Posts filed under 'PSIKOLOGI BAYI DAN ANAK'
Batita Kurang Gaul
Sumber : cyberjob.cbn.net.id
sumber : Mother And Baby
Saat batita lain mulai berteman dengan sebaya, ada batita yang lebih memilih bermain sendirian setiap saat.
Gadis tadinya mengira dengan memasukan puterinya Prilly (2,7 bulan) ke pre-school, Si Kecil berambut brindil itu akan lebih mudah berkawan. Ternyata hingga bulan ke-6 di pre-school tetap saja Prilly lebih suka bermain dan beraktivitas sendirian. Jarang ibunya melihat Si Kecil asyik bermain berdua teman sebaya atau sekedar berbagi ayunan. Sifat penyendiri atau soliter Prilly semakin mencolok ketika Septi membantu memasangkan si kecil dengan anak lain. Prilly tetap tidak menunjukkan minat menjalin persahabatan, malah semakin tenggelam dalam keasyikkannya sendiri.
Belum Prioritas
Semestinya ayah-ibu tak perlu kuatir jika batitanya belum menunjukan minat bergaul. Bagi kebanyakan anak seusia ini, berteman dengan anak sebaya lainnya ternyata belum menjadi prioritas. Mereka sudah cukup senang bermain sendirian di sebelah atau di dekat-dekat temannya, kok. Jadi tidak perlu bermain bersama dalam artian saling berinteraksi.
Orang dewasa pun kerap salah sangka. Jika menyaksikan dua batita yang kelihatannya sedang asyik bermain bersama, mereka kira dua batita itu benar-benar berkomunikasi dalam permainan. Padahal jika diperhatikan lagi, seringkali sesungguhnya hanya posisi dua batita itu saja yang berdekatan atau bersebelahan. Boleh jadi masing-masing ternyata tengah asyik dengan permainannya sendiri, bahkan mereka berada di dunia khayalan dan imajinasi yang berbeda dan terpisah.
Ada juga tipikal batita yang memang lebih memilih bermain bersama anak yang lebih besar atau bahkan orang dewasa, ketimbang sebayanya. Ini karena unsur persaingan menjadi lebih kecil. Mereka tak perlu bersaing untuk berebut mainan yang sama atau untuk menunggu giliran. Dengan kata lain, bermain bersama orang dewasa jauh lebih aman.
Pilihan untuk bermain sendiri ketimbang berkelompok juga dipengaruhi oleh karakter bawaan batita. Batita berkarakter sanguinist yang bercirikan sifat terbuka, senang berteman, periang, dan supel, tentu lebih mudah masuk ke dunia pergaulan teman sebaya ketimbang batita yang berkarakter melankolis yang tertutup, atau plegmatis yang lebih suka menjadi pengamat dari jauh ketimbang segera bergabung dalam hiruk-pikuk pertemanan.
Khusus menyoal sifat “senang mengamati”, sejumlah psikolog perkembangan menyatakan sebenarnya hampir setiap batita menghabiskan 20% waktunya untuk mengamati ketimbang ambil bagian dalam sesuatu. Mengamati bisa berarti memandangi kawan sebayanya bermain atau memandangi hiruk-pikuk anak bermain. Ketika batita menginjak usia dua tahun, waktu pengamatan berkurang menjadi 14% – dimana saat itu batita sudah mulai mau ambil bagian. Jadi sebenarnya setiap batita memiliki periode hanya menjadi pengamat dulu sebelum betul-betul bergaul. Namun perlu diketahui orangtua, mengamati bukan berarti tidak berpartisipasi. Justru pengamatan salah satu cara batita berperan serta dalam aktivitas lingkungan.
Selanjutnya, meski ada beberapa batita lebih ramah dan cepat terlibat dalam apa yang terjadi – permainan, percakapan, aktivitas – banyak juga yang perlu meluangkan waktu untuk terus mengamati dari luar sebelum mengambil tindakan. Ada juga yang sudah cukup puas memperhatikan dari jauh sehingga mereka tidak terlalu ingin bergabung dengan kelompoknya. Mereka memang anak-anak jenis pengamat.
Memang ada keuntungan lebih yang bisa diperoleh batita yang mulai bergaul dengan sebayanya di usia dini. Anak yang mudah berteman di usia ini, biasanya sudah mempunyai pengalaman sosial lebih baik ketimbang si soliter. Mereka lebih mudah bermain berpasangan, lebih cepat mendapatkan sahabat, juga memiliki kesempatan melatih diri mengatasi konflik di antara teman sebaya. Keuntungan lainnya adalah mereka akan terlatih menjadi pemain tim.
Dalam What to Expect the Toddler Years juga disebut batita yang mudah bergaul dengan teman sebaya umumnya memang telah dibiasakan untuk itu. Mungkin lantaran pernah menghabiskan waktu di tempat penitipan anak, serumah dengan beberapa kakak/adik atau sepupu, atau dibesarkan di keluarga besar. Sebaliknya, batita yang dibesarkan di keluarga kecil – hanya dengan ayah-ibu yang sibuk bekerja dan seorang baby sitter – ditambah jarang bepergian atau diperkenalkan kepada orang lain, mungkin tak akan secepat kawannya yang disebut di atas. Anak yang lambat atau susah berteman, dengan sendirinya perlu mendapatkan pengalaman sosial, bukannya dibiarkan tenggelam dalam kesendiriannya. Banyak hal bisa dilakukan orangtua untuk itu. Tapi sebaiknya jangan memaksa. Sangat wajar bila anak baru benar-benar siap bergaul dalam waktu 1-2 tahun mendatang setelah masa batitanya lewat.
BERTEMAN YUK, NAK…
Banyak orang yang semasa kanak-kanaknya susah berteman dan bergaul, akhirnya menjadi orang dewasa yang populer dengan segudang teman dan sahabat, sibuk dengan aktivitas sosial, menjadi anggota team work yag andal, dll. Kesempatan ini pun berlaku bagi si kecil yang selama ini agak tertinggal dalam dunia pergaulan. Memiliki anak soliter atau introvert bukan sesuatu yang mencemaskan sepanjang kita tahu cara menghadapinya.
1. Hindari pemaksaan. Ketimbang memaksa anak untuk berteman, lebih baik beri dukungan dengan membina ketrampilan sosialnya. Misal, mengajarkan mereka cara bersopan-santun, sifat tolong-menolong, berbagi, menunggu giliran, memberi dan meminta maaf, dll.
2. Jadilah temannya. Jika si kecil pemalu, maka ayah atau ibunya adalah teman pertama yang dapat membantunya berkawan. Sebaliknya jika si kecil agresif terhadap orang lain, kitalah yang memberitahu sikap seperti itu tidak disenangi anak lain. Bila kita ikut menjauhi si kecil, ia akan makin terbenam dalam kesendiriannya.
3. Ajak dan biarkan anak mengenali situasi. Kadang anak ingin mengenali situasi dulu sebelum memulai pertemanan. Apalagi kalau si kecil kebetulan tipe pengamat yang tidak begitu senang terlibat langsung dalam berbagai kegiatan. Bisa saja si kecil hanya mengamati dari jauh teman-teman barunya, sebelum akhirnya berani bergabung. Dan ini perlu waktu. Jadi berikan waktu khusus dan tak usah buru-buru.
4. Jadilah ‘penghubung’ atau ice breaker. Kalau si kecil susah berteman karena pemalu, kita bisa memberi usul. Misal, “Kayaknya temanmu X suka mainan ini, deh. Yuk kita tanya, mau nggak main sama kamu.”
5. Minta bantuan guru/instruktur kelas. Jika si kecil sudah tercatat sebuah kelompok bermain tetapi seringkali kesepian karena tak punya teman, jelaskan hal ini pada gurunya, dan mintalah bantuannya.
6. Libatkan diri dalam permainan. Jika si kecil masih susah juga berteman, kita bisa mengajaknya melakukan permainan atau kegiatan yang gembira. Lalu, ajak teman-temannya. Tetapi ini sebaiknya tidak dijadikan kebiasaan. Karena nanti anak tak pernah belajar membuka kontak sendiri.
7. Biarkan si kecil dengan kecepatan perkembangan sosialnya. Tidak masalah jika di usia batita anak hanya mau bermain dengan anggota keluarga saja. Toh, saat ini pun memiliki banyak teman sebaya belum begitu penting baginya. b Rahmi/Toddler Years
1 comment Agustus 11, 2009
Batita Kurang Gaul
sumber : Mother And Baby
Saat batita lain mulai berteman dengan sebaya, ada batita yang lebih memilih bermain sendirian setiap saat.
Gadis tadinya mengira dengan memasukan puterinya Prilly (2,7 bulan) ke pre-school, Si Kecil berambut brindil itu akan lebih mudah berkawan. Ternyata hingga bulan ke-6 di pre-school tetap saja Prilly lebih suka bermain dan beraktivitas sendirian. Jarang ibunya melihat Si Kecil asyik bermain berdua teman sebaya atau sekedar berbagi ayunan. Sifat penyendiri atau soliter Prilly semakin mencolok ketika Septi membantu memasangkan si kecil dengan anak lain. Prilly tetap tidak menunjukkan minat menjalin persahabatan, malah semakin tenggelam dalam keasyikkannya sendiri.
Belum Prioritas
Semestinya ayah-ibu tak perlu kuatir jika batitanya belum menunjukan minat bergaul. Bagi kebanyakan anak seusia ini, berteman dengan anak sebaya lainnya ternyata belum menjadi prioritas. Mereka sudah cukup senang bermain sendirian di sebelah atau di dekat-dekat temannya, kok. Jadi tidak perlu bermain bersama dalam artian saling berinteraksi.
Orang dewasa pun kerap salah sangka. Jika menyaksikan dua batita yang kelihatannya sedang asyik bermain bersama, mereka kira dua batita itu benar-benar berkomunikasi dalam permainan. Padahal jika diperhatikan lagi, seringkali sesungguhnya hanya posisi dua batita itu saja yang berdekatan atau bersebelahan. Boleh jadi masing-masing ternyata tengah asyik dengan permainannya sendiri, bahkan mereka berada di dunia khayalan dan imajinasi yang berbeda dan terpisah.
Ada juga tipikal batita yang memang lebih memilih bermain bersama anak yang lebih besar atau bahkan orang dewasa, ketimbang sebayanya. Ini karena unsur persaingan menjadi lebih kecil. Mereka tak perlu bersaing untuk berebut mainan yang sama atau untuk menunggu giliran. Dengan kata lain, bermain bersama orang dewasa jauh lebih aman.
