Kebutuhan Gizi Mempengaruhi Kecerdasan Anak

JAKARTA (Media): Penelitian membuktikan ada keterkaitan antara tubuh pendek dan tingkat kecerdasan. Bila sejak awal sudah tidak ada keseimbangan berat dan tinggi badan, maka akan berpengaruh pada pembentukan otak. Karena itu, kebutuhan gizi bayi sejak janin sampai usia lima tahun harus terpenuhi secara baik. Kepala Seksi Standardisasi, Subdit Gizi Mikro, Direktorat Gizi pada Ditjen Kesehatan Masyarakat Depkes dr Atmarita menegaskan hal tersebut di Jakarta, kemarin, di sela-sela Kongres Nasional XII dan temu ilmiah Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) yang berlangsung hingga Rabu (10/7).
Menurut Atmarita, anak yang perkembangannya sangat lambat disebabkan oleh pembentukan otak maupun tubuhnya tidak baik akibat gizinya buruk. “Berarti hal paling penting adalah pemenuhan gizi bayi sejak dalam kandungan sampai berusia lima tahun, dan bila tidak terpenuhi, pertumbuhan otak dan tubuhnya tidak bagus. Anak dengan tubuh pendek, ia mengemukakan, berarti status gizi pada masa lalunya sudah kronis,” jelas Atmarita. Namun begitu, lanjutnya, sampai usia 18 tahun pun asupan gizi masih penting untuk pertumbuhan fisik anak. Jadi jika tubuh seseorang kurus, Atmarita menilai, hal ini dipengaruhi oleh keadaan gizi pada saat itu.

Bersama rekannya, dr Robert L Tiden, pakar gizi tersebut menganalisis masalah gizi di perkotaan yang dikaitkan dengan tinggi badan anak baru masuk sekolah. Atmarita mengatakan, 62% lebih anak di perkotaan memiliki tinggi badan normal dari segi umur, sedangkan anak di pedesaan hanya 49%. Maka disimpulkan bahwa anak di perkotaan memiliki keadaan gizi lebih baik dibanding anak di pedesaan. Meski demikian, obesitas (gemuk sekali) pada anak di perkotaan cenderung lebih tinggi dibanding anak di pedesaan. Cuma, masalah itu mulai meningkat bukan saja di perkotaan, melainkan juga di pedesaan.

Atas dasar tersebut, Atmarita menegaskan, program perbaikan gizi sekarang harus diubah dengan memerhatikan faktor yang terkait dengan pola hidup penduduk di perkotaan maupun pedesaan. Sebelumnya, Menkes Achmad Sujudi dalam sambutan tertulis yang dibacakan oleh Staf Ahli Menkes Bidang Desentralisasi dan Kelembagaan Dini Latief merasa prihatin karena proporsi anak pendek di Indonesia masih cukup tinggi. “Saya yakin, para ahli gizi mengetahui situasi ini karena di tiap wilayah telah difasilitasi dengan pemantauan status gizi,” ulasnya.

Ia menambahkan sudah banyak penelitian yang menyimpulkan pentingnya gizi untuk meningkatkan kemampuan belajar dan mengikuti pendidikan sampai tingkat tertinggi. Menkes mengutip pula sejumlah studi di Filipina, Jamaika, dan negara lainnya yang membuktikan, adanya hubungan yang sangat bermakna antara tinggi badan dan kemampuan belajar. Bahkan, ujarnya, dihasilkan bahwa pemberian makanan tambahan pada anak bertubuh pendek berusia 9-24 bulan akan mampu meningkatkan kemampuan belajar anak ketika berusia 7-8 tahun. Dibuktikan pula dari beberapa studi bidang ekonomi di Ghana maupun Pakistan mengenai pentingnya gizi untuk mendukung pembangunan. “Malah dengan menurunkan prevalensi anak pendek sebesar 10%, akan dapat meningkatkan 2%-10% proporsi anak yang mendaftar ke sekolah.” (Rse/V-4).

Sumber:http://www.kompas.com/kompas-cetak/0208/04/Iptek/kili22.htm

Ayo Kita Makan nak

Ayo, Kita Makan, Nak!

Makan adalah “pelajaran” baru bagi si kecil yang mulai mengenal makanan padat. Dan ternyata, banyak “keterampilan” yang harus ia kuasai dalam proses belajar ini.

Sejak usia enam bulan, susu bukan lagi satu-satunya makanan yang akan dikonsumsi bayi Anda. Tapi, Anda tidak bisa begitu saja alias langsung memberikan makanan apapun padanya. Sebab, “pelajaran” makan si kecil haruslah berlangsung secara bertahap.

Kapan ia siap makan?

