Asma Ganggu Kehamilan

sumber :http://portal.cbn.net.id/cbprtl/cyberwoman/detail.aspx?x=MotherAndBaby&y=cyberwoman|0|0|8|1196

Wanita penderita asma khawatir jika ia hamil. Sebab ini erat kaitan dengan persalinan kelak. Obat-obatan yang selalu dikonsumsi penderita asma pun, dikhawatirkan akan berpengaruh pada janin.

Berbeda dengan orang yang tidak menderita asma, pada penderita asma terjadi peradangan kronik yang menyebabkan pipa saluran napas menjadi sensitif. Asma merupakan penyakit kronik yang dapat dikendalikan. Untuk mengendalikan serangan asma, maka faktor pencetusnya harus dihindari. Faktor pencetus asma antara lain alergi (biasanya debu rumah), kelelahan dan influenza.
Sedangkan ketegangan jiwa dapat memperberat serangan asma.

Serangan asma dapat muncul sewaktu-waktu jika dipicu oleh faktor pencetusnya. Ketika sedang hamil pun serangan asma bisa saja muncul. Tapi tidak perlu dikhawatirkan. Karena timbulnya serangan asma tidak sama tiap penderita. Bahkan pada seorang penderita asma pun serangannya tidak sama pada kehamilan pertama dan berikutnya.

Kurang dari sepertiga penderita asma akan membaik pada saat hamil, lebih dari sepertiga akan menetap, serta kurang dari sepertiga lagi akan memburuk atau serangannya bertambah ketika hamil. Biasanya serangan akan timbul pada usia kehamilan 24 minggu sampai 36 minggu. Justru pada akhir kehamilan, serangan asma jarang terjadi.

Namun bagaimana pun juga wanita penderita asma berisiko saat ia hamil. Karena si ibu akan kekurangan oksigen. Maka jika tidak segera diatasi janin pun dapat kekurangan oksigen yang dapat berakibat keguguran, persalinan prematur, berat janin tidak sesuai dengan kehamilan atau pertumbuhan janin terhambat.

Perjalanan asma pada ibu hamil dipengaruhi oleh hormon estrogen dan progesteron yang terus meningkat. Padahal berbagai teori justru menunjukkan kedua hormon tersebut mestinya dapat memperbaiki kondisi asma. Sebab memiliki efek melemaskan otot polos dan merilekskan bronkus. Selain itu meningkatnya kadar hormon protasiklin (PG12) ditambah prostaglandin (PGE) juga dapat memperbaiki asma. Namun di sisi lain bertambahnya hormon lain seperti PGF2 saat kehamilan, bisa memperburuk asma.

Ada yang kondisinya semakin buruk setelah hamil, ada pula yang tidak mempengaruhi kehamilannya. Ini semua tergantung dari status imunologi dan reaksi imunologi pada tubuh si ibu. Namun, ibu penderita asma dapat melahirkan normal, jika saat persalinan tidak terjadi serangan asma. Tetapi bila terjadi serangan asma, persalinan dapat dibantu dengan vakum atau forsep. Bahkan jika perlu saat melahirkan ibu didampingi dokter spesialis paru.

Pengaruh Obat

Asma yang tidak dikendalikan dengan baik pada keadaan hamil dapat berpengaruh buruk pada ibu maupun janin. Pada kehamilan muda memang seharusnya obat-obatan ini perlu dihindari. Namun jika diperlukan penggunaanya juga mesti hati-hati. Sebab berbagai obat dapat menimbulkan efek samping pada janin atau pun ibu. Misalnya, abortus, kematian janin, kelainan kongenital terutama pada trimester pertama, efek terhadap pertumbuhan janin dan gangguan fungsi organ seperti sistem saraf serta otot polos uterus.

Banyak wanita penderita asma saat awal kehamilannya menghentikan penggunaan obat asma, mereka mengkhawatirkan efek samping bagi ibu dan janinnya, dilaporkan dalam berita edisi Juli dari American Journal of Obstetrics and Gynecology. Meski sebenarnya standar terapi yang ditetapkan adalah tetap melanjutkan penggunaan obat-obatan tersebut, karena obat tersebut dapat mempertahankan kehidupan dari penderitanya.

Banyak wanita berasumsi bahwa mengkonsumsi obat asma saat hamil tidak baik, karena obat tersebut akan masuk dan mempengaruhi perkembangan dari janin yang dikandungnya, Dr.Tina V. Hartert dari Vanderbilt University School of Medicine, Nashville, Tennessee menjelaskan kepada Reuters Health.

Hartert dan timnya menggunakan data yang diambil lebih dari 8.000 wanita hamil yang menderita asma, mereka diteliti apakah tetap menggunakan obat asma selama mereka hamil.

