Alternatif Anak Hiperaktif


sumber : http://sehat-bugar.blogspot.com/2007/09/sehat-digest-number-7728.html

Alternatif buat Anak Hiperaktif

Keceriaan Bu Santi tiba-tiba memudar. Putranya, Reza (2 th) tiba-tiba berubah. Semula perubahan itu dianggap lumrah. Sejak kecil putra pertamanya itu begitu aktif dan tak mau diam. Melihat kegesitan anaknya, Bu Santi senang dan tenang saja. Bahkan, dengan bangga ia menceritakan tingkah laku anaknya kepada para tetangganya. “Si Reza itu calon aktivis. Lihat, usianya belum sampai dua tahun, tapi kelakuannya itu lho. Kemarin, pagar rumah saya kunci dari dalam, eh malah dia manjat..” ujar Bu Santi bangga.

Namun, sejak putra sulungnya itu jatuh dari meja makan dan hampir kesetrum karena memegang stop kontak listrik, Bu Santi jadi banyak berpikir. Dibanding teman-teman seusianya, Reza sepertinya mengalami kelainan. Ia seperti kelebihan tenaga, tak bisa duduk berlama-lama dan sering berteriak-teriak memberikan jawaban sebelum ditanya. Yang membuat sang ibu kesel, anaknya suka mengganggu anak-anak lain. Dari salah seorang psikolog anak, diketahui bahwa si Reza mengalami gejala hiperaktif.

Tak sedikit orangtua yang mempunyai pengalaman seperti Bu Santi. Kebanggaan mempunyai anak gesit, tangkas dan lincah perlahan pudar berganti dengan kecemasan. Sikap anaknya yang tidak bisa diatur dan sering melakukan tindakan-tindakan di luar kontrol, tentu membuat orangtua cemas.Gejala seperti yang dialami Reza termasuk gejala hiperaktivitas motorik yang biasa dikenal dengan Attention Deficit Hiperactivity Disorder (ADHD). Gejala ini biasa menjangkiti 3%-5% anak berusia 4-14 tahun. Namun, sejak usia di bawah dua tahun gejalanya sudah mulai
kelihatan. Bahkan, menurut Seto Mulyadi, pakar pendidikan anak yang biasa disapa Kak Seto, gejala hiperaktif sudah kelihatan sejak bayi. “Ia menangis terus tak mau berhenti. Menarik perhatian orangtua di tengah malam dengan menangis keras-keras,” ujar Kak Seto. Nah, masih menurut Kak Seto, anak hiperaktif mengalami puncaknya pada usia 4-5 tahun.

Namun, walaupun tampak beberapa keganjilan, tak perlu buru-buru memvonis sangat anak hiperaktif. “Banyak anak yang kreatif dan aktif tapi tidak hiperaktif. Bahkan, mungkin anak berbakat dan jenius. Boleh jadi nantinya seperti Thomas Alfa Edison atau Einstein,” papar Kak Seto.

Untuk dapat disebut memiliki gangguan ADHD, minimal ada tiga gejala utama yang tampak.

Pertama, inatensi atau kurangnya kemampuan anak untuk memusatkan perhatiannya terhadap sesuatu. “Bahkan hanya sekadar konsentrasi 2-3 menit pun dia tidak bisa. Konsentrasinya sangat mudah berubah-ubah,” tambah Kak Seto.

Kedua, hiperaktif. Biasanya sang anak seperti kelebihan tenaga. Ia tak mau diam, selalu berlari kesana kemari, dan cenderung banyak bicara dan menimbulkan suara berisik.

Ketiga, impulsif. Gejala ini ditandai dengan kesulitan anak untuk menunda respon. Ada semacam dorongan untuk melakukan sesuatu tanpa kendali. Biasanya, sang anak menjadi tidak sabar menunggu orang menyelesaikan pembicaraan. Ia akan menyela atau buru-buru memberikan jawaban. Anak juga tak bisa menunggu giliran, antri misalnya. Ia akan cepat marah dan mudah tersulut emosi. Karenanya, sang anak akan berpotensi tinggi melakukan aktivitas membahayakan, baik bagi dirinya atau orang lain.

Anak bisa disebut hiperaktif kalau ketiga gejala itu sudah berlangsung minimal 6 bulan dan terjadi sebelum anak mencapai dewasa.

