Mengembangkan Indera Peraba dan Pengecap Batita

sumber :

http://cyberjob.cbn.net.id/cbprtl/Cyberwoman/pda/detail.aspx?x=Mother+And+Baby&y=Cyberwoman|0|0|8|1547

Mother And Baby

Stimulasi indera diperlukan untuk perkembangan otak yang akan menentukan kecerdasan anak. Begitu juga dengan stimulasi indera peraba dan pengecap juga akan mengoptimalkan perkembangan otak, selain stimulasi indera pendengaran dan penglihatan. Nah, usia batita merupakan the golden age atau masa pesat perkembangan otak di usia 0-3 tahun. Jadi manfaatkan masa ini dengan sebaik-baiknya.

Sekadar untuk Anda diketahui, pada usia awal tumbuh kembang batita, fungsi kedua belahan otaknya masih sama. Hal ini bisa terlihat dari caranya meraih benda dengan menggunakan kedua tangannya. Setelah otak berkembang, secara individual fungsi belahan otak kanan dan kiri menjadi berbeda. Perkembangan ini menyebabkan batita cenderung memakai tangan tertentu (umumnya tangan kanan) untuk melakukan sesuatu.

Tujuan stimulasi alat indera, yaitu untuk mengembangkan hubungan antara satu saraf dengan saraf lain. Dengan demikian, saat anak sudah sekolah, ia akan lebih cepat menangkap pelajaran yang diberikan. Bahkan beberapa ahli percaya, kalau tidak ada rangsangan, jaringan otak akan mengecil akibat menurunnya jaringan fungsi otak.

Sebenarnya, secara tidak sadar, orangtua sudah melakukan beberapa stimulasi indera sentuhan dari hari ke hari. Hanya saja, mungkin upayanya kurang maksimal. Agar lebih maksimal berikut beberapa saran yang mungki dapat Anda ikuti, seperti pijat.

Pijatan dapat memberi efek relaksasi pada batita. Penelitian membuktikan bayi prematur yang sering dipijat akan tumbuh lebih baik, lebih cepat, lebih tenang serta lebih jarang menangis ketimbang bayi-bayi prematur yang tidak dipijat. Dan jika bayi Anda dipijat tanpa mengenakan pakaian, pilih ruangan yang cukup hangat.

Karena kebanyakan waktu batita dihabiskan di atas ranjang. Nah, untuk menstimulasi indera peraba, lapisi ranjang dengan alas tempat tidur yang lembut dan hangat sehingga ia merasa nyaman di dalamnya.

Untuk menstimulasi indera peraba, bayi perlu mengenal konsep kasar-halus atau keras-lunak. Salah satu caranya, Anda dapat mengenalkan kepadanya berbagai tekstur bahan seperti sutera, satin, velvet, kulit, handuk dan sebagainya. Selain itu, Anda dapat juga memanfaatkan kegiatan sehari-hari. Seperti memanfaatkan waktu mandi, Anda dapat mengenalkan sifat sabun yang licin.

Selain itu, Anda dapat mengajaknya berjalan-jalan tanpa alas kaki sehingga ia dapat merasakan perbedaan tekstur, kala ia menyentuh lantai, karpet, atau rumput. Dengan cara ini sekitar usia 2 tahun ia mulai bisa menyebutkan kalau batu itu keras atau sutera itu lembut.

Untuk menstimulasi indra pengecap, ada beberapa saran yang mungkin dapat Anda ikuti, seperti memberi ASI. Menyusui bayi dengan ASI merupakan salah satu cara merangsang indera pengecap bayi. Beberapa pakar mengatakan, bayi yang menyusu ASI akan lebih jarang mengisap jari ketimbang yang menyusu dari botol. Waktu menyusu yang ideal sekitar 30 sampai 40 menit. Di atas 20 menit sebenarnya susu ibu sudah kosong, namun bayi tetap mengisap puting ibunya demi memenuhi kebutuhan mengisapnya.

Selain ASI, menginjak usia 6 bulan, mulailah perkenalkan anak dengan berbagai macam rasa makanan agar saat besar nanti indera pengecapnya terbiasa dengan aneka jenis makanan. Selain itu, ia akan tumbuh menjadi anak yang tidak pilih-pilih makanan.

Yang terpenting, saat memberinya stimulus tersebut, ajaklah batita Anda bercakap-cakap. Dengan begitu, perkembangan bahasanya pun akan ikut terangsang. Selain itu Anda juga dapat menjalin kedekatan dengan anak.

Dini Safitri

Sumber: Majalah Inspire Kids

Rangsang Kemajuan Anak

SUMBER : http://cidera-otak.blog.friendster.com

Memberikan Rangsangan Kemajuan Pada Anak

Dengan adanya kata-kata pertama, langkah-langkah pertama yang dapat dilakukan oleh anak, maka permainan belajar akan lebih menyenangkan. Beri kesempatan pada anak anda untuk menjelajahi dan belajar tenang dunia dan kemajuannya, dan bentuklah kemajuan fisik, sosial, intelektual dan emosionalnya dengan melakukan

beberapa hal berikut :

Bahan-bahan untuk mengembangkan kreatifitas (Creative materials)

Mainan untuk melatih ketrampilan tangan (Dexterity toys)

Mainan untuk di kamar mandi (Bath toys for water play)

Permainan mengikuti pemimpin (Follow the leader play)
Buku, majalah, dan segala sesuatu yang bergambar (Books, magazines, anything and pictures)

Bahan untuk bermain pura-pura (Materials for pretend play)

Tempat yang aman untuk belajar memanjat (Space safe for supervised climbing)

Lingkungan yang bervariasi (A varied environment)

Pujian (Applause)

Bahan-bahan untuk mengembangkan kreatifitas

Mencoret-coret dengan crayon adalah kegiatan yang sangat memuaskan bagi banyak anak. Rekatkan kertas pada alas meja, lantai, atau dinding ,alas lainnya agar kertas tidak menggeser ketika dicoreti, dan singkirkan crayon segera setelah crayon disalah-gunakan untuk mencoret bagian yang tidak boleh dicoret atau jika >>>>>>>> bayi memasukkan crayon ke dalam mulutnya,> orgtua ada lah contoh yg baik>>>>>( bayi normal saja perlu di ajari terlebih dahulu, sebelum ia dapat menguasai )

Bebaskan Gerak Anak Untuk Menghindari Cedera Otak

Sumber : perempuan.kompas.com

KOMPAS.com – Pada Kompas.com beberapa hari lalu, Anda bisa menemukan artikel yang memaparkan mengenai makanan yang mencerdaskan otak pada masa golden years, atau usia 0 – 3 tahun. Pada masa-masa inilah sel-sel saraf otak berkembang amat pesat. Jika pada masa ini bayi tidak mendapatkan kebutuhan gizinya, kekurangannya tak akan bisa dipenuhi lagi di kemudian hari.
Pertumbuhan otak sebenarnya sangat dinamis, bisa dihentikan atau diperlambat. Atau sebaliknya, dipercepat. Tentu, Anda akan memilih untuk mempercepat pertumbuhan otak, bukan? Karena jika pertumbuhan melambat atau berhenti, artinya anak mengalami cedera otak. Masalah cedera otak ini beragam, seperti celebral palsy, autis, gangguan konsentrasi, epilepsi, dan down syndrome. Untuk itu, kita harus selalu menstimulasi otak anak agar berkembang dengan baik.
Glenn Doman, physical therapist yang juga pendiri The Institutes for the Achievement of Human Potential, mengatakan bahwa otak tumbuh dan berkembang bila digunakan. Bayi yang hidup di lingkungan yang kaya akan stimulasi, otaknya akan berkembang lebih baik. Lingkungan yang dimaksud adalah yang memungkinkan anak untuk bergerak sebanyak mungkin. Manfaat gerak ternyata begitu luar biasa, antara lain memperbaiki sistem pernafasan, sehingga dapat mencukupi supply oksigen ke otak anak, dimana fungsi otak akan meningkat karenanya. Bergerak juga akan memperbaiki struktur tubuh, memperbaiki sistem pencernaan dan pembuangan, mengembangkan penglihatan, dan meningkatkan kecerdasan.
Tahap-tahap dalam gerakan anak adalah sebagai berikut:
Tahap 1: Gerak tanpa perpindahan
Bayi mampu menggerakkan anggota tubuhnya, tetapi belum mampu menggunakan gerakan itu untuk memindahkan badannya ke tempat lain.
Tahap 2: Merayap
Menggerakkan lengan dan tungkainya dengan cara tertentu, sementara perut ditekan ke lantai, sehingga ia bisa berpindah dari titik A ke titik B. Otak mereka akan terus berkembang untuk berpikir apa yang harus dilakukan untuk berpindah tempat. Di sini mereka mulai belajar berkoordinasi, dengan menyeret tangan kanan ke depan bersamaan dengan kaki kirinya.
Tahap 3: Merangkak
Bayi belajar menantang gravitasi untuk pertama kalinya, dan bangkit dengan bertumpu pada tangan dan lututnya. Pelajaran mengenai koordinasi terus berlanjut, dimana tungkai depan kanan hanya dilakukan secara bersamaan dengan tungkai belakang kiri. Anak akan menggunakan otaknya ke tahap lebih tinggi untuk belajar berpindah tempat dengan pola gerakan yang seimbang.
Tahap 4: Berjalan
Bayi belajar bangkit dan bertumpu pada tungkainya dan berjalan. Anak sudah mampu melawan gravitasi dari 4 titik tubuh pada posisi sebelumnya (merayap dan merangkak) ke posisi 2 titik dan 1 titik tumpu untuk menahan gravitasi. Melawan gravitasi adalah sebuah tahap yang luar biasa untuk menghindari kelumpuhan.
Tahap 5: Berlari
Anak mempercepat jalannya menjadi berlari. Keseimbangan dan koordinasinya bertambah baik.
Anak yang sehat tidak akan melewatkan satu tahap dalam proses tersebut, meskipun siklus masing-masing tahapan akan berbeda pada satu anak dengan yang lain. Jika salah satu dari tahap dasar itu dilewati, misalnya anak mulai berjalan sebelum ia cukup merangkak, akan terjadi konsekuensi yang merugikan. Contohnya, koordinasi yang lemah, kegagalan memiliki penguasaan tangan kanan atau kidal, kegagalan untuk mengembangkan penguasaan belahan otak yang normal dalam berbicara, kegagalan dalam membaca dan mengeja, kurang konsentrasi (sering disebut ADD), kurang fokus, mudah lelah ketika belajar, dan lain-lain.
Cara menstimulasi anak
Untuk melatih anak bergerak dengan tujuan merangsang otaknya, kita harus selalu mengamati dan mengarahkannya. Sebab, anak bisa saja salah menggerakkan anggota tubuhnya, atau kita sendiri tidak menyediakan lingkungan yang ideal untuk anak bergerak. Gunakan seluruh panca indera anak (penglihatan, penciuman, pendengaran, perabaan, dan pencecapan) untuk membantu stimulasi otak. Agar anak dapat bergerak seluas-luasnya, berikut saran Irene F. Mongkar dalam acara Smart Parents Conference di JCC, Jakarta, Sabtu (25/7):
1. Singkirkan perabotan di rumah yang menghalangi gerak anak.
2. Lantai harus bersih, hangat, nyaman, dan aman. Bisa juga dengan menghamparkan matras yang sedikit keras untuk memudahkan ia bergerak. Kasur empuk yang diberi seprei akan membuatnya kesulitan bergerak, dan akhirnya berhenti.
3. Jangan biarkan ia berbaring dalam posisi telentang, karena jangkauan pandangannya akan sangat terbatas. Posisi tengkurap akan memperluas pandangannya, dan keinginan untuk bergerak pindah akan lebih mudah.
4. Boks bayi, kereta dorong, baby walker, dan sejenisnya, sangat membatasi gerak anak.
5. Anak memang perlu diusap atau dipeluk untuk mendapatkan kehangatan, namun jangan menggendong anak terlalu lama. Bebaskan ia untuk bergerak dengan meletakkannya di lantai.
6. Jangan mengira bahwa anak yang selalu tidur akan menyenangkan, karena tidak merepotkan. Anak juga harus sering diajak ngobrol atau bermain.
7. Berikan dorongan dan pujian bila ia berhasil melakukan gerakan. Biarkan ia berusaha dengan maksimal saat akan berbalik, berdiri, atau melangkah. Bila ia sudah kehabisan tenaga, Anda bisa membantunya.
8. Jangan membiarkan anak beraktivitas sendiri, sementara Anda sibuk nonton TV, ngobrol dengan tetangga, atau Facebook-an. Temani dia dalam setiap tahap gerakannya, dari merayap hingga melangkah.
9. Jangan memberi iming-iming agar anak mau bergerak, atau memaksanya.

