Tata Laksana Demam Tifoid

sumber : http://www.sehatgroup.web.id

Pendahuluan
Demam Tifoid adalah penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh bakteri Salmonella enterica serotype Typhi (S typhi). , Sementara Demam Paratifoid, penyakit yang gejalanya mirip namun lebih ringan dari Demam Tifoid disebabkan oleh S paratyphi A,B atau C.2 Bakteri S typhi hanya menginfeksi manusia. Orang biasanya menderita penyakit ini setelah memakan atau meminum makanan atau minuman yang terkontaminasi oleh kotoran (feses) yang mengandung S typhi. , ,
Demam Tifoid merupakan penyakit endemik (penyakit yang selalu ada di masyarakat sepanjang waktu walaupun dengan angka kejadian yang kecil) di Asia Tenggara termasuk Indonesia. Insiden infeksi Salmonella tertinggi terjadi pada usia 1-4 tahun. Angka kematian lebih tinggi pada bayi, orang tua dan pada orang dengan sistem kekebalan tubuh yang menurun (HIV, keganasan).3,4 Studi terakhir dari Asia Tenggara mendapatkan bahwa insidens tertinggi terjadi pada anak di bawah usia 5 tahun.2 Kasus yang berujung pada kematian tidak lebih dari 1%, meskipun demikian, angka ini bervariasi di seluruh dunia. Di Pakistan dan Vietnam, dari pasien yang dirawat di rumah sakit, angkanya kurang dari 2 %, sementara di beberapa area di Papua Nugini dan Indonesia, angkanya bisa mencapai 30-50 %. Hal ini sebagian besar disebabkan karena tertundanya pemberian antibiotik yang tepat.4
Patogenesis4
Untuk menimbulkan penyakit, dibutuhkan jumlah tertentu S typhi yang masuk ke dalam
Baca lebih lanjut

DEMAM DENGAN RUAM KULIT Untuk Dokter

sumber : http://www.sehatgroup.web.id

8/5/2008
BATASAN
Demam yang disertai dengan munculnya ruam kulit di tubuh
PENYEBAB
Umumnya penyebabnya adalah infeksi virus tetapi ada juga sebagian kecil yang disebabkan oleh infeksi bakteri
1. Infeksi virus:
o Campak (ruam dan gejala klinis sangat spesifik
o Rubela, Roseola Infantum (ringan, ruam tidak khas)
o Fifth disease (erythema infectiosum)
o Demam berdarah dengue
o Enterovirus, virus influensa dan para influensa, jarang menimbulkan ruam
2. Infeksi bakteri: tifus dan meningokokus, scarlet fever (sudah sangat jarang sejak 40 tahun terkahir); tidak dibahas pada SPM ini.

TATALAKSANA
Demam dengan ruam umumnya disebabkan oleh infeksi dan umumnya tidak memerlukan terapi khusus kecuali pada campak yang berkomplikasi (lihat SPM campak).
Terapi ruam pada infeksi virus
• Tenangkan orangtua dan berikan penjelasan
• Observasi perilaku dan tanda vital anak
• Tingkatkan asupan cairan
• Rawat inap apabila ada kegawatdaruratan atau komplikasi misalnya ampak berkomplikasi menjadi pneumonia berat, GE dangan dehidrasi berat atau OMA.
• Tidak ada obat apapun yang harus diberikan termasuk suplemen atau vitamin, bedak atau lotion.
dr. Purnamawati

DEMAM – SAKIT BERAT (Rawat Inap) Untuk Dokter

sumber : http://www.sehatgroup.web.id

8/6/2008

BATASAN
Demam dengan sakit berat adalah demam dengan kegawat daruratan (sesak napas, dehidrasi berat, syok, toksik, kesadaran menurun, kejang lama dan atau berulang) atau gejala yang perlu mendapat perhatian khusus dan segera.

