Tanya Jawab Tentang Batuk

SUMBER : http://www.sehatgroup.web.id/?p=219

Batuk sering terjadi pada anak-anak. Penyebab tersering adalah infeksi pada system pernafasan. Biasanya anak-anak akan terserang infeksi system pernafasan sekitar 6-12 kali tiap tahunnya. Yang biasanya disebabkan oleh virus. Terkadang anak-anak terserang batuk cukup lama setelah infeksi virus. Antibiotik tidak dapat membantu untuk batuk seperti itu.
Apa yang perlu dilakukan orang tua jika anak sering batuk?

Jika anak terlihat baik-baik saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan untuk penyebab serius batuknya.
Jka anda ingin lebih jelas, coba konsultasikan kepada dokter dan dokter akan mengecek penyebab dari batuknya.
Asap rokok akan membuat batuk lebih parah lagi, sehingga sangat penting untuk menghindari anak-anak dari asap rokok.
Apakah obat-obatan batuk dapat membantu?

Obat-obatan batuk tidak dapat membantu untuk menghilangkan batuk. Namun beberapa obat batuk dapat membantu anak-anak merasa lebih nyaman sehingga dapat tidur lebih nyaman pada malah hari.
Dapatkah batuk selalu asma?

Biasanya, anak-anak yang memiliki asma akan memiliki gejala lainnya seperti bengi.
Kapan anak dibawa ke dokter ?

Konsultasikan dengan dokter jika anak terlihat tidak baik (missal demam, tidak nafsu makan, sulit bernafas)
Apa yang perlu dilakukan jika batuk tidak hilang beberapa minggu?

Jika perlu, dokter umum akan merekomendasikan ke dokter spesialis anak.
Sumber :

http://www.rch.org.au

Diterjemahkan : Windy Suci

Hindari Flu Dengan Pepaya

sumber : http://food.detik.com/read/2011/03/22/113006/1598302/900/hindari-flu-dengan-pepaya

Jakarta – Cuaca yang tidak bersahabat seperti akhir-akhir ini cenderung membuat tubuh rentan terhadap flu. Makan yang cukup dan bergizi kadang tak cukup untuk mencegahnya. Konsumsi beragam buah segar yang beragam bisa membuat daya tubuh lebih kuat!

Cuaca yang berubah-ubah belakangan ini membuat kondisi tubuh menurun. Makan makanan yang bergizi ternyata tak lantas membuat tubuh jadi kebal terhadap penyakit, khususnya flu. Tambahan asupan buah-buahan dalam makanan sehari-hari bisa membantu tubuh menangkal aneka virus yang menyerang tubuh.

Buah-buahan dapat membantu tubuh melawan virus dan bakteri yang menyerang tubuh apalagi di musim penghujan seperti ini. “Vitamin yang terdapat dalam buah menjaga kekebalan tubuh pada level yang tinggi, sehingga tubuh tak rentan terhadap flu dan demam,” ujar Amy Howell, Ph.D, seorang ilmuwan di Rutgers University. Nah, berikut ini adalah 5 jenis buah-buahan yang mampu meningkatkan sistem kekebalan tubuh:

1. Apel
Sudah tak diragukan lagi kalau buah apel merupakan salah satu sumber antioksidan yang cukup populer saat ini. Antioksidan yang terkandung dalam satu buah apel sama dengan 1500mg vitamin C. Selain itu, buah apel juga sarat akan flavanoid protective yang sangat bermanfaat dalam mencegah terjadinya serangan jantung dan kanker.

2. Pepaya
Dengan 250% RDA dari vitamin C yang terdapat dalam buah pepaya ternyata dapat menghindarkan sistem tubuh dari demam. Kandungan beta-caroten, vitamin C dan vitamin E dalam pepaya mengurangi peradangan yang terjadi di dalam tubuh dan mengurangi timbulnya asma.

3. Cranberry
Cranberry mengandung antioksidan yang cukup tinggi melebihi buah dan sayur pada umumnya. Satu sajian cranberry memiliki kandungan antioksidan 5 kali lebih banyak dibandingkan brokoli. Cranberry merupakan probiotik alami yang membantu memperbanyak bakteri baik dalam tubuh dan melindungi nya dari penyakit yang terbawa dari makanan.

4. Jeruk Bali
Jeruk Bali sarat akan vitamin C, selain itu jeruk Bali mengandung senyawa alami yang disebut Limonoids yang bermanfaat untuk menurunkan kadar kolesterol. Jenis jeruk bali merah adalah sumber yang sangat potensial untuk melawan kanker karena
kandungan lycopennya.

5. Pisang
Pisang menjadi salah satu sumber vitamin B6 tertinggi dibandingkan dengan buah-buahan lainnya. Pisang bisa mengurangi rasa letih, depresi, stres, dan insomnia(sulit tidur). Kandungan magnesium nya yang tinggi menjaga agar tulang kuat. Sedangkan potasium membantu mencegah serangan jantung dan tekanan darah tinggi.

Ternyata cukup mudah bukan? Siapkan buah-buahan tadi sebagai pencuci mulut untuk memenuhi kebutuhan vitamin harian dan mencegah terserangnya flu. Tentu saja harus dbarengi dengan istirahat dan olah raga teratur!