Kemampuan bayi untuk makan makanan padat memang tidak sama. Sekalipun demikian, para ahli sepakat, umumnya kesiapan bayi untuk makan makanan padat pertamanya berkisar antara usia 6–8 bulan.

Meski begitu, jangan mentang-mentang usia si kecil sudah 6 bulan, lalu Anda langsung bersemangat “menjejalnya” dengan seabrek makanan padat. Hanya karena khawatir ia ketinggalan teman-teman seusianya! Umumnya, otot mulut bayi belum dapat mengunyah dan menelan makanan padat sampai usia 4–6 bulan. Makanya, jangan heran kalau lidah si 6 bulan Anda malah “mendorong” makanannya ke luar mulut mungilnya. Lihat-lihat dulu kemampuannya. Bila tidak, bisa-bisa urusan makan ini malah jadi runyam! Kalau sudah begini, apa yang bisa Anda lakukan?

Yang pasti, ketika memperkenalkan makanan padat, sistem pencernaan si kecil harus benar-benar “matang”. Pokoknya, sudah siap tempur untuk memproses berbagai jenis makanan baru yang masuk. Kalaupun Anda terlalu dini memperkenalkan makanan padat, bayi Anda malah lebih mudah terkena reaksi alergi Jadi, tenang-tenang saja dulu.

Jangan coba-coba ambil jalan pintas!

Harus diakui, bukan hal yang mudah jika si kecil Anda susah banget belajar mengunyah dan menelan makanannya. Sekalipun kepentok di sana-sini, jangan lantas ambil jalan pintas dengan cara memberi makanan padatnya melalui botol.

Tahukah Anda, cara pemberian makanan seperti ini nggak aman-aman amat! Malahan, ini dapat meningkatkan risiko si kecil tersedak. Kok, begitu? Ketika Anda memberi makanan melalui botol (biasanya lubang dot akan diperbesar), makanan tadi akan langsung ditelannya. Jika ia belum pintar-pintar mengontrolnya, bukan tak mungkin ia langsung tersedak.

Bahkan, tak jarang, cara pemberian makanan ini justru menjadi salah satu penyebab anak “terlalu banyak” makan. Ia jadi cepat sekali menelan makanannya. Saking cepatnya, sekalipun perutnya sudah kenyang, sinyal yang bertugas memberitahu kalau dia sudah kenyang “tidak sempat” sampai ke otak. Akibatnya, dia minta tambah terus dan terus. Wah, jadi repot lagi.

Selain itu, pemberian makanan lewat botol tidak akan mengajari si kecil menggunakan rahangnya untuk mengunyah. Padahal, proses belajar mengunyah dan juga menelan kelak penting untuk kemampuan bicaranya dan pertumbuhan giginya.

Belajar tidak berhenti di mulut saja

Proses belajar makan si kecil memang tidak berhenti sebatas mulut mungilnya saja. Ia masih harus belajar disiplin melalui tatacara makan yang sudah terpola waktunya. Misalnya, ketika didudukkan di kursi makannya atau dipasangkan celemek makannya, ia sudah tahu kalau “upacara” makan sudah tiba. Atau, ketika mencium harumnya aroma makanan yang sedang Anda siapkan, ia harus sabar menunggu. Tampaknya sepele memang, namun semua itu merupakan rangkaian dalam proses belajarnya.

Juga, ia akan belajar bahwa aktivitas ini bisa mempererat hubungannya dengan Anda, bunda tercintanya. Misalnya, melalui kontak mata ketika Anda mengajaknya berbicara ketika mempersiapkan makanan atau duduk dihadapannya, ia tahu kalau Anda sangat menyayanginya dan memberikan perhatian penuh. Akan lebih baik lagi, bila Anda selalu tersenyum ketika menyuapinya. Ketenangan Anda dan cara Anda memperlakukannya sangat besar pengaruhnya dalam proses belajar makan si kecil.

Kesabaran untuk tidak terburu-buru ketika menyuapi, kepekaan mengetahui kondisi anak, kreativitas dalam memilihkan menu, serta menciptakan suasana makan yang menyenangkan merupakan kunci utama kesuksesan Anda dalam memberi makan pada si kecil. Siapkah Anda untuk itu?

Retno Wahab Supriyadi

Pola Makan Anak

Pola Makan Anak Adopsi Kebiasaan Orangtua
Pola makan teratur dengan gizi seimbang menunjang stamina dan kesehatan tubuh. Terutama bagi anak-anak, kebiasaan ini mendukung pertumbuhan fisik dan mental.
Membiasakan anak memiliki pola makan sehat bukanlah perkara mudah. Banyak terdengar keluhan para orangtua mengenai kebiasaan makan anak-anaknya yang kurang baik, seperti menolak makan nasi lengkap dengan lauk pauk, hanya memilih makanan manis atau menolak makan sama sekali dengan berbagai alasan. Tentu saja, itu membuat orangtua khawatir dengan perkembangan sang buah hati.

