10 Cara BICARA Agar Anak Mau MENDENGAR

sumber : http://www.tabloid-nakita.com/

Entah dia keras kepala atau pura-pura tak punya telinga. Kok sulit sekali membuat si prasekolah mau mendengarkan kita ya.
“Sayang, Mama kan sudah bilang, kalau habis minum, gelasnya langsung ditaruh di dapur dong. Biar bisa dicuci Mbak,” ujar Karina pada Riani. Namun, si 4 tahun itu bergeming dan tetap asyik dengan teddy bear pink-nya. Karina yang berusaha memahami putrinya mencoba bersabar lalu dengan iseng ibu 2 putri itu berkata, “Riani ikut Mama belanja yuk! Serta merta anaknya yang duduk di TK A itu melempar bonekanya dan langsung menggandeng lengan sang bunda. “Yuk, Ma! Sekarang, ya!” ujar Riani dengan riang.
Nah, kena deh! Ternyata telinga Riani pilih-pilih saat mau mendengarkan. Kalau hal-hal yang menyenangkan, responsnya langsung positif. Tapi uh, jangan harap deh kalau dia dimintai tolong ini-itu apalagi kalau disuruh dengerin nasihat yang panjang lebar. Kalaupun mau mendengar, biasanya sih masuk telinga kiri keluar telinga kanan.
Anak prasekolah umumnya memang sudah bisa memahami perkataan orang lain dengan baik. Tapi kalau dia berlaku seperti Riani (merespons hanya untuk hal-hal yang menguntungkan dirinya saja) lantaran karena mereka masih memiliki sifat egosentris. Ini menjawab mengapa anak 3-5 tahun tak melulu mau mendengar perkataan orangtua.
LIHAT SITUASI DAN KONDISI
Jadi bagaimana dong biar si prasekolah mau mendengarkan kita? Berhubung anak hanya mau mendengar hal yang menurutnya menyenangkan, cara kita menyampaikan isi pesan perlu diubah sehingga tak terkesan memerintah, menyuruh, menegur, ataupun melarang. Coba saja pada anak yang sedang asyik nonton teve, mana mau dia mendengarkan permintaan kita untuk mematikan teve, karena itu mengganggu kesenangannya.
Jadi? Yuk kita bersama-sama belajar bagaimana berbicara dengan si prasekolah. Berikut kiat-kiat yang disarankan psikolog Sritje H. Hikmat, Psi:
* Ketahui kemampuan pemahamannya
Misal, orangtua bertanya, “Kenapa kamu melakukan itu?” Barangkali akan lebih enak bila mengatakan, “Ibu ingin tahu apa yang baru kamu lakukan itu.” Kalimat yang bernada menghakimi, mengancam, atau bahkan menuduh, membuat anak terpojok. Ketimbang bilang, “Kamu harus tidur siang,” coba katakan, “Kamu, kan, sejak pagi capek main. Sepertinya, sih, sekarang enakan tidur siang deh.” Hindari berkata, “Kamu harus membereskan mainan,” gantilah dengan, “Yuk, ibu bantu kamu untuk membereskan mainanmu.”
Jangan ucapkan kalimat bertanya yang mendorong anak berkata tidak. Misal, “Mau enggak kamu membereskan mainanmu?” Tapi cukup katakan, “Sayang deh kalau mainanmu berantakan di mana-mana. Kita bereskan yuk!” Ingat, anak tak mau diperintah. Daripada mengatakan, “Awas, makan jangan sampai berantakan, ya. Habis makan, taruh piring di tempat cucian,” lebih baik ucapkan, “Sayang, coba di mana sebaiknya kamu menyimpan piring ini?” Dengan begitu, anak juga belajar untuk berpikir mencari solusi.
Berbicaralah dengan kalimat-kalimat yang tak sekadar menjurus pada jawaban ya atau tidak. Contoh, “Senang di sekolah tadi?” alternatif yang lebih bijak adalah, “Tadi main apa yang seru di sekolah?” Setelah itu, bicarakan topik-topik yang menarik bagi si prasekolah.
* Gunakan kalimat pendek
Kata-kata yang diucapkan sebaiknya pendek atau sederhana. Tidak terlalu berpanjang-panjang apalagi berbelit-belit. Sesekali perhatikan bagaimana si prasekolah berkomunikasi dengan teman sebayanya. Cermatilah caranya. Bila anak memperlihatkan gejala bahwa dirinya tak berminat diajak ngobrol, boleh jadi itu karena ucapan kita tak dipahaminya entah karena bertele-tele, atau karena berupa kalimat-kalimat perintah dan melarang. Semakin kita bertele-tele, maka anak akan semakin menutup telinganya.
* Posisi badan sejajar
Posisikan badan kita sejajar dengan tinggi badan si prasekolah dan jangan terlalu jauh darinya. Dengan begitu, perhatian anak bisa lebih mudah terfokus dan menangkap pesan atau dialog yang dilontarkan orangtua. Jika anak terlihat tidak memerhatikan, sentuhlah dia untuk menarik perhatiannya. Sikap itu menunjukkan keseriusan kita dalam berkomunikasi. Kalau perlu, dekap anak saat kita mengajaknya berbicara.
Jarak yang jauh atau kesibukan Anda pada kegiatan tertentu membuat alur komunikasi takkan sampai dengan baik. Umpama, Anda bicara kepada anak sambil membaca koran di ruang tamu atau menonton teve. Tentu anak merasa dirinya tidak dianggap penting, omongan kita pun tidak dianggapnya penting. Akhirnya anak tidak menangkap pesan yang dimaksud.
* Kontak mata
Adanya kontak mata juga menandakan kita bersungguh-sungguh terhadap apa yang diucapkan. Dengan menatap matanya, anak pun merasa mendapat perhatian dan keberadaannya begitu penting. Teguran kitayang sebaiknya disampaikan dengan kalimat-kalimat positifdengan begitu akan dianggap penting juga oleh anak. Misalnya, dalam rangka menegur perbuatan salahnya. Kontak mata pun tetap diperlukan manakala orangtua dan anak berdialog biasa, memberi perintah, atau menanyakan sesuatu.
* Momen yang tepat
Tunggu momen yang tepat. Perhatikan, apakah anak sedang asyik dengan kegiatannya? Kalau ya, mungkin percuma saja mengajaknya bicara. Lebih bijak kalau kita tunggu dulu sejenak, sampai setidaknya ia tak sibuk-sibuk amat atau sudah menyelesaikan aktivitasnya. Kadang, sulit mengalihkan perhatian anak dari hal yang sedang ditekuninya. Kalau dia sedang asyik main mobil-mobilan, jangan langsung diinterupsi. Mulailah dengan pendekatan dulu agar anak tak merasa kegiatannya diganggu atau tak dipaksa menimpali omongan kita. Apalagi kalau yang dikatakan orangtua berupa perintah atau larangan. Beri waktu beberapa menit sebelum meminta anak melakukan sesuatu. Contoh, “Nak, kalau jarum jam yang pendek menunjuk angka 12, kamu makan ya. Setelah makan, kamu boleh main lagi.” Dengan begitu si prasekolah relatif tak merasa aktivitasnya terganggu. Lagi pula, dengan cara itu anak memiliki persiapan ketika harus menghentikan kegiatannya.
* Minta Tolong
Berbicaralah kepada anak dengan cara seperti yang kita harapkan jika orang lain berbicara kepada kita. Jika hendak minta bantuan, yang pertama kali harus diucapkan adalah “tolong”, bukan? Niscaya anak tak merasa dipaksa saat diperintah. Sekaligus orangtua juga mengajari anak untuk bersikap santun.
* Beri contoh
Ajarkan bagaimana pentingnya mendengarkan. Jika anak merasa dirinya didengar, maka ia pun akan belajar mendengarkan kita. Berilah contoh atau teladan yang baik dengan memberi perhatian yang tulus saat si prasekolah berbicara. Dengan contoh konkret, anak akan menyerap dan meniru bagaimana menjadi pendengar yang baik.
* Lakukan bersama
Saat melihat mainan si prasekolah begitu berantakan, takkan efektif bila kita hanya menyuruhnya membereskan semua. Alangkah bijak bila kita mengajaknya “Kak, ayo kita beresin mainannya.” Dengan begitu, unsur perintah lebih tersamar. Sekali lagi, anak membutuhkan contoh konkret dari orangtua. Bukan tidak mungkin, di kemudian hari, anak akan mau melakukan yang kita harapkan tanpa menunggu disuruh. Langkah ini juga memupuk sikap mandirinya, sekaligus mengajarkan bagaimana menjalin kerja sama. Dengan bahu-membahu, maka pekerjaan akan lebih cepat selesai.
* Sesekali bersikap tegas
Bersikap selalu lembut sebenarnya kurang baik juga bagi perkembangan si prasekolah. Agar anak bisa taat aturan, sikap tegas juga perlu ditunjukkan. Misalnya saat anak melakukan ketidakdisiplinan, tak ada salahnya ditegur. “Kakak, ini sudah waktunya mandi. Ayo matikan tevenya.” Sikap tegas berarti mengatakan apa yang perlu/harus dilakukan dengan nada bicara yang datar namun jelas. Dengan bersikap tegas, anak akan merasa segan pada orangtua sehingga tak mau lagi melanggar aturan.
* Kenali karakter
Satu hal yang tak kalah penting, kenali karakter si prasekolah untuk menemukan gaya berkomunikasi yang pas dengannya. Anak yang cenderung pemalu atau pasif memang biasanya lebih cuek ketimbang anak yang terbuka atau aktif. Orangtua yang sehari-hari berhadapan dengan anaknya diharapkan mau lebih jeli mencoba gaya bicara yang paling efektif untuk masing-masing karakter. Sesekali mungkin Anda lepas kontrol, kembali ke gaya lama atau cenderung emosional menghadapi anak yang cuek. Tidak mengapa, tapi ubahlah segera gaya bicara Anda sebelum anak menutup telinganya rapat-rapat. Selamat mencoba!
Hilman Hilmansyah.

