Mempersiapkan Si Kecil Masuk Sekolah

sumber : Mother And Baby

Menjelang hari pertama masuk sekolah, biasanya sikap anak berubah. Ada yang menyambutnya dengan keriangan, tapi ada juga yang malah jadi rewel. Memperkenalkan lingkungan sekolah terlebih dahulu, adalah kunci utamanya.

Mempersiapkan buah hati masuk sekolah untuk pertama kali, memang susah-susah gampang. Ada juga anak-anak yang menyambut gembira menghadapi hari pertamanya di sekolah. Namun, ada juga yang tiba-tiba jadi tukang ngambek, tidak mau di tinggal atau mogok karena tidak mau ikut pelajaran.

Menurut Risatianti Kolopaking, S.Psi., ulah balita saat menghadapi hari pertama sekolah ini adalah hal yang wajar. “Perasaan takut di tinggal sendirian dan kurang nyaman diantara orang-orang yang tidak dikenalnya, merupakan perasaan yang wajar yang dirasakan anak saat pertama kali masuk ke sekolah,” terang Psikolog dari RS. Hermina Bekasi ini.

Takut Di Lingkungan Baru

Bila anak bersikap rewel, atau menangis keras saat hari pertama sekolah, disebabkan ia merasa takut berada di suatu lingkungan yang baru. “Lingkungan itu termasuk guru dan teman yang baru pertama kali dilihatnya,” jelas Alumnus Fakultas Psikologi Universitas Padjajaran, Bandung ini.

Apalagi lingkungan sekolah, merupakan sebuah dunia luar pertama baginya, yang sebelumnya hanya mengenal lingkungan di sekitar rumahnya saja. “Sehingga lingkungan sekolah, benar-benar dunia baru bagi mereka,” terangnya lagi. Ketakutan ini juga bisa akibat ia merasa tegang, karena harus bertemu dengan teman-teman dan pelajaran baru. “Jangankan anak balita, orang dewasa pun akan merasakan hal yang sama dalam menghadapi lingkungan yang baru.”

Agar ketakutan ini tidak terjadi, Risa menyarankan untuk sesekali mengajak anak melihat-lihat sekolah, terutama sebelum hari pertamanya. Selain memperkenalkan kondisi fisik sekolah, perkenalkan pula ia pada para guru yang akan mengajarnya nanti. “Sehingga saat masuk sekolah, ia tidak akan merasa asing lagi,” papar ibu tiga anak ini.

Memperkenalkan pelajaran yang akan dihadapinya kelak, bagi Risa, juga merupakan salah satu persiapan yang harus diperkenalkan sejak awal. Sehingga saat masuk nanti, ia tidak akan kaget dengan pelajaran yang tentunya berbeda dengan saat ia di kelompok bermain. “Bisa dibilang, orangtua seperti melakukan gladi resik terlebih dahulu, untuk benar-benar mempersiapkan mental anak.”

Jangan Menemaninya Belajar

Namun meskipun orangtua banyak melakukan persiapan mental buah hatinya, kadang saat pertama masuk sekolah anak tetap saja tidak bersedia di lepas oleh orangtuanya. Orangtua pun kerap bersikap permisif untuk tetap tinggal dan menemaninya belajar, saat hari pertamanya bersekolah.

Sikap ini, menurut Risa, sebaiknya jangan dilakukan oleh orangtua. Normal rasanya bila saat hari pertama di sekolah, ia merasa kehilangan orangtuanya saat akan ditinggalkan. Namun dengan menemaninya, akan berarti mengganggu proses adaptasinya dengan lingkungan baru. Hal ini juga menghambat proses sosialisasi dengan lingkungan dan teman-teman barunya.

Apalagi bila Anda menemaninya belajar di kelas. Ini tentunya akan menghalangi proses kemandiriannya dalam beradaptasi dan menghadapi situasi yang terasa baru baginya. Bisa jadi di keesokan harinya, anak akan rewel dan tidak mau ditinggal. “Selain itu, peran dan kerja keras para guru juga diperlukan agar ia mampu mendapatkan perhatian dan kepercayaan anak muridnya,” terangnya lagi.

Yang paling penting dilakukan oleh orangtua, adalah memberikannya perasaan aman dan mengurangi gelisahannya saat akan masuk sekolah. Caranya, perkenalkan anak dengan lingkungan, guru dan mencarikan teman baru. Ini akan membantunya menghadapi hari pertama yang menegangkan ini.

