<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Keluarga Sehat Keluarga Bahagia</title>
	<atom:link href="http://keluargasehat.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://keluargasehat.wordpress.com</link>
	<description>Dengan memberi asi exclusive sampai 6 bulan dan MPASI home made serta menerapkan Rational Use Of Medicine maka keluarga kita pasti akan menjadi keluarga sehat dan keluarga bahagia</description>
	<lastBuildDate>Wed, 04 Nov 2009 07:01:29 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='keluargasehat.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/80c88301ed984bdae78e5216ff0ba949?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Keluarga Sehat Keluarga Bahagia</title>
		<link>http://keluargasehat.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Minum Susu Justru Sebabkan Osteoporosis?</title>
		<link>http://keluargasehat.wordpress.com/2009/11/04/minum-susu-justru-sebabkan-osteoporosis/</link>
		<comments>http://keluargasehat.wordpress.com/2009/11/04/minum-susu-justru-sebabkan-osteoporosis/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Nov 2009 07:01:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lutvita</dc:creator>
				<category><![CDATA[OSTEOPOROSIS]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://keluargasehat.wordpress.com/?p=2735</guid>
		<description><![CDATA[sumber :
http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/11/04/04165529/minum.susu.justru.sebabkan.osteoporosis
Oleh IRWAN JULIANTO
Hari Osteoporosis Nasional 2009 diperingati ribuan warga di Bundaran
Hotel Indonesia, Jakarta, tanggal 25 Oktober lalu. Sebagai sebuah
event, acara itu cukup berhasil menarik perhatian, yang tentu tidak
lepas dari peran sebuah perusahaan swasta yang memasarkan produk susu,
terutama untuk orang dewasa.
Acara itu juga seolah-olah merupakan antitesis atau sanggahan terhadap
pendapat bahwa minum susu terlalu banyak justru [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=keluargasehat.wordpress.com&blog=3434992&post=2735&subd=keluargasehat&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>sumber :<br />
http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/11/04/04165529/minum.susu.justru.sebabkan.osteoporosis</p>
<p>Oleh IRWAN JULIANTO</p>
<p>Hari Osteoporosis Nasional 2009 diperingati ribuan warga di Bundaran<br />
Hotel Indonesia, Jakarta, tanggal 25 Oktober lalu. Sebagai sebuah<br />
event, acara itu cukup berhasil menarik perhatian, yang tentu tidak<br />
lepas dari peran sebuah perusahaan swasta yang memasarkan produk susu,<br />
terutama untuk orang dewasa.</p>
<p>Acara itu juga seolah-olah merupakan antitesis atau sanggahan terhadap<br />
pendapat bahwa minum susu terlalu banyak justru menyebabkan<br />
osteoporosis. Pendapat yang terakhir ini tercantum dalam buku best<br />
seller karya Prof dr Hiromi Shinya, The Miracle of Enzyme-Self-Healing<br />
Program, yang tahun 2008 telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia dan<br />
diterbitkan Qanita, anak perusahaan Mizan.</p>
<p>Hingga tahun ini, buku itu telah mengalami cetak ulang beberapa kali.<br />
Tak kurang dari pengusaha Ciputra amat memercayai isi buku itu, sampai<br />
pernah mengadakan seminar untuk warga usia lanjut di rumahnya dengan<br />
pembicara seorang dokter yang menguraikan pokok-pokok isi buku Shinya.</p>
<p>Dalam bukunya itu, Shinya yang guru besar kedokteran Fakultas<br />
Kedokteran Albert Einstein di Amerika Serikat menulis demikian: ”Satu<br />
miskonsepsi umum yang terbesar mengenai susu adalah bahwa susu<br />
membantu mencegah osteoporosis. Oleh karena jumlah kalsium dalam tubuh<br />
kita berkurang seiring dengan usia, kita diberi tahu untuk minum susu<br />
yang banyak untuk mencegah osteoporosis. Namun, ini adalah sebuah<br />
kesalahan besar. Minum susu terlalu banyak sebenarnya menyebabkan<br />
osteoporosis.”</p>
<p>Apa argumen Shinya terhadap pendapatnya yang ”melawan” pendapat umum<br />
ini, termasuk sebagian dokter ahli gizi klinik? Menurut Shinya, kadar<br />
kalsium dalam darah manusia biasanya terpatok pada 9-10 mg. ”Namun,<br />
saat minum susu, konsentrasi kalsium dalam darah Anda tiba-tiba<br />
meningkat. Walaupun sepintas lalu hal ini mungkin terlihat seperti<br />
banyak kalsium telah terserap, peningkatan jumlah kalsium dalam darah<br />
ini memiliki sisi buruk. Ketika konsentrasi kalsium dalam darah<br />
tiba-tiba meningkat, tubuh berusaha untuk mengembalikan keadaan<br />
abnormal ini menjadi normal kembali dengan membuang kalsium dari<br />
ginjal melalui urine,” demikian pendapat Shinya.</p>
<p>Ia menambahkan, ”Jika Anda mencoba minum susu dengan harapan<br />
mendapatkan kalsium, hasilnya sungguh ironis, yaitu menurunnya jumlah<br />
kalsium dalam tubuh Anda secara keseluruhan. Dari empat negara susu<br />
besar—Amerika, Swedia, Denmark, dan Finlandia—yang banyak sekali<br />
mengonsumsi susu setiap hari, ditemukan banyak kasus retak tulang<br />
panggul dan osteoporosis.”</p>
<p>Masuk akal</p>
<p>Menanggapi pendapat Shinya ini, pakar gizi klinik Fakultas Kedokteran<br />
Universitas Indonesia, Prof Dr Waloejo Soerjodibroto, ketika dihubungi<br />
menyatakan bahwa pendapat tersebut masuk akal. Waloejo mengaku belum<br />
membaca buku Shinya, tetapi ia belum yakin bahwa kadar kalsium yang<br />
berlebih akibat asupan minum susu justru akan mendorong pembuangan<br />
kalsium dari ginjal melalui urine, termasuk kalsium dari massa tulang.<br />
”Betapapun susu adalah sumber protein sehingga dalam konteks yang<br />
benar, susu tetap berguna untuk tubuh,” katanya.</p>
<p>Walaupun demikian, Waloejo setuju dengan sebagian pendapat Shinya<br />
bahwa susu sapi memang paling cocok untuk anak sapi, bukan untuk anak<br />
manusia, apalagi manusia dewasa. ”Dalam perkembangan masyarakat<br />
modern, air susu ibu diganti oleh susu formula atau pengganti air susu<br />
ibu supaya kaum ibu bisa aktif bekerja. Manusia punya otak untuk<br />
merekayasa, termasuk menciptakan pengganti air susu ibu yang mendekati<br />
atau mirip air susu ibu, walaupun tak bisa sama persis,” tambahnya.</p>
<p>Kita tentu ingat slogan gizi ”Empat Sehat, Lima Sempurna” yang<br />
diciptakan tokoh gizi nasional, almarhum Prof dr Poorwosoedarmo,<br />
sekitar empat dekade lalu, yang menyebutkan bahwa konsumsi susu<br />
”menyempurnakan” empat komponen makanan lainnya (karbohidrat, protein<br />
dan lemak nabati/hewani, sayur, dan buah-buahan). Menurut Waloejo,<br />
slogan itu bagus dan amat berguna pada masa tahun 1960-an ketika<br />
kondisi gizi masyarakat Indonesia masih kurang baik karena memberikan<br />
panduan yang mudah diingat masyarakat awam.</p>
<p>”Namun, kini kita dapat mempertanyakan, apakah benar tanpa susu asupan<br />
gizi kita kurang sempurna. Panduan ini kemudian diganti dengan istilah<br />
’menu seimbang’ (balanced diet), yang sebenarnya juga tidak pas. Yang<br />
benar untuk konteks Indonesia adalah giza atau gizi lengkap (wholesome<br />
diet). Semua komponen ada, tidak kelebihan, tidak kekurangan,” tutur<br />
Waloejo.</p>
<p>Konsumsi ikan</p>
<p>Menurut Prof Errol Untung Hutagalung, Ketua Perhimpunan Osteoporosis<br />
Indonesia (Perosi), puncak massa tulang (peak bone mass) manusia<br />
terjadi pada usia 20 hingga 30-an tahun. Jumlah penderita osteoporosis<br />
terus meningkat dan dikhawatirkan menjadi beban masalah kesehatan di<br />
Indonesia 40 tahun lagi. Salah satu upaya pencegahannya adalah dengan<br />
memaksimalkan mengonsumsi kalsium ketika usia 20-30 tahun. Pengurangan<br />
kalsium mulai terjadi pada usia 40 tahun dan makin meningkat setelah<br />
usia 50 tahun, katanya (Kompas, 26/10). Ketika dihubungi semalam,<br />
Hutagalung menyatakan belum membaca buku Shinya sehingga belum bisa<br />
berkomentar bahwa konsumsi susu malah dapat meningkatkan laju<br />
osteoporosis.</p>
<p>Prof Waloejo sebaliknya setuju dengan pendapat Prof Shinya bahwa<br />
asupan kalsium tidak melulu harus dari susu. Ikan-ikan kecil dan<br />
rumput laut, yang selama berabad-abad dimakan oleh bangsa Jepang,<br />
ternyata mengandung kalsium yang tidak terlalu cepat diserap (slow<br />
release) yang justru dapat meningkatkan jumlah kalsium dalam darah.</p>
<p>Waloejo menekankan, yang penting untuk mencegah berkurangnya massa<br />
kalsium pada jaringan tulang bukan hanya asupan kalsium, tetapi juga<br />
tersedianya vitamin D3, yang dibuat dari inti kolesterol.</p>
<p>Pada awal evolusi, manusia purba tidak gampang mencari lemak. Dalam<br />
perkembangannya, lingkungan dan pola hidup manusia berubah, tetapi<br />
mekanisme usus dan enzim-enzim manusia purba masih tidak berbeda<br />
dengan manusia modern.</p>
<p>”Itulah sebabnya kita sekarang menjumpai banyak kasus obesitas,<br />
kelebihan kolesterol dan trigliserida. Kritik Prof Shinya ada<br />
benarnya,” katanya.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/keluargasehat.wordpress.com/2735/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/keluargasehat.wordpress.com/2735/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/keluargasehat.wordpress.com/2735/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/keluargasehat.wordpress.com/2735/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/keluargasehat.wordpress.com/2735/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/keluargasehat.wordpress.com/2735/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/keluargasehat.wordpress.com/2735/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/keluargasehat.wordpress.com/2735/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/keluargasehat.wordpress.com/2735/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/keluargasehat.wordpress.com/2735/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=keluargasehat.wordpress.com&blog=3434992&post=2735&subd=keluargasehat&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://keluargasehat.wordpress.com/2009/11/04/minum-susu-justru-sebabkan-osteoporosis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/15a3be986fb03d1ee0faab8b908fb1ba?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">lutvita</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Breastfeeding Myths and Realities</title>
		<link>http://keluargasehat.wordpress.com/2009/10/31/breastfeeding-myths-and-realities/</link>
		<comments>http://keluargasehat.wordpress.com/2009/10/31/breastfeeding-myths-and-realities/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 Oct 2009 06:55:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lutvita</dc:creator>
				<category><![CDATA[ASI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://keluargasehat.wordpress.com/?p=2733</guid>
		<description><![CDATA[SOURCE : http://www.promom.org/bf_info/myths.htm
By Leslie Kincaid Burby for ProMoM
This information is furnished to you by ProMoM, Inc. as a public service.
It is in no way intended as medical advice, or meant to replace the services
of a licensed medical professional.
