Melompati Tahap Perkembangan


sumber : republika online

Anak Melompati Tahap Perkembangan Jangan Keburu Bangga

Bila tahapan motorik dasar anak tak dilalui secara berurutan, tak mungkin ia mencapai ke tahap yang rumit.

Hingga usia dua tahun, Dika masih belum bisa bicara. Setelah diperiksa dan diusut-usut, ternyata bocah lucu ini mengalami perkembangan yang belum lengkap. Sejak usia 10 bulan, ia sudah bisa berjalan. Tahap itu dicapainya tanpa pernah mengalami periode merangkak.

Apa hubungannya merangkak dan berbicara? Terapis wicara dari Instalasi Rehabilitas Medik (IRM) RS Dr Sardjito, Wuryanto Aksan melihat hubungan antara duanya. Namun, sebelum membicarakan hubungan itu, menurut dia penting memahami lebih dulu gangguan keterlambatan bicara.

Harus ada rangsangan
Gangguan keterlambatan bicara, jelas Wury, begitu sapaan Wuryanto, terjadi karena kemampuan me-recall masukan-masukan prabahasa atau bahasa dari lingkungan kurang sempurna. Akibatnya, anak jika hendak mengikuti bahasa di lingkungannya mungkin seperti bahasa robot. Atau, mungkin juga si anak melakukan pengulangan kata.

”Memang kesannya perbendaharaannya bagus, tetapi dia mengulang-ulang. Kemampuan me-recall yang kurang baik pada tumbuh kembang ini, karena kurang matangnya kemampuan sensorik, tidak terintegrasinya antara fungsi pendengaran, penglihatan dan rasa,” tutur dia.

Sebetulnya, kata Wury, kemampuan fungsi mendengar anak itu bisa diketahui sedini mungkin. Selain itu, anak sedini mungkin harus sudah mendapat rangsangan. Misalnya, dengan rangsangan suara, kita melihat apakah dengan adanya rangsangan sebelah kiri anak akan menengok ke kiri dan rangsangan sebelah kanan anak akan menengok ke kanan.

Setelah berusia sekitar enam minggu, anak sudah mulai memahami bunyi dan mengikuti asal bunyi tersebut dengan jelas. Misalnya, bila dirangsang dengan bunyi, ”kring…kring… kring”, anak akan menengok ke arah bunyi kring tersebut. ”Apabila anak tidak menengok ke arah bunyi ‘kring’ tersebut kemungkinan ada sesuatu,” tutur Wury.

Jangan bangga
Tahap-tahap perkembangan motorik, jelas Wury, akan mendukung perkembangan yang lain. ”Kita tidak boleh bangga dengan kecepatan motorik anak,” kata terapis wicara IRM RS Bethesda dan RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta ini.

Ia lantas mencontohkan, pada usia 10 bulan anak sudah bisa berjalan. Pada umur itu, seharusnya anak masih merangkak. Justru dengan kecepatan motorik kasar seperti itu, jelas Wury, keterampilan motorik, koordinasi motorik terlewati masa konsepsinya.

”Allah itu memberi bekal manusia berbentuk refleks sejak dia lahir. Mulai dari refleks mengisap akhirnya bisa minum susu,” ujar Wury. Refleks mengisap yang dilakukan oleh bibir, lidah, palatum, laring, pernapasan, akhirnya ke perut, itu ternyata dikonsepsi oleh memori gerak tersebut. Beberapa hari kemudian anak mulai sadar, bahwa dia kalau ngenyot tidak haus. ”Makanya reaksi anak dari nangis ngompol dan haus berbeda. Hal itu menunjukkan gerakan itu sudah terkonsepsi dengan baik.”

Selanjutnya, pada usia 3-4 bulan, anak mulai tengkurap dan di tempat tidur dia bisa bebas tengkurap lalu telentang berulang-ulang. Pada masa ini merupakan masa konsepsi gerak dasar. Namun, jika bayi yang tidak pernah diberi kesempatan seperti itu –karena dibiasakan diletakkan di kursi roda terus dan tidak pernah diberi kebebasan untuk tengkurap dan telentang sendiri secara leluasa– maka gerak bayi ini akan terbatas.