Bayi Tak perlu diajari Berjalan

Sumber : http://perempuan.kompas.com

Bila tak ada gangguan sistem syaraf pusat, bayi akan berjalan dengan sendirinya. Meski begitu, stimulasi tetap diperlukan agar bayi mampu berjalan tegak dan cekatan.
Hal ini ditegaskan lagi oleh psikolog Gisella Tani Pratiwi, M.Psi, yang mengatakan, “Pada dasarnya bayi tidak perlu diajarkan untuk menguasai kemampuan motorik kasar seperti berjalan karena mereka akan berjalan dengan sendirinya. Tapi dengan catatan sistem syaraf pusat, otot, dan tulang telah matang, dan mereka mendapatkan ruang dan kebebasan untuk bergerak atau/bereksplorasi.” Bila semua syarat di atas terpenuhi, Gisella yakin, bayi mampu menstimulasi dirinya sendiri untuk bisa mencapai tahap demi tahap jenjang perkembangan motorik kasar.
Meski demikian, Gisella tak menampik bahwa bahwa kemampuan berjalan bayi tak bisa dilepaskan dari perkembangan kemampuan lainnya. “Kemampuan berjalan bisa diraih seorang bayi atau anak karena telah menguasai kemampuan lain sebelumnya seperti kemampuan mengangkat kepala, kematangan tulang penyangga, kemampuan menjaga keseimbangan, dan kemampuan duduk sendiri. Maka dari itu orangtua sebaiknya memerhatikan perkembangan bayi secara menyeluruh, tidak hanya terfokus pada satu hal saja dan memberikan stimulasi sesuai dengan tahapan perkembangannya ini.”
Anda memiliki berbagai pertanyaan lain tentang kemampuan berjalan pada anak? Hal-hal berikut mungkin dapat menjawabnya.
Meskipun pada saatnya nanti si bayi bisa jalan sendiri, kenapa tetap disarankan untuk tetap menstimulasi agar perkembangan motorik kasarnya optimal?
Dengan menstimulasi perkembangan motorik kasar bayi, maka kemampuan berjalan bayi akan berkembang semakin optimal. Dengan distimulasi, ditambah memberikan keleluasaan bergerak, ia akan semakin “ahli”’ dalam bergerak. Bayi akan semakin mampu mengenali tempat-tempat yang berbahaya seperti lantai yang tidak rata, tangga, jalan yang menanjak, dan sebagainya. Juga semakin terlatih untuk menempatkan kaki-kakinya agar tidak mudah terjatuh. Dia juga akan semakin terlatih, tahu jika bahaya yang ada di sekitarnya.
Apakah semua bayi akan menapaki jenjang perkembangan motorik kasar?
Secara umum, jika bayi mendapat gizi yang baik, mendapatkan kasih sayang yang cukup, memiliki kebebasan untuk mengeksplorasi ruang gerak, serta memiliki kesempatan untuk melatih kemampuan motoriknya, maka perkembangan motorik bayi tidak akan mengalami keterlambatan. Tapi jika sebaliknya, maka perkembangan anak akan mengalami keterlambatan.
Kapan normalnya anak bisa berjalan?
Kebanyakan anak dapat melakukan langkah pertamanya ketika berusia 11 – 14 bulan. Namun harus diingat, perkembangan anak amat bervariasi. Ada anak yang bisa berjalan ketika berusia 8 bulan, ada yang baru bisa berjalan ketika berusia 17 bulan.
Bagaimana bila di usia 17 bulan belum bisa berjalan juga?
Jika ada anak belum bisa berjalan saat berusia 17 bulan ke atas, anak tidak juga berjalan setelah mengalami pelatihan khusus selama beberapa bulan, atau anak berjalan dengan cara lain dan bukannya menggunakan jari-jari kaki, kita harus segera mengonsultasikannya dengan dokter anak untuk dirujuk pada ahli ortopedi atau ahli syaraf. Dikhawatirkan ada hal-hal lain dengan latar belakang medis yang harus ditangani terlebih dulu. Orangtua juga perlu mengetahui, dalam perkembangan motorik kasar, jika anak memiliki berat badan yang berlebih atau lahir prematur, bayi tersebut cenderung memiliki keterlambatan dalam perkembangan motorik kasarnya.
Bagaimana cara menstimulasi motorik kasar kaki bayi?
Stimulasi dilakukan untuk membantu anak mengembangkan kemampuan perkembangannya. Maka stimulasi sebaiknya dilakukan sesuai dengan tahap perkembangan anak dan kemampuan anak. Stimulasi juga harus dilakukan dengan dasar pandangan bahwa setiap anak memiliki dinamika perkembangan yang unik serta menyeluruh. Arti menyeluruh adalah masing-masing aspek perkembangan saling berkaitan satu sama lain. Seperti jawaban saya sebelumnya, sebelum berjalan bayi telah melalui tahap penguasaan keahlian lainnya. Maka stimulasi yang diberikan pun sebaiknya sesuai dengan tahap perkembangan masing-masing anak. Stimulasi yang diberikan lebih awal, jika tidak diberikan dalam cara yang memaksa dan menyakiti anak, boleh-boleh saja dilakukan karena tidak akan mengakibatkan masalah bagi anak.
Perlukah alat bantu untuk menstimulasi motorik kasar bayi?
Dalam menstimulasi, hal pokok yang harus diperhatikan adalah peran orangtua mencari berbagai cara kreatif untuk menstimulasi kemampuan berjalan. Aktivitas itu dapat dilakukan dengan mainan atau alat bantu sederhana lain. Pastinya alat bantu apa pun sebaiknya digunakan dalam pengawasan orang tua atau pengasuh. Hal lain yang perlu diperhatikan demi keselamatan anak adalah tetap menjaga anak berjauhan dari benda-benda panas, benda-benda yang bertali atau berkabel, serta berjauhan dari sumber-sumber air. Penggunaan babywalker, dari berbagai penelitian sangat tidak disarankan untuk digunakan dalam membantu anak berjalan. Aspek keamanan dalam penggunaan babywalker sangat rendah. Artinya dengan mudah bayi dapat terjatuh dari tangga, terjepit tangannya, mengalami luka kepala, bahkan kematian ketika menggunakan babywalker.
Jika untuk bayi gemuk, bagaimana menstimulasi motorik kasarnya?
Menurut penelitian, ditemukan korelasi antara keterlambatan perkembangan motorik dengan kondisi bayi yang tergolong gemuk. Namun, diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan apakah faktor kegemukan adalah satu-satunya penyebab keterlambatan perkembangan motorik pada bayi yang gemuk. Untuk stimulasi yang diberikan tidak jauh beda seperti yang dilakukan pada bayi berberat badan normal lainnya. Hanya mungkin dilakukan lebih intens dan lebih sabar. Namun, yang paling penting, kondisi bayi yang gemuk ini perlu juga dikonsultasikan secara khusus dengan dokter karena selain menghambat stimulasinya, kegemukan juga berisiko menimbulkan gangguan kesehatan lain.
(Gazali Solahuddin)

Mainan Edukatif

PILIH MAINAN EDUKATIF AGAR SI KECIL TEKUN Disebut mainan edukatif karena dapat merangsang daya pikir anak. Termasuk di antaranya meningkatkan kemampuan berkonsentrasi dan memecahkan masalah. Tapi ngomong-ngomong, bagaimana membedakan mainan jenis ini dari mainan lainnya? Simaklah jawaban-jawaban tentang mainan edukatif yang disampaikan Dra. Mayke S. Tedjasaputra, M.Si., psikolog perkembangan dari Fakultas Psikologi UI, yang juga terapis bermain.

