Bagaimana Bayi Belajar Bahasa

sumber : http://www.bintangbangsaku.com/kumpulan-paper-dan-makalah/resume-%E2%80%9C-einstein-never-used-flash-cardquot-01/bagaimana-bayi-belajar-b

RESUME “EINSTEIN NEVER USED FLASH CARD”
Bab 4 Bahasa: Kekuatan Ocehan

Bayi lahir dengan perangkat akuisisi “bahasa”, sebuah organ metafora yang bertanggung jawab untuk belajar bahasa. Penelitian menunjukkan bahwa pada usia 5 bulan, bayi sudah secara khusus menggunakan sisi kiri otak mereka untuk suara bahasa dan sisi kanan untuk mengekspresikan emosi. Bayi sudah menggunakan sisi otak kanan untuk mulut mereka agar mengoceh, padahal mengoceh merupakan bahasa fungsi yang dikontrol oleh belahan otak kiri – hal itu sudah dilakukan bahkan pada usia 5 bulan.

Bagaimana Bayi Belajar Bicara

Perkembangan bahasa dimulai jauh sebelum ulang tahun pertama bayi. Bahkan, dimulai di dalam rahim.

Menemukan cara bagaimana membangun bahasa: Kalimat

Bahwa anak usia 4 bulan bisa membedakan antara dua kalimat. Pada usia sangat dini, bayi sudah lebih suka mendengarkan sampel suara yang lebih alami. Dengan gerakan kepala sederhana beralih ke berbagai sisi, hal itu menunjukkan kepada kita bahwa mereka menemukan cara untuk memisahkan pidato yang terus menerus dan tak pernah berakhir menjadi “potongan-potongan”.

Menemukan cara bagaimana membangun Bahasa: Kata itu Adalah Nama Saya

Sebelum bayi anda dapat berbicara dengan baik, ia berusaha keras untuk menemukan pola dalam aliran bahasa. Pada awalnya, bayi memerlukan kata akrab untuk melayani sebagai “patokan-jangkar atau anchor” untuk membantu mereka mengingat kata-kata yang mereka dengar.

Menatap dan Menunjuk: Berkomunikasi tanpa Bahasa

Setelah menatap ke sebuah obyek yang menarik atau adegan yang mendahului kemampuan bayi untuk memeriksa bagaimanakah tatapan mereka ketika mengikuti suatu benda. Penelitian menunjukkan bahwa bayi yang lebih baik dalam mengikuti tatapan mata orangtua pada usia 6 bulan memiliki kosakata yang lebih banyak pada usia 18 dan 24 bulan.

Manfaat mengoceh

Bayi adalah komunikator yang baik, dan seperti yang kita tahu, mereka lebih mendalami repertoar daripada hanya gerakan seperti menunjuk. Dari bulan-bulan pertama kehidupan, kita mendengar bayi berbisik, menangis, dan tertawa. Pada akhir tahun pertama, anak-anak tampaknya mengoceh pergi.

Orkestra Bahasa

Bayi tidak benar-benar mengerti apa arti kata, mereka baru dapat menemukan artinya paling tidak sampai kuartal terakhir tahun 1. Sampai saat itu, mereka fokus pada pola suara dalam bahasa mereka.

Tahun 2: Bekerja di Bagian Arti Orkestra Bahasa

Para peneliti umumnya bertahan pada tiga kriteria yang harus dipenuhi sebelum mereka beranggapan bahwa anak mengucapkan sebuah kata. Pertama, untuk memenuhi syarat sebagai sebuah kata, maka kata harus memiliki makna sama setiap kali digunakan. Kedua, untuk menjadi kata yang nyata, bayi harus menggunakannya dengan tujuan berkomunikasi. Ketiga, sesungguhnya kata memungkinkan bayi untuk menunjukkan mana kata foto ayah serta ayah yang nyata.

Penandaan sebagai pemicu kata?

Mempelajari tanda-tanda sedikit lebih mudah dari pada belajar kata-kata. Membina komunikasi dapat membantu pertumbuhan bahasa anak.

Makna lebih dalam kalimat : Bagian gramatikal dari orkestra bahasa

Anak-anak mencari pola. Mereka belum memiliki kapasitas untuk menggunakan kalimat, namun mereka didorong dengan kebutuhan untuk berkomunikasi. Mereka menganalisis pembicaraan yang didengar, menarik kesimpulan, mana kata utama yang menjadi inti, kemudian menggunakannya secara efektif, juga sebagian besar dalam urutan yang benar. Mereka berbekal kemampuan analitik dan pengurutan.

Usia 3 dan 4 Tahun: memahami kalimat

Fakta bahwa anak-anak memiliki kemampuan sendiri membantu kita untuk menghilangkan mitos prasangka terhadap seseorang yang kita ajak belajar tentang bahasa. Anak-anak mengambil bahasa mereka, mendengar dan mengambil kesimpulan tanpa bantuan. Anak-anak mampu memahami banyak bahasa di luar dirinya.

Tahun 4: Anak-anak berproses pragmatis pada sebagian orkestra bahasa

Anak-anak pada 3 atau 4 tahun mengalihkan perhatian mereka pada cara berbahasa untuk digunakan dalam situasi sosial. “Pragmatis” ketika: Membedakan kapan dan bagaimana mengatakan sesuatu, membedakan dengan siapa Anda berbicara. Anak memakai pola pencarian, anak-anak mengamati sekitar dan kita untuk mengetahui bagaimana menggunakan bahasa masing-masing.

wadah dan tipe suara, sunyi senyap : tidak semua anak sama

Jika perkembangan bahasa anak-anak tidak menunjukkan variasi kemajuan, kapan kita harus merasa khawatir? Beberapa penanda kuncinya adalah jika seorang anak tidak memiliki kata-kata sama sekali yang mau diucapkan hingga usia 24 bulan dan masih belum bisa menyusun dua kata dalam kalimat pada usia 2 ½ tahun, perlu diperiksa apakah ada masalah. Juga, jika seorang anak tampak menjauh dan menghindari pandangan mata anda ketika anda ajak berbicara, perlu menjadikan periksa. Jika terlihat ada permasalahan dalam hal ini maka intervensi dari ahli perlu dilakukan.

Peran orang tua sebagai partner belajar berbahasa

Semakin banyak peluang kita untuk berbicara dengan anak-anak, semakin banyak data yang mereka analisis, dan menjadi pondasi yang baik untuk kemampuan berbahasa anak.

Membangun dan menjaga percakapan

Orang tua mendorong percakapan lebih jauh, mengajukan pertanyaan lebih lanjut, dan membangun percakapan dengan bahasa yang lebih banyak. Orangtua seharusnya membangun dan menggunakan minat anak sebagai pondasi dasar untuk membangun percakapan, percakapan merangsang pertumbuhan bahasa. Perlu digaris bawahi bahwa banyak informasi penting yang tersampaikan dengan bahasa bila orang tua dapat melakukan percakapan dengan benar untuk membangun kemampuan berbahasa anak sekaligus kemampuan berpikirnya.

berbicaralah dengan anak anda sesering mungkin

Berbicara dengan anak adalah kunci untuk mengajak anak belajar kosakata yang luas dan lebih banyak. Bercakap dengan anak bukan hanya sekedar memberikan kontribusi perkembangan berbahasa, namun juga memperluas pengetahuannya tentang dunianya dan kesanggupannya untuk terlibat dialog dengan orang lain.

Menyediakan lingkungan yang merangsang perkembangan bahasa

Penelitian menunjukkan bahwa saat guru dan pengasuh lebih banyak berbicara dengan anak-anak serta mengajukan banyak pertanyaan, hal ini menciptakan lingkungan yang merangsang perkembangan berbahasa bagi anak-anak yang menjadi asuhannya. Fakta menunjukkan bahwa merangsang kemampuan berbahasa adalah salah satu alat prediktor terbaik kemudian selanjutnya adalah kosakata, membaca dan kemampuan matematika.

Terapi Gangguan Bicara pada Anak

Sumber : http://psikolinguistik-q.blogspot.com/2008/12/terapi-gangguan-bicara-pada-anak.html

