Mengembangkan Indera Peraba dan Pengecap Batita

sumber :

http://cyberjob.cbn.net.id/cbprtl/Cyberwoman/pda/detail.aspx?x=Mother+And+Baby&y=Cyberwoman|0|0|8|1547

Mother And Baby

Stimulasi indera diperlukan untuk perkembangan otak yang akan menentukan kecerdasan anak. Begitu juga dengan stimulasi indera peraba dan pengecap juga akan mengoptimalkan perkembangan otak, selain stimulasi indera pendengaran dan penglihatan. Nah, usia batita merupakan the golden age atau masa pesat perkembangan otak di usia 0-3 tahun. Jadi manfaatkan masa ini dengan sebaik-baiknya.

Sekadar untuk Anda diketahui, pada usia awal tumbuh kembang batita, fungsi kedua belahan otaknya masih sama. Hal ini bisa terlihat dari caranya meraih benda dengan menggunakan kedua tangannya. Setelah otak berkembang, secara individual fungsi belahan otak kanan dan kiri menjadi berbeda. Perkembangan ini menyebabkan batita cenderung memakai tangan tertentu (umumnya tangan kanan) untuk melakukan sesuatu.

Tujuan stimulasi alat indera, yaitu untuk mengembangkan hubungan antara satu saraf dengan saraf lain. Dengan demikian, saat anak sudah sekolah, ia akan lebih cepat menangkap pelajaran yang diberikan. Bahkan beberapa ahli percaya, kalau tidak ada rangsangan, jaringan otak akan mengecil akibat menurunnya jaringan fungsi otak.

Sebenarnya, secara tidak sadar, orangtua sudah melakukan beberapa stimulasi indera sentuhan dari hari ke hari. Hanya saja, mungkin upayanya kurang maksimal. Agar lebih maksimal berikut beberapa saran yang mungki dapat Anda ikuti, seperti pijat.

Pijatan dapat memberi efek relaksasi pada batita. Penelitian membuktikan bayi prematur yang sering dipijat akan tumbuh lebih baik, lebih cepat, lebih tenang serta lebih jarang menangis ketimbang bayi-bayi prematur yang tidak dipijat. Dan jika bayi Anda dipijat tanpa mengenakan pakaian, pilih ruangan yang cukup hangat.

Karena kebanyakan waktu batita dihabiskan di atas ranjang. Nah, untuk menstimulasi indera peraba, lapisi ranjang dengan alas tempat tidur yang lembut dan hangat sehingga ia merasa nyaman di dalamnya.

Untuk menstimulasi indera peraba, bayi perlu mengenal konsep kasar-halus atau keras-lunak. Salah satu caranya, Anda dapat mengenalkan kepadanya berbagai tekstur bahan seperti sutera, satin, velvet, kulit, handuk dan sebagainya. Selain itu, Anda dapat juga memanfaatkan kegiatan sehari-hari. Seperti memanfaatkan waktu mandi, Anda dapat mengenalkan sifat sabun yang licin.

Selain itu, Anda dapat mengajaknya berjalan-jalan tanpa alas kaki sehingga ia dapat merasakan perbedaan tekstur, kala ia menyentuh lantai, karpet, atau rumput. Dengan cara ini sekitar usia 2 tahun ia mulai bisa menyebutkan kalau batu itu keras atau sutera itu lembut.

Untuk menstimulasi indra pengecap, ada beberapa saran yang mungkin dapat Anda ikuti, seperti memberi ASI. Menyusui bayi dengan ASI merupakan salah satu cara merangsang indera pengecap bayi. Beberapa pakar mengatakan, bayi yang menyusu ASI akan lebih jarang mengisap jari ketimbang yang menyusu dari botol. Waktu menyusu yang ideal sekitar 30 sampai 40 menit. Di atas 20 menit sebenarnya susu ibu sudah kosong, namun bayi tetap mengisap puting ibunya demi memenuhi kebutuhan mengisapnya.

Selain ASI, menginjak usia 6 bulan, mulailah perkenalkan anak dengan berbagai macam rasa makanan agar saat besar nanti indera pengecapnya terbiasa dengan aneka jenis makanan. Selain itu, ia akan tumbuh menjadi anak yang tidak pilih-pilih makanan.

Yang terpenting, saat memberinya stimulus tersebut, ajaklah batita Anda bercakap-cakap. Dengan begitu, perkembangan bahasanya pun akan ikut terangsang. Selain itu Anda juga dapat menjalin kedekatan dengan anak.

Dini Safitri

Sumber: Majalah Inspire Kids

Rangsang Kemajuan Anak

SUMBER : http://cidera-otak.blog.friendster.com

Memberikan Rangsangan Kemajuan Pada Anak

Dengan adanya kata-kata pertama, langkah-langkah pertama yang dapat dilakukan oleh anak, maka permainan belajar akan lebih menyenangkan. Beri kesempatan pada anak anda untuk menjelajahi dan belajar tenang dunia dan kemajuannya, dan bentuklah kemajuan fisik, sosial, intelektual dan emosionalnya dengan melakukan

beberapa hal berikut :

Bahan-bahan untuk mengembangkan kreatifitas (Creative materials)

Mainan untuk melatih ketrampilan tangan (Dexterity toys)

Mainan untuk di kamar mandi (Bath toys for water play)

Permainan mengikuti pemimpin (Follow the leader play)
Buku, majalah, dan segala sesuatu yang bergambar (Books, magazines, anything and pictures)