APA YANG MASUK KATEGORI MAINAN EDUKATIF?

* Diperuntukkan bagi anak balita

Yakni mainan yang memang sengaja dibuat untuk merangsang berbagai kemampuan dasar pada balita.

* Multifungsi

Dari satu mainan bisa didapat berbagai variasi mainan sehingga stimulasi yang didapat anak juga lebih beragam.

* Melatih problem solving

Dalam memainkannya anak diminta untuk melakukan problem solving. Dalam permainan pasel misalnya, anak diminta untuk menyusun potongan-potongannya menjadi utuh.

* Melatih konsep-konsep dasar

Lewat permainan ini, anak dilatih untuk mengembangkan kemampuan dasarnya seperti mengenal bentuk, warna, besaran, juga melatih motorik halus.

* Melatih ketelitian dan ketekunan

Dengan mainan edukatif, anak tak hanya sekadar menikmati tetapi juga dituntut untuk teliti dan tekun ketika mengerjakannya.

* Merangsang kreativitas

Permainan ini mengajak anak untuk selalu kreatif lewat berbagai variasi mainan yang dilakukan. Bila sejak kecil anak terbiasa untuk menghasilkan karya, lewat permainan rancang bangun misalnya, kelak dia akan lebih berinovasi untuk menciptakan suatu karya, tidak hanya mengekor saja.

APA SAJA MANFAATNYA?

* Melatih kemampuan motorik

Stimulasi untuk motorik halus diperoleh saat anak menjumput mainannya, meraba, memegang dengan kelima jarinya, dan sebagainya. Sedangkan rangsangan motorik kasar didapat anak saat menggerak-gerakkan mainannya, melempar, mengangkat, dan sebagainya.

* Melatih konsentrasi

Mainan edukatif dirancang untuk menggali kemampuan anak, termasuk kemampuannya dalam berkonsentrasi. Saat menyusun pasel, katakanlah, anak dituntut untuk fokus pada gambar atau bentuk yang ada di depannya — ia tidak berlari-larian atau melakukan aktivitas fisik lain sehingga konsentrasinya bisa lebih tergali. Tanpa konsentrasi, bisa jadi hasilnya tidak memuaskan.

* Mengenalkan konsep sebab akibat

Contohnya, dengan memasukkan benda kecil ke dalam benda yang besar anak akan memahami bahwa benda yang lebih kecil bisa dimuat dalam benda yang lebih besar. Sedangkan benda yang lebih besar tidak bisa masuk ke dalam benda yang lebih kecil. Ini adalah pemahaman konsep sebab akibat yang sangat mendasar.

* Melatih bahasa dan wawasan

Permainan edukatif sangat baik bila dibarengi dengan penuturan cerita. Hal ini akan memberikan manfaat tambahan buat anak, yakni meningkatkan kemampuan berbahasa juga keluasan wawasannya.

* Mengenalkan warna dan bentuk

Dari mainan edukatif, anak dapat mengenal ragam/variasi bentuk dan warna. Ada benda berbentuk kotak, segiempat, bulat dengan berbagai warna; biru, merah, hijau, dan lainnya.

KAPAN ANAK DIAJAK MELAKUKAN PERMAINAN EDUKATIF?

Meski memiliki manfaat melimpah, bukan berarti anak bisa dijejali dengan mainan edukatif terus-menerus. Mainan edukatif hanya salah satu faktor pendukung perkembangan otak anak agar lebih maksimal. Jadi tak perlu memaksa atau memorsir anak untuk melakukan permainan edukatif setiap saat.

Selain mainan edukatif, anak juga perlu dikenalkan dengan mainan pada umumnya, seperti boneka, mobil-mobilan, dan mainan-mainan yang tidak untuk dibongkar pasang lainnya. Walau tidak termasuk mainan edukatif, tapi mainan-mainan seperti itu tetap dapat menyumbangkan manfaat edukasi pada si kecil. Dengan konsep multiple intelligence edukasi bisa mencakup berbagai hal. Tidak selalu mengarah pada konsep-konsep dasar.

Misalnya begini, saat si kecil asyik bermain boneka, sebenarnya ia dilatih untuk melakukan interaksi dengan orang lain melalui boneka tersebut. Bagaimana dia harus “memperlakukan” si boneka dengan kasih sayang; disuapi, ditimang, disusui, dan tidak dibanting atau dinjak-injak. Motorik halus dan kasar si kecil juga tetap dapat terstimulasi secara tak langsung saat ia memakaikan baju pada bonekanya. Anak juga dapat mengenal warna serta peran sosial sebagai ibu, kakak, dan sebagainya.

KAPAN MAINAN EDUKATIF MULAI DIKENALKAN?

Tentu sedini mungkin. Sejak usia batita, sodori anak dengan berbagai jenis permainan baik dengan mainan edukatif ataupun bukan. Sekadar mengingatkan saja, perkembangan otak anak di usia ini masuk dalam fase emas (the golden age) atau otak si kecil sedang mengalami perkembangan yang sangat pesat. Karena itulah, stimulasi amat diperlukan. Semakin banyak stimulasi maka koneksi antarsarafnya semakin banyak terhubung.

Anak yang sudah akrab dengan mainan edukatif sejak dini, perkembangan kecerdasannya akan terlihat lebih maksimal. Ia lebih mampu berkonsentrasi, kreatif, serta tekun. Sementara yang tidak, biasanya akan lebih tertinggal dalam masalah intelektual. Anak-anak yang tidak diperkenalkan dengan mainan edukatif akan lebih sulit untuk belajar mengenai bentuk dan warna.

Mereka juga tidak terbiasa untuk duduk tenang serta tekun. Hal ini dapat membuat anak menjadi sulit diarahkan untuk berkonsentrasi menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan nantinya. “Banyak kasus yang saya tangani, anak-anak yang sering bermain fisik dan terlalu sering menonton teve, di usia sekolahnya kurang bisa berkonsentrasi, kurang telaten, tidak tekun, dan mudah menyerah, karena mereka tidak terbiasa untuk duduk tenang dan tekun.”

BAGAIMANA MENGOPTIMALKAN MANFAATNYA?

Sebelum menyodorkan satu mainan edukatif pada si kecil, contohkan dahulu bagaimana cara memainkannya. Asal tahu saja, mainan edukatif berbeda dari mainan pada umumnya yang lebih mudah dipahami anak. Mobil-mobilan, contohnya, hanya tinggal digeser-geser, didorong atau ditarik, mungkin si kecil sudah bisa asyik memainkannya. Namun, pada mainan edukatif dibutuhkan cara tertentu untuk bisa mendapatkan asyiknya. Pasel misalnya harus disusun dan disesuaikan keping-kepingnya. Untuk itulah perlu ada arahan dari orang dewasa. Demikian pula dengan permainan palu yang kelihatannya simpel bagi orang dewasa tapi belum tentu bagi si kecil. Perlu penjelasan lebih dulu mengenai cara memalu untuk memasang “paku” dan mencopotnya kembali.

Beberapa anak mungkin saja dapat bermain tanpa perlu pengarahan terlebih dulu. Tapi jangan lupa, kemampuan setiap anak berbeda-beda. Ada yang cepat memahami kesalahannya dan cepat menganalisa, tetapi ada juga yang biasa-bisa saja, bahkan lambat. Bila si kecil termasuk lambat dan tidak mendapat pengarahan, maka bisa-bisa mainan edukatif tersebut hanya akan dibuangnya karena dianggap tidak menarik.

Satu hal penting, saat mengarahkan anak, jangan mengharuskan ia melakukan persis sama seperti yang sudah kita contohkan. Berikan kebebasan padanya untuk melakukan sesuai dengan keinginannya. Contoh, saat kita membangun rumah-rumahan dari mainan balok, biarkan ia membuat mobil-mobilan dari mainan yang sama.

CONTOH PERMAINAN UNTUK ANAK 1 TAHUN:

· Permainan memasukkan benda ke dalam wadah atau menumpuk benda (seperti gelas plastik air mineral), sangat cocok bagi anak satu tahunan.

· Setelah itu si kecil bisa ditawari mainan single puzzle, yaitu mainan yang pada penutupnya diberi lubang-lubang berbentuk geometris, seperti segitiga, segiempat dan lingkaran. Lalu si kecil diminta memasukkan benda-benda yang sesuai pada lubangnya. Namun, kita belum bisa menuntutnya untuk memasukkan setiap bentuk sampai selesai, melainkan harus satu per satu. Berikan ia bentuk segitiga dulu lalu arahkan tangannya untuk memasukkan ke lubang yang berbentuk sama dengan arah yang tepat, misalnya.

Ajak si kecil untuk melakukan tuang-menuang air dari wadah yang lebih kecil ke wadah yang lebih besar. Dengan begitu anak tahu bahwa air dari wadah yang lebih kecil bisa tertampung dalam wadah yang lebih besar. Permainan serupa dengan menunjukkan bahwa benda yang lebih kecil bisa masuk ke dalam wadah yang lebih besar juga bisa dilakukan.