9 KEREWELAN ANAK DAN CARA MENGATASINYA

sumber : http://www.tabloid-nakita.com/

Masih susah bicara bikin si batita gampang frustrasi. Sedikit-sedikit menangis, menjerit, kadang disertai amukan. Perilaku ini sering tak kenal waktu dan tempat. Penyebabnya kadang juga membingungkan. Apa saja sih? Nah, coba deh kenali 9 sumber kerewelan anak batita dan cara jitu mengatasinya!
1. REWEL KALA SAKIT
Wajar jika anak rewel kala sakit. Diberi ini salah, diberi itu salah. Kondisi tak nyaman membuat anak uring-uringan. Tak heran, semua itu bisa mengubah perilaku anak. Si kecil yang tadinya aktif dan ceria, mendadak murung dan cengeng. Anak pun jadi lebih manja.
Cara Mengatasi:
– Bersabarlah menghadapinya. Anak sakit lebih membutuhkan banyak perhatian ketimbang anak sehat. Jadi, dampingi selalu si kecil. Jalinlah komunikasi yang hangat dan menghibur. Tanyakan, apa yang dia rasakan. Sedapat mungkin berikan beberapa pertolongan kecil, seperti mengusap-usap perut atau mengipasi. Jika perlu, dekaplah dia dengan penuh kasih. Ciptakan suasana aman, hingga anak merasa nyaman dan tidak bosan.
– Sikap sabar juga perlu dikedepankan saat memberi makan dan obat. Jika anak menolak makan, tak perlu dipaksa, melainkan disuapi sedikit demi sedikit. Buatlah menu makanan yang lembut dan mudah dikunyah. Hal yang sama berlaku buat obat. Katakan, obat harus diminum agar anak bisa sehat dan bisa bermain kembali.
– Buat juga suasana menyenangkan. Hindari menunjukkan kesedihan di depan anak. Lakukan kegiatan bermain yang disukainya. Membacakan dongeng favorit bisa menjadi pilihan. Sediakan juga mainan yang bisa dilakukan di tempat tidur seperti boneka tangan, mewarnai, melipat kertas, nonton teve atau film kesayangan, dan sebagainya. Namun, waktu bermain tetap harus dibatasi, karena anak membutuhkan istirahat agar cepat sembuh.
2. REWEL DI TEMPAT BARU/ASING
Meskipun dinilai wajar, perilaku ini sering membuat kesal orangtua. Anak rewel karena merasa tak nyaman dengan kondisi baru. Tak jarang, kondisi itu dirasakan anak sebagai sesuatu yang mengancam. Terlebih jika anak belum mengenal kondisi tempat baru itu sebelumnya, juga fasilitas yang ada. Saat anak diajak ke tempat praktik dokter, misal, dia tentu bingung dengan ruangan serba putih, dan terdapat berbagai peralatan “aneh” macam jarum suntik, stetoskop, mesin USG, dan sebagainya.
Cara Mengatasi:
Sebelum mengajak si kecil pergi, orangtua perlu membekali anak mengenai tempat apa yang akan dituju, kondisi apa sajakah yang akan ditemui anak, apa pula benda-benda yang terdapat di sana. Sering-seringlah bepergian ke tempat baru bersama si batita. Semakin banyak tempat yang dikunjungi, semakin kaya dan luas pengalaman anak.
3. REWEL KALA BERTAMU
Sering kan menghadapi batita yang merengek-rengek minta pulang kala diajak bertamu, “Pulang… Ma… pulang….” Kerewelan ini disebabkan si batita menganggap, rumahku adalah surgaku. Tiada tempat yang paling indah dan nyaman selain rumah. Apalagi jika lingkungan rumah benar-benar menyenangkan; luas, sejuk, dan banyak mainan. Selain itu, banyaknya sosok asing di rumah orang lain membuat anak enggan berlama-lama. Belum lagi rumah itu kurang menyenangkan seperti sempit, gerah, dan sumpek.
Cara Mengatasi:
– Buatlah anak merasa nyaman. Sebelum pergi, bekali si kecil dengan banyak mainan. Jika di rumah yang dikunjungi ada anak kecil, ajak bermain bersama si kecil. Perhatikan juga kondisi tubuh anak. Jika terlihat lelah, biarkan dia beristirahat sejenak.
Setelah cukup, orangtua bisa mengeksplorasi lingkungan rumah yang dikunjungi. Siapa tahu banyak hal menarik yang bisa ditemukan seperti ada kolam ikan, taman, dan sebagainya.
– Ajari anak bersosialisasi dengan mengunjungi rumah tetangga, saudara, atau teman, sehingga dia terbiasa mengunjungi rumah orang lain.
4. REWEL SAAT ADA IBU
Kerewelan justru terjadi saat ibu ada di rumah. Biasanya disebabkan anak meminta perhatian lebih. Maklum, ibu yang bekerja umumnya banyak menghabiskan waktu di luar rumah. Keberadaan ibu membuat si batita menuntut macam-macam. Apalagi, ibu bekerja biasanya menerapkan aturan lebih longgar dan minim memberikan punishment, juga selalu memanjakan anak. Nah, bagi anak, ini merupakan aji mumpung untuk melanggar aturan atau memaksakan kehendak.
Cara Mengatasi:
– Bersikap tegas dan konsisten dalam menerapkan aturan adalah solusinya. Jika ibu menerapkan aturan tidak boleh menonton teve hingga larut malam, maka semua yang ada di rumah harus menerapkan aturan itu. Ini untuk mengajari si batita, mana yang benar dan mana pula yang salah. Sikap tega dan tegas harus dikedepankan. Jika ibu dan pengasuh atau anggota keluarga lain di rumah berbeda pola asuh, anak cenderung memilih aturan yang dirasa paling enak. Namun jika ibu dan semua anggota keluarga konsisten, maka si batita tidak akan berulah di setiap akhir pekan, atau kala ibu ada di rumah. Disiplin dan rutinitas batita akan terbentuk dengan baik. Berikan sanksi mendidik jika perlu. Selain itu, jangan sungkan memberikan penghargaan jika anak bisa melakukan rutinitas dengan baik. Penghargaan tidak melulu berbentuk hadiah, tapi juga berbagai bentuk lainnya seperti pelukan, ciuman, atau pujian. Dengan demikian, batita akan selalu mengulangi perilaku positif, sekaligus menjauhi sikap negatifnya.
5. REWEL SAAT ARISAN
Dalam kondisi tertentu, orangtua kadang terpaksa mengajak batitanya ikut serta arisan. Namun si batita tak bisa duduk manis selama acara berlangsung. Bahkan, tak sedikit anak berbicara sambil berteriak-teriak atau berlarian ke sana kemari. Banyak orangtua yang kesal dan langsung memarahi si batita. Padahal, tindakan memarahi malah dapat memberikan dampak yang tak baik bagi si batita. Selain membuatnya jadi rewel, bukan tak mungkin anak menganggap acara arisan tidaklah menyenangkan. Ia pun kapok jika suatu saat orangtua mengajaknya serta.
Cara Mengatasi:
– Sebetulnya, wajar saja bila si batita tak dapat duduk manis berlama-lama. Anak usia ini sedang mengembangkan kemampuan motoriknya. Makanya, dia tak bisa diam. Lagian, anak juga bukan orang dewasa mini yang bisa duduk lama dengan tenang. Acara arisan juga tidak menarik di mata anak. Yang dapat dilakukan adalah menyalurkan energi anak di luar ruangan. Ajak anak bermain di luar ditemani pengasuhnya. Lakukan beberapa permainan yang menyenangkan. Jika kebetulan orangtua lain membawa serta anak, biarkan si kecil berbaur bersama mereka dengan didampingi pengasuhnya.
6. REWEL KALA DITINGGAL ORANGTUA
Sulit kan jika anak tidak mau ditinggal pergi? Walhasil, banyak aktivitas orangtua yang batal gara-gara anak. Di usia ini, anak sedang mengembangkan sikap kelekatan. Jika anak menganggap orangtua adalah sosok paling dekat, maka sulit baginya untuk berpisah, maunya menempel melulu. Anak merasa tidak aman jika diasuh oleh sosok lain.
Cara Mengatasi:
– Berikan penjelasan. Jika ibu harus meninggalkan anak pergi berbelanja, katakan, “Mama mau pergi ke pasar. Tidak lama, kok, nanti Mama pulang dan bisa main lagi sama Adek.” Cara itu akan membuat anak mengerti, orangtua pergi hanya untuk sementara waktu.
– Hindarkan pergi secara sembunyi-sembunyi, bahkan berbohong. Itu bisa membuat anak semakin rewel, bahkan muncul ketidakpercayaan dalam dirinya.
– Agar anak tak terlalu merasa kehilangan, biarkan dia terlibat dalam sebuah kegiatan yang mengasyikkan seperti corat-coret. Biasanya, anak akan larut dalam aktivitasnya dan tidak terlalu memedulikan kepergian orangtua.
7. REWEL SETIAP KALI DIAJAK PERGI
Banyak orangtua yang pusing sekaligus kesal saat mengajak anaknya pergi. Itu semua terjadi karena si batita masih sulit mengendalikan emosinya. Selain orangtua juga mesti mengetahui penyebab kerewelan anak, semisal mood-nya sedang buruk. Atau, siapa tahu orangtua terlalu heboh saat mengajak anak bepergian, umpama, memburu-burunya mandi dan berpakaian. Ketergesaan itu menyebabkan anak tidak nyaman, lalu mengekspresikannya dengan sikap rewel. Sebab lain, mencari perhatian orangtua.
Cara Mengatasi:
Atasi berdasarkan penyebabnya. Bila dikarenakan suasana hatinya kurang baik, bangkitkanlah mood-nya. Jelaskan, perjalanan dan tempat tujuan sangat menyenangkan. Beritahukan hal-hal menarik apa saja yang bisa ditemui anak di tempat tujuan, seperti melihat sawah milik kakek, kerbau, dan sebagainya. Demikian juga kala di perjalanan. Jelaskan beberapa hal menarik yang bisa ditemui, misal, dengan menggunakan mobil sendiri, anak bisa melihat pemandangan. Jangan lupa, bawa serta mainan untuk di perjalanan. Atau, selama perjalanan orangtua bisa membuat aneka permainan menarik. Kalau memungkinkan, hindari mempersiapkan kepergian dengan terburu-buru, agar anak menganggap bepergian adalah hal yang menyenangkan.
8. REWEL SETIAP PAGI
Ada beberapa batita yang bersemangat setiap bangun pagi, di sisi lain banyak juga batita yang justru rewel. Menangis dengan berteriak, bahkan beberapa bersikap manja. Ini bisa disebabkan bermacam-macam hal. Boleh jadi sehari sebelumnya si batita mendapat pengalaman yang tidak menyenangkan, hingga pengalaman itu masih membekas saat terbangun. Jangan-jangan anak juga mendapat mimpi buruk. Atau, si kecil terlalu lelah atau sedang sakit, hingga dia mengekspresikan perasaan tidak nyamannya dengan sikap rewel. Rewel adalah tanda anak lelah, mengantuk, sakit, kecewa, sedih, dan lain-lain.
Cara Mengatasi:
– Bangkitkan semangat anak di pagi hari. Peluklah erat-erat, lakukan dialog singkat dan hangat di pagi hari. Ajak juga anak untuk main sebentar di pagi hari. Memutar musik kesukaan atau film favorit bisa dipilih. Jadi, saat bangun jangan langsung disuruh mandi dan berganti pakaian. Dengan begitu, anak bisa melupakan ketidaknyamanan yang dirasakannya.
– Orangtua jangan menyikapi kerewelan anak dengan sikap marah karena tak akan mampu meredam kerewelan, malah kerewelannya semakin menjadi. Bersikaplah tenang dan santai.
– Bila ibu sudah tak kuat menghadapi kerewelan anak, minta ayah atau orang lain menangani si kecil. Menangani sikap anak dengan emosi justru membuat anak semakin tertekan. Bukan tak mungkin jika sikap rewel akhirnya menjadi rutinitasnya setiap pagi.
– Ciptakan suasana menyenangkan di waktu malam menjelang tidur. Entah dengan mandi air hangat lebih dulu, lalu membacakan cerita, menyetel musik lembut, dan lain-lain. Dengan aneka ritual sebelum tidur, membuat suasana hati anak menjadi baik. Suasana hati yang baik itu pulalah yang akan dibawanya saat terbangun dari tidur.
9. REWEL SAAT NAIK KENDARAAN UMUM
Naik bis, angkutan kota, atau kereta api? Pasti banyak orangtua yang memiliki pengalaman tak menyenangkan dengan ulah si batita. Sepertinya angkutan umum bak “neraka” buat anak. Dia ingin cepat-cepat keluar dari dalamnya. Apalagi jika perjalanan harus memakan waktu berjam-jam, kerewelan anak pun semakin bertambah. Semua itu terjadi karena anak merasa bosan berlama-lama di angkutan umum. Ketiadaan aktivitas sangatlah menjenuhkan bagi anak usia ini. Ia pun lalu mengungkapkannya dengan kerewelan. Apalagi jika angkutan umum itu tidak berpendingin udara, sempit, dan sesak.
Anak juga rewel karena merasa tidak nyaman bertemu dengan banyak orang yang tak dikenalnya. Selain itu, anak usia ini bukan tipe “pertapa” yang bisa duduk berlama-lama. Anak sedang dalam masa eksplorasi. Keinginannya adalah bergerak dan terus bergerak. Ini tidak hanya berlaku untuk anak laki-laki, tapi juga perempuan.
Cara Mengatasi:
– Kerewelan anak bisa terjadi hanya saat pertama kali, tapi juga bisa setiap kali naik angkutan umum. Rewel saat pertama kali naik angkutan umum adalah wajar. Yang dapat dilakukan orangtua adalah membuat anak nyaman di angkutan umum. Dengan demikian, anak pun tidak rewel lagi.
Orangtua bisa mengajak anak mengobrol agar tak bosan. Jika mungkin, bisa juga diperdengarkan musik kesukaannya. Tentu dengan tak mengganggu penumpang lain. Ceritakan semua pemandangan yang ditemuinya saat di jalan. Ladeni semua pertanyaan anak dan puaskan rasa ingin tahunya.
Hal penting lainnya, bawa bekal makanan dan minuman yang cukup, di samping membawa beberapa mainan favorit anak. Pilih mainan yang sekiranya bisa dimainkan di angkutan umum.
Saeful Imam.
Konsultan Ahli:
Dian Kun Prasasti, Psi.,
dari Klinik Aditya Medical Centre, Jakarta

