Posts filed under 'TUMBUH KEMBANG'
Why is my toddler suddenly waking up hysterical at night?
source : http://www.babycenter.com/404_why-is-my-toddler-suddenly-waking-up-hysterical-at-night_1292621.bc
My toddler has always been a good sleeper, but all of a sudden he’s waking up and hysterical several times a night. What’s going on?
Expert Answers
Deborah Lin-Dyken, pediatric sleep disorders expert
It’s very common for even the best of sleepers to suddenly start having sleep problems, whether that means having a hard time falling asleep at bedtime or abruptly waking up during the night. Your toddler may be having night terrors, which are similar to sleepwalking but are more dramatic. Night terrors are often related to being sleep-deprived.
When your child “wakes up” with a night terror, go in and check on him but don’t speak to him or try to soothe him. Your child will resist being comforted and will appear confused and disoriented. Trying to soothe your child will only extend and intensify the sleep terror — even saying his name can make him more upset. Likewise, don’t try to vigorously awaken him. He may think you are attacking him. Instead, just let the night terror run its course, and stand nearby to make sure your toddler doesn’t hurt himself.
Your little one may also be having bad dreams. Your child’s imagination is developing, and that can’t help but carry over into his sleeping world. When he wakes up after a nightmare, go in and reassure him. A few moments spent soothing him should do the trick. Stay with him until he falls back to sleep if he asks you to. Don’t worry if he doesn’t want to talk about the dream. Sometimes nightmares aren’t about anything definitive, just a scary feeling.
Other common causes of night-waking in previously good sleepers include illness, separation anxiety or a looming developmental leap. In those cases, there are a couple of things to try, aside from treating the fever or throat or ear pain that’s making a sick toddler uncomfortable. First, make sure that your child is getting enough sleep in general. It may seem counterintuitive, but the less sleep your child gets, the more likely he is to have trouble settling down at bedtime and staying asleep through the night. So be consistent about putting him to bed for naps during the day and getting him to bed at a reasonable time in the evening.
When your toddler wakes up during the night, be soothing and calming, but boring. Let him know that everything is okay, but that it’s time to sleep. Keep the conversation to a minimum and the lights dim. It may take a few nights or even a few weeks to get back on track, but the closer you stick to his regular sleep routine, the sooner the problem will be resolved.
Add comment Agustus 24, 2009
Kepekaan Indera Bayi
KEPEKAAN INDERA BAYI TENTUKAN KECERDASAN
Membicarakan stimulasi untuk bayi memang tak ada habisnya. Sesudah kelahiran, otak bayi mengalami lompatan perluasan jaringan. Jaringan ini muncul berkat berlangsungnya kegiatan listrik yang dipicu pengalaman indera si bayi. Lebih jauh, stimulasi melalui indera akan memperhalus sambungan dari cabang-cabang sel-sel saraf di otak.
Bayi baru lahir, seperti yang dapat dilihat dari tatapan matanya, memang sudah dapat melihat tetapi masih buram. Untuk bisa mencapai kemampuan melihat yang kompleks, indra penglihatan bayi harus dilatih sejak ia lahir. Kalau tidak, maka sistem penglihatannya tidak berkembang.
Melalui indera pendengarannya, bayi juga mulai belajar merangkai ritme dan bahasa, bahkan sejak dalam kandungan. Para peneliti menemukan, bahwa berbicara banyak pada bayi akan mempercepat proses penguasaan kata-kata baru. Kata-kata yang menyenangkan akan menghangatkan jiwanya. Ditambah sentuhan penuh kasih sayang, maka bayi pun belajar merangkai perasaannya. Perlakuan tidak baik pada bayi akan menghasilkan reaksi berupa kecemasan yang meningkat dan stres yang tinggi. Jadi jelas, stimulasi inderawi merupakan kebutuhan vital yang tak boleh tidak dipenuhi.
sumber :NAKITA
Add comment Agustus 8, 2009
Ngeces Tidak Normal, Bila…
sumber : http://cidera-otak.blog.friendster.com
Oleh: Dr. Luh Karunia Wahyuni, SpRM
Sehari-hari sering kita jumpai anak balita dengan air liur yang menetes dari sudut bibir, terus menerus disertai mulut yang selalu terbuka, dapat diibaratkan seperti keran bocor. Anak seperti tidak peduli dengan pipi, dagu dan leher yang selalu basah. Kondisi seperti itu disebut drooling (ngeces).
Pada dasarnya kontrol terhadap ngeces terjadi bertahap sesuai dengan perkembangan anak. Kontrol ini berhubungan dengan posisi tubuh anak, kegiatan yang sedang dilakukan anak, kemampuan anak mengontrol gerakan mulut serta tingkat perkembangan gerak anak.
Jangan-jangan tumbuh gigi
Ngeces sering terjadi saat anak sedang mempelajari keterampilan gerak yang baru dan berlanjut sampai anak mencapai kemampuan melakukan gerakan secara otomatis. Sering terjadi pula selama, sebelum dan setelah tumbuh gigi baru.
Pada usia 1-3 bulan, anak jarang ngeces karena produksi air liur masih minimal. Saat usia 6 bulan, anak akan ngeces pada posisi berbaring, terlentang, tengkurap atau duduk. Demikian bila anak mulai bicara (babling), meraih, menunjuk atau tumbuh gigi. Usia 9 bulan, anak dapat duduk atau merangkak tanpa ngeces. Pada usia ini anak akan ngeces saat makan makanan tertentu.
Pada usia 15-18 bulan anak ngeces bila melakukan gerakan halus seperti makan sendiri. Sedangkan pada usia 2 tahun anak seharusnya tidak ngeces lagi sekalipun melakukan gerakan yang sudah trampil seperti menggambar, makan sendiri atau bermain.
Jika kita cermati penjelasan di atas, ngeces pada usia tertentu masih dianggap normal. Penjelasan di atas dapat dipergunakan oleh orangtua sebagai patokan untuk mengenali apakah ngeces masih dalam batas wajar.
Tidak normal, bila…
Ada berbagai kondisi yang menyebabkan ngeces tidak lagi sebagai suatu keadaan yang normal misalnya:
* Mulut terbuka terus sehingga anak sulit menelan. Kita dapat mencoba merasakan menelan air liur saat mulut terbuka, betapa sulitnya. Mulut yang terbuka terus kemungkinan berhubungan dengan infeksi saluran napas yang kronis atau hidung selalu mampet.
* Frekuensi tidak adekuat sehingga air liur menumpuk dan terjadilah ngeces. Pada dasarnya manusia normal akan menelan ludah 2 kali per menit saat sadar dan 1 kali per menit saat tidur.
* Adanya gangguan pada saraf cranialis yang bertanggung jawab terhadap proses menelan.Makan dari sendok butuh keterampilan tersendiri. Bisa jadi, Anda harus uji coba selama beberapa kali sampai bayi betul-betul terbiasa.
Pentingnya Variasi
2 comments Agustus 8, 2009
Baby Walker Tidak Membantu Anak Berjalan
http://mommygadget.com
Selain rentan kecelakaan, penggunaan baby walker juga diduga dapat
mengakibatkan kelainan kaki. Berikut adalah petikan sebuah e-mail dari
orang tua Indonesia yang tinggal di Australia:
Di sini baby walker sangat tidak direkomendasi penggunaannya karena
banyak kecelakaan terjadi akibat penggunaan yang tidak diawasi dengan
ketat. Dengan tidak adanya rekomendasi tersebut, otomatis barang ini
jadi langka. Kalaupun ada yang beli dan sampai terjadi kecelakaan,
konsumen enggak bisa menyeret produsen ke pengadilan (ibaratnya sudah
tahu bahayanya, kok masih dipakai.. yah salah sendiri). Lagi pula kalau
si anak udah siap jalan, dia akan jalan kok… malah baby walker bikin
anak menjadi malas untuk berjalan…. .
Bunyi surat itu sangat pas mewakili kesadaran orang tua akan bahaya yang
bisa ditimbulkan baby walker. Sayang, kesadaran orang tua di Indonesia
akan keamanan baby walker yang kurang tampaknya masih minim. Nyatanya di
sini baby walker masih saja digunakan, atau setidaknya produk ini masih
banyak dijual di pasaran. Padahal, seperti dijelaskan dr. Karel A.L.