Pada minggu ke-13 kehamilan penggunaan obat inhalasi anti inflamasi menurun hingga 22,9 persen. Penggunaan obat beta agonis short acting seperti albuterol yang bermanfaat meredakan gejala mengalami penurunan hingga 13,2 persen dan penggunaan kortikosteroid mengalami penurunan hingga 54,3 persen, mereka melaporkan.

Penggunaan semua kelompok obat asma mengalami peningkatan kembali dari Minggu ke 6-13, dan dari Minggu ke 13-26 usia kehamilan, catatan para ahli, namun hanya penggunaan beta agonis short acting yang menunjukkan perbaikan secara bermakna pada minggu ke 26 usia kehamilan.

Hasil studi ini menyimpulkan bahwa wanita penderita asma mengalami penurunan dan/atau berhenti menggunakan obat asma selama awal masa kehamilan, meskipun rekomendasi yang ditetapkan adalah tetap menggunakan obat tersebut, mereka menyebutkan.

Diperlukan suatu perhatian khusus yang diberikan kepada ibu hamil terutama yang menderita asma. Seharusnya para ibu tersebut mendapatkan pengetahuan tentang penyakitnya, serta secara rutin melakukan kontrol terhadap kondisi asmanya dan tentunya menjamin mereka tetap menggunakan obat selama kehamilan, Hartert menjelaskan.

“Wanita hamil selalu menyebutkan bahwa mereka makan untuk dua orang, gunakan juga istilah tersebut untuk menyebutkan bahwa mereka bernapas untuk dua orang pula”.

Anemia Pada Kehamilan

sumber : http://portal.cbn.net.id/cbprtl/cyberwoman/detail.aspx?x=MotherAndBaby&y=cyberwoman|0|0|8|1198

Wanita hamil paling rentan terkena anemia. Ketika mengandung, volume darah dalam tubuh meningkat sekitar 50 persen. Ini karena tubuh memerlukan tambahan darah guna mensuplai oksigen dan makanan untuk pertumbuhan janin.

Meningkatnya volume darah mengakibatkan meningkatnya jumlah zat besi yang dibutuhkan untuk memproduksi sel-sel darah merah. Jika anemia pada wanita hamil tidak segera diatasi, maka bisa berakibat pada kehamilannya. Si ibu akan mudah pingsan, keguguran, atau proses melahirkan yang lama karena kontraksi yang tidak bagus. Sedangkan bagi janin, gangguan ini bisa mengakibatkan pertumbuhan terhambat, lahir prematur, lahir dengan cacat bawaan, atau lahir dengan cadangan zat besi yang kurang.

Zat besi, erat berkaitan dengan anemia atau kekurangan sel darah merah sebagai adaptasi adanya perubahan fisiologis selama kehamilan, yang disebabkan oleh meningkatnya kebutuhan zat besi untuk pertumbuhan janin, kurangnya asupan zat besi pada makanan yang dikonsumsi sehari-hari, dan adanya kecenderungan rendahnya cadangan zat besi pada wanita, sehingga tidak mampu menyuplai kebutuhan zat besi dan mengembalikan persediaan darah yang hilang akibat persalinan sebelumnya.

Zat besi berguna membantu pembentukan haemoglobin dalam sel darah merah, mencegah anemia. Sedangkan kalium/natrium, berguna untuk mempertahankan keseimbangan garam dan air dalam tubuh serta mempertahankan kesehatan fungsi syaraf dan otot.

Selama masa kehamilan, dibutuhkan zat besi sebanyak 800 mg. Dari jumlah itu, 500 mg digunakan untuk pertambahan sel darah merah ibu. Sedangkan sisanya untuk janin dan plasenta. Wanita hamil cenderung terkena anemia pada tiga bulan terakhir kehamilannya karena pada masa ini, janin menimbun cadangan zat besi untuk dirinya sendiri sebagai persediaan bulan pertama sesudah lahir.

Penanganannya, pertama, menggunakan terapi obat dengan memberikan tablet zat besi (ferosulfat) 30-60 mg per hari, tergantung pada berat ringannya anemia. Kedua, terapi diet dengan meningkatkan konsumsi bahan makanan tinggi besi seperti susu, daging, dan sayuran hijau.

Untuk mengatasi anemia ini, ada beberapa hal yang perlu dilakukan :

1. Bagi penderita anemia karena kekurangan zat besi, sebaiknya memperbanyak konsumsi makanan yang kaya akan zat besi, seperti bayam. Juga makanan yang banyak mengandung vitamin C, seperti jeruk, tomat, mangga, dan sebagainya. Sebab kandungan asam askorbat dalam vitamin C bisa meningkatkan penyerapan zat besi.

