AKU HARUS PIPIS DI KLOSET, KAN!

sumber : tabloidnakita.com

Menahan pipis dan buang air besar sampai menemukan tempat yang tepat adalah salah satu ciri kemampuan anak prasekolah.
Di usia prasekolah anak mengalami lompatan kemajuan yang menakjubkan. Tidak hanya kemajuan fisik, tapi juga sosial dan emosional. Sementara beberapa bentuk kemandirian yang sudah terbentuk/mulai dirintis sejak usia batita semakin menunjukkan kesempurnaan. Di antaranya kemampuan bersih diri. Yang dimaksud dengan kemampuan bersih diri di sini, si prasekolah sudah mampu mandi sendiri disamping mampu membersih-kan alat kelaminnya setelah buang air kecil (BAK) ataupun buang air besar (BAB).
Bentuk kemandirian ini setidaknya terlihat dari kemampuan anak dalam mengontrol keinginan untuk BAK dan BAB. Anak sudah tahu kapan dia ingin BAK atau BAB sekaligus mampu menahan keinginan tersebut sampai ia masuk ke dalam toilet/kamar mandi. Secara fisik mereka juga sudah bisa jongkok atau duduk dengan baik di kloset.
Selain itu mereka juga sudah mengetahui apa saja perlengkapan kamar mandi maupun fungsi dan cara pengoperasiannya masing-masing. Contohnya, sehabis buang air di kloset, si bocah prasekolah ini akan langsung menarik atau memencet tombol otomatis penyiram air. Begitu pula bila harus meng-gunakan gayung ataupun shower untuk membersihkan diri sesudah BAK/BAB.
Usai membersihkan diri, umumnya anak prasekolah sudah dapat mengeringkan bagian tubuhnya dengan handuk/tisu khusus. Selan-jutnya ia juga sudah bisa mengenakan celana/roknya kembali. Beberapa anak memang masih perlu bantuan orang dewasa. Namun bila model baju atau celananya sederhana biasanya anak prasekolah sudah bisa melakukannya sendiri. Aktivitas lain yang juga sudah dikuasai tanpa bantuan/bimbingan lagi adalah mencuci muka dan tangan.
Kendati demikian, tak ada salahnya secara berkala orangtua memonitor anak dalam melakukan aktivitas-aktivitas seputar toilet ini.
KOK NGOMPOL LAGI?
Jangan-jangan ada persoalan yang dipendam anak.
Kemunduran perilaku ke tahap sebelumnya disebut regresi. Seorang anak dikatakan mengalami regresi bila ia kembali bertingkah laku seperti pada fase perkembangan sebelumnya. Salah satu contohnya ya itu tadi: si prasekolah yang sudah terampil ke toilet kini malah rajin ngompol lagi.
Sebetulnya regresi merupakan bentuk sistem pertahanan diri anak. Ini muncul karena yang bersangkutan mengalami kecemasan, kekecewaan atau malah pengalaman traumatis yang cukup mengganggu kondisi psikologisnya. Di lain pihak, ia sendiri tidak mampu menangani masalahnya hingga anak pun jadi frustrasi. Bisa dimaklumi kalau sistem pertahanan diri muncul lantaran di usia prasekolah umumnya anak belum bisa mengeskpresikan perasaannya secara jelas dan utuh. Tak heran kalau cetusan yang muncul akhirnya dilampiaskannya lewat perilaku regresi.
Kemunduran perilaku juga bisa disebabkan berbagai kecemasan dan ketakutan akibat kondisi keluarga yang tidak kondusif. Atau adanya situasi asing maupun orang-orang baru di sekitarnya. Misalnya bila anak memasuki sekolah baru, mendapat pengasuh baru, atau selalu menyaksikan ayah ibunya bertengkar. Regresi juga biasanya muncul kala anak merasa marah, ingin menarik perhatian atau mencari kasih sayang dari orangtua. Dalam kondisi-kondisi seperti ini secara tidak sadar anak akan memunculkan regresi karena kebutuhan-kebutuhannya yang tak terpenuhi.
Sebagai contoh, regresi muncul ketika si prasekolah mendapat adik baru. Hatinya cemas karena potensi sibling rivalry atau persaingan dengan saudara langsung mengemuka. Maklum, selama ini si prasekolahlah yang menjadi pusat perhatian dalam keluarga. Ia akan berpikir, “Lo kok ada ‘makhluk baru’ yang tiba-tiba jadi pusat perhatian semua orang. Bukan hanya mama papa, tapi juga tamu-tamu yang berkunjung dan membawa kado untuk adik baru.”
Nah, di saat masih ingin disayang, orangtua justru menuntutnya harus mandiri. Soalnya, selain karena si prasekolah memang sudah seharusnya mampu membantu diri sendiri, kini ia pun sudah punya adik bayi yang memerlukan perhatian ekstra dari ayah ibu. Buntut-buntutnya, kekecewaan si prasekolah akhirnya dicetuskan lewat bentuk yang khas, yakni dengan “turun pangkat” mengubah perilakunya persis seperti adik bayi yang masih ngompol hanya agar mendapat perhatian lagi dari ayah dan ibu. Ia tak menghiraukan bahwa perhatian yang didapat berupa teguran. Yang penting baginya ia bisa mendapatkan lagi apa yang dimauinya, yaitu perhatian.
Untunglah, regresi umumnya tak berlangsung lama. Terutama bila orangtua cepat menyadari perubahan perilaku anaknya kemudian sesegera mungkin mencarikan solusinya. Lewat sejumlah penelitian terbukti kalau sekitar 75% anak yang masih mengompol di usia prasekolah umumnya dipicu oleh masalah emosi. Nah, fakta ini sebetulnya memudahkan orangtua untuk mencari tahu penyebab mengapa anaknya ngompol lagi padahal sebelumnya sudah kering.
Agar si prasekolah tak berlarut-larut mengalami regresi, orangtua perlu segera melakukan upaya “penyembuhan”. Caranya? Dengan menjalin komunikasi lebih erat penuh kehangatan agar anak merasa diperhatikan sekaligus terpuaskan kebutuhannya mendapatkan kasih sayang.
Hindari menambah kecemasan anak dengan memarahi, melarang atau bahkan menghukumnya secara fisik. Curahkan perhatian dengan porsi yang kurang lebih sama dengan adik bayinya agar ia tak merasa diabaikan/disisihkan. Bila perlu, sebagai kakak libatkan ia dalam pengasuhan adiknya sehingga ia pun merasa istimewa dengan peran barunya sebagai seorang kakak. Kalaupun Anda merasa tak sanggup menangani masalah ini jangan ragu untuk segera minta bantuan ke pihak yang kompeten, seperti psikolog atau dokter.
Santi Hartono.
Narasumber:
Ester Lianawati, Psi.,
pengajar di Fakultas Psikologi UKRIDA (Universitas Kristen Krida Wacana)

