Posts filed under 'Uncategorized'
Keluarga Sehat Keluarga Bahagia
mari kita memberi asi untuk buah hati kita tercinta sampain 2 th atau lebih dan menerapkan Rasional Use Of Medicine untuk kesehatan keluarga kita
Add comment Juli 4, 2009
PERTANYAAN FAVORIT TENTANG IMUNISASI DPT & BCG
Sumber : NAKITA
Tahun pertama kehidupan seorang bayi akan dipenuhi dengan kegiatan imunisasi. Tak heran jika muncul banyak pertanyaan seputar masalah ini. Berikut pertanyaan favorit para ibu baru yang dijawab oleh dr. Alan R. Tumbelaka, Sp.A(K) dari FKUI-RSUPNCM Jakarta.
SELUK BELUK IMUNISASI DPT
* Apakah jadwal imunisasi bayi prematur sama dengan anak lahir cukup bulan?
Seharusnya sama. Namun imunisasi baru bisa dimulai pada saat kondisi bayi prematur dianggap memadai untuk memberikan respons yang baik terhadap imunisasi.
* Bagaimana kondisi bayi prematur yang dianggap siap untuk diimunisasi?
Bukan tergantung pada usia saja, sebab berat badan (BB) juga menentukan. Bayi yang lahir normal cukup bulan bisa langsung divaksinasi, sementara bayi prematur harus menunggu waktu. Dengan imunisasi diharapkan tubuh bayi dapat terangsang untuk membuat suatu zat anti, akan tetapi bayi prematur seringkali belum mampu melakukannya. Untuk itu, diadakan penundaan imunisasi pertama sekitar 1-2 bulan, di mana usianya dianggap sudah hampir sama dengan bayi yang lahir cukup bulan. Selain itu, BB-nya sudah bagus, sekitar 3 kg. Tentunya, siap-tidaknya bayi prematur tersebut diimunisasi, tergantung pada pemeriksaan dokter sebelumnya.
* Biasanya imunisasi DPT menyebabkan demam. Mengapa bayi saya tidak?
Reaksi pada anak bisa bermacam-macam. Demam-tidaknya, ditentukan banyak faktor. Antara lain kondisi anak saat diimunisasi dan kondisi vaksin. Demam atau panas disebabkan suntikan P (Pertusis) yang merupakan kuman yang dilemahkan. Jika tubuh tak bereaksi terhadap kuman, berarti daya tahan tubuh kurang memadai. Jadi, dengan suntikan DPT memang diharapkan timbul reaksi panas/demam.
Kalau vaksinnya jelek, juga ada kemungkinan tak muncul reaksi panas. Dokter apalagi awam tentunya tak akan tahu apakah vaksinnya bagus atau tidak. Untuk menjamin vaksin yang berkualitas baik, dokter harus mendapatkannya dari jalur resmi dan juga prosedur penyimpanannya harus sesuai dengan ketentuan.
* Kalau anak tak demam, berarti imunisasi gagal?
Dalam usia setahun, imunisasi DPT dilakukan 3 kali, yaitu DPT I, II, dan III sebagai imunisasi dasar. Berhasil-tidaknya imunisasi itu tidak bisa dilihat dari sekali suntik saja, melainkan setelah 3 kali.
Lagi pula, tak ada vaksin yang bisa 100 persen melindungi atau menimbulkan kekebalan. DPT misalnya, punya daya lindung sekitar 80-90 persen. Jadi masih ada 10-20 persen yang tak terlindung. Di sisi lain, bukan berarti jika imunisasi DPT I tidak menimbulkan demam lalu harus segera diulang lagi. Pengulangan baru bisa dilakukan sekurang-kurangnya 1 tahun sejak pemberian terakhir DPT dasar. Jadi, tetap harus melewati tahap DPT II dan III dulu. Baru kemudian di usia antara 18 bulan sampai 2 tahun, diberi DPT IV. Lalu DPT V di usia 5 tahun.
Pengulangan imunisasi DPT diperlukan untuk memperbaiki daya tahan tubuh yang mungkin menurun setelah sekian lama. Karena itu mestii diperkuat lagi dengan pengulangan pemberian vaksin (booster).
Kalau sudah dilakukan 5 kali suntikan DPT, maka biasanya dianggap sudah cukup. Namun di usia 12 tahun, seorang anak biasanya mendapat lagi suntikan DT atau TT (tanpa P/Pertusis) di sekolahnya. Di atas usia 5 tahun, penyakit pertusis jarang sekali terjadi dan dianggap bukan masalah. Jadi, suntikan P tak perlu diberikan lagi.
* Adakah pengaruh buruk bila tak diberi vaksin DPT ulangan?
Tentu. Pada saat daya tahan tubuh menurun, kemungkinan terkena penyakit DPT (Difteri, Pertusis dan Tetanus) lebih besar.
* Berapa lama anak demam akibat imunisasi? Berapa kisaran suhu panasnya dan bagaimana mengatasinya?
Biasanya 1-2 hari. Malah kadang cuma sehari. Panas tubuh pada setiap anak tidak sama karena daya tahan masing-masing tubuhnya berbeda. Jadi, reaksinya berlainan dan sangat individual. Apalagi setelah suntikan pertama, ada yang sekadar hangat, ada juga yang panas tinggi. Kisarannya di atas suhu normal 37,5 derajat Celcius sampai 40 derajat Celcius. Mengatasinya dengan obat penurun panas yang takarannya sesuai usia dan BB anak.
* Bolehkah bayi tidak diberi imunisasi DPT? Apa pengaruhnya bagi anak?