(eka/Odi)

Mengapa Anak Terus Panas-batuk-pilek?

sumber : http://www.iwandarmansjah.web.id/popular.php?id=21

Artikel pendek ini menjelaskan bagaimana Anda bisa mengatasi
panas-batuk-pilek anak Anda berkepanjangan, dengan menghilangkan
kepercayaan terhadap antibiotika yang lebih banyak menimbulkan masalah
daripada manfaat dalam mengobati FLU.

Mengapa anak terus panas-batuk-pilek?

Oleh: Prof. Iwan Darmansjah

Seorang bayi seharusnya jarang sakit, karena masih ditopang imunitas
tinggi sewaktu dikandung atau menyusu ibunya. Penyakit sehari-hari seperti flu (yang ditandai panas-batuk-pilek), penyakit virus lain, atau bahkan
infeksi kuman dapat ditolaknya. Sejak lama fakta ini telah disadari. Coba saja, bila bayi Anda tinggal serumah dengan seorang penderita campak, maka biasanya ia tidak akan gampang tertular.

Namun nyatanya, banyak anak dan bayi menjadi pelanggan dokter setiap 2 – 3 minggu karena penyakit yang sama: bolak-balik demam, batuk, dan pilek.
Tentu banyak orang tua bosan. Mereka menggugat, “Mengapa ini harus
terjadi, sedangkan semua kebutuhan anak saya telah dicukupi?”

Pencetus penyakit pada anak memang sulit ditentukan, karena dapat
bermacam-macam, misalnya lingkungan kurang sehat, polusi tinggi, dan ada perokok di rumah. Penggunaan penyejuk udara (AC) di malam hari bisa
menimbulkan alergi suhu dingin, sehingga hidung anak mampet, sehingga ia bernafas lewat mulut. Kipas angin dipasang di kamar tidur yang lalu meniup debu ke segala penjuru kamar. Belum lagi penularan virus di sekolah dan tempat ramai seperti mal. Juga perawat yang sedang batuk – pilek. Tak
langka pula kejadian sakit gara-gara anak mengonsumsi makanan ringan tidak sehat yang membuat tenggorokan menggelitik.

Batuk – pilek beserta demam yang terjadi sekali-kali dalam 6 – 12 bulan sebenarnya masih dinilai wajar. Tetapi observasi menunjukkan bahwa kunjungan ke dokter bisa terjadi setiap 2 – 3 minggu selama
bertahun-tahun. Bila ini yang terjadi, maka ada dua kemungkinan
kesalahkaprahan dalam penanganannya.

Pertama, pengobatan yang diberikan selalu mengandung antibiotik. Padahal 95% serangan batuk-pilek dengan atau tanpa demam disebabkan oleh virus, dan antibiotik tidak dapat membunuh virus. Selain mubazir, pemberian antibiotik kadang-kadang justru menimbulkan efek sampingan berbahaya.

Kalau dikatakan akan mempercepat penyembuhan pun tidak, karena penyakit virus memang bakal sembuh dalam beberapa hari, dengan atau tanpa antibiotik. Hal ini telah dibuktikan dengan studi terkontrol
(membandingkan dengan plasebo, alias obat bohong) berulang kali sejak
ditemukannya antibiotik di tahun 1950 – 1960-an. Hasilnya selalu sama
sehingga tidak perlu diragukan lagi kebenarannya.

Di lain pihak, antibiotik malah membunuh kuman baik dalam tubuh, yang
berfungsi menjaga keseimbangan dan menghindarkan kuman jahat menyerang
tubuh. Ia juga mengurangi imunitas si anak, sehingga daya tahannya
menurun. Akibatnya anak jatuh sakit setiap 2 – 3 minggu dan perlu berobat lagi. Orang tuanya lalu langsung membeli antibiotik di apotik atau pasar hanya karena setiap kali ke dokter mereka diberi obat tersebut.

Lingkaran setan ini: sakit >> antibiotik >> imunitas menurun >> sakit lagi >>, akan membuat si anak diganggu panas-batuk-pilek sepanjang tahun, selama bertahun-tahun. Komplikasi juga sering akan terjadi, yang akhirnya membawa anak itu ke kamar perawatan di rumah sakit.

Pengalaman menunjukkan, bila antibiotik dicoret dari resep (sementara obat batuk-pilek yang adekuat diberikan), setelah 1 – 3 bulan si anak tidak akan gampang terserang penyakit flu lagi. Pertumbuhan badannya pun menjadi lebih baik.

Salah kaprah kedua ialah gejala batuk – pilek yang tidak diobati secara benar; artinya, siasat pengobatan perlu diubah. Ini lantaran obat jadi yang dijual di apotek tidak selalu dapat mengatasi masalah setiap penderita. Bahkan sering terjadi, batuk – pilek malah menjadi lebih parah dan berkepanjangan.

Suatu perubahan dalam resep, yang mendasar dan individual, perlu dilakukan untuk memutus lingkaran setan panas-batuk-pilek ini. Yang utama ialah menghentikan antibiotik, tidak memberikan kortikosteroid secara terus-menerus, menghentikan pemberian obat penekan batuk dan menggantinya dengan bronkodilator, serta memberikan campuran obat pilek yang baru.