Pilihan untuk bermain sendiri ketimbang berkelompok juga dipengaruhi oleh karakter bawaan batita. Batita berkarakter sanguinist yang bercirikan sifat terbuka, senang berteman, periang, dan supel, tentu lebih mudah masuk ke dunia pergaulan teman sebaya ketimbang batita yang berkarakter melankolis yang tertutup, atau plegmatis yang lebih suka menjadi pengamat dari jauh ketimbang segera bergabung dalam hiruk-pikuk pertemanan.
Khusus menyoal sifat “senang mengamati”, sejumlah psikolog perkembangan menyatakan sebenarnya hampir setiap batita menghabiskan 20% waktunya untuk mengamati ketimbang ambil bagian dalam sesuatu. Mengamati bisa berarti memandangi kawan sebayanya bermain atau memandangi hiruk-pikuk anak bermain. Ketika batita menginjak usia dua tahun, waktu pengamatan berkurang menjadi 14% – dimana saat itu batita sudah mulai mau ambil bagian. Jadi sebenarnya setiap batita memiliki periode hanya menjadi pengamat dulu sebelum betul-betul bergaul. Namun perlu diketahui orangtua, mengamati bukan berarti tidak berpartisipasi. Justru pengamatan salah satu cara batita berperan serta dalam aktivitas lingkungan.
Selanjutnya, meski ada beberapa batita lebih ramah dan cepat terlibat dalam apa yang terjadi – permainan, percakapan, aktivitas – banyak juga yang perlu meluangkan waktu untuk terus mengamati dari luar sebelum mengambil tindakan. Ada juga yang sudah cukup puas memperhatikan dari jauh sehingga mereka tidak terlalu ingin bergabung dengan kelompoknya. Mereka memang anak-anak jenis pengamat.
Memang ada keuntungan lebih yang bisa diperoleh batita yang mulai bergaul dengan sebayanya di usia dini. Anak yang mudah berteman di usia ini, biasanya sudah mempunyai pengalaman sosial lebih baik ketimbang si soliter. Mereka lebih mudah bermain berpasangan, lebih cepat mendapatkan sahabat, juga memiliki kesempatan melatih diri mengatasi konflik di antara teman sebaya. Keuntungan lainnya adalah mereka akan terlatih menjadi pemain tim.
Dalam What to Expect the Toddler Years juga disebut batita yang mudah bergaul dengan teman sebaya umumnya memang telah dibiasakan untuk itu. Mungkin lantaran pernah menghabiskan waktu di tempat penitipan anak, serumah dengan beberapa kakak/adik atau sepupu, atau dibesarkan di keluarga besar. Sebaliknya, batita yang dibesarkan di keluarga kecil – hanya dengan ayah-ibu yang sibuk bekerja dan seorang baby sitter – ditambah jarang bepergian atau diperkenalkan kepada orang lain, mungkin tak akan secepat kawannya yang disebut di atas. Anak yang lambat atau susah berteman, dengan sendirinya perlu mendapatkan pengalaman sosial, bukannya dibiarkan tenggelam dalam kesendiriannya. Banyak hal bisa dilakukan orangtua untuk itu. Tapi sebaiknya jangan memaksa. Sangat wajar bila anak baru benar-benar siap bergaul dalam waktu 1-2 tahun mendatang setelah masa batitanya lewat.
BERTEMAN YUK, NAK…
Banyak orang yang semasa kanak-kanaknya susah berteman dan bergaul, akhirnya menjadi orang dewasa yang populer dengan segudang teman dan sahabat, sibuk dengan aktivitas sosial, menjadi anggota team work yag andal, dll. Kesempatan ini pun berlaku bagi si kecil yang selama ini agak tertinggal dalam dunia pergaulan. Memiliki anak soliter atau introvert bukan sesuatu yang mencemaskan sepanjang kita tahu cara menghadapinya.
1. Hindari pemaksaan. Ketimbang memaksa anak untuk berteman, lebih baik beri dukungan dengan membina ketrampilan sosialnya. Misal, mengajarkan mereka cara bersopan-santun, sifat tolong-menolong, berbagi, menunggu giliran, memberi dan meminta maaf, dll.
2. Jadilah temannya. Jika si kecil pemalu, maka ayah atau ibunya adalah teman pertama yang dapat membantunya berkawan. Sebaliknya jika si kecil agresif terhadap orang lain, kitalah yang memberitahu sikap seperti itu tidak disenangi anak lain. Bila kita ikut menjauhi si kecil, ia akan makin terbenam dalam kesendiriannya.
3. Ajak dan biarkan anak mengenali situasi. Kadang anak ingin mengenali situasi dulu sebelum memulai pertemanan. Apalagi kalau si kecil kebetulan tipe pengamat yang tidak begitu senang terlibat langsung dalam berbagai kegiatan. Bisa saja si kecil hanya mengamati dari jauh teman-teman barunya, sebelum akhirnya berani bergabung. Dan ini perlu waktu. Jadi berikan waktu khusus dan tak usah buru-buru.
4. Jadilah ‘penghubung’ atau ice breaker. Kalau si kecil susah berteman karena pemalu, kita bisa memberi usul. Misal, “Kayaknya temanmu X suka mainan ini, deh. Yuk kita tanya, mau nggak main sama kamu.”
5. Minta bantuan guru/instruktur kelas. Jika si kecil sudah tercatat sebuah kelompok bermain tetapi seringkali kesepian karena tak punya teman, jelaskan hal ini pada gurunya, dan mintalah bantuannya.
6. Libatkan diri dalam permainan. Jika si kecil masih susah juga berteman, kita bisa mengajaknya melakukan permainan atau kegiatan yang gembira. Lalu, ajak teman-temannya. Tetapi ini sebaiknya tidak dijadikan kebiasaan. Karena nanti anak tak pernah belajar membuka kontak sendiri.
7. Biarkan si kecil dengan kecepatan perkembangan sosialnya. Tidak masalah jika di usia batita anak hanya mau bermain dengan anggota keluarga saja. Toh, saat ini pun memiliki banyak teman sebaya belum begitu penting baginya. b Rahmi/Toddler Years
Add comment Agustus 8, 2009
Aku Stress Bunda
Sumber : http://cyberjob.cbn.net.id
Mother And Baby
Siapa bilang anak kecil tidak bisa stress. Beban pelajaran yang berat, persaingan antar teman bahkan perceraian orang tua bisa memicunya. Mengenali gejala stress pada anak gampang-gampang susah. Apalagi buat orang tua sibuk yang jarang dirumah. Untuk itu, diperlukan strategi khusus menghadapinya.
Belakangan ini Ny. Renny sering melihat si sulung Vito (7 tahun) termenung sendiri rumah. Dia juga jadi sulit diajak bicara. Yang mengherankan lagi, setiap kali mengerjakan PR Vito seringkali bolak balik ke kamar mandi. Dalam hati Renny membatin, apakah buah hatinya mengalami stress? Masa sih, kecil-kecil sudah stress?
Menurut Henny Eunike Wirawan M.Psi, dosen psikologi di Universitas Tarumanagara, stress bukan cuma milik orang dewasa. Anak kecil juga bisa mengalaminya. Stress adalah respon terhadap tuntutan fisik atau psikologis. Respon ini sangat tergantung pada persepsi seseorang. Seberapa jauh ia merasa tertuntut dengan faktor tersebut. Misalnya persepsi terhadap beban belajar. Ada anak yang sudah merasakan stress dengan beban belajar tertentu, tapi anak lain belum tentu merasakannya.
Banyak faktor yang menyebabkan anak mengalami stress. Misalnya saja kejadian dalam keluarga. Pindah rumah, perubahan kerja, PHK pada orang tua, perceraian orang tua, atau kematian salah satu anggota keluarga adalah penyebab yang umum terjadi. Selain itu, PR yang bertumpuk, ulangan setiap hari, jam belajar terlalu panjang, reaksi guru dan teman sekolah, bahkan fasilitas sekolah yang terbatas, bisa membuat stress.
Anak usia sekolah dasar, sedang giatnya bergaul. Nah, pergaulan juga bisa buat stres lho. Misalnya tidak punya teman, keharusan mengikuti aturan kelompok sebaya, dan diskriminasi dalam pergaulan. Lingkungan fisik bisa jadi pemicu juga. Cuaca panas atau terlalu dingin, pencahayaan terlalu terang, bunyi terlalu bising, asap rokok ataupun polusi udara.
Namun, menurut Hanny, tidak hanya pengalaman yang bersifat negatif saja menjadi sumber stress. Pengalaman positif, misalnya: liburan , kenaikan kelas, kelahiran adik, atau kedatangan sanak keluarga misalnya. Beberapa anak, mungkin terlalu antusias menghadapinya sehingga respon fisik dan mentalnya tidak siap. Ada lho anak yang mendadak sakit perut hebat karena ayah bundanya memberi kejutan liburan keliling Eropa.
Daya Tahan Tubuh Menurun
“Tanda anak mengalami stress adalah kerentanannya terhadap penyakit dan beragam reaksi psikologis,” jelas Henny.Secara fisik anak stress tubuhnya tidak memiliki daya tahan yang cukup sehingga mudah terasa pegal dan pusing, sakit perut, lemas bahkan pilek. Secara psikologis ia terlihat mudah marah, gampang menangis, pencemas, gugup,dan gelisah. Adakalanya ia mengalami kesulitan untuk tidur dan terjadi perubahan pola makan. Prestasi belajar pun biasanya menurun.
Anak biasanya sulit mengkomunikasikan pada orang tua tentang masalahnya. Bahkan sebagian dari mereka tidak tahu apakah dirinya sedang bermasalah. Terutama untuk anak yang baru duduk di bangku kelas satu atau kelas dua. Sepatutnya orang tua yang menjadi detektif, mencari tahu apa yang sedang terjadi. Seringkali karena kesibukannya, orang tua hanya mendengar laporan perilaku anak dari pengasuhnya.
Orang Tua Pemicu Stress
Stress pada anak bisa dipicu orang tua lho. Pengamatan anak terhadap tingkah laku orang tua dalam menghadapi tekanan hidup melatihnya untuk belajar menangapi situasi yang tengah dialaminya sendiri. ” Jika orang tua yang pencemas dan cepat bereaksi dengan panik membuat anak mudah melakukan hal serupa bila menghadapi persoalan,” papar Henny.