Imunisasi DPT, Polio, Hepatitis, Campak dan BCG diwajibkan pemerintah lewat Program Pengembangan Imunisasi. Tujuannya untuk melindungi anak balita dari penyakit tersebut. Meski wajib, bayi diimunisasi atau tidak, tergantung pada orang tuanya. Seperti halnya asuransi, kalau mau ikut silakan, berarti ada perlindungan, kalau tidak, ya, tak ada jaminan perlindungan.
* Apakah anak harus diimunisasi dengan urutan yang benar? Apa alasannya?
Jelas harus. Karena itu dibuat urutan I hingga III. Ini berdasarkan angka seringnya kejadian penyakit tersebut di usia yang tertentu pula. Misalnya, vaksin DPT harus diberikan di usia 2, 3, dan 4 bulan, karena di usia itu penyakit sudah bisa berjangkit.
* Bagaimana kalau tidak sesuai jadwal?
Yang sesuai jadwal saja, tak bisa 100 persen melindungi anak. Misalnya, 3 kali suntikan imunisasi DPT, hanya bisa memberi perlindungan 90 persen. Jadi, kalau hanya sekali saja dilakukan dan yang selebihnya tertunda, efek perlindungannya pun semakin kecil. Mungkin hanya 30 persen saja. Alhasil, kemungkinan terkena penyakitnya jadi cukup besar.Jadi, imunisasi tetap harus diberi sesuai jadwal. Tak ada istilah hangus.
* Ibu yang pernah mengalami kejang di masa kecilnya, benarkah bayinya hanya diimunisasi DT saja tanpa P (Pertusis) Mengapa?
Sebetulnya, bila dulu ibu pernah kejang demam, anaknya belum tentu mengalami hal sama. Dengan kata lain, walau kemungkinan itu selalu ada, selama si anak terbukti tak pernah kejang, suntikan DPT tetap bisa diberikan. Kalau tidak, ia tak kebal pertusis.
Lain hal jika anak pernah mengalami kejang karena demam. Ia hanya akan diberi suntikan DT atau DPT yang vaksin Pertusisnya tidak menimbulkan demam. Namanya P Acelular. Bayi yang pernah kejang akan kembali kejang jika diberi vaksin DPT yang vaksin P-nya utuh atau bisa menimbulkan panas. Risikonya tentu saja tidak kecil. Kejang yang berlangsung lama bisa merusak otaknya.
SELUK-BELUK IMUNISASI BCG
* Apa ciri keberhasilan imunisasi BCG?
Suntikan BCG yang benar adalah yang ditanam di kulit, tidak dalam, dan tidak masuk ke otot seperti halnya suntikan DPT. Setelah disuntik, permukaan kulit yang menjadi lokasi suntikan akan melendung/membengkak karena suntikannya menyusur kulit itu.
Dua bulan kemudian, di bekas suntikan tersebut terjadi luka kecil yang melendung dan kadang bernanah. Itu pertanda bahwa vaksin BCG-nya “jadi” dan luka itu nantinya akan mengering menjadi bentol kecil. Jadi, ciri imunisasi BCG yang berhasil ada dua, yaitu kulit yang melendung jika penyuntikan dilakukan dengan benar dan terjadinya luka kecil dua bulan kemudian jika vaksinnya mencapai sasaran.
Sesuai konsensus nasional, agar mudah dilihat apakah seorang anak pernah atau belum diimunisasi BCG, maka suntikan ini umumnya dilakukan di lengan atas sebelah kanan.
* Apa artinya bila suntikan BCG tidak berbekas?
Mungkin kualitas vaksinnya tak bagus atau tubuh anak tak bereaksi. Pada anak yang mengalami kurang gizi, suntikan BCG ini tak akan “jadi” karena daya tahan tubuhnya kurang bagus. Anak yang kurang gizi biasanya tak akan memberi reaksi terhadap vaksinasi apa pun. Agar berhasil, vaksinasi hanya bisa diberikan pada anak dengan daya tahan tubuh baik. Kalau gizi atau daya tahan tubuhnya jelek, maka tubuhnya tak mampu membuat zat-zat tertentu yang dibutuhkan untuk membuat zat anti.
* Haruskah vaksinasi diulang dan kapan sebaiknya dilakukan?
Pengulangan memang perlu tapi tak perlu dilakukan saat itu juga. Idealnya, harus dilakukan tes Mantoux dulu setelah 2 bulan. Tes ini akan menunjukkan apakah tubuh sudah membentuk zat antinya atau belum. Kalau hasilnya positif dan besarnya sudah mencapai 10 ml atau 1 cm, berarti sudah ada zat antinya. Namun jika lebih dari 15 ml, berarti yang terbentuk adalah penyakit TBC-nya. Bila hasilnya negatif, berarti tubuh tak membuat zat anti sama sekali. Berarti vaksinasi yang diberikan gagal dan harus diulang. Kapan waktunya, akan diatur oleh dokter.
* Apa akibatnya bila bayi mendapat imunisasi BCG pada usia 3 bulan lebih?
Penyakit tuberkulosis sebetulnya mempunyai masa inkubasi sekitar 2 bulan atau 6-8 minggu. Jadi kalau imunisasi baru diberikan setelah umurnya lewat 2 bulan, jangan-jangan dia sudah terkena kuman tuberkulosis itu. Entah ditularkan orang tua atau lingkungannya. Maka itu, suntikan BCG akan lebih baik jika diberikan lebih awal sebelum usia bayi 2 bulan.