CONTOH PERMAINAN UNTUK ANAK 2 TAHUN:

Pasel berbentuk rumah-rumahan, buah atau binatang dengan 2-3 pecahan. Untuk menyusun pasel tersebut tentu dibutuhkan keterampilan sehingga anak akan dirangsang untuk mengembangkan kemampuannya.

CONTOH PERMAINAN UNTUK ANAK 2,5-3 TAHUN:

· Bila sebelumnya pasel yang diberikan hanya terdiri atas beberapa keping saja, kini tingkatkan dengan pasel yang memiliki lebih banyak keping.

· Permainan rancang bangun juga sudah bisa diberikan untuk merangsang koordinasi motoriknya. Anak sudah bisa membuat susunan bangunan ke atas sambil mengimajinasikan bentuk apa yang sedang dibuatnya meskipun masih belum terbentuk jelas. Ketika anak mampu bermain rancang bangun, pujilah apa yang sudah dihasilkannya. Meskipun bentuknya hanya berupa susunan balok yang tidak beraturan, kita tetap harus memberikan apresiasi agar anak merasa dihargai. Hindari sikap mencemooh yang akan memerosotkan motivasinya dalam berkreasi.

APA YANG PERLU DIPERHATIKAN SAAT MEMBELI?

Membeli mainan edukatif memang perlu selektif. Kita harus menyesuaikan dengan usia anak dan kemampuan yang dimilikinya. Berikut panduannya:

MAINAN ANAK 1 TAHUN:

Di usia batita awal anak belum memiliki kemampuan motorik yang baik. Jadi kemampuan dasar inilah yang perlu dilatih. Namun permainan untuknya haruslah sederhana dan tidak terlalu menyita waktu. Selalu dampingi si kecil saat bermain.

MAINAN ANAK 2 TAHUN:

Derajat kesulitan mainan edukatif untuk anak usia dua tahun sudah harus lebih tinggi ketimbang anak satu tahun. Bila sebelumnya yang diberikan adalah single puzzle, maka di usia ini anak bisa diajak bermain pasel dengan bentuk yang lebih kompleks.

MAINAN ANAK 2,5 ­ 3 TAHUN:

Permainan edukatif yang kita berikan harus lebih tinggi lagi tingkat kerumitannya. Di usia ini anak perlu belajar mengorganisasi bagian-bagian yang terpisah menjadi satu kembali, anak juga dituntut untuk mulai belajar tekun menggunakan berbagai kemampuannya untuk menyelesaikan masalah.

APAKAH HARGA MAINAN EDUKATIF PASTI TERJANGKAU?

Tentu saja. Mainan edukatif tak mesti didapat dengan harga selangit. Kita bisa memanfaatkan benda-benda yang ada di sekeliling rumah sebagai sarana permainan edukatif. Misalnya, gelas plastik bisa digunakan si kecil untuk ditumpuk-tumpuk. Ini merupakan permainan yang mengasyikkan baginya. Gelas-gelas plastik tersebut juga bisa dimasukkan ke dalam wadah yang lebih besar, seperti dus bekas. Aktivitas mandi juga bisa dimanfaatkan sebagai permainan edukatif. Biarkan si kecil memasukkan air ke dalam ember dengan menggunakan ciduk. Semua itu akan melatih berbagai kemampuan dasar anak.

Irfan Hasuki. Foto: Iman/nakita

Learning Play 1-2 Thn

Learning, Play and Your 1-2-Year Old

Your child transitions from baby to toddler during the second year of life, and first steps give way to walking well. As your toddler starts exploring, be sure to childproof your home to prevent household accidents.

During this time, your child also makes major strides in understanding language and figuring out how to communicate. At 12 months, he or she will likely start to use hand gestures and point to things. Gradually, your child’s vocabulary will grow from one or two words to 50 words or more. By the second birthday, you’ll probably lose count of the number of words your toddler can say!

Tantrums become more prominent during the toddler years, and it’s likely that your child will get frustrated from time to time. When you see a tantrum coming on, try to create a distraction with a book or interesting toy. Avoid letting your child get too tired or hungry, particularly when he or she is trying to master new tasks, as those feelings often set the stage for tantrums. Toys and games that are age-appropriate promote feelings of satisfaction when your child masters and enjoys them before moving on to more challenging tasks.

What Is My Child Learning?

While learning to walk during the second year of life, kids will also start becoming increasingly independent. But expect your child to fluctuate between wanting freedom and clinging to you for comfort and reassurance. So allow the freedom to explore but be there when you’re needed.

Hand-eye coordination and manual dexterity will also improve during this time. Your child will have better control over fingers and hands and can explore toys and surroundings more than before. Look for toys that encourage this.

How your child plays is also changing. As an infant, your child may have “played” with toys by shaking, banging, or throwing them. Your toddler now is aware of the function of objects, so is more likely to stack blocks, listen or talk into a toy phone, or push a toy car. In addition, the concept of pretend play starts to emerge. Your child may pretend to drink from an empty cup, use a banana as a phone, or imagine a block is a car.

Many parents introduce play dates now. Your child will probably enjoy having other kids around, but don’t expect them to “play” cooperatively with each other or to be enthusiastic about sharing toys. Have plenty of toys for everyone and be prepared to intervene when the kids don’t want to share. Older siblings can serve as role models when it comes to teaching, sharing, and taking turns.

Your child is also learning about language through interaction with you and other caregivers. Most infants say their first word around 1 year of age. During year two, vocabulary increases slowly over the first 6 months and then expands rapidly during the second 6 months. Between 18 and 24 months of age, many toddlers can say 50 words or more and can use simple two-word sentences. Their understanding of language also improves — expect toddlers to understand much more than they can express.

If it hasn’t come up yet, your child may develop separation anxiety, crying and clinging to you when you try to leave and resisting attention from others.

The onset of separation anxiety — and how long it lasts — varies widely from child to child. It typically starts around 9 months of age, but some kids experience it later. This will gradually improve as your child acquires the language and social skills to cope with strange situations and starts to learn that the separation is not permanent.

How Can I Encourage My Child to Learn?

Once toddlers learn to walk, there’s no turning back. Yours will want to keep moving to build on this newfound skill. Provide lots of opportunities for being active and learning and exploring in safe surroundings.

Games that your child might enjoy include peekaboo, pat-a-cake, and chasing games. Toddlers love to imitate adults and are fascinated with housework. Provide age-appropriate toys that will encourage this, such as a toy vacuum to use while you’re cleaning or pots, pans, and spoons to play with while you’re cooking.

Other toys that your child might enjoy include:

  • brightly colored balls
  • blocks, stacking and nesting toys
  • fat crayons or markers
  • age-appropriate animal or people figures and dolls
  • toy cars and trains
  • shape sorters, peg boards
  • simple puzzles
  • push, pull, and riding toys

Reading continues to be important. Your child will likely be able to follow along with a story and point to objects in the pictures as you name them. Encourage your child to name the pictures he or she recognizes.

Have conversations about the books you read and the events of the day. Ask questions and encourage your toddler to reply by waiting for a response. Support your child’s efforts by repeating and expanding on those replies.

Keep in mind that there is a wide range of what is normal for young children, and some toddlers develop slower or faster than others. Talk with your child’s doctor if you have any concerns.

Reviewed by: Mary L. Gavin, MD

Musik Rangsang Kecerdasan

Musiki Klasik Rangsang Kecerdasan Anak

Selasa, 27 Juni 2006

BATAM (BP) – Selama dalam kandungan, janin bukan saja menjalani proses pembentukan fisik, tapi juga proses pembelajaran. Salah satu cara untuk merangsang perkembangan otok si buah hati adalah dengan mendengarkan musik, terutama musik klasik. Dan proses pembelajaran ini bisa dimulai ketika usia janin di atas 8 minggu.

Menurut dr.Suyanto,SpOG, pengaruh musik tersebut, dampak psikologisnya selain memberikan ketenangan pada ibu, efeknya juga dirasakan oleh janin yang ada dalam rahim.“Pada usia di atas 8 minggu, otak janin mulai berfungsi, dan pendengaran merupakan panca indra yang paling sederhana yang saat itu bisa dirangsang,” jelas Suyanto.

Sebenarnya semua jenis musik dapat didengarkan, yang terpenting bisa menenangkan si ibu, yang secara otomatis juga kepada anaknya. Hanya saja sejauh ini menurut pakar, musik klasik adalah musik yang terbaik. Itu karena musik klasik bersifat universal, yang memiliki frekuensi serta amplitudo getaran suara yang baik untuk merangsang otak anak melalui indra pendengarannya.

Orang yang tidak pernah mendengar musik klasik juga akan mempunyai efek yang sama.“Pada intinya, berbagai getaran yang teratur dan enak didengar, indra pendengaran anak akan terangsang dengan baik,’’ papar Suyanto. Memang secara khusus efek musik klasik itu sejauh ini masih kontraversi. “Penelitian secara umum, sejauh ini musik memberikan efek yang baik, hanya saja apakah anak yang tidak didengarkan musik tidak sebaik anak yang didengarkan musik, sejauh ini belum diketahui pasti,” ungkap pria yang praktek di Rumah Sakit Budi Kemuliaan ini.

Bapak dua anak ini menambahkan, selain musik, makanan yang dikonsumsi orang tua, sikap serta prilaku yang positif juga memberikan andil yang cukup besar terhadap perkembangan anak. Karena anak itu pada dasarnya replikasi dari orang tuanya, meskipun tidak semuanya sama, namun karakter dan sikap yang ia miliki sebagian besar dipengaruhi orang tuanya, bukan hanya ibunya saja, tapi juga bapaknya,’’papar, pria asal Surabaya ini.

Pada intinya, kata Suyanto selama kehamilan kedua orang tua harus memperhatikan segala aspek yang dapat mempengaruhi perkembangan anaknya. Seperti faktor asupan gizi, dan ASI tetap yang terbaik untuk peningkatan kecerdasan maupun kemampuan emosional anak.

