Tahapan Perkembagan Duduk dan Merangkak

Brain Development: Milestone Sitting & Crawling

sumber : milis balita-anda

(translated by: Sylvia – milis balita-anda)
(sumber asli: http://www.babycentre.co.uk/refcap/6624.html)

DUDUK

Belajar duduk sendiri akan membuat bayi Anda memiliki perspektif baru
tentang dunianya. Jika punggung dan otot-otot lehernya cukup kuat untuk
membuatnya tegak dan ia tahu di mana menempatkan kaki-kakinya supaya ia
tidak terjungkal, tinggal tunggu waktu hingga ia beralih ke posisi
merangkak, berdiri dan berjalan.

Sebagian besar bayi mulai belajar duduk mandiri di saat yang hampir sama
dengan belajar berguling dan mengangkat kepalanya. Otot-otot yang mereka
butuhkan untuk posisi demikian berangsur-angsur berkembang sejak lahir,
hingga akhirnya cukup kuat saat ia menginjak usia 4-7 bulan. Saat di usia
8 bulan, 90% bayi dapat duduk baik tanpa bantuan.

Walaupun Anda dapat mendudukkan dia di hari pertama ia lahir, posisi duduk
yang sebenarnya baru dimulai saat ia telah menguasai kontrol kepala.
Dimulai dari usia 4 bulan, kepala dan otot-otot leher bayi Anda akan
menguat dengan cepat, dan ia akan belajar mengangkat dan menegakkan
kepalanya saat ia sedang tengkurap.

Kemudian ia akan mempelajari bagaimana memposisikan dirinya di atas
lengannya dan mengangkat dadanya dari permukaan, seperti gerakan mini push
up. Saat usia 5 bulan ia mungkin dapat sebentar-sebentar duduk tanpa
bantuan, walaupun Anda tetap harus berada di dekatnya untuk memberikan
dukungan dan mengelilinginya dengan bantal agar terhindar dari kemungkinan
jatuh.

Tidak lama ia akan belajar bagaimana mempertahankan keseimbangannya saat
duduk dengan mencondongkan badannya ke muka ditopang oleh satu atau kedua
lengannya, dan saat usia 7 bulan ia kemungkinan telah duduk tanpa bantuan
(yang akan membebaskan tangannya untuk bereksplorasi), dan ia akan belajar
bagaimana cara menoleh saat duduk untuk meraih benda yang diinginkannya.
Pada saat itu ia mungkin bahkan dapat mencoba posisi duduk dari berbaring
tengkurap dengan mendorong lengan-lengannya. Saat ia berusia 8 bulan, ia
cenderung dapat duduk dengan baik tanpa bantuan.

Bila bayi Anda belajar untuk mencondongkan tubuhnya ke muka saat ia duduk
dan tetap dalam posisi seimbang di atas tangan dan lututnya, ia telah siap
untuk merangkak, suatu ketrampilan yang sebagian besar anak telah
menguasai sepenuhnya saat mereka berusia 1 tahun. Ia mungkin telah dapat
melakukan posisi merangkak dengan kedua tangan dan kedua kakinya paling
cepat di usia 6-7 bulan; setelah itu ia akan menjadi anak yang mampu
bergerak ke mana-mana dan punya keingintahuan yang besar. Banyak dokter
ahli anak yang merekomendasikan untuk menunggu bayi Anda dapat duduk
dengan sedikit bantuan sebelum memberinya makanan padat.

Anda dapat menolong bayi Anda untuk siap duduk dengan melatihnya bermain
merunduk di atas lantai dan mengajaknya untuk menengadah. Mengangkat
kepala dan dadanya untuk melihat mainan atau wajah Anda membantu
menguatkan otot-otot lehernya dan mengembangkan kontrol kepalanya yang
semuanya itu perlu untuk posisi duduk. Gunakan mainan berwarna cerah atau
yang berbunyi adalah cara yang baik pula untuk memastikan bahwa
pendengaran dan penglihatannya tidak bermasalah. Saat bayi Anda telah
dapat duduk dengan cukup baik, letakkan mainan atau benda lain yang
menarik di luar jangkauannya ? itu akan menarik perhatiannya dan tanpa
sadar ia belajar menyeimbangkan dirinya dengan lengan-lengannya.

Konsultasikan dengan dokter Anda jika anak Anda:
– tidak mampu mengangkat kepalanya dengan tegak saat ia usianya sekitar 6 bulan
– belum mulai belajar memposisikan dirinya di atas
lengan-lengannya

MERANGKAK

Merangkak membantu bayi Anda menguatkan otot-ototnya hingga ia cukup mampu
berjalan. Aktivitas ini pun juga merupakan cara perdananya untuk
bereksplorasi sendiri dengan efektif. Mula-mula ia akan menyeimbangkan
tangan dan lututnya. Kemudian ia akan belajar bagaimana bergerak ke depan
dan ke belakang dari posisi semula dengan cara mendorong lutut-lututnya.

