Susu UHT atau Susu Formula

Sumber : http://lifestyle.okezone.com
HINGGA saat ini, masih ada sebagian Moms yang bingung menentukan mana susu yang baik untuk dikonsumsi si kecil. Ada yang beranggapan susu formula lebih baik dari susu UHT, ada pula yang beranggapan sebaliknya.

Daripada bingung, simak penjelasan dari dr Luciana B Sutanto MS SpGK berikut ini:

Beda Susu UHT, Skim, dan Formula

Moms, sebelum menentukan susu mana yang baik diberikan kepada si kecil, sebaiknya ketahui terlebih dulu apa bedanya susu UHT, Skim dan Formula.

Susu UHT (Ultra High Temperature) adalah susu yang disterilisasi dengan suhu tinggi (135 -145 derajat Celsius) dalam waktu yang singkat selama 2-5 detik. Pemanasan dengan suhu tinggi ini bertujuan untuk membunuh seluruh mikroorganisma (baik bakteri pembusuk maupun patogen) dan spora. Waktu pemanasan yang singkat dimaksudkan untuk mencegah kerusakan nilai gizi susu serta untuk mendapatkan warna, aroma dan rasa yang relatif tidak berubah seperti susu segar. Kesegaran susu akan terasa nikmat jika segera diminum, terlebih jika disimpan dalam lemari pendingin.

Sedangkan susu skim adalah susu bubuk tanpa lemak yang dibuat dengan cara pengeringan atau spray dryer untuk menghilangkan sebagian air dan lemak tetapi masih mengandung laktosa, protein, mineral, vitamin yang larut lemak, dan vitamin yang larut air (B12).

Susu formula yang dijual pada umumnya adalah susu yang diproses dari susu sapi segar baik dengan atau tanpa tambahan zat lain seperti lemak atau protein yang kemudian dikeringkan.

Tetap Utamakan ASI

Pada dasarnya tidak ada kewajiban memperkenalkan salah satu jenis susu tersebut. Justru, prinsip utama pemberian susu adalah berikan ASI pada bayi usia 0-6 bulan atau ASI eksklusif. Sebaliknya, susu formula bisa dijadikan alternatif bilamana Moms tidak dapat memberikan ASI Eksklusif.

Dengan diberikannya susu formula khusus yang dirancang hingga menyerupai ASI, diharapkan bisa memenuhi kebutuhan akan nutrisi bayi. Begitu usia 7 bulan, bayi mulai diberikan makanan pendamping ASI (MPASI). Tujuan MPASI untuk menambah asupan nutrisi selain dari ASI, serta mengajari bayi agar mengenal makanan secara bertahap dengan konsistensi lain yang nantinya menuju pada makanan padat.

Sementara, susu UHT bisa diberikan kepada bayi bila ia sudah berusia 9 bulan, tetapi harus diencerkan terlebih dahulu dengan air. Apabila bayi sudah berusia 12 bulan, susu UHT dapat diberikan seutuhnya kepada anak. Jumlah yang diberikan berkisar antara 2-3 gelas sehari (1 gelas = 250 ml) sesuai kemampuan anak.

Susu UHT memang direkomendasikan untuk anak usia 12 bulan ke atas. Susu skim tidak ditujukan untuk anak pada umumnya, melainkan bisa menjadi pilihan untuk anak yang harus mengurangi asupan kalori dan lemak, misalnya pada anak yang kegemukan. Pasalnya, nilai kalorinya hanya mengandung 55 persen dari seluruh energi susu. Tak heran, jika susu skim sering kali digunakan dalam pembuatan keju rendah lemak dan yogurt.

Mana yang Lebih Baik?

Bila dilihat dari sisi kualitas susu dengan cara sterilisasi, susu UHT lebih baik dibandingkan cara sterilisasi lain. Proses sterilisasi UHT yaitu dengan pemanasan yang tinggi dan singkat.

Di dalam teknologi pangan, telah diketahui bahwa pengolahan dengan suhu pemanasan yang tinggi tetapi dengan waktu yang sangat singkat, lebih dapat menyelamatkan nilai gizi daripada suhu pengolahan yang lebih rendah tetapi dengan waktu yang lebih lama. Jangka waktu simpan susu UHT lebih lama dari produk susu cair dengan cara sterilisasi pasteurisasi. Susu UHT dapat disimpan dalam waktu yang cukup panjang yaitu mencapai 6 – 10 bulan meski tanpa bahan pengawet, bahkan tidak perlu dimasukkan ke dalam lemari pendingin.

