Tanda-Tanda Persalinan

Proses persalinan berbeda-beda pada tiap individu, namun ada beberapa tanda yang dapat membantu ibu untuk memperkirakan kapan waktu persalinan tiba.

Tanda palsu
Selama kehamilan, ibu akan merasakan kontraksi rahim (mulas, kram perut) yang lemah dan tidak teratur, yang disebut kontraksi Braxton Hicks. Kontraksi tersebut tidak menyebabkan lahirnya bayi.
Menjelang persalinan akan terjadi kontraksi otot-otot rahim yang menyebabkan bayi lahir, ini disebut His.
His pada bulan terakhir kehamilan akan terjadi beberapa kali, namun perlu diperhatikan apakah his tersebut merupakan his palsau (his pendahuluan) atau his persalinan.
Ciri-ciri his palsu adalah :
a. Tidak teratur, tidak menyebabkan nyeri di perut bagian bawah dan lipatan paha.
b. Tidak menyebabkan nyeri memancar dari pinggang ke perut bagian bawah.
c. Lama kontraksi pendek dan tidak begitu kuat, bila dibawa berjalan kontraksi biasanya menghilang.
d. Tidak bertambah kuat seiring dengan bertambahnya waktu.
e. Tidak ada pengaruh pada pembukaan mulut rahim.
Baca lebih lanjut

Iklan

Persiapan Persalinan

Tempat Melahirkan
Tempat melahirkan hendaknya disesuaikan dengan jarak tempuh dari rumah untuk memperkirakan waktu sampai ke rumah sakit.
Perhatikan kepadatan lalu lintas pada jam-jam tertentu sehingga anda dapat mempersiapkan jalur alternatif untuk sampai ke rumah sakit.
Prosedur masuk, fasilitas yang ada, biaya persalinan.
Lokasi kamar bersalin, agar dalam keadaan darurat mempercepat sampai ke tempat tujuan
Tempat plasenta (ari-ari) harus sudah direncanakan di mana plasenta akan diurus, apakah di rumah atau di tempat bersalin. Biasanya sudah disiapkan di tempat bersalin.

Kebersihan Diri dan Aktivitas Yang Dapat Dilakukan Menjelang Persalinan

Sangat disarankan untuk menjaga kebersihan diri menjelang persalinan, manfaatnya antara lain :
a. Dengan mandi dan membersihkan badan, ibu akan mengurangi kemungkinan adanya kuman yang masuk selama persalinan. Hal ini mengyrangi terjadinya infeksi sesudah melahirkan.
b. Ibu akan merasa nyaman selama menjalani proses persalinan.
Saat ini, ibu yang akan melahirkan, tidak di-huknah untuk mengeluarkan tinja.
Bulu kemaluan tidak dicukur seluruhnya, hanya bagian yang dekat anus yang akan dibersihkan, karena hal tersebut akan mempermudah penjahitan jika ibu ternyata diepisiotomi.
Selama menunggu persalinan tiba, ibu diperbolehkan untuk berjalan-jalan di sekitar kamar bersalin.
Ibu boleh minum dan makan makanan ringan selama menunggu persalinan, disarankan untuk tidak mengkonsumsi makanan yang berbau menyengat seperti petai atau jengkol.

Hindari kepanikan dan ketakutan
Siapkan diri ibu, ingat bahwa setelah semua ini ibu akan mendapatkan buah hati yang didambakan.
Simpan tenaga anda untuk melahirkan, tenaga anda akan terkuras jika berteriak-teriak dan bersikap gelisah.
Dengan bersikap tenang, ibu dapat melalui saat persalinan dengan baik dan lebih siap.
Dukungan dari orang-orang terdekat, perhatian dan kasih sayang tentu akan membantu memberikan semangat untuk ibu yang akan melahirkan.

Persiapan kebutuhan untuk persalinan
Perkirakan jarak antara rumah dan rumah sakit serta lalu lintas yang harus dilalui jika akan bersalin.
Perkirakan kapan waktu persalinan untuk mengatur jadwal bepergian jauh.
Persiapan peralatan yang harus dibawa Untuk Ibu selama persalinan :
a. Alas tahan air (water proof) untuk di mobil selama perjalanan ke rumah sakit.
b. Minyak untuk memijit, untuk mengurangi rasa sakit.
c. Alat-alat mandi seperti sabun, tutup kepala, handuk, dll.
d. Lip balm, sikat gigi dan odol, sisir, ikat rambut.
e. Baju ganti (gunakan baju yang nyaman dan menyerap keringat)
f. Radiotape, CD atau musik yang menenangkan.
g. Bantal dari rumah.

Untuk Ayah :

a. Jam tangan
b. Kartu atau kunjungan pemeriksaan kehamilan, KTP (suami-istri, beserta foto kopinya)
c. Alat mandi : sikat gigi, odol, sisir, dll.
d. Makanan kecil.
e. Baju ganti atau sweater.
f. Kertas, pensil, buku, majalah untuk membaca.
g. No. telp saudara atau teman.

Untuk Ibu, setelah melahirkan :
a. Baju atau gaun yang dapat dibuka dari depan (berkancing di depan) agar dapat menyusui.
b. Kosmetik
c. Bra yang sesuai
d. Makanan ringan yang disukai
e. Baju untuk pulang, perlu diingat badan ibu akan terlihat seperti hamil 5 – 6 bulan, jadi siapkan baju yang sesuai.

Untuk Bayi :
a. Kain flannel beberapa buah (3 – 4 buah)
b. Pakaian bayi, 2 pasang (siapkan 2 ukuran)
c. Popok, dapat menggunakan popok kain atau popok sekali pakai.
d. Sarung tangan, sarung kaki, topi (penutup kepala)
e. Bedak, minyak angin.
f. Selimut untuk membungkus bayi selama di perjalanan pulang.

Sumber : Materi dari DR. dr. Sofie Rifayani Krisnadi, SpOG (K), Jl. Ir. H. Juanda 1 Bandung, Telp. 022-4210030

Amankah Mengonsumsi Obat saat Hamil

Chrisdiono M Achadiat

SALAH satu masalah yang sangat menarik dalam dunia kedokteran hingga saat ini ialah mengenai obat apa yang boleh dan tidak boleh dikonsumsi pada saat hamil, khususnya ketika hamil muda. Sebagaimana diketahui, masa hamil muda adalah saat mulai terbentuknya pelbagai organ tubuh (sering disebut periode organogenesis). Bahkan, dikatakan bahwa sejak dua minggu setelah implantasi hasil konsepsi, pembentukan dan perkembangan pelbagai organ juga telah berlangsung. Karena itu, masuk akal kalau banyak mitos yang bercampur fakta ilmiah seputar hamil muda ini, mengingat kaitannya yang erat sekali dengan cacat maupun kelainan pada janin.

DI pihak lain, para dokter yang menangani wanita hamil harus menyadari dan memahami mekanisme kerja suatu obat serta dampaknya terhadap janin. Dengan demikian, ia dapat memberikan obat yang benar-benar diyakini aman bagi ibu sekaligus janinnya. Pemberian obat kepada wanita hamil harus dengan pertimbangan yang matang dan ilmiah, mengingat sangat mungkin obat-obat itu melewati sawar ari-ari (placental barrier) lalu memasuki tubuh janin. Biotransformasi (yakni perubahan kimiawi yang kemudian menyebabkan obat itu dapat berkhasiat) dapat terjadi di ari-ari/plasenta, di mana hal tersebut bisa bersifat protektif (menguntungkan), namun bisa pula menghasilkan suatu substrat yang bersifat teratogenik ataupun dismorfogenik (kedua terminologi tersebut digunakan untuk sifat suatu obat/bahan yang “merusak” fetus atau janin).