7 Trik HADAPI Anak Yang Ngotot

sumber : http://www.tabloid-nakita.com/

Mungkin saja penyebabnya lapar mata. Sabar, ada kiat bijak menghadapinya, kok.
“Mama, beliin aku anjing buldog ya!” pinta Kayla. Sang bunda melirik putrinya yang berusia 4 tahun sambil tersenyum. “Boleh, tapi nanti kalau Kayla sudah SD ya!” “Enggak mau! Maunya sekarang. Ayo Ma, kita beli sekarang!” Sudah beberapa minggu ini, Nadia dipusingkan dengan permintaan Kayla yang ngotot banget dibelikan anjing buldog. Bukan jenis anjingnya yang jadi masalah, tapi kengototan si kecil kala meminta sesuatu itu lo. Anjing hanya salah satu permintaannya. Sebelum itu, Kayla pernah ngotot sampai nangis-nangis minta dibelikan biola (padahal menurut Nadia, anaknya masih kecil untuk belajar menggesek biola). Beberapa bulan lalu, ia juga minta dibelikan kelinci warna pink. “Pusing deh aku kalau Kayla udah minta sesuatu. Ngototnya bukan main sampai nangis-nangis segala!” Nadia sampai mengibaratkan kalau anaknya yang duduk di TK A itu meminta sesuatu, itu sudah harga mati alias wajib dikabulkan, tidak boleh tidak. Kenapa sih si prasekolah bisa seperti itu?
Dari kacamata psikologi, menurut Naomi Soetikno, Psi., anak usia ini masih dalam masa egosentrisme, dimana dia menilai segala sesuatu dari sudut pandangnya saja. Alhasil, ketika menginginkan sesuatu, minta dituruti. Anak prasekolah juga rasa ingin tahunya demikian besar sehingga ketika tertarik pada sesuatu ia bersikeras mendapatkannya.
Faktor lainnya, anak usia ini mulai lebih berani untuk mengekspresikan diri atau mengemukakan bahkan mempertahankan pendapatnya. Bahkan, dia juga sudah bisa membuat keputusan sendiri. Alhasil, jangan heran kalau dia akan “memperjuangkan” agar keinginannya terkabulkan.
Si prasekolah juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Misalnya, bila temannya punya sesuatu yang baru dan bagus, dia pun ikut-ikutan ingin memilikinya. Terlebih anak usia ini juga memang masih tergolong suka “lapar mata” pula alias selalu ingin mendapatkan apa yang ada di depan matanya. Ujung-ujungnya, dia akan menggebu-gebu demi mendapatkan apa yang diingikannya.
Tentu orangtua kelabakan juga bila si anak selalu minta keinginannya dikabulkan segera. Kalaupun kita coba bujuk, misalnya,”Nanti saya ya Sayang. Ibu lagi enggak bawa uang, besok aja deh.” Alih-alih supaya anak lupa akan keinginannya, malah sebaliknya dia tak henti-hentinya menagih “janji”. Jadi, tetap saja kemauannya harus segera dipenuhi.
7 JURUS AMPUH
Karena belum dapat mengontrol keinginannya, si prasekolah selalu bersikeras, agar permintaannya mesti dikabulkan seketika. Dia belum bisa menunda keinginannya. Lantaran itu, kita mesti mengajarkan bagaimana supaya hal itu tak menjadi keterusan dan tak berdampak negatif terhadap perkembangan kepribadian si anak. Apa saja yang perlu dilakukan? Berikut di antaranya:
1. Jangan dituruti walau si kecil menangis
Kala si prasekolah ngotot memperjuangkan keinginannya sampai tantrum, seperti nangis-nangis, berteriak atau bahkan berguling-guling, tak perlu dituruti. Apalagi jika ia sudah diberi penjelasan namun tak bisa mengerti keadaan orangtua. Kalau orangtua “menyerah” (karena tak tahan mendengar tangisannya, misal) lantas mengabulkan keinginan anak, ia akan berpikir, “Ah, nanti kalau minta sesuatu, aku nangis aja yang keras, pasti dikabulkan kok.”
2. Buat skala prioritas
Kenalkan konsep skala prioritas pada si prasekolah dalam bentuk yang sederhana. Cara ini memungkinkan anak belajar menentukan apa yang betul-betul diinginkannya dan menyadari kalau permintaannya tak selalu bisa didapat. Contoh, bila dia tertarik pada suatu mainan, coba identifikasi apakah mainan itu sebenarnya sudah dimilikinya. “Kakak kan sudah punya mainan seperti itu. Coba deh ingat-ingat lagi. Lagi pula Kakak kan sedang membutuhkan pensil warna untuk lomba menggambar. Yuk kita cari yang Kakak butuhkan saja.” Sederhananya, prioritaskan kebutuhannya, bukan keinginannya.
3. Ajarkan menunda keinginan
Jelaskan bahwa tak semua yang ia mau harus didapat. Umpama, karena ayah tak punya uang, jadi tak bisa membelikan mobil-mobilan. Kalaupun dia tetap bersikukuh, jelaskan bahwa mainan itu harganya mahal. “Wah, harganya mahal, Nak. Ibu tak punya uang sebanyak itu.” Diharapkan anak terlatih untuk bisa menunda keinginannya. Sekaligus anak juga belajar berempati. Paling tidak dia belajar merasakan bahwa orangtuanya sedang tak punya uang yang cukup sehingga tak bisa membelikan apa yang ia mau.
Selalu memenuhi keinginan anak justru memiliki dampak negatif, yakni akan membuat egosentrismenya kian menjadi. Ia jadi menganggap, segala sesuatu bisa didapatnya hanya dengan rengekan. Selain jadi konsumtif, anak pun sama sekali tidak belajar mengasah kemampuannya memilah-milah sekaligus menentukan pilihan. Akibatnya, ia terbiasa gemar membeli barang-barang yang sebenarnya kurang dibutuhkan.
4. Jangan “obral” janji
Terkadang kita berusaha mengalihkan perhatian dengan cara mengumbar janji. Misal, “Nanti saja deh, kalau Ibu sudah punya uang, pasti Ibu beli.” Atau. “Besok saja ya, soalnya Ayah lagi buru-buru nih.” Tapi janji tinggal janji, kemauan anak tak terpenuhi juga. Alhasil, anak menagih janji sampai kita benar-benar mewujudkannya. Jadi, jangan mengobral janji dan jangan beranggapan kalau anak mudah dibohongi. Anak justru akan kecewa bila diberi janji kosong. Bila hal ini terjadi berulang kali anak tak percaya atau respek pada orangtua.
5. Tepati bila berjanji
Bila kita sudah kadung berjanji maka kita harus menepatinya. “Mama kan janji mau membelikamu boneka kalau
sudah ada uangnya.” Kalimat ini menunjukkan kalau kita benar-benar menepati janji. Bila ada kesesuaian antara janji dengan kenyataan maka anak pun akan belajar untuk menepati apa yang diucapkannya.
6. Jangan dimarahi
Terkadang orangtua juga jadi kesal karena selalu dituntut oleh sang anak seperti itu. Alhasil, malah marah atau justru diam tak menggubris kemauan anak. Tanpa ada penjelasan kenapa kita marah atau tak mau menanggapinya. Lantaran itu, justru anak jadi merasa tak diperhatikan. Anak jadi bertanya-tanya, “Kenapa ya, mama jadi marah begitu?” Jadi sebaiknya jelaskan saja alasannya kenapa kita tak segera mengabulkan permintaannya. Toh, dengan bahasa yang mudah dipahaminya, anak pun bisa mengerti juga.
7. Ketahui alasannya
Yang jadi persoalan juga, ketika menginginkan sesuatu, dia begitu ngototnya. Tapi, setelah didapat apa yang dimaunya, dia malah cuek dan beralih pada hal lain yang lebih menarik. Jadi, dia tak memedulikan lagi apa yang sudah didapatnya itu. Bila itu yang terjadi, tanyakan padanya, “Tadi kamu sampai nangis-nangis minta mainan itu, tapi kok sekarang disimpan di kotak mainan. Kenapa?” Dengarkan alasan si prasekolah, mungkin dia belum bisa memainkannya atau mungkin sebenarnya dia memang benar-benar tak terlalu suka dengan mainan itu. Atau misalnya, ketika dia minta dibelikan makanan tertentu, dikiranya enak ternyata rasanya pedas. Maka ketahui dulu alasannya menginginkan sesuatu. Lalu katakan, “Janji ya, mainan yang kamu minta betul-betul terpakai. Kalau tidak, besok-besok tidak beli lagi.” Jika kesepakatan dilanggar, anak boleh diberi sanksi, umpamanya tidak ke kebun binatang di akhir minggu, atau tidak nonton acara kesukaannya di malam hari.
Hilman Hilmansyah. Ilustrasi Pugoeh
Ciaaaaaaaat, YUK BERANTEM!
Dapatkah permainan adu fisik mengasah kemampuan motorik si prasekolah?
“Mama, ayo kita berantem-beranteman lagi,” kata si prasekolah. Baru saja sang ibu menganggukkan kepala sebagai isyarat menerima “tantangan” tersebut, sejurus kemudian “Ciatt…” si bocah pun langsung melakukan gerakan menarik mamanya ke depan sambil tertawa-tawa.
Ya, memang anak usia prasekolah cenderung menggemari permainan adu fisik seperti tadi. Pada dasarnya, permainan adu fisik ini sama saja dengan kegiatan bermain peran lainnya. Meski bernuansa “kekerasan”, tapi tidak sampai menjurus pada perkelahian yang sebenarnya. Jadi tak perlulah terlalu khawatir bila si prasekolah gemar permainan ini. Adu fisik justru mengerahkan seluruh anggota tubuh anak.
PURA-PURA, LO!
Meski begitu, ada beberapa hal yang perlu dilakukan orangtua agar permainan adu fisik ini sarat manfaat, seperti dijelaskan Henny E. Wirawan, M.Hum., Psi., dari Fakultas Psikologi, Universitas Tarumanagara, Jakarta, berikut ini:
* Beri penjelasan dan pengertian
Jangan pernah merasa bosan untuk memberikan pengertian bahwa permainan ini hanya sebatas pura-pura. “Sayang, mukulnya pura-pura saja, ya.” Atau “Kalau kamu menendang betulan, nanti kakimu atau perut ayah jadi sakit.” Kalau tanpa sengaja si prasekolah menonton film bernuansa adegan kekerasan, beri pengertian bahwa sikap seperti itu tidak baik. Dikhawatirkan, si kecil yang sedang dalam proses imitasi ini berimajinasi secara berlebihan dan mengadopsi apa yang dilihatnya.
Memutar film dengan alur cerita pertemanan bisa dijadikan alternatif yang baik untuk menyeimbangkan “hobinya” ini. Banyak pesan moral bisa didapat dari film seperti itu. Seperti sikap tidak menyakiti, tolong-menolong dan sebagainya. Berbagai upaya positif tersebut setidaknya membuat anak lebih paham bahwa aktivitas adu fisik itu sekadar pura-pura, tidak betulan, dan sekadar permainan.
* Lakukan pemantauan
Awasi ketika si prasekolah bermain berantem-beranteman dengan temannya. Jangan sampai terjadi sesuatu yang di luar dugaan, misalnya, malah berkelahi sungguhan. Bila hal itu terjadi, segeralah melerai dan ketahui penyebab kenapa mereka malah berantem betulan. Apakah karena salah satu anak tak sengaja menendang dengan keras hingga temannya merasa sakit, misalnya. Bisa saja, kan, si anak memukul karena energinya terlalu besar. Tapi tak perlu mencari siapa yang salah, siapa yang benar. Yang pasti segera beri penjelasan bahwa berkelahi itu tidak baik sehingga mereka bisa bermain bersama kembali. Katakan, permainan adu fisik itu hanya pura-pura. Terus, alihkan mereka ke permainan lain yang tak kalah menariknya.
* Perhatikan tempat bermain
Permainan ini bersifat aktif, bahkan dalam melakukannya kadang “lepas kontrol” sehingga sering kali tak memerhatikan situasi sekeliling. Lantaran itu, sebelum bermain berantem-beranteman, perhatikan sekitar tempat bermain itu. Boleh jadi ada benda atau sesuatu yang bisa mengundang bahaya atau menimbulkan cedera, misalnya ujung meja yang lancip. Lantaran itu, geser dulu benda atau furnitur tersebut agar si prasekolah dapat bermain dengan aman dan leluasa tentunya.
* Perhatikan aksesori yang digunakan
Selain dengan “tangan kosong”, kadang permainan ini juga disertai alat atau aksesori seperti pedang-pedangan atau pistol mainan. Seleksi senjata-senjataan itu apakah bisa menimbulkan cedera atau tidak. Contoh, pelurumeski dari terbuat karetyang ditembakkan dari pistol-pistolan yang digunakan bisa membahayakan juga, lo.
* Lakukan permainan yang lain
Ajak si prasekolah melakukan permainan dalam bentuk lain. Dengan melakukan berbagai permainan yang beragam, pengalaman yang didapatnya pun akan bervariasi. Alhasil, aktivitas bermainnya jadi berimbang, tak melulu main berantem-beranteman. Contoh, bermain peran sebagai guru, polisi, dokter, dan lainnya. Di sisi lain, si prasekolah tak sekadar bisa “mengadu fisik” tapi juga mengasah imajinasinya sebagai sosok polisi, guru atau profesi lainnya. Atau juga bentuk permainan lain semisal permainan pertukangan, bengkel-bengkelan yang sekaligus bisa mengasah kemampuan motorik halusnya. Sementara, main adu fisik hanya mengasah motorik kasarnya. Atau misalnya, berenang agar energinya yang berlebih itu bisa tersalurkan.
Kalau perlu, buat sebuah “jadwal bermain” bagi si prasekolah. Umpamanya, hari ini main berantem-beranteman, besok main guru-guruan, lusa main dokter-dokteran dan seterusnya. Jadwal yang disusun tak perlu kaku, toh itu sekadar panduan agar si prasekolah melakukan aktivitas yang beragam. Jadi intinya sih agar anak tak hanya melakukan permainan itu-itu saja.
BAK JAGOAN!
Ada beberapa manfaat yang bisa dipetik dari permainan adu fisik ini, yaitu:
* Merangsang imajinasi
Permainan ini bisa mengasah imajinasi atau daya khayal si prasekolah. Konkretnya, dia belajar memerankan sosok jagoan pembela kebenaran yang melawan musuh. Atau misalnya, memerankan polisi yang sedang mengejar penjahat. Memerankan sosok ini bisa dilakukan bergiliran, sehingga anak merasakan bagaimana peran sebagai jagoan sekaligus bagaimana menjadi sosok antagonis.
* Menyalurkan energi
Energi berlebihan si usia prasekolah dapat tersalurkan melalui permainan ini. Dengan bermain pura-pura berantem, si prasekolah dapat menyalurkan kebutuhannya sekaligus melatih kemampuan motorik kasar. Tentu saja, bila kebutuhannya itu sudah tersalurkan, anak akan merasa puas. Kalau saja dilarang, boleh jadi perkembangan motorik kasarnya terhambat.
* Mengenal emosi
Main berkelahi-kelahian secara tak langsung juga membuat anak belajar mengenal emosi. Misal, ketika marah, ekspresi wajah tampak “sangar”. Atau ketika kesakitan karena terkena “pukulan atau tendangan”, misalnya, dia meringis.
* Mempererat ikatan emosi
Nah, bila permainan adu fisik ini dilakukan antara anak dan ayah, bisa saja mempererat ikatan emosional antara keduanya. Tak hanya kontak emosi, juga ada kontak fisik yang terjalin. Si prasekolah pun merasa senang karena aktivitas bermain itu ditanggapi dengan baik oleh orangtuanya.
Hilman Hilmansyah.