2. Sedangkan bagi ibu hamil, sejak sebelum kehamilan maupun selama hamil, sebaiknya memperbanyak mengonsumsi makanan yang kaya akan zat besi, asam folat juga vitamin B. Misalnya adalah hati, daging, kuning telur, ikan teri, susu, dan kacang-kacangan seperti tempe dan susu kedelai, serta sayuran berwarna hijau tua.

3. Hindarilah mengonsumsi makanan atau minuman yang menghambat penyerapan zat besi di dalam tubuh. Misalnya kopi dan teh. Teh dan kopi merupakan sumber makanan penghambat asupan zat besi. Kebiasaan masyarakat setelah makan tidak dilanjutkan dengan minum air putih, jus buah, atau maka buah-buahan. Sebaliknya, mereka lebih suka mengosumsi teh atau kopi. Begitu juga obat antibiotik seperti tetrasiklin, obat nyeri lambung, dan obat penahan rasa nyeri seperti obat rematik, juga menjadi penyebab terhambatnya asupan zat besi.

Mengandung Buah Hati? Jangan Terjebak Mitosnya!

sumber : http://cyberjob.cbn.net.id/cbprtl/Cyberwoman/pda/detail.aspx?x=Mother+And+Baby&y=Cyberwoman|0|0|8|1539

Mother And Baby Mon

Anda sedang hamil? Di usia kandungan berapa pun, pasti telinga Anda sudah familiar dengan berbagai macam mitos dan fakta seputar kehamilan. Terlebih bila ini merupakan calon buah hati yang pertama.

Taruhlah petuah dari sesepuh yang mengatakan untuk jangan terlalu banyak mengkonsumsi makanan pedas bila tidak ingin proses kelahiran dipercepat. Itu baru salah satu mitos saja, masih banyak mitos popular yang kadang diragukan kebenarannya.

Tapi nanti dulu, toh bukan berarti juga semua petuah dan nasehat seputar kehamilan yang beredar merupakan mitos belaka. Bila masih bingung mana yang fakta dan mana yang merupakan isapan jempol belaka, beberapa petuah populer di berikut ini bisa menjawab rasa penasaran Anda.

ONLY MYTH!

1. Semua wanita hamil pasti ngidam. Fenomena ingin makan/melakukan sesuatu karena ‘bawaan bayi’ ini nyatanya hanya terjadi di Indonesia. Ngidam ingin mengkonsumsi makanan asam atau asin itu sebenarnya adalah cara untuk mengalihkan rasa mual. Namun tidak semua wanita hamil mengalami ngidam, karena apa yang dirasakan ketika hamil tentunya berbeda-beda.

2. Bentuk perut adalah cerminan jenis kelamin bayi. Sampai kini belum ada penelitian yang membuktikan bahwa ada hubungannya antara keduanya. Mau tahu fakta di baliknya? Nyatanya kandung kemih dan posisi bayi di dalam perutlah yang berpengaruh pada lebar atau bentuk perut yang menonjol ke depan.

3. Makan ikan membuat bayi jadi bau amis. Bila mendengar “Jangan makan ikan, nanti bayinya jadi bau amis!” Anggap saja angin lalu. Ikan justru baik dikonsumsi ibu hamil. Pasalnya, ikan memiliki kandungan lemak omega 3 yang baik bagi perkembangan otak anak. Tentunya, pilih ikan yang masih fresh.

4. Jenis kelamin bayi dapat diramal dari tinggi rendah perut. Sama halnya seperti poin nomer dua di atas, nyatanya ini pun mitos. TInggi rendahnya bentuk perut tergantung pada bentuk tubuh. Selain itu, kehamilan pertama dan kedua bisa berbeda, karena pada kehamilan kedua, bentuk perut dapat tampak lebih rendah karena otot perutnya yang mungkin sudah mengendur. Hubungan dengan gender bayi? Tidak ada.

THE TRUTH IS..

1. Jangan pelihara kucing. Jujur saja, ini benar. Untuk ibu hamil penggemar kucing, sementara Anda sepertinya harus ‘puasa bergaul’ dengan kucing. Dr. Phil McGraw Ph.D., yang populer dengan talkshow-nya di Amerika, membenarkan hal ini. Menurutnya, kotoran kucing membawa virus toksoplasma yang dapat membahayakan bagi janin. Jadi ketika hamil sebaiknya memang hindari dulu berinteraksi dengan kucing, karena virus dapat terbawa pada tubuh si kucing walaupun Anda tidak bersentuhan langsung dengan kotorannya.

