Posts filed under 'TAHAPAN BICARA'

ANAK CADEL? KADANG GARA-GARA AYAH-IBUNYA JUGA,LO!

(sumber: www.tabloid-nakita.com)

Sampai usia 5 tahun, si kecil mungkin masih akan cadel. Apalagi jika
lingkungan ikut mendukung. Supaya tidak keterusan, Anda juga harus hati-hati
menanganinya.

“Bu, kok, pelut aku cakit?” Nah, buat mereka yang punya anak balita, pasti
langsung mengerti apa maksud kalimat itu. Soalnya, memang begitulah bahasa
anak-anak.

Memang, tak semua anak usia 3-5 tahun masih cadel bicaranya. Banyak yang
sudah pandai melafalkan kata dengan baik dan benar. Jadi, kalaupun ia masih
cadel, “Wajar-wajar saja. Kemampuan anak mengucapkan kata-kata, vokal dan
konsonan secara sempurna, tergantung kematangan sistem syaraf otaknya.
Terutama bagian yang mengatur koordinasi motorik otot-otot lidah,” terang
Dra. Evi Sukmaningrum dari Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya Jakarta.

IKUTAN CADEL
Pada umumnya, kata Evi, di usia 2-3 tahun anak baru menguasai pengucapan 2/3
dari seluruh konsonan. Jadi, untuk konsonan seperti S, Z, R, ia mengalami
kesulitan. Terutama huruf R. “Sebab, untuk mengucapkan R, diperlukan
manipulasi yang cukup kompleks antara lidah, langit-langit, dan bibir,”
jelas Evi. Nah, karena itulah si kecil menjadi cadel.

Menginjak usia 3-4 tahun, otot-otot lidah mulai matang. Dengan demikian,
pada usia prasekolah, anak diharap sudah bisa mengucapkan seluruh konsonan.
“Hanya saja, perkembangan tiap anak, berbeda. Makanya, meski usianya sama,
ada anak yang masih cadel.” Perbedaan kematangan, lanjut Evi, bisa
disebabkan faktor keturunan, gizi, atau nutrisi.

Selain kematangan fisiologis, cadel juga disebabkan faktor lingkungan. Saat
anak bilang, “Minta cucu (susu, Red.), ibu menanggapi, “Mau cucu, ya?
Cebental, ya, sayang.” Jadi, si orangtua malah ikut-ikutan cadel. Padahal,
seperti dituturkan Evi, reaksi seperti itu malah bisa membuat anak jadi
terkondisi untuk terus bicara cadel. “Ia jadi senang karena kalau bicara
cadel, ditanggapi dan dibalas cadel pula.” Asal tahu saja, tugas pertama
yang harus dilakukan seorang anak dalam belajar berbicara ialah mengucapkan
kata. Nah, ia bisa mengucapkan kata karena meniru. Kalau Anda bicara cadel
dengannya, ia akan berpikir, itulah yang benar. Jadilah dia cadel sungguhan.

Begitu juga jika ayah atau ibunya cadel (sungguhan). “Bisa saja terjadi,
anak tak pernah mendengar dan belajar, bagaimana seharusnya mengucapkan R.
Soalnya, dasar dari pengucapan kata-kata, dari lingkungan terdekat anak,
yaitu keluarga,” tutur Evi.

Pada beberapa kasus, anak yang sudah bisa melafalkan R, misalnya, tiba-tiba
jadi “mundur” alias kembali cadel. “Ini bisa disebabkan faktor psikologis.
Misalnya, dia cari perhatian karena baru punya adik. Nah, untuk merebut
perhatian ayah dan ibunya, dia kembali men”cadel”kan dirinya.”

SULIT DIDETEKSI
Umumnya pada usia 5 tahun, anak sudah tidak cadel lagi karena kematangan
otot-ototnya sudah menyerupai orang dewasa. “Paling lambat usia 6 tahun.
Kalau sampai umur ini dia masih cadel, berarti ada kelainan. Bisa kita duga
si anak mengalami defisiensi kemampuan fonologis, yaitu ketidakmampuan untuk
mengucapkan konsonan tertentu,” terang Evi.

Sayangnya, sulit untuk mendeteksi, apakah kecadelan di usia 3-5 tahun akan
berlanjut terus atau tidak. Soalnya, ini menyangkut sistem syaraf otak yang
mengatur fungsi bahasa, yakni area broca yang mengatur koordinasi alat-alat
vokal dan area wernicke untuk pemahaman terhadap kata-kata. Kerusakan pada
area broca disebut motor aphasiam yang membuat anak lambat bicara dan
pengucapannya tak sempurna sehingga sulit dimengerti. Sedangkan kerusakan
pada area wernicke disebut sensori aphasia di mana anak dapat berkata-kata
tapi sulit dipahami orang lain dan dia pun sulit untuk mengerti kata-kata
orang lain.

Nah, dalam belajar berbicara, pemahaman terhadap kata-kata akan muncul lebih
dulu. Baru kemudian anak bisa memproduksi kata-kata alias ngomong. Merujuk
pada tingkatan perkembangan bahasa anak, di usia 1,5-2 tahun biasanya ia
sudah bisa berkata, “Mama”, “Papa”, “Dada” dan sebagainya. Di usia 3 tahun,
minimal anak sudah bisa mengkombinasikan dua kata, “Mama pergi” atau “Mau
susu”, dan sebagainya.

Jika anak belum mampu berbicara sesuai tingkat perkembangannya, kita patut
curiga. Bukan curiga pada masalah cadelnya tetapi, “Kenapa, kok, enggak bisa
ngomong seperti anak-anak lain seusianya,” terang Evi.

Selain itu, kesulitan mendeteksi juga disebabkan anak usia 2-6 tahun masih
berkembang. Artinya, dia sedang dalam proses belajar berbicara. “Ia tengah
berada pada fase mulai menyesuaikan, mulai menambah perbedaharaan kata,
meningkatkan pemahaman mengenai bahasa dan perkembangan makna kata. Termasuk
juga penguasaan konsonan.”

KOREKSI & PUJI
Jadi, seperti dipesankan Evi, rajin-rajinlah memberi stimulasi pengucapan
yang benar pada anak. Paling lambat, saat ia berumur 2 tahun. Dengan kata
lain, kalau bicara dengan anak seusia ini, “Jangan gunakan bahasa dengan
pengucapan yang cadel. Jangan mengganti huruf ‘S’ dengan ‘C’ atau ‘R’ dengan
‘L’. Jangan pula menghilangkan konsonan tertentu. “Yang paling sering adalah
konsonan ‘R’. Misalnya ‘pergi’ jadi ‘pegi’ atau ‘es krim’ jadi ‘ekim’.”

Jika kebetulan ayahnya cadel (tak dapat melafalkan huruf R), ibulah yang
harus secara aktif memberikan stimulasi tersebut. Tapi kalau sampai ayah-ibu
sama-sama tak bisa ngomong “R”, maka perlu diupayakan agar si anak
mendapatkan stimulasi dari orang lain semisal kakek-nenek. Atau
diperkenalkan ke lingkungan lain seperti “sekolah”. “Usia 3 tahun, kan,
biasanya anak sudah masuk Kelompok Bermain. Nah, dari situ anak bisa
belajar. Mungkin pada awalnya dia sulit ngomong ‘R’ karena otot-otot yang
tadinya sudah matang tapi karena tak terlatih, tentunya akan menyulitkan dia
untuk menyesuaikan mengatakan ‘R’. Tapi kalau terus dilatih, pasti bisa.
Dalam hal ini, gurunya yang harus aktif melatih si anak.”

Orangtua seharusnya juga sudah bisa melihat, apakah si anak sebenarnya sudah
bisa ngomong “R” atau belum. Mungkin saja hari ini dia sudah bisa bilang
“Pergi” tapi besok berubah jadi “Pelgi”. “Jadi, sebenarnya dia sudah bisa,
cuma karena ngomong ‘R’ sulit, dia jadi cadel lagi atau malah ‘R’nya
dihilangkan.” Kalau itu yang terjadi, segera koreksi anak. Katakan padanya,
“Bukan pelgi, tapi pergi.” Lalu minta ia mengulangi mengucapkan kata
tersebut dengan benar. Kalau ia bisa melakukannya, jangan lupa beri pujian.
“Aduh, pintar. Ternyata adik bisa, kan, ngomong ‘pergi’.”

Tapi jika saat mengulangi, ia masih juga salah, jangan dimarahi. Latih terus
dan jangan lupa memujinya bila ia berhasil. Dengan demikian anak jadi tahu,
“Oh, yang benar adalah “pergi” atau susu dan bukan cucu.” Ia pun jadi
terpola untuk berbicara dengan lafal yang benar.

MINDER
Begitulah, meski wajar-wajar saja kalau si kecil masih cadel di usia 3-5
tahun, ia harus tetap dirangsang dan dilatih untuk mengucapkan kata-kata
dengan benar. Ini penting agar cadelnya tak berkelanjutan sampai ia mulai
masuk sekolah dan mempengaruhi penyesuaian sosialnya.
Apalagi pada waktu anak bertambah besar, cadelnya tak akan hilang secara
otomatis meskipun kadar keseringannya berkurang. Kecuali bila cadelnya
memang disebabkan faktor biologis, yang lebih sulit untuk diperbaiki. “Di
samping mungkin struktur lidahnya yang memang berbeda,” kata Evi.

Anak usia sekolah yang cadel akan merasa berbeda dengan teman-teman
sebayanya. Ia menjadi malu dan asing dari orang lain. Ia tak akan suka
disuruh berbicara dalam kelas karena takut ditertawakan teman-temannya.
Akibatnya, anak jadi minder dan menarik diri.

Buntut-buntutnya, rasa minder itu akan mempengaruhi self esteem atau harga
diri si anak, yang berlanjut ke konsep diri. Bila sampai terjadi seperti
itu, lanjut Evi, tugas orangtualah untuk membangunkan harga diri si anak
agar ia tak minder. “Juga guru di sekolah.” Caranya dengan menonjolkan
kelebihan si anak sehingga dia tetap percaya diri bahwa, “Saya juga punya
kemampuan lain, kok. Saya tidak ‘kalah’ dengan mereka yang enggak cadel.”

Nah, Anda tentu tak ingin buah hati tercinta mengalami cadel berkepanjangan,
bukan? Mulailah dari sekarang melatihnya mengucapkan kata dengan benar.
Jadi, berhentilah “bercadel-cadelan” dengan anak!

Add comment September 16, 2009

Berbicara Dengan Anak Usia Dua Tahun

sumber : Mother And Baby

Pada usia dua tahun anak mulai mengumpulkan perbendaraan kata. Meski kemampuan berbicara sifatnya alami, orangtua harus rajin mengasahnya.