Toilet Training

Source :

http://www.babycenter.com/refcap/toddler/toilettraining/12439.html?print=Y&submit.x=73&submit.y=10

If toilet training isn’t going smoothly, take heart; many families encounter bumps in the road to toilet training. Here are parents’ most common complaints, along with suggestions on how to handle them.

My child won’t use the toilet.
Strange as it sounds, children sometimes refuse to use the toilet because they’re afraid of it. Imagine the toilet from your child’s point of view: It looks cold and unwelcoming, it makes loud noises, and things disappear into it, never to be seen again. From his vantage point, the toilet is something to steer clear of! The best thing you can do in this situation is to try to help your tike get comfortable with his own little potty chair. Start by letting him know that it’s his very own. You can personalize it by writing his name on it or letting him decorate it with stickers. Let him sit on it fully clothed, put his teddy bear on it, and lug it around the house, if he wants to. To help him get more comfortable with the big toilet, you might take his soiled diaper, empty it into the toilet, and let him flush down his poop, watching it disappear. Reassure him that this is what’s supposed to happen — roaring noises and all — and that it’s helpful!

Maybe your child is simply telling you that he wants to stay in diapers a while longer. If he genuinely seems uninterested in potty training now, give him a break and then watch for signs of readiness ahead.

If your toddler exhibits all the signs of readiness but is still unwilling, something may be preventing him from focusing on potty training just now. Any big change — such as starting a new school, the arrival of a sibling, or moving to a new home — can temporarily disconcert a toddler. Wait until your child has settled back into a comfortable routine before resuming training.

When I suggest using the toilet, my toddler says no or gets upset.
Your child might resist potty training for the same reason he sometimes refuses to take a bath or go to bed: He’s discovered that saying no is a way to exert power. The first thing to do is defuse the issue by backing off and letting him feel as though he’s in charge of this project. These tips will help:

Resist reminding. Though it’s hard not to intervene when you think an accident is imminent, too much reminding can make your child feel corralled and controlled. Instead of frequent repetitions of “Don’t you need to go potty?” put a potty chair in a central location and, whenever possible, let your child run around bottomless so he can use it at the spur of the moment without your involvement.

Don’t hover. Enforced potty sitting (“Let’s wait a little longer and see if anything comes out”) can sow the seeds of rebellion. If your child sits for a moment, then jumps up to play, bite your tongue. The result may be an accident, but it’s just as likely that he’ll hop back on the potty when he feels the need.

Be calm about accidents. It’s not easy to stay serene in the face of a yucky mess, but keep in mind that overreacting to accidents can make your child fearful about having them, which in turn may stir up anxiety about the whole process. Be reassuring when your child wets his pants, and do whatever you need to do for your own peace of mind, whether it’s putting away a favorite rug or spreading out layers of towels. No matter how frustrated you get, don’t punish your child for having an accident. It’s not fair to him, and it can lead to long-term resistance.

Reward good behavior. Break the resistance cycle by praising your child’s efforts. Celebrate when he first gets something into the potty and make a big deal out of the first time he stays dry all day. (But don’t make a big deal of every potty trip, as the glare of the spotlight could make your toddler nervous and skittish.) If your child responds well to positive strokes (and who doesn’t?), don’t wait until he goes potty to compliment him. Tell him now and then how nice it is that he has dry underpants (or a dry diaper). This will give you many more opportunities in the course of the day to encourage him.