2. Jalan kaki lancarkan persalinan. Yup, ini juga benar. Ibu hamil sebaiknya tetap aktif beraktivitas, karena dapat melancarkan persalinan. Berjalan kaki dan gerakan seperti ‘nungging’ ketika mengepel, justru dianjurkan oleh dokter kandungan. Jadi siapa bilang ibu hamil hanya harus berdiam diri saja?

Yang jelas, entah itu fakta ataupun ternyata isapan jempol belaka, menjaga perkembangan kandungan agar tetap sehat dan kondisi tubuh agar tetap prima, sudah merupakan tanggungjawab seorang ibu kala memboyong sang calon buah hati dalam kandungannya, bukan?

Sumber: conectique.com

Ibu Over Hati-hati, Bayi Penakut!

SUMBER : cyberjob.cbn.net.id
Mother And Baby

“Saya bingung, sejak hamil lagi istri saya serba takut mau ngapain-ngapain. Hanya di tempat tidur. Malah diajak berhubungan intim saja nggak mau. Pokoknya serba hati-hati dan takut melakukan apa pun. Padahal kata dokter nggak apa-apa, lho,” cerita seorang reporter sebuah televisi swasta yang tak mau disebut namanya. “Eh, itu berpengaruh nggak sih sama janin?” tiba-tiba ia balik bertanya.

Tindakan ibu hamil yang harus ekstra hati-hati, sebenarnya hanya lantaran ketakutan terjadi sesuatu pada bayinya jika ia melakukan berbagai kegiatan atau makan makanan tertentu. Ini bisa jadi karena ibu memiliki pengalaman yang tak bagus pada kehamilan sebelumnya (traumatik), seperti pernah mengalami keguguran atau ‘tersugesti’ berbagai pantangan yang dikatakan orang-orang tua. Atau mungkin juga karena kepribadian ibu memang pencemas.

Jika tanpa indikasi medis – seperti riwayat keguguran berulang atau komplikasi kehamilan – sesungguhnya ibu hamil bisa menjalani kehidupan kehamilannya secara normal. Bekerja di kantor, boleh; makan apa saja, tak ada pantangan asal tak berlebihan; berhubungan intim dengan suami, silakan, dsb.

Malah, menurut spesialis kebidanan dan kandungan Nining Hadiyanti, terlalu hati-hati, serba takut kalau-kalau kegiatannya akan mengganggu janin, justru berpengaruh pada janin. “Bukan hanya gizi, stimulus luar atau penyakit yang dapat mempengaruhi janin, juga kondisi emosi ibu,” tegasnya.

Ibu yang memiliki kecemasan berlebihan yang ditandai dengan tindakan ekstra hati-hati, menurut penelitian, perilakunya dapat menurun pada bayi yang dikandungnya. Ingat kan Bu, jika kita takut untuk melakukan sesuatu, pasti jantung berdebar lebih kencang, dan itu dirasakan janin. Selain itu, ketika kita cemas dan ketakutan, oksigen jadi terhambat, terus mengganggu aliran darah ke seluruh tubuh termasuk ke janin. Karena kekurangan pasokan, janin pun ikut gelisah.

Bagaimana setelah si kecil lahir? Menurut psikolog Henny Eunike Wirawan, M.Hum., bayi yang gelisah karena ibunya serba ketakutan, besar kemungkinan menjadi anak pencemas, penakut,dan cengeng. “Selain pengaruh hubungan saraf, terhambatnya oksigen, karena ikatan emosional ibu dan bayi itu sudah terbentuk sejak dalam kandungan,” jelasnya. “Maka, kalau ibu pencemas, penakut, siap-siap saja punya anak yang juga penakut atau cengeng.”

Jangan Serba Takut, Ah!

Takut begini, takut begitu, Bu, Pak. Cobalah usir dengan…

* Bapak, bantu ibu dengan menjelaskan bahwa itu ketakutan yang tak perlu.

* Lawan perasaan takut. Yakinlah bahwa kehamilan Anda normal-normal saja dan melakukan berbagai kegiatan justru membuat Anda dan bayi lebih sehat.

* Yang penting, pola makan Anda bagus. Makanan yang baik memenuhi kebutuhan Anda dan janin. Janin yang sehat dan kuat dapat Anda ‘ajak’ melakukan berbagai macam aktivitas.

* Keluarlah dari rumah, kunjungi tetangga dan teman Anda, dan bersantailah.

* Hindari gula terutama bila digabung dengan cokelat dan minuman berkafein lainnya karena dapat meningkatkan kecemasan.

Dr. Nining Hadiyanti, spesialis kebidanan & kandungan

Siapa Yang Perlu Ekstra Hati-hati?

