6 Konsep Penting Motivasi Belajar

Assembling classroom test and assessment »
Motivasi Belajar

Februari 12, 2009 oleh gulit1
sumber :http://gulit1.wordpress.com/2009/02/12/motivasi-belajar/

Pertama
Motivasi belajar adalah proses internal yang mengaktifkan, memandu dan
mempertahankan perilaku dari waktu ke waktu. Individu termotivasi
karena berbagai alasan yang berbeda, dengan intensitas yang berbeda. Sebagai
misal, seorang siswa dapat tinggi motivasinya untuk menghadapi tes ilmu sosial dengantujuan mendapatkan nilai tinggi (motivasiekstrinsik) dan tinggi motivasinya menghadapi tes matematika karena tertarik dengan mata pelajaran tersebut (motivasiintrinsik)

Kedua
Motivasi belajar bergantung pada teori yang menjelaskannya, dapat
merupakan suatu konsekuensi dari penguatan (reinforcement), suatu ukuran
kebutuhan manusia, suatu hasil dari disonan atau ketidakcocokan, suatu atribusi
dari keberhasilan atau kegagalan, atau suatu harapan dari peluang keberhasilan.Ketiga
Motivasi belajar dapat ditingkatkan dengan penekanan tujuan-tujuan
belajar dan pemberdayaan atribusi.

Keempat
Motivasi belajar dapat meningkat apabila guru
membangkitkan minat siswa, memelihara rasa ingin tahu mereka,
menggunakan berbagai macam strategi pengajaran, menyatakan
harapan dengan jelas, dan memberikan umpan balik (feed back) dengan
sering dan segera.

Kelima
Motivasi belajar dapat meningkat pada diri siswa
apabila guru memberikan ganjaran yang
memiliki kontingen, spesifik, dan dapat dipercaya.

Keenam
Motivasi berprestasi dapat didefinisikan sebagai kecendrungan umum untuk
mengupayakankeberhasilan dan memilih kegiatan-kegiatan yang berorientasi pada
keberhasilan/kegagalan. Siswa dapat termotivasi dengan orientasi ke arah tujuan-tujuan
penampilan. Mereka mengambil mata pelajaran-mata pelajaran yang menantang. Siswa
yang berjuang demi tujuan-tujuan penampilan berusaha untuk mendapatkan
penilaian positip terhadap kompetensi mereka. Mereka berusaha untuk mendapat
nilai baik dengan cara menghindar dari mata pelajaran yang sulit. Guru
dapat membantu siswa dengan mengkomunikasikan bahwa
keberhasilan itu mungkin dicapai. Guru dapat menunggu siswa
menjawab pertanyaan-pertanyaan dan sejauh mungkin menghindari pembedaan
prestasi di antara para siswa yang tidak perlu.

AGAR RIANG “BERSEKOLAH”