Menurut Dokter Zakiudin Munasir, Sp A (K), staf pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, secara umum penyebab anak hiperaktif ada dua. Yaitu, (secara medis) karena kelainan organik di susunan sarafnya dan (secara psikologis) karena kelainan tingkah laku. Kelainan organik bisa disebabkan banyak hal. “Bisa karena trauma pada sesuatu, karena benturan di salah satu anggota tubuhnya,
atau tumor di otak,” papar Zaki. Jadi, karena adanya kerusakan kecil pada sistem saraf pusat dan otak menyebabkan rentang konsentrasi menjadi sangat pendek dan sulit dikendalikan.

Secara psikologi bisa disebabkan lingkungan, baik keluarga atau teman bermain. Orangtua yang kurang perhatian dan membiarkan anaknya melakukan apa saja, bisa membuat anak hiperaktif. Gejalanya sama saja. “Yang membedakan adalah penyebabnya,” tambah Dokter Zaki.

Karenanya, menurut Sydney Walker III, Direktur Institut Neuropsikiatris California Selatan, dalam bukunya Hyperactivity Hoax, kesalahan mendasar dalam penanganan hiperaktif adalah memandangnya sebagai suatu diagnosa. Padahal hiperaktif bukanlah suatu penyakit, melainkan sekumpulan gejala yang dapat disebabkan oleh beragam penyakit dan gangguan.

Ia memberikan contoh, pusing. Pusing bukanlah penyakit tetapi suatu gejala. Ia bisa merupakan gejala influenza. Juga bisa disebabkan terlambat makan, tekanan darah yang terlalu tinggi atau terlalu rendah. Atau, bahkan bisa merupakan gejala tumor otak. Karenanya, memberikan satu obat yang sama untuk semua gejala pusing, jelas tak akan menyelesaikan masalah, bahkan dapat memperburuk kondisi pasien.

Begitu juga dengan hiperaktif. Tidaklah tepat bila memberikan obat atau pendekatan yang sama kepada semua anak yang mengalami hiperaktif tanpa memahami lebih dulu penyakit atau gangguan yang melatarbelakanginya. Karenanya, menurut Dokter Zaki, dalam pengobatan hiperaktif, biasanya dipastikan dulu, apakah karena kelainan organik atau tidak. Proses ini bisa melalui berbagai prosedur pemeriksaan, seperti otak direkam otak discan.

Menurut Sydney Walker III, hiperaktif bisa muncul kerena efek adanya infeksi bakteri, cacingan, keracunan logam dan zat berbahaya (Pb, CO, Hg), gangguan metabolisme, gangguan endoktrin, diabetes, dan gangguan pada otak. Dengan mengatasi penyakit atau gangguan yang melatarbelakanginya, maka hiperaktivitas pun dapat tertanggulangi.

Penyakit keturunan seperti turner syndrome, sickle-cell anemia, fragilex, dan marfan syndrome juga dapat menimbulkan hiperaktif. Karenanya, hiperaktif bisa juga ditemukan dalam garis keturunan. Bukan hiperaktifnya yang diturunkan, tapi penyakit yang bisa menyebabkan hiperaktif.

Secara psikologis, hiperaktif adalah dampak dari pola hidup yang kurang disiplin. Tanpa kedisiplinan yang konsisten, akhirnya mereka tumbuh menjadi anak-anak yang malas, sembrono, sulit mengendalikan diri, dan mematuhi peraturan.

Untuk menghadapi anak seperti ini orang tua membutuhkan kombinasi antara “ketegasan” dan “pengalihan perhatian”. Misalnya, dalam kasus anak bermain stop kontak. Meskipun dilarang dengan mengatakan “jangan” tetap saja iamelakukannya. Mengapa? Karena anak kecil belum memiliki cara berpikir yang fleksibel. Karenanya, ia harus diberikan permainan alternatif agar tidak main stop kontak. “Jangan anaknya yang diubah, tapi lingkungannya,” pesan Kak Seto.

Sebagian besar anak-anak hiperaktif mendapat perawatan medis berupa obat-obatan stimulan. Stimulan dipercaya dapat meningkatkan produksi dopamine dan norepinephrine, yaitu neurotransmiter otak yang penting untuk kemampuan memusatkan perhatian dan mengontrol perilaku. Ritalin dengan kandungan methylphenidate adalah salah satu stimulan yang paling banyak diresepkan.