Mengenalkan Empati Sejak Dini

Sumber : http://duniapsikologi.dagdigdug.com/category/psikologi-anak/

Dunia yang semakin global dan ekonomi pasar yang penuh dengan persaingan ketat membuat tenggang rasa dan empati sosial masyarakat semakin rendah. Itu kenapa seringkali terjadi konflik sosial di masyarakat. Salah satu upaya yang dapat mencegah meluasnya dan meminimalkan dampak negatif dari globalisasi adalah mensosialisasikan rasa empati sejak dini. Keluarga adalah struktur sosial terkecil yang mampu membentengi patologi sosial yang terus menggejala khususnya masyarakat Indonesia.
Secara naluriah anak sudah mengembangkan empati sejak bayi. Awalnya empati yang dimiliki sangat sederhana, yakni empati emosi. Misalnya pada usia 0-1 tahun, bayi bisa menangis hanya karena mendengar bayi lain menangis, barulah di usia 1-2 tahun, anak menyadari kalau kesusahan temannya bukanlah kesusahan yang mesti ditanggung sendiri. Walaupun demikian, rasa empati pada anak harus diasah. Bila dibiarkan rasa empati tersebut sedikit demi sedikit akan terkikis walau tidak sepenuhnya hilang, tergantung dari lingkungan yang membentuknya.
Banyak segi positif bila kita mengajarkan anak berempati. Mereka tidak akan agresif dan senang membantu orang lain. Selain itu empati berhubungan dengan kepedulian terhadap orang lain, tak heran kalau empati selalu berkonotasi sosial seperti menyumbang, memberikan sesuatu pada orang yang kurang mampu. Empati berarti menempatkan diri seolah-olah menjadi seperti orang lain. Mempunyai rasa empati adalah keharusan seorang manusia, karena di sanalah terletak nilai kemanusiaan seseorang. Oleh karena itu, setiap orang tua wajib menduplikasikan rasa empati kepada anak-anaknya. Menurut Ubaydillah (2005) empati adalah kemampuan kita dalam menyelami perasaan orang lain tanpa harus tenggelam di dalamnya. Empati adalah kemampuan kita dalam mendengarkan perasaan orang lain tanpa harus larut.
Empati adalah kemampuan kita dalam meresponi keinginan orang lain yang tak terucap. Kemampuan ini dipandang sebagai kunci menaikkan intensitas dan kedalaman hubungan kita dengan orang lain (connecting with). Selain itu Empati merupakan salah satu kunci keberhasilan dalam melakukan hubungan antar pribadi dengan coba memahami suatu permasalahan dari sudut pandang atau perasaan lawan bicara. Melalui empati, individu akan mampu mengembangkan pemahaman yang mendalam mengenai suatu permasalahan. Memahami orang lain akan mendorong antar individu saling berbagi. Empati merupakan kunci pengembangan leadership dalam diri individu.

Batita Kurang Gaul

Sumber : cyberjob.cbn.net.id

sumber : Mother And Baby
Saat batita lain mulai berteman dengan sebaya, ada batita yang lebih memilih bermain sendirian setiap saat.

Gadis tadinya mengira dengan memasukan puterinya Prilly (2,7 bulan) ke pre-school, Si Kecil berambut brindil itu akan lebih mudah berkawan. Ternyata hingga bulan ke-6 di pre-school tetap saja Prilly lebih suka bermain dan beraktivitas sendirian. Jarang ibunya melihat Si Kecil asyik bermain berdua teman sebaya atau sekedar berbagi ayunan. Sifat penyendiri atau soliter Prilly semakin mencolok ketika Septi membantu memasangkan si kecil dengan anak lain. Prilly tetap tidak menunjukkan minat menjalin persahabatan, malah semakin tenggelam dalam keasyikkannya sendiri.

Belum Prioritas
Semestinya ayah-ibu tak perlu kuatir jika batitanya belum menunjukan minat bergaul. Bagi kebanyakan anak seusia ini, berteman dengan anak sebaya lainnya ternyata belum menjadi prioritas. Mereka sudah cukup senang bermain sendirian di sebelah atau di dekat-dekat temannya, kok. Jadi tidak perlu bermain bersama dalam artian saling berinteraksi.

Orang dewasa pun kerap salah sangka. Jika menyaksikan dua batita yang kelihatannya sedang asyik bermain bersama, mereka kira dua batita itu benar-benar berkomunikasi dalam permainan. Padahal jika diperhatikan lagi, seringkali sesungguhnya hanya posisi dua batita itu saja yang berdekatan atau bersebelahan. Boleh jadi masing-masing ternyata tengah asyik dengan permainannya sendiri, bahkan mereka berada di dunia khayalan dan imajinasi yang berbeda dan terpisah.

Ada juga tipikal batita yang memang lebih memilih bermain bersama anak yang lebih besar atau bahkan orang dewasa, ketimbang sebayanya. Ini karena unsur persaingan menjadi lebih kecil. Mereka tak perlu bersaing untuk berebut mainan yang sama atau untuk menunggu giliran. Dengan kata lain, bermain bersama orang dewasa jauh lebih aman.

Pilihan untuk bermain sendiri ketimbang berkelompok juga dipengaruhi oleh karakter bawaan batita. Batita berkarakter sanguinist yang bercirikan sifat terbuka, senang berteman, periang, dan supel, tentu lebih mudah masuk ke dunia pergaulan teman sebaya ketimbang batita yang berkarakter melankolis yang tertutup, atau plegmatis yang lebih suka menjadi pengamat dari jauh ketimbang segera bergabung dalam hiruk-pikuk pertemanan.

Khusus menyoal sifat “senang mengamati”, sejumlah psikolog perkembangan menyatakan sebenarnya hampir setiap batita menghabiskan 20% waktunya untuk mengamati ketimbang ambil bagian dalam sesuatu. Mengamati bisa berarti memandangi kawan sebayanya bermain atau memandangi hiruk-pikuk anak bermain. Ketika batita menginjak usia dua tahun, waktu pengamatan berkurang menjadi 14% – dimana saat itu batita sudah mulai mau ambil bagian. Jadi sebenarnya setiap batita memiliki periode hanya menjadi pengamat dulu sebelum betul-betul bergaul. Namun perlu diketahui orangtua, mengamati bukan berarti tidak berpartisipasi. Justru pengamatan salah satu cara batita berperan serta dalam aktivitas lingkungan.

Selanjutnya, meski ada beberapa batita lebih ramah dan cepat terlibat dalam apa yang terjadi – permainan, percakapan, aktivitas – banyak juga yang perlu meluangkan waktu untuk terus mengamati dari luar sebelum mengambil tindakan. Ada juga yang sudah cukup puas memperhatikan dari jauh sehingga mereka tidak terlalu ingin bergabung dengan kelompoknya. Mereka memang anak-anak jenis pengamat.

Memang ada keuntungan lebih yang bisa diperoleh batita yang mulai bergaul dengan sebayanya di usia dini. Anak yang mudah berteman di usia ini, biasanya sudah mempunyai pengalaman sosial lebih baik ketimbang si soliter. Mereka lebih mudah bermain berpasangan, lebih cepat mendapatkan sahabat, juga memiliki kesempatan melatih diri mengatasi konflik di antara teman sebaya. Keuntungan lainnya adalah mereka akan terlatih menjadi pemain tim.

Dalam What to Expect the Toddler Years juga disebut batita yang mudah bergaul dengan teman sebaya umumnya memang telah dibiasakan untuk itu. Mungkin lantaran pernah menghabiskan waktu di tempat penitipan anak, serumah dengan beberapa kakak/adik atau sepupu, atau dibesarkan di keluarga besar. Sebaliknya, batita yang dibesarkan di keluarga kecil – hanya dengan ayah-ibu yang sibuk bekerja dan seorang baby sitter – ditambah jarang bepergian atau diperkenalkan kepada orang lain, mungkin tak akan secepat kawannya yang disebut di atas. Anak yang lambat atau susah berteman, dengan sendirinya perlu mendapatkan pengalaman sosial, bukannya dibiarkan tenggelam dalam kesendiriannya. Banyak hal bisa dilakukan orangtua untuk itu. Tapi sebaiknya jangan memaksa. Sangat wajar bila anak baru benar-benar siap bergaul dalam waktu 1-2 tahun mendatang setelah masa batitanya lewat.

