Komunikasi, Stimulus Utama Perkembangan Anak


sumber : tulisan Ibu Maria Julia Van Tiel di Milist Sehat.

Bu Maria, ijin saya copas di sini ya. supaya ga ketilisut tulisan ibu yang berguna ini…

Dalam area ilmu masalah gangguan bicara dan bahasa, ada yang disebut: komunikasi, bicara, dan bahasa.

Ini kudongengkan maksudnya supaya kita bisa lebih pas jika melakukan stimulus.

Komunikasi merupakan upaya hubungan sosial yang dilandasi dengan
emosi. Artinya disini dibutuhkan adanya social relationship antara
ibu anak. Pada bayi normal, perkembangan ini sudah dimulai sejak ia berusia beberapa minggu, yaitu ia bisa membalas senyum ibunya. Semuanya berjalan secara alamiah dan intuitif.

Dari senyum berbalas senyum, dari pandang berbalas pandang si bayi akan menirukan bunyi-bunyian yang dikeluarkan oleh orang-orang sekitarnya.

Sekalipun si bayi cuma teriak teriak: “eyauw…eyauw…eyauw…”
Ibunya akan membalas: “Iya…sabar nak…. mama sedang cuci
tangan..bentar ya… sudah lapar ya? Aduh bayiku sudah pinter minta nenen….!”
“Eyauw…eyaauw….” si bayi masih teriak teriak.
Saat si ibu mulai dekat dan mulai mengangkatnya, ia mulai diam, dan mulai mengeluarkan suara-suara bayinya, nafas yang tersengal sengal saking nafsunya mau nenen…

Itu adalah bentuk komunikasi yang paling dasar dari anak-ibu. Karena
itu penting artinya hubungan emosi ini untuk melandasi hubungan
sosial. Karena bentuk hubungan timbal balik ini akan akan terus
berlangsung sampai si anak bisa bicara.

Saat anak jalan-jalan bersama ibunya – JJS, jalan sore-sore…
Ketemu Tante Iyut yang langsung menyapa: “Aduh… si Gozan ini sudah bisa senyum-senyum ya…. mau kemana sih, kok pakai bajunya keren banget?” “Mau ke mol…jalan jalan ya…” Dijawab sendiri oleh si Tante Iyut. Si Baby cuma bisa nyengir nyengir matanya berbinar-binar.

Sekalipun si baby belum menjawab, tetapi naluri manusia berbahasa dan bicara tetap berlangsung demikian, sampai suatu saat si baby menyimpan daftar kosa kata pasif. Daftar ini jika sudah mencukupi akan keluar sebagai kosa kata aktif.

Kapan keluarnya? Nah bisa ngoprek sendiri kapan keluarnya.

Dengan munculnya kosa kata aktif, kita tetap terus memberi suplai
sajian bahasa yang konsisten (suara pengucapan, arti, penggunaaan dst) sampai si anak mempunyai daftar kosa kata pasif yang banyak dan cukup untuk membuat kalimat. Karena dalam kosa kata pasifnya sudah banyak berisi dengan kata-kata sandang, kata kerja, kata sambung dan seterusnya.

Jadi disini pentingnya konsistensi sajian bahasa agar si anak
memiliki daftar kosa kata yang tidak membingungkan. Misalnya dengan sajian multibahasa yang justru dapat menyebabkan kacaunya penggunaan bahasa.

Bahasa, perlu didukung dengan kemampuan penggunaan kata secara tepat, penggunaan gramatika secara tepat, dan pemahaman kalimat secara tepat. Jadi ajarkanlah kata-kata yang benar. Kadang ada anak yang dikacau-kacaukan – misalnya. Coca cola dimain-mainkan jadi tjotjai-bola…. Atau soft drink jadi banyu gas, ….poep ..jadi pupita…eala..

Bicara dipengaruhi oleh otot-otot mulut,dan pernafasan. Karena itu
mengajarkan anak anak bicara, kita jangan ikut-ikutan cadel, misal:
aduh cayang… cacut jatuh ya dali tempat tidul? ayo..ayo cini..mamam dulu….

Jika anak terlambat bicara.
Perlu diketahui terlambat bicaranya memang primer karena
perkembangannya atau karena masalah utamanya di tempat lain, sehingga keterlambatan bicaranya merupakan masalah sekunder. Masalah primernya justru misalnya kurang pendengaran, gangguan pemrosesan informasi (gangguannya di otak), autisme, gangguan motorik dan pernafasan, sumbing, gangguan kognitif.
Semuanya membutuhkan cara yang berbeda dalam pendekatannya.

Maria Julia Van Tiel

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s