Written on Oktober 31, 2008 by Ratih Putri Pratiwi

Banyak orang tua yang khawatir jika anaknya belum lancar bicara padahal dilihat dari segi usia sepertinya sudah lewat dan jika dibandingkan dengan anak-anak tetangganya, teman-temannya, saudara-saudaranya kok ketinggalan jauh. Kenyataan tersebut pada akhirnya sering mengundang pertanyaan dalam diri orang tua. Untuk itulah kami akan mengulas persoalan keterlambatan bicara pada balita.
Penyebab keterlambatan bicara sangat banyak dan bervariasi. Gangguan tersebut ada yang ringan sampai yang berat. Ada yang bisa membaik setelah usia tertentu ada juga yang sulit untuk membaik, seperti kasus penyakit autis. Penyebab keterlambatan bicara bisa terjadi karena adanya gangguan mulai dari proses pendengaran, penerus impuls ke otak, otak, otot atau organ pembuat suara. Terdapat 3 penyebab utama keterlambatan bicara diantaranya adalah retardasi mental, gangguan pendengaran dan keterlambatan maturasi. Keterlambatan maturasi sering juga disebut keterlambatan bicara fungsional, termasuk gangguan yang paling ringan dan saat usia tertentu akan membaik. Penyebab lain yang relatif jarang adalah kelainan organ bicara, kelainan genetik atau kromosom, autis, mutism selektif, afasia reseptif dan deprivasi lingkungan. Deprivasi lingkungan bisa disebabkan karena lingkungan sepi, dua bahasa, status ekonomi sosial, tehnik pengajaran salah, sikap orangtua.
Semakin dini mendeteksi keterlambatan bicara, maka semakin baik kemungkinan pemulihan gangguan tersebut Bila keterlambatan bicara tersebut nonfungsional maka harus cepat dilakukan stimulasi dan intervensi dapat dilakukan pada anak tersebut. Deteksi dini keterlambatan bicara harus dilakukan oleh semua individu yang terlibat dalam penanganan anak ini. Kegiatan deteksi dini ini melibatkan orang tua, keluarga, dokter kandungan yang merawat sejak kehamilan dan dokter anak yang merawat anak tersebut. Sehingga dalam deteksi dini tersebut harus bisa mengenali apakah keterlambatan bicara anak kita merupakan sesuatu yang fungsional atau yang nonfungsional.
PROSES FISIOLOGIS BICARA
Menurut beberapa ahli komunikasi, bicara adalah kemampuan anak untuk berkomunikasi dengan bahasa oral (mulut) yang membutuhkan kombinasi yang serasi dari sistem neuromuskular untuk mengeluarkan fonasi dan artikulasi suara. Proses bicara melibatkan beberapa sistem dan fungsi tubuh, melibatkan sistem pernapasan, pusat khusus pengatur bicara di otak dalam korteks serebri, pusat respirasi di dalam batang otak dan struktur artikulasi, resonansi dari mulut serta rongga hidung.
Terdapat 2 hal proses terjadinya bicara, yaitu proses sensoris dan motoris. Aspek sensoris meliputi pendengaran, penglihatan, dan rasa raba berfungsi untuk memahami apa yang didengar, dilihat dan dirasa. Aspek motorik yaitu mengatur laring, alat-alat untuk artikulasi, tindakan artikulasi dan laring yang bertanggung jawab untuk pengeluaran suara.
Di dalam otak terdapat 3 pusat yang mengatur mekanisme berbahasa, dua pusat bersifat reseptif yang mengurus penangkapan bahasa lisan dan tulisan serta satu pusat lainnya bersifat ekspresif yang mengurus pelaksanaan bahsa lisan dan tulisan. Ketiganya berada di hemisfer dominan dari otak atau sistem susunan saraf pusat.
Kedua pusat bahasa reseptif tersebut adalah area 41 dan 42 disebut area wernick, merupakan pusat persepsi auditoro-leksik yaitu mengurus pengenalan dan pengertian segala sesuatu yang berkaitan dengan bahasa lisan (verbal). Area 39 broadman adalah pusat persepsi visuo-leksik yang mengurus pengenalan dan pengertian segala sesuatu yang bersangkutan dengan bahasa tulis. Sedangkan area Broca adalah pusat bahasa ekspresif. Ketiga pusat tersebut berhubungan satu sama lain melalui serabut asosiasi.
Saat mendengar pembicaraan maka getaran udara yang ditimbulkan akan masuk melalui lubang telinga luar kemudian menimbulkan getaran pada membrane timpani. Dari sini rangsangan diteruskan oleh ketiga tulang kecil dalam telinga tengah ke telinga bagian dalam. Di telinga bagian dalam terdapat reseptor sensoris untuk pendengaran yang disebut Coclea. Saat gelombang suara mencapai coclea maka impuls ini diteruskan oleh saraf VII ke area pendengaran primer di otak diteruskan ke area wernick. Kemudian jawaban diformulasikan dan disalurkan dalam bentuk artikulasi, diteruskan ke area motorik di otak yang mengontrol gerakan bicara. Selanjutnya proses bicara dihasilkan oleh getaran vibrasi dari pita suara yang dibantu oleh aliran udara dari paru-paru, sedangkan bunyi dibentuk oleh gerakan bibir, lidah dan palatum (langit-langit). Jadi untuk proses bicara diperlukan koordinasi sistem saraf motoris dan sensoris dimana organ pendengaran sangat penting.
Tahapan Perkembangan Kemampuan Bicara dan Berbahasa
Berikut ini akan disajikan informasi seputar tahapan perkembangan bahasa dan bicara seorang anak. Namun perlu diperhatikan, bahwa batasan-batasan yang tertera juga bukan merupakan batasan yang kaku mengingat keunikan setiap anak berbeda satu dengan yang lain. Menurut Dr. Miriam Stoppard (1995) tahapan perkembangan kemampuan bicara dan berbahasa dapat dibagi sebagai berikut:
0 – 8 Minggu
Perkembangan Kemampuan Berbicara dan Bahasa
Pada masa awal, seorang bayi akan mendengarkan dan mencoba mengikuti suara yang didengarnya. Sebenarnya tidak hanya itu, sejak lahir ia sudah belajar mengamati dan mengikuti gerak tubuh serta ekspresi wajah orang yang dilihatnya dari jarak tertentu. Meskipun masih bayi, seorang anak akan mampu memahami dan merasakan adanya komunikasi dua arah dengan memberikan respon lewat gerak tubuh dan suara. Sejak dua minggu pertama, ia sudah mulai terlibat dengan percakapan, dan pada minggu ke-6 ia akan mengenali suara sang ibu, dan pada usia 8 minggu, ia mulai mampu memberikan respon terhadap suara yang dikenalinya.
8 – 24 Minggu
Perkembangan Kemampuan Berbicara dan Bahasa
Tidak lama setelah seorang bayi tersenyum, ia mulai belajar mengekspresikan dirinya melalui suara-suara yang sangat lucu dan sederhana, seperti “eh”, “ah”, “uh”, “oh” dan tidak lama kemudian ia akan mulai mengucapkan konsonan seperti “m”, “p”, “b”, “j” dan “k”. Pada usia 12 minggu, seorang bayi sudah mulai terlibat pada percakapan “tunggal” dengan menyuarakan “gaga”, “ah goo”, dan pada usia 16 minggu, ia makin mampu mengeluarkan suara seperti tertawa atau teriakan riang, dan bublling. Pada usia 24 minggu, seorang bayi akan mulai bisa menyuarakan “ma”, “ka”, “da” dan sejenisnya. Sebenarnya banyak tanda-tanda yang menunjukkan bahwa seorang anak sudah mulai memahami apa yang orang tuanya atau orang lain katakan. Lucunya, anak-anak itu akan bermain dengan suaranya sendiri dan terus mengulang apa yang didengar dari suaranya sendiri.
28 Minggu – 1 Tahun
Perkembangan Kemampuan Berbicara dan Bahasa
Usia 28 minggu seorang anak mulai bisa mengucapkan “ba”, “da”, “ka” secara jelas sekali. Bahkan waktu menangis pun vokal suaranya sangat lantang dan dengan penuh intonasi. Pada usia 32 minggu, ia akan mampu mengulang beberapa suku kata yang sebelumnya sudah mampu diucapkannya. Pada usia 48 minggu, seorang anak mulai mampu sedikit demi sedikit mengucapkan sepatah kata yang sarat dengan arti. Selain itu, ia mulai mengerti kata “tidak” dan mengikuti instruksi sederhana seperti “bye-bye” atau main “ciluk-baa”. Ia juga mulai bisa meniru bunyi binatang seperti “guk”, “kuk”, “ck”
1 Tahun – 18 Bulan
Perkembangan Kemampuan Berbicara dan Bahasa
Pada usia setahun, seorang anak akan mampu mengucapkan dua atau tiga patah kata yang punya makna. Sebenarnya, ia juga sudah mampu memahami sebuah obyek sederhana yang diperlihatkan padanya. Pada usia 15 bulan, anak mulai bisa mengucapkan dan meniru kata yang sederhana dan sering didengarnya untuk kemudian mengekspresikannya pada porsi / situasi yang tepat. Usia 18 bulan, ia sudah mampu menunjuk obyek-obyek yang dilihatnya di buku dan dijumpainya setiap hari. Selain itu ia juga mampu menghasilkan kurang lebih 10 kata yang bermakna.
18 Bulan – 2 Tahun
Perkembangan Kemampuan Berbicara dan Bahasa
Pada rentang usia ini, kemampuan bicara anak semakin tinggi dan kompleks. Perbendaharaan katanya pun bisa mencapai 30 kata dan mulai sering mengutarakan pertanyaan sederhana, seperti “mana ?”, “dimana?” dan memberikan jawaban singkat, seperti “tidak”, “disana”, “disitu”, “mau”. Pada usia ini mereka juga mulai menggunakan kata-kata yang menunjukkan kepemilikan, seperti “punya ani”, “punyaku”. Bagaimana pun juga, sebuah percakapan melibatkan komunikasi dua belah pihak, sehingga anak juga akan belajar merespon setelah mendapatkan stimulus. Semakin hari ia semakin luwes dalam menggunakan kata-kata dan bahasa sesuai dengan situasi yang sedang dihadapinya dan mengutarakan kebutuhannya. Namun perlu diingat, oleh karena perkembangan koordinasi motoriknya juga belum terlalu sempurna, maka kata-kata yang diucapkannya masih sering kabur, misalnya “balon” jadi “aon”, “roti” jadi “oti”
2 Tahun – 3 Tahun
Perkembangan Kemampuan Berbicara dan Bahasa
Seorang anak mulai menguasai 200 – 300 kata dan senang bicara sendiri (monolog). Sekali waktu ia akan memperhatikan kata-kata yang baru didengarnya untuk dipelajari secara diam-diam. Mereka mulai mendengarkan pesan-pesan yang penuh makna, yang memerlukan perhatian dengan penuh minat dan perhatian. Perhatian mereka juga semakin luas dan semakin bervariasi. Mereka juga semakin lancar dalam bercakap-cakap, meski pengucapannya juga belum sempurna. Anak seusia ini juga semakin tertarik mendengarkan cerita yang lebih panjang dan kompleks. Jika diajak bercakap-cakap, mudah bagi mereka untuk loncat dari satu topik pembicaraan ke yang lainnya. Selain itu, mereka sudah mampu menggunakan kata sambung “sama”, misalnya “ani pergi ke pasar sama ibu”, untuk menggambarkan dan menyambung dua situasi yang berbeda. Pada usia ini mereka juga bisa menggunakan kata “aku”, “saya” “kamu” dengan baik dan benar. Dengan banyaknya kata-kata yang mereka pahami, mereka semakin mengerti perbedaan antara yang terjadi di masa lalu, masa kini dan masa sekarang.
3 – 4 Tahun
Perkembangan Kemampuan Berbicara dan Bahasa
Anak mulai mampu menggunakan kata-kata yang bersifat perintah; hal ini juga menunjukkan adanya rasa percaya diri yang kuat dalam menggunakan kata-kata dan menguasai keadaan. Mereka senang sekali mengenali kata-kata baru dan terus berlatih untuk menguasainya. Mereka menyadari, bahwa dengan kata-kata mereka bisa mengendalikan situasi seperti yang diinginkannya, bisa mempengaruhi orang lain, bisa mengajak teman-temannya atau ibunya. Mereka juga mulai mengenali konsep-konsep tentang kemungkinan, kesempatan, dengan “andaikan”, “mungkin”, “misalnya”, “kalau”. Perbendaharaan katanya makin banyak dan bervariasi seiring dengan peningkatan penggunaan kalimat yang utuh. Anak-anak itu juga makin sering bertanya sebagai ungkapan rasa keingintahuan mereka, seperti “kenapa dia Ma ?”, “sedang apa dia Ma?”, “mau ke mana ?”
FAKTOR PENYEBAB KETERLAMBATAN BICARA
1. Hambatan pendengaran
Pada beberapa kasus, hambatan pada pendengaran berkaitan dengan keterlambatan bicara. Jika si anak mengalami kesulitan pendengaran, maka dia akan mengalami hambatan pula dalam memahami, meniru dan menggunakan bahasa. Salah satu penyebab gangguan pendengaran anak adalah karena adanya infeksi telinga.
2. Hambatan perkembangan pada otak yang menguasai kemampuan oral-motor
Ada kasus keterlambatan bicara yang disebabkan adanya masalah pada area oral-motor di otak sehingga kondisi ini menyebabkan terjadinya ketidakefisienan hubungan di daerah otak yang bertanggung jawab menghasilkan bicara. Akibatnya, si anak mengalami kesulitan menggunakan bibir, lidah bahkan rahangnya untuk menghasilkan bunyi kata tertentu.
3. Masalah keturunan