* Bayi yang akan diimunisasi BCG pada usia lebih dari 3-4 bulan, apakah harus dites Mantoux dulu untuk memastikan ia belum terkena TBC?
Idealnya begitu. Namun tes Mantoux relatif mahal. Akibatnya, kadang-kadang di puskesmas, suntikan BCG akan langsung diberikan walaupun usia bayi sudah lewat dari 3 bulan. Kalau misalnya dilakukan tes mantoux dan hasilnya positif TBC, maka suntikan BCG tak perlu diberikan. Tinggal penyakitnya itu saja yang diobati. Setelah sembuh dari TBC, tubuh yang bersangkutan akan membuat zat anti dan kemungkinan besar tidak akan terkena lagi.
* Katanya ada bayi yang kena TBC kulit akibat imunisasi BCG. Ada juga yang di dada kanannya tumbuh jaringan lain. Mengapa bisa demikian?
Kalau cara menyuntiknya salah, hal itu bisa terjadi. Suntikan yang terlalu dalam bisa menimbulkan reaksi berupa TBC kulit. Kadang, vaksin/kuman masuk ke kelenjar di dada sehingga terjadi pembesaran. Untuk mengatasinya, kadang harus dilakukan pengangkatan kelenjar dengan tindakan operasi.
* Apakah suntikan BCG selalu disertai dengan benjolan di ketiak?
Tidak selalu. Benjolan di ketiak bisa terjadi kalau vaksin BCG masuk ke kelenjar melalui cara penyuntikan yang salah. Kalau menyuntiknya benar belum tentu benjolan terjadi. Itulah bahayanya kalau salah menyuntik. Anak malah terinfeksi TBC karena vaksin BCG sebetulnya merupakan kuman yang dilemahkan.
Apakah bayi yang sudah mendapat imunisasi BCG masih mungkin tertular TBC? Mengapa?
Ya, karena tak ada satu pun vaksinasi yang dapat menjamin perlindungan seutuhnya. Namun, kalau anak terkena penyakit, hal itu sebetulnya sama dengan mendapat vaksinasi. Hanya saja, vaksinasi adalah kuman yang diberikan secara sengaja agar muncul zat anti dari tubuh. Sementara sakit disebabkan oleh kuman yang didapat dengan sendirinya.
2 comments April 28, 2009
DPT
Sumber : http://m.infeksi.com/articles.php?lng=en&pg=15&id=12
DIFTERI
Penyakit Difteri adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium Diphteriae. Mudah menular dan menyerang terutama saluran napas bagian atas dengan gejala Demam tinggi, pembengkakan pada amandel ( tonsil ) dan terlihat selaput puith kotor yang makin lama makin membesar dan dapat menutup jalan napas. Racun difteri dapat merusak otot jantung yang dapat berakibat gagal jantung. Penularan umumnya melalui udara ( betuk / bersin ) selain itu dapat melalui benda atau makanan yang terkontamiasi.
Pencegahan paling efektif adalah dengan imunisasi bersamaan dengan tetanus dan pertusis sebanyak tiga kali sejak bayi berumur dua bulan dengan selang penyuntikan satu – dua bulan. Pemberian imunisasi ini akan memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit difteri, pertusis dan tetanus dalam waktu bersamaan. Efek samping yang mungkin akan timbul adalah demam, nyeri dan bengkak pada permukaan kulit, cara mengatasinya cukup diberikan obat penurun panas .
PERTUSIS
Penyakit Pertusis atau batuk rejan atau dikenal dengan “ Batuk Seratus Hari “ adalah penyakit infeksi saluran yang disebabkan oleh bakteri Bordetella Pertusis. Gejalanya khas yaitu Batuk yang terus menerus sukar berhenti, muka menjadi merah atau kebiruan dan muntah kadang-kadang bercampur darah. Batuk diakhiri dengan tarikan napas panjang dan dalam berbunyi melengking.
Penularan umumnya terjadi melalui udara ( batuk / bersin ). Pencegahan paling efektif adalah dengan melakukan imunisasi bersamaan dengan Tetanus dan Difteri sebanyak tiga kali sejak bayi berumur dua bulan dengan selang pentuntikan.
TETANUS
Penyakit tetanus merupakan salah satu infeksi yan berbahaya karena mempengaruhi sistim urat syaraf dan otot. Bagaimana gejala dan apa penyebabnya? Gejala tetanus umumnya diawali dengan kejang otot rahang (dikenal juga dengan trismus atau kejang mulut) bersamaan dengan timbulnya pembengkakan, rasa sakit dan kaku di otot leher, bahu atau punggung. Kejang-kejang secara cepat merambat ke otot perut, lengan atas dan paha.
Neonatal tetanus umumnya terjadi pada bayi yang baru lahir. Neonatal tetanus menyerang bayi yang baru lahir karena dilahirkan di tempat yang tidak bersih dan steril, terutama jika tali pusar terinfeksi. Neonatal tetanus dapat menyebabkan kematian pada bayi dan banyak terjadi di negara berkembang. Sedangkan di negara-negara maju, dimana kebersihan dan teknik melahirkan yang sudah maju tingkat kematian akibat infeksi tetanus dapat ditekan. Selain itu antibodi dari ibu kepada jabang bayinya yang berada di dalam kandungan juga dapat mencegah infeksi tersebut.