My child isn’t having a bowel movement on the potty as often as he should, or refuses to go at all.
It’s common for toddlers to easily pee in the potty but resist using it for BMs. Most likely your child is fearful of making a mess — maybe he had a bowel movement accident at preschool and people overreacted, or maybe he witnessed another child having such an accident. Helping him successfully have a BM in the potty and then heaping him with praise can go a long way toward overcoming his fear. If he has bowel movements fairly regularly, make note of the times (right after he wakes up from his nap, for example, or 20 minutes or so after lunch, maybe) and try to make sure he’s near a potty then. Get his daycare provider or preschool teacher in on the plan, too. However, if your child remains just too anxious to handle a BM in the toilet right now, try an interim solution: Suggest that he ask you to put a diaper on him when he thinks he’s about to poop.

Another reason your child may be refusing to use the potty for BMs is that he’s constipated. If so, the pain he feels when he tries to poop may heighten any discomfort he has about using the potty in the first place. The vicious cycle goes like this: He withholds poop, which exacerbates the constipation, and when he finally goes it’s painful, so he fears using the potty.

Fiber-rich foods such as such as whole-grain breads, broccoli, and cereal can help keep your child regular. A good rule of thumb is that your child should eat enough grams of fiber to equal his age plus five (for example, a 4-year-old needs 9 grams of fiber each day). It’s also best if the fiber is distributed equally among the three meals, rather than eaten all at once. Make sure your child is getting enough fluids, too. Water, prune juice, and other diluted fruit juices are good choices. And be careful not to give him too many dairy products, which can make the constipation worse.

If your child is still constipated, you may want to consider using pure honey to help to soften his stools. Honey is a mild natural laxative that can be given to a child over 1 year without the recommendation of a healthcare provider. (Never give it to a baby younger than 1 year — babies are at risk of getting botulism from honey). If nothing else works, consult with your child’s pediatrician about using laxatives.

Ease your child’s anxiety by talking with him about his body’s functions, making sure he understands that they’re natural and universal. A great tool for this is the delightfully scatological book Everyone Poops by Taro Gomi.

My child won’t use the toilet at his daycare center or school.
Start by finding out everything you can about his program’s bathroom routine; some specific procedure may be confusing your child. Maybe the teachers take the kids in groups and your child likes his privacy, for example. If this is the case, ask if it’s possible to modify the routine. Perhaps a teacher can take your child privately, or allow him to go with his best buddy.

Or it might be the toilet itself. If your child is having trouble switching from his own potty chair at home to a built-in toilet at the center or school, it might be worthwhile for you to buy a second potty chair just like the one he uses at home for the center’s bathroom.

My child was toilet trained, then started having accidents again.
Seemingly small changes — going from a crib to a bed or starting a swim class — can throw a toddler’s equilibrium off, making him long for the familiar. And if he learned to use the toilet quite recently, the familiar might mean diapers. Be careful not to make him feel bad or ashamed about that. You don’t want to push him toward toilet training if he’s reluctant. At the same time, try to find ways to make him feel like a big boy and reinforce any steps he takes toward independence.

Choose a relaxed moment to have a little talk, letting your child know that you think he’s old enough now to be in charge of learning to use the toilet. Then just lay off the subject for a while. When he starts trying to learn again, use some incentives to encourage him. Place shiny stars on a calendar each day your child uses the toilet, or reward dry days with an extra bedtime story or an after-dinner walk to the park. (It’s not a good idea to use rewards like candy with a child younger than 3; he’s likely to focus solely on the sweet, which may trigger temper tantrums. Besides, you don’t want to teach your child that the way to reward or console himself is by eating sweets.)

However, if your child asks directly for a return to diapers, don’t make an issue of it. Put him back in diapers for a few weeks or until he expresses an interest in using the toilet again.
All contents copyright © BabyCenter, L.L.C. 1997-2005 All rights reserved. – Terms of Use | Privacy & Security

Toilet training girl vs. boys

sumber : http://www.parenting.co.id/article/article_detail.asp?catid=3&id=211

Banyak ibu berharap toilet training (akhirnya!) berarti benar-benar bebas dari popok. Tapi, cara mengajari anak laki-laki ternyata beda, lho, dengan anak perempuan. Seperti siang dan malam. Memang, kedua jenis kelamin ini memulainya dengan duduk. Haya saja, banyak juga anak laki-laki yang memilih melakukannya sambil berdiri dan langsung “tembak”. Anak perempuan memang belajar lebih cepat, tapi ia masih harus belajar cara duduk yang benar plus membersihkan alat kelaminnya dengan bersih.

Inilah cara gampang melatih anak Anda baik perempuan maupun laki-laki:

Perempuan

Perlengkapan

Gunakan toilet khusus anak-anak. Otot-otot panggulnya akan rileks, karena kaki si kecil tetap menginjak lantai. Kalaupun memakai toilet orang dewasa, berikan bangku kecil sebagai pijakan.

