Makan Bersama – Makan Sehat

Makan Bersama Mendorong Kebiasaan Makan Sehat

Nutrisi yang baik dan pola makan seimbang dapat membantu anak tumbuh sehat. Di kelompok umur manapun anak kita berada, entah itu balita maupun remaja, kita memerlukan strategi untuk mendorong kebiasaan makan sehat dalam keluarga. Langkah-langkah di bawah ini dapat membantu Anda menumbuhkan hal tersebut:

  • Mengadakan acara “makan bersama” keluarga secara teratur.
  • Menyediakan makanan sehat dan makanan ringan yang beragam.
  • Menerapkan pola makan sehat untuk diri kita sendiri.
  • Menghindari perdebatan tentang makanan.
  • Melibatkan anak dalam proses.

Dalam pelaksanaannya, langkah-langkah di atas tidak selalu mudah dilakukan. Apalagi bila Anda tergolong ibu yang sibuk dan sering membeli makanan makanan siap saji. Namun, bagaimanapun padatnya jadwal Anda, makan bersama keluarga sebaiknya perlu dilakukan, minimal sekali sehari. Mengapa? Sebab, kebiasaan ini membuat anak dan orang tua dapat bertemu muka dan merasa lebih dekat ketimbang keluarga yang biasa makan sendiri-sendiri. Selain itu, Anda juga dapat mengecek menu makan anak tanpa mereka merasa dipaksa. Sebab, apa yang ada di meja makan, bukan hanya untuk anak, tapi juga untuk Anda.

Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa anak-anak yang rutin makan bersama keluarga cenderung menyukai buah, sayuran, dan biji-bijian, tidak menyukai camilan yang tidak sehat, antirokok, dan tidak minum alkohol.

Keuntungan lain dari makan bersama adalah kemudahan memperkenalkan menu-menu baru pada anak. Dari responsnya, Anda bisa segera tahu mana makanan yang mereka sukai dan mana yang tidak.

Makan bersama juga tetap dapat diterapkan meskipun anak sudah menginjak usia remaja. Walaupun tugas ini lebih sulit – usia remaja biasanya identik dengan perilaku yang tidak suka diatur – tetap saja Anda perlu mencari waktu untuk membimbing mereka. Saat paling tepat untuk berbagi dan mendengarkan curahan hati remaja adalah pada saat makan bersama. Untuk mengajak mereka makan bersama, cobalah kiat ini:

  • Tidak melarang anak membawa temannya untuk ikut makan malam.
  • Libatkan mereka dalam perencanaan dan persiapan makanan.
  • Jaga suasana makan yang tenang dan bersahabat – jangan menggurui atau mengomel.
  • Makan bersama bisa dilakukan pada waktu malam – saat semua orang sudah tiba di rumah. Tapi, Anda juga dapat melakukannya pada pagi atau siang hari di akhir pekan.


Kurangi Junkfood Sekarang

Kurangi Junkfood Sekarang !

Oleh Kompas Cyber Media

Cheese burger dan piza memang nikmat. Tanpa kita sadari inilah yang jadi makanan kita setiap hari. Padahal, dua jenis makanan ini, dan junk food lainnya, sangat berbahaya untuk kesehatan kita.

Kita pasti pernah berada dalam kondisi ini: lagi iseng jalan-jalan di mal, perut lapar, pilihan langsung jatuh pada paket hemat yang terdiri atas ayam goreng dan minuman soda. Sedang ada acara ngumpul di rumah, untuk konsumsinya kita pesan satu piza ukuran family. Di lain waktu, kita nonton bareng pacar. Sebelum masuk bioskop kita beli dulu cokelat plus minuman soda. And saat nonton VCD kita ditemani sekantong keripik kentang. Lagi iseng nunggu bus atau habis berolahraga, yang diambil bukan air putih melainkan minuman bersoda.

Kalau pola makan kita seperti ini terus lama-lama berbahaya, lho. Karena makanan yang masuk ke dalam perut kita itu bisa digolongkan sebagai junk food.

Junk food adalah kata lain untuk makan yang jumlah kandungan nutrisinya terbatas. Umumnya nih yang termasuk dalam golongan junk food adalah makanan yang kandungan garam, gula, lemak, dan kalorinya tinggi, tetapi kandungan gizinya sedikit. Yang paling gampang masuk dalam jenis ini adalah keripik kentang yang mengandung garam, permen, semua dessert manis, makanan fast food yang digoreng, dan minuman soda atau minuman berkarbonasi. Biasanya di makanan yang punya label junk food ini kandungan vitamin, protein, atau mineralnya sangat sedikit. Padahal, semua itu sangat dibutuhkan untuk kesehatan tubuh kita.

Kebiasaan kecil

  • Enggak bisa dimungkiri, hidup kita dikelilingi oleh junk food. Perhatikan deh kalau kita lagi jalan ke mal. Lirik ke kiri ada gerai fried chicken, lirik ke kanan ada gerai piza. Terus naik eskalator begitu sampai sudah disambut oleh gerai es krim. Betul-betul penuh godaan.

Sejak kecil pun kita sudah selalu diperkenalkan dengan junk food. Walau dilarang ortu, siapa sih yang tahan dengan godaan makanan ringan berbungkus warna-warni itu. Belum lagi mi instan nan menggugah selera.

“Aku tuh waktu kecil sampai SMP senang banget makan snack semacam Chiki. Sehari bisa satu bungkus. Tetapi sekarang sih walau suka sudah dikurangi,” cerita Ocha, siswa kelas 3 SMA St Ursula, Jakarta. “Aku juga sejak SD suka banget snack seperti itu. Tetapi, setelah gede, udah tahu efeknya, jadi ya dikurangin,” ujar Melody semangat. Walaupun tahu bahayanya, sampai sekarang Melody masih enggak tahan dengan godaan mi instan. “Kalau lagi di rumah, aku suka juga makan mi instan. Apalagi kalau lagi enggak ada makanan. Kebetulan (mi instan) selalu tersedia (di rumah), ya udah dimakan,” ungkap Melody.

Junk food mengandung banyak sodium, saturated fat, dan kolesterol. Bila dalam tubuh jumlah ini banyak, maka akan menimbulkan banyak penyakit. Dari penyakit ringan sampai penyakit berat macam darah tinggi, stroke, jantung, dan kanker.

Dulu nih, penyakit-penyakit “horor” itu hanya diderita oleh orang-orang tua yang umurnya di atas 40 tahun. Tetapi, semakin tahun, penderita penyakit nakutin ini semakin muda saja umurnya. Kalau kita enggak menjaga diri, bukan enggak mungkin dalam waktu lima sampai sepuluh tahun ke depan, kitalah si penderita itu.

“Aku kapok minum minuman bersoda. Dulu sih doyan banget. Sehari bisa dua sampai tiga kali. Apalagi kalau haus di sekolah, ya udah beli aja. Tetapi, karena kebanyakan, lambungku jadi sakit. Waktu diperiksa ke dokter, disangka usus buntu. Setelah diperiksa ulang ternyata lambungku kebanyakan soda,” cerita Melody yang sekarang lebih memilih minum air mineral untuk menghilangkan hausnya.

“Aku sih enggak suka makan snack seperti itu sekarang. Waktu masih kecil sih pernah suka, tetapi karena dilarang nyokap, sekarang enggak suka lagi. Lagian kalau kebanyakan makan snack itu bikin batuk,” cerita Claudia yang lebih memilih bawa bekal dari rumah biar enggak tergoda jajan. Wah, boleh juga tuh idenya.

Kenapa berbahaya ?

  • Kenapa juga ya, sodium, satured fat, dan koleksterol itu berbahaya ?

Sodium banyak ditemukan pada makanan yang kita makan dan minum. Sodium adalah bagian dari garam. Banyak lho makanan kemasan atau kalengan itu berkadar sodium tinggi. Sodium banyak terdapat pada french fries (apalagi kalau kita senang yang memakai shakers), ayam goreng, burger, cheese burger, bologna, piza, segala jenis snack, keripik kentang, dan mi instan. Sayuran dalam kaleng dan kadang-kadang juga keju mengandung zat ini. Beberapa penyedap, seperti soy sauce (biasanya disediakan di resto Jepang atau Asia Timur), garlic salt, dan onion salt. Eh, kalau kita makan warung bakso atau bakso pinggir jalan, garam meja yang disediakan pun mengandung sodium, lho.

Sodium enggak boleh kebanyakan ada dalam tubuh kita. Untuk ukuran orang dewasa, sodium yang aman jumlahnya enggak boleh lebih dari 3300 miligram. Ini sama dengan 1 3/5 sendok teh. Bila sodium terlalu banyak dapat meningkatkan aliran dan tekanan darah sehingga bisa membuat tekanan darah tinggi. Tekanan darah yang tinggi juga akan berpengaruh munculnya gangguan ginjal, penyakit jantung, dan stroke. Iiih serem ya.