Setiap kehamilan pasti harus dijaga dengan hati-hati. Namun pada beberapa pasien dengan riwayat tertentu harus dijaga ekstra hati-hati. Mereka yang harus lebih hati-hati:

* Pasien yang susah mendapatkan anak. Secara medis pasien yang demikian disebut infertilitas sehingga agak susah mendapatkannya. Sewajarnyalah kalau ibu demikian lebih hati-hati menjaga kehamilannya.

* Ibu dengan riwayat keguguran berulang. Pasien ini biasanya mudah hamil tapi selalu mengalami keguguran. Perlu ekstra hati-hati bahkan mungkin sampai bed rest.

* Kehamilan pertama di atas usia 35 tahun. Kehamilan itu biasanya mengandung risiko sehingga harus dijaga ekstra.

* Ibu dengan penyakit tertentu. Misalnya, yang mengidap penyakit hipertensi, diabetes, jantung, ginjal atau penyakit lainnya yang membahayakan kehamilan. Sementara itu dari sisi anak, ibu harus menjaga kehamilan bila keadaan janin placenta previa, atau ari-ari terletak di bawah.

Ibu hamil yang tak mengalami keluhan atau gangguan alias normal saja tentu tak perlu ekstra hati-hati. Hati-hati perlu, dengan memperhatikan gizi dan istirahat yang cukup. b Mira

Sumber: Tabloid Ibu Anak

Apakah Mulut Rahim Lemah Itu ?

sumber : cyberjob.cbn.net.id
Mother And Baby

Selama masa kehamilan, banyak proses yang akan berlangsung. Bukan hanya pada janin yang terus tumbuh dan berkembang, tetapi juga pada tubuh si ibu ang hamil. Namun kadangkala tubuh ibu tidak sepenuhnya ‘siap’ mengantisipasi perubahan yang terjadi selama proses kehamilan berlangsung. Adanya beberapa kelainan pada tubuh ibu hamil, seperti lemahnya otot-otot pada mulut rahim bukan tidak mungkin dapat mengancam kehamilan.

Mulut rahim yang lemah, dalam ilmu kebidanan dikenal sebagai inkompetensia serviks. Ini merupakan istilah untuk menyebut kelainan pada otot-otot mulut rahim (serviks) yang terlalu lunak dan lemah, sehingga sedikit membuka di tengah-tengah kehamilan karena tidak mampu menahan desakan janin yang semakin besar. Pada kehamilan yang normal, mulut rahim harus selalu tertutup rapat sampai masa kehamilannya berakhir, yakni setelah mencapai 37-38 minggu.

Biasanya, keadaan ini baru akan terjadi pada saat usia kehamilan sudah memasuki trimester kedua atau ketiga. Terbukanya mulut rahim sebelum waktunya ini akan menyebabkan bayi lahir prematur dan juga mengakibatkan keguguran.

Penyebab Kelainan Mulut Rahim dan Gejalanya
Para ahli belum dapat mengetahui secara pasti faktor-faktor yang menyebabkan kelainan pada mulut rahim ini sampai saat ini. Namun ada beberapa kondisi yang terbukti menjadi faktor penunjang terbukanya mulut rahim sebelum waktunya. Wanita yang memiliki mulut rahim lemah biasanya mempunyai sejumlah riwayat kesehatan tertentu. Misalnya saja pernah mengalami trauma pada mulut rahimnya. Trauma ini misalnya karena pernah mengalami operasi pada membuka mulut rahim (dilatasi), misalnya kuretase.

Selain itu, bila seseorang wanita pernah mengalami kesulitan pada waktu proses persalinan sebelumnya sehingga mengakibatkan ‘kerusakan’ pada rahimnya, atau memiliki kelainan pada rahimnya, pernah hamil kembar, atau memiliki riwayat keluarga dengan kelainan yang sama pada mulut rahimnya, maka kemungkinan besar menderita kelainan pada mulut rahim.

Kemungkinan juga bisa terjadi pada wanita yang pernah megalami keguguran pada trimester ke-2 atau lebih dari 2 kali berturut-turut.

Gejala kelainan mulut rahim
Terbukanya mulut rahim di tengah masa kehamilan umumnya ditandai dengan gejala berupa perdarahan dari vagina, bercak-bercak darah maupun perdarahan cukup banyak. Seringkali, ibu hamil yang mengalami kelainan pada mulut rahimnya juga akan merasakan pada bagian perut bawah, atau adanya beban yang sangat berat terpusat di bagian bawah perut.