Skrining anak demam:

RISIKO RENDAH

RISIKO SEDANG

RISIKO TINGGI

Warna

Kulit, bibir, lidah -Normal

Pucat (laporan orangtua)

Pucat/mottled/biru

Aktivitas

- Respons normal thdp rangsang sosial

- Tenang, puas, bahagia, senyum

- Compos mentis

- Menangis normal kuat atau tidak menangis

- Respons rangsang social – abnormal

- Hanya bisa bangun setelah stimulasi agak lama

- Aktivitas menurun

- Tidak senyum

- Tidak ber-respons terhadap rangsang social

- Tampak sakit berat

- Tidak bangun; kalau dirangsang hanya bisa bangun sekejap

- Menangis lemah, atau high pitched atau terus menerus

Respirasi

- Tidak ditemukan gejala seperti di boks jingga dan merah

- Cuping hidung

- Takipnea:
FN > 50x/men usia 6 -12 bulan
FN > 40x/men usia > 12 bulan

- Saturasi O2 <= 95%

- Ronki

- Merintih

- Takipnea
FN > 60x/men

- Chest indrawing sedang atau berat

Hidrasi

- Kulit dan mata normal

- Membran mukosa basah

- Mukosa kering

- Bayi tak makan/minum

- Cubit Kulit kembali >= 3 detik

- Produksi urin menurun

- Turgor kulit menurun

Lain-lain

- Tak ditemukan gejala di boks jingga, merah

- Demam = 5 hari

- Edem tungkai, sendi

- Tak menggunakan ekstremitasnya

- Benjolan baru > 2 cm

- Usia 0-3 bulan, suhu = 38°C

- Usia 3 – 6 bulan, suhu = 39°C

- Ruam

- Ubun ubun membonjol

- Kaku kuduk

- Status epileptikus

- Gejala neurologis fokal

- Kejang fokal

- Muntah empedu

PENYEBAB
Penyebab sepsis, meningitis, pneumonia, bisa dilihat di SPM masing-masing

TATALAKSANA

USIA

DESKRIPSI

TATALAKSANA

< 1 bln (atau < 3.5 kg)

Temperatur rektal > 38°C

- Sepsis work-up dan riwayat inap untuk antibiotik empiris*

1 – 3 bulan

Temperatur rektal > 38°C

- Diskusikan dengan konsultan

- Singkirkan sepsis (Sepsis workup): darah tepi lengkap/film, kultur darah, kultur urin; CXR (hanya bila ada gejala respirasi) + LP

- Bila sebelumnya sehat, anak tampak baik, leuko 5,000 – 15,000, urin mikroskopi, CXR (jika dilakukan) bagus, dan CSF (jika dilakukan LP) negatif, pulangkan.

- Review dalam 12 jam atau lebih awal jika deteriorasi.

Jika anak tampak tak baik atau kriteria di atas tidak semuanya memuaskan, rawat inap untuk observasi +/- i.v. antibiotics* empiris

3 bulan – 3 tahun

Temperatur >38.9°C dan jelas ada fokus infeksi

Tak sakit berat

Tatalaksanai sesuai SPM terkait

Anak sakit berat, unwell

- Diskusi – konsultan
– Investigasi yang tepat sesuai fokus klinis, rawat untuk th/

3 bulan – 3 tahun

Temperatur >38.9°C
tidak jelas ada fokus
infeksi

- Kultur urin jika < 6 bulan
– Pulangkan dengan th/ simptomatis
– Buatkan janji untuk diperiksa ulang dalam waktu 24 jam, atau kurang jika deteriorasi

child looks miserable but is still relatively alert, interactive and responsive

- Diskusi dengan konsultan sebelum melakukan suatu investigasi
(Paling tidak kultur urin jika usia < 6 bulan)

- Sepsis workup lengkap: darah tepi lengkap, kultur darah, kultur urin, CXR (bila ada gangguan napas), LP. Catatan: JANGAN lakukan LP pada anak dengan penurunan kesadaran atau gejala neurologis foal (lihat Lumbar puncture guideline)

- Rawat inap untuk observasi +/- i.v. antibiotics*

Kultur darah – Positif
Hubungi keluarga dan segera lakukan penilaian klinis ulangan:

Baca lebih lanjut

Tata Laksana Demam (Rawat Jalan) Untuk Dokter

sumber : http://www.sehatgroup.web.id

BATASAN
Tubuh kita memiliki hipotalamus anterior di otak yang bertugas mengatur agar suhu tubuh stabil (termostat) yaitu berkisar 37 +/- 1 derajat selsius.
Demam adalah kondisi dimana otak mematok suhu di atas seting normal yaitu di atas 38C. Namun demikian, beberapa buku menyatakan bahwa demam adalah suhu tubuh > 38.5C untuk waktu minimal 24 jam.
Normal Demam Rendah Demam Sedang Demam Tinggi
Ketiak 37.2°C – 38.3°C 38.3°C – 39.5°C > 39.5°C
Oral 37.7°C – 38.8°C 38.8°C – 40°C > 40°C
Catatan:
Suhu diukur di
• Bayi: suhu rektal
• Anak sampai balita: suhu rektal, ketiak, telinga
• Anak besar: suhu mulut
Suhu ketiak (aksila) sekitar 0,5 sampai 0,8 derajat lebih rendah dari suhu rektal,
Pengukuran selama minimal 1 menit.
PENYEBAB DEMAM
Demam BUKAN penyakit. Hal pertama yang harus dilakukan ketika anak demam, cari PENYEBABnya. Pada umumnya keadaan umum baik. Sangat penting untuk melakukan observasi keadaan umum, perilaku anak dan gejala kegawat daruratan sebagai berikut:
• Sesak napas
• Penurunan kesadaran
• Kaku kuduk
• Kejang lama
• Dehidrasi berat
• Demam tinggi (hiperpireksia)
Infeksi virus. Pada anak, penyebab utama demam adalah infeksi virus khususnya di saluran napas atas dan keadaan umum (tanda vital) baik. Demam yang disertai sariawan, ruam cacar, atau ruam lainnya yang mudah dikenali, virus sebagai penyebab demam dapat segera disimpulkan tanpa membutuhkan pemeriksaan khusus. Demam ringan juga dapat ditemukan pada anak dengan batuk pilek (common colds), dengan rinovirus salah satu penyebab terseringnya. Batuk pilek dengan demam tinggi (flu) disebabkan oleh virus juga tidak membutuhkan pemeriksaan khusus. Penyebab lain demam pada anak adalah enteritis (peradangan saluran cerna) yang disebabkan terutama oleh rotavirus.
Infeksi bakteri. umumnya infeksi saluran kemih (ISK) dan yang paling berisiko adalah yang berusia kurang dari 6 bulan. Program imunisasi HiB berhasil menurunkan angka kejadian meningitis bakterial secara bermakna. S. pneumoniae (penyebab utama infeksi bakteri yang
Baca lebih lanjut

Tata Laksana Alergi Makanan

sumber : http://www.sehatgroup.web.id

Definisi
Istilah alergi makanan (food allergy) adalah bagian dari terminologi yang lebih luas, yaitu hipersensitivitas makanan (food hypersensitivity), diterjemahkan sebagai semua reaksi tak terduga yang timbul berkaitan dengan makanan, dan dapat dibedakan atas:
1. Alergi makanan (food allergy), yang reaksinya berhubungan dengan mekanisme imunologis, dan diperantarai oleh imunoglobulin E (IgE), ataupun non IgE.
2. Intoleransi makanan (food intolerance), yang tidak diperantarai oleh mekanisme imunologis. Intoleransi terjadi akibat bahan-bahan yang terkandung dalam makanan seperti toksin/racun (misalnya histamin pada keracunan makanan laut/ikan), atau penggunaannya secara farmakologis (misalnya tiramin dalam keju atau anggur merah). Reaksi ini terjadi pada orang yang sangat sehat sekalipun, jika mengkonsumsi bahan makanan tadi dalam dosis besar. Berbeda dengan alergi makanan yang terjadi meskipun dosis makanan cukup kecil. Kemungkinan lain penyebab intoleransi makanan adalah adanya penyakit metabolisme bawaan (misalnya defisiensi enzim laktase yang menyebabkan intoleransi laktosa). Intoleransi
Baca lebih lanjut