BERTEMAN YUK, NAK…

Banyak orang yang semasa kanak-kanaknya susah berteman dan bergaul, akhirnya menjadi orang dewasa yang populer dengan segudang teman dan sahabat, sibuk dengan aktivitas sosial, menjadi anggota team work yag andal, dll. Kesempatan ini pun berlaku bagi si kecil yang selama ini agak tertinggal dalam dunia pergaulan. Memiliki anak soliter atau introvert bukan sesuatu yang mencemaskan sepanjang kita tahu cara menghadapinya.
1. Hindari pemaksaan. Ketimbang memaksa anak untuk berteman, lebih baik beri dukungan dengan membina ketrampilan sosialnya. Misal, mengajarkan mereka cara bersopan-santun, sifat tolong-menolong, berbagi, menunggu giliran, memberi dan meminta maaf, dll.

2. Jadilah temannya. Jika si kecil pemalu, maka ayah atau ibunya adalah teman pertama yang dapat membantunya berkawan. Sebaliknya jika si kecil agresif terhadap orang lain, kitalah yang memberitahu sikap seperti itu tidak disenangi anak lain. Bila kita ikut menjauhi si kecil, ia akan makin terbenam dalam kesendiriannya.

3. Ajak dan biarkan anak mengenali situasi. Kadang anak ingin mengenali situasi dulu sebelum memulai pertemanan. Apalagi kalau si kecil kebetulan tipe pengamat yang tidak begitu senang terlibat langsung dalam berbagai kegiatan. Bisa saja si kecil hanya mengamati dari jauh teman-teman barunya, sebelum akhirnya berani bergabung. Dan ini perlu waktu. Jadi berikan waktu khusus dan tak usah buru-buru.

4. Jadilah ‘penghubung’ atau ice breaker. Kalau si kecil susah berteman karena pemalu, kita bisa memberi usul. Misal, “Kayaknya temanmu X suka mainan ini, deh. Yuk kita tanya, mau nggak main sama kamu.”

5. Minta bantuan guru/instruktur kelas. Jika si kecil sudah tercatat sebuah kelompok bermain tetapi seringkali kesepian karena tak punya teman, jelaskan hal ini pada gurunya, dan mintalah bantuannya.

6. Libatkan diri dalam permainan. Jika si kecil masih susah juga berteman, kita bisa mengajaknya melakukan permainan atau kegiatan yang gembira. Lalu, ajak teman-temannya. Tetapi ini sebaiknya tidak dijadikan kebiasaan. Karena nanti anak tak pernah belajar membuka kontak sendiri.

7. Biarkan si kecil dengan kecepatan perkembangan sosialnya. Tidak masalah jika di usia batita anak hanya mau bermain dengan anggota keluarga saja. Toh, saat ini pun memiliki banyak teman sebaya belum begitu penting baginya. b Rahmi/Toddler Years

Batita Kurang Gaul

sumber : Mother And Baby

Saat batita lain mulai berteman dengan sebaya, ada batita yang lebih memilih bermain sendirian setiap saat.

Gadis tadinya mengira dengan memasukan puterinya Prilly (2,7 bulan) ke pre-school, Si Kecil berambut brindil itu akan lebih mudah berkawan. Ternyata hingga bulan ke-6 di pre-school tetap saja Prilly lebih suka bermain dan beraktivitas sendirian. Jarang ibunya melihat Si Kecil asyik bermain berdua teman sebaya atau sekedar berbagi ayunan. Sifat penyendiri atau soliter Prilly semakin mencolok ketika Septi membantu memasangkan si kecil dengan anak lain. Prilly tetap tidak menunjukkan minat menjalin persahabatan, malah semakin tenggelam dalam keasyikkannya sendiri.

Belum Prioritas
Semestinya ayah-ibu tak perlu kuatir jika batitanya belum menunjukan minat bergaul. Bagi kebanyakan anak seusia ini, berteman dengan anak sebaya lainnya ternyata belum menjadi prioritas. Mereka sudah cukup senang bermain sendirian di sebelah atau di dekat-dekat temannya, kok. Jadi tidak perlu bermain bersama dalam artian saling berinteraksi.

Orang dewasa pun kerap salah sangka. Jika menyaksikan dua batita yang kelihatannya sedang asyik bermain bersama, mereka kira dua batita itu benar-benar berkomunikasi dalam permainan. Padahal jika diperhatikan lagi, seringkali sesungguhnya hanya posisi dua batita itu saja yang berdekatan atau bersebelahan. Boleh jadi masing-masing ternyata tengah asyik dengan permainannya sendiri, bahkan mereka berada di dunia khayalan dan imajinasi yang berbeda dan terpisah.

Ada juga tipikal batita yang memang lebih memilih bermain bersama anak yang lebih besar atau bahkan orang dewasa, ketimbang sebayanya. Ini karena unsur persaingan menjadi lebih kecil. Mereka tak perlu bersaing untuk berebut mainan yang sama atau untuk menunggu giliran. Dengan kata lain, bermain bersama orang dewasa jauh lebih aman.

Pilihan untuk bermain sendiri ketimbang berkelompok juga dipengaruhi oleh karakter bawaan batita. Batita berkarakter sanguinist yang bercirikan sifat terbuka, senang berteman, periang, dan supel, tentu lebih mudah masuk ke dunia pergaulan teman sebaya ketimbang batita yang berkarakter melankolis yang tertutup, atau plegmatis yang lebih suka menjadi pengamat dari jauh ketimbang segera bergabung dalam hiruk-pikuk pertemanan.

Khusus menyoal sifat “senang mengamati”, sejumlah psikolog perkembangan menyatakan sebenarnya hampir setiap batita menghabiskan 20% waktunya untuk mengamati ketimbang ambil bagian dalam sesuatu. Mengamati bisa berarti memandangi kawan sebayanya bermain atau memandangi hiruk-pikuk anak bermain. Ketika batita menginjak usia dua tahun, waktu pengamatan berkurang menjadi 14% – dimana saat itu batita sudah mulai mau ambil bagian. Jadi sebenarnya setiap batita memiliki periode hanya menjadi pengamat dulu sebelum betul-betul bergaul. Namun perlu diketahui orangtua, mengamati bukan berarti tidak berpartisipasi. Justru pengamatan salah satu cara batita berperan serta dalam aktivitas lingkungan.

Selanjutnya, meski ada beberapa batita lebih ramah dan cepat terlibat dalam apa yang terjadi – permainan, percakapan, aktivitas – banyak juga yang perlu meluangkan waktu untuk terus mengamati dari luar sebelum mengambil tindakan. Ada juga yang sudah cukup puas memperhatikan dari jauh sehingga mereka tidak terlalu ingin bergabung dengan kelompoknya. Mereka memang anak-anak jenis pengamat.

Memang ada keuntungan lebih yang bisa diperoleh batita yang mulai bergaul dengan sebayanya di usia dini. Anak yang mudah berteman di usia ini, biasanya sudah mempunyai pengalaman sosial lebih baik ketimbang si soliter. Mereka lebih mudah bermain berpasangan, lebih cepat mendapatkan sahabat, juga memiliki kesempatan melatih diri mengatasi konflik di antara teman sebaya. Keuntungan lainnya adalah mereka akan terlatih menjadi pemain tim.

Dalam What to Expect the Toddler Years juga disebut batita yang mudah bergaul dengan teman sebaya umumnya memang telah dibiasakan untuk itu. Mungkin lantaran pernah menghabiskan waktu di tempat penitipan anak, serumah dengan beberapa kakak/adik atau sepupu, atau dibesarkan di keluarga besar. Sebaliknya, batita yang dibesarkan di keluarga kecil – hanya dengan ayah-ibu yang sibuk bekerja dan seorang baby sitter – ditambah jarang bepergian atau diperkenalkan kepada orang lain, mungkin tak akan secepat kawannya yang disebut di atas. Anak yang lambat atau susah berteman, dengan sendirinya perlu mendapatkan pengalaman sosial, bukannya dibiarkan tenggelam dalam kesendiriannya. Banyak hal bisa dilakukan orangtua untuk itu. Tapi sebaiknya jangan memaksa. Sangat wajar bila anak baru benar-benar siap bergaul dalam waktu 1-2 tahun mendatang setelah masa batitanya lewat.

BERTEMAN YUK, NAK…

Banyak orang yang semasa kanak-kanaknya susah berteman dan bergaul, akhirnya menjadi orang dewasa yang populer dengan segudang teman dan sahabat, sibuk dengan aktivitas sosial, menjadi anggota team work yag andal, dll. Kesempatan ini pun berlaku bagi si kecil yang selama ini agak tertinggal dalam dunia pergaulan. Memiliki anak soliter atau introvert bukan sesuatu yang mencemaskan sepanjang kita tahu cara menghadapinya.
1. Hindari pemaksaan. Ketimbang memaksa anak untuk berteman, lebih baik beri dukungan dengan membina ketrampilan sosialnya. Misal, mengajarkan mereka cara bersopan-santun, sifat tolong-menolong, berbagi, menunggu giliran, memberi dan meminta maaf, dll.

2. Jadilah temannya. Jika si kecil pemalu, maka ayah atau ibunya adalah teman pertama yang dapat membantunya berkawan. Sebaliknya jika si kecil agresif terhadap orang lain, kitalah yang memberitahu sikap seperti itu tidak disenangi anak lain. Bila kita ikut menjauhi si kecil, ia akan makin terbenam dalam kesendiriannya.

3. Ajak dan biarkan anak mengenali situasi. Kadang anak ingin mengenali situasi dulu sebelum memulai pertemanan. Apalagi kalau si kecil kebetulan tipe pengamat yang tidak begitu senang terlibat langsung dalam berbagai kegiatan. Bisa saja si kecil hanya mengamati dari jauh teman-teman barunya, sebelum akhirnya berani bergabung. Dan ini perlu waktu. Jadi berikan waktu khusus dan tak usah buru-buru.

4. Jadilah ‘penghubung’ atau ice breaker. Kalau si kecil susah berteman karena pemalu, kita bisa memberi usul. Misal, “Kayaknya temanmu X suka mainan ini, deh. Yuk kita tanya, mau nggak main sama kamu.”

5. Minta bantuan guru/instruktur kelas. Jika si kecil sudah tercatat sebuah kelompok bermain tetapi seringkali kesepian karena tak punya teman, jelaskan hal ini pada gurunya, dan mintalah bantuannya.

6. Libatkan diri dalam permainan. Jika si kecil masih susah juga berteman, kita bisa mengajaknya melakukan permainan atau kegiatan yang gembira. Lalu, ajak teman-temannya. Tetapi ini sebaiknya tidak dijadikan kebiasaan. Karena nanti anak tak pernah belajar membuka kontak sendiri.

7. Biarkan si kecil dengan kecepatan perkembangan sosialnya. Tidak masalah jika di usia batita anak hanya mau bermain dengan anggota keluarga saja. Toh, saat ini pun memiliki banyak teman sebaya belum begitu penting baginya. b Rahmi/Toddler Years

Aku Stress Bunda

Sumber : http://cyberjob.cbn.net.id

Mother And Baby
Siapa bilang anak kecil tidak bisa stress. Beban pelajaran yang berat, persaingan antar teman bahkan perceraian orang tua bisa memicunya. Mengenali gejala stress pada anak gampang-gampang susah. Apalagi buat orang tua sibuk yang jarang dirumah. Untuk itu, diperlukan strategi khusus menghadapinya.

Belakangan ini Ny. Renny sering melihat si sulung Vito (7 tahun) termenung sendiri rumah. Dia juga jadi sulit diajak bicara. Yang mengherankan lagi, setiap kali mengerjakan PR Vito seringkali bolak balik ke kamar mandi. Dalam hati Renny membatin, apakah buah hatinya mengalami stress? Masa sih, kecil-kecil sudah stress?

Menurut Henny Eunike Wirawan M.Psi, dosen psikologi di Universitas Tarumanagara, stress bukan cuma milik orang dewasa. Anak kecil juga bisa mengalaminya. Stress adalah respon terhadap tuntutan fisik atau psikologis. Respon ini sangat tergantung pada persepsi seseorang. Seberapa jauh ia merasa tertuntut dengan faktor tersebut. Misalnya persepsi terhadap beban belajar. Ada anak yang sudah merasakan stress dengan beban belajar tertentu, tapi anak lain belum tentu merasakannya.