Esther Irene Djara

Dengar Musik Apa Saja

“Jangankan untuk anak, kita yang sudah dewasa saja bisa tenang saat mendengarkan musik,’’ungkap Esther Irene Djara, humas sekolah Global Internasional. Apa yang dikatakan para ahli kalau musik, khususnya musik klasik sangat bagus didengarkan pada anak sejak berada dalam kandungan, juga dilakukan Esther. Hanya saja ibu dua anak ini tidak membatasi mendengarkan musik jenis tertentu saja, ia mengaku mendengarkan musik apa saja yang ia senangi.

“Saya tidak meletakan alat pendengar ke perut saya biar anak lebih mendengar, saya hanya mendengarkan seperti biasa saya menikmati musik, karena saat saya mendengarkan sambil sesekali bernyanyi, saya yakin anak dalam kandungan saya bisa mendengarkan juga,’’ujar wanita asal Semarang ini.

Bagi Esther, menjaga perkembangan anak sejak mulai dari kandungan suatu hal yang harus dilakukan oleh setiap ibu hamil. Agar apa yang dilakukan tidak salah dari yang dianjurkan oleh dokter. Memperbanyak informasi melalui bacaan membantu Esther melewati masa kehamilannya. “Saat pertama menjalani kehamilan saya jauh dari orang tua, jadi tidak ada tempat bertanya yang selalu ada disaat saya butuhkan, makanya saya berusaha mencari informasi. Selain itu saat periksa ke dokter banyak tanya dengan dokter yang bersangkutan, ’’tukasnya.

Psikolog Evy Rakryani

Setelah Lahir Terus Beri Rangsangan

Menurut Psikolog Evy Rakryani peran musik sangat baik untuk merangsang perkembangan otak anak. “Pada saat itu anak tidak menganggap musik sebagai suatu irama, seperti kita mendengarkan musik, tapi hanya sebagai suatu getaran suara yang membuat ia lebih peka terhadap getaran tersebut,’’ujar wanita asal Makassar ini.

Saat ini musik klasik menjadi salah satu musik yang dianggap paling baik memberikan rangsangan pendengaran janin dalam kandungan. Hal ini menurutnya karena musik klasik irama yang dikeluarkannya memiliki freksuensi yang bervariasi dengan mengeluarkan nada-nada yang indah. “Berbeda dengan lagu yang mendayu-dayu,’’ungkap alumni Universitas Pajajaran ini.

Upaya stimulus (rangsangan) yang dilakukan orang tua sejak janin, membuat anak mulai terlatih, hal ini dapat terlihat ketika bayi tersebut akhirnya lahir. Pada saat ia mulai tumbuh dan berkembang, ketika didengarkan musik-musik yang pernah didengarkan saat ia dalam kandungan, si anak tidak merasa asing lagi. “Demikian juga ketika hamil orang tua rajin mengaji atau membaca, aktivitas tersebut membuat anak menjadi terbiasa,’’ tambah istri dari Fajar Ariadi ini.

Tapi rangsangan menurutnya harus terus diberikan setelah anak lahir dan dalam masa pertumbuhan. “Ketika anak lahir, rangsangan yang diberikan jenisnya tidak hanya suara tapi lebih beragam lagi seperti merangsang mengenal warna dan benda-benda yang ada di sekitarnya, yang efeknya sangat baik untuk melatih kecerdasan dan kepribadian anak,’’paparnya.

Dan ketika anak berusia dua tahun, biasanya anak terlalu banyak bertanya. Tidak jarang pula akhirnya orang tua memberi jawaban singkat dan berusaha menghentikan pembicaraan pada saat itu. Padahal justru pada masa itulah orang tua harus bisa merangsang anak dengan terus berdiskusi dan memancing obrolan yang lebih bisa mendidik anak. “Karena ini juga tahap pembelajaran yang sangat baik untuk perkembangan otak anak,’’ingat Evy.(dew)

Membentuk Anak Cerdas

Membentuk Anak Cerdas

Perhatikan Kualitas Makanan Ibu Hamil

Kecerdasan anak dapat dibentuk sejak ia ada dalam kandungan sang ibu. Tentunya, ibu pun pada saat hamil perlu memperhatikan makanan yang dikonsumsinya karena secara langsung akan mempengaruhi pula kondisi janin yang sedang dikandungnya.

Karena adanya bayi yang sedang dikandung, konsumsi makan ibu akan lebih meningkat daripada sebelumnya. Menurut Roziana, ahli gizi dari Rumah Sakit Awal Bross, itu adalah hal lumrah saat ibu membutuhkan kuantitas makanan hingga dua kali dari kondisi biasa.

Kebutuhan konsumsi makanan yang dibutuhkan ibu hamil biasanya juga dipengaruhi oleh tiga waktu semester dalam usia kehamilan. Pada semester pertama dan kedua atau tiga bulan pertama dan kedua dari kehamilan, faktor kuantitas begitu dibutuhkan ibu hamil.

“Terutama pada semester pertama, bisa dua kali kebutuhan kuantitas makanan yang dibutuhkan ibuhamil. Untuk memenuhi kuantitas tersebut, bisa dengan sering makan dalam porsi kecil tapi sering. Usahakan hindari makan berbentuk basah karena dapat memicu mual. Bisa seperti ngemil roti bakar tapi tetap perhatikan nilai gizinya,” anjur Roziana.

Sementara pada saat semester terakhir yaitu tiga bulan usia kandungan terakhir, ibu membutuhkan jumlah kuatitas makanan untuk persiapan melahirkan. Ibu pun harus memperhatikan berat badannya. Normalnya, kenaikan berat badan ibu bisa sekitar 15 kg dari berat badannya sebelum hamil.

Selain memperhatikan kualitas, ibu juga perlu memperhatikan kualitas makanannya. Untuk kecerdasan bayi kelak, seorang ibu perlu mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung protein dan omega tiga atau omega enam.

“Biasanya orang tahu kandungan omega tiga dan enam pada minyak ikan. Tapi bila ingin mengkonsumsi suplemen yang mengandung omega tiga dan enam, ibu hamil perlu berkonsultasi juga dengan dokter atau ahli gizi,” saran Roziana.

Karena menurutnya, konsumsi minyak ikan yang berlebihan bisa mempengaruhi proses pencernaan bahkan keracunan vitamin. Mengkonsumsi zat omega tiga dan enam secara berlebihan juga mempengaruhi oksidasi vitamin E dan A.

Selain suplemen minyak ikan yang banyak mengandung omega tiga dan enam, ibu hamil juga perlu memperhatikan konsumsi suplemen lainnya. Sebelum mengkonsumsi suplemen, sebaiknya konsultasikan dahulu dengan dokter kandungan atau ahli gizi untuk mendapatkan rekomendasi suplemen yang tepat dan dibutuhkan oleh tubuh. (ika)

Lebih Baik Food Base

Sebenarnya jika seorang ibu menginginkan kelak anaknya cerdas, mulai dari hamil ia lebih baik memperhatikan kandungan makanannya daripada mengkonsumsi suplemen. “Lebih baik memperhatikan food base daripada mengkonsumsi suplemen,” tegas Roziana.

Memperhatikan makanan dasar atau food base ini diatur pada setiap kadar makanan yang dikonsumsi baik sayur mayur maupun lauknya. Idealnya, seorang ibu mengkonsumsi empat sehat lima sempurna dua kali sehari, dan empat sehat satu kali sehari.

“Kalau untuk minum susu, mungkin bisa dua kali sehari. Sedangkan setiap makan baiknya ada yang namanya sayur, lauk, dan buah. Intinya menu seimbang,” anjur Roziana.

Selain makanan yang banyak mengandung omega tiga dan enam, makanan yang mengandung protein juga perlu banyak dikonsumsi ibu hamil yang ingin anaknya kelak menjadi cerdas. Makanan yang tergolong dalam ikan seperti tongkol, col, tuna, atau salmon cukup banyak mengandung protein. Selain itu bisa pula mengkonsumsi ganggang laut seperti agar-agar.

Selama masa hamil, ibu hamil juga perlu menghindari makanan yang banyak mengandung bahan pengawet atau makanan dalam kemasan kaleng dan vetsin. Makanan dalam kelompok tersebut dapat mengurangi tingkat kecerdasan anak nantinya. (ika)

ASI Eksklusif Pengaruhi Kecerdasan Anak

Selain masa hamil, seorang ibu juga perlu memperhatikan pemberian ASI terutama pada saat usia bayi 0-6 bulan. “Terutama ASI pertama yang keluar itu sangat baik untuk bayi karena banyak mengandung hemoglobin. ASI ini juga sangat membantu pencernaan,” anjur Roziana.

Pada masa enam bulan pertama, bayi sangat memerlukan ASI karena kadar proteinnya yang cukup tinggi, mudah diserap, dan terdiri dari enzim-enzim yang dibutuhkan oleh tubuh bayi.

Usahakan seorang ibu lebih banyak memberikan ASI daripada susu buatan. Selain karena faktor higienitas, pemberian ASI oleh ibu juga untuk menjaga faktor psikologis antara ibu dan anak serta merangsang kecerdasan anak.

Setelah itu pada saat usia bayi enam bulan hingga delapan bulan, bayi mulai bisa diberikan bubur susu yang terdiri dari tepung dan susu. ASI juga terus perlu diberikan hingga bayi usia dua tahun.

