Posts filed under 'POLA MAKAN'

Menyusun menu anak

sumber: Dancow parenting center

Bingung menyusun menu anak? Cobalah Anda melirik piramida makanan anak di bawah ini. Sebagai panduan pola makan sehari-hari untuk anak usia 2-6 tahun, Anda bisa memperoleh banyak ide kreatif untuk memperoleh susunan menu yang memuat nutrisi seimbang.
Yang penting diingat dalam piramida makanan anak adalah:
- menghindari penyajian makanan dan minuman yang tidak baik, seperti penggunaan botol susu yang terlalu lama,
- terlalu banyak makanan manis, minuman ringan dan minuman sari rasa buah
- makanan yang dapat membuat anak tersedak seperti kacang, anggur, popcorn atau permen.
Memperhatikan pemberian nutrisi pada anak sangat diutamakan. Sebab, jumlah nutrisi yang tepat, selain dapat membuat fisik anak tumbuh lebih baik, juga dapat menghindarkan mereka dari risiko penyakit seperti kegemukan, kekeroposan tulang, dan diabetes. Agar anak-anak memperoleh nutrisi terbaik, lakukan hal-hal ini:
• Menyajikan jenis makanan yang beragam
• Melakukan olahraga yang seimbang
• Memilih makanan dari jenis gandum, sayuran, dan buah-buahan
• Memilih makanan rendah lemak dan non kolesterol
• Mengonsumsi gula dan garam secara wajar
• Memilih makanan dengan kadar kalsium dan zat besi yang cukup, untuk memenuhi kebutuhan pertumbuhan anak-anak
Kebiasaan dalam pemilihan makanan yang sehat sebaiknya juga menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari dalam keluarga. Sediakanlah selalu makanan, susu, dan minuman yang rendah lemak dan rendah kalori, dan hindari penyediaan makanan dan minuman berkalori tinggi, minuman ringan, dan es krim.
Penyajian sesuai piramida
Untuk memperoleh jumlah nutrisi yang tepat, anak harus mengonsumsi beragam jenis makanan. Perlu diperhatikan bahwa selera makan akan menurun dan anak akan lebih memilih jenis makanannya ketika tingkat pertumbuhannya semakin lambat. Peningkatan berat badan tidak akan menjadi masalah apabila diimbangi dengan aktivitas yang sesuai. Bila ia tidak boleh lagi mengonsumsi banyak makanan, tawarkan beragam jenis makanan dengan jumlah porsi yang lebih sedikit.
Kelompok Gandum.
Meliputi satu potong roti, setengah cangkir nasi atau pasta, setengah gelas sereal masak dikombinasikan dengan sedikit sereal siap saji. Sajikan sebanyak 6 kali sehari.
Kelompok Nabati.
Meliputi setengah gelas sayuran potong atau satu gelas sayuran daun. Sajikan sebanyak 3 kali sehari.
Kelompok Buah-buahan.
Meliputi satu jenis buah, ¾ gelas jus buah murni, ½ gelas buah kaleng atau ¼ gelas buah kering. Sajikan sebanyak 2 kali sehari.
Kelompok Susu.
Meliputi satu gelas susu/yogurt atau 2 ons keju. Sajikan sebanyak 2 kali sehari.
Kelompok Daging
Meliputi 2-3 ons daging lunak masak/unggas/ikan, ½ gelas kacang kering masak. Satu ons daging dapat menggantikan dua sendok makan mentega atau satu butir telur. Sajikan 2 kali sehari.
Lemak, Minyak dan Gula
Kandungan lemak dalam makanan yang disajikan tidak boleh lebih dari 30%. Jenis lemak yang dikonsumsi juga penting untuk diketahui. Saturated Fats (lemak jenuh), terdapat pada daging, produk susu dan kelapa, dan dapat meningkatkan kadar kolesterol. Unsaturated dan Polyunsaturated Fats (lemak tak jenuh), terdapat pada zaitun dan kacang jagung. Batasi lemak jenuh sebanyak 10% dalam konsumsi kalori sehari-hari.
Dengan sedikit kandungan nutrisi, gula menyumbang sejumlah besar kalori. Termasuk di dalamnya white sugar, brown sugar, sirup, madu, gula cair, permen, minuman ringan, selai dan jelly.
Agar anak tetap bernafsu makan tanpa takut kegemukan:
• Pilih daging tanpa lemak atau produk susu rendah lemak
• Pilih minyak nabati dan mentega yang menggunakan sayur dan buah-buahan sebagai bahan dasarnya.
• Baca tabel nutrisi pada kemasan untuk mengetahui komposisi jumlah dan jenis lemak.
• Batasi makanan yang mengandung lemak jenuh, lemak yang dapat meningkatkan kadar kolesterol.
• Batasi makanan berkadar gula tinggi dan hindari mengonsumsi gula tambahan dalam makanan.

Add comment September 4, 2009

Konsumsi Daging untuk Daya Tahan Tubuh

sumber :http://jawapos.com/radar/index.php?act=detail&rid=106795

Masyarakat tidak perlu cemas dengan merebaknya virus flu babi atau H1N1. Karena, jika masyarakat menerapkan pola hidup sehat, maka daya tahan tubuh akan meningkat. Menurut ahli gizi Poltekkes Kota Malang I Dewa Nyoman Supariasa, konsumsi makanan yang paling tepat untuk mendongkrak daya tahan tubuh adalah makanan dengan unsur protein dan gampang dicerna. “Bahan makanan yang paling tepat dan memiliki sifat-sifat itu adalah protein hewani. Baik dari daging maupun ikan, jenis apa saja,” ujar Dewa, kemarin. Bisa dari daging sapi, daging kambing, ayam, dan lainnya.

Sedang untuk golongan ikan, semua jenis ikan air laut serta air tawar memiliki nilai protein sangat tinggi. “Kisaran kandungan protein hewani sekitar 14 persen. Ini sangat tinggi dibanding zat lain,” tambah dia.

Hanya saja, komponen protein tinggi itu harus tetap dikombinasikan dengan zat-zat gizi lain. Pasalnya, jika hanya dipenuhi dari unsur protein, maka tubuh tetap tidak bisa memenuhi kebutuhan daya tahan tubuh. Karena penderita flu babi ini erat kaitannya dengan demam dan batuk, maka konsumsi vitamin C mutlak ditingkatkan. “Kalau batuk saja, maka konsumsi vitamin C harus tiga kali lipat dari kebutuhan normal. Jika batuk disertai flu, maka enam kali lipat,” terang pembantu direktur bidang akademik Poltekkes Kota Malang ini.

Hanya saja, jika yang menderita anak-anak atau balita, maka akan lebih aman konsumsi ikan. Juga, tambahan nutrisi lain. Salah satunya adalah growth hormon. Dengan begitu, meski kondisi tubuh anak sedang drop, namun tumbuh kembangnya tidak terganggu.

Kecuali untuk bayi usia nol hingga enam bulan tidak dianjurkan mengonsumsi menu dari bahan-bahan di atas. Karena bayi nol hingga enam bulan cukup dengan ASI (air susu ibu) eksklusif. “Ini penting sekali. Jangan sampai salah memberikan asupan gizi pada anak,” kata Dewa.

Bagaimana dengan menu khusus? Disinggung tentang hal ini, kata Dewa, berdasarkan ketetapan badan kesehatan dunia (WHO, Red), menu seimbang yang paling pas adalah mengadopsi pedoman umum gizi seimbang.

Dalam pedoman itu, ada 13 pesan dasar gizi seimbang. Salah satunya, makanlah beraneka ragam makanan. “Slogan empat sehat lima sempurna tidak berlaku lagi. Pedoman ini telah ditetapkan 1995 lalu dan sejak 2000 sudah diterapkan di Indonesia,” ucapnya.

Karena itu, penekanan makan beranekaragam sangat diperlukan. Pertimbangannya, dengan makan beranekaragam, maka semua kebutuhan zat gizi tubuh terpenuhi. Misalnya, dalam sehari masyarakat hanya mengonsumsi mi instan, maka yang didapat hanya karbohidrat. Sedang protein dan vitamin tidak terpenuhi. “Kandungan gizi dari beragam bahan makanan itu akan saling melengkapi,” tandasnya. (nen/ziz)

Add comment Agustus 28, 2009

Nutrition for Nursing Toddlers

It seems that all the the information I see regarding toddler nutrition assumes that your toddler is no longer nursing and is eating mainly solids. As a result, many moms of nursing toddlers (particularly those who are eating few solids) have lots of questions about how to adapt this information to their particular child.