Masalah keturunan sejauh ini belum banyak diteliti korelasinya dengan etiologi dari hambatan pendengaran. Namun, sejumlah fakta menunjukkan pula bahwa pada beberapa kasus di mana seorang anak anak mengalami keterlambatan bicara, ditemukan adanya kasus serupa pada generasi sebelumnya atau pada keluarganya. Dengan demikian kesimpulan sementara hanya menunjukkan adanya kemungkinan masalah keturunan sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi.
4. Masalah pembelajaran dan komunikasi dengan orang tua
Masalah komunikasi dan interaksi dengan orang tua tanpa disadari memiliki peran yang penting dalam membuat anak mempunyai kemampuan berbicara dan berbahasa yang tinggi. Banyak orang tua yang tidak menyadari bahwa cara mereka berkomunikasi dengan si anak lah yang juga membuat anak tidak punya banyak perbendaharaan kata-kata, kurang dipacu untuk berpikir logis, analisa atau membuat kesimpulan dari kalimat-kalimat yang sangat sederhana sekali pun. Sering orang tua malas mengajak anaknya bicara panjang lebar dan hanya bicara satu dua patah kata saja yang isinya instruksi atau jawaban sangat singkat. Selain itu, anak yang tidak pernah diberi kesempatan untuk mengekspresikan diri sejak dini (lebih banyak menjadi pendengar pasif) karena orang tua terlalu memaksakan dan “memasukkan” segala instruksi, pandangan mereka sendiri atau keinginan mereka sendiri tanpa memberi kesempatan pada anaknya untuk memberi umpan balik, juga menjadi faktor yang mempengaruhi kemampuan bicara, menggunakan kalimat dan berbahasa.
5. Faktor Televisi
Sejauh ini, kebanyakan nonton televisi pada anak-anak usia batita merupakan faktor yang membuat anak lebih menjadi pendengar pasif. Pada saat nonton televisi, anak akan lebih sebagai pihak yang menerima tanpa harus mencerna dan memproses informasi yang masuk. Belum lagi suguhan yang ditayangkan berisi adegan-adegan yang seringkali tidak dimengerti oleh anak dan bahkan sebenarnya traumatis (karena menyaksikan adegan perkelahian, kekerasan, seksual, atau pun acara yang tidak disangka memberi kesan yang mendalam karena egosentrisme yang kuat pada anak dan karena kemampuan kognitif yang masih belum berkembang). Akibatnya, dalam jangka waktu tertentu yang mana seharusnya otak mendapat banyak stimulasi dari lingkungan/orang tua untuk kemudian memberikan feedback kembali, namun karena yang lebih banyak memberikan stimulasi adalah televisi (yang tidak membutuhkan respon apa-apa dari penontonnya), maka sel-sel otak yang mengurusi masalah bahasa dan bicara akan terhambat perkembangannya.
6. Keterbatasan kemampuan kognitif.
Yaitu kemampuan merepresentasikan objek yang dilihat dalam bentuk image. Bila kemampuan kognitif terganggu, maka image tersebut tidak akan terbentuk. Kondisi ini biasanya bisa dideteksi sendiri oleh orang tua dengan melihat kemampuan motorik anak. Misalnya, anak yang mengalami gangguan bicara biasanya juga kurang mampu melakukan aktivitas lain yang sederhana sekalipun seperti memakai sepatu atau mengancingkan baju.
7. Gangguan pervasif.
Biasanya terjadi pada anak yang mengalami ADD (attention defisit disorder). Anak yang mengalami keterbatasan atensi ini mengalami masalah di pusat sarafnya. Gangguan ini biasanya tidak berdiri tunggal, tapi dibarengi ciri-ciri lain, semisal pekerjaannya tidak pernah tuntas, sulit/tidak bisa konsentrasi dan sebagainya. Namun untuk memastikannya, tak ada cara lain kecuali mendatangi ahli.
GAGAP DAN RAGAM GANGGUAN BICARA
Sekitar 4 persen anak dan 1 persen orang dewasa memiliki kelaianan bicara yang parah. Kelainan bicara pada usia remaja dapat merongrong kepercayaan diri anak. Anak dapat mogok bicara jika terus mendapat ejekan kala gagap-gugup menyerang. Semakin tidak nyaman semakin parah kondisinya. Walau demikian, kelemahan bicara tidak berhubungan langsung dengan keberhasilan hidup. Banyak pemimpin, pengusaha, kalangan professional yang memiliki gangguan bicara. Mereka tetap dapat berkomunikasi dan hidup normal.
Gagap
Menginjak dewasa tidak semua orang telah memperoleh kemampuan bahasa dengan baik. “Mmmmmm … maksudnya,” begitulah setiap kali Aries sang ketua di sebuah organisasi kala membuka argumentasi. Bagi yang mendengar, kesulitan bahasa seperti yang di alami Aries membuat gregetan. Tapi bagi Aries sendiri merasakan bagaimana frustasinya mengendalikan pita suara, lidah, bibir sehingga mulutnya dapat mengeluarkan rentetan kata, kalimat yang runut dan mulus. Kesulitan yang ia alami sering disebut gagap (stuttering). Ibarat mobil, untuk menghidupkan mesinnya ia harus menyalakan starter lebih lama. Asal bicara saja sepertinya mudah, tetapi menghasilkan vocal yang keluar dengan kecepatan, tekanan dan ejaan yang tepat kiranya tidak mudah. Ketika kita bicara, kita harus mengkoordinir banyak otot dari berbagai bagian tubuh termasuk pita suara, gigi, mulut dan system pernapasan. Normalnya semua kerja organ tersebut dapat berfungsi simultan serta otomatis. Gagap adalah masalah gangguan bicara yang mempengaruhi kefasihan bicara. Mereka yang mengalami kesulitan ini ditandai pengulangan bagian pertama dari kata yang hendak diucapkannya (seperti mmmmakan), atau menahan bunyi tunggal di tengah kata (misal begggggini). Sebagian orang yang gagap malah lebih parah, tidak ada satu suara pun yang keluar, tertahan semua di kerongkongan. Gagap atau orang Inggris menyebutnya stammering merupakan kelainan yang kompleks dan dapat berdampak pada kemampuan bicara dengan cara yang beragam.
Cadel
Gagap hanyalah salah satu jenis kelainan bicara. Sebagian orang mungkin mengalami gangguan hanya pada bunyi-bunyian tertentu seperti sulit mengucapkan huruf “l” atau “r”. Ada juga yang mengalami kekusutan (cluttering) bicara atau disebut aphasia. Aphasia adalah gangguan bicara dimana orang mengalami kesulitan memahami apa yang diucapkannya. Mereka yang menderita aphasia mengucapkan dengan cepat atau berhenti bukan pada tempatnya. Pokoknya, kalimat yang ia ucapkan membuat orang bertanya ulang “apaan?”. Aphasia adalah gangguan bahasa yang disebabkan oleh kerusakan bagian otak yang mengendalikan kemampuan bicara. Hal ini terjadi mungkin akibat kecelakaan, tumor atau stroke. Sebagian penderita malah tidak memiliki kemampuan bicara sama sekali. Sebagian lainnya sulit menemukan kata yang tepat ketika bicara. Kelainan lainnya disebut dislalia. Pernah menyimak balita mulai bicara. Ia akan mengucapkan kata “tati” yang dimaksud kaki. Sebagian orang menamakan kejadian ini “cadel.” Seperti anak gagap yang makin gagap jika tegang, anak dislalia juga bisa menjadi gagap bila mendapat “serangan”. Perkembangan anak bisa terganggu bila persoalan yang kelihatan sepele tersebut tidak segera diatasi. “Khususnya pada anak-anak yang mempunyai kepribadian kurang kuat,” saran Ki Pranindyo HA, kepala klinik Bina Wicara Vacana Mandira, Jakarta. Dislalia menurut hematnya termasuk gangguan komunikasi verbal yang sangat mudah diselesaikan. Bahkan tanpa terapi khusus, gangguan ini bisa ditanggulangi asal saja perilaku yang keliru-seperti ngedot, mengisap jari, atau menjulur-julurkan lidah-dihentikan. Bahkan pada banyak anak, gangguan artikulasi itu akan hilang dengan sendirinya, sesuai dengan perkembangan usia. “Jadi buat banyak anak-anak dislalia, kalau anak itu kuat, psikis maupun sikap sosialnya bagus, semuanya akan teratasi dengan sendirinya.” Dislasia juga disinyalir terkait dengan kecepatan mengucapkan vocal. Anak-anak dislalia kecepatan irama bicaranya di bawah hitungan normal. Kalau ukuran normal yang digunakan adalah 140 kata (terdiri dari dua suku) per menit, maka anak dislalia bila dites, kecepatannya kurang dari itu. “Tentu ada toleransi dari ukuran normal, 130 pun masih normal. Anak dislalia biasanya bahkan kurang dari 100 kata per menit,” kata Pranindyo. Tes umum yang biasa diterapkan di tempat praktiknya adalah dengan meminta anak untuk mengucapkan “pa-ta-ka”. Biasanya selama lima detik anak itu bisa mendapatkan 15-17 kata “pa-ta-ka”, tetapi pada anak dislalia pasti kurang dari itu. Ada juga orang-orang yang mempunyai ritme jauh melebihi angka normal. Bicara orang macam ini cenderung sangat cepat, kadang tidak bisa diikuti oleh lawan bicaranya. Kalau dihitung ritmenya mungkin 160 kata per menit. “Bahkan pernah ada yang cepat sekali sampai 175 kata per menit,” ucap Pranindyo.
Gangguan pervasif
Adalah gangguan bicara dimana ucapan seorang anak berlangsung melompat-lompat dan tidak konsisten. Bisa jadi anak seperti ini sebetulnya mengalami gangguan ADD (attention defisit disorder). Anak yang mengalami keterbatasan atensi ini mengalami masalah di pusat
sarafnya. Gangguan ini biasanya tidak berdiri tunggal, tapi dibarengi ciri-ciri lain, semisal pekerjaannya tidak pernah tuntas, sulit/tidak bisa konsentrasi dan sebagainya. Yang juga termasuk dalam gangguan ini adalah para penderita autis. Namun untuk memastikannya, tak ada cara lain kecuali mendatangi ahli.
Tunawicara
Gangguan bicara yang paling berat adalah tunawicara. Usia ini merupakan saat yang paling tepat untuk mengetahui apakah anak mempunyai kelainan tersebut atau tidak karena pada usia ini kemampuan bicara anak umumnya sudah bagus. Jika ia hanya mengeluarkan bunyi-bunyi khas tanpa makna, semisal “uuh..uuh”, “eeh…ehh”, untuk menjawab/menunjuk semua benda, hal ini bisa dijadikan indikator kalau dia belum bisa bicara sama sekali.
Bila sudah ada gejala seperti itu, sebaiknya anak segera dibawa ke dokter. Untuk langkah pertama bisa dibawa ke dokter anak sebelum mendapatkan penanganan yang lebih intens.
Keterlambatan Bicara Fungsional
Keterlambatan bicara fungsional merupakan penyebab yang cukup sering dialami oleh sebagian anak. Keterlambatan bicara fungsional sering juga diistilahkan keterlambatan maturasi atau keterlambatan perkembangan bahasa. Keterlambatan bicara golongan ini disebabkan karena keterlambatan maturitas (kematangan) dari proses saraf pusat yang dibutuhkan untuk memproduksi kemampuan bicara pada anak. Gangguan ini sering dialami oleh laki-laki dan sering terdapat riwayat keterlambatan bicara pada keluarga. Biasanya hal ini merupakan keterlambatan bicara yang ringan dan prognosisnya baik. Pada umumnya kemampuan bicara akan tampak membaik setelah memasuki usia 2 tahun. Terdapat penelitian yang melaporkan penderita keterlambatan ini kemampuan bicara saat masuk usia sekolah normal seperti anak lainnya.
Dalam keadaan ini biasanya fungsi reseptif sangat baik dan kemampuan pemecahan masalah visuo-motor anak dalam keadaan normal. Anak hanya mengalami gangguan perkembangan ringan dalam fungsi ekspresif: Ciri khas lain adalah anak tidak menunjukkan kelainan neurologis, gangguan pendengaran, gangguan kecerdasan dan gangguan psikologis lainnya.
Evaluasi dan Pemeriksaan
Jika orang tua mencurigai anaknya mengalami hambatan bicara, maka hal ini haruslah diteliti dan diperiksa oleh ahli yang memang berkompeten di bidangnya, untuk menghindari terjadinya salah diagnosa dan penanganan. Untuk itu, diperlukan pemeriksaan lengkap dari aspek-aspek :
1. Fisiologis dan Neurologis
Dokter memeriksa secara menyeluruh, untuk mengetahui apakah keterlambatan tersebut disebabkan masalah pada alat pendengaran, sistem pendengarannya, atau pun pada areal otak yang mengatur mekanisme pendengaran-bicara dan otak yang memproduksi kemampuan berbicara. Tidak hanya itu, pemeriksaan lengkap akan menghasilkan diagnosa yang jauh lebih pasti tidak hanya faktor penghambatnya, namun juga metode penanganan yang paling sesuai untuk anak yang bersangkutan.
2. Psikologis
Pemeriksaan secara psikologis juga diperlukan untuk memahami fungsi-fungsi lain yang berhubungan dengan kemampuan berbicara dan berbahasa, seperti tingkat intelegensi serta tingkat perkembangan sosial-emosional anak. Pemeriksaan secara psikologis ini juga dimaksudkan untuk melihat sejauh mana pengaruh dari hambatan yang dialami anak terhadap kemampuan emosional dan intelektualnya. Pemeriksaan ini juga harus ditangani oleh ahli atau psikolog yang berkompeten dan berpengalaman dalam menangani anak dengan problem keterlambatan bicara.