Di usia dua tahun kemajuan si kecil tumbuh pesat. Berbagai rangsangan diperlukan guna mengoptimalkan perkembangannya, termasuk kemampuan berbicara. Saat ini kebanyakan bentuk-bentuk komunikasi pra-bicara yang tadinya sangat bermanfaat di masa bayi, seperti mengoceh, bubbling, dan menangis, mulai ditinggalkan.

Menurut Pakar Psikologi Perkembangan Elizabeth B. Hurlock, anak usia dua tahun mungkin mulai menggunakan bahasa isyarat sebagai pelengkap pembicaraan, yaitu untuk menekankan arti kata-kata yang diucapkan. Misal, jika ingin pergi, dia berkata “pergi” sambil menunjuk ke pintu rumah, atau menenteng sepatunya. Untuk minta bangun dari tidur, dia berkata “yuk bangun ” sambil turun sendiri dari ranjang. Untuk mwnolak makan dia bilang “nggak mau” sambil menutup mulut atau melarikan diri, dll. Selain itu, lanjut Hurlock, anak-anak pun mulai rajin berkomunikasi dengan orang lain menggunakan ungkapan-ungkapan emosional yang mulai bisa diterima.

Kembangkan Perbendaharaan Katanya
Pakar mencatat, rata-rata anak usia dua tahun mempunyai kemampuan mengucapkan 200 kata, tetapi tercakup dalam angka rata-rata ini adalah mereka yang hanya mampu mengucapkan selusin kata maupun yang mampu mengucapkan 500 kata atau lebih. Artinya, kemampuan ini memnag berbeda-beda. Ada anak yang baru mulai menggabungkan kata-kata sederhana, namun ada juga yang mencoba menggabungkan kata berbulan-bulan untuk kalimat yang sulit.

Nah, agar kemampuan komunikasi verbal anak cukup baik, orangtua harus membantunya. Menurut Psikolog Perkembangan Pamugari Widyastuti M.Psi, orangtua harus banyak-banyak mengajak anak berbicara, sembari mengenalkan lingkungan seperti sekolah, rumah, kebun, kebun binatang, dan segala sesuatu yang ada di lingkungan tersebut. ”Selain itu kenalkanlah juga anak pada konsep-konsep sederhana seperti besar-kecil, atas-bawah, basah-kering, dsb. Lanjutkan dengan buku-buku yang menerangkan lebih lanjut tentang hal itu, seperti buku cerita binatang dan buku tentang berbagai bentuk.”

Pada usia ini, cara terbaik membuat anak berbicara adalah dengan berbicara kepadanya. Meskipun pada umumnya orangtua secara alami akan mahir memajukan kemampuan bicara anaknya, tetapi usulan-usulan berikut ini bisa lebih memajukan percakapan dengan anak:
1. Mengembangkan kata-kata anak. Kembangkan kata-kata yang diucapkan oleh anak, maka tidak lama lagi percakapannya akan berkembang. Misal, ketika dia berkata “Rumah besar”, tambahkanlah “Itu rumah yang besar, dan rumah yang tinggi. Lihat betapa tingginya sampai ke langit.

2. Berbicara secara spesifik. Utarakan pengamatan Anda dengan sejelas mungkin. Ketika Anda ingin menunjukkan seekor kucing yang memanjat pohon, jangan hanya mengatakan “Lihat!” tapi katakan “Lihat! Saya melihat seeokor kucing putih sedang memanjat pohon. Mungkin dia sedang mengejar burung.”

3. Memberi penjelasan. Warnai kata-kata anak dengan kata pelengkap. Jangan hanya mengatakan “Itu anjing.” Tapi katakanlah, “Itu seekor anjing berwarna coklat dengan bulu yang lebat. Ia memakai ikat leher yang bagus dan berwarna merah.”

4. Sedikit memperumit. Menggunakan kalimat sederhana dan singkat untuk batita, memang bijaksana. Namun ada saatnya si kecil harus mendapat tantangan untuk mendengar kalimat-kalimat yang lebih rumit. Tetapi Anda perlu berbicara dengan ucapan yang jelas dan cukup didengar. Selain itu siaplah mengulang apa yang tidak dapat ditangkap oleh anak.

5. Melanjutkan percakapan. Bahkan jika si kecil belum bisa menggunakan kalimat, dia dapat mengikuti, menambahkan, dan pada akhirnya berpartipasi dengan penuh setiap percakapan dengan Anda.

6. Terus bertanya. Memberikan pertanyaan pada anak masih merupakan cara yang efektif untuk membangun kemampuan verbalnya. Ajukan pertanyaan yang menantang (tapi tidak membuatnya frustasi) perbendaharaan anak, tidak perlu juga sebuah pertanyaan yang perlu di jawab.
Misal, jika anak bertanya “apa itu?’
Coba jawab dengan “Menurutmu apa?”

7. Terus membaca. Membaca akan mengajar banyak hal tentang bahasa pada seorang anak, selain juga menyenangkan.

8. Bermain kata-kata. Mungkin masih terlalu dini untuk bermain scrabble, tetapi sudah waktunya bagi anak untuk bermain “apa itu?”. Peraturannya sederhana saja, saat Anda membacakan buku pada si kecil, sesekali berhentilah dan tanyakan tentang benda-benda yang ada di dalam buku tersebut.

9. Memperkenalkan alfabet. Pengenalan ABC ini berguna agar anak tidak merasa asing saat pelajaran membaca di mulai, selain juga akan membantu pengucapannya. Pengenalan ini bisa dengan nyanyian atau pun lewat buku-buku, lakukanlah tanpa memberikan paksaan pada si kecil.

10. Tunda pelajaran tata bahasa. Si kecil akan belajar banyak tentang tata bahasa yang benar dengan mendengarkan pembicaraan Anda, daripada mendengar kritikan dari ucapannya. Anda sendiri mengikuti peraturan yang benar, tetapi jangan memaksakan pada anak. Untuk saat ini, biarkan kata-kata mengalir dengan wajar – termasuk semua kesalahannya.

PANDAI BICARA, LEBIH MANDIRI
Pakar Perkembangan Anak Elizabeth B. Hurlock, dalam buku “Psikologi Perkembangan” menyatakan bahwa di masa awal kanak-kanak, Si Kecil mempunyai keinginan kuat untuk belajar berbicara. Ini disebabkan dua hal, pertama, belajar berbicara merupakan sarana pokok dalam sosialisasi. Anak-anak yang lebih mudah berkomunikasi dengan teman sebayanya akan lebih mudah mengadakan kontak sosial dan lebih mudah diterima oleh kelompok, daripada anak yang mempunyai kemampuan komunikasi terbatas.

Kedua, belajar berbicara merupakan sarana untuk memperoleh kemandirian. Anak-anak yang tidak dapat mengungkapkan keinginan dan kebutuhannya, atau yang tidak dapat berusaha agar dimengerti orang lain cenderung diperlakukan sebagai bayi dan tidak dapat memperoleh kemandirian yang diinginkan. (Rahmi)

Add comment September 5, 2009

Si Kecil Terlambat Bicara

sumber : http://perempuan.kompas.com/read/xml/2009/06/03/17455052/Si.Kecil.Terlambat.Bicara

*KOMPAS.com* – Seorang ibu mengeluhkan buah hatinya yang berumur 20
bulan. Sejak bayi perkembangan Si Kecil normal. Orangtua, keluarga,
termasuk pengasuhnya, banyak mengajaknya berbicara. Si Kecil mengerti
semua intruksi yang diberikan, namun kemampuan bicaranya sebatas
mengucapkan beberapa patah kata saja. Apakah ini berarti ia terlambat
berbicara?

Berdasarkan penelitian di negara Barat, ada norma yang berlaku umum,
yaitu antara usia 16–24 bulan anak-anak menguasai sekitar 50 kata dan
terus meningkat sampai sekitar 400 kata; pada usia sekitar 2 tahun
anak-anak lebih banyak menggunakan kalimat dua kata. Di sisi lain, dari
pengalaman di lapangan, ada anak yang sudah mulai mengucapkan kata-kata
tunggal pada usia 7 bulan, mampu menyebutkan kalimat yang terdiri atas
dua kata pada usia sekitar 12 bulan; namun ada juga yang sampai usia 2
tahun baru bisa menyebutkan beberapa kata saja. Barulah beberapa bulan
setelah usia 2 tahun anak tersebut tiba-tiba bisa berbicara lancar
dengan menggunakan kalimat-kalimat.

Berarti, sekalipun ada norma umum perkembangan bahasa/bicara untuk anak,
pada kenyataannya tidak semua anak berkembang mengikuti norma tersebut.
Ada yang lebih cepat perkembangannya, ada yang sedikit lebih lambat, dan
ada yang mengalami keterlambatan perkembangan bahasa/bicara. Beberapa
faktor ikut menentukan perkembangan seorang anak, seperti faktor
genetik, tempo perkembangan, perangsangan lingkungan, dan lain-lain.

Bila buah hati Anda pada usia 20 bulan belum mampu berbicara, besar
kemungkinan tidak lama lagi dia akan berbicara lebih banyak kata dan
lambat-laun mampu bertutur dalam kalimat yang terdiri atas dua kata.
Mengapa demikian? Karena saat ini anak bisa diajak berinteraksi,
mengerti percakapan/perintah-perintah sederhana, mampu mengucapkan
beberapa kata tunggal. Sekalipun perkembangannya tidak terlalu cepat,
namun tidak berarti mengalami keterlambatan perkembangan bicara. Keadaan
yang perlu diwaspadai adalah kalau terjadi kemunduran perkembangan
bahasa, misalnya saat terjadi interaksi dengan seseorang, anak sulit
atau tidak mau memerhatikan lawan bicaranya, jumlah kata yang dia
ucapkan makin sedikit, lebih suka menyendiri di antara teman-teman yang
sedang asyik beraktivitas, padahal sebelumnya tidak menampakkan gejala
tersebut.

Yang harus Anda lakukan adalah tetap mengajaknya bercakap-cakap.
Sesekali gunakan gambar-gambar untuk memperkenalkan benda dan kegiatan
yang berlangsung di sekitarnya, atau bercerita dari buku cerita
bergambar dengan sedikit tulisan di bawahnya. Berbicaralah dalam kalimat
yang pendek, dan perlambat tempo percakapan. Berikan kesempatan pada
anak untuk mengemukakan apa yang dia inginkan, tidak memburu-buru dia
untuk cepat-cepat mengucapkan kata-kata.