* Introduction
* Cow’s milk?
* How much should my toddler be eating?
* Average toddler growth
* Feeding suggestions for toddlers
* Additional information

Introduction

Your child can continue breastfeeding just as often during the second year, but offer solid foods a few times a day. After 12 months, you can begin offering the solids BEFORE baby nurses, if you wish, instead of after. Your milk is still an important part of baby’s diet and will offer him many benefits (nutritionally, immunilogically and emotionally). There is not any particular “recommended number of times per day” that a toddler should be nursing. Some are only nursing once or twice a day, while others continue to enjoy lots of time at their mother’s breast. As baby slowly moves into eating more solids, your milk will fill any nutritional gaps nicely. Once you do start to breastfeed less often, remember that you must make a greater effort to ensure that your child eats several meals of nutritious food each day.

Cow’s milk?

Many nursing moms are told that they must introduce cow’s milk at a year. Your nursing toddler is already getting the best milk he can get – mother’s milk! Breastmilk has a higher fat content than whole cow’s milk (needed for baby’s brain growth), and all the nutrients of human milk are significantly more bioavailable than those of cow’s milk because it is species specific (not to mention all the components of mother’s milk that are not present in cow’s milk).

There is no need for additional milk or (or the equivalent nutrients from other foods) as long as your baby is nursing 3-4 times per day. Cow’s milk is really just a convenient source of calcium, protein, fats, vitamin D, etc. – it’s not required. There are many people in many parts of the world who do not drink milk and still manage to get all the calcium, protein, fats, vitamin D, etc. that they need.

* Good non-dairy sources of protein include meats, fish, peas & beans (chick peas, lentils, baked beans, etc.), tofu and other soy products, boiled eggs, peanut and other nut butters (if your child is not allergic).
* Good non-dairy sources of fats include soy and safflower oils, flax seed and flax seed oil, walnuts, fish and fish oils, avocado. Adding fats to cooking and baking can work well, for example, stir fry in safflower oil or make mini-muffins with soy or rice milk, oil or butter, and eggs.
* Calcium may be derived from many nondairy sources.
* Vitamin D can be supplied by sunlight exposure and food sources.
* If your child is not nursing regularly and is not allergic to cow’s milk products, but simply doesn’t like cow’s milk, you can incorporate milk into your child’s diet in other ways. Many children like cheese, whole-fat yogurt or ice cream. You can also put milk into various food products: pancakes, waffles, muffins, French toast, scrambled eggs, mashed potatoes, and baked goods.
* Some moms wish to offer cow’s milk to their toddler, but baby doesn’t like it. Over the age of 12 months, milk becomes a more minor part of a child’s diet. It is sometimes helpful to mix increasing amounts of cow’s milk with your expressed milk to help baby get used to the taste. Many dietitians see nothing wrong with adding some flavor (such as strawberry or chocolate) to cow’s milk.

Pediatricians now recommend that any cow’s milk be whole milk from a cup after the first year and until the child is at least 2 years of age. This ensures that your child receives enough fat, which is essential to proper brain development. After the age of two, if growth is good, you can switch to low-fat or nonfat milk. Note: If your child is nursing, then remember that mom’s milk is “whole” milk – the more breastmilk your child gets, the less need to worry about your child getting additional fat from whole milk or other sources.

It’s best to limit the amount of cow’s milk that your child receives to 2-3 cups (16-24 ounces) per day, since too much cow’s milk in a child’s diet can put him at risk for iron-deficiency anemia (because milk can interfere with the absorption of iron) and may decrease the child’s desire for other foods.

How much should my toddler be eating?

Between ages one and five, a child’s growth is in a decelerated stage; that is, they have slowed down in growth. Since growth slows down, their need for calories subsequently decreases, which in turn leads to a smaller quantity of food ingested per day. Added to the decelerated growth is a burgeoning independence which limits the variety of foods your child is willing to eat (“finicky eater”). Rest assured that toddlers do not need as much food as you might expect because of this slowing down of the growth rate. Three small meals and two snacks a day (and some will eat a good bit less) will probably be enough to fuel even the most active toddler. Please realize, too, that finicky eaters are the rule rather than the exception.

Some toddlers are eating very few solids, or even no solids, at 12 months. This is not unusual and really depends on your child – there is quite a big variation. We like to see breastmilk making up the majority (around 75%) of baby’s diet at 12 months. Some babies will be taking more solids by 12 months, but others will still be exclusively or almost-exclusively breastfed at this point. It is normal for baby to keep breastmilk as the primary part of his diet up until 18 months or even longer. An example of a nice gradual increase in solids would be 25% solids at 12 months, 50% solids at 18 months, and 80% solids at 24 months.

Some children take a little longer to begin taking solids well. Some of them have food sensitivities and this may be their body’s way of protecting them until their digestive system can handle more. Others are late teethers or have a lot of difficulty with teething pain. At this point there is NOTHING that your milk lacks that your child needs, with the possible exception of enough iron. As long as his iron levels are within acceptable levels and when he does eat you are offering him foods naturally rich in iron, then you have plenty of time before you need to worry about the amount of solids he’s getting.

All you need to do is to continue to offer foods. Don’t worry if he’s not interested or takes very small amounts. Your only true responsibility is what you offer, when you offer it and how you offer it, not whether or not he eats it. That has to be up to him. Trying to force, coax, or cajole your child into eating is never recommended. Continue to nurse on demand, day and night, and trust your child to increase the solids when he’s ready. As baby slowly moves into eating more solids, your milk will fill any nutritional gaps nicely.

Average toddler growth

Some things to look at to determine that your child is getting appropriate nutrition:

* Growth: not necessarily on a curve, but gaining inches/ounces or parts thereof
* Meeting developmental milestones on or near target
* Activity level: alert, happy, active

I have always had a hard time finding information on average toddler growth, so I took a look at the standard CDC growth charts to get these numbers. (Note: these numbers are not for breastfed babies specifically; they come from the growth charts for all children.) This link on checking your child’s growth has some great information on how to monitor your child’s growth using growth charts.

Age

Average weight gain
12 – 18 mo

7 – 11 ounces/month
18 – 24 mo

5.3 – 8 ounces/month
24 – 36 mo

4 – 8 ounces/month
Source: Centers for Disease Control and Prevention, National Center for Health Statistics. CDC growth charts: United States. May 30, 2000.

Age

Average height increase
12 – 36 mo

0.3 – 0.4 inch/month
Source: Centers for Disease Control and Prevention, National Center for Health Statistics. CDC growth charts: United States. May 30, 2000.

Feeding suggestions for toddlers

Finger foods are always great for toddlers, and your toddler will also begin to learn how to feed himself with a spoon and fork. Many babies prefer to eat foods which they can pick up and feed themselves, rather than foods that must be spooned to them. A lot of babies would rather have food right off the table than the blander-tasting baby foods.

After the age of twelve months, you can offer foods you’ve been withholding (cow’s milk, citrus fruits, egg whites), but continue to be on the lookout for any allergic reactions. Even though you can offer more foods at this point, the choking hazard is still very real. Supervise your toddler’s meals in case of choking, and continue to avoid foods such as popcorn, hard candies, hot dogs, jelly beans, chunks of carrots, grapes, raisins, and nuts. Cut or finely chop such foods, or simply wait until your baby gets older.

Toddlers should be offered a variety of foods. They can eat the same things as the rest of the family. Foods rich in protein, calcium, and iron, along with fruits and vegetables, breads, etc. should be made available on a routine basis. Serve the most healthful foods possible, but don’t expect your toddler to eat a big meal at each sitting. Most children, when offered nutritious meals and snacks and allowed to eat what they wish, will meet their nutritional requirements over several days or even a week. Don’t let your child fill up on empty-calorie snacks, but don’t force him to eat when he doesn’t want to.

Many toddlers eat better when they have food available throughout the day, rather than just at a few set times (see grazing). Simply offer your toddler nutrient-dense snacks throughout the day (cut-up vegetables, bite-sized pieces of fruit, hard-boiled-egg slices, yogurt, whole wheat breads and cereals, cheeses) and let him eat what he wants. Some parents have had good luck with Dr. William Sears’ suggestion of a “nibble tray,” where you fill a tray (like an ice cube tray, muffin tin, etc.) with several types of healthy foods and leave it out for your toddler to nibble on throughout the day.