Efedrin dosis kecil – dicampur dengan antihistamin yang efektif -
merupakan obat pilek terbaik. Pseudo-efedrin, fenilpropanolamin, atau
etilefrin yang lebih sering dijumpai dalam obat-jadi, tidak lebih baik
dari efedrin, walaupun lebih mahal. Semua obat lain yang ternyata tidak terbukti efektif perlu dihentikan.

Terakhir, yang tidak kalah penting, carilah faktor pencetus yang
dicantumkan di awal tulisan ini. Bila ditemukan, hindarilah. Selamat
mencoba. Semoga anak Anda tidak perlu lagi begitu sering berobat karena flu!

INTISARI Sept 2002, hal 80-81

Mencegah dan Mengatasi Pilek secara Alami

SUMBER : http://cyberjob.cbn.net.id/cbprtl/cybermed/pda/detail.aspx?x=Hembing&y=cybertech|0|0|8|106

Hembing Fri, 05 Oct 2007 15:45:00 WIB

Oleh : Prof. Hembing Wijayakusuma

Pilek atau selesma merupakan penyakit yang paling umum dan sering ditemui, dapat menyerang anak-anak maupun lanjut usia. Sebagian orang awam sering menyamakan penyakit ini dengan influenza, padahal sebenarnya pilek dan influenza adalah dua penyakit yang berbeda, hanya gejalanya ada kemiripan, biasanya influenza lebih hebat penderitaannya dibandingkan pilek. Pilek tidak disertai dengan demam tinggi atau menggigil seperti pada influenza.

Gejala pilek atau selesma ditandai dengan tersumbatnya saluran pernapasan, tidak enak badan, kepala terasa pening dan berdenyut-denyut, bersin-bersin, ingus yang cair meleleh keluar dari hidung, temperatur tubuh naik atau demam ringan , mata merah dan terasa sakit, sakit tenggorokan sehingga sulit menelan, suara serak dan batuk-batuk. Penyakit ini sering diikuti dengan peradangan tonsil/amandel dan radang tenggorokan. Pilek sebenarnya bukan termasuk penyakit berat namun sangat menganggu penderitanya.
Pilek atau selesma terutama disebabkan oleh infeksi virus, ada lebih dari 200 virus yang telah diketahui menimbulkan selesma. Juga dapat disebabkan karena daya tahan tubuh yang menurun, atau adanya alergi di hidung dan kerongkongan. Pilek sangat mudah menular, orang dengan daya tahan tubuh yang lemah mudah tertular penyakit ini. Penularan penyakit ini bisa terjadi melalui percikan bersin atau ludah penderita yang mengandung virus dan masuk melalui saluran pernafasan. Pilek biasanya berlangsung selama 1-2 minggu. Gejalanya akan berangsur-angsur berkurang setelah 3-5 hari dilakukan perawatan sendiri. Namun jika gangguan tetap tidak berkurang setelah 3-5 hari melakukan perawatan sendiri, menandakan adanya tambahan infeksi bakteri.

Walaupun selesma/pilek bukan termasuk penyakit yang berat, namun penyakit ini susah diatasi sehingga sering kambuh. Pengobatan yang bisa dilakukan hanya untuk meredakan gejala atau simtomnya. Hal ini karena virus yang menyebabkan selesma sangat banyak jumlahnya dan dapat mengalami perubahan atau memiliki kesanggupan untuk mengalami mutasi genetik sehingga dapat timbul virus-virus baru. Hal tersebut menyebabkan virus selesma kebal terhadap vaksin tertentu atau antibodi tertentu dalam beberapa waktu sehingga sangat sulit untuk membuat vaksin selesma.

Penyakit selesma merupakan penyakit yang sering menyerang dan berulang-ulang. Karena ada lebih dari 200 virus yang dapat menyebabkan penyakit ini, maka dalam setahun bisa terserang pilek berkali-kali, amatlah mungkin terserang selesma lagi sebelum selesma yang pertama selesai. Oleh karena itu, untuk mencegah selesma yang paling utama adalah meningkatkan daya tahan tubuh. Untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh yaitu melalui pola hidup sehat, seperti olahraga yang teratur dan terukur serta tidak berlebihan, menghindari atau mengendalikan stres dengan baik, serta asupan makanan yang bergizi terutama yang mengandung vitamin A can C. Selain itu agar terhindar dari selesma, sering-seringlah mencuci tangan, karena virus selesma dapat bertahan pada meja, pegangan pintu, uang atau apapun selama beberapa jam. Hindari juga lingkungan atau orang yang selesma karena bisa tertular melalui percikan bersin penderita.

Untuk perawatan selesma tanpa disertai komplikasi adalah banyak istirahat, makan makanan yang bergizi untuk meningkatkan kondisi tubuh, kompres hangat di dada dan kepala, mandi dengan air hangat, dan minum obat untuk mengatasi gejala selesma yang tidak nyaman.

Herbal atau tumbuhan obat yang dapat digunakan untuk mengatasi pilek atau selesma mempunyai efek sebagai penurun panas (antipiretik), anti-infeksi, antitussif (meredakan batuk), dan membantu meningkatkan stamina dan daya tahan tubuh.

Berikut beberapa resep tumbuhan obat untuk mengatasi pilek :
Resep 1.
10 lembar daun sirih + 25 gram empu kunyit (dipotong-potong), setelah dicuci bersih direbus dengan 600 cc air hingga tersisa 300 cc, disaring, tambahkan madu atau gula batu, airnya diminum 2-3 kali, setiap kali minum 100-150 cc.

