Jika Anak SUKA YANG MANIS-MANIS

sumber : tabloidnakita.com

Anda sendiri, apakah juga penggemar makanan dan minuman manis?
Sebetulnya gula yang merupakan sumber karbohidrat adalah makanan yang menguntungkan bagi anak sebagai sumber kalori. Kalori ini diperlukan bagi bocah usia prasekolah yang sedang tumbuh dan memerlukan kecukapan gizi. Tentu saja harus tetap dikonsumsi dalam jumlah yang sesuai kebutuhan. Ini perlu dicermati karena bila sejak kecil hanya menggemari makanan yang manis-manis, kebiasaan kurang baik ini akan terbawa sampai dewasa. Akibatnya, yang bersangkutan akan semakin berpeluang terkena obesitas/kegemukan. Padahal kegemukan di usia relatif muda akan meningkatkan risiko terserang diabetes, darah tinggi, dan jantung.
Untuk itu, perilaku jajan mesti dibatasi. Ironisnya, industri kecil maupun besar seolah berlomba melempar produk mereka berupa penganan manis. Bahkan, sebagian produk makanan anak di pasaran menggunakan pemanis buatan untuk menekan ongkos produksi dan harga jual. Jika tidak diseleksi sejak awal, kebiasaan anak mengonsumsi sembarang jajanan akan berlangsung dalam hitungan tahun selama anak bersekolah di tempat tersebut.
Strategi lain, sediakan dan bekali anak dengan makanan sehat yang dibuat di rumah. Selain lebih bersih, anak-anak juga membutuhkan energi yang berasal dari gula alami. Contohnya, es mambo buatan ibu, selain menggunakan air matang yang bersih, pastilah gula pasir murni dan bukan pemanis atau gula buatan.
BEKAL GURIH
Untuk mencukupi kebutuhan gizi yang lengkap dan diperlukan bagi pertumbuhan tubuhnya, anak usia prasekolah memerlukan aneka makanan sehat. Di usia 4 tahunan, anak mulai mengembangkan kebiasaan makannya sebagai konsumen aktif. Ia mulai bisa memilih sendiri makanan yang ingin dimakannya dan tidak lagi sebagai konsumen pasif yang sepenuhnya bergantung pada orang dewasa di sekitarnya. Di kurun waktu inilah orangtua memiliki peran penting untuk mengarahkan anaknya pada pola makan keluarga yang teratur dan bergizi seimbang. Jangan lupa, orangtua merupakan model utama bagi anak. Bila orangtua memiliki pola makan yang sehat, anak pasti akan mengikutinya.
Guna membantu anak agar mampu menjadi konsumen aktif yang bisa memilih makanan sehat, sediakan selalu menu utama maupun camilan yang memenuhi syarat makanan bergizi. Bergizi di sini tentunya berimbang baik sumber karbohidrat, protein, vitamin dan mineralnya. Sedangkan bervariasi, disamping dikemas sebagai bentuk sajian yang menarik, makanan pun perlu disajikan dalam aneka rasa, seperti gurih, asam, dan manis agar tak membosankan.
Anak usia prasekolah biasanya sudah membawa bekal makanan untuk dibawa ke kelompok bermainnya. Untuk mengurangi “ketergantungan” pada makanan yang manis, sebaiknya jangan bekali anak dengan setangkap roti manis, brownies, atau camilan apa pun yang memiliki kandungan gula cukup tinggi.
Sebagai gantinya, lebih baik bekali anak dengan makanan sehat dan bergizi, siapkan bekal makanan berkalsium seperti selembar keju dalam roti, kue sus isi ragut sayuran, atau nougat dari susu kacang. Jangan lupa selipkan pula satu jenis makanan yang kaya akan zat besi seperti sosis ayam, telur rebus, atau daging sapi gepuk. Bila jam “sekolah”nya cukup panjang, boleh-boleh saja tambahkan pilihan bekalnya dengan jenis serelia seperti spageti. Jangan lupa untuk menyelipkan buah-buahan segar dalam tas bekalnya, terutama jeruk atau pisang.
Semua bekal makanan ini sebaiknya dibuat sendiri di rumah hingga kebersihannya lebih terjamin dibanding bila membelinya di luaran. Kalaupun tidak sempat hingga terpaksa membeli, sebaiknya pilih tempat jualan yang bersih. Untuk jenis penganannya, sebaiknya pilih yang lengkap gizinya.
GOODIE BAG
Selera rasa manis umumnya dipengaruhi oleh lingkungan. Artinya, pengalaman dan pembiasaan memberi kontribusi amat besar dalam hal ini. Saat beranjak dewasa, selera seseorang akan ditentukan oleh apa yang mereka pelajari lewat pengalaman makan dan kebiasaan makan yang mereka lakoni.
Umumnya anak-anak tak pernah bisa menolak karbohidrat sebagai salah satu sumber zat gizi yang memberikan rasa manis. Terutama karbohidrat sederhana, semisal gula, madu, maupun gula dalam buah. Coba saja perhatikan, anak-anak begitu mudah terbangkitkan selera makannya hanya dengan menambahkan 1-2 sendok teh gula pasir ke dalam susunya atau makanan lain. Sebaliknya, anak-anak tak menyukai rasa pahit. Bisa dimaklumi kalau mereka biasanya juga tidak menyukai sayuran karena dalam sayuran terselip rasa pahit.
Selain melalui menu keluarga, pengenalan anak prasekolah secara intensif pada rasa manis umumnya tak bisa dilepaskan dari sosialisasinya. Bukankah mereka kerap mendapat undangan ulang tahun dari teman sebaya yang dimeriahkan pula oleh buah tangan berupa goodie bag (tas bekal) berisi aneka cokelat, penganan manis, dan permen. Penyumbang lain dari tingginya selera anak terhadap makanan manis-manis apalagi kalau bukan aneka jajanan yang dijual di toko.
BAGAIMANA DENGAN MINUMAN MANIS?
Bukan cuma permen dan batang cokelat sebagai sumber gula yang harus dibatasi. Makanan dan minuman lain yang mengandung rasa manis pun sebaiknya tidak dikonsumsi secara berlebihan. Misalnya kue-kue dan biskuit yang mengandung tepung dan gula, madu, butir cokelat, cokelat oles, sari buah, susu kental manis dan sebagainya. Begitu juga minuman yang termasuk jenis sirup dan softdrink.
Meski anak tergila-gila pada jenis-jenis makanan tadi, tidak pada tempatnya bila orangtua memanjakan mereka dengan memberikan makanan yang justru berefek buruk tersebut. Kalaupun tak kuasa menolak, cukup sesekali saja. Soalnya, kendati sebagai sumber kalori, gula dan karbohidrat yang dikonsumsi berlebihan hanya akan menyebabkan gangguan kesehatan di kemudian hari.
Santi Hartono.
Narasumber:
dr. Luciana B. Sutanto, MS.SpGK,
dokter spesialis Gizi Klinik dari RS Mitra Kemayoran, Jakarta