Peran serta pihak sekolah juga sangat dibutuhkan, untuk membantu para balita yang menghadapi hari pertama sekolahnya. Akan lebih baik bila pihak sekolah juga mau memberikan kesempatan bagi murid baru untuk memberikan satu hari khusus perkenalan bagi anak yang baru masuk sekolah. “Ini berlaku secara umum baik TK maupun SD, karena meskipun masih satu yayasan sekalipun, suasana dan pelajaran yang akan dihadapi anak tentu akan berbeda dari yang sebelumnya.”

Mengurangi Kecemasan Si Kecil

Untuk meminimalisasi kecemasan anak, Charles E. Schaefer, Ph.D., Direktur Pusat Pelayanan Psikologi Farleigh Dickinson University dan Theresa Foy DiGeronimo M.Ed., ass. guru besar bahasa Inggris William College, New Jersey, memberikan saran-saran penting untuk Anda:
1. Perencanaan
Anak-anak perlu mengetahui dengan tepat apa yang akan terjadi di sekolah nanti. Karena itu, ceritalah hal-hal yang akan ditemuinya di sekolah. Bila mungkin ajak dia mengunjungi calon sekolahnya. Sehingga ia mendapat cukup informasi mengenai guru-gurunya, ruangan kelas, dan murid-murid lain calon teman-temannya.
2. Ceritakan apa yang akan dilakukan anak di sekolah
Berikan penjelasan yang spesifik pada anak, “Kamu akan belajar dan banyak main di sekolah”, terlalu kabur dan kurang bisa meyakinkan anak. Perjelaslah keterangan Anda. Kalimat seperti, “Semua anak akan masuk kelas, meletakkan tasnya di tempatnya masing-masing, lalu guru akan menjelaskan pelajaran seperti membaca, berhitung dan bernyanyi,” membuat ia mempunyai gambaran yang lebih jelas.
3. Lama sekolah
Umumnya, waktu adalah aspek yang menakutkan bagi anak-anak. Terutama karena mereka belum bisa memahami berapa lama sebenarnya ‘beberapa jam’ itu. Perkataan ‘Ibu akan menjemputmu 3 jam lagi’, sama artinya dengan ‘Kamu tidak akan bertemu ibu lagi’.

Mempersingkat waktu dengan mengatakan ‘Kamu akan berada di sini sebentar saja’ pun bukan langkah yang bijak. Lebih baik katakan yang sebenarnya, ‘Kamu akan senang bersama teman-temanmu sampai tak terasa Ibu datang untuk menjemputmu lagi’.
4. Mencemaskan perpisahannya dengan Anda
Anak-anak sering mengalami kecemasan ketika harus berpisah dengan orangtua yang mengantarnya. Sebagian anak membayangkan dirinya dalam bahaya karena ayah-ibunya tak ada. Sebagian lain mencemaskan keselamatan orangtuanya. Untuk itu orangtua perlu menjelaskan mengenai keberadaan Anda. Beri informasi mendetail seperti, “Ayah akan pergi ke kantor setelah mengantarkanmu ke sekolah.”
5. Mengurangi ketakutan anak
Anak-anak yang ketakutan mungkin akan mengekspresikan ketakutannya lewat berbagai kemunduran perilaku, seperti mengisap jempol, ngompol, merengek-rengek, atau mungkin juga mereka malah menarik diri, cemberut, suka marah tanpa sebab, dsb.
Jangan balas perilaku tersebut dengan emosi, anggap saja ini sebagai tanda bahwa ia membutuhkan kata-kata yang menenteramkan. “Ibu tahu kalau kamu tidak akan mengemut jempolmu lagi, sebab kamu kan sudah besar.” Jangan katakan, “Kamu tidak boleh ngompol lagi. Gurumu dan teman-temanmu pasti tidak suka dengan kebiasanmu ini’.
(Rahmi/Berbagai sumber)

Stimulus untuk Pra Sekolah

sumber : http://cyberman.cbn.net.id
Mother And Baby

Di usia pra sekolah- usia 3 – 5 tahun-anak harus sudah menguasai beberapa keterampilan penting. Jika tidak, bisa berpengaruh buruk pada masa sekolahnya.