Ternyata salah satu kunci keberhasilan membiasakan anak memiliki pola makan sehat terletak pada orangtua. Ciri khas anak yang belajar dengan mengadopsi segala sesuatu yang dilihat dan didengar, membuat orangtua menjadi sosok utama bagi mereka.

Hal itu dibenarkan psikolog dan play therapist Dra Mayke Tedjasputra MSi. Menurut staf pengajar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia itu, anak dan lingkungan saling memengaruhi. “Secara psikologi, seseorang mempelajari pola makan yang baik itu dari orangtuanya,” ujarnya.

Menurut dia, bila orangtuanya picky eating atau cenderung memilih makanan, maka akan menurun pada anak.”Makanan yang dimakan orangtua dapat menjadi contoh. Misalnya, ibu yang tidak suka ikan karena bau. Maka anaknya akan cenderung mengikuti tidak suka ikan,” ujar Mayke pada kampanye bertajuk “Bekal Cinta Blue Band untuk Anak Bangsa” di Jakarta, baru-baru ini.

Sebaliknya, Mayke mengaku memiliki klien yang ayahnya hanya suka makan ikan. Karena itu,sang anak pun hanya mau makan ikan. “Jadi, orangtua adalah role model. Anak belajar sosial terutama dari orangtuanya,” tegas Mayke.

Demikian pula mengenai tata krama di meja makan. Anak cenderung akan mengikuti kebiasaan orangtua. Karenanya, lanjut Mayke, sejak anak berusia 9 bulan sebenarnya anak sudah bisa diperkenalkan untuk makan sendiri di meja makan. “Belajar makan sendiri juga menjadi proses pembelajaran pemahaman mengenai makan yang benar,” katanya.

Ketika sudah mulai duduk, lanjutnya, ajarkan untuk duduk di meja makan. Pada usia 9 bulan, biasanya anak sudah bisa menjumput benda dengan kedua jarinya,telunjuk dan ibu jari sehingga bisa diajarkan makan sendiri.

Untuk mempelajari berbagai tekstur dan rasa makanan, tidak jarang anak-anak ingin merasakan makanan yang dimakan oleh orangtua.Menurut Mayke, hal ini masih tergolong wajar. “Yang jelas anak bisa belajar makan dengan senang dan menyenangkan,” ucapnya.

Kemudian, untuk memperkenalkan makanan sehat dan bergizi dapat dilakukan sejak anak usia balita. Lalu, ketika anak memasuki usia sekolah, maka pengertian mengenai makanan sehat dan bergizi dapat dikomunikasikan.

“Mulai diperkenalkan makanan sehat dan bergizi sejak balita, kemudian pada usia sekolah ajak anak berdialog dan berdiskusi. Memang ada anak yang sangat mudah pemahamannya, ada yang sulit.Orangtua bisa mengajak anak menemui ahli gizi, minta menjelaskan kepada anak,” tuturnya.

Sebenarnya, kaitan antara pola makan orangtua dan anak telah dilakukan penelitian oleh para peneliti dari Pennsylvania State University. Penelitian yang dilakukan oleh Amy T Galloway PhD, Laura Fiorito RD, Yoonna Lee PhD, dan Leann L Birch PhD ini mempelajari mengenai kaitan pola makan sekelompok ibu dan anak perempuannya yang dimuat dalam jurnal American Dietetic Association.

Penelitian tersebut dilakukan terhadap 173 anak perempuan berusia 9 tahun dan ibunya. Penelitian tersebut dilakukan selama dua tahun,dimulai ketika anak berusia 7 tahun.

“Ketika anak perempuan berusia 7 tahun, para ibu diharuskan menuliskan makanan yang dikonsumsinya, termasuk seberapa porsi buah dan sayuran setiap hari,” ujar Amy T Galloway, seorang peneliti.

Para ibu juga ditanyai mengenai tekanan yang diberikan kepada anak perempuannya dengan menjawab pertanyaan, apakah anaknya harus makan semua jenis makanan yang ada di piringnya,serta apabila anak saya berkata tidak lapar, dia harus tetap makan.

Kemudian, ketika anak perempuan tersebut berusia 9 tahun, para ibu kembali ditanya mengenai tipe dan jumlah makanan yang dikonsumsi anaknya setiap hari. Mereka juga ditanyai, apakah menganggap anaknya sering kali memilih makanan. Sementara itu, dalam penelitian tersebut sang anak diukur berat badan dan kadar lemak.