Stress juga dipengaruhi oleh ketangguhannya dalam menghadapi persoalan. Biasanya anak yang tangguh lebih mampu berhadapan dengan tekanan hidup dan tidak mudah patah semangat dalam menyelesaikan persoalan. Hal ini tergantung dari pola asuh. Sebab ketangguhan anak juga dipengaruhi oleh dukungan orangtuanya. Sebaiknya ia dilatih melihat hidup sebagaimana adanya. Ada saatnya susah, ada juga saatnya senang. Latihlah mereka mengenal emosinya.
Evaluasi Faktor Penyebabnya
Stres pada anak dapat diatasi dengan mengevaluasi faktor-faktor penyebabnya. Jika stress disebabkan oleh tugas sekolah, ada baiknya orang tua melakukan kontak dengan guru di sekolah untuk memperjelas persepsi mengenai beban yang dialami anak. Menurut Hennya orang tua juga bisa berbagi pengalaman mengenai proses pengerjaan tugas atau alokasi waktu yang menjadi beban anak.
Menjalin komunikasi dengan guru sangat membantu dalam memantau perkembangan anak di sekolah. Selain itu, pertemuan dengan orang tua murid lainnya bisa membuka wawasan. Apakah yang terbebani hanya anaknya saja atau semuanya mengalami masalah serupa. Jika itu yang terjadi, usulkan supaya sekolah mengurangi beban anak. Tapi bila yang terbebani hanya anak tertentu, Mungkin ia harus dipindahkan ke sekolah lain yang lebih ringan bebannya. Karena itu, sebelum memasukkan anak ke suatu sekolah ada baiknya orang tua mengetahui dengan jelas program yang ditawarkan berikut aktivitasnya.
Tanda-Tanda Anak Stres
1. Mengalami gangguan makan , tidak mau makan, malas makan, rewel, makan cuma sedikit
2. Mengalami gangguan tidur, sering terbangun saat malam, gelisah, ngompol
3. Mengalami gangguan fisik, sakit perut, pusing, sakit kepala, alergi
4. Muncul gejala agresivitas, keras kepala, sering marah-marah
5. Menutup diri, enggan bergaul, mogok sekolah, murung dan cengeng
6. Melakukan kebiasaan tak lazim misal mencabuti rambut, menggigit kuku, kembali menghisap jempol.besi.
Penyebab Stress
Di Rumah :
• Sering melihat orang tua bertengkar
• Sering dipotong saat bicara, disuruh diam
• Kurang perhatian orang tua
• Jika menangis langsung diomeli
• Punya adik baru
• Pindah rumah, masuk ke lingkungan baru
• Takut penjahat
• Takut monster atau hantu (biasanya sehabis menonton filmnya)
Di Sekolah atau Pergaulan
• PR terlalu banyak
• Ada guru yang ditakuti
• Terasing, tidak diajak bermain oleh kawan
• Diejek teman, dan sering dianggap lemah
• Dimusuhi kawan
• Mengalami peristiwa kecelakanan , hura-hura dan perampokan.b esi
Add comment Agustus 5, 2009
Anak Terlambat Bicara
sumber : milist SEHAT
oleh : Ibu Julia Maria
sekalipun anak hanya mengalami keterlambatan bicara karena perkembangannya sendiri, tetap memerlukan perhatian, sebab kini sudah diketahui bahwa anak-anak tersebu akan mengalami kesulitan di sekolah, dan setengah populasi disleksia (learning disabilities) mempunyai riwayat terlambat bicara).
Tentang perkembangan bicara dan bahasa sebetulnya sudah mulai diperhatikan sejak anak masih bayi. Jika anak kurang babbling, kemungkinan bisa juga kelak mengalami gangguan perkembangan bicara.
Tetapi bagaimana anak bisa sampai terlambat bicara?
1. Karena sajian bahasa yang kurang.
- orang tua kurang aktif, sajian kurang memadai
- sakit lama atau sakit yang mempengaruhi pendengaran
- penggunaan multibahasa
2. Karena kondisi anak
a. mempunyai perkembangan yang berbeda (ahli speech patologi
menyebutnya Specific Language Impairment/SLI, neurolog menyebut
dysphasia atau gangguan perkembangan bicara dan bahasa ekspresif)
inteligensi tidak terganggu, prognosis sangat baik, kelompok
ini tidak mengalami gangguan neurologis;
b. gangguan majemuk autisme
c. retardasi mental
d. tuli
e. adanya gangguan di pusat pendengaran di otak
f. kemunduran yang tidak diketahui sebab-sebabnya
Sebelum kita menetapkan apakah anak kita mengalami keterlambatan bicara, faktor2 yang tidak berpengaruh disingkirkan dahulu.
- Pertama ke dokter ahli THT/audiologi untuk memastikan bagaimana pendengaran anak. Sebab ada yang nampaknya tidak tuli, tetapi ternyata ia tidak dapat mendengar nada-nada tertentu, dengan begitu ia juga mengalami kesulitan belajar bicara. Karena itu setiap anak yang mempunyai masalah bicara perlu ke dokter THT/audiologi.
- Dokter tumbuh kembang, untuk melihat bagaimana perkembangan kognitifnya. hal ini penting. Sebab kelompok a) yang tidak mengalami gangguan perkembangan kognitif, akan mempunyai prognosa yang paling baik. Setiap kelompok mempunyai cara tersendiri dalam melakukan stimulasi/intervensi.
Jika anak mempunyai perkembangan senso-motorik yang baik, bisa diajak bercanda (emosinya baik), bisa berbahasa monyet (simbolik) artinya prognosanya baik. Kelompok ini merupakan kelompok a).
Tetapi jika tidak bisa diajak bercanda, tidak bisa brbahasa monyet, maka pperlu konsultasi ke psikiater, kemungkinan autisme.
Perkembangan senso-motorik kurang, emosi baik, kemungkinan disebabkan oleh gangguan perkembangan inteligensi.
- neurolog, untuk melihat kemungkinan apakah ada gangguan neurologis.
Kapan anak dianggap terlambat bicara.
Jika anak di usia 2 tahun belum dapat berkomunikasi timbal balik dengan kalimat terdiri dari 2 kata. Jika dalam pemeriksaan tumbuh kembang tidak terdapat hal yang mencemaskan, maka anak perlu stimulasi hingga usia tiga, kemudian dievaluasi lagi. Jika belum menunjukkan kemajuan, lakukan terapi wicara yang tepat sesuai dengan kondisinya. Kalau bukan autis, ya jangan diterapi ala autis. Bukan tuli jangan diterapi ala tuli.
BAGAIMANA ANAK BELAJAR BICARA
(saya kopi paste artikel lama yang pernah saya kirim di milis ini)
1. Aspek Semantik (arti bahasa).
Bila seorang anak akan mengatakan atau memahami sesuatu, ia harus mempunyai daftar kata-kata atau vokabulari yang cukup memadai, yang dengan kata lain kita bisa mengatakan bahwa:
- si anak mempunyai cukup kata-kata agar bisa memproduksi dan memahami (bahasa aktif dan pasif);
- menemukan kata-kata yang tepat (memanggil kata dari daftar memori);
- memahami apa yang diucapkan (pengertian kalimat).
Seorang anak kecil belajar berbicara mula-mula adalah dengan cara menunjuk berbagai benda-benda yang ada di sekitarnya atau kata kerja yang harus digunakannya. Menunjuk benda-benda yang dapat dilihatnya (kursi, meja, makan, boneka dlsb), atau kata yang dapat menunjukkan pada pengertian tempat “disini” atau “sekarang”.
Daftar kata-kata ini akan segera meningkat tanpa batas. Namun bisa diperkirakan bahwa seorang anak pada usia dua tahun setidaknya memerlukan 270 kata, 900 kata di usianya yang ketiga, dan sekitar 2500 hingga 4000 kata di usianya yang ke enam. Walau begitu seorang anak sebetulnya mempunyai lebih banyak lagi kata-kata (daftar kata-kata yang pasif) daripada yang bisa ia produksi (sebagai daftar kata aktif). Daftar kata pasif seorang anak berusia enam tahun bisa dua kali lipat banyaknya dibanding dengan daftar kata aktif yang dimilikinya. Dengan kata lain anak berusia tiga hingga lima tahun akan mengalami kesulitan memanggil kata-kata yang berada di dalam memorinya; seringkali sulit menggunakan kata pada tempat dan waktu yang tepat. Kadang terjadi seorang anak akan membuat kata-kata sendiri (neologis), atau bicaranya kacau, sepotong-sepotong, dan diulang-ulang.
2. Pembentukan bahasa.
Bagaimana sebuah kata atau kalimat dibentuk? Aspek pembentukan kata dan kalimat seperti yang kutuliskan di atas akan menyangkut pada tiga bagian aspek yaitu:
a. aspek fonologis
Anak kita harus bisa belajar menggunakan dan mengucapkan bunyian dengan cara yang benar. Artinya bahwa bicara mempunyai kaitan dengan aspek fonologis ini. Bila seorang anak mengalami gangguan fonologis ini, maka kelak ia akan mengalami masalah dalam bahasa dan bicara. Di usia kira-kira lima bulan, refleks oral (mulut) seperti misalnya refleks menghisap (untuk menyusu) akan hilang, berganti dengan gerakan-gerakan yang baik dengan lidahnya, bibirnya, suara decak halus, rahang bawah, dan tenggorokan. Ia juga belajar membedakan bunyian dan mengingatnya sebagai bunyian tertentu. Apabila ia mendenger bunyian itu kembali, maka ia bisa mengenalnya kembali, serta menggunakannya untuk tujuan tertentu. Pada akhirnya kemudian ia bisa berbicara dengan tujuan tertentu: misalnya mengucapkan kata mama akan berbeda artinya jika mengucapkan maem atau makan. Pada akhir tahun pertama umumnya anak-anak mempelajari bunyian dengan pola bunyian yang sama. Pada akhir tahun kedua ia mulai bisa mengucapkan kata-kata berupa beberapa suku kata dengan baik karena kontrol otot-otot sudah semakin baik, yaitu otot lidah, bibir dan langit-langit. Dan juga ia sudah mampu mendengarkan dengan baik. Tinggal beberapa kata seperti s/l/r/ barulah akan dikuasai dengan baik di usianya yang kelima atau keenam.