Tindakan Medis yang Tepat
Apapun tindakan yang akan dilakukan dokter, tujuannya adalah untuk mempertahankan kehamilan tersebut agar dapat berlangsung hingga mencapai usia 37-38 minggu. Jangan sampai si janin lahir sebelum waktunya. Sebab, paru-paru janin belum cukup matang dalam perkembangannya sehingga tidak akan mampu berfungsi dengan baik untuk menunjang kehidupan bayi setelah lahir. Upaya yang akan dilakukan dokter adalah ‘mengikat’ mulut rahim agar tertutup kembali sampai masa kehamilan berakhir dan janin siap untuk dilahirkan.

Tindakan ini biasanya dilakukan sebelum kehamilan mencapai usia 20 minggu. Yaitu dengan teknik yang disebut Mac Donald dan Shirodkar. ‘Ikatan’ ini umumnya akan dibuka setelah kehamilan mencapai 37 minggu, kehamilan cukup bulan sekitar 7 bulan, atau bila ada tanda-tanda melahirkan.

Sumber: Tabloid Ibu Anak

Episiotomi dalam Persalinan (Bagian 2),

SUMBER : cyberjob.cbn.net.id
Mother And Baby Sat
Perawatan dan Persiapan Hubungan Intim

Pada bagian pertama tulisan ini telah dipaparkan definisi medis episiotomi, sejarahnya dalam dunia kebidanan, dan praktiknya di kamar bersalin saat ini. Bagian kedua ini akan mengupas perawatan luka episiotomi dan bagaimana hubungan intim pertama kali dilakukan setelahnya.

Apa yang terjadi setelah persalinan dengan episiotomi selesai?
Banyak perempuan merasa terlalu khawatir terhadap luka perineumnya sehingga takut melakukan aktivitas seperti berjalan, buang air kecil, mandi, dll., pada hari-hari pertama usai melahirkan. Sebenarnya hal ini berlebihan karena luka episiotomi bisa pulih lebih cepat, tak perlu menunggu hingga 4-6 minggu.

Kuncinya adalah memulihkan kesehatan secara umum dan menjaga kebersihan luka episiotomi. Lakukan perawatan rutin seperti yang disarankan dokter, misal, membasuh luka dengan cairan antiseptik (bisa juga menggunakan air rebusan daun sirih), mengganti pembalut dengan teratur, menjaga daerah perineum agar tak lembab — karena lembab akan mengundang jamur — dan mandi secara teratur. Dulu, ada pemikiran mencampurkan garam pada air mandi akan mempercepat proses penyembuhan, tapi faktanya hal ini malah akan membuat luka menjadi teriritasi. Anda juga sebaiknya menghindari busa sabun mandi — ada baiknya untuk hanya menggunakan air saat mandi untuk beberapa minggu. Keringkan luka dengan mengusapnya secara lembut, menggunakan handuk bersih.

Saat ke Kamar Kecil
Dalam beberapa hari pertama mungkin saja akan terasa sakit saat buang air kecil. Beberapa ibu menggunakan air hangat untuk membasuh bagian luka agar tak terasa sakit. Ini boleh-boleh saja, tapi mungkin akan terasa sedikit menyengat.

Menghilangkan Rasa Sakit
Episiotomi dengan sedikit jahitan biasanya lebih cepat pulih dan tak menimbulkan rasa sakit ketimbang episiotomi dengan jahitan banyak. Jika ada rasa seperti terbakar pada bekas episiotomi, jangan pernah berpikir untuk menghilangkannya dengan menggunakan kantung es yang ditaruh langsung. Jika Anda melakukannya, mungkin malah akan merasa semakin terbakar oleh dingin es. Segala sesuatu yang dingin juga akan memutus aliran darah di area tersebut, dan ini malah memperlambat penyembuhan.

Banyak dokter merekomendasi ibu mengkonsumsi obat arnica yang tersedia di apotek secara bebas, untuk membantu proses penyembuhan. Jika tetap merasa sakit, minta rekomendasi untuk mengkonsumsi obat parasetamol. Jika menginginkan obat lebih kuat, minta pada dokter yang bisa dikonsumsi. Jangan gegabah mengingat Anda juga tengah menyusui.

Berhubungan badan
Waktu yang tepat untuk mengetahui kapan hubungan intim dilakukan kembali setelah bersalin, sangat bergantung pada keputusan masing-masing individu, persisnya antara Anda dan suami. Yang pasti, Anda harus menunggu sampai perdarahan pasca-persaliann selesai (masa nifas), dan luka episiotomi sembuh sebagian atau sepenuhnya. Ini perlu dipertimbangkan, sebab luka tersebut bisa saja masih rapuh dan menyebabkan kesakitan setelah berhubungan intim.