Banyak faktor yang menyebabkan anak mengalami stress. Misalnya saja kejadian dalam keluarga. Pindah rumah, perubahan kerja, PHK pada orang tua, perceraian orang tua, atau kematian salah satu anggota keluarga adalah penyebab yang umum terjadi. Selain itu, PR yang bertumpuk, ulangan setiap hari, jam belajar terlalu panjang, reaksi guru dan teman sekolah, bahkan fasilitas sekolah yang terbatas, bisa membuat stress.

Anak usia sekolah dasar, sedang giatnya bergaul. Nah, pergaulan juga bisa buat stres lho. Misalnya tidak punya teman, keharusan mengikuti aturan kelompok sebaya, dan diskriminasi dalam pergaulan. Lingkungan fisik bisa jadi pemicu juga. Cuaca panas atau terlalu dingin, pencahayaan terlalu terang, bunyi terlalu bising, asap rokok ataupun polusi udara.

Namun, menurut Hanny, tidak hanya pengalaman yang bersifat negatif saja menjadi sumber stress. Pengalaman positif, misalnya: liburan , kenaikan kelas, kelahiran adik, atau kedatangan sanak keluarga misalnya. Beberapa anak, mungkin terlalu antusias menghadapinya sehingga respon fisik dan mentalnya tidak siap. Ada lho anak yang mendadak sakit perut hebat karena ayah bundanya memberi kejutan liburan keliling Eropa.

Daya Tahan Tubuh Menurun

“Tanda anak mengalami stress adalah kerentanannya terhadap penyakit dan beragam reaksi psikologis,” jelas Henny.Secara fisik anak stress tubuhnya tidak memiliki daya tahan yang cukup sehingga mudah terasa pegal dan pusing, sakit perut, lemas bahkan pilek. Secara psikologis ia terlihat mudah marah, gampang menangis, pencemas, gugup,dan gelisah. Adakalanya ia mengalami kesulitan untuk tidur dan terjadi perubahan pola makan. Prestasi belajar pun biasanya menurun.

Anak biasanya sulit mengkomunikasikan pada orang tua tentang masalahnya. Bahkan sebagian dari mereka tidak tahu apakah dirinya sedang bermasalah. Terutama untuk anak yang baru duduk di bangku kelas satu atau kelas dua. Sepatutnya orang tua yang menjadi detektif, mencari tahu apa yang sedang terjadi. Seringkali karena kesibukannya, orang tua hanya mendengar laporan perilaku anak dari pengasuhnya.

Orang Tua Pemicu Stress

Stress pada anak bisa dipicu orang tua lho. Pengamatan anak terhadap tingkah laku orang tua dalam menghadapi tekanan hidup melatihnya untuk belajar menangapi situasi yang tengah dialaminya sendiri. ” Jika orang tua yang pencemas dan cepat bereaksi dengan panik membuat anak mudah melakukan hal serupa bila menghadapi persoalan,” papar Henny.

Stress juga dipengaruhi oleh ketangguhannya dalam menghadapi persoalan. Biasanya anak yang tangguh lebih mampu berhadapan dengan tekanan hidup dan tidak mudah patah semangat dalam menyelesaikan persoalan. Hal ini tergantung dari pola asuh. Sebab ketangguhan anak juga dipengaruhi oleh dukungan orangtuanya. Sebaiknya ia dilatih melihat hidup sebagaimana adanya. Ada saatnya susah, ada juga saatnya senang. Latihlah mereka mengenal emosinya.

Evaluasi Faktor Penyebabnya
Stres pada anak dapat diatasi dengan mengevaluasi faktor-faktor penyebabnya. Jika stress disebabkan oleh tugas sekolah, ada baiknya orang tua melakukan kontak dengan guru di sekolah untuk memperjelas persepsi mengenai beban yang dialami anak. Menurut Hennya orang tua juga bisa berbagi pengalaman mengenai proses pengerjaan tugas atau alokasi waktu yang menjadi beban anak.

Menjalin komunikasi dengan guru sangat membantu dalam memantau perkembangan anak di sekolah. Selain itu, pertemuan dengan orang tua murid lainnya bisa membuka wawasan. Apakah yang terbebani hanya anaknya saja atau semuanya mengalami masalah serupa. Jika itu yang terjadi, usulkan supaya sekolah mengurangi beban anak. Tapi bila yang terbebani hanya anak tertentu, Mungkin ia harus dipindahkan ke sekolah lain yang lebih ringan bebannya. Karena itu, sebelum memasukkan anak ke suatu sekolah ada baiknya orang tua mengetahui dengan jelas program yang ditawarkan berikut aktivitasnya.

Tanda-Tanda Anak Stres
1. Mengalami gangguan makan , tidak mau makan, malas makan, rewel, makan cuma sedikit
2. Mengalami gangguan tidur, sering terbangun saat malam, gelisah, ngompol
3. Mengalami gangguan fisik, sakit perut, pusing, sakit kepala, alergi
4. Muncul gejala agresivitas, keras kepala, sering marah-marah
5. Menutup diri, enggan bergaul, mogok sekolah, murung dan cengeng
6. Melakukan kebiasaan tak lazim misal mencabuti rambut, menggigit kuku, kembali menghisap jempol.besi.

Penyebab Stress

Di Rumah :
• Sering melihat orang tua bertengkar
• Sering dipotong saat bicara, disuruh diam
• Kurang perhatian orang tua
• Jika menangis langsung diomeli
• Punya adik baru
• Pindah rumah, masuk ke lingkungan baru
• Takut penjahat
• Takut monster atau hantu (biasanya sehabis menonton filmnya)

Di Sekolah atau Pergaulan
• PR terlalu banyak
• Ada guru yang ditakuti
• Terasing, tidak diajak bermain oleh kawan
• Diejek teman, dan sering dianggap lemah
• Dimusuhi kawan
• Mengalami peristiwa kecelakanan , hura-hura dan perampokan.b esi

Anak Terlambat Bicara

sumber : milist SEHAT

oleh : Ibu Julia Maria

sekalipun anak hanya mengalami keterlambatan bicara karena perkembangannya sendiri, tetap memerlukan perhatian, sebab kini sudah diketahui bahwa anak-anak tersebu akan mengalami kesulitan di sekolah, dan setengah populasi disleksia (learning disabilities) mempunyai riwayat terlambat bicara).

Tentang perkembangan bicara dan bahasa sebetulnya sudah mulai diperhatikan sejak anak masih bayi. Jika anak kurang babbling, kemungkinan bisa juga kelak mengalami gangguan perkembangan bicara.

Tetapi bagaimana anak bisa sampai terlambat bicara?
1. Karena sajian bahasa yang kurang.
– orang tua kurang aktif, sajian kurang memadai
– sakit lama atau sakit yang mempengaruhi pendengaran
– penggunaan multibahasa
2. Karena kondisi anak
a. mempunyai perkembangan yang berbeda (ahli speech patologi
menyebutnya Specific Language Impairment/SLI, neurolog menyebut
dysphasia atau gangguan perkembangan bicara dan bahasa ekspresif)
inteligensi tidak terganggu, prognosis sangat baik, kelompok
ini tidak mengalami gangguan neurologis;
b. gangguan majemuk autisme
c. retardasi mental
d. tuli
e. adanya gangguan di pusat pendengaran di otak
f. kemunduran yang tidak diketahui sebab-sebabnya

Sebelum kita menetapkan apakah anak kita mengalami keterlambatan bicara, faktor2 yang tidak berpengaruh disingkirkan dahulu.
– Pertama ke dokter ahli THT/audiologi untuk memastikan bagaimana pendengaran anak. Sebab ada yang nampaknya tidak tuli, tetapi ternyata ia tidak dapat mendengar nada-nada tertentu, dengan begitu ia juga mengalami kesulitan belajar bicara. Karena itu setiap anak yang mempunyai masalah bicara perlu ke dokter THT/audiologi.

- Dokter tumbuh kembang, untuk melihat bagaimana perkembangan kognitifnya. hal ini penting. Sebab kelompok a) yang tidak mengalami gangguan perkembangan kognitif, akan mempunyai prognosa yang paling baik. Setiap kelompok mempunyai cara tersendiri dalam melakukan stimulasi/intervensi.
Jika anak mempunyai perkembangan senso-motorik yang baik, bisa diajak bercanda (emosinya baik), bisa berbahasa monyet (simbolik) artinya prognosanya baik. Kelompok ini merupakan kelompok a).
Tetapi jika tidak bisa diajak bercanda, tidak bisa brbahasa monyet, maka pperlu konsultasi ke psikiater, kemungkinan autisme.
Perkembangan senso-motorik kurang, emosi baik, kemungkinan disebabkan oleh gangguan perkembangan inteligensi.

- neurolog, untuk melihat kemungkinan apakah ada gangguan neurologis.

Kapan anak dianggap terlambat bicara.
Jika anak di usia 2 tahun belum dapat berkomunikasi timbal balik dengan kalimat terdiri dari 2 kata. Jika dalam pemeriksaan tumbuh kembang tidak terdapat hal yang mencemaskan, maka anak perlu stimulasi hingga usia tiga, kemudian dievaluasi lagi. Jika belum menunjukkan kemajuan, lakukan terapi wicara yang tepat sesuai dengan kondisinya. Kalau bukan autis, ya jangan diterapi ala autis. Bukan tuli jangan diterapi ala tuli.

BAGAIMANA ANAK BELAJAR BICARA
(saya kopi paste artikel lama yang pernah saya kirim di milis ini)

1. Aspek Semantik (arti bahasa).
Bila seorang anak akan mengatakan atau memahami sesuatu, ia harus mempunyai daftar kata-kata atau vokabulari yang cukup memadai, yang dengan kata lain kita bisa mengatakan bahwa:
– si anak mempunyai cukup kata-kata agar bisa memproduksi dan memahami (bahasa aktif dan pasif);
– menemukan kata-kata yang tepat (memanggil kata dari daftar memori);
– memahami apa yang diucapkan (pengertian kalimat).

Seorang anak kecil belajar berbicara mula-mula adalah dengan cara menunjuk berbagai benda-benda yang ada di sekitarnya atau kata kerja yang harus digunakannya. Menunjuk benda-benda yang dapat dilihatnya (kursi, meja, makan, boneka dlsb), atau kata yang dapat menunjukkan pada pengertian tempat “disini” atau “sekarang”.
Daftar kata-kata ini akan segera meningkat tanpa batas. Namun bisa diperkirakan bahwa seorang anak pada usia dua tahun setidaknya memerlukan 270 kata, 900 kata di usianya yang ketiga, dan sekitar 2500 hingga 4000 kata di usianya yang ke enam. Walau begitu seorang anak sebetulnya mempunyai lebih banyak lagi kata-kata (daftar kata-kata yang pasif) daripada yang bisa ia produksi (sebagai daftar kata aktif). Daftar kata pasif seorang anak berusia enam tahun bisa dua kali lipat banyaknya dibanding dengan daftar kata aktif yang dimilikinya. Dengan kata lain anak berusia tiga hingga lima tahun akan mengalami kesulitan memanggil kata-kata yang berada di dalam memorinya; seringkali sulit menggunakan kata pada tempat dan waktu yang tepat. Kadang terjadi seorang anak akan membuat kata-kata sendiri (neologis), atau bicaranya kacau, sepotong-sepotong, dan diulang-ulang.