Staa. M.D., dari Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta , kalau mau melirik
kembali ke negara-negara barat, Amerika katakanlah, soal keamanan baby
walker ini sudah menjadi ajang perdebatan seru sejak lama.
Sampai-sampai, desain “alat bantu” belajar jalan ini, tidak pernah sama
dari tahun ke tahun dan diberi semacam masa “kadaluwarsa” oleh pihak
pemerintahnya. Jika setelah diteliti, desainnya dianggap tidak cukup
baik untuk bayi, anjuran pemakaiannya akan ditinjau kembali bahkan kalau
perlu dihapuskan. Pada tahun 1997, umpamanya, desain baby walker pernah
diubah menjadi lebih besar dari ukuran sebelumnya dengan maksud agar
benda itu tidak bisa menerobos pintu rumah.
Sayang, ukuran yang diubah tersebut tetap tidak dapat mencegah
terjadinya kecelakaan lain. Oleh karena alasan inilah akhirnya produksi
baby walker di negeri Paman Sam tersebut dihentikan. “Sementara desain
baby walker yang beredar di Indonesia merupakan desain kuno yang
sebenarnya sudah ditinggalkan di negara asalnya,” ujar Karel. Akhirnya,
kecelakaan pada bayi yang sudah dialami beberapa tahun lalu di Amerika
Serikat sampai kini masih terjadi di Indonesia.
TERKESAN PRAKTIS
Lalu kenapa dong alat bantu jalan ini tetap diminati? Menurut Karel
karena baby walker secara sekilas terkesan praktis. Si kecil tinggal
dimasukkan ke dalamnya, lalu ia pun bisa berjalan ke sana kemari dengan
leluasa. Bagi bayi berusia 7-12 bulan yang sedang tidak bisa diam dan
tengah melatih kemampuannya berjalan, baby walker merupakan penyelamat
tenaga orang tua. Bukankah dengan begitu orang tua jadi tak perlu
capek-capek menatih si kecil?
Apalagi di balik bahaya tersembunyi yang ada, baby walker tampak sebagai
benda yang bermanfaat. Ketika bayi duduk atau berdiri dalam baby
walker-nya, ia bisa menggerakkan kaki-kakinya dengan lincah. Jadilah
orang tua berpikir, “Ah, kaki anakku jadi terlatih untuk bergerak. Ini
kan baik untuk persiapan fase berjalannya!” Namun, alasan penggunaan
baby walker yang paling utama biasanya berkaitan dengan upaya mengatasi
keinginannya bergerak ke sana kemari. Dengan bisa bergerak leluasa ia
menjadi lebih tenang dan tidak bosan. Sementara bagi orang tua,
ketenangan si bayi memberi kesempatan kepadanya untuk mengurus berbagai
pekerjaan rumah tangga tanpa harus mendampingi si kecil setiap saat.
RIBUAN KASUS
Kenyataannya, menurut penelitian di Amerika Serikat sekitar 14.000 kasus
bayi masuk rumah sakit diakibatkan oleh kecelakaan saat menggunakan baby
walker. Antara lain karena si kecil suka bereksplorasi ke setiap sudut
rumah, komposisi roda yang tidak mendukung keamanan, komposisi rangka
kurang kokoh, dan bentuknya yang membuat anak rentan jatuh.
Namanya juga bayi, tentu saja ia belum bisa mengenal situasi lingkungan;
belum bisa membedakan mana permukaan curam atau landai, tangga atau
lantai, benda berbahaya atau aman. Inilah beberapa kecelakaan yang
sering terjadi akibat penggunaan baby walker:
* Menggelinding di tangga. Kecelakaan ini kemungkinan besar
mengakibatkan patah tulang dan luka serius pada kepala.
* Terkena benda panas. Ketika duduk dalam baby walker anak jadi
bisa meraih benda-benda yang dapat membahayakan dirinya. Contohnya
secangkir kopi panas di atas meja.
* Tenggelam. Tanpa disadari anak meluncur (dengan menggunakan baby
walker-nya) ke dalam kolam renang, bath tub, atau toilet lalu
tercemplung.
* Meraih obyek berbahaya. Dengan baby walker, anak lebih mudah
meraih obyek berbahaya seperti gunting, pisau, atau garpu yang
tergeletak di atas meja misalnya.
* Terjepit. Ketika melewati permukaan yang bercelah, kaki bayi
bisa terjepit dan terkilir. Tangannya juga bisa saja terjepit saat
meraih celah daun pintu.
Yang mengejutkan, penelitian menyatakan bahwa mayoritas kecelakaan baby
walker terjadi ketika orang tua atau pengasuh sedang mengawasi anaknya.
Mengapa demikian? Karena kita seringkali kalah cepat dengan kecepatan
bayi dalam baby walker yang dapat meluncur lebih dari 1 meter dalam 1
detik. Untuk itulah baby walker sama sekali tidak aman untuk digunakan,
meskipun di bawah pengawasan orang dewasa.
MENYEBABKAN KELAINAN KAKI
Karel masih menambahkan soal penggunaan baby walker yang dari sisi medis
pun tidak cukup bermanfaat, malah cenderung merugikan. Soalnya,
aktivitas motorik yang terjadi pada saat anak menggunakan baby walker
hanya melibatkan sebagian serabut motorik otot saja, yaitu otot-otot
betis. Padahal untuk bisa berjalan dengan lancar dan benar, fungsi otot
paha dan otot pinggul juga perlu dilatih.
Kemampuan berjalan, lanjut Karel, merupakan salah satu keterampilan
motorik kasar (gerakan yang dihasilkan oleh koordinasi otot-otot besar),
yang umumnya harus sudah bisa dilakukan anak 1 tahun dengan toleransi
waktu 3 bulan. Bila proses pelatihannya tidak benar maka akan membuat
anak justru jadi lambat berjalan. Sebaliknya, semakin intensif dan tepat
stimulasi fisiknya maka perkembangannya pun semakin pesat. Bila
dibarengi dengan asupan gizi yang seimbang, mungkin saja di usia 9-10
bulan bayi sudah bisa berjalan.
Jadi manfaat pemakaian baby walker tidak cukup membantu anak latihan
berjalan. Di tempat berbeda Dra. Jacinta F. Rini, M.Si., dari
e-psikologi. com, menambahkan, secara psikologis penggunaan baby walker
memang tidak menguntungkan, “Secara psikologis baby walker akan membuat
anak malas untuk belajar berjalan sendiri karena anak sudah keburu
merasa enak bisa bergerak ke mana pun tanpa harus susah payah
menjejakkan kakinya.”
Penggunaan baby walker bahkan dicurigai bisa mengakibatkan kelainan kaki
pada anak. Memang belum ada penelitian yang menunjang. Namun, kenyataan
bahwa bayi duduk sambil mengangkang dalam baby walker-nya diduga bisa
menyebabkan kelainan tulang paha. Nah, berdasarkan pemahaman inilah,
banyak ahli menduga penggunaan baby walker dapat menyebabkan anak
berjalan seperti bebek alias agak mengangkang.
Terbiasa berjalan dengan baby walker juga bisa menimbulkan kelemahan
otot-otot tungkai. Ketika diajarkan berjalan anak cenderung jatuh yang
akhirnya sering membuatnya trauma dan tidak mau mencoba melakukannya
lagi sehingga kemampuan berjalannya pun menjadi lebih lambat.
ALAMI LEBIH BAIK
Jadi menurut Karel, tinggalkan baby walker. Juga, ketimbang mencari-cari
alternatif alat bantu jalan lainnya, ia lebih menyarankan agar si kecil
diajak berenang, karena dengan begitu semua otot tubuhnya bergerak, dari
otot kaki, lengan, dan leher. Kalaupun tidak, cara melatih anak berjalan
yang terbaik adalah yang alami. “Sangat baik anak belajar berjalan
secara alami karena dapat melatih 100 persen serabut motorik otot. Mulai
otot betis, paha, maupun pinggul. Bila keseluruhan serabut otot dilatih
maka anak bisa berjalan dengan lebih baik. Jadi secara medis lebih
menguntungkan kalau kita pakai cara alami daripada cara penunjang.”
Meskipun si kecil harus jatuh bangun, anggaplah hal ini sebagai
pelajaran dari pengalamannya sendiri.