Terlambatnya perkembangan bicara bisa terpengaruh akibat kehadiran adik,
tetapi bisa juga tidak, bergantung pada seberapa besar lingkungan
memperlakukan dia. Kalau dia tidak merasa terkucil akibat kehadiran
adik, tetap mendapat perhatian dari orangtua dan keluarga besar maka
tidak ada dampak yang berperan pada anak.

Narasumber: Dra. Mayke S. Tedjasaputra, MSI, /Play Therapist/ dan
Psikolog Lembaga Psikologi Terapan UI.

Add comment Juni 4, 2009

Komunikasi, Stimulus Utama Perkembangan Anak

sumber : tulisan Ibu Maria Julia Van Tiel di Milist Sehat.

Bu Maria, ijin saya copas di sini ya. supaya ga ketilisut tulisan ibu yang berguna ini…

Dalam area ilmu masalah gangguan bicara dan bahasa, ada yang disebut: komunikasi, bicara, dan bahasa.

Ini kudongengkan maksudnya supaya kita bisa lebih pas jika melakukan stimulus.

Komunikasi merupakan upaya hubungan sosial yang dilandasi dengan
emosi. Artinya disini dibutuhkan adanya social relationship antara
ibu anak. Pada bayi normal, perkembangan ini sudah dimulai sejak ia berusia beberapa minggu, yaitu ia bisa membalas senyum ibunya. Semuanya berjalan secara alamiah dan intuitif.

Dari senyum berbalas senyum, dari pandang berbalas pandang si bayi akan menirukan bunyi-bunyian yang dikeluarkan oleh orang-orang sekitarnya.

Sekalipun si bayi cuma teriak teriak: “eyauw…eyauw…eyauw…”
Ibunya akan membalas: “Iya…sabar nak…. mama sedang cuci
tangan..bentar ya… sudah lapar ya? Aduh bayiku sudah pinter minta nenen….!”
“Eyauw…eyaauw….” si bayi masih teriak teriak.
Saat si ibu mulai dekat dan mulai mengangkatnya, ia mulai diam, dan mulai mengeluarkan suara-suara bayinya, nafas yang tersengal sengal saking nafsunya mau nenen…

Itu adalah bentuk komunikasi yang paling dasar dari anak-ibu. Karena
itu penting artinya hubungan emosi ini untuk melandasi hubungan
sosial. Karena bentuk hubungan timbal balik ini akan akan terus
berlangsung sampai si anak bisa bicara.

Saat anak jalan-jalan bersama ibunya – JJS, jalan sore-sore…
Ketemu Tante Iyut yang langsung menyapa: “Aduh… si Gozan ini sudah bisa senyum-senyum ya…. mau kemana sih, kok pakai bajunya keren banget?” “Mau ke mol…jalan jalan ya…” Dijawab sendiri oleh si Tante Iyut. Si Baby cuma bisa nyengir nyengir matanya berbinar-binar.

Sekalipun si baby belum menjawab, tetapi naluri manusia berbahasa dan bicara tetap berlangsung demikian, sampai suatu saat si baby menyimpan daftar kosa kata pasif. Daftar ini jika sudah mencukupi akan keluar sebagai kosa kata aktif.

Kapan keluarnya? Nah bisa ngoprek sendiri kapan keluarnya.

Dengan munculnya kosa kata aktif, kita tetap terus memberi suplai
sajian bahasa yang konsisten (suara pengucapan, arti, penggunaaan dst) sampai si anak mempunyai daftar kosa kata pasif yang banyak dan cukup untuk membuat kalimat. Karena dalam kosa kata pasifnya sudah banyak berisi dengan kata-kata sandang, kata kerja, kata sambung dan seterusnya.

Jadi disini pentingnya konsistensi sajian bahasa agar si anak
memiliki daftar kosa kata yang tidak membingungkan. Misalnya dengan sajian multibahasa yang justru dapat menyebabkan kacaunya penggunaan bahasa.

Bahasa, perlu didukung dengan kemampuan penggunaan kata secara tepat, penggunaan gramatika secara tepat, dan pemahaman kalimat secara tepat. Jadi ajarkanlah kata-kata yang benar. Kadang ada anak yang dikacau-kacaukan – misalnya. Coca cola dimain-mainkan jadi tjotjai-bola…. Atau soft drink jadi banyu gas, ….poep ..jadi pupita…eala..

Bicara dipengaruhi oleh otot-otot mulut,dan pernafasan. Karena itu
mengajarkan anak anak bicara, kita jangan ikut-ikutan cadel, misal:
aduh cayang… cacut jatuh ya dali tempat tidul? ayo..ayo cini..mamam dulu….

Jika anak terlambat bicara.
Perlu diketahui terlambat bicaranya memang primer karena
perkembangannya atau karena masalah utamanya di tempat lain, sehingga keterlambatan bicaranya merupakan masalah sekunder. Masalah primernya justru misalnya kurang pendengaran, gangguan pemrosesan informasi (gangguannya di otak), autisme, gangguan motorik dan pernafasan, sumbing, gangguan kognitif.
Semuanya membutuhkan cara yang berbeda dalam pendekatannya.

Maria Julia Van Tiel

Add comment Januari 21, 2009

Anak Terlambat Bicara

Ngobrol seperti di bawah ini memang umum terjadi. Karena anak
terlambat bicara yang punya kemampuan perseptual (dimensi/pandang
ruang), dan mampu berbahasa nonverbal (bahasa mimik) memang
prognosisnya baik. Apalagi seringkali ternyata anaknya memang pinter-
pinter. Makanya selama ini oleh dokter anak di mana pun… baik di
Amerika, maupun di Eropa, seringkali “dilepas” tidak dicekal, karena
diharapkan mereka akan berkembang dengan sendirinya. Tapi… akhir-
akhir ini baik di US maupun di Eropa, sudah ada pandangan yang
berbeda. Misalnya, di Belanda mulai tahun ini ada skrining wajib
perkembangan bahasa dan bicara anak usia 2 tahun disamping
pemantauan berkala tumbuh kembang anak. Kalau anak itu di usia 2
tahun ternyata mengalami terlambat bicara, maka anak ini
dikelompokkan sebagai anak berrisiko, lalu di periksa lebih mendalam
seberapa jauh ketertinggalan itu. Lalu usia 3 tahun ada skrining
wajib lagi, kalau usia tiga tahun ternyata memang masih tertinggal,
maka anak-anak ini akan mendapatkan program stimulasi lebih lanjut.
Jadi kita tidak bisa mengatakan bahwa anak ini nanti cerewet apa
tidak, atau nanti juga pinter apa tidak kalau engga ada data
berbagai pemeriksaan itu. Prognosis hanya bisa ditegakkan kalau ada
datanya kan?

Tetapi pinter di sekolah TK kan belum membaca, menulis dan
berhitung. Nanti kalau mulai mengeja (speeling), pemahaman bacaan
(perkembangan semantik), gramatika (kemampuan syntaksis), dan
penggunaan bahasa (perkembangan kemampuan pragmatik), barulah anak-
anak ini mulai membingungkan. Umumnya orang tuanya bingung, anak ini
padahal pinter, tetapi kok angkanya mengsle2. Biasanya engga jelas2
bahwa anak mengalami kesulitan belajar dan atau gangguan belajar.
Maka namanya hidden disabilities, alias kasat mata. Karena ia
mengalami kekurangan/ketertinggalan perkembangan di satu atau lebih
area inteligensianya.
Karena dari banyak pengalaman dan riset mengenai perkembangan
belajar anak, karena itulah anak2 terlambat bicara saat ini sejak
dini sudah diskrining dan segera disimulasi. Di milis anakberbakat
banyak banget tuh yang terlambat bicara keluhannya ya di bagian
bahasa…. Kalau berhitung sih oke banget, tapi giliran persoalan
bahasa dan membaca… keok dia.

Buat anak 2 tahun yang belum lancar bicaranya, bisa dicarikan mainan
yang bisa dimainkan bersama-sama misalnya telepon-teleponan.
Karaoke2an. Buku bergambar segala macam benda yang bisa digunakan
untuk bercerita. Ibunya yang cerita. Dua tahun biasanya baru bermain
seolah-seolah sebagai orang2 yang ada di sekitarnya (pretend play).
Laki dan perempuan biasanya kecepatan meniru-niru berbeda. Perempuan
lebih cepat meniru2 ibunya. Nanti saat umur tiga baru deh main
boneka dengan peranan, main pengantin2an, main ibu-ibuan, dlsb yang
lebih ke arah imajinasi.

Kalau punya anak ya jangan dibiar2in dong, kan musti juga
mendapatkan stimulasi tho?

Yang mana yang harus diwaspadai? Ya semua bentuk late talker harus
diwaspadai, karena anak late talker sekarang sudah dikelompokkan
sebagai anak berrisiko.


dr Julia Maria Van Tiel

4 comments April 9, 2008

Klasifikasi Language Disorder

Klasifikasi communication and language disorder pada anak

A. Developmental language disorders (ganguan perkembangan berbahasa)
1.Hanya mengalami gangguan ekspresif dengan pemahaman normal dengan sedikit atau tanpa komorbiditas – gangguan lain yang menyertainya (pure dysphasia development atau expressive language disorder menurut DSM IV)
2.Gangguan campuran antara perkembangan bahasa ekspresif dan reseptif (mixed receptive-expressive language disorder DSM IV). Seringkali terjadi adanya deskrepansi (perbedaan) yang bermakna antara skor tes verbal IQ dengan performal (non-verbal) IQ, dimana skor verbal IQ mencapai skor yang sangat rendah. Atau non-verbal IQ mencapai skor lebih tinggi daripada tes pemahaman bahasa. Pemahaman bahasa lebih rendah daripada rata-rata anak seusianya, artinya ada gangguan perkembangan bahasa reseptif (receptive dysphasia).
1 dan 2 di atas dapat terjadi pada anak yang mengalami gangguan perkembangan bahasa dan bicara.

B. Gangguan bahasa reseptif: diluar definisi dysphasia development, karena pemahaman bahasa lebih jelek daripada bahasa ekspresif.
1.Kemampuan reseptif dan ekspresif sangat rendah (delay atau tertinggal); seringkali diikuti dengan gangguan nonverbal (mengalami juga keterbelakangan mental). Dalam bentuk yang parah didapatkan asymbolic mental retardation atau “mute autistic”. Pemahaman bahasa dan bicara sama sekali tak nampak.
2.Verbal-auditory agnosia atau congenital word deafness (bentuk ringan dari phonologic perception problem)
3.Cortical deafness, total auditory agnosia (congenital auditory imperception).
4.Gangguan sensorik pendengaran yang parah.

