Susu Formula Bikin Otak Bayi tak Berkembang

sumber : http://berita8.com/news.php?tgl=2010-08-24&cat=4&id=27364

Pemberian susu formula pada bayi baru lahir ternyata memberi risiko yang
tak ringan. Otak bayi berpotensi tidak berkembang akibat terlalu banyak
mengkonsumsi susu formula.

‘Risiko sistem jaringan otak tidak terbangun sebesar 20 persen,’ kata
Penasihat Ikatan Bidan Indonesia (IBI) DKI Jakarta, Sri Purwanti
Hubertin, Senin (23/8/2010).

Hubertin mengatakan bahwa kandungan susu formula tidak sebaik kandungan
nutirisi yang terdapat di dalam air susu ibu (ASI).

Dia mencontohkan taurin, asam amino rantai panjang, untuk proses
maturasi otak banyak terdapat di ASI dan hanya sedikit terkandung pada
susu sapi.

Protein whey yang mudah diserap oleh usus bayi dan digunakan 100 persen
oleh tubuh ada pada ASI. 65 Persen protein ASI berjenis whey sedangkan
pada susu formula kandungan protein whey maksimal hanya 20 persen dan
sisanya protein casein.

Whey protein diketahui mengandung enzim, hormon, antibodi, faktor
pertumbuhan, dan pembawa zat gizi.

Dalam sebuah artikel Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) disebutkan susu
formula lebih banyak mengandung protein casein hingga 80 persen yang
sulit dicerna usus bayi yang pada akhirnya dibuang oleh bayi.

Pembuangan protein casein tersebut lewat ginjal. Sehingga ginjal bayi
sudah dipaksa untuk membuang casein.

Ginjal bayi yang sudah bekerja membuang protein casein, dikatakan
Hubertin, menjadi salah satu pemicu banyak kasus gagal ginjal terjadi
pada anak.

Ia mencontohkan saat ini anak usia 14-15 tahun ada yang sudah menderita
gagal ginjal.

‘Risiko lain dari konsumsi susu formula adalah mudahnya terjadi
pengapuran pada pembuluh darah,’ kata Hubertin.

Karena lemak di dalam ASI selain sebagai nutrisi juga membentuk enzim
penghancur lemak yang tidak diperlukan tubuh. Pada susu formula enzim
penhancur tidak terbentuk sehingga lemak berdiam di dalam tubuh yang
menyebabkan pengapuran pada pembuluh darah.

‘Yang terlihat saat ini banyak orang stroke muda. Salah satu penyebabnya
adalah pengapuran yang terjadi pada pembuluh darah,’ tutur dia. (Ans/Boer)

Q & A Anak Tidak Mau Minum Susu

sumber : milis sehat

Anak tidak mau minum susu

11/07/2005
Q : Dear Dokter, anak laki-laki saya usia 20 bulan, dengan berat badan 11,3 kg sudah 1 minggu ini tidak mau minum susu formula. Biasanya dalam 1 hari 4 botol masing-masing 180CC, saya sudah coba mencampurnya dengan susu coklat tapi tidak berhasil.Akhirnya saya coba susu dalam kemasan siap minum dengan rasa strawberry ( susu Bendera) dan ternyata dia suka.Yang jadi pertanyaan saya apakah ada efeknya bila terlalu seing minum susu dalam kemasan itu, dokter? Apakah susu UHT itu berbahaya bagi balita seusia anak saya, dokter?Terimakasih atas bantuan dokter Purnamawati.
Regards Anissa

A : Dear AnissaTerimakasih atas email dan pertanyaanmuHehehe anakmu sudah besar, sudah 22 bulan … kalau kamu rajin mengikuti forum ini … sudah kerap saya kemukakan bahwasanya bagi anak berusia lebih dari 1 tahun, susu bukan lagi makanan utama.
Susu hanyalah sebagai salah satu sumber kalsium dan sumber kalsium lainnya adalah keju, yogurt, telur, ikan
Kedua .. sudah kerap pula saya kemukakan agar di atas usia 1 tahun, anak cukup mengkonsumsi UHT (tidak perlu mengkonsumsi susu formula yang mahal-mahal yang ditambah macam2 termasuk AA, DHA)Dan memang itulah yang terjadi negara lain (kita tidak akan menemukan susu formula macam-macam karena di atas usia 1 tahun anak hanya mengkonsumsi susu UHT)
Oleh karena itu ,… anakmu benar dan pintar hehehe bravo!!Susu UHT saja tetapi yang plain yang tanpa rasa supaya tidak mengkonsumsi gula dan pemberi rasa artifisial.Uang nya kan jadi bisa ditabung untuk pendidikan anakmu
Peluk cium saya buat dia ya
wati

Q & A Alergi Susu Sapi

sumber : milis sehat

Alergi susu sapi

Alergi susu sapi
Thursday, 21 Jul 2005
Yusnita — Jakarta
Ibu dokter yang baik,
saya sudah pernah menanyakan tentang alergi susu sapi kepada ibu. Pertanyaan saya yang sekarang apakah boleh saya mencampurkan susu anak saya (NAN HA) dengan promil gold. Perbandingannya 3 sendok nan ha dan 1 sendok promil. Alasan saya mencampurkan dengan susu sapi karena menurut saya kandungan susu sapi (formula) lebih baik dari pada nan ha atau soya. anak saya hanya mendapat asi 2 bulan, sekarang umurnya 6 bulan.terimakasih.
salam,nita

Jawaban:Dear YusnitaTerimakasih atas emailmuSayang ya anakmu tidak dapat ASI … well .. nanti anak berikutnya ASI eksklusif ya 6 bulan .. amiin
Saya tidak tahu apakah anakmu benar alergi susu sapi karena sering … kondisi alergi susu sapi ini overdiagnosisTetapi sudahlah … kan sudah lewat ya
Katakanlah anakmu benar alergi susu sapi .. biasanya merupakan kondisi sementara saja tidak menetap. Jadi kamu bisa berikan susu formula biasa saja (gak usah yang gold hehehe buang uang gak ada kelebihannya dari susu biasa tanpa AA DHA)susu yang sekarang stop saja
Ok semoga membantu
sayang saya untuk anakmu
wati