Below are the current USDA food pyramid guidelines (PDF) for preschoolers (ages 2-6). Serving sizes are for children aged 4-6. Children aged 2-3 need the same numbers of servings as 4- to 6-year-old children but may need smaller portions: about 2/3 of a serving.

* Grain group: 6 servings (serving size example: 1 slice of bread, 1/2 cup of cooked rice or pasta, 1/2 cup of cooked cereal, 1 ounce of ready-to-eat cereal)
* Vegetable group: 3 servings (serving size example: 1/2 cup of chopped raw or cooked vegetables, 1 cup of raw leafy vegetables)
* Fruit group: 2 servings (serving size example: 1 piece of fruit or melon wedge, 3/4 cup of juice, 1/2 cup of canned fruit, 1/4 cup of dried fruit)
* Milk group: 2 servings a day (serving size example: 1 cup of milk or yogurt, 2 ounces of cheese)
* Meat group: 2 servings (serving size example: 2 to 3 ounces of cooked lean meat, poultry, or fish, 1/2 cup of cooked dry beans, 1 egg counts as 1 ounce of lean meat, 2 tablespoons of peanut butter count as 1 ounce of meat)
* Fats and sweets: Limit calories from these.

Add comment Agustus 21, 2009

Bayi Kurus Berarti Kurang Gizi?

sumber : Mother And Baby

sumber : Nakita/Nomor 158/Tahun IV/13 April 2002

Selama ini ada anggapan, bayi kurus berarti kekurangan gizi atau menderita penyakit tertentu.Padahal, penyebabnya bisa macam-macam.

“Periksa ke dokter, deh, siapa tahu anakmu ada penyakit tertentu. Badannya kurus sekali.” Nasehat semacam ini sering kita dengar atau justru berikan pada teman yang anaknya terlihat kurus. Padahal, untuk menentukan bayi kurus tidaknya bayi, tak cukup dilihat dari penampilannya saja. “Cara yang tepat adalah dengan mengukur dan membandingkan antara berat dan tinggi badannya, kendati tiap bayi punya berat dan tinggi badan yang berbeda,” terang dr. Alinda Rubiati, Sp.A, spesialis anak dari RS Fatmawati, Jakarta.

Begitu pula untuk urusan memantau kurus atau tidaknya anak, harus secara kontinyu. “Ada satu kurva atau grafik untuk melihat apakah bayi menjadi lebih kurus atau tidak,” ungkap Alinda. Pencatatan biasanya dilakukan setiap bulan, sehingga akan tampak bagaimana grafik pertumbuhan badan si bayi.

ACUAN KURUS
Normalnya, berat badan (BB) bayi baru lahir harus mencapai 2.500 gram. Tidak terlalu besar, juga tak kelewat kecil. Sebab kalau terlalu kecil, dikhawatirkan organ tubuhnya tak dapat tumbuh sempurna sehingga dapat membahayakan sang bayi sendiri. Sebaliknya, terlalu besar juga ditakutkan sulit lahir dengan jalan normal dan mesti lewat operasi sesar.

Nah, pertambahan BB bayi bisa dilihat per triwulan. Pada triwulan I, kenaikan BB berkisar 150-250 gram/minggu, triwulan II kenaikannya 500-600 gram/bulan, triwulan III naik 350 – 450 gram/bulan, dan triwulan IV sekitar 250-350 gram/bulan.

Jelas terlihat,triwulan I pertambahan BB berlangsung lebih cepat dibanding dengan triwulan II, III, dan IV. “Ini wajar karena pertumbuhan BB di bulan berikutnya lebih rendah dari bulan sebelumnya. Namun bila pertumbuhan BB berkurang secara drastis, bisa dijadikan ancang-ancang untuk melakukan tindakan lanjutan.”

Umumnya, jelas Alinda, acuan untuk melihat normal-tidaknya BB adalah saat usianya mencapai 6 bulan dan 1 tahun. Di usia 6 bulan, BB bayi harus mencapai 2 kali lipat berat lahir dan menjadi 3 kali lipatnya pada usia 1 tahun. “Kurang dari ini, BB nya bisa disebut rendah atau ia termasuk bayi kurus.”

NUTRISI & PERIKSA RUTIN
Bayi kurus adalah yang saat lahir BB-nya rendah atau di bawah 2.500 gram. “Penyebabnya dipengaruhi saat masih berada dalam kandungan. Inilah yang sangat menentukan karena di situlah pembentukan dan pertumbuhan organ tubuh dimulai.”

Kandungan yang sehat ditentukan oleh ibu yang sehat. Bila ibu menderita penyakit, semisal infeksi paru, kondisi janin pun ikut terpengaruh. Darah yang tersuplai ke tubuh janin bisa saja menjadi jalan untuk mewarisi penyakit yang diderita ibunya. “Saat lahir, bayi bisa saja menderita penyakit atau kelainan organ tubuh. Akhirnya, bayi tak sehat dan bertubuh kurus.”

Faktor penyebab lain adalah asupan nutrisi yang dikonsumsi ibu ketika hamil. Biasanya, berkurangnya nutrisi yang dikonsumsi si ibu, otomatis berkurang pula asupan nutrisi pada janin yang ditransportasikan lewat plasenta. Kekurangan ini bisa disebabkan karena ibu sulit sekali untuk mengkonsumsinya kala sakit selama hamil atau memang malas memperhatikan nutrisi yang diperlukan semasa hamil. Gara-gara kurang nutrisi inilah, bayi bisa mengalami BB rendah dan tampak kurus.

Itu sebabnya selama hamil ibu harus kontinyu memeriksakan kandungan sebulan sekali. “Makin tua usia kandungan, pemeriksaan harus dilakukan lebih sering.” Selain itu,ibu juga harus melakukan pengawasan terhadap kandungan dengan lebih saksama, sehingga bila terjadi sesuatu pada diri ibu maupun janinnya, dapat segera diketahui dan dapat dilakukan tindakan preventif sejak dini. “Yang jelas,pemeriksaan juga harus dibarengi dengan asupan gizi yang cukup dan seimbang,” tegas Alinda.

BERAT MANDEK
Meski saat lahir BB-nya normal, belum tentu juga selanjutnya perkembangan BB-nya akan normal sesuai dengan pertumbuhannya. “Pada fase tertentu, ada kecenderungan pertambahan berat badan bayi akan melambat.” Antara 1 sampai 6 bulan, pertambahan BB bayi terbilang cepat, “Tapi di atas 6 bulan, pertambahannya melambat. Ini terjadi hampir pada seluruh bayi. Salah satu penyebabnya, karena pada tahap ini biasanya bayi sudah lebih banyak bergerak dan pertumbuhannya mengarah ke pertinggian badan.”

Bila pertambahan BBbayi di usia 6 bulan, misalnya, menjadi tidak normal alias tidak bertambah atau malah berkurang, “Perlu dilihat penyebabnya,” terang Alinda. Mungkin ada penyakit yang bersarang di tubuhnya semisal penyakit infeksi terutama TBC dan diare. “Penyakit membuat nafsu makan anak berkurang dan akhirnya BB-nya tak mau naik.”

Selain itu, bayi kurus juga bisa mengindikasikan kekurangan gizi. Ini umumnya karena kebiasaan di keluarga di mana kadang ibu tak cermat memberi nutrisi yang tepat untuk bayi. Padahal,bayi perlu asupan nutrisi yang seimbang. Bisa juga karena si bayi bosan dengan makanan yang itu-itu saja dan akhirnya emoh makan.”Di sisi lain, kondisi psikis bayi menentukan pula keinginannya untuk makan. Kalau ia merasa tertekan karena sering dipaksa, misalnya, bisa saja nafsu makannya berkurang.”

Padahal, bayi dengan BB rendah berisiko terserang penyakit lebih besar dibanding dengan yang punya BB normal. “Meski belum tentu begitu jika memang kesehatannya baik-baik saja.” Tapi yang jelas, saran Alinda,”Jaga BB bayi pada kondisi normal. Bila terlalu kurus, segera konsultasi ke dokter.”

Soalnya, lanjutnya, “Untuk mengembalikannya menjadi normal kita harus melihat apa yang menjadi sebabnya.” Bila karena penyakit, harus disembuhkan dansambil menyembuhkan penyakitnya, kita pun harus melakukan konsultasi gizi untuk mengetahui gizi yang tepat bagi bayi.