C. Gangguan semantik-pragmatik
Gangguan bahasa Semantik (pengertian) – pragmatik (penggunaan) sering dimulai dengan bahasa dengan echolalia yang banyak.

D. Gangguan kelancaran bicara, atau gagap.
E. Mutisme selektif (tidak mau bicara dalam situasi atau tempat tertentu)
F. Miskin bahasa karena kurang stimulasi
G. Gangguan artikulasi dan gangguan perkembangan bahasa dan bicara, sering disebabkan karena masalah seperti dalam pembangian 1 & 2

Gangguan perkembangan bicara dan bahasa karena sebab-sebab lain:
1. Child-afasia (disebabkan karena traumatic, tumor, infeksi)
2. Landau-Kleffner-syndrom (gejala mirip pada pembangian B)
3. Kemunduran perkembangan bahasa dan bicara dengan penyebab tak diketahui dengan atau tanpa epilepsi saat tidur dan gangguan nosologi yang tak diketahui penyebabnya, sering juga terjadi pada Autisme Spectrum Disorder (ASD).

Sumber: C.Njiokiktjen (psikiater & neurolog anak) dalam artikel: De Relatie tussen taalontwikkelings-stoornissen en autisme, Wettenschaplijk Tijdschrift Autisme, nummer 2, augustus 2005.

=========================

BAGAIMANA ANAK BELAJAR BICARA

1. Aspek Semantik (arti bahasa).
Bila seorang anak akan mengatakan atau memahami sesuatu, ia harus mempunyai daftar kata-kata atau vokabulari yang cukup memadai, yang dengan kata lain kita bisa mengatakan bahwa:
- si anak mempunyai cukup kata-kata agar bisa memproduksi dan memahami (bahasa aktif dan pasif);
- menemukan kata-kata yang tepat (memanggil kata dari daftar memori);
- memahami apa yang diucapkan (pengertian kalimat).

Seorang anak kecil belajar berbicara mula-mula adalah dengan cara menunjuk berbagai benda-benda yang ada di sekitarnya atau kata kerja yang harus digunakannya. Menunjuk benda-benda yang dapat dilihatnya (kursi, meja, makan, boneka dlsb), atau kata yang dapat menunjukkan pada pengertian tempat “disini” atau “sekarang”.
Daftar kata-kata ini akan segera meningkat tanpa batas. Namun bisa diperkirakan bahwa seorang anak pada usia dua tahun setidaknya memerlukan 270 kata, 900 kata di usianya yang ketiga, dan sekitar 2500 hingga 4000 kata di usianya yang ke enam. Walau begitu seorang anak sebetulnya mempunyai lebih banyak lagi kata-kata (daftar kata-kata yang pasif) daripada yang bisa ia produksi (sebagai daftar kata aktif). Daftar kata pasif seorang anak berusia enam tahun bisa dua kali lipat banyaknya dibanding dengan daftar kata aktif yang dimilikinya. Dengan kata lain anak berusia tiga hingga lima tahun akan mengalami kesulitan memanggil kata-kata yang berada di dalam memorinya; seringkali sulit menggunakan kata pada tempat dan waktu yang tepat. Kadang terjadi seorang anak akan membuat kata-kata sendiri (neologis), atau bicaranya kacau, sepotong-sepotong, dan diulang-ulang.

2. Pembentukan bahasa.
Bagaimana sebuah kata atau kalimat dibentuk? Aspek pembentukan kata dan kalimat seperti yang kutuliskan di atas akan menyangkut pada tiga bagian aspek yaitu:

a. aspek fonologis
Anak kita harus bisa belajar menggunakan dan mengucapkan bunyian dengan cara yang benar. Artinya bahwa bicara mempunyai kaitan dengan aspek fonologis ini. Bila seorang anak mengalami gangguan fonologis ini, maka kelak ia akan mengalami masalah dalam bahasa dan bicara. Di usia kira-kira lima bulan, refleks oral (mulut) seperti misalnya refleks menghisap (untuk menyusu) akan hilang, berganti dengan gerakan-gerakan yang baik dengan lidahnya, bibirnya, suara decak halus, rahang bawah, dan tenggorokan. Ia juga belajar membedakan bunyian dan mengingatnya sebagai bunyian tertentu. Apabila ia mendenger bunyian itu kembali, maka ia bisa mengenalnya kembali, serta menggunakannya untuk tujuan tertentu. Pada akhirnya kemudian ia bisa berbicara dengan tujuan tertentu: misalnya mengucapkan kata mama akan berbeda artinya jika mengucapkan maem atau makan. Pada akhir tahun pertama umumnya anak-anak mempelajari bunyian dengan pola bunyian yang sama. Pada akhir tahun kedua ia mulai bisa mengucapkan kata-kata berupa beberapa suku kata dengan baik karena kontrol otot-otot sudah semakin baik, yaitu otot lidah, bibir dan langit-langit. Dan juga ia sudah mampu mendengarkan dengan baik. Tinggal beberapa kata seperti s/l/r/ barulah akan dikuasai dengan baik di usianya yang kelima atau keenam.
Sekalipun seorang anak bisa mengucapkan bunyian dengan baik, bukan berarti ia akan bisa juga dengan baik mengucapkan kata-kata. Ia masih harus belajar lebih banyak lagi untuk mengucapkan kata-kata dengan baik, sehingga tidak meletakkan bunyian itu di tempat yang salah. Misalnya pabrik menjadi perabik. Lokomotip menjadi molokotip. Baru pada usia enam tahun, kita boleh mengharapkan bahwa seorang anak haruslah sudah bisa dengan baik mengucapkan urutan bunyian itu dengan benar, menjadi sebuah kata yang mempunyai makna.

b. aspek morfologis
Dengan cara yang tepat anak mempelajari sebuah kata dan mengubahnya dengan cara yang benar, yaitu:
- penggunaan kata-kata jamak
- penggunaan awalan dan imbuhan
- penggunaan kata yang memberi penjelasan pertambahan dan perbedaan
- penggunaan kata kerja

Pada anak usia empat tahun biasanya sudah bisa menggunakan bentuk kata jamak secara baik tanpa kesalahan, penggunaan imbuhan, pertambahan – perbedaan, dan kata kerja.

c. aspek sintaksis

Dalam fase ini anak akan belajar membangun kalimat dengan baik.
- ia akan berbicara dengan urutan kata-kata secara benar dalam sebuah kalimat
- kalimat dalam bentuk lengkap, dan tidak ada kata yang tertinggal
- ia memahami berbagai perbedaan muatan kalimat misalnya kalimat bertanya, kalimat berempati, kalimat mengharap, atau kalimat menyangkal.

Anak yang mengalami masalah dalam siktaksis akan berkata misalnya: “Kabel sudah telepon rusak”, yang seharusnya diucapkan: “Kabel telepon sudah rusak.” Atau “Mau minum.” Seharusnya: “Saya mau minum.”

3. Penggunaan bahasa, aspek pragmatik
Dalam hal ini si anak akan menggunakan bahasa dalam konteks yang tepat dan untuk apa. Beberapa contoh yang berkaitan dengan aspek pragmatik:
- Bila ada seseorang tengah berbicara, maka ia tidak akan berbicara secara bersamaan, tetapi menunggu seseorang tadi selesai bicara.
- Ia menjawab apa yang ditanya teman bicaranya, misalnya:
. Pada pertanyaan : “Apakah engkau akan menggunakan jaket? “ ia menjawab :
“Tidak saya merasa cukup hangat”. Jawaban ini cocok dengan pertanyaannya.
. Seorang anak bercerita bahwa saat berulang tahun ia diajak berenang oleh orang
tuanya, temannya
bereaksi: “Tadi pagi saya melihat anjing besar sekali?” Reaksi ini
tidak sesuai dengan apa yang menjadi topic bicara.
. Kita bertanya pada anak kita: “Apakah engkau sudah mengikat tali sepatumu?” Lalu dijawab oleh anak kita: “Saya baru saja makan es krim.” Jawaban ini secara Pragmatik menjawab tidak pada konteks yang benar.

Mieke Pronk-Boerma juga membagi periode perkembangan bicara menjadi periode pra-verbal dan periode verbal. Periode pra verbal menurutnya merupakan periode yang sangat penting, yang dibaginya menjadi:
- minggu ke 0 – 6 : menangis
- minggu ke 6 hingga bulan ke 4 : vokalisasi : ah, uh
- bulan ke 4 – 8 : babbling atau mengoceh (bunyian vocal terus menerus), misalnya: gagaggagagag….aaaaaa,…..tatatatatatata. Pada periode ini bunyi bahasa ibu juga diproduksinya. Si anak juga akan mengikuti apa yang ibu ucapkan, sambil ia mengikuti ucapan ibu atau pengasuhnya, segera ia akan mengucapkan papa, mama. Seorang bayi yang tuli, juga akan melakukan babbling ini, tetapi kemudian akan berhenti di usianya yang ke 8 -9 bulan.
- Bulan ke 8 – 12: social babbling, yaitu mengocah dengan cara dimana
- pola bunyian dari sekitarnya akan diambil alihnya, ia juga akan melakukan imitasi pola bunyian kalimat. Pola bunyian yang tidak termasuk dalam bahasa ibu akan segera hilang. Kemudian anak akan mendengarkan, mengoceh dan mengikuti, terus menerus hingga terjadilah pemahaman terhadap kata-kata, dan penggunaan kata-kata; pemahaman kata akan dengan sendirinya kemudian diucapkannya. Dalam periode ini muncul bentuk yang disebut echolalia yaitu si anak hanya mengulang apa kata pengasuh tanpa kata-kata tersebut mempunyai maksud tertentu atau tanpa arti apa-apa.