Alergi susu sapi 2

17/05/2005
Q : Anak saya dari umur 0 bulan minum susu formula s26 gold pada saat sekarang 4 bulan badannya timbul bintik-bintik merah ditangan, kaki dan muka menurut dokter yang saya kunjungi dia alergi susu sapi. Pertanyaan saya mengapa bintik-bintik timbul pada saat setelah ia meminum susu sapi hampir 4 bulan, bagaiman mengatasinya dan susu apa yag cocok untuk putri saya.Yusnita

A : Dear Yusnita Terimakasih atas emailnyaSayang ya anakmu tidak berhasil memperoleh ASI … bagaimanapun … ASI is the best kan ya … Kedua, kalau saja anakmu ASI eksklusif … maka risiko alergi akan amat sangat rendah. Apakah anakmu sering muntah, sering diare, apakah tinjanya suka ada darahnya? Semua yang saya tanyakan tadi merupakan gejala yang bisa muncul akibat alergi protein susu sapi. Di lain pihak … apakah ada yang berubah di lingkungannya? Misalnya… sedang renovasi rumah, atau sesekali anakmu kamu taruh di karpet, atau bermain dengan mainan yang berbulu, atau deterjen nya baru, sabunnya baru? Coba tata ulang kamar tidur nya dan ruangan tempat anakmu bermain. Jangan cuci baju dan sprei anakmu dengan deterjen … dengan sabun mandi saja yang lebih lunak.
Untuk kulitnya, coba hindari pemakaian kosmetik bayi mulai dari lotion, bedak, sabun. Juga tidak usah pakai minyak telon Nah … selanjutnya amati anakmu … apakah benar merah-merahnya semakin banyak (kalau ia alergi protein susu sapi … kan pasti semakin parah merah-merah di kulitnya. Di lain pihak… alergi terhadap protein susu sapi berlangsung hanya untuk sementara waktu saja … biasanya dengan waktu anakmu mulai bisa mentolerir susu sapi. Anakmu belum diberikan MPASI kan ya … Seandainya reaksi alerginya semakin kuat … maka anakmu perlu susu khusus untuk sementara waktu … susu untuk alergi protein susu sapi adalah susu khusus dimana proteinnya sudah diproses sehingga tidak lagi akan menimbulkan alergi susu sapi (alias protein hidrolisat). Rasanya tidak enak dan harganya sangat mahal. Jadi observe saja dulu ya dan lakukan beberapa hal di atas lalu kabari lagi ke forum ini ya Oh ya… tidak jarang ada misconception bahwasanya anak alergi susu sapi harus minum susu soya … itu tidak benar. Anak yang alergi susu sapi umumnya akan alergi juga terhadap protein soya. Tapi …jangan kelewat gampang ya kita melabel anak menderita alergi terhadap protein susu sapi… Ok selamat mencoba … dan keep in touch pleaseSayang buat anakmu …Ngomong-ngomong … gak mau coba relaktasi? Wati

Alergi susu sapi 3

12/07/2005
Q : Halo Ibu Dokter,Terimakasih atas jawabannya mengenai alergi susu sapi. Saya ingin menanyakan apa yang dimaksud tentang relaktasi seperti jawaban ibu dokter tanggal 17 May. Terimakasih.
Salam,Nita

A : Padahal ada konsep relaktasi, loh Nit. Ibu bisa kembali belajar untuk memproduksi ASI setelah sekian lama tidak menyusui. Produksi ASI ini memang tidak langsung melimpah setelah relaktasi, tergantung umur bayi, misalnya bayi yang baru berusia 3 minggu relaktasinya akan lebih mudah dibanding bayi berusia 4 bulan, berapa lama ibu berhenti menyusui, kemampuan bayi mengisap, dukungan keluarga dan lingkungan (ini penting sekali lho, Nit) dan biasanya perlu waktu 1-2 minggu agar produksi ASI bisa mencukupi kebutuhan bayi.
Jadi kalau baru 1-2 hari ASInya belum keluar banyak, harus lebih sabar dong ya, Nit. Jangan putus asa dulu. Yang penting, ibu harus percaya bahwa dia akan berusaha memberikan yang terbaik untuk bayinya dengan memberi ASI.
Lalu, sambil menunggu produksi ASInya kembali normal, apa dong yang bisa ibu lakukan?
Ibu harus siap-siap mengantisipasi stres karena mungkin dalam minggu-minggu pertama produksi ASI masih sedikit.
Minta dukungan sekitar. Suami dan keluarga adalah orang terdekat yang bisa dimintai dukungan. Selain itu, ibu bisa juga berkonsultasi pada konsultan laktasi, dokter anak, teman yang berhasil relaktasi, dll
Sering-sering merangsang anak untuk mengisap (setidak-tidaknya 8-10 x/hari atau lebih sering bila anak mau) walaupun produksi ASI masih sedikit. Bisa juga menggunakan alat bantu nursing suplementer (kantung plastik yang dapat dikaitkan di BH atau digantung di leher dan susu dialirkan melalui selang sementara anak mengisap payudara)
Sering memeras ASI untuk menstimulasi produksi ASI
Banyak minum cairan, konsumsi makanan ekstra (tambahan kalori 500 kal/hari)
Bila masih belum berhasil, coba konsultasikan ke dokter.
Menyusui adalah ikatan ibu – anak yang indah dan tidak tergantikan. Bila kita masih bisa mengusahakan yang terbaik, mengapa tidak? Iya tidak, Nit?
Semoga jawaban saya bisa memberikan sedikit gambaran
Salam saya untuk keluargamu. Titip peluk cium sayang untuk si kecil.
wati

Awas, Susu Coklat Bikin Anak Gemuk!

sumber : http://kesehatan.kompas.com/read/2009/12/14/10121658/Awas..Susu.Coklat.Bikin.Anak.Gemuk.