Apa yang menyebabkan infeksi tetanus? Infeksi tetanus disebabkan oleh bakteri yang disebut dengan Clostridium tetani yang memproduksi toksin yang disebut dengan tetanospasmin. Tetanospasmin menempel pada urat syaraf di sekitar area luka dan dibawa ke sistem syaraf otak serta saraf tulang belakang, sehingga terjadi gangguan pada aktivitas normal urat syaraf. Terutama pada syaraf yang mengirim pesan ke otot. Infeksi tetanus terjadi karena luka. Entah karena terpotong, terbakar, aborsi , narkoba (misalnya memakai silet untuk memasukkan obat ke dalam kulit) maupun frosbite. Walaupun luka kecil bukan berarti bakteri tetanus tidak dapat hidup di sana. Sering kali orang lalai, padahal luka sekecil apapun dapat menjadi tempat berkembang biaknya bakteria tetanus.
Periode inkubasi tetanus terjadi dalam waktu 3-14 hari dengan gejala yang mulai timbul di hari ketujuh. Dalam neonatal tetanus gejala mulai pada dua minggu pertama kehidupan seorang bayi. Walaupun tetanus merupakan penyakit berbahaya, jika cepat didiagnosa dan mendapat perawatan yang benar maka penderita dapat disembuhkan. Penyembuhan umumnya terjadi selama 4-6 minggu. Tetanus dapat dicegah dengan pemberian imunisasi sebagai bagian dari imunisasi DPT. Setelah lewat masa kanak-kanak imunisasi dapat terus dilanjutkan walaupun telah dewasa. Dianjurkan setiap interval 5 tahun : 25, 30, 35 dst. Untuk wanita hamil sebaiknya diimunisasi juga dan melahirkan di tempat yang terjaga kebersihannya.
Add comment April 28, 2009
Gondongan (Mumps)
Sumber : milist Balita Anda
Gondongan adalah penyakit infeksi virus akut yang mengenai kelenjar ludah
(khususnya parotis).
Epidemiologi
Penderita dapat menularkan penyakitnya sejak ± 7 hari sebelum timbulnya gejala penyakit sampai ± 9 hari sesudahnya. Penularan dapat terjadi melalui:
Percikan ludah (droplet infection)
Alat-alat makan dan minum yang dipakai bersama
Penyakit ini banyak menyerang anak usia sekolah dasar (antara 5-9 tahun).
Etiologi
Virus Mumps
Virus RNA rantai tunggal dan berkapsul
Termasuk dalam famili paramiksovirus
Hanya ada satu tipe antigen yang diketahui
Faktor risiko
Daya tahan tubuh yang lemah
Patofisiologi
Masa inkubasi penyakit ini berkisar antara 2-3 minggu dan setelah itu muncul berbagai macam gejala klinis.
Manifestasi klinis yang khas adalah demam disertai dengan pembengkakan dan rasa nyeri pada kelenjar ludah (salivatorius), khususnya kelenjar parotis. Kelenjar ludah lain pun bisa terkena walaupun lebih jarang. Lokasi yang terkena bisa satu sisi (unilateral) atau dua sisi (bilateral).
Gejala dan tanda klinis
Gejala dan tanda klinis yang dapat dijumpai antara lain:
Demam tidak terlalu tinggi
Tidak nafsu makan (anoreksia)
Mual (nausea)
Muntah (vomitus)
Nyeri pada otot
Sakit pada daerah telinga yang bertambah berat saat mengunyah makanan
Pembengkakan disertai rasa nyeri pada daerah kelenjar parotis (pada rahang kiri dan kanan, lebih kurang di depan telinga). Pembengkakan terjadi secara cepat dalam waktu 1-3 hari dan biasanya membaik dalam waktu kira-kira 1 minggu
Pemeriksaan Laboratorium
Patologi anatomi
Lesi pada gondongan memperlihatkan adanya:
Edema interstisial
Infiltrat histiosit, limfosit dan sel plasma yang difus
Pemeriksaan Laboratorium
Serologi
Pada kasus-kasus tertentu, dapat dilakukan pemeriksaan serologi untuk
memastikannya. Teknik pemeriksaan yang dapat digunakan adalah dengan fiksasi komplemen.
Biakan sel
Pertama-tama kita harus mengisolasi virus mumps tersebut. Virus dapat diisolasi
dari air liur, urin, faring, dan lokasi lain yang terkena. Virus yang didapat lalu ditumbuhkan dalam biakan sel.
Diagnosa
Diagnosa biasanya ditegakkan berdasarkan temuan klinis.
Hal-hal yang membantu dalam penegakan diagnosa:
Riwayat kontak dengan penderita gondongan
Pembengkakan kelenjar ludah disertai rasa nyeri khususnya pada kelenjar parotis
Tata laksana Umum
Isolasi untuk mencegah penularan
Diet bergizi tinggi (tinggi kalori dan protein)
Bila demam tinggi, kompres dengan air hangat
Peralatan makan dan minum harus dipisah untuk mencegah penularan
Farmakoterapi
Sampai saat ini belum ada obat yang spesifik untuk mengobati gondongan.
Obat-obatan yang dipergunakan biasanya hanya untuk terapi simtomatik. Obat-obat
tersebut antara lain:
Antipiretik: Parasetamol atau ibuprofen
Prognosis
Prognosis umumnya baik. Pada beberapa kasus dapat terjadi kemandulan
(infertilitas)
Pencegahan
Hindari kontak dengan penderita
Tingkatkan daya tahan tubuh
Imunisasi (biasanya dalam bentuk imunisasi MMR)
Add comment April 27, 2009
Infeksi Saluran Kemih pada Anak
Source: www.idai.or.id
INFEKSI saluran kemih (ISK) adalah penyakit yang sering ditemukan pada anak, di samping infeksi saluran cerna. ISK merupakan penyakit penting pada anak, karena menyebabkan gejala tidak menyenangkan pada anak.