Periode verbal mempunyai beberapa fase yaitu:
- bulan ke 12 – 15 : yang merupakan fase kalimat dengan satu kata. Misalnya seorang anak mengatakan: “Mobil!” Maksudnya adalah: “Saya minta sebuah mobil!” atau: “Beri saya mobil itu!” atau: “Itu mobil bagus!” dan sebagainya. Si anak akan menanyakan nama-nama segala sesuatu dengan cara menunjuk-nunjuk dan dengan cara tertentu ia menyebutkannya kembali. Si anak belum menyangkal dengan kata, tetapi sudah membuat gerakan menggeleng dengan kepala.
- Bulan ke 15 – 2 tahun: fase kalimat dengan dua kata. Seorang anak usia dua tahun biasanya sudah mempunyai 270 kata. Ia juga bertanya dengan intonasi bertanya. Ia mulai menyangkal dengan kata-kata. Banyak kata-kata yang masih terpotong , misalnya “minum” menjadi “mium”.
- Usia 2 – 3 tahun: yang merupakan fase kalimat dengan banyak kata. Kalimat terdiri dari kata benda dan kata kerja. Apa yang diucapkan lebih kepada arti atau maksud kalimat yang diucapkan, namun belum dalam bentuk kalimat yang benar. Tetapi dalam usia ini daftar kata yang dimiliki akan meningkat dengan pesat. Suku kata akan diucapkan dengan lebih baik. Ia juga mulai menggunakan bentuk kamu-dan saya. Kadang ia masih menggunakan bentuk –kamu jika berkata pada dirinya sendiri. :”Mana bonekamu? “ padahal maksudnya: “Dimana boneka itu saya taruh?”
- Usia 3 – 4 tahun: si anak akan banyak mengerti berbagai hal, dan banyak bercerita. Ia juga sudah bisa mengucapkan bunyian berbagai huruf kecuali /s/l/r. Juga masih ada beberapa kesalahan dengan pengucapan kata sambung, tetapi sudah bisa berbicara dengan aturan sebuah kalimat termasuk urutan kata, imbuhan, dan pemotongan kalimat. Kata jamak juga bisa dibentuk. Seringkali masih ada kata-kata yang diulang –ulang karena berpikir baginya lebih cepat daripada mengucapkan kalimat. Nampaknya seperti seorang anak yang gagap, tetapi sebetulnya bukan.
- Usia 4 – 6 tahun: Di usia enam anak-anak ini akan semakin baik mengucapkan berbagai huruf, juga untuk huruf-huruf yang sulit seperti s dan r. Ia juga semakin membaik dengan aturan pembuatan kalimat, termasuk juga penggunaan kata penghubung: dan, tapi, atau, karena, sebab… dlsb. Dalam usia ini anak juga mulai dengan menyampaikan pemikiran dari abstraksinya.

Sumber: Mieke Pronk-Boerma (1994): Logopedie voor onderwijs gevenden, H Nelissen, Baarn

Add comment April 9, 2008

Delayed Speech

Delayed Speech for Language Development

Your son is 2 years old and still isn’t talking. He says a few words, but in comparison to his peers, you think he’s way behind. You remember that his sister could put whole sentences together at the same age. Hoping he will catch up, you postpone seeking professional advice. Some kids are early walkers and some are early talkers, you tell yourself. Nothing to worry about…

This scenario is common among parents of children who are slow to speak. Unless they observe other areas of “slowness” in the early development of their child, parents may hesitate to seek advice. Some parents may excuse the lack of talking by reassuring themselves that “he’ll outgrow it” or “she’s just more interested in physical things.”

Knowing what’s “normal” and what’s not in speech and language development can help you figure out if you should be concerned or if your child is right on schedule.

Understanding Normal Speech and Language Development

It’s important to discuss early speech and language development, as well as other developmental concerns, with your child’s doctor at every routine well-child visit. Although it may be difficult to tell whether your child is just immature in his or her ability to communicate or if your child has a problem that requires professional attention, the following developmental norms may provide clues:

Before 12 months

It’s important for kids of this age to be observed for signs that they’re using their voices to relate to their environment. Cooing and babbling are early stages of speech development. As babies get older (often around 9 months), they begin to string sounds together, incorporate the different tones of speech, and say words like “mama” and “dada” (without really understanding what those words mean). Before 12 months, children should also be attentive to sound. Babies who watch intently but don’t react to sound may be showing signs of hearing loss.

By 12 to 15 months

Children this age should have a wide range of speech sounds in their babbling and at least one or more true words (not including “mama” and “dada”). Nouns usually come first, like “baby” and “ball.” Your child should also be able to understand and follow single directions (“Please give me the toy,” for example).

From 18 to 24 months

Children should have a vocabulary of about 20 words by 18 months and 50 or more partial words by the time they turn 2. By age 2, kids should be learning to combine two words, such as “baby crying” or “Daddy big.” A 2-year-old should also be able to follow two-step commands (such as “Please pick up the toy and bring me your cup”).

From 2 to 3 years

Parents often witness an “explosion” in their child’s speech. Your child’s vocabulary should increase (to too many words to count) and he or she should routinely combine three or more words into sentences. Your child’s comprehension should also increase – by 3 years of age, he or she should begin to understand what it means to “put it on the table” or “put it under the bed.” Your child should also begin to identify colors and comprehend descriptive concepts (big versus little, for example).

What’s the Difference Between Speech and Language?

Speech and language are often confused, but there is a distinction between the two:

  • Speech is the verbal expression of language and includes articulation, which is the way words are formed.
  • Language is much broader and refers to the entire system of expressing and receiving information in a way that’s meaningful. It’s understanding and being understood through communication – verbal, nonverbal, and written.

Although problems in speech and language differ, they frequently overlap. A child with a language problem may be able to pronounce words well but be unable to put more than two words together. Conversely, another child’s speech may be difficult to understand, but he or she may use words and phrases to express ideas. Another child may speak well but have difficulty following directions.

What Are Some Warning Signs of a Possible Problem?

If you’re concerned about your child’s speech and language development, there are some things you can be on the lookout for.

An infant who isn’t responding to sound or who isn’t vocalizing is of particular concern. Between 12 and 24 months, reasons for concern include a child who:

  • isn’t using gestures, such as pointing or waving bye-bye by 12 months
  • prefers gestures over vocalizations to communicate by 18 months
  • has trouble imitating sounds by 18 months

For the child over 2 years, you should seek an evaluation if he or she:

  • can only imitate speech or actions and doesn’t produce words or phrases spontaneously
  • says only certain sounds or words repeatedly and can’t use oral language to communicate more than his or her immediate needs
  • can’t follow simple directions
  • has an unusual tone of voice (such as raspy or nasal sounding)
  • is more difficult to understand than expected for his or her age. Parents and regular caregivers should understand about half of your child’s speech at 2 years and about three quarters of your child’s speech at 3 years. By 4 years old, your child should be mostly understood, even by people whom your child doesn’t know.

What Causes Delayed Speech or Language?

There are many reasons for delays in speech and language development. Speech delays in an otherwise normally developing child are rarely caused by oral impairments, such as problems with the tongue or palate (the roof of the mouth). Being “tongue-tied” (when the frenulum – the fold beneath the tongue – is too tight) is almost never a cause of delayed speech.

A number of children with speech delays have oral-motor problems, meaning there’s inefficient communication in the areas of the brain responsible for speech production. The child encounters difficulty using the lips, tongue, and jaw to produce speech sounds. Speech may be the only problem or may be accompanied by other oral-motor problems such as feeding difficulties. A speech delay may also indicate a more “global” (or general) developmental delay.

Hearing problems are also commonly related to delayed speech, which is why a child’s hearing should be tested by an audiologist whenever there’s a speech concern. If a child has trouble hearing, he or she may have trouble understanding, imitating, and using language.

Ear infections, especially chronic infections, can affect hearing ability. Simple ear infections that have been adequately treated, though, should have no effect on speech. But it’s important to note that current recommendations suggest that, in certain situations and depending on the child’s age, ear infections can be observed without immediate treatment because most will resolve without treatment.

What Will the Speech-Language Pathologist Do?

If you, or your child’s doctor, suspect that your child has a problem, early evaluation by a professional (called a speech-language pathologist) is crucial. Of course, if there turns out to be no problem after all, an evaluation can ease your fears.

Although you can seek out a speech-language pathologist on your own, primary care doctors will frequently refer you to them.

In conducting an evaluation, a speech-language pathologist will look at your child’s speech and language skills within the context of his or her total development. Along with observations of your child, the speech-language pathologist will use standardized tests and scales, as well as his or her knowledge of milestones in speech and language development. The speech-language pathologist will also assess:

  • what your child understands (called receptive language)
  • what your child can say (called expressive language)
  • if your child is attempting to communicate in other ways, such as pointing, head shaking, gesturing, etc.
  • your child’s oral-motor status (how a child’s mouth, tongue, palate, etc. all work together for speech as well as eating and swallowing)

If the speech-language pathologist finds that your child needs speech therapy, your involvement will be very important. You can observe therapy sessions and learn to participate in the process. The speech therapist will also show you how you can work with your child at home to improve his or her speech and language skills.

Of course, the result of an evaluation by a speech-language pathologist may indicate that your expectations are simply too high. Educational materials that outline developmental stages and milestones may help you look at your child more realistically.

What Can Parents Do?

Like so many other things, speech development is a mixture of nature and nurture. A child’s genetic makeup will, in part, determine intelligence and speech and language development. However, a lot of it depends on the child’s environment. Is the child adequately stimulated at home or at child care? Are there opportunities for communication exchange and participation? What kind of feedback does the child get?

When speech, language, hearing, or developmental problems do exist, early intervention can provide the help your child needs. And when you have a better understanding of why your child isn’t talking, you can learn many ways to encourage your child’s development of speech.

Here are a few general tips you can employ at home:

  • Spend a lot of time communicating with your child, even during infancy – talk, sing, and encourage imitation of sounds and gestures.
  • Read to your child – starting as early as 6 months. You don’t have to finish a whole book, but look for age-appropriate soft or board books or picture books that encourage your child to look while you name the pictures. Try starting with a classic book such as Pat the Bunny, in which the child imitates the patting motion, or books with textures that your child can touch. As your child gets older, let him or her point to recognizable pictures and try to name them. Then move on to nursery rhymes, which have rhythmic appeal. Progress to predictable books, such as Eric Carle’s Brown Bear, Brown Bear, in which your child can anticipate what happens. Your little one may even start to memorize his or her favorite stories.
  • Use everyday situations to reinforce your child’s speech and language. In other words, talk your way through the day. For example, name foods at the grocery store, explain what you’re doing as you cook a meal or clean a room, point out objects around the house, and as you drive, point out sounds you hear. Ask questions and acknowledge your child’s responses (even when they’re hard to understand). Keep things simple, but never use “baby talk.”

Whatever your child’s age, recognizing and treating problems early on is the best approach to help with speech and language delays. With proper therapy and time, your child will likely be better able to communicate with you and the rest of the world.

Reviewed by: Mary L. Gavin, MD, and Anne M. Meduri, MD

Add comment April 3, 2008

Communication 2-3Year Old

Communication and Your 2-3 Year Old

Communicating with a child, from infancy onward, is one of the most pleasurable and rewarding experiences for both parent and child. Children learn by absorbing information through daily interactions and experiences with other children, adults, and the world.

How Should I Communicate With My Child?