Selain itu, susu UHT merupakan susu yang higienis karena bebas dari seluruh mikroba (patogen/penyebab penyakit dan pembusuk) serta spora sehingga potensi kerusakan mikrobiologis sangat minimal, bahkan hampir tidak ada. Kontak panas yang sangat singkat pada proses UHT menyebabkan mutu sensori (warna, aroma dan rasa khas susu segar) dan mutu zat gizi, relatif tidak berubah. Keuntungan lainnya, karena biaya pengemasannya tidak sulit dan mahal, maka biasanya produk susu UHT dijual dengan harga yang terjangkau.

Bagaimana dengan susu formula? Susu bubuk berasal susu segar yang kemudian dikeringkan, umumnya menggunakan spray dryer atau roller dryer. Kerusakan protein sebesar 30 persen dapat terjadi pada pengolahan susu cair menjadi susu bubuk. Kerusakan vitamin dan mineral juga lebih banyak terjadi pada pengolahan susu bubuk.

Lama simpan susu bubuk juga tergolong lama, maksimal 2 tahun, tentunya dengan penanganan yang baik dan benar. Susu bubuk dapat dikelompokkan menjadi tiga jenis yaitu susu bubuk berlemak (full cream milk powder), susu bubuk rendah lemak (partly skim milk powder) dan susu bubuk tanpa lemak (skim milk powder).

Yang penting diingat, pilihlah susu yang cocok untuk si kecil. Konsumsi susu penting untuk menunjang tumbuh kembang si kecil dan meningkatkan sistem imunitas (kekebalan) tubuh terhadap berbagai penyakit.

Ahli Gizi: Susu Tidak Penting

Sumber : http://www.detiknews.com/read/2005/12/08/161750/494867/10/ahli-gizi-susu-tidak-penting

Iin Yumiyanti – detikNews

Jakarta – Susu selama ini identik sebagai sumber protein dan kalsium. Benarkah seperti itu? Ahli gizi, Andang Gunawan, tidak sependapat. Menurutnya, susu kecuali air susu ibu (ASI), tidak penting dikonsumsi. “Kalau ASI iya (penting). Tapi susu itu tidak perlu. Kalau disebut susu itu membantu kecerdasan, sumber protein dsb, coba saja tanya presiden kita apa waktu kecil dia minum susu?” kata Andang dalam perbincangan dengan detikcom, Kamis (8/12/2005). Masyarakat selama ini telah termakan kampanye produsen susu sehingga mewajibkan anak-anaknya minum susu. Padahal, kata Andang, pemberian ASI hingga umur 2 tahun saja cukup. Anak-anak usia di atas 2 tahun tidak perlu lagi diberi susu karena kecukupan gizinya sudah bisa disuplai dari makanan sehari-hari. Selama ini, kata Andang, orang menganggap susu sebagai minuman sehingga anak yang sudah kenyang makanan masih saja diberi susu akibatnya mereka muntah. Ada lagi yang salah, anak-anak yang tak mau makan dikasih susu, tak mau makan lagi dikasih susu lagi. “Coba lihat di perkumpulan anak autis itu kan anak-anak yang alergi susu. Susu itu memicu kita memproduksi lendir. Jadi kita seperti memasukkan penyakit ke tubuh kita. Itu yang tidak disadari,” jelas Pemimpin Redaksi (Pimred) majalah kesehatan Nirmala itu. Menurut Andang, orang Asia tidak cocok mengonsumsi susu. Sebanyak 80 persen orang Asia tidak mempunyai enzim laktasi untuk mencerna susu. Sehingga bila ada asupan susu pada tubuh akan sulit dicerna. “Teorinya susu itu disebut mengandung kalsium, mengandung ini dan itu. Tapi yang penting bisa nggak tubuh kita mencerna susu itu?” kata istri pengusaha Maxi Gunawan ini. Selain itu, Andang juga mengingatkan masuknya zat kimia di dalam susu. Susu sekarang yang diproduksi secara industri tidak murni lagi. Sapi-sapi yang menghasilkan susu sudah divaksin zat kimia. “Padahal apa yang masuk ke sapi itu jika kita konsumsi juga masuk ke tubuh kita. Ini yang kurang disadari bahayanya,” tutur perempuan ayu yang awet muda ini. Foto: Andang Gunawan (Repro Majalah Nirmala) (iy/)

