Setengah Juta Anak Setiap Tahun Alami Efek Samping Obat

SAYUR = Say No To Puyer

http://puyer.wordpress.com

sumber : http://kesehatan.kompas.com/read/xml/2009/09/29/11340132/setengah.juta.anak.setiap.tahun.alami.efek.samping.obat

Setengah Juta Anak Setiap Tahun Alami Efek Samping Obat
Selasa, 29 September 2009 | 11:34 WIB

*KOMPAS.com *— Peresepan obat yang irasional sudah tentu merugikan
konsumen karena bisa menimbulkan efek samping yang berbahaya, terutama
bagi bayi dan anak-anak kecil. Studi terkini menunjukkan, lebih dari
setengah juta anak di Amerika Serikat setiap tahunnya mengalami efek
samping dari pengobatan yang diterimanya.

Berdasarkan analisis data dari /National Center for Health Statistics/
terhadap pasien rawat jalan antara tahun 1995-2005 diketahui ada 585.992
pasien anak hingga remaja usia 18 tahun yang berobat. Kebanyakan memang
melakukan rawat jalan, tapi 22 persen di antaranya harus dirawat di unit
gawat darurat akibat efek samping obat tadi.

“Kami menemukan bahwa dari 1000 anak ada 13 pasien yang berobat karena
efek samping obat. Ini mengindikasikan mereka mengalami komplikasi
serius,” kata ketua peneliti Dr.Florence Bourgeois dari divisi gawat
darurat pediatrik di Children’s Hospital Boston,AS.

Mayoritas pasien yang berobat adalah anak berusia 4 tahun ke bawah (43
persen), dan diikuti dengan remaja usia 15-18 (23 persen). Gejala efek
samping yang paling sering dikeluhkan adalah masalah kulit (45 persen)
dan pencernaan (16,5 persen). Sekitar 52 persen anak dilaporkan juga
mengalami reaksi alergi.

Obat antibakteri seperti penisilin merupakan obat yang paling sering
menimbulkan efek samping. Menurut data ada 27,5 persen kunjungan
gara-gara obat tersebut dan 40 persennya adalah anak berusia kurang dari
4 tahun.

Di urutan kedua dalam obat yang paling sering menimbulkan efek samping
adalah obat-obatan saraf (6,5 persen) dan hormon (6 persen). Dua jenis
obat ini biasanya diterima oleh pasien remaja, yang menggambarkan
peningkatan penggunaan obat untuk gangguan emosional dan kontrasepsi di
kalangan remaja.

Hasil studi tersebut dipublikasikan dalam jurnal ilmiah /Pediatrics.
/Dalam laporannya, para peneliti menyarankan agar para dokter lebih
berhati-hati dalam meresepkan obat untuk anak-anak hingga remaja. Selain
itu. para dokter juga diharapkan bisa memberi informasi yang mungkin
dibutuhkan para orangtua.

“Salah satu cara untuk mengurangi efek samping yang tak diharapkan
adalah para dokter harus punya informasi yang lengkap mengenai efek
samping suatu obat dan melakukan perbandingan efektivitas suatu obat.
Informasi ini bisa didapatkan dari data dan bukti nyata penggunaan obat,
bukan hanya dari keterangan di label obat,” kata Bourgeois.

Dengan semakin terdidiknya orangtua, seharusnya orangtua juga makin
kritis terhadap rasional tidaknya peresepan yang dilakukan para dokter.

Menjadi pasien Cerdas

Sumber : http://lifestyle.okezone.com

PENYEBAB pasti meninggalnya raja pop Michael Jackson masih meninggalkan tanda tanya. Namun, peristiwa ini tak urung membuat masyarakat lebih waspada akan efek pemakaian obat berlebih.

Saat Michael Jackson dinyatakan tutup usia pada 25 Juni silam, publik dunia serentak terhenyak. Kala itu, sang megabintang dinyatakan meninggal akibat serangan jantung. Namun, isu kesehatan terus bergulir hingga berkembang rumor bahwa nyawa pelantun “Heal the World” itu tak tertolong lagi lantaran overdosis obat-obatan yang diberikan dokter yang mendampinginya kala maut menjemput. Dugaan lainnya, sang dokter melakukan kesalahan dalam memberikan bantuan CPR (Cardio Pulmonary Resusitation) hingga menyebabkan tulang rusuk Michael patah.