Sekalipun seorang anak bisa mengucapkan bunyian dengan baik, bukan berarti ia akan bisa juga dengan baik mengucapkan kata-kata. Ia masih harus belajar lebih banyak lagi untuk mengucapkan kata-kata dengan baik, sehingga tidak meletakkan bunyian itu di tempat yang salah. Misalnya pabrik menjadi perabik. Lokomotip menjadi molokotip. Baru pada usia enam tahun, kita boleh mengharapkan bahwa seorang anak haruslah sudah bisa dengan baik mengucapkan urutan bunyian itu dengan benar, menjadi sebuah kata yang mempunyai makna.
b. aspek morfologis
Dengan cara yang tepat anak mempelajari sebuah kata dan mengubahnya dengan cara yang benar, yaitu:
- penggunaan kata-kata jamak
- penggunaan awalan dan imbuhan
- penggunaan kata yang memberi penjelasan pertambahan dan perbedaan
- penggunaan kata kerja
Pada anak usia empat tahun biasanya sudah bisa menggunakan bentuk kata jamak secara baik tanpa kesalahan, penggunaan imbuhan, pertambahan – perbedaan, dan kata kerja.
c. aspek sintaksis
Dalam fase ini anak akan belajar membangun kalimat dengan baik.
- ia akan berbicara dengan urutan kata-kata secara benar dalam sebuah kalimat
- kalimat dalam bentuk lengkap, dan tidak ada kata yang tertinggal
- ia memahami berbagai perbedaan muatan kalimat misalnya kalimat bertanya, kalimat berempati, kalimat mengharap, atau kalimat menyangkal.
Anak yang mengalami masalah dalam siktaksis akan berkata misalnya: “Kabel sudah telepon rusak”, yang seharusnya diucapkan: “Kabel telepon sudah rusak.” Atau “Mau minum.” Seharusnya: “Saya mau minum.”
3. Penggunaan bahasa, aspek pragmatik
Dalam hal ini si anak akan menggunakan bahasa dalam konteks yang tepat dan untuk apa. Beberapa contoh yang berkaitan dengan aspek pragmatik:
- Bila ada seseorang tengah berbicara, maka ia tidak akan berbicara secara bersamaan, tetapi menunggu seseorang tadi selesai bicara.
- Ia menjawab apa yang ditanya teman bicaranya, misalnya:
. Pada pertanyaan : “Apakah engkau akan menggunakan jaket? ” ia menjawab :
“Tidak saya merasa cukup hangat”. Jawaban ini cocok dengan pertanyaannya.
. Seorang anak bercerita bahwa saat berulang tahun ia diajak berenang oleh orang
tuanya, temannya
bereaksi: “Tadi pagi saya melihat anjing besar sekali?” Reaksi ini
tidak sesuai dengan apa yang menjadi topic bicara.
. Kita bertanya pada anak kita: “Apakah engkau sudah mengikat tali sepatumu?” Lalu dijawab oleh anak kita: “Saya baru saja makan es krim.” Jawaban ini secara Pragmatik menjawab tidak pada konteks yang benar.
Mieke Pronk-Boerma juga membagi periode perkembangan bicara menjadi periode pra-verbal dan periode verbal. Periode pra verbal menurutnya merupakan periode yang sangat penting, yang dibaginya menjadi:
- minggu ke 0 – 6 : menangis
- minggu ke 6 hingga bulan ke 4 : vokalisasi : ah, uh
- bulan ke 4 – 8 : babbling atau mengoceh (bunyian vocal terus menerus), misalnya: gagaggagagag….aaaaaa,…..tatatatatatata. Pada periode ini bunyi bahasa ibu juga diproduksinya. Si anak juga akan mengikuti apa yang ibu ucapkan, sambil ia mengikuti ucapan ibu atau pengasuhnya, segera ia akan mengucapkan papa, mama. Seorang bayi yang tuli, juga akan melakukan babbling ini, tetapi kemudian akan berhenti di usianya yang ke 8 -9 bulan.
- Bulan ke 8 – 12: social babbling, yaitu mengocah dengan cara dimana
- pola bunyian dari sekitarnya akan diambil alihnya, ia juga akan melakukan imitasi pola bunyian kalimat. Pola bunyian yang tidak termasuk dalam bahasa ibu akan segera hilang. Kemudian anak akan mendengarkan, mengoceh dan mengikuti, terus menerus hingga terjadilah pemahaman terhadap kata-kata, dan penggunaan kata-kata; pemahaman kata akan dengan sendirinya kemudian diucapkannya. Dalam periode ini muncul bentuk yang disebut echolalia yaitu si anak hanya mengulang apa kata pengasuh tanpa kata-kata tersebut mempunyai maksud tertentu atau tanpa arti apa-apa.
Periode verbal mempunyai beberapa fase yaitu:
- bulan ke 12 – 15 : yang merupakan fase kalimat dengan satu kata. Misalnya seorang anak mengatakan: “Mobil!” Maksudnya adalah: “Saya minta sebuah mobil!” atau: “Beri saya mobil itu!” atau: “Itu mobil bagus!” dan sebagainya. Si anak akan menanyakan nama-nama segala sesuatu dengan cara menunjuk-nunjuk dan dengan cara tertentu ia menyebutkannya kembali. Si anak belum menyangkal dengan kata, tetapi sudah membuat gerakan menggeleng dengan kepala.
- Bulan ke 15 – 2 tahun: fase kalimat dengan dua kata. Seorang anak usia dua tahun biasanya sudah mempunyai 270 kata. Ia juga bertanya dengan intonasi bertanya. Ia mulai menyangkal dengan kata-kata. Banyak kata-kata yang masih terpotong , misalnya “minum” menjadi “mium”.
- Usia 2 – 3 tahun: yang merupakan fase kalimat dengan banyak kata. Kalimat terdiri dari kata benda dan kata kerja. Apa yang diucapkan lebih kepada arti atau maksud kalimat yang diucapkan, namun belum dalam bentuk kalimat yang benar. Tetapi dalam usia ini daftar kata yang dimiliki akan meningkat dengan pesat. Suku kata akan diucapkan dengan lebih baik. Ia juga mulai menggunakan bentuk kamu-dan saya. Kadang ia masih menggunakan bentuk –kamu jika berkata pada dirinya sendiri. :”Mana bonekamu? ” padahal maksudnya: “Dimana boneka itu saya taruh?”
- Usia 3 – 4 tahun: si anak akan banyak mengerti berbagai hal, dan banyak bercerita. Ia juga sudah bisa mengucapkan bunyian berbagai huruf kecuali /s/l/r. Juga masih ada beberapa kesalahan dengan pengucapan kata sambung, tetapi sudah bisa berbicara dengan aturan sebuah kalimat termasuk urutan kata, imbuhan, dan pemotongan kalimat. Kata jamak juga bisa dibentuk. Seringkali masih ada kata-kata yang diulang –ulang karena berpikir baginya lebih cepat daripada mengucapkan kalimat. Nampaknya seperti seorang anak yang gagap, tetapi sebetulnya bukan.
- Usia 4 – 6 tahun: Di usia enam anak-anak ini akan semakin baik mengucapkan berbagai huruf, juga untuk huruf-huruf yang sulit seperti s dan r. Ia juga semakin membaik dengan aturan pembuatan kalimat, termasuk juga penggunaan kata penghubung: dan, tapi, atau, karena, sebab… dlsb. Dalam usia ini anak juga mulai dengan menyampaikan pemikiran dari abstraksinya.
Sumber: Mieke Pronk-Boerma (1994): Logopedie voor onderwijs gevenden, H Nelissen, Baarn
Add comment Juni 26, 2009
Ways to Build Character in Children
source : http://childparenting.about.com/od/emotionaldevelopment/a/charactered.htm
by Kimberly L. Keith
for About.com
Structured character education has flourished as schools seek to instill the values of integrity, respect, responsibility, fairness, honesty, caring, and citizenship in their students to strengthen the social fabric of the school and community. Though not without criticism, these efforts to strengthen children’s character through school-based programs are welcomed by parents who want their children educated in a strong culture of respect, integrity, and self-control.
Children’s character development certainly can’t come from the classroom alone. The qualities of character develop through an interplay of family, school, church, and community influences, and the child’s individual temperament, experiences, and choices. What can parents do to encourage their child’s development of the qualities of good character? We have many opportunities and tools for this important task. Using them will give us the joy and satisfaction of seeing our child grow into a person of integrity, compassion, and character.
Social Learning – A Family Culture of Character
Parents who exhibit the qualities of good character powerfully transmit their values by modeling the choices and actions that are essential to being a person of good character. Are we honest, trustworthy, fair, compassionate, respectful, involved in the greater good of our family and community? How do our children know this? They see it in our everyday actions and choices. They see that it brings a sense of joy, satisfaction, and peace to their family life. Children also learn that when they violate these guiding ethics, parents will implement consequences with fairness and dignity.
In her books on moral development in children, Michelle Borba teaches that the first step is empathy. Empathy is the necessary condition in the parent-child relationship that allows us to teach all of the other character values to our children. When our children feel that we understand and care about them deeply, they have the intrinsic motivation to learn the lessons of love and character we share.
Direct Instruction – Teachable Moments to Build Character
Discipline strategies are an important tool to use teachable moments to build character. We should always take the opportunity to explain why our child’s behavior is wrong when we correct him. Make a habit of identifying in your own mind the value you wish to teach the child based on the particular behavior. Choose a consequence that is appropriate to teach that value. One natural consequence that we can use is to ‘make amends’. For example, dishonesty is best resolved when we confess and are held accountable. Sometimes an apology to the person wronged is enough; other times we must take action to right the wrong. Brief, but direct instruction about why we have a family rule and the underlying value we hold helps the child learn from consequences and discipline.
Story Telling – Learning Qualities of Character from Literature and Life
Parents and teachers used stories to teach moral lessons long before the books were invented; and if you think about it, we still do. As we tell the stories of our lives and the world around us, we convey lessons of virtue and ethics to our children. Discussions about the stories we see on TV are opportunities to reinforce our values. Listening and responding to our child’s stories about school and peers, we can help them think through the right thing to do. Being mindful of our children listening to the stories we tell other adults, we teach that our values guide all aspects of our life.
Children’s literature abounds with great books that illustrate important values. Great books reach the inner child and teach their lessons without the parent’s interpretation or instruction. About Children’s Books will guide you to finding some good children’s literature choices that teach character. Sharing real-life stories from the news and internet with our children inspires us all to pursue our values in life.