Myth #1: Breastfeeding ruins the shape of your breasts
*Reality:* This is simply not true. As soon as a [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=keluargasehat.wordpress.com&blog=3434992&post=2733&subd=keluargasehat&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>SOURCE : http://www.promom.org/bf_info/myths.htm</p>
<p>By Leslie Kincaid Burby for ProMoM</p>
<p>This information is furnished to you by ProMoM, Inc. as a public service.<br />
It is in no way intended as medical advice, or meant to replace the services<br />
of a licensed medical professional.</p>
<p>Myth #1: Breastfeeding ruins the shape of your breasts</p>
<p>*Reality:* This is simply not true. As soon as a woman becomes pregnant<br />
permanent changes occur in her breasts. Even if she doesn&#8217;t carry to term,<br />
or chooses to abort, her breasts will never be the same as they were before<br />
she became pregnant. Whether or not she then goes on to breastfeed will not<br />
effect her future breast shape one way or another. Heredity plays a large<br />
role in this matter, as does excessive weight gain or loss. It is helpful to<br />
maintain the tone of the muscles that support your breasts, and avoid large<br />
and sudden weight gains or losses, pregnancy-related or otherwise.</p>
<p>Myth #2: Small-breasted women won&#8217;t have enough milk</p>
<p>*Reality:* The size of your breasts, either large or small, has nothing<br />
to do with the amount of milk they will produce. Almost all women who are<br />
getting plenty of liquid, adequate rest and relaxation, and lots of physical<br />
contact with their babies will produce enough milk. In fact, many women who<br />
believe they are not producing enough milk are mistaken. It is surprising<br />
how much milk a tiny baby can consume in a short amount of time. The number<br />
of wet and soiled diapers being produced every day is a fairly accurate<br />
indicator of how much milk the baby is getting. 6-8 wet cloth diapers (5-6<br />
soaked disposables), and at least 2-5 bowel movements per day indicate that<br />
your baby is getting plenty of milk. Once the newborn stage is over, the<br />
number of bowel movements may decrease.</p>
<p>If your baby seems lethargic, seems to have poor skin tone or is not<br />
wetting and soiling an adequate number of diapers, this is cause for<br />
concern. If you believe you are having trouble with your milk supply,<br />
contact a lactation consultant, or a supportive physician. It is always<br />
better to be safe than sorry.</p>
<p>Remember, the more the baby nurses, the more milk your breasts will be<br />
stimulated to produce. If you begin &#8220;supplementing&#8221; your supply with<br />
artificial milk, your breasts will not receive adequate stimulation and your<br />
milk supply will decrease.</p>
<p>Myth #3: Breastfeeding influences a baby&#8217;s future sexual orientation.</p>
<p>*Reality:* Not true. The misconception that breastfeeding could in some<br />
way determine whether a child will grow up to be heterosexual or homosexual<br />
is tied to the mistaken idea that breastfeeding is in itself a sort of<br />
sexual activity. It is not. Breastfeeding is a nutritional and nurturing act<br />
that helps children grow up to be healthier and more self-confident,<br />
whatever their sexual preference turns out to be.</p>
<p>Myth #4: Today&#8217;s artificial breast milk is just as good as the real thing.</p>
<p>*Reality:* Even though modern formulas are considerably better than some<br />
of the old fashioned ones, they can never replicate mother&#8217;s milk. In the<br />
first place, human milk contains live cells and human hormones that are<br />
impossible to obtain from the milk of another species. Furthermore, formula<br />
companies admit that they don&#8217;t yet know all of the ingredients in human<br />
breast milk. Every few months these companies come up with something<br />
different to try to add in. If you choose to breastfeed you can be confident<br />
that all the necessary nutrients, immunities, hormones and as yet<br />
undiscovered beneficial elements will be present in the right amounts. On<br />
the other hand, research shows significant risk in the use of artificial<br />
milk.</p>
<p>Myth #5: Breastfeeding takes more time than bottle-feeding.</p>
<p>*Reality:* This statement is usually made in reference to nighttime<br />
feedings. If a mother sleeps with or next to her baby, nighttime feedings<br />
are much easier than they are for bottle feeders. All you have to do is open<br />
your nightgown and roll over. Even if the breastfeeding mother does not<br />
sleep with her baby, it is certainly less time-consuming to go pick up the<br />
child and offer the breast, than to get up, go the kitchen, open a can of<br />
formula (or mix up a batch from powder), turn on the stove to boil water to<br />
heat the formula, put the formula into a bottle, warm the bottle in the hot<br />
water, wait several minutes, then finally return to the crying child, pick<br />
up the child and offer the bottle. Of course, at this point it is tempting<br />
for an exhausted mother or father to prop up the bottle and leave the baby<br />
alone to finish it. This is an extremely dangerous thing to do as the baby<br />
can easily choke on the liquid, or spit up and choke on that. Also, it leads<br />
to baby bottle caused tooth decay.</p>
<p>It is true that you may have to feed a bit more frequently if you<br />
breastfeed because breastmilk is more easily digested than formula. Of<br />
course that easy digestibility translates into less time dealing with colic,<br />
diarrhea and other digestive ailments. Also, breastfed babies are far less<br />
likely to contract colds, ear infections, and asthma. Formula feeding<br />
mothers need to factor in extra time for trips to the store to buy supplies,<br />
as well as possible extra trips to the doctor&#8217;s office. (See ProMoM&#8217;s &#8220;101<br />
Reasons To Breastfeed Your<br />
Child&#8221;,<br />
#58).</p>
<p>It is also a fact that in the early months, unless you express<br />
breastmilk, you will be the only person able to provide nutrition to your<br />
baby. Formula feeding mothers can have other caregivers give some or most of<br />
the feedings. However, breastfeeding offers a new mother an amazing chance<br />
to bond with her child, as well as all the health benefits that formula and<br />
bottles cannot provide. It may be helpful to remember that your baby will<br />
only be completely dependent on you for a very short amount of time in the<br />
course of your relationship together. Nursing can give you a chance for a<br />
much needed relaxation break, and time to re-connect with your baby. Try to<br />
savor these special moments.</p>
<p>Myth #6: You can&#8217;t get pregnant if you&#8217;re breastfeeding.</p>
<p>*Reality:* True and false! Breastfeeding is only an effective form of<br />
birth control  (98%)<br />
during the first 6 months, and is only effective during this period if the<br />
baby is receiving nothing but breast milk on demand. No supplements, no<br />
solids, no water, and no pacifiers! The chance of pregnancy increases<br />
greatly when the baby begins sleeping through the night, starts eating<br />
solids, and/or when the mother resumes her menstrual cycle. If you truly do<br />
not wish to become pregnant again yet, it is wise to use an additional<br />
method of birth control.</p>
<p>*Myth #7: You must wean if you get pregnant.*</p>
<p>*Reality:* There is no particular reason why a woman who is enjoying<br />
breastfeeding one child should wean that child when she learns that she is<br />
expecting another, unless she has a history of preterm labor. Some women<br />
continue to breastfeed throughout a pregnancy and then go on to<br />
&#8220;tandem&#8221;feed. This<br />
phrase refers to the practice of breastfeeding more than one<br />
child simultaneously. Some children do wean themselves once their mother<br />
becomes pregnant, possibly because her milk supply drops, or they detect a<br />
change in the taste of the milk which does not please them. Some women<br />
choose to wean because they find breastfeeding during pregnancy too<br />
physically or emotionally fatiguing. Other women describe enjoying the<br />
relaxation breaks that an ongoing breastfeeding process requires of them,<br />
and feel it contributes to the enjoyment of their new pregnancy. See La<br />
Leche League&#8217;s information on breastfeeding during<br />
pregnancy.</p>
<p>Myth #8: You can&#8217;t breastfeed after a caesarian section birth.</p>
<p>*Reality:* It is entirely possible to breastfeed after a c-section. Many<br />
women describe really enjoying being able to perform this natural act after<br />
going through a very medically oriented birth. It is important to nurse in<br />
way that does not put pressure on the incision sight. The &#8220;football hold&#8221;<br />
position  is<br />
particularly helpful, as is a good nursing pillow. Ask the hospital staff<br />
for help, and consider calling a lactation consultant or your local La Leche<br />
League if you&#8217;re having difficulty.</p>
<p>Myth #9: Your milk will &#8220;come in&#8221; immediately after you give birth.</p>
<p>*Reality:* First of all, the substance produced by your breasts<br />
immediately after a birth is called colostrum. It is yellowish and stickier<br />
than mature milk, and full of nutrients and immunities for the newborn baby.<br />
However, amounts of colostrum vary from mother to mother, and you may not<br />
produce very much. This is normal.</p>
<p>After colostrum the breast then begins to produce transitional milk,<br />
which is whitish-yellow, and more abundant. Gradually, over the next week or<br />
two, the transitional milk begins to change to a thin, bluish-white mature<br />
milk. Your milk production is directly linked to how often and how<br />
effectively your baby is suckling. If your transitional milk does not come<br />
in after 30 &#8211; 40 hours it is a good idea to contact a lactation consultant<br />
or La Leche League, especially if the hospital staff is advising you to give<br />
formula or water.</p>
<p>Myth #10: Your mate will find you less attractive if you breastfeed.</p>
<p>*Reality:* It is possible that your mate may have some trouble adjusting<br />
to thinking of your breasts as sources of nourishment as well as of sexual<br />
stimulation. On the other hand, many partners find that a woman who is<br />
fulfilling this new part of her womanly potential is particularly exciting.<br />
The idea of the bountiful breast filled with the milk of life can be very<br />
powerful. If your mate does feel uncomfortable with this, however, it may be<br />
helpful to join a support group with other couples so that he/she may become<br />
more familiar with these new images, and begin to understand that they are<br />
normal and healthy.</p>
<p>Myth #11: Breastfeeding is painful</p>
<p>*Reality:* Many women experience no pain or difficulty at all when they<br />
start breastfeeding. For some, the first week or two may include some slight<br />
discomfort and pain. However, excruciating, or ongoing pain is *not*normal.</p>
<p>Usually, it is caused by incorrect positioning or latch-on technique, and<br />
can be cleared up with one or two visits from a lactation consultant. This<br />
pain can often be avoided if the mother does some reading, and/or attends a<br />
class about breastfeeding, and/or attends a class about breastfeeding before<br />
giving birth.</p>
<p>Visiting several La Leche League meetings while you are still pregnant is<br />
also a wonderful way to observe successfully breastfeeding mothers, as well<br />
as to network with other new parents. La Leche<br />
Leaguehas a peer counseling program in<br />
which you can receive help from other<br />
experienced mothers in the early days of your nursing relationship.</p>
<p>Do request any assistance you can from trained hospital staff while you<br />
are still in recovery. Sometimes these services are not volunteered, and you<br />
will not receive them unless you request them. Also, Ask about the<br />
availability of a lactation consultant before you make your choice as to<br />
which hospital or birthing center you are planning to use.</p>
<p>Myth #12: You can be arrested for breastfeeding in public.</p>
<p>*Reality:* In the United States, you *cannot* be arrested for<br />
breastfeeding your child any place a woman would normally be. Such places<br />
include beaches, pools, restaurants (at the table), park benches, and<br />
parking lots, among others. You cannot be forced to remove yourself to a<br />
bathroom, closet, or vehicle. If anyone tries to tell you otherwise, you<br />
should feel free to refuse to comply, and inform them of your<br />
rights.<br />
Obviously, places like the men&#8217;s bathrooms are off limits, since it&#8217;s not a<br />
place women are supposed to be. Who would want to breastfeed there anyway?</p>
<p>Myth #13: You can&#8217;t breastfeed if your plan to go back to work or school.</p>
<p>*Reality:* If you&#8217;re planning to return to work or school, there are<br />
several different ways to approach the situation without weaning your child.<br />
First of all, it may be possible to schedule your work with a lunch break<br />
during which you may return home, or go to your child&#8217;s daycare center to<br />
nurse. Alternatively, your caregiver might bring the child to your work<br />
place.</p>
<p>If these situations are not possible to arrange, there are now wonderful<br />
and relatively inexpensive pumps (compare them with the price of buying<br />
formula) available to the public. Or, you may prefer to rent a<br />
pump.<br />
In some cases, insurance companies will even cover the cost of a pump rental<br />
or purchase because it will save them money in the long run to have<br />
healthier babies on their plans.</p>
<p>Using a good quality electric pump it is possible to pump 8-10 ounces of<br />
milk in 15 minutes. Battery pumps are also available, and they can be used<br />
in a vehicle or in a restroom. It may take longer for newer mothers, and you<br />
should plan to pump at least every 4 hours. Beware of cheap low-grade<br />
machines, some of which are manufactured by formula companies. They can<br />
cause soreness, and probably will not pump sufficient quantities of milk.<br />
Remember that pumping is a learned art, and may take time to get perfected.<br />
If you do not receive the amount of milk you anticipated, try again, or try<br />
a different pump. (See ProMoM&#8217;s &#8220;Breastfeeding and Returning to<br />
Work&#8221;<br />
and La Leche League&#8217;s information on working and<br />
breastfeeding.)</p>
<p>If none of these possibilities work for you, you might consider nursing<br />
when you are at home and having a caregiver provide a bottle of artificial<br />
milk when you are at work. This method should be approached very carefully,<br />
however, to avoid depleting the mother&#8217;s milk supply and endangering the<br />
health of the infant.</p>
<p>Myth #14: Night nursing causes dental problems.</p>
<p>*Reality:* Generally, the worries about babies getting cavities through<br />
nighttime milk consumption arise from the practice of leaving babies to<br />
sleep with bottles of formula or juice. When this is done harmful bacteria<br />
have unlimited access to these sugary mediums and will thrive in the baby&#8217;s<br />
mouth. The acids excreted by the bacteria cause tooth decay. Such decay has<br />
been seen occasionally in breastfed babies if these children happen to fall<br />
into a small category of people with easily decayed teeth. For most children<br />
night nursing will not be a problem.</p>
<p>One advantage that the human nipple provides over an artificial one is<br />
that it delivers the milk further toward the back of the mouth, past the<br />
teeth. Artificial nipples deliver the milk into the front and middle of the<br />
mouth where it can cause decay. Also, the human nipple does not continue to<br />