Bahan untuk bermain pura-pura (Materials for pretend play)

Tempat yang aman untuk belajar memanjat (Space safe for supervised climbing)

Lingkungan yang bervariasi (A varied environment)

Pujian (Applause)

Bahan-bahan untuk mengembangkan kreatifitas

Mencoret-coret dengan crayon adalah kegiatan yang sangat memuaskan bagi banyak anak. Rekatkan kertas pada alas meja, lantai, atau dinding ,alas lainnya agar kertas tidak menggeser ketika dicoreti, dan singkirkan crayon segera setelah crayon disalah-gunakan untuk mencoret bagian yang tidak boleh dicoret atau jika >>>>>>>> bayi memasukkan crayon ke dalam mulutnya,> orgtua ada lah contoh yg baik>>>>>( bayi normal saja perlu di ajari terlebih dahulu, sebelum ia dapat menguasai )

Bebaskan Gerak Anak Untuk Menghindari Cedera Otak

Sumber : perempuan.kompas.com

KOMPAS.com – Pada Kompas.com beberapa hari lalu, Anda bisa menemukan artikel yang memaparkan mengenai makanan yang mencerdaskan otak pada masa golden years, atau usia 0 – 3 tahun. Pada masa-masa inilah sel-sel saraf otak berkembang amat pesat. Jika pada masa ini bayi tidak mendapatkan kebutuhan gizinya, kekurangannya tak akan bisa dipenuhi lagi di kemudian hari.
Pertumbuhan otak sebenarnya sangat dinamis, bisa dihentikan atau diperlambat. Atau sebaliknya, dipercepat. Tentu, Anda akan memilih untuk mempercepat pertumbuhan otak, bukan? Karena jika pertumbuhan melambat atau berhenti, artinya anak mengalami cedera otak. Masalah cedera otak ini beragam, seperti celebral palsy, autis, gangguan konsentrasi, epilepsi, dan down syndrome. Untuk itu, kita harus selalu menstimulasi otak anak agar berkembang dengan baik.
Glenn Doman, physical therapist yang juga pendiri The Institutes for the Achievement of Human Potential, mengatakan bahwa otak tumbuh dan berkembang bila digunakan. Bayi yang hidup di lingkungan yang kaya akan stimulasi, otaknya akan berkembang lebih baik. Lingkungan yang dimaksud adalah yang memungkinkan anak untuk bergerak sebanyak mungkin. Manfaat gerak ternyata begitu luar biasa, antara lain memperbaiki sistem pernafasan, sehingga dapat mencukupi supply oksigen ke otak anak, dimana fungsi otak akan meningkat karenanya. Bergerak juga akan memperbaiki struktur tubuh, memperbaiki sistem pencernaan dan pembuangan, mengembangkan penglihatan, dan meningkatkan kecerdasan.
Tahap-tahap dalam gerakan anak adalah sebagai berikut:
Tahap 1: Gerak tanpa perpindahan
Bayi mampu menggerakkan anggota tubuhnya, tetapi belum mampu menggunakan gerakan itu untuk memindahkan badannya ke tempat lain.
Tahap 2: Merayap
Menggerakkan lengan dan tungkainya dengan cara tertentu, sementara perut ditekan ke lantai, sehingga ia bisa berpindah dari titik A ke titik B. Otak mereka akan terus berkembang untuk berpikir apa yang harus dilakukan untuk berpindah tempat. Di sini mereka mulai belajar berkoordinasi, dengan menyeret tangan kanan ke depan bersamaan dengan kaki kirinya.
Tahap 3: Merangkak
Bayi belajar menantang gravitasi untuk pertama kalinya, dan bangkit dengan bertumpu pada tangan dan lututnya. Pelajaran mengenai koordinasi terus berlanjut, dimana tungkai depan kanan hanya dilakukan secara bersamaan dengan tungkai belakang kiri. Anak akan menggunakan otaknya ke tahap lebih tinggi untuk belajar berpindah tempat dengan pola gerakan yang seimbang.
Tahap 4: Berjalan
Bayi belajar bangkit dan bertumpu pada tungkainya dan berjalan. Anak sudah mampu melawan gravitasi dari 4 titik tubuh pada posisi sebelumnya (merayap dan merangkak) ke posisi 2 titik dan 1 titik tumpu untuk menahan gravitasi. Melawan gravitasi adalah sebuah tahap yang luar biasa untuk menghindari kelumpuhan.
Tahap 5: Berlari
Anak mempercepat jalannya menjadi berlari. Keseimbangan dan koordinasinya bertambah baik.
Anak yang sehat tidak akan melewatkan satu tahap dalam proses tersebut, meskipun siklus masing-masing tahapan akan berbeda pada satu anak dengan yang lain. Jika salah satu dari tahap dasar itu dilewati, misalnya anak mulai berjalan sebelum ia cukup merangkak, akan terjadi konsekuensi yang merugikan. Contohnya, koordinasi yang lemah, kegagalan memiliki penguasaan tangan kanan atau kidal, kegagalan untuk mengembangkan penguasaan belahan otak yang normal dalam berbicara, kegagalan dalam membaca dan mengeja, kurang konsentrasi (sering disebut ADD), kurang fokus, mudah lelah ketika belajar, dan lain-lain.
Cara menstimulasi anak
Untuk melatih anak bergerak dengan tujuan merangsang otaknya, kita harus selalu mengamati dan mengarahkannya. Sebab, anak bisa saja salah menggerakkan anggota tubuhnya, atau kita sendiri tidak menyediakan lingkungan yang ideal untuk anak bergerak. Gunakan seluruh panca indera anak (penglihatan, penciuman, pendengaran, perabaan, dan pencecapan) untuk membantu stimulasi otak. Agar anak dapat bergerak seluas-luasnya, berikut saran Irene F. Mongkar dalam acara Smart Parents Conference di JCC, Jakarta, Sabtu (25/7):
1. Singkirkan perabotan di rumah yang menghalangi gerak anak.
2. Lantai harus bersih, hangat, nyaman, dan aman. Bisa juga dengan menghamparkan matras yang sedikit keras untuk memudahkan ia bergerak. Kasur empuk yang diberi seprei akan membuatnya kesulitan bergerak, dan akhirnya berhenti.
3. Jangan biarkan ia berbaring dalam posisi telentang, karena jangkauan pandangannya akan sangat terbatas. Posisi tengkurap akan memperluas pandangannya, dan keinginan untuk bergerak pindah akan lebih mudah.
4. Boks bayi, kereta dorong, baby walker, dan sejenisnya, sangat membatasi gerak anak.
5. Anak memang perlu diusap atau dipeluk untuk mendapatkan kehangatan, namun jangan menggendong anak terlalu lama. Bebaskan ia untuk bergerak dengan meletakkannya di lantai.
6. Jangan mengira bahwa anak yang selalu tidur akan menyenangkan, karena tidak merepotkan. Anak juga harus sering diajak ngobrol atau bermain.
7. Berikan dorongan dan pujian bila ia berhasil melakukan gerakan. Biarkan ia berusaha dengan maksimal saat akan berbalik, berdiri, atau melangkah. Bila ia sudah kehabisan tenaga, Anda bisa membantunya.
8. Jangan membiarkan anak beraktivitas sendiri, sementara Anda sibuk nonton TV, ngobrol dengan tetangga, atau Facebook-an. Temani dia dalam setiap tahap gerakannya, dari merayap hingga melangkah.
9. Jangan memberi iming-iming agar anak mau bergerak, atau memaksanya.