Experiential Learning – Practicing Qualities of Character
We know from education models that we must practice what we learn before it comes naturally to us. We can learn vicariously when we see it and learn directly when we hear it. But, we need to do it and feel it to know the true meaning of character in our selves. We can use opportunities for decision-making to help our child take ethical action and see the positive results in their daily lives. We can also find opportunities to be involved in social and community action that is accessible for our children. Find ways for your children to learn altruism through good deeds.
Add comment Mei 6, 2009
Berkomunikasi dengan Anak, Sulitkah?
Sumber : Kompas l Minggu, 2 Maret 2008 | 17:55 WIB
Oleh : Sawitri Supardi Sadarjoen
KEBANYAKAN orangtua berpendapat, kalau anaknya pendiam atau sibuk bermain sendiri, berarti anaknya manis, penurut, mandiri, dan tidak perlu mendapat perhatian khusus.
Sementara kebanyakan orangtua yang disibukkan oleh anak yang sangat rewel, sering memberi sebutan anak itu nakal, banyak maunya, dan tidak menurut.
Terhadap anak yang pendiam, mandiri, dan selalu menyiapkan keperluan sekolah sendiri, orangtua merasa segala hal sudah tercukupkan karena anak tersebut memang pada dasarnya anak manis yang penurut dan tahu akan kewajibannya.
Namun, dapat terjadi orangtua dikejutkan perilaku anak yang semula manis, penurut, dan tahu kewajiban tersebut tiba-tiba mogok sekolah, tidak kooperatif, serta menunjukkan sikap melawan orangtua. Apa pun yang disarankan orangtua seolah mental dan tidak berpengaruh. Anak jadi mengurung diri dan baru keluar kamar bila lapar atau perlu ke kamar mandi.
Orangtua menjadi bingung. Anak dimarahi dan dibentak dengan ungkapan, “Ngomong dong, ada apa, kenapa enggak mau sekolah!” Bahkan dipukul sekalipun anak bergeming, malahan bisa mengatakan, “Bunuh saja saya sekalian.” Walaupun, setelah beberapa saat anak akhirnya mau membuka mulut, menceritakan sepintas kenapa dia mogok sekolah.
(lagi…)
Add comment November 22, 2008
Membentuk Anak Mandiri
Kemandirian bukanlah keterampilan yang muncul tiba-tiba tetapi perlu diajarkan pada anak. Tanpa diajarkan, anak-anak tidak tahu bagaimana harus membantu dirinya sendiri. Kemampuan bantu diri inilah yang dimaksud dengan mandiri. Kemandirian fisik adalah kemampuan untuk mengurus dirinya sendiri. Sedang kemandirian psikologis adalah kemampuan untuk membuat keputusan dan memecahkan masalah sendiri.
Ketidakmandirian fisik bisa berakibat pada ketidakmandirian psikologis. Anak yang selalu dibantu akan selalu tergantung pada orang lain karena merasa tidak memiliki kemampuan untuk mengurus dirinya sendiri. Akibatnya, ketika ia menghadapi masalah, ia akan mengharapkan bantuan orang lain untuk mengambil keputusan bagi dirinya dan memecahkan masalahnya.
Menurut Dra. Mayke Sugianto Tedjasaputra, M.Si., dosen Psikologi Perkembangan Universitas Indonesia Jakarta, ada beberapa faktor yang mempengaruhi kemandirian anak :
1. Faktor bawaan.
Ada anak yang berpembawaan mandiri, ada yang memang suka dan menikmati jika dibantu orang lain
2. Pola asuh.
Bisa saja anak berpembawaan mandiri menjadi tidak mandiri karena sikap orang tua yang selalu membantu dan melayani.
3. Kondisi fisik anak.
Anak yang kurang cerdas atau memiliki penyakit bawaan, bisa saja diperlakukan lebih “istimewa” ketimbang saudara-saudaranya sehingga malah menjadikan anak tidak mandiri.
4. Urutan kelahiran.
Anak sulung cenderung lebih diperhatikan, dilindungi, dibantu, apalagi orang tua belum cukup berpengalaman. Anak bungsu cenderung dimanja, apalagi bila selisih usianya cukup jauh dari kakaknya.
Untuk mengajarkan anak menjadi mandiri, sangat penting bagi orang tua untuk tidak memberikan bantuan dan perlindungan yang berlebihan kepada anak. Menurut Dra. Tjut Rifameutia Ali-Napis, M.A, dosen Psikologi Pendidikan dari Universitas Indonesia, bantuan berlebihan bisa mensugesti anak bahwa ia tidak mampu melakukan sesuatu sendiri.
Ada dua alasan yang menyebabkan orang tua cenderung memberikan bantuan dan perlindungan berlebihan. Yang pertama karena khawatir. Padahal, orang tua yang terlalu khawatir akan membatasi anak untuk mencoba kemampuannya.
Bila perlindungan berlebihan berlanjut terus sejalan dengan bertambahnya usia anak, maka anak akan selalu mengharapkan bantuan orang lain setiap kali ia menghadapi masalah.
Alasan kedua, karena orang tua tidak sabar. Ketimbang menunggu anak berusaha memakai sepatunya sendiri, orang tua cenderung lekas membantu agar cepat selesai. Akibatnya, anak tidak memperoleh kesempatan untuk mencoba.
Belajar mandiri memerlukan bantuan dan bimbingan orang tua. Hasilnya akan nampak bila orang tua rajin dan konsisten memberikan stimulus. Kemandirian hanya bisa dicapai melalui suatu tahapan yang sesuai dengan perkembangan usia anak. Misalnya, anak usia 6 tahun tidak bisa begitu saja dapat makan sendiri bila tidak pernah diberi kesempatan memegang sendok sejak usia 18 bulan.
Oleh karena itu, latihan kemandirian mesti dimulai sejak dini sesuai dengan usianya. Orang tua tidak dapat hanya mengandalkan sekolah untuk menempa anak menjadi mandiri, karena anak lebih banyak menghabiskan waktu di rumah ketimbang di sekolah.
Untuk dapat mengukur kemandirian anak, maka diperlukan pengetahuan mengenai kemampuan apa saja yang bisa diajarkan padanya. Bila kemampuan-kemampuan itu belum dikuasai pada usia yang seharusnya, maka si anak bisa dikategorikan tidak mandiri. Anak usia SD masih disuapi dan dimandikan, misalnya, bisa disebut sebagai anak yang tidak mandiri.
PENILAIAN TINGKAT KEMANDIRIAN SESUAI USIA DAN STIMULUS YANG PERLU DIBERIKAN
Diperlukan ketekunan dan kesabaran orang tua untuk melatih anak menjadi mandiri sesuai usianya. Perlu diingat, keberhasilan yang dicapai anak pada tiap tahapan usia akan berbeda-beda, sesuai stimulus yang diberikan kepadanya.
BAYI
Menurut Dra. Michiko Mamesah, M.Psi dari Universitas Negeri Jakarta, sejak usia 4 bulan bayi sudah bisa diajar beraktivitas menggunakan tangan sebagai dasar keterampilan membantu diri.
1. Meraih dan memasukkan makanan (mulai usia 6 bulan)
Stimulus : letakkan biskuit di piring atau acungkan ke depan bayi. Usahakan terlihat oleh bayi sehingga ia akan berusaha meraihnya.
2. Memegang gelas dan meminum isinya (mulai usia 9 bulan)
Stimulus : sediakan cangkir bergagang dari plastik atau melamin. Isi dengan sedikit air dan biarkan bayi meraih sendiri dan meminum isinya. Biarkan bila ada yang tumpah atau berceceran di baju. Melalui dua aktivitas ini, bayi akan belajar bahwa ia dapat memenuhi kebutuhan dasarnya sendiri, yaitu makan dan minum tanpa bantuan orang lain.
3. Merentangkan tangan dan kaki saat mengenakan pakaian (mulai usia 10 – 11 bulan)
Stimulus : katakan,” Adek, Mama pakaikan baju ya.. Ayo angkat tangannya..”. Ulanglah kalimat tersebut sampai anak mau mengikutinya. Bayi akan belajar bahwa ia dapat melakukan sesuatu untuk memudahkan kita saat membantunya berpakaian.
4. Melepas topi dan kaus kaki (mulai usia 11 – 12 bulan)
Ini adalah dasar kemampuan anak untuk melepas pakaian.
Stimulus : berikan contoh bagaimana cara melepas topi atau kaus kaki. Coba untuk memasangkan topi atau kaus kakinya lagi. Umumnya anak akan mencoba melepaskan karena rasa ingin tahu yang besar. Lakukan berulang-ulang agar anak mendapat banyak kesempatan untuk mencoba.
5. Melakukan dua tugas sekaligus (mulai usia 12 bulan)
Stimulus : berikan biskuit, biarkan ia meraih dengan salah satu tangan. Lalu berikan mainan, biarkan ia meraih dengan tangan yang masih kosong. Bila ia memasukkan mainan, beri tahu ia bahwa mainan tidak boleh dimasukkan ke mulut, sedangkan biskuit boleh. Kemampuan seperti ini akan menjadi dasar yang membuat anak bisa melakukan beberapa pekerjaan sekaligus.
ANAK USIA 1 – 3 TAHUN
Menurut Dra. Michiko Mamesah, M.Psi dari Universitas Negeri Jakarta, anak usia di atas satu tahun sudah memiliki lebih banyak kemampuan untuk menolong dirinya sendiri. Berbagai kemampuan motorik dan interaksi dengan lingkungan juga sudah lebih berkembang.
1. Minum dari gelas tanpa bantuan (mulai usia 15 bulan)
Stimulus : berikan gelas platik berisi air yang tidak terlalu penuh. Minta anak memegang sendiri dengan tangannya. Biarkan ia melakukannya sambil berdiri atau berjalan. Ganti jenis gelas (gelas bergagang dan tidak bergagang) untuk melatih motorik halusnya.
2. Memakai sendok untuk makan (mulai usia 18 bulan)
Stimulus : berikan sendok dan piring berisi makanan porsi kecil dan biarkan anak mencoba menyuap sendiri makanannya. Maklumi bila makanan masih tumpah dan berhamburan.
3. Membuka sepatu, celana dan baju sendiri (mulai usia 2 tahun) serta ristleting (mulai 3 tahun)
Stimulus : awali dengan melatih anak membuka sepatu tak bertali atau kaus singlet yang mudah dilepas. Tunjukkan cara menarik sepatu dari telapak kaki atau menarik kaus ke atas kepala. Ulangi contoh bila anak masih mengalami kesulitan. Bila anak sudah mahir, tingkatkan dengan baju berkancing. Ajari cara membuka dan menutup ristleting dengan hati-hati. Bila anak masih ragu, tunggu sampai ia bisa melakukan dengan benar sehingga terhindar dari trauma akibat terjepit ristleting.