The more interactive conversation and play a child is involved in, the more a child learns. Reading books, singing, playing word games, and simply talking to your child will increase his vocabulary while providing increased listening opportunities. Here are a few suggestions to help improve your child’s communication skills:

  • Talk to your toddler about what he or she did during the day or plans to do tomorrow. “I think it’s going to rain this afternoon. What shall we do?” Or discuss the day’s events at bedtime.
  • Play make-believe games.
  • Read your child’s favorite books over and over and encourage him or her to join in with words he or she knows. Encourage “pretend” reading (let your child pretend he or she is reading a book to you).

Typical Vocabulary and Communication Patterns

Between the ages of 2 and 3, children experience a tremendous growth spurt in language skills. Although each child develops at a unique pace, when it comes to language skills, by the age of 2, most children can follow simple directions and can speak about 50 to 200 words. Many children may also begin to echo what they hear and begin to combine words in short phrases.

By about 2 years of age, a child usually knows at least 200 words and uses fragmented and short phrases. Children at this age usually can follow additional instructions, such as “Come to Daddy.” A 3-year-old’s vocabulary typically falls between 200 and 300 words, and by this time many children begin to string words together in short sentences.

Kids at this stage of language development start to understand more and speak more clearly, and they’re usually able to use language to engage in a simple question-and-answer format. By age 3, children should be using language freely, experimenting with sounds, and beginning to use language to solve problems and learn concepts. They can also count 3 objects correctly and will know their age. However, although they are using and understanding many words, only about 3/4 of what they say will be understandable to others.

What Should I Do if I Suspect a Problem?

If you suspect your child is having trouble with hearing, language acquisition, or speech clarity, call your child’s doctor. A hearing test may be one of the first steps in determining if your child has a hearing problem. Two years of age is not too young for a referral for a speech/language evaluation, particularly if your child is not following directions or answering “yes” or “no” to simple questions.

A speech-language pathologist (an expert who evaluates and treats speech and language disorders) may recommend direct therapy, referral to a developmental pediatrician if there is suspicion of a global developmental delay (delays in more than one area of development, including gross motor, fine motor, problem-solving, language, and social skills), early intervention services, or a follow-up assessment to see if your child will catch up over time.

Typical Communication Problems

Communication problems for 2- to 3-year-olds include:

  • hearing difficulties
  • problems following directions
  • poor vocabulary acquisition
  • speech dysfluencies (difficulty initiating or sustaining sounds)
  • delayed acquisition of phrasing skills
  • unclear speech

Problems – such as stuttering – may be a developmental process that some children will outgrow. For others, more intensive therapy may be needed. Medical professionals, such as speech pathologists, therapists, or your child’s doctor, can help your child overcome these communication problems.

Some parents worry that a toddler who is not speaking may have autism. Children with autism and related conditions may have delayed speech or other problems with communication, but poor social interactions, and limited or restricted interests or patterns of behavior are also hallmarks of this disorder. If you have any questions or concerns about your child’ development, talk with your child’s doctor.

Reviewed by: Barbara Homeier, MD

Add comment April 3, 2008

Communication 1-2Year Old

Communication and Your 1-2 Year Old

Language development really takes off during this time, especially as your baby approaches his or her second birthday. Your child is better able to comprehend what you say and express what he or she wants. He or she will take joy in his ability to understand more complex directions – and won’t hesitate to give you directions.

How Does My Baby Communicate?

Most babies say their first words toward the beginning of this period, though some start even sooner and others don’t start talking until they are nearly 2 years old. If your baby is preoccupied with learning to walk, he or she may push talking to the back burner; this is not unusual and nothing to be alarmed about.

Your baby may have learned fragments of dozens of words that probably won’t be recognizable yet. When he or she gets around to talking, though, your baby will probably progress quickly. He or she will soon be able to point at something familiar and say its name, and recognize names of familiar people, objects, and body parts. By 2 years, he or she may use phrases and even two- to four-word sentences, although your doctor will only expect to hear that your child is putting two words together.

No matter when your child says his or her first words, it’s a sure bet he or she will be understanding much of what you say well before that. Your child should be able to respond to commands (“Roll the ball to Mommy”) and should be fully aware of the names of familiar objects and family members.

You will undoubtedly find yourself struggling with your toddler to do as you say, only to have him or her ignore you or scream in protest. Your child is merely testing your limits and his or her degree of control. By 18 months, he or she will probably have mastered saying “no” with authority, and by age 2 he or she may throw a tantrum when he or she is unwilling to do something you ask. Your child will also show signs of possessiveness, and you’ll frequently hear “mine” or see tears if something is taken away or you show attention toward someone else.

What Should I Do?

Your baby is listening to everything you say, and he or she is storing it away at an incredible rate. Instead of using “baby” words, teach your child the correct names for people, places, and things. Speak slowly and clearly, and keep it simple.

Your baby may still be communicating with gestures such as pointing to something he or she wants. Gestures are OK, but you should use a running commentary such as, “Do you want a drink?” (when he or she points to the refrigerator), then wait for a response. Then say, “What do you want? Apple juice? OK, let’s get some apple juice.” Such behavior encourages your baby to respond and participate in conversations. But don’t frustrate your baby by withholding food or drink waiting for a response.

Between 15 and 18 months, your baby will probably begin to enjoy language games that ask him or her to identify things, such as: “Where’s your ear?” and “Where is Mommy?” Your child’s vocabulary will grow quickly, but his pronunciation isn’t likely to keep pace. Resist the temptation to correct your baby’s pronunciation; most babies mispronounce their words. Instead, emphasize the correct pronunciation in your response.

Should I Be Concerned?

Some babies don’t talk until their second birthday and choose instead to get by with the use of gestures and sounds. Vocabulary varies widely at this age, too; some babies say dozens of words, others only a few.

Most babies this age have these communication milestones in common:

  • Speak about 15 words by 18 months
  • Put two words together to form a sentence by age 2
  • Follow simple directions by age 2

Hearing problems may become more apparent during this stage because of the emergence of speech. Don’t hesitate to report any concerns you have to your doctor immediately, especially if you feel your child is not babbling or responding to your speech patterns. Sometimes chronic ear infections can leave children with excessive fluid buildup that can interfere with normal hearing. Special tests can check for hearing loss.

Some parents worry that a toddler who is not speaking may have autism. Children with autism and related conditions may have delayed speech or other problems with communication, but poor social interactions, and limited or restricted interests or patterns of behavior are also hallmarks of this disorder. If you have any questions or concerns about your child’ development, talk with your child’s doctor.

Updated and reviewed by: Barbara Homeier, MD

Add comment April 3, 2008

Help My Child Talk

What Can I Do To Help My Child Talk?
Dr. James MacDonnald
a professor of Speech and Language pathology and Developmental
disabilities
at the Ohio State University

I’ve worked with hundreds of parents and professionals whose main desire was they wanted their child to talk. Many of them thought that since thei child had delays, getting her to talk meant teaching her, like teaching numbers and other school-like things. However, we have found that there’s a great deal of play, turn-taking, and nonverbal communication needed before words are ready to come. But for now, lets look at what parents can do once their child is ready for words.

Use the guide below to prepare your child to be a frequent and enjoyable talker.

PLAY FREQUENTLY in ways your child plays
BALANCE your times together; be sure both of you do about as much as theother
WAIT FOR YOUR CHILD TO TALK; avoid doing all the talking
MATCH your child’s actions
MATCH your child’s communications, communicate in ways your child can do
TALK AS MUCH AS YOUR CHILD DOES; then show him a next step
RESPOND to your child’s little sounds and actions as communications at first
RESPOND MORE to your child’s words than gestures or sounds, after he’stalking regularly
SHOW HIM WHAT TO SAY in one or two word
MAKE TALKING TIMES MORE PLAY THAN WORK
TRANSLATE your child’s own language of sounds and movements into A WORD
DON’T RUSH YOUR CHILD TO WORDS; communicating with sounds come first
REDUCE YOUR QUESTIONS; show your child what to say instead
ACCEPT ANY PRONUNCIATIONS AT FIRST, he won’t talk like an adult until he
practices a lot
BECOME MORE OF A PLAY PARTNER THAN A TEACHER; your child will stay and learn
more
BE A LIVING DICTIONARY; put words on your child’s experiences as they happen
.But I’m a Parent, NOT a professional!
Q. I am a parent of a late talking child. I have not trained to be a speech therapist or a teacher, so I rely on professionals to teach my child to talk. Now, I find that many professional have little training with non-talking children. What can I do?

A. I hear this question very often. A major purpose of Communicating Partners is to educate parents and professionals to work together on goals and strategies that focus on making children communicative persons before compliant students.

Please remember a few things about language development:

. Your child can learn to communicate in every daily contact with people, not only in school
. You as a parent know more about your child than almost anyone.
. Teachers and therapists have many jobs to do; language is only one of them
. Communication and social skills are best learned at home.
. Many parents have helped their late talking children communicate
Try to understand the many often conflicting jobs teachers and therapists
and help them and your child be working with them. Many of the Communicating Partners programs are designed for parents to use with professionals. Language and communication is one subject that cannot be learned only in school.
Therapists and teachers can certainly help but you as a parent have much more opportunities to make your child first interactive, then communicative, then verbal. Please do not expect that isolated therapy sessions one or twice a week will by enough for your child to become social and communicative.

The more you participate in this training the more your child will learn these natural goals that are often assumed to exist when children enter school. Communicate openly and frequently with the professionals and your child will benefit greatly. No one can accomplish the big job of social and communicative development on their own.

Add comment April 2, 2008

Tahapan Bicara

Tahapan Perkembangan Kemampuan Bicara dan Berbahasa

Berikut ini akan disajikan informasi seputar tahapan perkembangan bahasa dan bicara seorang anak. Namun perlu diperhatikan, bahwa batasan-batasan yang tertera juga bukan merupakan batasan yang kaku mengingat keunikan setiap anak berbeda satu dengan yang lain. Menurut Dr. Miriam Stoppard (1995) tahapan perkembangan kemampuan bicara dan berbahasa dapat dibagi sebagai berikut:

0 – 8 Minggu

Perkembangan Kemampuan Berbicara dan Bahasa

Pada masa awal, seorang bayi akan mendengarkan dan mencoba mengikuti suara yang didengarnya. Sebenarnya tidak hanya itu, sejak lahir ia sudah belajar mengamati dan mengikuti gerak tubuh serta ekspresi wajah orang yang dilihatnya dari jarak tertentu. Meskipun masih bayi, seorang anak akan mampu memahami dan merasakan adanya komunikasi dua arah dengan memberikan respon lewat gerak tubuh dan suara. Sejak dua minggu pertama, ia sudah mulai terlibat dengan percakapan, dan pada minggu ke-6 ia akan mengenali suara sang ibu, dan pada usia 8 minggu, ia mulai mampu memberikan respon terhadap suara yang dikenalinya.