Yang patut dicermati, sebaiknya latihan berjalan dilakukan dengan
bertelanjang kaki. Cara ini akan melatih jari-jari kakinya agar lebih
terkoordinasi. Tentu, lantainya pun harus bersih dari partikel atau
benda yang dapat melukainya. Juga hindari lantai yang terlalu licin
karena bisa membuatnya terpeleset yang mungkin saja membuat anak trauma
dan takut dilatih berjalan.
TAHAP PERKEMBANGAN KEMAMPUAN FISIK ANAK
Sudah seharusnya, orang tua mengetahui tahap demi tahap proses
perkembangan kemampuan fisik anak sehingga bila terjadi keterlambatan
pertumbuhan kita bisa segera mendeteksinya. Berikut, perkembangan
motorik kasar anak secara garis besar:
0 – 1,5 bulan: Sudah bisa mengangkat kepala sekitar 45 derajat.
1,5 – 3,5 bulan: Kemampuan mengangkat kepalanya meningkat sampai 90
derajat. Kemudian bila bayi didudukkan dengan disandarkan ke tubuh kita
maka kepalanya harus sudah bisa tegak.
3,5 – 4,5 bulan: Sudah bisa mengangkat dadanya bila diposisikan
tengkurap. Bayi pun sudah bisa melakukan tengkurap sendiri dan
membolak-balik tubuhnya.
5 bulan: Bayi sudah dapat duduk dengan hanya ditopang punggungnya.
6 – 8 bulan: Sudah dapat duduk sendiri tanpa bantuan. Di usia ini pun
kebanyakan bayi sudah mulai belajar merangkak. Namun, merangkak bukan
merupakan tonggak perkembangan utama. Bila bayi tidak merangkak maka
bukan suatu kelainan karena beberapa bayi yang tidak melaluinya terbukti
mengalami perkembangan motorik yang normal.
7,5 – 10 bulan: Bayi sudah mulai berusaha belajar berdiri dengan
berpegangan pada tepi meja atau kursi. Beberapa anak ada yang sudah
mulai belajar berjalan dengan cara merambat maupun berjalan beberapa
langkah.
12 – 15 bulan: Anak sudah bisa berjalan tanpa harus berpegangan
Add comment Agustus 8, 2009
BABY WAKLER TIDAK MEMBANTU ANAK BELAJAR BERJALAN
Selain rentan kecelakaan, penggunaan baby walker juga diduga dapat
mengakibatkan kelainan kaki. Berikut adalah petikan sebuah e-mail dari
orang tua Indonesia yang tinggal di Australia:
Di sini baby walker sangat tidak direkomendasi penggunaannya karena
banyak kecelakaan terjadi akibat penggunaan yang tidak diawasi dengan
ketat. Dengan tidak adanya rekomendasi tersebut, otomatis barang ini
jadi langka. Kalaupun ada yang beli dan sampai terjadi kecelakaan,
konsumen enggak bisa menyeret produsen ke pengadilan (ibaratnya sudah
tahu bahayanya, kok masih dipakai.. yah salah sendiri). Lagi pula kalau
si anak udah siap jalan, dia akan jalan kok… malah baby walker bikin
anak menjadi malas untuk berjalan…. .
Bunyi surat itu sangat pas mewakili kesadaran orang tua akan bahaya yang
bisa ditimbulkan baby walker. Sayang, kesadaran orang tua di Indonesia
akan keamanan baby walker yang kurang tampaknya masih minim. Nyatanya di
sini baby walker masih saja digunakan, atau setidaknya produk ini masih
banyak dijual di pasaran. Padahal, seperti dijelaskan dr. Karel A.L.
Staa. M.D., dari Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta , kalau mau melirik
kembali ke negara-negara barat, Amerika katakanlah, soal keamanan baby
walker ini sudah menjadi ajang perdebatan seru sejak lama.
Sampai-sampai, desain “alat bantu” belajar jalan ini, tidak pernah sama
dari tahun ke tahun dan diberi semacam masa “kadaluwarsa” oleh pihak
pemerintahnya. Jika setelah diteliti, desainnya dianggap tidak cukup
baik untuk bayi, anjuran pemakaiannya akan ditinjau kembali bahkan kalau
perlu dihapuskan. Pada tahun 1997, umpamanya, desain baby walker pernah
diubah menjadi lebih besar dari ukuran sebelumnya dengan maksud agar
benda itu tidak bisa menerobos pintu rumah.
Sayang, ukuran yang diubah tersebut tetap tidak dapat mencegah
terjadinya kecelakaan lain. Oleh karena alasan inilah akhirnya produksi
baby walker di negeri Paman Sam tersebut dihentikan. “Sementara desain
baby walker yang beredar di Indonesia merupakan desain kuno yang
sebenarnya sudah ditinggalkan di negara asalnya,” ujar Karel. Akhirnya,
kecelakaan pada bayi yang sudah dialami beberapa tahun lalu di Amerika
Serikat sampai kini masih terjadi di Indonesia.
TERKESAN PRAKTIS
Lalu kenapa dong alat bantu jalan ini tetap diminati? Menurut Karel
karena baby walker secara sekilas terkesan praktis. Si kecil tinggal
dimasukkan ke dalamnya, lalu ia pun bisa berjalan ke sana kemari dengan
leluasa. Bagi bayi berusia 7-12 bulan yang sedang tidak bisa diam dan
tengah melatih kemampuannya berjalan, baby walker merupakan penyelamat
tenaga orang tua. Bukankah dengan begitu orang tua jadi tak perlu
capek-capek menatih si kecil?
Apalagi di balik bahaya tersembunyi yang ada, baby walker tampak sebagai
benda yang bermanfaat. Ketika bayi duduk atau berdiri dalam baby
walker-nya, ia bisa menggerakkan kaki-kakinya dengan lincah. Jadilah
orang tua berpikir, “Ah, kaki anakku jadi terlatih untuk bergerak. Ini
kan baik untuk persiapan fase berjalannya!” Namun, alasan penggunaan
baby walker yang paling utama biasanya berkaitan dengan upaya mengatasi
keinginannya bergerak ke sana kemari. Dengan bisa bergerak leluasa ia
menjadi lebih tenang dan tidak bosan. Sementara bagi orang tua,
ketenangan si bayi memberi kesempatan kepadanya untuk mengurus berbagai
pekerjaan rumah tangga tanpa harus mendampingi si kecil setiap saat.
RIBUAN KASUS
Kenyataannya, menurut penelitian di Amerika Serikat sekitar 14.000 kasus
bayi masuk rumah sakit diakibatkan oleh kecelakaan saat menggunakan baby
walker. Antara lain karena si kecil suka bereksplorasi ke setiap sudut
rumah, komposisi roda yang tidak mendukung keamanan, komposisi rangka
kurang kokoh, dan bentuknya yang membuat anak rentan jatuh.
Namanya juga bayi, tentu saja ia belum bisa mengenal situasi lingkungan;
belum bisa membedakan mana permukaan curam atau landai, tangga atau
lantai, benda berbahaya atau aman. Inilah beberapa kecelakaan yang
sering terjadi akibat penggunaan baby walker:
* Menggelinding di tangga. Kecelakaan ini kemungkinan besar
mengakibatkan patah tulang dan luka serius pada kepala.
* Terkena benda panas. Ketika duduk dalam baby walker anak jadi
bisa meraih benda-benda yang dapat membahayakan dirinya. Contohnya
secangkir kopi panas di atas meja.
* Tenggelam. Tanpa disadari anak meluncur (dengan menggunakan baby
walker-nya) ke dalam kolam renang, bath tub, atau toilet lalu
tercemplung.
* Meraih obyek berbahaya. Dengan baby walker, anak lebih mudah
meraih obyek berbahaya seperti gunting, pisau, atau garpu yang
tergeletak di atas meja misalnya.
* Terjepit. Ketika melewati permukaan yang bercelah, kaki bayi
bisa terjepit dan terkilir. Tangannya juga bisa saja terjepit saat
meraih celah daun pintu.
Yang mengejutkan, penelitian menyatakan bahwa mayoritas kecelakaan baby
walker terjadi ketika orang tua atau pengasuh sedang mengawasi anaknya.
Mengapa demikian? Karena kita seringkali kalah cepat dengan kecepatan
bayi dalam baby walker yang dapat meluncur lebih dari 1 meter dalam 1
detik. Untuk itulah baby walker sama sekali tidak aman untuk digunakan,
meskipun di bawah pengawasan orang dewasa.