WASHINGTON, KOMPAS.com – Memilih susu coklat sebagai sumber tambahan zat gizi bagi anak-anak banyak dilakukan orang tua karena rasanya yang lebih lezat dan enak. Tetapi pemilihan susu coklat sebaiknya dipertimbangkan lagi, karena susu beraroma berpotensi memicu obesitas pada anak-anak.

Di Amerika Serikat, salah seorang direktur layanan gizi sekolah bahkan menyerukan agar susu coklat disingkirkan dari menu kantin sekolah. Pasalnya, susu coklat mengandung kalori lebih tinggi ketimbang susu plain yang rasanya tawar .

“Jika anak-anak memilih susu coklat daripada susu putih sepanjang tahun, berat badan mereka akan bertambah 2,5 sampai 3 pon (1-1,5 kilogram) dan dalam waktu 10 tahun, bobot tersebut bisa menjadi 25 sampai 30 pon,” kata Ann Cooper saat menghadiri pertemuan dengan para pejabat di Washington membahas kualitas makanan di sekolah.

“Kita sudah menghadapi krisis kegemukan di negeri ini,” kata Cooper, yang kini menjabat Direktur Layanan Gizi untuk sekolah di Boulder, Colorado, tempat ia telah menyingkirkan susu coklat dan susu dengan rasa lainnya dan menggantinya dengan susu organik murni yang dingin.

Kebanyakan susu coklat mengandung lebih dari 50 persen kalori dibandingkan dengan susu putih, dan gula yang sama dengan satu ons soda. “Susu coklat dan soda sama buruknya,” kata Cooper.

Sajian delapan ons cair (sebanyak 240 mililiter) susu coklat rendah lemak Nesquik mengandung 200 kalori dan 30 gram gula — atau lebih dari isi kaleng 12 ons (350 mililiter) Coca Cola, yang mengandung 27 gram gula dan 140 kalori.

Tentu saja, susu dengan variasi rasa mengandung zat gizi yang tak ditemukan pada soda. Tapi susu murni mengandung nilai gizi yang sama dengan jumlah kalori yang lebih sedikit serta kadar gula hanya sepertiga dari susu dengan rasa bervariasi.

Pada konferensi mengenai kegemukan awal tahun ini, Thomas Frieden, pemimpin US Centers for Disease Control and Prevention (CDC), menyatakan sekitar separuh dari tambahan 250 kalori yang dikonsumsi rata-rata orang Amerika saat ini – dibandingkan dengan 25 tahun lalu – berasal dari minuman dan makanan yang mengandung gula.

Industri susu tak tinggal diam dengan upaya menyingkirkan susu beraroma dari sekolah. Mereka berusaha membalas aktivis yang kontra susu beraroma dengan aksi melalui Internet yang disebut “Angkat tangan anda buat susu coklat”.

“Sebagian sekolah dan kelompok pegiat sedang berusaha menghilangkan susu coklat rendah lemak dari kafetaria, tapi ini sesungguhnya akan lebih banyak mengandung kerugian ketimbang manfaat,” kata National Dairy Council di jejaring pro-susu-beraroma, yang memperlihatkan sangat banyak kotak teks yang berwarna coklat.

“Susu coklat adalah pilihan susu paling kondang di sekolah, dan anak-anak akan minum lebih sedikit susu (dan memperoleh lebih sedikit gizi), jika susu coklat disingkirkan,” katanya.

WASPADAI PROMOSI SUSU FORMULA

sumber : (www.kompas.co.id) – rubrik Kesehatan (21 Mei 2007)
penulis: Dahono Fitrianto

Dewasa ini makin banyak pilihan produk dan merek susu formula untuk bayi
berusia di bawah 6 bulan. Meski begitu, sebaiknya orang tua yang memiliki
bayi pada usia tersebut harus ekstra hati-hati saat hendak memutuskan
memilih susu formula.

Sudah sangat sering diulas oleh dokter anak maupun ahli gizi anak bahwa
satu-satunya makanan terbaik untuk bayi berusia 0 hingga 6 bulan adalah air
susu ibu (ASI). Bahkan para ahli sangat menyarankan agar para ibu
memberikan ASI eksklusif atau tak memberi asupan makanan apa pun kepada bayi
kecuali ASI selama enam bulan pertama sejak bayi lahir.

“Sayangnya, pemberian ASI eksklusif ini belum jadi gaya hidup keluarga di
berbagai lapisan masyarakat. Padahal, menyusui merupakan cara terbaik dan
paling ideal dalam pemberian makanan bayi baru lahir dan bagian tak
terpisahkan dari proses reproduksi,” kata Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia
DKI Jakarta (IDAI Jaya) dr. Badriul Hegar SpA (K) (Kompas, 1 April 2006).

Ada berbagai macam alasan yang dikemukakan para ibu untuk tidak memberikan
ASI eksklusif, misalnya karena sang ibu bekerja sehingga tidak sempat
menyusui bayi secara teratur. “Saya sengaja memberi susu formula sejak
awal, karena nanti setelah cuti hamilnya habis kan saya nggak bisa memberi
ASI secara teratur lagi,” ujar Dewi (31), pialang saham, yang baru saja
melahirkan anak pertamanya sebulan lalu.

Belum terbiasanya masyarakan memberikan ASI eksklusif ini memberikan celah
pemasaran yang bisa dimanfaatkan produsen susu formula. Selain itu, para
produsen juga memberi iming-iming berbagai vitamin dan zat gizi tambahan ke
dalam produk mereka, seperti DHA dan AA, yang sering diklaim dapat membantu
perkembangan otak bayi.

ADA DALAM ASI
Menurut dr IG Ayu Pratiwi Surjadi SpA,MARS, anggota Satuan Tugas ASI IDAI
Jaya, DHA (docosahexaenoic acid) dan AA (arachidonic acid/asam arakidonat)
memang sangat dibutuhkan bayi, khususnya dalam dua tahun pertama
perkembangannya. “Otak manusia sebenarnya sudah terbentuk 90 persen saat
lahir. Setelah kelahiran kemudian terjadi mielinisasi dan sinaptogenesis
dalam otak,” papar dokter yang akrab dipanggil Tiwi ini.