drip milk when it is not being sucked. In contrast, bottles will drip milk<br />
all night if left in the bed with the baby. Reminder: no baby should ever be<br />
left alone with a propped up bottle!</p>
<p>If you notice anything strange looking happening to your child&#8217;s teeth<br />
consult a breastfeeding supportive dentist for help. There are many articles<br />
on this subject  available<br />
through La Leche League.</p>
<p>Myth #15: Breastfeeding will ruin your sex-life.</p>
<p>*Reality:* Some people fear that the intimacy that a mother maintains<br />
with her child through breastfeeding will displace her needs for intimacy<br />
with her partner. This is partially due to our society&#8217;s viewing of the<br />
female breast as a sex organ, rather than a source of nutrition. There is no<br />
reason that a breast can&#8217;t perform both functions. In fact, whether a woman<br />
chooses to breastfeed or not, she may find her libido considerably<br />
diminished for weeks or months following a birth. It is unrealistic and<br />
unfair to expect any new mother, breastfeeding or not, who is recovering<br />
from a birth, who is either nursing or bottle-feeding around the clock,<br />
getting up at night to diaper, rock and sooth the baby, cooking, cleaning,<br />
chauffeuring, etc. to have much interest in sex! If she has an extra half<br />
hour in the evening she will probably choose to use it to sleep! Any tasks<br />
that her mate can assist her with will contribute to the deepening of their<br />
relationship. If a breastfeeding mother&#8217; partner is respectful of the<br />
importance of the breastfeeding relationship, and able to assist with things<br />
such as diaper changes and nighttime parenting duties, the new mother&#8217;s<br />
sexuality will gradually resurface.</p>
<p>Myth #16: You have to have a good diet or your milk won&#8217;t nourish the baby<br />
properly.</p>
<p>*Reality:* Surprisingly, new studies have shown this to be untrue. Even<br />
women who are getting poor nutrition can usually produce adequate quality<br />
milk. However, they may not be able to produce as much of milk as women who<br />
are eating well. Needless to say, it&#8217;s best to eat right during pregnancy<br />
and while you&#8217;re breastfeeding. Occasional lapses, however, are nothing to<br />
worry about.</p>
<p>Myth #17: Breastfeeding makes you fat.</p>
<p>*Reality:* Breastfeeding will certainly not prevent you from getting back<br />
to your pre-pregnancy weight. In fact, breastfeeding uses an extra 300 to<br />
500 calories every day. It&#8217;s up to the mother how many of those calories she<br />
chooses to obtain through eating additional food or through burning off her<br />
available body fat. It is wise to lose weight gained during pregnancy<br />
gradually whether or not you choose to breastfeed. It may take some women<br />
longer than others, and it is important to remember that your body has been<br />
through a lot, and is still working hard to provide nourishment for your<br />
baby. You should not be losing more than a half a pound to a pound per week<br />
or you may affect your milk supply. This is a time to be kind to yourself!</p>
<p>Myth #18: Breastfeeding deprives your mate and other friends and family of<br />
their chance to bond with the baby.</p>
<p>*Reality:* There are lots of ways to bond with a new born. Soothing,<br />
rocking, diapering, and burping the new baby are only a few of these<br />
activities. Anyone can participate in them without depriving the child of<br />
it&#8217;s optimal nutrition and nurturing. One wonderful book on this subject is<br />
*Becoming A Father*,<br />
by Dr. William Sears, MD.</p>
<p>Myth #19: Breastfed newborns need vitamin and mineral supplements.</p>
<p>*Reality:* Not true. No vitamin or mineral supplements should be given to<br />
breastfed babies until at least six months. New studies are currently being<br />
conducted as to whether or not such supplements should be given after six<br />
months. Historically, before such supplements were invented, many breastfed<br />
babies survived and thrived for the duration of breastfeeding, which could<br />
last to three years or older. This is not to say that supplementation is not<br />
a good idea after a certain age. It is simply not yet clear what that age<br />
is. At least until your baby is 6 months old, you can be assured that your<br />
breastmilk will provide for all of her nutritional needs.</p>
<p>Myth #20: You can&#8217;t take any medication while you&#8217;re breastfeeding.</p>
<p>*Reality:* While there are a few medications that should absolutely not<br />
be used during the breastfeeding portion of a woman&#8217;s life, most can be<br />
taken safely. It is important that your doctor checks actual research rather<br />
than simply relying on the standard instructions that are issued with the<br />
prescription. Most prescription drugs instructions automatically caution<br />
against being taken by pregnant or breastfeeding mothers. This warning is<br />
issued to prevent liability, and is often overly cautious. It&#8217;s also a good<br />
idea to ask your doctor about non-prescription drugs. Some of them are not<br />
appropriate for nursing or pregnant women. *The Nursing Mother&#8217;s<br />
Companion* ,<br />
by Kathleen Huggins contains a general reference section on which<br />
medications are compatible with breastfeeding. A more up-to-date resource is<br />
*Medications In Mother&#8217;s<br />
Milk*,<br />
by Dr. Tom Hale, PhD.</p>
<p>Myth #21: Breastfeeding ties you down.</p>
<p>*Reality:* It is true that breastfed babies are dependent upon their<br />
mothers for their nutrition. This does not mean that a breastfeeding mother<br />
must remain housebound and attached to her baby 24 hours a day. After you<br />
have recovered from the birth, it is not only possible but usually a lot of<br />
fun to take your baby with you on errands, visits to friends, walks in the<br />
park and other outings. Now that it has been clearly established that women<br />
have a right to breastfeed in all public spaces, and with the advent of<br />
excellent breast pumps, the possibilities for nursing mothers to fully<br />
participate in activities outside the home are almost unlimited. It is also<br />
nice not to have the added burden of caring around all that formula<br />
paraphernalia. If you choose to express some of your milk ahead of time you<br />
can easily spend time apart from your baby without relying on artificial<br />
substitutes.</p>
<p>Obviously, taking your baby with you on outings will probably mean you&#8217;ll<br />
be nursing him or her in front of others, and maybe in public. Some women<br />
&#8220;feel funny&#8221; about nursing in front of strangers, or even friends and family<br />
members, probably because the sight of a nursing mother is not something<br />
they themselves are used to seeing. As countless mothers will attest,<br />
however, it&#8217;s rare that anyone will stare or say something to you while<br />
you&#8217;re breastfeeding; more likely they&#8217;ll just look the other way, or not<br />
even notice that you&#8217;re nursing! Breastfeeding in public can be very<br />
discreet, especially if you wear clothes that are specially designed for<br />
nursing mothers. In general, the more natural your attitude the less you&#8217;ll<br />
notice the reaction of others. If you are hesitant about breastfeeding in<br />
public, just remember &#8211; it&#8217;s what breasts are made for, and, like so many<br />
other things, the more you do it the easier it will be.</p>
<p>Myth #22: After a year, breastmilk loses all it&#8217;s nutritional value.</p>
<p>*Reality:* I have a good friend whose mother tormented her by insisting<br />
that if she continued to breastfeed her 9 month old daughter she would<br />
starve the baby. This belief is a total myth, as is evidenced by the<br />
recently released guidelines of the American Academy of Pediatricians, which<br />
recommend breastfeeding for *at least* one year. While many people are<br />
now aware that breastmilk is the perfect, complete source of nutrition for<br />
babies under 6 months of age, not everyone is aware that breastmilk<br />
continues to provide perfect nutrition as long as the mother continues to<br />
breastfeed. Breastmilk tailors itself to the needs of a child from birth<br />
until weaning. There is no need to worry that at some point the milk will<br />
become worthless. It will always contain valuable nutrients, hormones, and<br />
immunities. It will always be easier to digest than the milk of another<br />
species. As you gradually add new foods to your child&#8217;s diet, you can be<br />
assured that your child is getting excellent nutrition, even on those days<br />
when she may choose not to eat much solid food at all.</p>
<p>Myth #23: Serious athletes can&#8217;t breastfeed.</p>
<p>*Reality:* A professional ballet dancer once explained to me that she had<br />
to stop nursing after one month because she&#8217;d wanted to start taking dance<br />
classes again. She believed that she would be unable to do jumps, and that<br />
her milk would &#8220;go sour&#8221; from the exercise. In fact, both of these ideas are<br />
myths. While it may be uncomfortable to run, dance, or perform strenuous<br />
physical activity with very full breasts, it is certainly possible to nurse<br />
or pump prior to engaging in such activities. Exercise does not &#8220;sour&#8221; your<br />
milk. Immediately following a vigorous exercise session the lactic acid<br />
content in you milk may increase and slightly alter the taste of your milk.<br />
However, within an hour or two the lactic acid passes out of the milk again,<br />
leaving it tasting just fine. Also, some researches suggest showering off<br />
after a workout to get rid of salty tasting sweat. And remember, it&#8217;s wise<br />
to start back to a previously established exercise regimen gradually,<br />
whether the new mother is breastfeeding or not.</p>
<p>Myth #24: Adoptive mothers can&#8217;t breastfeed.</p>
<p>*Reality:* As surprising as this may seem, you do not have to give birth<br />
to a child to produce milk. Many adoptive mothers have successfully<br />
developed their ability to produce milk through pumping, putting the baby to<br />
their breast and allowing it to suckle, and use of a supplementary feeding<br />
system designed to give the baby artificial milk until the mother can begin<br />
to produce her own. In some cases only a little milk will be obtained. In<br />
others, the majority of the baby&#8217;s nutrition can be provided from the<br />
adoptive mother&#8217;s body. The La Leche<br />
Leaguesite has many interesting<br />
articles on this issue.</p>
<p>Myth #25: After menopause you can&#8217;t breastfeed.</p>
<p>*Reality:* Interestingly, women can continue to produce milk after they<br />
are no longer fertile, and have been known to do so into their 80&#8217;s! There<br />
is no change in the quality of the milk, and many wet nurses have continued<br />
to practice their profession well past menopause.</p>
<p>Myth #26: Breastfeeding clothes and pumps end up costing as much as<br />
formula.</p>
<p>*Reality:* First of all, you don&#8217;t need any special clothes or<br />
paraphernalia to breastfeed successfully. Yes, if you plan to pump you<br />
should buy or rent a good, reputable model. Yes, you&#8217;ll need storage bags<br />
and bottles, although you&#8217;d need even more to formula feed. Yes, it&#8217;s nice<br />
to have a few specially designed nursing tops, bras and a nursing pillow.<br />
Re-usable nursing pads are also helpful, and disposable nursing pads are<br />
nice the first few weeks.</p>
<p>However, even with these items taken into consideration, they do not come<br />
close to the expense of formula. Plus, there are all the added medical<br />
expenses you may have to deal with if you formula feed. Also, when you<br />
breastfeed you can re-use most of the items you purchase for one child with<br />
the next. With formula, it&#8217;s just as expensive every time.</p>
<p>It is also possible to purchase sewing patterns and make your own nursing<br />
clothes and baby sling if you want to, or create your own pads out of cotton<br />
diapers. A t-shirt with a convenient slit cut in the middle can provide<br />
extra coverage under any pull-up or button down blouse. Nursing bras are<br />
great, but for many women a front closing cotton bra works just as well. Use<br />
your imagination!</p>
<p>Compare:</p>
<p>*Cost of no-frills style breastfeeding*<br />
No pump, no special clothes, etc.<br />
*Total: $0.00*</p>
<p>*Optional breastfeeding expenses:*</p>
<p>Pump: $200*<br />
Bras(2): $60<br />
Pads (re-usable): $12<br />
Tops(2): $50<br />
Dress(1): $60<br />
*Nursing Pillow: $35*<br />
*Total: $417 (A one-time expense!)*</p>
<p>*NOTE: You save an additional $160 if you use a good manual pump like *<br />
Isis* (increasingly popular with new mothers, especially ones that do not<br />
have to work out of the house) rather than a professional grade one like the<br />
*Pump-in-Style* (also very popular, especially for working mothers).</p>
<p>*Approximate formula expenses:*</p>
<p>Formula: $1,200 (Approximate average)<br />
*Added medical expenses: $1,500* **<br />
*Total: $2,700 (For just one year!)*</p>
<p>That adds up to a difference of $2,283. Wow! And remember, you can use<br />
those nursing clothes again, then consign them or pass them on to a friend.<br />
With formula, it&#8217;s just as expensive with every child.</p>
<p>These figures don&#8217;t take into account possible future orthodontic<br />
problems, or other more serious adult disease issues associated with bottle<br />
feeding (see ProMoM&#8217;s &#8220;101 Reasons To Breastfeed Your<br />
Child&#8221;).<br />
Of course, the real bottom line is that no price can be put on the special<br />
intimacy that exists between a nursing mother and child!</p>
<p>*Even more myths and realities can be found<br />
here,<br />
here ,<br />
here,<br />
and yet more here .*</p>
<p>**(According to *Aetna employee research results*) Breastfeeding Myths and<br />
Realities<br />
By Leslie Kincaid Burby for ProMoM</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/keluargasehat.wordpress.com/2733/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/keluargasehat.wordpress.com/2733/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/keluargasehat.wordpress.com/2733/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/keluargasehat.wordpress.com/2733/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/keluargasehat.wordpress.com/2733/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/keluargasehat.wordpress.com/2733/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/keluargasehat.wordpress.com/2733/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/keluargasehat.wordpress.com/2733/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/keluargasehat.wordpress.com/2733/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/keluargasehat.wordpress.com/2733/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=keluargasehat.wordpress.com&blog=3434992&post=2733&subd=keluargasehat&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://keluargasehat.wordpress.com/2009/10/31/breastfeeding-myths-and-realities/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/15a3be986fb03d1ee0faab8b908fb1ba?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">lutvita</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Keuntungan Menyusui Balita</title>
		<link>http://keluargasehat.wordpress.com/2009/10/29/keuntungan-menyusui-balita/</link>
		<comments>http://keluargasehat.wordpress.com/2009/10/29/keuntungan-menyusui-balita/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Oct 2009 04:31:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lutvita</dc:creator>
				<category><![CDATA[ASI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://keluargasehat.wordpress.com/?p=2731</guid>
		<description><![CDATA[Breastfeeding benefits toddlers and young children&#8230;
nutritionally, immunilogically and psychologically.