A-Z MAKANAN BATITA

sumber : tabloidnakita.com

A-Z pertanyaan seputar makanan batita dapat Anda temukan jawabannya di bawah ini.
Marfuah Panji Astuti/ berbagai sumber. Foto: Ferdi Dok. nakita
Apa yang bisa dilakukan supaya batita gampang makan?
Jadikan acara makan sebagai aktivitas yang menyenangkan. Dudukkan anak di kursi makan (high chair), gunakan peralatan makan yang menarik, umpamanya ada gambar kartun kesukaannya. Berikan makanan yang fresh, hangat dan berasa. Pisahkan nasi dengan lauknya atau menggunakan piring berpenyekat dan berikan dalam porsi kecil. Jangan ada pemaksaan, seperti dicekok, dipencet hidungnya, dicubit dan sebagainya karena akan membuatnya lebih sulit makan lagi besok-besok, akibat pengalaman buruk itu.
Bolehkah batita makan makanan pedas?
Pengenalan rasa diawali dengan rasa manis kemudian asin, setelah usianya satu tahun boleh dikenalkan dengan rasa asam. Pengenalan rasa pedas sebaiknya setelah anak berusia 5 tahunan. Cabai atau merica sebagai sumber rasa pedas tidak mengandung gizi dan kalori yang cukup. Rasa pedas sekadar aroma penambah selera/rasa. Rasa pedas justru bisa menyebabkan iritasi saluran cerna pada anak-anak.
Cukupkah asupan gizi anakku?
Berikut tabel angka kebutuhan gizi untuk batita per hari yang disarankan:
1 tahun 2 tahun 3 tahun Porsi
Kalori yang dibutuhkan 1.000 kal 1.200 kal 1.400 kal
Nasi 260 kal 350 kal 437 kal 3/4 gelas
Lemak hewani 142 kal 142 kal 190 kal 1 ptg 1 ptg
Lemak nabati 40 kal 80 kal 120 kal 1 ptg 1 ptg
Sayur 75 g 75 g 100 g 1 gls 1 gls
Buah 40 kal 40 kal 40 kal 1 ptg 1 ptg
Susu bubuk 30 g 30 g 30 g 1 gls 1 gls
Gula pasir 30 g 30 g 30 g 2,5 sdm 2,5 sdm
Biskuit 2 buah 2 buah 3 buah 3 buah 3 buah
Minyak 90 kal 135 kal 135 kal 3 sdm 3 sdm
Dari mana saja sumber gizi yang dibutuhkan batita?
Karbohidrat Nasi, jagung, singkong, roti, mi, kentang, havermout, sagu
Protein hewani Daging sapi, ayam, ikan, keju
Protein nabati Kacang-kacangan, tahu, tempe
Sayur Bayam, buncis, kol, kangkung, oyong dan sebagainya.
Buah Apel, pisang, pepaya
Susu
Gula pasir
Biskuit
Minyak
Etiket makan batita, apa sajakah itu?
Sejak usia batita, di saat anak mulai makan sendiri, etiket makan harus dikenalkan. Berikut di antaranya: makan di meja makan atau high chair untuk batita. Mulai dengan berdoa. Kalau perlu, pasang celemek/serbet makan di dadanya. Gunakan sendok dengan tangan kanan dan garpu dengan tangan kiri. Makan jangan sambil bicara supaya tidak tersedak.
Food jag, apakah itu?
Food jag biasa dialami anak batita. Di usia 1-3 tahun anak hanya menggemari satu jenis makanan saja, umpamanya sejak awal ia dikenalkan pada chicken nugget, karena merasa enak, ia akan meminta makanan itu terus tiap kali makan.
Gizi mikro, apa maksudnya?
Yang dimaksud gizi mikro adalah vitamin dan mineral. Paling sering dialami anak adalah kekurangan zat besi. Akibatnya anak menderita anemia yang ditandai dengan konsentrasi lemah, lesu, dan apatis. Yang juga sering terjadi adalah kekurangan vitamin A, sehingga penglihatan terganggu karena rabun ayam atau rabun senja.
High chair, apa manfaatnya?
High chair adalah kursi makan yang khusus didesain untuk anak-anak. Di usia batita, anak sedang belajar makan sendiri. Namun, makan di meja makan mungkin terlalu sulit untuknya karena posisinya terlalu tinggi. Dengan menggunakan high chair batita bisa duduk dengan dada sejajar meja makan, sehingga lebih nyaman.
Inginnya hanya makan dengan lauk “seadanya”, sehatkah?
Di usia ini banyak anak hanya mau makan dengan lauk “seadanya”, seperti nasi dengan ceplok telur/nugget/sosis, nasi dengan kecap, nasi dengan kerupuk dan sejenisnya. Tentu saja kebiasaan ini tidak boleh dibiarkan. Dengan hanya mengonsumsi nasi berlauk “seadanya”, kebutuhan gizi batita jelas tidak tercukupi. Untuk menyiasatinya variasikan menu kegemarannya dengan bahan makanan yang mengandung nilai gizi cukup. Contoh, haluskan daging dengan sayuran kemudian buat perkedel. Bila hanya hanya menggemari kecap, olah tempe, kacang panjang, udang, ayam dengan bumbu kecap. Buatlah makanan dalam bentuk semenarik mungkin sehingga membangkitkan selera makan anak.
Junk food bolehkah dikonsumsi setiap hari?
Junk food banyak dijual dalam bentuk makanan siap saji. Biasanya anak menggemari makanan ini karena rasanya yang gurih serta kebiasaan orangtua mengajak anak menyantapnya di resto siap saji. Konsumsi junk food setiap hari jelas tidak sehat karena makanan seperti itu biasanya padat kalori, tinggi lemak dan garam namun kurang seimbang nilai gizinya. Kalau anak memang menggemarinya, orangtua bisa menyiasati dengan mengolahnya sendiri sehingga makanan yang disajikan lebih sehat, tidak mengandung garam tinggi dan penyedap rasa lainnya.
Kebiasaan menyemburkan makanan, bagaimana mengatasinya?
Beberapa hal bisa menjadi penyebab anak suka menyembur-nyemburkan makanan. Di antaranya, makanan terasa asing di lidah anak, bosan dengan menu itu-itu saja, mencari perhatian, sampai sekadar iseng. Bila dibiarkan saja pertumbuhannya tidak akan optimal karena makanan yang dibutuhkan tubuh lebih banyak terbuang. Selain itu anak jadi tidak belajar menghargai makanan dan terbiasa mencari perhatian dengan cara yang tidak tepat. Cara mengatasinya sesuaikan dengan faktor penyebabnya. Contoh, kalau anak bosan, variasikan menu makanannya; kalau makanan terasa asing, kenalkan secara perlahan dan seterusnya.
Lima prinsip pemberian makan anak, apa sajakah itu?
Batita mulai belajar makan sendiri, menggunakan sendok/garpu sendiri. Selain itu batita juga mulai dikenalkan pada aneka rasa makanan rumah. Supaya semuanya berlancar lancar, ada lima prinsip yang harus dikenalkan, yakni: training (latih anak makan pada tempatnya), entertaining (jadikan acara makan sebagai aktivitas yang menyenangkan), variety (biasakan makan dengan variasi menu sehingga anak tidak bosan), healthy (berikan makanan yang sehat, kalau bisa dimasak sendiri sehingga bebas pewarna dan pengawet), dan jadwal (biasakan anak makan teratur 3 kali sehari).
Mengapa anak batita banyak yang tidak suka makan sayur?
Meski begitu banyak zat-zat bermanfaat yang didapat dari sayur, tapi umumnya batita tidak suka sayur. Bisa jadi karena rasa sayur ada pahit-pahitnya. Belum lagi pemaksaan orangtua supaya anak mau makan sayur, akhirnya membuat anak trauma. Untuk sementara, gantilah makan sayur dengan buah-buahan yang rasanya lebih disukai anak. Fungsi buah dan sayur relatif sama sehingga bisa saling menggantikan. Untuk menyiasatinya, “sembunyikan” sayur dalam berbagai olahan, seperti cake kentang, perkedel wortel, omelet bayam dan sebagainya.
Normalkah anak yang tidak lapar-lapar?