“Hasilnya, para ibu yang mengonsumsi lebih banyak buah dan sayur mengatakan bahwa mereka tidak memberikan tekanan yang lebih besar untuk anak-anak perempuan mereka untuk makan. Kemudian, para ibu ini memiliki anak-anak yang lebih banyak mengonsumsi sayur dan buah, serta tidak memiliki kebiasaan memilih makanan,” ujar Amy.

Sebaliknya, lanjut Amy, anak-anak yang cenderung memilih makanan lebih sedikit mengonsumsi buah dan sayur. Meskipun, sebagian dari anak perempuan tersebut juga tidak banyak mengonsumsi makanan kadar gula tinggi dan berlemak.

Berdasarkan penelitian tersebut, disimpulkan bahwa masukan nutrisi yang diberikan oleh orangtua dapat memengaruhi kebiasaan anak nantinya. Kebiasaan mengonsumsi buah dan sayur yang cukup pada orangtua dapat mendorong anak untuk melakukan hal yang sama. (ririn s/sindo/via)

sumber : okezone

Hindari Anak Dari Junkfood

Hindarkan Anak dari Junk Food!

Getty ImagesRabu, 16 April 2008 | 15:09 WIB
MENGONSUMSI makanan redah kadar gizi atau junk food tampaknya sudah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat terutama di kota-kota besar. Bahkan tak jarang para orang tua malah mengenalkan makanan tidak sehat ini kepada anak-anaknya sejak dini.

Ketika mengajak jalan-jalan ke mall atau pusat perbelanjaan, banyak orang tua membelikan anak mereka junk food. Begitu perut lapar, anak-anak langsung diajak menyantap paket menu yang terdiri dari nasi plus ayam goreng, atau burger bersusun tiga ditambah sekantong kentang goreng plus segelas soda.

Padahal dari sisi kesehatan sudah diketahui dengan jelas betapa besar risiko kesehatan yang dihadapi bila mengonsumsi makanan junk food secara rutin.

Seperi dipaparkan DR. Dr Saptawati Bardasono, MSc, Sekjen Pengurus Pusat Persatuan Dokter Gizi Medik Indonesia (PDGMI), junk food dapat dikonotasikan sebagai makanan yang kualitas gizinya rendah atau juga makanan sampah. Makanan ini biasanya dikemas sebagai menu cepat saji dengan menawarkan rasa yang lezat dan membuat ketagihan.

¨Junk food biasanya mengandung padat kalori, lemak dan bumbu-bumbu dengan kadar garam tinggi sehingga menimbulkan sensasi rasa yang sangat lezat di lidah. Ini jelas tidak sehat karena lemak, kalori dan zat-zat lain yang dikandungnya melebihi batas yang ditentukan. Padahal, komposisi makanan sehat itu kan harus seimbang,,¨ terang DR. Saptawati saat ditemui di sebuah hotel Jakarta, Rabu (16/4).

Bila junk food sudah merambah anak anak dan menjadi bagian dari gaya hidup mereka, lanjut Saptawati, maka dikhawatirkan risiko mengidap berbagai penyakit akan mengintai sejak usia dini.

¨Mereka sudah dari awal akan memiliki risiko mengidap berbagai penyakit seperti obesitas. Belum lagi penyakit degeneratif yang akan menyerang ketika dewasa seperti jantung, tekanan darah tinggi, diabetes, atau jenis penyakit berat lainnya. Oleh sebab itu, anak-anak sebaiknya dihindarkan atau jangan sering-sering mengonsumsinya. Yang lebih baik tetap makanan dengan kandungan gizi dan nutrisi seimbang,¨ tambahnya.

Kalori berlebih
Bila ditelaah, junk food memang layak disebut makanan sampah karena dihitung dari nilai gizi, makanan ini tidaklah seimbang. Sebungkus kentang goreng porsi normal misalnya dapat mengandung 500 kalori, hamburger sekitar 500 kalori, belum lagi bila ditambah minuman soda total kalori satu hidangan bisa melebihi total 2000 kalori.

Rata-rata kebutuhan kalori untuk pria dewasa saja rata-rata hanya 1.900 kalori, sedangkan anak-anak sekitar 1500-1900 . Berarti, makan sekali sajian, belum termasuk minumnya, sudah melewati lebih dari separuh kebutuhan kalori untuk anak-anak.

Junk food juga dapat mengandung kolesterol dan gula yang tinggi. Sementara kandungan nutrisi penting seperti protein, vitamin, dan mineral justru terabaikan. Yang dikhawatirkan, junk food kemungkinan mengandung zat berbahaya lain seperti bahan pengawet dan zat aditif yang membuat anak ketagihan. Jadi sebaiknya hindarkan anak Anda dari junk food!