Bila tidak ditanggulangi secara serius, ISK dapat menyebabkan komplikasi berupa batu saluran kemih, hipertensi, ataupun gagal ginjal yang memerlukan tindakan cuci darah atau cangkok ginjal. Karena itu, perlu mengenal ISK sedini mungkin agar dapat ditata laksana dengan adekuat untuk menghindari akibat yang lebih buruk.
ISK dapat mengenai semua orang, mulai bayi baru lahir sampai dengan orang dewasa, baik laki-laki maupun perempuan.ISK lebih sering dtemukan pada bayi atau anak kecil dibandingkan dengan dewasa. Pada bayi sampai umur tiga bulan, ISK lebih sering pada laki-laki daripada perempuan, tetapi selanjutnya lebih sering pada perempuan daripada laki-laki.
ISK terjadi sebagai akibat masuknya kuman ke dalam saluran kemih. Biasanya kuman berasal dari tinja atau dubur, masuk ke saluran kemih bagian bawah atau uretra, kemudian naik ke kandung kemih dan dapat sampai ke
ginjal. Kuman dapat juga masuk ke saluran kemih melalui aliran darah dari tempat lain yang melebar, terdapat sumbatan saluran kemih, kandung kemih yang membesar dan lain-lain. Sama seperti
penyakit infeksi lainnya, ISK akan lebih mudah terjadi pada anak dengan gizi buruk atau sistem kekebalan tubuh anak rendah. Anak yang mengalami sembelit atau sering menahan-nahan air kemih (kencing) pun dapat berisiko
terkena ISK.
Gejala:
- Kadang tanpa gejala, dan didiagnosis setelah terjadi komplikasi gagal ginjal. Pada bayi baru lahir, gejalanya tidak khas, sehingga sering tidak terpikirkan, misalnya suhu tidak stabil (demam atau suhu lebih rendah dari normal), tampak sakit, mudah terangsang atau irritable, tidak mau minum, muntah, mencret, perut kembung, air kemih
berwarna kemerahan atau tampak kuning.
Pada bayi lebih dari satu bulan, dapat berupa demam, air kemih berwarna kemerahan, mudah terangsang, tampak sakit, nafsu makan berkurang, muntah, diare, perut kembung atau tampak kuning. Pada anak usia prasekolah atau sekolah, gejala ISK dapat berupa demam dengan atau tanpa menggigil, sakit di daerah pinggang, sakit waktu
bermih, buang air kemih sedikit-sedikit tetapi sering, rasa ingin berkemih, air kemih keruh atau
berwarna kemerahan.
Pengobatan:
Jika terdapat kecurigaan terhadap ISK, maka perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium, yaitu pemeriksaan air kemih, rutin dan biakan air kemih. Hasil pemeriksaan urinalisis dapat segera diketahui, sedangkan hasil biakan air kemih memerlukan waktu satu minggu.
Ada tiga hal yang penting yang biasa dilakukan jika pasien sudah didiagnosis sebagaii ISK, yaitu pertama, memberantas infeksi: kedua, mendeteksi, mencegah, dan mengobati infeksi berulang dan ketiga mendeteksi kelainan anatomi dan fungsional saluran kemih serta menanggulanginya jika ada
Untuk memberantas infeksi, diberikan obat pembunuh kuman (antimikroba atau antibiotik) selama 7-10 hari. Sedapat mungkin obat pembunuh kuman ini diberikan sesuai dengan hasil uji kepekaan kuman yang diketahui
dari hasil biakan air kemih. Untuk mendeteksi infeksi berulang, perlu dilakukan pemeriksaan biakan air kemih secara berkala, dan kalau terdapat infeksi, maka infeksi ini diobati dengan antibiotik
yang sesuai.
Untuk mendeteksi kelainan anatomi dan fungsional saluran kemih, biasanya dokter melakukan pemeriksaan fisik yang lebih teliti dan kalau perlu dilakukan pemeriksaan pencitraan/radiologis seperti USG atau pemeriksaan rontgen terhadap ginjal dan saluran kemih. Jika ditemukan kelainan pada saluran kemih, maka tata laksana selanjutnya disesuaikan dengan kelainan yang ditemukan apakah memerlukan tindakan pembedahan atau tidak.
Kesimpulan
Dengan mengenali ISK sedini mungkin, mengatasi infeksi serta mendeteksi dan menanggulangi kelainan yang ditemukan, maka akibat yang lebih berat, yaitu gagal ginjal yang memerlukan cuci darah atau cangkok ginjal dapat dicegah.
Add comment April 27, 2009
Botulisme
Sumber : medicastore.com
DEFINISI
Botulisme adalah suatu keadaan yang jarang terjadi dan bisa berakibat fatal, yang disebabkan oleh keracunan toksin (racun) yang diproduksi oleh Clostridium botulinum.
Toksin ini adalah racun yang sangat kuat dan dapat menyebabkan kerusakan saraf dan otot yang berat. Karena menyebabkan kerusakan berat pada saraf, maka racun ini disebut neurotoksin.
Terdapat 3 jenis botulisme, yaitu :
- Foodborne botulism, merupakan akibat dari mencerna makanan yang tercemar
- Wound botulism, disebabkan oleh luka yang tercemar
- Infant botulism, terjadi pada anak-anak, karena mencerna makanan yang tercemar.