Resep 2.
Daun sambiloto kering dijadikan bubuk, ambil 1-2 gram bubuk tersebut lalu seduh dengan air panas, tambahkan madu, diaduk, lalu diminum setelah hangat. Lakukan 3 kali sehari.

Resep 3.
Sambung nyawa segar + 15 gram pegagan segar, dicuci bersih lalu diblender + 150 cc air matang, diblender, disaring, airnya diminum 2 kali sehari.

Resep 4.
10 gram jahe segar + 1 siung bawang putih, dicuci bersih dan dihaluskan,lalu diseduh dengan 200 cc air panas, tambahkan air perasan dari ½ buah jeruk lemon dan madu, kemudian diminum selagi hangat. Lakukan 3 kali sehari.

Catatan : pilih salah satu resep dan lakukan secara teratur. Untuk perebusan gunakan periuk tanah, panci kaca/pyrex atau panci enamel.

Sumber: hembing

Batuk, Mekanisme Perlindungan Tubuh

sumber : republika online

Prof dr Hadiarto Mangunnegoro SpP FCCP
Ahli Pulmonologi RS Persahabatan

Apa sesungguhnya batuk itu?

Batuk bisa merupakan suatu penyakit, bisa juga tidak. Batuk dari sananya, dari Penciptanya, bukan untuk penyakit. Itu untuk perlindungan, mekanisme defensif dari seorang manusia. Itu adalah fungsi dasar batuk.

Batuk mana yang merupakan mekanisme pertahanan dan mana yang disebut penyakit?
Biasanya kita lihat dari intensitas dan durasinya. Kalau untuk pertahanan, biasanya sebentar. Batuk itu ‘kan untuk mengeluarkan dengan cepat suatu benda yang ada dalam saluran napas. Batuk kecepatannya bisa puluhan kilometer per jam. Kalau bersin bisa ratusan kilometer per jam. Dengan kecepatan seperti itu, dengan sendirinya mereka bekerja cepat sekali. Kalau melalui sistem dahak, pelan ‘kan, mungkin makan waktu beberapa jam sampai satu hari baru keluar.

Kalau batuk terus-menerus, lama, berjam-jam, berhari-hari, apalagi berbulan-bulan, itu sudah hampir pasti bukan suatu keadaan yang fisiologi. Itu sudah merupakan suatu manifestasi dari suatu penyakit. Artinya batuk ditimbulkan suatu proses yang terus-menerus berjalan. Saya ambil contoh saja proses seperti infeksi pada saluran napas, bronkhitis.

Apa yang menimbulkan batuk?

Batuk ‘kan refleksnya di saluran pernapasan, disebabkan oleh rangsangan yang ada di saluran itu. Bahkan daerah perut pun bisa merangsang batuk. Kemungkinannya adalah kuman atau partikel itu masuk karena tersedot melalui hidung atau mulut, masuk ke dalam saluran pernapasan.

Tapi mungkin juga karena sebab internal. Artinya dalam tubuh sendiri misalnya terdapat sinusitis. Nah biasanya ada lendir. Lendir itu akan turun. Kemudian dia biasanya akan tertelan melalui kerongkongan, atau dia bisa ke saluran napas, terutama waktu tidur, dan ini menyebabkan batuk. Di samping itu karena lendirnya ada kumannya, menyebabkan infeksi saluran napas.

Penyebab lain yang di luar masalah paru; lambung juga dapat menyebabkan batuk. Dan barangkali baru belakangan ini mulai agak banyak dibahas, yaitu yang kita sebut sebagai reflax. Reflax artinya pencernaan itu ‘kan mestinya terus sampai ke usus, tapi dia balik lagi akhirnya sampai kerongkongan. Dari lambung itu cairannya umumnya berisikan asam, asam ini yang kemudian bisa mengiritasi saluran napas dan itu bisa menyebabkan batuk.

Yang penting adalah membedakan batuk akut atau kronik. Biasanya batasannya macam-macam, tapi umumnya minggu. Jadi kalau batuk lebih dari seminggu itu subakut. Tapi kalau kronik, yang dihubungkan dengan TBC, itu kira-kira tiga minggu ke atas.

Nah ini penting karena yang paling banyak menyebabkan batuk yang di bawah tiga minggu biasanya flu dan alergi. Kalau flu, nanti bisa dibedakan lagi, apakah ini flu saja atau ada komplikasi yang lain. Kita sebagai dokter harus menentukan, dia harus dikasih antibiotik atau tidak. Dia harus di-follow-up atau tidak. Dia harus diperiksa nggak dahaknya, harus di-rontgen atau tidak.

Apa yang perlu diperhatikan dalam menggunakan obat batuk?

Orang mengira obat batuk adalah obat yang bisa menghilangkan batuk, karena itu mereka selalu mencoba minum obat-obat batuk yang dijual. Tapi ‘kan kebanyakan kemudian tidak hilang, kalau itu batuknya karena penyakit. Kalau dia flu, makan obat atau tidak, satu minggu akan baik. Jadi obat batuk dalam hal ini nggak terlalu penting. Dia hanya untuk simtomatik. Virus flu itu self limiting, hidupnya terbatas, paling lama dua minggu. [arp]

© 2002 Hak Cipta oleh Republika Online

Jangan Pernah Sepelekan Batuk

Batuk, bagi kebanyakan orang, adalah hal biasa dan sama dalam setiap kemunculannya. Padahal ada beberapa jenis batuk, sehingga penting bagi seseorang untuk mengenali batuk yang dideritanya. Jenis batuk yang berbeda membutuhkan pengobatan yang berbeda pula.