Proses mielinisasi adalah pembentukan selaput mielin atau selimut serabut
saraf yang membutuhkan laktosa dan atau zat gula dari susu. Sementara
proses sinaptogenesis adalah proses pembentukan susunan sistem saraf pusat
yang membutuhkan DHA dan AA.

“Namun, zat-zat tersebut baru aktif bila ada enzim yang menyertai. Laktosa
baru aktif dalam proses mielinisasi jika ada enzim laktase yang menyertai,
sementara DHA/AA baru aktif dalam sinaptogenesis saat ada enzim lipase
karena DHA/AA pada dasarnya adalah asam lemak,” ungkap Tiwi.

Tiwi menambahkan, baik laktosa maupun DHA/AA hanya hadir lengkap dengan
enzim-enzimnya dalam ASI. “Susu formula jenis apa pun, semahal apa pun,
meski dibuat semirip mungkin dengan ASI, tetap saja tak ada enzimnya. Jadi,
satu-satunya nutrisi terbaik untuk bayi memang hanya ASI,” katanya.

Tiwi menambahkan, akibat gencarnya promosi susu formula, banyak anggota
masyarakat yang mengira DHA/AA tak terkandung dalam ASI. “Jadi, tolong
tekankan DHA/AA yang terbaik itu justru ada di dalam ASI. Komponen apa pun
yang dipromosikan ada di dalam susu formula, semuanya sudah ada di ASI,”
kata Tiwi.

MITOS DAN PROMOSI
Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Husna Zahir juga mengatakan,
pihaknya sama sekali tidak merekomendasikan pemberian susu formula kepada
bayi.

“Susu formula hanya diberikan dalam kondisi-kondisi tertentu yang sangat
darurat. Di luar itu, pemakaian susu formula hanya pemborosan belaka,”
tandasnya.

Husna juga mengungkapkan adanya mitos bahwa bayi sehat adalah bayi yang
gemuk. Sementara bayi yang diberi ASI eksklusif memang cenderung tidak
menjadi gemuk. “Mereka kemudian menambahkan susu formula agar bayinya
gemuk. Padahal, bayi sehat tidak harus gemuk. Itu cuma mitos,” ujar Husna.

Husna mengingatkan, kondisi bayi baru lahir masih sangat rentan sehingga
harus ekstra hati-hati saat memberikan zat makanan dari luar.

“Klaim-klaim dari produsen bahwa susu formulanya dapat memberi berbagai
dampak positif bagi bayi perlu dipertanyakan lebih lanjut. Misalnya,
informasi dosis atau jumlah yang tepat supaya dampak tersebut akan
terjadi. Selama ini banyak orang merasa aman apabila sudah mengonsumsi susu
tersebut karena termakan promosi,” tambah Husna.

Di atas semuanya, ia juga menyarankan agar masyarakat waspada terhadap
penawaran-penawaran susu formula di tempat-tempat pelayanan
kesehatan. “Sekarang ini banyak rumah bersalin yang menawarkan susu formula
kepada orang tua bayi yang baru lahir. Itu sebenarnya melanggar kode etik,”
katanya.

Kode etik yang dimaksud Husna adalah Kode Internasional Pemasaran Produk
Pengganti ASI (International Code of Marketing of Breast-milk Substitutes)
yang dikeluarkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 1981 lalu.

“Pemasaran produk susu formula untuk bayi di bawah usia enam bulan
seharusnya diatur secara tegas. Kalau perlu ada pelarangan promosi susu
formula di tempat-tempat pelayanan medis resmi,” ujarnya tegas.

Perlukah Balita Susu Formula Lanjutan ?

sumber : kompas.com

*JAKARTA, KOMPAS.com -* Pemberian air susu ibu (ASI) selama dua tahun
merupakan pondasi terbaik untuk kesehatan bayi. Enzim-enzim yang terdapat
dalam air susu ibu (ASI) sangat dibutuhkan bayi, khususnya dalam dua tahun
pertama perkembangannya.

Tapi, setelah si kecil berusia di atas dua tahun, susu apa yang harus
diberikan setelah ASI? Saat ini makin banyak pilihan produk dan merek susu
formula lanjutan untuk bayi berusia di atas satu tahun. Meski begitu,
sebaiknya orangtua harus ekstra hati-hati saat hendak memutuskan memilih
susu formula lanjutan.

Menurut dr.Asti Purborini, Sp.A dari Perkumpulan Perinatologi Indonesia
Pusat, orangtua sebaiknya meneliti faktor keamanan pangan dari produk susu.
“Sebaiknya pilih produk aman, misalnya yang tidak mengandung bahan pengawet.
Karena itu kalau untuk susu pilihannya adalah susu segar atau susu UHT (*ultra
high temperature*) dan pasteurisasi,” katanya. Selain bebas pengawet, produk
susu segar juga lebih murah.

Selain itu, belajar dari kasus pencemaran susu, baik oleh bakteri *enterobacter
sakazaki* maupun melamin, penting dipahami oleh para orangtua, susu formula
bayi bukanlah produk yang 100 persen steril. Karena itu dalam penggunaan dan
penyimpanannya diperlukan perhatian khusus.

Untuk anak berusia dua tahun, pemenuhan gizi anak sebenarnya bisa
dioptimalkan lewat pemberian makanan seimbang. “Berikan anak makanan yang
mengandung karbohidrat, vitamin, protein, dan mineral,” kata Ida Ruslita
Amir SKM M.Kes dari Persatuan Gizi Indonesia saat ditemui di acara
peluncuran Silaturahmi Ramadhan yang diadakan oleh Frisian Flag, beberapa
waktu lalu.

“Dalam piramida makanan yang dikeluarkan oleh WHO, susu adalah penyempurna.
Jumlah yang dibutuhkan pun lebih kecil dibanding sayuran atau karbohidrat,”
papar Rini saat dihubungi *Kompas.com*. Karena itu, menurut Rini orangtua
tak perlu khawatir bila anak tak mau minum susu selama kebutuhan nutrisinya
sudah terpenuhi dari makanan.