PENYEBAB
Bakteri Clostridium botulinum memiliki bentuk spora. Spora ini dapat
bertahan dalam keadaan dorman (tidur) selama beberapa tahun dan tahan tehadap kerusakan. Jika lingkungan di sekitarnya lembab, terdapat cukup makanan dan tidak ada oksigen, spora akan mulai tumbuh dan menghasilkan toksin. Beberapa toksin yang dihasilkan Clostridium botulinum memiliki kadar protein yang tinggi, yang tahan terhadap pengrusakan oleh enzim pelindung usus.
Jika makan makanan yang tercemar, racun masuk ke dalam tubuh melalui saluran pencernaan, menyebabkan foodborne botulism. Sumber utama dari botulisme ini adalah makanan kalengan. Sayuran, ikan, buah dan rempah-rempah juga merupakan sumber penyakit ini. Demikian juga halnya dengan daging, produki susu, daging babi dan unggas.
Wound botulism terjadi jika luka terinfeksi oleh Clostridium botulinum. Di dalam luka ini, bakteri menghasilkan toksin yang kemudian diserap masuk ke dalam aliran darah dan akhirnya menimbulkan gejala.
Infant botulism sering terjadi pada bayi berumur 2-3 bulan.
Berbeda dengan foodborne botulism, infant botulism tidak disebabkan karena menelan racun yang sudah terbentuk sebelumnya. Botulisme ini disebabkan karena makan makanan yang mengandung spora, yang kemudian tumbuh dalam usus bayi dan menghasilkan racun. Penyebabnya tidak diketahui, tapi beberapa kasus berhubungan dengan pemberian madu. Clostridium botulinum banyak ditemukan di lingkungan dan banyak kasus yang merupakan akibat dari terhisapnya sejumlah kecil debu atau tanah.
GEJALA
Gejalanya terjadi tiba-tiba, biasanya 18-36 jam setelah toksin masuk, tapi dapat terjadi 4 jam atau paling lambat 8 hari setelah toksin masuk. Makin banyak toksin yang masuk, makin cepat seseorang akan sakit. Pada umumnya, seseorang yang menjadi sakit dalam 24 jam setelah makan makanan yang tercemar, akan mengalami penyakit yang sangat parah.
Gejala pertama biasanya berupa mulut kering, penglihatan ganda, penurunan kelopak mata dan ketidakmampuan untuk melihat secara fokus terhadap objek yang dekat. Refleks pupil berkurang atau tidak ada sama sekali.
Pada beberapa penderita, gejala aawalnya adalah mual, muntah, kram perut dan diare. Pada penderita lainnya gejala-gejala saluran pencernaan ini tidak muncul, terutama pada penderita wound botulism.
Penderita mengalami kesulitan untuk berbicara dan menelan.
Kesulitan menelan dapat menyebabkan terhirupnya makanan ke dalam saluran pernafasan dan menimbulkan pneumonia aspirasi. Otot lengan, tungkai dan otot-otot pernafasan akan melemah. Kegagalan saraf terutama mempengaruhi kekuatan otot. Pada 2/3 penderita infant botulism, konstipasi (sembelit) merupakan gejala awal. Kemudian terjadi kelumpuhan pada saraf dan otot, yang dimulai dari wajah dan kepala, akhirnya sampai ke lengan, tungkai dan otot-otot pernafasan. Kerusakan saraf bisa hanya mengenai satu sisi tubuh. Masalah yang ditimbulkan bervariasi, mulai dari kelesuan yang ringan dan kesulitan menelan, sampai pada kehilangan ketegangan otot yang berat dan gangguan pernafasan.
DIAGNOSA
Pada foodborne botulisme, diagnosis ditegakkan berdasarkan pola yang khas dari gangguan saraf dan otot. Tetapi gejala ini sering dikelirukan dengan penyebab lain dari kelumpuhan, misalnya stroke. Adanya makanan yang diduga sebagai sumber kelainan ini juga merupakan petunjuk tambahan. Jika botulisme terjadi pada 2 orang atau lebih yang memakan makanan yang sama dan di tempat yang sama, maka akan lebih mudah untuk menegakkan diagnosis.
Untuk memperkuat diagnosis, dilakukan pemeriksaan darah untuk menemukan adanya toksin atau biakan contoh tinja untuk menumbuhkan bakteri
penyebabnya. Toksin juga dapat diidentifikasi dalam makanan yang dicurigai.
Elektromiografi (pemeriksaan untuk menguji aktivitas listrik dari otot)
menujukkan kontraksi otot yang abnormal setelah diberikan rangsangan listrik. Tapi hal ini tidak ditemukan pada setiap kasus botulisme.
Diagnosis wound botulism diperkuat dengan ditemukannya toksin dalam darah atau dengan membiakkan bakteri dalam contoh jaringan yang terluka.
Ditemukannya bakteri atau toksinnya dalam contoh tinja bayi, akan
memperkuat diagnosis infant botulisme.
PENGOBATAN
Penderita botulisme harus segera dibawa ke rumah sakit. Pengobatannya segera dilakukan meskipun belum diperoleh hasil pemeriksaan laboratorium untuk memperkuat diagnosis.
Untuk mengeluarkan toksin yang tidak diserap dilakukan:
- perangsangan muntah
- pengosongan lambung melalui lavase lambung
- pemberian obat pencahar untuk mempercepat pengeluaran isi usus.