Dahulu, Teratology adalah suatu terminologi atau kajian tentang malaformasi kongenital (cacat janin/bayi yang secara kasat mata dapat terlihat saat dilahirkan), yang dipicu atau disebabkan oleh suatu bahan/obat yang masuk ke tubuh ibu pada masa pembentukan organ-organ tubuh janin (organogenetic period). Belakangan, hal ini diperluas sehingga dalam pengertian ini termasuk setiap kelainan (morfologi, biokimiawi, perilaku, dan sebagainya) yang terjadi dalam kehidupan janin dalam rahim ketika dilahirkan maupun sesudahnya. Sementara itu, Dysmorphisme menyangkut pengertian yang luas, yakni abnormalitas janin secara fungsional maupun struktural.

Tragedi Thalidomide

Suatu obat untuk mengurangi/menghilangkan mual, muntah, serta kecemasan, yakni Thalidomide, pada tahun 1950-an sampai awal tahun 1960 dinyatakan aman ( bahkan direkomendasikan) untuk diberikan kepada wanita hamil muda. Ternyata obat ini telah secara sembrono dipasarkan, padahal belum pernah diteliti secara cermat dan memadai pada hewan percobaan! Ketika pemberian obat ini kepada wanita hamil muda dikaitkan dengan pelbagai kelainan/cacat (berat hanya berupa suatu “tonjolan” belaka), anomali jantung, dan cacat pada mata, dunia kedokteran menjadi gempar dan dimulailah era baru yang selalu mempertimbangkan keamanan obat terhadap janin dalam rahim.

Konsep lama yang menyatakan bahwa plasenta sanggup dan selalu “menyaring” bahan-bahan yang dapat mempengaruhi janin dalam rahim, berubah total dengan suatu paradigma baru bahwa setiap obat yang diberikan kepada ibu hamil harus secara meyakinkan terbukti aman terhadap janinnya pula. Bukti itu berupa serangkaian penelitian yang akurat, memadai, serta dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan statistik. Sebelum direkomendasikan dapat diberikan kepada ibu hamil, suatu obat harus melalui suatu trial yang adekuat pada hewan percobaan yang paling “mirip” dengan manusia, seperti mencit. Pada tahun 1971, Food and Drug Administration (FDA), yang merupakan Ditjen POM-nya Amerika Serikat, juga mencabut rekomendasi atas obat Diethylstilbestrol (DES), yakni sejenis preparat hormon estrogen sintetik yang sejak tahun 1940 direkomendasikan untuk mengatasi abortus imminens (sering disebut juga abortus mengancam). Dalam kurun waktu tersebut, sekitar 10 juta pasien telah mendapat DES untuk mempertahankan kehamilannya. Dari penelitian retrospektif, terbukti bahwa paparan (exposure) DES pada seorang ibu hamil muda meningkatkan risiko kanker (small cell carcinoma) vagina pada bayi wanita yang sedang dikandungnya, sedangkan pada bayi laki-laki mengakibatkan kelainan pada saluran genital (epidydimis) serta kemandulan.

The Registry for Research on Hormonal Transplacental Carcinogenesis (RRHTC) melaporkan, pada tahun 1987 tercatat 50 persen dari 384 pasien kanker yang terpapar DES sebelum usia kehamilan 12 minggu dan 70 persen sebelum 17 minggu. Dengan demikian, DES sebenarnya menimbulkan risiko rendah terhadap kanker (khususnya pada janin/bayi perempuan), yakni dengan kemungkinan satu dari 1.000 bayi perempuan yang terpapar DES, bahkan banyak kalangan menyebutnya sebagai incomplete carcinogen, namun akibat yang terjadi nyata-nyata sangat baik, yaitu kanker!

Walaupun tragedi DES tidaklah sedahsyat Thalidomide (karena memang penggunaan DES yang lebih terbatas), namun kedua tragedi itu memberikan pemahaman baru tentang obat atau bahan yang dapat diberikan atau direkomendasikan untuk ibu hamil. Pelajaran yang dapat dipetik ialah bahwa setiap waktu harus dilakukan pengkajian dan penelitian terhadap obat yang dapat diberikan kepada ibu hamil, artinya, pada saat sekarang dapat direkomendasikan, tetapi bila suatu obat terbukti memang mengandung risiko yang merugikan, rekomendasi itu dapat direvisi atau dicabut.

Mekanisme cacat janin

Suatu bahan atau obat dapat menimbulkan cacat fungsional atau struktural (pada janin dalam rahim) melalui beberapa mekanisme, yaitu:

1. Efek obat langsung terhadap janin, di mana access obat ke janin ditentukan oleh beberapa faktor seperti jumlah/kadar obat yang melewati sawar ari-ari, struktur biokimiawi (sistem enzimatik) dari plasenta, dan struktur kimiawi dari obat itu sendiri (berat molekul, terionisasi atau tidak, larut dalam lemak atau tidak).

2. Efek obat terhadap fungsi plasenta, di mana fungsi plasenta yang sangat rumit adalah untuk kehidupan dan perkembangan dari janin, atau dengan kata lain, plasenta sebenarnya berfungsi sebagai paru-paru, ginjal, usus, hati, maupun sistem endokrin janin sebelum terbentuknya organ-organ itu secara sempurna. Dengan begitu, suatu obat/bahan yang dapat mengganggu fungsi plasenta tersebut juga mengakibatkan gangguan pada janin.

3. Efek obat terhadap metabolisme atau fungsi tubuh ibu, misalnya terjadinya tekanan darah tinggi pada saat kehamilan.

4. Tahap perkembangan janin dalam rahim, artinya efek obat berbeda terhadap tahap-tahap perkembangan janin. Misalnya, pada kehamilan yang sangat dini (sebelum tahap diferensiasi), sel-sel embrionik bersifat omnipotent (berkembang menjadi pelbagai bentuk organ) dan setiap gangguan pada tahap ini cenderung berefek all or none, artinya terjadi kerusakan sel secara total atau justru tidak ada efek sama sekali karena sifat multipotent dari sel-sel itu.

5. Kerentanan genetik atau genetic susceptibility, di mana masing-masing ras atau suku diketahui memiliki kecenderungan yang berbeda terhadap efek suatu obat. Pada binatang sangat jelas terlihat bahwa kerentanan ini berbeda untuk setiap spesies maupun strain, sehingga diasumsikan manusia juga memiliki kecenderungan yang sama.

6. Metabolisme substrat/obat yang telah dipahami melalui mekanisme yang cukup rumit. Contohnya, suatu substrat enzim yang dikenal sebagai Cytochrome P450 diketahui memegang peranan penting dalam pembentukan serta perkembangan sel-sel maupun organ tubuh janin.

Klasifikasi

Semenjak terjadinya tragedi Thalidomide dan DES tadi, dunia kedokteran menaruh perhatian yang sangat serius terhadap pemberian obat dan bahan-bahan lainnya selama masa kehamilan.

Dalam FDA Drug Bulletin tahun 1980, dipaparkan mengenai seluk beluk obat maupun bahan yang boleh dan tidak boleh diberikan ketika hamil, di mana uraian tersebut sampai saat ini masih dipakai sebagai “rujukan” atau “anutan/acuan” di seluruh penjuru dunia, termasuk Indonesia (Williams Obstetrics edisi 21 tahun 2001, halaman 1009). Di situ FDA membuat klasifikasi obat/bahan menurut tingkat bahayanya terhadap janin, yakni:

1. Kategori A, di mana kajian kendali (controlled studies) pada manusia tidak menunjukkan terjadinya risiko terhadap janin. Beberapa jenis vitamin dan multivitamin yang diberikan semasa hamil termasuk dalam kategori ini, tapi “megavitamins” tak termasuk kategori ini.