Untuk kembali ke kondisi normal, kata Alinda, waktu yang diperlukan sangat relatif. Bila penanganannya dilakukan dengan kontinyu dan serius, mungkin lebih cepat. Begitu pula sebaliknya. Yang jelas, bila bayi kurus tak segera diobati, dikhawatirkan akan menimbulkan komplikasi. “Bahayanya, sih, memang tidak langsung melainkan melalui proses. Karena kurang gizi, bayi jadi rentan terhadap aneka penyakit. Nah, karena sakit-sakitan, ia jadi tambah kurus.”

KIAT MENGATASI
Jika memang penyebabnya karena penyakit, tak ada cara lain, si penyakit harus disembuhkan secara total. Pada saat yang sama pula, bayi diberi nutrisi yang cukup agar ia tidak jadi kurus. Sebab, jika bayi kena infeksi dan dibiarkan tanpa ada tindakan tepat hingga akhirnya menimbulkan masalah kekurangan gizi, misalnya, bakal sulit meningkatkan BB-nya. Penanganannya pun akan menjadi lebih kompleks.

Ciri-ciri bayi malnutrisi, jelas Alinda, bisa dilihat dari fisiknya. “Bila parah hanya tinggal kulit dan tulang saja.” Pemberian gizi tidak hanya satu segi saja, tetapi harus seimbang antara pemberian protein, karbohidrat, lemak, kalori, dan vitamin. Sumbernya pun tidak harus yang mahal, lebih baik dari yang murah. “Seperti protein, tak harusdari hewani saja. Dari nabati pun bisa. Misalnya anak diberitahu dan tempe.”

Jika berbagai upaya sudah dilakukan tapi bayi tetap kurus,”Berarti ada masalah utama yang tidak teratasi,” tegas Alinda. Karena itu mencari penyebabnya menjadi sangat penting agar dapat dilakukan tindakan yang tepat. “Mungkin tidak hanya faktor penyakit infeksi atau nutrisi, pengetahuan ibu dalam hal pemberian makanan, lingkungan yang tidak mendukung, juga penting untuk diketahui.”

Pada kasus lain,bayi sulit makan sehingga gizi yang dibutuhkannya pun sulit sekali masuk. “Di sini perlu tindakan khusus orang tua. Kalau perlu, konsultasikan ke dokter.” Mungkin karena anak alergi, kurang cocok dengan makanannya, atau ada hal lain yang menyebabkan makanan sulit masuk ke dalam tubuhnya. “Kalau memang makanannya tak cocok, ibu, kan, bisa membuatkan variasi makanan yang lain.”

1 comment Juli 21, 2009

Kebutuhan Gizi Mempengaruhi Kecerdasan Anak

JAKARTA (Media): Penelitian membuktikan ada keterkaitan antara tubuh pendek dan tingkat kecerdasan. Bila sejak awal sudah tidak ada keseimbangan berat dan tinggi badan, maka akan berpengaruh pada pembentukan otak. Karena itu, kebutuhan gizi bayi sejak janin sampai usia lima tahun harus terpenuhi secara baik. Kepala Seksi Standardisasi, Subdit Gizi Mikro, Direktorat Gizi pada Ditjen Kesehatan Masyarakat Depkes dr Atmarita menegaskan hal tersebut di Jakarta, kemarin, di sela-sela Kongres Nasional XII dan temu ilmiah Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) yang berlangsung hingga Rabu (10/7).
Menurut Atmarita, anak yang perkembangannya sangat lambat disebabkan oleh pembentukan otak maupun tubuhnya tidak baik akibat gizinya buruk. “Berarti hal paling penting adalah pemenuhan gizi bayi sejak dalam kandungan sampai berusia lima tahun, dan bila tidak terpenuhi, pertumbuhan otak dan tubuhnya tidak bagus. Anak dengan tubuh pendek, ia mengemukakan, berarti status gizi pada masa lalunya sudah kronis,” jelas Atmarita. Namun begitu, lanjutnya, sampai usia 18 tahun pun asupan gizi masih penting untuk pertumbuhan fisik anak. Jadi jika tubuh seseorang kurus, Atmarita menilai, hal ini dipengaruhi oleh keadaan gizi pada saat itu.

Bersama rekannya, dr Robert L Tiden, pakar gizi tersebut menganalisis masalah gizi di perkotaan yang dikaitkan dengan tinggi badan anak baru masuk sekolah. Atmarita mengatakan, 62% lebih anak di perkotaan memiliki tinggi badan normal dari segi umur, sedangkan anak di pedesaan hanya 49%. Maka disimpulkan bahwa anak di perkotaan memiliki keadaan gizi lebih baik dibanding anak di pedesaan. Meski demikian, obesitas (gemuk sekali) pada anak di perkotaan cenderung lebih tinggi dibanding anak di pedesaan. Cuma, masalah itu mulai meningkat bukan saja di perkotaan, melainkan juga di pedesaan.

Atas dasar tersebut, Atmarita menegaskan, program perbaikan gizi sekarang harus diubah dengan memerhatikan faktor yang terkait dengan pola hidup penduduk di perkotaan maupun pedesaan. Sebelumnya, Menkes Achmad Sujudi dalam sambutan tertulis yang dibacakan oleh Staf Ahli Menkes Bidang Desentralisasi dan Kelembagaan Dini Latief merasa prihatin karena proporsi anak pendek di Indonesia masih cukup tinggi. “Saya yakin, para ahli gizi mengetahui situasi ini karena di tiap wilayah telah difasilitasi dengan pemantauan status gizi,” ulasnya.

Ia menambahkan sudah banyak penelitian yang menyimpulkan pentingnya gizi untuk meningkatkan kemampuan belajar dan mengikuti pendidikan sampai tingkat tertinggi. Menkes mengutip pula sejumlah studi di Filipina, Jamaika, dan negara lainnya yang membuktikan, adanya hubungan yang sangat bermakna antara tinggi badan dan kemampuan belajar. Bahkan, ujarnya, dihasilkan bahwa pemberian makanan tambahan pada anak bertubuh pendek berusia 9-24 bulan akan mampu meningkatkan kemampuan belajar anak ketika berusia 7-8 tahun. Dibuktikan pula dari beberapa studi bidang ekonomi di Ghana maupun Pakistan mengenai pentingnya gizi untuk mendukung pembangunan. “Malah dengan menurunkan prevalensi anak pendek sebesar 10%, akan dapat meningkatkan 2%-10% proporsi anak yang mendaftar ke sekolah.” (Rse/V-4).

Sumber:http://www.kompas.com/kompas-cetak/0208/04/Iptek/kili22.htm

Add comment September 13, 2008

Ayo Kita Makan nak

Ayo, Kita Makan, Nak!

Makan adalah “pelajaran” baru bagi si kecil yang mulai mengenal makanan padat. Dan ternyata, banyak “keterampilan” yang harus ia kuasai dalam proses belajar ini.

Sejak usia enam bulan, susu bukan lagi satu-satunya makanan yang akan dikonsumsi bayi Anda. Tapi, Anda tidak bisa begitu saja alias langsung memberikan makanan apapun padanya. Sebab, “pelajaran” makan si kecil haruslah berlangsung secara bertahap.

Kapan ia siap makan?

Kemampuan bayi untuk makan makanan padat memang tidak sama. Sekalipun demikian, para ahli sepakat, umumnya kesiapan bayi untuk makan makanan padat pertamanya berkisar antara usia 6–8 bulan.

Meski begitu, jangan mentang-mentang usia si kecil sudah 6 bulan, lalu Anda langsung bersemangat “menjejalnya” dengan seabrek makanan padat. Hanya karena khawatir ia ketinggalan teman-teman seusianya! Umumnya, otot mulut bayi belum dapat mengunyah dan menelan makanan padat sampai usia 4–6 bulan. Makanya, jangan heran kalau lidah si 6 bulan Anda malah “mendorong” makanannya ke luar mulut mungilnya. Lihat-lihat dulu kemampuannya. Bila tidak, bisa-bisa urusan makan ini malah jadi runyam! Kalau sudah begini, apa yang bisa Anda lakukan?

Yang pasti, ketika memperkenalkan makanan padat, sistem pencernaan si kecil harus benar-benar “matang”. Pokoknya, sudah siap tempur untuk memproses berbagai jenis makanan baru yang masuk. Kalaupun Anda terlalu dini memperkenalkan makanan padat, bayi Anda malah lebih mudah terkena reaksi alergi Jadi, tenang-tenang saja dulu.