Setelah hasil pemeriksaan keluar, maka orang tua dengan rekomendasi ahlinya dapat mengambil langkah tepat seperti misalnya, melakukan terapi bicara atau jika usia anak sudah harus sekolah, maka dimasukkan pada sekolah yang dapat memberikan perlakuan dan perhatian yang tepat sesuai dengan masalah anak tersebut.
CARA MEMBEDAKAN BERBAGAI KETERLAMBATAN BICARA
Dengan memperhatikan fungsi reseptif, ekspresif, kemampuan pemecahan masalah visuo-motor dan pola keterlambatan perkembangan, dapat diperkirakan penyebab kesulitan berbicara.
Tabel 1. Diagnosis banding beberapa penyebab keterlambatan berbahasa dan bicara
Diagnosis Bahasa reseptif Bahasa ekspresif Kemampuan pemecahan masalah visuo-motor Pola perkembangan
PENCEGAHAN DAN PENANGANAN GANGGUAN BICARA
Menyusui
Selain ASI mengandung komponen–komponen yang baik untuk perkembangan otak, misalnya DHA, proses menyusui ternyata juga memasukkan unsur-unsur interaksi. Tidak mungkin Anda menyusui si kecil dengan melamun saja kan? Biasanya, Anda menikmati apa yang sedang terjadi sambil membelai perlahan si kecil dan melakukan kontak mata. Sebaliknya, si kecil pun asyik memperhatikan wajah ibu tercinta. Itu semua adalah dasar komunikasi. Jadi, sebisa mungkin, susuilah bayi Anda. Karena, dengan segala manfaat menyusui, apa yang Anda lakukan itu benar-benar investasi yang besar bagi si kecil. Termasuk, dalam perkembangan bicaranya.
Tindakan yang Dapat Dilakukan Orangtua
1. Semakin dini orang tua menstimulasi anaknya dengan cara mengajaknya bercakap-cakap dan menunjukkan sikap yang mendorong munculnya respon dari si anak, maka sang anak akan semakin dini pula tertarik untuk belajar bicara. Tidak hanya itu, kualitas percakapan dan bicaranya juga akan lebih baik. Jadi, teruslah mengajak anak Anda bercakap-cakap sejak hari pertama kelahirannya.
2. Jalinlah komunikasi dengan dihiasi oleh senyum Anda, pelukan, dan perhatian. Dengan demikian anak Anda akan termotivasi untuk berusaha memberikan responnya.
3. Tunjukkanlah selalu kasih sayang melalui peluk-cium, dan kehangatan yang bisa dirasakan melalui intonasi suara Anda. Dengan demikian, Anda menstimulasi terjalinnya ikatan emosional yang erat antara Anda dengan anak Anda sekaligus membesarkan hatinya.
4. Selama menjalin komunikasi dengan anak Anda, jangan lupa untuk melakukan kontak mata secara intensif karena dari pandangan mata tersebutlah anak bisa merasakan perhatian, kasih sayang, cinta, dan pengertian. Jika sedang bicara, tataplah matanya dan jangan malah membelakangi dia.
5. Jika anak Anda menangis, jangan didiamkan saja. Selama ini banyak bereda pandangan keliru, bahwa jika bayi menangis sebaiknya didiamkan saja supaya nantinya tidak manja dan bau tangan. Padahal, satu-satunya cara seorang bayi baru lahir untuk mengkomunikasikan keinginan dan kebutuhannya (haus, lapar, kedinginan, kepanasan, kebutuhan emosional, kelelahan, kebosanan) dia adalah melalui tangisan. Jadi, jika tangisannya tidak Anda pedulikan, lama-lama dia akan frustasi karena kebutuhannya terabaikan. Yang harusnya Anda lakukan adalah memberinya perlakuan seperti yang dibutuhkannya saat ia menangis. Untuk itu, kita sebagai orang tua haruslah belajar memahami dan mengerti bahasa isyaratnya. Tidak ada salahnya, jika Anda seakan-akan bertanya padanya, seperti :”rupanya ada sesuatu yang kamu inginkan,….coba biar Ibu lihat…”
6. Untuk bisa berbicara, seorang anak perlu latihan mekanisme berbicara melalui latihan gerakan mulut, lidah, bibir. Sebenarnya, aktivitas menghisap, menjilat, menyemburkan gelembung dan mengunyah merupakan kemampuan yang diperlukan. Oleh sebab itu, latihlah anak Anda baik dengan permainan maupun dengan makanan.
7. Sering-seringlah menyanyikan lagu untuk anak Anda dengan lagu-lagu anak-anak yang sederhana dan lucu, secara berulang dengan penekanan pada ritme dan pengucapannya. Bernyanyilah dengan diselingi permainan-permainan yang bernada serta menarik. Jadi, luangkan lah waktu Anda untuk terlibat dalam kegiatan menarik seperti itu agar kemampuan bicara dan berbahasa anak Anda lebih berkembang.
8. Salah satu cara seorang anak berkomunikasi di usia ini adalah melalui tertawa. Oleh sebab itu, sering-seringlah bercanda dengannya, tertawa, membuat suara-suara dan ekspresi lucu agar kemampuan komunikasi dan interaksinya meningkat dan mendorong tumbuhnya kemampuan bahasa dan bicara.
9. Setiap bayi yang baru lahir, mereka akan belajar melalui pembiasaan atau pun pengulangan suatu pola, kegiatan, nama atau peristiwa. Melalui mekanisme ini Anda mulai bisa mengenalkan kata-kata yang bermakna pada anak pada saat melakukan aktivitas rutin, seperti : pada waktu mau makan, Anda bisa katakan “nyam-nyam”
10. Jadilah model yang baik untuk anak Anda terutama pada masa ini lah mereka mulai belajar meniru kata-kata yang didengarnya dan mengucapkannya kembali. Ucapkan kata-kata dan kalimat Anda secara perlahan, jelas dengan disertai tindakan (agar anak tahu artinya atau korelasinya antara kata yang Anda ucapkan dengan tindakan kongkritnya), dan jangan lupa, bahasa tubuh dan ekspresi wajah Anda juga harus pas.
11. Anak Anda akan belajar bicara dengan bahasa yang tidak jelas bagi Anda. Jadi, ini lah waktunya untuk Anda berdua (Anda dengan anak) saling belajar untuk bisa saling memahami keinginan dan maksud berdua. Jadikanlah kegiatan ini sebagai salah satu bentuk permainan yang menyenangkan agar anak Anda tidak patah semangat untuk terus mencoba mengucapkan secara pas dan jelas. Namun, jika Anda malas memperhatikan “suaranya”, apa yang dimaksudnya, dan tidak mengulangi suaranya, atau bahkan ekspresi wajah Anda membuat dirinya jadi enggan mencoba, maka anak Anda akan merasa bahwa “tidak memungkinkan baginya untuk mencoba mengekspresikan keinginan karena orang dewasa tidak akan ada yang mengerti dan mau mendengarkan”
12. Kadang-kadang, ikutilah gumamannya, namun, Anda juga perlu mengucapkan kata secara benar. Jika suatu saat ia berhasil mengucapkan suatu suku kata atau kata dengan benar, berilah pujian yang disertai dengan pelukan, ciuman, tepuk tangan..dan sampaikan padanya, “betapa pandainya dia”.
13. Jika mengucapkan sebuah kata, sertailah dengan penjelasan artinya. Lakukan hal ini terus menerus meski tidak semua dimengertinya. Penjelasan bisa dilakukan misal dengan menunjukkan gambar, gerakan, sikap tubuh, atau pun ekspresi.
14. Semakin mengenalkan anak Anda dengan berbagai macam suara, bunyi, seperti misalnya suara mobil, motor, kucing, anjing, dsb. Kenalkan pula pada suara-suara yang sering didengarnya sehari-hari, seperti pintu terbuka-tertutup, suara air, suara angin berdesir di pepohonan, kertas dirobek, benda jatuh, dsb.
15. Sering-seringlah membacakan buku-buku yang sangat sederhana namun sarat dengan cerita yang menarik untuk anak dan gambar serta warna yang “eye catching”. Tunjukkan obyek-obyek yang terlihat di buku, sebutkan namanya, jelaskan apa yang sedang dilakukannya, bagaimana jalan ceritanya. Minta lah padanya untuk mengulang nama yang Anda sebutkan, dan jangan lupa, berilah pujian jika ia berhasil mengingat dan mengulang nama yang Anda sebutkan.
16. Jika sedang bersamanya, sebutkan nama-nama benda, warna dan bentuk pada setiap obyek yang dilihatnya
17. Anda mulai bisa mengenalkan dengan angka dengan kegiatan seperti menghitung benda-benda sederhana yang sedang dibuat permainan. Lakukan itu dalam suasana yang santai dan nyaman agar anak tidak merasa ada tekanan keharusan untuk menguasai kemampuan itu
18. Mulailah mengenalkan anak Anda pada perbendaharaan kata yang menerangkan sifat atau kualitas. Seperti “baik, indah, cantik, dingin, banyak, sedikit, asin, manis, nakal, jelek, dsb. Caranya, pada saat Anda mengucapkan suatu kata tertentu, sertailah dengan kualitas tersebut, misalnya “anak baik, anak manis, anak pintar, baju bagus, boneka cantik, anak nakal, roti manis”, dsb
19. Mulailah mengenalkan padanya kata-kata yang menerangkan keadaan atau peristiwa yang terjadi : sekarang, besok, di sini, di sana, kemarin, nanti, segera, dsb
20. Anda juga bisa mengenalkannya kata-kata yang menunjukkan tempat : di atas, di bawah, di samping, di tengah, di kiri, di kanan, di belakang, di pinggir; Anda bisa melakukannya dengan menggunakan contoh gerakan. Banyak model permainan yang dapat Anda gunakan untuk menerangkan kata-kata tersebut, bahkan dengan permainan, akan jauh lebih menyenangkan baginya dna bagi Anda.
21. Yang perlu Anda ingat, janganlah menyetarakan perkembangan anak Anda dengan anak-anak lainnya karena tiap anak mempunyai dan mengalami hambatan yang berbeda-beda. Jadi, jika anak Anda kurang lancar dan fasih berbicara, janganlah kemudian menekannya untuk lekas-lekas mengoptimalkan kemampuannya. Keadaan ini hanya akan membuatnya stress
22. Pada usia ini, anak Anda akan lebih senang bercakap-cakap dengan anak-anak seusianya dari pada dengan orang dewasa. Oleh sebab itu, akan baik jika ia banyak dikenalkan dengan anak-anak seusianya dan dilibatkan pada lingkungan sosial yang bisa memfasilitasi kemampuan sosial dan berkomunikasinya. Salah satu tujuan para orang tua memasukkan anaknya dalam nursery school adalah karena alasan tersebut, agar anaknya bisa mengembangkan kemampuan komunikasi sekaligus sosialisasi. Meskipun demikian, bahasa dan kata-kata yang diucapkan masih bersifat egosentris, namun lama kelamaan akan lebih bersifat sosial seiring dengan perkembangan usia dan keluasan jaringan sosialnya.
23. Sering-seringlah menceritakan cerita menarik pada anak Anda, karena sebenarnya cerita juga merupakan media atau sarana untuk mengekspresikan emosi, menamakan emosi yang disimpannya dalam hati, dan belajar berempati. Dari kegiatan ini pula lah anak Anda tidak hanya belajar berani mengekspresikan diri secara verbal tapi juga belajar perilaku sosial.
1. Ceritakan padanya cerita yang lebih kompleks dan kenalkan beberapa kata-kata baru sambil menerangkan artinya. Lakukan ini secara terus menerus agar ia dapat mengingatnya dan mengenalinya dengan mudah ketika Anda mengulang cerita itu kembali di lain waktu
2. Hindari sikap mengkoreksi kesalahan pengucapan kata anak secara langsung, karena itu akan membuatnya malu dan malah bisa mematahkan semangatnya untuk belajar dan berusaha. Anda bisa mengulangi kata-kata tersebut secara jelas seolah Anda mengkonfirmasi apa yang dimaksudkannya. Dengan demikian, ia akan memahami kesalahannya tanpa merasa harus malu.
3. Pada usia ini, seorang anak sudah mulai bisa mengerti penjelasan sederhana. Oleh sebab itu, Anda bisa mulai mencoba untuk mengajaknya mendiskusikan soal-soal yang sangat sederhana; dan tanyakan apa pendapatnya tentang persoalan itu. Dengan cara itu, Anda melatih cara dan proses penyelesaian masalah pada anak Anda setahap demi setahap. Hasil dari tukar pendapat itu sebenarnya juga mempertinggi self-esteem anak karena ia merasa pendapatnya didengarkan oleh orang dewasa.
4. Mulailah mengeluarkan kalimat yang panjang dan kompleks, agar ia mulai belajar meningkatkan kemampuannya dalam memahami kalimat. Untuk mengetahui apakah ia memahami atau tidak, Anda bisa melihat respon dan reaksinya; jika ia melakukan apa yang Anda inginkan, dapat diartikan ia cukup mengerti kalimat Anda.
5. Anak-anak sangat menyukai kegiatan berbisik karena hal itu permainan mengasikkan buat mereka sebagai salah satu cara mengekspresikan perasaan, dan keingintahuan.
6. Pakailah cerita-cerita dongeng dan fabel yang sebenarnya mencerminkan dunia anak kita dan memakainya sebagai suatu cara untuk mengajarkan banyak hal tanpa menyinggung perasaannya. Dengan mendongeng, Anda mengenalkan padanya konsep-konsep tentang moralitas, nilai-nilai, sikap yang baik dan jahat, keadilan, kebajikan dan pesan-pesan moral lainnya. Jadikanlah saat-saat bersama anak Anda sebagai masa yang menyenangkan, ceria, santai dan segar. Buatlah ini menjadi kebiasaan di waktu-waktu tertentu, seperti sebelum tidur atau di waktu sore hari.