“Ibu-ibu zaman sekarang lebih panik bila anaknya tak mau minum susu tapi
tenang-tenang saja kalau anaknya susah makan sayur,” kata Rini. Mengenai
pemberian makanan kepada anak, Rini menyarankan agar para ibu membuat
makanan sendiri. Selain lebih sehat, bergizi dan higienis, tentu saja
harganya lebih murah ketimbang membeli makanan instan buatan pabrik.

Hanya Indonesia yang Punya Susu Terspesifikasi

AKARTA, KAMIS – Indonesia merupakan satu-satunya negara di dunia yang memiliki produk susu spesifikasi umur lebih dari dua. Padahal, di negara lain spesifikasi produk susu hanya terbagi menjadi dua, yaitu susu formula dan susu umum.
sumber : kompas.com

“BPOM hanya mengklasifikasikan menjadi tiga, susu untuk usia 0-6 bulan (susu formula), untuk usia 6-12 bulan (follow on I), dan untuk usia 12 bulan-13 tahun (follow on II). Tapi sekarang ini muncul susu formula 4 plus, 5 plus. Kami terus terang sulit mengatur hal tersebut,” ujar Direktur Standardisasi Produk Pangan Badan POM Irawati di Jakarta, Kamis (12/6).

Hal ini juga diungkapkan dokter spesialis anak dari Universitas Sebelas Maret, dr Endang Dewi Lestari, saat menanggapi pernyataan Irawati tersebut. Dia mengaku heran dengan adanya susu dengan label batasan usia yang spesifik ini. “Memang benar. Ini mungkin sebagai upaya untuk suplemen gizi untuk anak-anak. Tapi saya dan dokter anak lain suka tertawa melihat susu dengan label-label tertentu seperti itu. Ini hanya di Indonesia lho, di luar negeri itu tidak ada,” ungkapnya.

BOB

Susu UHT atau Susu Formula

Sumber : http://lifestyle.okezone.com
HINGGA saat ini, masih ada sebagian Moms yang bingung menentukan mana susu yang baik untuk dikonsumsi si kecil. Ada yang beranggapan susu formula lebih baik dari susu UHT, ada pula yang beranggapan sebaliknya.

Daripada bingung, simak penjelasan dari dr Luciana B Sutanto MS SpGK berikut ini:

Beda Susu UHT, Skim, dan Formula

Moms, sebelum menentukan susu mana yang baik diberikan kepada si kecil, sebaiknya ketahui terlebih dulu apa bedanya susu UHT, Skim dan Formula.

Susu UHT (Ultra High Temperature) adalah susu yang disterilisasi dengan suhu tinggi (135 -145 derajat Celsius) dalam waktu yang singkat selama 2-5 detik. Pemanasan dengan suhu tinggi ini bertujuan untuk membunuh seluruh mikroorganisma (baik bakteri pembusuk maupun patogen) dan spora. Waktu pemanasan yang singkat dimaksudkan untuk mencegah kerusakan nilai gizi susu serta untuk mendapatkan warna, aroma dan rasa yang relatif tidak berubah seperti susu segar. Kesegaran susu akan terasa nikmat jika segera diminum, terlebih jika disimpan dalam lemari pendingin.

Sedangkan susu skim adalah susu bubuk tanpa lemak yang dibuat dengan cara pengeringan atau spray dryer untuk menghilangkan sebagian air dan lemak tetapi masih mengandung laktosa, protein, mineral, vitamin yang larut lemak, dan vitamin yang larut air (B12).

Susu formula yang dijual pada umumnya adalah susu yang diproses dari susu sapi segar baik dengan atau tanpa tambahan zat lain seperti lemak atau protein yang kemudian dikeringkan.

Tetap Utamakan ASI

Pada dasarnya tidak ada kewajiban memperkenalkan salah satu jenis susu tersebut. Justru, prinsip utama pemberian susu adalah berikan ASI pada bayi usia 0-6 bulan atau ASI eksklusif. Sebaliknya, susu formula bisa dijadikan alternatif bilamana Moms tidak dapat memberikan ASI Eksklusif.

Dengan diberikannya susu formula khusus yang dirancang hingga menyerupai ASI, diharapkan bisa memenuhi kebutuhan akan nutrisi bayi. Begitu usia 7 bulan, bayi mulai diberikan makanan pendamping ASI (MPASI). Tujuan MPASI untuk menambah asupan nutrisi selain dari ASI, serta mengajari bayi agar mengenal makanan secara bertahap dengan konsistensi lain yang nantinya menuju pada makanan padat.

Sementara, susu UHT bisa diberikan kepada bayi bila ia sudah berusia 9 bulan, tetapi harus diencerkan terlebih dahulu dengan air. Apabila bayi sudah berusia 12 bulan, susu UHT dapat diberikan seutuhnya kepada anak. Jumlah yang diberikan berkisar antara 2-3 gelas sehari (1 gelas = 250 ml) sesuai kemampuan anak.

Susu UHT memang direkomendasikan untuk anak usia 12 bulan ke atas. Susu skim tidak ditujukan untuk anak pada umumnya, melainkan bisa menjadi pilihan untuk anak yang harus mengurangi asupan kalori dan lemak, misalnya pada anak yang kegemukan. Pasalnya, nilai kalorinya hanya mengandung 55 persen dari seluruh energi susu. Tak heran, jika susu skim sering kali digunakan dalam pembuatan keju rendah lemak dan yogurt.

Mana yang Lebih Baik?

Bila dilihat dari sisi kualitas susu dengan cara sterilisasi, susu UHT lebih baik dibandingkan cara sterilisasi lain. Proses sterilisasi UHT yaitu dengan pemanasan yang tinggi dan singkat.