Jangan coba-coba ambil jalan pintas!

Harus diakui, bukan hal yang mudah jika si kecil Anda susah banget belajar mengunyah dan menelan makanannya. Sekalipun kepentok di sana-sini, jangan lantas ambil jalan pintas dengan cara memberi makanan padatnya melalui botol.

Tahukah Anda, cara pemberian makanan seperti ini nggak aman-aman amat! Malahan, ini dapat meningkatkan risiko si kecil tersedak. Kok, begitu? Ketika Anda memberi makanan melalui botol (biasanya lubang dot akan diperbesar), makanan tadi akan langsung ditelannya. Jika ia belum pintar-pintar mengontrolnya, bukan tak mungkin ia langsung tersedak.

Bahkan, tak jarang, cara pemberian makanan ini justru menjadi salah satu penyebab anak “terlalu banyak” makan. Ia jadi cepat sekali menelan makanannya. Saking cepatnya, sekalipun perutnya sudah kenyang, sinyal yang bertugas memberitahu kalau dia sudah kenyang “tidak sempat” sampai ke otak. Akibatnya, dia minta tambah terus dan terus. Wah, jadi repot lagi.

Selain itu, pemberian makanan lewat botol tidak akan mengajari si kecil menggunakan rahangnya untuk mengunyah. Padahal, proses belajar mengunyah dan juga menelan kelak penting untuk kemampuan bicaranya dan pertumbuhan giginya.

Belajar tidak berhenti di mulut saja

Proses belajar makan si kecil memang tidak berhenti sebatas mulut mungilnya saja. Ia masih harus belajar disiplin melalui tatacara makan yang sudah terpola waktunya. Misalnya, ketika didudukkan di kursi makannya atau dipasangkan celemek makannya, ia sudah tahu kalau “upacara” makan sudah tiba. Atau, ketika mencium harumnya aroma makanan yang sedang Anda siapkan, ia harus sabar menunggu. Tampaknya sepele memang, namun semua itu merupakan rangkaian dalam proses belajarnya.

Juga, ia akan belajar bahwa aktivitas ini bisa mempererat hubungannya dengan Anda, bunda tercintanya. Misalnya, melalui kontak mata ketika Anda mengajaknya berbicara ketika mempersiapkan makanan atau duduk dihadapannya, ia tahu kalau Anda sangat menyayanginya dan memberikan perhatian penuh. Akan lebih baik lagi, bila Anda selalu tersenyum ketika menyuapinya. Ketenangan Anda dan cara Anda memperlakukannya sangat besar pengaruhnya dalam proses belajar makan si kecil.

Kesabaran untuk tidak terburu-buru ketika menyuapi, kepekaan mengetahui kondisi anak, kreativitas dalam memilihkan menu, serta menciptakan suasana makan yang menyenangkan merupakan kunci utama kesuksesan Anda dalam memberi makan pada si kecil. Siapkah Anda untuk itu?

Retno Wahab Supriyadi

Add comment April 29, 2008

Pola Makan Anak

Pola Makan Anak Adopsi Kebiasaan Orangtua
Pola makan teratur dengan gizi seimbang menunjang stamina dan kesehatan tubuh. Terutama bagi anak-anak, kebiasaan ini mendukung pertumbuhan fisik dan mental.
Membiasakan anak memiliki pola makan sehat bukanlah perkara mudah. Banyak terdengar keluhan para orangtua mengenai kebiasaan makan anak-anaknya yang kurang baik, seperti menolak makan nasi lengkap dengan lauk pauk, hanya memilih makanan manis atau menolak makan sama sekali dengan berbagai alasan. Tentu saja, itu membuat orangtua khawatir dengan perkembangan sang buah hati.

Ternyata salah satu kunci keberhasilan membiasakan anak memiliki pola makan sehat terletak pada orangtua. Ciri khas anak yang belajar dengan mengadopsi segala sesuatu yang dilihat dan didengar, membuat orangtua menjadi sosok utama bagi mereka.

Hal itu dibenarkan psikolog dan play therapist Dra Mayke Tedjasputra MSi. Menurut staf pengajar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia itu, anak dan lingkungan saling memengaruhi. “Secara psikologi, seseorang mempelajari pola makan yang baik itu dari orangtuanya,” ujarnya.

Menurut dia, bila orangtuanya picky eating atau cenderung memilih makanan, maka akan menurun pada anak.”Makanan yang dimakan orangtua dapat menjadi contoh. Misalnya, ibu yang tidak suka ikan karena bau. Maka anaknya akan cenderung mengikuti tidak suka ikan,” ujar Mayke pada kampanye bertajuk “Bekal Cinta Blue Band untuk Anak Bangsa” di Jakarta, baru-baru ini.

Sebaliknya, Mayke mengaku memiliki klien yang ayahnya hanya suka makan ikan. Karena itu,sang anak pun hanya mau makan ikan. “Jadi, orangtua adalah role model. Anak belajar sosial terutama dari orangtuanya,” tegas Mayke.

Demikian pula mengenai tata krama di meja makan. Anak cenderung akan mengikuti kebiasaan orangtua. Karenanya, lanjut Mayke, sejak anak berusia 9 bulan sebenarnya anak sudah bisa diperkenalkan untuk makan sendiri di meja makan. “Belajar makan sendiri juga menjadi proses pembelajaran pemahaman mengenai makan yang benar,” katanya.

Ketika sudah mulai duduk, lanjutnya, ajarkan untuk duduk di meja makan. Pada usia 9 bulan, biasanya anak sudah bisa menjumput benda dengan kedua jarinya,telunjuk dan ibu jari sehingga bisa diajarkan makan sendiri.

Untuk mempelajari berbagai tekstur dan rasa makanan, tidak jarang anak-anak ingin merasakan makanan yang dimakan oleh orangtua.Menurut Mayke, hal ini masih tergolong wajar. “Yang jelas anak bisa belajar makan dengan senang dan menyenangkan,” ucapnya.

Kemudian, untuk memperkenalkan makanan sehat dan bergizi dapat dilakukan sejak anak usia balita. Lalu, ketika anak memasuki usia sekolah, maka pengertian mengenai makanan sehat dan bergizi dapat dikomunikasikan.

“Mulai diperkenalkan makanan sehat dan bergizi sejak balita, kemudian pada usia sekolah ajak anak berdialog dan berdiskusi. Memang ada anak yang sangat mudah pemahamannya, ada yang sulit.Orangtua bisa mengajak anak menemui ahli gizi, minta menjelaskan kepada anak,” tuturnya.

Sebenarnya, kaitan antara pola makan orangtua dan anak telah dilakukan penelitian oleh para peneliti dari Pennsylvania State University. Penelitian yang dilakukan oleh Amy T Galloway PhD, Laura Fiorito RD, Yoonna Lee PhD, dan Leann L Birch PhD ini mempelajari mengenai kaitan pola makan sekelompok ibu dan anak perempuannya yang dimuat dalam jurnal American Dietetic Association.

Penelitian tersebut dilakukan terhadap 173 anak perempuan berusia 9 tahun dan ibunya. Penelitian tersebut dilakukan selama dua tahun,dimulai ketika anak berusia 7 tahun.

“Ketika anak perempuan berusia 7 tahun, para ibu diharuskan menuliskan makanan yang dikonsumsinya, termasuk seberapa porsi buah dan sayuran setiap hari,” ujar Amy T Galloway, seorang peneliti.

Para ibu juga ditanyai mengenai tekanan yang diberikan kepada anak perempuannya dengan menjawab pertanyaan, apakah anaknya harus makan semua jenis makanan yang ada di piringnya,serta apabila anak saya berkata tidak lapar, dia harus tetap makan.

Kemudian, ketika anak perempuan tersebut berusia 9 tahun, para ibu kembali ditanya mengenai tipe dan jumlah makanan yang dikonsumsi anaknya setiap hari. Mereka juga ditanyai, apakah menganggap anaknya sering kali memilih makanan. Sementara itu, dalam penelitian tersebut sang anak diukur berat badan dan kadar lemak.

“Hasilnya, para ibu yang mengonsumsi lebih banyak buah dan sayur mengatakan bahwa mereka tidak memberikan tekanan yang lebih besar untuk anak-anak perempuan mereka untuk makan. Kemudian, para ibu ini memiliki anak-anak yang lebih banyak mengonsumsi sayur dan buah, serta tidak memiliki kebiasaan memilih makanan,” ujar Amy.