Sumber : http://infoayahbunda.blogspot.com/2008/07/balita-anda-terlambat-bicara.html

Kalau Anda peka, naluri Anda bisa cepat mendeteksi gangguan perkembangan
bicara si kecil. Apa saja sih gejalanya?

Seringkali, Anda baru buru-buru ke dokter ketika si 18 bulan atau 2 tahun
belum juga bicara. Padahal, sebenarnya ini sudah agak terlambat. Menurut
d r. I.G. Ayu Partiwi Surjadi, Sp.A, MARS , Direktur Klinik Perkembangan
Anak RS Bunda, Jakarta, “Pada tiga tahun pertama kehidupan, otak adalah
organ yang sangat pesat tumbuh kembangnya. Nah, periode ini dapat
dimanfaatkan untuk melakukan stimulasi, seandainya si kecil mengalami
gangguan tumbuh kembang. Makanya, deteksi dini sangatlah penting.”

12 bulan pertama yang penting

Bicara adalah tahap perkembangan yang telah dimulai sejak bayi. Dan, tahap
bicara mesti diperhatikan sedini mungkin, karena ternyata dapat dijadikan
parameter ada tidaknya gangguan perkembangan pada anak. “Tentu saja, tanpa
mengabaikan tahap-tahap perkembangan lain, seperti motor kasar-halus dan
sosialisasi/interaksi, yang punya peran penting juga dalam menentukan
optimal tidaknya perkembangan anak,” kata dr. Partiwi.

Benarkah gangguan bicara banyak ditemukan? Penelitian yang dilakukan di
Klinik Perkembangan Anak, RS Bunda, Jakarta, pada tahun 2003 terhadap
sekitar 60 orang anak (hanya sebagian kecil saja anak yang datang pada usia
kurang dari 1 tahun) menunjukkan, belum bicara merupakan keluhan sebagian
besar orang tua yang pada akhirnya didiagnosis sebagai Gangguan Perkembangan
Multisistem ( Multisystem Developmental Disorder s/MSDD). Nah, gangguan ini
adalah salah satu bentuk kelainan perkembangan yang muncul dalam bentuk
gangguan relasi (berinteraksi) dan komunikasi yang akhir-akhir ini tampaknya
terus meningkat.

Meski begitu janganlah terlalu cemas. Kegagalan dalam relasi dan komunikasi
pada si 0-3 tahun dianggap sebagai kondisi yang masih dapat berubah dan
tumbuh. Hanya saja, sulit memprediksi mana yang bisa normal perkembangannya
dan mana yang akan mengalami gangguan. Jadi, harus bagaimana?

“Anak-anak yang diteliti tahun 2003 itu ternyata sejak bayi terlalu diam
alias tidak mengoceh sesering bayi normal. Makanya, 12 bulan pertama
kehidupan anak merupakan masa yang paling penting untuk mendeteksi tumbuh
kembang bicaranya. Jadi, bila Anda ke dokter, sebaiknya bukan sekadar untuk
imunisasi saja,” katanya lagi.

Jangan abaikan insting

Sebenarnya, bicara atau berkomunikasi sudah dimulai sejak masa bayi.
Normalnya, bayi akan menangis dan bergerak. Nah, Anda biasanya belajar
bereaksi terhadap tangisan dan gerakannya, sehingga terjadilah interaksi.
Melalui pengalaman berinteraksi inilah, bayi akan belajar bahwa sikap Anda
akan terpengaruh oleh tangisannya. Interaksi serupa akan terjadi, jika ia
mengeluarkan suara. Jadi, aktivitas tersebut memang berpengaruh dalam
perkembangan bicara dan bahasa balita.

Dengan mengerti tahap bicara si kecil, diharapkan gangguan bicara dapat
segera ditemukan. Tidak seperti yang umum terjadi saat ini. Para o rang tua
mempertanyakan mengapa anaknya belum juga berbicara. Padahal, sebenarnya
yang dimaksud adalah mengapa si kecil belum berbahasa ekspresif (lihat boks
“Aneka Jenis Bahasa”).

“Sebelumnya, anak sudah melalui tahap bahasa reseptif dan bahasa visual.
Kedua bahasa ini sebenarnya mirip. Apa bedanya? Reseptif adalah bagaimana
Anda memahami perkataan balita, sedangkan bahasa visual atau bahasa tubuh
adalah bagaimana Anda mengerti bahasa si kecil melalui sikap tubuh atau
ekspresi mukanya. Sebagai catatan, bahasa visual dan bahasa reseptif
merupakan salah satu tahap bicara yang dapat dipakai untuk mendeteksi apakah
si kecil terlambat bicara atau tidak, sebelum bahasa ekspresifnya timbul,”
jelas dr. Partiwi.

Dokter anak kelahiran Singaraja, Bali ini kembali mengingatkan, “Yang
penting, sebaiknya Anda tidak mengabaikan naluri Anda. Begitu merasa ada
sesuatu pada si kecil, segeralah bawa ke dokter. Beberapa penelitian telah
membuktikan ketajaman naluri para orang tua, sehingga dokter tidak akan
mengabaikannya begitu saja. Mungkin sekali kecurigaan Anda tidak bisa
dipastikan kebenarannya hanya dalam satu kali pertemuan saja. Dokter mungkin
saja meminta Anda untuk datang 1 atau 3 bulan lagi.”

Second opinion boleh , asal …

Pada prinsipnya, semakin dini keterlambatan bicara anak ditangani, semakin
bagus kemungkinan membaiknya. Ini tergantung pada kelainan apa yang jadi
dasar gangguan perkembangan si kecil. Partiwi memberi contoh anak dengan
kelainan gangguan pendengaran. Begitu diberi alat bantu dengar, maka
gangguan perkembangan bicaranya akan segera teratasi. Sebaliknya, anak
dengan MSDD atau autis, mungkin akan butuh waktu lebih lama penanganannya.

Lalu, kendala apa yang paling sering terjadi? “Kejenuhan Anda, sehingga
upaya penanganan anak berhenti di tengah jalan. Padahal, hasilnya pasti
kurang baik bila upaya tidak dilakukan secara konsiten. Hal ini biasanya
dialami orang tua dari anak dengan kelainan yang butuh waktu lama untuk
menanganinya.”

Ia melanjutkan, ” Selain jenuh, kadang Anda juga bingung menghadapi
banyaknya metode penyembuhan atau terapi yang ada saat ini . Sebenarnya,
boleh-boleh saja Anda mencari second opinion, asal ada yang baik kerja sama
antara dokter pertama dan dokter kedua. Anda tak perlu takut berterus terang
pada dokter pertama nantinya. Dan lagi, second opinion itu bagus dan
merupakan hak Anda sebagai orang tua. Pastikan jalan keluar yang terbaik
bagi si buah hati tercinta.”

Ini Dia Penyebabnya

. Gangguan pendengaran
. Autisme
. Retardasi mental (keterbelakangan mental)
. Bilingual (pemakaian dua bahasa)
. MSDD
. Genetik (faktor keturunan)

Aneka Jenis Bahasa

Bahasa mengandung simbol untuk bertukar informasi. Dan, kemampuan berbahasa
lebih pada kemampuan yang dapat dilihat alias dinilai. Perkembangan bahasa
dan bicara biasanya digambarkan sebagai berikut:

. Bahasa reseptif (masa praverbal) : masa mulai tangisan pertama sampai
keluar kata pertama. Bayi memproduksi bahasa prelinguistik yang biasanya
sesuai dengan pengasuhnya. Bahasa yang semula dikeluarkan adalah cooing atau
suara seperti suara “vokal” tertentu (seperti “au” atau “u”). Tahap
prelinguistik cooing ini biasanya terdengar pada usia 4-6 minggu.

. Bahasa ekspresif (masa verbal): kemampuan anak untuk mengeluarkan
kata-kata yang berarti (biasanya pada usia 12-18 bulan). Misalnya, kata
“mama” atau “papa”.

Selain kedua jenis bahasa tersebut, dikenal pula bahasa visual . Tahap
bahasa yang berhubungan dengan emosi ini muncul dalam beberapa minggu
setelah kelahiran bayi. Yang termasuk bahasa visual adalah:

. Usia 4-6 minggu: Bayi “memamerkan” senyum sosial.
. Usia 2-3 bulan: Bayi mulai memperhatikan orang dewasa yang sedang bicara.
Begitu ia berhenti bicara, bayi akan mengeluarkan suara. Ini adalah dasar
adanya interaksi pada anak, yang merupakan awal dari tahap bicara.

. Usia 4-5 bulan: Bayi harus terlihat mencari sumber suara.
. Usia 6-7 bulan: Bayi menikmati permainan, seperti ci luk ba.
. Usia 9 bulan: Bayi mulai menggunakan tangannya untuk melakukan kegiatan
sederhana, seperti melambaikan tangan, sebagai ekspresi interaksi sosial.