Di dalam teknologi pangan, telah diketahui bahwa pengolahan dengan suhu pemanasan yang tinggi tetapi dengan waktu yang sangat singkat, lebih dapat menyelamatkan nilai gizi daripada suhu pengolahan yang lebih rendah tetapi dengan waktu yang lebih lama. Jangka waktu simpan susu UHT lebih lama dari produk susu cair dengan cara sterilisasi pasteurisasi. Susu UHT dapat disimpan dalam waktu yang cukup panjang yaitu mencapai 6 – 10 bulan meski tanpa bahan pengawet, bahkan tidak perlu dimasukkan ke dalam lemari pendingin.

Selain itu, susu UHT merupakan susu yang higienis karena bebas dari seluruh mikroba (patogen/penyebab penyakit dan pembusuk) serta spora sehingga potensi kerusakan mikrobiologis sangat minimal, bahkan hampir tidak ada. Kontak panas yang sangat singkat pada proses UHT menyebabkan mutu sensori (warna, aroma dan rasa khas susu segar) dan mutu zat gizi, relatif tidak berubah. Keuntungan lainnya, karena biaya pengemasannya tidak sulit dan mahal, maka biasanya produk susu UHT dijual dengan harga yang terjangkau.

Bagaimana dengan susu formula? Susu bubuk berasal susu segar yang kemudian dikeringkan, umumnya menggunakan spray dryer atau roller dryer. Kerusakan protein sebesar 30 persen dapat terjadi pada pengolahan susu cair menjadi susu bubuk. Kerusakan vitamin dan mineral juga lebih banyak terjadi pada pengolahan susu bubuk.

Lama simpan susu bubuk juga tergolong lama, maksimal 2 tahun, tentunya dengan penanganan yang baik dan benar. Susu bubuk dapat dikelompokkan menjadi tiga jenis yaitu susu bubuk berlemak (full cream milk powder), susu bubuk rendah lemak (partly skim milk powder) dan susu bubuk tanpa lemak (skim milk powder).

Yang penting diingat, pilihlah susu yang cocok untuk si kecil. Konsumsi susu penting untuk menunjang tumbuh kembang si kecil dan meningkatkan sistem imunitas (kekebalan) tubuh terhadap berbagai penyakit.

Ahli Gizi: Susu Tidak Penting

Sumber : http://www.detiknews.com/read/2005/12/08/161750/494867/10/ahli-gizi-susu-tidak-penting

Iin Yumiyanti – detikNews

Jakarta – Susu selama ini identik sebagai sumber protein dan kalsium. Benarkah seperti itu? Ahli gizi, Andang Gunawan, tidak sependapat. Menurutnya, susu kecuali air susu ibu (ASI), tidak penting dikonsumsi. “Kalau ASI iya (penting). Tapi susu itu tidak perlu. Kalau disebut susu itu membantu kecerdasan, sumber protein dsb, coba saja tanya presiden kita apa waktu kecil dia minum susu?” kata Andang dalam perbincangan dengan detikcom, Kamis (8/12/2005). Masyarakat selama ini telah termakan kampanye produsen susu sehingga mewajibkan anak-anaknya minum susu. Padahal, kata Andang, pemberian ASI hingga umur 2 tahun saja cukup. Anak-anak usia di atas 2 tahun tidak perlu lagi diberi susu karena kecukupan gizinya sudah bisa disuplai dari makanan sehari-hari. Selama ini, kata Andang, orang menganggap susu sebagai minuman sehingga anak yang sudah kenyang makanan masih saja diberi susu akibatnya mereka muntah. Ada lagi yang salah, anak-anak yang tak mau makan dikasih susu, tak mau makan lagi dikasih susu lagi. “Coba lihat di perkumpulan anak autis itu kan anak-anak yang alergi susu. Susu itu memicu kita memproduksi lendir. Jadi kita seperti memasukkan penyakit ke tubuh kita. Itu yang tidak disadari,” jelas Pemimpin Redaksi (Pimred) majalah kesehatan Nirmala itu. Menurut Andang, orang Asia tidak cocok mengonsumsi susu. Sebanyak 80 persen orang Asia tidak mempunyai enzim laktasi untuk mencerna susu. Sehingga bila ada asupan susu pada tubuh akan sulit dicerna. “Teorinya susu itu disebut mengandung kalsium, mengandung ini dan itu. Tapi yang penting bisa nggak tubuh kita mencerna susu itu?” kata istri pengusaha Maxi Gunawan ini. Selain itu, Andang juga mengingatkan masuknya zat kimia di dalam susu. Susu sekarang yang diproduksi secara industri tidak murni lagi. Sapi-sapi yang menghasilkan susu sudah divaksin zat kimia. “Padahal apa yang masuk ke sapi itu jika kita konsumsi juga masuk ke tubuh kita. Ini yang kurang disadari bahayanya,” tutur perempuan ayu yang awet muda ini. Foto: Andang Gunawan (Repro Majalah Nirmala) (iy/)

SUSU SAPI PADA DASARNYA MEMANG UNTUK ANAK SAPI

sumber : milist AFB dikirim oleh bapak Wied Harry Apriadji

NUTRISI yang terdapat dalam susu cocok untuk anak sapi yang tengah berkembang. Yang penting bagi pertumbuhan anak sapi belum tentu berguna bagi manusia. Terlebih lagi, dalam dunia alami, hewan yang minum susu hanyalah bayi yang baru lahir. Tidak ada mamalia yang minum susu setelah dewasa (kecuali Homo sapiens). Inilah cara kerja alam. Hanya manusia yang dengan sengaja memngambil susu dari spesies lain, mengoksidasi, dan meminumnya. Ini bertentangan dengan hukum alam.

Di Jepang dan Amerika Serikat, anak-anak didorong untuk minum susu saat makan siang di sekolah karena susu yang kaya nutrisi dianggap baik untuk anak-anak yang tengah tumbuh. Namun, siapa pun yang menganggap bahwa susu sapi dan air susu ibu manusia adalah sama, tentunya sangat salah.

Jika Anda mendata berbagai nutrisi yang ditemukan baik dalam susu sapi maupun ASI, keduanya memang sangat serupa. Nutrisi seperti protein, lemak, laktosa, zat besi, kalsium, fosfor, natrium, kalium, dan vitamin, ditemukan dalam keduanya. Namun, kualitas dan jumlah nutrisi ini sangat berbeda.