Kejang Demam

sumber : http://www.sehatgroup.web.id

Apakah kejang demam itu ?
Kejang demam adalah kejang yang terjadi pada saat seorang bayi atau anak mengalami demam tanpa infeksi sistem saraf pusat (1,2). Hal ini dapat terjadi pada 2-5 % populasi anak. Umumnya kejang demam ini terjadi pada usia 6 bulan – 5 tahun dan jarang sekali terjadi untuk pertama kalinya pada usia 3 tahun.
Tidak ada nilai ambang suhu untuk dapat terjadinya kejang demam (2). Selama anak mengalami kejang demam, ia dapat kehilangan kesadaran disertai gerakan lengan dan kaki, atau justru disertai dengan kekakuan tubuhnya. Kejang demam ini secara umum dapat dibagi dalam dua jenis yaitu (1,2):
• Simple febrile seizures : kejang menyeluruh yang berlangsung 15 menit, dan atau berulang dalam waktu singkat (selama demam berlangsung).
Risiko berulangnya kejang demam
Simple febrile seizures tidak meningkatkan risiko kematian, kelumpuhan, atau retardasi mental. Risiko epilepsi pada golongan ini adalah 1%, hanya sedikit lebih besar daripada
Baca lebih lanjut

Tata Laksana Jaundice

sumber : http://www.sehatgroup.web.id

Jaundice/Kuning

1/15/2007

Apakah jaundice itu?

Jaundice adalah warna kekuningan yang didapatkan pada kulit dan lapisan mukosa (seperti bagian putih mata) sebagian bayi baru lahir.1 Dalam bahasa Indonesia hal ini lebih sering disebut sebagai ‘bayi kuning’ saja. Istilah lain yang kadang digunakan adalah ikterik. Hal ini dapat terjadi pada bayi dengan warna kulit apapun.2

Bagaimana jaundice terjadi?

Warna kekuningan terjadi karena penumpukan zat kimia yang disebut bilirubin.2 Sel darah merah manusia memiliki waktu hidup tertentu. Setelah waktu hidupnya selesai, sel darah merah akan diuraikan menjadi beberapa zat, salah satunya bilirubin.1 Bilirubin ini akan diproses lebih lanjut oleh hati untuk kemudian dibuang sebagai empedu. Pada janin, tugas tersebut dapat dilakukan oleh hati ibu.2 Setelah lahir, tugas tersebut harus dilakukan sendiri oleh hati bayi yang belum cukup siap untuk memproses begitu banyak bilirubin sehingga terjadilah penumpukan bilirubin.1

Apakah jaundice berbahaya?

Sebagian besar jaundice tidak berbahaya. Namun pada situasi tertentu di mana kadar bilirubin menjadi sangat tinggi, kerusakan otak dapat terjadi.2 Hal ini terjadi karena walaupun secara normal bilirubin tidak dapat melewati pembatas jaringan otak dan aliran darah, pada kadar yang sangat tinggi pembatas tersebut dapat ditembus sehingga bilirubin meracuni jaringan otak.3 Keadaan akut pada minggu-minggu awal pasca kelahiran di mana terjadi gangguan otak karena keracunan bilirubin ini disebut sebagai ‘acute bilirubin encephalopathy’.4 Bila keadaan tersebut tidak diatasi, kerusakan otak dapat berlanjut menjadi kronik dan permanen menjadi suatu kondisi yang disebut ‘kernicterus’. Inilah alasan mengapa bayi baru lahir harus diperiksa dengan teliti untuk menilai ada tidaknya jaundice dan ditangani secara tepat jika ditemukan adanya jaundice.2
Bilirubin juga dapat menjadi sangat tinggi pada infeksi yang berat, penyakit hemolisis autoimun (penghancuran sel darah merah oleh sistem kekebalan tubuh sendiri), atau kekurangan enzim tertentu.

Bagaimana penilaian jaundice dilakukan?

Penilaian jaundice dilakukan pada bayi baru lahir berbarengan dengan pemantauan tanda-tanda vital (detak jantung, pernapasan, suhu) bayi, minimal setiap 8-12 jam.4 Salah satu tanda jaundice adalah tidak segera kembalinya warna kulit setelah penekanan dengan jari. Cara menilai jaundice membutuhkan cahaya yang cukup, misalnya dengan kadar terang siang hari atau dengan cahaya fluorescent.2 Jaundice umumnya mulai terlihat dari wajah, kemudian dada, perut, lengan, dan kaki seiring dengan peningkatan kadar bilirubin. Bagian putih mata juga dapat tampak kuning. Jaundice lebih sulit dinilai pada bayi dengan warna kulit gelap. Karena itu penilaian jaundice tidak dapat hanya didasarkan pada pengamatan visual. Jika ditemukan tanda jaundice pada 24 jam pertama setelah lahir, pemeriksaan kadar bilirubin harus dilakukan. Demikian pula jika jaundice tampak terlalu berat untuk usia tertentu bayi atau ada keraguan mengenai beratnya jaundice dari pengamatan visual.
Pemeriksaan kadar bilirubin dapat dilakukan melalui kulit (TcB: Transcutaneus Bilirubin) atau dengan darah (TSB: Total Serum Bilirubin).4 Kadar bilirubin yang diperoleh dari pemeriksaan ini dapat menggambarkan besar kecilnya risiko yang dihadapi si bayi, seperti terilustrasikan pada nomogram 1.