Sebagian besar bayi belajar merangkak antara usia 6 dan 10 bulan. Tetapi
beberapa mungkin tidak pernah merangkak, melainkan hanya mengangkat
tinggi-tinggi pantatnya saat mereka tengkurap atau langsung beralih ke
gerakan menarik diri, berdiri dan berjalan. Yang penting adalah bayi Anda
belajar bagaimana ia mampu bergerak, tidak perlu risau dengan caranya.

Merangkak umumnya bisa dilakukan setelah seorang bayi dapat duduk dengan
baik tanpa bantuan, yang biasanya terjadi di sekitar usia 6 atau 7 bulan.
Setelah bisa duduk, ia dapat menegakkan kepalanya untuk memandang
sekeliling, dan otot-otot lengan, kaki dan punggungnya cukup kuat untuk
menjaganya tidak terjatuh ke atas lantai saat ia berada pada posisi hendak
merangkak.

Setelah 2 bulan berikutnya, bayi Anda berangsur-angsur belajar untuk
bergerak dengan lebih percaya diri dari posisi duduk menjadi posisi
merangkak dan tidak lama ia menyadari bahwa ia dapat menggerakkan tubuhnya
maju dan mundur pada posisi demikian.

Saat usia sekitar 9 atau 10 bulan, ia akan belajar bahwa dengan mendorong
lutut-lututnya, ia mulai dapat bergerak. Setelah ia mahir dengan
ketrampilan ini, ia akan belajar untuk berubah posisi dari merangkak
kembali ke posisi duduk. Ia jua akan menguasai teknik mahir dari
?cross-crawling?: menggerakkan satu lengan dan kaki yang berlawanan dengan
lengan tsb. bersamaan saat ia bergerak maju. Setelah itu, tinggal masalah
latihan yang akan semakin menyempurnakan ketrampilan barunya ini. ? Anda
akan lihat bahwa ia akan menjadi perangkak yang kompeten saat ia telah
berusia 1 tahun.

Jika bayi Anda merangkak mundur, duduk sambil menyeret-nyeret pantatnya
atau bahkan melewati tahap merangkak dan langsung berdiri, janganlah cemas
akan hal ini. Selama ia mulai dapat bergerak (mobile) ? bagaimana pun
caranya ? ia akan baik-baik saja.

Setelah bayi Anda menguasai teknik merangkak, satu lagi ketrampilan yang
perlu ia pelajari sehingga mobilitasnya sempurna ialah belajar berjalan.
Hingga saat itu, ia mulai segera ingin memegang segala sesuatu sebagai
sandarannya, apakah itu meja atau kaki neneknya. Saat ia mulai dapat
seimbang dengan kaki-kakinya, ia akan siap untuk berdiri sendiri dan mulai
menjelajah ruangan dengan tetap memegang furnitur di sekitarnya, tinggal
menunggu waktu hingga ia bisa berjalan, berlari, meloncat dan melompat.

Dengan ketrampilan meraih atau dan memegang, cara terbaik untuk melatih
bayi Anda merangkak adalah dengan menempatkan mainan atau obyek lain yang
diinginkannya ? bahkan diri Anda sendiri ? agak melebihi jangkauan raih
bayi Anda. Anda dapat juga menggunakan bantal, kotak, atau sofa untuk
menciptakan semacam penghalang. Ini akan membantu meningkatkan percaya
diri, kecepatan dan ketangkasannya. Hanya jangan pernah meninggalkan
dirinya sendirian ? jika ia terhalang di bawah bantal atau kotak, ia tentu
saja akan merasa ketakutan dan terancam bahaya tertimpa.

Bayi yang sedang merangkak dapat tertimpa banyak resiko. Karena itu
perlengkapi rumah Anda dengan banyak alat pengaman dan buatlah ruang gerak
mereka terbatas hingga bayi Anda telah benar-benar menguasai ketrampilan
ini (umumnya sekitar usia 12 bulan) ? dan walaupun demikian, tetapi
monitor kegiatan mobilenya ini.

Anda tidak perlu mulai membelikannya sepatu. Bayi Anda tidak membutuhkan
alas kaki secara teratur hingga ia telah menguasai ketrampilan berjalan.