Bahaya terbesar dari botulisme ini adalah masalah pernafasan. Tanda-tanda vital (tekanan darah, denyut nadi, frekuensi nafas dan suhu) harus diukur secara rutin. Jika gangguan pernafasan mulai terjadi, penderita dibawa ke ruang intensif dan dapat digunakan alat bantu pernafasan. Perawatan intensif telah mengurangi angka kematian karena botulisme, dari 90% pada awal tahun 1900 sekarang menjadi 10%. Mungkin pemberian makanan harus dilakukan melalui infus.
Pemberian antitoksin tidak dapat menghentikan kerusakan, tetapi dapat memperlambat atau menghentikan kerusakan fisik dan mental yang lebih lanjut, sehingga tubuh dapat mengadakan perbaikan selama beberapa bulan. Antitoksin diberikan sesegera mungkin setelah diagnosis ditegakkan. Pemberian ini pada umumnya efektif bila dilakukan dalam waktu 72 jam setelah terjadinya gejala. Antitoksin tidak dianjurkan untuk diberikan pada bayi, karena efektivitasnya pada infant botulism masih belum terbukti.
PENCEGAHAN
Spora sangat tahan terhadap pemanasan dan dapat tetap hidup selama beberapa jam pada proses perebusan. Tetapi toksinnya dapat hancur dengan pemanasan, Karena itu memasak makanan pada suhu 80� Celsius selama 30 menit, bisa mencegah foodborne botulism. Memasak makanan sebelulm memakannya, hampir selalu dapat mencegah terjadinya foodborne botulism. Tetapi makanan yang tidak dimasak dengan sempurna, bisa menyebabkan botulisme jika disimpan setelah dimasak, karena bakteri dapat menghasilkan toksin pada suhu di bawah 3� Celsius (suhu lemari pendingin).
Penting untuk memanaskan makanan kaleng sebelum disajikan. Makanan kaleng yang sudah rusak bisa mematikan dan harus dibuang. Bila kalengnya penyok atau bocor, harus segera dibuang.
Anak-anak dibawah 1 tahun sebaiknya jangan diberi madu karena mungkin ada spora di dalamnya.
Toksin yang masuk ke dalam tubuh manusia, baik melalui saluran pencernaan, udara maupun penyerapan melalui mata atau luka di kulit, bisa menyebabkan penyakit yang serius. Karena itu, makanan yang mungkin sudah tercemar, sebaiknya segera dibuang. Hindari kontak kulit dengan penderita dan selalu mencuci tangan segera setelah mengolah makanan
1 comment April 27, 2009
Mata Anak Belekan
- penyumbatan saluran air mata
kalau begini tatalaksananya adalah membersihkan dengan kapas air hangat dan
juga memijat2 area seputar matanya untuk membantu mengurangi penyumbatannya.
- infeksi atau bisa juga disebut conjunctivitis
infeksi inipun bisa banyak penyebabnya, bisa karena infeksi virus, infeksi
bakteri atau sebab lainnya dan umumnya krn infeksi virus dimana kalau krn
virus tidak perlu dibeirkan obat apapun selain membersihkan matanya spt yang
saya tulis diatas.
obat diperlukan bila infeksinya disebabkan oleh bakteri dimana gejalanya
hampir sama krn virus, tapi dr yg saya baca kalau krn bakteri belekannya
bandel, makin lama cenderung makin banyak dan kelopak matanya memerah.
kalaupun perlu obat tetes antibiotik (AB), pilih obat yg hanya mengandung AB
saja…jangan gunakan obat tetes yg mengandung steroid krn efek sampingnya
bisa menyebabkan glaukoma.
contohnya obat tetes mata yg mengandung steroid itu yah obat yang mba
sebutkan, yaitu cendo xitrol, yang mengandung dexametason yg merupakan salah
stau jenis steroid. tidak hanya untuk anak2, org dewasapun sebaiknya tidak
menggunakan obat yg mengandung steroid. memang sih steroid itu efeknya
memberi kenyamanan…..tapi kalau efeknya bisa bikin glaukoma, mending gak
usah deee….
cendo fenicol ataupun garamycin tidak mengandung steroid. tapi penting juga
kita ketahui kapan butuh AB atau tidak. tidak semua mata belekan perlu obat.
kalau untuk kasus anaknya mba, saya sependapat sama dokternya, kemungkinan
krn penyumbatan air matanya. jadi rajin2 dibersihkan dan di pijit2 yah area
matanya.
untuk tahu lebih jauh seputar conjunctivitis, bisa baca tulisan yg dibuat
oleh dokter apin dibawah ini.
Regards,
Gendi J – Father of 2
From: Arifianto Apin
sekarang saya coba jawab lebih lengkap berdasarkan hasil browsing ya.
Pertama, membedakan antara konjungtivitis akibat virus, bakteri, dan alergi
(saya ambil dari pediatric on call):
1. Bacterial conjunctivitis:- It is seen as a pink eye. It affects both the
eyes usually and leads to thick discharge of mucus from both the eyes.
2. Viral conjunctivitis: – Is a limited condition. It usually affects one
eye and causes excessive tearing. The discharge is usually mild.
3. Allergic conjunctivitis:- It results in excessive tearing from the eyes
and itching & redness in the eyes. It may sometimes be associated with a
runny nose.
4. Opthalmia neonatorum:- Is conjunctivitis in the newborn. It requires
emergency care and the neonatologist (physician caring for the baby) should
be consulted immediately. It has to be treated urgently to prevent permanent
eye damage or blindness. It is usually caused when the infant is exposed to
the germs in the mother’s birth canal. Gonococcus, C. trachomatis and herpes
virus are the common causes.