Sementara itu dalam masa pertumbuhan seorang anak di bawah usia lima tahun, pemberian susu buatan yang mengandung omega tiga dan enam atau DDA juga bisa diberikan. Unsur-unsur tersebut diperlukan untuk meningkatkan kecerdasan anak. Namun, Roziana tetap menganjurkan alangkah baiknya seorang ibu lebih memperhatikan food base. (ika)

Musik dan Dongeng untuk Rangsang Kecerdasan

Tidak hanya konsumsi makanan saja yang dapat meningkatkan kecerdasan anak. Menurut Roziana, ada beberapa faktor lain yang bisa mempengaruhi kecerdasan seorang anak. Misalnya pengenalan dengan musik dan dongeng.

“Banyak-banyak mempedengarkan musik klasik mulai dari masa kehamilan ibu, merangsang bayi dengan permainan yang banyak memiliki warna, serta dongeng bisa juga mempengaruhi kecerdasan anak,” ujarnya.

Sebetulnya mulai usia 10 minggu, janin sudah bisa mendengar suara-suara dari tubuh ibunya, seperti detak jantung, desir aliran darah, dan bahkan belaian pada perut ibu. Selanjutnya, sekitar usia 16 minggu, janin mulai bisa mendengar suara-suara dari luar tubuh ibu.

Untuk membuktikan, caranya bisa dengan mengajak janin bicara ataupun memperdengarkan musik jenis apa saja. Sebagai reaksi, ia akan bergerak-gerak yang menandakan otaknya dapat menerima rangsangan dari luar.

Selain suara ibu, ayah, atau kakak si bayi, musik adalah bentuk rangsangan yang paling disarankan untuk memicu pertumbuhan sel otak janin. Seluruh anggota keluarga dapat menyanyi bersama atau rajin-rajinlah ibu memperdengarkan musik bagi janinnya. Tentu saja, pilih lagu dan musik yang bernada riang serta menenangkan, karena nuansa ini mampu menciptakan emosi yang seimbang, baik bagi janin maupun ibu.

Wanita hamil yang tidak stres dan tenang, tentu detak jantungnya akan lebih teratur. Keteraturan irama ini akan menenangkan bayi dalam kandungannya, yang bahkan juga bermanfaat saat persalinan.

Apapun jenis musik selama berirama tenang dan mengalun lembut, pasti akan memberi efek yang baik bagi janin, bayi dan anak-anak. Hanya saja, musik klasiklah yang sudah diteliti secara ilmiah dan terbukti dapat meningkatkan kecerdasan anak. Sedangkan untuk jenis musik lainnya belum pernah.

Gubahan musik klasik ini, bila rajin diperdengarkan pada janin, akan memberikan efek keseimbangan emosi dan ketenangan. Dengan demikian, setelah lahir ia akan tumbuh menjadi anak yang tidak cengeng dan mudah berkonsentrasi. Dengan modal ini, kemampuan bicaranya akan ikut terpacu, disusul kemampuan bersosialisasinya yang muncul lebih cepat.

Dengan kemampuan berkonsentrasi yang tinggi, anak juga lebih mudah menyerap informasi yang didapat dari lingkungan. Semakin banyak informasi yang dimilikinya, tentu semakin cerdas pula anak tersebut. Ini karena musik klasik bisa merangsang perkembangan otak anak, terutama yang berkaitan dengan daya penalaran, logika, dan kemampuan matematisnya.

Di usia sekolah, kemampuan berkonsentrasi sangat berperan dalam membentuk prestasi karena membuat anak akan lebih mudah belajar. Sering orang tua mengeluh mengenai anak-anak mereka di usia sekolah yang kurang memiliki kemampuan berkonsentrasi. Jika terapi musik ini diikuti dengan benar, besar kemungkinan anak-anak akan terhindar dari hal tersebut.

Namun, tak perlu khawatir kalau semasa hamil, ibu belum sempat memanfaatkan terapi musik ini, sebab terapi musik tetap bisa dilakukan mulai sampai anak berusia 3 tahun, bahkan lebih. Jadi, tidak ada kata terlambat untuk segera memulainya. Untuk anak-anak yang sudah lebih besar, ada baiknya untuk mulai diperkenalkan dengan alat musik, sehingga mereka bisa bermain musik untuk dirinya sendiri.

Ternyata, tidak semua musik dianjurkan untuk diperdengarkan pada janin, bayi dan balita. Yang tidak disarankan adalah musik dengan irama keras dan cepat, seperti irama rock, disco, serta rap. Musik yang terlalu keras akan membuat mereka tegang dan gelisah. Jadi, bukan jenis musiknya yang boleh atau tidak boleh, tapi beat atau iramanya.

Setelah bayi lahir, jenis musik yang diperdengarkan sebaiknya disesuaikan dengan kondisi saat itu. Menjelang ia tidur, pilihlah musik instrumental yang tenang dan lembut. Dengan begitu, anak dapat segera terlelap. Sebaliknya, untuk menemani anak bermain, pilih musik yang bernada riang dan gembira, sehingga ia merasa bersemangat untuk melakukan aktivitasnya.

Dari sekian banyak karya musik klasik, sebetulnya gubahan milik Wolfgang Amadeus Mozart (1756-1791) yang paling dianjurkan. Beberapa penelitian sudah membuktikan, musik-musik karyanya memberikan efek paling positif bagi perkembangan janin, bayi dan anak-anak. Penelitian itu di antaranya dilakukan oleh Dr. Alfred Tomatis dan Don Campbell. Mereka mengistilahkan sebagai “efek Mozart”.

Dibanding gubahan musik klasik lainnya, melodi dan frekuensi yang tinggi pada karya-karya Mozart mampu merangsang dan memberdayakan daerah kreatif dan motivatif di otak. Yang tak kalah penting adalah kemurnian dan kesederhaan musik Mozart itu sendiri. Komposisi yang disusunnya telah berhasil menghadirkan kembali keteraturan bunyi yang pernah dialami bayi selama dalam kandungan. Namun, tidak berarti karya komposer klasik lainnya tidak dapat digunakan. (ika/bbs)

Efek Mozart

Dengan memperdengarkan Mozart secara teratur semenjak masa kehamilan, akan banyak efek positif yang bisa didapat. Di antaranya:

* Orang tua dapat berkomunikasi dan bersambung rasa dengan anak bahkan sebelum ia dilahirkan.

* Musik ini dapat merangsang pertumbuhan otak selama masih dalam rahim dan pada awal masa kanak-kanak.

* Memberikan efek positif dalam hal persepsi emosi dan sikap sejak sebelum dilahirkan.

* Mengurangi tingkat ketegangan emosi atau nyeri fisik.

* Meningkatkan perkembangan motoriknya, termasuk lancar dan mudahnya anak merangkak, berjalan, melompat dan berlari.

* Meningkatkan kemampuan berbahasa, perbendaharaan kata, kemampuan berekspresi, dan kelancaran berkomunikasi.

* Meningkatkan kemampuan sosialnya.

* Meningkatkan keterampilan membaca, menulis, matematika, dan kemampuan untuk mengingat serta menghapal.

* Membantu anak membangun rasa percaya dirinya. (net)

~ by ika maya susanti on 27 Mei, 2007.

Kapan Kecerdasan Bayi Terbentuk

Kecerdasan Bayi Anda – Kapan Mulai Terbentuknya?

Oleh daddy

Tahukah Anda, bayi berusia 3 bulan otaknya telah membentuk koneksi yang jumlahnya kurang lebih 2 kali yang dimiliki oleh orang dewasa? Berapa jumlahnya? Yaaah…sekitar 1000 triliun koneksi lah… Wow!

OK, sebelum saya melanjutkan, mungkin Anda ingin tahu dulu apa sih sebenarnya yang dinamakan koneksi otak itu? Secara sederhana, koneksi otak adalah hubungan antara sel-sel otak dengan sel-sel lainnya dalam tubuh manusia.

Nah, berkaitan dengan bayi, sebuah koneksi akan semakin kuat terbentuk dalam otak bayi apabila kejadian atau pengalaman yang memicu terbentuknya koneksi tersebut semakin sering terjadi.

Coba Anda baca sekali lagi pernyataan di atas!

Sudah? OK, terus apa artinya? Agar lebih mudah dimengerti, mari kita lihat beberapa contoh berikut…

Seorang bayi yang sering diajak berbicara oleh orang-orang di sekelilingnya, nantinya akan memiliki kemampuan berbahasa lebih baik dibandingkan dengan orang yang ketika masih bayi jarang diajak bicara. Bisa dibayangkan, apa jadinya kalau seorang bayi tidak pernah diajak berbicara sama sekali!

Seorang bayi yang sering berinteraksi dengan banyak orang di lingkungannya, insya Allah akan mudah bersosialisasi nantinya ketika dia dewasa. Begitu pula, kasih sayang dan kehangatan yang Anda berikan kepada bayi Anda akan membentuk kepribadian yang positif ketika dia beranjak dewasa.

Ketika Anda mengajak bayi Anda berbicara, sesungguhnya Anda sedang memicu terbentuknya sebuah koneksi dalam otaknya. Semakin sering aktivitas ini Anda lakukan, semakin kuat koneksi yang tercipta. Selanjutnya, bayi Anda akan memiliki kepandaian berbahasa kelak ketika ia dewasa.

Ratusan kejadian atau pengalaman yang dialami oleh bayi Anda akan memicu terbentuknya ratusan koneksi dalam otaknya. Ingat, sekali lagi, semakin sering si bayi mengalami suatu kejadian, semakin kuat koneksi tersebut terbentuk dalam otaknya.

Inilah penjelasan ilmiahnya mengapa bayi dan anak-anak kecil selalu diibaratkan sebagai kertas putih…terserah si orang tua ingin menulis apa di atas kertas itu. Keburukankah atau kebaikan?

Makanya, hati-hati dalam berinteraksi dengan bayi Anda dan jangan menyia-nyiakan waktu yang sangat berharga ini untuk membentuk kepribadian dan kecerdasan bayi Anda sejak dini, bahkan semenjak masih dalam kandungan!