4. Meraih gelas di atas meja dan meneguk minuman (mulai usia 2 tahun)
Stimulus : letakkan gelas berisi minuman dalam jangkauan anak, sehingga ia bisa memenuhi kebutuhannya sendiri saat ia merasa haus. Bila sudah mahir, tingkatkan dengan memberinya contoh cara menuang air dari teko atau memencet tombol dispenser. Pada tahap ini, orang tua perlu berhati-hati ketika meletakkan minuman panas di atas meja dan disarankan mematikan tombol air panas pada dispenser.
5. Membuka pintu (mulai usia 2 – 2.5 tahun)
Stimulus : umumnya anak lebih mudah belajar dengan pengangan pintu bertangkai ketimbang bulat. Setiap anak akan keluar kamar, berikan contoh bagaimana cara memutar dan menarik gagang pintu, sambil dijelaskan dengan kata-kata sederhana. Letakkan tangan anak pada pegangan pintu dan bantu ia memutar ke arah yang benar.
6. Mengatakan ingin buang air (mulai usia 2 – 2.5 tahun)
Stimulus : cermati kebiasaan anak sebelum BAK dan BAB. Bila Anda melihat dorongan ingin BAK atau BAB, tanyakan kepadanya. Dorong ia untuk mengungkapkan kenginan tersebut. Ajak ia ke kamar mandi, dan jelaskan bahwa BAK dan BAB hanya dilakukan di kamar mandi meskipun si kecil belum bisa melakukannya sendiri.
Pada tahapan usia ini, sangat penting bagi orang tua untuk tidak memberikan bantuan dan perlindungan yang berlebihan. Ketika anak berusia 1.5 tahun, ia akan mulai menjelajah, menantang dirinya sendiri melakukan sesuatu yang sulit seperti menaiki tangga atau memasuki lorong sempit. Tidak seperti tahapan usia sebelumnya, dimana apapun yang dilakukan anak ditentukan oleh orang tua atau pengasuh, pada usia ini anak mulai memiliki kemauan untuk melakukan apa yang diinginkannya. Bila ia ternyata bisa melakukannya, akan timbul rasa memiliki kemampuan. Apalagi bila saat itu orang tua memberinya pujian, ia akan merasa bangga dan makin terpacu untuk menunjukkan kemampuannya. Inilah modal bagi anak untuk mengembangkan kemandirian dan kepercayaan dirinya.
Dirangkum dari berbagai sumber, dengan www.tabloid-nakita.com sebagai sumber utama
Add comment September 6, 2008
Kisah Duka Anak-anak Jenius (2)
Oleh Julia Maria van Tiel
ANAK-anak jenius pada masa kecilnya terbanyak memang under-prestasi, maka ia disebut gifted with learning disabilities. Mereka memiliki kemampuan yang tak seimbang, antara kemampuan lisan dan aktivitas. Anak-anak yang sudah baik kemampuan berbicaranya, akan lebih baik dalam uji lisan daripada menulis. Dalam uji kemampuan IQ, pada anak-anak jenius yang mempunyai keterlambatan perkembangan bicara, uji kemampuan verbalnya menunjukkan skor yang sangat rendah, sedang skor performalnya tinggi, dan skor kreativitas rendah.
Gambaran seperti ini persis sama dengan gambaran IQ anak-anak autis. Namun skor kreativitas rendah bukan disebabkan ia tidak kreatif, tetapi lebih disebabkan karena ia menderita tidak percaya diri sebagai akibat dari frustrasi terhadap hasil karya dan perfeksionismenya. Di Belanda untuk anak-anak seperti ini, dilakukan suatu uji yang disebut faalangst test, dari sini terlihat bahwa ia menderita faalangst atau ketidakpercayaan diri dan takut berbuat salah.
Pada anak-anak jenius yang sebetulnya sangat jenius yang kemudian disebut profound gifted, justru sering kali terdiagnosa sebagai autis yang terbelakang mental. Mereka menderita disleksia sangat berat, mengalami keterlambatan bicara sangat tertinggal, dan baru mulai belajar bicara di usianya yang keenam atau ke tujuh, bahkan ke delapan. Ada yang sangat terlambat dalam perkembangan motorik kasarnya, dan mulai berjalan pada usia 4 tahun.
Ia bagai benar-benar anak terbelakang mental yang hidup dalam dunianya sendiri dan sangat tergantung pada orang di sekitarnya. Satu-satunya yang menunjukkan ia bukan mental retarded dan bukan autis adalah ia mampu membangun hubungan emosi dan cinta kasih dengan orangtuanya atau orang lain, dan mampu berbahasa isyarat.
***
Boleh dikata pengetahuan gejala balita jenius yang di Belanda populer dengan sebutan hoogbegaafde kinderen nyaris menjadi pengetahuan umum dalam masyarakat.
Mailing list, website, dan majalah yang merupakan kontak komunikasi antara orang tua dan tenaga profesional banyak dikembangkan oleh masyarakat. Sehari-hari banyak tenaga sosial yang berlatar belakang psikolog dan ortopedagog yang secara sukarela membantu keluarga-keluarga yang terbingung-bingung menghadapi anaknya.
Sekolah khusus yang didirikan lembaga-lembaga swasta yang ditujukan untuk anak-anak jenius ini juga banyak berdiri di hampir di tiap kota. Namun, pemerintah tetap memanfaatkan openbaar basis onderwijs-nya (sekolah dasar) yang dimulai secara wajib di usia empat tahun. Sekolah dasar ini dilengkapi dengan guru yang mendapat brevet khusus untuk pendidikan anak jenius, serta dilengkapi juga dengan materi dan program pendidikan anak jenius. Dalam sekolah-sekolah umum ini anak-anak jenius disosialisasikan secara maksimal bersama anak-anak normal seusia lainnya, dengan tujuan ia mampu membangun dirinya sebagaimana anggota masyarakat normal.
Anak-anak jenius yang telah selesai masa pendidikan sekolah dasarnya bisa melanjutkan ke sekolah yang memang disediakan untuk anak-anak yang mempunyai kecerdasan luar biasa, yaitu atenium.
Meski gejala balita jenius telah dikenal secara luas, namun banyak orangtua yang tidak menyadari bahwa anak mereka penyandang gen jenius. Setelah timbul berbagai masalah, barulah anak-anak ini betul-betul mendapat perhatian.
Semakin populernya DSM IV (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder) tahun 1994 dari American Psychiatric Association anak-anak berbakat ini terjaring dalam berbagai diagnosa gangguan mental dan mendapat terapi sebagaimana diagnosa itu. DSM IV yang dikeluarkan tahun 1994 itu, pada tahun 1998 barulah mulai dipopulerkan di Belanda. Dalam dua tahun saja terjaringlah sebanyak 65.000 (20 persen) anak usia di bawah 10 tahun dinyatakan sebagai ADHD, yang ternyata memang sebagian besar bukan penderita ADHD. Karena itu, awal tahun ini Pemerintah Belanda menyetop penetapan diagnosa yang begitu dini dapat dijatuhkan pada seorang anak. Setelah melalui pengamatan yang panjang berbulan-bulan yang dibantu oleh orangtua, guru, psikolog, dan petugas sosial, serta berbagai tes, barulah diagnosa itu ditegakkan.
Karena masih terjadi salah diagnosa semacam itu, untuk mencegahnya, kini kepada seluruh balita Belanda telah digunakan status yang disebut status van Wiechen ontwikkeling onderzoek. Dengan menggunakan status ini segera dapat diketahui apakah seorang anak mempunyai perkembangan yang tertinggal atau justru lebih cepat (mengalami loncatan perkembangan).
Pada dasarnya, perkembangan dan pertumbuhan balita berbakat ini mengikuti norma yang skalanya besar, waktunya singkat, sayangnya tidak sinkron. Tampak setiap perkembangannya bergelombang dengan skala yang besar, meledak-ledak, tetapi jangka waktunya tidak lama (tidak melebihi dua bulan), namun berkembang satu-persatu yang kemudian menjadikan tampak tidak harmonis dengan berbagai perkembangan yang seharusnya ada di masa balita.
Gejalanya bisa diikuti sejak bayi itu dilahirkan, yaitu merupakan bayi yang sehat, berat dan mempunyai APGAR skor antara 9-10 pada menit-menit pertama. Ia mempunyai pertumbuhan berat badan yang sangat pesat di bulan-bulan awal, tetapi tiba-tiba berkembang secara tenang saat ia mulai banyak gerak. Mempunyai perkembangan motorik yang hebat luar biasa, terkadang tidak melalui masa merangkak, atau masa berjalan, terus berlari. Mampu manjat-manjat, menarik barang berat, dan sangat kuat. Mempunyai otot-otot yang sangat kencang. Gerakannya cepat dan kuat. Mempunyai kemampuan spatial yang baik, berlari cepat dan mengelak dengan sigap jika akan menabrak sesuatu benda. Periang, mempunyai rasa humor yang tinggi dan senang meledek dan bercanda-canda.
Perkembangan bahasa dan kemampuan bicaranya sangat cepat dengan perbendaharaan kata yang luas, atau justru sangat terlambat bicara. Mengalami gangguan konsentrasi, berupa mudah terangsang pada bunyi-bunyian dan gerakan, mempunyai perhatian cepat berpindah-pindah, kekacauan konsentrasi, namun mampu mengonsentrasikan diri secara intens pada hal yang menjadi perhatiannya. Sering memperhatikan benda bergerak seperti roda, air mengalir, dan gerakan berulang membuka tutup pintu, menyalakan dan mematikan lampu, memainkan mobilan maju mundur ke atas dan bawah, mengucurkan air, memutar-mutar pentil radio serta televisi, dan sebagainya.
Di usianya yang sangat dini, tiga tahun, sering terjadi loncatan perkembangan dimensi, ia mampu menggambar wajah orang terdekatnya, biasanya ayahnya. Menggambar berbagai figur hidup, manusia, binatang, lingkungan, dan alam raya. Mampu menyusun alat mainan Lego menjadi jembatan dan bentuk-bentuk tiga dimensi. Menyukai angka dan bilangan, mengenal dan mengingat berbagai macam logo-logo iklan, dan darinya ia mampu mengembangkan kemampuan membaca dan menulis.