Sementara mengonsumsi stimulan, anak akan mengikuti terapi dan modifikasi perilaku. Setelah terapi dan modifikasi perilaku membuahkan hasil, dosis stimulan akan dikurangi secara bertahap sampai akhirnya lepas obat sama sekali.

Di sisi lain, banyak juga pihak yang menentang pendekatan ini. Salah satunya adalah gerakan Alternative Mental Health di Amerika. Mereka memandang stimulan lebih banyak mendatangkan kerugian daripada manfaat. Para pakar yang bergabung dalam gerakan ini dengan giat melakukan penelitian tentang peranan nutrisi, diet, dan herbal untuk mengatasi hiperaktif.

Alasan yang lebih masuk akal dikemukakan Sydney Walker III yang juga menentang penggunaan stimulan. Sydney mengingatkan, bahwa hiperaktif adalah sekumpulan gejala yang dilatarbelakangi beragam penyakit dan gangguan, sehingga tidaklah tepat menyamaratakan penanganannya. Lebih lanjut ia menyatakan bahwa belum ada penelitian tentang efek jangka panjang stimulan.

Bahkan, Sydney mulai melihat kecenderungan anak-anak yang mengonsumsi stimulan tertentu lebih mudah menjadi pecandu narkoba di usia dewasa. Selain struktur biokimia-nya yang mirip dengan kokain, konsumsi stimulan membuat anak-anak terbiasa mencari jalan keluar yang instan.

Kurt Cobain-penyanyi grup Rock Nirvana yang tewas bunuh diri-diangkat oleh Sydney sebagai contoh anak hiperaktif yang mendapatkan penanganan yang salah. Ia terjerat narkoba sampai akhir hayatnya.

Apa pun bentuk penanganannya yang perlu diperhatikan adalah menerima dan memahami kondisi anak. Orangtua perlu memahami bahwa tingkah laku si anak yang tidak pada tempatnya didasari oleh keterbatasan dan gangguan yang ia alami.

Bukan berarti orangtua dan pendidik lantas mengabaikan kedisiplinan, melainkan anak dibantu untuk memenuhi peraturan. Misalnya, agar anak dapat menyelesaikan tugas pada waktunya, bagilah tugas ke dalam beberapa bagian kecil (beberapa nomor), tetapkan pula batas waktunya dengan jelas. Usahakan agar ruang belajar bebas dari gangguan, seperti suara, pernak-pernik maupun orang-orang yang hilir mudik. Menempatkan anak di barisan paling depan dan memberikan tepukan
lembut juga dapat membantunya untuk memusatkan perhatian.

Berbagai tips praktis di atas, tentu saja tak kan bermanfaat, bila penyebab dasarnya belum teridentifikasi. Untuk itu diperlukan kerja sama tim yang terdiri dari dokter, dokter spesialis, psikolog, psikiater, guru dan orangtua dalam proses identifikasi. Setelah masalah teridentifikasi dengan jelas, program penanganan dapat
dirancang dengan akurat.

Pada beberapa kasus, anak-anak dengan gangguan ini membutuhkan terapi, seperti terapi remedial, terapi integrasi sensori, maupun terapi lain yang sesuai dengan kebutuhannya. Pusat-pusat terapi semacam ini telah banyak berdiri, meskipun terbatas di kota-kota besar di Indonesia.

Ketekunan, konsistensi, kerja sama dan sikap mau mengubah diri sangatlah dituntut dari pihak orangtua dan pendidik. Di atas itu semua, doa dan kasih sayang yang tulus, menduduki urutan pertama dalam mengatasi masalah anak. Jadi, hiperaktif bukanlah masalah tanpa alternatif jalan keluar.

Tips buat Orang tua
——————-
Berikut beberapa tips yang bisa dilakukan orangtua saat mendapati
anaknya hiperaktif.

1.Untuk mengatasi anak hiperaktif, orangtua harus sabar, konsisten dan tegas dalam menerapkan norma dan tugas. Kalau anak tak bisa diam, coba pegang kedua tangannya dengan lembut, kemudian ajaklah untuk duduk diam. Hal ini penting sekali untuk melatih anak disiplin dan berkonsentrasi pada satu pekerjaan.

2.Setelah bisa duduk lebih lama, bimbinglah anak untuk melatih koordinasi mata dan tangan dengan cara menghubungkan titik-titik yang membentuk angka atau huruf.