Sumber : Kompas

Makan Bersama – Makan Sehat

Makan Bersama Mendorong Kebiasaan Makan Sehat

Nutrisi yang baik dan pola makan seimbang dapat membantu anak tumbuh sehat. Di kelompok umur manapun anak kita berada, entah itu balita maupun remaja, kita memerlukan strategi untuk mendorong kebiasaan makan sehat dalam keluarga. Langkah-langkah di bawah ini dapat membantu Anda menumbuhkan hal tersebut:

  • Mengadakan acara “makan bersama” keluarga secara teratur.
  • Menyediakan makanan sehat dan makanan ringan yang beragam.
  • Menerapkan pola makan sehat untuk diri kita sendiri.
  • Menghindari perdebatan tentang makanan.
  • Melibatkan anak dalam proses.

Dalam pelaksanaannya, langkah-langkah di atas tidak selalu mudah dilakukan. Apalagi bila Anda tergolong ibu yang sibuk dan sering membeli makanan makanan siap saji. Namun, bagaimanapun padatnya jadwal Anda, makan bersama keluarga sebaiknya perlu dilakukan, minimal sekali sehari. Mengapa? Sebab, kebiasaan ini membuat anak dan orang tua dapat bertemu muka dan merasa lebih dekat ketimbang keluarga yang biasa makan sendiri-sendiri. Selain itu, Anda juga dapat mengecek menu makan anak tanpa mereka merasa dipaksa. Sebab, apa yang ada di meja makan, bukan hanya untuk anak, tapi juga untuk Anda.

Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa anak-anak yang rutin makan bersama keluarga cenderung menyukai buah, sayuran, dan biji-bijian, tidak menyukai camilan yang tidak sehat, antirokok, dan tidak minum alkohol.

Keuntungan lain dari makan bersama adalah kemudahan memperkenalkan menu-menu baru pada anak. Dari responsnya, Anda bisa segera tahu mana makanan yang mereka sukai dan mana yang tidak.

Makan bersama juga tetap dapat diterapkan meskipun anak sudah menginjak usia remaja. Walaupun tugas ini lebih sulit – usia remaja biasanya identik dengan perilaku yang tidak suka diatur – tetap saja Anda perlu mencari waktu untuk membimbing mereka. Saat paling tepat untuk berbagi dan mendengarkan curahan hati remaja adalah pada saat makan bersama. Untuk mengajak mereka makan bersama, cobalah kiat ini:

  • Tidak melarang anak membawa temannya untuk ikut makan malam.
  • Libatkan mereka dalam perencanaan dan persiapan makanan.
  • Jaga suasana makan yang tenang dan bersahabat – jangan menggurui atau mengomel.
  • Makan bersama bisa dilakukan pada waktu malam – saat semua orang sudah tiba di rumah. Tapi, Anda juga dapat melakukannya pada pagi atau siang hari di akhir pekan.


Kurangi Junkfood Sekarang

Kurangi Junkfood Sekarang !

Oleh Kompas Cyber Media

Cheese burger dan piza memang nikmat. Tanpa kita sadari inilah yang jadi makanan kita setiap hari. Padahal, dua jenis makanan ini, dan junk food lainnya, sangat berbahaya untuk kesehatan kita.

Kita pasti pernah berada dalam kondisi ini: lagi iseng jalan-jalan di mal, perut lapar, pilihan langsung jatuh pada paket hemat yang terdiri atas ayam goreng dan minuman soda. Sedang ada acara ngumpul di rumah, untuk konsumsinya kita pesan satu piza ukuran family. Di lain waktu, kita nonton bareng pacar. Sebelum masuk bioskop kita beli dulu cokelat plus minuman soda. And saat nonton VCD kita ditemani sekantong keripik kentang. Lagi iseng nunggu bus atau habis berolahraga, yang diambil bukan air putih melainkan minuman bersoda.

Kalau pola makan kita seperti ini terus lama-lama berbahaya, lho. Karena makanan yang masuk ke dalam perut kita itu bisa digolongkan sebagai junk food.

Junk food adalah kata lain untuk makan yang jumlah kandungan nutrisinya terbatas. Umumnya nih yang termasuk dalam golongan junk food adalah makanan yang kandungan garam, gula, lemak, dan kalorinya tinggi, tetapi kandungan gizinya sedikit. Yang paling gampang masuk dalam jenis ini adalah keripik kentang yang mengandung garam, permen, semua dessert manis, makanan fast food yang digoreng, dan minuman soda atau minuman berkarbonasi. Biasanya di makanan yang punya label junk food ini kandungan vitamin, protein, atau mineralnya sangat sedikit. Padahal, semua itu sangat dibutuhkan untuk kesehatan tubuh kita.