Sebaliknya, lanjut Amy, anak-anak yang cenderung memilih makanan lebih sedikit mengonsumsi buah dan sayur. Meskipun, sebagian dari anak perempuan tersebut juga tidak banyak mengonsumsi makanan kadar gula tinggi dan berlemak.

Berdasarkan penelitian tersebut, disimpulkan bahwa masukan nutrisi yang diberikan oleh orangtua dapat memengaruhi kebiasaan anak nantinya. Kebiasaan mengonsumsi buah dan sayur yang cukup pada orangtua dapat mendorong anak untuk melakukan hal yang sama. (ririn s/sindo/via)

sumber : okezone

Add comment April 17, 2008

Hindari Anak Dari Junkfood

Hindarkan Anak dari Junk Food!

Getty ImagesRabu, 16 April 2008 | 15:09 WIB
MENGONSUMSI makanan redah kadar gizi atau junk food tampaknya sudah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat terutama di kota-kota besar. Bahkan tak jarang para orang tua malah mengenalkan makanan tidak sehat ini kepada anak-anaknya sejak dini.

Ketika mengajak jalan-jalan ke mall atau pusat perbelanjaan, banyak orang tua membelikan anak mereka junk food. Begitu perut lapar, anak-anak langsung diajak menyantap paket menu yang terdiri dari nasi plus ayam goreng, atau burger bersusun tiga ditambah sekantong kentang goreng plus segelas soda.

Padahal dari sisi kesehatan sudah diketahui dengan jelas betapa besar risiko kesehatan yang dihadapi bila mengonsumsi makanan junk food secara rutin.

Seperi dipaparkan DR. Dr Saptawati Bardasono, MSc, Sekjen Pengurus Pusat Persatuan Dokter Gizi Medik Indonesia (PDGMI), junk food dapat dikonotasikan sebagai makanan yang kualitas gizinya rendah atau juga makanan sampah. Makanan ini biasanya dikemas sebagai menu cepat saji dengan menawarkan rasa yang lezat dan membuat ketagihan.

¨Junk food biasanya mengandung padat kalori, lemak dan bumbu-bumbu dengan kadar garam tinggi sehingga menimbulkan sensasi rasa yang sangat lezat di lidah. Ini jelas tidak sehat karena lemak, kalori dan zat-zat lain yang dikandungnya melebihi batas yang ditentukan. Padahal, komposisi makanan sehat itu kan harus seimbang,,¨ terang DR. Saptawati saat ditemui di sebuah hotel Jakarta, Rabu (16/4).

Bila junk food sudah merambah anak anak dan menjadi bagian dari gaya hidup mereka, lanjut Saptawati, maka dikhawatirkan risiko mengidap berbagai penyakit akan mengintai sejak usia dini.

¨Mereka sudah dari awal akan memiliki risiko mengidap berbagai penyakit seperti obesitas. Belum lagi penyakit degeneratif yang akan menyerang ketika dewasa seperti jantung, tekanan darah tinggi, diabetes, atau jenis penyakit berat lainnya. Oleh sebab itu, anak-anak sebaiknya dihindarkan atau jangan sering-sering mengonsumsinya. Yang lebih baik tetap makanan dengan kandungan gizi dan nutrisi seimbang,¨ tambahnya.

Kalori berlebih
Bila ditelaah, junk food memang layak disebut makanan sampah karena dihitung dari nilai gizi, makanan ini tidaklah seimbang. Sebungkus kentang goreng porsi normal misalnya dapat mengandung 500 kalori, hamburger sekitar 500 kalori, belum lagi bila ditambah minuman soda total kalori satu hidangan bisa melebihi total 2000 kalori.

Rata-rata kebutuhan kalori untuk pria dewasa saja rata-rata hanya 1.900 kalori, sedangkan anak-anak sekitar 1500-1900 . Berarti, makan sekali sajian, belum termasuk minumnya, sudah melewati lebih dari separuh kebutuhan kalori untuk anak-anak.

Junk food juga dapat mengandung kolesterol dan gula yang tinggi. Sementara kandungan nutrisi penting seperti protein, vitamin, dan mineral justru terabaikan. Yang dikhawatirkan, junk food kemungkinan mengandung zat berbahaya lain seperti bahan pengawet dan zat aditif yang membuat anak ketagihan. Jadi sebaiknya hindarkan anak Anda dari junk food!

Sumber : Kompas

Add comment April 16, 2008

Makan Bersama – Makan Sehat

Makan Bersama Mendorong Kebiasaan Makan Sehat

Nutrisi yang baik dan pola makan seimbang dapat membantu anak tumbuh sehat. Di kelompok umur manapun anak kita berada, entah itu balita maupun remaja, kita memerlukan strategi untuk mendorong kebiasaan makan sehat dalam keluarga. Langkah-langkah di bawah ini dapat membantu Anda menumbuhkan hal tersebut:

  • Mengadakan acara “makan bersama” keluarga secara teratur.
  • Menyediakan makanan sehat dan makanan ringan yang beragam.
  • Menerapkan pola makan sehat untuk diri kita sendiri.
  • Menghindari perdebatan tentang makanan.
  • Melibatkan anak dalam proses.

Dalam pelaksanaannya, langkah-langkah di atas tidak selalu mudah dilakukan. Apalagi bila Anda tergolong ibu yang sibuk dan sering membeli makanan makanan siap saji. Namun, bagaimanapun padatnya jadwal Anda, makan bersama keluarga sebaiknya perlu dilakukan, minimal sekali sehari. Mengapa? Sebab, kebiasaan ini membuat anak dan orang tua dapat bertemu muka dan merasa lebih dekat ketimbang keluarga yang biasa makan sendiri-sendiri. Selain itu, Anda juga dapat mengecek menu makan anak tanpa mereka merasa dipaksa. Sebab, apa yang ada di meja makan, bukan hanya untuk anak, tapi juga untuk Anda.

Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa anak-anak yang rutin makan bersama keluarga cenderung menyukai buah, sayuran, dan biji-bijian, tidak menyukai camilan yang tidak sehat, antirokok, dan tidak minum alkohol.

Keuntungan lain dari makan bersama adalah kemudahan memperkenalkan menu-menu baru pada anak. Dari responsnya, Anda bisa segera tahu mana makanan yang mereka sukai dan mana yang tidak.

Makan bersama juga tetap dapat diterapkan meskipun anak sudah menginjak usia remaja. Walaupun tugas ini lebih sulit – usia remaja biasanya identik dengan perilaku yang tidak suka diatur – tetap saja Anda perlu mencari waktu untuk membimbing mereka. Saat paling tepat untuk berbagi dan mendengarkan curahan hati remaja adalah pada saat makan bersama. Untuk mengajak mereka makan bersama, cobalah kiat ini:

  • Tidak melarang anak membawa temannya untuk ikut makan malam.
  • Libatkan mereka dalam perencanaan dan persiapan makanan.
  • Jaga suasana makan yang tenang dan bersahabat – jangan menggurui atau mengomel.
  • Makan bersama bisa dilakukan pada waktu malam – saat semua orang sudah tiba di rumah. Tapi, Anda juga dapat melakukannya pada pagi atau siang hari di akhir pekan.


Add comment April 15, 2008

Kurangi Junkfood Sekarang

Kurangi Junkfood Sekarang !

Oleh Kompas Cyber Media

Cheese burger dan piza memang nikmat. Tanpa kita sadari inilah yang jadi makanan kita setiap hari. Padahal, dua jenis makanan ini, dan junk food lainnya, sangat berbahaya untuk kesehatan kita.

Kita pasti pernah berada dalam kondisi ini: lagi iseng jalan-jalan di mal, perut lapar, pilihan langsung jatuh pada paket hemat yang terdiri atas ayam goreng dan minuman soda. Sedang ada acara ngumpul di rumah, untuk konsumsinya kita pesan satu piza ukuran family. Di lain waktu, kita nonton bareng pacar. Sebelum masuk bioskop kita beli dulu cokelat plus minuman soda. And saat nonton VCD kita ditemani sekantong keripik kentang. Lagi iseng nunggu bus atau habis berolahraga, yang diambil bukan air putih melainkan minuman bersoda.

Kalau pola makan kita seperti ini terus lama-lama berbahaya, lho. Karena makanan yang masuk ke dalam perut kita itu bisa digolongkan sebagai junk food.