Beragam spekulasi masih terus berkembang. Di sisi lain, hal ini meningkatkan kewaspadaan masyarakat, terutama warga Amerika, akan bahaya pemakaian obat yang tidak tepat atau berlebih. Ya, berkaca dari kasus Michael, warga Negeri Paman Sam seolah lebih “terjaga” akan bahaya penyalahgunaan obat-obatan, termasuk risiko overdosis obat resep.

Hal ini terlihat dari survei yang dilakukan American Society of Health-System Pharmacists (ASHP), awal bulan ini. Survei dilakukan dengan mewawancarai lebih dari 200 ahli farmasi. Dari jumlah tersebut, sebanyak 28 persen mengatakan bahwa pasca-meninggalnya Michael Jackson, para pasien mengajukan lebih banyak pertanyaan perihal risiko penggunaan obat-obatan pengurang rasa sakit (pain killer).

“Manakala penyebab kematian Michael Jackson masih simpang siur, perhatian publik media menjadi terbuka untuk berdialog mengenai aspek bahaya dari penyalahgunaan obat resep,” ujar Presiden ASHP, Lynnae M Mahaney.

Ia mengemukakan, obat-obatan dapat memberi perubahan yang besar bagi orang-orang yang mengalami nyeri kronis dan orang-orang ini memang sudah seharusnya melakukan perawatan. “Akan tetapi, obat-obatan ini biasanya sangat kuat dan apabila penggunaannya tidak tepat dapat mengakibatkan hal serius, bahkan kematian,” imbuhnya.

Untuk itulah ahli farmasi, khususnya mereka yang telah terlatih dalam mengendalikan rasa nyeri, dapat memberikan panduan atau bimbingan dalam melakukan terapi rasa nyeri. Hal ini ditujukan untuk meminimalisasi risiko penyalahgunaan dan ketergantungan obat.

Di lain pihak, setiap pasien diharapkan dapat menjadi “polisi” bagi dirinya sendiri. Artinya, ia harus cermat dan kritis bertanya kepada dokter atau mencari informasi tentang terapi yang dijalani ataupun jenis obat yang akan dikonsumsi.

Manakala Anda sakit, terluka atau mengalami kecelakaan, otomatis diperlukan obat. ASHP menyarankan beberapa tips, misalnya mengumpulkan daftar obat-obatan yang Anda gunakan, baik dosis maupun frekuensinya. Dengan begitu Anda dapat memantau obat yang Anda gunakan. Selain itu, Anda juga disarankan membuat data untuk diberikan kepada ahli farmasi Anda ataupun penyedia layanan kesehatan lainnya.

Ingatlah bahwa setiap pasien, termasuk Anda, berhak diselamatkan. Tanggung jawab tak hanya kepada petugas medis, juga si pasien sendiri. Sayangnya, umumnya pasien di Indonesia masih “pasif”, dalam arti menerima begitu saja apa yang diberikan dokternya.

Kurangnya pengetahuan membuat mereka percaya apa pun diagnosis dan tindakan medis yang diberikan. Di sisi lain, dokter sendiri pun terkadang enggan membangun komunikasi. Sering kali pasien hanya datang, duduk, ditanyai keluhannya, diperiksa, lalu tahu-tahu dokter sudah menuliskan resep. Tak ada komunikasi mendalam.

“Kalau di luar negeri seperti Inggris, pasiennya kritis bertanya. Sebelum dokter bertanya, mereka sudah nanya duluan: ‘Dok, betul mau periksa saya? Sudah cuci tangan belum?’. Jadi tidak ada gap dalam hubungan pasien-dokter,” ujar Dr Adib A Yahya MARS dari Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI).

Empowering atau memberdayakan pasien sangat penting untuk meminimalisasi kesalahan medis (medical error). Sebab, rumah sakit yang bermutu pun bukan jaminan keselamatan pasien. Bayangkan, di rumah sakit ada banyak jenis obat, jenis pemeriksaan dan prosedur, serta jumlah pasien dan staf RS yang cukup banyak. Kondisi yang demikian tentu potensial bagi terjadinya kesalahan.

Untuk itulah, Adib menilai perlunya edukasi dan keterlibatan pasien. Caranya, dengan mendidik pasien dan keluarganya. Hal sederhana seperti saat transfusi darah misalnya, keluarga pasien diminta ikut mengawasi. Pasalnya, pernah ada kejadian di mana pasien menerima jenis golongan darah yang keliru.