source : http://www.kellymom.com/bf/bfextended/ebf-benefits.html
    * Nursing toddlers benefit NUTRITIONALLY
    * Nursing toddlers are SICK LESS OFTEN
    * Nursing toddlers have FEWER ALLERGIES
    * Nursing toddlers are SMART
    * Nursing toddlers are WELL ADJUSTED [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=keluargasehat.wordpress.com&blog=3434992&post=2731&subd=keluargasehat&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Breastfeeding benefits toddlers and young children&#8230;<br />
nutritionally, immunilogically and psychologically.</p>
<p>source : http://www.kellymom.com/bf/bfextended/ebf-benefits.html</p>
<p>    * Nursing toddlers benefit NUTRITIONALLY<br />
    * Nursing toddlers are SICK LESS OFTEN<br />
    * Nursing toddlers have FEWER ALLERGIES<br />
    * Nursing toddlers are SMART<br />
    * Nursing toddlers are WELL ADJUSTED SOCIALLY<br />
    * Nursing a toddler is NORMAL<br />
    * MOTHERS also benefit from nursing past infancy<br />
    * Additional Resources</p>
<p>Nursing toddlers benefit NUTRITIONALLY</p>
<p>    * Although there has been little research done on children who breastfeed beyond the age of two, the available information indicates that breastfeeding continues to be a valuable source of nutrition and disease protection for as long as breastfeeding continues. </p>
<p>    * &#8220;Human milk expressed by mothers who have been lactating for &gt;1 year has significantly increased fat and energy contents, compared with milk expressed by women who have been lactating for shorter periods. During prolonged lactation, the fat energy contribution of breast milk to the infant diet might be significant.&#8221;<br />
      &#8212; Mandel 2005 </p>
<p>    * &#8220;Breast milk continues to provide substantial amounts of key nutrients well beyond the first year of life, especially protein, fat, and most vitamins.&#8221;<br />
      &#8212; Dewey 2001 </p>
<p>    * In the second year (12-23 months), 448 mL of breastmilk provides:<br />
          o 29% of energy requirements<br />
          o 43% of protein requirements<br />
          o 36% of calcium requirements<br />
          o 75% of vitamin A requirements<br />
          o 76% of folate requirements<br />
          o 94% of vitamin B12 requirements<br />
          o 60% of vitamin C requirements<br />
      &#8212; Dewey 2001 </p>
<p>    * Studies done in rural Bangladesh have shown that breastmilk continues to be an important source of vitamin A in the second and third year of life.<br />
      &#8212; Persson 1998 </p>
<p>    * It&#8217;s not uncommon for weaning to be recommended for toddlers who are eating few solids. However, this recommendation is not supported by research. According to Sally Kneidel in &#8220;Nursing Beyond One Year&#8221; (New Beginnings, Vol. 6 No. 4, July-August 1990, pp. 99-103.):</p>
<p>      Some doctors may feel that nursing will interfere with a child&#8217;s appetite for other foods. Yet there has been no documentation that nursing children are more likely than weaned children to refuse supplementary foods. In fact, most researchers in Third World countries, where a malnourished toddler&#8217;s appetite may be of critical importance, recommend continued nursing for even the severely malnourished (Briend et al, 1988; Rhode, 1988; Shattock and Stephens, 1975; Whitehead, 1985). Most suggest helping the malnourished older nursing child not by weaning but by supplementing the mother&#8217;s diet to improve the nutritional quality of her milk (Ahn and MacLean. 1980; Jelliffe and Jelliffe, 1978) and by offering the child more varied and more palatable foods to improve his or her appetite (Rohde, 1988; Tangermann, 1988; Underwood, 1985).</p>
<p>References<br />
Nursing toddlers are SICK LESS OFTEN</p>
<p>    * The American Academy of Family Physicians notes that children weaned before two years of age are at increased risk of illness (AAFP 2001). </p>
<p>    * Nursing toddlers between the ages of 16 and 30 months have been found to have fewer illnesses and illnesses of shorter duration than their non-nursing peers (Gulick 1986). </p>
<p>    * &#8220;Antibodies are abundant in human milk throughout lactation&#8221; (Nutrition During Lactation 1991; p. 134). In fact, some of the immune factors in breastmilk increase in concentration during the second year and also during the weaning process. (Goldman 1983, Goldman &amp; Goldblum 1983, Institute of Medicine 1991). </p>
<p>    * Per the World Health Organization, &#8220;a modest increase in breastfeeding rates could prevent up to 10% of all deaths of children under five: Breastfeeding plays an essential and sometimes underestimated role in the treatment and prevention of childhood illness.&#8221; [emphasis added] </p>
<p>References<br />
Nursing toddlers have FEWER ALLERGIES</p>
<p>    * Many studies have shown that one of the best ways to prevent allergies and asthma is to breastfeed exclusively for at least 6 months and continue breastfeeding long-term after that point.</p>
<p>      Breastfeeding can be helpful for preventing allergy by:<br />
         1. reducing exposure to potential allergens (the later baby is exposed, the less likely that there will be an allergic reaction),<br />
         2. speeding maturation of the protective intestinal barrier in baby&#8217;s gut,<br />
         3. coating the gut and providing a barrier to potentially allergenic molecules,<br />
         4. providing anti-inflammatory properties that reduce the risk of infections (which can act as allergy triggers).</p>
<p>References<br />
Nursing toddlers are SMART</p>
<p>    * Extensive research on the relationship between cognitive achievement (IQ scores, grades in school) and breastfeeding has shown the greatest gains for those children breastfed the longest. </p>
<p>References<br />
Nursing toddlers are WELL ADJUSTED SOCIALLY</p>
<p>    * According to Sally Kneidel in &#8220;Nursing Beyond One Year&#8221; (New Beginnings, Vol. 6 No. 4, July-August 1990, pp. 99-103.):</p>
<p>      &#8220;Research reports on the psychological aspects of nursing are scarce. One study that dealt specifically with babies nursed longer than a year showed a significant link between the duration of nursing and mothers&#8217; and teachers&#8217; ratings of social adjustment in six- to eight-year-old children (Ferguson et al, 1987). In the words of the researchers, &#8216;There are statistically significant tendencies for conduct disorder scores to decline with increasing duration of breastfeeding.&#8217;&#8221; </p>
<p>    * According to Elizabeth N. Baldwin, Esq. in &#8220;Extended Breastfeeding and the Law&#8221;:<br />
      &#8220;Breastfeeding is a warm and loving way to meet the needs of toddlers and young children. It not only perks them up and energizes them; it also soothes the frustrations, bumps and bruises, and daily stresses of early childhood. In addition, nursing past infancy helps little ones make a gradual transition to childhood.&#8221; </p>
<p>    * Baldwin continues: &#8220;Meeting a child&#8217;s dependency needs is the key to helping that child achieve independence. And children outgrow these needs according to their own unique timetable.&#8221; Children who achieve independence at their own pace are more secure in that independence then children forced into independence prematurely. </p>
<p>References<br />
Nursing a toddler is NORMAL</p>
<p>    * The American Academy of Pediatrics recommends that &#8220;Breastfeeding should be continued for at least the first year of life and beyond for as long as mutually desired by mother and child&#8230; Increased duration of breastfeeding confers significant health and developmental benefits for the child and the mother&#8230; There is no upper limit to the duration of breastfeeding and no evidence of psychologic or developmental harm from breastfeeding into the third year of life or longer.&#8221; (AAP 2005) </p>
<p>    * The American Academy of Family Physicians recommends that breastfeeding continue throughout the first year of life and that &#8220;Breastfeeding beyond the first year offers considerable benefits to both mother and child, and should continue as long as mutually desired.&#8221; They also note that &#8220;If the child is younger than two years of age, the child is at increased risk of illness if weaned.&#8221; (AAFP 2001) </p>
<p>    * A US Surgeon General has stated that it is a lucky baby who continues to nurse until age two. (Novello 1990) </p>
<p>    * The World Health Organization emphasizes the importance of nursing up to two years of age or beyond (WHO 1992, WHO 2002). </p>
<p>    * Scientific research by Katherine A. Dettwyler, PhD shows that 2.5 to 7.0 years of nursing is what our children have been designed to expect (Dettwyler 1995). </p>
<p>References [see also position statements supporting breastfeeding]<br />
MOTHERS also benefit from nursing past infancy</p>
<p>    * Extended nursing delays the return of fertility in some women by suppressing ovulation (References). </p>
<p>    * Breastfeeding reduces the risk of breast cancer (References). Studies have found a significant inverse association between duration of lactation and breast cancer risk. </p>
<p>    * Breastfeeding reduces the risk of ovarian cancer (References). </p>
<p>    * Breastfeeding reduces the risk of uterine cancer (References). </p>
<p>    * Breastfeeding reduces the risk of endometrial cancer (References). </p>
<p>    * Breastfeeding protects against osteoporosis. During lactation a mother may experience decreases of bone mineral. A nursing mom&#8217;s bone mineral density may be reduced in the whole body by 1 to 2 percent while she is still nursing. This is gained back, and bone mineral density may actually increase, when the baby is weaned from the breast. This is not dependent on additional calcium supplementation in the mother&#8217;s diet. (References). </p>
<p>    * Breastfeeding reduces the risk of rheumatoid arthritis. (References). </p>
<p>    * Breastfeeding has been shown to decrease insulin requirements in diabetic women (References). </p>
<p>    * Breastfeeding moms tend to lose weight easier (References). </p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/keluargasehat.wordpress.com/2731/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/keluargasehat.wordpress.com/2731/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/keluargasehat.wordpress.com/2731/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/keluargasehat.wordpress.com/2731/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/keluargasehat.wordpress.com/2731/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/keluargasehat.wordpress.com/2731/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/keluargasehat.wordpress.com/2731/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/keluargasehat.wordpress.com/2731/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/keluargasehat.wordpress.com/2731/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/keluargasehat.wordpress.com/2731/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=keluargasehat.wordpress.com&blog=3434992&post=2731&subd=keluargasehat&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://keluargasehat.wordpress.com/2009/10/29/keuntungan-menyusui-balita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/15a3be986fb03d1ee0faab8b908fb1ba?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">lutvita</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Khasiat Berjalan Kaki</title>
		<link>http://keluargasehat.wordpress.com/2009/10/29/khasiat-berjalan-kaki/</link>
		<comments>http://keluargasehat.wordpress.com/2009/10/29/khasiat-berjalan-kaki/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Oct 2009 01:35:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lutvita</dc:creator>
				<category><![CDATA[JALAN KAKI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://keluargasehat.wordpress.com/?p=2729</guid>
		<description><![CDATA[SUMBER : http://www.cyberforums.us/archive/index.php?t-678.html
Jalan kaki adalah olahraga yang murah, aman dan sangat menyenangkan bila dilakukan bersama-sama teman, pasangan atau keluarga. Dan jangan pernah menganggap remeh jalan kaki, karena tidak sedikit manfaat yang bisa kita dapatkan dari “sekadar” berjalan-jalan.
Pada dasarnya, aktivitas fisik yg dilakukan secara kontinyu dan dalam waktu yg panjang dapat melatih kesegaran jasmani seseorang, termasuk [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=keluargasehat.wordpress.com&blog=3434992&post=2729&subd=keluargasehat&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>SUMBER : http://www.cyberforums.us/archive/index.php?t-678.html</p>
<p>Jalan kaki adalah olahraga yang murah, aman dan sangat menyenangkan bila dilakukan bersama-sama teman, pasangan atau keluarga. Dan jangan pernah menganggap remeh jalan kaki, karena tidak sedikit manfaat yang bisa kita dapatkan dari “sekadar” berjalan-jalan.</p>
<p>Pada dasarnya, aktivitas fisik yg dilakukan secara kontinyu dan dalam waktu yg panjang dapat melatih kesegaran jasmani seseorang, termasuk berjalan kaki. Selain melatih kesegaran jasmani, oksigen yang dihirup dan diedarkan akan melancarkan sirkulasi darah. Efeknya, kondisi tubuh tak cepat lelah dan lebih cepat mengembalikan tubuh pada kondisi normal, serta mengurangi stres atau depresi.</p>
<p>Jalan Kaki dan Jantung</p>
<p>Jalan kaki diklaim dapat menyehatkan jantung Anda, karena jalan kaki secara teratur dapat menurunkan resiko hipertensi, yaitu salah satu faktor pencetus penyakit jantung. Selain itu, jika Anda memang penderita hipertensi, aktivitas berjalan kaki justru akan sangat membantu menurunkan mengurangi tekanan darah Anda, tentunya jika dilakukan secara rutin.</p>
<p>Aktivitas jalan kaki memang baru bisa disebut olahraga jika dilakukan secara kontinu, minimum 30 menit setiap harinya. Untuk latihan jantung, perhitungan zona latihannya adalah 60-80 % dari denyut nadi maksimum (DNM). Angka DNM diambil dari 220 – umur. Jadi, misalnya Anda berusia 40 tahun, DNM-nya adalah 220 – 40 = 180, maka denyut nadi latihan Anda antara 60% x 180 = 108 dpm (denyut per menit) sampai dengan 80% x 180 = 144 dpm.</p>
<p>Namun agar latihan lebih efektif dan bisa masuk zona latihan, sebaiknya intensitasnya ditambah, baik itu kecepatannya, jarak tempuhnya, waktu dan juga medannya (misalnya jalan yang menanjak/menurun). Latihan pun bisa dimulai dari seminggu sekali, seminggu dua kali, seminggu tiga kali, sampai nantinya bisa dilakukan setiap hari.</p>
<p>Jalan Kaki dan Nyeri Punggung</p>
<p>Mereka yang sedang menderita nyeri punggung atau sedang dalam masa penyembuhan akibat nyeri punggung, disarankan untuk melakukan olahraga ringan seperti aerobik, namun untuk beberapa kasus penderita nyeri punggung, kadang olahraga ringanpun tetap terasa nyeri sehingga mereka cenderung berhenti berolahraga.</p>
<p>Sebagai alternatifnya, maka disarankan untuk mengganti olahraga ringan dengan berjalan kaki. Jalan kaki dengan kecepatan rendah yang stabil dan seimbang justru akan menjaga dan meningkatkan kemampuan seseorang untuk melakukan aktivitas sehari-hari, sambil turut mengurangi kecenderungan timbulnya nyeri punggung di kemudian hari.</p>
<p>Sebelum berolahraga dengan cara jalan kaki, lakukan peregangan secara perlahan dan lembut untuk meregangkan otot dan sendi-sendi agar terbiasa dengan gerakan berjalan kaki. Namun ada baiknya sebelum melakukan peregangan, Anda terlebih dulu melakukan jalan ringan selama lima menit untuk pemanasan.</p>
<p>Karena berjalan kaki dapat melatih otot betis, paha, panggul dan torso, maka olahraga ini dapat meningkatkan stabilitas tulang belakang dan juga kondisi otot-otot penyangga sehingga postur tubuh yang tegak tetap terjaga. Selain itu, berjalan kaki juga dapat memperkuat tulang, sehingga apabila dilakukan secara rutin dapat membantu mencegah osteoporosis dan bisa membantu mengurangi nyeri osteoarthritis.</p>
<p>Jalan Kaki dan Diabetes</p>