Semua pakar perkembangan setuju, usia 0 hingga 5 tahun adalah usia emas (golden age) bagi seorang anak. Disebut demikianm, karena pada masa inilah perkembangan otak dan kecerdasan anak sedang pesat-pesatnya. Sekitar 50 persen terbentuk di usia ini, dan sisanya berkembang bertahap hingga dewasa. Tak heran, jika orangtua, mampu mengisi masa 5 tahun pertama dengan optimal, kecerdasan anak pun berkembang optimal.

Pada 5 tahun pertama ini menjadi masa-masa yang penting. Menurut Dewi Asih Heriyani,SH.MH., kepala Sub. Direktorat Kesiswaan Direktorat Pendidikan Taman-Kanak-kanak dan Sekolah Dasar, Departemen Pendidikan Nasional, apakah anak akan bisa menghadapi masa-masa selanjutnya dengan baik, semisal lancar di sekolahnya kelak, mampu menyerap berbagai pelajaran dengan baik, mampu beradaptasi dengan lingkungan, ditentukan pada masa ini.

Tiga Faktor Pendukung
Seperti dikatakan Dewi, banyak kemampuan anak yang harus distimulus pada usia ini. Lantaran jika tidak, ada akibat-akibat yang bisa dialami anak. Misal, jika motorik halus yang berkaitan dengan gerakan halus seperti menulis, merangkai bunga, dsb.) tak sedari dini dilatih, anak bisa mengalami kesulitan menulis saat ia masuk sekolah. Atau jika tak dirangsang kemampuan berbahasanya, maka anak pun bisa sulit berkomunikasi dan memahami hal-hal penting di luar dirinya.
Masa pra sekolah yang berkisar antara usia 3 – 5 tahun, dalam tahap perkembangan intelektual menurut Jean Piaget, berada pada tahap pra operasional. Yakni, anak sudah bisa menggunakan bahasa dan simbol, dapat menghadirkan obyek baik dalam fikiran maupun kata, mampu mengelompokkan benda berdasarkan cirinya, dan mampu menggunakan bilangan.

Tetapi, agar anak benar-benar menguasai hal-hal tersebut di atas, menurut Dewi, dibutuhkan dua faktor stimulus yang mendasar, yakni faktor keluarga dan lingkungan. Dalam keluarga, tentu saja ayah ibu, dan kerabat terdekat seperti kakek-nenek, dan juga orang dewasa lainnya, punya peran yang sangat penting.

Sedangkan faktor lingkungan, ini yang harus disesuaikan dengan kebutuhan anak. Yakni, memberikan lingkungan yang mendidik dan mendorong anak untuk mengoptimalkan perkembangan otaknya. “Bisa dengan memberikan permainan yang positif, edukatif, serta keamanan lingkungan. Termasuk sekolah juga bisa menjadi sarana perkembangannya, misalnya dengan memasukkan anak ke taman bermain, playgroup atau pun tempat penitipan anak,” demikian Dewi Asih.
Dewi Asih juga menegaskan pentingnya stimulus yang seimbang, antara otak kiri dan kanannya. Otak kiri yang berhubungan dengan kemampuan analisa (seperti matematika), memang cenderung digenjot orangtua, lantaran percaya ukuran anak pintar atau anak cerdas jika ia pintar secara matematik. Inilah yang banyak terjadi sekarang ini. Padahal, kata Dewi, otak kanan anak pun tak kalah penting. Karena, bagian otak yang berhubungan dengan bahasa, imajinasi, dan musik inilah yang dapat mendukung bahkan mengoptimalkan kecerdasan anak secara menyeluruh.

“Artinya jangan hanya pintar saja, gerakan jasmaninya saja, tetapi emosi seperti rasa dan seni, serta spiritualitas atau iman juga harus diasah agar anak mendapat pondasi yang kokoh saat ia besar nanti.”
Pada saat usia pra sekolah ini, saat otak berkembang pesat, saat keingintahuan anak sedang besar-besarnya, kata Dewi, inilah waktu yang tepat mempersiapkan anak memasuki masa sekolah. “Pada usia ini taman bermain atau TK hanya penunjang, stimulus yang paling penting ya harus dilakukan orangtua. Tetapi, jangan lupa, untuk mengenalkan banyak hal meski sederhana seklaipun, harus disesuaikan dengan kemampuan mereka.”

Menstimulus Pra-Sekolah

Apa saja sih yang harus dikuasai si kecil di usia 3 – 5 tahun? Menurut Drs. M.S. Hadisubrata, M.A., dalam bukunya “Meningkatkan Intelegensia Anak Balita, pada usia pra sekolah, selain stimulus fisik, anak harus ditingkatkan kemampuan berbahasa dan dipersiapkan kemampuan baca tulisnya.