Bayi Tak perlu diajari Berjalan

Sumber : http://perempuan.kompas.com

Bila tak ada gangguan sistem syaraf pusat, bayi akan berjalan dengan sendirinya. Meski begitu, stimulasi tetap diperlukan agar bayi mampu berjalan tegak dan cekatan.
Hal ini ditegaskan lagi oleh psikolog Gisella Tani Pratiwi, M.Psi, yang mengatakan, “Pada dasarnya bayi tidak perlu diajarkan untuk menguasai kemampuan motorik kasar seperti berjalan karena mereka akan berjalan dengan sendirinya. Tapi dengan catatan sistem syaraf pusat, otot, dan tulang telah matang, dan mereka mendapatkan ruang dan kebebasan untuk bergerak atau/bereksplorasi.” Bila semua syarat di atas terpenuhi, Gisella yakin, bayi mampu menstimulasi dirinya sendiri untuk bisa mencapai tahap demi tahap jenjang perkembangan motorik kasar.
Meski demikian, Gisella tak menampik bahwa bahwa kemampuan berjalan bayi tak bisa dilepaskan dari perkembangan kemampuan lainnya. “Kemampuan berjalan bisa diraih seorang bayi atau anak karena telah menguasai kemampuan lain sebelumnya seperti kemampuan mengangkat kepala, kematangan tulang penyangga, kemampuan menjaga keseimbangan, dan kemampuan duduk sendiri. Maka dari itu orangtua sebaiknya memerhatikan perkembangan bayi secara menyeluruh, tidak hanya terfokus pada satu hal saja dan memberikan stimulasi sesuai dengan tahapan perkembangannya ini.”
Anda memiliki berbagai pertanyaan lain tentang kemampuan berjalan pada anak? Hal-hal berikut mungkin dapat menjawabnya.
Meskipun pada saatnya nanti si bayi bisa jalan sendiri, kenapa tetap disarankan untuk tetap menstimulasi agar perkembangan motorik kasarnya optimal?
Dengan menstimulasi perkembangan motorik kasar bayi, maka kemampuan berjalan bayi akan berkembang semakin optimal. Dengan distimulasi, ditambah memberikan keleluasaan bergerak, ia akan semakin “ahli”’ dalam bergerak. Bayi akan semakin mampu mengenali tempat-tempat yang berbahaya seperti lantai yang tidak rata, tangga, jalan yang menanjak, dan sebagainya. Juga semakin terlatih untuk menempatkan kaki-kakinya agar tidak mudah terjatuh. Dia juga akan semakin terlatih, tahu jika bahaya yang ada di sekitarnya.
Apakah semua bayi akan menapaki jenjang perkembangan motorik kasar?
Secara umum, jika bayi mendapat gizi yang baik, mendapatkan kasih sayang yang cukup, memiliki kebebasan untuk mengeksplorasi ruang gerak, serta memiliki kesempatan untuk melatih kemampuan motoriknya, maka perkembangan motorik bayi tidak akan mengalami keterlambatan. Tapi jika sebaliknya, maka perkembangan anak akan mengalami keterlambatan.
Kapan normalnya anak bisa berjalan?
Kebanyakan anak dapat melakukan langkah pertamanya ketika berusia 11 – 14 bulan. Namun harus diingat, perkembangan anak amat bervariasi. Ada anak yang bisa berjalan ketika berusia 8 bulan, ada yang baru bisa berjalan ketika berusia 17 bulan.
Bagaimana bila di usia 17 bulan belum bisa berjalan juga?
Jika ada anak belum bisa berjalan saat berusia 17 bulan ke atas, anak tidak juga berjalan setelah mengalami pelatihan khusus selama beberapa bulan, atau anak berjalan dengan cara lain dan bukannya menggunakan jari-jari kaki, kita harus segera mengonsultasikannya dengan dokter anak untuk dirujuk pada ahli ortopedi atau ahli syaraf. Dikhawatirkan ada hal-hal lain dengan latar belakang medis yang harus ditangani terlebih dulu. Orangtua juga perlu mengetahui, dalam perkembangan motorik kasar, jika anak memiliki berat badan yang berlebih atau lahir prematur, bayi tersebut cenderung memiliki keterlambatan dalam perkembangan motorik kasarnya.
Bagaimana cara menstimulasi motorik kasar kaki bayi?