Bagaimana membedakan berbagai jenis jaundice?

Jaundice fisiologis (normal) dapat terjadi pada 50% bayi baru lahir.5 Tipe jaundice ini umumnya diawali pada usia 2-3 hari, memuncak pada hari 4-5, dan menghilang dengan sendirinya pada usia 2 minggu.
Jaundice karena ketidakcocokan rhesus atau golongan darah ibu dan bayi umumnya terjadi dalam 24 jam pertama setelah lahir.5 Tipe jaundice ini memiliki risiko besar untuk mencapai kadar bilirubin yang sangat tinggi.
Ketidakcocokan rhesus ibu dan janin dapat terjadi jika ibu memiliki rhesus negatif sementara si janin memiliki rhesus positif. Di Indonesia, hal ini relatif jarang terjadi karena sebagian besar penduduk Indonesia memiliki rhesus positif. Di negara dengan proporsi rhesus negatif yang relatif besar, beberapa pemeriksaan dilakukan untuk mempersiapkan ibu dan bayi menghadapi kemungkinan ketidakcocokan rhesus. Setiap ibu hamil menjalani pemeriksaan golongan darah dan tipe rhesus.4 Jika pemeriksaan tersebut tidak dilakukan dalam kehamilan atau jika ibu memiliki rhesus negatif, maka saat kelahiran dilakukan pemeriksaan pada darah bayi untuk mengetahui golongan darah, rhesus, dan ada tidaknya antibodi yang dapat menyerang sel darah merah bayi.

Apakah ASI berhubungan dengan jaundice?

Jaundice lebih sering terjadi pada bayi yang memperoleh ASI dibanding bayi yang memperoleh susu formula. Ada dua macam jaundice yang dapat terjadi sehubungan dengan ASI:

  • Breastfeeding jaundice (5-10% bayi baru lahir)5: Hal ini terjadi pada minggu pertama setelah lahir pada bayi yang tidak memperoleh cukup ASI.6 Bilirubin akan dikeluarkan dari tubuh dalam bentuk empedu yang dialirkan ke usus. Selain itu, empedu dapat terurai menjadi bilirubin di usus besar untuk kemudian diserap kembali oleh tubuh. Jika bayi tidak memperoleh cukup ASI, gerakan usus tidak banyak terpacu sehingga tidak banyak bilirubin yang dapat dikeluarkan sebagai empedu. Dan bayi yang tidak memperoleh cukup ASI tidak mengalami buang air besar yang cukup sering sehingga bilirubin hasil penguraian empedu akan tertahan di usus besar dan diserap kembali oleh tubuh.7 Selain itu kolostrum yang banyak terkandung pada ASI di hari-hari awal setelah persalinan memicu gerakan usus dan BAB. Karena itu, jika Anda menyusui, Anda harus melakukannya minimal 8-12 kali per hari dalam beberapa hari pertama.4 Dan penting untuk diperhatikan bahwa tidak pernah ada alasan untuk memberikan air atau air gula pada bayi untuk mencegah kenaikan bilirubin.