2. Kategori B, yang juga tidak menunjukkan risiko pada janin, namun belum/tidak ada penelitian yang memadai pada manusia. Atau, efek tak diharapkan dapat diperlihatkn pada binatang percobaan, tetapi belum bisa dibuktikan pada manusia. Beberapa antibiotika seperti penisilin termasuk kategori ini.

3. Kategori C, di mana belum ada penelitian yang adekuat pada manusia maupun binatang percobaan. Atau, telah dijumpai efek merugikan pada binatang, tetapi tidak diperoleh data yang cukup meyakinkan/valid pada manusia. Kebanyakan obat atau bahan lainnya yang sering diminum selama kehamilan sekarang termasuk dalam kategori ini.

4. Kategori D, di mana telah ditemukan bukti-bukti adanya risiko pada janin, namun keuntungan pemberiannya dipandang lebih besar dibandingkan risiko tersebut. Contohnya, Carbamazepine dan Phenytoin (sejenis obat untuk epilepsi) serta beberapa obat antikanker atau kemoterapi.

5. Kategori X, di mana risiko pada janin jauh lebih besar dibandingkan keuntungannya. Dengan kata lain, obat dalam kategori ini tidak boleh diberikan pada kehamilan (istilahnya: kontraindikasi mutlak). Contohnya adalah sejenis obat untuk jerawat yang dikenal sebagai isotretinoin, yang dapat menyebabkan kelainan multipel pada sistem syaraf, wajah, maupun kardiovaskuler. Selengkapnya obat-obat yang termasuk kategori ini beserta keterangannya dapat dilihat pada tabel.

Kecuali yang benar-benar aman dan dibutuhkan dalam kehamilan, maka segala jenis obat sebaiknya dihindari, terutama pada masa pembentukan organ janin (embrio/organogenesis). Penggunaan obat yang tanpa pertimbangan matang selama kehamilan dapat berakhir dengan bencana yang tak terpikirkan sebelumnya, yakni risiko cacat atau menderita kanker pada janin/bayi.

Maka, konsultasi dengan dokter yang merawat selama kehamilan merupakan salah satu langkah bijaksana untuk menjaga dan mengoptimalkan hasil kehamilan tersebut. Di pihak lain, para dokter juga seyogianya memiliki pengetahuan yang memadai dan up to date tentang obat-obatan yang boleh dan tidak boleh diberikan kepada ibu hamil.

Sebab tidak jarang para dokter memberikan atau menganjurkan obat tertentu pada pasien hamil bukanlah berdasarkan pertimbangan ilmiah, melainkan karena sugesti belaka akibat “termakan” iklan/promosi. Bukankah sekarang ini sangat gencar diiklankan pelbagai jenis obat atau suplemen yang konon dapat mencerdaskan janin/bayi jika dikonsumsi ketika ibu hamil? Apakah memang demikian halnya!
Chrisdiono M Achadiat Dokter spesialis kebidanan, tinggal dan bekerja di Kediri, Jawa Timur.
Diambil dari http://www.kompas.com/kompas-cetak/0301/13/iptek/77553.htm

AMANKAH MSG BAGI JANIN?