sumber : tabloidnakita.com

Di usia yang belum genap tiga tahun memang tak mudah mengajak anak “bersekolah” di Kelompok Bermain (KB). Ada yang dari awal sudah angot, ada yang sempat masuk sebentar lalu bosan, ada juga yang mau “sekolah” tapi harus ditunggui terus di dalam kelas. Apa yang dilakukan para orangtua dan apa kata Santi Gunawan, seorang guru pada lembaga pendidikan prasekolah, Kinderfield.
DARI AWAL LANGSUNG MOGOK
“Waktu saya masukkan ke KB, usia Nadia baru 2 tahun. Saat trial dan observasi awal, sepertinya dia senang, karena memang ruangannya penuh dengan alat bermain. Akhirnya saya putuskan untuk memasukkannya ke KB itu. Saya lihat selain fasilitasnya lengkap, lokasi sekolahnya ramah anak, guru-gurunya pun kelihatan sabar dan mempunyai latar belakang sebagai pendidik. Rasanya semuanya ideal. Tapi apa mau dikata, hari pertama masuk kelas, Nadia langsung nangis kenceng. Dia benar-benar tidak mau lepas dari gendongan saya. Bahkan gantian dipangku pengasuhnya pun enggak mau. Gurunya mengatakan itu biasa, setelah beberapa hari nanti berhenti sendiri. Sesi kedua sekolah terpaksa saya cuti lagi dari kantor, karena belum tega meninggalkan dia dengan pengasuhnya saja. Kejadian kemarin terulang lagi. Sesi berikutnya saya paksakan hanya dengan pengasuhnya saja. Saya pikir dia jadi angot karena ada saya. Ternyata dari laporan guru dan pengasuhnya, Nadia tetap menangis dan tidak mau pisah dari pengasuhnya. Akhirnya saya putuskan untuk stop dulu. Mungkin usianya masih terlalu muda untuk masuk KB, jadi belum siap,” tutur Linda Saraswati, ibu dari Nadia Dewanti (2;8).
KOMENTAR AHLI
Ada anak-anak yang dari awal masuk KB sudah angot dan cenderung rewel terus seperti kasus Nadia, hingga akhirnya orangtua memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolahnya. Beberapa hal bisa menyebabkan anak angot masuk KB, di antaranya:
* Usia terlalu muda.
Anak-anak yang usianya di bawah 2 tahun biasanya memang sulit berpisah dengan figur yang dikenalnya, seperti orangtua atau pengasuhnya. Jangankan bertemu dengan banyak orang yang wajahnya masih “asing” di lingkungan baru, di rumah pun kalau ditinggal sendiri kadang masih menangis.
Solusi:
Tidak ada patokan pasti usia berapa anak siap masuk KB. Ada yang masih 1;5 tahun sudah enjoy, ada pula yang usianya hampir 3 tahun belum siap juga. Orangtua harus bijak, kalau dirasa umur menjadi kendala, sebaiknya jangan dipaksakan. Latih anak untuk bertemu dengan orang-orang baru di segala suasana sebanyak mungkin. Misal, mengajaknya ke pusat keramaian, ke taman bermain, ke acara keluarga, dan sebagainya. Setelah anak dirasa siap bersosialisasi dengan banyak orang, barulah dicoba lagi.
* Kendala bahasa.
Anak-anak yang di masukkan ke KB dengan bahasa pengantar bahasa asing, sementara di rumah hanya menggunakan bahasa ibu, biasanya akan bermasalah. Hanya anak-anak dengan kemampuan adaptasi yang bagus yang bisa melewatinya. Tapi pada beberapa anak, hal ini menimbulkan rasa “frustrasi” hingga akhirnya selalu rewel kalau diajak ke sekolah.
Solusi:
Kalau bahasa yang menjadi kendala, sebaiknya orangtua mencarikan KB dengan bahasa pengantar bahasa ibu. Kalaupun orangtua menginginkan anaknya belajar bahasa asing sejak dini, ada baiknya memilih KB bilingual, yakni menggunakan dua bahasa sekaligus, bahasa asing dan bahasa ibu sebagai pengantar. Jangan karena KB berbahasa pengantar bahasa asing lebih prestise, orangtua lalu memaksakan diri dan berakibat fatal, anak ogah datang lagi ke sekolah.
* Anak-anak berkebutuhan khusus.
Anak-anak dengan kebutuhan khusus, seperti autis, ADHD, DS, dan sebagainya, cenderung lebih sulit saat dimasukkan ke KB, karena perkembangannya yang tidak sama dengan anak lain. Anak lebih sulit diatur, tidak bisa diam, kemampuan komunikasi dan sosialnya terbatas.
Solusi:
Orangtua sebaiknya selektif memilihkan KB yang sesuai untuk anak-anak ini. Pilih KB yang berpengalaman dengan anak-anak kebutuhan khusus. Bandingkan beberapa KB sebelum memutuskan mana yang paling kondusif untuk anak.
LANGSUNG BERBAUR
R. E. Salim, orangtua Reza (masuk KB umur 2;6):
”Sebelumnya Reza sudah beberapa kali ke sekolah itu untuk menjemput sepupunya. Ia kelihatannya senang sekali melihat banyak anak lainnya. Makanya, begitu mulai bersekolah, sudah seperti di rumah sendiri. Tidak ada nangis, tidak ada takut-takut, dia langsung bermain dengan murid-murid di sana. Sepertinya dari hari pertama Reza tidak butuh ditunggui, malah lupa kalau ada mamanya yang menunggui. Sejak hari ketiga Reza menggunakan mobil jemputan dengan ditemani pengasuhnya. Setelah 3 bulan sekolah, ia minta supaya tidak ditemani pengasuhnya lagi. Katanya, ‘Malu, cuma Reza yang ditemani Mbak, yang lain enggak.’ Saya telepon guru kelasnya, menanyakan apakah cukup aman membiarkan Reza naik mobil jemputan sendiri. Ternyata pihak sekolah malahan mendukung. Mereka yakin sopir jemputan bisa menjaga keselamatan Reza selama di jalan. Ya sudah, akhirnya kami turutipermintaan Reza. Sejak umur 2 tahun 9 bulan Reza sudah ke sekolah sendiri!”