SUSU SAPI PADA DASARNYA MEMANG UNTUK ANAK SAPI

sumber : milist AFB dikirim oleh bapak Wied Harry Apriadji

NUTRISI yang terdapat dalam susu cocok untuk anak sapi yang tengah berkembang. Yang penting bagi pertumbuhan anak sapi belum tentu berguna bagi manusia. Terlebih lagi, dalam dunia alami, hewan yang minum susu hanyalah bayi yang baru lahir. Tidak ada mamalia yang minum susu setelah dewasa (kecuali Homo sapiens). Inilah cara kerja alam. Hanya manusia yang dengan sengaja memngambil susu dari spesies lain, mengoksidasi, dan meminumnya. Ini bertentangan dengan hukum alam.

Di Jepang dan Amerika Serikat, anak-anak didorong untuk minum susu saat makan siang di sekolah karena susu yang kaya nutrisi dianggap baik untuk anak-anak yang tengah tumbuh. Namun, siapa pun yang menganggap bahwa susu sapi dan air susu ibu manusia adalah sama, tentunya sangat salah.

Jika Anda mendata berbagai nutrisi yang ditemukan baik dalam susu sapi maupun ASI, keduanya memang sangat serupa. Nutrisi seperti protein, lemak, laktosa, zat besi, kalsium, fosfor, natrium, kalium, dan vitamin, ditemukan dalam keduanya. Namun, kualitas dan jumlah nutrisi ini sangat berbeda.

Komponen utama yang ditemukan dalam susu sapi disebut KASEIN. Saya pernah menyinggung fakta bahwa protein ini sangat sulit dicerna dalam sistem pencernaan manusia. Sebagai tambahan, susu sapi juga mengandung bahan antioksidan LAKTOFERIN, yang memperkuat fungsi kekebalan tubuh. Namun, laktoferin yang terdapat dalam ASI adalah 0,15 % sementara yang terdapat dalam susu sapi hanya 0,01 %.

Tampaknya, bayi-bayi yang baru lahir dari spesies yang berbeda membutuhkan jumlah dan rasio nutrisi yang berbeda pula.

Dan bagaimana dengan orang dewasa?

LAKTOFERIN menjadi contohnya. Laktoferin dalam susu sapi terurai dalam asam lambung. Bahkan jika Anda meminum susu segar yang belum diproses menggunakan suhu tinggi, laktoferin di dalamnya akan terurai dalam lambung. Begitu pula halnya dengan laktoferin yang terdapat dalam ASI. Seorang bayi manusia yang baru lahir dapat menyerap laktoferin dari ASI dengan baik karena lambungnya masih belum berkembang sempurna, dan karena sekresi asam lambungnya hanya sedikit, laktoferin pun tidak terurai. Dengan kata lain, ASI manusia memang tidak dimaksudkan untuk dikonsumsi oleh manusia dewasa.

Susu sapi, walaupun sebagai susu segar yang masih mentah, bukanlah makanan yang cocok bagi manusia. Kita mengubah susu segar, yang pada dasarnya memang tidak baik bagi kita, menjadi makanan buruk dengan cara homogenisasi dan pasteurisasi pada suhu tinggi. Kemudian, kita memaksa anak-anak kita untuk meminumnya.