sumbser : NAKITA

Meski masih dalam penelitian, pemakaian MSG (monosodium glutamat) dalam jumlah tertentu disinyalir berpengaruh buruk pada janin.
Survei yang dilakukan Public Interest Research and Advocacy Center di Jakarta memublikasikan banyaknya camilan yang mengandung MSG. Ironisnya, pihak produsen cenderung enggan mencantumkan kandungan zat tersebut dalam kemasannya. Gawatnya lagi, melalui surat elektronik yang dikirim ke berbagai pihak disebutkan bahwa janin yang dikandung oleh ibu hamil yang mengonsumsi MSG dalam jumlah tertentu akan menuai serangkaian efek buruk.
MSG atau yang lebih dikenal dengan istilah vetsin, micin, atau bumbu penyedap yang dikonsumsi ibu hamil disebut-sebut dalam surat elektronik tersebut dapat menembus plasenta janin. Senyawa ini kemudian akan menembus jaringan di berbagai organ penting. Akibatnya, yang bersangkutan akan mengalami gangguan hati, hipertensi, stres dan demam tinggi. Selain itu, MSG juga memicu reaksi gatal-gatal, bintik-bintik merah di kulit, keluhan mual, muntah-muntah, sakit kepala, migren, asma, bahkan depresi.
Membaca informasi semacam itu, siapa yang tak jadi ciut nyalinya, terutama ibu-ibu yang tengah berbadan dua. Betulkah itu semua? “Dari sejumlah artikel ilmiah yang saya baca, itu semua masih berupa dugaan dan sedang diteliti kebenarannya,” ungkap DR. dr. Saptawati Bardosono, M. Sc., dari Departemen Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Meski pembuktiannya masih menjadi perdebatan banyak pihak, namun ada baiknya jika ibu hamil berhati-hati dengan butiran kristal yang membuahkan rasa lezat pada makanan ini.
MENGENAL MSG
Pada dasarnya monosodium glutamat adalah salah satu senyawa kimia yang pada konsentrasi tertentu tidak memiliki rasa, namun dapat memperkuat atau memodifikasi rasa makanan secara komersial. Rasa nikmat yang dikecap lidah diyakini karena adanya bahan aktif glutamat yang sebetulnya sudah sangat akrab dengan kehidupan sehari-hari manusia. Soalnya, secara alami glutamat ada dalam bahan-bahan makanan, seperti tomat, keju, kaldu daging sapi atau ikan.
Glutamat juga diperoleh dari hasil metabolisme dalam tubuh antara asam amino (protein) dan karbohidrat. Pada dasarnya glutamat dibutuhkan usus dan plasenta sebagai sumber energi yang penting. Di otak, contohnya, glutamat berfungsi meningkatkan rangsang pengantar pesan pada saraf.
Yang pasti, glutamat yang berasal dari bahan makanan alami tidak menimbulkan kerusakan jaringan otak. Malahan, glutamat yang diproduksi tubuh dapat menyebabkan terjadinya kerusakan jaringan otak yang akut yang bisa berlanjut menjadi serangan epilepsi, kekurangan aliran darah otak, ataupun kerusakan jaringan otak. Bila terjadi bertahun-tahun, gangguan-gangguan tersebut akan menyebabkan kemunduran fungsi saraf.
Untuk mengontrolnya, transfor glutamat dalam sel otak memegang peranan penting. Tidak saja untuk menyediakan glutamat dalam proses pemecahan dan sintesis protein. Namun juga untuk menghentikan aksi perangsangan saraf sekaligus menjaga konsentrasi glutamat pada tingkat aman agar tidak menyebabkan kerusakan saraf otak.
Banyak penelitian sudah dilakukan untuk mendudukkan zat ini secara proporsional, apakah lebih banyak manfaatnya ataukah justru mudaratnya. Selain penelitian di atas yang menyebutkan sederet efek negatif dari MSG, ada juga penelitian yang membuktikan bahwa konsumsi MSG tidak berpengaruh pada sekresi/keluaran hormon hipofisis anterior di otak. Ini karena MSG tidak dapat menembus bagian otak (hipotalamus) yang mengatur kelenjar hormon tersebut. Selain itu, terdapat penghalang antara aliran darah dan jaringan otak yang mengatur pertahanan kadar glutamat dalam cairan otak.
SEJAUH INI AMAN, KOK
Jadi amankah MSG dikonsumsi ibu hamil? “Dalam jumlah tertentu, sejauh ini masih dikategorikan aman. Di Amerika sendiri, badan pemeriksa obat dan makanan (FDA) masih mengklasifikasikan MSG sebagai bahan yang aman,” papar pengasuh rubrik Tanya Jawab Gizi Ibu di nakita.
Menurutnya, glutamat tidak dapat melalui barier plasenta. Dengan kata lain, MSG yang dikonsumsi ibu hamil tidak secara langsung berpengaruh pada janin yang dikandungnya. Konsumsi MSG juga tidak terbukti ada kaitannya dengan peningkatan kadar glutamat dalam ASI. Dengan demikian tidak ada pengaruhnya pada bayi karena metabolisme glutamat pada bayi boleh dibilang hampir serupa dengan manusia dewasa.
Meski demikian, MSG sejak lama diduga menyebabkan kumpulan gejala penyakit yang dikenal dengan sebutan Chinese Restaurant Syndrome (CRS). Gejala yang ditimbulkan antara lain rasa kebal pada daerah leher belakang dan lengan, sekujur badan terasa lemah dan terjadi peningkatan denyut nadi. Selain itu, konsumsi MSG juga diduga berkaitan dengan tercetusnya berbagai gangguan alergi seperti asma, gatal, infeksi kulit, gangguan irama jantung, kelainan saraf tepi dan gangguan pencernaan.
Membuktikan semua dugaan tersebut memang masih harus melalui jalan panjang. Sebab selama ini penelitian baru sebatas dilakukan pada hewan, dalam hal ini tikus, dan belum dilakukan pada manusia. Kendati begitu, gejala yang sama juga dapat muncul akibat konsumsi alkohol dan garam dalam jumlah berlebihan. Jadi, tukas Tati, “Tidak spesifik karena MSG saja.”
0,3-1 GRAM PER HARI
Seperti telah disebut di atas, dalam jumlah tertentu konsumsi MSG masih dianggap aman. Beberapa negara industri dan negara maju, menetapkan konsumsi MSG yang masih bisa ditoleransi adalah 0,3-1 gram per hari. Selain ditambahkan sebagai bumbu masakan, selama ini makanan instanlah yang dituding sebagai “gudang” MSG. Mengenai jumlahnya, tak diketahui pasti karena banyak produsen enggan menuliskannya pada setiap kemasan. Karenanya, amat dianjurkan agar ibu hamil jeli membaca keterangan yang tertera pada kemasan produk sekaigus cerdas memilah-milah dan membuat keputusan.
Sayangnya, karena senyawa ini tercampur sedemikian rupa dalam makanan, banyak orang yang sama sekali tidak menyadarinya ketika sudah mengonsumsi MSG dalam jumlah berlebih. Jumlahnya dikategorikan melampaui batas bila konsumsi MSG mencapai 30 mg/kg BB per hari. Melalui metabolisme di usus dan hati, konsumsi MSG sebanyak ini akan menyebabkan peningkatan kadar glutamat dalam sirkulasi darah yang bisa berakibat fatal.
Untuk menghitung secara teliti sudah berapa banyak MSG yang masuk dalam tubuh jelas sama sekali tidak mudah. Tentu akan lebih mudah dan praktis jika ibu hamil dengan kesadarannya sendiri membatasi pemakaian MSG. Ibu bekerja yang selalu makan siang di kantor, contohnya. Karena tidak bisa memastikan berapa banyak kandungan MSG dalam makanan yang dibelinya, maka amat disarankan untuk menyiapkannya sendiri di rumah agar terbebas dari MSG. Kalaupun ketika di luar rumah tak bisa menghindar dari penggunaan senyawa ini, mengapa pemakaian di rumah tidak dibatasi seminimal mungkin.
Penelitian tentang bahaya MSG memang masih terus berjalan. Para ilmuwan yang meneliti pun sampai saat ini belum menemukan kata sepakat. Bisa jadi hasil yang dipublikasikan hari ini berbeda dengan esok dan lusa. Nah, supaya tidak menyesal kemudian, mengapa tidak mulai membatasinya dari sekarang. Toh rasa sedap tidak harus didapat dari butiran kristal ini. Bukankah bahan makanan yang segar, bumbu yang proporsional, cara memasak yang tepat pun akan menghasilkan masakan istimewa, meski tanpa MSG?
ZAT LAIN YANG BERBAHAYA
Mengatasnamakan kepraktisan, makanan siap saji dalam kemasan pun sering menjadi pilihan ibu rumah tangga, tak terkecuali mereka yang sedang hamil. Padahal makanan dalam kemasan, selain mengandung MSG, biasanya juga ditambahkan berbagai kandungan artifisial lain. Sebutlah zat pewarna, zat pemanis buatan dan bahan pengawet.
Zat pewarna yang tergolong berbahaya di antaranya zat pewarna yang tidak ditujukan untuk makanan/minuman. Yang paling banyak ditemukan di antaranya adalah zat pewarna tekstil dan bahan pembuat cat, semisal rhodamin B dan methanyl yellow. Padahal efeknya tak main-main: penggunaan zat-zat ini secara tidak bertanggung jawab dapat menyebabkan gangguan fungsi tubuh, dari gangguan fungsi hati sampai kanker.
Pemanis buatan apabila diberikan dalam jumlah besar dan dikonsumsi dalam waktu lama juga dapat menyebabkan kanker kandung kemih. Begitu juga formalin dan boraks. Sebagai bahan pengawet yang jelas-jelas dilarang penggunaannya untuk makanan dan minuman, masih saja dijumpai dalam bakso dan makanan lain yang membutuhkan kekenyalan. Atau penggunaan kloramfenikol agar udang terlihat selalu segar, dan minyak nabati yang dibrominasi supaya jernih.
TIP MEMILIH MAKANAN AMAN
* Ibu hamil sebaiknya mengonsumsi makanan yang mengandung karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral.
* Konsumsi bahan-bahan makanan yang segar secara bervariasi
* Sumber karbohidrat di antaranya nasi, bubur, mi, roti, dan sejenisnya.
* Sumber protein hewani di antaranya daging sapi, ayam, ikan, telur, dan sejenisnya.
* Sumber protein nabati seperti tahu, tempe, kacang-kacangan, dan sejenisnya.
* Sumber lemak semisal minyak goreng, mentega, dan sejenisnya.
* Sumber vitamin dan mineral yakni sayur mayur berwarna hijau dan buah-buahan.
* Makanlah secara teratur dengan porsi lebih banyak dari biasanya saat sebelum hamil.