Untuk menilai apakah bayi telah memperoleh asupan ASI yang cukup, ada beberapa hal yang dapat diperhatikan:4

    • Bayi yang memperoleh ASI tanpa suplemen apapun akan mengalami berkurangnya berat badan maksimal (
    • Bayi yang memperoleh cukup ASI akan BAK dengan membasahi seluruh popoknya 4-6 kali per hari dan BAB 3-4 kali pada usia 4 hari. Pada usia 3-4 hari, feses bayi harus telah berubah dari mekonium (warna gelap) menjadi kekuningan dengan tekstur lunak.
  • Breastmilk jaundice (1% bayi baru lahir): Hal ini terjadi dalam akhir minggu pertama atau awal minggu kedua setelah lahir.6 Sebagian kecil ibu memiliki suatu zat dalam ASI mereka yang dapat menghambat pengolahan bilirubin oleh hati.6,7 Keadaan ini tidak memerlukan penghentian pemberian ASI karena tipe jaundice ini ringan dan sama sekali tidak pernah menimbulkan kernicterus atau bahaya lainnya. Tipe jaundice ini hanya memiliki sedikit sekali kenaikan bilirubin dan akan menghilang seiring dengan makin matangnya fungsi hati bayi pada usia 3-10 minggu. Secara umum, jaundice karena sebab apapun tidak pernah merupakan alasan untuk menghentikan pemberian ASI.

Kapan bayi harus diperiksa setelah meninggalkan RS/RB?

Sebelum meninggalkan RS/RB, risiko bayi mengalami hiperbilirubinemia harus dinilai. Penilaian ini oleh American Academy of Pediatrics disarankan dengan melakukan pengukuran kadar bilirubin (TSB atau TcB), penilaian faktor risiko, atau keduanya. Yang merupakan faktor risiko adalah:4

Faktor risiko mayor:

  • TSB atau TcB di high-risk zone
  • Jaundice dalam 24 jam pertama
  • Ketidakcocokan golongan darah atau rhesus
  • Penyakit hemolisis (penghancuran sel darah merah), misal: defisiensi G6PD yang dibutuhkan sel darah merah untuk dapat berfungsi normal
  • Usia gestasi 35-36 minggu
  • Riwayat terapi cahaya pada saudara kandung
  • Memar yang cukup berat berhubungan dengan proses kelahiran, misal: pada kelahiran yang dibantu vakum
  • Pemberian ASI eksklusif yang tidak efektif sehingga tidak mencukupi kebutuhan bayi, ditandai dengan penurunan berat badan yang berlebihan
  • Ras Asia Timur, misal: Jepang, Korea, Cina

Faktor risiko minor:

  • TSB atau TcB di high intermediate-risk zone
  • Usia gestasi 37-38 minggu
  • Jaundice tampak sebelum meninggalkan RS/RB
  • Riwayat jaundice pada saudara sekandung
  • Bayi besar dari ibu yang diabetik
  • Usia ibu ≥ 25 tahun
  • Bayi laki-laki

Jika tidak ditemukan satu pun faktor risiko, risiko jaundice pada bayi sangat rendah.
Pemeriksaan bayi pertama kali setelah meninggalkan RS/RB adalah pada usia 3-5 hari karena pada usia inilah umumnya bayi memiliki kadar bilirubin tertinggi.4 Secara detail, jadwal pemeriksaan bayi setelah meninggalkan RS/RB adalah sebagai berikut:

  • Jika bayi meninggalkan RS/RB
  • Jika bayi meninggalkan RS/RB pada usia antara 24 – 47,9 jam à pemeriksaan pada usia 96 jam (4 hari)
  • Jika bayi meninggalkan RS/RB pada usia antara 48 – 72 jam à pemeriksaan pada usia 120 jam (5 hari)

Pemeriksaan yang dilakukan harus meliputi:4

  • Berat badan bayi dan perubahan dari berat lahir
  • Kecukupan asupan ASI/susu formula
  • Pola BAK dan BAB
  • Ada tidaknya jaundice

Jika ada keraguan mengenai penilaian derajat jaundice, pemeriksaan kadar bilirubin harus dilakukan.4 Jika ada satu atau lebih faktor risiko, pemeriksaan setelah meninggalkan RS/RB dapat dilakukan lebih awal.
Selain pemeriksaan kadar bilirubin, penyebab jaundice juga harus dicari.4 Misalnya dengan memeriksa kadar bilirubin terkonjugasi dan tidak terkonjugasi, melakukan urinalisis dan kultur urin jika yang meningkat terutama adalah kadar bilirubin terkonjugasi, melakukan pengukuran kadar enzim tertentu jika ada riwayat serupa dalam keluarga atau bayi menunjukkan tanda-tanda spesifik.

Bagaimana jaundice ditangani?