Satured fat berbahaya buat tubuh karena zat ini merangsang hati kita memproduksi banyak kolesterol. Kolesterol sendiri didapat dengan dua cara nih. Ada yang dihasilkan oleh tubuh dan ada yang berasal dari produk hewan yang kita makan. Sebenarnya nih, kita enggak perlu menambahkan kolesterol masuk dalam tubuh karena tubuh kita sudah menghasilkan sendiri kolesterol.

Kolesterol banyak terdapat dalam daging, daging ayam, ikan, telur, butter, susu, dan keju. Sayuran, buah-buahan, dan biji-bijian sama sekali enggak mengandung kolesterol.

Bila jumlahnya banyak, kolesterol dapat menutup saluran darah dan oksigen yang seharusnya mengalir ke seluruh tubuh. Waah, ini bahaya banget kalau sampai aliran darah dan oksigen yang masuk ke otak mampat. Oh ya, tingginya jumlah satured fat akan menimbulkan kanker, terutama kanker usus dan kanker payudara. Kanker payudara merupakan pembunuh terbesar setelah kanker usus. Lemak dari daging, susu, dan produk-produk susu merupakan sumber utama dari satured fat ini.

Selain itu, beberapa junk food juga mengandung banyak gula. Gula, terutama gula buatan, enggak baik untuk kesehatan karena bisa menyebabkan penyakit gula atau diabetes, kerusakan gigi, dan obesitas. Minuman bersoda, cake, dan cookies mengandung banyak gula dan sangat sedikit vitamin serta mineralnya. Minuman bersoda mengandung paling banyak gula. Paling enggak satu kaleng minuman bersoda mengandung sembilan sendok teh gula. Padahal, kebutuhan gula dalam tubuh kita enggak boleh lebih dari empat gram atau satu sendok teh sehari. Bayangkan kalau kita minum minuman bersoda dua sampai tiga kaleng sehari. Betapa banyaknya gula yang menumpuk di dalam tubuh! Parahnya lagi, minuman bersoda enggak hanya mengandung banyak gula, tetapi juga mengandung kafein dan zat-zat adiktif lainnya.

Porsi kecil

  • Ada banyak cara untuk mengurangi makanan junk food.

Pertama nih, biasakan sarapan dan makan di rumah. Percaya deh makanan rumah lebih sehat dan bergizi. Jadi, sebelum berangkat sekolah, usahakan sarapan. Begitu pun kalau mau berangkat main. Mending makan dulu, deh. Jadi, begitu sampai di tempat gaul perut kita tidak terlalu kosong. Sehingga keinginan untuk ngemil pun bisa sedikit berkurang.

Kedua, enggak ada salahnya juga sesekali kita melihat kandungan yang ada dalam makanan yang kita beli. Misalnya nih kita membeli satu kantong keripik kentang. Coba lihat di bagian belakangnya pasti ada boks yang menjembrengkan nutrition fact atau kandungan dari makanan itu. Nah, dari situ kita bisa lihat apakah makanan itu sehat atau enggak.

Lihat jumlah gram fat atau lemaknya. Untuk setiap 5 gram lemak dalam makanan itu sama dengan satu sendok makan. Misalnya nih sebuah makanan tertulis memiliki 23 gram itu. Artinya makanan itu mengandung 4,5 sendok makan lemak. Sementara lemak minimal yang baik diserap tubuh adalah 30 persen dari total kalori. Ini bukan berarti kita harus antilemak. Karena lemak itu tetap berguna buat tubuh, tetapi jumlahnya memang enggak boleh banyak. Setelah itu lihat juga jumlah sodium. Beberapa makanan, seperti daging merah, memiliki kandungan sodium yang tinggi.

Ketiga, ambil porsi kecil. Kalau sudah enggak tahan pengin makan junk food, kita bisa meminimalisasi dengan mencicipinya dalam porsi kecil. Misalnya nih, dalam satu paket hemat ada dua ayam, maka lebih baik jika kita bagi berdua dengan teman. Kalau kita membeli es krim, minuman soda atau menu yang lain, pilih juga yang ukuran small atau regular. Oh ya jangan juga tergoda dengan topping atau bumbu tambahan. Ini akan menambah kandungan kalori dalam makanan kita.

Keempat, minum air putih sebanyak-banyaknya. Idealnya kita minum delapan gelas sehari. Kalau bisa sih lebih. Air putih membantu proses pembuangan dalam tubuh kita. Semua racun-racun yang ada dalam tubuh akan lebih mudah dikeluarkan kalau kita rajin minum air putih.

Kelima, banyak sayuran dan buah-buahan. Dua jenis makanan ini tinggi kadar seratnya. Sangat bagus untuk mengimbangi tubuh kita yang sudah kemasukan junk food. Selalu membawa buah-buahan di dalam tas bisa kita jadikan kebiasaan yang bagus tuh. Begitu lapar, kita bisa langsung ngunyah buah. Pilih buah-buahan yang gampang dibawa (enggak perlu dikupas), seperti apel, pir, tomat, pisang, jeruk, anggur, atau strawbery.

Keenam, olahraga teratur. Paling tidak dalam seminggu tiga kali, per harinya sekitar setengah sampai satu jam. Aktivitas tersebut dapat membantu membakar kalori dalam tubuh. Pilihan olahraga sih bebas-bebas saja. Sesuaikan dengan kegemaran kita. Jalan kaki selama setengah jam lebih baik daripada cuma nonton di depan teve.

Setelah mengurangi junk food, kita bisa masuk ke tahap berikutnya. Gaya hidup sehat enggak susah kok. Yang penting kita mengimbangi apa yang masuk dalam tubuh. Yang terutama nih, kita harus banyak-banyak mengonsumsi serat. Serat ini banyak terdapat dalam sayuran, buah-buahan, dan biji-bijian. Idealnya kita mengonsumsi 3-5 porsi sayuran. Sementara buah-buahan kita baiknya mengonsumsi 204 porsi. Buah-buahan sangat baik untuk menyediakan vitamin, terutama vitamin C, yang membantu stamina tubuh biar enggak cepat sakit. Bete enggak sih kalau kena hujan sedikit sudah pilek. Atau capek sedikit sudah langsung pusing.

Sumber vitamin C paling banyak ada di jeruk, strawbery, dan semangka. Buah juga sumber karbohidrat, lho. Karena kita masih tumbuh jangan anti juga sama susu dan produk susu lainnya, seperti keju atau yogurt. Jenis tersebut menyediakan kalsium yang cukup buat kita. Kalau kurang kalsium pun gawat, lho. Kita bisa kena osteoporosis atau tulang rapuh. Paling enggak sehari kita mengonsumsi dua sampai tiga porsi golongan ini. Daging-dagingan perlu dikonsumsi juga. Jumlahnya enggak banyak, hanya sekitar dua sampai tiga porsi sehari.

Gimana? Enggak susah kan? Mungkin dalam waktu dekat godaan untuk makan junk food masih besar. Tetapi, pelan- pelan bisa kita kurangi kok. Kesehatan badan lebih penting daripada kenikmatan lidah, kan? * (Muti Siahaan Tim MUDA)

Kebiasaan Makan Mencontoh Orangtua

Kebiasaan Makan Balita Mencontoh Orangtua

Masa mengeluhkan balita yang tidak mau makan sayur atau buah-buahan semestinya sudah lama lewat. Pasalnya, anak-anak dapat dibiasakan mengonsumsi makanan sehat bila mereka melihat orang tuanya melakukan hal yang sama setiap hari. Jadi, cara terbaik untuk mendorong kebiasaan makanan sehat adalah dengan memberi contoh pada mereka.

Cara lainnya agar anak-anak mengikuti perilaku kita di meja makan adalah membatasi porsi makan dan tidak makan berlebihan. Bicarakan tentang perasaan kita apabila kekenyangan, terutama pada anak yang lebih kecil. Misalnya, dengan mengatakan, “Enak sekali ya masakannya. Tapi, Mama sudah kenyang. Jadi Mama udahan dulu makannya.” Sebaliknya dengan contoh yang positif, kebiasaan negatif seperti diet ketat atau mengeluh tentang bentuk tubuh di hadapan balita kita dapat membuahkan perasaan yang sama pada mereka.