Ini kerap terjadi pada batita, meski jam makannya sudah lewat anak masih anteng bermain. Beberapa hal bisa menjadi penyebab, di antaranya, anak merasa “tersiksa” waktu makan karena orangtua selalu memaksanya makan makanan yang tidak disukainya, anak keasyikan bermain sehingga lupa makan, waktu makannya memang tidak teratur, anak suka ngemil atau banyak minum susu sehingga merasa kenyang meski belum makan makanan utama.
Overweight pada batita, apa maksudnya?
Yang dimaksud overweight pada batita adalah kelebihan 110%-120% dari berat badan normal. Berikut tabel berat badan normalnya:
Usia (tahun) BB anak laki-laki BB anak perempuan
< 1 Sekitar 11 kg Sekitar 10 kg
2 Sekitar 12 kg Sekitar 11 kg
2, 5 Sekitar 13 kg Sekitar 13 kg
3 Sekitar 14 kg Sekitar 14 kg
Picky eater, apa maksudnya?
Picky eater adalah kebiasaan memilih-milih makanan. Kebiasaan ini khas di usia batita. Tip berikut bisa digunakan untuk mengatasinya: dip it (buat saus mayonaise, ajak anak untuk mencelupkan sayuran rebus ke dalamnya), spread it (ajari anak mengoles keju atau selai ke atas roti), drink it (buat minuman yang menyehatkan seperti jus buah, milk shake), package it (cetak makanan/sayur dalam bentuk menarik, sehingga makanan bernutrisi tinggi dapat tersamarkan), share it (sesekali makanlah beramai-ramai dengan mengundang teman/saudara, anak biasanya lebih bersemangat kalau makan ramai-ramai.)
Quick serve, apa maksudnya?
Hidangkan segera makanan yang telah selesai diolah. Pada umumnya orang lebih menyukai hidangan yang masih segar dan hangat, apalagi si batita yang sedang memasuki masa sulit makan. Nasi hangat yang masih mengepul tentu rasanya lebih enak ketimbang nasi dingin yang sudah keras, begitu juga sayuran yang baru matang lebih segar daripada yang sudah dihangatkan beberapa kali.
Rakus kalau makan di luar, apa sebabnya?
Meski biasanya terjadi di atas usia 3 tahun, tapi banyak juga batita yang terlihat "rakus" kalau diajak makan di luar. Penyebabnya antara lain, makanan di restoran biasanya diolah dengan bumbu penyedap dalam jumlah banyak sehingga rasanya lebih "nendang" dibanding makanan rumah. Suasana makan di restoran biasanya lebih menyenangkan. Untuk mengatasinya pindahkan suasana makan di luar itu ke rumah. Sediakan piranti makan yang menarik, sajikan makanan dalam bentuk yang menyenangkan, coba berbagai resep baru dan presentasikan layaknya di restoran.
Susu, seberapa penting di usia batita?
Setelah anak mengonsumsi makanan padat, susu sekadar pelengkap, bukan yang utama lagi. Di usia batita kebutuhan anak tidak cukup kalau hanya dari susu saja, anak juga butuh gizi seimbang dari karbohidrat, protein, lemak, air, vitamin dan mineral. Di atas usia satu tahun, susu hanya dianjurkan dikonsumsi 2-4 gelas sehari. Kalau konsumsi makanan kurang, pilih susu berkalori tinggi.
Tak suka nasi, apa harus dilakukan?
Jika batita tak suka nasi, ada beberapa hal yang bisa menjadi penyebabnya. Di antaranya, anak tidak melewati fase pemberian makanan secara baik di usia sebelumnya, atau bisa juga anak tidak suka nasi tanpa bisa dijelaskan alasannya. Orangtua tak perlu cemas kalau si batita tak suka nasi, selama ia masih mau makan sumber karbohidrat lainnya seperti roti, mi, kentang, makaroni dan sebagainya.
Ubah kebiasaan si batita makan sambil jalan, bagaimana caranya?
Bagi batita yang sedang dalam fase eksplorasi, makan sambil jalan-jalan tentulah sangat menyenangkan. Tapi dampaknya anak jadi tidak belajar proses makan dengan benar. Kebiasaan ini dimulai dari usia sebelumnya. Untuk mengubahnya orangtua harus melakukan secara bertahap. Contoh, makan pagi dan siang di rumah, makan sore di taman. Ubah-ubah terus jadwal itu sampai anak merasa sama nyamannya makan di meja makan dan sambil jalan-jalan. Seiring dengan itu biasakan anak ikut makan bersama keluarga di meja makan. Kalau sesekali ia masih jalan-jalan di ruang makan, perbolehkan. Tapi kalau mengajak jalan keluar rumah, jangan dituruti. Bila pola ini dilakukan secara konsisten, anak akan belajar bahwa makan memang seharusnya di meja makan.
Variasi makanan seperti apa yang disarankan untuk batita?
Supaya makanannya cukup bervariasi dan mudah pengaturannya, buatlah siklus menu, contohnya untuk 5 hari. Makanan yang disajikan di hari pertama akan terulang lagi di hari ke-6.
Hari ke Contoh menu
1 Aneka sup (sup daging, sup ayam, sup ikan, sup sosis)
2 Aneka cah (cah kangkung, cah brokoli, cah jamur)
3 Aneka gorengan (ikan/ayam goreng, nugget tahu telur)
4 Aneka tumis (tumis udang taoge, tumis tahu/tempe)
5 Aneka panggang (panggang sayuran, ikan panggang)
Wajarkah bila anak batita suka ngemil?
Pada dasarnya camilan dibuat sebagai makanan selingan. Kalau batita terlalu suka ngemil, dikhawatirkan ia sudah merasa kenyang meski belum makan makanan utama. Akibatnya, kebutuhan gizi dan nutrisinya tidak terpenuhi. Camilan berkadar gula tinggi seperti kue-kue manis akan membuat anak terus merasa kenyang. Snack dalam kemasan berasa gurih bisanya mengandung kadar garam yang tinggi sehingga tidak baik bagi kesehatan anak.
Xeroptalmia, apakah itu?
Penyakit mata yang disebabkan kurangnya vitamin A. Kebiasaan mengonsumsi makanan yang banyak mengandung vitamin, termasuk vitamin A harus dimulai sejak batita. Vitamin A banyak terkandung dalam buah dan sayur berwarna kuning kemerahan seperti jeruk, pepaya, wortel. Masukkan buah dan sayur dalam menu anak setiap hari.
Yang harus diperhatikan saat menyusun menu untuk batita apa saja?
Ada beberapa hal yang harus jadi perhatian orangtua, di antaranya:
- Kenalkan hanya satu jenis makanan baru dalam satu waktu makan.
- Sajikan makanan dalam porsi kecil. Kalau masih kurang, nanti boleh tambah setelah porsi pertamanya habis.
- Tunjukkan gambar/foto menu makanan yang menarik dari buku resep, biarkan ia memilih salah satu di antaranya.
- Hindari makanan yang keras seperti kacang kedelai goreng atau daging yang alot karena bisa mengurangi selera makannya.
Zat pewarna, penyedap, pemanis, pengawet, bolehkah dikonsumsi anak batita?
Penggunaan zat pewarna, penyedap, pemanis dan pengawet sebaiknya dihindari. Untuk makanan rumah gunakan bahan-bahan alami, misalnya pewarna dengan menggunakan daun suji, penyedap dengan menggunakan bumbu alami berkualitas sehingga cita rasa masakan terasa sedap meski tanpa bumbu penyedap. Penambahan zat pewarna/pemanis/penyedap/pengawet dalam jangka panjang bisa menyebabkan masalah. Contoh, penyedap MSG menyebabkan gangguan yang dikenal sebagai chinese restaurant syndrome, pemanis menyebabkan batuk, pewarna yang tidak aman bersifat karsinogenik, dan seterusnya.