Komponen utama yang ditemukan dalam susu sapi disebut KASEIN. Saya pernah menyinggung fakta bahwa protein ini sangat sulit dicerna dalam sistem pencernaan manusia. Sebagai tambahan, susu sapi juga mengandung bahan antioksidan LAKTOFERIN, yang memperkuat fungsi kekebalan tubuh. Namun, laktoferin yang terdapat dalam ASI adalah 0,15 % sementara yang terdapat dalam susu sapi hanya 0,01 %.

Tampaknya, bayi-bayi yang baru lahir dari spesies yang berbeda membutuhkan jumlah dan rasio nutrisi yang berbeda pula.

Dan bagaimana dengan orang dewasa?

LAKTOFERIN menjadi contohnya. Laktoferin dalam susu sapi terurai dalam asam lambung. Bahkan jika Anda meminum susu segar yang belum diproses menggunakan suhu tinggi, laktoferin di dalamnya akan terurai dalam lambung. Begitu pula halnya dengan laktoferin yang terdapat dalam ASI. Seorang bayi manusia yang baru lahir dapat menyerap laktoferin dari ASI dengan baik karena lambungnya masih belum berkembang sempurna, dan karena sekresi asam lambungnya hanya sedikit, laktoferin pun tidak terurai. Dengan kata lain, ASI manusia memang tidak dimaksudkan untuk dikonsumsi oleh manusia dewasa.

Susu sapi, walaupun sebagai susu segar yang masih mentah, bukanlah makanan yang cocok bagi manusia. Kita mengubah susu segar, yang pada dasarnya memang tidak baik bagi kita, menjadi makanan buruk dengan cara homogenisasi dan pasteurisasi pada suhu tinggi. Kemudian, kita memaksa anak-anak kita untuk meminumnya.

Satu masalah lain adalah orang-orang dari kebanyakan kelompok etnis tidak memiliki cukup banyak ENZIM LAKTASE untuk menguraikan laktosa. Kebanyakan orang memiliki cukup banyak enzim ini pada saat masih bayi, tetapi kemudian berkurang seiring dengan bertambahnya usia. Pada saat orang-orang ini minum susu, mereka mengalami berbagai gejala seperti perut bergemuruh atau diare, yang merupakan hasil ketidakmampuan tubuh mereka mencerna laktosa. Orang-orang yang benar-benar tidak memiliki laktase atau jumlah enzimnya benar-benar rendah disebut tidak tahan laktosa (WH: lactose intolerance). Hanya sedikit orang yang benar-benar tidak tahan laktosa, tetapi sekitar 90 % dari bangsa Asia; 75 % dari bangsa Hispanik, Indian, Amerika, dan kulit hitam Amerika; begitu pula 60 % orang dari berbagai kebudayaan di Mediterania dan 15 % masyarakat keturunan Eropa utara tidak memiliki cukup banyak enzim ini.

LAKTOSA adalah zat gula yang hanya terdapat dalam susu mamalia. Susu hanya diminum oleh bayi-bayi yang baru lahir. Walaupun banyak orang dewasa yang kekurangan laktase, pada saat baru dilahirkan, semua bayi yang sehat memiliki cukup banyak enzim tersebut untuk kebutuhan mereka. Terlebih lagi, kadar laktosa dalam ASI adalah sekitar 7 %, sementara dalam susu sapi hanya 4,5 %.

Oleh karena manusia pada saat bayi mampu minum ASI yang kaya akan laktosa tetapi berakhir dengan menghilangnya enzim tersebut setelah dewasa, saya yakin inilah cara alam untuk mengatakan bahwa susu bukan untuk diminum oleh manusia dewasa.

Jika memang sangat menyukai rasa susu, saya sangat menyarankan Anda membatasi seringnya mengonsumsi susu, berusaha untuk minum susu yang tidak dihomogenasi, dan dipasteurisasi pada suhu rendah. Anak-anak dan orang dewasa yang tidak menyukai susu tidak boleh dipaksa untuk meminumnya.

Singkatnya, minum susu tidak bermanfaat baik bagi tubuh. ***

Dikutip sesuai aslinya dari buku “THE MIRACLE OF ENZYME: Self-Healing Program – Meningkatkan Daya Tahan Tubuh – Memicu Regenerasi Sel” oleh Hiromi Shinya, M.D. (terjemahan), hal. 131-134, diterbitkan oleh Qanita/Mizan.

Pengirim:
Wied Harry Apriadji
Moderator Milis Gizi_BayiBalita – Gizi & makanan sehat *alami* bayi-balita

FDA finds traces of melamine in US infant formula

source : http://news.yahoo.com/s/ap/20081126/ap_on_he_me/infant_formula

By MARTHA MENDOZA and JUSTIN PRITCHARD, Associated Press

Traces of the industrial chemical melamine have been detected in samples of top-selling U.S. infant formula, but federal regulators insist the products are safe. The Food and Drug Administration said last month it was unable to identify any melamine exposure level as safe for infants, but a top official said it would be a “dangerous overreaction” for parents to stop feeding infant formula to babies who depend on it.

“The levels that we are detecting are extremely low,” said Dr. Stephen Sundlof, director of the FDA’s Center for Food Safety and Applied Nutrition. “They should not be changing the diet. If they’ve been feeding a particular product, they should continue to feed that product. That’s in the best interest of the baby.”

Melamine is the chemical found in Chinese infant formula — in far larger concentrations — that has been blamed for killing at least three babies and making at least 50,000 others ill.

Previously undisclosed tests, obtained by The Associated Press under the Freedom of Information Act, show that the FDA has detected melamine in a sample of one popular formula and the presence of cyanuric acid, a chemical relative of melamine, in the formula of a second manufacturer.

Separately, a third major formula maker told AP that in-house tests had detected trace levels of melamine in its infant formula.

The three firms — Abbott Laboratories, Nestle and Mead Johnson — manufacture more than 90 percent of all infant formula produced in the United States.

The FDA and other experts said the melamine contamination in U.S.-made formula had occurred during the manufacturing process, rather than intentionally.