<p>Diabetes Prevention Program pada tahun 2001 mempublikasikan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa berjalan kaki 30 menit, lima kali seminggu, dibarengi dengan mengatur porsi makan, ternyata dapat mengurangi resiko diabetes sampai 50% pada partisipan yang kelebihan bobot badan disertai kadar gula darah tinggi. Mereka juga mengalami penurunan bobot badan rata-rata 7,5 kg dalam setahun.</p>
<p>Rutin berjalan kaki memang sangat baik dilakukan bagi penderita diabetes karena bisa meningkatkan kemampuan tubuh untuk memproses gula sehingga tidak menumpuk berlebihan di dalam darah. Hasilnya, kadar gula dalam darah bisa turun, sehingga bisa mengurangi resiko Anda menderita penyakit jantung dan ginjal.</p>
<p>Sebelum dan sesudah berjalan kaki, cek kadar gula darah Anda. Jika terlalu rendah, di bawah 100 mg/dl, Anda harus menambah asupan karbohidrat sekitar 15-30 gram. Jika terlalu tinggi, di atas 200 mg/dl, maka sebaiknya tunda dulu olahraga Anda sampai kadar gula darahnya turun. Penting untuk para diabetisi untuk selalu melakukan pengecekan kadar gula darah dengan interval yang rutin jika ingin mencoba berjalan kaki dengan jarak tempuh yang jauh.</p>
<p>Waktu yang paling baik untuk diabetisi melakukan olahraga jalan kaki adalah sekitar 1-2 jam setelah makan, saat insulin dan kadar gula darah mulai stabil. Paling disarankan jika dilakukan di pagi hari, terutama untuk penderita diabetes tipe 1.</p>
<p>Untuk menghindari terjadinya penurunan kadar gula terlalu rendah saat berjalan kaki, sebaiknya bawalah makanan ringan yang mengandung karbohidrat. Setelah selesai berjalan kaki, anda mungkin butuh asupan karbohidrat sedikit lebih banyak dari biasanya untuk mencegah terjadinya hipoglikemia. Yang terpenting saat Anda mencoba program ini, Anda harus ekstra hati-hati terhadap gejala-gejala dan tanda-tanda yang mungkin terjadi, jangan memaksakan diri, dan sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter Anda.</p>
<p>Jalan Kaki dan Diet</p>
<p>Hampir setiap aktivitas fisik yang kita lakukan memang membakar kalori, namun pertanyaannya, seberapa banyak kalori yang terbakar? Dibandingkan dengan olahraga penuh, ternyata berjalan kaki pun mampu membakar kalori dalam jumlah yang cukup besar. Pada wanita usia 40 dengan gaya hidup dengan aktivitas fisik sedang, berjalan kaki dengan kecepatan 2 mil perjam (kira-kira setara dengan 70 langkah permenit) selama 30 menit dapat membakar kalori sampai 79,1 kcal, sedangkan dengan kecepatan 4 mil perjam (kira-kira setara dengan 140 langkah permenit) selama 30 menit bahkan dapat membakar kalori sampai 184,1 kcal. Sedangkan pada pria usia 40 dengan gaya hidup dengan aktivitas fisik sedang, berjalan kaki dengan kecepatan 2 mil perjam selama 30 menit dapat membakar kalori sampai 64,9 kcal, dan dengan kecepatan 4 mil perjam selama 30 menit bahkan dapat membakar kalori sampai 186,7 kcal. Jika hal ini dilakukan rutin setiap hari, Anda dapat menghitung berapa jumlah kalori yang hilang saat berjalan kaki.</p>
<p>Saat ini telah ramai dikenal istilah “The Walking Diet”, yang artinya melakukan “diet” dengan cara berjalan kaki. Jika Anda ingin afdol dalam berdiet, maka sebetulnya Anda cukup mengatur pola makan sehat – tanpa diet gila-gilaan – yang dipadu dengan berjalan kaki 10.000 langkah perhari. Hal ini karena selain membakar kalori, berjalan kaki juga mampu memperbaiki system metabolisme tubuh, akibatnya racun-racun dan lemak yang menumpuk di tubuh bisa dikurangi dengan melakukan aktivitas ini.</p>
<p>Yuk Kita Mulai</p>
<p>Sebelum Anda memulai program ini, ada beberapa hal yang perlu Anda perhatikan, seperti :</p>
<p>1. Gunakanlah sepatu dan pakaian olahraga yang nyaman dan melindungi tubuh. Sangat disarankan untuk menggunakan pakaian yang longgar, dan Anda bisa memakai beberapa lapis pakaian untuk meningkatkan suhu tubuh. Sebaiknya hindari bahan pakaian dari karet karena menghalangi menguapnya keringat. Jika Anda senang berjalan kaki di malam hari atau sebelum fajar, gunakan pakaian yang berwarna cerah supaya pengendara bermotor yang mungkin lewat dapat melihat Anda, sehingga Anda terhindar dari kecelakaan.<br />
2. Lakukan pemanasan. Caranya cukup dengan berjalan kaki perlahan selama kira-kira lima menit sampai Anda merasa cukup hangat. Pemanasan dapat menghindari resiko terjadinya cedera otot saat Anda berjalan kaki.<br />
3. Lakukan peregangan. Setelah pemanasan, lakukan peregangan otot selama kurang lebih lima menit. Pastikan peregangan yang Anda lakukan meliputi leher, tangan, pinggul, otot bagian atas dan bawah kaki termasuk otot hamstring, yaitu otot yang ada di sisi belakang paha, dan juga pergelangan kaki.<br />
4. Siapkan diri dengan pernak-pernik pencegah cedera, seperti pelindung lutut atau koyo ataupun gel panas untuk mengatasi nyeri otot saat berjalan.</p>
<p>Setelah Anda beres dengan segala persiapan awal, barulah Anda boleh memulai program jalan kaki Anda. jika Anda ‘pemain baru’ atau ‘olahragawan musiman’, yang biasanya terlalu lama pasif dan mudah lelah, cara yang paling baik untuk memulai berjalan kaki adalah dengan berjalan santai. Berjalanlah sejauh dan dengan kecepatan yang Anda rasa paling nyaman. Jika Anda hanya sanggup berjalan kaki lima menit, maka anggap saja lima menit tersebut adalah starting point Anda. Anda dapat memulai program ini misalnya dengan berjalan kaki selama tiga sampai lima menit tiap hari di minggu pertama, tak usah berjalan kaki serius, tetapi niatkan panjang waktunya. Lalu pada minggu kedua Anda bisa meningkatkan waktu menjadi 15 menit dengan frekuensi rutin dua kali seminggu. Setelah beberapa minggu, Anda dapat berangsur-angsur meningkatkan waktu menjadi 30 menit dengan frekuensi lima hari seminggu.</p>
<p>Walaupun jalan kaki sepertinya ringan dan sederhana, namun bukan berarti bebas dari resiko cedera. Jika Anda berjalan kaki dengan postur tubuh atau gerakan yang salah, maka Anda juga bisa cedera. Postur tubuh yang disarankan saat berjalan kaki untuk menghindari cedera adalah :</p>
<p>Kepala dan bahu : jaga posisi kepala tegak dan berada di tengah bahu, tidak miring, dengan mata focus menatap lurus ke depan. Posisi bahu rileks namun tetap tegak, dan hindari membungkuk.<br />
Otot perut : saat berjalan kaki, gunakan otot-otot perut untuk membantu menyangga postur tubuh dan tulang belakang. Caranya dengan sedikit menarik otot perut (mengempiskan perut) sambil posisi tubuh benar-benar tegak saat berjalan.<br />
Pangkal paha : mayoritas gerakan maju harus dimulai dari pangkal paha. Setiap langkah harus terasa alami, jangan terlalu panjang ataupun terlalu pendek. Kebanyakan orang melakukan kesalahan dengan cara mengambil langkah terlalu panjang.<br />
Tangan : posisi lengan atas harus dekat dengan tubuh, dengan sikut membentuk sudut 90 derajat. Saat berjalan, lengan harus tetap bergerak maju serentak dengan langkah kaki, namun berlawanan tempat (saat kaki kiri maju, tangan kanan yang maju). Usahakan agar posisi tangan rileks, dengan posisi telapak tangan menggenggam ringan.<br />
Kaki : tiap kali melangkah, kaki mendarat di tumit, kemudian bagian tengah kaki, dan selanjutnya jari. Anda bisa membayangkan seperti berjalan di atas bola yang menggelinding.</p>
<p>Jika sudah menguasai cara berjalan kaki yang benar, kini saatnya Anda menghitung intensitas olahraga yang Anda lakukan. Mengetahui tingkatan intensitas olahraga Anda membuat Anda bisa mengukur apakah Anda harus meningkatkan intensitasnya jika dirasa kurang maksimal, atau justru menguranginya untuk menghindari cedera akibat aktivitas yang terlalu berlebihan. Ada beberapa cara yang dapat Anda lakukan untuk mengukur intensitas jalan kaki yang Anda lakukan, antara lain :</p>
<p>Tes Bicara. Jika Anda terlalu sulit berbicara atau kehabisan napas untuk mengobrol dengan rekan Anda saat berjalan kaki, artinya Anda berjalan terlalu cepat dari yang semestinya, dan Anda harus mengurangi kecepatannya.<br />
Skala Borg. Metode ini sebetulnya sifatnya lebih self-assessment. Misalnya, Anda membuat tingkatan skala sendiri tentang seberapa keras (intensitas) Anda berolahraga. Skalanya dimulai dari 6 (tidak olahraga sama sekali) sampai dengan 20 (olahraga dengan kekuatan maksimal). Untuk berjalan kaki, Anda harus berada di skala intensitas menengah, yaitu pada skala 12 &#8211; 14.</p>
<p>Monitor denyut jantung . Untuk mengetahui apakah Anda telah melakukan olahraga dalam rentang target denyut jantung, berhentilah berjalan dan periksa denyut jantung Anda secara manual pada pergelangan tangan (arteri radial) atau leher (arteri carotid). Saat ini sudah ada alat pengukur denyut jantung yang dapat Anda gunakan juga.</p>
<p>Mulai Dari yang Ringan</p>
<p>Jika Anda berniat memulai program berjalan kaki, tapi merasa tidak punya waktu untuk berolahraga karena kesibukan Anda, seharusnya tidak ada alasan untuk tidak mau memulai. Anda bisa mengantisipasinya dengan cara, misalnya, memarkirkan mobil Anda di sudut terjauh agar Anda bisa berjalan kaki ke gedung kantor Anda. Atau Anda yang di Jakarta dan menggunakan Transjakarta menuju kantor, Anda dapat turun di satu halte sebelum atau sesudah halte tujuan Anda, dan kemudian berjalan kaki. Jika perlu, selama di kantor Anda bisa menghindari penggunaan lift jika jarak lantai yang Anda datangi hanya terpaut dua lantai dari tempat Anda. Yang penting Anda bisa menjadwalkan lima sampai sepuluh menit dalam time table Anda tiap harinya untuk berjalan kaki, dimanapun juga. Jadi, tunggu apa lagi? Jalan kaki, yuk!</p>
<p>Sumber :<br />
1. http://walking.about.com/cs/diabetes/a/diabetesstudies.htm<br />
2. http://www.mayoclinic.com/health/walking/HQ01612<br />
3. http://www.walking.org/article_fitness_walking.asp</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/keluargasehat.wordpress.com/2729/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/keluargasehat.wordpress.com/2729/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/keluargasehat.wordpress.com/2729/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/keluargasehat.wordpress.com/2729/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/keluargasehat.wordpress.com/2729/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/keluargasehat.wordpress.com/2729/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/keluargasehat.wordpress.com/2729/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/keluargasehat.wordpress.com/2729/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/keluargasehat.wordpress.com/2729/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/keluargasehat.wordpress.com/2729/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=keluargasehat.wordpress.com&blog=3434992&post=2729&subd=keluargasehat&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://keluargasehat.wordpress.com/2009/10/29/khasiat-berjalan-kaki/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/15a3be986fb03d1ee0faab8b908fb1ba?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">lutvita</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Minimal 100 Langkah Per Menit</title>
		<link>http://keluargasehat.wordpress.com/2009/10/29/minimal-100-langkah-per-menit/</link>
		<comments>http://keluargasehat.wordpress.com/2009/10/29/minimal-100-langkah-per-menit/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Oct 2009 01:31:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lutvita</dc:creator>
				<category><![CDATA[KESEHATAN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://keluargasehat.wordpress.com/?p=2727</guid>
		<description><![CDATA[sumber :http://www.tempointeraktif.com/hg/kesehatan/2009/03/18/brk,20090318-165339,id.html
TEMPO Interaktif, Jakarta:Jalan kaki memang olahraga yang mudah dan cukup efektif untuk kebugaran. Tapi jangan asal jalan. Agar jalan kaki cukup efektif untuk kebugaran para ahli menyarankan sebaiknya melakukan minimum 100l angkah per menit. Selama ini orang hanya menggunakan pedometer untuk menghitung langkah. Namun alat inipun tak memberi informasi cukup bagaimana mengintensifkan jalan kaki [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=keluargasehat.wordpress.com&blog=3434992&post=2727&subd=keluargasehat&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>sumber :http://www.tempointeraktif.com/hg/kesehatan/2009/03/18/brk,20090318-165339,id.html</p>
<p>TEMPO Interaktif, Jakarta:Jalan kaki memang olahraga yang mudah dan cukup efektif untuk kebugaran. Tapi jangan asal jalan. Agar jalan kaki cukup efektif untuk kebugaran para ahli menyarankan sebaiknya melakukan minimum 100l angkah per menit. Selama ini orang hanya menggunakan pedometer untuk menghitung langkah. Namun alat inipun tak memberi informasi cukup bagaimana mengintensifkan jalan kaki demi kebugaran fisik. </p>
<p>Dalam penelitian terbaru, para peneliti menemukan pejalan kaki mestinya melakukan minimum 100 langkah per menit untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Para ahli juga merekomendasikan orang dewasa setidaknya berjalan 30 menit tiap hari, lima kali per minggu. Jika 30 menit itu dicapai dalam satu sesi, maka berarti minimum adalah 3000 langkah tiap sesi. Namun para peneliti dalam American Journal of Preventive Medicine, juga menyebutkan para pejalan kaki bisa memecah latihan tersebut jadi beberapa sesi latihan yang lebih pendak dalam satu hari. </p>
<p>“Karena latihan baru bisa mencapai efektifitasnya, setelah berlangsung selama 10 menit, untuk mendapatkan hasil yang sempurna di awal latihan, cobalah untuk 1.000 langkah dalam 10 menit, sebelum menjadi 3.000 langkah dalam 30 menit,” kata peneliti utama, Dr. Simon J. Marshall, dari San Diego State University, dalam rilisnya di jurnal tersebut.</p>
<p>Pedometer sederhana dan jam tangan, katanya Marshall bisa membantu para pejalan kaki ini untuk meyakinkan mereka telah berlatih dengan cukup intens. Penemuan ini didasarkan pada tes yang dilakukan pada 97 orang dewasa sehat dengan rata-rata usia sekitar 32 tahun. Secara umum, pria butuh jalan 92-102 langkah per menit, demi kesehatan jantung mereka. Sementara perempuan membutuhkan 91-115 langkah per menit. </p>
<p>sumber : Reuters </p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/keluargasehat.wordpress.com/2727/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/keluargasehat.wordpress.com/2727/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/keluargasehat.wordpress.com/2727/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/keluargasehat.wordpress.com/2727/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/keluargasehat.wordpress.com/2727/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/keluargasehat.wordpress.com/2727/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/keluargasehat.wordpress.com/2727/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/keluargasehat.wordpress.com/2727/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/keluargasehat.wordpress.com/2727/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/keluargasehat.wordpress.com/2727/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=keluargasehat.wordpress.com&blog=3434992&post=2727&subd=keluargasehat&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://keluargasehat.wordpress.com/2009/10/29/minimal-100-langkah-per-menit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/15a3be986fb03d1ee0faab8b908fb1ba?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">lutvita</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>TANDA-TANDA SIAP MASUK TK</title>
		<link>http://keluargasehat.wordpress.com/2009/10/28/tanda-tanda-siap-masuk-tk/</link>
		<comments>http://keluargasehat.wordpress.com/2009/10/28/tanda-tanda-siap-masuk-tk/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Oct 2009 07:38:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lutvita</dc:creator>
				<category><![CDATA[TAMAN KANAK-KANAK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://keluargasehat.wordpress.com/?p=2725</guid>
		<description><![CDATA[sumber : NAKITA
Modalnya bukan cuma mandiri dan siap ditinggal di kelas. Kenali kesiapannya
dengan melihat berbagai aspek perkembangan di bawah ini.