“Dokter, pasien, dan keluarga adalah satu tim sehingga ketika terjadi kesalahan, yang salah adalah tim, bukan semata-mata dokternya. Selama ini sikap blaming (menyalahkan) sering terjadi. Padahal tidak ada suatu medical error yang murni kesalahan dokter, pasti ada faktor penyebab lain seperti lingkungan atau sistem yang buruk,” papar dokter yang berdomisili di Kramat Jati, Jakarta Timur ini.

Lembaga Kesehatan Dunia, WHO, juga cukup menaruh perhatian terhadap layanan kesehatan yang aman (safe care) atau disebut patient safety. Pada Oktober 2004 silam, WHO dan berbagai lembaga mendirikan World Alliance for Patient Safety yang tujuannya, antara lain menurunkan morbiditas, cedera, dan kematian pasien.

Polifarmasi

source : http://www.sehatgroup.web.id/

Polifarmasi dikategorikan sebagai penggunaan obat yang berlebihan atau interaksi yang timbul dari konsumsi obat yang berlebihan, atau bahkan kedua hal tersebut. Polifarmasi bisa dicegah jika konsumen membekali dirinya dengan informasi yang memadai tentang obat-obatan. Berikut beberapa kiat sederhana untuk menghindari polifarmasi:

-Selalu baca label obat. Dalam label obat tersebut bisa diketahui kemungkinan terjadinya interaksi obat.
-Menebus resep obat dokter hanya dari satu apotek.
-Cari informasi tentang obat yang dikonsumsi dan apa kegunaannya.
-Buat daftar semua obat yang dikonsumsi, termasuk pil dan dosis penggunaannya, produk herbal, vitamin, pengobatan homeopatik, suplemen, dan obat bebas (OTC). Perbarui setiap kali selesai melakukan kunjungan ke dokter.
-Bawa catatan medis setiap kali berkunjung ke dokter.
-Jika anda berobat ke lebih dari satu orang dokter, pastikan masing-masing dokter mengetahui apa yang diresepkan dokter lainnya.
-Minta apoteker menjelaskan interaksi antar obat untuk mengidentifikasi reaksi yang mungkin timbul, terlebih lagi jika anda mengkonsumsi lima atau lebih jenis obat.
-Hindari produk-produk kombinasi seperti obat selesma. Minta apoteker untuk membantu anda memilih obat yang tepat untuk gejala-gejala penyakit yang anda alami, bukan untuk setiap gejala yang mungkin.
-Jangan pernah mengkonsumsi obat tanpa bertanya lebih dahulu kepada apoteker tentang efek samping obat dan interaksinya dengan obat lain.
-Kenali obat yang anda konsumsi. Pelajari obat-obat tersebut dari dokter atau apoteker, belajar menggunakan Physicians Desk Reference (buku referensi obat), tersedia di perpustakaan lokal. Buku-buku tentang peresepan obat juga banyak tersedia di toko buku. Jangan mudah percaya informasi dari internet, karena kebanyakan informasi yang tersedia secara online tidak memiliki sumber yang layak dipercaya.

Hal yang terpenting adalah menyadari bahwa kesehatan anda adalah tanggung jawab anda, maka pelajarilah segala sesuatu yang terkait dengan pengobatan yang anda jalani.

Artikel asli:

http://www.hap.org/info/formulary/polypharmacy_tips.php

Bijak Mengkonsumsi Obat

source : purnamawati.wordpress.com

CORBIS.COMKONSULTASI: Diskusikan dengan dokter mengenai obat yang akan dikonsumsi seperti mekanisme, indikasi, kontra indikasi dan efek sampingnya.

JAKARTA–Obat-obatan merupakan salah satu terapi yang digunakan oleh dokter dan ahli medis lain untuk menyembuhkan pasien. Namun, jika digunakan berlebihan dan tidak tepat justru dapat mengganggu organ hati (liver)

Sayangnya, masyarakat di Indonesia masih banyak yang menganggap hal itu sebagai suatu kewajaran. Selain itu, kebiasaan yang berlaku adalah meminta obat untuk masing-masing gejala penyakit yang timbul.

Misalnya, seorang ibu yang anaknya menderita diare, dia akan meminta obat untuk mencretnya, lalu obat untuk mualnya, nafsu makannya, juga obat untuk kepala pusing. Alhasil saat pulang, ibu bisa membawa lebih dari tiga macam obat untuk anaknya.