MENYEBABKAN KELAINAN KAKI
Karel masih menambahkan soal penggunaan baby walker yang dari sisi medis
pun tidak cukup bermanfaat, malah cenderung merugikan. Soalnya,
aktivitas motorik yang terjadi pada saat anak menggunakan baby walker
hanya melibatkan sebagian serabut motorik otot saja, yaitu otot-otot
betis. Padahal untuk bisa berjalan dengan lancar dan benar, fungsi otot
paha dan otot pinggul juga perlu dilatih.
Kemampuan berjalan, lanjut Karel, merupakan salah satu keterampilan
motorik kasar (gerakan yang dihasilkan oleh koordinasi otot-otot besar),
yang umumnya harus sudah bisa dilakukan anak 1 tahun dengan toleransi
waktu 3 bulan. Bila proses pelatihannya tidak benar maka akan membuat
anak justru jadi lambat berjalan. Sebaliknya, semakin intensif dan tepat
stimulasi fisiknya maka perkembangannya pun semakin pesat. Bila
dibarengi dengan asupan gizi yang seimbang, mungkin saja di usia 9-10
bulan bayi sudah bisa berjalan.
Jadi manfaat pemakaian baby walker tidak cukup membantu anak latihan
berjalan. Di tempat berbeda Dra. Jacinta F. Rini, M.Si., dari
e-psikologi. com, menambahkan, secara psikologis penggunaan baby walker
memang tidak menguntungkan, “Secara psikologis baby walker akan membuat
anak malas untuk belajar berjalan sendiri karena anak sudah keburu
merasa enak bisa bergerak ke mana pun tanpa harus susah payah
menjejakkan kakinya.”
Penggunaan baby walker bahkan dicurigai bisa mengakibatkan kelainan kaki
pada anak. Memang belum ada penelitian yang menunjang. Namun, kenyataan
bahwa bayi duduk sambil mengangkang dalam baby walker-nya diduga bisa
menyebabkan kelainan tulang paha. Nah, berdasarkan pemahaman inilah,
banyak ahli menduga penggunaan baby walker dapat menyebabkan anak
berjalan seperti bebek alias agak mengangkang.
Terbiasa berjalan dengan baby walker juga bisa menimbulkan kelemahan
otot-otot tungkai. Ketika diajarkan berjalan anak cenderung jatuh yang
akhirnya sering membuatnya trauma dan tidak mau mencoba melakukannya
lagi sehingga kemampuan berjalannya pun menjadi lebih lambat.
ALAMI LEBIH BAIK
Jadi menurut Karel, tinggalkan baby walker. Juga, ketimbang mencari-cari
alternatif alat bantu jalan lainnya, ia lebih menyarankan agar si kecil
diajak berenang, karena dengan begitu semua otot tubuhnya bergerak, dari
otot kaki, lengan, dan leher. Kalaupun tidak, cara melatih anak berjalan
yang terbaik adalah yang alami. “Sangat baik anak belajar berjalan
secara alami karena dapat melatih 100 persen serabut motorik otot. Mulai
otot betis, paha, maupun pinggul. Bila keseluruhan serabut otot dilatih
maka anak bisa berjalan dengan lebih baik. Jadi secara medis lebih
menguntungkan kalau kita pakai cara alami daripada cara penunjang.”
Meskipun si kecil harus jatuh bangun, anggaplah hal ini sebagai
pelajaran dari pengalamannya sendiri.
Yang patut dicermati, sebaiknya latihan berjalan dilakukan dengan
bertelanjang kaki. Cara ini akan melatih jari-jari kakinya agar lebih
terkoordinasi. Tentu, lantainya pun harus bersih dari partikel atau
benda yang dapat melukainya. Juga hindari lantai yang terlalu licin
karena bisa membuatnya terpeleset yang mungkin saja membuat anak trauma
dan takut dilatih berjalan.
TAHAP PERKEMBANGAN KEMAMPUAN FISIK ANAK
Sudah seharusnya, orang tua mengetahui tahap demi tahap proses
perkembangan kemampuan fisik anak sehingga bila terjadi keterlambatan
pertumbuhan kita bisa segera mendeteksinya. Berikut, perkembangan
motorik kasar anak secara garis besar:
0 – 1,5 bulan: Sudah bisa mengangkat kepala sekitar 45 derajat.
1,5 – 3,5 bulan: Kemampuan mengangkat kepalanya meningkat sampai 90
derajat. Kemudian bila bayi didudukkan dengan disandarkan ke tubuh kita
maka kepalanya harus sudah bisa tegak.
3,5 – 4,5 bulan: Sudah bisa mengangkat dadanya bila diposisikan
tengkurap. Bayi pun sudah bisa melakukan tengkurap sendiri dan
membolak-balik tubuhnya.
5 bulan: Bayi sudah dapat duduk dengan hanya ditopang punggungnya.
6 – 8 bulan: Sudah dapat duduk sendiri tanpa bantuan. Di usia ini pun
kebanyakan bayi sudah mulai belajar merangkak. Namun, merangkak bukan
merupakan tonggak perkembangan utama. Bila bayi tidak merangkak maka
bukan suatu kelainan karena beberapa bayi yang tidak melaluinya terbukti
mengalami perkembangan motorik yang normal.
7,5 – 10 bulan: Bayi sudah mulai berusaha belajar berdiri dengan
berpegangan pada tepi meja atau kursi. Beberapa anak ada yang sudah
mulai belajar berjalan dengan cara merambat maupun berjalan beberapa
langkah.
12 – 15 bulan: Anak sudah bisa berjalan tanpa harus berpegangan
1 comment Agustus 5, 2009
Anakku Kok Pendek Ya
Sumber : http://perempuan.kompas.com
KOMPAS.com — Tak perlu menunggu hingga anak duduk di SD, kala si kecil masih TK dan ia tampak kalah tinggi ketimbang teman-teman sebayanya (sementara ayah dan ibunya memiliki tinggi standar), sebaiknya Anda memeriksakan anak ke dokter.
Seperti diketahui, pertumbuhan tinggi badan (TB) anak selain dipengaruhi oleh faktor genetik, juga faktor lingkungan dan faktor hormon. Faktor genetik terkait dengan tinggi badan kedua orangtua. Ibu-bapak yang berperawakan tinggi, anak-anaknya pun kelak akan bertubuh tinggi. Begitu sebaliknya pada orangtua yang relatif pendek, kemungkinan anaknya akan berbadan pendek pula. Sepanjang tak ada kelainan genetik dan masalah gangguan kesehatan, anak dapat tumbuh dengan normal. Sementara, faktor yang dapat memengaruhi TB anak, antara lain gizi yang diperoleh sejak dalam kandungan, kondisi kesehatan anak, dan kondisi psikologis, dalam hal ini berkaitan dengan kasih sayang kedua orangtua.
Akan halnya faktor hormon yang memengaruhi TB adalah hormon pertumbuhan (growth hormone), IGF 1 (insulin like growth factor), dan hormon tiroid. Hormon pertumbuhan yang terdiri atas sekitar 191 asam amino spesifik yang terikat dalam struktur tiga dimensi ini, diproduksi di bagian depan kelenjar hipofisis di otak, berfungsi di masa fase anak dan pubertas.
Anak yang kekurangan hormon akan mengalami kekerdilan. Memang, saat lahir, pertumbuhan anak (dalam hal ini TB) akan tampak normal. Namun, setelah usia 1-2 tahun pertumbuhannya melambat. Kurangnya hormon pertumbuhan bisa karena kongenital atau ada sesuatu di otak, seperti tumor otak sehingga otak tidak dapat memproduksi hormon pertumbuhan tersebut atau ada kelainan pada reseptornya.
Untuk mengetahui anak memang betul pendek karena kekurangan hormon pertumbuhan tentu harus dipastikan dengan pemeriksaan hormon tersebut melalui uji stimulasi yang dilakukan di klinik atau rumah sakit. Pemberian hormon pertumbuhan yang sintetis bisa dilakukan dari luar lewat suntikan pen khusus atau dengan alat khusus tanpa jarum.
Tak boleh sembarangan
Pemberian hormon pertumbuhan tentu harus dilakukan oleh ahli, tepatnya dokter endokrinologi anak. Yang perlu diketahui, pemberian hormon memiliki efek samping. Pengaturan dosis dan juga evaluasi pengobatan harus dilakukan oleh dokter yang kompeten.