Mual Di Awal Kehamilan

Awal kehamilan Mual di pagi hari kelelahan dan gejala lain yang biasa terjadi

sumber : http://www.sehatgroup.web.id
1/22/2007
Masa awal kehamilan biasanya menyebabkan rasa tidak nyaman. Contohnya, timbulnya rasa mual dan kelelahan yang sangat, biasanya adalah gejala yang sangat umum terjadi. Gejala lain, seperti mimisan dan infeksi kandung kemih, sangat jarang terjadi.
Segera setelah anda hamil, tubuh anda mulai mengadakan beberapa perubahan besar yang membuatnya dapat menerima kehadiran janin anda selama 37 minggu yang penuh dengan pertumbuhan dan perubahan. Kelenjar-kelenjar pada sistem endokrin dan plasenta anda meningkatkan produksi hormonnya. Volume darah anda bertambah dan rahim anda membesar.
Pada bulan keempat kehamilan, anda akan merasa jauh lebih baik, biasanya karena tubuh anda telah beradaptasi dengan perubahan besar yang terjadi. Sampai saat ini tiba, anda boleh merasa tenang, karena gejala-gejala yang anda rasakan pada trimester pertama biasanya berarti anda menjalani kehamilan yang normal yang akan berakhir dengan baik pula. Mual pada pagi hari dan gejala lain yang anda rasakan pada saat ini biasanya akan dapat anda hadapi dengan baik. Berikut adalah urutan dari gejala-gejala yang paling sering dialami pada masa trimester pertama kehamilan.
Mual pada pagi hari
Seberapa sering hal ini terjadi?
Sekitar 70 persen ibu hamil mengalami mual-mual, terkadang diikuti dengan muntah, pada awal kehamilannya. Mual dan muntah ini paling sering terjadi di pagi hari, tapi bisa juga terjadi kapan saja. Walaupun anda tidak merasa mual, anda bisa saja tiba-tiba tidak menyukai suatu makanan tertentu, seperti kopi dan daging sapi, yang biasanya disebabkan karena baunya yang tajam. Selama anda bisa terus makan makanan yang bergizi dan mendapatkan semua nutrisi yang anda butuhkan, hal ini bukanlah sesuatu yang harus dikhawatirkan.
Apa penyebabnya?
Tidak jelas apa yang yang menyebabkan terjadinya hal ini, akan tetapi hormon-hormon kehamilan yang membuat perut menjadi rileks dicurigai sebagai penyebabnya.
Berapa lama hal ini berlangsung?
Hal ini biasanya mulai berkurang pada usia kehamilan 13 atau 14 minggu, tapi ada ada juga yang terus menerus merasakan mual dan muntah sampai trimester kedua..
Bagaimana cara mengatasinya?
• Makan makanan kecil seperti biskuit sebelum bangun di pagi hari.
• Makan beberapa kali dalam porsi kecil sehingga perut anda tidak dalam keadaan kososng.
• Hindari semua yang dapat menyebabkan rasa mual.
• Banyak minum, terutama bila anda habis muntah. Anda dapat mencoba untuk minum es serut, jus buah atau es batu bila minum air menyebabkan anda merasa mual.
• Coba gunakan motion sickness band, yang mungkin dapat meredakan rasa mual dengan menekan titik accupressure di bagian dalam pergelangan tangan anda.
• Mengemut permen.
• Coba untuk memanfaatkan jahe, yang telah terbukti efekti dalam mengurangi rasa mual. Ada beberapa cara untuk mengkonsumsi jenis rempah-rempah ini termasuk menggunakan soda campur jahe, atau the, gingersnap atau jahe dalam bentuk kapsul.
Konstipasi (susah buang air besar)
Seberapa sering hal ini terjadi?
Konstipasi terjadi pada hampir setiap wanita yang sedang mengalami kehamilan.
Apa penyebabnya?
Adanya peningkatan hormon progesteron, yang memperlambat proses pencernaan, adalah salah satu penyebabnya. Ditambah lagi usus anda menyerap lebih banyak air, yang membuat kondisi feces cenderung lebih keras dan lebih sulit keluar.
Berapa lama hal ini akan berlangsung?
Tidak ada jangka waktu yang pasti, kesulitan untuk BAB ini bisa terjadi kapan saja selama masa kehamilan, tapi biasanya yang paling parah adalah pada saat minggu ke 13 sampai ke 14 masa kehamilan.
Bagaimana cara mengatasinya?
• Cobalah untuk makan dengan jadwal yang teratur.
• Minum air sebanyak-banyaknya – paling tidak delapan sampai sepuluh gelas sehari.
• Berolahraga setiap hari.
• Makan sayuran dan buah-buahan berserat tinggi, dan biji-bijian seperti gandum dan oatmeal.
Pusing- pusing atau pingsan
Seberapa sering hal ini terjadi?
Meskipun jumlah yang tepat tidak diketahui, mungkin dari setiap 20 orang, satu orang akan mengalami paling tidak sedikit pening selama kehamilannya. Tidak seperti yang sering digambarkan dalam film-film, jarang sekali ibu hamil yang mengalami pingsan..
Apakah penyebabnya?
Kehamilan menyebabkan terjadinya pembesaran yang dramatis pada pembuluh darah pada tubuh anda. Meskipun demikian, pada semester pertama kehamilan anda, volume darah yang anda miliki mungkin belum cukup banyak untuk memenuhinya. Hasilnya adalah tekanan darah yang menurun. Dua kondisi yang sering terjadi pada saat kehamilan – gula darah yang rendah (hypoglycemia) dan jumlah sel darah merah yang rendah (anemia) – juga dapat menyebabkan terjadinya rasa pusing. Dua hal terakhir ini mungkin memerlukan perhatian medis.
Berapa lama hal ini berlangsung?
Rasa pening atau pusing dapat terjadi kapan saja selama masa kehamilan, tapi sering kali terlihat pada awal trimester kedua, saat pembuluh darah anda telah membesar karena pengaruh hormon-hormon kehamilan tapi volume darah anda belum cukup banyak untuk memenuhinya.
Bagaimana cara menghadapinya?
• Bangun perlahan dari posisi duduk atau tidur.
• Jalan perlahan dan sering berhenti untuk istirahat.
• Hindari berdiri untuk waktu yang terlalu lama.
• Sebaiknya berbaring dengan posisi miring, bukan dengan posisi telentang. Gunakan bantal untuk mengganjal bagian bawah perut untuk membuat posisi ini lebih nyaman.
• Jaga jangan sampai kepanasan. Sauna dan berendam air panas dapat meningkatkan resiko terjadinya pingsan. Mandi dengan pancuran dan berendam dengan air dingin, gunakan AC bila diperlukan, hindari ruangan yang penuh dan terlalu hangat.
• Teruskan aktivitas fisik untuk meningkatkan sirkulasi darah. Aktivitas yang baik termasuk jalan-jalan, aerobik dalam air dan yoga selama masa kehamilan.
• Banyak minum cairan, terutama pada siang hari.
• Makan makanan yang tinggi zat besinya, seperti kacang buncis, daging merah, sayuran berdaun hijau dan buah yang dikeringkan untuk membantu tubuh anda mendapatkan zat besi yang dibutuhkantubuh untuk membuat sel-sel darah merah.
Rasa lelah yang luar biasa
Seberapa sering hal ini terjadi?
Hampir semua ibu hamil melaporkan terjadinya peningkatan rasa lelah dan kebutuhan untuk tidur pada trimester pertama.
Apa penyebabnya?
Untuk membawa oksigen dan nutrisi ke janin, tubuh anda memproduksi lebih banyak sel darah dan jantung anda bekerja lebih keras dan lebih cepat. Terjadinya perubahan ini pada masa awal kehamilan menyebabkan trejadinya peningkatan kebutuhan dalam sistem sirkulasi tubuh anda. Pada saat ini, anda juga memproduksi lebih banyak progesterone, yang cenderung membuat anda mengantuk. Hal ini mungkin yang memicu terjadinya rasa lelah yang luar biasa pada masa awal kehamilan.
Berapa lama hal ini berlangsung?
Rasa lelah biasanya berkurang pada masa trimester kedua, tapi mungkin bisa kembali lagi pada trimester ketiga kehamilan, saat membawa beban tambahan seberat janin anda mungkin terasa melelahkan.
Bagaimana cara menghadapinya?
• Istirahat. Usahakan untuk bisa tidur pada siang hari atau setelah kerja. Bila anda perlu tidur pada pukul 7 malam agar dapat merasa segar, lakukan saja. Ini adalah gejala yang tidak ada obatnya selain tidur.
• Hindari untuk tanggung jawab yang terlalu besar. Kurangi kegiatan yang bersifat sukarela dan kegiatan sosial lainnya bila hal ini membuat anda kelelahan.
• Minta bantuan bila anda membutuhkannya. Sedapat mungkin, minta pasangan atau anak-anak anda untuk membantu.
• Olahraga teratur. Olahraga ringan, seperti jalan kaki selama 30 menit sehari, bisa membantu anda menjadi lebih sehat dan segar.
• Makan makanan yang berprotein dan berzat besi tinggi. Kekurangan zat-zat nutrisi ini bisa meningkatkan rasa lelah anda. Makanan yang mengandung zat besi dan berprotein tinggi termasuk daging merah, makanan laut, unggas dan telur. Sumber-sumber lain yang mengandung zat besi adalah whole-grain dan sereal yang mengandung zat besi, roti dan pasta.
• Hindari stimulan. Hindari kafein, yang dalam jumlah banyak bisa membahayakan. Produk yang dijual untuk menghilangkan rasa lelah dan meningkatkan konsentrasi tidak aman untuk kehamilan.
Panas di ulu hati
Seberapa sering hal ini terjadi?
Lebih dari separuh ibu hamil merasakan panas di ulu hati, suatu sensasi yang tidak menyenangkan yang disebabkan oleh naiknya aliran asam dari usus ke esophagus, saluran yang mengalirkan makanan dari mulut ke perut anda.
Apa penyebabnya?
Konstipasi, banyaknya gas dan panas di ulu hati, semuanya adalah efek dari lambannya proses pencernaan, yang disebabkan oleh hormon kehamilan. Saat kehamilan berlanjut, faktor kedua – membesarnya rahim, yang dapat mendorong usus anda keluar dari posisi normal – bisa menjadi penyebab terjadinya rasa panas di ulu hati.
Berapa lama hal ini berlangsung?
Rasa panas di ulu hati dapat terjadi setiap saat selama kehamilan, tapi biasanya paling terasa pada trimester ketiga.
Bagaimana cara menghadapinya?
• Makan beberapa kali dalam porsi yang lebih kecil untuk menggantikan dua atau tiga kali makan dalam porsi besar. Makan secara perlahan-lahan, meskipun makanan anda hanya memiliki porsi yang kecil.
• Hindari pemicu terjadinya panas pada ulu hati, seperti gorengan, alkohol, coklat, permen mint, bawang merah dan bawang putih.
• Banyak minum, terutama air putih.
• Hindari minum baik, baik yang biasa maupun yang decaff karena akan memperparah rasa panas pada ulu hati.
• Jangan tidur dua atau tiga jam setelah makan malam. Bila rasa sakit itu datang saat anda dalam keadaan tiduran, naikkan kepala anda empat sampai enam inci lebih tinggi.