Konsultasikan kepada dokter Anda jika anak Anda:

- tidak menunjukkan minat untuk mulai bergerak (mobile), apakah itu
merayap, merangkak, berguling atau berlari

- belajar untuk menggerakkan lengan dan kakinya bersamaan dalam
gerakan terkoordinasi

- belajar untuk menggunakan kedua lengannya dan kedua kakinya
bersama-sama saat usia 1 tahun

Gangguan Otak Penyebab Gangguan Perkembangan

SUMBER : Mother And Baby

Akibat gangguan di bagian otak, berbagai gangguan perkembangan bisa terjadi pada anak, yang dikenal dengan istilah autisme. Di Indonesia sendiri, menurut Yayasan Autisme, tahun 1999 ada sekitar 60.000 anak menderita autisme. Dan anak laki-laki empat kali lipat berisiko terserang dibanding anak perempuan.

Apa Saja Ciri-cirinya?
Autisme adalah gangguan otak yang menyebabkan gangguan perkembangan pada anak. Ciri-ciri serta gejalanya biasanya mulai terlihat pada usia tiga tahun. Umumnya, anak yang mengalami autisme terlihat normal di bulan-bulan pertama kehidupannya. Namun, lama-kelamaan, anak menjadi kurang berrespons kepada orang lain saat diajak berinteraksi. Misalnya tak berrespons saat dipanggil namanya, menghindari kontak mata, dan lebih senang bermain sendiri. Selain itu mereka juga terkadang tak bisa diam, mondar-mandir sendiri tanpa alasan jelas.

Namun, yang terjadi bisa juga kebalikannya, tahan duduk diam di pojok sendirian. Semasa bayi, mereka juga amat sulit dipegang atau dipeluk. Selain itu, anak anak yang menderita autisme biasanya juga mengalami kelambatan dalam kemampuan bicara. Mereka tidak dapat mengucapkan kata-kata atau kalimat dengan baik dan tidak dapat memulai percakapan serta amat senang mengulang-ulang kata-kata yang ia dengar.

Dalam hal tingkah laku muncul pula gangguan, seperti gerakan-gerakan repetitif (pengulangan), misalnya menggerak-gerakkan tangan berulang-ulang atau memukul-mukul pipi. Mereka juga sering membuat semacam ritual, misalnya menjejer-jejerkan gelas atau botol-botol dan merasa amat terganggu jika rutinitas itu diubah. Yang juga mengkhawatirkan adalah jika muncul tindakan menyakiti diri sendiri, seperti kebiasaan menggigit-gigit tangan atau membenturkan kepala ke tembok.

Gejala lainnya adalah gangguan emosi. Mereka bisa menangis atau tertawa sendiri tanpa sebab yang jelas. Pada beberapa anak autis, semua gejala tersebut biasanya bisa teratasi saat mereka dewasa, terutama jika gejalanya tidak terlalu parah. Anak-anak autis ini bisa saja punya kemunduran mental, sehingga mengalami kesulitan belajar. Namun, tidak menutup kemungkinan, sebagian dari mereka punya inteligensi yang normal hingga tinggi.

Apa Penyebabnya?

Terjadinya autisme tidak hanya karena satu faktor dan setiap anak autisme punya penyebab yang berbeda. Yang jelas, beberapa penelitian menemukan kalau sel-sel saraf di beberapa daerah otak terlihat lebih kecil daripada ukuran normalnya. Penelitian lain juga menunjukkan adanya pengaruh polusi udara terhadap tingginya kasus autisme. Kemungkinan terjadinya autisme juga semakin besar jika si ibu menderita rubela atau toksoplasmosis saat hamil.

Bagaimana Penanganannya?

Gangguan autisme sayangnya belum ada penyembuhnya. Namun, dengan pemberian terapi atau penanganan khusus, beberapa gejala yang muncul bisa berkurang. Keberhasilan terapi itu pun amat tergantung pada seberapa parah gejala yang muncul. Yahg jelas, terlepas dari parah atau tidaknya gejala yang ada, penanganan sedini mungkin yang dilakukan secara teratur akan sangat membantu. Paling tidak sekitar 40 jam per minggu diperlukan bagi anak autis untuk mempelajari berbagai keterampilan dan terapi yang dapat membantu mereka untuk kontak dengan dunia luar.

Beberapa terapi yang dilakukan adalah terapi modifikasi tingkah laku, fisioterapi, terapi kemampuan motorik, sensorik, dan aktivitas sehari-hari, terapi bicara dan komunikasi, serta latihan relaksasi dan sensori. Pemberian obat juga perlu dilakukan untuk membantu mereka untuk lebih bisa berkonsentrasi, walaupun hanya diberikan dalam masa tertentu saja.

Terlaksananya semua program tersebut jelas membutuhkan kerjasama antara dokter, psikolog dan terapis profesional. Satu hal yang perlu diketahui orangtua yang anaknya menderita autisme adalah mereka sebaiknya tidak berharap terlalu tinggi seperti halnya pada anak normal. Sebab, dapat mengurus dirinya sendiri serta memahami berbagai konsep sederhana saja
sudah cukup baik bagi anak autis.