Pada dasarnya, batuk diciptakan Tuhan sebagai mekanisme pertahanan tubuh. “Itu mekanisme defensif dari seorang manusia. Inilah fungsi dasar batuk,” ungkap ahli pulmonologi dari RS Persahabatan, Prof dr Hadiarto Mangunnegoro SpP FCCP.

Dengan batuk, berati kita mengeluarkan dengan cepat sesuatu benda yang berada dalam saluran napas. Kecepatan batuk bisa mencapai puluhan kilometer per jam. Dengan kecepatan seperti itu, batuk merupakan mekanisme pertahanan yang bekerja dengan cepat sekali.

Namun demikian, ungkap Hadiarto, batuk juga bisa merupakan suatu penyakit, atau lebih tepatnya manifestasi dari suatu penyakit. Persoalannya, mana yang merupakan penyakit dan mana yang tidak. Untuk membedakannya, ujar mantan ketua Asosiasi Ahli Pulmonologi Indonesia ini, biasanya dilihat dari intensitas dan durasi batuk.

Batuk yang berfungsi sebagai pertahanan hanya berlangsung sesaat. “Jadi kalau sudah keluar barangnya, ya sudah,” ujarnya. Sementara batuk yang merupakan penyakit, mempunyai durasi yang panjang. “Kalau batuknya terus-menerus, lama, berjam-jam, berhari-hari, apalagi berbulan-bulan, itu sudah hampir pasti bukan suatu keadaan yang fisiologi. Jadi kalau dia ternyata setelah dua minggu batuknya terus, dan malahan tambah parah, itu sudah pasti penyakit. Dia harus mencari pengobatan,” ujarnya.

Batuk seperti ini, sambungnya, sudah merupakan manifestasi dari suatu penyakit. Artinya, batuk tersebut ditimbulkan karena adanya suatu proses yang berjalan terus-menerus. Misalnya karena infeksi pada saluran napas atau bronkhitis.

Ia mengungkapkan, batuk yang merupakan manifestasi dari penyakit disebabkan dua hal: infeksi (pada saluran napas) dan noninfeksi. Di Indonesia dan negara-negara berkembang, kasus infeksi pada saluran napas tergolong tinggi. TBC misalnya, merupakan penyebab kematian ketiga di Indonesia. Sementara pneumoni (radang paru) menduduki urutan keempat. “Tapi di negara maju sekalipun, seperti Amerika, pneumoni penyebab keenam kematian,” ungkap Hadiarto.

Batuk noninfeksi paling banyak disebabkan asma, disusul bronkhitis kronik, serta kanker. “Tiga ini yang paling banyak,” ujar Hadiarto.

Jenis-jenis batuk

Menurut Hadiarto, pada intinya batuk terbagi dua; batuk kering dan batuk berlendir. Membedakan keduanya penting mengingat masing-masing memerlukan penanganan yang berbeda pula. Banyak orang mengira batuk lendir dan batuk kering sama saja.

Untuk batuk kering, ujar Hadiarto, obat yang diperlukan adalah yang disebut antitusif. Obat ini berfungsi untuk menekan rangsangan batuk Sementara untuk batuk berlendir, harus diberikan obat yang bisa merangsang pengeluaran lendir (ekspektoran).

“Tapi sering masyarakat menggunakan ini keliru. Batuk berlendir dikasih untuk menekan, misalnya Kodein. Memang batuknya hilang atau jauh berkurang, tapi napas jadi sesak,” papar anggota eksekutif Asia Pacific Society of Respirology ini.

Napas sesak tersebut, katanya, disebabkan lendir yang tidak bisa keluar akibat ditekannya rangsangan batuk. Lendir yang tertahan mengganggu aliran udara pada saluran pernapasan.

Batuk kering biasanya dipicu rangsangan atau iritasi yang diakibatkan debu (kendati batuk berdahak juga bisa karena iritasi, ini terjadi pada penderita alergi). Rangsangan/iritasi debu ini bisa menimbulkan efek batuk yang berlainan pada setiap orang.

Pada orang biasa, ungkap Hadiarto, rangsangan tersebut hanya menimbulkan batuk satu-dua kali. Tapi pada penderita alergi, rangsangan ini bisa menimbulkan refleks batuk yang berkepanjangan.

Pada penderita alergi, jelasnya, rangsangan tersebut menimbulkan reaksi alergik. “Akhirnya menjadi proses yang kemudian ujung-ujungnya adalah saluran pernapasan menjadi lebih basah karena produksi lendirnya lebih banyak. Dan karena produksi lendirnya banyak, refleks batuknya meningkat,” paparnya.

Obat batuk

Masih banyak masyarakat yang salah mengerti mengenai obat batuk. Obat batuk, ujar Hadiarto, hanya bisa menghilangkan batuk yang diakibatkan oleh iritasi (debu). Bahkan tanpa obat sekalipun batuk tersebut akan hilang dengan sendirinya. Sementara batuk yang diakibatkan penyakit, tidak bisa hilang oleh obat batuk.