Perubahaan suasana hati
Berapa sering hal ini terjadi?
Meskipun frekuensi terjadinya perubahan suasana hati ini tidak diketahui, beberapa ibu hamil pada masa trimester pertama dan kemudian terjadi lagi pada beberapa minggu sebelum kelahiran, diketahui mengalami fluktuasi emosi dari rasa senang dan bahagia yang amat sangat menjadi rasa kesal dan depresi.
Apa penyebabnya?

Rasa tidak nyaman yang terus menerus, perubahan hormon dan ras cemas yang bisa dimengerti mengenai masa depan mempunyai andil dalam terjadinya perubahan suasana hati yang tiba-tiba. Anda mungkin bisa merasa lebih baik bila anda mengingatkan diri anda bahwa emosi yang kuat adalah hal yang normal dan sehat. Dengan mengenali bahwa emosi anda sedang labil dapat membantu anda dan orang-orang di sekitar anda untuk menghadapinya.
Berapa lama hal ini berlangsung?
Perubahan suasana hati bisa terjadi kapan saja selama masa kehamilan. Bila anda biasa mengalami sindrom sebelum haid (PMS), anda bisa mengalami perubahan suasana hati yang lebih ekstrim lagi saat anda dalam masa kehamilan.
Bagaimana cara menanganinya?
• Makan makanan ditambah makanan kecil yang mengandung berbagai variasi buah-buahan dan sayuran segar dan whole grain secara teratur.
• Banyak istirahat (tidur).
• Minta dukungan keluarga dan kawan-kawan, tapi bila anda merasa sangat berat, hubungi dokter anda.
• Gunakan teknik relaksasi seperti meditasi, imajinasi mental yang terpandu dan relaksasi otot yang progresif.
Gangguan pada rongga hidung: Mengorok, hidung tersumbat dan mimisan
Berapa sering hal ini terjadi?
Seperempat ibu hamil mengorok, dibandingkan dengan 4 persen perempuan pada usia yang sama tapi tidak sedang hamil. Hidung tersumbat dan mimisan juga relatif sering terjadi.
Apa penyebabnya?
Saat lebih banyak darah mengalir ke membran-membran mucus di tubuh anda, saluran di hidung dan saluran udara anda membengkak, yang dapat menyebabkan terhambatnya aliran udara dan menyebabkan mengorok, hidung tersumbat dan mimisan. Meskipun mengorok biasanya hanya sedikit merepotkan, hal ini bisa dihubungkan dengan kondisi yang serius seperti tekanan darah tinggi (hypertension) atau gangguan tidur yang menyebabkan anda berhenti bernapas dalam jangka waktu pendek (sleep apnea). Perempuan yang mengorok selama masa kehamilannya mempunyai resiko terjadinya kehamilan dengan tekanan darah tinggi (pre-eklampsia) yang lebih tinggi.
Berapa lama hal ini berlangsung?
Masalah pernapasan dapat terjadi kapan saja sepanjang masa kehamilan.
Dapatkah anda mencegah ngorok?
• Tidur dengan posisi miring lebih baik daripada tidur dengan posisi telentang. Tidur dengan posisi telentang menyebabkan lidah anda tertarik ke belakang tenggorokan dan menutup aliran udara.
• Gunakan nasal strip untuk membuka saluran napas anda.
• Hindari menambah berat lebih banyak dari yang direkomendasikan oleh dokter anda.