Hormon pertumbuhan hanya diberikan kepada anak bertubuh pendek yang memiliki indikasi antara lain: memang ada defisiensi hormon pertumbuhan dengan gejala adanya penurunan massa otot, tulang lemah, dan kadar berbagai lemak darah abnormal; anak mempunyai berat badan lahir kurang dari 2.500 gr (BBLR) dan ketika usianya 2 tahun tetap tampak kecil dibandingkan teman sebayanya; anak mengalami kemunduran perlahan pada fungsi ginjalnya yang menyebabkan penimbunan limbah metabolik di dalam darah; anak berbadan pendek tanpa suatu sebab patologis dan mengalami sindrom Turner atau sindrom Prader Willy. Pada anak-anak yang tidak memiliki indikasi medis tadi tak boleh disuntikkan hormon pertumbuhan ini.
Dari penelitian yang ada, pemberian hormon pertumbuhan pada anak yang mengalami gangguan pertumbuhan tersebut responsnya cukup baik. Bila pertumbuhan anak sudah normal sesuai potensi genetiknya, tentunya efek hormon pertumbuhan menjadi minimal sekali atau bahkan mungkin tidak ada.
Pemberian hormon pertumbuhan dilakukan sebanyak 7 kali dalam seminggu, dilakukan hingga bertahun-tahun sampai potensi pertumbuhannya sudah berhenti, untuk anak perempuan sampai usia 13-14 tahun, dan anak laki-laki sekitar 18 tahun. Umumnya pada anak perempuan, setelah mengalami menstruasi, pertumbuhan TB-nya akan berhenti, tak bertambah tinggi lagi.
Penelitian di Belanda juga mengungkap, pemberian hormon pertumbuhan selama 14 tahun saja ternyata rata-rata bisa menambah TB 7 cm/tahun. Untuk anak perempuan, penambahan TB sekitar 5-7 cm, sementara untuk anak laki-laki sekitar 6-9 cm. Meskipun hanya bertambah 7 cm, bagi anak yang merasa pendek, itu sudah cukup berarti.
Kalau usia potensi pertumbuhan sudah dilewati, di usia 18-20 tahun, otomatis tak ada obat maupun alat yang dapat membantu meninggikan badan.
(Dedeh Kurniasih/Nakita)
Narasumber: Dr. Aman Pulungan Sp.A (K)., dari divisi Endokrinologi bagian Ilmu Kesehatan Anak, RS Ciptomangunkusumo, Jakarta, Konsultan Endokrin Klinik Anakku Cinere dan RS Pondok Indah.
Add comment Agustus 4, 2009
Children and TV — the effects
source : http://www.mayoclinic.com/health/children-and-tv/MY00522
The American Academy of Pediatrics recommends limiting a child’s use of TV, movies, video and computer games to no more than one or two hours a day. Too much screen time has been linked to:
* Obesity. Children who watch more than two hours of TV a day are more likely to be overweight.
* Irregular sleep. The more TV children watch, the more likely they are to resist going to bed and to have trouble falling asleep.
* Behavioral problems. Children who watch excessive amounts of TV are more likely to bully, have attention problems, and show signs of depression or anxiety than children who don’t.
* Impaired academic performance. Elementary students who have TVs in their bedrooms tend to perform worse on tests than those who don’t.
* Less time for play. Excessive screen time leaves less time for active, creative play.
Add comment Mei 13, 2009
Radiasi pada anak
ORANGTUA harus berpikir dua kali sebelum memenuhi permintaan anaknya yang masih duduk di sekolah dasar memiliki telepon genggam. Sebab, menurut sebuah penelitian, menggunakan telepon genggam sejak dini mempunyai risiko jangka panjang untuk kesehatan mereka.
Para peneliti di National Radiology Protection Board, Inggris, mengatakan, radiasi elektromagnetik yang dihasilkan dari telepon gengam dapat merusak DNA dan mengakibatkan tumor otak. Orangtua seharusnya tidak memberikan telepon genggam pada anak-anak yang berusia 8 tahun atau di bawahnya sebagai tindakan pencegahan gangguan radiasi dari alat-alat tersebut.
“Ketika Anda menggunakan telepon genggam, 70-80 persen energi radiasi yang dipancarkan dari antena telepon itu diserap oleh kepala. Bahkan, beberapa penelitian menunjukkan, potensi dampak negatif dari penyerapan radiasi jangka panjang yang dipancarkan oleh telepon genggam. Sayangnya, hanya sedikit penelitian yang memfokuskan pada anak-anak,” ungkap Prof Henry Lai dari University of Washington, AS, seperti dikutip web MD Health.
Prof Henry mengatakan, efek radiasi pada anak-anak sangat mengkhawatirkan karena otak yang masih berkembang sangat mungkin terkena radiasi. Tumor otak biasanya berkembang selama 30 sampai 40 tahun. Anak-anak yang menggunakan telepon genggam sejak remaja akan mempunyai periode waktu yang lebih panjang sebelum terlihat dampaknya.
“Kita tidak tahu apakah anak-anak lebih mudah terkena radiasi,” katanya sambil menyarankan agar orang-orang menggunakan headset guna menjauhkan antena dari kepala.
© 2008 Kompas
http://multiply.com/gi/kulinerkita:reviews:534
Add comment September 23, 2008
Kurang Gizi Pada Anak
*Kurang Gizi Pada Anak*
*Gizi.net – * GIZI merupakan unsur yang sangat penting di dalam tubuh.
Dengan gizi yang baik, tubuh akan segar dan kita dapat melakukan aktivitas
dengan baik. Gizi harus dipenuhi justru sejak masih anak-anak, karena gizi
selain penting untuk pertumbuhan badan, juga penting untuk perkembangan
otak. Untuk itu, orang tua harus mengerti dengan baik kebutuhan gizi si anak
agar anak tidak mengalami kurang gizi. Selain itu, orang tua juga harus
mengetahui apa dan bagaimana kurang gizi itu.
*Tanda kurang gizi*
Menurut Dr. Sri Kurniati M.S., Dokter Ahli Gizi Medik Rumah Sakit Anak dan
Bersalin Harapan Kita, kurang gizi pada anak terbagi menjadi tiga. Pertama,
disebut sebagai Kurang Energi Protein Ringan. Pada tahap ini, Sri
menjelaskan bahwa belum ada tanda-tanda khusus yang dapat dilihat dengan
jelas. Hanya saja, berat badan si anak hanya mencapai 80 persen dari berat
badan normal. Sedangkan yang kedua, disebut sebagai Kurang Energi Protein
Sedang. Pada tahap ini, berat badan si anak hanya mencapai 70 persen dari
berat badan normal. Selain itu, ada tanda yang bisa dilihat dengan jelas
adalah wajah menjadi pucat, dan warna rambut berubah agak kemerahan. Ketiga,
disebut sebagai Kurang Energi Protein Berat. Pada bagian ini terbagi lagi
menjadi dua, yaitu kurang sekali, biasa disebut Marasmus. Tanda pada
marasmus ini adalah berat badan si anak hanya mencapai 60 persen atau kurang
dari berat badan normal. Selain marasmus, ada lagi yang disebut sebagai
Kwashiorkor. Pada kwashiorkor, selain berat badan, ada beberapa tanda
lainnya yang bisa secara langsung terlihat. Antara lain adalah kaki
mengalami pembengkakan, rambut berwarna merah dan mudah dicabut, kemudian
karena kekurangan vitamin A, mata menjadi rabun, kornea mengalami
kekeringan, dan terkadang terjadi borok pada kornea, sehingga mata bisa
pecah. Selain tanda-tanda atau gejala-gejala tersebut, ada juga tanda
lainnya, seperti penyakit penyertanya. Penyakit-penyakit penyerta tersebut
misalnya adalah anemia atau kurang darah, infeksi, diare yang sering
terjadi, kulit mengerak dan pecah sehingga keluar cairan, serta pecah-pecah
di sudut mulut.
*Faktor penyebab*
Kurang gizi pada anak, bisa terjadi di usia Balita (Bawah Lima Tahun).