KHASIAT BELUT

Sumber: http://agrotekbelut.blogspot.com/2009/04/khasiat-belut.html

Belut (Monopterus albus) merupakan ikan darat dari keluarga Synbranchidae
dan tergolong ordo Synbranchiodae, yaitu ikan yang tidak mempunyai sirip
atau anggota lain untuk bergerak. Jenis ikan darat ini merupakan komoditi
perikanan darat yang banyak kelebihannya dan sangat tinggi khasiatnya.

GIZI
Dilihat pada kandungan gizinya, belut mempunyai nilai energi yang sangat
tinggi, yaitu 303 kkal per 100 gram daging. Nilai energi belut jauh lebih
tinggi jika dibandingkan dengan telur (162 kkal/ 100 g tanpa kulit) dan
daging lembu (207 kkal per 100 g).Hal inilah yang menyebabkan belut sangat
baik untuk digunakan sebagai sumber energi. tambahan pada diri kita.

PROTEIN
Nilai protein pada belut (18.4g / 100g daging) setara dengan protein daging
lembu (18,8 g / 100g), tetapi lebih tinggi dari protein telur (12,8 g/100
g). Seperti jenis ikan lainnya, nilai cerna protein pada belut juga sangat
tinggi, sehingga sangat sesuai untuk sumber protein bagi semua kelompok
usia, dari bayi hingga usia lanjut. Protein belut juga kaya dengan beberapa
asam amino yang memiliki kualiti cukup baik, iaitu leusin, lisin, asam
aspartat, dan asam glutamat. Leusin dan isoleusin merupakan asam amino
esensial yang sangat diperlukan untuk pertumbuhan anak-anak dan menjaga
keseimbangan nitrogen pada orang dewasa.

LEUSIN
Leusin berguna untuk perombakan dan pembentukan protein otot. Asam glutamat
sangat diperlukan untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan asam
aspartat untuk membantu kerja neurotransmitter. Tingginya kadar asam
glutamat pada belut menjadikan belut berasa enak dan gurih. Dalam proses
pemasakannya tidak perlu ditambah penyedap rasa berupa monosodium glutamat
(MSG).

ARGININ
Kandungan arginin (asam amino nonesensial) pada belut dapat mempengaruhi
pembikinan hormon pertumbuhan manusia yang populer dengan sebutan human
growth hormone (HGH). HGH ini yang akan membantu meningkatkan kesihatan otot
dan mengurangi penumpukan lemak di tubuh. Hasil uji laboratori juga
menunjukkan bahwa arginin berfungsi menghambat pertumbuhan sel-sel kanser
payudara.

MINERAL
Haiwan ini kaya dengan zat besi (20 mg/100 g), jauh lebih tinggi jika
dibandingkan dengan zat besi pada telur dan daging (2.8 mg/ 100g). Kondongan
125 gram belut setiap had telah memenuhi keperluan tubuh akan zat besi,
yaitu 25 mg setiap hari. Zat besi sangat diperlukan oleh tubuh untuk
mencegah anemia gizi, yang menjadikan tubuh mudah lemah, letih, dan lesu.
Zat besi berguna untuk membentuk hemoglobin darah yang berfungsi membawa
oksigen ke. seluruh jaringan tubuh. Oksigen tersebut juga berfungsi untuk
mengoksidasi karbohidrat, lemak, dan protein menjadi energi bagi aktivitas
tubuh. Itulah yang menyebabkan gejala utama kekurangan zat besi adalah
lemah, letih, dan tidak bertenaga. Zat besi juga berguna untuk meningkatkan
sistem kekebalan tubuh, sehingga tidak mudah terserang berbagai penyakit
berjangkit.
Belut juga kaya akan fosfor. Nilainya dua kali ganda fosfor pada telur.
Tanpa kehadiran fosfor, kalsium tidak dapat membentuk massa tulang. Karena
itu, kandongan fosfor dalam badan harus berimbang dengan kalsium agar tulang
menjadi kukoh dan kuat, sehingga terbebas dari osteoporosis. Di dalam tubuh,
fosfor yang berbentuk kristal kalsium fosfat umumnya (sekitar 80 persen)
berada dalam tulang dan gigi. Fungsi utama fosfor adalah sebagai pemberi
energi dan kekuatan pada metabolisme lemak dan karbohidrat, sebagai
penunjang kesihatan gigi dan gusi, untuk sintesis DNA serta penyerapan dan
pemakaian kalsium. Keperluan fosfor bagi ibu hamil tentu lebih banyak
dibandingkan saat-saat tidak mengandung, terutama untuk pembentukan tulang
janinnya. Jika asupan fosfor kurang, janin akan mengambilnya dari sang ibu.
Ini salah satu penyebab penyakit tulang keropos pada ibu. Keperluan fosfor
akan mencukupi apabila kandongan protein juga mencukupi.

VITAMIN
Kandungan vitamin A pada belut mencapai 1.600 SI per 100 g. Ini membuatkan
belut sangat baik untuk digunakan sebagai pemelihara sel epitel. Selain itu,
vitamin A juga sangat diperlukan oleh tubuh bagi pertumbuhan, penglihatan,
dan pembentukan prows.
Belut juga kaya dengan vitamin B. Vitamin B berperanan sebagai kofaktor
(benda asing) dari suatu enzim, sehingga enzim dapat berfungsi normal dalam
proses metabolisme tubuh. Vitamin B sangat penting bagi otak untuk berfungsi
normal, membantu membentuk protein, hormon, dan sel darah merah.

Waspada, Lemaknya Cukup Tinggi. Meskipun mempunyai nilai gizi yang tinggi,
kandungan lemak pada belut juga sangat tinggi, yaitu mencapai 27 g per 100
g. Lebih tinggi dibandingkan lemak pada telur (11.5 g/100 g) dan daging sapi
(14.0 g/100 g). Di antara kelompok ikan, belut digolongkan sebagai ikan
berkadar lemak tinggi. Walaupun kadar lemaknya tinggi, belut tidak perlu
dihindari dalam pola makan kita. Bagaimanapun, lemak memegang peranan
penting sebagai sumber kelezatan, sumber energi, penyedia asam lemak
esensial, dan tentu saja sebagai pembawa vitamin larut lemak (A, D, E dan
K).

Pada lemak belut terdapat vitamin D yang cukup tinggi, yaitu 10 kali ganda
jika dibandingkan dibahagian dagingnya dan 50 kali ganda pada susunya.
Vitamin D sangat berguna bagi tubuh untuk membantu penyerapan kalsium dan
menghalanginya dari proses resorpsi (pelepasan kalsium dad tulang). Cara
untuk mengurangkan kadar lemak pada belut adalah dengan memanggang belut di
atas bara api. Proses pemanggangan akan menyebabkan lemak mencair dan keluar
dari daging belut, Boleh juga mengunakan cara lain yang seumpamaya yang
difikirkan sesuai asalkan lemaknya akan keluar. Sebaiknya belut tidak
digoreng, supaya kadar lemaknya tidak bertambah banyak.