Infeksi vagina dan keluarnya cairan pada vagina
Berapa sering hal ini terjadi?
Peningkatan cairan vagina teramat sangat sering terjadi pada kehamilan sebagai hasil dari meningkatnya pergantian dinding vagina anda.
Apa penyebabnya?
Menebalnya dinding vagina yang disebabkan oleh hromon menyebabnya timbulnya cairan encer, bening dan tidak berbau yang disebut leukorrhea. Cairan ini tidak berbahaya dan tidak perlu diobati. Ada caira lain yang disebabkan oleh bakteri atau infeksi. Bakteri vaginosis, contohnya, menyebabkan terjadinya cairan yang berbau tidak enak, berwarna kelabu kehijauan. Tanda dan gejala adanya infeksi meliputi adanya cairan vagina berwarna putih, kental yang menyebabkan gatal, panas dan kemerahan disekitar vulva dan vagina, dan menyebabkan susah buang air kecil. Bakteri dan infeksi ini tidak menimbulkan bahaya langsung pada janin anda, dan keduanya bisa diobati selama kehamilan. Infeksiini sering terjadi karena efek hormon kehamilan pada kondisi vagina. Bakteri vaginosis lebih jarang terjadi pada ibu hamil dibandingkan pada perempuan lain yang aktif secara seksual.
Berapa lama hal ini terjadi?
Cairan vagina berwarna keputihan lebih sering terjadi sepanjang kehamilan. Bila anda mengalami gejala gaji, bau, panas atau ketidaknyamanan lain pada vagina anda, itu mungkin berarti adanya infeksi dan harus dievaluasi dan diobati oleh dokter anda
Cairan pembersih vagina tidak akan membantu pada peningkatan cairan vagina yang normal dan justru bisa menyebabkan terjadinya infeksi pada rahim anda yang dapat mengakibatkan terjadinya kelahiran prematur. Jangan pernah menggunakan cairan pembersih vagina selama masa kehamilan.
Masalah-masalah lain
Sakit kepala sering terjadi pada masa-masa awal kehamilan tapi jarang yang serius. Bila anda sering menderita sakit kepala, tanyakan pada dokter anda mengenai penggunaan acetaminophen saat rasa sakitnya mulai terasa. Rasa sakit pada punggung biasanya terjadi pada usia kehamilan yang lebih tua tapi dapat terjadi juga terjadi pada trimester pertama, terutama bila anda sudah pernah hamil sebelumnya.
Infeksi saluran kemih lebih sering terjadi pada masa kehamilan dan harus diobati bila terjadi. Sering buang air kecil sangat umum terjadi pada masa kehanilan karena rahim yang membesar menambah tekanan pada kandung kemih anda. Rasa sakit pada saat buang air kecil bisa jadi merupakan gejala infeksi saluran kemih dan harus segera dievaluasi oleh dokter anda.
Selain itu anda juga harus segera menghubungi dokter anda bila anda mengalami hal-hal sebagai berikut:
• Timbul flek dari vagina
• Adanya pendarahan dari vagina yang diikuti oleh ras sakit, demam atau kedinginan
• Ada gumpalan yang keluar
• Sakit kepala yang parah dan berkepanjangan, terutama bila disertai dengan pusing, pingsan, mual atau muntah, atau adanya gangguan visual
• Sakit pinggang yang parah atau ringan
• Sakit pinggang yang tidak segera hilang dalam waktu empat jam
• Nyeri yang diikuti dengan demam atau pendarahan
• Muntah diikuti dengan nyeri atau demam
• Demam atau kedinginan (102 derajat fahrenheit atau lebih)
Rasa mual di pagi hari, rasa ngantuk di siang dan sore hari, rasa panas di ulu hati dan gejala-gejala awal lain yang anda rasakan merupakan peringatan keras bahwa tubuh anda sedang mendukung perkembangan dan pertumbuhan janin anda. Bila anda mendapatkan cukup istirahat dan menjaga agar diri anda sedapat mungkin tetap nyaman, maka anda dan janin anda akan berhasil melalui masa kehamilan ini dengan baik.

Aneka Mitos Seputar Kehamilan

Sumber : http://www.kompas.com/read/xml/2008/07/15/10373064/aneka.mitos.seputar.kehamilan

Dibawah ini adalah mitos-mitos yang biasa kita dengar dan bagaimana penjelasannya secara akal sehat dan juga medis

BERKAITAN DENGAN PERILAKU

* Wanita hamil dan suaminya dilarang membunuh binatang. Sebab, jika itu dilakukan, bisa menimbulkan cacat pada janin sesuai dengan perbuatannya itu. Tentu saja tak demikian. Itu cuma takhayul saja. Tapi, yang perlu diingat, membunuh atau menganiaya binatang adalah perbuatan yang tak bisa dibenarkan.

* Dilarang menutup lubang-lubang, seperti lubang semut karena akan menyulitkan proses persalinan. Sulitnya persalinan tentu saja bukan ditentukan hal itu. Seperti kita tahu, proses persalinan tergantung pada 3P (power, passage, passanger). Proses persalinan bisa berjalan lancar jika ketiga komponen tersebut dalam kondisi baik. Ukuran bayi (passanger) tak terlalu besar agar bisa melalui jalan lahir (passage). Didukung oleh konstraksi (power) yang teratur dan efektif sehingga mampu membuka jalan lahir.

* Harus memakai tali/benang warna hitam melingkari perut di atas rahim agar bayi dalam kandungan tak naik lagi letaknya sehingga proses persalinan bisa berjalan lancar.Agar dipahami dengan jelas, letak bayi mengalami tahapan-tahapan. Kepalanya akan masuk ke rongga panggul menjelang dan pada saat proses persalinan.

* Ibu hamil disarankan memasang gunting kecil atau pisau kecil pada pakaian dalam agar janin terhindar dari marabahaya.Yang bahaya justru bila gunting atau pisau kecil itu menusuk kulit ibu. Betul, kan?

* Menyematkan kantung kecil bersisi paku atau bawang putih pada pakaian dalam agar terhindar dari gangguan kuntilanak.Wah, yang ini, jelas-jelas takhayul. Salah-salah paku tersebut dapat melukai ibu.

* Ibu hamil dilarang melilitkan handuk di leher agar anak yang dikandungnya tak terlilit tali pusat.Ini pun jelas mengada-ada karena tak ada kaitan antara handuk di leher dengan bayi yang berada di rahim.

Penjelasan secara medis, seperti diterangkan dr. Judi, hiperaktivitas gerakan bayi, diduga dapat menyebabkan lilitan tali pusat karena ibunya terlalu aktif. Jadi, tak heran bila ada anjuran agar ibu hamil sudah mengambil cuti sebulan menjelang persalinan. Diharapkan ibu tak terlalu lelah, agar hal-hal yang tak diharapkan tak terjadi menjelang persalinan. Dan bisa mempersiapkan segala keperluan untuk bayi dan ibu sendiri.

* Agar persalinan lancar, pada Upacara 7 Bulanan, calon ibu dan calon ayah diminta meloloskan ikan/belut melalui kain sarung yang dikenakan ibu. Jika ikan/belut keluar dengan lancar (tak menyangkut), pertanda persalinan bakal lancar. Tentu saja itu tak benar. Karena, seperti sudah disebutkan di atas, lancar-tidaknya sebuah proses persalinan tergantung pada berat janin, tenaga mengejan si ibu, dan jalan lahir. Jika semuanya saling mendukung, bisa ditebak pasti lancar.

* Jika mengendurkan semua tali yang ada di rumah, persalinan akan berjalan lancar. Yang ini juga tak masuk akal. Yang benar, jika ibu menggunakan pakaian longgar (tanpa tali-tali yang mengikat), ia akan merasa lebih nyaman. “Sehingga kenyamanan tersebut membuatnya bisa rileks menjalani kehamilan dan menyambut kelahiran,” kata dr. Judi.

* Tabu jika sudah menyiapkan perlengkapan bayi sebelum bayi lahir. Ah, yang benar saja. Alangkah repotnya jika semua perlengkapan baru dibeli saat si kecil sudah lahir. Yang pasti, jangan terlalu boros dulu. Jadi, yang disiapkan hanya hal-hal yang benar-benar diperlukan dalam jumlah secukupnya.

* Jika ibu hamil senang bersolek maka bayinya yang bakal lahir, berjenis kelamin perempuan.Ini tak sepenuhnya benar. Memang, bawaan ibu hamil berbeda-beda. Ada yang lebih suka berdandan agar terkesan rapi. Ada yang malas bersolek karena perut gendutnya sudah cukup membuatnya repot dan kegerahan.

Yang jelas, laki-laki atau perempuan ditentukan oleh sperma ayah. Jika kromosom X dari sperma ayah bertemu dengan kromosom X dari sel telur ibu, maka bayinya dipastikan perempuan. Tapi jika kromosom Y dari sperma ayah bertemu dengan kromosom X dari sel telur, maka bayinya laki-laki.