Tahukah Anda, dengan tersenyum kepada bayi Anda ketika dia menangis, berarti Anda telah memicu terbentuknya suatu koneksi otak yang akan berdampak positif pada emosi si bayi?

Stimulasi Bayi

Sayang, banyak orang tua yang tidak menyadari kalau sejak bayi, anak sudah dapat melakukan peniruan karena kemampuan ini lebih identik dengan anak batita. Padahal seperti dituturkan Dra. Psi. Tisna Chandra, sejak usia 2 bulan, si kecil sebenarnya sudah cakap meniru. Hanya saja, orang tua tidak menyadarinya, sehingga momen ini pun sering luput dari perhatian.

Seperti cerita yang diungkapkan Lubis. Ayah muda ini sempat terperanjat, saat Aldi, bayinya berusia 8 bulan, mampu mengikuti gerakan-gerakan yang dilakukannya. “Ketika aku bertepuk tangan, ia coba mengikuti. Begitu juga saat melambai-lambaikan tangan. Bukan hanya itu, ia juga bisa tiru-tiru suara. Kalau aku bilang “pa-pa”, dia berusaha mengucapkannya. Lucu banget. Tapi apa benar bayi sebesar Aldi sudah bisa meniru?”

Tisna menegaskan peniruan merupakan salah satu tugas perkembangan yang perlu dilalui bayi, sebelum masuk pada keterampilan identifikasi.

Nah, kembali lagi pada pembahasan sebelumnya, di atas usia 7 bulan, fungsi memori bayi sudah semakin baik. Ini berarti kecakapannya untuk menangkap dan menyimpan apa yang dilihat dan didengarnya lalu kemudian ditirunya akan semakin baik. Jadi dalam kasus Aldi tadi, wajar kalau ia sudah dapat meniru kata, walau hanya sebatas babbling, seperti “ma-ma-ma” atau “pa-pa-pa”.

Menginjak 8 bulan, keterampilan bayi makin berkembang dengan kesanggupan mencontoh gerakan motorik, ekspresi emosi, ataupun peniruan objek seperti memindahkan dan memasukkan mainan. “Tapi jangan berharap dengan hanya sekali memberi contoh, lantas bayi langsung bisa tiru-tiru. Contoh harus diberikan berkali-kali sehingga memungkinkannya untuk merekam di dalam memori lalu mengikutinya. “tandas psikolog dari Spectrum Treatment Center, Bintaro, Banten ini.

STIMULASI SESUAI KEMAMPUAN

Berikut beberapa perkembangan peniruan si kecil yang dapat distimulasi sehingga tumbuh kembangnya makin optimal:

Suara dan Kata

Di usia 2 bulan bayi sudah mampu meniru kata-kata walau sekadar berujar “u…u…u” atau “a…a…a.” Sementara di usia 7 bulan, si kecil sudah bisa babbling atau mengucapkan suku kata yang senada seperti “ma-ma-ma atau “da-da-da”. Kemampuannya kian bertambah saat 11 bulan. Saat ini bayi sudah bisa menirukan kata berunsur konsonan-vokal dengan lebih bervariasi, seperti “ka-ka”, “mi-mi”, “bo-bo”, dan sebagainya.

* Stimulus:

Penting diketahui bayi suka meniru suara yang didengarnya. Jadi rajin-rajinlah untuk mengajaknya bercakap-cakap. Saat memandikan, misalnya, berbincang-bincanglah tentang apa yang tengah kita lakukan, “Mama mau gosok tangan Adek. Angkat tangan Adek seperti ini, ya.” Semakin banyak kata yang dikenalkan pada bayi, akan semakin banyak yang tersimpan dalam memorinya. Saat kemampuan bicaranya sudah semakin baik, si kecil tinggal membuka memori yang pernah disimpannya di masa bayi ini.

* Yang perlu dicermati:

Saat berbicara dengan bayi, hindari bahasa/kata yang dicadel-cadelkan. “Cayang mau cucu ya?” (padahal maksudnya “Sayang mau susu ya?”) Bila bayi terbiasa mendengar kata yang tidak benar kelak dia akan mengatakannya seperti apa yang kita ucapkan. Repotnya, kelak kita harus membetulkan kesalahan anak tersebut bukan?

Gerakan Motorik

Pada usia 8 bulan, bayi sudah dapat mengangkat-angkat tangan. Sebulan kemudian, ia mampu melambaikan tangan serta melakukan gerakan kiss by. Sementara umur 10 bulan, kecakapannya bertambah dengan bertepuk tangan.

* Stimulus:

Saat kita ingin si kecil mengikuti suatu gerakan, sesuaikan dengan kemampuan motorik yang ia miliki. Di usia 8 bulan, umpamanya, ia bisa diminta mengikuti contoh gerakan tangan ke atas dan ke bawah. Tapi jangan mengharapnya bisa meniru gerakan bertepuk tangan karena kesanggupannya belum sampai di situ. Berikut beberapa rangsangan lain yang bisa diberikan:

- Gerakkan jari jemari kita di udara untuk ditirunya. Stimulus ini berguna untuk merangsang keterampilan motorik halus anak agar ia kelak terampil dalam memegang benda-benda kecil, seperti pensil, pena, gelas, sendok-garpu, dan sebagainya.

- Kala menginjak 9-10 bulan, si kecil bisa diajak melakukan gerakan “mata genit” (beri contoh dengan menyipitkan/mengedipkan mata kita). Rangsangan seperti ini juga akan bermanfaat bagi pertumbuhan saraf-saraf di bagian kelopak matanya.

* Yang perlu dicermati:

Selain beberapa manfaat tadi, stimulasi-stimulasi semacam ini juga dapat mengembangkan kemampuan indra peraba serta inteligensinya. Gerakan meniru menaikkan dan menurunkan mainan, umpamanya, memungkinkan bayi merasakan permukaan yang kasar/halus dari mainan yang dipegangnya.

Peniruan Ekspresi Emosi

Bayi 9 bulan sudah bisa menirukan ekspresi senang, marah, lucu, dan lainnya. Ini berkaitan dengan pertumbuhan emosinya yang sudah berkembang dan pembelajaran dari lingkungan terdekat, seperti orang tua, pengasuh, kakak, nenek/kakek dan lainnya.

* Stimulasi:

Walau ia belum memahami apa itu senang, sedih, jengkel dan sebagainya, tapi melatih ekspresi emosinya tetap perlu. Cara paling sederhana adalah dengan selalu menunjukkan senyum dan tawa saat berhadapan dengannya.

* Yang perlu dicermati:

Sebagai manusia, wajar bila kita merasa sedih, jengkel atau marah. Namun sebaiknya jangan terlalu sering menampakkan emosi-emosi negatif pada si kecil. Bukankah ia sudah pandai meniru? Jadi kalau seorang ibu mudah mencucurkan air mata, si kecil pun bisa tumbuh menjadi anak yang cengeng. Begitu juga, bila emosi orang tua kerap meledak-ledak. Tak menutup kemungkinan karakter si kecil pun akan seperti itu nantinya. Intinya, bayi perlu belajar pentingnya kestabilan emosi. Jadi boleh saja, kita menunjuk wajah jengkel sekali-kali. Tapi tetap harus diimbangi dengan senyum dan tawa.

Peniruan Objek

Sejak usia 7 bulan bayi sanggup meniru perilaku orang-orang di sekelilingnya. Untuk itu, beri ia lebih banyak kebebasan untuk melakukan berbagai gerakan lewat perilaku-perilaku yang kita contohkan.

* Stimulasi:

Salah satu permainan yang bisa dicoba adalah menaruh bola ke dalam keranjang. Bayi 7 bulanan tengah menggandrungi kegiatan seperti ini. Sekitar usia 8-12 bulan, si kecil mulai bisa melakukan hal yang lebih kompleks, seperti memencet-mencet tombol keyboard komputer.

* Yang perlu dicermati:

Pilih mainan atau objek yang menarik dari segi warna, corak, bentuk, maupun bunyi. Rasa ketertarikan akan membuat bayi mau menyentuh, mengambil, dan memegang benda/mainan tersebut sehingga stimulasi dapat berjalan lebih optimal.

WASPADAI BILA BAYI TIDAK PERNAH MENIRU

Meskipun belum tentu sebagai pertanda kelainan, tak ada salahnya kita melakukan tindakan lebih lanjut. Antara lain, dengan mengonsultasikan perkembangan bayi pada psikolog atau dokter. Ada beberapa penyebab bayi tidak sanggup melakukan peniruan. Bisa karena organ bicaranya atau organ pendengarannya terganggu. Akibatnya saat kita mencoba mencontohkan kata-kata/ perilaku, ia tidak dapat mengikutinya. Kemungkinan lain adalah autisma. Bayi dengan gangguan ini umumnya tidak mampu berkomunikasi dengan lingkungan, tertutup, dan asyik dengan dirinya sendiri.

Tapi tentu tidak bijaksana jika kita langsung panik saat mendapati bayi tidak bisa melakukan suatu peniruan. Mungkin saja, ia hanya mengalami keterlambatan dan hanya perlu waktu lebih lama-sekitar 1-2 bulan dalam perkembangannya. Ini pun normal-normal saja selama tidak ada indikasi gangguan lain.

Irfan Hasuki. Foto: Iman/nakita

Stimulasi

Stimulasi yang paling awal dilakukan untuk bayi
adalah menempatkan bayi berada di ruangan terbuka. Tujuannya agar bayi
bisa melihat sekelilingnya dan otaknya mendapat rangsangan lewat semua
indranya. Mulai suara, warna-warna di sekitarnya, sentuhan dari orang
sekitarnya, atau ajakan bicara. Bayi yang sejak awal telah mendapatkan
rangsangan melalui pendengaran bunyi bahasa, menurut dr Herry Pujiastuti
SpS, bisa merangsang perkembangan pusat bahasa dalam otaknya.