Seperti pada jenis ikan lain, belut juga mengandung asam lemak omega 3.
Kadar omega 3 pada lemak ikan, termasuk belut, sangat bervariasi tetapi
berkisar antara 4.48 persen sampai dengan 11.80 persen. Kandungan omega 3
pada ikan, tergantung kepada jenis, umur, ketersediaan makanan, dan kawasan
penangkapan. Dan hasil penyelidikan, bagian tubuh ikan memiliki lemak dengan
kandongan omega 3 yang berbeza-beza. Kadar omega 3 pada bagian kepala
sekitar 12 persen, dada 28 persen, daging permukaan 31.2 persen, dan isi
rongga perut 42.1 persen (berdasarkan berat kering).

RENUNGAN
Betapa besarnya khasiat pada belut. Apa kelebihan yang ada pada ikan biasa,
selalu ada juga pada belut. Malah ianya lebih baik dari itu. Jika kita
gunakan akal yang Allah telah beri pada kita, mengapa tidak kita
memanafaatkan khasiat dan kelebihan yang ada pada belut. Sebagaimana Dr
Ruslan Roy dari Indonesia yang telah lama berjaya didalam budidaya belut dan
berhasil membuat produk produk dari belut seperti

1. Bakso belut, Sosis belut, Nuget belut, Chyky belut, Smoke eels (belut)
dan Presto belut.
2. Minyak belut, Jamu belut, keropok belut, kerepek belut dan Kentucky belut
3. Assesori kulit dari belut dan lain-lain.

Dengan penerangan tentang khasiat dan kelebihan yang ada pada belut, saya
harap kita dapat memikirkan sesuatu yang lebih baik untuk kita sama sama
usahakan dan terokai didalam menghasilkan pendapatan yang halal dan lumayan.

Menyusun menu anak

sumber: Dancow parenting center

Bingung menyusun menu anak? Cobalah Anda melirik piramida makanan anak di bawah ini. Sebagai panduan pola makan sehari-hari untuk anak usia 2-6 tahun, Anda bisa memperoleh banyak ide kreatif untuk memperoleh susunan menu yang memuat nutrisi seimbang.
Yang penting diingat dalam piramida makanan anak adalah:
- menghindari penyajian makanan dan minuman yang tidak baik, seperti penggunaan botol susu yang terlalu lama,
- terlalu banyak makanan manis, minuman ringan dan minuman sari rasa buah
- makanan yang dapat membuat anak tersedak seperti kacang, anggur, popcorn atau permen.
Memperhatikan pemberian nutrisi pada anak sangat diutamakan. Sebab, jumlah nutrisi yang tepat, selain dapat membuat fisik anak tumbuh lebih baik, juga dapat menghindarkan mereka dari risiko penyakit seperti kegemukan, kekeroposan tulang, dan diabetes. Agar anak-anak memperoleh nutrisi terbaik, lakukan hal-hal ini:
• Menyajikan jenis makanan yang beragam
• Melakukan olahraga yang seimbang
• Memilih makanan dari jenis gandum, sayuran, dan buah-buahan
• Memilih makanan rendah lemak dan non kolesterol
• Mengonsumsi gula dan garam secara wajar
• Memilih makanan dengan kadar kalsium dan zat besi yang cukup, untuk memenuhi kebutuhan pertumbuhan anak-anak
Kebiasaan dalam pemilihan makanan yang sehat sebaiknya juga menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari dalam keluarga. Sediakanlah selalu makanan, susu, dan minuman yang rendah lemak dan rendah kalori, dan hindari penyediaan makanan dan minuman berkalori tinggi, minuman ringan, dan es krim.
Penyajian sesuai piramida
Untuk memperoleh jumlah nutrisi yang tepat, anak harus mengonsumsi beragam jenis makanan. Perlu diperhatikan bahwa selera makan akan menurun dan anak akan lebih memilih jenis makanannya ketika tingkat pertumbuhannya semakin lambat. Peningkatan berat badan tidak akan menjadi masalah apabila diimbangi dengan aktivitas yang sesuai. Bila ia tidak boleh lagi mengonsumsi banyak makanan, tawarkan beragam jenis makanan dengan jumlah porsi yang lebih sedikit.
Kelompok Gandum.
Meliputi satu potong roti, setengah cangkir nasi atau pasta, setengah gelas sereal masak dikombinasikan dengan sedikit sereal siap saji. Sajikan sebanyak 6 kali sehari.
Kelompok Nabati.
Meliputi setengah gelas sayuran potong atau satu gelas sayuran daun. Sajikan sebanyak 3 kali sehari.
Kelompok Buah-buahan.
Meliputi satu jenis buah, ¾ gelas jus buah murni, ½ gelas buah kaleng atau ¼ gelas buah kering. Sajikan sebanyak 2 kali sehari.
Kelompok Susu.
Meliputi satu gelas susu/yogurt atau 2 ons keju. Sajikan sebanyak 2 kali sehari.
Kelompok Daging
Meliputi 2-3 ons daging lunak masak/unggas/ikan, ½ gelas kacang kering masak. Satu ons daging dapat menggantikan dua sendok makan mentega atau satu butir telur. Sajikan 2 kali sehari.
Lemak, Minyak dan Gula
Kandungan lemak dalam makanan yang disajikan tidak boleh lebih dari 30%. Jenis lemak yang dikonsumsi juga penting untuk diketahui. Saturated Fats (lemak jenuh), terdapat pada daging, produk susu dan kelapa, dan dapat meningkatkan kadar kolesterol. Unsaturated dan Polyunsaturated Fats (lemak tak jenuh), terdapat pada zaitun dan kacang jagung. Batasi lemak jenuh sebanyak 10% dalam konsumsi kalori sehari-hari.
Dengan sedikit kandungan nutrisi, gula menyumbang sejumlah besar kalori. Termasuk di dalamnya white sugar, brown sugar, sirup, madu, gula cair, permen, minuman ringan, selai dan jelly.
Agar anak tetap bernafsu makan tanpa takut kegemukan:
• Pilih daging tanpa lemak atau produk susu rendah lemak
• Pilih minyak nabati dan mentega yang menggunakan sayur dan buah-buahan sebagai bahan dasarnya.
• Baca tabel nutrisi pada kemasan untuk mengetahui komposisi jumlah dan jenis lemak.
• Batasi makanan yang mengandung lemak jenuh, lemak yang dapat meningkatkan kadar kolesterol.
• Batasi makanan berkadar gula tinggi dan hindari mengonsumsi gula tambahan dalam makanan.

Konsumsi Daging untuk Daya Tahan Tubuh

sumber :http://jawapos.com/radar/index.php?act=detail&rid=106795

Masyarakat tidak perlu cemas dengan merebaknya virus flu babi atau H1N1. Karena, jika masyarakat menerapkan pola hidup sehat, maka daya tahan tubuh akan meningkat. Menurut ahli gizi Poltekkes Kota Malang I Dewa Nyoman Supariasa, konsumsi makanan yang paling tepat untuk mendongkrak daya tahan tubuh adalah makanan dengan unsur protein dan gampang dicerna. “Bahan makanan yang paling tepat dan memiliki sifat-sifat itu adalah protein hewani. Baik dari daging maupun ikan, jenis apa saja,” ujar Dewa, kemarin. Bisa dari daging sapi, daging kambing, ayam, dan lainnya.