”Padahal untuk penyakit harian seperti diare, batuk, demam, atau radang tenggorokan tidak perlu sampai lebih dari dua obat,” kata dr Purnamawati S Pujiarto SpAK MMPed, duta WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) untuk penggunaan obat secara rasional, dalam sebuah seminar di Kemang Medical Care, Jakarta, belum lama ini.

Ketika Anda atau keluarga Anda menderita penyakit harian, mestinya tak perlu panik. Dokter yang akrab disapa Wati itu mengatakan, penyakit harian akan sembuh sendiri dalam beberapa hari tanpa bantuan obat.

Penyakit tersebut merupakan hal alami yang terus terjadi dalam tubuh manusia. Perlu ditahui, penyakit ringan itu merupakan cara alami manusia untuk memerangi bakteri atau virus jahat dalam tubuh. Jadi, jangan terlampau tergantung pada obat.

Wati mengingatkan, meski obat sangat berguna bagi kesehatan namun jika digunakan sembarangan akan merugikan kesehatan itu sendiri. Sangat penting untuk menggunakan obat secara rasional dan bijaksana, utamanya demi menjaga fungsi hati.

Wati memaparkan, sebagian besar obat tidak larut dalam air sehingga perlu diproses di hati agar menjadi komponen yang larut dalam air.

”Sehingga jika menggunakan obat terlalu banyak dan tidak tepat akan merusak kerja hati. Selain itu, ginjal juga akan kesulitan mengeluarkan zat-zat yang tidak dibutuhkan oleh tubuh,” kata alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) tahun 1978 itu.

Dia memberi contoh, obat batuk pilek yang mengandung dekongestan. Kandungan ini (dekongestan), kata dia, tidak pernah terbukti efektif menangani batuk pilek. Bahkan di beberapa negara, dekongestan sudah dinyatakan tidak aman diberikan pada bayi dan anak kecil.

Saat Anda batuk, jangan pernah meminum obat untuk menekan batuk. Pasalnya, batuk berfungsi untuk membantu membersihkan jalan napas sehingga tidak boleh ditekan. ‘

‘Golongan yang paling rentan terkena efek tidak baik dari penggunaan obat yang kurang tepat adalah anak-anak dan manula,” kata Wati, yang pada 1994-2003 menjadi staf pengajar di Sub Bagian Hepatologi Anak, Bagian Ilmu Kesehatan Anak, FKUI.

Ada sejumlah jurus yang bisa dilakukan untuk mencegah penggunaan obat yang tidak rasional. Salah satunya dengan membangun hubungan baik antara pasien dan dokter dalam sebuah sesi pengobatan.

Wati menggambarkan, ketika pasien datang, dokter harus mengumpulkan data perihal permasalahan, perjalanan penyakit dam pengobatan yang pernah diperoleh pasien. Dokter lalu memberikan diagnosis yang tepat dan akurat, dilanjutkan dengan pemilihan obat yang efektif, aman, cocok, terjangkau dan mudah didapat.

Dokter juga harus menjelaskan manfaat dan efek samping obat serta tindakan yang mesti dilakukan jika terjadi efek samping.

Sebagai pasien, Anda tak harus selalu menerima atau puas dengan apa yang dilakukan dokter. Anda berhak menanyakan banyak hal seputar penanganan penyakit. Setelah mendapatkan obat, selayaknya pasien dapat bertanya, apakah dirinya memang perlu mendapatkan obat itu, kandungan aktif obat, bagaimana mekanisme kerja obat, indikasi, kontra indikasi dan efek samping.

Pendek kata, jadilah pasien yang kritis. ”Ini justru dapat memberikan banyak pengetahuan, sekaligus mengamankan Anda dalam mengonsumsi obat,” kata Wati yang juga menulis buku Q&A Smart Parents for Healthy Children.

Pasien juga harus memahami, tidak selamanya dokter harus memberikan obat. ”Sebuah pelayanan kesehatan yang baik tidak berarti mengeluarkan obat sebagai hasilnya, melainkan sebuah konsultasi dan diskusi antara pasien dan dokter tentang penyakit dan cara penanganannya,” pungkasnya.(c62/ri)

Sumber : Republika

Hindari Obat Irasional

SUMBER : http://purnamawati.wordpress.com/
Sumber : Media Indonesia
Sering Kali tidak Menyasar Sumber Penyakit Konsumsi obat kerap dibutuhkan untuk mengatasi penyakit. Namun perlu diwaspadai, pemakaian obat berlebih dapat menimbulkan gangguan ginjal dan hati.