Kebiasaan kecil

  • Enggak bisa dimungkiri, hidup kita dikelilingi oleh junk food. Perhatikan deh kalau kita lagi jalan ke mal. Lirik ke kiri ada gerai fried chicken, lirik ke kanan ada gerai piza. Terus naik eskalator begitu sampai sudah disambut oleh gerai es krim. Betul-betul penuh godaan.

Sejak kecil pun kita sudah selalu diperkenalkan dengan junk food. Walau dilarang ortu, siapa sih yang tahan dengan godaan makanan ringan berbungkus warna-warni itu. Belum lagi mi instan nan menggugah selera.

“Aku tuh waktu kecil sampai SMP senang banget makan snack semacam Chiki. Sehari bisa satu bungkus. Tetapi sekarang sih walau suka sudah dikurangi,” cerita Ocha, siswa kelas 3 SMA St Ursula, Jakarta. “Aku juga sejak SD suka banget snack seperti itu. Tetapi, setelah gede, udah tahu efeknya, jadi ya dikurangin,” ujar Melody semangat. Walaupun tahu bahayanya, sampai sekarang Melody masih enggak tahan dengan godaan mi instan. “Kalau lagi di rumah, aku suka juga makan mi instan. Apalagi kalau lagi enggak ada makanan. Kebetulan (mi instan) selalu tersedia (di rumah), ya udah dimakan,” ungkap Melody.

Junk food mengandung banyak sodium, saturated fat, dan kolesterol. Bila dalam tubuh jumlah ini banyak, maka akan menimbulkan banyak penyakit. Dari penyakit ringan sampai penyakit berat macam darah tinggi, stroke, jantung, dan kanker.

Dulu nih, penyakit-penyakit “horor” itu hanya diderita oleh orang-orang tua yang umurnya di atas 40 tahun. Tetapi, semakin tahun, penderita penyakit nakutin ini semakin muda saja umurnya. Kalau kita enggak menjaga diri, bukan enggak mungkin dalam waktu lima sampai sepuluh tahun ke depan, kitalah si penderita itu.

“Aku kapok minum minuman bersoda. Dulu sih doyan banget. Sehari bisa dua sampai tiga kali. Apalagi kalau haus di sekolah, ya udah beli aja. Tetapi, karena kebanyakan, lambungku jadi sakit. Waktu diperiksa ke dokter, disangka usus buntu. Setelah diperiksa ulang ternyata lambungku kebanyakan soda,” cerita Melody yang sekarang lebih memilih minum air mineral untuk menghilangkan hausnya.

“Aku sih enggak suka makan snack seperti itu sekarang. Waktu masih kecil sih pernah suka, tetapi karena dilarang nyokap, sekarang enggak suka lagi. Lagian kalau kebanyakan makan snack itu bikin batuk,” cerita Claudia yang lebih memilih bawa bekal dari rumah biar enggak tergoda jajan. Wah, boleh juga tuh idenya.

Kenapa berbahaya ?

  • Kenapa juga ya, sodium, satured fat, dan koleksterol itu berbahaya ?

Sodium banyak ditemukan pada makanan yang kita makan dan minum. Sodium adalah bagian dari garam. Banyak lho makanan kemasan atau kalengan itu berkadar sodium tinggi. Sodium banyak terdapat pada french fries (apalagi kalau kita senang yang memakai shakers), ayam goreng, burger, cheese burger, bologna, piza, segala jenis snack, keripik kentang, dan mi instan. Sayuran dalam kaleng dan kadang-kadang juga keju mengandung zat ini. Beberapa penyedap, seperti soy sauce (biasanya disediakan di resto Jepang atau Asia Timur), garlic salt, dan onion salt. Eh, kalau kita makan warung bakso atau bakso pinggir jalan, garam meja yang disediakan pun mengandung sodium, lho.

Sodium enggak boleh kebanyakan ada dalam tubuh kita. Untuk ukuran orang dewasa, sodium yang aman jumlahnya enggak boleh lebih dari 3300 miligram. Ini sama dengan 1 3/5 sendok teh. Bila sodium terlalu banyak dapat meningkatkan aliran dan tekanan darah sehingga bisa membuat tekanan darah tinggi. Tekanan darah yang tinggi juga akan berpengaruh munculnya gangguan ginjal, penyakit jantung, dan stroke. Iiih serem ya.

Satured fat berbahaya buat tubuh karena zat ini merangsang hati kita memproduksi banyak kolesterol. Kolesterol sendiri didapat dengan dua cara nih. Ada yang dihasilkan oleh tubuh dan ada yang berasal dari produk hewan yang kita makan. Sebenarnya nih, kita enggak perlu menambahkan kolesterol masuk dalam tubuh karena tubuh kita sudah menghasilkan sendiri kolesterol.

Kolesterol banyak terdapat dalam daging, daging ayam, ikan, telur, butter, susu, dan keju. Sayuran, buah-buahan, dan biji-bijian sama sekali enggak mengandung kolesterol.