KOMENTAR AHLI
Ada juga anak-anak yang sejak awal tidak ada masalah masuk KB. Umumnya mereka ini mempunyai perkembangan sosial yang mantap. Rasa percaya dirinya pun baik sehingga tak masalah baginya berada di lingkungan baru dan bertemu dengan orang-orang baru.
PERJUANGAN BERAT
Indreswari, ibu dari Dianisa (3):
“Pekan-pekan pertama merupakan saat yang sulit. Saya harus ikut masuk kelas karena kalau tidak Nisa akan menangis meraung-raung. Sebulan berlalu, tidak ada perubahan. Ibu gurunya menyarankan, saya harus ‘memaksakan diri’ untuk tidak ikut masuk. Hari pertama tanpa saya, dia menangis keras. Seiring berjalannya hari, tangisnya makin singkat. Berhasil. Sekarang yang sedih malah saya. Setiap saya ikut mengantarnya ke sekolah, dia jadi manja dan tidak fokus. Ibu gurunya sampai berkata, ‘Ibu, kalau bisa jangan ikut ngantar Nisa sekolah. Kalau diantar Mbaknya dia enggak begini.’ Waaah….”
Lely Pandjaitan, ibu dari Debora Ellyana (masuk KB umur 1,5):
“Debora saya masukan ke KB yang punya kelas 1;5 sampai 3 tahun. Memang, waktu itu proses adaptasinya agak sulit. Kurang lebih 4 bulan saya harus menemaninya ke sekolah. Untungnya jam sekolahnya lumayan singkat, sekitar 2 jam saja. Akhirnya saya mencoba rembukan dengan gurunya untuk secara bertahap meninggalkan dia di kelas. Dari waktu yang singkat sampai akhirnya saya bisa mengawasinya dari jauh dan akhirnya bisa ditinggal.”
KOMENTAR AHLI
Umumnya orangtua mempunyai pengalaman serupa. Hanya waktunya saja yang berbeda-beda, ada yang seminggu anaknya sudah bisa ditinggal, ada yang sebulan, bahkan ada 4 bulan seperti yang dialami Ibu Lely. Itu semua wajar saja. Orangtua tidak usah risau. Berikut cara mudah mengajak anak sekolah:
* Pastikan KB yang dipilih juga disukai anak. Manfaatkan fasilitas trial untuk mengetahuinya.
* Hari pertama tak masalah kalau anak belum mau berpisah. Bahkan kalau anak masih mau dipangku pun turuti saja. Usahakan anak merasa nyaman dan jelaskan bahwa lingkungan baru itu bukan ancaman baginya.
* Hari kedua usahakan untuk duduk di sebelahnya. Jelaskan padanya kalau anak lain juga sudah tidak ada yang dipangku. Kenalkan anak pada teman-temannya. Usahakan anak mau berbaur. Kalau di kelas anak-anak duduk di karpet, usahakan orangtua duduk di bangku sehingga ada “jarak”.
* Setelah itu tunggui anak di pojok ruangan. Cukup pastikan kalau orangtua tetap ada di sekitarnya meski tidak lagi duduk di sebelahnya.
* Bila anak sudah terlihat menikmati, usahakan untuk menungguinya di luar ruang kelas.
AWALNYA MAU LALU MOGOK
Singgih Nugroho, ayah dari M. Alif (3), bercerita, “Meski awalnya harus ditunggui dulu, tapi akhirnya Alif bisa dilepas dengan pengasuhnya saja. Seminggu tiga kali jadwalnya masuk KB. Alif memang cenderung cepat bosan. Di KB pertamanya dia hanya bertahan 2 bulan. Setelah itu jadi rewel kalau harus sekolah. Saya rasa dia bosan. Daripada ribut terus akhirnya saya putuskan
untuk libur dulu di rumah. Menurut saya sih enggak apa-apa ya, toh ini kan masih di KB. Setelah itu saya masukkan lagi ke KB yang sama dengan sepupunya. Dia kelihatan enjoy sekali, tapi ya itu, kalau sedang bosan, pasti rewel lagi.”KOMENTAR AHLIAda beberapa alasan mengapa anak yang awalnya tidak masalah di KB lalu jadi mogok sekolah. Di antaranya:l Bosan Meski tidak banyak, tapi ada juga anak-anak seperti Alif, yang mempunyai kecenderungan cepat bosan. Coba perhatikan, kalau diberi mainan baru, berapa lama ia bisa menikmatinya? Kalau diajak pergi ke suatu tempat, berapa lama ia bisa “bertahan”? Kalau jawabannya tidak lama, bisa jadi ia termasuk anak yang mudah bosan.Solusi: Untuk anak-anak seperti ini, orangtua harus lebih jeli dalam memilih KB. Tanyakan detail aktivitas di dalam kelas, berapa banyak mainan yang disediakan, saat mengikuti trial perhatikan kecakapan dan kreativias gurunya membangun suasana. Kalau semua dirasa sudah cocok tapi di tengah jalan anak tetap mogok juga, jangan buru-buru menyetop/memindahkannya.
Coba diskusikan dahulu dengan gurunya untuk mencari solusi terbaik. Yang penting, saat mogok jangan paksa anak, karena pemaksaan hanya akan membuatnya makin ogah sekolah. l Ada kejadian tak mengenakkan. Namanya bergaul dengan orang banyak, mungkin saja anak mengalami satu-dua kejadian yang tidak mengenakkan. Misal, didorong temannya saat antre mainan, terjatuh saat berlarian di dalam kelas, terantuk kursi dan sebagainya.
Pada beberapa anak kejadian tersebut menimbulkan pengalaman yang membuatnya mogok datang lagi ke sekolah.Solusi:Coba cari tahu dahulu bagaimana kronologis kejadiannya. Kalau dirasa itu adalah kejadian wajar, orangtua sebaiknya tetap mengusahakan anak datang lagi ke KB. Lihat sisi positif kejadian tersebut. Umpamanya anak didorong temannya, jadikan itu sebagai teaching moment, tentang pentingnya budaya antre, larangan mendorong/memukul/melakukan kekerasan pada siapa pun. Coba diskusikan dengan gurunya supaya kejadian yang tidak mengenakkan itu tidak terulang lagi.
Marfuah Panji Astuti.