Junk food adalah kata lain untuk makan yang jumlah kandungan nutrisinya terbatas. Umumnya nih yang termasuk dalam golongan junk food adalah makanan yang kandungan garam, gula, lemak, dan kalorinya tinggi, tetapi kandungan gizinya sedikit. Yang paling gampang masuk dalam jenis ini adalah keripik kentang yang mengandung garam, permen, semua dessert manis, makanan fast food yang digoreng, dan minuman soda atau minuman berkarbonasi. Biasanya di makanan yang punya label junk food ini kandungan vitamin, protein, atau mineralnya sangat sedikit. Padahal, semua itu sangat dibutuhkan untuk kesehatan tubuh kita.

Kebiasaan kecil

  • Enggak bisa dimungkiri, hidup kita dikelilingi oleh junk food. Perhatikan deh kalau kita lagi jalan ke mal. Lirik ke kiri ada gerai fried chicken, lirik ke kanan ada gerai piza. Terus naik eskalator begitu sampai sudah disambut oleh gerai es krim. Betul-betul penuh godaan.

Sejak kecil pun kita sudah selalu diperkenalkan dengan junk food. Walau dilarang ortu, siapa sih yang tahan dengan godaan makanan ringan berbungkus warna-warni itu. Belum lagi mi instan nan menggugah selera.

“Aku tuh waktu kecil sampai SMP senang banget makan snack semacam Chiki. Sehari bisa satu bungkus. Tetapi sekarang sih walau suka sudah dikurangi,” cerita Ocha, siswa kelas 3 SMA St Ursula, Jakarta. “Aku juga sejak SD suka banget snack seperti itu. Tetapi, setelah gede, udah tahu efeknya, jadi ya dikurangin,” ujar Melody semangat. Walaupun tahu bahayanya, sampai sekarang Melody masih enggak tahan dengan godaan mi instan. “Kalau lagi di rumah, aku suka juga makan mi instan. Apalagi kalau lagi enggak ada makanan. Kebetulan (mi instan) selalu tersedia (di rumah), ya udah dimakan,” ungkap Melody.

Junk food mengandung banyak sodium, saturated fat, dan kolesterol. Bila dalam tubuh jumlah ini banyak, maka akan menimbulkan banyak penyakit. Dari penyakit ringan sampai penyakit berat macam darah tinggi, stroke, jantung, dan kanker.

Dulu nih, penyakit-penyakit “horor” itu hanya diderita oleh orang-orang tua yang umurnya di atas 40 tahun. Tetapi, semakin tahun, penderita penyakit nakutin ini semakin muda saja umurnya. Kalau kita enggak menjaga diri, bukan enggak mungkin dalam waktu lima sampai sepuluh tahun ke depan, kitalah si penderita itu.

“Aku kapok minum minuman bersoda. Dulu sih doyan banget. Sehari bisa dua sampai tiga kali. Apalagi kalau haus di sekolah, ya udah beli aja. Tetapi, karena kebanyakan, lambungku jadi sakit. Waktu diperiksa ke dokter, disangka usus buntu. Setelah diperiksa ulang ternyata lambungku kebanyakan soda,” cerita Melody yang sekarang lebih memilih minum air mineral untuk menghilangkan hausnya.

“Aku sih enggak suka makan snack seperti itu sekarang. Waktu masih kecil sih pernah suka, tetapi karena dilarang nyokap, sekarang enggak suka lagi. Lagian kalau kebanyakan makan snack itu bikin batuk,” cerita Claudia yang lebih memilih bawa bekal dari rumah biar enggak tergoda jajan. Wah, boleh juga tuh idenya.

Kenapa berbahaya ?

  • Kenapa juga ya, sodium, satured fat, dan koleksterol itu berbahaya ?

Sodium banyak ditemukan pada makanan yang kita makan dan minum. Sodium adalah bagian dari garam. Banyak lho makanan kemasan atau kalengan itu berkadar sodium tinggi. Sodium banyak terdapat pada french fries (apalagi kalau kita senang yang memakai shakers), ayam goreng, burger, cheese burger, bologna, piza, segala jenis snack, keripik kentang, dan mi instan. Sayuran dalam kaleng dan kadang-kadang juga keju mengandung zat ini. Beberapa penyedap, seperti soy sauce (biasanya disediakan di resto Jepang atau Asia Timur), garlic salt, dan onion salt. Eh, kalau kita makan warung bakso atau bakso pinggir jalan, garam meja yang disediakan pun mengandung sodium, lho.

Sodium enggak boleh kebanyakan ada dalam tubuh kita. Untuk ukuran orang dewasa, sodium yang aman jumlahnya enggak boleh lebih dari 3300 miligram. Ini sama dengan 1 3/5 sendok teh. Bila sodium terlalu banyak dapat meningkatkan aliran dan tekanan darah sehingga bisa membuat tekanan darah tinggi. Tekanan darah yang tinggi juga akan berpengaruh munculnya gangguan ginjal, penyakit jantung, dan stroke. Iiih serem ya.

Satured fat berbahaya buat tubuh karena zat ini merangsang hati kita memproduksi banyak kolesterol. Kolesterol sendiri didapat dengan dua cara nih. Ada yang dihasilkan oleh tubuh dan ada yang berasal dari produk hewan yang kita makan. Sebenarnya nih, kita enggak perlu menambahkan kolesterol masuk dalam tubuh karena tubuh kita sudah menghasilkan sendiri kolesterol.

Kolesterol banyak terdapat dalam daging, daging ayam, ikan, telur, butter, susu, dan keju. Sayuran, buah-buahan, dan biji-bijian sama sekali enggak mengandung kolesterol.

Bila jumlahnya banyak, kolesterol dapat menutup saluran darah dan oksigen yang seharusnya mengalir ke seluruh tubuh. Waah, ini bahaya banget kalau sampai aliran darah dan oksigen yang masuk ke otak mampat. Oh ya, tingginya jumlah satured fat akan menimbulkan kanker, terutama kanker usus dan kanker payudara. Kanker payudara merupakan pembunuh terbesar setelah kanker usus. Lemak dari daging, susu, dan produk-produk susu merupakan sumber utama dari satured fat ini.

Selain itu, beberapa junk food juga mengandung banyak gula. Gula, terutama gula buatan, enggak baik untuk kesehatan karena bisa menyebabkan penyakit gula atau diabetes, kerusakan gigi, dan obesitas. Minuman bersoda, cake, dan cookies mengandung banyak gula dan sangat sedikit vitamin serta mineralnya. Minuman bersoda mengandung paling banyak gula. Paling enggak satu kaleng minuman bersoda mengandung sembilan sendok teh gula. Padahal, kebutuhan gula dalam tubuh kita enggak boleh lebih dari empat gram atau satu sendok teh sehari. Bayangkan kalau kita minum minuman bersoda dua sampai tiga kaleng sehari. Betapa banyaknya gula yang menumpuk di dalam tubuh! Parahnya lagi, minuman bersoda enggak hanya mengandung banyak gula, tetapi juga mengandung kafein dan zat-zat adiktif lainnya.

Porsi kecil

  • Ada banyak cara untuk mengurangi makanan junk food.

Pertama nih, biasakan sarapan dan makan di rumah. Percaya deh makanan rumah lebih sehat dan bergizi. Jadi, sebelum berangkat sekolah, usahakan sarapan. Begitu pun kalau mau berangkat main. Mending makan dulu, deh. Jadi, begitu sampai di tempat gaul perut kita tidak terlalu kosong. Sehingga keinginan untuk ngemil pun bisa sedikit berkurang.

Kedua, enggak ada salahnya juga sesekali kita melihat kandungan yang ada dalam makanan yang kita beli. Misalnya nih kita membeli satu kantong keripik kentang. Coba lihat di bagian belakangnya pasti ada boks yang menjembrengkan nutrition fact atau kandungan dari makanan itu. Nah, dari situ kita bisa lihat apakah makanan itu sehat atau enggak.

Lihat jumlah gram fat atau lemaknya. Untuk setiap 5 gram lemak dalam makanan itu sama dengan satu sendok makan. Misalnya nih sebuah makanan tertulis memiliki 23 gram itu. Artinya makanan itu mengandung 4,5 sendok makan lemak. Sementara lemak minimal yang baik diserap tubuh adalah 30 persen dari total kalori. Ini bukan berarti kita harus antilemak. Karena lemak itu tetap berguna buat tubuh, tetapi jumlahnya memang enggak boleh banyak. Setelah itu lihat juga jumlah sodium. Beberapa makanan, seperti daging merah, memiliki kandungan sodium yang tinggi.