Bila jumlahnya banyak, kolesterol dapat menutup saluran darah dan oksigen yang seharusnya mengalir ke seluruh tubuh. Waah, ini bahaya banget kalau sampai aliran darah dan oksigen yang masuk ke otak mampat. Oh ya, tingginya jumlah satured fat akan menimbulkan kanker, terutama kanker usus dan kanker payudara. Kanker payudara merupakan pembunuh terbesar setelah kanker usus. Lemak dari daging, susu, dan produk-produk susu merupakan sumber utama dari satured fat ini.

Selain itu, beberapa junk food juga mengandung banyak gula. Gula, terutama gula buatan, enggak baik untuk kesehatan karena bisa menyebabkan penyakit gula atau diabetes, kerusakan gigi, dan obesitas. Minuman bersoda, cake, dan cookies mengandung banyak gula dan sangat sedikit vitamin serta mineralnya. Minuman bersoda mengandung paling banyak gula. Paling enggak satu kaleng minuman bersoda mengandung sembilan sendok teh gula. Padahal, kebutuhan gula dalam tubuh kita enggak boleh lebih dari empat gram atau satu sendok teh sehari. Bayangkan kalau kita minum minuman bersoda dua sampai tiga kaleng sehari. Betapa banyaknya gula yang menumpuk di dalam tubuh! Parahnya lagi, minuman bersoda enggak hanya mengandung banyak gula, tetapi juga mengandung kafein dan zat-zat adiktif lainnya.

Porsi kecil

  • Ada banyak cara untuk mengurangi makanan junk food.

Pertama nih, biasakan sarapan dan makan di rumah. Percaya deh makanan rumah lebih sehat dan bergizi. Jadi, sebelum berangkat sekolah, usahakan sarapan. Begitu pun kalau mau berangkat main. Mending makan dulu, deh. Jadi, begitu sampai di tempat gaul perut kita tidak terlalu kosong. Sehingga keinginan untuk ngemil pun bisa sedikit berkurang.

Kedua, enggak ada salahnya juga sesekali kita melihat kandungan yang ada dalam makanan yang kita beli. Misalnya nih kita membeli satu kantong keripik kentang. Coba lihat di bagian belakangnya pasti ada boks yang menjembrengkan nutrition fact atau kandungan dari makanan itu. Nah, dari situ kita bisa lihat apakah makanan itu sehat atau enggak.

Lihat jumlah gram fat atau lemaknya. Untuk setiap 5 gram lemak dalam makanan itu sama dengan satu sendok makan. Misalnya nih sebuah makanan tertulis memiliki 23 gram itu. Artinya makanan itu mengandung 4,5 sendok makan lemak. Sementara lemak minimal yang baik diserap tubuh adalah 30 persen dari total kalori. Ini bukan berarti kita harus antilemak. Karena lemak itu tetap berguna buat tubuh, tetapi jumlahnya memang enggak boleh banyak. Setelah itu lihat juga jumlah sodium. Beberapa makanan, seperti daging merah, memiliki kandungan sodium yang tinggi.

Ketiga, ambil porsi kecil. Kalau sudah enggak tahan pengin makan junk food, kita bisa meminimalisasi dengan mencicipinya dalam porsi kecil. Misalnya nih, dalam satu paket hemat ada dua ayam, maka lebih baik jika kita bagi berdua dengan teman. Kalau kita membeli es krim, minuman soda atau menu yang lain, pilih juga yang ukuran small atau regular. Oh ya jangan juga tergoda dengan topping atau bumbu tambahan. Ini akan menambah kandungan kalori dalam makanan kita.

Keempat, minum air putih sebanyak-banyaknya. Idealnya kita minum delapan gelas sehari. Kalau bisa sih lebih. Air putih membantu proses pembuangan dalam tubuh kita. Semua racun-racun yang ada dalam tubuh akan lebih mudah dikeluarkan kalau kita rajin minum air putih.

Kelima, banyak sayuran dan buah-buahan. Dua jenis makanan ini tinggi kadar seratnya. Sangat bagus untuk mengimbangi tubuh kita yang sudah kemasukan junk food. Selalu membawa buah-buahan di dalam tas bisa kita jadikan kebiasaan yang bagus tuh. Begitu lapar, kita bisa langsung ngunyah buah. Pilih buah-buahan yang gampang dibawa (enggak perlu dikupas), seperti apel, pir, tomat, pisang, jeruk, anggur, atau strawbery.

Keenam, olahraga teratur. Paling tidak dalam seminggu tiga kali, per harinya sekitar setengah sampai satu jam. Aktivitas tersebut dapat membantu membakar kalori dalam tubuh. Pilihan olahraga sih bebas-bebas saja. Sesuaikan dengan kegemaran kita. Jalan kaki selama setengah jam lebih baik daripada cuma nonton di depan teve.