Satu masalah lain adalah orang-orang dari kebanyakan kelompok etnis tidak memiliki cukup banyak ENZIM LAKTASE untuk menguraikan laktosa. Kebanyakan orang memiliki cukup banyak enzim ini pada saat masih bayi, tetapi kemudian berkurang seiring dengan bertambahnya usia. Pada saat orang-orang ini minum susu, mereka mengalami berbagai gejala seperti perut bergemuruh atau diare, yang merupakan hasil ketidakmampuan tubuh mereka mencerna laktosa. Orang-orang yang benar-benar tidak memiliki laktase atau jumlah enzimnya benar-benar rendah disebut tidak tahan laktosa (WH: lactose intolerance). Hanya sedikit orang yang benar-benar tidak tahan laktosa, tetapi sekitar 90 % dari bangsa Asia; 75 % dari bangsa Hispanik, Indian, Amerika, dan kulit hitam Amerika; begitu pula 60 % orang dari berbagai kebudayaan di Mediterania dan 15 % masyarakat keturunan Eropa utara tidak memiliki cukup banyak enzim ini.

LAKTOSA adalah zat gula yang hanya terdapat dalam susu mamalia. Susu hanya diminum oleh bayi-bayi yang baru lahir. Walaupun banyak orang dewasa yang kekurangan laktase, pada saat baru dilahirkan, semua bayi yang sehat memiliki cukup banyak enzim tersebut untuk kebutuhan mereka. Terlebih lagi, kadar laktosa dalam ASI adalah sekitar 7 %, sementara dalam susu sapi hanya 4,5 %.

Oleh karena manusia pada saat bayi mampu minum ASI yang kaya akan laktosa tetapi berakhir dengan menghilangnya enzim tersebut setelah dewasa, saya yakin inilah cara alam untuk mengatakan bahwa susu bukan untuk diminum oleh manusia dewasa.

Jika memang sangat menyukai rasa susu, saya sangat menyarankan Anda membatasi seringnya mengonsumsi susu, berusaha untuk minum susu yang tidak dihomogenasi, dan dipasteurisasi pada suhu rendah. Anak-anak dan orang dewasa yang tidak menyukai susu tidak boleh dipaksa untuk meminumnya.

Singkatnya, minum susu tidak bermanfaat baik bagi tubuh. ***

Dikutip sesuai aslinya dari buku “THE MIRACLE OF ENZYME: Self-Healing Program – Meningkatkan Daya Tahan Tubuh – Memicu Regenerasi Sel” oleh Hiromi Shinya, M.D. (terjemahan), hal. 131-134, diterbitkan oleh Qanita/Mizan.

Pengirim:
Wied Harry Apriadji
Moderator Milis Gizi_BayiBalita – Gizi & makanan sehat *alami* bayi-balita

FDA finds traces of melamine in US infant formula

source : http://news.yahoo.com/s/ap/20081126/ap_on_he_me/infant_formula

By MARTHA MENDOZA and JUSTIN PRITCHARD, Associated Press

Traces of the industrial chemical melamine have been detected in samples of top-selling U.S. infant formula, but federal regulators insist the products are safe. The Food and Drug Administration said last month it was unable to identify any melamine exposure level as safe for infants, but a top official said it would be a “dangerous overreaction” for parents to stop feeding infant formula to babies who depend on it.

“The levels that we are detecting are extremely low,” said Dr. Stephen Sundlof, director of the FDA’s Center for Food Safety and Applied Nutrition. “They should not be changing the diet. If they’ve been feeding a particular product, they should continue to feed that product. That’s in the best interest of the baby.”

Melamine is the chemical found in Chinese infant formula — in far larger concentrations — that has been blamed for killing at least three babies and making at least 50,000 others ill.

Previously undisclosed tests, obtained by The Associated Press under the Freedom of Information Act, show that the FDA has detected melamine in a sample of one popular formula and the presence of cyanuric acid, a chemical relative of melamine, in the formula of a second manufacturer.

Separately, a third major formula maker told AP that in-house tests had detected trace levels of melamine in its infant formula.

The three firms — Abbott Laboratories, Nestle and Mead Johnson — manufacture more than 90 percent of all infant formula produced in the United States.

The FDA and other experts said the melamine contamination in U.S.-made formula had occurred during the manufacturing process, rather than intentionally.

The U.S. government quietly began testing domestically produced infant formula in September, soon after problems with melamine-spiked formula surfaced in China.

Sundlof said there have been no reports of human illness in the United States from melamine, which can bind with other chemicals in urine, potentially causing damaging stones in the kidney or bladder and, in extreme cases, kidney failure.

Melamine is used in some U.S. plastic food packaging and can rub off onto what we eat; it’s also contained in a cleaning solution used on some food processing equipment and can leach into the products being prepared.