“Pedoman untuk mengetahui anak kurang gizi adalah dengan melihat berat dan
tinggi badan yang kurang dari normal,” kata Sri. Sri menambahkan, jika
tinggi badan si anak tidak terus bertambah atau kurang dari normal, itu
menandakan bahwa kurang gizi pada anak tersebut sudah berlangsung lama. Sri
menjelaskan, ada beberapa faktor yang menjadi penyebab kurang gizi pada
anak. *Pertama*, jarak antara usia kakak dan adik yang terlalu dekat ikut
mempengruhi. Dengan demikian, perhatian si ibu untuk si kakak sudah tersita
dengan keberadaan adiknya, sehingga kakak cenderung tidak terurus dan tidak
diperhatikan makanannya. Oleh karena itu akhirnya si kakak menjadi kurang
gizi. “Balita itu konsumen pasif, belum bisa mengurus dirinya sendiri,
terutama ntuk makan,” tutur Sri. *Kedua*, anak yang mulai bisa berjalan
mudah terkena infeksi atau juga tertular oleh penyakit-penyakit lain. Selain
itu, yang *ketiga* adalah karena lingkungan yang kurang bersih, sehingga
anak mudah sakit-sakitan. Karena sakit-sakitan tersebut, anak menjadi kurang
gizi. *Keempat*, kurangnya pengetahuan orang tua terutama ibu mengenai gizi.
“Kurang gizi yang murni adalah karena makanan,” kata Sri. Menurut Sri, si
Ibu harus dapat memberikan makanan yang kandungan gizinya cukup. “Tidak
harus mahal, bisa juga diberikan makanan yang murah, asal kualitasnya baik,”
lanjut Sri. Oleh karena itulah si Ibu harus pintar-pintar memilihkan makanan
untuk anak. *Kelima*, kondisi sosial ekonomi keluarga yang sulit. Faktor ini
cukup banyak mempengaruhi, karena jika anak sudah jarang makan, maka
otomatis mereka akan kekurangan gizi. *Keenam*, selain karena makanan, anak
kurang gizi bisa juga karena adanya penyakit bawaan yang memaksa anak harus
dirawat. Misalnya penyakit jantung dan paru-paru bawaan.
*Upaya yang harus dilakukan*
Bila kekuangan gizi, anak akan mudah sekali terkena berbagai macam penyakit,
anak yang kurang gizi tersebut, akan sembuh dalam waktu yang lama. Dengan
demikian kondisi ini juga akan mempengaruhi perkembangan intelegensi anak.
Untuk itu, bagi anak yang mengalami kurang gizi, harus dilakukan upaya untuk
memperbaiki gizinya. Upaya-upaya yang dilakukan tersebut antara lain adalah
meningkatkan pengetahuan orang tua mengenai gizi, melakukan pengobatan
kepada si anak dengan memberikan makanan yang dapat menjadikan status gizi
si anak menjadi lebih baik. Dengan demikian, harus dilakukan pemilihan
makanan yang baik untuk si anak. Menurut Sri, makanan yang baik adalah
makanan yang kuantitas dan kualitasnya baik. Makanan dengan kuantitas yang
baik adalah makanan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan si anak.
Misalnya, memberi makanan si anak berapa piring sehari adalah sesuai
kebutuhannya. Dan akan lebih baik jika memberikan vitamin dan protein
melalui susu. Bagi keluarga yang tidak mampu, bisa menyiasatinya, misalnya
mengganti susu dengan telur. Kemudian, makanan yang kualitasnya baik adalah
makanan yang mengandung semua zat gizi, antara lain protein, karbohidrat,
zat besi, dan mineral. Upaya yang terakhi adalah dengan mengobati
penyakit-penyakit penyerta. (m-4)
*KOMPONEN MAKANAN SEHAT*
*Kelompok Makanan*
*Protein* diperlukan untuk pertumbuhan, perbaikan, dan penggantian jaringan
tubuh. Produk hewan seperti daging, ikan, telur, keju dan produk susu
lainnya; amat banyak mengandung protein. Dari bahan nabati, antara lain
kacang-kacangan (kacang hijau, kedelai, dan sebagainya).
*Hidrat-arang* untuk menambah energi, namun bila kelebihan akan disimpan
dalam tubuh sebagai lemak. Yang banyak mengandung Hidrat arang adalah gula,
beras, jagung, dan umbi-umbian.
*Lemak* juga merupakan sumber energi dan menghasilkan kalori lebih banyak
dari makanan lainnya. Makanan yang banyak berlemak adalah yang berasal dari
kacang-kacangan.
*Serat* adalah bahan yang tak dapat dicerna oleh sistem pencernaan. Tidak
mengandung gizi atapun energi, hanya berguna untuk kelancaran kegiatan
pencernaan.
*Vitamin* adalah bahan kimia kompleks yang diperlukan tubuh dalam jumlah
sedikit. Anak makannya normal tak punya kecenderungan kekurangan vitamin.
*Mineral* dan garam-garam diperlukan dalam jumlah sedang. Termasuk
didalamnya zat besi, potasium, kalsium, dan sodium (terdapat dalam garam
meja). Seorang anak akan terhindar dari kekurangan zat-zat ini bila
makanannya seimbang.
*Kalori* adalah satuan untuk mengukur besarnya nilai energi dalam makanan.
Bila seorang memakan lebih banyak kalori dari yang dipakainya, sisanya akan
disimpan sebagai lemak. Sebaliknya, bila lebih banyak energi dari yang
dimakan, simpanan lemak itu akan dipakai dan tubuh akan tampak menjadi
kurus. Makanan yang banyak mengandung lemak atau kalori umumnya bernilai
kalori tinggi.
*Saran Diet*
Umumnya makanan berprotein dari sumber hewani banyak mengandung lemak, jadi
sebaiknya pilihlah yang berasal dari sumber nabati.
Dalam memilih makanan hidrat arang, sebaiknya pilihlah beras merah atau
jagung yang mengandung serat serta zat lainnya, dibanding gula atau makanan
jadi lain yang hanya mengandung energi.
Usahakan sesedikit mungkin memakan makanan berlemak.
Untuk mendapatkan serat, pilihlah makanan dari padi-padian, buah, dan
sayuran.
Vitamin bisa hilang bila makanan dimasak terlalu lama. Jadi sebaiknya
makanlah sayuran sebagai lalapan dan buah mentah.
Terlalu banyak garam malah merugikan, jadi sebaiknya jangan terlalu banyak
memakan garam-garaman.
Makanan anak harus cukup mengandung kalori, namun jangan terlalu banyak.
Untunglah bahwa mekanisme pengaturan nafsu makan anak-anak biasanya sudah
menjamin cukupnya kalori dari makanannya.
Sumber : Harian Pelita, Jum’at, 1 Juni 2001; Halaman 9
Oleh: Dr. Tony Smith (editor), Pertolongan Pertama Dokter di Rumah Anda,
Dian Rakyat, 1986
Add comment September 5, 2008
Para Perokok Berbuat Jahat Pada Bayi Mereka
Bayi-bayi yang terlahir dari orang tua perokok di dalam air seninya
(urin) ditemukan produk samping nicotine, cotinine, yang besarnya
lima kali lipat dibandingkan dengan bayi-bayi terlahir dari orang tua
bukan perokok, demikian laporan para ilmuwan di Inggris, Senin(19/11) .
Cotinine dapat membahayakan jantung dan pembuluh darah dengan
meningkatkan tekanan darah, kata Dr.M P.Wailoo dari University of
Leicester, Inggris yang terlibat aktif dalam penelitian tersebut.
Senyawa tersebut merupakan salah satu produk sampingan nicotine yang
amat berbahaya yang ditemukan dalam darah perokok atau keturunannya
pada usia sangat dini.
Wailoo dan rekan-rekannya mengukur jumlah cotinine di dalam air seni
71 bayi dengan orang tua perokok dan 33 bayi dari orang tua yang
bukan perokok pada saat usia bayi-bayi tersebut sekitar 10 hingga 12
pekan.
Rata-rata kandungan cotinine mencapai 5,58 kali lebih tinggi
ditemukan pada bayi yang salah satu orang tuanya perokok dibandingkan
dengan bayi-bayi yang orang tuanya bukan perokok, kata Wailoo, dan
sejawatnya yang mengirimkan artikelnya ke arsip penyakit anak
(Archives of disease in Childhood).
Memiliki ibu yang perokok merupakan faktor penentu utama bayi
memiliki kandungan senyawa cotinine yang tinggi dalam air seninya
yang dapat meningkatkan empat kali lipat, demikian temuan mereka.
Sementara itu, bayi yang ayahnya perokok meningkatkan kandungan
senyawa cotinine dalam air seninya menjadi dua kali lipat.