B EBERAPA tahun lalu, Gendi memeriksakan anaknya, Pasha, yang berusia sepuluh bulan ke dokter langganan keluarga. Kepada dokter, ayah muda itu mengungkapkan kekhawatirannya karena Pasha terlihat kurus. Saat mendengar keluhan yang disampaikan Gendi, sang dokter yang bergelar profesor itu langsung curiga Pasha terkena tuberkulosis (Tb).

Namun, setelah dilakukan uji mantuk kepada Pasha, hasilnya negatif. Dokter kemudian menyarankan Pasha dirontgen. Didapati ada bercak putih di paru-paru Pasha. Atas dasar itu, dokter langsung menyimpulkan Pasha terkena Tb dan diresepkan obat anti-Tb (OAT) yang harus dikonsumsi selama enam bulan.

Setelah konsumsi obat berlangsung tiga bulan, Gendi membawa Pasha kembali ke dokter untuk evaluasi. Saat itu, tanpa melihat kondisi Pasha lebih jauh, dokter menyarankan konsumsi OAT diteruskan sampai genap enam bulan.

Sebulan kemudian, Gendi membawa Pasha kembali ke dokter yang sama. Tujuannya sekadar untuk pemeriksaan rutin. Saat itulah Gendi merasa ada yang tidak beres dengan dokter tersebut.

“Setelah melihat rekam medis (medical record) Pasha, dokter bertanya apakah Pasha masih mengonsumsi OAT. “Padahal, sebulan lalu ia sendiri menyarankan OAT harus diteruskan sampai enam bulan,” kisah Gendi kepada Media Indonesia di Jakarta, Senin lalu (17/1).

Karena merasa ada yang tidak beres, laki-laki asal Pejaten itu membawa Pasha ke dokter anak lain untuk mencari second opinion. Betapa kagetnya Gendi ketika hasil konsultasi dokter anak tersebut dengan koleganya yang ahli paru menyatakan Pasha sebenarnya tidak pernah terkena Tb.

Selain Gendi, pengalaman ‘buruk’ serupa juga dikisahkan Trinovi Riastuti. Sekitar dua tahun silam ibu yang akrab disapa Ria itu memeriksakan bayinya, Nathan, ke dokter. Penyebabnya, pagi-pagi Nathan muntah-muntah setelah malamnya sempat jatuh dari tempat tidur.

Berdasar cerita Ria, dokter curiga Nathan mengalami cedera otak dan disarankan melakukan CT scan. Ia juga meresepkan obat vitamin otak untuk membantu memulihkan Nathan. Beruntung, Ria tergolong ibu yang rajin mempelajari pengetahuan tentang kesehatan anak.

‘’Saya tidak percaya dokter begitu saja. Dari melihat cara muntahnya Nathan serta dari tukar pengalaman di milis kesehatan anak, saya justru curiga masalah Nathan ada di saluran cernanya,’’ kisah ibu asal cengkareng itu.

Ria semakin yakin Nathan bermasalah dengan saluran cernanya ketika selain muntah Nathan juga diare. Karena itulah Ria mengurungkan niat men-CT-Scan Nathan dan tidak jadi menebus vitamin otak yang diresepkan dokter.

“Terlebih hasil browsing di internet menyatakan efek samping vitamin otak itu bagi bayi cukup berbahaya. Dengan menggencarkan pemberian ASI, Nathan pulih,’’ kata Ria.

Kisah Gendi dan Ria cukup memberi gambaran bahwa dokter juga bisa melakukan kesalahan dalam menangani pasiennya. Penting bagi para orang tua untuk membekali diri dengan pengetahuan tentang kesehatan anak agar tidak terkecoh.

Terlebih, sebagian dokter di Indonesia belum menerapkan konsep penggunaan obat secara rasional (rational use of drug/RUD). Mereka, sadar atau tidak, justru masih menerapkan konsep penggunaan obat yang irasional (irrational use of drug/IRUD).

Polifarmasi Spesialis anak dr Purnamawati S Pujiarto, SpA(K), MMPed, mengungkapkan hal itu pada sebuah seminar tentang bahaya obat irasional yang digelar di Kemang Medical Care, beberapa waktu lalu. ‘’Menurut WHO, pengobatan yang rasional adalah pemberian obat yang sesuai kebutuhan pasien, dalam dosis yang sesuai dan periode waktu tertentu, serta dengan biaya serendah mungkin baik bagi pasien maupun komunitasnya,’’ jelas dokter yang juga duta WHO untuk penggunaan obat rasional ini.