Dua pusat terapi berikut ini bisa dijadikan alternatif bagi orangtua yang anaknya menderita autisme dan ingin menjalani terapi: Atira Treatment Centre, Gedung Fuyinto-Sentra Mampang Lt 3, JI. Mampang Prapatan Raya No.28, Jakarta. Selatan, telepon (021 ) 791-91271 atau 79191272; Avanti Treatment Center, Wisma Bayuadji Jl. GandariaTengah III No. 44, Jakarta Selatan, Telepon (021)739-7616. Bimala

Lisa, 37/III/16-22 September 2002

SESUAIKAH TUMBUH KEMBANG ANAK ANDA

sumber : http://www.infoibu.com

Periode penting dalam tumbuh kembang anak adalah masa balita .
Karena pada masa ini pertumbuhan dasar yang akan mempengaruhi dan menentukan perkembangan anak selanjutnya. Pada masa balita ini perkembangan kemampuan berbahasa, kreativitas, kesadaran sosial, emosional dan intelegensia berjalan sangat cepat dan merupakan landasan bagi perkembangan selanjutnya.

Perkembangan yang optimal sangat dipengaruhi oleh peranan lingkungan dan interaksi antara anak dan orang tua / orang dewasa lainnya. Interaksi sosial diusahakan sesuai dengan kebutuhan anak pada berbagai tahap perkembangan, bahkan sejak bayi dalam kandungan.
Kebutuhan dasar seorang anak adalah
– ASUH ( kebutuhan biomedis)
Menyangkut asupan gizi anak selama dalam kandungan dan sesudahnya, kebutuhan akan tempat tinggal, pakaian yang layak dan aman , perawatan kesehatan dini berupa imunisasi dan deteksi dan intervensi dini akan timbulnya gejal penyakit.
– ASIH ( kebutuhan emosianal)
Penting menimbulkan rasa aman (emotional security) dengan kontak fisik dan psikis sedini mungkin dengan ibu. Kebutuhan anak akan kasih sayang, diperhatikan dan dihargai, ,pengalaman baru, , pujian, tanggung jawab untuk kemandirian sangatlah penting untuk diberikan. Tidak mengutamakan hukuman dengan kemarahan , tetapi lebih banyak memberikan contoh – contoh penuh kasih sayang adalah salah satunya.
– ASAH ( kebutuhan akan stimulasi mental dini)
Cikal bakal proses pembelajaran , pendidikan , dan pelatihan yang diberikan sedini dan sesuai mungkin. Terutama pada usia 4 – 5 tahun pertama ( golden year) sehingga akan terwujud etika, kepribadian yang mantap, arif, dengan kecerdasan, kemandirian ,ketrampilan dan produktivitas yang baik.
Beberapa tingkat perkembangan yang harus dicapai pada anak umur tertentu ;
– 4-6 minggu : tersenyum spontan , dapat mengeluarkan suara 1-2 minggu kemudian
– 12-16 minggu : menegakkan kepala, tengkurap sendiri , menoleh ke arah suara , memegang benda yang ditaruh ditanggannya , bermain cilukba.
– 20 minggu : meraih benda yang didekatkan kepadanya
– 26 minggu : dapat memindahkan benda dari satu tangan ke tangan lainnya , duduk dengan bantuan kedua tangannya ke depan , makan biskuit sendiri.
– 9 – 10 bulan : menunjuk dengan jari , memegang benda dengan ibu jari dan jari telunjuk, merangkak , bersuara da… da…. .
– 13 – 15 bulan : berjalan tanpa bantuan , mengucapkan kata – kata tungggal , memasukkan mainan ke dalam cangkir , bermain dengan orang lain , minum dari gelas , dan mencoret – coret.

© Dr. SuriViana -www.infoibu.com

SESUAIKAH TUMBUH KEMBANG ANAK ANDA 1

sumber : http://www.infoibu.com

Pertumbuhan ( growth) berkaitan dengan dengan masalah perubahan dalam ukuran fisik seseorang. Sedangkan perkembangan (development) berkaitan dengan pematangan dan penambahan kemampuan (skill) fungsi organ atau individu. Kedua proses ini terjadi secara sinkron pada setiap individu.