“Jadi kalau orang bilang obat batuk, terus terang saya nggak ngerti apa yang dimaksud dengan obat batuk. Orang mengira obat batuk itu adalah obat yang bisa menghilangkan batuk, karena itu mereka selalu mencoba minum obat-obat batuk yang dijual, dengan harapan batuknya hilang. Tapi ‘kan kebanyakan tidak hilang, kalau itu batuknya karena penyakit,” paparnya.

Menurut Hadiarto, yang penting diperhatikan sebelum mengonsumsi obat batuk adalah mengenali apakah batuk yang diderita diakibatkan flu atau hal lain. “Sebenarnya orang kalau tadinya sehat, lalu kena batuk, itu hampir dipastikan dia flu. Jadi dia nggak usah terlalu khawatir karena saluran napasnya itu steril,” ujarnya.

Pada orang biasa, penyakit flu akan hilang dalam waktu sekitar seminggu. “Dia makan obat batuk atau tidak, kira-kira satu mingguan dia akan baik. Jadi obat batuk dalam hal ini nggak terlalu penting. Dia hanya untuk simtomatik (mengurangi gejala-gejala),” ujarnya.

Namun demikian jika batuk terus berlangsung kendati sudah menghabiskan satu botol obat batuk, maka ada sesuatu yang tidak benar. Karenanya, ujar Hadirto, orang tersebut harus memeriksakan diri ke dokter. “Saya tak jarang mendapat pasien, dia bilang ‘sudah habis enam botol macam-macam merek, sama saja batuk terus.’ Itu sudah nggak bener,” paparnya.

Bagi penderita batuk yang diakibatkan alergi, kata Hadiarto, pemberian obat-obatan ada gunanya. Ini mengingat obat batuk mengandung antihistamin yang menekan reaksi alergi. Namun demikian, lanjutnya, antihistamin mempunyai efek samping membuat kantuk.

Hal lainnya yang perlu mendapat perhatian adalah asma. Penyakit ini salah satu gejala utamanya adalah batuk. “Orang mengira asma itu hanya kalau napasnya bunyi. Padahal gejala yang pertama adalah batuk,” ujar Hadiarto. Yang paling penting, sambungnya, pasien harus bertanya kepada dokter apakah dia menderita asma atau tidak, karena pengobatannya berbeda.

Ketua Indonesian Pharmaceutical Watch (IPhW — Lembaga Pemerhati Masalah Kefarmasian Indonesia) Drs Amir Hamzah Pane Apt MM meminta masyarakat berhati-hati dalam melihat promosi obat batuk, terutama tujuan spesifik obat yang ditawarkan. “Jangan menggeneralisasi obat batuk,” tegasnya.

Ia mengatakan masyarakat perlu memperhatikan dengan seksama kandungan obat batuk. Obat batuk, sambungnya, terbagi tiga jenis: dekongestan, antitusif, dan ekspektoran. “Masing-masing mempunyai target terapi yang spesifik,” ungkap staf ahli Komisi VII DPR ini. {rp]

© 2002 Hak Cipta oleh Republika Online

Anak Batuk Tidak Perlu Panik

sumber : purnamawati.wordpress.com

Batuk bukanlah penyakit. Kebanyakan karena alergi dan virus yang tidak perlu obat.

Hujan dan panas kini silih berganti menyapa penghuni negeri ini. Kemarin diguyur hujan, hari ini bergelimang dengan terik mentari. Dalam udara yang berubah-ubah seperti ini, bila tubuh tak dalam kondisi fit, batuk dan flu pun rajin menyapa. Seperti yang dialami Kiki, bocah berumur 7 tahun. Anak sekolah dasar yang aktif ini mulai merasakan sakit di tenggorokannya . Sesekali ia batuk, saat pagi ataupun malam hari. Seperti kebanyakan para ibu, sang mama langsung mengambil solusi pemberian obat batuk. “Kebetulan obat batuknya ada yang cocok dengan dia. Jadi, sudah disiapkan di kotak obat di rumah,” ujarnya. Pemberian obat itu membuat si mama tak lagi merasa cemas.

Sebenarnya tidak perlu ada yang dicemaskan dengan kehadiran batuk pada anak. Seorang spesialis anak secara ekstrem menyebutkan tidak ada anak yang meninggal dunia gara-gara batuk. Dr Purnamawati Sujud Pujiarto, SpAK, dari Kemang Medical Care, Jakarta Selatan, pun menjelaskan bahwa pada dasarnya batuk adalah sebuah refleks yang pusat pengaturannya berada di otak. Refleks batuk juga merupakan salah satu sistem pertahanan tubuh terhadap benda asing yang masuk ke saluran napas. “Ketika tersedak, ketika terkena infeksi flu, lendir yang berlebihan pun akan dibatukkan oleh tubuh,” katanya.

Kebiasaan pemberian obat batuk ini tak hanya terjadi di negeri ini. Di Amerika Serikat pun, para orang tua masih melakukan hal serupa. Peneliti dari Universitas Boston, pada Mei 2008 menemukan hampir 10 anak di Amerika Serikat menggunakan satu atau lebih obat batuk dan flu selama seminggu. Peneliti merasa sedikit heran bahwa frekuensi dosis obat batuk pada anak di Negeri Abang Sam itu masih belum dipahami oleh para orang tua.