Posisi

Minimalkan cipratan pipis atau pup dengan cara menempatkan bokong dan vagina benar-benar di atas toilet. Minta si kecil untuk duduk dengan kedua lutut terbuka lebar. Sepele memang, tapi ini akan membantu otot-otot panggulnya tetap rileks.

Taktik jitu

Ajarkan si kecil untuk membersihkan (atau menepuk-nepuk) alat kelaminnya dari arah depan ke arah belakang. Biarkan dia melihat Anda melakukannya dulu. Buat dia tetap asyik dan betah duduk berlama-lama dengan menaruh buku, sticker, atau memutar lagu favoritnya di dekat toilet.

Laki-laki

Perlengkapan

Biarkan dia menggunakan toilet khusus untuk pipis. Ini kalau dia tidak siap berdiri dan “menembak”. Kalau pup, bisa saja ia tetap memakai toilet itu atau Anda tambahkan saja dudukan pada toilet Anda (plus bangku kecil untuk pijakan kakinya).

Posisi

Minta si kecil endorong” penisnya lurus ke bawah sebelum dia duduk di atas toilet. Dengan begitu, cipratan pipisnya tidak kemana-mana. Bila ia memilih berdiri, pastikan posisinya sudah pas. Kedua kaki terbuka lebar, dan ia tepat di depan toilet.

Taktik jitu

Biarkan dia melihat ayahnya, atau tunjukkan bagaimana cara “mengarahkan” penisnya. Untuk membuktikan “tembakannya” sudah oke atau belum, ada beberapa cara mengetesnya. Jatuhkan beberapa Cheerioatau cracker ke dalam toilet, lalu minta dia “menembaknya” dengan pipis. Beri dia sticker yang lucu begitu dia berhasil mengenainya. Jika ia pup, jangan lupa siapkan buku atau lagu-lagu di dekatnya. Jadi betah, deh.

Potty Training

Potty training: How to get the job done

Potty training is a big deal. Here’s what you need to know about timing, technique and handling the inevitable accidents.
“I’ve gotta go!” If you’re looking forward to ditching your child’s diapers for good, these words may be music to your ears.

Potty training is a big deal for parents and kids alike. The secret to success? Patience. Perhaps more patience than you ever imagined.

Is it time?
Potty training success hinges on physical and emotional readiness, not a specific age. Many kids show interest in potty training by age 2, but others may not be ready until age 2 1/2 or even older. And there’s no rush. If you start potty training too early, it may only take longer.

So is your child ready? Ask yourself these questions:

a.. Does your child seem interested in the potty chair or toilet, or in wearing underwear?
b.. Can your child understand and follow basic directions?
c.. Can your child ask simple questions?
d.. Does your child stay dry for periods of two hours or longer during the day? Does he or she wake from naps dry?
e.. Does your child have fairly predictable bowel movements?
f.. Does your child tell you when he or she needs to potty or poop?
g.. Is your child uncomfortable in wet or dirty diapers?
h.. Can your child pull down his or her pants and pull them up again?
If you answered mostly yes, your child may be ready for potty training. If you answered mostly no, you may want to wait awhile – especially if your child is about to face a major change, such as a move or the arrival of a new sibling. A toddler who opposes potty training today may be open to the idea in a few months.

Ready, set, go!
When you decide it’s time to begin potty training, set your child up for success. Start by maintaining a sense of humor and a positive attitude. Then:

a.. Pull out the equipment. Place a potty chair in the bathroom. You may want to try a model with a removable top that can be placed directly on the toilet when your child is ready. Encourage your child to sit on the potty chair – with or without a diaper. Make sure your child’s feet rest firmly on the floor or a stool. As your child checks out the potty chair, help him or her learn how to talk about using the bathroom. Use simple, correct terms. Let your child see you and other family members using the toilet.
b.. Schedule potty breaks. If your child is interested, have him or her sit on the potty chair or toilet without a diaper for a few minutes several times a day. Read a potty-training book or give your child a special toy to use while getting used to the potty chair or toilet. Stay with your child when he or she is in the bathroom. Even if your child simply sits there, offer praise for trying – and remind your child that he or she can try again later.
c.. Get there – fast! When you notice signs that your child may need to use the toilet – such as squirming, squatting or holding the genital area – respond quickly. Help your child become familiar with these signals, stop what he or she is doing and head to the toilet. Praise your child for telling you when he or she has to go. When it’s time to flush, let your child do the honors. Also remember the importance of good hygiene. Teach girls to wipe carefully from front to back to prevent bringing germs from the rectum to the vagina or bladder. Make sure both boys and girls learn to wash their hands after using the toilet.
d.. Consider incentives. Some kids respond to stickers or stars on a chart. For others, trips to the park or extra bedtime stories are effective. Experiment to find out what works best for your child. Reinforce your child’s effort with verbal praise, such as, “How exciting! You’re learning to use the toilet just like big kids do!” Be positive even if a trip to the toilet isn’t successful.
e.. Be consistent. Make sure all of your child’s caregivers – including babysitters, child care providers and grandparents – follow your potty-training routine.
f.. Ditch the diapers. After several weeks of successful potty breaks, your child may be ready to trade diapers for training pants or regular underwear. Take time to celebrate this transition. Go on a special “big kid” outing. Call close friends or loved ones and let your child spread the news. Once your child is wearing training pants or regular underwear, be careful to avoid overalls, belts, leotards or other items that could hinder quick undressing.
g.. Treat mistakes lightly. Accidents are inevitable – especially when your child is tired or upset. When it happens, stay calm. Simply say, “Uh-oh. You had an accident. Let’s change you. Pretty soon you’ll remember to use the potty chair every time you have to go.”
h.. Sleep soundly. Most children master daytime bladder control within three to six months of starting potty training. Nighttime control may take months – or years – longer. In the meantime, you may want to use disposable training pants when your child sleeps.
i.. Know when to call it quits. If your child resists using the potty chair or toilet or simply doesn’t get the hang of it, take a break. Chances are, he or she simply isn’t ready yet. Try it again in a few months. If your child isn’t interested in potty training by age 3, you might ask your child’s doctor for suggestions.
Accidents will happen
You may breathe easier once your child learns how to use the toilet, but expect occasional accidents and near misses. Here’s help handling – and preventing – wet pants.

a.. Stay calm. Kids don’t have accidents to irritate their parents. Don’t add to the embarrassment by scolding or disciplining your child. You may say, “You forgot this time. Next time you’ll get to the bathroom sooner.”
b.. Slow down. Remind your child to relax and take it slow. Completely emptying the bladder can help prevent accidents.
c.. Offer reminders. Accidents often happen when kids are absorbed in activities that – for the moment – are more interesting than using the toilet. To fight this phenomenon, suggest regular bathroom trips, such as first thing in the morning, after each meal and snack, and before getting in the car or going to bed. Point out telltale signs of holding it, such as fidgeting or holding the genital area.
d.. Be prepared. If your child has frequent accidents, absorbent underwear may be best. Keep a change of underwear and clothing handy, especially at school or in child care.
When to seek help
Occasional accidents are harmless, but they can lead to teasing, embarrassment and alienation from peers. If your potty-trained child reverts or loses ground – especially at age 4 or older – or you’re concerned about your child’s accidents, contact his or her doctor. Sometimes wetting problems indicate an underlying physical condition, such as a urinary tract infection or an overactive bladder. Prompt treatment can help your child become accident-free

By Mayo Clinic Staff
Nov 16, 2007

Pedoman Toilet Training

Pedoman Untuk Orang Tua

Pengaturan buang air besar dan berkemih diperlukan untuk ketrampilan sosial, Mengajarkan toilet training (TT) membutuhkan waktu, pengertian dan kesabaran. Hal terpenting untuk diingat adalah bahwa anda tidak dapat memaksakan anak untuk menggunakan toilet. The American Academy of Pediatrics telah mengembangkan brosur ini untuk membantu anak anda melewati tahap penting perkembangan sosial.

Kapan anak siap untuk toilet training?

Tidak ada patokan usia kapan TT harus dimulai. Saat yang tepat tergantung dari perkembangan fisik dan mental anak. anak berusia di bawah 12 bulan tidak mempunyai kontrol terhadap kandung kemih dan BAB, 6 bulan sesudahnya ada sedikit kontrol. Antara 18 dan 24 bulan beberapa anak sudah menunjukkan kesiapan, tetapi beberapa anak belum siap sampai usia 30 bulan atau lebih.

Anak anda seharusnya juga sudah siap secara emosional. Harus ada kemauan sendiri, tidak melawan atau menunjukkan tanda-tanda ketakutan. Jika anak bertahan kuat, sebaiknya ditunggu beberapa saat.

Mengajarkan TT sebaiknya santai dan hindari kemarahan. Ingatlah bahwa tidak ada seorang pun yang dapat mengontrol kapan dan dimana anak ingin BAK atau BAB kecuali anak itu sendiri. Hindari pemaksaan yang berlebihan. Anak pada usia TT mulai timbul kesadaran terhadap diri sendiri. Mereka mencari cara untuk menguji keterbatasan mereka. Beberapa anak melakukannya dengan cara nenahan keinginan BAB-nya.

Perhatikan tanda-tanda berikut ini untuk menilai kesiapan anda:

  • Anak anda tidak mengompol minimal 2 jam saat siang hari atau setelah tidur siang.
  • BAB menjadi teratur dan dapat diprediksi
  • Ekspresi wajah, postur menjadi tubuh dan kata-kata yang menunjukkan keinginan BAB atau BAK.

Keadaan stress di rumah bisa membuat proses ini menjadi sulit. Kadang-kadang sangat bijaksana untuk menunda TT dalam situasi berikut ini:

  • Keluarga anda baru pindah atau berencana akan pindah dalam waktu dekat.
  • Anda sedang menantikan kelahiran bayi atau baru mendapatkan seorang bayi.
  • Ada penyakit berat, kematian atau seseorang dalam keluarga sedang mengalami krisis.

Bagaimanapun juga bila anak anda tidak mengalami hambatan dalam TT, maka tidak ada alasan untuk menghentikannya karena situasi-situasi tersebut.

  • Anak anda dapat mengikuti perintah-perintah sederhana
  • Anak anda dapat berjalan dari dan ke kamar mandi, serta membantu melepas pakaian.
  • Anak anda tampak tidak nyaman dengan popok yang koor dan ingin diganti.
  • Anak anda meminta menggunakan toilet atau pot.
  • Anak anda meminta menggunakan pakaian dalam seperti anak yang lebih besar.

Bagaimana mengajar anak anda menggunakan toilet ?

Anda seharusnya memutuskan dengan hati-hati kata-kata apa yang akan digunakan untuk menggambarkan bagian-bagian tubuh, urine, dan BAB. Ingatlah bahwa kata-kata tersebut akan didengar juga oleh teman, tetangga, guru, dan orang-orang lain. Sebaiknya gunakan kata-kata yang sudah umum digunakan supaya tidak membingungkan atau mempermalukan anak anda.

Hindari penggunaan kata-kata “kotor”, “nakal” atau jorok untuk menggambarkan urine atau feses. Istilah negatif ini akan membuat anak anda merasa malu dan bingung. Ajarkan BAB dan BAK dengan cara sederhana. Anak anda mungkin ingin tahu dan mencoba untuk bermain dengan fesesnya. Anda dapat mencegah hal ini tanpa membuat anak anda sedih, katakan bahwa feses bukan sesuatu untuk dimainkan.

Ketika anak anda sudah siap, anda sebaiknya memilih pot (potty chair) untuk BAK atau BAB. Pot lebih mudah digunakan untuk anak kecil, karena pendek sehingga anak tidak sulit untuk duduk diatasnya dan kaki anak dapat mencapai lantai.

Anak-anak sering tertarik dengan aktifitas dalam kamar mandi keluarga. Kadang-kadang biarkan mereka memperhatikan orang tuanya saat pergi ke kamar mandi. Dengan melihat orang dewasa menggunakan toilet akan membuat mereka mempunyai keinginan yang sama. Jika memungkinkan ibu sebaiknya memperlihatkan cara yang benar kepada anak perempuannya, sedangkan ayah kepada anak laki-lakinya. Anak-anak dapat juga mempelajari cara ini dari kakak atau teman-temannya.

Ajarkan anak anda untuk memberitahukan bila dia ingin BAB atau BAK, Anak anda sering memberitahu anda pada saat dia sudah mengompol atau BAB. Hal ini merupakan tanda bahwa anak anda mulai mengenal fungsi tubuhnya. Ajarkan anak anda lain kali harus memberi tahu anda sebelumnya.

Sebelum BAB anak anda mungkin merintih, atau mengeluarkan suara-suara aneh, jongkok, atau berhenti beberapa saat. saat mengedan wajahnya akan menjadi merah. Jelaskan pada anak tanda-tanda tersebut adalah petunjuk saatnya menggunakan toilet.

Kadang-kadang lebih lama mengenal keinginan untuk BAK daripada keinginan untuk BAB. Beberapa anak belum dapat mengontrol keinginan BAK selama beberapa bulan setelah mereka dapat mengontrol BAB. Beberapa anak mampu mengontrol BAK terlebih dahulu. Sebagian besar anak laki-laki belajar BAK dengan cara duduk terlebih dahulu, kemudian baru dengan cara berdiri. Ingatlah bahwa semua anak berbeda.

Ketika anak anda tampak ingin BAK atau BAB, pergilah ke pot. Biarkan anak anda duduk di pot beberapa menit, Jelaskan bahwa anda ingin anak anda BAB atau BAK di situ. Bergembiralah, jangan memperlihatkan ketegangan. Jika anak anda protes dengan keras, jangan memaksa. Mungkin anak anda belum saatnya untuk memulai TT.

Sebaiknya anak dilatih menggunakan pot secara rutin, misalnya menjadi kegiatan pertama di pagi hari ketika anak anda bangun, setelah makan, atau sebelum tidur siang. Ingatlah bahwa anda tidak dapat mengontrol kapan anak anda BAB atau BAK.

Keberhasilan TT tergantung pada cara pengajaran bertahap yang sesuai dengan anak anda. Anda harus mendukung usaha anak anda. Jangan menginginkan hasil yang terlalu cepat. Berikan anak anda pelukan dan pujian jika mereka berhasil. Bila terjadi kesalahan jangan mamarahi atau membuat mereka sedih. Hukuman akan membuat mereka merasa bersalah dan membuat TT menjadi lebih lama.

Ajarkan anak anda kebiasaan menjaga kebersihan. Tunjukkan cara cebok yang benar. Anak perempuan seharusnya membersihkan dari depan ke belakang untuk mencegah penyebaran kuman dari rektum ke vagina atau kandung kemih. Pastikan anak laki-laki maupun perempuan mencuci tangan mereka setelah BAB atau BAK.

Beberapa anak percaya bahwa urine atau feses adalah bagian dari tubuh mereka, melihat fesesnya disiram mungkin menakutkan dan sulit untuk dimengerti. Beberapa anak takut mereka akan tersedot ke dalam toilet bila disiram saat mereka masih duduk di atasnya. Orang tua harus mengajarkan mereka keinginan untuk mengontrol, biarkan mereka mencoba menyiram tissue ke dalam toilet. Hal tersebut akan menghilangkan ketakutan mereka terhadap suara berisik air dan mereka dapat melihat benda yang menghilang, masuk ke dalam toilet.

Ketika anak anda mulai sering berhasil, tingkatkan dengan penggunaan celan latihan (training pants). Kejadian tersebut menjadi sangat istimewa. Anak anda akan merasa bangga telah mendapat kepercayaan dan merasa tumbuh. Bagaimana pun juga bersiaplah terhadap terjadinya “kecelakaan”. Akan membutuhkan waktu berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan sebelum TT selesai. Sebaiknya tetap melanjutkan latihan duduk di pot di siang hari. Jika anak anda dapat menggunakan pot dengan sukses, ini merupakan kesempatan untuk memuji. Bila tidak ini masih merupakan latihan yang baik.

Pada awalnya, banyak anak akan BAB atau BAK segera setelah diangkat dari toilet. Perlu waktu untuk anak anda belajar relaksasi otot-ototnya untuk mengontrol BAB atau BAK. Bila sering terjadi “kecelakaan” seperti ini, berarti anak anda belum siap untuk TT.

Kadang-kadang anak anda akan meminta popok saat merasa akan BAB dan berdiri di satu tempat tertentu untuk defekasi. Ajak anak anda mengenali tanda-tanda keinginan BAB. Anjurkan kemampuannya dengan duduk di atas pot tanpa popok.

Pola defekasi bervariasi. Beberapa anak 2-3 kali per hari. Anak lain 2-3 hari sekali. Feses yang lunak membuat TT lebih mudah untuk anak dan orang tua. Terlalu memaksa anak dalam TT dapat menimbulkan masalah BAB jangka panjang.

Bicarakan dengan dokter anak anda bila terjadi perubahan kebiasaan BAB atau bila anak anda menjadi tidak nyaman. Jangan gunakan laksatif, supositoria, atau enema, kecuali dianjurkan oleh dokter.

Sebagian besar anak dapat mengontrol BAB dan BAK di siang hari saat usia 3-4 tahun. Bahkan setelah anak anda tidak mengompol di siang hari masih perlu waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun untuk tidak mengompol di malam hari. Sebagian besar anak perempuan dan lebih dari 75% anak laki-laki mampu tidak mengompol di malam hari setelah usia 5 tahun.

Anak anda akan menunjukkan kepada anada jika dia sudah siap pindah dari pot ke toilet sesungguhnya. Pastikan anak anda cukup tinggi, dan latihlah tahap demi tahap bersama mereka.

Dokter anak anda dapat membantu.

Bila timbul masalah sebelum, saat, atau setelah TT, bicarakanlah dengan dokter anak anda. Kadang-kadang masalahnya tidak terlalu berat dan dapat diatasi segera, tetapi kadang-kadang timbul masalah fisik dan emosional yang memerlukan terapi. Bantuan, nasihat, dan dukungan dokter anak dapat membuat TT lebih mudah. Dokter anak anda juga dilatih untuk mengidentifikasi dan menangani masalah-masalah yang lebih serius.

Toilet Training Sejak Dini

Ajarkan Toilet Training Sejak Dini

Writing by asti

Hal yang menyebalkan sekaligus menggemaskan buat orangtua ketika anaknya buang air kecil atau buang besar di lantai yang sudah bersih. Atau pipis di kasur yang kain penutupnya bare diganti dengan yang bersih dan wangi. Akibatnya, cucian bekas ompol menumpuk yang seakan-akan menghantui Anda, karena tumpukan itu tidak pemah berkurang. Kalau bukan karena sayang anak dan sadar risiko menjadi orangtua ingin marah-marah terus rasanya.

Usia 3 Tahun Masih Wajar
Kebiasaan mengompol pada anak di bawah usia 2 tahun merupakan hal yang wajar, bahkan ada beberapa anak yang masih mengompol pada usia 4-5 tahun dan sesekali terjadi pada anak 7 tahun. Anak di bawah usia 2 tahun mengompol karma belum sempumanya kontrol kandung kemih atau toilet trainingnya.

Ada beberapa penelitian dan literatur yang menyebutkan kira-kira setengah dari anak umur 3 tahun masih mengompol. Bahkan beberapa ahli menganggap bahwa anak umur enam tahun masih mengompol itu wajar, walaupun itu hanya dilakukan oleh sekitar 12 % anak umur 6 tahun. Tapi, bukan berarti anak tidak diajarkan bagaimana cara benar untuk buang air kecil (BAK) dan buang air besar (BAB) yang benar dan di tempat yang tepat bukan? Karena kita juga harus memperhitungkan masa sekolah anak, di mana biasanya ketika sudah bersekolah ada tuntutan bagi anak untuk tidak lagi pipis sembarangan.

Toilet training merupakan cara untuk melatih anak agar bisa mengontrol buang air kecil (BAK) dan buang air besar (BAB). Dengan toilet training diharapkan dapat melatih anak untuk mampu BAK dan BAB di tempat yang telah ditentukan. Selain itu, toilet training juga mengajarkan anak untuk dapat membersihkan kotorannya sendiridan memakai kembali celananya, demikian menurut Siti Mufattahah, S.Psi; Psikolog dan staf pengajar dari Jurusan Psikologi Universitas Gunadarma, Depok.

Bisa Dimulai Sejak Usia 2 Bulan
Memang untuk mengajarkan toilet training pada anak gampang-gampang susah. Namun demikian sebagai orangtua tetap perlu mengajarkan pada anaknya. Untuk mengajarkan toilet training pada anak bisa dimulai sejak usia 1 sampai 3 tahun. Pada saat usia tersebut, si anak harus mampu melakukan toilet training. Jika si anak tidak mampu melakukan toilet training sendiri boleh jadi anak pernah mengalami hambatan.

Cara orangtua mendidik anaknya agar terbiasa untuk dapat pipis atau BAB sesuai waktunya, stimulasinya bisa dimulai sejak usia 2 bulan. Caranya, orangtua bisa memeriksa popoknya atau mengganti popoknya setelah basah. Karena orangtua sebagai orang yang terdekat dengan anaknya mengetahui kapan waktu anaknya BAK atau pun BAB.

Apabila anak sejak usia 2 bulan tidak mampu diajarkan toilet training, tidak ada salahnya anak diajarkan saat usia 1 tahun. Perlu diingat anak pada usia 1 tahun mengalami fase anal. Pada fase ini anak mencapai kepuasan melalui bagian anus. Fase kepuasan ini berhubungan dengan kebersihan dan jadwal kedisiplinan.

Jadi, seorang anak minimal sudah diajarkan sejak usia 1 tahun. Bila anak diajarkan ketika berusia lebih dari 3 tahun dikhawatirkan akan agak susah mengubah perilaku anak. Selain itu, bila anak sudah lebih dari 3 tahun belum mampu untuk toilet training, boleh jadi ia mengalami kemunduran. Karena pada saat usia 1 sampai 3 tahun ia belum mampu melakukan buang air sesuai dengan waktu dan tempat yang telah ditentukan. Akibatnya, anak bisa menjadi bahan cemoohan teman-temannya.

Anak usia 4 tahun yang tidak mampu BAK atau BAB sesuai waktu dan tempat yang telah disediakan boleh dianggap kurang wajar. Tetapi pada usia tiga tahun masih dianggap wajar bila BAK atau BAB di celananya. Namun begitu, bukan berarti orangtua membiarkan saja. Berilah pengertian pada anak bahwa cara yang dilakukan tidaklah tepat.

Masalah kemandirian anak BAK dan BAB boleh dikatakan tidak ada perbedaan antara anak wanita dan laki-laki. Biasanya anak wanita lebih penurut, maka ia akan lebih cepat diajarkan untuk toilet training dibanding anak laki-laki. Namun demikian untuk mengajarkan toilet training pada laki-laki pun harus bisa.

Tanda si Kecil Siap
Beberapa tanda si kecil siap melakukan toilet training:

1. Tidak mengompol beberapa jam sehari, atau bila ia berhasil bangun tidur tanpa mengompol sedikit pun, -
2. Waktu buang airnya sudah bisa diperkirakan,
3. Sudah bisa memberitahu bila celana atau popok sekali pakainya sudah kotor ataupun basah.
4. Tertarik dengan kebiasaan masuk k€e dalam toilet, seperti kebiasaan orang-orang lain di dalam rumahnya.
5. Minta untuk diajari menggunakan toilet.

Tahapan Toilet Training

Mengajarkan toilet training memerlukan beberapa tahapan:

- Biasakan menggunakan toilet pada buah hati untuk buang air.
Mulailah dengan membiasakan anak masuk ke dalam WC. Latih si kecil untuk duduk di toilet meski dengan pakaian lengkap. saat si kecil sedang membiasakan diri di toilet, Anda dapat menjelaskan kegunaan toilet. Nah, agar si kecil tidak takut di toilet, Anda dapat menemaninya sambil membacakan buku atau menyanyikan lagu kesayangannya.

- Lakukan secara rutin pada si kecil ketika terlihat ingin buang air.
Sejak si kecil terbiasa dengan toiletnya, ajaklah ia untuk menggunakannya. Biarkan ia duduk di toilet pada waktu-waktu tertentu setiap hari, terutama 20 menit setelah bangun tidur dan seusai makan. Bila pada waktu-waktu itu, si kecil sudah duduk di toilet namun tidak ingin buang air, ajak ia segera keluar dari toilet. Bila sekali-sekali ia mengompol, itu merupakan hal yang normal. Anda juga tak perlu khawatir dan memaksanya bila si kecil kadang-kadang mogok dan tak mau ke toilet.

Pujilah bila ia berhasil, meskipun kemajuannya tidak secepat yang anda inginkan
Bila si anak mengalami kecelakaan segera bersihkan dan jangan menyalahkannya. Jadilah model yang baik, agar si kecil lebih mudah mengerti. Contohkan padanya bagaimana menggunakan toilet sehari-hari. (Pambudi)