Cara Mengenalkan Alfabet ke Batita

sumber : tabloidnakita.com

Siapa bilang belajar membaca itu sulit? Tapi ingat, jangan pernah memaksa.
Pengenalan alfabet / huruf buat batita harus jauh dari kesan formal. Cukup dengan sering-sering membacakannya buku cerita. Selanjutnya, menginjak usia 2 tahunan, si kecil boleh diperkenalkan pada alfabet yang lebih kompleks. Ajak dia untuk menyebutkan nama-nama huruf yang ada di hadapannya atau yang kita tunjuk. Latihan ini kemudian kita tingkatkan dengan mengajaknya “membaca” kata demi kata.
Nah, agar acara pengenalan alfabet dan belajar “membaca” ini bisa diikuti si kecil, orangtua harus tahu cara penyampaiannya yang tepat bagi masing-masing anak. Asal tahu saja, tidak ada cara pengenalan alfabet dan belajar “membaca” yang paling baik karena semuanya baik dan benar. Tinggal cara yang mana yang disenanginya. Apa saja tekniknya? Silakan pilih yang paling pas, dan ingat lakukan sambil bermain. Jangan memaksa kalau si kecil terlihat kurang berminat.
HURUF DEMI HURUF
Sambil bernyanyi tunjuk setiap huruf dalam abjad yang sudah kita tuliskan pada kertas atau white board. Ingat, ucapkan pelafalannya secara benar. Selain itu antara apa yang kita ucapkan dan apa yang kita tunjuk harus sesuai. Contohnya, saat mengucapkan “a”, tangan kita harus menunjuk pada huruf “a”. Usahakan perhatian si kecil sepenuhnya tertuju pada bagaimana cara kita mengucapkan huruf demi huruf tadi.
Yang namanya pengenalan tentu saja jangan banyak-banyak dulu. Di hari pertama, contohnya, cukup dari huruf “a” sampai “g”. Keesokan harinya mintalah anak untuk menyebut huruf-huruf yang telah dikenalkan. Kemudian teruskan dengan huruf “h” hingga huruf “m”. Begitu seterusnya. Bila semua huruf telah dikenalkan, nyanyikan lagu ABC. Sekiranya huruf-huruf dari “a” sampai “z” sudah familiar di telinganya, secara spontan anak pasti ingin ikut menyanyikannya.
Pada kesempatan lain, pengenalan bisa dilanjutkan dengan menggabungkan huruf mati/konsonan dengan huruf hidup/vokal menjadi suku kata. Di tahap awal batasi penggabungan dua huruf saja dan pilihkan huruf-huruf yang relatif mudah diucapkan batita. Bukankah huruf “b” jauh lebih mudah dilafalkan ketimbang huruf “z”, misalnya. Jadi, kenalkan anak pada pengulangan rangkaian bunyi sederhana seperti “bi-bi”, “ba-ba”, “bo-bo”, “ta-ta” dan sejenisnya. Sah-sah saja bila sesekali diselingi kata-kata utuh, seperti “papa”, “mama”, rumah”, “tidur”, “makan” dan sebagainya. Pastikan semua huruf-huruf tadi tertulis besar-besar sehingga mudah dikenali anak.
KENALKAN MELALUI BENDA
Supaya lebih mengena, ada baiknya kenalkan langsung ke bendanya. Yang pasti, cermati dulu hal-hal apa yang paling disukai anak. Contohnya, selagi anak asyik memainkan boneka, alihkan sebentar perhatiannya ke white board atau kertas besar sambil menuliskan kata “boneka” dalam ukuran besar. Bisa juga “ini boneka,” atau “boneka tidur” sambil kita tuliskan dan tunjukkan kata “tidur”. Dengan demikian anak akan mengenal langsung huruf-huruf dan kata lewat benda-benda yang akrab dengan kesehariannya.
MONTESSORI SCHOOL
Cara ini berangkat dari pengenalan terhadap bunyi setiap huruf lebih dulu. Misalnya, “a” dibaca “a” sambil peragakan bagaimana kita membuka mulut sedemikian rupa sampai mengeluarkan bunyi “a”. Lanjutkan pengenalan ini dengan memasukkan huruf yang dimaksud dalam sebuah kata, misalnya “a” untuk apel, “b” untuk becak, dan seterusnya. Kemudiakan pandai-pandailah mengkreasikannya menjadi sebuah lagu yang riang gembira.
FINGER PAINTING
Cara lain, gunakan kertas amplas yang agak halus untuk membuat huruf. Lalu mintalah anak untuk meraba huruf tersebut dengan jarinya pada bagian yang agak kasar tadi. Setelah beberapa kali melakukan perabaan ini mintalah anak untuk menuliskan huruf tersebut di kertas berukuran besar. Cara yang sama bisa juga dilakukan dengan finger painting menggunakan cat air. Jadi huruf demi huruf akan ditulis di kertas menggunakan jari-jari mungilnya. Yang pasti, cara ini tidak mengikat orangtua untuk memulai pengenalannya terhadap huruf. Mau huruf vokal lebih dulu atau sebaliknya konsonan terlebih dulu, boleh-boleh saja kok.
GAMES FOR LEARNING
Anak diperkenalkan huruf-huruf lewat permainan. Gampangnya, modifikasikan permainan catur. Setiap kotak di papan catur dituliskan huruf-huruf. Mintalah anak melakukan apa yang kita perintahkan, misalnya, “Ayo Dek taruh kudanya di huruf ‘m’.” Setelah cukup mengenal huruf-huruf dalam abjad, tuliskan masing-masing huruf dalam ukuran besar-besar di selembar kertas. Kemudian mintalah si batita menempelkan kertas berisi huruf tadi pada benda yang ada di rumah. Contohnya, “Tempelkan huruf ‘p’ ini ke pintu.” Kegiatan ini pasti amat menyenangkan hingga anak tidak terasa sedang belajar tentang huruf.
METODE KINDERLAND
Metode ini mengharuskan anak mengenal alfabet lebih dulu sekaligus kata-kata yang terdiri dari 3 huruf, seperti bad, cat, dog dan sebagainya. Sayangnya, metode ini agak sulit diterapkan kala ingin memperkenalkan anak pada kata-kata dalam bahasa Indonesia. Sebab jarang sekali sebuah kata dalam bahasa Indonesia yang terdiri dari 3 huruf. Belum lagi pelafalannya yang amat berbeda dengan pelafalan dalam bahasa Indonesia. Setelah fasih di kata dengan 3 huruf, naikkan tingkat kesulitan pada kata yang terdiri dari huruf lebih banyak hingga akhirnya anak bisa “membaca” kata demi kata.
METODE FLASH CARD
Selain bisa membeli kartu-kartu yang sudah jadi, kita pun bisa membuatnya dari potongan-potongan karton bertuliskan kata bermakna tertentu sementara di baliknya terdapat gambar benda yang sesuai. Tunjukkan secara teratur setiap hari kata-kata tersebut. Tak perlu banyak-banyak, tapi cukup 1-3 flash card setiap hari. Hari demi hari tambahkan jumlah flash card yang diperlihatkan.
KARPET ALFABET
Kini banyak dijual alas lantai/karpet yang bertuliskan huruf-huruf alfabet. Pasanglah karpet berbentuk kepingan-kepingan tersebut di ruang bermain atau di kamar tidur anak. Menjelang tidur, ajaklah anak sejenak melakukan games. “Mana huruf ‘m’?” sambil minta anak untuk menunjukannya. Bisa juga meminta anak memasangkan kembali kepingan-kepingan karpet tadi hingga membentuk sebuah kata bermakna. Setelah selesai melakukan tugasnya, ajak anak untuk membacanya. Misalnya, “s e p e d a”.
BELAJAR MENGETIK
Menekan tuts-tuts huruf pada keyboard komputer mendatangkan kesenangan tersendiri bagi anak usia ini. Apalagi ketika ia mengetik tuts tertentu akan muncul huruf tertentu pula di layar monitor. Pilihkan font size yang cukup besar. Setiap kali ada kesempatan bimbing batita untuk mengetik nama-nama atau kata-kata bermakna di komputer. Misalnya, namanya sendiri, nama ayah, ibu, kakak, nenek ataupun sosok lain yang akrab dengannya. Atau kata-kata bermakna seperti “motor”, “cangkir”, “mata” dan sebagainya. Ajaklah anak untuk melafalkan setiap kata begitu ia selesai menuliskannya. Pilihan program yang hendak digunakan terserah orangtua, apakah Word atau Power point. Bisa juga dengan membuat variasi pengenalan tadi menjadi games yang pasti menarik bagi anak usia ini.
KATA DEMI KATA
Mengenalkan alfabet pada batita tidak harus huruf satu per satu atau pun dieja seperti “ba”, “bi”, “bu”, melainkan langsung kata demi kata. Penerapannya bisa dilakukan dengan menuliskan sebuah kata di atas karton berukuran sedang. Contohnya “tas”. Akan lebih baik jika sertakan pula gambar tas pada lembar karton yang sama. Setiap hari, setidaknya 3x sehari, pagi, siang dan sore, bacakan dan perlihatkan sekitar 5 kata. Bisa juga dengan memanfaatkan VCD lagu anak-anak yang menampilkan lirik lagu. Sambil bernyanyi mengikuti lirik lagu yang tampil di layar teve, tunjuk satu demi satu kata yang tengah dinyanyikan. Sesekali tanyakan pada si batita kata apa yang sedang kita tunjuk.
STORY TELLING
Setiap hari, khususnya menjelang tidur, bacakan cerita-cerita menarik untuk si batita. Usahakan cerita-cerita tersebut berasal dari buku cerita bergambar yang tulisannya besar-besar. Jangan lupa, sambil membacakan tunjuk pula kata yang ada pada buku.
MELENGKAPI KATA
Seperti halnya membuat flash card, namun kata yang dimaksud sengaja ditulis tidak lengkap. Contohnya, “mobil” cukup ditulis “mo….”. Nah, saat menunjukkan kartu tersebut mintalah si batita untuk meneruskan penggalan kata yang tidak tertulis di situ. Jangan lupa sambil menunjukkan gambar yang sesuai dengan kata yang tertulis sebagai kunci jawaban bagi anak.
POSTER HURUF SEBAGAI HIASAN
Pasang poster alfaber di dinding kamar anak. Dengan demikian setiap kali masuk kamarnya, perhatian anak bisa langsung tertuju pada huruf-huruf yang ada di lembar poster tersebut. Ada baiknya bila orangtua ikut mengingatkan anak pada huruf-huruf tersebut dengan menyanyikan lagu ABC setiap kali masuk kamar. Jika ia sudah familiar tingkatkan pengenalannya dengan mengganti poster hiasan tersebut dengan poster serupa berisi kata-kata bermakna yang dilengkapi dengan gambarnya.
Gazali Solahuddin (dari berbagai sumber)