Keras kepala, perfeksionis, sering terfiksasi pada satu perhatian, tidak tahan rutinitas, mempunyai perkembangan rasa takut yang hebat, sangat emosional mudah berubah temperamen, spontan, sangat sosial, mudah frustrasi, dan pemain sandiwara yang ulung.
* Julia Maria van Tiel, Doktor Medical Anthropology, mantan dosen S3 UI dan Unair, orang tua anak berbakat http://www.kompas.com/index.htm
Add comment September 6, 2008
Kisah Duka Anak-anak Jenius (1)
Oleh Julia Maria van Tiel
BAGAIMANA bayangan Anda terhadap anak-anak jenius? Apakah Anda membayangkan bahwa anak-anak ini adalah anak penyandang gen perfek berotak encer, gemerlap, dan selalu mendapat medali?
Ternyata masa kecil mereka penuh dengan rasa sedih, duka, dan lara. Semuanya karena apa yang mereka hadirkan baik dari segi perilaku dan kemampuan meraih prestasi di sekolah justru jauh di bawah rata-rata anak normal. Mereka seringkali brutal, keras kepala, semaunya, sulit diatur, dan sering berkelahi. Prestasi di sekolah juga nol.
Sebagian besar anak-anak ini justru tidak survive, banyak dari mereka yang dilatar belakangi oleh ketidak harmonisan rumah tangga, dan tekanan dari pihak sekolah justru membuat mereka melarikan diri ke arah kenakalan remaja, depresi, stres, atau mengalami gangguan biologis karena masalah psikologis (psikosomatis).
Mengapa demikian? Itu semua karena anak-anak ini mempunyai karakter yang sangat khusus. Mereka merupakan kelompok anak tersendiri, yang lain dari anak lain.
Pada masa balita, dokter sering menuding mereka sebagai anak yang mengalami gangguan perkembangan. Baik dari perkembangan fisik, perkembangan psikologis, atau juga gangguan kemampuan bicara, komunikasi, dan sosial.
Waktu di kelas-kelas awal sekolah dasar mereka sering disangka mengalami gangguan perkembangan inteligensia, atau kurang cerdas. Bahkan sering tertuding sebagai pembuat onar di kelas, tidak punya konsentrasi, dan sulit diberi pelajaran, tidak mau membuat pekerjaan rumah, serta membangkang. Di kelas sering melamun, tidur di meja, dan lebih senang memainkan pinsilnya, daripada mengikuti pelajaran. Di kelas satu dan dua bahkan mereka sulit diajar membaca, menulis, bahkan berhitung sekalipun. Penampilan mereka tidak seperti anak jenius atau anak berbakat sebagaimana layaknya yang kita bayangkan. Mereka lebih macam anak urakan tapi dungu. Benarkah demikian?
YANG kita ingat, orang yang terbilang jenius adalah Einstein, Michelangello, Thomas Alfa Edison, Rembrant, van Gogh, Bach, dan sebagainya. Lalu jarang kita dengar lagi ada kelompok jenius yang kelasnya bagai mereka. Kemanakah mereka? Tidak pernah lahirkah? Sebenarnya banyak. Dua persen dari anak yang lahir, adalah kelompok jenius. Tetapi mereka hilang ditelan perkembangan kebudayaan yang lebih banyak peraturannya, pendidikan yang seragam, pemeriksaan anak balita yang lebih teliti, yang semuanya mengacu pada norma normal, sehingga mereka tampak sebagai anak tidak normal, bahkan terdiagnosa berbagai macam gangguan perkembangan.
Misalnya saja yang dijelaskan oleh kelompok psikolog ahli anak-anak berbakat Amerika dalam pertemuan tahunannya di Washington Agustus tahun lalu, yang menjelaskan bahwa akhir-akhir ini di Amerika terjadi banyak kesalahan diagnosa pada anak-anak maupun dewasa berbakat dan berbakat. Kesalahan ini bukan saja dilakukan oleh psikiater, dokter anak, tetapi juga oleh psikolog sendiri, maupun tenaga kesehatan lainnya. Tersering mereka terdiagnosa sebagai autis asperger, PDDNOS, Attention Deficit Hyperactivity Disoredr (ADHD), Oppotitional Defiant Disorder (OD), Obsessive Compulsive Disorder (OCD), dan Mood Disoreder seperti Cyclothymic Disorder, Dysthymic Disorder, Depression, serta Bi-Polar Disoreder.
Kesalahan diagnosa ini umumnya karena mereka memiliki karakteristik perkembangan sosial dan emosional yang diasumsikan secara keliru oleh kelompok profesional.
Sementara itu anak-anak itu adalah anak-anak yang mempunyai risiko psikologik apabila dorongan atau motivasi internalnya yang kuat untuk mengembangkan intelektualnya terhalangi dan tidak tercapai. Risiko ini berupa jatuhnya mereka ke dalam masalah-masalah psikologis seperti depresi yang dalam, perilaku menarik diri, rendah diri yang hebat, atau sebaliknya menjadi anak yang sangat sulit diatur, selalu melawan, dan agresif.
Seorang yang ternyata dewasanya jenius namun kecilnya penuh duka lara adalah Alice Miller, yang tahun 1979 mulai menuliskan kisahnya dalam sebuah buku berjudul: Das Drama des begabten Kindes und die Suche nach dem wahren Selbst, Eine Um-und Fortschreibung (Kisah drama seorang anak jenius-dalam mencari jati dirinya).
Duka lara Alice Miller berawal dari diagnosa para profesional yang menyatakan bahwa dirinya menderita dari diagnosa para profesional yang menyatakan bahwa dirinya menderita penyakit jiwa bawaan yang menurut para dokter akan terus diidapnya seumur hidup. Karena itu ia harus menjalankan berbagai terapi yang dimaksudkan untuk mengurangi gangguan itu.
Emosinya yang meledak-ledak segera diredam dengan berbagai tablet psikotropika. Dia juga pada akhirnya mengalami depresi yang berat, rasa malu, dan rendah diri, serta tak mampu lagi bergaul. Pada waktu ia bisa menyelesaikan sekolah psikologinya, ia menyadari bahwa diagnosa yang diterimanya keliru, sehingga ia sibuk melakukan rehabilitasi diri guna menyembuhkan luka dari berbagai terapi semasa kecilnya itu, yang ia rasakan sebagai penganiayaan psikologis.
Buku Alice Miller yang mengharukan, detail, dan memberi pengertian akan artinya bimbingan pada anak-anak jenius ini, laku keras, hingga yang diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda saja sudah dicetak ulang pada tahun 2000 hingga yang ke 23 kalinya. Buku ini diterjemahkan dalam berbagai bahasa di dunia.
Duka lara akibat perkembangan khusus pada anak-anak jenius ini, tampak sejak ia dilahirkan. Ia merupakan bayi yang besar dengan ukuran kepala yang besar, sehingga kebanyakan anak-anak ini lahir bukan dengan cara normal tetapi ditarik dengan tang, vacum, atau melalui pembedahan. Sejak bayi ia mengalami alergi susu yang berat, yang menyebabkan kulitnya penuh eksim, serta alergi berbagai macam dan tidak spesifik. Selain alergi berbagai makanan dan sayuran, ia juga alergi Matahari, cuaca dingin, obat-obatan, plastik, logam, pakaian nilon, dan sebagainya. Alerginya bukan hanya di kulit, bisa berupa mencret dan sembelit, tidak bisa bersendawa, batuk pilek, radang telinga, radang mata, dan asma.
Dalam pemeriksaan darah laboratorium sering ditemukan anak-anak ini memiliki berbagai angka laboratorium yang berbeda dengan angka rata-rata anak normal. Terlalu tinggi atau terlalu rendah. Tampak seolah mereka menderita kekurangan berbagai mineral dan vitamin dalam tubuhnya. Banyak di antara mereka yang mengalami gangguan penyerapan makanan, dan kekurangan enzym pencernaan. Mereka juga mempunyai masalah dalam pemilihan jenis makanan yang mereka suka.
Pada saat balita penciuman anak-anak ini belum bekerja baik untuk mencium enaknya bau makanan. Mereka sangat peka dalam penglihatan, dan mempunyai sifat yang sangat perfeksionis. Dalam memilih makanan anak-anak ini hanya memilih satu jenis makanan dengan satu warna yang bagus dan bentuk yang bagus. Karena itu sebagian anak-anak ini berbadan terlalu kurus dengan kepala dan jidat yang besar, atau berbadan besar. Meski hanya makan dengan jumlah yang sedikit dan hanya itu-itu saja, kecuali soal alergi, boleh dikata mereka anak yang tampak sangat sehat, tidak mudah jatuh sakit, dan bergerak terus tidak capai-capainya.
Anak-anak ini mempunyai kemauan internal yang sangat kuat, keras kepala, tetapi tidak tahan rutinitas. Dan usia SD kelas satu atau kelas dua, yang menonjol justru keras kepala dan motivasi internalnya yang besar. Dengan begitu mereka tidak tertarik mengikuti kegiatan belajar di sekolah yang melelahkan karena terlalu rutin. Melihat hal ini guru seringkali menuding mereka sebagai anak yang tidak cerdas. Terlebih anak ini tidak mau mengulang kebolehannya, dan tidak bisa disuruh menunjukkan kebolehannya.
Banyak di antara orangtua yang bercerita bahwa anaknya bisa membaca dan berhitung, tetapi jika diuji di sekolah si anak bungkam. Mereka adalah anak yang didaktif, bukan anak yang deduktif. Kemampuan pengembangan intelektualnya adalah atas dasar motivasi internalnya, dan tidak bisa diajari, atau tidak mau diajari.
Sifat perfeksionis menyebabkan mereka tidak mau mengerjakan tugas memberi warna pada figur-figur dengan potlot berwarna. Mereka merasa hasil pekerjaannya sangat jelek, tidak seindah contohnya yang dibuat oleh percetakan. Perkembangan motorik halus mereka juga mengalami keterlambatan sehingga mereka bagai tidak kuat memegang pinsil barang semenit pun. Jari-jari mereka cepat lelah, dan hasil latihan menulisnya sungguh sangat jelek. Mencong-mencong, tidak lurus, dan bergelombang. Melihat hasil ini semua, lagi-lagi sifat perfeksionis mereka menyebabkan mereka frustrasi.