Stimulasi dilakukan untuk membantu anak mengembangkan kemampuan perkembangannya. Maka stimulasi sebaiknya dilakukan sesuai dengan tahap perkembangan anak dan kemampuan anak. Stimulasi juga harus dilakukan dengan dasar pandangan bahwa setiap anak memiliki dinamika perkembangan yang unik serta menyeluruh. Arti menyeluruh adalah masing-masing aspek perkembangan saling berkaitan satu sama lain. Seperti jawaban saya sebelumnya, sebelum berjalan bayi telah melalui tahap penguasaan keahlian lainnya. Maka stimulasi yang diberikan pun sebaiknya sesuai dengan tahap perkembangan masing-masing anak. Stimulasi yang diberikan lebih awal, jika tidak diberikan dalam cara yang memaksa dan menyakiti anak, boleh-boleh saja dilakukan karena tidak akan mengakibatkan masalah bagi anak.
Perlukah alat bantu untuk menstimulasi motorik kasar bayi?
Dalam menstimulasi, hal pokok yang harus diperhatikan adalah peran orangtua mencari berbagai cara kreatif untuk menstimulasi kemampuan berjalan. Aktivitas itu dapat dilakukan dengan mainan atau alat bantu sederhana lain. Pastinya alat bantu apa pun sebaiknya digunakan dalam pengawasan orang tua atau pengasuh. Hal lain yang perlu diperhatikan demi keselamatan anak adalah tetap menjaga anak berjauhan dari benda-benda panas, benda-benda yang bertali atau berkabel, serta berjauhan dari sumber-sumber air. Penggunaan babywalker, dari berbagai penelitian sangat tidak disarankan untuk digunakan dalam membantu anak berjalan. Aspek keamanan dalam penggunaan babywalker sangat rendah. Artinya dengan mudah bayi dapat terjatuh dari tangga, terjepit tangannya, mengalami luka kepala, bahkan kematian ketika menggunakan babywalker.
Jika untuk bayi gemuk, bagaimana menstimulasi motorik kasarnya?
Menurut penelitian, ditemukan korelasi antara keterlambatan perkembangan motorik dengan kondisi bayi yang tergolong gemuk. Namun, diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan apakah faktor kegemukan adalah satu-satunya penyebab keterlambatan perkembangan motorik pada bayi yang gemuk. Untuk stimulasi yang diberikan tidak jauh beda seperti yang dilakukan pada bayi berberat badan normal lainnya. Hanya mungkin dilakukan lebih intens dan lebih sabar. Namun, yang paling penting, kondisi bayi yang gemuk ini perlu juga dikonsultasikan secara khusus dengan dokter karena selain menghambat stimulasinya, kegemukan juga berisiko menimbulkan gangguan kesehatan lain.
(Gazali Solahuddin)

Mainan Edukatif

PILIH MAINAN EDUKATIF AGAR SI KECIL TEKUN Disebut mainan edukatif karena dapat merangsang daya pikir anak. Termasuk di antaranya meningkatkan kemampuan berkonsentrasi dan memecahkan masalah. Tapi ngomong-ngomong, bagaimana membedakan mainan jenis ini dari mainan lainnya? Simaklah jawaban-jawaban tentang mainan edukatif yang disampaikan Dra. Mayke S. Tedjasaputra, M.Si., psikolog perkembangan dari Fakultas Psikologi UI, yang juga terapis bermain.

APA YANG MASUK KATEGORI MAINAN EDUKATIF?

* Diperuntukkan bagi anak balita

Yakni mainan yang memang sengaja dibuat untuk merangsang berbagai kemampuan dasar pada balita.

* Multifungsi

Dari satu mainan bisa didapat berbagai variasi mainan sehingga stimulasi yang didapat anak juga lebih beragam.

* Melatih problem solving

Dalam memainkannya anak diminta untuk melakukan problem solving. Dalam permainan pasel misalnya, anak diminta untuk menyusun potongan-potongannya menjadi utuh.

* Melatih konsep-konsep dasar

Lewat permainan ini, anak dilatih untuk mengembangkan kemampuan dasarnya seperti mengenal bentuk, warna, besaran, juga melatih motorik halus.

* Melatih ketelitian dan ketekunan

Dengan mainan edukatif, anak tak hanya sekadar menikmati tetapi juga dituntut untuk teliti dan tekun ketika mengerjakannya.

* Merangsang kreativitas

Permainan ini mengajak anak untuk selalu kreatif lewat berbagai variasi mainan yang dilakukan. Bila sejak kecil anak terbiasa untuk menghasilkan karya, lewat permainan rancang bangun misalnya, kelak dia akan lebih berinovasi untuk menciptakan suatu karya, tidak hanya mengekor saja.