Normalnya, hubungan intim sesudah beberapa minggu atau bulan tindakan episiotomi, tak menimbulkan rasa sakit. Tetapi jangan malu mengatakan pada suami jika memang masih terasa nyeri. Cobalah lagi lain waktu bila Anda lebih siap. Jika irisan telah dijahit dengan baik, tak ada alasan jahitan tersebut copot atau lepas saat Anda berhubungan intim, meski masih banyak saja ibu merasakan ketakutan ini.

Menggunakan sedikit minyak pelumas di area vagina Anda juga merupakan ide baik, mengingat usai melahirkan vagina Anda belum cukup mempunyai minyak pelumas untuk lubrikasi. Hindari penggunaan minyak pelumas yang unsurnya tak termasuk air, seperti jelly petroleum, karena tak memungkinkan udara masuk ke dalamnya dan malah akan menghambat proses penyembuhan.

Jika ingin mulai melakukan hubungan seks, Anda bisa mengambil sejumlah posisi yang ‘aman’. Posisi sama-sama menyamping cukup baik untuk memperkecil tekanan pada bagian perineum. Bangunlah aktivitas seksual Anda, tapi jangan sampai membatasi atau tak mengindahkan rasa sakit yang dirasakan.

Komplikasi
Masalah yang umum terjadi setelah melakukan episiotomi adalah infeksi, akibat sulitnya menjaga daerah tersebut tetap kering dan bersih. Masih tergolong normal bila luka kembali berdarah, setelah 6 minggu pasca-melahirkan. Rasa gatal yang berlebih juga bisa menandakan adanya infeksi, masuknya jamur, atau hal lainnya pada bekas luka, yang harus dicek lebih lanjut ke dokter. Beberapa ibu mungkin saja merasa sakit karena jahitan yang dibuat terlalu kencang, tetapi dokter bisa dengan segera membetulkan dengan mengendurkan atau melepas beberapa jahitan yang membuat tak nyaman tersebut. b Rahmi Hastari/MB

Sumber: Tabloid Ibu Anak

Episiotomi, Apakah Itu? (Bagian 1)

sumber : cyberjob.cbn.net.id

Mother And Baby

Episiotomi salah satu prosedur persalinan normal. Meski sempat menjadi momok di dunia persalinan, faktanya prosedur ini sangat membantu ibu dan bayi.

Salah satu prosedur persalinan normal adalah episiotomi, yaitu pengguntingan untuk memperbesar jalan lahir bayi. Biasanya dokter atau bidan membuat irisan pada perineum (area antara vagina dan lubang anus) dan badan perineal (segitiga di dalam belahan otot dan jaringan otot yang terdapat dalam dasar rahim).

Teknologi ini dikembangkan di Inggris pada tahun 1970 dan awal 1980-an, di mana saat itu tindakan episiotomi dipakai pada sekitar 50% persalinan, dan dianggap perlu ketimbang pembukaan secara alami. Namun setelah itu ada juga periode ketika episiotomi ditinggalkan dan para ibu memilih melahirkan secara natural. Dengan informasi yang cukup dan ahli penolong persalinan yang tepat, sebenarnya episiotomi tak perlu menjadi momok bagi para ibu.

Kapan episiotomi diperlukan?
Setiap persalinan sangat tergantung pada masing-masing individu. Namun berikut ini ada beberapa alasan umum mengapa Anda membutuhkan tindakan episiotomi.

1. Untuk mempercepat persalinan bila kepala bayi terlalu besar (biasanya berlawanan dengan perineum) dan bayi memperlihatkan tanda-tanda dalam bahaya.

2. Sebelum dilakukan persalinan bantuan dengan forsep atau vakum.

3. Untuk menghindari risiko kerusakan kepala bayi pada persalinan sungsang atau kelahiran prematur.

4. Untuk menghindari upaya yang terlalu keras jika calon ibu mengidap sakit jantung atau tekanan darah tinggi.

5. Untuk membantu persalinan jika ada hambatan yang serius pada tahap kedua persalinan, yang bisa jadi mengharuskan akibat perineum yang keras karena pernah mengalami operasi, baik untuk memperbaiki mulut rahim atau sejenis operasi kandung kemih.