Tindakan yang Dapat Dilakukan Orangtua

  1. Semakin dini orang tua menstimulasi anaknya dengan cara mengajaknya bercakap-cakap dan menunjukkan sikap yang mendorong munculnya respon dari si anak, maka sang anak akan semakin dini pula tertarik untuk belajar bicara. Tidak hanya itu, kualitas percakapan dan bicaranya juga akan lebih baik. Jadi, teruslah mengajak anak Anda bercakap-cakap sejak hari pertama kelahirannya.

2. Jalinlah komunikasi dengan dihiasi oleh senyum Anda, pelukan, dan perhatian. Dengan demikian anak Anda akan termotivasi untuk berusaha memberikan responnya.

3. Tunjukkanlah selalu kasih sayang melalui peluk-cium, dan kehangatan yang bisa dirasakan melalui intonasi suara Anda. Dengan demikian, Anda menstimulasi terjalinnya ikatan emosional yang erat antara Anda dengan anak Anda sekaligus membesarkan hatinya.

4. Selama menjalin komunikasi dengan anak Anda, jangan lupa untuk melakukan kontak mata secara intensif karena dari pandangan mata tersebutlah anak bisa merasakan perhatian, kasih sayang, cinta, dan pengertian. Jika sedang bicara, tataplah matanya dan jangan malah membelakangi dia.

  1. Jika anak Anda menangis, jangan didiamkan saja. Selama ini banyak bereda pandangan keliru, bahwa jika bayi menangis sebaiknya didiamkan saja supaya nantinya tidak manja dan bau tangan. Padahal, satu-satunya cara seorang bayi baru lahir untuk mengkomunikasikan keinginan dan kebutuhannya (haus, lapar, kedinginan, kepanasan, kebutuhan emosional, kelelahan, kebosanan) dia adalah melalui tangisan. Jadi, jika tangisannya tidak Anda pedulikan, lama-lama dia akan frustasi karena kebutuhannya terabaikan. Yang harusnya Anda lakukan adalah memberinya perlakuan seperti yang dibutuhkannya saat ia menangis. Untuk itu, kita sebagai orang tua haruslah belajar memahami dan mengerti bahasa isyaratnya. Tidak ada salahnya, jika Anda seakan-akan bertanya padanya, seperti :”rupanya ada sesuatu yang kamu inginkan,….coba biar Ibu lihat…”

8 – 24 Minggu

Perkembangan Kemampuan Berbicara dan Bahasa

Tidak lama setelah seorang bayi tersenyum, ia mulai belajar mengekspresikan dirinya melalui suara-suara yang sangat lucu dan sederhana, seperti “eh”, “ah”, “uh”, “oh” dan tidak lama kemudian ia akan mulai mengucapkan konsonan seperti “m”, “p”, “b”, “j” dan “k”. Pada usia 12 minggu, seorang bayi sudah mulai terlibat pada percakapan “tunggal” dengan menyuarakan “gaga”, “ah goo”, dan pada usia 16 minggu, ia makin mampu mengeluarkan suara seperti tertawa atau teriakan riang, dan bublling. Pada usia 24 minggu, seorang bayi akan mulai bisa menyuarakan “ma”, “ka”, “da” dan sejenisnya. Sebenarnya banyak tanda-tanda yang menunjukkan bahwa seorang anak sudah mulai memahami apa yang orang tuanya atau orang lain katakan. Lucunya, anak-anak itu akan bermain dengan suaranya sendiri dan terus mengulang apa yang didengar dari suaranya sendiri.

Tindakan yang Dapat Dilakukan Orangtua

1. Untuk bisa berbicara, seorang anak perlu latihan mekanisme berbicara melalui latihan gerakan mulut, lidah, bibir. Sebenarnya, aktivitas menghisap, menjilat, menyemburkan gelembung dan mengunyah merupakan kemampuan yang diperlukan. Oleh sebab itu, latihlah anak Anda baik dengan permainan maupun dengan makanan.

2. Sering-seringlah menyanyikan lagu untuk anak Anda dengan lagu-lagu anak-anak yang sederhana dan lucu, secara berulang dengan penekanan pada ritme dan pengucapannya. Bernyanyilah dengan diselingi permainan-permainan yang bernada serta menarik. Jadi, luangkan lah waktu Anda untuk terlibat dalam kegiatan menarik seperti itu agar kemampuan bicara dan berbahasa anak Anda lebih berkembang.

3. Salah satu cara seorang anak berkomunikasi di usia ini adalah melalui tertawa. Oleh sebab itu, sering-seringlah bercanda dengannya, tertawa, membuat suara-suara dan ekspresi lucu agar kemampuan komunikasi dan interaksinya meningkat dan mendorong tumbuhnya kemampuan bahasa dan bicara.

4. Setiap bayi yang baru lahir, mereka akan belajar melalui pembiasaan atau pun pengulangan suatu pola, kegiatan, nama atau peristiwa. Melalui mekanisme ini Anda mulai bisa mengenalkan kata-kata yang bermakna pada anak pada saat melakukan aktivitas rutin, seperti : pada waktu mau makan, Anda bisa katakan “nyam-nyam”

28 Minggu – 1 Tahun

Perkembangan Kemampuan Berbicara dan Bahasa

Usia 28 minggu seorang anak mulai bisa mengucapkan “ba”, “da”, “ka” secara jelas sekali. Bahkan waktu menangis pun vokal suaranya sangat lantang dan dengan penuh intonasi. Pada usia 32 minggu, ia akan mampu mengulang beberapa suku kata yang sebelumnya sudah mampu diucapkannya. Pada usia 48 minggu, seorang anak mulai mampu sedikit demi sedikit mengucapkan sepatah kata yang sarat dengan arti. Selain itu, ia mulai mengerti kata “tidak” dan mengikuti instruksi sederhana seperti “bye-bye” atau main “ciluk-baa”. Ia juga mulai bisa meniru bunyi binatang seperti “guk”, “kuk”, “ck”

Tindakan yang Dapat Dilakukan Orangtua

1. Jadilah model yang baik untuk anak Anda terutama pada masa ini lah mereka mulai belajar meniru kata-kata yang didengarnya dan mengucapkannya kembali. Ucapkan kata-kata dan kalimat Anda secara perlahan, jelas dengan disertai tindakan (agar anak tahu artinya atau korelasinya antara kata yang Anda ucapkan dengan tindakan kongkritnya), dan jangan lupa, bahasa tubuh dan ekspresi wajah Anda juga harus pas.

2. Anak Anda akan belajar bicara dengan bahasa yang tidak jelas bagi Anda. Jadi, ini lah waktunya untuk Anda berdua (Anda dengan anak) saling belajar untuk bisa saling memahami keinginan dan maksud berdua. Jadikanlah kegiatan ini sebagai salah satu bentuk permainan yang menyenangkan agar anak Anda tidak patah semangat untuk terus mencoba mengucapkan secara pas dan jelas. Namun, jika Anda malas memperhatikan “suaranya”, apa yang dimaksudnya, dan tidak mengulangi suaranya, atau bahkan ekspresi wajah Anda membuat dirinya jadi enggan mencoba, maka anak Anda akan merasa bahwa “tidak memungkinkan baginya untuk mencoba mengekspresikan keinginan karena orang dewasa tidak akan ada yang mengerti dan mau mendengarkan”

3. Kadang-kadang, ikutilah gumamannya, namun, Anda juga perlu mengucapkan kata secara benar. Jika suatu saat ia berhasil mengucapkan suatu suku kata atau kata dengan benar, berilah pujian yang disertai dengan pelukan, ciuman, tepuk tangan..dan sampaikan padanya, “betapa pandainya dia”.

4. Jika mengucapkan sebuah kata, sertailah dengan penjelasan artinya. Lakukan hal ini terus menerus meski tidak semua dimengertinya. Penjelasan bisa dilakukan misal dengan menunjukkan gambar, gerakan, sikap tubuh, atau pun ekspresi.

1 Tahun – 18 Bulan

Perkembangan Kemampuan Berbicara dan Bahasa

Pada usia setahun, seorang anak akan mampu mengucapkan dua atau tiga patah kata yang punya makna. Sebenarnya, ia juga sudah mampu memahami sebuah obyek sederhana yang diperlihatkan padanya. Pada usia 15 bulan, anak mulai bisa mengucapkan dan meniru kata yang sederhana dan sering didengarnya untuk kemudian mengekspresikannya pada porsi / situasi yang tepat. Usia 18 bulan, ia sudah mampu menunjuk obyek-obyek yang dilihatnya di buku dan dijumpainya setiap hari. Selain itu ia juga mampu menghasilkan kurang lebih 10 kata yang bermakna.

Tindakan yang Dapat Dilakukan Orangtua

1. Semakin mengenalkan anak Anda dengan berbagai macam suara, bunyi, seperti misalnya suara mobil, motor, kucing, anjing, dsb. Kenalkan pula pada suara-suara yang sering didengarnya sehari-hari, seperti pintu terbuka-tertutup, suara air, suara angin berdesir di pepohonan, kertas dirobek, benda jatuh, dsb.

2. Sering-seringlah membacakan buku-buku yang sangat sederhana namun sarat dengan cerita yang menarik untuk anak dan gambar serta warna yang “eye catching”. Tunjukkan obyek-obyek yang terlihat di buku, sebutkan namanya, jelaskan apa yang sedang dilakukannya, bagaimana jalan ceritanya. Minta lah padanya untuk mengulang nama yang Anda sebutkan, dan jangan lupa, berilah pujian jika ia berhasil mengingat dan mengulang nama yang Anda sebutkan.