Lalu, apa dampaknya? Anak tidak mempunyai konsepsi motorik yang dasar, sehingga tidak bisa menyadari gerakannya harus bagaimana. Dalam perkembangannya, ungkap Wury, setelah anak bertambah usianya, hal itu akan memengaruhi pada kecerdasan emosi, kecerdasan mental. ”Mungkin nantinya anak secara kecerdasan IQ bagus, tetapi kecerdasan non EQ terhambat,” tambahnya.

Tahap demi tahap
Perkembangan gerak anak itu harus dilewati tahap demi tahap. Setelah anak tengkurap, lalu ia bisa mengangkat kepala, kemudian duduk, onggo-onggo, merangkak.

Wury menilai merangkak sebagai fase yang istimewa karena sangat kaya. Fase ini, kata Wury, charger di area otak kanan dan kiri. ”Kalau anak melalui fase itu dengan baik, maka konsepsi dari kematangan gerak tersebut (otak kanan, kiri, jembatan otak, otak kecil) akan lebih baik,” jelas dia.

Keadaan yang normal itu, menurut Wury, biasanya fase merangkak lebih lama dari fase perkembangan motorik yang lain. Alhasil, ia menyarankan orang tua agar tidak mengkhawatirkan si buah hati bila pada usia 11 bulan masih merangkak.

Yang penting, saran Wury, beri kebebasan anak berkembang sendiri, singkirkan benda-benda yang membahayakan, dan penuhi fasilitas yang mendukung kematangan geraknya. ”Insya Allah begitu mampu merambat, kemudian berdiri sendiri, jalan bisa lancar,” tutur dia.

Tahap-tahap motorik itu merupakan dasar kemampuan motorik-motorik yang lain. Jika keterampilan motorik dasar anak sudah matang, jelas Wury, maka motorik lain yang lebih rumit –yaitu untuk bicara– tinggal sedikit tahapnya.

Harus berurutan
Bila tahapan motorik dasarnya tidak dilalui secara berurutan, menurut Wury, tidak mungkin akan mencapai ke tahap yang rumit.

Itulah sebabnya, lanjut dia lagi, sewaktu anak berusia delapan bulan baru mampu ekolalia. Seandainya pun ada rangsangan ”ci luk ba!”, anak hanya akan berkata ”ha-ha”. Sebab, koordinasi motorik artikulasi yang lebih rumit ini belum tercapai dan konsepsi belum sampai. Mengapa? Motorik kasar si anak belum sampai pada tahap itu.

Tetapi begitu mencapai usia 10 bulan, dan anak sudah banyak merangkak, begitu ada rangsangan ”ci luk ba!” ia akan langsung menjawab ”ba!”. Itu berarti ada konsepsi motorik yang sudah matang.

Maka, pada usia 12 bulan, anak akan berkata-kata yang sebenarnya seperti papa, mama, dan sebagainya. Karena itu, misalkan pada anak ada keterlambatan bicara karena dari riwayat sektor motorik, maka harus ada program penanganan yang mengikuti tahap-tahap perkembangan itu.

Oleh karena itu, jelas Wury, stimulasi untuk anak yang mengalami keterlambatan misalnya keterlambatan bicara dikemas agar ia mau melakukan latihan-latihan kematangan motorik. Misalnya, anak diajak bermain kuda-kudaan dan dengan bercanda berkumpul, anak diajak merangkak. Karena itu pula, di dalam stimulasi motorik ada salah satu materi berupa terapi merangkak.

(nri )

4 thoughts on “Melompati Tahap Perkembangan

  1. apakah mutlak akan ada efek yang terjadi apabila anak tidak melalui fase merangkak? apakah tidak ada pengecualian? bagaimana cara mengatasinya apabila ternyata kita baru mengetahui hal ini padahal sang anak sendiri kini sudah berusia 2 tahun?
    Trims

  2. @avivah, kalo anak udah keburu jalan dan ga merangkak jangan bersedih dulu. bisa diajarin merangkak setelah berjalan jd sering stimulasi dgn cara main kuda2an sambil merangkak atau sering berenang.. yg penting saraf2 motoriknya bergerak semua. karena waktu merangkak itu kan saraf2 motoriknya bergerak bertumpu di lutut waktu jalan bertumpu ditelapak kaki..

  3. anak saya pada usia saat ini 18 bulan masih biasa merangkak walau sudah jalan. dan belum berbicara dengan jelas, apakah ini normal?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s