APA SAJA MANFAATNYA?

* Melatih kemampuan motorik

Stimulasi untuk motorik halus diperoleh saat anak menjumput mainannya, meraba, memegang dengan kelima jarinya, dan sebagainya. Sedangkan rangsangan motorik kasar didapat anak saat menggerak-gerakkan mainannya, melempar, mengangkat, dan sebagainya.

* Melatih konsentrasi

Mainan edukatif dirancang untuk menggali kemampuan anak, termasuk kemampuannya dalam berkonsentrasi. Saat menyusun pasel, katakanlah, anak dituntut untuk fokus pada gambar atau bentuk yang ada di depannya — ia tidak berlari-larian atau melakukan aktivitas fisik lain sehingga konsentrasinya bisa lebih tergali. Tanpa konsentrasi, bisa jadi hasilnya tidak memuaskan.

* Mengenalkan konsep sebab akibat

Contohnya, dengan memasukkan benda kecil ke dalam benda yang besar anak akan memahami bahwa benda yang lebih kecil bisa dimuat dalam benda yang lebih besar. Sedangkan benda yang lebih besar tidak bisa masuk ke dalam benda yang lebih kecil. Ini adalah pemahaman konsep sebab akibat yang sangat mendasar.

* Melatih bahasa dan wawasan

Permainan edukatif sangat baik bila dibarengi dengan penuturan cerita. Hal ini akan memberikan manfaat tambahan buat anak, yakni meningkatkan kemampuan berbahasa juga keluasan wawasannya.

* Mengenalkan warna dan bentuk

Dari mainan edukatif, anak dapat mengenal ragam/variasi bentuk dan warna. Ada benda berbentuk kotak, segiempat, bulat dengan berbagai warna; biru, merah, hijau, dan lainnya.

KAPAN ANAK DIAJAK MELAKUKAN PERMAINAN EDUKATIF?

Meski memiliki manfaat melimpah, bukan berarti anak bisa dijejali dengan mainan edukatif terus-menerus. Mainan edukatif hanya salah satu faktor pendukung perkembangan otak anak agar lebih maksimal. Jadi tak perlu memaksa atau memorsir anak untuk melakukan permainan edukatif setiap saat.

Selain mainan edukatif, anak juga perlu dikenalkan dengan mainan pada umumnya, seperti boneka, mobil-mobilan, dan mainan-mainan yang tidak untuk dibongkar pasang lainnya. Walau tidak termasuk mainan edukatif, tapi mainan-mainan seperti itu tetap dapat menyumbangkan manfaat edukasi pada si kecil. Dengan konsep multiple intelligence edukasi bisa mencakup berbagai hal. Tidak selalu mengarah pada konsep-konsep dasar.

Misalnya begini, saat si kecil asyik bermain boneka, sebenarnya ia dilatih untuk melakukan interaksi dengan orang lain melalui boneka tersebut. Bagaimana dia harus “memperlakukan” si boneka dengan kasih sayang; disuapi, ditimang, disusui, dan tidak dibanting atau dinjak-injak. Motorik halus dan kasar si kecil juga tetap dapat terstimulasi secara tak langsung saat ia memakaikan baju pada bonekanya. Anak juga dapat mengenal warna serta peran sosial sebagai ibu, kakak, dan sebagainya.

KAPAN MAINAN EDUKATIF MULAI DIKENALKAN?

Tentu sedini mungkin. Sejak usia batita, sodori anak dengan berbagai jenis permainan baik dengan mainan edukatif ataupun bukan. Sekadar mengingatkan saja, perkembangan otak anak di usia ini masuk dalam fase emas (the golden age) atau otak si kecil sedang mengalami perkembangan yang sangat pesat. Karena itulah, stimulasi amat diperlukan. Semakin banyak stimulasi maka koneksi antarsarafnya semakin banyak terhubung.

Anak yang sudah akrab dengan mainan edukatif sejak dini, perkembangan kecerdasannya akan terlihat lebih maksimal. Ia lebih mampu berkonsentrasi, kreatif, serta tekun. Sementara yang tidak, biasanya akan lebih tertinggal dalam masalah intelektual. Anak-anak yang tidak diperkenalkan dengan mainan edukatif akan lebih sulit untuk belajar mengenai bentuk dan warna.

Mereka juga tidak terbiasa untuk duduk tenang serta tekun. Hal ini dapat membuat anak menjadi sulit diarahkan untuk berkonsentrasi menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan nantinya. “Banyak kasus yang saya tangani, anak-anak yang sering bermain fisik dan terlalu sering menonton teve, di usia sekolahnya kurang bisa berkonsentrasi, kurang telaten, tidak tekun, dan mudah menyerah, karena mereka tidak terbiasa untuk duduk tenang dan tekun.”

BAGAIMANA MENGOPTIMALKAN MANFAATNYA?

Sebelum menyodorkan satu mainan edukatif pada si kecil, contohkan dahulu bagaimana cara memainkannya. Asal tahu saja, mainan edukatif berbeda dari mainan pada umumnya yang lebih mudah dipahami anak. Mobil-mobilan, contohnya, hanya tinggal digeser-geser, didorong atau ditarik, mungkin si kecil sudah bisa asyik memainkannya. Namun, pada mainan edukatif dibutuhkan cara tertentu untuk bisa mendapatkan asyiknya. Pasel misalnya harus disusun dan disesuaikan keping-kepingnya. Untuk itulah perlu ada arahan dari orang dewasa. Demikian pula dengan permainan palu yang kelihatannya simpel bagi orang dewasa tapi belum tentu bagi si kecil. Perlu penjelasan lebih dulu mengenai cara memalu untuk memasang “paku” dan mencopotnya kembali.