Proses tumbuh kembang seseorang merupakan hasil interaksi berbagai faktor yang saling terkait, yaitu ; faktor genetik / keturunan , lingkungan bio-fisiko-psiko-sosial dan perilaku. Proses ini bersifat individual dan unik sehingga memberikan hasil akhir yang berbeda dan ciri tersendiri pada setiap anak.
Penilaian terhadap pertumbuhan seorang anak dapat dinilai melalui pertambahan berat dan tinggi badan dan sampai anak berusia 2 tahun masih dapat digunakan penilaian melalui lingkar kepala yang biasanya dibandingkan dengan usia anak. Beberapa cara penilaian melalui pemeriksaan fisik atau klinikal , pemeriksaan antropometri ( membandingkan tinggi badan terhadap umur, berat badan terhadap umur, lingkaran kepala terhadap umur, lingkar lengan atas terhadap umur ) , contohnya KMS (kartu menuju sehat ) yang membandingkan berat badan terhadap umur , pemeriksaan radiologis, laboratorium, dan analisa diet.
Beberapa faktor yang mempegaruhi pertumbuhan anak :
 Faktor heredo konstitusional ; tergantung ras, genetic, jenis kelamin dan kelainan bawaan
 Faktor hormonal ; insulin , tiroid, hormon sex dan steroid.
 Faktor lingkungan selama dan sesudah lahir ; gizi, trauma, sosio – ekonomi, iklim, aktivitas fisik, penyakit, dll.
Perkiraan berat badan yang dapat mudah dilakukan dalam kilogram adalah berat badan waktu lahir bayi cukup bulan akan kembali pada hari ke 10.Berat badan menjadi 2 kali berat waktu lahir saat usia 5 bulan, menjadi 3 kali berat lahir saat usia satu tahun, dan menjadi 4 kali berat waktu lahir saat usia 2 tahun. Pada masa prasekolah kenaikan berat badan rata– rata 2 kg/ tahun.
Perkiraan tinggi badan dapat pula dilakukan dalam sentimeter yaitu usia 1 tahun 1,5 kali tinggi badan lahir, usia 4 tahun 2 kali tinggi badan lahir, 6 tahun 1,5 kali tinggi badan 1 tahun,.
Kita dapat pula mePrediksikan tinggi akhir anak sesuai potensi genetic berdasarkan tinggi badan orang tua dengan asumsi bahwa semuanya tumbuh optimal sesuai potensinya. Rumus yang digunakan ;

TB anak perempuan = ( TB ayah – 13 cm ) + TB ibu
_________________________ ± 8,5 cm
2
TB anak laki-laki = ( TB ibu +13 cm ) + TB ayah
_________________________ ± 8,5 cm
2
© Dr. SuriViana -www.infoibu.com

Usia Berapa Anak Jalan?

Usia Berapa Anak Bisa Jalan?.

Anak ku hampir 15 bulan tetapi belum bisa jalan. Jika dilepas pasti langsung menjatuhkan badannya. Kira-kira usia berapa yang harus di waspadai untuk dibawa ke dokter? Aku berencana jika sampai 15 bulan belum jalan, aku akan bawa ke klinik tumbuh kembang soalnya takut nanti di tunggu-tunggu malah tambah lama lagi.

Berikut tanggapan dari Moms WRM beserta artikel dari tabloid Nakita:

- Bagaimana dengan kakinya? Sudah kuat kan? Mungkin masih takut jika dia tidak berpegangan. Coba saja dilatih dari satu tempat ke tempat lain yang jaraknya dekat. Jika memungkinkan bisa letakan mainan atau sesuatu yang dia suka, jadi dia terpancing untuk berjlan karena melihat mainan tersebut.

Atau bisa juga ajak main bersama anak yang lebih besar atau seumurnya yang sudah bisa berjalan. Memang harus sering dilatih dan harus sabar. Jika masih khawatir juga, tidak ada salahnya ke klinik tumbuh kembang anak. Anakku yang pertama jalan umur 18 bulan, telat memang karena dia takut. Tapi begitu sudah lepas sudah kemana-mana, karena memang sudah kuat kakinya.

- Apakah anak Mom sudah bisa berdiri sendiri? Kalau sudah mungkin dia takut, atau kakinya belum kuat, apakah badan dia besar? Banyak dilatih saja pelan-pelan, main dengan teman sebayanya, pelan-pelan tangannya dipegang, atau berdiri berpegangan sesuatu.

- Anak pertamaku karena masih baru pertama, jadi aku ngurusnya masih takut-takut dan extra hati-hati takut jatuh. Akibatnya dia baru bisa berjalan umur 18 bulan. Itu juga karena di protes oleh keluarga. Mereka bilang,”Jangan dipegangin melulu, biar dia jatuh sekali-kali jadi tahu kalau jatuh itu sakit. Jadi si anak bisa belajar untuk berjalan perlahan.”

Biasanya begitu anak dilepas dia langsung berusaha jalan cepet sementara belum terkoordinasi dengan baik kaki dengan otaknya. Nah ini yang aku terapkan ke anak ke-2, hasilnya dia lebih cepat bisa jalan. Karena dibiasakan dilepas tapi lihat situasi sekeliling musti aman. Ddan biasakan main dibawah, alasin karpet yang tidak licin. Otomatis si anak bisa belajar untuk tahu,”oh ini lantai keras bukan kasur.” Jadi dia lebih hati-hati dengan sendirinya.