. Usia 9-12 bulan: Bayi memperlihatkan keinginannya pada suatu obyek dengan
cara meraih atau menangis bila tidak mendapatkannya.
. Usia 12 bulan: Bayi mulai menggunakan jarinya untuk menunjuk benda-benda
yang diinginkan.

Perkembangan Bicara pada Bayi dan Balita

0-1 bulan
Respons bayi saat mendengar suara dengan melebarkan mata atau perubahan
irama pernapasan atau kecepatan menghisap susu.

2-3 bulan
Respons bayi dengan memperhatikan dan mendengar orang yang sedang bicara.

4 bulan
Menoleh atau mencari suara orang yang bicara.

6-9 bulan
Babbling, mengerti bila namanya dipanggil.

9 bulan
Mengerti arti kata “jangan”.

10-12 bulan
Imitasi suara, mengucapkan mama/papa dari tidak berarti sampai berarti,
kadang meniru 2-3 kata. Mengerti perintah sederhana seperti “Ayo, berikan
pada saya”.

13-15 bulan
Perbendaharaan 4-7 kata, 400 kata, termasuk nama, kalimat 2-3 kata, mengerti 2
perintah sederhana sekaligus.

2,5-3 tahun
Menggunakan kata jamak dan waktu lalu, kalimat 3-5 kata, 80-90% bicara dapat
dimengerti orang lain.

3-4 tahun
Kalimat dengan 3-6 kata, bertanya, bercerita, berhubungan dengan pengalaman,
hampir semua dimengerti orang lain.

4-5 tahun
Kalimat dengan 6-8 kata, menyebut 4 warna, menghitung sampai 10.

Waspadalah bila …

. Usia 6 bulan: Bayi tidak melirik atau menoleh pada sumber suara yang datang dari belakang atau samping.
. Usia 10 bulan: Bayi tidak berespons bila dipanggil namanya.
. Usia 15 bulan: Anak tidak mengerti atau berespons terhadap kata (tidak, salam atau botol).
. Usia 18 bulan: Anak tidak dapat mengucapkan 10 kata.
. Usia 21 bulan: Anak tidak berespons terhadap perintah (duduk, kemari atau berdiri).
. Usia 24 bulan: Anak tidak dapat menunjuk dan menyebutkan bagian tubuh (mulut, hidung, mata dan kuping).

Menyusui = Investasi Besar

Selain ASI mengandung komponen-komponen yang oke untuk perkembangan otak,
misalnya DHA, proses menyusui ternyata juga memasukkan unsur-unsur
interaksi. Tidak mungkin Anda menyusui si kecil dengan melamun saja kan?
Biasanya, Anda menikmati apa yang sedang terjadi sambil membelai perlahan si
kecil dan melakukan kontak mata. Sebaliknya, si kecil pun asyik
memperhatikan wajah ibu tercinta. Itu semua adalah dasar komunikasi. Jadi,
sebisa mungkin, susuilah bayi Anda. Karena, dengan segala manfaat menyusui,
apa yang Anda lakukan itu benar-benar investasi yang besar bagi si kecil.
Termasuk, dalam perkembangan bicaranya.

Kemampuan Bicara Dan Bahasa Anak Anda

source : http://www.pediatrik.com/isi03.php?page=html&hkategori=Tips%20-%20Tips&direktori=tips&filepdf=0&pdf=&html=20060220-sp0jtv-tips.htm

Anak anda berusia 2 tahun dan masih belum lancar berbicara. Ia dapat mengucapkan beberapa patah kata, tetapi bila dibandingkan dengan anak-anak lain seusianya, anak anda tampak lambat berbicara. Sedangkan kakaknya dulu sudah dapat mengucapkan satu kalimat lengkap saat seusianya. Karena anda mengira ini bukan hal penting, anda tidak terlalu mengkhawatirkannya. Ada anak yang cepat belajar dan ada pula anak yang kurang cepat belajar, demikian pikir anda.

Sikap seperti diatas tersebut sering ditemui pada orang tua yang anaknya terlambat berbicara. Orang tua semacam ini umumnya tidak terlalu peduli kecuali anak mereka juga memperhatikan bahwa anak mereka juga lambat dalam hal lain. Mereka kadang-kadang terlalu menganggap ringan hal seperti ini.

Jangan Menunggu Untuk Memeriksakan Anak Anda

Anak yang berusia 12 sampai 18 bulan seharusnya segera dibawa ke tangan profesional untuk diperiksa jika orang tua menduga adanya gangguan kemampuan untuk berkomunikasi. Orang tua juga seharusnya segera memeriksakan anaknya jika anaknya tidak memberikan respons terhadap suara. Pemeriksaan dini sangat penting bila memang ternyata ada masalah. Sedangkan bila ternyata tidak ada masalah, kekhawatiran orang tua setidaknya dapat dikurangi.

Hasil pemeriksaan dapat bermacam-macam. Mungkin seorang anak yang dianggap terlambat berbicara oleh orang tuanya sebenarnya tidak mengalami masalah apa-apa tetapi orang tuanya saja yang terlalu khawatir akan anaknya. Dalam hal ini orang tua perlu diberi informasi mengenai tahap-tahap perkembangan seorang anak agar orang tua lebih mengerti. Sebaliknya, jika memang anak memang dinyatakan terlambat berbicara oleh seorang profesional, maka orang tua dapat membantu anaknya dalam mengembangkan keterampilan berbahasa. Jika memang ada gangguan bicara, bahasa, pendengaran, atau perkembangan, pertolongan yang diberikan sejak dini akan membantu anak agar terhindar dari masalah belajar di masa depannya.

Ada perbedaan antara bicara dan bahasa. Bicara adalah pengucapan; yang menunjukkan keterampilan seseorang mengucapkan suara dalam suatu kata. Bahasa berarti menyatakan dan menerima informasi dalam suatu cara tertentu. Bahasa merupakan salah satu cara berkomunikasi. Seorang anak yang mengalami gangguan berbahasa mungkin saja dapat mengucapkan suatu kata dengan jelas tetapi ia tidak dapat menyusun dua kata dengan baik. Sebaliknya, ucapan seorang anak mungkin sedikit sulit untuk dimengerti, tetapi ia dapat menyusun kata-kata yang benar untuk menyatakan keinginannya. Masalah bicara dan bahasa sebenarnya berbeda tetapi kedua masalah ini sering kali tumpang tindih.

Apa Penyebab Keterlambatan Bicara Atau Bahasa?

Ada banyak alasan� terjadinya keterlambatan perkembangan berbicara dan berbahasa. Keterlambatan berbicara yang terjadi pada seorang anak yang perkembangannya dalam bidang lain normal jarang disebabkan oleh kelainan fisik, seperti kelainan lidah atau langit-langit mulut.

Tetapi, gangguan pendengaran umumnya berkaitan dengan keterlambatan berbicara. Jika seorang anak mengalami gangguan pendengaran, maka ia akan mengalami kesulitan dalam memahami, menirukan, dan menggunakan bahasa. Infeksi telinga, khususnya infeksi kronik, dapat mempengaruhi kemampuan mendengar. Ini merupakan alasan mengapa perawatan dini harus segera diberikan kepada seorang anak atau bayi yang mengalami infeksi telinga. Infeksi telinga dapat disembuhkan dengan baik jika pertolongan segera diberikan dan tidak akan menyebabkan terjadinya gangguan berbicara.

Sejumlah anak yang mengalami keterlambatan berbicara mungkin mengalami masalah motorik oral, artinya ada gangguan dalam pengolahan atau penyampaian sinyal dari pusat bicara di otak. Seorang anak seperti ini akan mengalami kesulitan dalam mengendalikan bibir, lidah, dan rahangnya untuk mengucapkan suatu kata. Gangguan bicaranya tersebut dapat disertai dengan gangguan motorik oral lainnya seperti gangguan saat makan. Gangguan berbicara sering kali menunjukkan adanya gangguan perkembangan lain yang lebih luas.

Apa Yang Sebaiknya Dilakukan Oleh Orang Tua?

Orang tua yang mengetahui penyebab keterlambatan dapat membantu perkembangan berbicara anaknya. Sebagaimana diketahui, perkembangan berbicara merupakan kombinasi antara kemampuan alami anak dan pengasuhan orang tua. Seorang anak mempunyai kemampuan alami didalam dirinya dalam hal berbicara dan berbahasa. Selain itu, lingkungan sekitarnya juga mempengaruhi kemampuan berbicara dan berbahasa seorang anak. Jika rangsangan untuk berbicara dan berbahasa dirasakan kurang oleh anak maka tentu saja keterampilan bicara dan bahasanya tidak akan terasah.

Orang tua sebaiknya mulai berkomunikasi dengan anaknya bahkan sejak anaknya masih bayi, yang dapat dilakukan dengan membacakan buku cerita. Anda tidak perlu membacakan seluruh isi buku; bahkan bayi usia 18 sampai 24 bulan mungkin tidak akan mau berlama-lama diam mendengarkan cerita anda.� Cobalah untuk membacakan buku yang cukup ringan untuk seorang bayi. Olahlah suara anda saat membacakan cerita agar bayi anda memberikan respons. Atur pula nada berbicara anda agar terdengar berirama dan menyenangkan bagi bayi.

Evaluasi Perkembangan Bicara Dan Bahasa

Anda harus segera memeriksakan anak anda jika:

- Anak anda yang berusia 2 atau 3 tahun hanya dapat menirukan pembicaraan atau sikap tetapi tidak dapat mengucapkan kata-kata dengan spontan.

- Ia hanya dapat mengucapkan suara atau kata tertentu berulang-ulang.

- Suaranya terdengar �aneh� sehingga kata-katanya sulit dimengerti.

- Ia tidak dapat mengucapkan kata-kata untuk menyampaikan keinginannya.

- Ia tidak dapat melakukan perintah sederhana.

Evaluasi yang dilakukan umumnya meliputi evaluasi terhadap keterampilan berbicara dan berbahasa seorang anak sesuai dengan perkembangannya. Ia akan diuji dan diamati oleh seorang ahli agar diketahui tingkat perkembangannya. Keteranpilannya dalam mengerti dan mengekspresikan sesuatu, pendengarannya, dan keadaan motorik oralnya akan dipelajari.

Bila ia dinyatakan memerlukan terapi bicara, maka anda sebagai orang tua sebaiknya ikut terlibat.

Tahap Perkembangan

Tahap perkembangan umum seorang anak:

- Sebelum 12 bulan

Orang tua sebaiknya mengamati anaknya apakah ia dapat menggunakan suaranya untuk berhubungan dengan lingkungannya. Pada usia ini, anak umumnya tertarik dengan suar-suara. Seorang bayi yang hanya melihat dengan penuh perhatian tetapi tidak memberikan respons pada suara menunjukkan adanya gangguan pendengaran.

- Usia 12 sampai 15 bulan

Anak pada usia ini mulai menunjukkan kemampuan berbicaranya dengan mulai menggumamkan suara-suara dan mengucapkan satu atau dua patah kata dengan jelas. Biasanya kata-kata awalnya berupa kata benda. Anak usia ini juga sudah mulai dapat memahami dan menuruti perintah sederhana dari anda seperti �ambilkan mainan�.

- Usia 18 sampai 24 bulan

Anak usia ini mempunyai sekitar 50 kata dalam perbendaharaan katanya dan saat ia mulai mencapai usia 2 tahun akan mulai dapat menyusun kata-kata, seperti �ayah tidur� atau �kucing lompat�. Pada usia ini, anak mulai dapat mengerti tentang konsep, seprti konsep ruang yaitu diluar, didalam, disamping, dan sebagainya.