The U.S. government quietly began testing domestically produced infant formula in September, soon after problems with melamine-spiked formula surfaced in China.

Sundlof said there have been no reports of human illness in the United States from melamine, which can bind with other chemicals in urine, potentially causing damaging stones in the kidney or bladder and, in extreme cases, kidney failure.

Melamine is used in some U.S. plastic food packaging and can rub off onto what we eat; it’s also contained in a cleaning solution used on some food processing equipment and can leach into the products being prepared.

Sundlof told the AP the positive test results “so far are in the trace range, and from a public health or infant health perspective, we consider those to be perfectly fine.”

That’s different from the impression of zero tolerance the agency left on Oct. 3, when it stated: “FDA is currently unable to establish any level of melamine and melamine-related compounds in infant formula that does not raise public health concerns.”

FDA scientists said then that they couldn’t set an acceptable level of melamine exposure in infant formula because science hadn’t had enough time to understand the chemical’s effects on infants’ underdeveloped kidneys. Plus, there is the complicating factor that infant formula often constitutes a newborn’s entire diet.

The agency added, however, that its position did not mean that any exposure to a detectable level of melamine and melamine-related compounds in infant formula would result in harm to infants.

Still, the announcement was widely interpreted by manufacturers, the news media and Congress to mean that infant formula that tested positive at any level could not be sold in the United States.

The Grocery Manufacturers Association, for example, told its members: “FDA could not identify a safe level for melamine and related compounds in infant formula; thus it can be concluded they will not accept any detectable melamine in infant formula.”

It was not until the AP inquired about tests on domestic formula that the FDA articulated that while it couldn’t set a safe exposure for infants, it would accept some melamine in formula — raising the question of whether the decision to accept very low concentrations was made only after traces were detected.

On Sunday, Sundlof said the agency had never said, nor implied, that domestic infant formula was going to be entirely free of melamine. He said he didn’t know if the agency’s statements on infant formula had been misinterpreted.

In China, melamine was intentionally dumped into watered-down milk to trick food quality tests into showing higher protein levels than actually existed. Byproducts of the milk ended up in infant formula, coffee creamers, even biscuits.

The concentrations of melamine there were extraordinarily high, as much as 2,500 parts per million. The concentrations detected in the FDA samples were 10,000 times smaller — the equivalent of a drop in a 64-gallon trash bin.

There would be no economic advantage to spiking U.S.-made formula at the extremely low levels found in the FDA testing. It neither raises the protein count nor saves valuable protein, said University of California, Davis chemist Michael Filigenzi, a melamine detection expert.

According to FDA data for tests of 77 infant formula samples, a trace concentration of melamine was detected in one product — Mead Johnson’s Infant Formula Powder, Enfamil LIPIL with Iron. An FDA spreadsheet shows two tests were conducted on the Enfamil, with readings of 0.137 and 0.14 parts per million.

Three tests of Nestle’s Good Start Supreme Infant Formula with Iron detected an average of 0.247 parts per million of cyanuric acid, a melamine byproduct.

The FDA said last month that the toxicity of cyanuric acid is under study, but that meanwhile it is “prudent” to assume that its potency is equal to that of melamine.

And while the FDA said tests of 18 samples of formula made by Abbott Laboratories, including its Similac brand, did not detect melamine, spokesman Colin McBean said some company tests did find the chemical. He did not identify the specific product or the number of positive tests.

McBean did say the detections were at levels far below the health limits set by all countries in the world, including Taiwan, where the limit is 0.05 parts per million.

“We’re talking about trace amounts right here, and you know there’s a lot of scientific bodies out there that say low levels of melamine are always present in certain types of foods,” said McBean.

Mead Johnson spokeswoman Gail Wood said her company’s in-house tests had not detected any melamine, and that the company had not been informed of the FDA test results, even during a confidential agency conference call Monday with infant formula makers about melamine contamination.

The FDA tests also detected melamine in two samples of nutritional supplements for very sick children who have trouble digesting regular food. Nestle’s Peptamen Junior medical food showed 0.201 and 0.206 parts per million of melamine while Nestle’s Nutren Junior-Fiber showed 0.16 and 0.184 parts per million.

The agency said that while there are no established exposure levels for infant formula, pediatric medical food — often used in feeding tubes for very sick, young children — can have 2.5 parts per million of melamine, just like food products other than infant formula.

The head of manufacturing for Nestle Nutrition in North America, Walter Huber, said in an interview that the company took samples alongside FDA officials who visited a manufacturing plant, and that those samples showed similar results to what FDA found for the two pediatric medical foods. Huber added that Nestle didn’t fund cyanuric acid in any of the samples.

The FDA shared its results with Nestle a few weeks ago, Huber said. He said he wasn’t sure whether Nestle had tested other of its products beyond what it did related to the FDA.

Rep. Rosa DeLauro, D-Conn., who heads a panel that oversees the FDA budget, said the agency was taking a “marketplace first, science last” approach.

“The FDA should be insisting on a zero-tolerance policy for melamine in domestic infant formula until it is able to determine conclusively based on sound independent science that the trace levels would not pose a health risk to infants,” DeLauro said.

Rep. Bart Stupak, D-Mich., a frequent critic of the FDA, said: “If no safe level of melamine has been established for consumption by children, then the FDA should immediately recall any formula that has tested positive for even trace amounts of the contaminant.”

Several medical experts said trace concentrations would be diluted even in an infant, and are highly unlikely to be harmful.

“It’s just a tiny amount, it’s very unlikely to cause stones,” said Stanford University Medical School pediatrics professor Dr. Paul Grimm.

Dr. Jerome Paulson, an associate professor of pediatrics at Children’s National Medical Center in Washington, D.C., said he didn’t think the FDA’s decision was unreasonable. He added, however, that the agency should research the impacts of long-term, low-dose exposure, “and not just assume it’s safe, and then 15 years from now find out that it’s not.”

On the Net:

The FDA’s melamine guidance: http://www.fda.gov/oc/opacom/hottopics/melamine.html