Banyak di antara anak-anak ini juga mengalami disleksia, yaitu gangguan perkembangan syaraf dan bola mata. Seringkali anak-anak ini memerlukan koreksi karena matanya astigmatis. Disleksia menyebabkannya melihat huruf terbalik-balik, dia bingung mana yang p dan mana yang q, atau mana yang d dan mana yang b. Disleksianya menyebabkan ia tidak mengerti lagi harus menulis dari sebelah kiri atau kanan, akhirnya ia mengalami gangguan menulis, membaca, dan juga berhitung. Lengkaplah penderitaannya, jika ia dituntut bagai anak normal. Apalagi jika dijatuhi mempunyai vonis bahwa ia mempunyai kemampuan atau kecerdasan di bawah rata-rata. Dan lebih ironis lagi, jika setiap sore dia dituntut oleh orangtua untuk mengambil les menulis dan berhitung, serta di rumah dipaksa belajar setengah mati.
KOMPAS, >Minggu, 19 Agustus 2001
Add comment September 6, 2008
Perkembangan Emosi Bayi
Memahami Tahapan Perkembangan Sosial-Emosi Bayi
Meliana Simarmata
Setiap aspek dalam tahap perkembangan bayi kecil Anda pasti amat menarik untuk diperhatikan. Entah itu saat dia mulai bisa tersenyum, tertawa, merangkak, duduk, berdiri, berespon ketika diajak bicara, ataupun menunjukkan kemampuan lain yang sesuai dengan tahapan perkembangannya. Tentunya, Anda pun ingin menjadi ?saksi pertama? atas seluruh kebisaannya itu.
Walaupun setiap bayi memiliki keunikannya sendiri, namun pada umumnya, setiap bayi memiliki tahapan perkembangan emosi yang dapat diprediksi polanya. Berikut kami berikan panduannya untuk Anda.
0-3 bulan
Bayi yang berusia 0-3 bulan sudah mulai dapat beraksi terhadap pandangan dan suara. Untuk beberapa detik, bayi sudah mulai bisa melihat dan menatap Anda, bahkan memberikan respon jika diajak bicara atau tersenyum. Bayi mungil Anda mungkin seringkali menangis, namun biasanya bisa segera diatasi dengan memberinya rasa nyaman melalui pelukan, diberi makan, diganti popoknya, digendong ataupun diajak bicara. Selain itu mereka juga sudah mulai dapat mengenali orang-orang yang sering dilihat atau berada di dekatnya.
Karena pada 3 bulan pertama ini bayi sepenuhnya bergantung pada Anda, maka kebutuhannya untuk mengatasi perasaan negatif yang dialaminya, seperti stres, takut, frustrasi dan lain sebagainya juga sepenuhnya berada pada tangan Anda. Pada saat ini, yang terpenting baginya adalah merasakan bahwa orangtuanya selalu ada untuknya, setiap kali ia membutuhkan. Dengan begitu, kepercayaannya terhadap Anda pun mulai terbentuk. Rene Brummage, pakar perkembangan anak mengatakan, ?Lingkungan anak memegang peranan yang penting dalam membentuk kepribadiannya. Lingkungan yang penuh kasih sayang akan mendorongnya memiliki emosi yang stabil. Sebaliknya, lingkungan yang penuh dengan tekanan akan membuatnya tumbuh dalam ketakutan.?
3-6 bulan
Pada masa ini, bagian otak bayi yang membantunya mengatasi dan mengontrol emosi mulai tumbuh. Dia pun menikmati interaksi dengan orang lain dan menunjukkan minat yang sangat besar dalam melihat wajah orang lain. Para ahli meyakini, ekspresi dan aneka simbol yang ditunjukkan oleh wajah tak hanya dapat membantunya membangun hubungan dengan dunia tetapi juga dapat menolongnya membangun ikatan emosi yang kuat dengan orang-orang yang menyayanginya, terutama Anda orangtuanya. Dari setiap respon yang diberikan orang-orang dewasa di sekitarnya, ia belajar bahwa senyuman, tangisan, dan hal-hal lain yang dilakukannya dapat memberinya respon emosional balik.
Untuk membantu perkembangannya, cobalah untuk melakukan permainan kata atau mencoba membuat bunyi-bunyian bersama. Kemudian doronglah dia untuk mencoba menirukan bunyi-bunyian yang disukainya. Walaupun dia belum mengerti, Anda harus berusaha untuk terus berinteraksi dengannya melalui obrolan, membacakan cerita ataupun bernyanyi untuknya. Cara lain yang bisa Anda lakukan adalah bermain si kecil di depan kaca. Rene mengatakan, ?Cara ini tak hanya dapat memberinya pandangan yang lebih baik tentang dirinya tapi juga dapat mendorong perkembangan emosi yang positif terhadap sosok yang dilihatnya di cermin.?
Untuk menunjukkan perasaan tidak senang, bayi mungil Anda kini sudah mulai dapat menunjukkannya dengan mengeluarkan suara-suara lain selain menangis. Jika ia merasa senang, ia pun dapat menunjukkannya dengan senyum, tertawa atau memperdengarkan suara-suara menyenangkan lainnya. Intinya, bayi Anda sangat suka diperhatikan dan tersenyum pada orang-orang yang dikenalnya. Sebaliknya ia pun bisa menunjukkan rasa takut jika berada dekat dengan orang-orang baru.
6-9 Bulan
Selama tahap ini, bayi yang diasuh dengan penuh cinta dan kasih sayang yang konsisten sudah memiliki ikatan sosial emosi yang kuat dengan orangtua dan pengasuh lain yang penting dalam hidupnya. Semakin kuat ikatan, semakin kuat pula kepercayaan si kecil. Dalam memorinya, ia pun telah membeda-bedakan orang di sekitarnya menjadi dua yaitu, orang yang disukainya atau orang asing. Karena itu, ia pun mulai menunjukkan rasa kehilangan dan protes yang kuat (separation anxiety) jika berada jauh dari orang yang dekat dengannya.
Hillary Kruger MD, pakar perkembangan dan perilaku anak menambahkan, bayi pada periode ini sudah dapat mengetahui jika orangtuanya meninggalkan ruangan lalu kemudian mencarinya. Ketakutan dan ketidaksukaannya terhadap orang asing pung semakin kuat ditunjukkan (stranger anxiety), misalnya dengan menangis atau dengan berlindung pada Anda. Mereka juga sudah mulai menunjukkan penolakan terhadap sesuatu hal yang tidak disukai. Saat terbangun di malam hari, beberapa bayi pada usia ini berusaha mengatasi ketidaknyamanannya dengan memegang atau menggigit mainan yang disukai atau bahkan jarinya sendiri. Menginjak usia 8 bulan ke atas, bayi Anda mulai menyukai permaian petak umpet. Sembunyikanlah mainan kesukaannya di bawah selimut, dan lihatlah bagaimana ia berusaha untuk menemukannya.
9-12 Bulan
Pada tahap ini rasa takut terhadap orang asing dan kelekatan terhadap orang-orang yang memiliki arti khusus buatnya masih akan terus berlanjut tapi akan berangsur-angsur berkurang. Ekspresi, gerakan tubuh dan suara untuk menunjukkan perasaannya pun sudah berkembang semakin kompleks. Interaksi sosialnya pun makin berkembang. Hal ini ini ditunjukkan dengan ketertarikannya untuk mulai bermain dengan orang lain.
Hillary mengatakan, mendekati usia satu tahun anak mulai menikmati permainan yang bersifat resiprokal (berbalasan), seperti menggelindingkan dan menangkap kembali bola. Sejalan dengan pertumbuhan fisiknya yang memungkinkan dia untuk bergerak lebih bebas ke sana-ke mari, ketertarikannya pun tumbuh semakin besar untuk mengeksplorasi dunia sekitarnya. Menurut Hillary, hal itu biasanya ditunjukkannya dengan menunjuk suatu objek yang menarik agar orangtuanya pun ikut memberikan fokus dan perhatiannya.
2 comments April 3, 2008
Orang Tua Pendengar Anak
Orang Tua Harus Mejadi Pendengar bagi Anak
Reporter : Cornelius Eko Susanto
JAKARTA–MI: Terkait kasus kaburnya Fian, diiharapkan bisa menjadi cerminan bagi keluarga. Orang tua sepatutnya bisa menjadi pendengar yang baik dan jangan terlalu memaksakan kehendak pada anak, walaupun kehendak tersebut baik adanya.
“Kadang dengan cara memarahi, orang tua sebetulnya bermaksud baik dalam mendidik anak. Di lain sisi, walau tujuannya baik, namun apabila disampaikan dengan cara yang tidak tepat, maka kadang hal tersebut malah menjadi bumerang,” papar Ketua Komnas Perlindungan Anak Indonesia Seto Mulyadi kepada Media Indonesia, Senin (1/4), di Jakarta.
Di jaman saat ini, Seto mengatakan, beban hidup anak-anak sangat berat. Bisa dari beban kurikulum yang sangat berat, gurunya yang galak, pekerjaan rumah yang makin banyak dan lainya. Hal ini menyebabkan anak-anak semakin sress.
Dengan dimarahi oleh orang tua di rumah, menjadikan beban itu semakin berat. Seto berpendapat, dengan kabur dari rumah membawa uang bapaknya senilai US$10 ribu setelah dimarahi ibunya karena tidak mengerjakan PR, serta Fian tidak boleh tidur di kamarnya, hanya merupakan wujud protes dari anaknya.
Seto berpendapat, saat ini, model mendidik anak yang baik, orang tua wajib memberi teladan, serta mampu menjadi teman bagi anak.
Menyimak perjalanan Fian dalam petualangannya kabur dari rumah, Seto menilai, Fian sebetulnya merupakan anak yang kreatif. Pasalnya, anak yang beru berusia 9 tahun, bisa minta toong orang tidak dikenal untuk menukar dolarnya ke money changer.
Pada kesempatan itu, Seto menyesalkan langkah pihak-pihak yang mengekspos Fian di berbagai media cetak dan elektronik. Langkah tersebut dinilai menjadi kontra produktif. Pasalnya, orang lain bisa menaksir kekayaan keluarga Fian. Dikuatirkan bisa saja nantinya Fian menjadi korban kejahatan orang.
Di sisi lain, orang luar terlanjur memberi stigma negatif bagi Fian sebagai anak yang bandel, berbahaya bahkan pelaku kriminal. Hal tersebut tidak sehat bagi pertumbuhan psikologis anak.
Seto menduga ada hal yang tidak kondusif dalam keluarga Fian. Dengan demikian anak jangan terlalu dipojokan. (Tlc/OL-2)
Sumber : Media Indonesia
Add comment April 2, 2008