3.Selanjutnya anak bisa diberi latihan menggambar bentuk sederhana dan mewarnai. Latihan ini sangat berguna untuk melatih motorik halusnya.

4.Selain itu bisa juga mulai diberikan latihan berhitung dengan berbagai variasi penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian. Mulailah dengan penjumlahan atau pengurangan dengan angka-angka di bawah 10. Setelah itu baru diperkenalkan konsep angka “0” dengan benar.

5.Berilah pujian setiap anak berhasil melakukan sesuatu dengan benar. Tujuannya untuk meningkatkan rasa percaya diri anak.

6.Jangan menghukum anak. Hiperaktif bukan kesalahannya.

7.Jangan sekali-kali melabel anak hiperaktif sebagai anak nakal, malas atau bodoh. Karena ia akan bersikap seperti yang dilabelkan padanya.

8.Keefektifan terapi berbeda-beda bagi tiap anak. Orang tua harus menentukan terapi yang terbaik bagi anak.

9.Yang terpenting, berikan kasih sayang, bukan memanjakannya melebihi saudara lainnya.

4 thoughts on “Alternatif Anak Hiperaktif

  1. Saya mulai sedikit cemas ketika anak saya Danish (22 bln) pada waktu itu menginjak usia 15 bulan, ketika itu ia bergabung pada sekolah bermain di dekat rumahnya. Awalnya saya senang melihat danish yang begitu aktif mengikuti kegiatan bermainnya disana, tetapi lama-kelamaan saya perhatikan ada yang ganjil dari perilaku dia. Seperti: bila gurunya menginstruksikan kepada anak-anak untuk melakukan permainan lingkaran dia cepat bosan, dan sebelum permainan berakhir dia sudah keluar dari arena permainan tersebut, dan asik mengeksplorasi permainan yang ada disana. Terus terang di usia sekarang ini danish belum lancar bicaranya, bahkan kata-kata dalam kesehariannya belum banyak ia kuasai. Saya semakin cemas…Akhirnya saya memutuskan untuk segera membawa dia terapi ditumbuh kembang di RSIA dekat rumah. Ternyata benar diagnosa tim dokter disana Danish dinyatakan ada gangguan hiperaktif. Saya merasa menyesal mengapa tidak saya terapi waktu dia masih berusia 15 bulan, supaya dapat dikendalikan lebih cepat. Tetapi tim dokter dan para terapis disana membesarkan hati saya untuk tidak berkecil hati, karena menurut mereka saya belum dikatakan terlambat, hitungannya karena danish masih di bawah 2 tahun. Sekarang saya lebih sangat memerhatikan Danish dalam setiap kegiatannya, mulai dari makan paginya, bermainnya sampai tidurnya pun saya perhatikan. Memang kalau diperhatikan perilaku Danish tidak seheboh anak-anak hiperaktif lainnya, yang suka membuat onar, jahil atau mengganggu teman-temannya. Danish masih bisa diajak bicara baik-baik dan menurut bila saya perintahkan sesuatu kepadanya, dan bila saya ajak untuk bergabung dengan teman sebayanya didekat rumah dia masih menunjukkan sosialisasi dan perilaku yang baik meskipun dia belum lancar komunikasinya. Tetapi sebagai seorang ibu tentunya pasti menginginkan anaknya tumbuh dan berkembang lebih baik, apalagi Danish adalah putri pertama kami, tentunya banyak harapan yang baik kami inginkan darinya. Jadi sebagai ibu muda saya ingin sekali mendapat banyak masukan-masukan yang berguna bagi perkembangan anak saya agar di kehidupan yang akan datang lebih berguna dan bermanfaat hidupnya. Amien…

  2. trims infonya, anak saya dharma (2,6th)tdk pernah bisa diam (hiperaktif)tp dia cerdas dan selalu bertanya kpd orng sekeliling apa saja hal2 baru yg blm dia ketahui,dia suka bernyanyi kl udah denger musik tidak mau diganggu, dia jg suka main air,kl didiamkan dia bisa berlam2 main air,suka bergaul dg siapapun anak2,dewasa maupun orang tua,selalu ada aja yg dia kerjakan untuk menarik perhatian orang kdng suka overakting di depan orang yg baru dikenalnya.apakah dharma termasuk anak hiperaktif karena dia tidak bisa diam,aktif geerak ksan kemari.trims.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s