Encouragement

sumber : Source : http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/338297/

LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah
tempat anak saya belajar di Amerika Serikat.

Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu
telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat,bagus sekali.
Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa.
Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya
dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan
itu buruk, logikanya sangat sederhana.

Saya memintanya memperbaiki kembali,sampai dia menyerah.Rupanya karangan
itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai
buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah
pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberi nilai
tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri. Sewaktu saya protes, ibu
guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. “Maaf Bapak dari mana?”
“Dari Indonesia,” jawab saya.Dia pun tersenyum.

Budaya Menghukum

Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya.
Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat.
“Saya mengerti,” jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap
simpatik itu. “Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang
anak-anaknya dididik di sini,”lanjutnya. “Di negeri Anda, guru sangat sulit
memberi nilai.Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum,
melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement!” Dia pun
melanjutkan argumentasinya.

“Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbeda-beda. Namun untuk anak
sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris,
saya dapat
menjamin, ini adalah karya yang hebat,” ujarnya menunjuk karangan berbahasa
Inggris yang dibuat anak saya. Dari diskusi itu saya mendapat pelajaran
berharga. Kita tidak dapat mengukur prestasi orang lain menurut ukuran
kita.Saya teringat betapa mudahnya saya menyelesaikan study saya yang
bergelimang nilai “A”, dari program master hingga doktor. Sementara di
Indonesia, saya harus menyelesaikan studi jungkir balik ditengarai ancaman
drop out dan para penguji yang siap menerkam. Saat ujian program doktor saya
pun dapat melewatinya dengan mudah.

Pertanyaan mereka memang sangat serius dan membuat saya harus benar-benar
siap. Namun suasana ujian dibuat sangat bersahabat. Seorang penguji bertanya
dan
penguji yang lain tidak ikut menekan, melainkan ikut membantu memberikan
jalan begitu mereka tahu jawabannya. Mereka menunjukkan grafikgrafik yang
saya buat dan menerangkan seterang-terangnya sehingga kami makin mengerti.
Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan
kekurangan penuh keterbukaan. Pada saat kembali ke Tanah Air, banyak hal
sebaliknya sering saya saksikan. Para pengajar bukan saling menolong, malah
ikut “menelan” mahasiswanya yang duduk di bangku ujian.

Ketika seseorang penguji atau promotor membela atau meluruskan pertanyaan,
penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita tidak sedap
seakan-akan
kebaikan itu ada udang di balik batunya. Saya sempat mengalami frustrasi
yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang maaf, menurut
hemat saya sangat tidak manusiawi. Mereka bukan melakukan encouragement,
melainkan discouragement. Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan rendah dan
yang diluluskan pun kualitasnya tidak hebat-hebat betul. Orang yang tertekan
ternyata belakangan saya temukan juga menguji dengan cara menekan.

Ada semacam balas dendam dan kecurigaan. Saya ingat betul bagaimana
guru-guru di Amerika memajukan anak didiknya. Saya berpikir pantaslah
anak-anak di sana mampu
menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat, bahkan penerima Hadiah Nobel.
Bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademis, melainkan
karakternya sangat kuat: karakter yang membangun, bukan merusak. Kembali ke
pengalaman anak saya di atas, ibu guru mengingatkan saya. “Janganlah kita
mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di
depan,” ujarnya dengan penuh kesungguhan. Saya juga teringat dengan rapor
anak-anak di Amerika yang ditulis dalam bentuk verbal.

Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun
rapornya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang
mendorongnya untuk bekerja lebih keras, seperti berikut. “Sarah telah
memulainya dengan berat, dia mencobanya dengan sungguh-sungguh. Namun Sarah
telah menunjukkan kemajuan yang berarti.” Malam itu saya mendatangi anak
saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya. Saya ingin memeluknya di
tengah-tengah rasa salah telah memberi penilaian yang tidak objektif. Dia
pernah protes saat menerima nilai E yang berarti excellent (sempurna),tetapi
saya mengatakan “gurunya salah”. Kini saya melihatnya dengan kacamata yang
berbeda.

Melahirkan Kehebatan

Bisakah kita mencetak orang-orang hebat dengan cara menciptakan hambatan dan
rasa takut? Bukan tidak mustahil kita adalah generasi yang dibentuk oleh
sejuta ancaman: gesper, rotan pemukul, tangan bercincin batu akik, kapur,
dan penghapus yang dilontarkan dengan keras oleh guru, sundutan rokok, dan
seterusnya. Kita dibesarkan dengan seribu satu kata-kata ancaman: Awas…;
Kalau,…; Nanti,…; dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas
kertas ujian dan rapor di sekolah.

Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin telah membuat kita menjadi
lebih disiplin. Namun di lain pihak dia juga bisa mematikan inisiatif dan
mengendurkan
semangat. Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak
manusia tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil) atau sebaliknya,
dapat tumbuh. Semua itu sangat tergantung dari ancaman atau dukungan
(dorongan) yang didapat dari orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian
kecerdasan manusia dapat tumbuh, sebaliknya dapat menurun. Seperti yang
sering saya katakan, ada orang pintar dan ada orang yang kurang pintar atau
bodoh.