Sebagian besar jaundice adalah keadaan fisiologis yang tidak membutuhkan penanganan khusus selain dilanjutkannya pemberian ASI yang cukup. Namun pada keadaan tertentu, jaundice memerlukan terapi khusus yaitu terapi cahaya atau exchange transfusion.

Terapi cahaya

Perlu tidaknya terapi cahaya ditentukan dari kadar bilirubin, usia gestasi (kehamilan) saat bayi lahir, usia bayi saat jaundice dinilai, dan faktor risiko lain yang dimiliki bayi, seperti digambarkan pada grafik 2.4

Beberapa faktor risiko yang penting adalah

  • Penyakit hemolisis autoimun (penghancuran sel darah merah oleh sistem kekebalan tubuh sendiri)
  • Kekurangan enzim G6PD yang dibutuhkan sel darah merah untuk berfungsi normal
  • Kekurangan oksigen
  • Kondisi lemah/tidak responsif
  • Tidak stabilnya suhu tubuh
  • Sepsis (keadaan infeksi berat di mana bakteri telah menyebar ke seluruh tubuh)
  • Gangguan keasaman darah
  • Kadar albumin (salah satu protein tubuh)

Pada bayi yang menerima ASI yang harus menjalani terapi cahaya, pemberian ASI dianjurkan untuk tetap dilakukan. Namun ASI juga dapat dihentikan sementara untuk menurunkan kadar bilirubin dan meningkatkan efek terapi cahaya.
Selama terapi cahaya, beberapa hal ini perlu diperhatikan:

  • Pemberian ASI atau susu formula setiap 2-3 jam
  • Jika TSB ≥25 mg/dL, ulangi pengukuran dalam 2-3 jam
  • Jika TSB 20–25 mg/dL, ulangi pengukuran dalam 3-4 jam
  • Jika TSB
  • Jika TSB terus menurun, ulangi pengukuran dalam 8-12 jam
  • Jika TSB tidak menurun atau meningkat menuju batas perlunya exchange transfusion, pertimbangkan exchange transfusion

Pada penyakit hemolisis autoimun, pemberian {gamma}-globulin (gamma globulin) direkomendasikan jika TSB tetap meningkat dengan terapi cahaya atau TSB berada 2-3 mg/dL dari batas perlunya exchange transfusion. Pemberian ini dapat diulangi dalam 12 jam. Pemberian {gamma}-globulin dapat menghindari perlunya exchange transfusion pada bayi dengan ketidakcocokan rhesus atau golongan darah.
Penghentian terapi cahaya ditentukan oleh usia bayi saat dimulainya terapi tersebut, kadar bilirubin, dan penyebab jaundice. Pada bayi yang diterapi cahaya setelah sempat dipulangkan dari RS/RB pasca kelahiran, terapi cahaya umumnya dihentikan jika kadar bilirubin sudah di bawah 13-14 mg/dl. Pengukuran ulang bilirubin setelah 24 jam penghentian terapi direkomendasikan terutama pada bayi dengan penyakit hemolisis atau bayi yang menyelesaikan terapi cahaya sebelum usia 3-4 hari.

Exchange transfusion

Penanganan khusus lainnya yang mungkin diperlukan pada bayi dengan jaundice adalah exchange transfusion. Exchange transfusion adalah tindakan di mana darah pasien diambil sedikit demi sedikit dengan meningkatkan volume pengambilan pada setiap siklusnya, untuk kemudian digantikan dengan darah transfusi dengan jumlah yang sama. Panduan exchange transfusion ini dapat dilihat pada grafik 3.

Cara membaca kurva pada grafik ini sama dengan kurva pada grafik panduan terapi cahaya. Exchange transfusion dilakukan dengan segera pada bayi dengan gejala ’acute bilirubin encephalopathy’ seperti meningkatnya ketegangan otot, meregangnya bayi dengan posisi seperti busur, demam, tangisan dengan nada tinggi, atau jika TSB ≥ 5 mg/dl di atas kurva yang sesuai.
Jika kadar TSB berada pada level di mana exchange transfusion dibutuhkan atau ≥ 25 mg/dl, hal ini adalah keadaan gawat darurat dan harus segera ditangani.
(NIH)

Sumber

dr. Nurul Itqiyah H