Bukannya bernafsu makan, jangan-jangan anak-anak juga menghindari nasi hanya karena ibunya puasa nasi pada saat diet. Maka itu, cobalah melakukan pendekatan positif jika menyangkut makanan. Anak-anaklah yang sebaiknya menentukan apakah mereka lapar, apa yang mereka mau makan dari masakan yang disajikan, dan kapan mereka kenyang, sementara orangtua mengatur makanan apa yang tersedia untuk mereka. Untuk mempermudah tugas Anda, ikuti petunjuk berikut:

  • Jangan memaksa anak menghabiskan isi piring mereka. Dengan melakukannya, anak-anak akan mengesampingkan perasaan kenyang.
  • Jangan menyuap atau menghadiahkan anak dengan makanan. Hindari menggunakan makanan penutup sebagai hadiah untuk memakan makanan utama.
  • Jangan gunakan makanan untuk menunjukkan perasaan sayang. Apabila kita mau menunjukkan rasa sayang, peluk atau pujilah mereka sesekali. Biarkan mereka terlibat dalam perencanaan menu, entah itu untuk bekal makanan mereka di sekolah, atau untuk makan malam. Diskusikan bagaimana caranya membuat pilihan dan merencanakan makanan yang seimbang. Bila perlu, ajak ia membantu berbelanja dan memasak. Dengan melibatkan anak, Anda telah menyiapkan mereka untuk belajar mengambil keputusan yang baik tentang makanan pilihan mereka.
  • Saat di toko, ajari anak untuk melihat label makanan dan uraikan nilai-nilai gizi yang terkandung di dalamnya. Saat di dapur, pilihkan tugas yang sesuai dengan umur mereka. Usai makan, jangan lupa memuji si koki cilik.

Makan-Ajang Belajar

Makan sebagai Ajang Belajar Anak

Dari sepiring nasi yang dimakannya, si kecil bisa belajar banyak hal yang mencerdaskan.

Di balik kegiatan makan (yang tampaknya sepele), ternyata ada banyak hal yang bisa digali. Bahkan, dimulai dari kegiatan makan dalam bentuk yang paling sederhana, yaitu minum ASI.

Bagi si 6 bulan yang baru mengenal makanan padat, ada sederet keterampilan yang harus ia kuasai dan dilatih terus menerus. Keterampilan tersebut antara lain keterampilan makan, merupakan hasil dari serangkaian penguasaan dan kontrol terhadap anggota tubuhnya, untuk digerakkan dengan sadar, sesuai keinginan atau kehendaknya.

Melalui kegiatan mengisi perut yang dilakukan rutin setiap hari, si kecil sebetulnya juga melatih keterampilan yang sudah dimiliki, sekaligus mengembangkan keterampilan-keterampilan baru.

Kesempatan emas

Pada bayi dan anak usia balita, sekitar 70% dari waktu bangun mereka digunakan untuk melakukan kegiatan makan. Selama kegiatan ini, akan terjadi interaksi antara anak dengan orang yang membantunya dalam mengurus berbagai kebutuhan hidupnya sehari-hari, terutama ayah dan bundanya.

Tapi, kapan kita dapat memanfaatkan kegiatan makan sebagai ajang belajar bagi si kecil? Di sinilah dibutuhkan kejelian Anda untuk mengamati saat-saat di mana si kecil menunjukkan perhatian penuh terhadap kegiatan makan.

Minat “belajar” makan bayi biasanya dimulai saat ia berusaha memegang makanan dan memasukkan ke dalam mulutnya. Itulah momen atau kesempatan emas! Biarkan si kecil bereksplorasi dengan makanannya. Biarkan dia memegang dan meremas-remas bubur atau biskuitnya atau , apa pun yang ingin dilakukannya terhadap makanannya.

Belajar apa?

Kalau kesempatan emas itu datang, Anda dapat mengajak si kecil belajar banyak hal. Anda bisa mengenalkan kepadanya bahwa apa yang sedang ia makan adalah nasi atau bubur. Kenalkan aneka tekstur seperti bubur yang lembut, ada pisang yang empuk, atau wortel rebus yang lebih keras.

Bila si kecil sudah mulai bisa diajak bicara, Anda dapat mengembangkan pelajaran selanjutnya. Misalnya, kenalkan nama aneka sayuran dan buah-buahan yang tersaji di atas meja makan. Lengkapi juga dengan pelajaran tentang berbagai jenis warna. Ada pepaya dan jeruk yang berwarna oranye, pir dan nasi yang warnanya putih, pisang yang kulitnya kuning tapi dalamnya putih, dan sebagainya.

Bahkan, bila Anda senang berkreasi, Anda dapat membuat 1001 macam penampilan yang menarik dari makanan yang Anda sajikan untuk si kecil, sekaligus sebagai media si kecil belajar tentang berbagai macam hal. Puding jelly aneka warna berbentuk wajah, misalnya, bisa jadi media belajar si kecil tentang warna dan nama-nama bagian wajah seperti mata, hidung dan mulut.

Sesuai keterampilan

Kegiatan makan melibatkan proses menelan dan mengunyah. Padahal, kedua keterampilan itu tidak begitu saja dikuasai si kecil, melainkan melalui serangkaian proses perkembangan yang bertahap. Agar Anda dapat memberikan makanan yang benar-benar tepat sesuai tahap perkembangan keterampilan maupun sistem pencernaannya, sebaiknya pahami setiap tahapannya. Dengan begitu, Anda dapat mengolah dan memberikan variasi makanan kepada buah hati Anda secara tepat.

Pada umumnya, si kecil sudah benar-benar siap diperkenalkan makanan yang padat, bertekstur lebih kasar, bercita rasa lebih kuat, dan jenisnya lebih bervariasi, pada saat dia memasuki usia 6 bulan. Yakni, bersamaan dengan tumbuhnya gigi pertama (gigi susu). Pada rentang usia ini, indera pengecap si kecil berkembang pesat.

Jadi, setelah si kecil memasuki usia 6 bulan, picu sensitivitas indera pengecapkan dengan memperkenalkan aneka rasa makanan melalui berbagai jenis makanan baru. Misalnya, bila si kecil sudah mampu menggenggam dan menggerakkan tangannya ke arah mulut, beri ia finger food, seperti potongan buah, rebusan aneka sayuran yang berbentuk batangan, serta keju.

Selanjutnya, ketika usianya semakin beranjak, si kecil pun makin pandai mengontrol gerak anggota tubuhnya. Di rentang usia 9-12 bulan, si kecil akan berada pada tahap perkembangan fase oral, yakni senang mencicipi berbagai benda yang menarik perhatiannya untuk dipegang dan dimasukkan ke dalam mulutnya.

Ia juga akan berubah menjadi “si pemilih”! Kini bayi Anda tidak mau menerima begitu saja setiap makanan yang Anda sodorkan ke mulutnya. Ini karena indera pengecapnya semakin berkembang. Kini ia tidak hanya sekadar menelan ‘mentah-mentah’ makanan yang Anda berikan, tetapi sudah mulai dapat menikmati rasa dari setiap jenis makanan yang masuk ke dalam mulutnya.

Tantangan yang menarik bagi Anda untuk mengoptimalkan tumbuh kembangnya adalah terus berkreasi mengolah aneka makanan yang tidak saja sesuai dengan tahap perkembangan keterampilan makan serta sistem pencernaannya, tetapi juga sesuai dengan selera makannya. Hal ini, antara lain, bertujuan agar anak kelak tidak mengalami kesulitan makan, atau sebaliknya, jadi obesitas (kegemukan).

Makan bersama

Salah satu cara untuk menggugah selera makan si kecil adalah dengan mengajaknya ikut dalam acara makan bersama seluruh anggota keluarga. Secara psikologis, acara makan bersama ini merangsang kecerdasan emosi si kecil. Menurut Fiona Wilcock, ahli gizi dari Amerika Serikat dalam artikelnya “Fun Food For All The Family”, makan bersama sekeluarga merupakan ajang bagi anak untuk belajar bersosialisai, sekaligus merupakan kesempatan baginya untuk menikmati kebersamaan.

Wilcock menambahkan, bagi bayi, timbulnya perasaan ikut terlibat dalam aktivitas sehari-hari akan membuatnya merasa senang. Dari acara makan bersama yang ia ikuti, banyak hal yang dapat dipelajarinya, sekali pun hanya melalui kegiatan melihat dan mengamati. Si kecil bisa belajar tentang cara dan kebiasaan makan dari masing-masing anggota keluarganya.

Untuk itu, sangat dianjurkan menghadirkan si kecil pada acara makan bersama. Dengan begitu, ia akan merasa dibutuhkan oleh kelurga karena ia termasuk dalam anggota keluarga. Si kecil tidak selalu harus makan menu utama yang disajikan.

Melalui acara makan bersama keluarga ini, emosi-emosi positif pada si kecil dapat ditanamkembangkan, dan ini akan memperkuat tali kekeluargaan. Jadi, jelaslah mengapa melalui sepiring nasi beserta lauk-pauk yang disajikan, kelak si kecil akan memahami “warna-warni” kehidupan, seperti halnya warna-warni lauk-pauk yang ada di dalam piringnya.