- Usia 2 sampai 3 tahun

Umumnya anak usia ini mengalami perkembangan pesat dalam kemampuan berbicaranya. Perbendaharaan katanya sangat meningkat dan ia mulai dapat menyusun kalimat dengan 3 atau lebih kata-kata. Kemampuan pemahaman seorang anak juga akan meningkat, ia akan mulai mengerti perintah seperti �letakkan di atas meja� atau �letakkan di bawah tempat tidur�. Ia juga mulai mengerti konsep deskriptif seperti besar dan kecil dan indentifikasi warna.

(cfs/kidshealth.org)

Gagap Pada Anak, Tips Untuk Orang Tua

sumber :http://www.pediatrik.com/isi03.php?page=html&hkategori=Tips%20-%20Tips&direktori=tips&filepdf=0&pdf=&html=20060220-oxj72z-tips.htm

Apakah gagap itu? Gagap adalah suatu gangguan kelancaran berbicara. Anak usia 2 sampai 5 tahun sering mengulang-ulang kata-kata atau bahkan seluruh kalimat yang diucapkan kepadanya. Ia kadang-kadang juga mengucapkan ungkapan-ungkapan seperti �ee� atau �mm�� saat ia berbicara. Hal ini dianggap normal bila terjadi pada anak yang masih belajar berbicara.

Anak pada golongan usia tersebut masih mempelajari cara berbicara, mengembangkan kendali terhadap otot-otot berbicaranya, mempelajari kata-kata baru, menyusun kata-kata dalam suatu kalimat, dan mempelajari bagaimana cara bertanya serta mempelajari �akibat� dari kata-kata yang mereka ucapkan. Oleh karena itu, anak pada golongan usia tersebut umumnya masih mengalami gangguan kelancaran berbicara.

Apakah Penyebab Gagap?

Banyak orang tua yang merasa bahwa gagap disebabkan oleh cara mendidik anak atau pola pengasuhan orang tua yang salah. Tetapi menurut para ahli, gagap tidak disebabkan oleh perilaku orang tua. Kenyataannya, penyebab gagap sampai saat ini belum dapat dijelaskan secara pasti. Gagap merupakan suatu keadaan yang sangat rumit dan banyak berkaitan dengan hal-hal lain.

Anak laki-laki lebih banyak mengalami gagap dari pada anak perempuan dengan perbandingan tiga banding satu. Hal ini berkaitan dengan faktor-faktor lingkungan, seperti stres.

Tanda-Tanda Awal

Umumnya tanda-tanda awal kegagapan terlihat pada usia dua tahun atau pada saat anak mulai belajar merangkai kata-kata menjadi suatu kalimat. Sering kali orang tua merasa jengkel dengan kegagapan anak, tetapi hal ini merupakan hal yang umum ditemui saat anak masih dalam tahap perkembangan berbicara. Kesabaran merupakan sikap terpenting yang harus dimiliki oleh orang tua selama anak berada dalam tahap ini. Seorang anak mungkin mengalami gangguan kelancaran berbicara selama beberapa minggu atau bulan dengan gejala yang hilang timbul. Sebagian besar anak akan lancar berbicara dan tidak akan gagap lagi bila kegagapannya itu dimulai pada usia kurang dari 5 tahun.

Anak Usia Sekolah

Saat anak mulai memasuki usia sekolah, kemampuan dan keterampilan berbicaranya akan semakin terasah. Umumnya anak akan semakin lanca berbicara dan ia sudah tidak gagap lagi. Jika ia masih gagap, umumnya pada usia tersebut ia sudah mulai merasa malu akan hal tersebut. Anak seperti ini membutuhkan latihan khusus untuk membantunya dalam berkomunikasi.

Bantuan Yang Diperlukan

Seorang anak sebaiknya mulai mendapat bantuan� khusus bila:

- orang tua mulai merasa khawatir akan kelancaran berbicara anaknya

- anak terlalu sering mengulang kata-kata atau bahkan seluruh kalimat

- pengulangan suara-suara seperti �aa� semakin sering diucapkannya

- anak tampak kesulitan saat akan berbicara

- gangguan kelancaran berbicaranya semakin berat

- mimik muka anak tampak tegang saat berbicara

- suara anak terdengar tegang saat mengucapkan kata-kata bernada tinggi

- anak sering menghindari keadaan dimana ia harus berbicara

Jika ada tanda-tanda diatas yang tampak saat anak berbicara maka sebaiknya orang tua mulai menghubungi dokter atau ahli terapi bicara. Semakin dini bantuan yang diberikan kepada seorang anak maka semakin baik pula hasil yang akan diperoleh.

Apa Yang Dapat Dilakukan Oleh Orang Tua?

Berikut ini adalah beberapa langkah yang dapat dilakukan oleh orang tua untuk menciptakan suatu suasana yang membantu bagi seorang anak:

- Jangan menyuruh anak untuk selalu berbicara dengan tata bahasa yang benar. Biarkan anak untuk berbicara dengan nyaman dan menyenangkan.

- Manfaatkan waktu makan bersama untuk melatih kelancaran berbicara anak. Hindari hal-hal lain yang mungkin mengganggu seperti televisi atau radio.

- Jangan selalu mengkritik anak dengan ucapan seperti pelan-pelan saja atau semacamnya. Komentar semacam ini, walaupun diucapkan dengan niat baik, hanya akan membuat anak merasa semakin tertekan.

- Ijinkan anak untuk berhenti berbicara jika ia merasa tidak nyaman.

- Jangan menyuruh anak untuk mengulangi kata-katanya.

- Jangan selalu menyuruh anak untuk berhati-hati dalam berbicara.

- Ciptakan suasana yang tenang di rumah.

- Berbicaralah dengan pelan dan jelas kepada anak.

- Tataplah mata anak bila berbicara dengannya. Jangan melihat kearah lain dan jangan pula menunjukkan kekecewaan anda didepan anak.

- Biarkan anak berbicara dan mengucapkan kalimatnya sampai selesai.

- Yang paling penting adalah: seringlah berlatih! Jadilah contoh yang baik bagi anak dengan selalu berbicara dengan jelas.

(cfs/kidshealth.org)

ANAK CADEL? KADANG GARA-GARA AYAH-IBUNYA JUGA,LO!

(sumber: http://www.tabloid-nakita.com)

Sampai usia 5 tahun, si kecil mungkin masih akan cadel. Apalagi jika
lingkungan ikut mendukung. Supaya tidak keterusan, Anda juga harus hati-hati
menanganinya.

“Bu, kok, pelut aku cakit?” Nah, buat mereka yang punya anak balita, pasti
langsung mengerti apa maksud kalimat itu. Soalnya, memang begitulah bahasa
anak-anak.

Memang, tak semua anak usia 3-5 tahun masih cadel bicaranya. Banyak yang
sudah pandai melafalkan kata dengan baik dan benar. Jadi, kalaupun ia masih
cadel, “Wajar-wajar saja. Kemampuan anak mengucapkan kata-kata, vokal dan
konsonan secara sempurna, tergantung kematangan sistem syaraf otaknya.
Terutama bagian yang mengatur koordinasi motorik otot-otot lidah,” terang
Dra. Evi Sukmaningrum dari Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya Jakarta.

IKUTAN CADEL
Pada umumnya, kata Evi, di usia 2-3 tahun anak baru menguasai pengucapan 2/3
dari seluruh konsonan. Jadi, untuk konsonan seperti S, Z, R, ia mengalami
kesulitan. Terutama huruf R. “Sebab, untuk mengucapkan R, diperlukan
manipulasi yang cukup kompleks antara lidah, langit-langit, dan bibir,”
jelas Evi. Nah, karena itulah si kecil menjadi cadel.

Menginjak usia 3-4 tahun, otot-otot lidah mulai matang. Dengan demikian,
pada usia prasekolah, anak diharap sudah bisa mengucapkan seluruh konsonan.
“Hanya saja, perkembangan tiap anak, berbeda. Makanya, meski usianya sama,
ada anak yang masih cadel.” Perbedaan kematangan, lanjut Evi, bisa
disebabkan faktor keturunan, gizi, atau nutrisi.

Selain kematangan fisiologis, cadel juga disebabkan faktor lingkungan. Saat
anak bilang, “Minta cucu (susu, Red.), ibu menanggapi, “Mau cucu, ya?
Cebental, ya, sayang.” Jadi, si orangtua malah ikut-ikutan cadel. Padahal,
seperti dituturkan Evi, reaksi seperti itu malah bisa membuat anak jadi
terkondisi untuk terus bicara cadel. “Ia jadi senang karena kalau bicara
cadel, ditanggapi dan dibalas cadel pula.” Asal tahu saja, tugas pertama
yang harus dilakukan seorang anak dalam belajar berbicara ialah mengucapkan
kata. Nah, ia bisa mengucapkan kata karena meniru. Kalau Anda bicara cadel
dengannya, ia akan berpikir, itulah yang benar. Jadilah dia cadel sungguhan.

Begitu juga jika ayah atau ibunya cadel (sungguhan). “Bisa saja terjadi,
anak tak pernah mendengar dan belajar, bagaimana seharusnya mengucapkan R.
Soalnya, dasar dari pengucapan kata-kata, dari lingkungan terdekat anak,
yaitu keluarga,” tutur Evi.

Pada beberapa kasus, anak yang sudah bisa melafalkan R, misalnya, tiba-tiba
jadi “mundur” alias kembali cadel. “Ini bisa disebabkan faktor psikologis.
Misalnya, dia cari perhatian karena baru punya adik. Nah, untuk merebut
perhatian ayah dan ibunya, dia kembali men”cadel”kan dirinya.”

SULIT DIDETEKSI
Umumnya pada usia 5 tahun, anak sudah tidak cadel lagi karena kematangan
otot-ototnya sudah menyerupai orang dewasa. “Paling lambat usia 6 tahun.
Kalau sampai umur ini dia masih cadel, berarti ada kelainan. Bisa kita duga
si anak mengalami defisiensi kemampuan fonologis, yaitu ketidakmampuan untuk
mengucapkan konsonan tertentu,” terang Evi.

Sayangnya, sulit untuk mendeteksi, apakah kecadelan di usia 3-5 tahun akan
berlanjut terus atau tidak. Soalnya, ini menyangkut sistem syaraf otak yang
mengatur fungsi bahasa, yakni area broca yang mengatur koordinasi alat-alat
vokal dan area wernicke untuk pemahaman terhadap kata-kata. Kerusakan pada
area broca disebut motor aphasiam yang membuat anak lambat bicara dan
pengucapannya tak sempurna sehingga sulit dimengerti. Sedangkan kerusakan
pada area wernicke disebut sensori aphasia di mana anak dapat berkata-kata
tapi sulit dipahami orang lain dan dia pun sulit untuk mengerti kata-kata
orang lain.

Nah, dalam belajar berbicara, pemahaman terhadap kata-kata akan muncul lebih
dulu. Baru kemudian anak bisa memproduksi kata-kata alias ngomong. Merujuk
pada tingkatan perkembangan bahasa anak, di usia 1,5-2 tahun biasanya ia
sudah bisa berkata, “Mama”, “Papa”, “Dada” dan sebagainya. Di usia 3 tahun,
minimal anak sudah bisa mengkombinasikan dua kata, “Mama pergi” atau “Mau
susu”, dan sebagainya.

Jika anak belum mampu berbicara sesuai tingkat perkembangannya, kita patut
curiga. Bukan curiga pada masalah cadelnya tetapi, “Kenapa, kok, enggak bisa
ngomong seperti anak-anak lain seusianya,” terang Evi.

Selain itu, kesulitan mendeteksi juga disebabkan anak usia 2-6 tahun masih
berkembang. Artinya, dia sedang dalam proses belajar berbicara. “Ia tengah
berada pada fase mulai menyesuaikan, mulai menambah perbedaharaan kata,
meningkatkan pemahaman mengenai bahasa dan perkembangan makna kata. Termasuk
juga penguasaan konsonan.”