Sundlof told the AP the positive test results “so far are in the trace range, and from a public health or infant health perspective, we consider those to be perfectly fine.”

That’s different from the impression of zero tolerance the agency left on Oct. 3, when it stated: “FDA is currently unable to establish any level of melamine and melamine-related compounds in infant formula that does not raise public health concerns.”

FDA scientists said then that they couldn’t set an acceptable level of melamine exposure in infant formula because science hadn’t had enough time to understand the chemical’s effects on infants’ underdeveloped kidneys. Plus, there is the complicating factor that infant formula often constitutes a newborn’s entire diet.

The agency added, however, that its position did not mean that any exposure to a detectable level of melamine and melamine-related compounds in infant formula would result in harm to infants.

Still, the announcement was widely interpreted by manufacturers, the news media and Congress to mean that infant formula that tested positive at any level could not be sold in the United States.

The Grocery Manufacturers Association, for example, told its members: “FDA could not identify a safe level for melamine and related compounds in infant formula; thus it can be concluded they will not accept any detectable melamine in infant formula.”

It was not until the AP inquired about tests on domestic formula that the FDA articulated that while it couldn’t set a safe exposure for infants, it would accept some melamine in formula — raising the question of whether the decision to accept very low concentrations was made only after traces were detected.

On Sunday, Sundlof said the agency had never said, nor implied, that domestic infant formula was going to be entirely free of melamine. He said he didn’t know if the agency’s statements on infant formula had been misinterpreted.

In China, melamine was intentionally dumped into watered-down milk to trick food quality tests into showing higher protein levels than actually existed. Byproducts of the milk ended up in infant formula, coffee creamers, even biscuits.

The concentrations of melamine there were extraordinarily high, as much as 2,500 parts per million. The concentrations detected in the FDA samples were 10,000 times smaller — the equivalent of a drop in a 64-gallon trash bin.

There would be no economic advantage to spiking U.S.-made formula at the extremely low levels found in the FDA testing. It neither raises the protein count nor saves valuable protein, said University of California, Davis chemist Michael Filigenzi, a melamine detection expert.

According to FDA data for tests of 77 infant formula samples, a trace concentration of melamine was detected in one product — Mead Johnson’s Infant Formula Powder, Enfamil LIPIL with Iron. An FDA spreadsheet shows two tests were conducted on the Enfamil, with readings of 0.137 and 0.14 parts per million.

Three tests of Nestle’s Good Start Supreme Infant Formula with Iron detected an average of 0.247 parts per million of cyanuric acid, a melamine byproduct.

The FDA said last month that the toxicity of cyanuric acid is under study, but that meanwhile it is “prudent” to assume that its potency is equal to that of melamine.

And while the FDA said tests of 18 samples of formula made by Abbott Laboratories, including its Similac brand, did not detect melamine, spokesman Colin McBean said some company tests did find the chemical. He did not identify the specific product or the number of positive tests.

McBean did say the detections were at levels far below the health limits set by all countries in the world, including Taiwan, where the limit is 0.05 parts per million.

“We’re talking about trace amounts right here, and you know there’s a lot of scientific bodies out there that say low levels of melamine are always present in certain types of foods,” said McBean.

Mead Johnson spokeswoman Gail Wood said her company’s in-house tests had not detected any melamine, and that the company had not been informed of the FDA test results, even during a confidential agency conference call Monday with infant formula makers about melamine contamination.

The FDA tests also detected melamine in two samples of nutritional supplements for very sick children who have trouble digesting regular food. Nestle’s Peptamen Junior medical food showed 0.201 and 0.206 parts per million of melamine while Nestle’s Nutren Junior-Fiber showed 0.16 and 0.184 parts per million.

The agency said that while there are no established exposure levels for infant formula, pediatric medical food — often used in feeding tubes for very sick, young children — can have 2.5 parts per million of melamine, just like food products other than infant formula.

The head of manufacturing for Nestle Nutrition in North America, Walter Huber, said in an interview that the company took samples alongside FDA officials who visited a manufacturing plant, and that those samples showed similar results to what FDA found for the two pediatric medical foods. Huber added that Nestle didn’t fund cyanuric acid in any of the samples.

