Bila Anak Tantrum


sumber : http://www.ibudananak.com/index.php?option=com_news&task=view&id=190&itemid=19

Bila si Kecil Tantrum

Seringkali orangtua terkaget-kaget dengan prilaku ini. Bagaimana tidak? Selama ini, si kecil selalu manis, penurut, jarang sekali rewel, pendeknya gampang diurus. Tiba-tiba setelah ulang tahun keduanya, atau bahkan lebih cepat lagi (16 bulan), anak jadi mudah mengamuk untuk hal-hal yang, menurut orangtua, mungkin sepele.

Ekspresi marah yang nyaris histeris ini dikenal dengan istilah temper tantrum. Tantrum bisa muncul kapan saja dan dimana saja. Tak peduli di rumah, dalam perjalanan ataupun ditengah keramaian. Tak ayal ini membuat orangtua ’lumayan’ kalang-kabut. Daripada bingung terus menerus- yang malah akan berujung stress- dengan perilaku ini, lebih baik orangtua menyisihkan waktu untuk sedikit mempelajari seluk beluk tantrum.

Temper tantrum (atau yang sering disebut dengan tantrum saja) adalah luapan emosi yang meledak-ledak dan tidak terkontrol. Manifestasi tantrum ini beragam, mulai dari (hanya) merengek dan menangis saja, menjerit-jerit, mengguling-gulingkan badan di lantai, menendang, memukul, mencakar, bahkan ada yang sampai beraksi menahan nafas. Tantrum sering muncul pada anak usia 1 hingga 3 tahun, meskipun tidak selalu berarti perilaku ini akan menghilang dengan sendirinya setelah anak mencapai usia 3 tahun. Biasanya, tantrum ini berlangsung selama 30 detik sampai 2 menit dan intensitas tertinggi terjadi pada 30 detik pertama.

Mengapa Anak Tantrum?
Sesungguhnya tantrum adalah bagian dari perkembangan anak. Ini memang suatu fase normal yang dilalui oleh semua anak. Bahkan anak-anak yang ’paling baik’ sekalipun, sekali waktu juga pernah tantrum. Menurut pakar psikologi anak, temperamen anak juga mempengaruhi kecenderungan tantrum. Anak yang bertemperamen ’sulit’ cenderung mudah tantrum.

Sesekali, sebagai orangtua, Anda perlu juga memandang ’dunia’ ini dari sudut pandang anak. Seiring dengan pertambahan umurnya, anak semakin memahami lingkungannya. Mereka tahu bahwa ada banyak sekali pilihan di sekelilingnya. Di mata anak, semuanya menarik sehingga mereka ingin memiliki atau menguasai semuanya. Tak seperti orang dewasa, anak-anak (batita dan balita) memiliki keterbatasan dalam mengendalikan maupun menyalurkan emosinya. Maka, ketika keinginannya tak terpenuhi, mereka menyalurkan rasa frustasinya lewat satu-satunya cara yang ia kuasai benar, tantrum!
Memahami faktor-faktor pemicu tantrum adalah ’bekal’ orangtua untuk menyikapi perilaku ini dengan kepala dingin.
Tak mampu mengungkapkan keinginannya – Umumnya anak usia batita memiliki keterbatasan bahasa. Tapi, meski kosakatanya belum banyak, anak usia 1 tahun telah memahami banyak hal, lho! Pemahamannya melebihi kemampuan verbalnya. Coba Anda bayangkan, bagaimana jika orang yang Anda ajak komunikasi tak kunjung mengerti maksud Anda? Seperti itulah yang dirasakan si kecil. Biasanya, tantrum akan berkurang seiring dengan meningkatnya kemampuan bicara anak.
Terhalangnya keinginan untuk mandiri – Anak usia batita mulai tumbuh rasa kemandiriannya. Mereka ingin dan merasa bisa melakukan berbagai hal yang dilakukan oleh orangtuanya. Ketika Anda melarangnya, maka ia menyalurkan rasa frustasinya melalui tantrum.
Tak mampu menguasai/melakukan suatu hal – Anak bisa frustasi karena tak berhasil melakukan sesuatu hal yang ia anggap mampu lakukan. Misalnya, tak berhasil membuka kancing bajunya sendiri, atau tak bisa membuka tutup botol.
Ditolak permintaannya – ini yang sering terjadi di toko atau supermarket, ketika Anda tak mengabulkan permintaan anak.
Lelah, lapar dan/atau merasa tak nyaman – anak cenderung mudah ’meledak’ ketika mereka merasa lelah, lapar atau tidak nyaman.
Mencari perhatian – kadangkala anak tantrum untuk menarik perhatian orangtuanya. Dorothy Einon, seorang pakar perilaku anak di Inggris mengatakan, anak tidak akan tantrum dengan orang yang tidak ia cintai.
Suasana hatinya memang sedang burukBad mood bukan monopoli orang dewasa, anak batita juga bisa, lho! Bukan tak mungkin si kecil terbangun di pagi hari dengan suasana hati yang kurang baik, dan tetap seperti itu sepanjang hari. Kalau sudah begini, lebih baik Anda bersiap-siap jika sewaktu-waktu terjadi ’ledakan’.

Iklan

3 thoughts on “Bila Anak Tantrum

  1. Mbak, trims ya artikelnya yang ini. 2 hari ini Syamil, 13 bulan, sudah mulai nunjukin tantrum. Aq sampai terkaget-kaget qo cepet banget, entah ini dah masuk tantrum atau belum. Misalnya sedang asyik maen dan qta komentari walopun dgn komentar positif dia langsung nangis n lemparin mainan itu. Heheh, maaf ya ngasih comment qo malah curhat 🙂

  2. mba mo nanya yah, Klo hasnaa 24 bln, mulai ngamuk 2 mingguan ini, tapi di waktu2 yang cuma ada saya ( saya bekerja ), jika sabtu- minggu, dia bisa mengamuk di pagi/siang/ sore / malem, tapi klo hari kerja pasti selepas tengah malam s/d subuh adalah waktu dimana dia akan mengamuk, dan anehnya lagi itu terjadi di tengeh2 waktu tidurnya dia, tiba2 nagis jejeritan dan mulai meukul siapa saja yang dekatin dia, apakah ini juga bisa di sebut tantrum?
    Saya sampai kelelahan sekali…
    walah… curhatnya lebih panjang..;p

  3. mbak, mau nanya nih..
    apakah usia 8 th masih bisa tantrum? krn justru anakku baru mulai berperilaku begini belakangan ini aja. pikirku mungkin krn tugas sklh & les2 terlalu banyak di waktu yg sempit, jadi dia mulai kehilangan waktu baca & main.
    gimana menyiasatinya ya?

    thanks buat inputnya 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s