Sri Lestariningsih

Foto: Dachri MS dan Honda T.

DHA Sulit Diserap Bayi

DHA SULIT DISERAP BAYI, JANGAN TERPENGARUH IKLAN SUSU

1/22/2007

JAKARTA (MEDIA) : Tingkat konsumsi Docosahexanoic Acid (DHA) yang berlebihan akan membahayakan metabolisme tubuh. Sebab tubuh terpaksa dibebani pekerjaan yang lebih berat untuk mengeluarkan asam lemak esensial tersebut. Spesialis penyakit anak Dr. Utami Roesli MBA, mengutip hasil penelitian yang dilaksanakan di Australia, Amerika Serikat maupun Eropa, bahwa di tiga kawasan negara maju ini, belum dihasilkan efektifitas dari penambahan DHA dalam produk susu maupun makanan bayi dan anak-anak termasuk untuk ibu hamil. “Jadi belum ada anjuran untuk menambahkan unsur asam linoleat dan asam linolenat itu ke dalam susu”, ujarnya kepada Media, kemarin di Jakarta.
Lebih jauh ditegaskan, seperti juga lemak susu sapi, maka asupan DHA tsb. tersebut bukan merupakan ikatan rantai panjang, sehingga masih sulit diserap oleh pencernaan bayi. Terlebih lagi, katanya, karena susu yang akan dikonsumsi ini harus dibuat dengan menggunakan air panas hingga mengalami proses pemanasan. Akibatnya, aktifitas enzim desaturase dan elongase yang memfasilitasi pembentukan DHA dalam tubuh secara otomatis hancur. Karena itu, Utami, sebagai pakar air susu ibu (ASI) mengingatkan kepada masyarakat, khususnya kaum ibu, supaya jangan terpengaruh terhadap iklan susu dan makanan pendamping ASI yang mengandung DHA dengan iming-iming mampu meningkatkan kecerdasan bayi.
“Asam lemak esensial tersebut justru cukup terkandung dalam ASI, bahkan unsur DHA-nya tergolong ikatan rantai panjang yang sangat mudah diserap pencernaan bayi”, ujarnya. Karena itu dia menganjurkan agar bayi diberikan ASI sejak lahir sampai umur 4 bulan, karena asam lemak ASI juga terdiri dari asam arakidonat. “Berarti, kandungannya melebihi unsur asam linoleat dan asam linolenat”. Setelah empat bulan, katanya, bayi dapat diberikan tempe yang mengandung pula asam linoleat maupun asam linolenat karena lemaknya termasuk ikatan rantai panjang. Utami menjelaskan, setelah mencapai umur enam bulan, bayi juga dapat diberikan ikan laut, yang secara alami mengandung pula kedua asam lemak itu tanpa harus mengonsumsi susu formula.

Menyesatkan

Ketua Lembaga Peningkatan Penggunaan ASI Rumah Sakit Saint Carolus ini mengakui, semboyan “Empat Sehat Lima Sempurna” yang berlaku sejak dulu dinilai telah menyesatkan masyarakat. “Orang beranggapan konsumsi makanan sehari-hari belum sempurna jika tidak minum susu. Susu bukan berarti tidak penting, namun bukan segala-galanya”, tegasnya lagi. Dia bahkan melihat iklan susu maupun makanan bayi dan anak-anak yang diimplementasi dengan DHA cenderung menyesatkan masayarakat, karena produsen memanfaatkan kebodohan
konsumen yang tak memahami manfaat sesungguhnya dari unsur tambahan tersebut.
Sementara, kalangan spesialis gizi di Indonesia umumnya menyatakan masih awam terhadap kandungan DHA dalam susu. Karena sampai sejauh ini, belum pernah dilakukan penelitian tentang manfaatnya. Dokter Soebagyo Sumodihardjo MSc, pakar gizi dari bagian Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, mengungkapkan pihaknya baru mengetahui hal itu dari media massa. Ketika ditemui Media usai pembukaan lokakarya “Pemerataan serta Peningkatan Pemanfaatan Lulusan Pendidikan Tenaga Kesehatan di Sektor Non-Departemen Kesehatan dan Kesejahteraaan Sosial” kemarin di Jakarta, dia belum bersedia dimintai komentarnya. “Saya baru mengkliping dan belum membaca literatur”, ujarnya. Dia berjanji memberitahukan hal tersebut seminggu kemudian setelah segala informasi dikumpulkan dari berbagai sumber. Spesialis Anak Dr. Sri S. Nasar sebelumnya menginformasikan bahwa overdosis DHA pada manusia, sejauh ini baru terlihat dialami orang Eskimo yang banyak mengkonsumsi ikan laut. Dikatakan bahwa gejalanya berupa perdarahan, mirip flek-flek berwarna kebiruan di kulit. “Efek yang lain baru ditemukan pada monyet maupun tikus, tapi gejalanya berbeda”. (Rse/V-1)

(Rse/V-1)

7 Langkah Sukses Makan

7 Langkah Sukses Makan Si Kecil

1. Makanan jangan terlalu kental, kalau kental Sikecil susah nelan.

2. Jangan masak banyak-banyak, cukup Sekitar 2-3 sendok teh.
3. Gunakan sendok bayi.
4. Mulailah dengan ujung sendok lalu sentuhkan ke ujung lidah mungilnya krn cara ini cukup efektif untuk mengenalkan rasa baru.
5. Kalau Si kecil menolak ini karena dia belum terbiasa disuapi dengan sendok atau masih asing dengan aneka rasa yg baru.
6. Jangan pernah berputus asa kalaupun makanannya keluar lagi krn ini tidak selalu berarti si kecil tidak menyukainya, ini terjadi karena otot-otot dan mulutnya belum cukup terampil untuk menelan atau mengunyah.
7. Bersabarlah membiasakan si kecil makan makanan tertentu, cobalah sampai beberapa kali selama beberapa hari. Beri kesempatan padanya untuk “merekam” aneka rasa dalam memorinya, dengan begitu diharapkan ia tidak terlalu “pemilih” makanan nantinya.

Sumber : Artikel Ayah Bunda

A-Z Gizi Anak

Kalau sudah menyangkut urusan gizi anak, para orangtua sangat peduli. “Apakah anak saya sudah mendapat cukup gizi?”. “Kok, anak saya kurus ya?” Eiit….., jangan buru-buru berkesimpulan.

A= Air susu ibu
Sebenarnya hanya 1% wanita yang benar-benar tidak bisa menyusui. Jadi, setiap wanita bisa memberikan ASI. Persiapan memberi ASI dimulai sejak bayi dalam kandungan. Begitu pula ketika ibu akan bekerja, ASI mulai diperas, dibekukan dan disimpan dalam lemari pendingin (frezeer) beberapa minggu bahkan beberapa bulan sebelumnya.

Pada awal kehidupannya, bayi sering sekali menyusu, sekitar 8-12 kali. Beri ASI saat ia meminta (on demand) agar produksi ASI dan pertumbuhan bayi optimal. Isapan si kecil dan pengosongan tuntas payudara Anda merupakan rangsangan terbaik untuk meningkatkan jumlah ASI.

Yang sering terlupakan adalah ASI bukan hanya sekadar kaya nutrisi, namun ASI adalah materi hidup, yang juga mengandung enzim yang membantu agar pencernaan bayi bisa menyerap nutrisi dengan baik.

B= Besi
Bayi, terutama saat-saat penyapihan, rentan kekurangan zat besi yang bisa menyebabkan anemia. Para ahli menganjurkan untuk deteksi dini satu kali sebelum usia anak satu tahun lewat pemeriksaan kadar hemoglobin.

Perbedaan penyerapan zat besi oleh tubuh dari berbagai sumber makanan:

  • Penyerapan tinggi: daging, ikan dan unggas cukup
  • Penyerapan sedang: gandum dan kacang-kacangan
  • Penyerapan rendah: sayuran

Untuk meningkatkan penyerapan, kombinasikan makanan kaya zat besi dengan vitamin C, misalnya selipkan potongan tomat dalam bekal roti daging untuk anak.

C= Camilan sehat
Di sela-sela makanan wajib, anak pun butuh camilan. Tetapi repot juga bila anak lebih memilih mengemil daripada makan. Solusinya, sediakan camilan sehat yang setara gizinya dengan makanan wajib. Misalnya, roti dengan selai kacang, kroket keju, biskuit gandum. Hindari camilan manis sejak dini. Namun, saat anak aktif dan memerlukan makanan berkalori tinggi, segelas es krim, puding susu, atau cheesecake akan menambah energi untuk aktifitasnya.