M asuk TK berarti anak masuk ke lingkungan baru. Ia harus bisa berinteraksi
dengan orang lain yang belum dikenalnya, menyesuaikan diri dengan suasana
serta ruangan dan alam yang sangat berbeda dari apa yang ia ketahui
sebelumnya. Tentunya si kecil [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=keluargasehat.wordpress.com&blog=3434992&post=2725&subd=keluargasehat&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>sumber : NAKITA</p>
<p>Modalnya bukan cuma mandiri dan siap ditinggal di kelas. Kenali kesiapannya<br />
dengan melihat berbagai aspek perkembangan di bawah ini.</p>
<p>M asuk TK berarti anak masuk ke lingkungan baru. Ia harus bisa berinteraksi<br />
dengan orang lain yang belum dikenalnya, menyesuaikan diri dengan suasana<br />
serta ruangan dan alam yang sangat berbeda dari apa yang ia ketahui<br />
sebelumnya. Tentunya si kecil tak bisa dilepas begitu saja memasuki dunia<br />
barunya tersebut, ia harus disiapkan lebih dulu. Kita sendiri yang sudah<br />
dewasa, pun, bila masuk lingkungan baru tanpa persiapan tentu akan canggung,<br />
kan?</p>
<p>Nah, berikut ini 4 faktor yang harus diperhatikan orang tua seperti<br />
dipaparkan</p>
<p>Drs. Bambang Sujiono, M.Pd, kandidat Doktor Pendidikan Usia Dini (PUD) di<br />
Universitas Negeri Jakarta.</p>
<p>1. KESIAPAN FISIK</p>
<p>Aspek fisik meliputi motorik kasar dan halus. Pada motorik kasar, misal,<br />
anak sudah mampu menggerakkan seluruh anggota tubuhnya untuk melakukan<br />
gerakan-gerakan seperti berlari, memanjat, naik-turun tangga, melempar bola,<br />
bahkan melakukan dua gerakan sekaligus semisal melompat sambil melempar<br />
bola.</p>
<p>Aktivitas belajar di TK memang banyak mengandalkan motorik kasar. Karenanya,<br />
bila anak aktif bergerak, justru itu yang diharapkan. Nanti di TK<br />
dikembangkan aspek fisik yang lain seperti keseimbangan, kelenturan, daya<br />
tahan dan lainnya. Jadi jangan sampai anak itu, misal, kekuatan kakinya<br />
bagus tetapi keseimbangannya kurang sehingga gampang jatuh. Atau, baru main<br />
sebentar langsung capek. Semua aspek fisik yang menjadi bagian motorik anak,<br />
selanjutnya harus dikembangkan di TK.</p>
<p>Sedangkan motorik halus akan sejalan dengan pembelajaran yang diberikan di<br />
TK. Anak akan belajar menggunting, melipat, memasukkan bola-bola, memilih<br />
biji-bijian. Nah, itu semua pasti akan jalan bila ditunjang oleh fisik yang<br />
bagus.</p>
<p>2. KESIAPAN EMOSIONAL</p>
<p>Kesiapan emosional yang paling penting menyangkut kemandirian. Paling tidak,<br />
ketika si anak berada di kelas, dia sudah duduk sendiri, tidak tergantung<br />
pada siapa-siapa, dan mau mengikuti perintah.</p>
<p>Kesiapan emosional lainnya ditunjukkan dengan kesiapan anak menerima situasi<br />
yang baru. Tentu wajar saja bila pada hari-hari pertama, anak menangis<br />
menghadapi situasi yang berbeda dari rumah. Akan tetapi, anak yang lebih<br />
siap, beberapa hari kemudian sudah mampu berbaur dengan teman-temannya dan<br />
siap menerima bimbingan serta pembelajaran. Dia sudah tidak lari-lari lagi<br />
di kelas ketika diminta duduk oleh gurunya.</p>
<p>hanya mempersiapkan anak pada kesiapan sosialisasi saja. Artinya, kalau si<br />
anak sudah tak takut bertemu orang, menunjukkan minat untuk berkawan,<br />
berarti dia sudah siap. Ini memang harus disiapkan. Tetapi sebenarnya tak<br />
cuma ini. Anak bukan hanya tidak takut berhadapan dengan orang lain, tapi<br />
juga mau mendengarkan orang lain. Kemampuan ini penting dalam bersosialisasi<br />
dan kalau guru bicara tetapi si anak lari ke sana-ke mari, maka rangsangan<br />
emosional yang diterimanya kurang lengkap. Jadi, anak juga harus diajarkan,<br />
bagaimana menjadi pendengar sebelum masuk TK.</p>
<p>3. KESIAPAN KOGNITIF</p>
<p>Salah satunya adalah kemampuan bahasa karena di TK anak diharapkan mampu<br />
memahami intruksi yang diberikan oleh guru. Ia pun diharapkan mampu<br />
menyampaikan pendapat, perasaan, dan isi pikirannya meski belum runtut.<br />
Dengan demikian, anak juga harus memunyai perbendaharaan kosakata yang cukup<br />
untuk seusianya.</p>
<p>Bagaimana dengan baca-tulis? Kemampuan ini bukan menjadi syarat masuk TK.<br />
Namun, bila anak sudah mampu melakukannya, disarankan agar orang tua<br />
mencarikan sekolah yang cocok untuknya. Bila anak sudah punya kemampuan<br />
menghitung, misal, dan dia dimasukkan ke TK dimana anak-anaknya bahkan belum<br />
bisa menghitung 1 sampai 10, maka bisa-bisa potensinya malah hilang.</p>
<p>Untuk anak-anak seperti ini tentunya perlu penanganan khusus. Maksudnya,<br />
kita tak boleh menyamaratakan dengan teman-temannya yang lain karena<br />
potensinya berbeda. Jadi, kita harus betul-betul melihat keunikan<br />
masing-masing anak dan itu harus dijalankan secara individual.</p>
<p>Orang tua juga jangan berharap bahwa di TK itu anaknya nanti diajarkan baca<br />
-tulis dan matematika seperti di SD. Yang dilakukan di TK adalah mengajari<br />
anak mengenal dasar-dasarnya dan itu pun dilakukan lewat bermain. Contoh,<br />
mengenali bentuk huruf, warna dan bentuk angka.</p>
<p>4. KESIAPAN SOSIAL</p>
<p>Di TK, anak berkumpul bersama teman-teman yang baru saja dikenalnya. Dia<br />
akan berusaha menyesuaikan diri dalam lingkungan sekolah yang baru. Ia pun<br />
akan mengenal aturan-aturan baru hidup bersama dan menyimak &#8220;pelajaran&#8221; dari<br />
guru-guru sambil belajar bersama teman-temannya.</p>
<p>Nah, kesiapan sosial dilihat dari kemampuan anak untuk tidak takut<br />
menghadapi orang asing, berani memasuki lingkungan baru dan tak ragu diajak<br />
berkomunikasi. Contoh, ada anak yang sudah berminggu-minggu sekolah masih<br />
menangis jika ditinggal oleh ibunya. Ini berarti si anak masih takut berada<br />
di lingkungan baru. Beda dengan yang siap, biasanya mereka malah enjoy bila<br />
bertemu teman-teman baru.</p>
<p>AGAR ANAK LEBIH SIAP MASUK SEKOLAH</p>
<p>* Berikan informasi menyenangkan tentang TK sebagai pembentukan persepsi<br />
awal tentang sekolah. Misal, ia akan bertemu dengan teman-teman baru dan<br />
mainan baru. Ada juga guru-guru baru yang ramah dan baik. Di sana banyak<br />
mainan sehingga bisa bermain bersama teman-teman. Gambar-gambar di dinding<br />
kelasnya juga lucu-lucu.</p>
<p>* Di sisi lain, orang tua juga mesti menjelaskan konsekuensinya. Contoh,<br />
karena bermain bersama teman-teman, maka ia harus mau bergantian, juga patuh<br />
pada guru, dan tertib.</p>
<p>* Jelaskan pula kenapa ia &#8220;harus&#8221; masuk TK, apa tujuannya, dan apa saja yang<br />
akan didapat di TK. &#8220;Dengan sekolah di TK, Kakak akan banyak teman dan<br />
belajar banyak. Kan, Kakak katanya mau jadi anak pintar,&#8221; misal.</p>
<p>* Agar anak bisa memahami secara konkret bagaimana nantinya kala ia duduk di<br />
TK, lakukan dengan cara bermain peran. Misal, ibu jadi guru dan anak jadi<br />
murid atau sebaliknya. Malah kalau bisa, dalam bermain peran itu, tempat dan<br />
suasana ditata sedemikian rupa seperti di TK sungguhan. Ibu memberikan<br />
permainan-permainan yang sering diajarkan di TK. Dengan cara demikian, kita<br />
telah menyiapkan mental anak untuk siap masuk TK.</p>
<p>Sebaiknya orang tua sudah mulai memberikan gambaran ini jauh-jauh hari<br />
sebelum sekolah sesunggguhnya dimulai. Paling tidak tiga bulan sebelum anak<br />
masuk TK sehingga mental anak untuk sekolah pun telah kuat dan siap. Bila<br />
perlu, lewatlah di depan sekolahnya atau masuk ke dalam kelasnya untuk<br />
beberapa hari sebelum sekolah dimulai. Hingga ketika tiba gilirannya masuk<br />
sekolah, tak ada kesulitan lagi. Malah anak akan senang dan bahkan bisa jadi<br />
saat masuk di hari pertama, dia sudah percaya diri dan tak perlu ditemani<br />
masuk kelas oleh orang tua atau pengasuhnya.</p>
<p>ANAK SAYA, KOK, ENGGAK SIAP JUGA?</p>
<p>Bagaimana kalau si kecil ternyata belum siap masuk TK? Misal, sudah umur 5<br />
tahun tapi masih enggan bersosialisasi alias masih takut ketemu orang. Dalam<br />
hal kemandirian, menurut Bambang, orang tua hendaknya jangan buru-buru<br />
memvonis anak belum siap mental untuk sekolah hanya karena ia selalu<br />
menangis setiap kali masuk kelas. &#8220;Kecemasan-kecemasan seperti itu lumrah<br />
terjadi pada anak, meski banyak juga anak yang percaya dirinya tinggi.&#8221;</p>
<p>Untuk itu, lanjutnya, orang tua harus bisa membujuk anak. Contoh, &#8220;Katanya<br />
Kakak mau jadi anak pintar, kok, enggak mau sekolah. Ada apa?&#8221; Bila ia<br />
menjawab takut, orang tua bisa melakukan bargaining dengan anak, semisal,<br />
berjanji menemaninya, &#8220;Oke, deh, sekarang Bunda ikut temani kamu di kelas.&#8221;<br />
Selama beberapa hari, orang tua boleh menemani anak di kelas. Setelah itu<br />
perlahan-lahan waktu bersama anak dikurangi sampai akhirnya orang tua hanya<br />
mengantar dan menjemput.</p>
<p>Bambang mengingatkan, dunia anak adalah dunia bermain. Karenanya, begitu<br />
anak bertemu dengan teman sebaya yang asyik bermain, apalagi ditambah<br />
permainan yang banyak di kelas, anak-anak yang tadinya pemalu pun akan lumer<br />
dan membaur bermain. &#8220;Prinsipnya, jangan karena enggak bisa ditinggal lalu<br />
anak &#8216;diperam&#8217; terus di rumah. Nanti malah terhambat sosialisasinya. Usianya<br />
makin tinggi tetapi kematangan emosionalnya tidak tumbuh juga. Lebih baik<br />
cemplungkan saja tetapi lakukan secara bertahap.&#8221;</p>
<p>Tentunya orang tua jangan segan-segan untuk memberi tahu guru mengenai<br />
kondisi anak kita. Misalnya, anak sangat pemalu, guru bisa menciptakan<br />
suasana yang hangat dan akrab baginya. &#8220;Lama-lama anak akan merasa, &#8216;Oh,<br />
sekolah itu ternyata menyenangkan.&#8217; Akhirnya, tanpa dibangunkan pun, ia akan<br />
segera sigap berangkat ke sekolah.&#8221;</p>
<p>Juga bukan berarti bila ada kekurangan di aspek lain, orang tua jadi minder<br />
memasukkan anaknya ke TK. &#8220;Justru dengan memasukkan ke TK, orang tua dan<br />
guru akan bersama-sama menambah kekurangan itu dan mengembangkan potensi<br />
yang sudah ada. Sekali lagi, dengan cara bermain dan tanpa paksaan.&#8221;</p>
<p>PENDIDIKAN DI TK SANGAT BERMANFAAT</p>
<p>Prinsip belajar di TK adalah bermain. Meski hanya bermain, tetapi banyak<br />
manfaatnya. &#8220;Anak bisa mengembangkan seluruh potensinya lewat bermain<br />
sehingga saat terjun ke sekolah formal sesungguhnya, dia bisa memahami<br />
keberadaan di lingkungannya bahwa ia punya tanggung jawab, bisa mengikuti<br />
peraturan, tata tertib, dan disiplin-disiplin yang diberikan,&#8221; papar<br />
Bambang.</p>
<p>Di TK, anak jakan mendapatkan pelajaran-pelajaran baru semisal mengenal<br />
warna, bentuk, irama, dan lainnya lewat bermain. Lewat bermain pula, anak<br />
bukan hanya bisa mengembangkan otot-ototnya, baik otot besar maupun otot<br />
halus seperti perkembangan motorik kasar dan halus, tapi juga bisa<br />
berfantasi dan mengekspresikan diri.</p>
<p>Anak juga belajar bersosialisasi, berbicara satu dengan lainnya lewat<br />
bermain.</p>
<p>Itulah sebabnya, jenjang TK tak bakal menjadi prasyarat masuk SD, tapi<br />
Bambang berpendapat, TK lebih bermanfaat. &#8220;Karena anak akan mengenal nuansa<br />
yang bakal ditemuinya di SD, seperti bahwa sekolah itu belajar aturan. Nah,<br />
di rumah, kan, tidak ada aturan seperti dalam belajar kelompok, bermain<br />
bersama, patuh pada guru dan disiplin kelas,&#8221; ujar pendidik yang bersama<br />
istrinya menulis buku Seri Mengembangkan Potensi Bawaan Anak.</p>
<p>Anak yang sudah bersekolah di kelompok bermain umumnya akan lebih mudah<br />
menyesuaikan diri saat masuk TK. Minimal, anak tak &#8220;kaget&#8221; saat menemui<br />
lingkungan baru. Ia sudah bisa bermain dan mampu bersosialisasi dan terbiasa<br />
menerima instruksi dari orang lain selain orang tuanya.</p>
<p>Tak lupa ia berpesan agar orang tua melakukan survei ke sekolah yang dituju.<br />
Dengan mengetahui apa yang diprogramkan oleh sekolah dan apa yang kita<br />
siapkan, maka kita akan tahu mana sekolah yang cocok untuk anak kita.</p>
<p>Santi Hartono. Ferdi/nakita.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/keluargasehat.wordpress.com/2725/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/keluargasehat.wordpress.com/2725/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/keluargasehat.wordpress.com/2725/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/keluargasehat.wordpress.com/2725/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/keluargasehat.wordpress.com/2725/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/keluargasehat.wordpress.com/2725/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/keluargasehat.wordpress.com/2725/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/keluargasehat.wordpress.com/2725/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/keluargasehat.wordpress.com/2725/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/keluargasehat.wordpress.com/2725/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=keluargasehat.wordpress.com&blog=3434992&post=2725&subd=keluargasehat&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://keluargasehat.wordpress.com/2009/10/28/tanda-tanda-siap-masuk-tk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/15a3be986fb03d1ee0faab8b908fb1ba?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">lutvita</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Asthma dan Bronchopneumonia,Bukan Batuk Biasa</title>
		<link>http://keluargasehat.wordpress.com/2009/10/17/asthma-dan-bronchopneumoniabukan-batuk-biasa/</link>
		<comments>http://keluargasehat.wordpress.com/2009/10/17/asthma-dan-bronchopneumoniabukan-batuk-biasa/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Oct 2009 08:04:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lutvita</dc:creator>
				<category><![CDATA[ASMA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://keluargasehat.wordpress.com/?p=2720</guid>
		<description><![CDATA[sumber : http://klinik-sehat.com/2009/04/24/asthma-dan-bronchopneumoniabukan-batuk-biasa/comment-page-1/
Batuk dan pilek mungkin merupakan gejala penyakit yang paling sering kita alami. Bahkan karena seringnya,batuk pilek ini sering disepelekan dan dibiarkan begitu saja tanpa pengobatan. Penderita sering dibawa ke rumah sakit atau dokter dalam kondisi yang memprihatinkan.