KOREKSI & PUJI
Jadi, seperti dipesankan Evi, rajin-rajinlah memberi stimulasi pengucapan
yang benar pada anak. Paling lambat, saat ia berumur 2 tahun. Dengan kata
lain, kalau bicara dengan anak seusia ini, “Jangan gunakan bahasa dengan
pengucapan yang cadel. Jangan mengganti huruf ‘S’ dengan ‘C’ atau ‘R’ dengan
‘L’. Jangan pula menghilangkan konsonan tertentu. “Yang paling sering adalah
konsonan ‘R’. Misalnya ‘pergi’ jadi ‘pegi’ atau ‘es krim’ jadi ‘ekim’.”

Jika kebetulan ayahnya cadel (tak dapat melafalkan huruf R), ibulah yang
harus secara aktif memberikan stimulasi tersebut. Tapi kalau sampai ayah-ibu
sama-sama tak bisa ngomong “R”, maka perlu diupayakan agar si anak
mendapatkan stimulasi dari orang lain semisal kakek-nenek. Atau
diperkenalkan ke lingkungan lain seperti “sekolah”. “Usia 3 tahun, kan,
biasanya anak sudah masuk Kelompok Bermain. Nah, dari situ anak bisa
belajar. Mungkin pada awalnya dia sulit ngomong ‘R’ karena otot-otot yang
tadinya sudah matang tapi karena tak terlatih, tentunya akan menyulitkan dia
untuk menyesuaikan mengatakan ‘R’. Tapi kalau terus dilatih, pasti bisa.
Dalam hal ini, gurunya yang harus aktif melatih si anak.”

Orangtua seharusnya juga sudah bisa melihat, apakah si anak sebenarnya sudah
bisa ngomong “R” atau belum. Mungkin saja hari ini dia sudah bisa bilang
“Pergi” tapi besok berubah jadi “Pelgi”. “Jadi, sebenarnya dia sudah bisa,
cuma karena ngomong ‘R’ sulit, dia jadi cadel lagi atau malah ‘R’nya
dihilangkan.” Kalau itu yang terjadi, segera koreksi anak. Katakan padanya,
“Bukan pelgi, tapi pergi.” Lalu minta ia mengulangi mengucapkan kata
tersebut dengan benar. Kalau ia bisa melakukannya, jangan lupa beri pujian.
“Aduh, pintar. Ternyata adik bisa, kan, ngomong ‘pergi’.”

Tapi jika saat mengulangi, ia masih juga salah, jangan dimarahi. Latih terus
dan jangan lupa memujinya bila ia berhasil. Dengan demikian anak jadi tahu,
“Oh, yang benar adalah “pergi” atau susu dan bukan cucu.” Ia pun jadi
terpola untuk berbicara dengan lafal yang benar.

MINDER
Begitulah, meski wajar-wajar saja kalau si kecil masih cadel di usia 3-5
tahun, ia harus tetap dirangsang dan dilatih untuk mengucapkan kata-kata
dengan benar. Ini penting agar cadelnya tak berkelanjutan sampai ia mulai
masuk sekolah dan mempengaruhi penyesuaian sosialnya.
Apalagi pada waktu anak bertambah besar, cadelnya tak akan hilang secara
otomatis meskipun kadar keseringannya berkurang. Kecuali bila cadelnya
memang disebabkan faktor biologis, yang lebih sulit untuk diperbaiki. “Di
samping mungkin struktur lidahnya yang memang berbeda,” kata Evi.

Anak usia sekolah yang cadel akan merasa berbeda dengan teman-teman
sebayanya. Ia menjadi malu dan asing dari orang lain. Ia tak akan suka
disuruh berbicara dalam kelas karena takut ditertawakan teman-temannya.
Akibatnya, anak jadi minder dan menarik diri.

Buntut-buntutnya, rasa minder itu akan mempengaruhi self esteem atau harga
diri si anak, yang berlanjut ke konsep diri. Bila sampai terjadi seperti
itu, lanjut Evi, tugas orangtualah untuk membangunkan harga diri si anak
agar ia tak minder. “Juga guru di sekolah.” Caranya dengan menonjolkan
kelebihan si anak sehingga dia tetap percaya diri bahwa, “Saya juga punya
kemampuan lain, kok. Saya tidak ‘kalah’ dengan mereka yang enggak cadel.”

Nah, Anda tentu tak ingin buah hati tercinta mengalami cadel berkepanjangan,
bukan? Mulailah dari sekarang melatihnya mengucapkan kata dengan benar.
Jadi, berhentilah “bercadel-cadelan” dengan anak!

Berbicara Dengan Anak Usia Dua Tahun

sumber : Mother And Baby

Pada usia dua tahun anak mulai mengumpulkan perbendaraan kata. Meski kemampuan berbicara sifatnya alami, orangtua harus rajin mengasahnya.

Di usia dua tahun kemajuan si kecil tumbuh pesat. Berbagai rangsangan diperlukan guna mengoptimalkan perkembangannya, termasuk kemampuan berbicara. Saat ini kebanyakan bentuk-bentuk komunikasi pra-bicara yang tadinya sangat bermanfaat di masa bayi, seperti mengoceh, bubbling, dan menangis, mulai ditinggalkan.

Menurut Pakar Psikologi Perkembangan Elizabeth B. Hurlock, anak usia dua tahun mungkin mulai menggunakan bahasa isyarat sebagai pelengkap pembicaraan, yaitu untuk menekankan arti kata-kata yang diucapkan. Misal, jika ingin pergi, dia berkata “pergi” sambil menunjuk ke pintu rumah, atau menenteng sepatunya. Untuk minta bangun dari tidur, dia berkata “yuk bangun ” sambil turun sendiri dari ranjang. Untuk mwnolak makan dia bilang “nggak mau” sambil menutup mulut atau melarikan diri, dll. Selain itu, lanjut Hurlock, anak-anak pun mulai rajin berkomunikasi dengan orang lain menggunakan ungkapan-ungkapan emosional yang mulai bisa diterima.

Kembangkan Perbendaharaan Katanya
Pakar mencatat, rata-rata anak usia dua tahun mempunyai kemampuan mengucapkan 200 kata, tetapi tercakup dalam angka rata-rata ini adalah mereka yang hanya mampu mengucapkan selusin kata maupun yang mampu mengucapkan 500 kata atau lebih. Artinya, kemampuan ini memnag berbeda-beda. Ada anak yang baru mulai menggabungkan kata-kata sederhana, namun ada juga yang mencoba menggabungkan kata berbulan-bulan untuk kalimat yang sulit.

Nah, agar kemampuan komunikasi verbal anak cukup baik, orangtua harus membantunya. Menurut Psikolog Perkembangan Pamugari Widyastuti M.Psi, orangtua harus banyak-banyak mengajak anak berbicara, sembari mengenalkan lingkungan seperti sekolah, rumah, kebun, kebun binatang, dan segala sesuatu yang ada di lingkungan tersebut. ”Selain itu kenalkanlah juga anak pada konsep-konsep sederhana seperti besar-kecil, atas-bawah, basah-kering, dsb. Lanjutkan dengan buku-buku yang menerangkan lebih lanjut tentang hal itu, seperti buku cerita binatang dan buku tentang berbagai bentuk.”

Pada usia ini, cara terbaik membuat anak berbicara adalah dengan berbicara kepadanya. Meskipun pada umumnya orangtua secara alami akan mahir memajukan kemampuan bicara anaknya, tetapi usulan-usulan berikut ini bisa lebih memajukan percakapan dengan anak:
1. Mengembangkan kata-kata anak. Kembangkan kata-kata yang diucapkan oleh anak, maka tidak lama lagi percakapannya akan berkembang. Misal, ketika dia berkata “Rumah besar”, tambahkanlah “Itu rumah yang besar, dan rumah yang tinggi. Lihat betapa tingginya sampai ke langit.

2. Berbicara secara spesifik. Utarakan pengamatan Anda dengan sejelas mungkin. Ketika Anda ingin menunjukkan seekor kucing yang memanjat pohon, jangan hanya mengatakan “Lihat!” tapi katakan “Lihat! Saya melihat seeokor kucing putih sedang memanjat pohon. Mungkin dia sedang mengejar burung.”

3. Memberi penjelasan. Warnai kata-kata anak dengan kata pelengkap. Jangan hanya mengatakan “Itu anjing.” Tapi katakanlah, “Itu seekor anjing berwarna coklat dengan bulu yang lebat. Ia memakai ikat leher yang bagus dan berwarna merah.”

4. Sedikit memperumit. Menggunakan kalimat sederhana dan singkat untuk batita, memang bijaksana. Namun ada saatnya si kecil harus mendapat tantangan untuk mendengar kalimat-kalimat yang lebih rumit. Tetapi Anda perlu berbicara dengan ucapan yang jelas dan cukup didengar. Selain itu siaplah mengulang apa yang tidak dapat ditangkap oleh anak.

5. Melanjutkan percakapan. Bahkan jika si kecil belum bisa menggunakan kalimat, dia dapat mengikuti, menambahkan, dan pada akhirnya berpartipasi dengan penuh setiap percakapan dengan Anda.

6. Terus bertanya. Memberikan pertanyaan pada anak masih merupakan cara yang efektif untuk membangun kemampuan verbalnya. Ajukan pertanyaan yang menantang (tapi tidak membuatnya frustasi) perbendaharaan anak, tidak perlu juga sebuah pertanyaan yang perlu di jawab.
Misal, jika anak bertanya “apa itu?’
Coba jawab dengan “Menurutmu apa?”

7. Terus membaca. Membaca akan mengajar banyak hal tentang bahasa pada seorang anak, selain juga menyenangkan.

8. Bermain kata-kata. Mungkin masih terlalu dini untuk bermain scrabble, tetapi sudah waktunya bagi anak untuk bermain “apa itu?”. Peraturannya sederhana saja, saat Anda membacakan buku pada si kecil, sesekali berhentilah dan tanyakan tentang benda-benda yang ada di dalam buku tersebut.

9. Memperkenalkan alfabet. Pengenalan ABC ini berguna agar anak tidak merasa asing saat pelajaran membaca di mulai, selain juga akan membantu pengucapannya. Pengenalan ini bisa dengan nyanyian atau pun lewat buku-buku, lakukanlah tanpa memberikan paksaan pada si kecil.

10. Tunda pelajaran tata bahasa. Si kecil akan belajar banyak tentang tata bahasa yang benar dengan mendengarkan pembicaraan Anda, daripada mendengar kritikan dari ucapannya. Anda sendiri mengikuti peraturan yang benar, tetapi jangan memaksakan pada anak. Untuk saat ini, biarkan kata-kata mengalir dengan wajar – termasuk semua kesalahannya.

PANDAI BICARA, LEBIH MANDIRI
Pakar Perkembangan Anak Elizabeth B. Hurlock, dalam buku “Psikologi Perkembangan” menyatakan bahwa di masa awal kanak-kanak, Si Kecil mempunyai keinginan kuat untuk belajar berbicara. Ini disebabkan dua hal, pertama, belajar berbicara merupakan sarana pokok dalam sosialisasi. Anak-anak yang lebih mudah berkomunikasi dengan teman sebayanya akan lebih mudah mengadakan kontak sosial dan lebih mudah diterima oleh kelompok, daripada anak yang mempunyai kemampuan komunikasi terbatas.

Kedua, belajar berbicara merupakan sarana untuk memperoleh kemandirian. Anak-anak yang tidak dapat mengungkapkan keinginan dan kebutuhannya, atau yang tidak dapat berusaha agar dimengerti orang lain cenderung diperlakukan sebagai bayi dan tidak dapat memperoleh kemandirian yang diinginkan. (Rahmi)