Tetapi juga ada orang yang tambah pintar dan ada orang yang tambah bodoh.
Mari kita renungkan dan mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan
ancaman atau
ketakutan. Bantulah orang lain untuk maju, bukan dengan menghina atau
memberi ancaman yang menakut-nakuti. (*)

RHENALD KASALI
Ketua Program MM UI

Kunci Pendidikan Yang Baik

sumber :http://episentrum.com/artikel/pengaruh-permainan-pada-perkembangan-anak/

Sekolah telah menyediakan serangkaian materi untuk mendidik seorang anak hingga dewasa termasuk perkembangan dirinya. Namun, tanggung jawab pendidikan bukan semata-mata menjadi tanggung jawab sekolah. Kunci menuju pendidikan yang baik adalah keterlibatan orang dewasa yaitu orang-tua yang penuh perhatian. Jika orang-tua terlibat langsung dalam pendidikan anak-anak di sekolah, maka prestasi anak tersebut akan meningkat. Setiap siswa yang berprestasi dan berhasil menamatkan pendidikan dengan hasil baik selalu memiliki orang-tua yang selalu bersikap mendukung. Apa yang dapat dilakukan oleh orang-tua bagi anaknya setelah mereka memasuki pendidikan di sekolah? Berikut ini beberapa hal yang perlu dilakukan oleh orang-tua agar anaknya dapat berprestasi di sekolah.

*
Dukungan Orang-Tua

Orang-tua sebaiknya memberi perhatian kepada anak-anak mereka dan menanamkan kepada mereka nilai dan tujuan pendidikan. Mereka juga berupaya mengetahui perkembangan anak mereka di sekolah. Caranya adalah dengan berkunjung ke sekolah untuk melihat situasi dan lingkungan pendidikan di sekolah. Menaruh minat terhadap aktivitas sekolah akan secara langsung mempengaruhi pendidikan anak Anda.
*
Kerja Sama dengan Guru

Biasanya apabila timbul masalah-masalah gawat, barulah beberapa orang-tua menghubungi guru anak-anak mereka. Sebaiknya, orang-tua perlu mengenal guru di sekolah dan menjalin hubungan yang baik dengan mereka. Berkomunikasilah dengan guru untuk perkembangan anak Anda. Guru juga perlu diberitahu bahwa Anda memandang penting pendidikan anak Anda di sekolah sebagai bagian kehidupannya. Ini akan membuat guru lebih memperhatikan anak Anda. Hadirilah pertemuan orang-tua murid dan guru yang diselenggarakan oleh sekolah. Pada pertemuan ini, Anda memiliki kesempatan untuk mengetahui prestasi akademis anak Anda serta perkembangan anak Anda di sekolah.

Jika seorang guru mengatakan hal yang buruk mengenai anak Anda, dengarkan guru tersebut dengan penuh respek, dan selidiki apa yang ia katakan. Anda juga dapat menanyai guru-guru di sekolah mengenai prestasi, sikap, dan kehadiran anak di sekolah. Jika seorang anak sering bermuka dua, maka penjelasan dari guru bisa jadi mengungkap hal-hal yang disembunyikan anak Anda saat bersikap manis di rumah.
*
Sediakan waktu untuk anak

Selalu sediakan waktu yang cukup banyak bagi anak Anda. Jika anak pulang sekolah, umumnya mereka cukup stres dengan beban pekerjaan rumah, ulangan, maupun problem lainnya. Sungguh ideal jika orang-tua misalnya seorang ibu berada di rumah pada saat anak-anak di rumah. Seorang anak akan senang bercerita ketika pulang sekolah seraya mengeluarkan semua keluhan dan bebannya kepada orang-tua. Bisa jadi mereka mulai menceritakan teman-temannya yang nakal yang mulai menawari rokok dan narkoba. Anda bisa segera tanggap dengan hal tersebut jika Anda menyediakan waktu bagi anak-anak Anda.
*
Awasi kegiatan belajar di rumah

Tunjukkan Anda berminat pada pendidikan anak Anda. Pastikan anak-anak Anda sudah mengerjakan pekerjaan rumah (PR) mereka. Wajibkan diri Anda untuk mempelajari sesuatu bersama anak-anak Anda. Membacalah bersama-sama mereka. Jangan lupa jadwalkan waktu setiap hari untuk memeriksa pekerjaan rumah anak Anda. Kendalikan waktu menonton TV, Internet dan bermain game dari anak-anak Anda.
*
Ajari tanggung jawab

Sekolah umumnya akan memberi banyak tugas untuk dipersiapkan anak di rumah dan di sekolah. Apakah mereka mengerjakan tugas-tugas itu dengan benar dan baik? Seorang anak dapat bertanggung jawab mengerjakan tugas mereka di sekolah jika Anda telah mengajar mereka untuk mengerjakan tanggung jawab di rumah. Cobalah mulai memberikan anak Anda pekerjaan rumah tangga rutin setiap hari seperti membersihkan tempat tidur sendiri menurut jadwal yang spesifik. Pelatihan di rumah seperti itu akan membutuhkan banyak upaya di pihak Anda karena perlu diawasi. Tetapi hal itu akan mengajar anak Anda rasa tanggung jawab yang mereka butuhkan agar berhasil di sekolah dan di kemudian hari dalam kehidupan.
*
Disiplin

Jalankan disiplin dengan tegas namun dengan penuh kasih sayang. Jika Anda selalu menuruti keinginan anak, maka mereka akan menjadi manja dan tidak bertanggung jawab. Problem lain bisa muncul jika Anda terlalu memanjakan anak Anda seperti seks remaja, narkoba, prestasi yang buruk, dan masalah lainnya.
*
Kesehatan

Jaga kesehatan anak Anda agar prestasi belajarnya tidak terganggu. Buat jadwal tidur yang cukup untuk anak Anda. Anak-anak yang kelelahan tidak dapat belajar dengan baik. Lalu hindari makanan seperti junk food, karena selain menyebabkan problem obesitas, juga mendatangkan pengaruh yang buruk terhadap kesanggupannya untuk berkonsentrasi.
*
Jadi teman terbaik

Jadilah teman terbaik bagi anak Anda. Luangkan waktu untuk berbagi berbagai hal dengan mereka. Seorang anak membutuhkan semua teman yang matang yang bisa ia dapatkan.