- Kebetulan anakku bisa berjalan usia 13 bulan (sudah lancar) tapi sebelumnya usia sekitar 11-12 bulanan dia masih suka mencari pegangan. Biasanya aku suka membiarkan saja. Selain itu dia juga mulai belajar jalan dari box juga karena kesehariannya memang lebih banyak main di box dan kebetulan anakku juga tidak melewati tahap merangkak. Jadi habis bisa berjalan ketika capek, terkadang dia suka merangkak tetapi lucunya kalau merangkak tidak memakai lutut tapi telapak kaki & tangan penyangganya (seperti orang nungging).

- Perlihatkan mainan menarik waktu ia berdiri, agar ia mau melangkah maju ke arah mainan itu. Bantu ia berjalan dengan berpegangan pada kursi-meja yang kokoh. Mula-mula sambil dipegangi dengan dua tangan, lalu dengan satu tangan saja. Lepaskan pegangan Anda bila ia kelihatan sudah mulai terampil, sehingga ia punya kesempatan melangkah sendiri. Tentu sambil Anda tetap menjagainya. Mulanya mungkin ia hanya mau berjalan 1-2 langkah saja. Selanjutnya ia akan mampu melangkah sendiri tanpa bantuan.

Artikel dari Tabloid Nakita:

Sebagian besar bayi belum mulai berjalan pada ulang tahun pertamanya. Merujuk teori perkembangan, 25 persen anak sudah bisa berjalan di usia 11,1 bulan, 50 persen di usia 12,3 bulan dan 90 persen di usia 14,9 bulan. “Tapi pada umumnya, usia anak berjalan tak terlalu jauh berkisar antara 16-20 bulan

Cepat-lambatnya perkembangan ini disebabkan antara lain:
* Bayi yang banyak bergerak dan berotot kuat sering lebih cepat dapat berjalan dibanding bayi yang diam saja dan gemuk. Bayi dengan kaki pendek dan kokoh, juga lebih cepat mulai berjalan daripada bayi berkaki panjang dan ramping, yang sulit untuk mencapai keseimbangan tubuh.

* Bayi yang tak banyak merangkak atau sama sekali tak dapat merangkak, kadang lebih cepat dapat berjalan daripada bayi yang ahli merangkak ke seluruh penjuru rumah.

* Pengalaman negatif, mungkin jatuh parah ketika ia pertama kali melepaskan pegangan dari tangan ibunya. Ia tak akan mau mencoba lagi sampai ia sudah betul-betul kuat. Sekalinya ia mulai, ia akan langsung dapat berjalan dengan trampil, tak tertatih-tatih lagi.

* Alas kaki yang licin juga menghambat. Lebih baik tanpa alas kaki, karena bayi akan menggunakan jari-jarinya untuk mencengkeram ketika ia melangkah.

* Tak mendapatkan kesempatan berlatih berjalan karena lebih sering berada di boks bermain, terikat di kereta bayi atau pada situasi lain di mana ia tak punya kesempatan untuk mengembangkan otot-otot kakinya dan rasa percaya dirinya melalui bangun, berdiri dan merambat.

* Terlalu sering berada di baby walker, cenderung akan terlambat bisa berjalan sendiri.

* Karena paksaan orang tua yang melatihnya jalan beberapa kali sehari. Ia mungkin akan memberontak, terutama jika ia keturunan keras kepala. Kelak ia akan berjalan sendiri pada saat yang lebih lambat daripada jika ia dibiarkan belajar sendiri dan dalam waktunya sendiri.

* Langkah pertama seorang bayi yang tenaganya sudah terserap oleh infeksi telinga, flu atau penyakit lain, akan tertunda sampai ia sudah merasa lebih baik.

Proses Perkembangan Anak

Proses Perkembangan Anak

Bayi 0 – 3 bulan
Bayi perempuan lebih berlemak, bayi laki-laki lebih panjang dan keras, penelitian di Hetherington tahun 1970 mencatat tingkat kematian perempuan lebih rendah. Bayi perempuan tidak rentan terhadap penyakit hingga dewasa. Bayi Perempuan lebih trampil berbahasa, lebih banyak tersenyum 2 kali lebih banyak, dan suka ditimang-timang. Bayi laki-laki senang diajak bermain sambil tertawa. Jhon Nicholson dalam bukunya Men and Women: How Different Are They? mengungkapkan bayi usia 2 -3 bulan lebih suka meraba dibanding bayi laki-laki. 48 setelah melahirkan bayi perempuan, sang ibu lebih banyak tersenyum dan menimang bayinya ketimbang melahirkan bayi laki-laki.