Beberapa anak mungkin saja dapat bermain tanpa perlu pengarahan terlebih dulu. Tapi jangan lupa, kemampuan setiap anak berbeda-beda. Ada yang cepat memahami kesalahannya dan cepat menganalisa, tetapi ada juga yang biasa-bisa saja, bahkan lambat. Bila si kecil termasuk lambat dan tidak mendapat pengarahan, maka bisa-bisa mainan edukatif tersebut hanya akan dibuangnya karena dianggap tidak menarik.

Satu hal penting, saat mengarahkan anak, jangan mengharuskan ia melakukan persis sama seperti yang sudah kita contohkan. Berikan kebebasan padanya untuk melakukan sesuai dengan keinginannya. Contoh, saat kita membangun rumah-rumahan dari mainan balok, biarkan ia membuat mobil-mobilan dari mainan yang sama.

CONTOH PERMAINAN UNTUK ANAK 1 TAHUN:

· Permainan memasukkan benda ke dalam wadah atau menumpuk benda (seperti gelas plastik air mineral), sangat cocok bagi anak satu tahunan.

· Setelah itu si kecil bisa ditawari mainan single puzzle, yaitu mainan yang pada penutupnya diberi lubang-lubang berbentuk geometris, seperti segitiga, segiempat dan lingkaran. Lalu si kecil diminta memasukkan benda-benda yang sesuai pada lubangnya. Namun, kita belum bisa menuntutnya untuk memasukkan setiap bentuk sampai selesai, melainkan harus satu per satu. Berikan ia bentuk segitiga dulu lalu arahkan tangannya untuk memasukkan ke lubang yang berbentuk sama dengan arah yang tepat, misalnya.

Ajak si kecil untuk melakukan tuang-menuang air dari wadah yang lebih kecil ke wadah yang lebih besar. Dengan begitu anak tahu bahwa air dari wadah yang lebih kecil bisa tertampung dalam wadah yang lebih besar. Permainan serupa dengan menunjukkan bahwa benda yang lebih kecil bisa masuk ke dalam wadah yang lebih besar juga bisa dilakukan.

CONTOH PERMAINAN UNTUK ANAK 2 TAHUN:

Pasel berbentuk rumah-rumahan, buah atau binatang dengan 2-3 pecahan. Untuk menyusun pasel tersebut tentu dibutuhkan keterampilan sehingga anak akan dirangsang untuk mengembangkan kemampuannya.

CONTOH PERMAINAN UNTUK ANAK 2,5-3 TAHUN:

· Bila sebelumnya pasel yang diberikan hanya terdiri atas beberapa keping saja, kini tingkatkan dengan pasel yang memiliki lebih banyak keping.

· Permainan rancang bangun juga sudah bisa diberikan untuk merangsang koordinasi motoriknya. Anak sudah bisa membuat susunan bangunan ke atas sambil mengimajinasikan bentuk apa yang sedang dibuatnya meskipun masih belum terbentuk jelas. Ketika anak mampu bermain rancang bangun, pujilah apa yang sudah dihasilkannya. Meskipun bentuknya hanya berupa susunan balok yang tidak beraturan, kita tetap harus memberikan apresiasi agar anak merasa dihargai. Hindari sikap mencemooh yang akan memerosotkan motivasinya dalam berkreasi.

APA YANG PERLU DIPERHATIKAN SAAT MEMBELI?

Membeli mainan edukatif memang perlu selektif. Kita harus menyesuaikan dengan usia anak dan kemampuan yang dimilikinya. Berikut panduannya:

MAINAN ANAK 1 TAHUN:

Di usia batita awal anak belum memiliki kemampuan motorik yang baik. Jadi kemampuan dasar inilah yang perlu dilatih. Namun permainan untuknya haruslah sederhana dan tidak terlalu menyita waktu. Selalu dampingi si kecil saat bermain.

MAINAN ANAK 2 TAHUN:

Derajat kesulitan mainan edukatif untuk anak usia dua tahun sudah harus lebih tinggi ketimbang anak satu tahun. Bila sebelumnya yang diberikan adalah single puzzle, maka di usia ini anak bisa diajak bermain pasel dengan bentuk yang lebih kompleks.

MAINAN ANAK 2,5 ­ 3 TAHUN:

Permainan edukatif yang kita berikan harus lebih tinggi lagi tingkat kerumitannya. Di usia ini anak perlu belajar mengorganisasi bagian-bagian yang terpisah menjadi satu kembali, anak juga dituntut untuk mulai belajar tekun menggunakan berbagai kemampuannya untuk menyelesaikan masalah.

APAKAH HARGA MAINAN EDUKATIF PASTI TERJANGKAU?

Tentu saja. Mainan edukatif tak mesti didapat dengan harga selangit. Kita bisa memanfaatkan benda-benda yang ada di sekeliling rumah sebagai sarana permainan edukatif. Misalnya, gelas plastik bisa digunakan si kecil untuk ditumpuk-tumpuk. Ini merupakan permainan yang mengasyikkan baginya. Gelas-gelas plastik tersebut juga bisa dimasukkan ke dalam wadah yang lebih besar, seperti dus bekas. Aktivitas mandi juga bisa dimanfaatkan sebagai permainan edukatif. Biarkan si kecil memasukkan air ke dalam ember dengan menggunakan ciduk. Semua itu akan melatih berbagai kemampuan dasar anak.