Para peneliti juga menemukan bahwa bayi yang tidur satu tempat tidur
dengan orang tua yang perokok cenderung memiliki kandungan cotinine
yang lebih tinggi .
Selain itu, mereka menemukan, tingkat cotinine umumnya lebih tinggi
pada saat cuaca lebih dingin, di mana para orang tua kemungkinan
lebih besar merokok di luar ruangan.
Hasil temuan tersebut memperlihatkan kecenderungan bayi untuk menjadi
perokok pasif kelas berat dari orang tua yang perokok.
Add comment September 5, 2008
Tumbuh Kembang Otak Bayi
Tumbuh Kembang Otak Bayi
Usia 0-6 Bulan
Bagian-bagian utama otak bayi baru lahir sudah lengkap terbentuk. Kini, otaknya akan segera mengalami proses pematangan yang perlu ditunjang dengan pemenuhan zat-zat gizi yang tepat.
Otak merupakan organ tubuh yang berfungsi sebagai pusat kontrol dan kendali atas semua sistem di dalam tubuh. Otak yang juga merupakan pusat kecerdasan atau pusat kemampuan berpikir ini mulai dibentuk selang beberapa saat setelah terjadinya konsepsi (proses peleburan inti sel telur dan inti sel sperma).
Dalam perkembangan otak, ada periode yang dikenal sebagai periode pacu tumbuh otak ( brain growth spurt ). Yaitu saat dimana otak berkembang sangat cepat. Pada manusia, periode pacu tumbuh otak pertama dimulai ketika usia kehamilan ibu memasuki trimester ketiga. Periode pacu tumbuh otak kedua terjadi setelah si keci lahir hingga ia berusia dua tahun. Multiplikasi sel terjadi pada masa janin. Sedangkan sejak lahir hingga usia dua tahun adalah saat neuron (sel saraf) di korteks otak membentuk sinaps (hubungan antara sel saraf) yang sangat banyak. Jadi, di masa multiplikasi dan pembentukan sinaps ini, otak harus mendapat prioritas utama dalam hal pemenuhan zat-zat gizi sebagai bahan-bahan pembentukannya.
Tumbuh kembang otak
Secara keseluruhan, otak si kecil saat lahir sudah terbagi menjadi empat bagian utama, yakni batang otak ( brainstem ), otak kecil ( serebelum ), otak besar ( serebrum) dan diensefalon. Berat otak bayi saat ini sudah mencapai 25% berat otak orang dewasa, atau sekitar 350-400 gram. Ketika usianya enam bulan, berat otak bayi hampir 50% dari berat otak orang dewasa.
Di dalam otak bayi baru lahir sudah terdapat kurang-lebih 100 milyar sel saraf (neuron). Sel saraf ini terdiri dari 3 bagian utama, yaitu:
- Badan sel saraf yang bentuknya menyerupai bintang. Di dalamnya, antara lain, terdapat inti sel saraf. Ujung-ujung dari badan sel yang menjulur ini merupakan bagian yang menghubungkannya dengan ujung-ujung dari badan sel saraf yang lain, sehingga membentuk suatu jalinan yang sangat kompleks.
- Dendrit merupakan perpanjangan dari ujung-ujung badan sel. Sebuah sel saraf bisa memiliki sekitar 200 dendrit.
- Akson yang bentuknya memanjang, sehingga menyerupai tangkai dari sel saraf. Sebagian besar akson dilindungi oleh semacam selaput dari lemak, yaitu yang dikenal sebagai mielin. Proses pembentukan selaput pelindung pada akson ini disebut sebagai mielinasi.
Saat si kecil baru lahir hingga usianya mencapai enam bulan, sel-sel sarafnya belum seluruhnya mencapai tingkat perkembangan yang “matang”. Sel saraf dapat dikatakan mencapai tingkat kematangan, antara lain, apabila sudah terbentuk akson pada setiap bagian tubuh. Setiap kali terbentuk akson baru, maka akan terbentuk pula sinaps (simpul saraf, hubungan antara sel saraf) yang memungkinkan terjadinya “komunikasi” antara setiap bagian tubuh dengan otak. Itu sebabnya, si kecil masih belum terampil mengontrol gerakan anggota tubuhnya.
Selain sel saraf, di dalam otak dan sistem saraf pusat terrdapat sel glia. Sel ini bertugas melindungi, memberi dukungan dan juga memberi makan kepada sel saraf. Caranya, dengan mengalirkan kebutuhan zat gizi yang diperlukan. Dengan demikian, proses tumbuh kembang sel saraf berjalan dengan baik dan dapat berfungsi menghantarkan pesan (perintah).
Otak, yang setiap menit membutuhkan darah sebanyak 150 ml ini, mencapai tahap perkembangan yang berbeda-beda setiap bagiannya. Misalnya, bagian otak yang mengontrol sistem pendengaran sudah mulai berkembang sejak janin berusia 28 minggu. Sedangkan bagian otak yang mengatur sistem penglihatan baru berkembang setelah bayi lahir.
Laju perkembangan otak si kecil tidak secara langsung ditunjukkan oleh pertambahan volume otak. Namun, pada umumnya perkembangan otak dikaitkan dengan kecerdasan. Dan, kecerdasan itu sendiri seringkali dikaitkan dengan volume otak. Ukuran serta bentuk kepala dianggap dapat menggambarkan besarnya otak yang terdapat di dalamnya. Pada kenyataannya, ada banyak sekali faktor yang ikut menentukan tingkat kecerdasan seseorang, selain volume otaknya.
Sphingomyelin dan Proses Mielinasi
Sejumlah akson dari sel saraf dilindungi oleh suatu lapisan lemak yang dikenal sebagai mielin. Komponen utamanya adalah sphingomyelin dan metabolit sphingolipid lain (seperti cerebroside , sulfatide dan ganglioside ). Mielin yang melindungi sebuah akson bisa terdiri dari 100 lapisan.
Mielin bekerja sebagai insulator untuk impuls saraf. Zat ini juga mengontrol saltatory mode of conduction (penghantaran impuls yang berloncat-loncat) pada kecepatan tinggi melalui Nodes of Ranvier (akson yang tidak terlindungi mielin). Penghantaran impuls semacam ini adalah proses yang cepat. Dan, akson bermielin menghantarkan impuls 50 kali lebih cepat daripada akson tak bermielin yang paling cepat.
Dewasa ini telah dipelajari bahwa sphingomyelin , salah satu jenis fosfolipid yang terkandung dalam makanan dan ASI, memainkan peran penting dalam proses mielinasi sistem saraf pusat. Mielinasi sistem saraf pusat manusia dimulai ketika usia kehamilan 12-14 minggu pada bagian spinal cord, dan berlanjut hingga usia 30 tahun pada bagian cerebral cortex . Namun, perubahan paling cepat dan dramatis terjadi di antara pertengahan kehamilan dan diakhir tahun kedua setelah kelahiran.
Berbeda dengan jenis fosfolipid yang lain, sphingomyelin tidak mengandung gliserol, melainkan ceramide. Karena semua sphingolipid dibuat dari ceramide , maka sphingomyelin dapat diklasifikasikan juga sebagai sphingolipid (Jumpsen & Clandinin, 1995). Ceramide inilah selanjutnya yang akan membentuk cerebroside , yaitu suatu marker universal myelinasi (pembentukan mielin) di dalam otak, dengan bantuan enzim UDP galactosytransferase . Mielin sistem saraf pusat mempunyai kandungan cerebroside yang tinggi dibandingkan dengan jaringan lainnya.
Studi terkini menunjukkan bahwa aktivitas enzim serine palmitoyltransferse (SPT) meningkat secara bertahap dari minggu ketiga sebelum kelahiran ( prenatal ) hingga minggu ketiga setelah kelahiran ( postnatal ) pada sistem saraf pusat tikus. Ketika mielinasi mulai berlangsung pada periode tersebut, diyakini bahwa aktivitas SPT yang bertambah sedikit demi sedikit merupakan faktor utama yang terlibat di dalam mielinasi.