Sebagai orang-tua, Anda dapat menghindari banyak problem dan kekhawatiran atas pendidikan anak Anda dengan mengingat bahwa kerja sama yang sukses dibangun di atas komunikasi yang baik. Kerja sama yang baik dengan para pendidik di sekolah juga dapat membantu melindungi anak Anda.

Masuk SD, Siswa TK Tak Boleh Dites!

sumber : http://edukasi.kompas.com/read/2010/02/12/1432278/Dikdasmen.Masuk.SD..Siswa.TK.Tak.Boleh.Dites.#

Dikdasmen: Masuk SD, Siswa TK Tak Boleh Dites!

M.LATIEF/KOMPAS

JAKARTA, KOMPAS.com – Selain pengenalan membaca, menulis, dan
berhitung (calistung) tidak diperkenankan untuk diajarkan secara
langsung sebagai pembelajaran kepada para anak didik di Taman
Kanak-kanak (TK), tidak dibenarkan pula siswa TK dites dan diuji
terlebih dulu untuk melanjutkan ke tingkat Sekolah Dasar.
Di situ kan sudah dijelaskan, bahwa masuk SD itu ukurannya hanya usia,
bukan kemampuan akademik melalui sebuah tes,

Demikian dikatakan oleh Direktur Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar
dan Menengah Prof Suyanto kepada Kompas.com di Jakarta, Jumat
(12/2/2010), terkait adanya pembelajaran calistung di TK dan tes uji
anak didik TK sebelum masuk SD, terutama di sekolah-sekolah swasta.
Suyanto menegaskan, apapun bentuknya, tes tersebut tidak
diperkenankan.

Aturan main untuk persoalan tersebut, kata Suyanto, sudah tertuang
dalam Surat Edaran dari Dirjen Dikdasmen Nomor: 1839/C.C2/TU/2009 yang
ditujukan kepada para gubernur dan bupati/walikota di seluruh
Indoensia. Surat edaran itu menyebutkan, bahwa kriteria calon peserta
didik SD/MI berusia sekurang-kurangnya 6 (enam) tahun, pengecualian
terhadap usia peserta didik yang kurang dari 6 (enam) tahun dilakukan
atas dasar rekomendasi tertulis dari pihak yang berkompeten, seperti
konselor sekolah/madrasah maupun psikolog.

Oleh karena itu, lanjut dia, setiap SD wajib menerima peserta didik
tanpa melalui tes masuk dan tetap memprioritaskan pada anak-anak yang
berusia 7 sampai 12 tahun dari lingkungan sekitarnya tanpa
diskriminasi sesuai daya tampung satuan pendidikan yang bersangkutan.

“Jadi, tidak ada itu tes-tes masuk. Di situ kan sudah dijelaskan,
bahwa masuk SD itu ukurannya hanya usia, bukan kemampuan akademik
melalui sebuah tes,” tegasnya.

Hanya, lanjut Suyanto, Kementrian Pendidikan Nasional (pemerintah)
tidak bisa mengambil tindakan atau sanksi apapun karena sekolah
memiliki otonomi. Pun, wacana mengenai himbauan ini sendiri sudah
berulang kali dilakukan oleh pemerintah, sementara kenyataannya tetap
banyak sekolah yang melakukan.

“Biasanya kalau di SD favorit hal itu dilakukan untuk penyaringan
kualitas calon-calon anak didiknya. Tetapi terlepas dari itu, intinya
kami (pemerintah) sudah menegaskan tidak diperbolehkan ada tes. Alasan
penyaringan kualitas itu masuk akal, tapi tidak benar,” tegas Suyanto.

“Sayangnya kami tidak bisa menindak, seharusnya yang menindak itu
pemerintah daerah melalui dinas pendidikannya,” tambah Suyanto.

Learning is A Journey not A Race

source : milis asi for baby diposting oleh dibbie

*”The principle goal of education is to create men who are capable of doing
new things, not simply of repeating what other generations have done – men
who are creative, inventive and discoverers”.*
*Jean Piaget*

Adalah hal yang wajar ketika orangtua menginginkan anaknya lebih pintar,
lebih hebat, lebih cemerlang dan banyak “lebih” lainnya. Hanya sayangnya
kadang orangtua yang berkeinginan “lebih” tersebut menjadi lupa
memperhitungkan kondisi kesiapan mental anaknya. Anak tanpa sadar dijadikan
“alat” untuk mencapai apa yang dahulu tidak dapat diraih orangtuanya.

Hal yang paling mudah ditemukan dan terjadi nyata dalam masyarakat adalah
adanya kebanggaan dari para orangtua jika anak mereka mampu melakukan
kegiatan membaca dan menulis di usia dini. Seolah-olah, semakin cepat anak
dapat membaca, menulis atau bahkan berhitung akan membawa sang anak
memenangkan “perlombaan” keberhasilan hidup. Sekali lagi, banyak orangtua
tidak menyadari resiko atas pengenalan membaca dan menulis pada anak di usia
dini yang belum siap secara mental.

Akhirnya apa gunanya kebanggaan sesaat yang dapat dipamerkan ke saudara,
tetangga dan para teman; akan anak yang sudah mampu membaca dan menulis
bahkan berhitung di usia dini? Kalau pada ujungnya tejadinya “pemberontakan”
anak ketika di usia SMP, SMA atau kuliah nanti dalam hal belajar? Yang
menjadi pertanyaan berikutnya adalah: Pada usia berapa seorang anak boleh
diajarkan membaca dan menulis? Bagaimana kita mengetahui bahwa seorang anak
sudah siap secara mental?

*Apa kata para pakar?*

Jean Piaget (1896 -1980) seorang filsuf, ilmuwan dan psikolog perkembangan
asal Swiss yang terkenal karena hasil penelitian tentang anak-anak dan teori
perkembangan kognitifnya; menunjukan bahwa cara berpikir anak secara
kualitatif berbeda dari cara berpikir orang dewasa. Cara berpikir anak-anak
berkembang melalui serangkaian tahapan yang berbeda. Bahkan anak yang sangat
belia pun berperan aktif dalam memahami sesuatu. Mereka “membangun”
kenyataan dan bukan “sekedar menyerap” pengetahuan.