2. Pembentukan bahasa.
Bagaimana sebuah kata atau kalimat dibentuk? Aspek pembentukan kata dan kalimat seperti yang kutuliskan di atas akan menyangkut pada tiga bagian aspek yaitu:

a. aspek fonologis
Anak kita harus bisa belajar menggunakan dan mengucapkan bunyian dengan cara yang benar. Artinya bahwa bicara mempunyai kaitan dengan aspek fonologis ini. Bila seorang anak mengalami gangguan fonologis ini, maka kelak ia akan mengalami masalah dalam bahasa dan bicara. Di usia kira-kira lima bulan, refleks oral (mulut) seperti misalnya refleks menghisap (untuk menyusu) akan hilang, berganti dengan gerakan-gerakan yang baik dengan lidahnya, bibirnya, suara decak halus, rahang bawah, dan tenggorokan. Ia juga belajar membedakan bunyian dan mengingatnya sebagai bunyian tertentu. Apabila ia mendenger bunyian itu kembali, maka ia bisa mengenalnya kembali, serta menggunakannya untuk tujuan tertentu. Pada akhirnya kemudian ia bisa berbicara dengan tujuan tertentu: misalnya mengucapkan kata mama akan berbeda artinya jika mengucapkan maem atau makan. Pada akhir tahun pertama umumnya anak-anak mempelajari bunyian dengan pola bunyian yang sama. Pada akhir tahun kedua ia mulai bisa mengucapkan kata-kata berupa beberapa suku kata dengan baik karena kontrol otot-otot sudah semakin baik, yaitu otot lidah, bibir dan langit-langit. Dan juga ia sudah mampu mendengarkan dengan baik. Tinggal beberapa kata seperti s/l/r/ barulah akan dikuasai dengan baik di usianya yang kelima atau keenam.
Sekalipun seorang anak bisa mengucapkan bunyian dengan baik, bukan berarti ia akan bisa juga dengan baik mengucapkan kata-kata. Ia masih harus belajar lebih banyak lagi untuk mengucapkan kata-kata dengan baik, sehingga tidak meletakkan bunyian itu di tempat yang salah. Misalnya pabrik menjadi perabik. Lokomotip menjadi molokotip. Baru pada usia enam tahun, kita boleh mengharapkan bahwa seorang anak haruslah sudah bisa dengan baik mengucapkan urutan bunyian itu dengan benar, menjadi sebuah kata yang mempunyai makna.

b. aspek morfologis
Dengan cara yang tepat anak mempelajari sebuah kata dan mengubahnya dengan cara yang benar, yaitu:
– penggunaan kata-kata jamak
– penggunaan awalan dan imbuhan
– penggunaan kata yang memberi penjelasan pertambahan dan perbedaan
– penggunaan kata kerja

Pada anak usia empat tahun biasanya sudah bisa menggunakan bentuk kata jamak secara baik tanpa kesalahan, penggunaan imbuhan, pertambahan – perbedaan, dan kata kerja.

c. aspek sintaksis

Dalam fase ini anak akan belajar membangun kalimat dengan baik.
– ia akan berbicara dengan urutan kata-kata secara benar dalam sebuah kalimat
– kalimat dalam bentuk lengkap, dan tidak ada kata yang tertinggal
– ia memahami berbagai perbedaan muatan kalimat misalnya kalimat bertanya, kalimat berempati, kalimat mengharap, atau kalimat menyangkal.

Anak yang mengalami masalah dalam siktaksis akan berkata misalnya: “Kabel sudah telepon rusak”, yang seharusnya diucapkan: “Kabel telepon sudah rusak.” Atau “Mau minum.” Seharusnya: “Saya mau minum.”

3. Penggunaan bahasa, aspek pragmatik
Dalam hal ini si anak akan menggunakan bahasa dalam konteks yang tepat dan untuk apa. Beberapa contoh yang berkaitan dengan aspek pragmatik:
– Bila ada seseorang tengah berbicara, maka ia tidak akan berbicara secara bersamaan, tetapi menunggu seseorang tadi selesai bicara.
– Ia menjawab apa yang ditanya teman bicaranya, misalnya:
. Pada pertanyaan : “Apakah engkau akan menggunakan jaket? ” ia menjawab :
“Tidak saya merasa cukup hangat”. Jawaban ini cocok dengan pertanyaannya.
. Seorang anak bercerita bahwa saat berulang tahun ia diajak berenang oleh orang
tuanya, temannya
bereaksi: “Tadi pagi saya melihat anjing besar sekali?” Reaksi ini
tidak sesuai dengan apa yang menjadi topic bicara.
. Kita bertanya pada anak kita: “Apakah engkau sudah mengikat tali sepatumu?” Lalu dijawab oleh anak kita: “Saya baru saja makan es krim.” Jawaban ini secara Pragmatik menjawab tidak pada konteks yang benar.

Mieke Pronk-Boerma juga membagi periode perkembangan bicara menjadi periode pra-verbal dan periode verbal. Periode pra verbal menurutnya merupakan periode yang sangat penting, yang dibaginya menjadi:
– minggu ke 0 – 6 : menangis
– minggu ke 6 hingga bulan ke 4 : vokalisasi : ah, uh
– bulan ke 4 – 8 : babbling atau mengoceh (bunyian vocal terus menerus), misalnya: gagaggagagag….aaaaaa,…..tatatatatatata. Pada periode ini bunyi bahasa ibu juga diproduksinya. Si anak juga akan mengikuti apa yang ibu ucapkan, sambil ia mengikuti ucapan ibu atau pengasuhnya, segera ia akan mengucapkan papa, mama. Seorang bayi yang tuli, juga akan melakukan babbling ini, tetapi kemudian akan berhenti di usianya yang ke 8 -9 bulan.
– Bulan ke 8 – 12: social babbling, yaitu mengocah dengan cara dimana
– pola bunyian dari sekitarnya akan diambil alihnya, ia juga akan melakukan imitasi pola bunyian kalimat. Pola bunyian yang tidak termasuk dalam bahasa ibu akan segera hilang. Kemudian anak akan mendengarkan, mengoceh dan mengikuti, terus menerus hingga terjadilah pemahaman terhadap kata-kata, dan penggunaan kata-kata; pemahaman kata akan dengan sendirinya kemudian diucapkannya. Dalam periode ini muncul bentuk yang disebut echolalia yaitu si anak hanya mengulang apa kata pengasuh tanpa kata-kata tersebut mempunyai maksud tertentu atau tanpa arti apa-apa.

Periode verbal mempunyai beberapa fase yaitu:
– bulan ke 12 – 15 : yang merupakan fase kalimat dengan satu kata. Misalnya seorang anak mengatakan: “Mobil!” Maksudnya adalah: “Saya minta sebuah mobil!” atau: “Beri saya mobil itu!” atau: “Itu mobil bagus!” dan sebagainya. Si anak akan menanyakan nama-nama segala sesuatu dengan cara menunjuk-nunjuk dan dengan cara tertentu ia menyebutkannya kembali. Si anak belum menyangkal dengan kata, tetapi sudah membuat gerakan menggeleng dengan kepala.
– Bulan ke 15 – 2 tahun: fase kalimat dengan dua kata. Seorang anak usia dua tahun biasanya sudah mempunyai 270 kata. Ia juga bertanya dengan intonasi bertanya. Ia mulai menyangkal dengan kata-kata. Banyak kata-kata yang masih terpotong , misalnya “minum” menjadi “mium”.
– Usia 2 – 3 tahun: yang merupakan fase kalimat dengan banyak kata. Kalimat terdiri dari kata benda dan kata kerja. Apa yang diucapkan lebih kepada arti atau maksud kalimat yang diucapkan, namun belum dalam bentuk kalimat yang benar. Tetapi dalam usia ini daftar kata yang dimiliki akan meningkat dengan pesat. Suku kata akan diucapkan dengan lebih baik. Ia juga mulai menggunakan bentuk kamu-dan saya. Kadang ia masih menggunakan bentuk –kamu jika berkata pada dirinya sendiri. :”Mana bonekamu? ” padahal maksudnya: “Dimana boneka itu saya taruh?”
– Usia 3 – 4 tahun: si anak akan banyak mengerti berbagai hal, dan banyak bercerita. Ia juga sudah bisa mengucapkan bunyian berbagai huruf kecuali /s/l/r. Juga masih ada beberapa kesalahan dengan pengucapan kata sambung, tetapi sudah bisa berbicara dengan aturan sebuah kalimat termasuk urutan kata, imbuhan, dan pemotongan kalimat. Kata jamak juga bisa dibentuk. Seringkali masih ada kata-kata yang diulang –ulang karena berpikir baginya lebih cepat daripada mengucapkan kalimat. Nampaknya seperti seorang anak yang gagap, tetapi sebetulnya bukan.
– Usia 4 – 6 tahun: Di usia enam anak-anak ini akan semakin baik mengucapkan berbagai huruf, juga untuk huruf-huruf yang sulit seperti s dan r. Ia juga semakin membaik dengan aturan pembuatan kalimat, termasuk juga penggunaan kata penghubung: dan, tapi, atau, karena, sebab… dlsb. Dalam usia ini anak juga mulai dengan menyampaikan pemikiran dari abstraksinya.

Sumber: Mieke Pronk-Boerma (1994): Logopedie voor onderwijs gevenden, H Nelissen, Baarn

Ways to Build Character in Children

source : http://childparenting.about.com/od/emotionaldevelopment/a/charactered.htm

by Kimberly L. Keith
for About.com

Structured character education has flourished as schools seek to instill the values of integrity, respect, responsibility, fairness, honesty, caring, and citizenship in their students to strengthen the social fabric of the school and community. Though not without criticism, these efforts to strengthen children’s character through school-based programs are welcomed by parents who want their children educated in a strong culture of respect, integrity, and self-control.
Children’s character development certainly can’t come from the classroom alone. The qualities of character develop through an interplay of family, school, church, and community influences, and the child’s individual temperament, experiences, and choices. What can parents do to encourage their child’s development of the qualities of good character? We have many opportunities and tools for this important task. Using them will give us the joy and satisfaction of seeing our child grow into a person of integrity, compassion, and character.
Social Learning – A Family Culture of Character
Parents who exhibit the qualities of good character powerfully transmit their values by modeling the choices and actions that are essential to being a person of good character. Are we honest, trustworthy, fair, compassionate, respectful, involved in the greater good of our family and community? How do our children know this? They see it in our everyday actions and choices. They see that it brings a sense of joy, satisfaction, and peace to their family life. Children also learn that when they violate these guiding ethics, parents will implement consequences with fairness and dignity.
In her books on moral development in children, Michelle Borba teaches that the first step is empathy. Empathy is the necessary condition in the parent-child relationship that allows us to teach all of the other character values to our children. When our children feel that we understand and care about them deeply, they have the intrinsic motivation to learn the lessons of love and character we share.
Direct Instruction – Teachable Moments to Build Character
Discipline strategies are an important tool to use teachable moments to build character. We should always take the opportunity to explain why our child’s behavior is wrong when we correct him. Make a habit of identifying in your own mind the value you wish to teach the child based on the particular behavior. Choose a consequence that is appropriate to teach that value. One natural consequence that we can use is to ‘make amends’. For example, dishonesty is best resolved when we confess and are held accountable. Sometimes an apology to the person wronged is enough; other times we must take action to right the wrong. Brief, but direct instruction about why we have a family rule and the underlying value we hold helps the child learn from consequences and discipline.
Story Telling – Learning Qualities of Character from Literature and Life
Parents and teachers used stories to teach moral lessons long before the books were invented; and if you think about it, we still do. As we tell the stories of our lives and the world around us, we convey lessons of virtue and ethics to our children. Discussions about the stories we see on TV are opportunities to reinforce our values. Listening and responding to our child’s stories about school and peers, we can help them think through the right thing to do. Being mindful of our children listening to the stories we tell other adults, we teach that our values guide all aspects of our life.
Children’s literature abounds with great books that illustrate important values. Great books reach the inner child and teach their lessons without the parent’s interpretation or instruction. About Children’s Books will guide you to finding some good children’s literature choices that teach character. Sharing real-life stories from the news and internet with our children inspires us all to pursue our values in life.
Experiential Learning – Practicing Qualities of Character
We know from education models that we must practice what we learn before it comes naturally to us. We can learn vicariously when we see it and learn directly when we hear it. But, we need to do it and feel it to know the true meaning of character in our selves. We can use opportunities for decision-making to help our child take ethical action and see the positive results in their daily lives. We can also find opportunities to be involved in social and community action that is accessible for our children. Find ways for your children to learn altruism through good deeds.

Berkomunikasi dengan Anak, Sulitkah?

Sumber : Kompas l Minggu, 2 Maret 2008 | 17:55 WIB

Oleh : Sawitri Supardi Sadarjoen

KEBANYAKAN orangtua berpendapat, kalau anaknya pendiam atau sibuk bermain sendiri, berarti anaknya manis, penurut, mandiri, dan tidak perlu mendapat perhatian khusus.

Sementara kebanyakan orangtua yang disibukkan oleh anak yang sangat rewel, sering memberi sebutan anak itu nakal, banyak maunya, dan tidak menurut.

Terhadap anak yang pendiam, mandiri, dan selalu menyiapkan keperluan sekolah sendiri, orangtua merasa segala hal sudah tercukupkan karena anak tersebut memang pada dasarnya anak manis yang penurut dan tahu akan kewajibannya.

Namun, dapat terjadi orangtua dikejutkan perilaku anak yang semula manis, penurut, dan tahu kewajiban tersebut tiba-tiba mogok sekolah, tidak kooperatif, serta menunjukkan sikap melawan orangtua. Apa pun yang disarankan orangtua seolah mental dan tidak berpengaruh. Anak jadi mengurung diri dan baru keluar kamar bila lapar atau perlu ke kamar mandi.

Orangtua menjadi bingung. Anak dimarahi dan dibentak dengan ungkapan, “Ngomong dong, ada apa, kenapa enggak mau sekolah!” Bahkan dipukul sekalipun anak bergeming, malahan bisa mengatakan, “Bunuh saja saya sekalian.” Walaupun, setelah beberapa saat anak akhirnya mau membuka mulut, menceritakan sepintas kenapa dia mogok sekolah.
Baca lebih lanjut

Membentuk Anak Mandiri


Kemandirian bukanlah keterampilan yang muncul tiba-tiba tetapi perlu diajarkan pada anak. Tanpa diajarkan, anak-anak tidak tahu bagaimana harus membantu dirinya sendiri. Kemampuan bantu diri inilah yang dimaksud dengan mandiri. Kemandirian fisik adalah kemampuan untuk mengurus dirinya sendiri. Sedang kemandirian psikologis adalah kemampuan untuk membuat keputusan dan memecahkan masalah sendiri.

Ketidakmandirian fisik bisa berakibat pada ketidakmandirian psikologis. Anak yang selalu dibantu akan selalu tergantung pada orang lain karena merasa tidak memiliki kemampuan untuk mengurus dirinya sendiri. Akibatnya, ketika ia menghadapi masalah, ia akan mengharapkan bantuan orang lain untuk mengambil keputusan bagi dirinya dan memecahkan masalahnya.

Menurut Dra. Mayke Sugianto Tedjasaputra, M.Si., dosen Psikologi Perkembangan Universitas Indonesia Jakarta, ada beberapa faktor yang mempengaruhi kemandirian anak :

1. Faktor bawaan.
Ada anak yang berpembawaan mandiri, ada yang memang suka dan menikmati jika dibantu orang lain

2. Pola asuh.
Bisa saja anak berpembawaan mandiri menjadi tidak mandiri karena sikap orang tua yang selalu membantu dan melayani.

3. Kondisi fisik anak.
Anak yang kurang cerdas atau memiliki penyakit bawaan, bisa saja diperlakukan lebih “istimewa” ketimbang saudara-saudaranya sehingga malah menjadikan anak tidak mandiri.

4. Urutan kelahiran.
Anak sulung cenderung lebih diperhatikan, dilindungi, dibantu, apalagi orang tua belum cukup berpengalaman. Anak bungsu cenderung dimanja, apalagi bila selisih usianya cukup jauh dari kakaknya.

Untuk mengajarkan anak menjadi mandiri, sangat penting bagi orang tua untuk tidak memberikan bantuan dan perlindungan yang berlebihan kepada anak. Menurut Dra. Tjut Rifameutia Ali-Napis, M.A, dosen Psikologi Pendidikan dari Universitas Indonesia, bantuan berlebihan bisa mensugesti anak bahwa ia tidak mampu melakukan sesuatu sendiri.

Ada dua alasan yang menyebabkan orang tua cenderung memberikan bantuan dan perlindungan berlebihan. Yang pertama karena khawatir. Padahal, orang tua yang terlalu khawatir akan membatasi anak untuk mencoba kemampuannya.

Bila perlindungan berlebihan berlanjut terus sejalan dengan bertambahnya usia anak, maka anak akan selalu mengharapkan bantuan orang lain setiap kali ia menghadapi masalah.

Alasan kedua, karena orang tua tidak sabar. Ketimbang menunggu anak berusaha memakai sepatunya sendiri, orang tua cenderung lekas membantu agar cepat selesai. Akibatnya, anak tidak memperoleh kesempatan untuk mencoba.

Belajar mandiri memerlukan bantuan dan bimbingan orang tua. Hasilnya akan nampak bila orang tua rajin dan konsisten memberikan stimulus. Kemandirian hanya bisa dicapai melalui suatu tahapan yang sesuai dengan perkembangan usia anak. Misalnya, anak usia 6 tahun tidak bisa begitu saja dapat makan sendiri bila tidak pernah diberi kesempatan memegang sendok sejak usia 18 bulan.

Oleh karena itu, latihan kemandirian mesti dimulai sejak dini sesuai dengan usianya. Orang tua tidak dapat hanya mengandalkan sekolah untuk menempa anak menjadi mandiri, karena anak lebih banyak menghabiskan waktu di rumah ketimbang di sekolah.

Untuk dapat mengukur kemandirian anak, maka diperlukan pengetahuan mengenai kemampuan apa saja yang bisa diajarkan padanya. Bila kemampuan-kemampuan itu belum dikuasai pada usia yang seharusnya, maka si anak bisa dikategorikan tidak mandiri. Anak usia SD masih disuapi dan dimandikan, misalnya, bisa disebut sebagai anak yang tidak mandiri.

PENILAIAN TINGKAT KEMANDIRIAN SESUAI USIA DAN STIMULUS YANG PERLU DIBERIKAN

Diperlukan ketekunan dan kesabaran orang tua untuk melatih anak menjadi mandiri sesuai usianya. Perlu diingat, keberhasilan yang dicapai anak pada tiap tahapan usia akan berbeda-beda, sesuai stimulus yang diberikan kepadanya.

BAYI

Menurut Dra. Michiko Mamesah, M.Psi dari Universitas Negeri Jakarta, sejak usia 4 bulan bayi sudah bisa diajar beraktivitas menggunakan tangan sebagai dasar keterampilan membantu diri.

1. Meraih dan memasukkan makanan (mulai usia 6 bulan)
Stimulus : letakkan biskuit di piring atau acungkan ke depan bayi. Usahakan terlihat oleh bayi sehingga ia akan berusaha meraihnya.

2. Memegang gelas dan meminum isinya (mulai usia 9 bulan)
Stimulus : sediakan cangkir bergagang dari plastik atau melamin. Isi dengan sedikit air dan biarkan bayi meraih sendiri dan meminum isinya. Biarkan bila ada yang tumpah atau berceceran di baju. Melalui dua aktivitas ini, bayi akan belajar bahwa ia dapat memenuhi kebutuhan dasarnya sendiri, yaitu makan dan minum tanpa bantuan orang lain.

3. Merentangkan tangan dan kaki saat mengenakan pakaian (mulai usia 10 – 11 bulan)
Stimulus : katakan,” Adek, Mama pakaikan baju ya.. Ayo angkat tangannya..”. Ulanglah kalimat tersebut sampai anak mau mengikutinya. Bayi akan belajar bahwa ia dapat melakukan sesuatu untuk memudahkan kita saat membantunya berpakaian.

4. Melepas topi dan kaus kaki (mulai usia 11 – 12 bulan)
Ini adalah dasar kemampuan anak untuk melepas pakaian.
Stimulus : berikan contoh bagaimana cara melepas topi atau kaus kaki. Coba untuk memasangkan topi atau kaus kakinya lagi. Umumnya anak akan mencoba melepaskan karena rasa ingin tahu yang besar. Lakukan berulang-ulang agar anak mendapat banyak kesempatan untuk mencoba.

5. Melakukan dua tugas sekaligus (mulai usia 12 bulan)
Stimulus : berikan biskuit, biarkan ia meraih dengan salah satu tangan. Lalu berikan mainan, biarkan ia meraih dengan tangan yang masih kosong. Bila ia memasukkan mainan, beri tahu ia bahwa mainan tidak boleh dimasukkan ke mulut, sedangkan biskuit boleh. Kemampuan seperti ini akan menjadi dasar yang membuat anak bisa melakukan beberapa pekerjaan sekaligus.

ANAK USIA 1 – 3 TAHUN

Menurut Dra. Michiko Mamesah, M.Psi dari Universitas Negeri Jakarta, anak usia di atas satu tahun sudah memiliki lebih banyak kemampuan untuk menolong dirinya sendiri. Berbagai kemampuan motorik dan interaksi dengan lingkungan juga sudah lebih berkembang.

1. Minum dari gelas tanpa bantuan (mulai usia 15 bulan)
Stimulus : berikan gelas platik berisi air yang tidak terlalu penuh. Minta anak memegang sendiri dengan tangannya. Biarkan ia melakukannya sambil berdiri atau berjalan. Ganti jenis gelas (gelas bergagang dan tidak bergagang) untuk melatih motorik halusnya.

2. Memakai sendok untuk makan (mulai usia 18 bulan)
Stimulus : berikan sendok dan piring berisi makanan porsi kecil dan biarkan anak mencoba menyuap sendiri makanannya. Maklumi bila makanan masih tumpah dan berhamburan.

3. Membuka sepatu, celana dan baju sendiri (mulai usia 2 tahun) serta ristleting (mulai 3 tahun)
Stimulus : awali dengan melatih anak membuka sepatu tak bertali atau kaus singlet yang mudah dilepas. Tunjukkan cara menarik sepatu dari telapak kaki atau menarik kaus ke atas kepala. Ulangi contoh bila anak masih mengalami kesulitan. Bila anak sudah mahir, tingkatkan dengan baju berkancing. Ajari cara membuka dan menutup ristleting dengan hati-hati. Bila anak masih ragu, tunggu sampai ia bisa melakukan dengan benar sehingga terhindar dari trauma akibat terjepit ristleting.

4. Meraih gelas di atas meja dan meneguk minuman (mulai usia 2 tahun)
Stimulus : letakkan gelas berisi minuman dalam jangkauan anak, sehingga ia bisa memenuhi kebutuhannya sendiri saat ia merasa haus. Bila sudah mahir, tingkatkan dengan memberinya contoh cara menuang air dari teko atau memencet tombol dispenser. Pada tahap ini, orang tua perlu berhati-hati ketika meletakkan minuman panas di atas meja dan disarankan mematikan tombol air panas pada dispenser.

5. Membuka pintu (mulai usia 2 – 2.5 tahun)
Stimulus : umumnya anak lebih mudah belajar dengan pengangan pintu bertangkai ketimbang bulat. Setiap anak akan keluar kamar, berikan contoh bagaimana cara memutar dan menarik gagang pintu, sambil dijelaskan dengan kata-kata sederhana. Letakkan tangan anak pada pegangan pintu dan bantu ia memutar ke arah yang benar.

6. Mengatakan ingin buang air (mulai usia 2 – 2.5 tahun)
Stimulus : cermati kebiasaan anak sebelum BAK dan BAB. Bila Anda melihat dorongan ingin BAK atau BAB, tanyakan kepadanya. Dorong ia untuk mengungkapkan kenginan tersebut. Ajak ia ke kamar mandi, dan jelaskan bahwa BAK dan BAB hanya dilakukan di kamar mandi meskipun si kecil belum bisa melakukannya sendiri.

Pada tahapan usia ini, sangat penting bagi orang tua untuk tidak memberikan bantuan dan perlindungan yang berlebihan. Ketika anak berusia 1.5 tahun, ia akan mulai menjelajah, menantang dirinya sendiri melakukan sesuatu yang sulit seperti menaiki tangga atau memasuki lorong sempit. Tidak seperti tahapan usia sebelumnya, dimana apapun yang dilakukan anak ditentukan oleh orang tua atau pengasuh, pada usia ini anak mulai memiliki kemauan untuk melakukan apa yang diinginkannya. Bila ia ternyata bisa melakukannya, akan timbul rasa memiliki kemampuan. Apalagi bila saat itu orang tua memberinya pujian, ia akan merasa bangga dan makin terpacu untuk menunjukkan kemampuannya. Inilah modal bagi anak untuk mengembangkan kemandirian dan kepercayaan dirinya.

Dirangkum dari berbagai sumber, dengan www.tabloid-nakita.com sebagai sumber utama