Temper Tantrum 4


Temper Tantrum

Pernahkah Anda melihat anak mengamuk, menangis kencang sampai berguling-guling di tempat umum dan tingkah lain yang semakin membuat orang jengkel melihatnya hanya karena keinginannya tidak dipenuhi? Jika Anda mendapati atau malah anak Anda sendiri yang berperilaku demikian, keadaan inilah yang dinamakan temper tantrum.

Gambar diambil dari sini

Temper tantrum atau suatu letupan amarah anak sering terjadi pada anak berusia 2 sampai 3 tahun, ketika anak memperlihatkan sikap mandiri dan sikap negatifnya. Ekspresi yang ditunjukkan memang berbeda antara anak yang satu dengan anak lainnya. Selain yang telah disebutkan di atas, kadang anak dapat menjerit keras disertai tangisan, memukul-mukul tanah, menyepak-nyepak apa yang ada di dekatnya, bahkan terkadang ada yang sampai muntah dan kencing di celana.

Perilaku tersebut merupakan suatu ketidaknormalan yang terjadi pada anak. Seharusnya anak yang berusia 2 sampai 3 tahun tidak mengalami hal itu. Sebab pada usia itu anak sudah mulai bisa diajak berkomunikasi dengan baik, mau mendengarkan dan bisa menurut. Bila sampai terjadi demikian kemungkinan ada yang tidak beres pada pola asuh orangtua terhadap anak.

Jika kemarahan anak semakin tidak terkendali, maka orang tua adalah pihak yang paling repot dan bertanggung jawab untuk menenangkan si anak. Kadang orang tua hilang kesabaran, memarahi anak hingga melakukan tindak kekerasan dan menyakiti anak. Tindakan ini bukannya membuat anak menjadi tenang dan diam dari tangisnya. Tetapi kemarahan si anak justru semakin menjadi-jadi dan sulit diredakan.

Orang tua sendiri agaknya tidak mengerti bahwa sebenarnya anak hanyalah tidak mengetahui bagaimana cara mengekspresikan kemarahan secara wajar. Padahal dalam perkembangan selanjutnya, anak usia 3 – 5 tahun seharusnya sudah mampu membedakan yang baik dan yang buruk. Begitu pula dalam hal mengekspresikan emosinya, anak seharusnya mengetahui bahwa melampiaskan kemarahan secara berlebihan di tempat umum adalah tidak baik.

Mengapa perilaku temper tantrum dapat terjadi pada anak? Ada berbagai faktor penyebab yang mempengaruhi anak sehingga anak tak mampu mengendalikan emosinya. Diantaranya adalah faktor fisiologis, faktor psikologis dan faktor orang tua si anak dan faktor lingkungan.

Penyebab fisiologis dapat muncul ketika anak merasa terlalu lelah, capek karena bermain, mengantuk berat, kelaparan atau ketika anak sedang sakit. Pada saat ini anak menjadi kesal karena kebutuhannya tidak terpenuhi sedangkan si anak belum mampu mengungkapkannya secara lisan kepada orang tua. Emosi anak memuncak ketika orang tua tidak mampu memahami apa yang dibutuhkannya. Akhirnya anak menjadi marah, menangis dan mengamuk sejadi-jadinya.

Penyebab psikologis dapat terjadi dikarenakan anak mengalami kegagalan dalam melakukan sesuatu dan menjadi emosi akibat kegagalan tersebut. Keadaan ini dapat menjadi makin parah jika orang tua atau keluarga si anak selalu membandingkan kemampuan anak dengan orang lain. Demikian juga orang tua yang memiliki tuntutan tinggi terhadap anaknya harus bisa begini, harus bisa begitu akan memicu kejengkelan dan berbuntut pada kemarahan yang tidak terkendali.

Faktor orang tua juga berpengaruh terhadap temper tantrum anak. Kerap terjadi dalam sebuah keluarga manakala anak sering ditolak atau dimarahi ketika menginginkan sesuatu. Misalnya orang tua memaksa anak melakukan sesuatu saat ia sedang asyik bermain dan harus meninggalkan permainannya, entah untuk minum susu, makan atau hal lain. Orang tua mungkin mengira bahww ini bukan suatu masalah namun ternyata malah menjadi masalah di kemudian hari. Anak akan merasa bahwa ia tak berani melawan kehendak orang tuanya, sementara ia sendiri harus menuruti kehendak orang tua. Ini akhirnya menjadi sebuah konflik dan emosi terpendam dalam diri anak yang akan meledak pada suatu saat.

Selain ketiga faktor di atas, faktor lingkungan juga turut berperan dalam menciptakan temper tantrum pada anak. Lingkungan keluarga maupun lingkungan luar rumah sama besar pengaruhnya. Yang paling sering terjadi adalah ketika si anak melihat orang tuanya mengungkapkan kemarahannya secara negatif. Kemarahan yang tak terkendali dari orang tua dengan cara mengamuk, membentak-bentak, membanting, merusak barang di sekitarnya di hadapan si anak akan terekam secara kuat dan membayangi pikiran anak.

Di samping itu terkadang anak juga menjadi sasaran kemarahan orang tua yang disebabkan bukan karena kesalahan anak. Misalnya pertengkaran antara suami istri, maka kemarahan dilampiaskan pada anak. Anak yang disalahkan dan anak pula yang menjadi korban kemarahan kedua orang tuanya. Hal ini akan berakibat tidak baik bagi perkembangan anak. Terlebih lagi di lingkungan luar rumah. Anak yang terbiasa melihat tetangga marah-marah dengan cara tidak wajar akan mempengaruhi perkembangan emosi anak pula.

Bagaimana cara mencegahnya?

Temper tantrum dapat dicegah dengan cara sederhana dan bijaksana. Misalnya dengan memberi kesempatan pada anak untuk bermain dan mengekspresikan keinginannya secara wajar. Jika belum mampu mengungkapkan secara lisan usahakan agar anak mampu mengungkapkan dengan isyarat. Orang tua harus memahami apa yang menjadi kebutuhan anak, jangan terlalu mengekang namun berikan kepercayaan bahwa anak mampu bermain dan bergaul dengan baik.

Kemampuan anak dalam mengungkapkan keinginan baik dengan isyarat maupun lisan bisa dilatih sedikit demi sedikit. Dan ketika anak sudah terlatih dalam hal ini, maka insya Allah temper tantrum tidak akan terjadi. Begitu juga saat anak sudah bisa diajak berkomunikasi, berikan pengertian dan penjelasan kepada anak dari hati ke hati. Berbicara dengan ucapan yang lembut dan tegas akan membuat anak tenang dan tidak merasa seperti dimarahi. Anak yang sudah terbiasa berkomunikasi dengan baik biasanya mudah mengerti dan memahami.

Namun bila suatu anak kita mengalami temper tantrum di tempat umum, hal yang mesti dilakukan adalah menjaga emosi. Mungkin kita akan merasa malu dilihat oleh banyak orang, tapi bertindak gegabah dan memarahi anak dengan emosi tidak terkendali akan membuat kita lebih malu lagi. Dan tindakan ini justru tidak baik bagi perkembangan emosi anak.

Orang tua yang sering marah dan mengamuk di hadapan anak akan menjadi model tukang ngamuk bagi si anak dalam perkembangan emosinya.

One thought on “Temper Tantrum 4

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s