3. Jika sedang bersamanya, sebutkan nama-nama benda, warna dan bentuk pada setiap obyek yang dilihatnya

4. Anda mulai bisa mengenalkan dengan angka dengan kegiatan seperti menghitung benda-benda sederhana yang sedang dibuat permainan. Lakukan itu dalam suasana yang santai dan nyaman agar anak tidak merasa ada tekanan keharusan untuk menguasai kemampuan itu

18 Bulan – 2 Tahun

Perkembangan Kemampuan Berbicara dan Bahasa

Pada rentang usia ini, kemampuan bicara anak semakin tinggi dan kompleks. Perbendaharaan katanya pun bisa mencapai 30 kata dan mulai sering mengutarakan pertanyaan sederhana, seperti “mana ?”, “dimana?” dan memberikan jawaban singkat, seperti “tidak”, “disana”, “disitu”, “mau”. Pada usia ini mereka juga mulai menggunakan kata-kata yang menunjukkan kepemilikan, seperti “punya ani”, “punyaku”. Bagaimana pun juga, sebuah percakapan melibatkan komunikasi dua belah pihak, sehingga anak juga akan belajar merespon setelah mendapatkan stimulus. Semakin hari ia semakin luwes dalam menggunakan kata-kata dan bahasa sesuai dengan situasi yang sedang dihadapinya dan mengutarakan kebutuhannya. Namun perlu diingat, oleh karena perkembangan koordinasi motoriknya juga belum terlalu sempurna, maka kata-kata yang diucapkannya masih sering kabur, misalnya “balon” jadi “aon”, “roti” jadi “oti”

Tindakan yang Dapat Dilakukan Orangtua

1. Mulailah mengenalkan anak Anda pada perbendaharaan kata yang menerangkan sifat atau kualitas. Seperti “baik, indah, cantik, dingin, banyak, sedikit, asin, manis, nakal, jelek, dsb. Caranya, pada saat Anda mengucapkan suatu kata tertentu, sertailah dengan kualitas tersebut, misalnya “anak baik, anak manis, anak pintar, baju bagus, boneka cantik, anak nakal, roti manis”, dsb

2. Mulailah mengenalkan padanya kata-kata yang menerangkan keadaan atau peristiwa yang terjadi : sekarang, besok, di sini, di sana, kemarin, nanti, segera, dsb

3. Anda juga bisa mengenalkannya kata-kata yang menunjukkan tempat : di atas, di bawah, di samping, di tengah, di kiri, di kanan, di belakang, di pinggir; Anda bisa melakukannya dengan menggunakan contoh gerakan. Banyak model permainan yang dapat Anda gunakan untuk menerangkan kata-kata tersebut, bahkan dengan permainan, akan jauh lebih menyenangkan baginya dna bagi Anda.

4. Yang perlu Anda ingat, janganlah menyetarakan perkembangan anak Anda dengan anak-anak lainnya karena tiap anak mempunyai dan mengalami hambatan yang berbeda-beda. Jadi, jika anak Anda kurang lancar dan fasih berbicara, janganlah kemudian menekannya untuk lekas-lekas mengoptimalkan kemampuannya. Keadaan ini hanya akan membuatnya stress

2 Tahun – 3 Tahun

Perkembangan Kemampuan Berbicara dan Bahasa

Seorang anak mulai menguasai 200 – 300 kata dan senang bicara sendiri (monolog). Sekali waktu ia akan memperhatikan kata-kata yang baru didengarnya untuk dipelajari secara diam-diam. Mereka mulai mendengarkan pesan-pesan yang penuh makna, yang memerlukan perhatian dengan penuh minat dan perhatian. Perhatian mereka juga semakin luas dan semakin bervariasi. Mereka juga semakin lancar dalam bercakap-cakap, meski pengucapannya juga belum sempurna. Anak seusia ini juga semakin tertarik mendengarkan cerita yang lebih panjang dan kompleks. Jika diajak bercakap-cakap, mudah bagi mereka untuk loncat dari satu topik pembicaraan ke yang lainnya. Selain itu, mereka sudah mampu menggunakan kata sambung “sama”, misalnya “ani pergi ke pasar sama ibu”, untuk menggambarkan dan menyambung dua situasi yang berbeda. Pada usia ini mereka juga bisa menggunakan kata “aku”, “saya” “kamu” dengan baik dan benar. Dengan banyaknya kata-kata yang mereka pahami, mereka semakin mengerti perbedaan antara yang terjadi di masa lalu, masa kini dan masa sekarang.

Tindakan yang Dapat Dilakukan Orangtua

1. Pada usia ini, anak Anda akan lebih senang bercakap-cakap dengan anak-anak seusianya dari pada dengan orang dewasa. Oleh sebab itu, akan baik jika ia banyak dikenalkan dengan anak-anak seusianya dan dilibatkan pada lingkungan sosial yang bisa memfasilitasi kemampuan sosial dan berkomunikasinya. Salah satu tujuan para orang tua memasukkan anaknya dalam nursery school adalah karena alasan tersebut, agar anaknya bisa mengembangkan kemampuan komunikasi sekaligus sosialisasi. Meskipun demikian, bahasa dan kata-kata yang diucapkan masih bersifat egosentris, namun lama kelamaan akan lebih bersifat sosial seiring dengan perkembangan usia dan keluasan jaringan sosialnya.

2. Sering-seringlah menceritakan cerita menarik pada anak Anda, karena sebenarnya cerita juga merupakan media atau sarana untuk mengekspresikan emosi, menamakan emosi yang disimpannya dalam hati, dan belajar berempati. Dari kegiatan ini pula lah anak Anda tidak hanya belajar berani mengekspresikan diri secara verbal tapi juga belajar perilaku sosial.

3. Ceritakan padanya cerita yang lebih kompleks dan kenalkan beberapa kata-kata baru sambil menerangkan artinya. Lakukan ini secara terus menerus agar ia dapat mengingatnya dan mengenalinya dengan mudah ketika Anda mengulang cerita itu kembali di lain waktu.

3 – 4 Tahun

Perkembangan Kemampuan Berbicara dan Bahasa

Anak mulai mampu menggunakan kata-kata yang bersifat perintah; hal ini juga menunjukkan adanya rasa percaya diri yang kuat dalam menggunakan kata-kata dan menguasai keadaan. Mereka senang sekali mengenali kata-kata baru dan terus berlatih untuk menguasainya. Mereka menyadari, bahwa dengan kata-kata mereka bisa mengendalikan situasi seperti yang diinginkannya, bisa mempengaruhi orang lain, bisa mengajak teman-temannya atau ibunya. Mereka juga mulai mengenali konsep-konsep tentang kemungkinan, kesempatan, dengan “andaikan”, “mungkin”, “misalnya”, “kalau”. Perbendaharaan katanya makin banyak dan bervariasi seiring dengan peningkatan penggunaan kalimat yang utuh. Anak-anak itu juga makin sering bertanya sebagai ungkapan rasa keingintahuan mereka, seperti “kenapa dia Ma ?”, “sedang apa dia Ma?”, “mau ke mana ?”

Tindakan yang Dapat Dilakukan Orangtua

1. Hindari sikap mengkoreksi kesalahan pengucapan kata anak secara langsung, karena itu akan membuatnya malu dan malah bisa mematahkan semangatnya untuk belajar dan berusaha. Anda bisa mengulangi kata-kata tersebut secara jelas seolah Anda mengkonfirmasi apa yang dimaksudkannya. Dengan demikian, ia akan memahami kesalahannya tanpa merasa harus malu.

2. Pada usia ini, seorang anak sudah mulai bisa mengerti penjelasan sederhana. Oleh sebab itu, Anda bisa mulai mencoba untuk mengajaknya mendiskusikan soal-soal yang sangat sederhana; dan tanyakan apa pendapatnya tentang persoalan itu. Dengan cara itu, Anda melatih cara dan proses penyelesaian masalah pada anak Anda setahap demi setahap. Hasil dari tukar pendapat itu sebenarnya juga mempertinggi self-esteem anak karena ia merasa pendapatnya didengarkan oleh orang dewasa.

3. Mulailah mengeluarkan kalimat yang panjang dan kompleks, agar ia mulai belajar meningkatkan kemampuannya dalam memahami kalimat. Untuk mengetahui apakah ia memahami atau tidak, Anda bisa melihat respon dan reaksinya; jika ia melakukan apa yang Anda inginkan, dapat diartikan ia cukup mengerti kalimat Anda.

4. Anak-anak sangat menyukai kegiatan berbisik karena hal itu permainan mengasikkan buat mereka sebagai salah satu cara mengekspresikan perasaan, dan keingintahuan.

5. Pakailah cerita-cerita dongeng dan fabel yang sebenarnya mencerminkan dunia anak kita dan memakainya sebagai suatu cara untuk mengajarkan banyak hal tanpa menyinggung perasaannya. Dengan mendongeng, Anda mengenalkan padanya konsep-konsep tentang moralitas, nilai-nilai, sikap yang baik dan jahat, keadilan, kebajikan dan pesan-pesan moral lainnya. Jadikanlah saat-saat bersama anak Anda sebagai masa yang menyenangkan, ceria, santai dan segar. Buatlah ini menjadi kebiasaan di waktu-waktu tertentu, seperti sebelum tidur atau di waktu sore hari. (jr)

Add comment April 2, 2008

Previous Posts


Dapurku..

Jurnalku

Blog Aku Yang Lain

Fave Link

Pembaca Terhormat Saya Bukan Dokter

Artikel-artikel ini hanya untuk keperluan saya pribadi dari hasil browsing sana dan sini dan untuk referensi saya sendiri dalam mengasuh anak saya. jangan dijadikan patokan yaaaa

Quote Of The Day

Bayi tidak perlu computer atau mainan bagus-bagus. Yang mereka butuhkan adalah orang dewasa yang mengerti apa yang mereka rasakan dari waktu ke waktu. dan orang dewasa itu adalah kedua orang tuanya

Anda Pengunjung Ke :

Page Rank

Tulisan Teratas

Kalendar

November 2009
S S R K J S M
« Okt    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Kategori Awan

ANTIBIOTIK ASI BATUK PILEK BB TB dan GC DEMAM GIGI ANAK HEADLINE NEWS IMUNISASI KEHAMILAN KESEHATAN KESEHATAN ANAK MAINAN ANAK MPASI NEW BORN PARENTING PENDIDIKAN ANAK PERILAKU BAYI DAN ANAK POLA ASUH POLA MAKAN PROBLEM MAKAN PSIKOLOGI BAYI DAN ANAK RESEP RUD STIMULASI BAYI SUSU SAPI TAHAPAN BICARA TAHAPAN PERKEMBANGAN TATA LAKSANA PENYAKIT TEMPER TANTRUM TUMBUH KEMBANG

Kategori

Arsip

Tulisan Terakhir

Komentar Terakhir

Ummu aufa di BABY WAKLER TIDAK MEMBANTU ANA…
rafi di Permainan Tradisional
rusdiana di Cukup Kumur Fluor untuk Cegah …
na' di Tanda Dan gejala awal keh…
Rianty Umar di Makanan bayi 0 -24 bulan

Klik tertinggi

Top Rated

Facebook ku…

YMku Online Ga Ya?

My Son Birthday

Lilypie

My Honey

Image019

Image017

Image016

Image015

Image013z

Image013

Image012z

More Photos

Isi Buku Tamu ya..