Sedang untuk golongan ikan, semua jenis ikan air laut serta air tawar memiliki nilai protein sangat tinggi. “Kisaran kandungan protein hewani sekitar 14 persen. Ini sangat tinggi dibanding zat lain,” tambah dia.

Hanya saja, komponen protein tinggi itu harus tetap dikombinasikan dengan zat-zat gizi lain. Pasalnya, jika hanya dipenuhi dari unsur protein, maka tubuh tetap tidak bisa memenuhi kebutuhan daya tahan tubuh. Karena penderita flu babi ini erat kaitannya dengan demam dan batuk, maka konsumsi vitamin C mutlak ditingkatkan. “Kalau batuk saja, maka konsumsi vitamin C harus tiga kali lipat dari kebutuhan normal. Jika batuk disertai flu, maka enam kali lipat,” terang pembantu direktur bidang akademik Poltekkes Kota Malang ini.

Hanya saja, jika yang menderita anak-anak atau balita, maka akan lebih aman konsumsi ikan. Juga, tambahan nutrisi lain. Salah satunya adalah growth hormon. Dengan begitu, meski kondisi tubuh anak sedang drop, namun tumbuh kembangnya tidak terganggu.

Kecuali untuk bayi usia nol hingga enam bulan tidak dianjurkan mengonsumsi menu dari bahan-bahan di atas. Karena bayi nol hingga enam bulan cukup dengan ASI (air susu ibu) eksklusif. “Ini penting sekali. Jangan sampai salah memberikan asupan gizi pada anak,” kata Dewa.

Bagaimana dengan menu khusus? Disinggung tentang hal ini, kata Dewa, berdasarkan ketetapan badan kesehatan dunia (WHO, Red), menu seimbang yang paling pas adalah mengadopsi pedoman umum gizi seimbang.

Dalam pedoman itu, ada 13 pesan dasar gizi seimbang. Salah satunya, makanlah beraneka ragam makanan. “Slogan empat sehat lima sempurna tidak berlaku lagi. Pedoman ini telah ditetapkan 1995 lalu dan sejak 2000 sudah diterapkan di Indonesia,” ucapnya.

Karena itu, penekanan makan beranekaragam sangat diperlukan. Pertimbangannya, dengan makan beranekaragam, maka semua kebutuhan zat gizi tubuh terpenuhi. Misalnya, dalam sehari masyarakat hanya mengonsumsi mi instan, maka yang didapat hanya karbohidrat. Sedang protein dan vitamin tidak terpenuhi. “Kandungan gizi dari beragam bahan makanan itu akan saling melengkapi,” tandasnya. (nen/ziz)

Nutrition for Nursing Toddlers

It seems that all the the information I see regarding toddler nutrition assumes that your toddler is no longer nursing and is eating mainly solids. As a result, many moms of nursing toddlers (particularly those who are eating few solids) have lots of questions about how to adapt this information to their particular child.

* Introduction
* Cow’s milk?
* How much should my toddler be eating?
* Average toddler growth
* Feeding suggestions for toddlers
* Additional information

Introduction

Your child can continue breastfeeding just as often during the second year, but offer solid foods a few times a day. After 12 months, you can begin offering the solids BEFORE baby nurses, if you wish, instead of after. Your milk is still an important part of baby’s diet and will offer him many benefits (nutritionally, immunilogically and emotionally). There is not any particular “recommended number of times per day” that a toddler should be nursing. Some are only nursing once or twice a day, while others continue to enjoy lots of time at their mother’s breast. As baby slowly moves into eating more solids, your milk will fill any nutritional gaps nicely. Once you do start to breastfeed less often, remember that you must make a greater effort to ensure that your child eats several meals of nutritious food each day.

Cow’s milk?

Many nursing moms are told that they must introduce cow’s milk at a year. Your nursing toddler is already getting the best milk he can get – mother’s milk! Breastmilk has a higher fat content than whole cow’s milk (needed for baby’s brain growth), and all the nutrients of human milk are significantly more bioavailable than those of cow’s milk because it is species specific (not to mention all the components of mother’s milk that are not present in cow’s milk).

There is no need for additional milk or (or the equivalent nutrients from other foods) as long as your baby is nursing 3-4 times per day. Cow’s milk is really just a convenient source of calcium, protein, fats, vitamin D, etc. – it’s not required. There are many people in many parts of the world who do not drink milk and still manage to get all the calcium, protein, fats, vitamin D, etc. that they need.

* Good non-dairy sources of protein include meats, fish, peas & beans (chick peas, lentils, baked beans, etc.), tofu and other soy products, boiled eggs, peanut and other nut butters (if your child is not allergic).
* Good non-dairy sources of fats include soy and safflower oils, flax seed and flax seed oil, walnuts, fish and fish oils, avocado. Adding fats to cooking and baking can work well, for example, stir fry in safflower oil or make mini-muffins with soy or rice milk, oil or butter, and eggs.
* Calcium may be derived from many nondairy sources.
* Vitamin D can be supplied by sunlight exposure and food sources.
* If your child is not nursing regularly and is not allergic to cow’s milk products, but simply doesn’t like cow’s milk, you can incorporate milk into your child’s diet in other ways. Many children like cheese, whole-fat yogurt or ice cream. You can also put milk into various food products: pancakes, waffles, muffins, French toast, scrambled eggs, mashed potatoes, and baked goods.
* Some moms wish to offer cow’s milk to their toddler, but baby doesn’t like it. Over the age of 12 months, milk becomes a more minor part of a child’s diet. It is sometimes helpful to mix increasing amounts of cow’s milk with your expressed milk to help baby get used to the taste. Many dietitians see nothing wrong with adding some flavor (such as strawberry or chocolate) to cow’s milk.

Pediatricians now recommend that any cow’s milk be whole milk from a cup after the first year and until the child is at least 2 years of age. This ensures that your child receives enough fat, which is essential to proper brain development. After the age of two, if growth is good, you can switch to low-fat or nonfat milk. Note: If your child is nursing, then remember that mom’s milk is “whole” milk – the more breastmilk your child gets, the less need to worry about your child getting additional fat from whole milk or other sources.

It’s best to limit the amount of cow’s milk that your child receives to 2-3 cups (16-24 ounces) per day, since too much cow’s milk in a child’s diet can put him at risk for iron-deficiency anemia (because milk can interfere with the absorption of iron) and may decrease the child’s desire for other foods.

How much should my toddler be eating?

Between ages one and five, a child’s growth is in a decelerated stage; that is, they have slowed down in growth. Since growth slows down, their need for calories subsequently decreases, which in turn leads to a smaller quantity of food ingested per day. Added to the decelerated growth is a burgeoning independence which limits the variety of foods your child is willing to eat (“finicky eater”). Rest assured that toddlers do not need as much food as you might expect because of this slowing down of the growth rate. Three small meals and two snacks a day (and some will eat a good bit less) will probably be enough to fuel even the most active toddler. Please realize, too, that finicky eaters are the rule rather than the exception.