Ada beberapa penyakit dengan gejala batuk pilek yang perlu mendapatkan perhatian lebih,terutama pada anak,antara lain bronchopneumonia dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=keluargasehat.wordpress.com&blog=3434992&post=2720&subd=keluargasehat&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>sumber : http://klinik-sehat.com/2009/04/24/asthma-dan-bronchopneumoniabukan-batuk-biasa/comment-page-1/</p>
<p>Batuk dan pilek mungkin merupakan gejala penyakit yang paling sering kita alami. Bahkan karena seringnya,batuk pilek ini sering disepelekan dan dibiarkan begitu saja tanpa pengobatan. Penderita sering dibawa ke rumah sakit atau dokter dalam kondisi yang memprihatinkan.</p>
<p>Ada beberapa penyakit dengan gejala batuk pilek yang perlu mendapatkan perhatian lebih,terutama pada anak,antara lain bronchopneumonia dan asthma bronchiale. Lalu kapan sebaiknya kita waspada? Sejak dari hari pertama seorang anak mengalami batuk,kita sebagai orang tua sudah harus waspada. Kapan kita konsultasi ke dokter? Jika batuk berlanjut lebih dari tigfa hari,ada baiknya kita membawa anak ke dokter untuk mendapatkan terapi lebih lanjut.</p>
<p>Batuk pilek seringkali disebabkan oleh virus,sehingga tidak memerlukan antibiotika dan bisa sembuh sendiri (self limited). tetapi pada tahap  selanjutnya bisa terjadi infeksi bakterial juga,sehingga perlu tambahan antibiotika selain obat simtomatik. Namun tidak berarti penyakit yang disebabkan oleh virus ini tidak berbahaya.</p>
<p>Selain itu,kita perlu waspada jika gejala memberat,misalnya sesak napas,terdengar suara mengi (wheezing),napas cuping hidung,adanya tarikan otot dinding dada saat bernafas atau muncul komplikasi keperti kejang dan lain-lain.</p>
<p>Asthma bronchiale merupakan penyakit gangguan pernapasan yang terjadi karena sensitivitas yang berlebihan pada saluran pernapasan sehingga karena rangsang tertentu mengalami penyempitan (konstriksi bronkus),produksi lendir berlebihan dan pembengkakan mukosa bronkus.</p>
<p>Ketiga hal tersebut menyebabkan penderitaannya mengalami sesak napas,mengi,napas cuping hidung,dan tarikan dinding dada. Pada kasusu yang berat,pasien bisa mengalami asidosis  karena tidak efektifnya paru untuk menghirup O2 dan mengeluarkan Co2. Hal inilah yang sangat berbahaya bagi keselamatan penderita.</p>
<p>Karena itu,penderita astham sebaiknya selalu menyimpan obat untuk mengatasi jika terjadi serangan sewaktu-waktu. Perlu diketahui,asthma merupakan penyakit yang terkait genetik (keturunan). Namun tidak berarti anak yang memilik penyakit asthma selalu dilahirkan dari orang tua yang asthma juga,bisa jadi orang tua atau nenek moyangnya memiliki penyakit atopik yang lain,seperti dermatitis atopik (ruam pipi),terutama pada anak,sering juga disebut ruam karena alergi susu atau obat/makanan tertentu.</p>
<p>Serangan asthma biasanya terjadi jika penderita terpapar pencetus tertentu misalnya udara dingin,makanan tertentu,kecapaian atau stress. Karena itu seorang penderita asthma hendaknya mengetahui apa saja faktor pencetus serangannya dan sedapat mungkin menghindarinya,karena semakin sering kekambuhan serangan asthma,semakin rumit pengobatannya dan semakin buruk prognosisnya.</p>
<p>Sedang bronchopneumonia adalah infeksi yang terjadi pada bronkus dan jaringan paru. Infeksi biasanya berawal dari nfeksi saluran napas bagian atas (proximal) yang menjalar kebawah. Penyakit ini memiliki beberapa gejala dan tanda,antara lain demam,batuk,pilek sesak napas. Komplikasi lebih lanjut dari bronchopneumonia yang tidak tertangani dengan baik bisa berupa infeksi saluran tengah,radang selaput otak,kejang,dan penurunan kesadaran. Karena keterlambatan,dan ketidak tepatan terapi seringkali menyebabkan penderita jatuh pada kondisi yang buruk dan sering berakibat kematian. Pneumonia sampai saat ini masuk dalam lima besar penyebab tersering kematian balita.</p>
<p>Karena itu,ada baiknya jika anak mengalami batuk dan pilek,kita cermati apakan ditemukan gejala yang lain misalnya dema. Pada 2-3 hari pertama,kita mungkin cukup memberikan obat untuk mengatasi gejalanya. Tetapi jika hari ke 4 gejala masih menetap atau jika gejala bertambah berat,tampak sesak napas,napas cuping hidung (terlihat cuping hidung yang kembang kempis),tarikan pada dinding dada,terdengar mengi,grok-grok (ngorok),kejang atau penurunan kesadaran,segera bawa anak ke dokter atau rumah sakit untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.</p>
<p>Juga harus diingat,bahwa saat sakit tubuh memerlukan asupan gizi dan cairan yang lebih dari biasanya. Meskipun pada waktu sakit seringkali nafsu makan menurun,terus upayakan pemberian makanan ini. Tetap berikan air susu ibu (ASI) dan minuman lain untuk mencegah dehidrasi. Sebagai orangtua,kita harus sabar dan lebih telaten untuk memastikan putra-putri kita tidak mengalami dehidrasi. Pada jenis sakit apapun,jika si anak memang sudah tidak mau makan dan minum,segera bawa kedokter dan jangan ditunda-tunda lagi. Semoga dengan antisipasi dini,hal-hal yang tidak diharapkan dapat dicegah.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/keluargasehat.wordpress.com/2720/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/keluargasehat.wordpress.com/2720/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/keluargasehat.wordpress.com/2720/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/keluargasehat.wordpress.com/2720/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/keluargasehat.wordpress.com/2720/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/keluargasehat.wordpress.com/2720/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/keluargasehat.wordpress.com/2720/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/keluargasehat.wordpress.com/2720/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/keluargasehat.wordpress.com/2720/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/keluargasehat.wordpress.com/2720/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=keluargasehat.wordpress.com&blog=3434992&post=2720&subd=keluargasehat&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://keluargasehat.wordpress.com/2009/10/17/asthma-dan-bronchopneumoniabukan-batuk-biasa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/15a3be986fb03d1ee0faab8b908fb1ba?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">lutvita</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dampak Penggunaan Antibiotik Yang Irasional</title>
		<link>http://keluargasehat.wordpress.com/2009/10/15/dampak-penggunaan-antibiotik-yang-irasional/</link>
		<comments>http://keluargasehat.wordpress.com/2009/10/15/dampak-penggunaan-antibiotik-yang-irasional/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Oct 2009 08:03:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lutvita</dc:creator>
				<category><![CDATA[ANTIBIOTIK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://keluargasehat.wordpress.com/?p=2713</guid>
		<description><![CDATA[sumber : purnamawati.wordpress.com
KOMPAS.com — Penggunaan atau pemberian antibiotik sebenarnya tidak membuat kondisi tubuh semakin baik, justru merusak sistem kekebalan tubuh karena imunitas anak bisa menurun akibat pemakaiannya. Alhasil, beberapa waktu kemudian anak mudah jatuh sakit kembali.
Jika pemberian antibiotik dilakukan berulang-ulang, ujung-ujungnya anak jadi mudah sakit dan harus bolak-balik ke dokter gara-gara penggunaan antibiotik yang tak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=keluargasehat.wordpress.com&blog=3434992&post=2713&subd=keluargasehat&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>sumber : purnamawati.wordpress.com</p>
<p>KOMPAS.com — Penggunaan atau pemberian antibiotik sebenarnya tidak membuat kondisi tubuh semakin baik, justru merusak sistem kekebalan tubuh karena imunitas anak bisa menurun akibat pemakaiannya. Alhasil, beberapa waktu kemudian anak mudah jatuh sakit kembali.</p>
<p>Jika pemberian antibiotik dilakukan berulang-ulang, ujung-ujungnya anak jadi mudah sakit dan harus bolak-balik ke dokter gara-gara penggunaan antibiotik yang tak rasional.</p>
<p>“Kenyataannya, kita ‘boros’ dalam menggunakan antibiotik sehingga bisa menimbulkan dampak buruk antara lain sakit berkepanjangan, biaya yang lebih tinggi, penggunaan obat yang lebih toksik, dan waktu sakit yang lebih lama,” sesal dr Purnamawati S Pujiarto, SpA (K), MMPed, yang akrab disapa Wati ini.</p>
<p>Selain itu, ada beragam efek yang mengancam bila anak mengonsumsi antibiotik secara irasional, di antaranya kerusakan gigi, demam, diare, muntah, mual, mulas, ruam kulit, gangguan saluran cerna, pembengkakan bibir maupun kelopak mata, hingga gangguan napas. Bahkan, berbagai penelitian menunjukkan, pemberian antibiotik pada usia dini berisiko menimbulkan alergi di kemudian hari.</p>
<p>Dampak lain akibat pemberian antibiotik irasional adalah gangguan darah di mana salah satu antibiotik seperti kloramfenikol dapat menekan sumsum tulang sehingga produksi sel-sel darah menurun. Risiko kelainan hati muncul pada pemakaian antibiotik eritromisin, flucloxacillin, nitrofurantoin, trimetoprim, dan sulfonamid.</p>
<p>Golongan amoxycillin dan kelompok makrolod dapat menimbulkan allergic hepatitis (peradangan hati). Sementara antibiotik golongan aminoglycoside, imipenem/meropenem, ciprofloxacin juga dapat menyebabkan gangguan ginjal.</p>
<p>Selain itu, pemberian antibiotik spektrum luas tanpa indikasi yang tepat dapat mengganggu perkembangan flora normal usus karena dapat mematikan bakteri gram positif, bakteri gram negatif, kuman anaerob, serta jamur yang digunakan pada proses pencernaan dan penyerapan makanan dalam tubuh. Bakteri yang ada di dalam tubuh umumnya menguntungkan, seperti bakteri pada usus yang membantu proses pencernaan serta pembentukan vitamin B dan K.</p>
<p>Nah, anak yang kelebihan antibiotik bisa mengalami kekurangan vitamin K yang berguna mencegah perdarahan. Selain itu, juga akan menyebabkan anak menderita penyakit diare karena sistem pencernaan terganggu dan mengalami iritasi di bagian usus akibat zat-zat kimia dari antibiotik.</p>
<p>Diare disebabkan terbunuhnya kuman yang diperlukan untuk pencernaan dan menjaga ketahanan usus sehingga bakteri “jahat” menguasai tempat tersebut dan merusak proses pencernaan.</p>
<p>Akibat lain dari pemberian antibiotik yang tidak tepat adalah timbulnya kuman yang resisten. Setiap makhluk memiliki kemampuan untuk bertahan, begitu pun bakteri atau kuman. Jika jasad renik ini diserang terus-menerus, akan tercipta suatu sistem untuk bertahan dengan cara bermutasi atau berubah bentuk sehingga sulit dibunuh oleh antibiotik. “Jadi, semakin sering mengonsumsi antibiotik, makin resisten pula bakteri, parasit, atau jamur tersebut!” tandas Wati.</p>
<p>Bibit penyakit yang resisten itu dikenal dengan nama superbugs. Superbugs ini dapat menjadi masalah serius bagi kesehatan, baik bagi si penderita maupun masyarakat luas. Bila ada anggota masyarakat di suatu lingkungan mengonsumsi antibiotik secara berlebihan (tidak rasional), lingkungan tersebut potensial terinfeksi oleh kuman yang sudah resisten antibiotik.</p>
<p>Infeksi akibat superbugs ini memerlukan antibiotik yang jauh lebih kuat. Pasien harus dirawat di rumah sakit karena antibiotiknya harus diberikan melalui cairan infus. Antibiotik ini berisiko menimbulkan efek samping kesehatan yang lebih berat. Selain itu, dalam waktu cepat, bakterinya akan kebal kembali terhadap antibiotik yang superkuat tadi.</p>
<p>Itulah sederet akibat buruk dari penggunaan antibiotik secara berlebihan (irasional). “Yang akan dirugikan tentu bukan hanya pasien, tapi juga lingkungan sekitarnya,” kata Wati. Lantaran itu, pasien diharapkan tidak selalu meminta dokter memberikan antibiotik terutama untuk penyakit infeksi virus seperti flu, pilek, atau batuk.</p>
<p>Memang, antibiotik mampu memerangi infeksi akibat bakteri atau kuman sehingga tak lepas perannya dalam proses penyembuhan. Akan tetapi, penggunaan yang irasional menyebabkan antibiotik lebih banyak merugikannya ketimbang menguntungkan. (Nakita/Hilman Hilmansyah)</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/keluargasehat.wordpress.com/2713/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/keluargasehat.wordpress.com/2713/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/keluargasehat.wordpress.com/2713/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/keluargasehat.wordpress.com/2713/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/keluargasehat.wordpress.com/2713/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/keluargasehat.wordpress.com/2713/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/keluargasehat.wordpress.com/2713/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/keluargasehat.wordpress.com/2713/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/keluargasehat.wordpress.com/2713/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/keluargasehat.wordpress.com/2713/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=keluargasehat.wordpress.com&blog=3434992&post=2713&subd=keluargasehat&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://keluargasehat.wordpress.com/2009/10/15/dampak-penggunaan-antibiotik-yang-irasional/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/15a3be986fb03d1ee0faab8b908fb1ba?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">lutvita</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Angkak untuk Penderita DBD, Perlukah?</title>
		<link>http://keluargasehat.wordpress.com/2009/10/13/angkak-untuk-penderita-dbd-perlukah/</link>
		<comments>http://keluargasehat.wordpress.com/2009/10/13/angkak-untuk-penderita-dbd-perlukah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Oct 2009 09:02:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lutvita</dc:creator>
				<category><![CDATA[DEMAM BERDARAH]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://keluargasehat.wordpress.com/?p=2711</guid>
		<description><![CDATA[sumber : http://kesehatan.kompas.com/read/xml/2009/10/12/20035310/angkak.untuk.penderita.dbd.perlukah
*KOMPAS.com* &#8211; Pada pasien Demam Berdarah Dengue (DBD) biasanya
didapatkan penurunan kadar trombosit yang drastis setelah hari ke-3.