The FDA shared its results with Nestle a few weeks ago, Huber said. He said he wasn’t sure whether Nestle had tested other of its products beyond what it did related to the FDA.

Rep. Rosa DeLauro, D-Conn., who heads a panel that oversees the FDA budget, said the agency was taking a “marketplace first, science last” approach.

“The FDA should be insisting on a zero-tolerance policy for melamine in domestic infant formula until it is able to determine conclusively based on sound independent science that the trace levels would not pose a health risk to infants,” DeLauro said.

Rep. Bart Stupak, D-Mich., a frequent critic of the FDA, said: “If no safe level of melamine has been established for consumption by children, then the FDA should immediately recall any formula that has tested positive for even trace amounts of the contaminant.”

Several medical experts said trace concentrations would be diluted even in an infant, and are highly unlikely to be harmful.

“It’s just a tiny amount, it’s very unlikely to cause stones,” said Stanford University Medical School pediatrics professor Dr. Paul Grimm.

Dr. Jerome Paulson, an associate professor of pediatrics at Children’s National Medical Center in Washington, D.C., said he didn’t think the FDA’s decision was unreasonable. He added, however, that the agency should research the impacts of long-term, low-dose exposure, “and not just assume it’s safe, and then 15 years from now find out that it’s not.”

On the Net:

The FDA’s melamine guidance: http://www.fda.gov/oc/opacom/hottopics/melamine.html

Anggapan Keliru Osteoporosis Bisa Disembuhkan dgn Susu

sumber : http://www.natural-cancer-cures.com/acidic-condition.html

Dokter dan ahli gizi pada umumnya menyarankan pasiennya yang
menderita osteoporosis untuk mengonsumsi lebih banyak susu dan
produk susu lainnya karena mengandung kalsium tinggi. Kedengarannya
cukup masuk diakal, tetapi tidak akan berhasil.

Orang Amerika dan Eropa Utara mengonsumsi 800 mg – 1200 mg kalsium
sehari, tapi tetap saja mereka lebih menderita osteoporosis daripada
orang Asia dan Afrika yang mengonsumsi 300 mg – 500 mg kalsium per
hari.

Penyebab utama osteopororis adalah terlalu banyak mengonsumsi acidic
yang berasal dari daging, gula dan bahan-bahan yang mengandung
kimia. Untuk menetralisir aciditas tersebut, tubuh mengambil
kalsium (alkalin) dari tulang.
Baca lebih lanjut

Susu China Gemparkan Dunia

Hong Kong(Espos)
Skandalsusu formula Chinatelah berembus ke sejumlah negara Asia, Selasa (23/9), yang mengakibatkan negara bersangkutan mengeluarkan larangan berbagai produk susu dari Negeri Tirai Bambu itu.
Laranganyang dikeluarkan bahkan juga termasuk untuk permen dan barang dagangan lainnya. Kondisi ini membuat para orangtua panik dan cemas sehingga mereka menyerbu sejumlah rumah sakit terdekat untuk memeriksakan kesehatan anak-anak mereka.
Dari Jepang menuju Thailandtercatat persebaran berbagai jenis kue, es krim dan roti daging yang kemungkinan besar telah terkontaminasi (dibuat melalui campuran bahan-red) dengan produk susu tercemar melamin yang mengakibatkan empat bayi di Chinameninggal dunia karena gagal ginjal.
Sementara 53.000 bayi lainnya jatuh sakit dan sebagian besar terkena penyakit batu ginjal. Ketakutan munculnya gangguan kesehatan tersebut juga meluas hingga ke sekolah-sekolah dan dampaknya toko-toko memutuskan menarik berbagai produk sebagai langkah antisipasi.
Sejumlah perusahaan makanan berskala internasional seperti Kraft Foods Inc., ikut terkena dampak oleh rumor yang belum jelas tentang penarikan sejumlah produk makanan kecil termasuk di dalamnya kue Oreo dan M&Ms.
”Saya masih mencemaskan kondisi anak saya,” kata Mary Yu, seorang ibu asal Hong Kongyang membawa anaknya berusia tiga tahun untuk menjalani tes kesehatan di salah satu rumah sakit, kemarin. Puluhan orangtua lainnya juga melakukan hal yang sama. ”Saya memeriksakan kondisi paru-paru untuk memastikannya aman.”
Tes medis
Sementara itu, beberapa negara lain termasuk Singapura, Taiwan, Brunei, Hong Kong, Vietnam dan Philipina, menyusul melakukan hal yang sama dan segera mengeluarkan larangan terhadap semua makanan berbahan susu asal China. Lebih khusus lagi larangan tersebut mulai dari susu fermentasi untuk bahan susu stroberi, biskuit dan permen.
Pemerintah Bangladesh bahkan telah memerintahkan petugas berwenang melakukan tes medis terhadap susu bubuk impor dari sejumlah negara yang selama ini dikenal punya regulasi super ketat terhadap produk makanan seperti Australia, Selandia Baru dan Denmark.
”Saya sangat cemas setelah mendapat laporan tentang susu tercemar tersebut,” kata Sultana Rahman, seorang ibu di Bangladeshyang punya bayi berumur depalan bulan, di mana pemerintah saat itu telah melarang tiga merk susu bubuk bayi dari China. ”Saya akan memilih memberikan anak saya ASI daripada susu bubuk.”
Kemarin, Pemerintah Malaysiatelah memperluas larangan mereka terhadap produk China, termasuk di dalamnya adalah permen, cokelat dan makanan lain yang mengandung susu.