Beliau secara tidak langsung menegaskan bahwa pelajaran membaca, menulis,
dan berhitung dilarang untuk diperkenalkan pada anak-anak di bawah usia 7
tahun. Alasannya, usia anak di bawah 7 tahun belum mencapai fase operasional
konkrit. Yang dimaksud dengan fase tersebut adalah sebuah fase di mana
anak-anak dianggap sudah mampu berpikir secara terstruktur dan nyata.
Sedangkan kegiatan membaca, menulis dan berhitung dikatakan sebagai kegiatan
yang memerlukan cara berpikir terstruktur, sehingga tidak cocok diajarkan
kepada pendidikan anak-anak usia dini.

Piaget mengkhawatirkan perkembangan mental anak akan menjadi terbebani jika
kegiatan tersebut jika diajarkan terlalu dini (di bawah 7 tahun). Bukannya
menghasilkan anak yang cerdas, malah akan membuat anak memiliki pengalaman
buruk tentang belajar. Ketika mereka beranjak besar menjadi kehilangan
gairah terhadap kegiatan belajar.

Sementara itu Glenn Doman, seorang terapis asal Amerika sepertinya berada
pada sisi sebaliknya. Beliau memperkenalkan sebuah metode untuk membaca dini
pada anak melalui flash card. Ide awal penemuannya tersebut didapatkan
ketika beliau membantu menyembuhkan pasien-pasiennya yang mengalami cendera
otak. Glenn melakukan terapi dengan kartu-kartu kata yang ditampilkan dengan
cepat di hadapan pasien hanya 1 kata per detik. Dari hasil tersebut
ditemukan adanya perkembangan pada otak pasien. Kemudian hal tersebut
diterapakan ke anak-anak dan bahkan bayi.

Metode Glenn Doman dengan flash cards ini ternyata juga mendapatkan
pertentangan dari sebagian ahli psikologi. Bahkan BBC London mempublikasikan
sebuah film tentang hal ini. Alasannya, flash cards dianggap kurang rasional
dan dapat merusak pembelajaran pada nalar dan logika. Kemampuan membaca
menurut para psikolog umumnya diproses melalui tahapan-tahapan fonemik dan
fonetik. Anak-anak harus terlebih dahulu mengenal huruf agar mampu
membedakan bunyi, sampai akhirnya dapat menggabungkan huruf-huruf tersebut
menjadi sebuah kata. Jadi belajar membaca, menulis dan berhitung tidak dapat
dengan cara menghafal dengan flash cards.

Walaupun kedua aliran ini terlihat berbeda kutub, tetapi kedua pengikut
aliran ini memiliki kesepakatan yang sama yaitu proses belajar haruslah
dalam kondisi dan cara yang menyenangkan. Anak yang belajar dalam keadaan
tertekan dapat menimbulkan trauma dan pada akhirnya akan menimbulkan
keenganan untuk belajar.

*Bagaimana dengan peraturan pemerintah?*

Pada dasarnya pihak Dikdas tidak pernah mensyaratkan calon murid SDN harus
bisa membaca dan menulis. Alasannya, karena saat belajar di TK belum sampai
diajarkan seputar membaca dan menulis. Tetapi pada kenyataannya; entah
sekolah dasar mana yang memulainya, seorang calon murid yang akan masuk
sekolah dasar (SD) sudah dilakukan tes masuk membaca, menulis dan berhitung.

Berikut kutipan pernyataan dari Ibu Sylviana Murni, Kepala Dinas Pendidikan
Dasar (Dikdas) DKI tentang usia anak masuk sekolah. “Sekolah TK itu masih
sebatas pengenalan huruf dan angka dan belum sampai diajarkan membaca,”
tegas. “Yang jelas bila mau masuk SDN harus berusia tujuh tahun, dan bila
masih ada bangku kosong baru mereka yang berusia enam tahun.”

“Dan bila usia tujuh tahun dan enam tahun sudah tertampung masih juga ada
bangku kosong maka bisa menerima calon murid berumur di bawah enam tahun,
tetapi harus dilampirkan surat keterangan dari psikolog pendidikan. Surat
keterangan dari psikolog pendidikan harus menyatakan bahwa calon murid
secara mental sudah siap belajar di SD. Memang kadang ada usia di bawah lima
tahun sudah bisa membaca, tapi kalau ternyata rekomendasi dari psikolog
pendidikan belum siap sekolah di SD, ya jangan dipaksakan,” sambungnya.

Dari pernyataan Ibu Sylviana Murni di atas menandakan bahwa pemerintah tidak
membuat peraturan yang memaksa seorang anak harus mampu membaca, menulis dan
berhitung di usia dini. Peraturan usia minimal masuk SDN usia 7 tahun
menunjukan bahwa kematangan mental seorang anak pun telah diperhitungkan.

*Bagaimana orangtua mengambil sikap?*

Ada sebuah pernyataan yang menyebutkan,” Guru terbaik dan terhebat di muka
bumi ini tetaplah seorang Ibu”. Karena sebenarnya orangtualah yang paling
mengetahui perkembangan anak, bukan orang lain. Yang perlu diwaspadailah
adalah masuknya informasi-informasi yang dapat menimbulkan bias dari
orangtua terhadap anaknya. Misalnya, orangtua tanpa sadar membuat pengukuran
dengan membanding-bandingkan antar anak-anaknya, atau dengan anak orang
lain. Atau terpengaruh oleh sebuah alat tes yang sebetulnya hanya mengukur
sebagian perilaku manusia untuk menyederhanakan pemahaman akan manusia
sebagai mahluk yang unik sekaligus kompleks. Apakah hal-hal tersebut dapat
dijadikan kesimpulan akhir yang dapat mengakibatkan anak menjadi tertekan
dan mogok belajar?

Sepertinya sudah saatnya para orangtua untuk kembali memberi perhatian pada
pertumbuhan nilai anak akan budi pekerti, kemandirian, dan tanggung jawab;
bukan dengan memacu percepatan dan nilai anak pada pelajaran membaca,
menulis dan berhitung. Mana yang lebih Anda senangi? Seorang itu pintar
secara intelektual tetapi mengalami ketimpangan pada budi pekerti? Atau
seseorang yang memiliki keseimbangan antara intelektual dan budi pekertinya?
Pilihan ada di tangan Anda.