Penelitian telah membuktikan bahwa ocehan bayi
berumur 3-6 bulan sesuai dengan fonem bahasanya. Orang tua dan keluarga
pun harus mulai berbicara dengan bayi. Dari rangsangan suara melalui
bahasa ini, bayi akan cepat bereaksi bila orang tuanya berbicara.

Psikolog dari Amerika Serikat, Harlow, yang kemudian
dikenal dengan Eksperimen Harlow, menyimpulkan anak yang mendapat nutrisi
bagus tetapi tidak mendapat rangsangan apa pun karena hidupnya terisolasi
dan terpisah dari ibunya, ketika dewasa akan mengalami gangguan emosi.
Dari percobaan Harlow menunjukkan bahwa betapa pentingnya menggendong,
memeluk, menimang anak untuk pembentukan karakter. Anak yang kurang atau
tidak mendapat pengasuhan ibu yang baik, akan menjadi seorang yang agresif
dan mudah melakukan kekerasan.

Fakta tersebut menunjukkan adanya hubungan antara
pusat dan fungsi di dalam otak pada usia dini. Menurut dr Andre Mayza,
pada masa perkembangan anak, hendaknya otak harus mendapatkan perangsangan,
pemrograman yang baik dan seimbang.

Pemrograman yang salah atau kurang pada usia dini
dapat berdampak perilakunya buruk ketika dewasa. Perlu diingat, pengalaman
anak di waktu kecil berpengaruh menetap dalam masa perkembangan itu.
Pemrograman berarti pendidikan, berpengaruh membentuk, menentukan fungsi
struktur-struktur otak bersangkutan.

Stimulasi Indra Untuk Kecerdasan

STIMULASI INDRA PERABA DAN PENGECAP PENTING UNTUK KECERDASAN

ingin punya bayi hebat? Salah satu kuncinya pasti stimulasi! Terdengar klise mungkin, tapi memang begitulah prosesnya. Stimulasi diperlukan untuk perkembangan otak yang akan menentukan kecerdasan. Stimulasi indra peraba dan pengecap juga akan mengoptimalkan perkembangan otak, selain stimulasi indra pendengaran dan penglihatan.

Stimulasi indra peraba dan pengecap juga akan mengoptimalkan perkembangan otak, selain stimulasi indra pendengaran dan penglihatan.

Ingin punya bayi hebat? Salah satu kuncinya pasti stimulasi! Terdengar klise mungkin, tapi memang begitulah prosesnya.
Stimulasi diperlukan untuk perkembangan otak yang akan
menentukan kecerdasan. Apalagi bila dikaitkan dengan the golden age atau masa pesat perkembangan otak di usia 0-3 tahun (ada juga yang mengatakan 0-6 tahun).

Setelah itu, perkembangan otak manusia pun akan melambat. Jadi manfaatkan masa ini dengan sebaik-baiknya. Cepatnya perkembangan otak dalam periode ini
ditandai dengan pertambahan berat otak dari 400 gr di waktu lahir menjadi hampir 3 kali lipatnya setelah akhir tahun ketiga.

Sekadar untuk diketahui, pada masa awal usianya, fungsi kedua belahan otak bayi masih sama. Hal ini bisa terlihat dari cara bayi meraih benda dengan menggunakan kedua tangannya. Setelah otak berkembang, secara individual fungsi belahan otak kanan dan kiri menjadi berbeda. Perkembangan ini menyebabkan anak cenderung memakai tangan tertentu (umumnya kanan) untuk melakukan sesuatu.

Contoh lain akan pentingnya stimulasi terlihat pada penelitian tentang huruf ”L” yang diadakan di Jepang. Dari riset yang dilakukan ditemukan, bayi-bayi di negeri Sakura hingga usia 6 bulan masih peka terhadap konsonan ”L”. Namun, saat menginjak usia 1 tahunan kepekaan itu hilang karena konsonan L dalam bahasa Jepang tidak diperlukan. ”Itu salah satu bukti kalau otak tidak distimulasi, sinaps-sinapsnya (simpai) akan hilang begitu saja.”

IBARAT PESAWAT TELEPON

Saraf-saraf dalam organ otak diibaratkan sebagai kumpulan pesawat telepon yang koneksinya belum terhubung satu sama lain. Agar koneksi antara pesawat telepon di dalam otak ”saling nyambung” diperlukan stimulasi.

Tujuan stimulasi adalah mengembangkan hubungan (network) antara satu saraf dengan saraf lain. ”Saat anak sudah sekolah, ia akan lebih cepat menangkap pelajaran yang diberikan karena ‘pesawat-pesawat telepon’ miliknya sudah terkoneksi sebelum itu. Sebaliknya, bila pesawat-pesawat telepon itu tidak distimulasi maka sinaps-sinapsnya akan hilang.

Bahkan beberapa ahli percaya, kalau tidak ada rangsangan, jaringan organ otak jadi mengecil akibat menurunnya jaringan fungsi otak.

Masalahnya, begitu banyak hal yang perlu dipelajari si bayi kecil lewat kelima indranya; ada indra penglihatan, pendengaran, penciuman, peraba hingga pengecap. Orang tua harus rajin menstimulasi semua indra bayi secara seimbang agar tumbuh kembangnya menjadi optimal.

Nah, kali ini yang akan dibahas adalah stimulasi indra peraba dan indra pengecap.

STIMULASI INDRA PERABA

Sebenarnya, secara tidak sadar, orang tua sudah melakukan beberapa stimulasi indra sentuhan dari hari ke hari. Hanya saja, mungkin upayanya kurang maksimal. Agar lebih maksimal berikut beberapa cara yang dapat dilakukan:

Pijat bayi

Pijatan dapat memberi efek relaks pada bayi. Penelitian membuktikan bayi prematur yang sering dipijat akan tumbuh lebih baik, lebih cepat, lebih tenang serta lebih jarang menangis ketimbang bayi-bayi prematur yang tidak dipijat.

”Jadi terbukti sentuhan orang tua mempengaruhi perkembangan bayi, bukan?”.
Akan lebih baik bila mengikuti berbagai kursus pijat bayi yang banyak diselenggarakan untuk mengetahui teknik pijatan yang tepat. Jika bayi dipijat tanpa mengenakan pakaian, pilih ruangan yang cukup hangat.

Perhatikan ranjang

Kebanyakan, waktu bayi akan dihabiskan di atas ranjang. Nah, untuk menstimulasi indra peraba, lapisi ranjang dengan alas tempat tidur yang lembut dan hangat sehingga ia merasa nyaman di dalamnya.

Manfaatkan berbagai bahan

Bayi perlu mengenal konsep kasar-halus atau keras-lunak. Untuk itu kita bisa mengenalkannya kepada berbagai tekstur bahan seperti sutera, satin, velvet, kulit, handuk dan sebagainya. Bisa juga memanfaatkan kegiatan sehari-hari. Dengan mandi, misalnya, bayi jadi tahu sifat sabun yang licin.

Berjalan tanpa alas

Bila sudah agak besar, bayi bisa diajak berjalan-jalan tanpa alas kaki sehingga ia dapat merasakan perbedaan kala menyentuh lantai, karpet, atau rumput. Nah, apa yang kita sampaikan kepada sensori peraba bayi akan terekam di dalam otaknya dan membantu dia menghubungkan jaringan sel-sel saraf yang ada di dalamnya. Akhirnya, pada sekitar usia 2 tahun ia mulai
bisa menyebutkan kalau batu itu keras atau sutera itu lembut.

STIMULASI INDRA PENGECAP

Stimulasi indra pengecap pun sudah akrab dengan aktivitas sehari-hari si kecil, berikut beberapa di antaranya:

Menyusu ASI

Menyusu ASI merupakan salah satu cara merangsang indra pengecap bayi. Beberapa pakar mengatakan, bayi yang menyusu ASI akan lebih jarang mengisap jari ketimbang yang menyusu dari botol. Waktu menyusu yang ideal sekitar 30 sampai 40 menit. Di atas 20 menit sebenarnya susu ibu sudah kosong, namun bayi tetap mengisap puting ibunya demi memenuhi kebutuhan mengisapnya.

Biarkan mengisap jari

Untuk menstimulasi indra pengecapnya biarkan bayi mengisap jari. Seperti diketahui, setiap bayi pasti akan mengisap jari. Terlebih pada bayi baru lahir hingga usia 3 bulan. Sampai usia 7 bulan pun, kebiasaan mengisap jari pada bayi masih dianggap wajar. Setelah usia itu tentu kebiasaan ini mesti dihentikan.

Memberikan PASI

Selepas usia 6 bulan, mulailah bayi diperkenalkan dengan berbagai macam rasa makanan agar saat besar nanti indra pengecapnya terbiasa dengan aneka jenis makanan. Ia pun akan tumbuh menjadi anak yang tidak pilih-pilih makanan.

Mainan gigitan

Bisa diberikan saat ia mulai memasukkan segala sesuatu
ke dalam mulutnya, yakni sekitar usia 6 bulan. Tentu saja perhatikan kebersihannya.

Ajak si kecil ngobrol saat kita memberinya stimulasi. Dengan begitu, perkembangan bahasanya pun akan ikut terangsang. Dengan berkomunikasi, orang tua juga akan menjalin kedekatan dengan anak. Namun, kelekatan tetap kurang terjalin bila sambil berbicara, pikiran orangtua berada entah di mana. Jadi, ajak bayi berbicara dengan tatapan mata. Saat memandikan, kita bisa ngobrol tentang air yang begitu dingin. ”Ih airnya dingin, ya..”
Dengan begitu, anak merasa bahwa kita berusaha berhubungan dengannya. Walau mungkin respons bayi belum terlihat, hanya menatap saja, misalnya, tapi itu sebenarnya menunjukkan kelekatan sudah terbangun