Dokter yang akrab disapa Wati ini menambahkan, pola pengobatan yang rasional juga bukan pengobatan yang tergopoh-gopoh mengobati gejala, melainkan mencari akar permasalahan. Misalnya, mengapa batuk, mengapa diare. “Bukan memberi resep obat batuk atau obat mampat diare,” tutur Wati yang juga Direktur Medis Kemang Medical Care itu.

Menurut Wati, perlu diketahui bahwa kasus demam, batuk, pilek, radang tenggorok, dan diare akut tanpa perdarahan yang kerap dialami anakanak, sebagian besar disebabkan virus dan bisa sembuh sendiri tanpa perlu obat. Namun di masyarakat, kerap terjadi pada kasus-kasus tersebut dokter meresepkan beberapa jenis obat.

Pemberian obat berlebihan (polifarmasi) kata Wati, merupakan salah satu bentuk penggunaan obat irasional yang lazim ditemui. Dalam kasus tersebut biasanya pengobatan bersifat simtomatis atau pengobatan terhadap gejala, bukan pada sumber penyakit.

“Contohnya, ketika menghadapi pasien dengan lima keluhan dokter memberi lima jenis obat. Pasien pun senang karena semua keluhannya sirna. Namun, hal itu justru potensial menciptakan kondisi dengan diagnosis tetap mengambang, bahkan bisa terlambat dideteksi,” jelas Wati.

Selain polifarmasi, bentuk penggunaan obat yang irasional antara lain, pemberian antibiotik, steroid, dan suplemen berlebihan serta peresepan obat bermerek padahal ada generiknya.

“Minimnya informasi terkait dengan obat-obat yang diresepkan juga termasuk praktik penggunaan obat irasional. “Biasanya informasi sebatas, ini obat radang, ini untuk dahak, ini untuk mulas,” terang Wati. (S-6) eni@mediaindonesia.com

Tips menghindari resep obat irasional:

1. Pelajari penyakit-penyakit ‘harian’ seperti demam, batuk pilek, diare, dan sakit kepala. Biasakan browsing di internet dari situs yang tepercaya, seperti Mayoclinic, AAP, RCH, Kidshealth, CDC, WHO, BMJ, dan NEJM.

2. Ketika ke dokter, pahami, tujuannya adalah berkonsultasi, bukan sekadar meminta secarik resep. Berdiskusilah, mintalah diagnosis dalam bahasa medis sehingga bisa digunakan saat mencari informasi tambahan di inter net atau sumber lain, mintalah penjelasan penyebab timbulnya masalah, diagnosis, dan rencana penanganannya.

3. Ketika diberi resep, hitung jumlah barisnya. Jika lebih dari dua, alarm kecurigaan terhadap praktik polifarmasi harus dipasang.

4. Tanyakan baris per baris obat ke dokter (dan farmasis), meliputi kandung an aktifnya, mekanisme kerja, indikasi, kontra indikasi, dan risiko efek samping.

5. Resep jangan langsung dibeli, cari informasi tambahan mengenai obat obatan yang diresepkan. Tidak perlu khawatir kondisi akan memburuk se bab apabila kita berada dalam kondisi gawat darurat, tentu akan langsung dirujuk rawat inap dengan berbagai intervensi segera (pemberian oksigen, pasang infus).

6. Mintalah resep obat generik.

E-DRUG: Compounding and dispensing problems in Indonesia

SOURCE : http://purnamawati.wordpress.com/

I am a pediatrician (gastrohepatologist) and since 2002 I have been working in community health care, promoting the rational use of medicine, in particular in pediatrics. I am concerned about overmedicalization in pediatric practice. For upper respiratory tract infections, Indonesian pediatricians frequently prescribe an antibiotic plus a mixture of pseudoephedrin/ephedrin, antihistamin, mucolytic, triamnicolone, phenobarb, and other drugs (called “puyer”, after the Dutch word for “powder”).