Oshida et.al. dalam tulisannya Effects of dietary sphingomyelin on central nervous system myelination in developing rats. Pediatr. Res 53: 589-593 (2003) memberikan hipotesis bahwa cerebroside di mielin sistem saraf pusat dari tikus yang sedang berkembang otaknya kemungkinan terutama diperoleh dari sphingomyelin yang terkandung di dalam susu, yang dapat diubah menjadi ceramide dan kemudian cerebroside . Selanjutnya, mereka membutktikan bahwa cerebroside di mielin sistem saraf pusat, terutama diperoleh dari sphingomyelin diet (asupan luar) dengan kondisi eksperimental aktivitas SPT yang rendah, sehingga sphingomyelin diet memainkan peran yang penting dalam mielinasi sistem saraf pusat.
Jadi, berbeda dengan AA dan DHA yang berperan dalam pertumbuhan membran sel saraf dan pengaturan neurotransmitter, sphingomyelin berperan dalam proses mielinasi akson untukk membantu kinerja sel saraf dalam transmisi impuls saraf. Menurut Dr. Arthur R. Jensen, ahli saraf dari Fakultas Ilmu Pendidikan Kedokteran di University of California, Amerika Serikat, kecepatan penghantaran pesan oleh sel-sel saraf seseorang merupakan salah satu faktor yang menunjukkan tingkat kecerdasannya.
Kebutuhan gizi
Bila melihat periode pacu tumbuh otak, maka sebagian besar percepatan tumbuh otak justru terjadi setelah si kecil lahir. Mulai saat itu, pemenuhan kebutuhan zat gizi dilakukan melalui pemberian ASI secara tunggal (ASI eksklusif) sejak hari pertamanya hingga usia enam bulan. Perlu diketahui, komposisi zat gizi di dalam ASI demikian sempurna untuk memenuhi kebutuhan zat gizi sesuai tahapan tumbuh kembang bayi, bahkan untuk bayi yang lahir prematur sekali pun.
Secara alami, ASI mengandung zat-zat gizi yang secara khusus diperlukan untuk menunjang proses tumbuh kembang otak. Zat-zat gizi tersebut antara lain:
- Asam lemak esensial
ASI merupakan sumber asam lemak esensial (asam lemak yang harus dipenuhi kebutuhannya dari luar tubuh) , yaitu asam linoleat dan asam alfa-linolenat. Kedua asam lemak esensial ini di dalam tubuh bayi diubah menjadi DHA (asam dokosaheksanoat) dan AA (asam arakhidonat).
Perlu diketahui, lipid (lemak) di dalam ASI terutama terdapat dalam bentuk trigeliserida (98-99%). Sedangkan sisanya, sebanyak 1-2%, adalah fosfolipid dan kolesterol. Komposisi dan kandungan lipid ASI sangat bervariasi bergantung dari tahapan laktasi dan asupan diet ibu. Lipid di dalam ASI berfungsi sebagai sumber energi. Selain itu, sebagian kecil lipid (lipid minor) berfungsi sebagai mikronutrien yang penting bagi pertumbuhan dan perkembangan otak. Lipid sebagai mikronutrien terutama terdapat dalam bentuk fosfolipid.
Fosfolipid ASI merupakan sumber asam lemak tidak jenuh rantai panjang ( long chain polyunsaturated fatty acid , LCPUFA), terutama AA dan DHA. Kandungan fosfolipid ASI bervariasi sekitar 20-38 mg/100 ml, tergantung pada tahapan laktasi. Di dalam ASI, fosfolipid terdiri dari beberapa fraksi, berturut-turut dari yang paling dominan adalah: 1) sphingomyelin, 2) fosfatidylkolin, 3) fosfatidylethanolamin, 4) fosfatidylserin, dan 5) fosfatidylinositol.
Menurut Gopalan dalam tulisannya Essential FA in Maternal and Infant Nutrition In Symposium “EFA and Human Nutrition and Health International Conference” in Shanghai, Cina (2002), mengatakan LCPUFA merupakan komponen yang esensial selama periode perinatal, karena fetus dan bayi baru lahir tidak dapat mensintesis sejumlah AA dan DHA yang mencukupi dari prekursornya. Padahal, pada saat lahir dan masa awal kehidupan telah dihasilkan kurang lebih 6-10 ribu hubungan sinaps antar sel syaraf. Materi dasar untuk terbentuknya sinaps ini adalah adanya asam lemak esensial di dalam ASI. Oleh karena itu, perkembangan mental dan kecerdasan bergantung pada kecukupan suplai asam lemak esensial dan LCPUFA pada tahap-tahap krusial tersebut.
Apabila tubuh bayi mendapat DHA dalam jumlah yang mencukupi melalui ASI ibunya, maka proses pembentukan otak serta pematangan sel-sel saraf di dalam otaknya akan berjalan dengan baik. Semua proses itu terjadi pada waktu bayi tidur nyenyak.
Penelitian tentang hal tersebut telah dilakukan di University of Brisbane, Australia dengan memakan waktu 21 tahun dan melibatkan 3880 bayi. Hasil sementara dari penelitian ini yang dipublikasikan di United States Based Journal of Pediatrics and Child Health tahun 2001 lalu menunjukkan bahwa zat-zat gizI yang terkandung di dalam ASI membantu memperkuat sistem kekebalan tubuh bayi, sehingga terhindar dari serangan penyakit-penyakit infeksi.
Dengan demikian, proses tumbuh kembang dapat berjalan dengan baik. Selain itu, kedekatan dan hubungan batin yang terjalin kuat antara ibu dan bayi ketika memberi ASI merangsang perkembangan kemampuan kognitif bayi. Sedangkan kadar DHA di dalam ASI yang sesuai dengan kebutuhan tubuh bayi, memungkinkan proses plastisitas (proses pembentukan hubungan baru di antara sel-sel saraf) berjalan dengan optimal. Hal ini antara lain ditunjukkan dengan kecerdasan berbahasa yang baik serta IQ ( Intelegence Quotient ) yang tinggi.
- Protein
Komponen dasar dari protein, yakni asam amino, terutama berfungsi sebagai pembentuk struktur otak. Beberapa jenis asam amino tertentu, yaitu taurin, triptofan, dan fenilalanin merupakan senyawa yang berfungsi sebagai penghantar atau penyampaipesan ( neurotransmitter ). Di dalam ASI terkandung protein sekitar 1,2 gram per 100 ml.
- Vitamin B kompleks
Beberapa jenis vitamin B yang dibutuhkan untuk tumbuh kembang otak adalah ,vitamin B1, vitamin B6, dan asam folat (vitamin B9). Bila kebutuhannya tidak terpenuhi, maka akan timbul gangguan terhadap pertumbuhan dan fungsi otak dan sistem saraf.
- Kholin
Senyawa ini merupakan pembentuk sejenis neurotransmitter yang disebut asetilkolin. Kholin juga merupakan bagian dari lesitin, yaitu suatu fosfolipid yang banyak terdapat di otak sebagai pembentuk membran (dinding) sel saraf.
- Yodium, zat besi, dan zat seng
Yodium dibutuhkan untuk pembentukan hormon tiroksin (sejenis hormon yang diperlukan dalam pembentukan protein yang membantu proses tumbuh kembang otak). Zat besi dibutuhkan dalam proses pembentukan mielin. Zat besi disimpan di dalam berbagai jaringan otak selama 12 bulan pertama sejak bayi lahir. Seng merupakan bagian darai sekitar 300 jenis enzim yang membantu pembelahan sel. Kekurangan zat seng di dalam otak dapat menyebabkan gangguan fungsi otak yang disebut ADHD (Attention Deficit Hyperactive Disorder).
Agar ASI mengandung semua zat gizi yang diperlukan tubuh si kecil selama masa pemberian ASI eksklusif enam bulan, maka ibu harus mengkonsumsi makanan bergizi seimbang setiap hari. Ibu perlu menkonsumsi makanan-makanan yang kaya protein. Misalnya, ikan, daging, telur, tempe, tahu, dan susu skim. Ibu juga perlu makan lebih banyak sayur-sayuran dan buah-buahan.
Jika selama masa menyusui ibu tidak mendapatkan gizi yang diperlukan, persediaan zat-zat gizi dalam tubuhnya akan habis dipergunakan untuk memproduksi ASI. Akibatnya, selain kesehatan ibu terganggu, ASI-nya juga tidak akan cukup banyak. Kualitas ASI-nya pun tidak akan cukup baik, dan jangka waktu ibu untuk memproduksi ASI pun menjadi relatif singkat.
Dewi Handajani
3 comments April 3, 2008