Dalam studi juga ditemukan bahwa pemberian obat batuk itu tidak hanya dilakukan terhadap anak berusia 2-5 tahun, tetapi juga di bawah 2 tahun. Padahal, hampir di semua jenis obat tersebut, 64,2 persen menggunakan lebih dari satu bahan aktif. Ketua peneliti, Louis Vernacchio, MD, menyebutkan konsumsi obat batuk ataupun flu bagi anak balita ini tidaklah perlu. “Yang perlu diwaspadai malahan efek berbahaya dan rendahnya bukti klinis bahwa pengobatan tersebut efektif untuk anak-anak,” ujarnya, seperti dikutip Sciencedaily.

Masih lalainya para orang tua tentang dosis obat batuk dan flu tersebut terlihat dari tren meningkatnya jumlah anak-anak overdosis obat batuk dan flu berupa sirup di ruang gawat darurat rumah sakit. “Kami menemukan banyak kasus bahkan orang tua langsung memberikan obat ke mulut anak langsung dari botol,” kata Dr Richard Dart, Direktur Pusat Obat dan Keracunan Rocky Montain, Denver, seperti tertera dalam msnbc, 18 Desember lalu. Bart menyebutkan komplikasi karena bahaya penggunaan dosis obat batuk dan flu anak yang tidak tepat itu sudah diketahui publik, tetapi orang tetap saja tidak waspada. Kondisi ini telah membuat Badan Pengawas Obat-obatan dan Makanan Amerika Serikat pada Oktober lalu mendesak perusahaan obat batuk dan flu anak untuk pencantuman larangan obat tersebut untuk anak di bawah 4 tahun. Bahkan, mereka tengah mempertimbangkan larangan penggunaannya untuk anak di bawah 12 tahun.

Badan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat pun tegas-tegas menyatakan bahwa batuk ataupun radang tenggorokan tidak membutuhkan terapi antibiotika. “Yang perlu ialah perbanyak minum, maka batuk pun akan mereda karena lendir menjadi lebih encer dan lebih mudah dikeluarkan,” ucap Wati. Batuk muncul karena peningkatan produksi dahak yang dipicu oleh infeksi virus atau alergi. Spesialis anak yang biasa disapa Wati ini menyebutkan, batuk akibat infeksi virus flu bisa berlangsung hingga dua minggu bahkan lebih malah lagi jika anak sensitif atau alergi.

Kebanyakan, Wati menyebutkan, penyebab batuk pada bayi dan anak kecil adalah virus parainfluenza, respiratory syncytial virus (RSV), dan virus influenza. “Batuk lama pada anak besar bisa karena pertusis, mycoplasma pneumoniae, tetapi kebanyakan tetap karena alergi dan infeksi virus sehingga umumnya tidak membutuhkan antibiotik,” paparnya. Ia menambahkan pada anak besar, batuk yang berlangsung lebih dari 4 hingga 8 minggu, memang perlu dipikirkan kemungkinan terjadi hipersensitivitas saluran napas, aspirasi benda asing, tuberkulosis, pertusis, cystic fibrosis, atau sinusitis. “Dalam kondisi ini, baru terapi antibiotik perlu dipertimbangkan.” RITA

Tip Kurangi Produksi Lendir

1. Minum air hangat yang banyak.
2. Bila masih bayi, gunakan bantal yang agak tinggi.
3. Jangan gunakan antibiotik, penekan batuk codein, atau dekstrometorfan (DMP).
4. Batuk yang bukan penyakit, cari penyebabnya.
5. Tidak ada yang namanya obat batuk, kecuali jika batuknya disebabkan oleh asma.

Sumber : Koran Tempo

Pengobatan untuk batuk dan pilek umumnya tidak efektif

Sumber : Koran Tempo

Wajah Evie yang tenang tiba-tiba menegang. Ibu tiga anak ini terhenyak saat membaca salah satu surat elektronik yang dikirim temannya. Isinya mengingatkan agar berhati-hati dalam menggunakan obat batuk dan flu. Sebab, kedua jenis obat itu bisa membuat perdarahan di otak karena mengandung phenylpropanolamine (PPA). “Benar-benar mengerikan,” ia berkomentar. Bukan cuma Evie, rekan sekantornya, Singgih, pun memiliki kecemasan serupa. Ayah satu anak ini mencoba mencari tahu gara-gara kiriman surat elektronik serupa.

Dalam jumpa pers di Departemen Komunikasi dan Informatika, Selasa lalu, Kepala Badan Pengawas Pengendalian Obat dan Makanan Husniah Rubiana Thamrin Akib memberi jawaban. Ia menegaskan tidak benar pada Maret 2009, Badan Pengawasan Obat-obatan dan Makanan Amerika Serikat (FDA) mengeluarkan peringatan bahaya menyangkut sejumlah obat batuk dan flu dengan kandungan PPA seperti yang ditemukan dalam pesan singkat dan surat elektronik sejumlah orang. Pesan itu menyebut merek, di antaranya Decolgen, Mixaflu, Mixagrip, Neozep Forte, Procold, Sanaflu, Stopcold, Siladex, Triaminic Drops, Tusalgin, Flucyl, dan Fludane.