Yang jelas membedakan konjungtivitis virus dan bakteri agak sulit, lihat
saja kata-kata di atas yang digunakan adalah ‘usually’. Namun secara umum
kalau ‘belekan’-nya banyak dan lebih dari sehari belum> sembuh, kita curigai
akibat bakteri. Non-prescription eye drops are needed for viral
conjunctivitis. Antibiotic eye drops are required for bacterial
conjunctivitis. Allergic conjunctivitis require steroid eye drops. However,
do not use them without consulting your doctor.
Kalau dari tanda dan gejala anaknya Mbak Susi, tidak mengarah ke alergi,
paling mungkin akibat virus dan/atau bakteri. Bisa diberikan antibiotika
topikal (tetes/salep mata) untuk akibat bakteri. Yang perlu diingat
(diambil dari AAP): These viral infections tend to clear up on their own in
a few days. Your doctor may prescribe an antibiotic – either eyedrops or an
ointment – for bacterial conjunctivitis; make sure your child uses the
antibiotic for the prescribed time period, even if the symptoms disappear.
Two adults may be needed to administer the drops: one to hold the eye open
and reassure the child while the other adult actually puts the drops in the
eye. Also, periodically wash the eyelids, using a cotton ball soaked in
warm water, to keep them from sticking together. Keep your child home until
her eyes no longer have a discharge.
Jadi selain memberikan antibiotika, jangan lupa rajin membersihkan
kotorannya.
Mengenai kekhawatiran penggunaan antibiotika yang menyebabkan resistensi,
belum ada bukti yang kuat mendukung. Jadi boleh saja memberikan antibiotika
topikal ini (tapi tanpa steroid ya, karena tidak ada panduan yang mengatakan
pemberian steroid pada konjungtivitis bakterialis). Lainnya dalam jurnal
Lancet Juli 2005 menunjukkan Most children presenting with acute infective
conjunctivitis in primary care will get better by themselves and do not need
treatment with an antibiotic.
Kalau mau baca Randomized Control Trial-nya di sini:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query.fcgi?cmd=Retrieve&db=PubMed&list_uids=15993231&dopt=Citation
Sedangkan EBM-nya di sini:
http://www.clinicalevidence.com/ceweb/conditions/eyd/0704/0704_I1.jsp
Dari gambaran tanda dan gejala yang Mbak Susi sampaikan, anaknya mengalami
konjungtivitis virus (disebabkan oleh virus). Diagnosis lainnya adalah
konjungtivitis bakteri (disebabkan oleh bakteri). Sulit sekali membedakan
antara kedua jenis konjungtivitis ini. Tapi biasanya kalau baru hari
pertama, masih dicurigai akibat virus dahulu, sehingga pengobatannya lebih
ke arah membuat anak merasa nyaman (sering-sering membersihkan kotoran
matanya, mengompresnya dengan air hangat/dingin agar merasa nyaman). Namun
jika berkepanjangan, sehingga dicurigai sebagai konjungtivitis bakteri,
diberikan tetes mata yang mengandung antibiotika, salah satu yang tersering
adalah kloramfenikol.
Tidak perlu yang mengandung campuran steroid, cukup yang mengandung
antibiotika saja. Bisa dilihat di kemasan obatnya.
Demikian quick reply saya, berdasarkan ilmu yang masih saya ingat. Belum cek
lagi seandainya ada update. Mari kita sama-sama browse di MayoClinic, AAP,
atau WHO dengan keyword: ‘conjunctivitis’.
Konjungtivitis alergi tandanya lebih ringan dibandingkan dengan kedua di
atas. Bila dihindarkan dari pencetusnya, mata tidak akan berair dan bengkak.
Sekiranya jawaban saya ini layak di-posting ke milis, silakan di-posting
agar bisa sharing dengan SPs yang lain. Maklum, saya jarang memantau milis
dalam sebulan terakhir karena kesibukan di luar.
Regards,
Apin
4 comments April 6, 2009
Asteria Esophagus
Asteria esophagus
sumber : milist sehat (sehatgroup.web.id)
Tuesday, 19 Jul 2005
Gina — jakarta
Dok, keponakan saya ( 1 tahun )memiliki kelainan pada asteria esophagus, dan akan menjalani operasi kedua pada bulan maret 2005. menurut dokter bedahnya, operasi kedua akan lebih sulit dibandingkan dengan operasi yang pertama dan kemungkinan berhasilnya sangat kecil.
Yang ingin saya tanyakan adalah mengapa operasi kedua memiliki resiko yang sangat besar dan apakah dokter memiliki referensi dokter yang sudah terbiasa menangani kasus di atas dan apakah dokter memiliki alamat orangtua anak yang memiliki kasus seperti di atas?
Demikian pertanyaan saya, atas perhatian dan jawabannya saya ucapkan T
Terima kasih
Jawaban:Dear GinaTurut prihatin membaca berita perihal keponakanmu …Menururt saya sebaiknya konsultasi ke bag bedah anak di RSCM. Di situ ada Prof Darmawan, ada Dr Amir Thayeb, ada Dr Sastiono. Operasinya sih bisa dilakukan di RSCM atau di RS tempat salah satu dari ketiga dokter tsb praktek.
Memang operasi kedua lebih sulit karena kan sudah terjadi perlengketan-perlengketan akibat operasi pertama sehingga operasi lebih sulit ketimbang operasi pertama yang dilakukan ketika kondisi anatomi seputar esofagus tsb masih mulus. Mungkin ketiga dokter tsb juga bisa membantu perihal alamat orang tua dari penderita atresia esofagus.
Love
wati
Add comment April 6, 2009