* Jika bentuk perut ibu selama hamil meruncing, ia akan melahirkan bayi lelaki. Sementara jika bundar, yang akan lahir bayi perempuan. Ah, yang ini sih cuma kata nenek saja. Pada kehamilan pertama, perut cenderung membulat di atas. “Karena otot-otot dinding perut masih kuat sehingga mampu menyangga rahim,” papar dr. Judi. Sedang pada kehamilan berikutnya yang bertambah besar dan berat cenderung turun ke bawah. Ini disebabkan otot-otot dinding perut sudah mulai kendor dan tak terlalu baik menyangganya.

Bisa juga disebabkan posisi bayi. “Jika melintang, bisa dipastikan perut ibu melebar ke samping,” kata dr. Judi. Begitu pun jumlah cairan ketuban. Jika jumlahnya banyak, perut pun kelihatan lebih besar.

* Saat hamil jangan mengangkat jemuran dan jangan melakukan gerakan mengangkat. Konon jika ini dilakukan, tali pusatnya akan membelit di leher bayi.Yang benar, mengangkat barang-barang berat tentu saja tak dianjurkan bagi ibu hamil. Dikhawatirkan jika ia terlalu lelah, akan mempengaruhi janin dalam perutnya.

* Ibu hamil tak boleh makan dengan piring yang besar agar anaknya tak besar. Tentu saja ini sangat menggelikan. Mungkin saja jika makan dengan piring besar membuat ibu lupa pada porsi makannya sehingga akhirnya ia makan berlebihan. Dan tentu saja ini tak baik, karena akan membuat bayi terlalu besar.

Cara makan yang baik bagi ibu hamil adalah sedikit-sedikit tapi sering serta mengandung makanan 4 sehat 5 sempurna.

* Tak boleh makan menggunakan sendok besar, agar bibir si bayi mungil.Ini juga tak masuk akal. Mungil atau tidaknya bibir, juga bentuk mata, alis, hidung, bentuk wajah, rambut, dan sebagainya, akan mengikuti ayah atau ibunya. Atau kombinasi keduanya. Bahkan, dapat saja wajah atau rambut bayi mengikuti kakek-neneknya. Yang jelas, Tuhan tak pernah membuat dua manusia yang mirip seratus persen.

BERKAITAN DENGAN MAKANAN / MINUMAN

* Wanita hamil dianjurkan minum minyak kelapa (satu sendok makan per hari) menjelang kelahiran. Maksudnya agar proses persalinan berjalan lancar.Lo, kok, minum minyak? Minyak itu, kan, digunakan untuk menggoreng. Entah itu tempe atau kerupuk. Jangan percaya ah! Semua unsur makanan akan dipecah dalam usus halus menjadi asam amino, glukosa, asam lemak, dan lain-lain agar mudah diserap oleh usus.

* Jangan minum air es agar bayinya tak besar. Sebenarnya, yang menyebabkan bayi besar adalah makanan yang bergizi baik dan faktor keturunan. Minum es tak dilarang, asal tak berlebihan. Karena jika terlalu banyak, ulu hati akan terasa sesak dan ini tentu membuat ibu hamil merasa tak nyaman. Lagipula segala sesuatu yang berlebihan akan selalu berdampak tak baik. Begitu, bukan?

* Jangan makan ikan mentah agar bayinya tak bau amis. Bayi yang baru saja dilahirkan dan belum dibersihkan memang sedikit berbau amis darah. Tapi ini bukan lantaran ikan yang dikonsumsi ibu hamil, melainkan karena aroma (bau) cairan ketuban. Yang terbaik, tentu saja makan ikan matang. Karena kebersihannya jelas terjaga ketimbang ikan mentah.

* Jangan makan buah stroberi, karena mengakibatkan bercak-bercak pada kulit bayi.Ini jelas omong kosong. Tak ada kaitan bercak pada kulit bayi dengan buah stroberi. Yang perlu diingat, jangan makan stroberi terlalu banyak, karena bisa sakit perut. Mungkin memang bayi mengalami infeksi saat di dalam rahim atau di jalan lahir, sehingga timbul bercak-bercak pada kulitnya.

Hamil Di Atas Usia 40 Tahun

sumber : milist Sehat
Dear all,

Dari pengalaman teman saya, hamil di usia tua masih bisa-2 saja, tetapi
harus di test kan setelah kandungan usia 1 bulan, Bahwa nantinya bayi
yang lahir cacat atau tidak, jenis kelaminnya laki atau wanita juga bisa
di testkan. Testnya waktu itu ada di Thomson Hospital Singapore.

Masalah Miom sekaligus Hamil, juga bisa diangkat di RS yang sama, kalau
di Indonesia, mungkin keduanya akan diambil, tetapi di Singapore, dokter
bisa mengambil miom meski sebola tennis, dan hamil dilanjutkan, karena
kalau tetap ada miom, maka kehamilan akan sering terjadi gesekan dan
pendarahan.

Semoga bermanfaat

dulu waktu ibu saya hamil saya, umurnya juga diatas 40 tahun, padahal jaman
dulu pemeriksaan kesehatan mungkin gak secanggih dan gak selengkap sekarang,
dan alhamdulillah kami berdua baik2 saja.
di dokter kandungan, mungkin temen mbak prima akan dilakukan serangkaian
tes.. biasanya yang standar kan tes darah, TORCH.

Sedangkan pemeriksaan yang biasanya dianjurkan bila calon ibu berusia di
atas 35 tahun, adalah *Amiosentesis, *terutama untuk menentukan apakah janin
menderita sindroma Down atau tidak. Amniosentesis dilakukan dengan cara
mengambil cairan amnion melalui dinding perut ibu. Cairan amnion yang
mengandung sel-sel janin, bahan-bahan kimia, dan mikroorganisme, mampu
memberikan informasi tentang susunan genetik, kondisi janin, serta tingkat
kematangannya. Tes ini dilakukan pada minggu ke-16 dan 18 kehamilan. Sel-sel
dari cairan amnion ini kemudian dibiakkan di laboratorium. Umumnya
memerlukan waktu sekitar 24 sampai 35 hari untuk mengetahui dengan jelas dan
tuntas hasil biakan tersebut. dan tes ini available kok di Indonesia.

Meng-quote *Dr. dr. T. Z.Jacoeb, SpOG-KFER, *mengenai miom* :*
Berbeda dengan kista, miom yang satu rumah dengan janin, yaitu di rahim,
jelas tidak bisa diutak-atik. Miom adalah bungkus otot rahim yang berubah
menjadi tumor jinak. Istilah sederhananya daging-tumbuh di rahim. Miom
berbentuk keras tapi bisa juga mencair kalau suplai oksigen ke bagian itu
kurang. Jika operasi dilakukan terhadap miom, ibu hamil akan mudah
keguguran.

Selama kehamilan, miom tidak bisa diambil sembarangan kecuali yang bentuknya
bertangkai. Kalau memang kehadirannya tidak mengganggu fungsi tubuh seperti
mengganggu pernapasan, maka akan dibiarkan selama kehamilan. Nah, sekitar
tiga bulan setelah persalinan, perkembangan miom akan dilihat kembali. Jika
sudah semakin besar akan diambil dengan tindakan, entah dengan laparotomi,
yaitu pengambilan miom melalui bedah perut, atau tanpa pembedahan dengan
alat teropong saja yang disebut laparoskopi.

Prima
Tidak ingin hamil is beda dengan tidak boleh hamil lagi
Menilik usianya memang kehamilannya berisiko tinggi
tetapi kan bisa periksa amniocentesis nanti (baca mayo clinic)
Kalau miom mah .. wah buanyakkk banget perempuan punya miom (coba bropwsing fibroid)
nanti juga kempes sendiri
Miom hanya butuh diangkat kalau menyebabkan perdarahan

wati