Some toddlers are eating very few solids, or even no solids, at 12 months. This is not unusual and really depends on your child – there is quite a big variation. We like to see breastmilk making up the majority (around 75%) of baby’s diet at 12 months. Some babies will be taking more solids by 12 months, but others will still be exclusively or almost-exclusively breastfed at this point. It is normal for baby to keep breastmilk as the primary part of his diet up until 18 months or even longer. An example of a nice gradual increase in solids would be 25% solids at 12 months, 50% solids at 18 months, and 80% solids at 24 months.

Some children take a little longer to begin taking solids well. Some of them have food sensitivities and this may be their body’s way of protecting them until their digestive system can handle more. Others are late teethers or have a lot of difficulty with teething pain. At this point there is NOTHING that your milk lacks that your child needs, with the possible exception of enough iron. As long as his iron levels are within acceptable levels and when he does eat you are offering him foods naturally rich in iron, then you have plenty of time before you need to worry about the amount of solids he’s getting.

All you need to do is to continue to offer foods. Don’t worry if he’s not interested or takes very small amounts. Your only true responsibility is what you offer, when you offer it and how you offer it, not whether or not he eats it. That has to be up to him. Trying to force, coax, or cajole your child into eating is never recommended. Continue to nurse on demand, day and night, and trust your child to increase the solids when he’s ready. As baby slowly moves into eating more solids, your milk will fill any nutritional gaps nicely.

Average toddler growth

Some things to look at to determine that your child is getting appropriate nutrition:

* Growth: not necessarily on a curve, but gaining inches/ounces or parts thereof
* Meeting developmental milestones on or near target
* Activity level: alert, happy, active

I have always had a hard time finding information on average toddler growth, so I took a look at the standard CDC growth charts to get these numbers. (Note: these numbers are not for breastfed babies specifically; they come from the growth charts for all children.) This link on checking your child’s growth has some great information on how to monitor your child’s growth using growth charts.

Age

Average weight gain
12 – 18 mo

7 – 11 ounces/month
18 – 24 mo

5.3 – 8 ounces/month
24 – 36 mo

4 – 8 ounces/month
Source: Centers for Disease Control and Prevention, National Center for Health Statistics. CDC growth charts: United States. May 30, 2000.

Age

Average height increase
12 – 36 mo

0.3 – 0.4 inch/month
Source: Centers for Disease Control and Prevention, National Center for Health Statistics. CDC growth charts: United States. May 30, 2000.

Feeding suggestions for toddlers

Finger foods are always great for toddlers, and your toddler will also begin to learn how to feed himself with a spoon and fork. Many babies prefer to eat foods which they can pick up and feed themselves, rather than foods that must be spooned to them. A lot of babies would rather have food right off the table than the blander-tasting baby foods.

After the age of twelve months, you can offer foods you’ve been withholding (cow’s milk, citrus fruits, egg whites), but continue to be on the lookout for any allergic reactions. Even though you can offer more foods at this point, the choking hazard is still very real. Supervise your toddler’s meals in case of choking, and continue to avoid foods such as popcorn, hard candies, hot dogs, jelly beans, chunks of carrots, grapes, raisins, and nuts. Cut or finely chop such foods, or simply wait until your baby gets older.

Toddlers should be offered a variety of foods. They can eat the same things as the rest of the family. Foods rich in protein, calcium, and iron, along with fruits and vegetables, breads, etc. should be made available on a routine basis. Serve the most healthful foods possible, but don’t expect your toddler to eat a big meal at each sitting. Most children, when offered nutritious meals and snacks and allowed to eat what they wish, will meet their nutritional requirements over several days or even a week. Don’t let your child fill up on empty-calorie snacks, but don’t force him to eat when he doesn’t want to.

Many toddlers eat better when they have food available throughout the day, rather than just at a few set times (see grazing). Simply offer your toddler nutrient-dense snacks throughout the day (cut-up vegetables, bite-sized pieces of fruit, hard-boiled-egg slices, yogurt, whole wheat breads and cereals, cheeses) and let him eat what he wants. Some parents have had good luck with Dr. William Sears’ suggestion of a “nibble tray,” where you fill a tray (like an ice cube tray, muffin tin, etc.) with several types of healthy foods and leave it out for your toddler to nibble on throughout the day.

Below are the current USDA food pyramid guidelines (PDF) for preschoolers (ages 2-6). Serving sizes are for children aged 4-6. Children aged 2-3 need the same numbers of servings as 4- to 6-year-old children but may need smaller portions: about 2/3 of a serving.

* Grain group: 6 servings (serving size example: 1 slice of bread, 1/2 cup of cooked rice or pasta, 1/2 cup of cooked cereal, 1 ounce of ready-to-eat cereal)
* Vegetable group: 3 servings (serving size example: 1/2 cup of chopped raw or cooked vegetables, 1 cup of raw leafy vegetables)
* Fruit group: 2 servings (serving size example: 1 piece of fruit or melon wedge, 3/4 cup of juice, 1/2 cup of canned fruit, 1/4 cup of dried fruit)
* Milk group: 2 servings a day (serving size example: 1 cup of milk or yogurt, 2 ounces of cheese)
* Meat group: 2 servings (serving size example: 2 to 3 ounces of cooked lean meat, poultry, or fish, 1/2 cup of cooked dry beans, 1 egg counts as 1 ounce of lean meat, 2 tablespoons of peanut butter count as 1 ounce of meat)
* Fats and sweets: Limit calories from these.

Bayi Kurus Berarti Kurang Gizi?

sumber : Mother And Baby

sumber : Nakita/Nomor 158/Tahun IV/13 April 2002

Selama ini ada anggapan, bayi kurus berarti kekurangan gizi atau menderita penyakit tertentu.Padahal, penyebabnya bisa macam-macam.

“Periksa ke dokter, deh, siapa tahu anakmu ada penyakit tertentu. Badannya kurus sekali.” Nasehat semacam ini sering kita dengar atau justru berikan pada teman yang anaknya terlihat kurus. Padahal, untuk menentukan bayi kurus tidaknya bayi, tak cukup dilihat dari penampilannya saja. “Cara yang tepat adalah dengan mengukur dan membandingkan antara berat dan tinggi badannya, kendati tiap bayi punya berat dan tinggi badan yang berbeda,” terang dr. Alinda Rubiati, Sp.A, spesialis anak dari RS Fatmawati, Jakarta.

Begitu pula untuk urusan memantau kurus atau tidaknya anak, harus secara kontinyu. “Ada satu kurva atau grafik untuk melihat apakah bayi menjadi lebih kurus atau tidak,” ungkap Alinda. Pencatatan biasanya dilakukan setiap bulan, sehingga akan tampak bagaimana grafik pertumbuhan badan si bayi.

ACUAN KURUS
Normalnya, berat badan (BB) bayi baru lahir harus mencapai 2.500 gram. Tidak terlalu besar, juga tak kelewat kecil. Sebab kalau terlalu kecil, dikhawatirkan organ tubuhnya tak dapat tumbuh sempurna sehingga dapat membahayakan sang bayi sendiri. Sebaliknya, terlalu besar juga ditakutkan sulit lahir dengan jalan normal dan mesti lewat operasi sesar.

Nah, pertambahan BB bayi bisa dilihat per triwulan. Pada triwulan I, kenaikan BB berkisar 150-250 gram/minggu, triwulan II kenaikannya 500-600 gram/bulan, triwulan III naik 350 – 450 gram/bulan, dan triwulan IV sekitar 250-350 gram/bulan.