Secara teori trombosit akan terus turun hingga hari ke-7. Meski begitu,
bisa saja tidak harus seperti itu. Faktanya, banyak sekali ditemui, di
hari-2 sudah terjadi penurunan trombosit dan banyak di antara pasien
yang mengalami peningkatan trombosit mulai hari ke-6 atau [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=keluargasehat.wordpress.com&blog=3434992&post=2711&subd=keluargasehat&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>sumber : http://kesehatan.kompas.com/read/xml/2009/10/12/20035310/angkak.untuk.penderita.dbd.perlukah<br />
*KOMPAS.com* &#8211; Pada pasien Demam Berdarah Dengue (DBD) biasanya<br />
didapatkan penurunan kadar trombosit yang drastis setelah hari ke-3.</p>
<p>Secara teori trombosit akan terus turun hingga hari ke-7. Meski begitu,<br />
bisa saja tidak harus seperti itu. Faktanya, banyak sekali ditemui, di<br />
hari-2 sudah terjadi penurunan trombosit dan banyak di antara pasien<br />
yang mengalami peningkatan trombosit mulai hari ke-6 atau ke-7. Tak<br />
jarang trombosit pun baru naik setelah hari ke-9.</p>
<p>Banyak orang percaya dan bahwa angkak mampu mengatasi persoalan<br />
menurunnya trombosit. Tapi perlukah?</p>
<p>Angkak pada dasarnya merupakan produk beras merah yang difermentasi<br />
dengan menggunakan kapang /Monascus sp/. Bahan ini berasal dari negari<br />
China dan kerap dikapai sebagai bahan makanan dan produk obat-obatan.Di<br />
Taiwan, Jepang, Korea, dan Hongkong angkak kerap digunakan sebagai<br />
pewarna makanan alami.</p>
<p>Cara kerja klinis angkak dalam menaikkan trombosit memang belum<br />
diketahui secara pasti. Tak heran bila terjadi kontroversi di dunia<br />
medis kedokteran tentang penggunaan angkak pada penderita DBD.</p>
<p>Padahal secara teori, persoalan utama bukan pada menaikkan trombosit.<br />
Yang penting pasien tidak kekurangan cairan. Dengan demikian cairan<br />
apapun bisa diberikan pada pasien DBD, entah itu air putih biasa,<br />
minuman berelektrolit, jus, maupun sari kurma.</p>
<p>Kekurangan cairan merupakan persoalan utama yang dialami pasien DBD. Ini<br />
terjadi akibat semua cairan yang dibutuhkan tubuh keluar sedikit demi<br />
sedikit dari pembuluh darah atau yang disebut /leakage/. Kebocoran<br />
dinding pembuluh darah ini wajar karena turunnya trombosit. Karena itu,<br />
pasien perlu banyak cairan supaya darah tidak mengental.</p>
<p>Jadi, agak sulit mengatakan bahwa pemakaian angkak terbukti menaikkan<br />
trombosit pada pasien DBD. Bagi pasien DBD yang penting adalah pemberian<br />
cairan yang memadai sehingga selamat dari kematian.</p>
<p>*dr. Intan Airlina Febiliawanti*</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/keluargasehat.wordpress.com/2711/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/keluargasehat.wordpress.com/2711/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/keluargasehat.wordpress.com/2711/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/keluargasehat.wordpress.com/2711/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/keluargasehat.wordpress.com/2711/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/keluargasehat.wordpress.com/2711/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/keluargasehat.wordpress.com/2711/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/keluargasehat.wordpress.com/2711/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/keluargasehat.wordpress.com/2711/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/keluargasehat.wordpress.com/2711/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=keluargasehat.wordpress.com&blog=3434992&post=2711&subd=keluargasehat&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://keluargasehat.wordpress.com/2009/10/13/angkak-untuk-penderita-dbd-perlukah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/15a3be986fb03d1ee0faab8b908fb1ba?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">lutvita</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tanda-tanda Kanker yang Sering Diabaikan</title>
		<link>http://keluargasehat.wordpress.com/2009/10/12/tanda-tanda-kanker-yang-sering-diabaikan/</link>
		<comments>http://keluargasehat.wordpress.com/2009/10/12/tanda-tanda-kanker-yang-sering-diabaikan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Oct 2009 08:54:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lutvita</dc:creator>
				<category><![CDATA[KANKER]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://keluargasehat.wordpress.com/?p=2708</guid>
		<description><![CDATA[sumber : http://www.dechacare.com/Tanda-tanda-Kanker-yang-Sering-Diabaikan-I649.html
Dibanding dengan pria, wanita memang lebih peduli akan kesehatannya. Mereka juga berhati-hati dan mau memeriksakan diri bila menemui gejala yang aneh pada tubuhnya. Kepedulian seseorang pada kesehatannya juga berkaitan dengan usia. &#8220;Orang muda biasanya lebih cuek karena mengangap hanya orang tua saja yang mungkin terkena penyakit,&#8221; kata Mary Daly, onkologis Fox Chase Cancer [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=keluargasehat.wordpress.com&blog=3434992&post=2708&subd=keluargasehat&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>sumber : http://www.dechacare.com/Tanda-tanda-Kanker-yang-Sering-Diabaikan-I649.html</p>
<p>Dibanding dengan pria, wanita memang lebih peduli akan kesehatannya. Mereka juga berhati-hati dan mau memeriksakan diri bila menemui gejala yang aneh pada tubuhnya. Kepedulian seseorang pada kesehatannya juga berkaitan dengan usia. &#8220;Orang muda biasanya lebih cuek karena mengangap hanya orang tua saja yang mungkin terkena penyakit,&#8221; kata Mary Daly, onkologis Fox Chase Cancer Center, Philadelphia, AS.</p>
<p>Bicara tentang gejala-gejala yang aneh pada tubuh, berikut adalah tanda-tanda kanker yang perlu diwaspadai. Meski tidak spesifik, tetapi gejala berikut biasanya diikuti dengan tanda-tanda lain. Yang perlu diperhatikan adalah, makin dini diketahui, makin besar peluang kanker disembuhkan.</p>
<p>1. Berat badan turun tanpa sebab jelas<br />
Setiap wanita pasti ingin berat badannya turun tanpa perlu capek berusaha. Tetapi, berat badan yang anjlok dalam sebulan tanpa usaha diet atau olahraga, perlu diwaspadai.</p>
<p>&#8220;Berat badan yang tiba-tiba turun tanpa penjelasan bisa menjadi tanda kanker atau kondisi kesehatan lain, seperti tiroid yang terlalu aktif. Untuk memastikannya periksakan diri ke dokter,&#8221; kata Ranit Mishori, asisten profesor bidang kesehatan keluarga dari Sekolah Kedokteran Universitas Georgetown.</p>
<p>2. Bengkak di perut<br />
Munculnya bengkak di perut bisa dicurigai sebagai tanda kanker ovarium. Tanda lain yang menyertai adalah sakit di bagian perut atau sakit di bagian panggul, gangguan berkemih dan mudah merasa kekenyangan meski makan sedikit. Waspadai gejala bengkak, terutama bila menetap lebih dari seminggu.</p>
<p>3. Payudara berubah<br />
Walau tidak rutin melakukan pemeriksaan sendiri, pada umumnya mengenali kondisi payudaranya. Karena itu, jangan anggap enteng bila muncul tanda kemerahan atau benjolan di payudara. Tanda lain yang perlu diwaspadai adalah perubahan pada puting, muncul cairan (pada wanita yang sedang tidak menyusui) apalagi yang disertai rasa gatal. </p>
<p>4. Perdarahan<br />
Perdarahan yang timbul di antara waktu periode menstruasi sebaiknya perlu dicek ke dokter. &#8220;Bila sebelumnya tidak pernah muncul vlek darah dan sekarang tiba-tiba ada, maka itu bisa jadi sesuatu yang abnormal,&#8221; kata Debbie Saslow, Phd, direktur kanker payudara dan ginekologi dari American Cancer Society.</p>
<p>5. Kulit berubah<br />
Hati-hati dengan tahi lalat atau benjolan di kulit. Jika makin melebar, tidak simetris, warna tidak merata atau berkoreng, ada kemungkinan hal itu merupakan kanker kulit. Penyebab utama kanker kulit adalah sinar ultraviolet dan zat kimia, juga infeksi human papiloma virus.</p>
<p>6. Sulit menelan<br />
Keluhan sulit menelan biasanya terkait dengan gangguan pada tenggorokan. Namun, gejala sulit menelan juga bisa menjadi tanda dari masalah yang lebih serius, seperti kanker usus besar.</p>
<p>Meski tidak spesifik, tapi kanker saluran cerna pada stadium dini seringkali memiliki gejala nyeri ulu hati, sulit menelan, muntah darah, penurunan berat badan, perdarahan saluran cerna, dan anemia.</p>
<p>7. Perubahan di mulut<br />
Menurut Perkumpulan Kanker Amerika, para perokok perlu mewaspadai munculnya bercak putih di lidah atau plak pada mukosa mulut, karena bisa menjadi tanda kondisi pra kanker yang disebut leukoplakia yang bisa berkembang menjadi kanker mulut.</p>
<p>8. Batuk berdarah<br />
Gejala kanker paru dapat berupa batuk, sesak napas, dan dahak yang berdarah. Gejala yang timbul dari kanker paru biasanya sesuai dengan penyebaran kanker di organ tubuh yang terkena. Misalnya bila menyebar ke otak, ia dapat menimbulkan nyeri kepala, kejang, atau gangguan kesadaran. Sedangkan pada tulang, bisa menyebabkan nyeri dan patah tulang.</p>
<p>9. Demam tak jelas<br />
Jika anak lesu dan pucat, demam yang tidak jelas penyebabnya, mengalami perdarahan di kulit atau gusi, ada benjolan di tubuh atau kepala, nyeri pada anggota gerak, perut bengkak atau keras, sebaiknya orangtua waspada dan segera membawanya ke dokter. Bisa jadi hal itu merupakan gejala leukimia (kanker darah) atau kanker limfoma (kelenjar getah bening).</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/keluargasehat.wordpress.com/2708/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/keluargasehat.wordpress.com/2708/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/keluargasehat.wordpress.com/2708/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/keluargasehat.wordpress.com/2708/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/keluargasehat.wordpress.com/2708/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/keluargasehat.wordpress.com/2708/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/keluargasehat.wordpress.com/2708/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/keluargasehat.wordpress.com/2708/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/keluargasehat.wordpress.com/2708/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/keluargasehat.wordpress.com/2708/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=keluargasehat.wordpress.com&blog=3434992&post=2708&subd=keluargasehat&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://keluargasehat.wordpress.com/2009/10/12/tanda-tanda-kanker-yang-sering-diabaikan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/15a3be986fb03d1ee0faab8b908fb1ba?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">lutvita</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>