Stimulasi Bahasa dan Pengertian
Berkomunikasi membutuhkan kemampuan untuk mengerti dan dimengerti oleh orang lain. Karena itu untuk menstimulus kemampuan ini diperlukan:

1. Ajarkan anak memahami arti kata. Ini merupakan stimulasi yang paling mudah dilakukan dibandingkan dengan stimulasi lainnya. Sebelum si kecil dapat berbicara, biasanya terlebih dahulu ia memahami apa yang dikatakan oleh orang lain. Selain memahami arti kata, juga termasuk tindakan, intonasi suara dan gerakan tubuh. Karena itu, mulai usia bayi pun, orangtua berbicara dengan suara (kata-kata), gerakan tubuh serta tindakan. Sehingga sejak dini anak belajar memahami apa yang dikatakan orang lain.

2. Ucapan kata dengan benar. Ucapan kata mulai ditiru anak-anak pada usia 9 – 12 bulan. Saat itu, si kecil akan berusaha menirukan ucapan yang belum pernah ia ucapkan sebelumnya. Kemajuan dalam peniruan ini, sangat tergantung pada kesiapan mekanisme suara dan bimbingan yang diberikan. Karena itu berucaplah dengan benar agar anak kelak dapat mengucapkan kata dengan benar.

3. Perkaya perbendaharaan katanya. Umumnya si kecil mengasosiasikan kata dengan suara-suara. Yang pertama ia pelajari biasanya berhubungan dengan obyek, orang dan situasi tertentu, terutama yang merupakan kebutuhan pokoknya. Setelah itu barulah ia belajar mengumpulkan kata kerja, seperti memberi, memegang atau mengambil. Selanjutnya ia belajar kata sifat, dan yang terakhir kata ganti nama orang.

4. Pembentukan kalimat. Umumnya bayi menggunakan kalimat yang terdiri dari satu suku kata, yang digabung dengan gerakan tubuh. Kemudian pada usia dua tahun, ia mulai menggabungkan kata dengan kalimat yang sederhana, meski sering tidak lengkap. Semakin lama, penggabungan kalimatnya akan semakin bertambah hingga saat masuk TK, usia 4 – 5 tahunan, ia sudah mampu membuat kalimat yang panjang dan lebih rumit.

5. Komunikasi dua arah harus terus dilakukan sambil si kecil belajar menguasai ke-empat poin diatas. Semakin banyak orangtua mengajak si kecil bercakap-cakap, baik mengajaknya bicara maupun melibatkannya dalam percakapan, mendengar dengan sungguh-sungguh serta memberikan reaksi terhadapnya, maka semakin banyaklah kemampuan yang akan dicapainya.

Persiapan Baca-Tulis
Masa pra sekolah anak belum disarankan untuk belajar baca tulis. Namun persiapan harus dimulai sejak dini, agar ketika anak memasuki sekolah dasar ia sudah terlatih untuk menghadapi intruksi guru. Apalagi, kurikulum serta pola didik guru di sini, membebani anak kelas 1 SD sekalipun dengan pelajaran berat.

Persiapan belajar membaca mempunyai tiga unsur pokok. Yaitu minat untuk membaca, kemampuan membedakan secara visual (bentuk, warna, ukuran) dan kemampuan membedakan suara-suara. Untuk memupuk minat baca si kecil, orangtua bisa melatihnya dengan memberikan dan membacakan buku-buku cerita dengan gambar yang menarik.

Persiapan yang tak kalah pentingnya, adalah persiapan menulis. Kemampuan seorang anak menulis tergantung pada kemampuannya mengendalikan otot-otot jari tangan. Maka tugas orangtua adalah membantu si kecil menggunakan tangannya, caranya bisa dengan mengajaknya bermain menggunting dan menempel pada karton besar.

Latihan berikutnya adalah melatih koordinasi jari-jari tangan dan mata, karena kemampuan menulis selain tergantung pada kemampuan intelektual, juga tergantung dari kemampuan koordinasinya ini. Untuk latihan, kita bisa melatihnya dengan sering mengajak si kecil membuat bentuk dengan bantuan logam atau benda-benda kecil yang diletakkan di atas kertas. (Rahmi Hastari)

Sumber: Tabloid Ibu Anak