D= Diet
Bolehkah anak obesitas berdiet untuk menurunkan berat badan? Menurut para ahli, diet seperti ini tidaklah dianjurkan karena diet berlebihan ditakutkan mempengaruhi tumbuh kembangnya. Diet lebih ditujukan untuk membentuk pola makan sehat dan menjaga agar berat badan tidak terus naik. Diharapkan, semakin tinggi anak, berat badan akan menjadi seimbang. Sertakan pola makan sehat dengan aktifitas fisik.

Ajak anak bermain di luar rumah dengan unsur kegiatan: jalan, lari, lompat, tangkap, tendang yang ‘menguras kalori’. Batasi nonton TV/main games kurang dari 2 jam/hari. Yang pasti aktifitas fisik memiliki banyak keuntungan untuk gaya hidup di masa depan.

E= Enyahkan mitos
Masyarakat seringkali lebih mempercayai mitos ketimbang kenyataan. Salah satunya mitos bahwa menyusui akan merusak estetika payudara. Banyak selebriti dunia dan dalam negeri berlomba-lomba menyusui bayinya, dan lihat betapa badan mereka tetap langsing. Intinya, selama pola hidup sehat dijalankan, maka tubuh kita pun akan sehat dan bugar. Jadi, demi memberi si Kecil makanan terbaik, mengapa Anda harus menundanya?

F= Fakta tentang vitamin
Awal tahun 1900-an, ahli menemukan sebuah substansi “vital” dalam makanan, yang belakangan disebut vitamin. Efek kekurangannya cukup fatal, dan pemenuhannya akan memberi banyak keuntungan hingga jutaan orang tua di dunia berlomba memberikan suplemen vitamin untuk anaknya. Namun, makanan kaya vitamin tetaplah menjadi pilihan utama.

Faktanya, jumlah vitamin yang diserap ternyata bervariasi tergantung dari:

  • Keadaan (status) nutrisi anak,
  • makanan yang dikonsumsi sebelumnya,
  • kondisi pencernaan,
  • proses pengolahan,
  • sumber vitaminnya.

Anak diare menyerap vitamin lebih sedikit. Anak yang mengalami operasi pemotongan usus akan kekurangan vitamin tertentu tergantung letak ususnya. Begitu juga sayuran yang direbus terlalu lama akan berkurang kadar vitaminnya, dan sumber vitamin alami lebih baik penyerapannya.

G= Gigi vs tekstur makanan
Banyak orang tidak mengetahui bahwa ada hubungan antara pola makan anak dengan kesehatan gigi. Kepadatan makanan anak harus disesuaikan dengan perkembangan giginya. Anak yang terus menerus diberi makanan dengan tekstur halus membuat perkembangan rahangnya terhambat. Jika perkembangan rahang dan gusi terhambat maka pertumbuhan gigi pun bisa terganggu.

H= Hindari
Saat si Kecil sedang belajar makan makanan padat, hindari mengenalkan makanan manis-manis. Makanan yang mengandung gula pemanis substitusi (sorbitol) juga harus dibatasi karena bisa menyebabkan diare. Sayur atau buah kalengan bisa mengandung natrium terlalu banyak hingga tak baik untuk si kecil.

Beberapa jenis makanan dapat menyebabkan tersedak seperti potongan wortel mentah, buah cherri, permen, potongan sosis, kacang, butiran buah anggur, dan popcorn. Hindari pula si kecil bermain dengan balon, koin, bola-bola kecil, ujung pulpen, tanpa pengawasan orang dewasa di sekitarnya.

I= Ikan
Ikan laut merupakan sumber omega-3 dan omega-6. Sertakan menu ikan di hidangan anak Anda. Tentu saja pilih ikan yang “aman”, artinya yang tidak memiliki banyak duri halus, misal ikan salem, tongkol/tuna, marlin, kakap, dsb. Selain itu perhatikan jenis pengolahan. Untuk tahap permulaan, sebaiknya pilih masak dengan cara tim.

J= Jangan paksa
Seringkali anak usia 2-3 tahun tak mau makan menu yang disediakan, seiring dengan keinginannya untuk menentukan pilihan sendiri. Saat-saat seperti ini, pemaksaan malah akan mengganggu kemampuan anak untuk memilih dan menentukan kesukaannya. Selain itu, anak yang dipaksa mencoba menu baru, meski diiming-imingi hadiah, ternyata lebih banyak yang menolak makanan dibandingkan dengan anak yang suka rela mencobanya. Anak yang dihukum tidak makan makanan kesukaannya juga malah akan semakin menginginkan makanan tersebut. Tugas orang tua adalah menyediakan makanan sehat, dan biarkan anak memilih dan menentukan sendiri jumlah makanan yang diinginkannya.

K= Kurus?
Benarkah si kecil kurus? Membandingkan berat badannya dengan teman-teman sebaya bukanlah cara akurat untuk memastikan kurus. Sebab ada anak yang memang berperawakan pendek dan ada pula yang tinggi.

Mengukur berat badan selain berdasarkan umur, idealnya berat badan juga dibandingkan dengan tinggi atau panjang badannya. Terkadang si kecil memang punya berat badan lebih ringan dari sebayanya tetapi bila dilihat dari panjang badannya, mungkin ia sebenarnya normal.

Penilaian kurus atau tidaknya seorang anak juga ditentukan oleh banyak hal antara lain tebal lemak dan ukuran lingkar lengannya. Jadi, sebelum anak divonis kurus, konsultasikan terlebih dulu dengan dokter.

L= Lemak
Lemak mutlak diperlukan oleh bayi yang relatif makan lebih sedikit daripada anak atau pun orang dewasa. Kebutuhan lemak untuk anak 1-3 tahun adalah 30-40% dari jumlah kalori sehari, sedangkan anak usia 4-18 tahun sebesar 25-35%. Lemak dibutuhkan untuk melarutkan beberapa jenis vitamin, untuk membangun sel termasuk sel saraf, untuk pertumbuhan otak, dan juga sebagai cadangan energi.

M= Menolak makan
Proses makan merupakan hasil interaksi, dan tidak melibatkan anak saja. Jangan salahkan anak bila ia menolak makan, bila faktor lain tak terpenuhi. Misalnya, suasana makan, jenis makanan yang diberikan, cara pemberiannya, stres, temperamen anak dan perkembangan keterampilannya turut berperan. Faktor budaya seperti memberi pisang yang dihaluskan pada bayi baru lahir akan mempengaruhi perkembangan keterampilan makan si kecil. Orang tua yang memaksa anaknya makan padahal ia tak lapar, atau anak yang selalu disuapi juga bisa menjadi salah satu sebab anak sulit makan. Jangan lupakan pula kondisi anak apakah ia sedang sakit atau tidak seperti bayi yang pilek bisa menolak makan karena pernapasannya terganggu.

N= Nutrisi anak aktif
Ketika si kecil mulai bersekolah dan menghabiskan separuh waktu siangnya di sana, ia butuh nutrisi lebih. Mereka butuh menu makan siang yang dapat memenuhi sepertiga dari kebutuhan energi, protein, vitamin A, vitamin C, zat besi, dan kalsium. Tanamkan pentingnya nutrisi bergizi, dan jangan biasakan mengganti dengan jajan. Pastikan ia mendapat sarapan sarat gizi agar dapat belajar optimal. Sarapan yang disarankan adalah segelas susu, satu porsi buah atau sayur, lauk pauk, dan sumber karbohidrat seperti sereal-sarapan roti, mie, atau nasi.

O= Obat penambah nafsu makan
Curcuma sudah diteliti dapat menambah nafsu makan. Kekurangan zinc dapat juga mengurangi nafsu makan. Sebaiknya jangan tergoda untuk buru-buru membeli suplemen yang mengklaim bisa menambah nafsu makan anak, karena belum tentu ia membutuhkannya. Konsultasikan dulu dengan dokter anak Anda.

P= Pilih-pilih makanan
Menurut sebuah studi, picky eaters (anak yang suka pilih-pilih makanan) biasanya diberi ASI kurang dari 6 bulan hingga pemberian ASI lebih dari 6 bulan diharapkan dapat mencegahnya dari pilih-pilih makanan. Studi juga menunjukkan jumlah makanan yang disukai anak tak akan banyak berubah dari usia 2-3 tahun sampai usia 8 tahun. Hingga anak yang sudah terlanjur pilih pilih makanan pada usia tersebut, akan lebih sulit diubah. Jadi, mengenalkan menu baru saat usianya dua hingga empat tahun akan lebih diterima ketimbang setelah usia empat tahun.

R= Rentan sakit
Beberapa elemen nutrisi akan meningkatkan daya tahan tubuhnya. Yang sudah diteliti antara lain antioksidan seperti selenium, vitamin C, A, E, zinc. Anak yang kekurangan nutrisi lebih mudah sakit. Begitu juga anak yang tidak minum ASI.

S= Sering muntah
Anak yang sering muntah juga akan mempengaruhi status nutrisinya. Ada batasan kapan anak muntah dikatakan patologis, pastinya periksakan dokter.

T= Tidak suka sayur
Kesukaan anak terhadap sayur dan buah dibentuk sejak bayi, terutama ketika ia mulai makan sama dengan orang di sekitarnya. Menurut ahli, anak yang diberi variasi makanan dan sering melihat Anda makan sayuran akan lebih suka sayur. Tawarkan berbagai macam sayur, berulang-ulang dan konsisten, sampai anak Anda mau mencobanya. Cara lain adalah menyelipkan sayuran dalam makanan yang disukainya, misalnya bakso daging yang diberi wortel.

Sebagai ukuran untuk balita, satu porsi sayuran kurang lebih satu sendok makan dikalikan usia dan setengah potong buah segar. Sedangkan untuk anak yang lebih besar, satu porsi adalah satu potong buah atau satu cangkir sayuran mentah. Dalam satu hari, disarankan seorang anak mengonsumsi dua porsi buah dan tiga porsi sayuran.

U= Utamakan kenyamanan saat makan
Yang satu ini sering terlupakan. Orangtua hanya berpikir, “Hmm, waktu makan telah tiba dan anak harus makan!” Wah, tak perlu kaku begitu. Sebaiknya ciptakan suasana makan yang menyenangkan. Misalnya mengajak anak makan di teras belakang rumah, di depan ikan mas koki yang berwarna-warni. Anda perlu sedikit “aktif berbicara” mengajaknya berbincang.

V= Variasi menu sehari
Sama seperti Anda, si kecil pun bisa bosan dengan jenis makanan yang itu-itu saja. Ayo sedikit kreatif. Nggak susah kok, tergantung kemauan Anda. Mau cara gampang, buka saja buku aneka resep bubur bayi, atau bertanya kepada orang-orang sekitar.

W= Waktu makan yang teratur
Keteraturan makan perlu diperkenalkan sejak dini. Idealnya anak makan tiga kali sehari dengan dua selingan di antaranya. Membiasakan si kecil makan sesuai jadwal akan membuat pencernaannya lebih siap dalam mengeluarkan hormon dan enzim yang dibutuhkan untuk mencerna makanan yang masuk.

X= X-tra hati-hati
Pengukuran berat badan setiap bulan pada bayi dan balita dapat menjadi deteksi dini apakah ia punya masalah kesehatan. Bila berat badannya tidak naik dua bulan berturut-turut sedangkan Anda telah memberinya nutrisi bergizi, hati-hati terhadap kondisi kesehatannya. Beberapa penyakit seperti tuberkulosis dan infeksi saluran kemih dapat menyebabkan gangguan makan dan berat badannya tak naik-naik. Beberapa masalh hormon, kelainan kromosom juga bisa menyebabkan berat badan dan tinggi badannya tidak naik seperti anak normal lainnya.

Y= Yodium
Meskipun dibutuhkan dalam jumlah kecil, yodium adalah zat gizi vital untuk kecerdasan anak. Sumber utama yodium adalah makanan laut, juga lewat suplementai (misalnya garam beryodium).

Z= Zinc
Zinc atau zat seng sudah terbukti meningkatkan daya tahan tubuh dan mencegah anak dari diare. Kandungannya tinggi pada makanan kaya protein seperti kerang, daging, daging unggas, dan hati, juga pada kacang-kacangan dan produk gandum. Kekurangan zat ini dapat menyebabkan anak kurang nafsu makan dan mudah sakit.

Sumber: Sahabat Nestle

Bayi Gemuk Hadapi Resiko

Bayi gemuk hadapi risiko

TIDAK dinafikan kanak-kanak yang terlalu gemuk merunsingkan ibu bapa. Terdapat banyak pendapat berhubung punca kegemukan yang dikemukakan penyelidik kanak-kanak.

Ia begitu kompleks dengan kebanyakannya mempunyai kaitan dengan pemakanan, baka, fizikal, psikologi dan sosial.

Kebanyakan penyelidik berpendapat bayi yang gemuk mempunyai risiko tinggi untuk terus gemuk ketika mereka semakin dewasa.

Adakah kegemukan ibu bapa juga bahaya?

Tidak dinafikan kegemukan di kalangan orang dewasa boleh menyebabkan risiko untuk mengalami darah tinggi, serangan jantung, kencing manis dan penyakit sendi.

Untuk mengelakkan ia berlaku, pencegahan perlu dilakukan sejak di peringkat kanak-kanak atau bayi.

Jika susu diberi secara berlebihan, ia boleh mengakibatkan bayi menjadi gemuk. Terdapat penyelidikan menunjukkan kumpulan kanak-kanak diberikan susu formula lebih gemuk daripada kanak-kanak diberikan susu ibu.

Ibu yang memberi susu formula selalu menggalakkan bayi mereka menghabiskan susu dalam botol tanpa mengambil kira bayi itu mengantuk atau kekenyangan.

Jika susu yang lebih pekat diberikan kepadanya bermakna kalori bertambah dan ini boleh menyebabkan tubuh bayi menjadi gemuk.

Satu punca utama membawa kepada kegemukan ialah ibu memulakan makanan peralihan seperti pepejal terlalu awal dari usia sepatutnya. Ini menyebabkan bayi mendapat jumlah kalori tinggi sebelum waktunya.

Kadangkala telur atau daging dalam bubur yang dihancurkan boleh menyebabkan bayi menerima kalori tinggi.

Penyelidikan yang dijalankan mendapati bayi yang mendapat susu badan lebih aktif, kurang tidur dan lebih mendapat stimulasi berbanding susu formula.

Begitu juga, cara ibu memberi makan bayinya boleh menentukan kegemukan atau keadaan bayi yang tidak subur.

Mereka yang kurang berpengalaman boleh memberi bayi dengan bancuhan kurang padat atau membiarkan bayi terus tidur walaupun sepatutnya tiba waktu minum susu.

Pakar kanak-kanak mendapati ramai bayi yang gemuk lebih kerap mendapat penyakit paru-paru. Ini mungkin ada kaitan dengan kekurangan fungsi pernafasan akibat kegemukan. Ada kemungkinan kuasa perlindungannya lebih rendah daripada kanak-kanak biasa.

Ada tiga perkara asas yang perlu diambil kira dalam usaha merawat kegemukan. Pertama ialah motivasi, kedua mengurangkan kalori makanan dan ketiga melebihkan aktiviti jasmani.

Motivasi tidak mudah untuk disemai dalam fikiran kanak-kanak yang gemuk. Ibu bapa berperanan untuk menggalakkan anak-anak supaya kurang makan.

Mengurangkan jumlah kalori yang diambil setiap hari melalui makanan sangat penting. Kanak-kanak mestilah mengetahui makanan yang tinggi kalorinya supaya boleh mengelak daripada mengambilnya.

Disarankan supaya bahan makanan seperti mentega dan minuman manis dikurangkan. Mengawasi makanan kanak-kanak di bawah usia lima tahun mungkin lebih sukar.

Corak hidup kanak-kanak mesti diambil kira iaitu bukan hanya riwayat makanan dalam tempoh 24 jam diteliti tetapi aktiviti jasmaninya juga perlu diambil kira.

Kanak-kanak yang kerap tidur pada waktu siang atau menonton televisyen di rumah perlu digalakkan menjalankan pelbagai aktiviti.

Kegemukan jika berterusan boleh membawa masalah kepada kesihatan tubuh kanak-kanak. Ia juga boleh memberi masalah emosi. Apabila kanak-kanak menempuh alam remaja, perasaan kurang yakin pada diri dan rendah diri boleh mengganggu pergaulannya.

Justeru itu, ibu bapa perlu memainkan peranan dalam mengawal pemakanan anak-anak sejak awal supaya mereka tidak berdepan masalah kegemukan apabila

Pencegahan Obesitas Anak

Rekomendasi Pencegahan Obesitas Pada Anak Berdasarkan Usia

1/25/2007

Usia

Rekomendasi

0 – 1 tahun

ASI sangat membantu dalam menjaga peningkatan berat badan. Bayi dengan ASI dapat mengontrol kapan ingin mengkonsumsi dan mengikuti keinginannya sendiri ketika lapar.

2- 6 tahun

Sedini mungkin kenalkan dengan kebiasaan yang sehat. Ajak anak untuk lebih aktif dan berikan beragam makanan sehat. Mungkin butuh usaha lebih agar anak dapat menerima beragam makanan, namun jangan menyerah.

7 – 12 tahun

Rangsang anak agar lebih aktif setiap hari, dapat dengan kegiatan berkelompok seperti olahraga atau permainan-permainan sehat lainnya. Ajak anak juga tetap aktif dirumah, melalui kegiatan seperti berjalan, bermain di halaman dan juga ajak mereka untuk terlibat ketika membuat makanan sehat.

13 – 17 tahun

Remaja cenderung menyukai makanan siap saji. Cobalah untuk mengarahkan mereka untuk beralih menyukai makanan yang lebih sehat seperti buah, sayur, serealia. Batasi makanan siap saji dengan kalori tinggi. Ajak untuk lebih aktif setiap hari, jika anak Anda tidak ikut serta dalam klub olahraga, sarankan mengikuti kegiatan yang lebih individual seperti lari pagi, bersepeda, berenang, dan lain-lain.

Pada segala usia

Kurangi waktu untuk menonton TV, komputer dan video game serta kurangi camilan pada saat melakukan kegiatan tersebut. Berikan makanan sehat sesering mungkin. Coba untuk selalu memberikan buah dan sayuran, dan ajak anak untuk selalu sarapan setiap hari. Tetap rangsang anak untuk melakukan berbagai macam aktivitas. Namun jangan paksa anak pada satu jenis olahraga atau aktivitas, tapi bantulah mereka untuk menemukan yang mereka suka dan dukung mereka.

Sumber
Overweight and Obesity. www.kidshealth.org

Vegan Children

Raising Vegan Children…

by Erin Pavlina

A vegan does not eat any foods that contain animal products. This means no beef, chicken, fish, pork or veal; no milk, cheese, butter, eggs, sour cream, or cottage cheese. Instead a vegan eats fruits, vegetables, nuts, grains and legumes.

Is a vegan diet healthy for an active, growing child? Absolutely. Children raised on a vegan diet eat more fruits and vegetables than their meat-eating counterparts. They are sick less often, and don’t have as many food allergies. Even vegan junk food is healthier than regular junk food, containing fruit juice instead of sugar, and whole wheat flour instead of white flour. Family and friends may worry that your child will be ostracized at school if he brings tofu and sprouts. So send your child to school with a peanut butter and jelly sandwich, apple, carrots, and fruit- sweetened cookies and no one will know your child is eating a “special” diet. At birthday parties, find out what the host is serving and drop your child off with the vegan equivalent of those items.

Feeding Vegan Babies

The breast milk of vegan women is refreshingly void of many toxins and pesticides that are found in the breast milk of meat-eating women. This affords a vegan baby an even better chance for short and long term health.

Feeding Vegan Infants

The first foods any child eats are usually mashed fruits, soft veggies, and iron fortified rice cereals. All of these items are vegan so nothing special needs to be said for starting solids. Avoiding cow’s milk and eggs are probably good advice for the first year of any child’s life anyway. After that, simply give your vegan child samples of food from your own plate and see what she likes.

Feeding Vegan Children

As your child gets older you can incorporate the things most kids enjoy eating. Below are some suggestions for things most vegan children will enjoy and will ensure that he has a well balanced and varied diet:

  • Spaghetti with tomato sauce
  • Peanut butter and jelly sandwiches
  • Chicken-Free nuggets (soy protein nuggets that taste just like breaded chicken)
  • Baked french fries with ketchup
  • Burgers, hot dogs and sandwich slices made of tofu and other meat substitutes
  • Whole wheat bread (3-4 slices each day)
  • Grilled soy cheese sandwiches
  • Mashed potatoes
  • Veggie pizzas with soy cheese
  • Oatmeal with apples and cinnamon
  • Pancakes with pure maple syrup
  • Waffles with fruit
  • Barley and vegetable soup
  • Romaine lettuce salad
  • Vegetables, including green leafy and deep yellow vegetables
  • Baked potato with broccoli and tofu sour cream (non dairy)
  • Rice and beans
  • Vegetable stew
  • Spinach lasagna
  • Calcium-fortified orange juice
  • Calcium-fortified soy milk (3 cups each day).
  • Iron-fortified cereal with calcium-fortified soy milk
  • supplements: a vegan multivitamin to provide Vitamin B12 and zinc, and extra iron and calcium

Snacks:

  • Fruits, cut up into bite sized pieces for children under 4 (4-5 1/2 cup servings with at least 2 servings of citrus fruit or juice each day)
  • Raisins
  • Trail mix
  • Applesauce
  • Fresh berries and sorbet (all fruit without sugar)
  • Fruit smoothies
  • Popcorn
  • Vegans can’t eat white sugar, and most candy is made with it. But there are some vegan chocolate companies that make some good stuff, and a gummy bear substitute that isn’t bad made with fruit juice. Vegan cakes, donuts, cookies, and pies are abundant though.

Is a Vegan Diet During Pregnancy Safe?

During pregnancy it is vital to maintain a healthy diet for the safety of the developing fetus. Pregnant vegans have a tremendous advantage since their diet is naturally high in the vitamins and minerals the baby needs. As long as her diet is varied and incorporates a reliable source of B12, a vegan woman can be reasonably sure she is meeting her daily requirements. A visit to a registered dietician who specializes in vegan diets can help ease her mind if she is unsure of her particular diet. Also read Pregnancy, Children, and the Vegan Diet by Dr. Michael Klaper, the bible for pregnant vegans.

Suggested foods
It is important to eat a varied diet during pregnancy to ensure an adequate supply of many vitamins and minerals. Below is a list of some food choices that are healthy and rich in the nutrients a woman needs during pregnancy. These items are good choices even for non-vegan women.

  • Breakfast:
    • Whole grain cereal with soy milk
    • Whole grain pancakes with pure maple syrup
    • Fruit smoothies
    • Oatmeal with dried fruit or apples and cinnamon
    • Whole wheat toast with all fruit preserves
  • Lunch:
    • Romaine lettuce salad with chopped vegetables and low fat dressing
    • Veggie sandwich on whole grain bread with avocado, lettuce, tomato, and onions.
    • Baked potato with broccoli and tofu sour cream (non dairy)
    • Falafel sandwich with humus or tahini
    • Split-pea soup
  • Dinner:
    • Whole wheat pasta with marinara sauce
    • Sweet potatoes
    • Vegetarian pizza with no cheese
    • Vegetable stir fry with brown rice
    • Potato-lentil stew
    • Vegetable stew
    • Spinach lasagna
  • Snacks:
    • popcorn with nutritional yeast
    • dried fruits
    • grapes
    • fruit juice with sweetened cookies
    • nuts
    • trail mix

Handling The Opinions of Others

It isn’t always easy being a vegan. Not everyone understands the nature of the diet or how healthy it really is. The best way to deal with people who challenge the safety of a vegan diet is to arm yourself with information. Read Diet For A New America by John Robbins. This book provides wonderful documentation of the ill effects of the standard American diet and describes how healthy a plant based diet is. Also, when dealing with the opinions of family and friends, remember that you don’t take medical advice from your insurance broker, so don’t take advice about diet from anyone isn’t an expert.

Handling Holidays

It’s important that a vegan child not feel different just because their diet may not be shared by those around them. During holidays it’s wise to find vegan equivalents to favorite holiday treats. For example, a vegan Easter basket can include vegan chocolate eggs and plastic eggs with coins in them. Halloween can be tough, but one idea is to get together with other vegan parents and have a Halloween party. Let the kids dress up in costume and enjoy activities like bobbing for apples. Serve vegan cupcakes and confections in the shapes of monsters, and carve pumpkins too. With a little forethought and creativity, a vegan child can enjoy the same holidays non-vegan children do.

Bottom Line

Raising a vegan child is just as exciting, rewarding, and filled with challenges as raising any child. But providing your child a vegan diet will give him an early start on leading a long and healthy life.

More Information

For more information on raising healthy vegan children, pregnancy, and vegan parenting, visit the VegFamily website at www.vegfamily.com.

Editor’s Note and Disclaimer:

Although not for everybody, a vegan diet does indeed have many health benefits, and if planned appropriately, it can be a healthy diet for children. Parents, especially if they are vegans, can feel reassured that they can raise their kids to be vegans too. The article mentions that children raised on a vegan diet are ‘sick less often’ and that the breast milk of women on a vegan diet is ‘void of many toxins and pesticides,’ and that this may give ‘a vegan baby an even better chance for short and long term health.’ These comments are the opinions of the author and have not been confirmed by medical or scientific studies. The purpose of this article is more to teach parents on how to safely raise a child as a vegan and not to convert all parents to this type of diet.

The foods that are part of a vegan diet are low in cholesterol and saturated fats and they are high in fiber (all characteristics of a healthy diet) and may lead to a lower risk of obesity, heart disease, high blood pressure and Type II diabetes. And since most of the foods that people are allergic to (cow’s milk, egg whites, seafood, poultry) aren’t part of the vegan diet, your child is much less likely to suffer from food allergies. These health benefits led Dr. Spock to recommend a strict vegan diet for all children over the age of 2. This proposal created a lot of controversy, but not because experts disputed the health benefits of a vegan diet, but rather because they thought that parents might not take enough time and effort to plan a vegan diet that included enough calories, minerals and nutrients to ensure optimal growth in their children. Some areas that you should pay special attention to if your child is on a vegan diet include:

  • Calories. Vegan diets may have less calories than diets that include meat and dairy products. Although it isn’t necessary to count calories each day, you should ensure that your child is receiving enough calories for their optimal growth. In general, if your child is eating a well balanced and varied vegan diet, is gaining weight and developing normally and is active, with a lot of energy, then he is probably getting enough calories.
  • Vitamin B12. This vitamin is only absorbed from animal products, so your child will need to take supplements or eat foods that are fortified with Vitamin B12 (check nutrition labels), including fortified soy milk and some meat substitutes. Also, nutritional yeast as a great way to get B-12.
  • Vitamin D. This vitamin is present in fortified milk, egg yolks, and fish. Your body also makes Vitamin D when exposed to sunlight, so most children do not have problems with Vitamin D deficiency. If your child is not exposed to the sun very often, then you should consider Vitamin supplements or a soy milk that is fortified with Vitamin D.
  • Calcium. Calcium is a mineral that is mostly present in your child’s bones. Having a diet with foods that are high in calcium to meet daily requirements is necessary for the development of strong bones. It is also an important way to prevent the development of osteoporosis in adults. Many vegetables contain calcium, especially broccoli, sweet potatoes, great northern and navy beans, and leafy greens. You can also give your child soy milk or orange juice that is fortified with extra calcium.
  • Protein. You can make sure that your child gets enough protein and amino acids by eating a good balance of grains and legumes.

Zinc. Your child will need to take supplements or eat foods that are fortified with zinc to get enough of this important mineral, since the best sources of zinc are meat and yogurt. Zinc is also found in whole grains, brown rice, legumes, and spinach.

Picky Eater

Bila anak peaky eater

Jangan biarkan bila anak maunya makan makanan itu-itu saja. Itu namanya anak mengalami peaky eater. Ada dampak buruknya. Jenis makanan itu-itu saja membuat anak tak mendapat aneka zat gizi yang dibutuhkannya.

Bila makan dengan lauk semur ayam dan telur dadar, Vanya (1,5 th) lahap bukan main. Vania sampai senang, hampir tiap harus menyediakannya. Tubuh Vanya montok karena senang makan. “Kalau saya sediakan lauk pauk lain, entah itu daging, ikan, sayur bayam, Vanya nggak suka. Makanannya suka dilepeh-lepehkan. Jadi ya sudah saya bikin semur aja terus dan telur dadar, toh itu juga bergizi ya.” Tapi, yang diherankan Vania, sejak mulai mendapat makanan padat sampai sekarang, Vanya tetap maunya makanan itu-itu saja. “Mulai deh saya merasa repot. Terutama kalau ngajak Vanya bepergian, belum tentu kan ketemu semur ayam atau telur dadar. Akhirnya kalau pergi cuma minum susu atau camilan saja. Ternyata repot deh kalau anak maunya makan itu-itu saja,” lanjut Vania.

Tak hanya repot lho, tapi juga dapat berdampak bunk bagi kesehatan dan selera anak. Apalagi tahun-tahun pertama ini merupakan fondasi anak membentuk selera terhadap makanan. Bila seleranya hanya itu-itu saja, bisa terus menetap atau menyulitkannya beradaptasi dengan makanan baru.

Mengapa Peaky Eater

Anak akan disebut peaky eater bila ia hanya mau makan itu-itu saja. Makanan baru atau variasi makanan sulit diterimanya. Children Nutritional Research Center, Texas, menyebut anak yang mengonsumsi satu jenis makanan saja dalam waktu yang lama atau peaky eating-nya menetap, juga disebut food jag.

Biasanya, menurut peneliti di lembaga tersebut, hal ini terjadi aldbat pemberian makan yang salah. Pada usia-usia pertama mendapat makanan padat, anak sebenamya sedang mengembangkan seleranya akan berbagai rasa. Diberi apapun anak akan menerima dan mencobanya. Adakalanya orangtua seperti Vania yang melihat anak begitu lahap makan berlauk pauk semur dan telur dadar, salah memahami hal ini. Apalagi ketika memberi lauk pauk lain si kecil tak selahap ketika makan semur dan telur dadar, dianggapnya ia cocok dengan lauk itu saja. Sampai, ia terjebak memberinya lagi, memberinya lagi, tahu-tahu si kecil ‘fanatik’ dengan jenis makanan itu-itu saja.

Artinya, pemberian makanan itu sangat besar artinya. Sebab, bila anak sudah terjebak pada makanan yang itu-itu saja, anak makan kehilangan beberapa zat gizi yang dibutuhkan untuk memenuhi masa tumbuhkembangnya. Semua orang apalagi anak-anak membutuhkan tuhkan makanan yang dapat memenuhi kebutuhannya. Makanan bervariasi lah yang hams diterimanya. Dari mulai sayur-sayuran, daging, susu, hingga buah-buahan, harus seimbang. Bila Anda terus biarkan, bisa menjurus ke malnutrisi atau kurang gizi. Sebab yang didapatnya hanya satu dua macam gizi saja, zat-zat zat gizi lainnya?

Yang berperan dalam memerangkap selera si kecil menjadi peaky eating adalah cara Anda memberinya makanan. Selain Anda, adalah orang yang sehari-hari mengasuh anak. Bisa nenek kakeknya, tante omnya, atau pengasuhnya.

Ini sesuai dengan yang diungkap dalam suplemen di Journal of the American Dietic Association, Amerika. Menurutnya, beberapa-temuan dan referensi menunjukkan besarnya pengaruh orang yang mengasuh anak sehari-hari, terutama pengasuhnya. Jika orangtua dan pengaruh biasa makan . kentang goreng (di Indonesia mie instant), atau pengasuh suka jajan bakso, siomay, minum sirup, dsb, maka pelan-pelan selera anak pun akan mengikuti pengasuhnya.

Tak jarang pengasuh membuatkan makanan yang itu-itu raja. Karena dipikirnya si kecil doyan, kenapa harus berubah? Bagaimana pun memberi makanan baru atau berbeda-beda pasti perlu upaya lebih keras. Tapi, apakah Anda harus ‘kalah’ dari pengasuhnya, dan membiarkan si kecil jadi malnutrisi? Mulai sekarang, selain bikinkan menu, juga intiplah apa yang dimasak pengasuh. Siapa tahu berbeda dari pesanan Anda.

Sulit Menerima Perubahan

Anak-anak batita adalah anak-anak yang sulit menenma perubahan. Karena itu kemungkinan menjadi peaky eater sangat bisa terjadi. Namun ada beberapa pakar yang menyebut bahwa, pada suatu saat perut anak akan berubah dan ia akan mencoba-coba makanan baru.

Namun penelitian Children Research Center tidak menghasilkan demikian. Justru karena anak sulit menerima perubahan sehingga selera dan perutnya tak mudah bergeser. Membutuhkan waktu lama bila anak sudah menjadi peaky eating.

Yang paling berpengaruh adalah, jangan biarkan anak mengonsumsi makanan itu-itu saja. Berikan makanan yang bervariasi, ganti-ganti menu setiap hari, itulah bekalnya dalam memahami dan menerima perubahan.

Menormalkan Selera Makan si Kecil

Sudah terlanjur jadi peaky eater? Bukan berarti terus Anda biarkan. Ada cara menormalkannya kok:

• Gantilah Menu-nya tapi siap-siaplah menerima penolakannya. Mula-mula pasti anak akan menolaknya, Anda harus sabar dan menerimanya. Tetaplah bujuk-rayu ia. Tapi hindarkan memaksa ya.

• Bila anak tetap menolak, berikan menu lamanya tapi tambahkan dengan variasi lain. Misal semur ayam ditambah wortel dan buncis. Atau telur dadar dengan irisan bayam. Atau semur ayam dengan oseng-oseng sayuran.

• Perlahan-lahan sisihkan menu lamanya ganti dengan yang baru. Agar anak menerima suapi anak dengan memberinya aneka mainan. Mainan dapat menyibukkannya sehingga tak memperdulikan makanannya. Tinggal disodorkan sambil bilang “aa..”

• Berikan anak makanan yang bervariasi, baik yang baru maupun yang telah dikenal anak.

• Hindarkan memaksa anak menghabiskan makanannya. Baik dengan katakata, maupun ancaman psikologis berupa menunjukkan pemukul misalnya.

Sumber: Tabloid Ibu & Anak