Ketiga, ambil porsi kecil. Kalau sudah enggak tahan pengin makan junk food, kita bisa meminimalisasi dengan mencicipinya dalam porsi kecil. Misalnya nih, dalam satu paket hemat ada dua ayam, maka lebih baik jika kita bagi berdua dengan teman. Kalau kita membeli es krim, minuman soda atau menu yang lain, pilih juga yang ukuran small atau regular. Oh ya jangan juga tergoda dengan topping atau bumbu tambahan. Ini akan menambah kandungan kalori dalam makanan kita.

Keempat, minum air putih sebanyak-banyaknya. Idealnya kita minum delapan gelas sehari. Kalau bisa sih lebih. Air putih membantu proses pembuangan dalam tubuh kita. Semua racun-racun yang ada dalam tubuh akan lebih mudah dikeluarkan kalau kita rajin minum air putih.

Kelima, banyak sayuran dan buah-buahan. Dua jenis makanan ini tinggi kadar seratnya. Sangat bagus untuk mengimbangi tubuh kita yang sudah kemasukan junk food. Selalu membawa buah-buahan di dalam tas bisa kita jadikan kebiasaan yang bagus tuh. Begitu lapar, kita bisa langsung ngunyah buah. Pilih buah-buahan yang gampang dibawa (enggak perlu dikupas), seperti apel, pir, tomat, pisang, jeruk, anggur, atau strawbery.

Keenam, olahraga teratur. Paling tidak dalam seminggu tiga kali, per harinya sekitar setengah sampai satu jam. Aktivitas tersebut dapat membantu membakar kalori dalam tubuh. Pilihan olahraga sih bebas-bebas saja. Sesuaikan dengan kegemaran kita. Jalan kaki selama setengah jam lebih baik daripada cuma nonton di depan teve.

Setelah mengurangi junk food, kita bisa masuk ke tahap berikutnya. Gaya hidup sehat enggak susah kok. Yang penting kita mengimbangi apa yang masuk dalam tubuh. Yang terutama nih, kita harus banyak-banyak mengonsumsi serat. Serat ini banyak terdapat dalam sayuran, buah-buahan, dan biji-bijian. Idealnya kita mengonsumsi 3-5 porsi sayuran. Sementara buah-buahan kita baiknya mengonsumsi 204 porsi. Buah-buahan sangat baik untuk menyediakan vitamin, terutama vitamin C, yang membantu stamina tubuh biar enggak cepat sakit. Bete enggak sih kalau kena hujan sedikit sudah pilek. Atau capek sedikit sudah langsung pusing.

Sumber vitamin C paling banyak ada di jeruk, strawbery, dan semangka. Buah juga sumber karbohidrat, lho. Karena kita masih tumbuh jangan anti juga sama susu dan produk susu lainnya, seperti keju atau yogurt. Jenis tersebut menyediakan kalsium yang cukup buat kita. Kalau kurang kalsium pun gawat, lho. Kita bisa kena osteoporosis atau tulang rapuh. Paling enggak sehari kita mengonsumsi dua sampai tiga porsi golongan ini. Daging-dagingan perlu dikonsumsi juga. Jumlahnya enggak banyak, hanya sekitar dua sampai tiga porsi sehari.

Gimana? Enggak susah kan? Mungkin dalam waktu dekat godaan untuk makan junk food masih besar. Tetapi, pelan- pelan bisa kita kurangi kok. Kesehatan badan lebih penting daripada kenikmatan lidah, kan? * (Muti Siahaan Tim MUDA)

2 comments April 15, 2008

Kebiasaan Makan Mencontoh Orangtua

Kebiasaan Makan Balita Mencontoh Orangtua

Masa mengeluhkan balita yang tidak mau makan sayur atau buah-buahan semestinya sudah lama lewat. Pasalnya, anak-anak dapat dibiasakan mengonsumsi makanan sehat bila mereka melihat orang tuanya melakukan hal yang sama setiap hari. Jadi, cara terbaik untuk mendorong kebiasaan makanan sehat adalah dengan memberi contoh pada mereka.

Cara lainnya agar anak-anak mengikuti perilaku kita di meja makan adalah membatasi porsi makan dan tidak makan berlebihan. Bicarakan tentang perasaan kita apabila kekenyangan, terutama pada anak yang lebih kecil. Misalnya, dengan mengatakan, “Enak sekali ya masakannya. Tapi, Mama sudah kenyang. Jadi Mama udahan dulu makannya.” Sebaliknya dengan contoh yang positif, kebiasaan negatif seperti diet ketat atau mengeluh tentang bentuk tubuh di hadapan balita kita dapat membuahkan perasaan yang sama pada mereka.

Bukannya bernafsu makan, jangan-jangan anak-anak juga menghindari nasi hanya karena ibunya puasa nasi pada saat diet. Maka itu, cobalah melakukan pendekatan positif jika menyangkut makanan. Anak-anaklah yang sebaiknya menentukan apakah mereka lapar, apa yang mereka mau makan dari masakan yang disajikan, dan kapan mereka kenyang, sementara orangtua mengatur makanan apa yang tersedia untuk mereka. Untuk mempermudah tugas Anda, ikuti petunjuk berikut:

  • Jangan memaksa anak menghabiskan isi piring mereka. Dengan melakukannya, anak-anak akan mengesampingkan perasaan kenyang.
  • Jangan menyuap atau menghadiahkan anak dengan makanan. Hindari menggunakan makanan penutup sebagai hadiah untuk memakan makanan utama.
  • Jangan gunakan makanan untuk menunjukkan perasaan sayang. Apabila kita mau menunjukkan rasa sayang, peluk atau pujilah mereka sesekali. Biarkan mereka terlibat dalam perencanaan menu, entah itu untuk bekal makanan mereka di sekolah, atau untuk makan malam. Diskusikan bagaimana caranya membuat pilihan dan merencanakan makanan yang seimbang. Bila perlu, ajak ia membantu berbelanja dan memasak. Dengan melibatkan anak, Anda telah menyiapkan mereka untuk belajar mengambil keputusan yang baik tentang makanan pilihan mereka.
  • Saat di toko, ajari anak untuk melihat label makanan dan uraikan nilai-nilai gizi yang terkandung di dalamnya. Saat di dapur, pilihkan tugas yang sesuai dengan umur mereka. Usai makan, jangan lupa memuji si koki cilik.

Add comment April 15, 2008

Previous Posts


Dapurku..

Jurnalku

Blog Aku Yang Lain

Fave Link

Pembaca Terhormat Saya Bukan Dokter

Artikel-artikel ini hanya untuk keperluan saya pribadi dari hasil browsing sana dan sini dan untuk referensi saya sendiri dalam mengasuh anak saya. jangan dijadikan patokan yaaaa

Quote Of The Day

Ayo tanam pohon, 1 orang 1 pohon.. yang sudah tanam pohon lapor yaaaa...

Anda Pengunjung Ke :

Page Rank

Tulisan Teratas

Kalendar

November 2009
S S R K J S M
« Okt    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Kategori Awan

ANTIBIOTIK ASI BATUK PILEK BB TB dan GC DEMAM GIGI ANAK HEADLINE NEWS IMUNISASI KEHAMILAN KESEHATAN KESEHATAN ANAK MAINAN ANAK MPASI NEW BORN PARENTING PENDIDIKAN ANAK PERILAKU BAYI DAN ANAK POLA ASUH POLA MAKAN PROBLEM MAKAN PSIKOLOGI BAYI DAN ANAK RESEP STIMULASI BAYI SUSU SAPI TAHAPAN BICARA TAHAPAN PERKEMBANGAN TATA LAKSANA PENYAKIT TEMPER TANTRUM TUMBUH KEMBANG Uncategorized

Kategori

Arsip

Tulisan Terakhir

Komentar Terakhir

mira di Minum Susu Justru Sebabkan…
PEPPY di Variasi Menu 1 Tahun Ke A…
redy di Hernia pada balita
adi di Cara Memperbanyak ASI
dewhie di Tanda Dan gejala awal keh…

Klik tertinggi

Top Rated

Facebook ku…

YMku Online Ga Ya?

My Son Birthday

Lilypie

My Honey

Image019

Image017

Image016

Image015

Image013z

Image013

Image012z

More Photos

Isi Buku Tamu ya..