Bisakah menghindari episiotomi?
Banyak bidan menyatakan perineum perempuan Asia lebih lentur, tapi belum diketahui apakah hal itu akibat faktor genetik atau perbedaan gaya hidup. Anda dapat menghindari tindakan episiotomi, sekaligus mengurangi rasa sakit persalinan, dengan beberapa cara berikut:

1. Melakukan latihan mulut rahim, untuk membantu perineum menjadi lebih lentur.

2. Melakukan pemijatan pada bagian perineum dengan menggunakan minyak sayur atau minyak almond.

3. Kemungkinan paling efektif menghindari tindakan episiotomi adalah dengan melakukan proses persalinan yang benar, misal perlahan mengeluarkan kepala bayi sesuai dengan tingkatan pembukaan vagina. Tunggulah refleks menekan secara alamiah yang akan Anda alami. Hindarilah tekanan yang terlalu dipaksakan.

4. Tetap rileks dan dengarkan baik-baik petunjuk yang diberikan dokter. Dokter bisa memperlambat jalannya persalinan, bila memang Anda merasa tak tahan. Dokter juga yang bisa menilai kapan waktu yang tepat untuk meminta Anda melakukan tekanan. Jika Anda mendorong terlalu awal, sebelum perineum terbuka maksimal, Anda akan lebih merasakan sakitnya.

Jika cara di atas gagal Anda lakukan, janganlah menutup pikiran Anda untuk melakukan episiotomi. Jika memang Anda ditawari untuk melakukannya, pastikanlah Anda melakukannya dengan kerelaan. Sikap ini akan sangat membantu Anda nantinya, karena bagaimanapun, prosedur ini harus dilakukan demi keselamatan dan kelancaran persalinan Anda dan bayi Anda sendiri.

Siapa yang kompeten melakukan episiotomi?
Seorang dokter atau bidan dapat melakukan episiotomi. Anda akan diminta mengambil posisi lithotomy (berbaring pada punggung), dengan kaki diangkat pada pijakan kaki. Episiotomi juga bisa dilakukan dengan cara berbaring pada satu sisi, satu kaki diangkat. Sebelumnya area vagina dibersihkan dengan obat antiseptik untuk mencegah infeksi pada luka.

Pemberian anestesi
Jika sebelumnya Anda telah diberi suntikan epidural (anestesi yang membuat mati rasa di bagian bawah tubuh), tindakan anestesi untuk episiotomi bisa dilakukan di bagian daerah yang telah mati rasa tersebut. Meski demikian, jika Anda kerap melahirkan tanpa dibantu penghilang rasa sakit, penggunaan gas, udara, dan pethidine (analgesik yang membuat Anda santai), Anda akan diberikan anestesi lokal untuk menghambat saraf sensitif di area perineal — biasanya diberikan sedikit takaran lignocaine, yang disuntikkan di kulit.

Untuk melindungi kepala bayi, yang mungkin lebih besar dibandingkan area perineum pada saat ini, dokter akan memasukkan dua jari ke dalam vagina saat ia menyuntikkan anestesi. Membutuhkan sekitar 4-5 menit untuk menunggu efek anestesi bekerja.

Pengguntingan
Pemotongan dilakukan menggunakan sepasang gunting khusus episiotomi, atau dengan pisau bedah. Ada dua tipe irisan: midline atau garis tengah, yang potongannya lurus ke bawah dengan anus atau mediolateral, yaitu agak rendah ke sudut. Irisan midline umum di Amerika. Di negara lain irisan mediolateral lebih populer.

Biasanya dokter akan menunggu Anda mengalami kontraksi lebih dulu sebelum melakukan pengguntingan, karena pada saat itu perineum mudah diiris dan perdarahannya segera dihentikan. Kemudian, dokter akan memasukkan dua jari ke dalam vagina untuk melindungi kepala bayi.

Setelah itu bayi akan lahir tepat setelah diberikan episiotomi.
Jika ternyata ada irisan yang rusak, dokter mungkin melakukan tekanan dengan jari pada bagian irisan untuk menahan perdarahan — perineum penuh pembuluh darah sehingga bila terjadi perdarahan adalah normal.
Jika anestesi bekerja dengan semestinya, Anda tak akan merasa sakit. Namun beberapa perempuan merasakan suatu sensasi saat perineum ditarik atau dientakkan. Jika Anda merasa kesakitan, segera katakan pada dokter.

Penjahitan
Saat bayi lahir dan plasentanya keluar, dokter akan menjahit irisan yang dibuatnya. Jahitan umumnya tak menyakitkan. Waktu penyembuhannya berbeda-beda, tergantung jenis irisan dan pengalaman dokter yang melakukannya. Yang perlu diketahui, jahitan ini telah dilakukan dengan hati-hati, karena itu, jangan khawatir bila kering dalam waktu agak lama. Di lain pihak, banyak ibu begitu semangat mendapatkan seorang anak, sehingga mereka bahkan tak ingat telah melakukan episiotomi. b Rahmi Hastari/MB

Sumber: Tabloid Ibu Anak