Setelah mengurangi junk food, kita bisa masuk ke tahap berikutnya. Gaya hidup sehat enggak susah kok. Yang penting kita mengimbangi apa yang masuk dalam tubuh. Yang terutama nih, kita harus banyak-banyak mengonsumsi serat. Serat ini banyak terdapat dalam sayuran, buah-buahan, dan biji-bijian. Idealnya kita mengonsumsi 3-5 porsi sayuran. Sementara buah-buahan kita baiknya mengonsumsi 204 porsi. Buah-buahan sangat baik untuk menyediakan vitamin, terutama vitamin C, yang membantu stamina tubuh biar enggak cepat sakit. Bete enggak sih kalau kena hujan sedikit sudah pilek. Atau capek sedikit sudah langsung pusing.

Sumber vitamin C paling banyak ada di jeruk, strawbery, dan semangka. Buah juga sumber karbohidrat, lho. Karena kita masih tumbuh jangan anti juga sama susu dan produk susu lainnya, seperti keju atau yogurt. Jenis tersebut menyediakan kalsium yang cukup buat kita. Kalau kurang kalsium pun gawat, lho. Kita bisa kena osteoporosis atau tulang rapuh. Paling enggak sehari kita mengonsumsi dua sampai tiga porsi golongan ini. Daging-dagingan perlu dikonsumsi juga. Jumlahnya enggak banyak, hanya sekitar dua sampai tiga porsi sehari.

Gimana? Enggak susah kan? Mungkin dalam waktu dekat godaan untuk makan junk food masih besar. Tetapi, pelan- pelan bisa kita kurangi kok. Kesehatan badan lebih penting daripada kenikmatan lidah, kan? * (Muti Siahaan Tim MUDA)

Kebiasaan Makan Mencontoh Orangtua

Kebiasaan Makan Balita Mencontoh Orangtua

Masa mengeluhkan balita yang tidak mau makan sayur atau buah-buahan semestinya sudah lama lewat. Pasalnya, anak-anak dapat dibiasakan mengonsumsi makanan sehat bila mereka melihat orang tuanya melakukan hal yang sama setiap hari. Jadi, cara terbaik untuk mendorong kebiasaan makanan sehat adalah dengan memberi contoh pada mereka.

Cara lainnya agar anak-anak mengikuti perilaku kita di meja makan adalah membatasi porsi makan dan tidak makan berlebihan. Bicarakan tentang perasaan kita apabila kekenyangan, terutama pada anak yang lebih kecil. Misalnya, dengan mengatakan, “Enak sekali ya masakannya. Tapi, Mama sudah kenyang. Jadi Mama udahan dulu makannya.” Sebaliknya dengan contoh yang positif, kebiasaan negatif seperti diet ketat atau mengeluh tentang bentuk tubuh di hadapan balita kita dapat membuahkan perasaan yang sama pada mereka.

Bukannya bernafsu makan, jangan-jangan anak-anak juga menghindari nasi hanya karena ibunya puasa nasi pada saat diet. Maka itu, cobalah melakukan pendekatan positif jika menyangkut makanan. Anak-anaklah yang sebaiknya menentukan apakah mereka lapar, apa yang mereka mau makan dari masakan yang disajikan, dan kapan mereka kenyang, sementara orangtua mengatur makanan apa yang tersedia untuk mereka. Untuk mempermudah tugas Anda, ikuti petunjuk berikut:

  • Jangan memaksa anak menghabiskan isi piring mereka. Dengan melakukannya, anak-anak akan mengesampingkan perasaan kenyang.
  • Jangan menyuap atau menghadiahkan anak dengan makanan. Hindari menggunakan makanan penutup sebagai hadiah untuk memakan makanan utama.
  • Jangan gunakan makanan untuk menunjukkan perasaan sayang. Apabila kita mau menunjukkan rasa sayang, peluk atau pujilah mereka sesekali. Biarkan mereka terlibat dalam perencanaan menu, entah itu untuk bekal makanan mereka di sekolah, atau untuk makan malam. Diskusikan bagaimana caranya membuat pilihan dan merencanakan makanan yang seimbang. Bila perlu, ajak ia membantu berbelanja dan memasak. Dengan melibatkan anak, Anda telah menyiapkan mereka untuk belajar mengambil keputusan yang baik tentang makanan pilihan mereka.
  • Saat di toko, ajari anak untuk melihat label makanan dan uraikan nilai-nilai gizi yang terkandung di dalamnya. Saat di dapur, pilihkan tugas yang sesuai dengan umur mereka. Usai makan, jangan lupa memuji si koki cilik.