Perlekatan, Kunci Sukses Menyusui


Sumber: Mother And Baby Sun, 07 Oct 2007 09:00:00 WIB

Bagi ibu yang sedang menyusui, selain ketenangan psikis, perlekatan juga salah satu kunci keberhasilan pemberian ASI atau menyusui. Perlekatan yang baik kala menyusui akan menghindari masalah pada payudara. Ingat, saat menyusui lidah bayi bergerak bergelombang (memeras) dan mendorong ASI dari gudang ASI ke dalam mulut.

Perlekatan yang baik adalah dagu bayi menempel pada payudara Ibu. Mulut bayi terbuka lebar, bibir bawah bayi berputar ke bawah, dan sebagian besar daerah areola payudara masuk ke mulut bayi. Dengan cara itu, maka kelenjar-kelenjar susu akan bekerja sempurna mengalirkan ASI.

Bila bayi menyusu hanya mengisap bagian puting maka terjadi perlekatan yang salah. Isapan seperti itu tentu saja tidak memaksimalkan keluarnya ASI atau ASI keluar tidak lancar. Selain itu, karena perlekatan yang salah bisa memunculkan masalah di sekitar

payudara terutama di daerah puting, seperti nyeri dan lecet.

Sebenarnya, ada beberapa penyebab dari perlekatan yang buruk seperti faktor Ibu yang belum berpengalaman. Penyebab kurang pengalaman dari Ibu bisa saja karena baru memiliki satu anak atau bayi sudah terkena susu botol. Faktor lainnya bisa juga karena fungsi tidak sempurna, misalnya bayi terlalu kecil, payudara kaku, payudara penuh, dan mulai pemberian Asi pada bayi terlambat. Perlekatan tidak berhasil bisa jadi karena petugas kesehatan yang tidak terlatih. Faktor pemakaian botol saat menyusui bayi juga menjadi penyebab perlekatan buruk. Artinya, bayi sebelum dikenalkan ASI sudah diperkenalkan terlebih dahulu dengan susu formula. Atau bisa juga bayi sebelum tiba waktunya diberi makanan pendamping ASI, sudah diberikan terlebih dahulu.

Perlekatan buruk bisa juga terjadi karena faktor pendukung bagi ibu yang melahirkan tidak ada. Misalkan keluarga kurang mendukung. Karena itu dukungan dari keluarga sangat dibutuhkan teutama dari suami. Peran suami dan keluarga terhadap pemberian air susu ibu (ASI) eksklusif sangat besar.

ASI diproduksi di Alveoli, bila ASI habis maka alveoli akan segera memproduksi lagi. Alveoli berbentuk bulat dan bergerombol seperti buah anggur. Alveoli dikelilingi otot yang disebut myoepithel. Otot inilah yang memompa ASI keluar dari alveoli menuju tempat penyimpanan ASI. Kerja myoepithel sangat tergantung pada hormon oksitosin yang dikirim otak. Jika oksitosin keluar, otot pun bekerja.

Oksitosin bisa keluar jika ibu merasa tenang dan disayang oleh suami serta mendapat dukungan dari orang-orang di sekelilingnya. Dan di sinilah suami memegang peranan penting. Dengan memperlihatkan kasih sayang dan perhatian terhadap ibu dan bayi.
Peran suami dalam proses tersebut akan memberi motivasi ibu untuk menyusui.

Suami dapat berperan dalam menyukseskan ASI eksklusif dengan tak hanya menjadi pengamat pasif. Akan tetapi, ia juga dengan aktif memberikan bantuan praktis misalnya, jika bayi ingin menyusu, ayah yang menggendong untuk diserahkan kepada ibu. Dengan begitu terjadi sebuah ritual kecil yang melibatkan ketiganya.

Suami juga bisa ikut berperan menyendawakan bayi setelah diberi ASI, mengganti popok, menggendong, menenangkan bayi yang menangis, membawa bayi untuk berjemur dan berjalan-jalan, juga membantu pekerjaan rumah lainnya. Dengan melakukan hal-hal tersebut, seorang ibu akan merasa tenang dan mendapat dukungan dari suami.

Kesuksesan dalam menyusui juga didukung oleh posisi menyusui Ibu yang benar. Posisi tubuh dan cara memegang bayi, membuat lbu dan bayi sama-sama nyaman. Karena itu tidak ada salahnya bila para ibu juga memahami posisi menyusui.

Posisi menggendong
Baringkan si kecil dalam posisi menyamping. Sebagian muka, perut dan lututnya menempel pada dada dan perut Anda. Selipkan tangan bayi lainnya di bawah lengan Anda biar bebas bergerak-gerak. Ini posisi menyusui paling favorit sepanjang zaman.

Posisi menggendong silang
Sangga kepala bayi dengan telapak tangan. Kepala, bahu dan perutnya menghadap Anda. Jika Anda menyusui dengan payudara kiri, pegang si kecil dengan tangan kanan. Tempelkan mulutnya ke puting susu dengan ibu jari, sedangkan lengan Anda di belakang kepalanya. Posisi ini bisa jadi pilihan jika payudara Anda terlalu besar bagi mulut mungilnya.

Posisi tidur bersisian
Ganjal kepala, bahu dan kedua lutut Anda dengan bantal. Dengan begitu, punggung dan panggul Anda dalam garis lurus. Sambil tidur berhadapan, bantu mulutnya mendekat pada puting susu. Biar nyaman, ganjal kepala bayi dengan bantal juga. Posisi ini bisa dilakukan jika Anda belum bisa duduk enak atau seusai operasi Caesar.

Posisi menyangga kepala
Sangga kepala, leher, dan bahu si kecil dengan telapak tangan Anda, sedangkan tubuhnya diletakkan di bawah tangan Anda. Mukanya menghadap Anda. Biar nyaman, ganjal tangan Anda dengan bantal yang diletakkan di atas pangkuan. Kalau Anda akan menyusui pada payudara kanan, pegang bayi dengan tangan kanan. Arahkan mulut bayi ke puting susu Anda. Posisi ini oke banget bila si kecil mungil, kembar, puting susu Anda datar, dan Anda habis operasi Caesar.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s