The ingredients are put in a bowl, crushed and the resulting powder is divided into equal parts in small sachets (usually 15 sachets to be used over the course of 5 days). Some pediatricians add this “puyer” to a syrup (e.g. thyme syrup and even ranitidine or amoxycillin syrups)

One example of a puyer prescription:

A 15 month old girl with fever and coryza was given:

1. SYRUP: Bufect (Ibuprophen) 60 ml

2. PUYER:

* Nalgestan (PPA 15 mg, chlorpheniramine maletae 2 mg)
* Luminal (phenobarbitone) 50 mg – 6 tablet
* Mucohexin 8 mg – 10 tablet
* Kenacort (trianicolone) 4 mg – 10 tablet
* Codein 20 mg – 3 tab
* Lasal (salbutamol) 4 mg – 4 tablet
* Etaphylline 250 mg – 3 tablet
* Equal neo tablet refill

3. PUYER:

* Lapicef (cefadroxil) 500 mg/ capsul – 4 capsul
* Equal

4. PUYER:

* Curvit emulsion 175 ml

5. PUYER

* Pankreoflat – 10 tablet
* Cobazym 1000 mcg – 10 tablet
* Heptasan (cyproheptadine) – 10 tablet
* Lysagor (Pizotifen, here used as an appetite stimulant) – 10 tablet
* Equal

I am conducting two studies, of which the first one is finished and I am writing out the results. I found:

1. Poly pharmacy (median number of drugs per prescription for URIs is 5)
2. Overuse of antibiotics
3. Overuse of steroids (branded trianicolone)
4. Symptomatic prescribing
5. Prescriptions of supplements, herbal, multivitamin, “appetite stimulants”
6. Brand name prescribing

I have been trying to change this practice since 1996, but met with strong resistance from my colleagues who believe that a “puyer” is good for Indonesians. Other stated reasons are that the “puyer” is cheap.

I said that prescriptions for URI is very expensive; always more than a day wage
(in Indonesia medicines are mainly paid out of pocket). Second, does a child really
need so many medicines?

I have educated parents on rational use, giving the message to avoid “puyers”.
We tell parents to count the number of lines in the prescription … if more than two lines,
do not buy it: call us. However, many parents reported back that doctors became upset with them. Doctors said they are giving the best for the children by prescribing a “puyer.”

In summary, despite my work to educate health consumers (mailing list, web, parenting classes, radio talk shows, publications, and studies of prescribing pattern, children continue to be given inappropriate “puyers”.

I am finalizing my study report, and I am asked by my overseas colleagues to look for information on similar practices in other countries.
I want to ask you whether this practice exists in other countries; how providers can be convinced that such practice is not recommended; and what are the potential problems from a pharmacological and pharmacotherapeutic point of view?
I really need scientific bases to argue about such practice, and I hope you can help me.

Thanks,

Purnamawati Pujiarto (Wati)
Indonesia

URL : ISFINATIONAL.OR.ID

Obat Puyer Sudah Ditinggalkan di Negara Miskin

Sumber : OKezone

Amirul Hasan – Okezone

JAKARTA – Penggunaan obat puyer menjadi polemik di sejumlah negara. Di negara-negara miskin seperti Banglades dan negara-negara Afrika, penggunaan puyer sudah ditinggalkan karena banyaknya kelemahan.

“Di India populasinya sangat padat, jumlah pengunjungnya ke poliklinik lebih tinggi, tapi ternyata puyer tidak menjadi pilihan,” ujar dokter antipuyer, Purnamawati S Pujiarto sebagaimana dilansir Seputar Indonesia RCTI.

Berdasarkan catatan, ratusan tahun lalu puyer lahir karena ketersediaan obat untuk anak sangat terbatas. Untuk menyiasati keterbatasan ini, obat orang dewasa dihaluskan untuk menyesuaikan dosis anak yang lebih kecil sesuai berat badannya.

Namun seiring dengan perkembangan teknologi, puyer sudah mulai ditinggalkan. Selain ketersediaan obat jadi untuk anak sudah cukup tersedia, risiko yang ditimbulkan lebih banyak daripada manfaatnya.

Farmakalog Universitas Indonesia Riyanto Setiabudi mengatakan, meracik puyer sudah tidak dipelajari lagi calon dokter di bangku kuliah. Tapi karena tradisi, dokter senior pun belajar dengan dokter senior lainnya untuk meracik puyer ini.

Tradisi ini menjadi lingkaran setan karena masyarakat pun nampaknya lebih suka menggunakan puyer dengan alasan lebih manjur. “Pasien itu menjadi ’sesat’ karena didikan dokter itu kan, makannya sekarang dokter memiliki kewajiban untuk mengembalikan ke jalan yang benar,” ujar Riyanto. (kem)