Husniah menyebutkan, FDA memang telah menarik semua jenis obat dengan kandungan PPA, sehingga di sini pun ramai dibicarakan. Alasan penarikan itu karena ada studi yang menunjukkan gejala perdarahan di otak (hemorrhagic stroke) jika mengkonsumsi dalam dosis besar. Dosis ini biasanya ditemukan pada obat pelangsing yang dijual bebas di Amerika Serikat. Padahal Indonesia tidak pernah menyetujui penjualan obat dengan kandungan PPA sebagai obat pelangsing. Jelas bahwa obat batuk dan pelangsing adalah dua hal yang berbeda.

Soal kandungan PPA dalam obat batuk dan flu sebenarnya sudah didengungkan sejak tahun 2000-an di Negeri Abang Sam. Sesuai dengan rekomendasi FDA, sejumlah perusahaan farmasi di negeri tersebut sudah melakukan perubahan kandungan, bahkan menambahkan sejumlah peringatan dan menyatakan obat bebas tidak diperuntukkan bagi anak di bawah dua tahun bahkan enam tahun.

Keamanan dan efektivitas antihismatin, decongestant, antitusin, dan ekspektoran pada anak pun ditelisik FDA. Awal tahun lalu, badan ini mengevaluasi hasil studi pada rentang 1969-2006 serta menemukan 54 anak meninggal karena decongestant dan 69 orang disebabkan antihismatin. Kebanyakan kematian terjadi pada anak di bawah dua tahun. Badan ini juga menyimpulkan, obat dengan kandungan tersebut sebaiknya tidak diberikan kepada anak di bawah 12 tahun. Dan disarankan untuk melakukan konsultasi ke dokter sebelum meneguk obat-obatan.

Di Indonesia, BPOM menyarankan untuk mengkonsumsi obat flu dan batuk yang mengandung PPA sesuai dosis. “Selain peringatan dalam kemasan, harus diperhatikan, tidak boleh diminum melebihi dosis maksimal bagi anak dan dewasa,” Husniah menjelaskan. Ia menambahkan, dosis maksimal orang dewasa adalah 75 miligram hari dan anak-anak 37,5 miligram per hari. Kandungan PPA dalam obat tersebut disebutnya berfungsi sebagai penghilang gejala hidung tersumbat.

Selama ini, dengan dosis tersebut BPOM belum menemukan laporan efek samping, apalagi sampai perdarahan di otak. Husniah menyebutkan, peringatan kepada penderita tertentu sudah tercantum jelas pada kemasan. Jika obat batuk dan flu dengan kandungan PPA dikonsumsi sesuai aturan pakai, efek sampingnya adalah mengantuk, sakit kepala, mual, muntah, gelisah, atau susah tidur. “Efeknya ringan dan sementara,” ia menegaskan.

Lagi pula sebenarnya ketika anak batuk dan flu, orang tua tidak perlu risau. Seperti diungkapkan oleh sejumlah dokter spesialis anak, batuk bukanlah penyakit, hanya suatu gejala dan umumnya tidak berbahaya, yang bisa ditangani dengan asupan cairan yang memadai serta istirahat. Dr Purnamawati, SpA pun menekankan hal ini dalam bukunya, Smart Parent Healthy Child. Ia menyebutkan, batuk merupakan salah satu mekanisme tubuh untuk membersihkan saluran napas dan paru-paru dari mikroorganisme, lendir, dan benda asing.

American Academy of Pediatrics (AAP) pun menyatakan pengobatan untuk batuk dan flu umumnya tidak efektif dan memicu efek sampingan serius bagi anak. Lagi pula ada cara lain untuk menangani gejala batuk pilek. Tahukah Anda bahwa delapan gelas air, jus buah, dan air kaldu atau air perasan jeruk campur madu dapat membantu melegakan hidung tersumbat serta mencegah dehidrasi? AAP pun menyarankan untuk melembapkan udara dengan hydrator atau vaporizer, menggunakan tetesan air garam untuk mengeringkan hidung yang berair, memberi anak sup ayam hangat, dan bila sudah memburuk, baru konsultasi dengan dokter anak. RITA | DIANING SARI

Periksa ke Dokter

1. Bila batuk disertai demam tinggi, di mana suhu di atas 40,5 derajat Celsius, kemungkinan terjadi infeksi bakteri.
2. Dahak kental, berbau, dan berwarna.
3. Muntah-muntah berwarna hijau.
4. Batuk yang mengeluarkan darah.
5. Batuk berlangsung lebih dari tiga pekan.
6. Diikuti pembengkakan di wajah atau tenggorokan.
7. Kesulitan bernapas atau napas pendek-pendek.

Langkah Sederhana

1. Beristirahat dan tidur yang cukup.
2. Tingkatkan asupan cairan. Dengan cara ini, Anda terhindar dari dehidrasi, mencegah lapisan dalam tenggorokan tidak mengering, serta dahak menjadi lebih encer dan mudah dikeluarkan.
3. Hindari minuman bersoda karena memperparah dehidrasi. Untuk orang dewasa, kurangi kopi dan minuman beralkohol.
4. Jauhkan diri dari asap rokok karena akan memperparah kondisi.
5. Mandi air hangat karena meningkatkan kadar kelembapan udara dan meringankan batuk kering.
6. Konsumsi makanan bergizi seimbang dan minum air putih yang banyak.
7. Untuk pencegahan, cuci tangan sesering mungkin.