghembuskan ribuan kuman TB ke udara di sekitarnya. Bila kuman ini terhirup oleh orang lain, maka orang tersebut dapat terinfeksi.

Apakah jika kita berhubungan dengan pasien TB paru dewasa, pasti akan tertular ?
Belum pasti tertular. Banyak faktor yang berperan untuk terjadinya infeksi TB. Faktor sumber penularan, lingkungan, dan faktor daya tahan tubuh. Tingkat eratnya hubungan (kontak) juga sangat berperan. Makin erat kontak (dose contact) dan makin lama, makin besar risiko tertular.

Apakah anak yang sakit TB menular dan perlu dipisahkan dari orang lain ?
Tidak ! Yang menular adalah pasien TB paru dewasa, pasien TB paru anak tidak menular sehingga tidak perlu dipisahkan apalagi dikucilkan. Yang perlu diingat, jika seorang anak terinfeksi TB, berarti ada orang dewasa sebagai sumber penularannya yang perlu dicari dan kemudian diobati agar tidak menulari orang lain lagi.