Irfan Hasuki. Foto: Iman/nakita

Learning Play 1-2 Thn

Learning, Play and Your 1-2-Year Old

Your child transitions from baby to toddler during the second year of life, and first steps give way to walking well. As your toddler starts exploring, be sure to childproof your home to prevent household accidents.

During this time, your child also makes major strides in understanding language and figuring out how to communicate. At 12 months, he or she will likely start to use hand gestures and point to things. Gradually, your child’s vocabulary will grow from one or two words to 50 words or more. By the second birthday, you’ll probably lose count of the number of words your toddler can say!

Tantrums become more prominent during the toddler years, and it’s likely that your child will get frustrated from time to time. When you see a tantrum coming on, try to create a distraction with a book or interesting toy. Avoid letting your child get too tired or hungry, particularly when he or she is trying to master new tasks, as those feelings often set the stage for tantrums. Toys and games that are age-appropriate promote feelings of satisfaction when your child masters and enjoys them before moving on to more challenging tasks.

What Is My Child Learning?

While learning to walk during the second year of life, kids will also start becoming increasingly independent. But expect your child to fluctuate between wanting freedom and clinging to you for comfort and reassurance. So allow the freedom to explore but be there when you’re needed.

Hand-eye coordination and manual dexterity will also improve during this time. Your child will have better control over fingers and hands and can explore toys and surroundings more than before. Look for toys that encourage this.

How your child plays is also changing. As an infant, your child may have “played” with toys by shaking, banging, or throwing them. Your toddler now is aware of the function of objects, so is more likely to stack blocks, listen or talk into a toy phone, or push a toy car. In addition, the concept of pretend play starts to emerge. Your child may pretend to drink from an empty cup, use a banana as a phone, or imagine a block is a car.

Many parents introduce play dates now. Your child will probably enjoy having other kids around, but don’t expect them to “play” cooperatively with each other or to be enthusiastic about sharing toys. Have plenty of toys for everyone and be prepared to intervene when the kids don’t want to share. Older siblings can serve as role models when it comes to teaching, sharing, and taking turns.

Your child is also learning about language through interaction with you and other caregivers. Most infants say their first word around 1 year of age. During year two, vocabulary increases slowly over the first 6 months and then expands rapidly during the second 6 months. Between 18 and 24 months of age, many toddlers can say 50 words or more and can use simple two-word sentences. Their understanding of language also improves — expect toddlers to understand much more than they can express.

If it hasn’t come up yet, your child may develop separation anxiety, crying and clinging to you when you try to leave and resisting attention from others.

The onset of separation anxiety — and how long it lasts — varies widely from child to child. It typically starts around 9 months of age, but some kids experience it later. This will gradually improve as your child acquires the language and social skills to cope with strange situations and starts to learn that the separation is not permanent.

How Can I Encourage My Child to Learn?

Once toddlers learn to walk, there’s no turning back. Yours will want to keep moving to build on this newfound skill. Provide lots of opportunities for being active and learning and exploring in safe surroundings.

Games that your child might enjoy include peekaboo, pat-a-cake, and chasing games. Toddlers love to imitate adults and are fascinated with housework. Provide age-appropriate toys that will encourage this, such as a toy vacuum to use while you’re cleaning or pots, pans, and spoons to play with while you’re cooking.

Other toys that your child might enjoy include:

  • brightly colored balls
  • blocks, stacking and nesting toys
  • fat crayons or markers
  • age-appropriate animal or people figures and dolls
  • toy cars and trains
  • shape sorters, peg boards
  • simple puzzles
  • push, pull, and riding toys

Reading continues to be important. Your child will likely be able to follow along with a story and point to objects in the pictures as you name them. Encourage your child to name the pictures he or she recognizes.

Have conversations about the books you read and the events of the day. Ask questions and encourage your toddler to reply by waiting for a response. Support your child’s efforts by repeating and expanding on those replies.

Keep in mind that there is a wide range of what is normal for young children, and some toddlers develop slower or faster than others. Talk with your child’s doctor if you have any concerns.

Reviewed by: Mary L. Gavin, MD

Musik Rangsang Kecerdasan

Musiki Klasik Rangsang Kecerdasan Anak

Selasa, 27 Juni 2006

BATAM (BP) – Selama dalam kandungan, janin bukan saja menjalani proses pembentukan fisik, tapi juga proses pembelajaran. Salah satu cara untuk merangsang perkembangan otok si buah hati adalah dengan mendengarkan musik, terutama musik klasik. Dan proses pembelajaran ini bisa dimulai ketika usia janin di atas 8 minggu.

Menurut dr.Suyanto,SpOG, pengaruh musik tersebut, dampak psikologisnya selain memberikan ketenangan pada ibu, efeknya juga dirasakan oleh janin yang ada dalam rahim.“Pada usia di atas 8 minggu, otak janin mulai berfungsi, dan pendengaran merupakan panca indra yang paling sederhana yang saat itu bisa dirangsang,” jelas Suyanto.

Sebenarnya semua jenis musik dapat didengarkan, yang terpenting bisa menenangkan si ibu, yang secara otomatis juga kepada anaknya. Hanya saja sejauh ini menurut pakar, musik klasik adalah musik yang terbaik. Itu karena musik klasik bersifat universal, yang memiliki frekuensi serta amplitudo getaran suara yang baik untuk merangsang otak anak melalui indra pendengarannya.

