Asah Asih Asuh

Asah Asih Asuh Pola Pembentuk Karakter

Orangtua mana yang tak senang melihat buah hati yang dinantikan sembilan bulan lamanya, tumbuh sempurna.Tak hanya asupan nutrisi, pola asuh yang baik turut menentukan perkembangan fisik dan mentalnya di kemudian hari.ASAH, asih, asuh. Para ibu mungkin familier dengan istilah ini. Namun, apakah Ibu yakin sudah menerapkannya kepada putra-putri Ibu? Cinta dan kasih sayang disebut juga dengan asih; berbagai stimulasi yang ibu berikan dikategorikan sebagai asah; sedangkan pemenuhan kebutuhan dasar pangan, sandang, papan, dan kesehatan merupakan bagian dari asuh.

Setiap anak membutuhkan cinta, perhatian dan kasih sayang yang akan berdampak terhadap perkembangan fisik, mental, dan emosionalnya. ”Kasih sayang dari kedua orangtuanya ini merupakan fondasi kehidupan bagi si anak dan menjadi modal utama rasa aman,terlebih ketika dia mengeksplor dunianya,” kata spesialis anak dari Yayasan Orangtua Peduli dr Purnamawati S Pujiarto Sp A(K).

Orangtua bisa mengungkapkan rasa cinta kasih melalui pelukan, sentuhan, belaian, senyuman, dukungan,mendengar keluh kesah dan celotehnya, serta meluangkan waktu bermain dengan si kecil. ”Bahkan, selama 6 bulan pertama, respons segera ketika bayi menangis, sangat besar artinya bagi perkembangan kepribadian dan emosionalnya,”ungkapnya.

Untuk menunjang tumbuh kembang dan proses belajar, anak harus terpenuhi kebutuhan dasarnya (asuh). Bawa bayi ke posyandu secara teratur untuk diperiksa kesehatannya dan dipantau tumbuh kembangnya. Lindungi mereka dengan imunisasi tepat waktu dan berikan ASI selama enam bulan. Pemberian stimulasi seperti berbicara, berkomunikasi, dan membaca juga tak kalah penting.

Beri stimulasi pada semua indra anak dan ajaklah bayi berbicara sesering mungkin,seperti ketika mengganti popok, menyusui dan memandikan sehingga otaknya senantiasa aktif. Penelitian membuktikan, anak yang kerap diajak bicara dan berkomunikasi secara intensif akan memiliki IQ lebih tinggi dan perbendaharaan kata yang lebih kaya. ”Stimulasi tidak harus mahal atau dalam bentuk sekolah. Daily life adalah sekolah yang ”sesungguhnya” di rumah. Misalkan saat ada kucing berkejaran,ibu berseru di depan anak: ’Lihat, ada kucing kejar-kejaran! Kenapa ya? Oh ternyata sedang rebutan makanan’,” sebut Purnamawati, mencontohkan.

Ketika anak ingin bermain, berikan mainan atau objek dari berbagai jenis, bentuk, warna, bunyi, tekstur, dan berat. Kegiatan interaktif seperti bermain ciluk ba, jalan-jalan keliling kompleks, bernyanyi, belanja, dan menyiram bunga bersama merupakan upaya stimulasi yang sangat baik. Selain itu, membaca juga penting untuk membentuk perbendaharaan kata, menstimulasi imajinasi, dan meningkatkan kemampuan bahasa si anak.

”Stimulasi hendaknya disesuaikan perkembangan usia. Ketika anak mulai belajar merangkak misalnya, jangan terlalu banyak dilarang sebab mereka juga butuh ruang untuk mengembangkan kekuatan ototnya, merangkak, merambat, dan berjalan. Kalau serbadilarang akibatnya dia menjadi anak yang tidak berani mencoba,” tuturnya. Contoh lainnya adalah ketika anak ingin membuka suatu kotak, tapi tampak kesulitan sering kali ibu tergerak ingin membantu.Jangan lakukan dan biarkan anak mencoba sendiri.

Kalau masih kesulitan,perlihatkan bagaimana cara membuka kotak itu lalu kembalikan kotak dalam keadaan tertutup agar anak bisa membukanya sendiri. Hal ini dapat melatih kemampuannya dalam berpikir dan menyelesaikan masalah. Ketiga unsur (asah, asih, dan asuh) yang dipaparkan di atas mungkin memiliki definisi dan kategori berbeda. Namun, dalam praktiknya ketiga unsur tersebut tidak berjalan sendirisendiri tapi saling berhubungan.

”Dalam pola pengasuhan, asah, asih, dan asuh itu saling terkait. Ketika menstimulasi, kita juga memberikan kasih sayang. Jadi, ketiganya ada dalam satu paket,” tandas Purnamawati. Sementara itu, psikolog dari Lembaga Psikologi Terapan UI Erfianne Cicilia Psi mengungkapkan, pola asuh orangtua juga tidak lepas dari pola asuh lingkungan, seperti pengasuh, kakek-nenek, dan saudara terdekat. Hal ini juga akan memengaruhi pembentukan karakter si anak.

Karakter setiap anak sebetulnya terbentuk sesuai genetik orangtuanya dan bersifat menetap sehingga harus diterima apa adanya. ”Perubahan karakter anak pada dasarnya bukan ’berubah’,melainkan ’melemah’ atau ’menguat’. Dalam hal ini lingkungan dan pola asuh orangtua memegang peranan penting. Karenanya, terapkan pola asuh sesuai karakter anak, berikan stimulasi, dan jadilah sahabat bagi anak,”ujarnya.

Kebiasaan yang Diturunkan

KULTUR dan latar belakang orangtua turut berpengaruh pada pola asuh yang diterapkan dalam keluarga. Orangtua juga perlu berhati-hati, sebab segala tindak tanduk dan perilakunya bisa dicontoh oleh si anak. Artinya, pola asuh sifatnya bisa menurun (intergenerational transmission).

”Kalau kita biasa diasuh dengan kehalusan, diajak ngomong dan diberi pemahaman secara baik-baik pasti akan menurun pada anak kita. Sebaliknya, kalau orangtua sudah terbiasa dengan kekerasan seperti main tampar, cubit dan pecut tanpa sadar anak juga akan berbuat seperti itu,” kata psikiater dari Klinik Mutiara Hatiku Ika Widyawati MD. Dia mencontohkan,ada anak yang bercerita pada neneknya bahwa ayahnya suka memukul, lalu si anak berkata, ’Kapankapan aku ingin memukul ayah kalau dia lagi tidur’.”Itu adalah suatu bentuk dendam dan seharusnya tidak terjadi, apalagi kalau dendamnya terbawa sampai besar,”ujarnya.

Dia menambahkan bahwa pola asuh itu sifatnya prinsipiil. Jadi sebenarnya tidak ada pola asuh yang salah, sebab pada dasarnya tidak ada orangtua yang ingin menjerumuskan anaknya. Hanya, cara mengasuhnya itu yang terkadang salah,misalkan dengan kekerasan.

”Dalam mendidik anak, orangtua harus tegas dan konsisten.Pastikan tidak melakukan abusive atau kekerasan, baik secara fisik maupun verbal, apalagi kekerasan seksual,” tegas wanita yang juga mengepalai Infant Mental Health di FKUI/RSCM ini. Sebagai orangtua harus sadar dalam mengajar anak karena sering kali terlalu emosi.Ada yang mengatakan bahwa orangtua itu bukan guru yang baik bagi anaknya sendiri.

Artinya, kalau mengajar anak orang lain sampai ratusan pun masih bisa diasuhnya, tapi saat mengajar anak sendiri kadang bisa sampai naik darah. Kenapa demikian? Sebab,orangtua penuh harapan terhadap si anak dan terkadang berlebihan. ”Sejak dalam kandungan, orangtua sudah punya bayangan tentang ’the fantastic child’ dan kenyataannya sering kali tidak sama dengan ’the real child’- nya.

Karena itu ketika anak jadi ’biang kerok’ belum apa-apa orangtua sudah mengamuk duluan. Anak pulang membawa hasil ulangan yang jeblok, orangtua sudah nyolot saja. Padahal, seharusnya ditanya dan diteliti dulu kenapa si anak mendapat nilai jelek,siapa tahu dia sedang sakit,”saran Ika. Reward positif dan konsistensi dalam mendidik juga diperlukan, antara lain untuk mendisiplinkan dan memacu anak berbuat lebih baik lagi.

Jadi, bukan hukuman (punishment) yang ditonjolkan,melainkan rewardatau hadiahnya,baik berupa pujian, makanan kecil atau kue. ”Yang penting anak dibiasakan bahwa kalau dia berusaha, maka dia akan mendapatkan sesuatu,tapi bukan berarti kalau dia tidak bisa, dia akan dihukum,”tandasnya.

Adu Pendapat Bukan Berantem

ARTIS Soraya Haque berpendapat bahwa pola asah asih asuh itu sifatnya sangat psikologis dan ini diterapkan antara lain dengan mengasah potensi anak melalui orangtua sebagai role model.

”Modelling atau percontohan itu dasar bentukannya dari rumah dan itu adalah tugas orangtua yang paling penting, yaitu memberi contoh yang baik,” ungkap wanita yang biasa disapa Aya ini. Dalam mengasuh ketiga putra-putrinya, kakak kandung artis Marissa Haque ini mengatakan bahwa prinsipnya adalah kasih sayang yang menjembatani pola pengasuhan itu.

Contoh sederhananya adalah mengajarkan anak bersahabat dengan alam dengan tidak merusak alam dan tidak menyakiti binatang. Cara orangtua melihat dan memandang masalah serta bagaimana mengambil keputusan juga kerap dicontoh anak. Aya tidak mempermasalahkan ketika dirinya dan sang suami (musisi Eki Soekarno) beradu pendapat atau berargumen di depan anakanaknya.

”Beradu pendapat tidak berarti berantem. Ini juga sebagai bentuk pembelajaran bagi anakanak bahwa berbeda pendapat itu adalah hal wajar. Kadang kami juga minta pendapat mereka apa sekiranya ada yang salah? Dan mereka pun mengemukakan pandangannya, misalkan ’mama kurang ini’ atau ’papa seharusnya gini’,” ungkap ibunda dari Valerie, Nadia dan Dalmiro ini.

Sebagai pasangan seniman, Aya dan Eki menginginkan anak-anaknya bisa berkecimpung atau setidaknya memiliki keterampilan di bidang seni, antara lain bermain piano. ”Hingga mereka berusia 12 tahun peraturan ditentukan oleh kami orangtuanya, antara lain mereka harus bisa bermain piano. Setelah itu di atas usia 12 tahun mereka sudah bisa berpikir dan menentukan sendiri apakah akan terus bermusik,” tutur Aya seraya menambahkan bahwa anakanaknya juga mempelajari bela diri dengan tujuan untuk menjaga diri m a u p u n berkompetisi. (inda susanti)

Sumber : Seputar Indonesia

Pola Asuh Yang Tepat

POLA ASUH TEPAT UNTUK SEMUA TIPE ANAK

Tipe kepribadian anak dapat juga dikenali dari ciri lainnya yaitu anak sulit, mudah, dan slow to warm up. Ciri ini melengkapi penggolongan kepribadian berdasarkan temperamen yang dikemukakan Hipocrates (460-375 SM), yakni phelgmatic, sanguine, choleric dan melankolis. Untuk itu dituntut kejelian orang tua agar pola asuh yang tepat bisa diterapkan tanpa hambatan berarti.

Semua orang tua mengharapkan anaknya kelak tumbuh menjadi manusia yang cerdas, bahagia, dan memiliki kepribadian yang baik. Namun, untuk mewujudkan harapan itu, tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Orang tua dituntut untuk jeli mengamati perkembangan anak dan tentunya menerapkan pola asuh yang tepat.

Sebagai langkah awal, Dra. Mayke S. Tedjasaputra, M.Si., dari Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia, menekankan pula perlunya mengenali kepribadian atau karakter anak. Agak berbeda dari teori sebelumnya yang mengatakan bahwa kepribadian anak dipengaruhi temperamen phelgmatic, sanguine, choleric dan melankolis, Mayke mengetengahkan penggolongan temperamen yang bersifat lebih umum. Orang tua diminta mengamati apakah anaknya tergolong berkepribadian sulit, mudah, atau slow to warm up. Ciri-ciri ketiga tipe temperamen tersebut menurut Mayke biasanya telah dapat
diamati semenjak anak masih bayi.

1. Tipe mudah

Ciri-cirinya:

* Memiliki suasana hati yang positif, cenderung tidak rewel.

* Dengan cepat dapat membentuk kebiasaan rutin yang teratur dan mudah menyesuaikan diri dengan pengalaman, situasi dan orang-orang baru.

* Memasuki usia prasekolah atau balita, anak tipe ini umumnya lebih mudah memahami penjelasan tentang perilaku yang diharapkan dari mereka.

2. Tipe sulit

Ciri-cirinya:

* Cenderung bereaksi secara negatif dan sering sekali menangis.

* Cenderung bereaksi negatif terhadap kegiatan rutin, sehingga memberikan kesan sangat sulit untuk hidup secara teratur (misalnya keteraturan dalam hal makan, tidur, mandi dan lainnya).

* Lamban dalam menerima pengalaman-pengalaman baru, sehingga penyesuaian diri dengan lingkungan, situasi, serta orang-orang di sekitarnya, dan makanan baru pun sulit.

* Memasuki usia prasekolah atau balita, si anak sangat sulit sekali bila diberi pengertian atau diberi penjelasan tentang perilaku apa yang tidak diharapkan dari mereka.

3. Tipe slow to warm up

Ciri-ciri:

* Memiliki ciri antara tipe sulit dan mudah.

* Tingkat aktivitasnya rendah.

* Cenderung menunjukkan suasana hati yang negatif (tetapi sedikit lebih baik daripada tipe sulit).

* Penyesuaian dirinya juga lamban dan suasana hati anak tipe ini cenderung rendah intensitasnya. Semasa bayi ia tidak terlalu rewel bila dibandingkan dengan tipe anak sulit. Lewat bujukan-bujukan akhirnya ia dapat ditenangkan.

* Memasuki usia prasekolah atau balita, anak tidak terlalu mudah saat diberi pengertian atau diberi penjelasan tentang apa yang diharapkan dari mereka dalam bertingkah laku. Dibutuhkan usaha yang cukup kuat dan sikap sabar dari orang tua dalam rangka mengajak anak bekerja sama.

JANGAN TERKECOH

Namun, Mayke mengingatkan, orang tua hendaknya jangan sampai terkecoh. Bisa jadi anak yang tenang dan jarang menangis disebabkan perkembangannya yang terlambat, misalnya pada anak yang mengalami keterbelakangan mental. Anak autis pun ada yang berpembawaan tenang. Namun harus diwaspadai, bisa jadi “ketenangan” anak disebabkan keasyikannya yang berlebihan dalam dunianya sendiri sehingga orang tua merasa tidak terganggu.

Bisa juga, ciri-ciri tipe sulit pada seorang anak sebetulnya merupakan bentuk dari gangguan perkembangan hiperaktif. Di usia bayi, anak-anak hiperaktif mempunyai ciri-ciri ketidakteraturan dalam hal tidur, makan, dan eliminasi (buang air) sehingga sulit untuk membiasakan suatu rutinitas pada mereka. Terkadang saat masih berada dalam kandungan, si bayi sudah menunjukkan hiperaktivitasnya dengan kerap melakukan gerakan berputar dan menendang keras-keras.

Bukan hanya kewaspadaan saja yang dibutuhkan dalam mengamati ciri-ciri anak, tetapi juga kepekaan orang tua. Orang tua yang tanggap akan segera memberikan respons ketika anaknya membutuhkan bantuan atau perhatiannya dan tidak akan menunggu sampai anaknya mengamuk atau menangis. Misalnya kebutuhan untuk didekap, untuk ditemani, dan untuk ditenangkan di kala ia merasa takut.

POLA ASUH YANG TEPAT

Pada prinsipnya untuk ketiga tipe anak yang telah disebutkan di atas, pola pengasuhan yang tepat adalah authoritative (demokratis). Yang dimaksud dengan pengasuhan authoritative adalah pola pengasuhan di mana orang tua mendorong anak untuk menjadi mandiri, tetapi tetap memberikan batasan-batasan (aturan) serta mengontrol perilaku anak. Orang tua bersikap hangat, mengasuh dengan penuh kasih sayang serta penuh perhatian. Orang tua juga mem-berikan ruang kepada anak untuk membicarakan apa yang mereka inginkan atau harapkan dari orang tuanya.

Jadi, orang tua tidak secara sepihak memutuskan berdasarkan keinginannya sendiri. Sebaliknya, orang tua juga tidak begitu saja menyerah pada keinginan anak. Ada negosiasi antara orang tua dengan anak sehingga dapat dicapai kesepakatan bersama. Misalnya, bila anak batita memaksakan keinginannya untuk menggunting baju yang masih bisa dipakai. Orang tua dapat mengambil sikap dengan tetap tidak mengizinkannya menggunting baju yang masih terpakai, tetapi memberikan kain perca atau baju lain yang sudah tidak layak pakai. Oleh karena itu, dibutuhkan kepekaan, kesabaran, dan kreativitas orang tua.

Menurut Mayke, dalam pengasuhan authoritative tetap harus ditegakkan aturan main mengenai apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh anak. Bila anak balita tidak diberikan batasan ini, maka dia tidak tahu peraturan yang berlaku dan tidak memiliki rambu-rambu yang bisa membatasi perilakunya. Kontrol orang tua juga diperlukan, bila aturan telah ditetapkan, maka orang tua tetap harus memantau sejauh mana aturan itu bisa berjalan. Jangan sampai tanpa sepengetahuan orang tua, anak berhasil melanggar aturan main (misalnya karena dia diasuh oleh orang lain).

Dengan meningkatnya usia anak ke tahap sekolah dasar, maka peraturan tidak sepenuhnya ditetapkan oleh orang tua, melainkan dibicarakan bersama anak. Pemantauan (kontrol) tetap diperlukan, sekalipun tidak dalam jarak dekat seperti sebelumnya. Misalnya, orang tua selalu memantau dengan siapa anak bermain, apa saja kegiatan yang dia lakukan bersama dengan teman-temannya di luar rumah. Tentu saja semua itu bukan dengan maksud untuk memata-matai aktivitas mereka.

Utami Sri Rahayu. Foto: Ferdi/nakita

KONDISI YANG TAK DAPAT DIHINDARI

POLA pengasuhan authoritative memang yang paling ideal, tetapi mungkin adakalanya orang tua tak mampu menerapkan pola ini dengan sepenuhnya. Terutama pada saat emosi orang tua sedang tidak stabil. Saat mengalami kondisi emosi negatif, orang tua cenderung bersikap lebih otoriter terhadap anak. Atau, bisa jadi saat sedang merasa senang karena bisnisnya berhasil, orang tua cenderung bersikap agak permisif terhadap anaknya.

Kondisi ini, menurut Mayke, masih manusiawi karena memang emosi manusia cenderung naik turun. “Yang penting, sikap orang tua masih dalam situasi terkontrol, maksudnya segera menyadari dan kembali pada rambu-rambu yang telah ditetapkan,” tambahnya.

Namun, ada kemungkinan dalam kondisi tertentu orang tua memang harus bersikap tegas bila berhubungan dengan keselamatan jiwa anak atau orang lain. Misalnya ketika anak ingin bermain kabel yang dialiri listrik. Bila hal ini didiamkan, tentu dapat membahayakan jiwanya. Mau tidak mau orang tua harus bersikap otoriter. Katakan, tidak kepada si anak bahwa hal itu tidak boleh dilakukannya.

Selanjutnya, untuk tidak mematahkan semangat atau keinginan anak bereksplorasi, carikan alternatif. Misalnya, berikan kabel lain yang tidak berhubungan dengan listrik. Jangan lupa, berikan alasan kenapa bermain kabel yang tertancap ke stop kontak dilarang.

Pada saat anak sedang sakit pun, pola pengasuhan demokratis tidak dapat diterapkan sepenuhnya. Pertimbangan kesehatan anak menjadi yang utama. Untuk itu, orang tua hendaknya memperhatikan seberapa berat dampak yang bakal ditimbulkan bila tetap menerapkan pola pengasuhan seperti biasa.

Khusus untuk anak bertipe sulit dan slow to warm up, memang dibutuhkan ketahanan fisik, kesiiapan mental dan kedewasaan orang tua. Selama mengasuh anak-anak dengan temperamen yang cenderung menyulitkan itu. Berarti orang tua harus lebih keras dalam berupaya.

SYARAT POLA ASUH AUTHORITATIVE

INILAH beberapa hal yang patut mendapat perhatian dalam menerapkan pola asuh authoritative:

1. Utamakan kehangatan atau kasih sayang yang mendalam. Kehangatan menjadi sangat penting karena tanpa adanya hal itu penerapan pola asuh authoritative semakin tidak gampang, terutama pada anak-anak yang tergolong sulit dan slow to warm up. Kehangatan akan lebih menenangkan hati anak dengan kedua tipe temperamen ini sehingga kadar emosi negatifnya menurun. Wujud kehangatan pada anak usia batita dapat dilakukan melalui pelukan yang erat, sering mengajaknya bermain, bercerita, dan berbicara dengan lemah lembut.

2. Saat memberlakukan batasan, orang tua harus tegas dan tegar (konsisten), sehingga anak akhirnya belajar bahwa orang tuanya tidak main-main dengan aturan yang sudah ditetapkan.

3. Orang tua tidak boleh memaksakan kehendaknya. Ada rambu-rambu yang harus ditaati oleh orang tua dan anak. Selama masih menginjak usia batita, bila anak menolak rambu-rambu yang ditetapkan, maka ia jangan dipaksa mematuhinya. Cobalah cari alternatifnya dengan memakai penjelasan berbeda.

Namun anak-anak usia sekolah umumnya sudah dapat diajak berbicara atau berdiskusi tentang rambu-rambu ini, sehingga penerapannya menjadi lebih mudah. Hendaknya orang tua sudah mempersiapkan alasan-alasan yang dapat diterima anak, yaitu alasan yang tidak terlalu mengada-ada.

4. Dalam mengasuh dan membesarkan anak yang termasuk mudah, Mayke mengingatkan agar jangan sampai orang tua malah mengabaikannya. Hal ini umumnya sering terjadi pada orang tua yang memiliki anak-anak dengan dua tipe berbeda, misalnya yang satu termasuk tipe sulit dan yang lain mudah. Ayah atau ibu lantas lebih memperhatikan anak yang sulit dan selalu berusaha “memenangkannya”.

Tindakan ini, tidak hanya akan membahayakan anak dengan tipe mudah, tapi juga yang bertipe sulit. Anak tipe mudah akan mengalami frustrasi karena merasa selalu dikalahkan dan beralih menjadi anak yang bermasalah. Sedangkan, anak dengan tipe sulit juga menjadi anak yang tidak mampu mengelola rasa frustrasi atau rasa kecewanya kala tidak mendapatkan sesuatu karena selalu dilindungi.

Lingkungan Tidak Mendukung

JIKA LINGKUNGAN TIDAK MENDUKUNG

Pola asuh yang baik sulit berjalan efektif bila tidak didukung lingkungan. Namun, kelekatan anak-orang tua dapat meminimalkan pengaruh negatif lingkungan.

Pola asuh yang baik tak hanya datang dari orang tua. Lingkungan sekitar, seperti pengasuh, kakek-nenek, kerabat dekat, tetangga, dan juga sekolah, semua harus sejalan. Soalnya, seperti yang diutarakan Dra. Psi. Tisna Chandra, pola asuh yang berbeda satu sama lain akan membuat hasil yang dicapai tidak maksimal, bahkan bisa berantakan.

Beberapa faktor yang dapat membuat pola asuh tidak maksimal datang dari lingkungan yang sangat dekat dengan anak. Berikut yang djabarkan psikolog dari Spectrum Treatment and Education Center, Bintaro, Banten:

PENGASUH

Pengasuh sebetulnya bisa menjadi “kepanjangan tangan” orang tua yang cukup efektif, tetapi karena misi orang tua dan pengasuh pada dasarnya berbeda yang terjadi justru bisa sebaliknya. Misi orang tua dalam mengasuh adalah mengoptimalkan tumbuh kembang anak, sedangkan pengasuh bisa saja bekerja semata-mata untuk mendapatkan gaji.

Pola asuh menjadi terganggu jika pengasuh menunjukkan
sikap:

* Inkonsistensi

Sikap tidak konsisten terjadi kala pengasuh melakukan penyimpangan terhadap aturan atau disiplin yang sudah diterapkan orang tua. Misalnya, orang tua melarang anak keseringan nonton teve tetapi pengasuh membiarkan hal itu terjadi karena ia sendiri gemar nonton teve. Akhirnya anak ikut-ikutan menyaksikan berbagai tayangan teve dan lupa beristirahat. Ketidakkonsistenan ini akan membuat anak berpikir, kenapa orang tua melarangnya menonton teve sedangkan pengasuh membolehkannya.

Anak pun bisa beranggapan orang tuanya tidak adil karena ia merasa pengasuhnya diizinkan menonton sedangkan dia tidak. “Di usia ini, pola pikir anak cenderung memilih mana yang lebih enak untuknya. Bila nonton teve sepanjang hari merupakan hal yang menyenangkan maka anak akan memilih hal itu meski pada dasarnya dia tahu kalau hal itu dilarang oleh orang tuanya,” kata Tisna. Bila dibiarkan, lama-lama anak ketagihan sampai akhirnya hal itu menjadi kebiasaan yang sulit dihilangkan.

Begitu juga dengan aturan lain. Umpamanya, anak harus makan di meja makan, cuci tangan sebelum makan, atau tidak jajan sembarangan. Ketika pengasuh kerap menunjukkan ketidakkonsistenan maka anak cenderung tidak mematuhi pola asuh orang tua yang seharusnya diterapkan.

* Otoritas Kurang

Ada anak yang merasa dirinya lebih berkuasa di rumah dibandingkan orang lain, termasuk pengasuhnya. Bila ia menyadari bahwa pengasuh hanya orang suruhan, tak mustahil dia akan membangkang terhadapnya. Malah, bisa-bisa anak merasa bahwa dialah “tuan atau nona” yang berhak memberi perintah. Contoh bisa datang dari orang tua yang sering memperlakukan pengasuh jauh dari sikap santun. Hal inilah yang membuat anak ikut-ikut tidak menaruh hormat dan patuh pada pengasuhnya.

* Ketidaksiapan Pengasuh

Bila anak menghabiskan hampir seluruh waktunya dengan pengasuh, sangat mungkin pengasuh tersebut akan menjadi model panutannya. Perilaku pengasuhnya yang suka membentak, mencubit, atau berkata tidak senonoh akan ditiru.

Belum lagi bila pengasuh sering meminta anak melakukan sesuatu dengan disertai ancaman. “Awas, kalau tidak mau makan nanti ditangkap polisi!” Pola asuh seperti ini jelas tidak mendidik karena anak akan melakukan perintah semata-mata karena didorong rasa takut. Akibatnya anak berkembang menjadi orang yang penakut. Untuk itulah perlunya menyeleksi pengasuh. Mana yang bisa diarahkan, mana yang mengetahui perkembangan anak, dan mana yang punya tata krama yang baik.

* Beda Budaya

Beda budaya bisa mendatangkan ketidakefektifan pola asuh. Anak yang berasal dari keluarga yang berbudaya santun dengan tutur kata halus, tentu bisa terpengaruh dengan perilaku pengasuhnya yang berasal dari daerah yang gaya bicaranya blak-blakan dan ceplas-ceplos. Namun, hal ini bukan faktor utama hanya dalam kasus-kasus tertentu saja.

* Overprotektif

Ada pengasuh yang menerima aturan dari orang tua sebagaimana adanya. Bahkan sangat berhati-hati karena takut jika menyimpang akan disalahkan. Kalau sudah begitu, yang muncul bukan pola asuh yang efektif, tapi malah overprotektif karena membuat anak jadi terkekang.

KAKEK-NENEK

Kakek dan nenek bisa saja membuat pola asuh menjadi tidak efektif, misalnya:

* Inkonsistensi

Berbeda dari pengasuh, sikap inkonsitensi kakek-nenek biasanya disebabkan rasa sayang mereka yang besar terhadap cucu. “Ada kan orang tua yang punya aturan bahwa anak sebaiknya tidak akan diberi mainan berupa games elektronik, tapi ketika anak berulang tahun kakek neneknya malah memberikan mainan tersebut,” cerita Tisna. Bukan berarti perhatian besar yang diberikan kakek dan nenek tadi salah lo. Namun perilaku tersebut bisa membuat penerapan pola asuh menjadi terganggu.

Kasus lain yang hampir sama sebenarnya cukup banyak ditemukan. Misalnya, karena tidak mendapat apa yang diinginkan dari orang tuanya, anak mendatangi kakek atau neneknya. Ia tahu kakek dan nenek pasti akan menuruti kemauannya berdasarkan pengalaman yang lalu.

* Hukuman Tidak Efektif

Seringkali, hukuman yang diberikan oleh kakek nenek tidak cukup efektif sehingga membuat pola asuh terganggu. Ketika si kecil belum mengerjakan PR misalnya, orang tua menghukum dengan tidak memberikan izin nonton teve. Namun kakek nenek, malah memberikan keleluasaan kepada anak untuk melakukan kesenangannya hanya agar si cucu tidak kesal.

PAMAN, TANTE

Di satu sisi, hidup berdampingan dengan keluarga besar, seperti paman, tante, dan kerabat lain, bisa membuat anak lebih mengenal banyak karakter manusia. Namun di sisi lain, ada pula hal negatif yang dapat mempengaruhi pola asuh orang tua terhadap anaknya, misalnya:

* Tidak Disiplin

Ketidakdisiplinan terkadang datang dari kerabat lain, misalnya om atau tante yang sering mengajak pergi anak tanpa seizin orang tuanya. Padahal di saat bersamaan anak harus melakukan kewajiban belajar, misalnya. Selain membuat kedisiplinan terganggu, “intervensi” om dan tante akan memberikan pemahaman kepada anak bahwa segala sesuatu bisa dilakukan sendiri tanpa harus minta izin orang tuanya. Tentu hal ini akan merusak tatanan pola asuh yang semestinya terpantau oleh orang tua.

* Inkonsistensi

Ketidakdisiplinan berhubungan erat dengan inkonsistensi pola asuh. Bila om atau tante sering membiarkan keponakannya melanggar aturan yang telah disepakati bersama kedua orang tuanya, kemungkinan anak pun akan melakukan hal lain yang sebenarnya tidak boleh dilakukan. “Enggak apa-apa minum es, Mama enggak tahu ini,” misalnya. Padahal, larangan minum es diberlakukan karena bisa memunculkan alerginya. Kemungkinan lain, anak akan tidak sepatuh sebelumnya terhadap berbagai aturan yang diterapkan padanya.

* Contoh Negatif

Hidup serumah bersama dengan kerabat lain terkadang memudahkan anak mendapat berbagai contoh perilaku. Nah, bila yang dicontoh adalah perilaku negatif, tentu jadinya merepotkan. Misalnya kalau ada sepupu yang suka berkata kasar, tak mustahil anak mengikutinya. Demikian pula dengan om atau tante yang kerap melontarkan kata-kata tidak senonoh. Meski mereka sekadar bercanda, tetap saja akan mengganggu pola asuh yang sudah dirintis oleh orang tua.

LINGKUNGAN RUMAH

Dari lingkungan sekitar rumah seperti tetangga, anak pun bisa mendapatkan pengalaman negatif yang sedikit banyak akan mempengaruhi keberlangsungan pola asuh orang tua terhadapnya.

* Membandingkan

Ketika anak menemukan perbedaan pola asuh, anak akan membandingkan, “Kok, temanku boleh minum es sedangkan aku tidak?” Bisa saja anak terpengaruh lalu protes kepada orang tua.

* Inkonsistensi

Jika anak mendapati toleransi yang berbeda di rumah temannya dari apa yang ditemuinya di rumah sendiri, tak mustahil ia akan kerap melanggar. Ia tahu bahwa ada keleluasaan lebih di rumah tetangganya, jadi mengapa di rumah ia tidak bisa seperti itu?

* Ikut-ikutan Berbohong

Banyak kan anak yang semula sangat santun dan jujur jadi sering berbohong, mencerca, berkata kasar, dan sebagainya karena mencontoh perilaku negatif teman. Betapapun baiknya pola asuh yang dilakukan, jika anak sering mendapat contoh yang tidak baik tentu akan membuat pola asuh menjadi kurang efektif.

LINGKUNGAN SEKOLAH

Sekolah umumnya tidak terlalu berpengaruh, tapi bisa jadi pola asuh menjadi berantakan karena faktor:

* Beda Peraturan

Sebaiknya rumah mengacu pada pola asuh yang diterapkan di sekolah karena umumnya sekolah mengajarkan kebaikan pada anak. Misalnya, guru di sekolah bilang bahwa anak tidak boleh berbicara selagi mengunyah makanan. Nah, kalau orang tua di rumah malah makan sambil berbicara, anak bisa bingung. “Di sekolah kok dilarang tapi mama dan papa melakukan,” contoh Tisna. Hal inilah yang membuat pola asuh menjadi tidak efektif.

* Pengaruh Teman Sekolah

Di sekolah, anak juga mengenal beragam perilaku negatif lain yang umumnya datang dari kalangan teman. Ketika anak melihat temannya suka menyontek, mencuri, usil, berbohong, dan sebagainya, tak mustahil anak akan meniru. Apalagi, pengaruh peer group di usia sekolah dasar mulai sangat kuat. Sehingga terkadang aturan-aturan orang tua bisa hilang begitu saja.

Kesimpulannya, memang sulit membentengi anak dari pengaruh lingkungan yang tidak mendukung pola asuh orang tua. Apa boleh buat, anak memang tidak mungkin dijaga agar selalu steril karena ia tetap butuh berinteraksi dengan lingkungannya. Lagi pula tak ada lingkungan yang bisa secara murni mendukung pola asuh orang tua.

Oleh karena itu, satu hal yang dapat kita lakukan agar anak dapat berkembang sesuai harapan orang tua yaitu menjaga kedekatan dengan anak. Lakukan dengan komunikasi yang tepat agar pola asuh yang kita terapkan mendapat tempat di hatinya. Kedekatan akan mendorong anak untuk lebih mengutamakan harapan orang tua dan memperbaiki perilakunya jika bertentangan dengan nilai-nilai yang diajarkan ayah dan ibunya.

Irfan Hasuki. Ilustrator: Pugoeh

sumber : NAKITA

Resep Komunikasi Efektif

RESEP KOMUNIKASI EFEKTIF

Agar komunikasi orang tua nyambung dengan anak, perhatikan kepribadian dan kematangan berpikirnya.

Komunikasi yang efektif penting dalam kehidupan berkeluarga. Tampaknya semua orang sudah tahu itu. Masalahnya, tidak semua orang memahami bagaimana resep berkomunikasi yang efektif antara ayah dan ibu serta orang tua dan anak. Menurut Roslina Verauli, M.Psi., psikolog dari Empati Development Centre, Jakarta, komunikasi efektif berkaitan erat dengan pola asuh orang tua. Ia kemudian “meminjam” enam tipe komunikasi yang dikemukakan F. Philip Rice yang dikaitkan dengan pola asuh,
yaitu:

1. Tipe terbuka

Tipe ini paling sehat. Antara anak dan orang tua terjalin komunikasi saling terbuka. Orang tua mau mendengarkan anak dan anak secara leluasa dapat bercerita, mengeskpresikan perasaan dan pikirannya serta berdiskusi dengan orang tua. Tipe komunikasi ini ada pada pola asuh demokratis atau authoritative. Umpamanya, saat kedua orang tua sedang berbicara, mereka membolehkan anak menanggapi dan menghargai pendapatnya, “Oh, kalau menurut pendapat Adek seperti itu, ya?”

2. Tipe permukaan

Komunikasi yang terjalin bukan pada hal-hal penting; tidak riil, tidak detail dan sekadar basa-basi saja sebatas permukaan. Contohnya, anak bertanya, “Mama, kenapa sedih?” Orang tua hanya menjawab, “Ah, enggak apa-apa. Mama baik-baik saja, kok.” Jadi di saat orang tua atau anak ingin menggali cerita lebih dalam, komunikasi tidak dapat terwujud karena tidak ada saling keterbukaan. Penyebabnya bisa perasaan takut mengecewakan, malu, dan sebagainya. Tipe ini biasanya ada pada pola asuh permisif atau indulgent.

3. Tipe mengabaikan (avoidance)

Masing-masing anggota keluarga saling menghindar sehingga tidak terjalin komunikasi. Hal ini bisa disebabkan hubungan orang tua yang tidak harmonis atau memang karena pribadi orang tua sendiri yang tidak terbuka terhadap anak, dan tidak peduli dengan kebutuhan komunikasi anak-orang tua. Tipe ini biasanya ada dalam pola asuh cuek atau neglectful. Sebenarnya tipe ini hampir sama dengan tipe permukaan. Hanya saja, pada tipe mengabaikan ini, cara bicara orang tua seringkali terbawa emosi. Misalnya orang tua bertanya dengan terburu-buru sambil hendak berangkat ke kantor. “Hai, sayang, apa kabar sekolahmu? Mama pergi dulu, ya.”

“Baik-baik aja tuh,” jawab anak.

“Kok, kamu menjawabnya seperti itu, sih? Mama kan tanya baik-baik.”

4. Tipe komunikasi salah

Biasanya terjadi pada pola asuh otoriter. Orang tua cenderung menuntut anak. Bila tidak sesuai dengan keinginan yang diharapkan, orang tua langsung marah-marah. Akibatnya anak selalu takut berbuat salah. Jadi ketimbang kena damprat, maka anak mengambil jalan aman dengan berbohong. Misalnya, “Tadi, aku di sekolah dapat pujian lo Pa.” Padahal mungkin saja kenyataannya tidak seperti itu. Anak selalu berusaha menceritakan yang bagus-bagus saja atau bicara seadanya. Contoh, “Bagaimana tadi di sekolah?”

“Baik kok, Ma,” tanggap anak.

Pola asuh seperti ini bisa membuat anak jadi tertutup pada orang tuanya.

5. Tipe komunikasi satu arah

Tipe komunikasi satu arah terjadi jika dalam keluarga hanya ada satu figur dominan dalam berkomunikasi. Entah ayah atau ibu. Ia yang menentukan kapan anak boleh bicara dan tidak. Misalnya, “Adek, nanti kalau sudah makan, buat PR….”

Jika anak menyela, “Tapi, kan Ma,…”

“Eit diam! Mama kan belum habis bicara. Dengarkan…”

Tipe komunikasi ini bisanya juga terdapat pada pola asuh yang otoriter.

6. Tipe tanpa ada komunikasi

Antaranggota keluarga jarang terjadi pembicaraan meskipun sebetulnya di antara mereka tidak ada konflik nyata. Misalnya, orang tua pulang kantor masuk kamar. Anak pun demikian, pulang sekolah langsung mengunci kamar. Akibatnya orang tua tidak tahu keadaan dan kebutuhan anak. Ketiadaan komunikasi ini juga ada pada tipe pola asuh neglectful.

DUA SYARAT LAIN

Nah, jika orang tua sudah menerapkan tipe komunikasi terbuka, tinggal 2 syarat lagi yang harus dipenuhi untuk dapat berkomunikasi efektif dengan anak. Pertama, orang tua mesti memahami kepribadian anak. Kedua, orang tua harus melihat kematangan berpikir anak. Jika kedua syarat tadi tidak dilakukan, jangan berharap komunikasi antara anak dan orang tua bisa nyambung. Yang terjadi, orang tua pun tidak tahu kebutuhan anaknya dan anak tidak tahu keinginan orang tuanya seperti apa.

PAHAMI KEPRIBADIAN ANAK

Sebagai petunjuk, salah satu yang mempengaruhi atau menentukan kepribadian anak yaitu temperamen. Ada 4 temperamen manusia menurut filsuf Yunani Hipocrates (460-375 SM), yakni phelgmatic, sanguine, choleric dan melankolis. Keempat temperamen ini ada pada diri setiap anak, hanya saja kadarnya berbeda-beda. Namun biasanya, ada satu temperamen yang paling menonjol dari keempatnya, seperti:

1. Tipe phelgmatic

Anak cenderung pendiam sekalipun dalam keadaan sakit, dia tidak banyak bicara. Anak tipe ini juga lebih banyak jadi pengamat dan bila mengerjakan sesuatu selalu tuntas. Terhadap anak dengan temperamen seperti ini, orang tua harus lebih proaktif untuk memancingnya bicara.

2. Tipe sanguine

Punya banyak teman dan sangat menonjol di lingkungannya. Dalam menyelesaikan suatu pekerjaan tak pernah tuntas karena tipe sanguine lebih senang bermain. Cirinya adalah cenderung gembira, ceria dan mudah akrab dengan orang lain, easy going, pandai bercerita, tak mudah marah maupun sedih, dan memiliki sifat-sifat positif lainnya. Negatifnya, dia tak bisa membedakan situasi, sehingga ia terlihat sebagai sosok yang tak bisa diajak serius.

Anak tipe ini bisa dikatakan banyak cerita dan ingin diperhatikan. Kadang yang diceritakan terlalu dilebih-lebihkan karena tujuannya untuk menarik perhatian orang lain. Nah, hendaknya orang tua bersikap sebagai seorang pendengar yang baik dan mengarahkan anaknya agar tidak sampai terbawa khayalan atau berbohong. Misalnya, “Wah, tadi aku lihat Keke jatuh sampai berdarah-darah.” Orang tua mungkin bisa memintanya menjelaskan lebih detail, “Bagian mananya yang berdarah?” Hindari reaksi, “Oh ya, bagaimana bisa Keke sampai banjir darah?” Jika terlalu direspons seperti itu anak akan melebih-lebihkan lagi ceritanya. Jika tidak diarahkan, kelak anak akan sulit membedakan mana yang kenyataan dan mana yang hanya khayalan/pikirannya saja.

3. Tipe choleric

Anak terlihat gesit, energik dan nyaris tak pernah diam. Memiliki bakat memimpin, tangguh sekaligus berkemauan keras untuk belajar dan maju. Paling tak suka diatur, punya kemauan sendiri, dan cukup keras. Misalnya, anak tidak mau disuruh mandi, “Dek, ayo mandi sudah siang.”

“Enggak mau, ah, Ma, pengin nonton dulu.”

Nah, kalau dia membantah seperti itu, hendaknya orang tua tidak terpancing marah. Akan lebih bijaksana jika berkata “Ayo, dong, mandi. Mandi pagi itu kan sehat. Lihat, deh teman-temanmu di luar sudah mandi semua.”

Sementara untuk anak yang sudah lebih besar orang tua harus bicara tegas dan konsisten karena untuk menghadapi anak tipe ini orang tua harus tetap memegang kendali atau lebih dominan (perpaduan antara komunikasi terbuka dan satu arah). Kalau tidak, anak bisa berkembang semau-maunya dan jadi susah diatur.

Hal yang harus diwaspadai, anak bertemperamen seperti ini cenderung mengabaikan perasaan orang lain, sulit bertenggang rasa pada usaha dan penderitaan yang tengah dilakukan orang lain, serta tidak suka melihat anak lain merengek. Jadi tak salah bila orang tua mengajarkan nilai empati kepada anak seperti ini. Misalnya untuk anak di bawah 7 tahun, “Kalau Adit ingin mainan Bino, minta baik-baik, jangan direbut. Tuh, lihat Bino, dia jadi sedih.” Sedangkan bagi anak usia di atas 7 tahun, katakan seperti ini, “Coba deh, kalau kamu diejek teman, rasanya kesal bukan? Begitu juga kalau temanmu diejek.”

4. Tipe melankolis

Anak sangat sensitif dan berperasaan halus, cenderung pendiam dan tertutup. Namun, ia kurang bisa mengekspresikan perasaannya. Kelebihannya, dalam bekerja anak bertempe
ramen seperti ini termasuk perfeksionis. Orang tua mesti pandai-pandai menjaga perasaannya. Jangan sampai menyinggung dan membuat hatinya terluka.

Bila ia berbuat salah, tegur dengan halus dan terfokus pada kesalahan yang dilakukannya. Hindari cara-cara kasar, seperti membentak-bentak atau melabelinya dengan predikat negatif, seperti, “Kamu memang nakal!” Hal ini akan membekas pada benaknya dan anak menganggap apa yang dikatakan orang tua merupakan hal yang sesungguhnya, yaitu bahwa dirinya memang anak nakal. Kalau sudah begitu, anak cenderung tambah tertutup.

Namun jika cara penanganannya tepat, dalam arti orang tua selalu menggunakan bahasa yang baik dan halus saat berkomunikasi dengannya, maka anak pun bisa menjalin komunikasi yang terbuka dan merasa dekat dengan orang tua.

KEMATANGAN BERPIKIR

Setiap komunikasi verbal pasti melibatkan kemampuan kognitif. Bukankah kemampuan berbahasa berkembang seiring dengan kemampuan kognitif atau berpikir anak? Nah, kemampuan berpikir ini sejalan dengan meningkatnya usia. Menurut Jean Piaget, seorang tokoh psikologi perkembangan, kemampuan berpikir anak 7 tahun ke bawah dengan 7 tahun ke atas memiliki perbedaan nyata. Anak di bawah 7 tahun ada dalam tahap berpikir praoperasional. Maksudnya dalam memahami sesuatu anak masih berpikir konkret atau belum dapat berpikir secara abstrak. Kemampuan berbahasanya pun masih terbatas.

Sementara kemampuan berpikir anak di atas 7 sudah berada pada tahap operasional. Ia sudah dapat memahami hal-hal yang abstrak. Pergaulan mereka semakin kompleks, tak hanya sebatas lingkungan keluarga tetapi juga teman bermain di luar keluarganya atau peer group, dan sering membuat kendala komunikasi (jarak) dengan orang tua. Di usia ini pada umumnya mereka lebih senang mencurahkan isi hatinya pada teman ketimbang pada orang tuanya.

Oleh karena itu, lanjut Vera, orang tua mesti memiliki siasat komunikasi berdasarkan temperamen dan kematangan berpikir anak. Bedakan kala berkomunikasi dengan si adik yang berusia masih berusia 6 tahun dengan cara berbicara dengan si kakak yang sudah berusia 9 tahun misalnya. Pada anak usia 6 tahun, orang tua bisa berkata, “Kalau Adek mengambil barang Nino, nanti Nino jadi sedih.” Sedangkan untuk anak 9 tahun, orang tua bisa bicara dengan lebih abstrak, “Kamu enggak boleh mengambil uang Bunda tanpa izin. Itu namanya mencuri, dan mencuri adalah perbuatan dosa.”

KOMUNIKASI YANG EFEKTIF

Walau begitu, kata wanita yang akrab disapa Vera, berkomunikasi efektif tidak bisa dirumuskan secara eksak. Bagaimanapun juga, setiap anak memiliki karakteristik berbeda-beda yang membutuhkan pendekatan berbeda-beda pula. Jadi, orang tualah yang lebih tahu rumusan berkomunikasi efektif dengan anaknya. Sekadar sebagai petunjuk, inilah beberapa hal yang dapat dijadikan patokan atau bahan-bahas dasar dalam sebuah resep berkomunikasi efektif. Tentu saja orang tua harus menambahkan bumbu tersendiri yang disesuaikan dengan kepribadian anaknya.

Dedeh Kurniasih. Foto: Ferdi/nakita

KOMUNIKASI EFEKTIF TERHADAP ANAK 7 TAHUN KE BAWAH:

* Gunakan bahasa yang singkat, sederhana dan tidak panjang lebar

Orang dewasa saja terkadang bingung jika mendengar pembicaran yang panjang lebar, apalagi anak. Lantaran itu, gunakan komunikasi yang to the point sehingga maksud orang tua dapat lebih mudah dipahami. Misalnya, “Dek, buang kertasnya di keranjang sampah dong.”

* Gunakan bahasa sekonkret mungkin

Ketimbang berkata, “Kamu tidak boleh egois terhadap teman.” Lebih baik katakan, “Rara dikasih kuenya, ya sayang. Kan, enak kalau makan sama-sama.”

* Orang tua jangan jadi peramal

Sering orang tua meramalkan suatu kejadian yang belum terjadi atau sesuatu yang tidak nyata mengenai anaknya. “Kamu jangan panjat-panjat teralis itu nanti kalau jatuh kakimu bisa patah. Lalu Adek dibawa ke dokter terus dioperasi.” Sebaiknya katakan saja, “Hati-hati, ya kalau memanjat teralis itu.”

* Pahami bahasa tubuh anak

Seringkali pada anak yang lebih kecil, bahasa tubuh orang tua yang bersifat nonverbal bisa mengomunikasikan sesuatu karena kemampuan bahasanya memang masih terbatas. Misalnya, si kecil yang berusia 2 tahun tampak diam di suatu pojokan dan wajahnya menegang. Orang tua hendaknya memancing anak untuk bicara, “Kenapa Dek, kamu pup, ya?”

* Tidak dengan nada yang cepat atau terburu-buru

Saat berkomunikasi perhatikan intonasi dan nada suara. Intonasi yang tidak jelas dengan nada terburu-buru bisa membuat anak jadi tidak ngeh dengan apa yang dibicarakan.

KOMUNIKASI EFEKTIF TERHADAP ANAK 7 TAHUN KE ATAS:

* Tumbuhkan sikap saling terbuka dan saling menghargai.

Anak sudah lancar berbicara, lancar berbahasa, bisa mengekspresikan perasaan dan pikiran serta ide-idenya, maka diperlukan sikap terbuka dan menghargai yang lebih nyata dari orang tua.

* Lebih banyak mendengarkan

Hanya saja, terhadap anak berusia di atas 7 tahun, peran orang tua lebih banyak sebagai pendengar dan sedikit berbicara. Dengan lebih banyak mendengarkan anak, orang tua jadi dapat mengetahui kebutuhannya, apa yang diinginkan, dirasakan, diharapkan atau lainnya. Namun, bukan berarti orang tua lantas pasif. Yang benar adalah bersikaplah proaktif. Saat melihat anak lemas sepulang sekolah, orang tua bisa bertanya, “Ada apa, sayang. Kok tumben lemes?” Perhatian seperti ini akan mendorong anak untuk mau bercerita mengenai keadaannya kepada orang tua.

GAYA KOMUNIKASI MENYIMPANG

Elly Risman, Psi., dari Yayasan Kita dan Buah Hati, menyatakan ada 12 gaya komunikasi yang populer dilakukan orang tua. Walau disebut populer tapi belum tentu gaya komunikasi tersebut benar. Elly malah menyebutnya sebagai GKM alias gaya komunikasi menyimpang. Ia memberi contoh kasus, seorang ibu yang melarang anaknya bermain di ruang tamu karena baru membeli guci yang harganya “selangit”. “Coba, ya Kakak sama Adik jangan main-main di situ. Tahu enggak, guci Mama itu baru. Harganya mahal banget. Nanti kalau kesenggol kan bisa pecah. Sana, mainnya di tempat lain. ”

Namun, namanya anak-anak, maklum saja kalau mereka tetap bermain di situ. Sampai tiba-tiba si Kakak terdengar menangis keras. Si ibu pun berlari tergopoh-gopoh. Ia menghela napas lega kala gucinya masih aman-aman saja di tempatnya. Namun, ia terperanjat saat kaki anaknya terluka karena terjatuh. Lalu mulailah sang ibu mengeluarkan 12 GKM tadi, yaitu:

1. “Tuh, kan tadi Mama bilang juga apa. Enggak denger, sih!” (Menyalahkan)

2. “Sudah, diam, jangan nangis!” (Memerintah)

3. “Katanya jagoan tapi kok nangis.” (Mengeritik)

4. “Benar, kan. Ini akibat kamu enggak mendengarkan mama. Lain kali kalau Mama bilang, nurut ya.” (Menasehati)

5. “Nakal, sih, enggak bisa diam.” (Melabel/Mencap)

6. “Coba sini Mama lihat lukanya. Ah, kayak begini aja masa sakit.” (Meremehkan)

7. “Adik aja waktu lukanya menganga enggak sampai nangis begitu.” (Membandingkan)

8. “Ya, sudah, besok pasti sembuh.” (padahal umumnya 3 hari baru sembuh) (Membohongi)

9. “Sudahlah, jangan dirasa-rasain. Nonton TV atau baca buku sajalah sana.” (Menghibur)

10. “Awas, ya kalau lain kali Mama bilang enggak nurut.” (Mengancam)

11. “Coba pikir, kenapa sampai terjatuh? Kan kamu enggak dengerin Mama? Kamu dorong-dorongan sama adik?” (Menganalisa), sambil terus mencecar kesalahan anak.

12. “Lain kali main dorong-dorongan lagi saja. Kan enak…!” (menyindir)


DAMPAK GKM

Padahal jika 12 GKM tadi terus-menerus dilakukan, menurut Elly, tak sedikit dampak yang diakibatkan. Di antaranya kepercayaan diri anak bisa hilang, anak merasa tidak punya harga diri, perasaan anak selalu tertekan, emosinya tak tersalurkan, dan komunikasi antara anak dan orang tua sesungguhnya tak pernah berjalan. Jelas saja jika akhirnya anak akhirnya frustrasi terhadap orang tua. Bahkan beberapa kasus salah komunikasi seperti itu, bisa berakibat fatal karena anak memutuskan menghabisi dirinya sendiri, seperti yang kini banyak terjadi.

Elly melanjutkan, 12 GKM tak hanya akan
berdampak pada sisi kejiwaan anak, tapi juga akan mempengaruhi perkembangan otaknya. Menurutnya, komunikasi-komunikasi menyimpang tadi, yang berlangsung terus-menerus akan mengganggu sirkuit otak anak. Pasalnya, anak yang selalu dalam keadaan terancam tidak akan pernah bisa berpikir panjang apalagi belajar memecahkan masalah yang dihadapinya. Ini berkaitan dengan bagian otak yang bernama korteks yang merupakan pusat logika. Berarti di korteks inilah pusat kemampuan berpikir, kemampuan menganalisa, kemampuan memecahkan masalah hingga kemampuan mengambil keputusan.

Namun, korteks hanya dapat “dijalankan” kalau emosi anak dalam keadaan tenang. Bila tidak, atau saat anak dalam keadaan tertekan karena kerap dimarahi, tidak disayang, merasa tidak dibutuhkan, maka segala stimulus yang masuk hanya sampai di batang otak saja. Kalau sudah begitu, cara berpikir anak tak berbeda dengan cara berpikir binatang yang hanya menggunakan instink. Ya, seperti dikatakan tadi anak jadi tidak bisa berpikir panjang. “Tak heran kalau ada anak yang tidak dibelikan duren oleh orang tuanya lantas bunuh diri karena dia tidak bisa berpikir panjang,” tambah Elly.

Oleh karena itu, dalam berkomunikasi dengan anak, orang tua harus memperhatikan pula cara sirkuit otak bekerja. Apa pun kondisi orang tua, apakah sedang capek, letih lesu, sakit, tetaplah berusaha menjaga komunikasi yang tidak menyimpang dengan anak.

Dalam contoh kasus tadi, saat orang tua tahu anaknya terjatuh padahal sudah dilarang bermain di tempat itu, yang pertama mesti dilakukan adalah kendalikan diri jangan langsung bereaksi. Ini juga berlaku pada semua kasus.

Jika orang tua bisa mengendalikan diri berarti dia juga bisa mengendalikan emosinya sehingga otaknya memiliki waktu untuk berpikir, apakah perkataan yang dikeluarkan akan menyakitkan anak atau tidak. Dengan emosi yang terkendali sangat mungkin orang tua akan berkata, “Jatuh ya sayang. Sini Mama obatin. Lain kali enggak usah main dorong-dorongan lagi ya!”

Orang Tua Tunggal

ORANG TUA TUNGGAL MESTI MENGHADIRKAN SOSOK PENGGANTI

Sudah suratan takdir laki-laki tak akan bisa menjadi ibu seutuhnya, begitu juga ibu tak bisa sepenuhnya mengisi peran ayah.

Sebisa mungkin, perceraian memang harus dihindarkan. Jika suatu keluarga bubar di tengah jalan, maka yang merugi dan terkena imbasnya bukan cuma suami dan istri tapi terlebih lagi anak-anak yang notabene tidak tahu-menahu dan harus ikut menanggung akibatnya. “Lain halnya jika segala upaya menurut kaidah agama sudah dilakukan, tapi tetap tidak ditemukan jalan keluar. Apa boleh buat. Bercerai mungkin merupakan jalan terbaik bagi kedua belah pihak dan anak-anak daripada terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dan membuat murka Tuhan,” kata Elly Risman, Psi., dari Yayasan Buah Hati

Namun sekali lagi Elly mengingatkan bahwa keputusan bercerai yang diambil orang tua, meskipun dianggap sebagai jalan terbaik, tetap akan membuat jiwa anak terguncang. Jadi, “Kalau kelak terjadi sesuatu yang tidak diharapkan pada anak, jangan salahkan dia.”

Apa yang tidak diharapkan itu muncul akibat anak tidak mendapatkan masukan secara lengkap dari kedua orang tuanya, ayah dan ibu. Oleh karena itu, lanjut Elly, kalau suami-istri terpaksa bercerai dan kemudian menjadi orang tua tunggal bagi anak(-anaknya), “Wajib hukumnya bagi ayah atau ibu yang menjadi orang tua tunggal untuk tetap menghadirkan sosok ayah atau ibu yang tidak ada selama membesarkan anak-anaknya.”

Mengenai siapa yang bisa dihadirkan sebagai pengganti salah satu orang tua yang tidak ada, menurut Elly, bisa merupakan keluarga terdekat, seperti paman-bibi, kakek-nenek. Pokoknya kerabat sedarah yang tidak mengizinkan adanya pertalian nikah (muhrim).

Tak mesti sosok pengganti salah satu orang tua ini berada bersama anak setiap saat. “Cukup selama dua tiga hari atau saat melakukan kegiatan tertentu, seperti belanja ke pasar atau mal bersama nenek dan bibi, sedangkan pergi ke bengkel atau berolahraga dengan paman.” Dengan demikian apa yang tidak didapatkan anak dari salah satu orang tua tetap bisa terpenuhi. “Oh, kita harus bersikap begini rupanya kalau jadi laki-laki,” atau, “Seperti ini rupanya dunia perempuan.”

HARUS BISA MENJIWAI

Tak bisa dipungkiri banyak orang tua yang harus menjalankan peran ganda sebagai orang tua tunggal. Secara teori, menurut Elly, bisa saja hal ini dilakukan jika suatu keluarga tinggal jauh dari kerabat dekat. Mungkin juga mereka sulit mencari muhrim yang bisa dijadikan sosok pengganti salah satu orang tua. Namun perlu dicatat, kondisi ini mengakibatkan anak tidak mendapatkan pola pengasuhan yang lengkap.

Penyebabnya, peran ganda yang dilakukan salah satu orang tua tidak lebih dari aspek lahiriah saja. Sedangkan yang harus anak dapatkan dari orang tuanya jauh lebih dalam daripada itu. Harus sampai melibatkan jiwa dan rasa yang dimiliki sosok ayah maupun ibu.

Pada dasarnya setiap anak membutuhkan jiwa wanita yang dimiliki oleh sosok ibu dan jiwa pria yang dimiliki oleh sosok ayah. Nah, agar bisa optimal, pola asuh yang diterapkan pada anak pun harus saling melengkapi antara ibu dan ayah.

Contoh konkret adalah saat si Upik beranjak jadi gadis remaja. Dia bisa mendapatkan informasi mengenai menstruasi secara jelas, konkret dan menyeluruh dari sang ibu yang juga mengalami menstruasi. Bagaimana kalau anak menanyakan hal serupa pada ayahnya? Selain rikuh umumnya pengetahuan ayah mengenai hal ini pun amat terbatas. Paling-paling ia hanya akan menjelaskan singkat, “Aduh apa ya? Ayah enggak tahu karena itu urusan perempuan.” Mendapat jawaban yang mengambang anak akan tidak puas karena ia sudah menyimpan segudang pertanyaan, “Yah, kok aku keluar darah sih? Itu tandanya apa ya? Trus rasanya gimana sih kalo lagi mens itu? Katanya ser-seran dan bisa bikin kita lemes ya?”

Sebaliknya, seorang ibu mustahil mampu menjelaskan secara gamblang apa itu mimpi basah kepada anak laki-lakinya seperti penjelasan seputar menstruasi bagi remaja putrinya. Ayahlah yang bisa dengan rinci mendeskripsikan apa itu mimpi basah karena ia sendiri pernah mengalaminya, bukan sekadar mengadopsi pengetahuan mengenai hal ini dari media.

JIKA TERLALU SIBUK

Elly pun menyayangkan kondisi yang sering mengharuskan orang tua tunggal, entah karena bercerai atau ditinggal mati pasangannya, bekerja seharian untuk menafkahi keluarga. Jangan salahkan anak bila kehidupannya berjalan timpang dan kelak tumbuh tak terkendali.

Namun, hal serupa bisa juga terjadi pada anak yang kedua orang tuanya lengkap tapi selalu
sibuk dengan urusan pekerjaan sampai-sampai tak punya waktu untuk mengamati proses tumbuh kembang anaknya. Makanya dewasa ini tidak sedikit anak yang merasa tidak memiliki ibu dan ayah padahal ayah dan ibu tinggal serumah dengannya.

Dari kedua kondisi seperti itu, apa yang harus dibenahi? Tidak lain adalah pola asuh tepat yang dapat mengisi kebutuhan anak akan perhatian, kasih sayang, ruang berekspresi, sekaligus kendali bijak dari orang tua. Ajak pula kerabat yang mengisi peran orang tua pengganti untuk bekerja sama menerapkan aturan secara konsisten, mau menerima konsekuensi dari penerapan itu, dan tak habis-habisnya memberikan kasih sayang.

Gazali Solahuddin


Dampak Ketidaksiapan Orangtua

DAMPAK NEGATIF KETIDAKSIAPAN ORANG TUA

Tidak mudah menjadi orang tua. Namun dengan tekad kuat dan kemauan keras, semua orang berpeluang menjadi orang tua yang ideal. Bagaimana kalau tidak?

Tak bisa dipungkiri bahwa pola asuh yang tidak tepat akan membuahkan perkembangan anak yang tidak optimal. Anak tumbuh jadi pribadi agresif, tidak bisa mandiri, dan tipis rasa percaya dirinya. Menurut Evi Elviati, Psi., banyak hal yang menjadi faktor penyebabnya. Salah satunya adalah ketidaksiapan orang tua mendapatkan buah hati.

Seberapa jauh soal ketidaksiapan orang tua memperoleh anak perlu ditelusuri jauh ke belakang sebelum mereka menikah. Umumnya mereka tidak tahu atau tidak memikirkan secara matang bagaimana rencana jangka panjang setelah menikah. Semisal apakah mau punya anak atau tidak. Lalu jika ya, kapan sebaiknya memiliki anak. Apakah segera setelah menikah, ataukah ditunda lebih dulu sampai mereka merasa mapan, baik secara mental maupun finansial.

PEMICU KETIDAKSIAPAN

Secara mental ketidaksiapan orang tua bisa dipicu oleh beberapa penyebab, seperti umur orang tua yang terlalu muda, masih sekolah/kuliah, serta tidak tahu bagaimana caranya mendidik anak. Sementara dari faktor finansial umumnya lebih karena kondisi keuangan keluarga yang belum mendukung. Entah suami belum punya pekerjaan tetap, suami/istri sedang sibuk mengejar karier, melanjutkan pendidikan, ataupun sudah punya banyak anak. Semua hal tersebut bisa menjadi pemicu ketidaksiapan orang tua menerima kehadiran si kecil di tengah-tengah mereka, apalagi mendidiknya.

Padahal ketikdaksiapan ini akan berbuntut panjang. Pasangan suami istri seperti ini jadi tidak pernah mandiri. Pasalnya, mereka akan selalu menggantungkan segala sesuatunya pada orang tua mereka dalam pengasuhan si kecil. Jika ketergantungan tersebut dalam batas-batas wajar mungkin tidak terlalu jadi masalah. Artinya, kakek-nenek si kecil hanya merupakan pihak yang dimintai bantuan untuk sementara waktu.

Saat merawat si kecil, contohnya, pasangan muda memerlukan figur tempat bertanya. Nah, orang tua sebagai sosok yang telah banyak makan asam garam alias lebih berpengalaman tentu bisa dijadikan tumpuan. Idealnya, setelah belajar banyak dari orang tuanya, pasangan muda ini haruslah tetap belajar merawat anaknya sendiri.

AKIBAT KETERGANTUNGAN BERLEBIH

Jika ayah dan ibu memiliki ketergantungan berlebih pada kakek-nenek tanpa mau belajar sedikit pun bagaimana caranya merawat dan mengasuh anak, orang tua sendirilah yang sebetulnya bermasalah. Apalagi jika bantuan yang diberikan tidak hanya berbentuk fisik, tapi juga bantuan finansial. Jika kebiasaan tidak sehat semacam ini dibiarkan, dikhawatirkan kemandirian pasangan sebagai orang tua pun jadi terhambat. Sementara pasangan suami istri juga tidak terbebas dari bayang-bayang orang tuanya.

Konsekuensinya, pola asuh yang diterapkan mau tidak mau lebih “berbau” konsep kakek-neneknya dan bukannya pola asuh si orang tua. Namun ketergantungan berlebih ini sering membuat pasangan muda enggan protes karena sungkan. Kalau mereka protes, mungkin saja kakek-nenek akan melepaskan cucunya tanpa pengasuhan sama sekali yang justru membuat pasangan muda ini kelabakan.

Akibatnya, sangat mungkin terjadi inkonsistensi dalam pengasuhan karena orang tua tidak berani mengoreksi pola asuh kakek-nenek. Apa yang dilarang orang tua, contohnya, justru dibolehkan oleh kakek-neneknya. Sementara si anak sendiri pun akan bingung, mana yang benar dan perlu diikutinya serta mana pula hal yang salah.

AKIBAT PEMAHAMAN SALAH

Ketidaksiapan orang tua mengasuh anak, bisa juga disebabkan oleh minimnya wawasan orang tua terhadap pola asuh yang baik. Kurangnya pengetahuan orang tua tentang perkembangan anak, menyebabkan ia tidak tahu pola asuh terbaik buat anak-anaknya.

Psikolog dari Essa Consulting Group ini menambahkan, minimnya wawasan tentang perkembangan anak, ditambah ketidaksiapan menjadi orang tua, akan membuat orang tua memiliki pemahaman salah. Salah satunya adalah menganggap anak sebagai miniatur manusia dewasa. Anak diperlakukan layaknya orang dewasa. Aturan yang dibuat pun tak jarang sama persis bagi orang dewasa. Tak heran banyak orang tua yang memberlakukan sanksi fisik yang keras buat anak.

Pendek kata, anak tidak diperlakukan sebagaimana fitrahnya untuk tumbuh dan berkembang melalui tahapan-tahapannya. Masing-masing menyimpan berbagai hal unik. Pemahaman yang salah membuat anak jadi tidak bebas bermain ataupun melakukan “kenakalan-kenakalan” yang wajar. Anak jadi kurang belajar karena bagaimana ia bisa tumbuh optimal jika lingkungan terdekatnya tidak mendukung. Padahal anak tidak secara otomatis bisa tumbuh mandiri menjadi dewasa. Ia butuh proses belajar dan orang tualah yang mesti mendidik dan memberi stimulasi.

AKIBAT DIANGGAP BEBAN

Kalau anak sudah dianggap sebagai beban yang memberatkan, sangat mungkin orang tua melakukan tindak kekerasan terhadap anak. Itulah mengapa tindak kekerasan pada anak, baik secara fisik maupun nonfisik, umumnya merupakan indikator ketidaksiapan orang tua menerima kehadiran sang buah hati.

Kekerasan fisik adalah tindakan yang bertujuan melukai, menyiksa, menganiaya, atau memperlakukan anak secara kasar. Tindakan tersebut bisa dilakukan lewat anggota tubuh seperti tangan atau kaki, atau lewat bantuan alat-alat lain. Beberapa tindakan yang dikategorikan sebagai tindak kekerasan fisik antara lain memukul, menjewer, dan menendang.

Sedangkan kekerasan nonfisik merupakan bentuk kekerasan yang melibatkan kata-kata, baik berupa ancaman atau kata-kata kasar atau yang tidak pantas. Tindakan ini bisa mengganggu atau menekan emosi anak sebagai korban. Secara kejiwaan, anak jadi tidak berani mengungkapkan pendapat, kelewat penurut dan terkondisikan sebagai sosok yang selalu bergantung. Akibatnya, anak dalam keadaan tertekan, takut, bahkan stres.

Dampak jangka panjangnya, anak akan merekam semua bentuk kekerasan yang pernah diterima/dialaminya. Besar kemungkinan anak akan tumbuh jadi pribadi yang agresif. Selanjutnya, kelak saat si anak jadi orang tua, bisa jadi ia akan menerapkan pola asuh berlandaskan kekerasan hingga terbentuk lingkaran setan yang tiada berujung.

AKIBAT DIANGGAP SUBORDINAT

Yang juga sering terjadi, orang tua menganggap anak sebagai subordinat alias bawahannya. Antara lain tampak dari pola asuh otoriter yang diterapkan pada anak. Anak dituntut untuk selalu mematuhi aturan yang diberlakukan orang tua. Protes merupakan perbuatan yang diharamkan, dan anak sama sekali tidak memiliki posisi tawar di hadapan orang tuanya. Anak diharuskan selalu mengalah pada orang tua dan tidak diperbolehkan melontarkan kritik terhadap apa pun yang dilakukan orang tua.

Akibatnya, muncul pemahaman bahwa anak selalu salah sementara orang tua tidak pernah salah. Tak heran kalau anak akan tumbuh menjadi pribadi yang apatis.

Anggapan anak sebagai subordinat juga membuat orang tua secara terus-menerus memosisikan anak sebagai bocah cilik atau sosok yang tidak dewasa. Anak tidak pernah dibiarkan tumbuh menjadi pribadi mandiri karena tidak mengenal budaya memilih. Ia terbiasa didikte tanpa pernah mendapat kesempatan untuk memilih. Selain menjadi apatis, sebaliknya bisa saja anak menjadi sosok yang selalu minta dilayani. Apa-apa selalu minta kepada orang tuanya. Semua yang diiinginkan tinggal teriak dan tunjuk pembantu.

Yang juga tak kalah menyedihkan, anak tidak pernah merasa dihargai pendapat dan usahanya. “Namanya juga anak-anak, tahu apa sih dia?” begitu yang selalu terlontar. Apa pun yang dilakukan anak dianggap tidak pernah sempurna. Padahal semestinya orang tua tetap memberi penghargaan. Saat anak membantu cuci piring, meski tidak sebersih hasil kerja orang tua, harusnya dipuji dan dihargai. Ingat, kemauan anak untuk membantu merupakan langkah awal menuju kemandirian.

DIANGGAP INVESTASI

Pemahaman lain yang kurang tepat akibat kurangnya wawasan adalah anggapan anak sebagai salah satu bentuk investasi. Jika orang tuanya petani, anak diibaratkan sebagai benih yang disebar di ladang luas. Setelah tumbuh dan menghasilkan buah berlimpah, si petanilah yang merasa berhak menikmati hasil panen. Memang tidak salah jika anak berkewajiban membantu orang tuanya. Bahkan agama pun menekankan pentingnya sikap berbakti kepada orang tua. Meski begitu, segala bentuk bantuan hendaknya disesuaikan dengan kemampuan anak.

Seharusnya patut diingat bahwa anak juga mesti bertahan dalam mengarungi kehidupannya. Suatu saat ia akan membentuk keluarganya sendiri yang menjadi tanggung jawabnya. Pemahaman yang salah membuat beban tanggung jawab anak semakin berat. Selain harus memperjuangkan kehidupannya sendiri, ia pun mesti menanggung beban hidup orang tuanya.

PERSIAPAN MENTAL

Iya sih tidak semua keinginan manusia bisa dikabulkan karena semua terpulang pada Yang Maha Kuasa. Saat orang tua berharap tidak memiliki momongan dalam waktu dekat, kenyataan berbicara lain. Mau tidak mau orang tua mesti siap menerima keadaan tersebut. Nah, agar bisa siap menerima situasi dan kondisi apa pun, tak ada cara lain kecuali menambah wawasan tentang dunia anak lewat media apa saja. Bertanya kepada para pakar di bidangnya juga sangat dianjurkan agar orang tua semakin arif dalam mendidik putra-putrinya.

Memahami setiap tahapan perkembangan anak dan mengenali karakternya masing-masing akan sangat membantu orang tua dalam menerapkan pola asuh yang efektif bagi anak. Contoh konkretnya, ketika anak usia batita sering berlaku agresif, orang tua yang tidak paham mungkin akan langsung memarahi atau memberikan sanksi keras kepada si anak. Namun, tidak demikian halnya dengan orang tua yang sudah memahami tahapan perkembangan anak. Orang tua semacam ini bisa mengantisipasi sekaligus memberi arahan kepada si kecil. Kalaupun terpaksa menjatuhkan sanksi, pastilah sanksi yang diberikan bersifat mendidik.

Tidak hanya itu. Berbekal pemahaman dan wawasan luas, orang tua juga bisa mendeteksi berbagai gangguan dan kelainan yang muncul dalam diri anak. Ketika anaknya yang menjelang usia dua tahun belum juga bisa berjalan, orang tua akan segera mengeceknya dan berkonsultasi secara intens pada ahlinya mengapa hal itu bisa terjadi. Dari konsultasi itulah ia jadi tahu stimulasi seperti apa dan seberapa banyak porsi yang mesti diberikan kepada si anak.

Saeful Imam. Foto: Ferdi/nakita

Resep Komunikasi Efektif

RESEP KOMUNIKASI EFEKTIF

Agar komunikasi orang tua nyambung dengan anak, perhatikan kepribadian dan kematangan berpikirnya.

Komunikasi yang efektif penting dalam kehidupan berkeluarga. Tampaknya semua orang sudah tahu itu. Masalahnya, tidak semua orang memahami bagaimana resep berkomunikasi yang efektif antara ayah dan ibu serta orang tua dan anak. Menurut Roslina Verauli, M.Psi., psikolog dari Empati Development Centre, Jakarta, komunikasi efektif berkaitan erat dengan pola asuh orang tua. Ia kemudian “meminjam” enam tipe komunikasi yang dikemukakan F. Philip Rice yang dikaitkan dengan pola asuh,
yaitu:

1. Tipe terbuka

Tipe ini paling sehat. Antara anak dan orang tua terjalin komunikasi saling terbuka. Orang tua mau mendengarkan anak dan anak secara leluasa dapat bercerita, mengeskpresikan perasaan dan pikirannya serta berdiskusi dengan orang tua. Tipe komunikasi ini ada pada pola asuh demokratis atau authoritative. Umpamanya, saat kedua orang tua sedang berbicara, mereka membolehkan anak menanggapi dan menghargai pendapatnya, “Oh, kalau menurut pendapat Adek seperti itu, ya?”

2. Tipe permukaan

Komunikasi yang terjalin bukan pada hal-hal penting; tidak riil, tidak detail dan sekadar basa-basi saja sebatas permukaan. Contohnya, anak bertanya, “Mama, kenapa sedih?” Orang tua hanya menjawab, “Ah, enggak apa-apa. Mama baik-baik saja, kok.” Jadi di saat orang tua atau anak ingin menggali cerita lebih dalam, komunikasi tidak dapat terwujud karena tidak ada saling keterbukaan. Penyebabnya bisa perasaan takut mengecewakan, malu, dan sebagainya. Tipe ini biasanya ada pada pola asuh permisif atau indulgent.

3. Tipe mengabaikan (avoidance)

Masing-masing anggota keluarga saling menghindar sehingga tidak terjalin komunikasi. Hal ini bisa disebabkan hubungan orang tua yang tidak harmonis atau memang karena pribadi orang tua sendiri yang tidak terbuka terhadap anak, dan tidak peduli dengan kebutuhan komunikasi anak-orang tua. Tipe ini biasanya ada dalam pola asuh cuek atau neglectful. Sebenarnya tipe ini hampir sama dengan tipe permukaan. Hanya saja, pada tipe mengabaikan ini, cara bicara orang tua seringkali terbawa emosi. Misalnya orang tua bertanya dengan terburu-buru sambil hendak berangkat ke kantor. “Hai, sayang, apa kabar sekolahmu? Mama pergi dulu, ya.”

“Baik-baik aja tuh,” jawab anak.

“Kok, kamu menjawabnya seperti itu, sih? Mama kan tanya baik-baik.”

4. Tipe komunikasi salah

Biasanya terjadi pada pola asuh otoriter. Orang tua cenderung menuntut anak. Bila tidak sesuai dengan keinginan yang diharapkan, orang tua langsung marah-marah. Akibatnya anak selalu takut berbuat salah. Jadi ketimbang kena damprat, maka anak mengambil jalan aman dengan berbohong. Misalnya, “Tadi, aku di sekolah dapat pujian lo Pa.” Padahal mungkin saja kenyataannya tidak seperti itu. Anak selalu berusaha menceritakan yang bagus-bagus saja atau bicara seadanya. Contoh, “Bagaimana tadi di sekolah?”

“Baik kok, Ma,” tanggap anak.

Pola asuh seperti ini bisa membuat anak jadi tertutup pada orang tuanya.

5. Tipe komunikasi satu arah

Tipe komunikasi satu arah terjadi jika dalam keluarga hanya ada satu figur dominan dalam berkomunikasi. Entah ayah atau ibu. Ia yang menentukan kapan anak boleh bicara dan tidak. Misalnya, “Adek, nanti kalau sudah makan, buat PR….”

Jika anak menyela, “Tapi, kan Ma,…”

“Eit diam! Mama kan belum habis bicara. Dengarkan…”

Tipe komunikasi ini bisanya juga terdapat pada pola asuh yang otoriter.

6. Tipe tanpa ada komunikasi

Antaranggota keluarga jarang terjadi pembicaraan meskipun sebetulnya di antara mereka tidak ada konflik nyata. Misalnya, orang tua pulang kantor masuk kamar. Anak pun demikian, pulang sekolah langsung mengunci kamar. Akibatnya orang tua tidak tahu keadaan dan kebutuhan anak. Ketiadaan komunikasi ini juga ada pada tipe pola asuh neglectful.

DUA SYARAT LAIN

Nah, jika orang tua sudah menerapkan tipe komunikasi terbuka, tinggal 2 syarat lagi yang harus dipenuhi untuk dapat berkomunikasi efektif dengan anak. Pertama, orang tua mesti memahami kepribadian anak. Kedua, orang tua harus melihat kematangan berpikir anak. Jika kedua syarat tadi tidak dilakukan, jangan berharap komunikasi antara anak dan orang tua bisa nyambung. Yang terjadi, orang tua pun tidak tahu kebutuhan anaknya dan anak tidak tahu keinginan orang tuanya seperti apa.

PAHAMI KEPRIBADIAN ANAK

Sebagai petunjuk, salah satu yang mempengaruhi atau menentukan kepribadian anak yaitu temperamen. Ada 4 temperamen manusia menurut filsuf Yunani Hipocrates (460-375 SM), yakni phelgmatic, sanguine, choleric dan melankolis. Keempat temperamen ini ada pada diri setiap anak, hanya saja kadarnya berbeda-beda. Namun biasanya, ada satu temperamen yang paling menonjol dari keempatnya, seperti:

1. Tipe phelgmatic

Anak cenderung pendiam sekalipun dalam keadaan sakit, dia tidak banyak bicara. Anak tipe ini juga lebih banyak jadi pengamat dan bila mengerjakan sesuatu selalu tuntas. Terhadap anak dengan temperamen seperti ini, orang tua harus lebih proaktif untuk memancingnya bicara.

2. Tipe sanguine

Punya banyak teman dan sangat menonjol di lingkungannya. Dalam menyelesaikan suatu pekerjaan tak pernah tuntas karena tipe sanguine lebih senang bermain. Cirinya adalah cenderung gembira, ceria dan mudah akrab dengan orang lain, easy going, pandai bercerita, tak mudah marah maupun sedih, dan memiliki sifat-sifat positif lainnya. Negatifnya, dia tak bisa membedakan situasi, sehingga ia terlihat sebagai sosok yang tak bisa diajak serius.

Anak tipe ini bisa dikatakan banyak cerita dan ingin diperhatikan. Kadang yang diceritakan terlalu dilebih-lebihkan karena tujuannya untuk menarik perhatian orang lain. Nah, hendaknya orang tua bersikap sebagai seorang pendengar yang baik dan mengarahkan anaknya agar tidak sampai terbawa khayalan atau berbohong. Misalnya, “Wah, tadi aku lihat Keke jatuh sampai berdarah-darah.” Orang tua mungkin bisa memintanya menjelaskan lebih detail, “Bagian mananya yang berdarah?” Hindari reaksi, “Oh ya, bagaimana bisa Keke sampai banjir darah?” Jika terlalu direspons seperti itu anak akan melebih-lebihkan lagi ceritanya. Jika tidak diarahkan, kelak anak akan sulit membedakan mana yang kenyataan dan mana yang hanya khayalan/pikirannya saja.

3. Tipe choleric

Anak terlihat gesit, energik dan nyaris tak pernah diam. Memiliki bakat memimpin, tangguh sekaligus berkemauan keras untuk belajar dan maju. Paling tak suka diatur, punya kemauan sendiri, dan cukup keras. Misalnya, anak tidak mau disuruh mandi, “Dek, ayo mandi sudah siang.”

“Enggak mau, ah, Ma, pengin nonton dulu.”

Nah, kalau dia membantah seperti itu, hendaknya orang tua tidak terpancing marah. Akan lebih bijaksana jika berkata “Ayo, dong, mandi. Mandi pagi itu kan sehat. Lihat, deh teman-temanmu di luar sudah mandi semua.”

Sementara untuk anak yang sudah lebih besar orang tua harus bicara tegas dan konsisten karena untuk menghadapi anak tipe ini orang tua harus tetap memegang kendali atau lebih dominan (perpaduan antara komunikasi terbuka dan satu arah). Kalau tidak, anak bisa berkembang semau-maunya dan jadi susah diatur.

Hal yang harus diwaspadai, anak bertemperamen seperti ini cenderung mengabaikan perasaan orang lain, sulit bertenggang rasa pada usaha dan penderitaan yang tengah dilakukan orang lain, serta tidak suka melihat anak lain merengek. Jadi tak salah bila orang tua mengajarkan nilai empati kepada anak seperti ini. Misalnya untuk anak di bawah 7 tahun, “Kalau Adit ingin mainan Bino, minta baik-baik, jangan direbut. Tuh, lihat Bino, dia jadi sedih.” Sedangkan bagi anak usia di atas 7 tahun, katakan seperti ini, “Coba deh, kalau kamu diejek teman, rasanya kesal bukan? Begitu juga kalau temanmu diejek.”

4. Tipe melankolis

Anak sangat sensitif dan berperasaan halus, cenderung pendiam dan tertutup. Namun, ia kurang bisa mengekspresikan perasaannya. Kelebihannya, dalam bekerja anak bertempe
ramen seperti ini termasuk perfeksionis. Orang tua mesti pandai-pandai menjaga perasaannya. Jangan sampai menyinggung dan membuat hatinya terluka.

Bila ia berbuat salah, tegur dengan halus dan terfokus pada kesalahan yang dilakukannya. Hindari cara-cara kasar, seperti membentak-bentak atau melabelinya dengan predikat negatif, seperti, “Kamu memang nakal!” Hal ini akan membekas pada benaknya dan anak menganggap apa yang dikatakan orang tua merupakan hal yang sesungguhnya, yaitu bahwa dirinya memang anak nakal. Kalau sudah begitu, anak cenderung tambah tertutup.

Namun jika cara penanganannya tepat, dalam arti orang tua selalu menggunakan bahasa yang baik dan halus saat berkomunikasi dengannya, maka anak pun bisa menjalin komunikasi yang terbuka dan merasa dekat dengan orang tua.

KEMATANGAN BERPIKIR

Setiap komunikasi verbal pasti melibatkan kemampuan kognitif. Bukankah kemampuan berbahasa berkembang seiring dengan kemampuan kognitif atau berpikir anak? Nah, kemampuan berpikir ini sejalan dengan meningkatnya usia. Menurut Jean Piaget, seorang tokoh psikologi perkembangan, kemampuan berpikir anak 7 tahun ke bawah dengan 7 tahun ke atas memiliki perbedaan nyata. Anak di bawah 7 tahun ada dalam tahap berpikir praoperasional. Maksudnya dalam memahami sesuatu anak masih berpikir konkret atau belum dapat berpikir secara abstrak. Kemampuan berbahasanya pun masih terbatas.

Sementara kemampuan berpikir anak di atas 7 sudah berada pada tahap operasional. Ia sudah dapat memahami hal-hal yang abstrak. Pergaulan mereka semakin kompleks, tak hanya sebatas lingkungan keluarga tetapi juga teman bermain di luar keluarganya atau peer group, dan sering membuat kendala komunikasi (jarak) dengan orang tua. Di usia ini pada umumnya mereka lebih senang mencurahkan isi hatinya pada teman ketimbang pada orang tuanya.

Oleh karena itu, lanjut Vera, orang tua mesti memiliki siasat komunikasi berdasarkan temperamen dan kematangan berpikir anak. Bedakan kala berkomunikasi dengan si adik yang berusia masih berusia 6 tahun dengan cara berbicara dengan si kakak yang sudah berusia 9 tahun misalnya. Pada anak usia 6 tahun, orang tua bisa berkata, “Kalau Adek mengambil barang Nino, nanti Nino jadi sedih.” Sedangkan untuk anak 9 tahun, orang tua bisa bicara dengan lebih abstrak, “Kamu enggak boleh mengambil uang Bunda tanpa izin. Itu namanya mencuri, dan mencuri adalah perbuatan dosa.”

KOMUNIKASI YANG EFEKTIF

Walau begitu, kata wanita yang akrab disapa Vera, berkomunikasi efektif tidak bisa dirumuskan secara eksak. Bagaimanapun juga, setiap anak memiliki karakteristik berbeda-beda yang membutuhkan pendekatan berbeda-beda pula. Jadi, orang tualah yang lebih tahu rumusan berkomunikasi efektif dengan anaknya. Sekadar sebagai petunjuk, inilah beberapa hal yang dapat dijadikan patokan atau bahan-bahas dasar dalam sebuah resep berkomunikasi efektif. Tentu saja orang tua harus menambahkan bumbu tersendiri yang disesuaikan dengan kepribadian anaknya.

Dedeh Kurniasih. Foto: Ferdi/nakita

KOMUNIKASI EFEKTIF TERHADAP ANAK 7 TAHUN KE BAWAH:

* Gunakan bahasa yang singkat, sederhana dan tidak panjang lebar

Orang dewasa saja terkadang bingung jika mendengar pembicaran yang panjang lebar, apalagi anak. Lantaran itu, gunakan komunikasi yang to the point sehingga maksud orang tua dapat lebih mudah dipahami. Misalnya, “Dek, buang kertasnya di keranjang sampah dong.”

* Gunakan bahasa sekonkret mungkin

Ketimbang berkata, “Kamu tidak boleh egois terhadap teman.” Lebih baik katakan, “Rara dikasih kuenya, ya sayang. Kan, enak kalau makan sama-sama.”

* Orang tua jangan jadi peramal

Sering orang tua meramalkan suatu kejadian yang belum terjadi atau sesuatu yang tidak nyata mengenai anaknya. “Kamu jangan panjat-panjat teralis itu nanti kalau jatuh kakimu bisa patah. Lalu Adek dibawa ke dokter terus dioperasi.” Sebaiknya katakan saja, “Hati-hati, ya kalau memanjat teralis itu.”

* Pahami bahasa tubuh anak

Seringkali pada anak yang lebih kecil, bahasa tubuh orang tua yang bersifat nonverbal bisa mengomunikasikan sesuatu karena kemampuan bahasanya memang masih terbatas. Misalnya, si kecil yang berusia 2 tahun tampak diam di suatu pojokan dan wajahnya menegang. Orang tua hendaknya memancing anak untuk bicara, “Kenapa Dek, kamu pup, ya?”

* Tidak dengan nada yang cepat atau terburu-buru

Saat berkomunikasi perhatikan intonasi dan nada suara. Intonasi yang tidak jelas dengan nada terburu-buru bisa membuat anak jadi tidak ngeh dengan apa yang dibicarakan.

KOMUNIKASI EFEKTIF TERHADAP ANAK 7 TAHUN KE ATAS:

* Tumbuhkan sikap saling terbuka dan saling menghargai.

Anak sudah lancar berbicara, lancar berbahasa, bisa mengekspresikan perasaan dan pikiran serta ide-idenya, maka diperlukan sikap terbuka dan menghargai yang lebih nyata dari orang tua.

* Lebih banyak mendengarkan

Hanya saja, terhadap anak berusia di atas 7 tahun, peran orang tua lebih banyak sebagai pendengar dan sedikit berbicara. Dengan lebih banyak mendengarkan anak, orang tua jadi dapat mengetahui kebutuhannya, apa yang diinginkan, dirasakan, diharapkan atau lainnya. Namun, bukan berarti orang tua lantas pasif. Yang benar adalah bersikaplah proaktif. Saat melihat anak lemas sepulang sekolah, orang tua bisa bertanya, “Ada apa, sayang. Kok tumben lemes?” Perhatian seperti ini akan mendorong anak untuk mau bercerita mengenai keadaannya kepada orang tua.

GAYA KOMUNIKASI MENYIMPANG

Elly Risman, Psi., dari Yayasan Kita dan Buah Hati, menyatakan ada 12 gaya komunikasi yang populer dilakukan orang tua. