Scoring TB

“Diagnosa TB
pada anak yang paling logis, menurut kelompok kerja TBC anak (IDAI, DEPKES &
WHO 2004), adalah dengan sistem skoring. Orang tua bisa melakukan sendiri
kok dalam
menghitung skornya, ada 8 parameter sebagai berikut :
1. Kontak dengan penderita TB (tidak jelas = 0 poin, hanya laporan keluarga
atau kontak dengan penderita yg sudah berobat = 1 poin, kontak dengan
penderita TB aktif = 3 poin)
2. Uji Tuberkolin/ Tes Mantoux (negatif = 0 poin, positif = 3)
3. Berat badan anak berdasarkan KMS (dibawah garis merah atau riwayat BB
turun atau tidak naik 2bln berturut-turut = 1 poin, secara klinis gizi buruk
= 2 poin)
4. Demam tanpa sebab jelas (tidak ada = 0 poin, lebih dari 2 minggu = 1
poin)
5. Batuk berkepanjangan ( 3 minggu = 1 poin)
6. Pembesaran kelenjar di sekitar leher (ukuran lebih dari 1 cm, jumlah
lebih dari 1 buah, tidak nyeri saat di tekan = 1 poin)
7. Pembengkakan tulang/sendi panggul, lutut (bila ada pembengkakan = 1 poin)
8. Foto rontgen (normal = 0 poin, suspect/curiga = 1 poin)
Anak dikatakan positif TB bila skor dari ke-8 parameter di atas adalah
MINIMAL 6 POIN.”

DIAGNOSIS TUBERKULOSIS PADA ANAK

sumber : http://www.tbindonesia.or.id/tbnew/diagnosis-tb-pada-anak/article/6/00030052/4

Diagnosis paling tepat adalah dengan ditemukannya kuman TBC dari bahan yang diambil dari penderita, misalnya: dahak, bilasan lambung, biopsi dll. Tetapi pada anak hal ini sulit dan jarang didapat, sehingga sebagian besar diagnosis TBC anak didasarkan atas gambaran klinis, gambaran foto röntgen dada dan uji tuberkulin. Untuk itu, terdapat beberapa tanda dan gejala yang penting untuk diperhatikan. Seorang anak harus dicurigai menderita tuberkulosis jika:

* mempunyai sejarah kontak erat (serumah) dengan penderita TBC BTA positif,
* terdapat reaksi kemerahan cepat setelah penyuntikan BCG (dalam 3-7 hari),
* terdapat gejala umum TBC

Gejala umum TBC pada anak:

* Berat badan turun selama 3 bulan berturut-turut tanpa sebab yang jelas, dan tidak naik dalam 1 bulan meskipun sudah mendapatkan penanganan gizi yang baik (failure to thrive).
* Nafsu makan tidak ada (anorexia) dengan gagal tumbuh dan berat badan tidak naik (failure to thrive) dengan adekuat.
* Demam lama/berulang tanpa sebab yang jelas (bukan tifus, malaria atau infeksi saluran nafas akut), dapat disertai keringat malam.
* Pembesaran kelenjar limfe superfisialis yang tidak sakit. Biasanya multipel, paling sering didaerah leher, ketiak dan lipatan paha (inguinal).
* Gejala-gejala dari saluran nafas, misalnya batuk lama lebih dari 30 hari (setelah disingkirkan sebab lain dari batuk), tanda cairan di dada dan nyeri dada.
* Gejala-gejala dari saluran cerna, misalnya diare berulang yang tidak sembuh dengan pengobatan diare, benjolan (massa) di abdomen, dan tanda-tanda cairan dalam abdomen.

Gejala spesifik

Gejala-gejala ini biasanya muncul tergantung dari bagian tubuh mana yang terserang, misalnya:

* TBC kulit/skrofuloderma
* TBC tulang dan sendi:
o tulang punggung (spondilitis): gibbus
o tulang panggul (koksitis): pincang, pembengkakan di pinggul
o tulang lutut: pincang dan/atau bengkak
o tulang kaki dan tangan
* TBC otak dan saraf:
o Meningitis: dengan gejala iritabel, kaku kuduk, muntah-muntah dan kesadaran menurun.
* Gejala mata:
o conjunctivitis phlyctenularis
o tuberkel koroid (hanya terlihat dengan funduskopi)

* Lain-lain

Tuberkulosis (TB)

sumber : http://milissehat.web.id/?p=101

12/31/2006

Diperkirakan sepertiga populasi dunia terinfeksi Mycobacterium tuberculosis, bakteri penyebab tuberculosis (TB).1 Dan dari populasi yang terinfeksi tersebut, setiap tahun lebih dari 8 juta orang menjadi sakit, serta 2 juta orang meninggal karena TB. Dari seluruh kasus, 11%-nya dialami oleh anak-anak di bawah 15 tahun. Menurut perhitungan global lainnya, setiap tahun 1,5 juta kasus baru TB dan 130.000 kematian akibat TB terjadi pada populasi anak, dengan kisaran persentasi yang sangat luas antar berbagai negara di dunia (antara 3-25%).1,2 Namun seringkali TB pada populasi anak tidak ditempatkan sebagai prioritas utama oleh program penanganan TB nasional karena beberapa alasan:2

* Kesulitan diagnosis
* Jarangnya penularan dari TB anak
* Sumber daya yang terbatas
* Keyakinan yang salah mengenai BCG
* Kurangnya data mengenai pengobatan

Definisi Penting

* Infeksi TB: infeksi pada orang yang terpapar Mycobacterium tuberculosis tanpa adanya gejala penyakit. Juga disebut infeksi laten TB. Umumnya didiagnosis dengan tes tuberkulin kulit.1
* Penyakit TB: infeksi TB dengan gejala penyakit. Juga disebut sebagai TB aktif.

TB pada Anak

TB pada anak dapat terjadi pada usia berapa pun, namun usia paling umum adalah antara 1-4 tahun.3 Anak lebih sering mengalami TB luar paru-paru (extrapulmonary) dibanding TB paru-paru dengan perbandingan 3:1.1,3 TB luar paru-paru dan TB yang berat terutama ditemukan pada usia < 3 tahun.1 Angka kejadian (prevalensi) TB paru-paru pada usia 5-12 tahun cukup rendah, kemudian meningkat setelah masa remaja di mana TB paru-paru menyerupai kasus pada pasien dewasa (sering disertai lubang/kavitas pada paru-paru).3

Selain oleh M. tuberculosis dari orang dewasa atau anak lain, anak dapat terinfeksi Mycobacterium bovis dari susu sapi yang tidak dipasteurisasi.3 Infeksi M. bovis ini umumnya bermanifestasi sebagai TB kelenjar getah bening atau TB usus.

Sebagian besar anak yang terinfeksi M. tuberculosis tidak menjadi sakit selama masa anak-anak.3 Satu-satunya bukti infeksi mungkin hanyalah tes tuberkulin kulit yang positif. Kemungkinan paling besar anak menjadi sakit dari infeksi M. tuberculosis adalah segera setelah infeksi dan menurun seiring waktu. Jika anak yang terinfeksi menjadi sakit, sebagian besar akan menunjukkan gejala dalam jangka waktu satu tahun setelah infeksi. Namun untuk bayi, jangka waktu tersebut mungkin hanya 6-8 minggu.

Faktor Risiko TB

Anak dengan risiko tinggi untuk mengalami TB antara lain:1

* Anak yang mengalami kontak dengan kasus baru yang pemeriksaan dahak mikroskopiknya positif
* Anak kurang dari 5 tahun
* Anak dengan infeksi HIV
* Anak dengan kurang gizi yang berat

Diagnosis TB

Pada anak, diagnosis TB dapat didasarkan pada beberapa hal berikut:1

* Kontak dengan kasus sumber

Kontak dekat didefinisikan sebagai tinggal bersama di satu rumah atau mengalami kontak yang sering dengan kasus sumber yang pemeriksaan dahak mikroskopiknya positif TB. Kasus sumber yang negatif pemeriksaan dahaknya dengan mikroskop namun positif dengan kultur juga infeksius, namun tidak seberbahaya kasus sumber dengan pemeriksaan dahak mikroskopik yang positif.

Dengan dasar tersebut, ada beberapa poin yang penting:1

* Anak di bawah 5 tahun yang mengalami kontak dekat dengan orang yang pemeriksaan dahak mikroskopiknya positif TB harus menjalani pemeriksaan penyaring TB
* Setiap satu kasus TB terdiagnosis pada anak atau remaja, kasus sumber dewasanya harus diteliti, terutama orang dewasa yang tinggal di rumah yang sama
* Jika seorang anak mengalami TB yang infeksius, maka kontak selama masa anak-anak harus diteliti dan menjalani pemeriksaan penyaring. Kasus TB pada anak dianggap infeksius jika pemeriksaan dahak mikroskopiknya positif atau memiliki kavitas (lubang) pada X-ray dadanya
* Gejala TB

Anak umumnya mengalami gejala kronis seperti batuk yang tak kunjung sembuh, demam, dan turunnya berat badan atau tidak naiknya berat badan terutama setelah menjalani program perbaikan gizi (nutritional rehabilitation).1
Batuk kronik didefinisikan sebagai batuk yang tak kunjung sembuh dan tidak membaik selama lebih dari 21 hari (3 minggu).1 Demam di sini didefinisikan sebagai demam lebih dari 380C selama 14 hari setelah kemungkinan penyebab lain dapat disingkirkan.
Walaupun TB luar paru-paru (extra pulmonary) seringkali tidak menunjukkan tanda yang jelas, beberapa tanda cukup spesifik untuk memulai pemeriksaan dan penanganan sesegera mungkin.1
Tanda fisik seperti tonjolan di tulang belakang (gibbus) atau pembesaran kelenjar getah bening leher yang tidak nyeri dengan pembentukan saluran tempat keluarnya nanah (fistula) sangat sugestif untuk TB luar paru-paru.1 Radang selaput otak (meningitis) yang tidak menunjukkan respon terhadap antibiotik, cairan pada rongga antara paru-paru dengan dinding dada (pleural effusion), cairan pada rongga selaput jantung (pericardial effusion), cairan pada rongga perut (ascites), pembesaran kelenjar getah bening yang tidak nyeri tanpa pembentukan fistula, pembengkakan sendi yang tidak nyeri, atau benjolan keras kemerahan di lengan/kaki (erythema nodosum) juga merupakan tanda-tanda perlunya dilakukan pemeriksaan TB lebih lanjut.

* Tes tuberkulin kulit (Mantoux)

Tes tuberkulin kulit akan menunjukkan hasil positif jika seorang anak terinfeksi M. tuberculosis.1 Namun hasil positif tidak mengindikasikan adanya penyakit. Untuk mendiagnosis TB, tes ini digunakan bersama dengan pemeriksaan klinis dan X-ray dada. Tes tuberkulin kulit yang negatif tidak dapat digunakan untuk menyingkirkan diagnosis TB.

Tes ini dikategorikan sebagai positif jika ditemukan:1

* Indurasi (tonjolan keras) ≥ 5 mm pada anak berisiko tinggi. Definisi risiko tinggi beberapa di antaranya adalah infeksi HIV dan kurang gizi yang berat. Kadang pada anak dengan HIV, kurang gizi yang berat, atau masalah lain yang menurunkan kekebalan tubuh, tes ini akan menunjukkan hasil negatif palsu karena kekebalan tubuh yang cukup dibutuhkan untuk memberikan reaksi terhadap tes
* Indurasi ≥ 10 mm pada anak lainnya, baik yang pernah menerima BCG atau tidak

* X-ray dada

Pada sebagian besar kasus, X-ray dada akan menunjukkan perubahan yang tipikal untuk TB.1 Gambaran X-ray paling umum adalah memutihnya suatu area di paru-paru dalam jangka waktu yang lama (persistent opacification) dengan pembesaran kelenjar getah bening di pangkal paru-paru (hilar) atau di sekitar pangkal saluran udara (subcarinal). Gambaran perubahan di bagian atas atau tengah paru-paru lebih umum ditemukan dibanding di bagian bawah.3 Anak dengan gambaran seperti ini yang tidak membaik setelah pemberian antibiotik harus menjalani pemeriksaan TB lebih lanjut.1 Gambaran X-ray dengan titik-titik putih yang tersebar di seluruh paru-paru (miliary) sangat sugestif untuk TB.
Pasien remaja umumnya memilikik gambaran X-ray dada serupa dengan pasien dewasa dengan adanya cairan di rongga pleura (pleural effusion) dan memutihnya bagian puncak paru-paru dengan pembentukan lubang (cavity).1
Pemeriksaan X-ray dada berguna dalam diagnosis TB pada anak.1 Karena itu X-ray dada harus diinterpretasikan oleh radiolog atau tenaga kesehatan yang terlatih dalam interpretasi X-ray.

* Tes bakteriologis

Pada anak, bahan untuk tes bakteriologis dapat diperoleh dari dahak, pengambilan cairan (aspirasi) dari lambung, atau cara lainnya seperti biopsi kelenjar getah bening.1
Pemeriksaan bakteriologis berperan penting terutama pada anak dengan:1

* Kecurigaan resistensi terhadap obat
* Infeksi HIV
* Kasus yang kompleks atau parah
* Diagnosis yang tidak pasti

Dahak untuk diperiksa dengan mikroskop umumnya dapat diperoleh pada anak ≥ 10 tahun.1 Pada anak di bawah 5 tahun, dahak sangat sulit diperoleh dan sebagian besar akan menunjukkan hasil negatif. Seperti pada pasien dewasa, pemeriksaan dahak membutuhkan 3 sediaan: yang diperoleh pada awal evaluasi, pada pagi berikutnya, dan pada kunjungan berikutnya.
Aspirasi cairan lambung dengan selang khusus lambung yang dimasukkan dari hidung (nasogastric tube) dapat dilakukan pada anak yang tidak dapat atau tidak mau mengeluarkan dahak.1 Cara lain yang dapat dilakukan adalah induksi dahak.

* Tes lain

Pengambilan contoh jaringan (aspirasi) dengan jarum halus atau fine needle aspiration dapat digunakan untuk membantu diagnosis TB luar paru-paru, terutama TB kelenjar getah bening.1
Tes lainnya adalah PCR, suatu teknik untuk mendeteksi adanya materi genetik M. tuberculosis.1 Tes ini tidak direkomendasikan untuk anak karena belum cukupnya penelitian yang dilakukan terhadap tes ini. Selain itu dalam beberapa penelitian yang telah dilakukan, metode ini menunjukkan hasil yang tidak memuaskan. Pemeriksaan rumit lain seperti CT scan dan evaluasi saluran udara dengan selang khusus yang dilengkapi kamera (bronchoscopy) juga tidak direkomendasikan untuk mendiagnosis TB anak.
Mencoba pemberian obat TB sebagai metode untuk mendiagnosis TB pada anak juga tidak direkomendasikan.1 Keputusan untuk memulai pengobatan TB pada anak harus dipertimbangkan dengan sangat hati-hati, dan jika diputuskan untuk dilakukan, maka anak harus menjalani pengobatan dengan jangka waktu penuh.

* Penggunaan Diagnostic Score Charts

Walaupun banyak negara yang menggunakan scoring chart untuk mendiagnosis TB pada anak, tidak ada satupun yang telah diteliti secara sistematik.3 Karena itu, pendekatan ini harus digunakan semata-mata sebagai penyaring, dan bukan sebagai alat untuk menegakkan diagnosis. Di India, sistem ini tidak direkomendasikan untuk diagnosis TB anak dalam National TB Control Program mereka.2

Karena sulitnya memperoleh sediaan dahak pada anak, beberapa kriteria klinis yang sederhana telah diajukan untuk mendiagnosis TB pada anak.1 Kriteria ini didasarkan pada kriteria WHO untuk mendiagnosis TB pada anak. Diagnosis TB ditegakkan jika diperoleh 3 dari kriteria berikut ini:

* Tes tuberkulin kulit yang positif
* Gejala kronis sesuai TB
* Perubahan fisik sugestif untuk TB
* X-ray dada sugestif untuk TB

Di India, diagnosis TB pada anak didasarkan pada kombinasi gejala klinis, pemeriksaan dahak jika memungkinkan, X-ray dada, tes Mantoux, dan riwayat kontak.2

TB yang Resisten terhadap Obat (drug-resistant TB)

Diagnosis ini adalah diagnosis yang dibuat berdasarkan data laboratorium.1 Namun, resistensi harus dipikirkan jika ditemukan tanda-tanda berikut:

* Pada kasus sumber yang dicurigai resisten
* Kontak dengan kasus yang resisten
* Kasus sumber yang pemeriksaan dahak mikroskopiknya tetap positif setelah 3 bulan pengobatan
* Riwayat pengobatan TB sebelumnya
* Riwayat terhentinya pengobatan TB
* Pada anak yang dicurigai resisten
* Kontak dengan kasus yang resisten
* Tidak adanya respon terhadap pengobatan TB
* Kembalinya TB setelah pengobatan patuh

Kategori TB pada Anak1

* TB paru-paru dengan pemeriksaan dahak mikroskopik positif
* 2 atau lebih sediaan dahak mikroskopik positif, atau
* 1 sediaan dahak mikroskopik positif dan perubahan X-ray dada yang sesuai dengan TB paru-paru aktif, atau
* 1 sediaan dahak mikroskopik positif dan kultur positif

* TB paru-paru dengan pemeriksaan dahak mikroskopik negatif

Kategori ini, walaupun jarang ditemukan pada pasien dewasa, merupakan kategori yang umum ditemukan pada anak. Untuk masuk dalam kategori ini, beberapa hal harus terpenuhi adalah:

* Paling sedikit 3 sediaan dahak mikroskopik negatif, dan
* Perubahan X-ray dada sesuai TB paru-paru aktif, dan
* Tidak ada respon terhadap antibiotik spektrum luas, dan
* Keputusan dimulainya pengobatan TB

* TB luar paru-paru

TB luar paru-paru yang cukup umum pada anak antara lain adalah:1,4

* TB kelenjar getah bening leher yang diagnosisnya dibantu dengan aspirasi jarum halus (fine needle aspiration)
* TB selaput otak (meningitis) yang diagnosisnya dibantu dengan pemeriksaan cairan serebrospinal
* TB rongga pleura
* TB rongga selaput jantung (pericardial) yang diagnosisnya dibantu dengan pemeriksaan cairan di rongga selaput jantung
* TB rongga perut yang diagnosisnya dibantu dengan USG dan biopsi kelenjar getah bening perut
* TB tulang dan sendi yang diagnosisnya dibantu dengan pemeriksaan cairan sendi

Pengobatan

Tujuan utama pengobatan TB pada anak adalah:1

* Membunuh sebagian besar bakteri dengan cepat untuk mencegah perkembangan penyakit dan penularan
* Menghasilkan kesembuhan permanen dengan membunuh bakteri yang tidak aktif sehingga tidak akan menimbulkan kekambuhan
* Mencapai 2 tujuan di atas dengan efek samping seminimal mungkin
* Mencagah terbentuknya bakteri yang resisten terhadap obat TB dengan menggunakan kombinasi obat.

Rekomendasi regimen dan dosis pengobatan TB pada anak-anak sama dengan pada pasien dewasa.3 Hal ini ditujukan untuk menghindari kebingungan dan meningkatkan kepatuhan terhadap pengobatan. Namun tetap ada beberapa perbedaan antara anak dan dewasa yang mempengaruhi pilihan jenis obat.

Pengobatan TB dibagi dalam 2 fase: intensif dan lanjutan.1,3 Fase intensif ditujukan untuk membunuh sebagian besar bakteri secara cepat dan mencegah resistensi obat. Sedangkan fase lanjutan bertujuan untuk membunuh bakteri yang tidak aktif. Fase lanjutan menggunakan lebih sedikit obat karena sebagian besar bakteri telah terbunuh sehingga risiko pembentukan bakteri yang resisten terhadap pengobatan menjadi kecil.

Regimen Pengobatan TB untuk Berbagai Jenis TB pada Anak1,3

Dapat dilihat pada table 1.
Thiacetazone tidak lagi dianjurkan untuk digunakan dalam pengobatan TB karena risikonya menimbulkan reaksi yang parah pada pasien anak dan dewasa dengan HIV.1,3

Kortikosteroid dapat digunakan dalam penanganan sebagian jenis TB yang kompleks seperti meningitis TB, komplikasi TB kelenjar getah bening bronkus, dan TB rongga selaput jantung.1,3 Pada kasus meningitis TB yang berat, kortikosteroid meningkatkan harapan hidup dan menurunkan angka kesakitan.1 Jenis yang paling umum digunakan adalah prednisone dengan dosis 2 mg/kg/hari (maksimum 60mg/hari) selama 4 minggu. Setelah itu dosis harus diturunkan dalam 1-2 minggu sebelum dihentikan.

Pengobatan TB umumnya dilakukan dengan rawat jalan (outpatient basis). Namun ada beberapa kondisi yang membutuhkan perawatan di RS. Kondisi-kondisi tersebut adalah:1

* Meningitis TB dan TB milier, lebih baik selama 2 bulan pertama
* Anak dengan gangguan pernapasan
* TB tulang belakang
* Efek samping pengobatan yang parah, misalnya kuning karena keracunan pada hati (hepatotoksisitas).

Follow-up

Follow-up idealnya dilaksanakan dengan interval sebagai berikut: 2 minggu setelah awal pengobatan, akhir fase intensif (bulan kedua), dan setiap 2 bulan hingga pengobatan selesai.1

Beberapa poin penting dalam follow-up adalah sebagai berikut:1

* Pada follow-up, dosis obat disesuaikan dengan peningkatan berat badan.
* Pemeriksaan dahak mikroskopik pada bulan kedua harus dilakukan untuk anak yang pada saat diagnosis awal pemeriksaan dahak mikroskopiknya positif.
* X-ray dada tidak dibutuhkan dalam follow-up.

Setelah pengobatan dimulai, kadang gejala TB atau gambaran X-ray dada menjadi lebih parah.1 Hal ini umumnya terjadi seiring peningkatan kekebalan tubuh karena perbaikan gizi, pengobatan TB itu sendiri, atau terapi antiviral pada anak dengan HIV. Pengobatan TB harus dilanjutkan, walaupun dalam sebagian kasus kortikosteroid mungkin dibutuhkan.

Efek Samping Pengobatan

Efek samping pengobatan TB lebih jarang terjadi pada anak dibandingkan pada pasien dewasa.1 Efek samping yang paling penting adalah keracunan pada hati (hepatotoksisitas) yang dapat disebabkan oleh isoniazid, rifampicin, dan pyrazinamide. Tidak ada anjuran untuk memeriksa kadar enzim hati secara rutin karena peningkatan enzim yang ringan (< 5 kali kadar normal) bukanlah indikasi untuk menghentikan pengobatan. Namun jika terjadi nyeri hati, pembesaran hati, atau menguningnya kulit, kadar enzim hati harus diperiksa, diikuti penghentian obat-obatan yang hepatotoksik hingga fungsi hati normal kembali. Jika pengobatan TB harus tetap dilanjutkan pada kasus-kasus yang berat, maka yang digunakan haruslah obat-obatan yang tidak bersifat hepatotoksik.

Isoniazid dapat menyebabkan defisiensi vitamin B6 (pyridoxine) pada kondisi tertentu sehingga suplemen vitamin B6 direkomendasikan pada anak yang kurang gizi, anak yang terinfeksi HIV, bayi yang masih menyusu ASI, dan remaja yang hamil.1

BCG

World Health Organization (WHO) merekomendasikan vaksinasi bacille Calmette-Guérin (BCG) segera setelah bayi lahir di negara-negara dengan prevalensi TB yang tinggi.1 Negara dengan prevalensi TB tinggi adalah semua negara yang tidak termasuk dalam prevalensi TB rendah.

Sedangkan kriteria negara dengan prevalensi TB rendah adalah sebagai berikut:1

* Rata-rata tahunan pelaporan TB paru-paru dengan pemeriksaan dahak mikroskopik positif ≤ 5/100.000 selama 3 tahun terakhir
* Rata-rata tahunan pelaporan meningitis TB pada anak di bawah 5 tahun < 1/1.000.000 populasi selama 5 tahun terakhir
* Rata-rata tahunan risiko infeksi TB ≤ 0,1%

Walaupun BCG telah diberikan pada anak sejak tahun 1920-an, efektivitasnya dalam pencegahan TB masih merupakan kontroversi karena kisaran keberhasilan yang diperoleh begitu lebar (antara 0-80%).1 Namun ada satu hal yang diterima secara umum, yaitu BCG memberi perlindungan lebih terhadap penyakit TB yang parah seperti TB milier atau meningitis TB.

Karena itu kebijakan pemberian BCG disesuaikan dengan prevalensi TB di suatu negara.1 Di negara dengan prevalensi TB yang tinggi, BCG harus diberikan pada semua anak kecuali anak dengan gejala HIV/AIDS, demikian juga anak dengan kondisi lain yang menurunkan kekebalan tubuh.

Tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa vaksinasi BCG ulangan memberikan tambahan perlindungan, dan karena itu hal tersebut tidak dianjurkan.1 Sebagian kecil anak (1-2%) dapat mengalami efek samping vaksinasi BCG seperti pembentukan kumpulan nanah (abses) lokal, infeksi bakteri, atau pembentukan keloid. Sebagian besar reaksi tersebut akan menghilang dalam beberapa bulan.

Pemeriksaan Penyaring (Screening)

Pemeriksaan penyaring (screening) dianjurkan pada seluruh kontak, yaitu orang yang tinggal di kediaman yang sama dengan seseorang yang menderita TB.1 Pemeriksaan penyaring dilakukan dengan penilaian klinis untuk menilai apakah kontak menunjukkan gejala atau baik-baik saja. Tidak diperlukan pemeriksaan rutin X-ray dada atau tes tuberkulin kulit.

Anak < 5 tahun dan anak dengan infeksi HIV yang merupakan kontak seseorang dengan TB idealnya diberikan isoniazid sebagai pencegahan.1 Isoniazid yang diberikan setiap hari selama 6 bulan sebagai pencegahan akan mengurangi kemungkinan berkembangnya TB pada anak yang terinfeksi M. tuberculosis namun belum sakit. Dosis yang diberikan adalah 5 mg/kg per hari dengan jumlah maksimum 300 mg/hari selama 6 bulan.1,3 Follow-up harus dilakukan setiap 2 bulan hingga pengobatan selesai.

Kehamilan dan ASI

Bayi yang lahir dari ibu yang menderita TB paru-paru harus dievaluasi untuk kemungkinan terjadinya penyakit TB bawaan (kongenital) dan diobati. Jika ibu telah menjalani pengobatan minimal selama 2-3 minggu, risiko penularan umumnya tidak ada lagi. Risiko terbesar penularan adalah jika ibu baru didiagnosis TB saat melahirkan atau segera setelah itu.

Bayi yang menyusu ASI memiliki risiko tinggi infeksi dari ibu dengan pemeriksaan dahak mikroskopipk yang positif. Bayi ini harus menerima 6 bulan pengobatan dengan isoniazid, diikuti dengan vaksinasi BCG. Alternatif lain adalah pemberian isoniazid selama 3 bulan untuk kemudian dites tuberkulin kulit. Jika hasilnya negatif, isoniazid dapat dihentikan dan BCG diberikan. Jika hasilnya positif, maka pemberian isoniazid diteruskan 3 bulan lagi sebelum pengobatan dihentikan dan BCG diberikan.

Namun tidak berarti selama jangka waktu tersebut bayi tidak boleh menyusu ASI. ASI dapat terus diberikan dengan aman.

Sumber

* Practical Guidelines for the Management of Tuberculosis in Children by National TB Programmes. First Edition. March 2006
* Formulation of Guidelines for Pediatric TB Cases under RNTCP. Indian J. Tuberc 2004;51:102-105. Available from http://www.indianpediatrics.net/sep2004/927.pdf
* World Health Organization. Treatment of Tuberculosis: Guidelines for National Programmes. Third Edition. 2003. Available from http://www.who.int/docstore/gtb/publications/ttgnp/

Kabra SK, Lodha R, Seth V. Category-based Treatment of Tuberculosis in Children. Available from http://medind.nic.in/ibr/t04/i2/ibrt04i2p102.pdf

Batuk Anak Belum Tentu TBC

sumber : milist asiforbaby

Batuk pada anak memang bikin kuatir, karena biasanya sangat mengganggu
anak (gak mau makan, gak bisa tidur). Oleh sebab itu, perlu sekali
para orangtua mempelajari batuk yang berbahaya dan tidak berbahaya
pada anak.

Bagaimana dengan TBC pada anak?

Nah, penegakan diagnosis TB pada anak dan dewasa memang beda.
Penegakan diagnosis TB pada dewasa menggunakan tes dahak (BTA),
sedangkan pada anak-anak lebih kompleks lagi, harus menggunakan sistem skoring.

Kenapa?
Karena pada anak-anak, gejala TB justru biasanya tidak disertai batuk
berkepanjangan.
Kuman TB pada anak biasanya tidak “berdiam” di paru-paru (walaupun
penularannya memang lewat sal. nafas), tapi di kelenjar getah bening.
Sehingga anak yang sakit TB seringkali tidak batuk.

Jika anak tinggal seatap dengan penderita TB dengan BTA positif, maka
memang harus diberikan profilaksis (pencegahan) berupa INH. Dengan
catatan, anak telah dipastikan tidak sakit TB dan tidak menunjukkan
gejala TB.

Di bawah aku copas-kan potongan artikel dari IDAI yang mudah2an bisa
memperjelas ya. Perlu aku tambahin, penting sekali untuk menegakkan diagnosis TB dengan hati-hati dan mengikuti panduan yang benar.
Soalnya pengobatan TB sangat berat dan lama, dan memiliki banyak efek
samping, misalnya kerusakan fungsi hati dan ginjal sampai ke
penglihatan.
Sayangnya, di Indonesia, diagnosis TB sering dilakukan dengan tidak
cermat, hanya berdasar pada hasil rontgen atau hasil tes mantoux saja,
atau malah dari BB yang pas-pasan dan gejala batuk berkepanjangan
saja. Padahal, batuk umumnya memang berlangsung sampai 1-2 minggu.

Disimak ya artikelnya… mudah-mudahan bermanfaat.
Semoga berkenan.

ditulis oleh
Sari Intan Kailaku
AIMI – Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia

======================================

Diagnosis Tuberkulosis (TB)
Diagnosis Tuberkulosis Pada Orang Dewasa.
Diagnosis TB paru pada orang dewasa dapat ditegakkan dengan ditemukannya BTA
pada pemeriksaan dahak secara mikroskopis. Hasil pemeriksaan dinyatakan
positif apabila sedikitnya dua dari tiga SPS BTA hasilnya positif.
Bila hanya 1 spesimen yang positif perlu diadakan pemeriksaan lebih lanjut
yaitu foto rontgen dada atau pemeriksaan spesimen SPS diulang.
Kalau hasil rontgen mendukung TB, maka penderita diidagnosis sebagai
penderita TB BTA positif.
Kalau hasil rontgen tidak mendukung TB, maka pemeriksaan lain, misalnya
biakan.
Apabila fasilitas memungkinkan, maka dapat dilakukan pemeriksaan lain,
misalnya biakan.
Bila tiga spesimen dahak negatif, diberikan antibiotik spektrum luas
(misalnya kotrimoksasol atau Amoksisilin) selama 1-2 minggu. Bila tidak
ada perubahan, namun gejala klinis tetap mencurigakan TB, ulangi pemeriksaan
dahak SPS :
Kalau hasil SPS positif, didiagnosis sebagai penderita TB BTA positif.
Kalau hasil SPS tetap negatif, lakukan pemriksaan foto rontgen dada, untuk
mendukung diagnosis TB.
- Bila hasil rontgen mendukung TB, diagnosis sebagai penderita TB BTA
negatif rontgen positif.
- Bila hasil ropntgen tidak mendukung TB, penderita tersebut bukan TB.
====================================================

Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkolosis.

(sumber : Pedoman Nasional TB Anak 2005, UKK Pulmonologi PP IDAI)

Pengobatan Pencegahan untuk Anak
“semua anak yg tinggal serumah atau kontak erat dengan penderita TBC BTA
positif beresiko lebih besar untuk terinfeksi. Infeksi pada anak ini dapat
berlanjut menjadi penyakit tuberkulosis sebagian menjadi penyakit yang lebih
serius yg dapat menimbulkan kematian.
Pada semua anak, terutama balita yg tinggal serumah atau kontak erat dengan
penderita TBC BTA Positif perlu dilakukan pemeriksaan :
1. Bila anak mempunyai gejala2 spt TBC harus dilakukan pemeriksaan lebih
lanjut sesuai dengan alur deteksi dini TBC anak.
2. Bila anak balita tidak mempunyai gejala seperti TBC, harus diberikan
pengobatan pencegahan dengan Isoniasid(INH) dengan dosis 5 mg per kg berat
badan per hari selama 6 bulan. Bila anak tersebut belum pernah mendapat
imunisasi BCG perlu diberi BCG setelah pengobatan pencegahan INH selesai.”

Diagnosa TB
pada anak yang paling logis, menurut kelompok kerja TBC anak (IDAI, DEPKES &
WHO 2004), adalah dengan sistem skoring. Orang tua bisa melakukan sendiri
dalam menghitung skornya, ada 8 parameter sebagai berikut :
1. Kontak dengan penderita TB (tidak jelas = 0 poin, hanya laporan keluarga
atau
kontak dengan penderita yg sudah berobat = 1 poin, kontak dengan penderita
TB
aktif = 3 poin)
2. Uji Tuberkolin/ Tes Mantoux (negatif = 0 poin, positif = 3)
3. Berat badan anak berdasarkan KMS (dibawah garis merah atau riwayat BB
turun
atau tidak naik 2bln berturut-turut = 1 poin, secara klinis gizi buruk = 2
poin)
4. Demam tanpa sebab jelas (tidak ada = 0 poin, lebih dari 2 minggu = 1
poin)
5. Batuk berkepanjangan ( 3 minggu = 1 poin)
6. Pembesaran kelenjar di sekitar leher (ukuran lebih dari 1 cm, jumlah
lebih
dari 1 buah, tidak nyeri saat di tekan = 1 poin)
7. Pembengkakan tulang/sendi panggul, lutut (bila ada pembengkakan = 1 poin)
8. Foto rontgen (normal = 0 poin, suspect/curiga = 1 poin)
Anak dikatakan positif TB bila skor dari ke-8 parameter di atas adalah
MINIMAL 6 POIN.

Gejala Umum (non spesifik) TB Anak :
- demam lama/berulang > 2minggu tanpa sebab yang jelas (singkirkan dulu
kemungkinan ISK, tifoid, malaria,dll), bisa disertai keringat di malam hari.
Umumnya demamnya tidak terlalu tinggi.
- anoreksia/nafsu makan menurun disertai gagal tumbuh, penurunan BB, atau BB
tidak naik sama sekali 2 bulan berturut-turut
- batuk lama > 3 minggu dengan menyingkirkan kemungkinan penyebab lain (kalo
batuk berulang kemungkinan asma, batuk flu juga bisa lama tergantung daya
tahan
tubuh)
- diare kronik/tidak sembuh-sembuh
(sumber : Pedoman Nasional TB Anak 2005, UKK Pulmonologi PP IDAI)

Q & A Flek paru

sumber : milist sehat

18/03/2005
Q : Siang Ibu Purnamawati
Sebelumnya saya makasih banyak atas balasan email saya pada tgl 14 Febuari 2005 mengenai penyakit anak saya Batuk dan selesma kurun waktu lama
Untuk ibu ketahui keadaan kota Pekanbaru saat ini sungguh sangat tidak baik. Kabut dan asap ada dimana mana…
Untuk ibu ketahui pd tgl 1 Febuari saya kembali ke dokter spesialis anak sekalian ronsen karen batuk dan selesma yang tidak sembuh juga. Hasil ronsen menunjukkan adanya flek di paru paru dan adanya kelenjer getah bening di belakang telinga anak saya. Dokter tersebut juga mengatakan keadaan seperti anak saya ini memang lagi banyak dia tangani saat saat sekarang ini.
Dokter memberikan obat yang harus di makan selama 6 bulan, nama obatnya RIMCURE dgn dosis pemakaian 1 kali sehari 1 1/4 tablet di makan pada pagi hari sebelum makan pagi. Pemberian dosis obat 1 1/4 ini kata dokter disesuaikan dengan berat badan anak saya lebih kurang 12 kg.
Yang ingin saya tanyakan sama ibu :Apakah yang dilakukan dokter spesialis tersebut udah benar bu..?Apakah ada efek samping terhadap anak saya dari pemakaian obat dalam jangka waktu 6 bln atau lebih (jika fleknya di parunya belum hilang)… Misalnya : dapat menimbulkan penyakit yang berbahaya.Apakah benar bu, obat tersebut tidak boleh lupa makan, karena sampe lupa makan pengobataanya harus kembali dari semula. Hal ini saya tanyakan mengingat anak saya sangat sulit sekali dikasi obat. Mungkin dia trauma karena keseringan makan obat.
Saya rasa cukup sampai disini dulu email saya bu, maaf ya bu karena email saya kepanjangan dan semoga ibu mau mebalasnya. Terima kasih bu…
Wassalam dari saya,Dewi – Pekanbaru

A : Dear DewiThanks atas emailmuSaya agak prihatin membaca emailmu ini … Pertama, kalau kondisi lingkungan Riau saat ini sedang buruk, maka dapat dimengerti bila anakmu batuk pilek jangka lama. Kedua, obat yang diberikan kepada anakmu adalah obat TBC yang umumnya efek sampingnya kuat sekali terutama terhadap hati …Di lain pihak, kita tidak bisa mendiagnosis TBC pada anak berdasarkan foto ronsen. Seharusnya ada prosedur pemeriksaan lainnya seperti test Mantoux, lab darah dan mengkaji pertumbuhannya misalnya BBnya cenderung turun, anaknya sering demam sumeng. Ketiga, saya usul kamu second opinion ke DSA lain karena saya pribadi tidak melihat ada bukti bahwa anakmu sakit TBC. Keempat, saya selalu menekankan dan mengingatkan pada para orang tua bahwa dalam dunia kedokteran tidak pernah diajarkan suatu penyakit bernama flek paru. Ditext book kedokteran pun tidak ada istilah iniPemakaian istilah flek paru sangat menyesatkan dan sangat membodohi konsumen… seharusnya dokter bisa lebih tegas… TBC atau bukan
Nah… yang dinyatakan flek paru dalam bahasa kedokteran maksudnya infiltrat… ada lendir di paru-paru anakmu dan itu tidak mengherankan .. mungkin ia alergi terhadap kondisi Riau saat ini sehingga produksi lendirnya meningkat .. karena produksi lendirnya meningkat maka ia harus batuk agar lendirnya terlontar keluar dari saluran nafas dan tertelan …. Ahhh kalau saya … tidak akan saya berikan obatnya… observasi anakmu dan second opinion ya
wati

TUBERKULOSIS

sumber : situs IDAI

Diagnosis Tuberkulosis (TB)
Diagnosis Tuberkulosis Pada Orang Dewasa. Diagnosis TB paru pada orang dewasa dapat ditegakkan dengan ditemukannya BTA pada pemeriksaan dahak secara mikroskopis. Hasil pemeriksaan dinyatakan positif apabila sedikitnya dua dari tiga SPS BTA hasilnya positif. Bila hanya 1 spesimen yang positif perlu diadakan pemeriksaan lebih lanjut yaitu foto rontgen dada atau pemeriksaan spesimen SPS diulang. Kalau hasil rontgen mendukung TB, maka penderita diidagnosis sebagai penderita TB BTA positif. Kalau hasil rontgen tidak mendukung TB, maka pemeriksaan lain, misalnya biakan. Apabila fasilitas memungkinkan, maka dapat dilakukan pemeriksaan lain, misalnya biakan. Bila tiga spesimen dahak negatif, diberikan antibiotik spektrum luas (misalnya kotrimoksasol atau Amoksisilin) selama 1 ? 2 minggu. Bila tidak ada perubahan, namun gejala klinis tetap mencurigakan TB, ulangi pemeriksaan
dahak SPS : Kalau hasil SPS positif, didiagnosis sebagai penderita TB BTA positif. Kalau hasil SPS tetap negatif, lakukan pemriksaan foto rontgen dada, untuk
mendukung diagnosis TB.
- Bila hasil rontgen mendukung TB, diagnosis sebagai penderita TB BTA
negatif rontgen positif.
- Bila hasil ropntgen tidak mendukung TB, penderita tersebut bukan TB.
====================================================

Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkolosis.

(sumber : Pedoman Nasional TB Anak 2005, UKK Pulmonologi PP IDAI)

Pengobatan PEncegahan untuk Anak “semua anak yg tinggal serumah atau kontak erat dengan penderita TBC BTA positif beresiko lebih besar untuk terinfeksi. Infeksi pada anak ini dapat berlanjut menjadi penyakit tuberkulosis sebagian menjadi penyakit yang lebih serius yg dapat menimbulkan kematian.
Pada semua anak, terutama balita yg tinggal serumah atau kontak erat dengan penderita TBC BTA POsitif perlu dilakukan pemeriksaan :
1. Bila anak mempunyai gejala2 spt TBC harus dilakukan pemeriksaan lebih
lanjut sesuai dengan alur deteksi dini TBC anak.
2. Bila anak balita tidak mempunyai gejala seperti TBC, harus diberikan
pengobatan pencegahan dengan Isoniasid(INH) dengan dosis 5 mg per kg berat
badan per hari selama 6 bulan. Bila anak tersebut belum pernah mendapat
imunisasi BCG perlu diberi BCG setelah pengobatan pencegahan INH selesai.”

Diagnosa TB
pada anak yang paling logis, menurut kelompok kerja TBC anak (IDAI, DEPKES &
WHO 2004), adalah dengan sistem skoring. Orang tua bisa melakukan sendiri kok dalam
menghitung skornya, ada 8 parameter sebagai berikut :
1. Kontak dengan penderita TB (tidak jelas = 0 poin, hanya laporan keluarga atau kontak dengan penderita yg sudah berobat = 1 poin, kontak dengan penderita TB aktif = 3 poin)
2. Uji Tuberkolin/ Tes Mantoux (negatif = 0 poin, positif = 3)
3. Berat badan anak berdasarkan KMS (dibawah garis merah atau riwayat BB turun atau tidak naik 2bln berturut-turut = 1 poin, secara klinis gizi buruk = 2
poin)
4. Demam tanpa sebab jelas (tidak ada = 0 poin, lebih dari 2 minggu = 1 poin)
5. Batuk berkepanjangan ( 3 minggu = 1 poin)
6. Pembesaran kelenjar di sekitar leher (ukuran lebih dari 1 cm, jumlah lebih dari 1 buah, tidak nyeri saat di tekan = 1 poin)
7. Pembengkakan tulang/sendi panggul, lutut (bila ada pembengkakan = 1 poin)
8. Foto rontgen (normal = 0 poin, suspect/curiga = 1 poin)
Anak dikatakan positif TB bila skor dari ke-8 parameter di atas adalah MINIMAL 6 POIN.

Gejala Umum (non spesifik) TB Anak :
- demam lama/berulang > 2minggu tanpa sebab yang jelas (singkirkan dulu
kemungkinan ISK, tifoid, malaria,dll), bisa disertai keringat di malam hari.
Umumnya demamnya tidak terlalu tinggi.
- anoreksia/nafsu makan menurun disertai gagal tumbuh, penurunan BB, atau BB
tidak naik sama sekali 2 bulan berturut-turut
- batuk lama > 3 minggu dengan menyingkirkan kemungkinan penyebab lain (kalo
batuk berulang kemungkinan asma, batuk flu juga bisa lama tergantung daya
tahan
tubuh)
- diare kronik/tidak sembuh-sembuh
(sumber : Pedoman Nasional TB Anak 2005, UKK Pulmonologi PP IDAI)

Mendiagnosa TBC Pada Anak

sumber : http://arifianto.blogspot.com/2006/03/bagaimana-dokter-membodohi-pasien.html

Cukup sukar mendiagnosis TB pada Anak, dibandingkan dengan pada dewasa. Dengan ilmu kedokteran yang terus berkembang, dokter dan dokter spesialis anak yang tidak memperbaharui ilmunya, seringkali menggunakan perangkat yang tidak tepat dalam mendiagnosis TB pada Anak. Berlandaskan pada keluhan tidak spesifik (batuk lama, padahal seringkali batuk akibat alergi, bukan infeksi, berat badan sukar naik, dan demam hilang-timbul), ditambah gambaran Rontgen penuh ‘flek’ (sukar membedakan gambarannya dengan batuk-pilek biasa), langsung saja dokter mendiagnosis TB dan mengobatinya. Padahal obat TB Anak yang terdiri atas tiga kombinasi obat berbeda mempunyai efek samping, dan harus dimetabolisme di hati dan ginjal. Jika penggunaannya tidak tepat, bisa menimbulkan efek samping yang lebih buruk dibandingkan keuntungannya minum obat.

Setidaknya dokter di Indonesia bisa menggunakan panduan berikut yang mudah diakses di situs GERDUNAS TBC (Gerakan Terpadu Penanggulangan TBC Nasional) mengenai alur deteksi dini dan rujukan TB pada Anak.

Hal-hal yang mencurigakan TBC :

1. Mempunyai sejarah kontak erat dengan penderita TBC yang BTA positif
2. Terdapat reaksi kemerahan lebih cepat (dalam 3-7 hari) setelah imunisasi dengan BCG.
3. Berat badan turun tanpa sebab jelas atau tidak naik dalam 1 bulan meskipun sudah dengan penanganan gizi yang baik (failure to thrive).
4. Sakit dan demam lama atau berulang, tanpa sebab yang jelas.
5. Batuk-batuk lebih dari 3 minggu.
6. Pembesaran kelenjar limfe superfisialis yang spesifik.
7. Skrofuloderma.
8. Konjungtivitis fliktenularis.
9. Tes tuberkulin yang positif (>10 mm).
10. Gambaran foto rontgen sugestif TBC.

Dengan setidaknya tiga dari gejala di atas, seorang anak boleh memulai terapi obatnya.

΄Flek Paru΄ Istilah yang Rancu
Informasi Singkat Tentang Tuberkulosis (TB) Anak

Penulis: Darmawan Budi S

Banyak sekali anak-anak yang divonis sebagai ΄flek paru΄ dan harus menjalani ΄hukuman΄ minum obat jangka lama, paling tidak hingga 6 bulan. Jika ditanyakan kepada orangtuanya apa yang dimaksud flek paru ? Biasanya orang tua pasien tidak tahu, Bila ditanya lebih lanjut apakah anaknya mendapat obat yang membuat air seninya berwarna merah ? Jika jawabnya “Ya” kemungkinan besar yang dimaksudkan sebagal ΄flek paru΄ adalah Tuberkulosis / Tbc paru atau saat ini disebut TB saja.

Apakah semua gambaran “flek” pada paru berarti TB ?
Tidak !!! Semua penyakit di paru (dan itu banyak sekali jenisnya) dapat memberi gambaran ΄flek΄ yang tidak dapat dibedakan dengan TB. Bahkan orang sehatpun pada Rontgen parunya akan ada gambaran bercak-bercak putih yang istilah medisnya infiltrat. Sebagai contoh Mike Tyson jika dironsen juga ada ΄flek΄nya, tapi dia sama sekali tidak Sakit TB. Jadi tidak bisa mendiagnosis Sakit TB hanya dari Rontgen saja !

Gambaran Rontgen seperti apa yang menunjukkan adanya TB paru ?
TB paru dapat memberikan gambaran infiltrat yang lebih khusus pada foto Rontgen, istilahnya gambaran yang sugestif TB. Misalnya gambaran miller (bercak kecil putih merata di seluruh paru), atau gambaran atelektasis (gambaran putih padat akibat pengerutan sebagian paru), dll. Sekalipun gambarannya sugestif TB, foto Rontgen saja tidak bisa dijadikan dasar tunggal diagnosis TB, tetap harus disertai gejala dan tanda sakit TB, dan pemeriksaan penunjang lain.

Jadi diperlukan pemeriksaan lain, apakah itu ?
Ya, pertama-tama jika seorang anak dicurigai Sakit TB harus dibuktikan dulu adanya Infeksi TB (adanya kuman TB dalam tubuh seseorang). Caranya dengan uji tuberkulin atau yang lazim dikenal sebagai Mantoux test. Jika hasilnya negatif berarti tidak ada infeksi, dan bila infeksinya saja tidak ada bagaimana mungkin bisa sakit TB.

Jika hasil uji Mantoux positif apakah berarti sakit TB ?
Belum tentu. Hasil uji Mantoux positif hanya menunjukkan adanya Infeksi TB, bukan menandakan pasiennya Sakit TB. Jadi harus dibedakan antara Infeksi TB dengan Sakit TB. Orang dewasa di Indonesia umumnya sudah terinfeksi TB tanpa sakit TB, sehingga jika dilakukan uji Mantoux pada orang dewasa di Indonesia maka umumnya akan positif.

Ada yang mengatakan uji Mantoux bisa negatif padahal ada Sakit TB, apa benar ?
Benar. Uji Mantoux dapat memberikan hasil negatif palsu yang disebut anergi. Anergi dapat dijumpai pada keadaan tertentu misalnya gizi buruk, Sakit TB yang berat, tifus yang berat, campak, cacar air, menggunakan obat steroid jangka lama, dan berbagai keadaan lain yang menyebabkan penekanan sistem imun (kekebalan) tubuh, Jika tidak ada salah satu keadaan tersebut sangat kecil kemungkinannya terjadi anergi.

Bagaimana dengan pemeriksaan darah ?
Biasanya pemeriksaan darah yang dimaksudkan untuk TB adalah LED (laju endap darah) dan hitung jenis limfosit, Kedua pemeriksaan ini nilai diagnostiknya untuk TB rendah, jauh lebih rendah dibanding foto Rontgen, sehingga hanya digunakan sebagai data tambahan.

Adakah pemeriksaan darah lain untuk TB ?
Ada, yaitu pemeriksaan PCR dan serologis, seperti PAP TB, Mycodot, ICT dll. Namun semua pemeriksaan itu tidak lebih unggul daripada uji Mantoux, Semua pemeriksaan itu jika positif juga hanya menunjukkan adanya Infeksi TB, tidak bisa untuk menentukan ada tidaknya Sakit TB.

Lalu apa bedanya Sakit TB dengan Infeksi TB ?
Jika orang (dewasa atau anak) mengalami Sakit TB akan menunjukkan gejala dan tanda Sakit TB. Sedangkan jika hanya terinfeksi TB tanpa sakit TB tidak akan ada gejala dan tanda sakit TB.

Apa gejala dan sakit TB pada anak ?
Gejala dan tanda Sakit TB pada anak sangat luas variasinya, mulal dari yang sangat ringan sampai sangat berat. Gejala dan tanda yang mengawali kecurigaan Sakit TB pada anak di antaranya adalah MMBB (Masalah Makan dan Berat Badan), demam lama atau berulang, gampang / sering tertular sakit batuk pilek, adanya benjolan yang banyak di leher, diare yang sulit sembuh dll. TB juga dapat menyerang berbagai organ di seluruh tubuh sehingga bisa timbul gejala pincang jika mengenai sendi panggul atau lutut, benjolan banyak di leher, bisa juga terjadi kejang jika mengenai susunan saraf pusat / otak.

Apakah batuk lama atau berulang juga merupakan gejala Sakit TB ?
Batuk lama atau berulang merupakan salah satu gejala utama Sakit TB pada orang dewasa. Pada anak batuk lama / berulang dapat merupakan gejala Sakit TB, tapi bukan gejala utama. Pada anak ada penyakit lain yang gejala utamanya batuk lama / berulang yaitu asma. Banyak kasus asma pada anak yang keliru divonis TB. Asma dengan TB merupakan dua penyakit yang sama sekali berbeda namun sering dikelirukan.

Apakah jika ada tersebut berarti sakit TB ?
Belum tentu. Berbagai gejala tadi bukan ΄monopoli΄ Sakit TB, tapi dapat juga disebabkan oleh berbagai penyakit lain. Itulah sebabnya uji Mantoux sangat penting untuk menentukan dulu apakah ada Infeksi TB atau tidak, Jika tidak ada Infeksi TB, berarti berbagai gejala tadi disebabkan oleh penyakit lain.

Sebenarnya apa penyebab TB, apakah penyakit keturunan atau penyakit menular ?
TB bukan penyakit keturunan, tapi penyakit menular. TB menupakan salah satu bentuk penyakit infeksi. Penyakit infeksi adalah penyakit yang disebabkan masuk dan berkembangbiaknya kuman dalam tubuh seseorang. Kuman adalah makhluk hidup yang sangat kecil sekali (mikro onganisme = mikroba = jasad renik) yang hanya dapat dilihat dengan mikroskop. Ada jutaan jenis kuman salah satu di antaranya adalah kuman TB.

Bagaimana cara penularannya ?
Ada beberapa cara penularan, tapi yang paling sering adalah melalui saluran respiratonik (pernapasan). Pasien TB dewasa dengan TB paru, jika batuk, bersin, menyanyi, atau bicara akan menghembuskan ribuan kuman TB ke udara di sekitarnya. Bila kuman ini terhirup oleh orang lain, maka orang tersebut dapat terinfeksi.

Apakah jika kita berhubungan dengan pasien TB paru dewasa, pasti akan tertular ?
Belum pasti tertular. Banyak faktor yang berperan untuk terjadinya infeksi TB. Faktor sumber penularan, lingkungan, dan faktor daya tahan tubuh. Tingkat eratnya hubungan (kontak) juga sangat berperan. Makin erat kontak (dose contact) dan makin lama, makin besar risiko tertular.

Apakah anak yang sakit TB menular dan perlu dipisahkan dari orang lain ?
Tidak ! Yang menular adalah pasien TB paru dewasa, pasien TB paru anak tidak menular sehingga tidak perlu dipisahkan apalagi dikucilkan. Yang perlu diingat, jika seorang anak terinfeksi TB, berarti ada orang dewasa sebagai sumber penularannya yang perlu dicari dan kemudian diobati agar tidak menulari orang lain lagi.