Produk Chinayang dilarang
beredar di Singapura dan Malaysia
1. Permen merk White Rabbit Creamy
2. Susu rasa stroberi Dutch Lady
3. Yili Choice Dairy Fruit Bar Yoghurt Flavoured Ice Confection.
4. Snickers bars
5. M&Ms
6. Nabisco Chicken In A Biskit
7. Dove chocolate bars
8. Mentos yogurt balls
9. Oreo wafer sticks
10. Want Want Take One Baby Bites

Negara-negara yang melarang
produk susu China
Australia
Bangladesh
Bhutan
Brunei
Burundi
Kanada
Hong Kong
Uni Eropa
Indonesia
India
Jepang
Malaysia
Myanmar
Selandia Baru
Filipina
Singapura
KoreaSelatan
Taiwan
Thailand
Vietnam
- who/AP/Rtr

Susu Kurangi Asma

Minum Susu Perahan Kurangi Asma

Sabtu, 2 Juni 2007 – Dikirim oleh imran

Anak-anak yang mengonsumsi susu hasil perahan dapat mengurangi risiko asma dan alergi. Seluruh anak yang meminum susu asli dan hasil olahan dalam bentuk makanan yang dikonsumsi, mampu melindungi dari asma dan alergi tanpa dipengaruhi mereka tinggal didaerah perkebunan atau tidak, ” papar ketua peneliti The University of Basel di Swiss Dr Marco Waser.

Manfaat yang didapat akan semangkin besar ketika mengonsumsi susu tersebut sedini mungkin. Waser tidak menganjurkan mengonsumsi susu mentah atau tidak dimasak terlebih dahulu. “Susu yang belum dimasak kemungkinan masih mengandung mikroba, seperti salmonella atau escherichiacoli. Keduanya sangat berbahaya bagi tubuh, ” lanjut Waser. Penemuan ini dipublikasikan dalam jurnal Clinical and Experimental Allergy, yang menggunakan subjek penelitian sebanyak 14.893 anak berusia antara 5 sampai 13 tahun. Tempat tinggal mereka tersebar dari daerah perkebunan, pedesaan, hingga perkotaan di Eropa. Peneliti mendapatkan data dari orang tua mereka mengenai makanan yang anak-anak mereka konsumsi.

Mengonsumsi susu mampu mengurangi resiko asma dan alergi. Sebagai catatan manfaat dapat dirasakan tanpa dipengaruhi daerah tempat tinggal mereka. Penelitian lebih lanjut, masih diteliti komponen yang dapat melindungi dan mampu melawan asma dan alergi. Sebagai tambahan, masih diperlukan penelitian untuk menjaga agar produk tetap aman sehingga manfaat dapat tetap dirasakan.

” Dikutip dari: koran Seputar Indonesia, Edisi Jum’at 1 Juni 2007 “