Jelas terlihat,triwulan I pertambahan BB berlangsung lebih cepat dibanding dengan triwulan II, III, dan IV. “Ini wajar karena pertumbuhan BB di bulan berikutnya lebih rendah dari bulan sebelumnya. Namun bila pertumbuhan BB berkurang secara drastis, bisa dijadikan ancang-ancang untuk melakukan tindakan lanjutan.”

Umumnya, jelas Alinda, acuan untuk melihat normal-tidaknya BB adalah saat usianya mencapai 6 bulan dan 1 tahun. Di usia 6 bulan, BB bayi harus mencapai 2 kali lipat berat lahir dan menjadi 3 kali lipatnya pada usia 1 tahun. “Kurang dari ini, BB nya bisa disebut rendah atau ia termasuk bayi kurus.”

NUTRISI & PERIKSA RUTIN
Bayi kurus adalah yang saat lahir BB-nya rendah atau di bawah 2.500 gram. “Penyebabnya dipengaruhi saat masih berada dalam kandungan. Inilah yang sangat menentukan karena di situlah pembentukan dan pertumbuhan organ tubuh dimulai.”

Kandungan yang sehat ditentukan oleh ibu yang sehat. Bila ibu menderita penyakit, semisal infeksi paru, kondisi janin pun ikut terpengaruh. Darah yang tersuplai ke tubuh janin bisa saja menjadi jalan untuk mewarisi penyakit yang diderita ibunya. “Saat lahir, bayi bisa saja menderita penyakit atau kelainan organ tubuh. Akhirnya, bayi tak sehat dan bertubuh kurus.”

Faktor penyebab lain adalah asupan nutrisi yang dikonsumsi ibu ketika hamil. Biasanya, berkurangnya nutrisi yang dikonsumsi si ibu, otomatis berkurang pula asupan nutrisi pada janin yang ditransportasikan lewat plasenta. Kekurangan ini bisa disebabkan karena ibu sulit sekali untuk mengkonsumsinya kala sakit selama hamil atau memang malas memperhatikan nutrisi yang diperlukan semasa hamil. Gara-gara kurang nutrisi inilah, bayi bisa mengalami BB rendah dan tampak kurus.

Itu sebabnya selama hamil ibu harus kontinyu memeriksakan kandungan sebulan sekali. “Makin tua usia kandungan, pemeriksaan harus dilakukan lebih sering.” Selain itu,ibu juga harus melakukan pengawasan terhadap kandungan dengan lebih saksama, sehingga bila terjadi sesuatu pada diri ibu maupun janinnya, dapat segera diketahui dan dapat dilakukan tindakan preventif sejak dini. “Yang jelas,pemeriksaan juga harus dibarengi dengan asupan gizi yang cukup dan seimbang,” tegas Alinda.

BERAT MANDEK
Meski saat lahir BB-nya normal, belum tentu juga selanjutnya perkembangan BB-nya akan normal sesuai dengan pertumbuhannya. “Pada fase tertentu, ada kecenderungan pertambahan berat badan bayi akan melambat.” Antara 1 sampai 6 bulan, pertambahan BB bayi terbilang cepat, “Tapi di atas 6 bulan, pertambahannya melambat. Ini terjadi hampir pada seluruh bayi. Salah satu penyebabnya, karena pada tahap ini biasanya bayi sudah lebih banyak bergerak dan pertumbuhannya mengarah ke pertinggian badan.”

Bila pertambahan BBbayi di usia 6 bulan, misalnya, menjadi tidak normal alias tidak bertambah atau malah berkurang, “Perlu dilihat penyebabnya,” terang Alinda. Mungkin ada penyakit yang bersarang di tubuhnya semisal penyakit infeksi terutama TBC dan diare. “Penyakit membuat nafsu makan anak berkurang dan akhirnya BB-nya tak mau naik.”

Selain itu, bayi kurus juga bisa mengindikasikan kekurangan gizi. Ini umumnya karena kebiasaan di keluarga di mana kadang ibu tak cermat memberi nutrisi yang tepat untuk bayi. Padahal,bayi perlu asupan nutrisi yang seimbang. Bisa juga karena si bayi bosan dengan makanan yang itu-itu saja dan akhirnya emoh makan.”Di sisi lain, kondisi psikis bayi menentukan pula keinginannya untuk makan. Kalau ia merasa tertekan karena sering dipaksa, misalnya, bisa saja nafsu makannya berkurang.”

Padahal, bayi dengan BB rendah berisiko terserang penyakit lebih besar dibanding dengan yang punya BB normal. “Meski belum tentu begitu jika memang kesehatannya baik-baik saja.” Tapi yang jelas, saran Alinda,”Jaga BB bayi pada kondisi normal. Bila terlalu kurus, segera konsultasi ke dokter.”

Soalnya, lanjutnya, “Untuk mengembalikannya menjadi normal kita harus melihat apa yang menjadi sebabnya.” Bila karena penyakit, harus disembuhkan dansambil menyembuhkan penyakitnya, kita pun harus melakukan konsultasi gizi untuk mengetahui gizi yang tepat bagi bayi.

Untuk kembali ke kondisi normal, kata Alinda, waktu yang diperlukan sangat relatif. Bila penanganannya dilakukan dengan kontinyu dan serius, mungkin lebih cepat. Begitu pula sebaliknya. Yang jelas, bila bayi kurus tak segera diobati, dikhawatirkan akan menimbulkan komplikasi. “Bahayanya, sih, memang tidak langsung melainkan melalui proses. Karena kurang gizi, bayi jadi rentan terhadap aneka penyakit. Nah, karena sakit-sakitan, ia jadi tambah kurus.”

KIAT MENGATASI
Jika memang penyebabnya karena penyakit, tak ada cara lain, si penyakit harus disembuhkan secara total. Pada saat yang sama pula, bayi diberi nutrisi yang cukup agar ia tidak jadi kurus. Sebab, jika bayi kena infeksi dan dibiarkan tanpa ada tindakan tepat hingga akhirnya menimbulkan masalah kekurangan gizi, misalnya, bakal sulit meningkatkan BB-nya. Penanganannya pun akan menjadi lebih kompleks.

Ciri-ciri bayi malnutrisi, jelas Alinda, bisa dilihat dari fisiknya. “Bila parah hanya tinggal kulit dan tulang saja.” Pemberian gizi tidak hanya satu segi saja, tetapi harus seimbang antara pemberian protein, karbohidrat, lemak, kalori, dan vitamin. Sumbernya pun tidak harus yang mahal, lebih baik dari yang murah. “Seperti protein, tak harusdari hewani saja. Dari nabati pun bisa. Misalnya anak diberitahu dan tempe.”

Jika berbagai upaya sudah dilakukan tapi bayi tetap kurus,”Berarti ada masalah utama yang tidak teratasi,” tegas Alinda. Karena itu mencari penyebabnya menjadi sangat penting agar dapat dilakukan tindakan yang tepat. “Mungkin tidak hanya faktor penyakit infeksi atau nutrisi, pengetahuan ibu dalam hal pemberian makanan, lingkungan yang tidak mendukung, juga penting untuk diketahui.”

Pada kasus lain,bayi sulit makan sehingga gizi yang dibutuhkannya pun sulit sekali masuk. “Di sini perlu tindakan khusus orang tua. Kalau perlu, konsultasikan ke dokter.” Mungkin karena anak alergi, kurang cocok dengan makanannya, atau ada hal lain yang menyebabkan makanan sulit masuk ke dalam tubuhnya. “Kalau memang makanannya tak cocok, ibu, kan, bisa membuatkan variasi makanan yang lain.”