Orang yang tidak pernah mendengar musik klasik juga akan mempunyai efek yang sama.“Pada intinya, berbagai getaran yang teratur dan enak didengar, indra pendengaran anak akan terangsang dengan baik,’’ papar Suyanto. Memang secara khusus efek musik klasik itu sejauh ini masih kontraversi. “Penelitian secara umum, sejauh ini musik memberikan efek yang baik, hanya saja apakah anak yang tidak didengarkan musik tidak sebaik anak yang didengarkan musik, sejauh ini belum diketahui pasti,” ungkap pria yang praktek di Rumah Sakit Budi Kemuliaan ini.

Bapak dua anak ini menambahkan, selain musik, makanan yang dikonsumsi orang tua, sikap serta prilaku yang positif juga memberikan andil yang cukup besar terhadap perkembangan anak. Karena anak itu pada dasarnya replikasi dari orang tuanya, meskipun tidak semuanya sama, namun karakter dan sikap yang ia miliki sebagian besar dipengaruhi orang tuanya, bukan hanya ibunya saja, tapi juga bapaknya,’’papar, pria asal Surabaya ini.

Pada intinya, kata Suyanto selama kehamilan kedua orang tua harus memperhatikan segala aspek yang dapat mempengaruhi perkembangan anaknya. Seperti faktor asupan gizi, dan ASI tetap yang terbaik untuk peningkatan kecerdasan maupun kemampuan emosional anak.

Esther Irene Djara

Dengar Musik Apa Saja

“Jangankan untuk anak, kita yang sudah dewasa saja bisa tenang saat mendengarkan musik,’’ungkap Esther Irene Djara, humas sekolah Global Internasional. Apa yang dikatakan para ahli kalau musik, khususnya musik klasik sangat bagus didengarkan pada anak sejak berada dalam kandungan, juga dilakukan Esther. Hanya saja ibu dua anak ini tidak membatasi mendengarkan musik jenis tertentu saja, ia mengaku mendengarkan musik apa saja yang ia senangi.

“Saya tidak meletakan alat pendengar ke perut saya biar anak lebih mendengar, saya hanya mendengarkan seperti biasa saya menikmati musik, karena saat saya mendengarkan sambil sesekali bernyanyi, saya yakin anak dalam kandungan saya bisa mendengarkan juga,’’ujar wanita asal Semarang ini.

Bagi Esther, menjaga perkembangan anak sejak mulai dari kandungan suatu hal yang harus dilakukan oleh setiap ibu hamil. Agar apa yang dilakukan tidak salah dari yang dianjurkan oleh dokter. Memperbanyak informasi melalui bacaan membantu Esther melewati masa kehamilannya. “Saat pertama menjalani kehamilan saya jauh dari orang tua, jadi tidak ada tempat bertanya yang selalu ada disaat saya butuhkan, makanya saya berusaha mencari informasi. Selain itu saat periksa ke dokter banyak tanya dengan dokter yang bersangkutan, ’’tukasnya.

Psikolog Evy Rakryani

Setelah Lahir Terus Beri Rangsangan

Menurut Psikolog Evy Rakryani peran musik sangat baik untuk merangsang perkembangan otak anak. “Pada saat itu anak tidak menganggap musik sebagai suatu irama, seperti kita mendengarkan musik, tapi hanya sebagai suatu getaran suara yang membuat ia lebih peka terhadap getaran tersebut,’’ujar wanita asal Makassar ini.

Saat ini musik klasik menjadi salah satu musik yang dianggap paling baik memberikan rangsangan pendengaran janin dalam kandungan. Hal ini menurutnya karena musik klasik irama yang dikeluarkannya memiliki freksuensi yang bervariasi dengan mengeluarkan nada-nada yang indah. “Berbeda dengan lagu yang mendayu-dayu,’’ungkap alumni Universitas Pajajaran ini.

Upaya stimulus (rangsangan) yang dilakukan orang tua sejak janin, membuat anak mulai terlatih, hal ini dapat terlihat ketika bayi tersebut akhirnya lahir. Pada saat ia mulai tumbuh dan berkembang, ketika didengarkan musik-musik yang pernah didengarkan saat ia dalam kandungan, si anak tidak merasa asing lagi. “Demikian juga ketika hamil orang tua rajin mengaji atau membaca, aktivitas tersebut membuat anak menjadi terbiasa,’’ tambah istri dari Fajar Ariadi ini.

Tapi rangsangan menurutnya harus terus diberikan setelah anak lahir dan dalam masa pertumbuhan. “Ketika anak lahir, rangsangan yang diberikan jenisnya tidak hanya suara tapi lebih beragam lagi seperti merangsang mengenal warna dan benda-benda yang ada di sekitarnya, yang efeknya sangat baik untuk melatih kecerdasan dan kepribadian anak,’’paparnya.

Dan ketika anak berusia dua tahun, biasanya anak terlalu banyak bertanya. Tidak jarang pula akhirnya orang tua memberi jawaban singkat dan berusaha menghentikan pembicaraan pada saat itu. Padahal justru pada masa itulah orang tua harus bisa merangsang anak dengan terus berdiskusi dan memancing obrolan yang lebih bisa mendidik anak. “Karena ini juga tahap pembelajaran yang sangat baik untuk perkembangan otak anak,’’ingat Evy.(dew)