Bayi 3 – 9 bulan
Bayi perempuan berusia 6 bulan bereaksi dengan cara yang berbeda dengan bayi laki-laki terhadap suara orang dewasa terutama suara wanita. Usia 8-9 bulan bayi perempuan lebih ramah terhadap suara wanita dewasa, untuk mengatasi hal ini, sebaiknya ayah melatih bayi perempuanya dengan mengajaknya berbincang atau berduaan saja.

Bayi 9 – 18 bulan
Bayi sudah pintar membedakan perempuan dan laki-laki, penelitian di Eidenburg, Jerman membuktikan bayi usia 1 tahun sudah dapat menempatkan diri sesuai jenis kelamin dengan menolak baju dan dandanan rambut. Segera setelah bayi bis bergerak dengan cara berbeda. Susan Goldberg dan Michael Lewis, Lembaga Penelitian Fels-US, melakukan pengamatan perilaku pada anak 13 bulan. Bayi perempuan pergi jauh dari ibunya, kemudian kembali untuk memastikan rasa aman. Bila pengasuhnya menghalangi, bayi perempuan itu akan menangis dan tak melakukan usaha apapun, sedangkan bayi laki-laki menangis tapi berusaha menyingkirkan orang.
Bayi laki-laki lebih menyukai permainan yang aktif, sedangkan bayi perempuan lebih suka duduk dan bermain diam-diam. Mereka memilih banyak permainan yang sama. Perempuan lebih suka memilih sayang pada boneka binatang, sedangkan bayi laki-laki memilih senjata atau bermain di luar.

Anak Dua Tahun Lebih
Di usia 2 tahun, anak suka bermain dan mulai memilih mainannya, biasanya anak laki-laki tidak antusias dan cenderung kaku ketika disodorkan mainan perempuan, sedangkan anak perempuan nampak ruang ketika disodorkan mainan anak laki-laki. Masyarakat cenderung membiarkan anak perempuan manjadi tomboy dengan memperbolehkan main mainan anak laki-laki, sedangkan anak laki-laki ditabukan main mainan anak perempuan. Bahkan, sekarang ada kencederungan orang tua hanya memberikan mainan anak perempuan pada anak perempuan dan mainan anak laki-laki pada anak laki-laki, karena takut anak mereka terbentuk menjadi homo, padahal penelitian tentang ini tak membuktikan.
Sue Sharpe, psikolog AS, melihat anak laki-laki lebih sering dihukum daripada anak perempuan. Orang tua lebih suka menyembunyikan rasa cintanya pada anak laki-laki, berebeda dengan anak perempuan, akibatnya naluri anak laki-laki yang lebih agresif, membuat dia makin agresif.

sumber: Wanita Indonesia Edisi 643/25 Februari – 3 Maret 2002

Pertumbuhan Bayi

Normalkah Pertumbuhan Bayi Anda?

Tanpa disadari bayi kecil Anda tumbuh dan berkembang dengan sangat cepat. Apalagi di sepanjang tahun pertama hidupnya. Menyaksikan setiap perubahan yang terjadi pada dirinya, pasti akan menjadi pengalaman berharga yang menyenangkan dan menakjubkan Anda. Untuk memudahkan orangtua mencermati setiap tahapan pertumbuhan si kecil, American Academy of Pediatric memberikan panduan berikut untuk Anda.

0 – 1 Bulan

Kemampuan Motorik

  • Menggerakkan tangan sejauh jangkauan pandangan mata dan mulut.
  • Menggerakkan kepala ke kiri dan ke kanan saat tidur dalam posisi tengkurap.
  • Kepala terkulai jika tidak diberi penyangga.
  • Tangan mengepal.

Visual

  • Fokus jarak pandangan berkisar antara 8-12 inci.
  • Cenderung menyukai warna hitam putih daripada pola warna-warna kontras.
  • Dibandingkan objek lain, wajah manusia masih menjadi objek favoritnya.

Pendengaran

  • Pendengaran telah matang sehingga dapat mengenali beberapa suara.
  • Sewaktu-waktu dapat menoleh untuk mencari suara yang dikenalnya.

Penciuman dan Peraba

  • Cenderung menyukai aroma yang harum dan manis dibandingkan aroma berbau tajam atau asam.
  • Dapat mengenali aroma air susu ibunya.
  • Cenderung menyukai permukaan yang lembut dibandingkan yang kasar dan sulit dipegang.

Segeralah hubungi dokter jika bayi Anda:

  • Susah menggigit dan minum dengan lambat.
  • Tidak berespon/berkedip melihat cahaya terang.
  • Tidak fokus dan tidak bisa mengikuti objek yang bergerak pelan ke kiri dan ke kanan.
  • Jarang sekali menggerakkan kaki dan tangannya.
  • Rahang bawah sering bergetar, bahkan saat tidak menangis atau gembira.
  • Tidak bereaksi terhadap suara keras.

2-3 Bulan

Kemampuan Motorik

  • Mengangkat kepala dan dada saat berbaring dalam posisi tengkurap.
  • Merenggangkan kaki dan menendang-nendang saat berbaring.
  • Sudah dapat mengepal dan membuka tangannya.
  • Memasukkan/menggerakkan tangan ke mulut.
  • Dapat meraih objek/ mainan dan menggerakkannya.

Visual

  • Dapat mengamati wajah dengan intens.
  • Dapat mengikuti objek yang bergerak.
  • Dalam jarak tertentu, ia sudah dapat mengidentifikasi wajah dan objek yang dikenalnya.
  • Mulai menunjukkan koordinasi antara mata dan tangan.

Pendengaran dan Bahasa

  • Tersenyum begitu mendengar suara Anda.
  • Mulai dapat mengoceh.
  • Mulai dapat menirukan suara.
  • Dapat menggerakkan kepala untuk mencari suara yang menarik perhatiannya.

Segeralah hubungi dokter jika bayi Anda:

  • Kelihatannya masih tidak bereaksi jika mendengar suara keras.
  • Pada usia 2 bulan, ia tidak tersenyum mendengar suara Anda.
  • Matanya tidak mengikuti objek yang bergerak saat berusia 2-3 tahun.
  • Saat berumur 3-4 bulan, ia masih belum bisa meraih dan memegang objek/mainan.
  • Tidak tersenyum terhadap orang.
  • Tidak bisa menyangga kepalanya dengan baik di usia 3 bulan.
  • Belum mulai mengoceh di usia 3-4 bulan.
  • Mulai mengoceh, tetapi belum menirukan suara.
  • Bermasalah dalam menggerakkan matanya ke berbagai arah.
  • Tidak peduli terhadap wajah yang baru dilihat atau kelihatannya sangat ketakutan melihat wajah baru atau sekelilingnya.

4-7 Bulan

Kemampuan Motorik

  • Dapat berguling ke dua arah.
  • Duduk dengan kemudian tanpa menggunakan tangan sebagai penyangga.
  • Mulai dapat menyangga berat tubuhnya dengan kedua kakinya.
  • Dapat meraih sesuatu dengan satu tangan.
  • Dapat memindahkan objek dari satu tangan ke tangan lainnya.


Visual

  • Penglihatan terhadap aneka warna makin berkembang.
  • Penglihatan jarak jauh dan kemampuan mengikuti benda bergerak makin sempurna.

Bahasa

  • Dapat berespon terhadap namanya sendiri.
  • Mulai bereaksi menggunakan kata ‘tidak’.
  • Mulai dapat membedakan emosi berdasarkan nada suara. es emotions by tone of voice.
  • Dapat meresponi suara dengan suara.
  • Menggunakan suara untuk mengekspresikan perasaan.
  • Mengoceh dengan beberapa konsonan.

Segeralah hubungi dokter jika bayi Anda:

  • Menolak untuk dipeluk.
  • Kepala masih terkulai jika diletakkan dalam posisi duduk.
  • Tidak menunjukkan kasih saying terhadap orang terdekat yang menyayanginya.
  • Tidak suka berada dekat orang banyak.
  • Shows no affection for the person who cares for him.
  • Mata sering berair, kering atau sangat sensitive terhadap cahaya.
  • Tidak berespon terhadap suara di sekitarnya.
  • Kesulitan memasukkan suatu objek ke mulutnya.
  • Tidak berguling ke dua arah pada usia 5 bulan.
  • Berusia 6 bulan tetapi tidak bisa duduk walaupun sudah dibantu.
  • Tidak bisa tersenyum secara spontan saat berusia 5 bulan.

8-12 Bulan

Kemampuan Motorik

  • Dapat duduk tanpa bantuan.
  • Sudah dapat merangkak.
  • Dapat berdiri.
  • Dapat berjalan dengan berpegangan pada sesuatu.
  • Dapat bergerak satu dua langkah tanpa bantuan.

Bahasa

  • Tertarik untuk berbicara.
  • Sudah dapat merespon permintaan verbal sederhana.
  • Berespon terhadap larangan/tidak.
  • Menggunakan bahasa tubuh sederhana, seperti menggeleng untuk mengatakan ‘tidak’.
  • Dapat mengatakan ‘dada’ dan ‘mama’.
  • Mencoba untuk menirukan kata.

Segeralah hubungi dokter jika bayi Anda:

  • Tidak bisa merangkak.
  • Tidak bisa berdiri walaupun disangga.
  • Tidak belajar menggunakan bahasa tubuh sederhana seperti menggeleng.
  • Tidak bisa menunjuk kepada suatu objek.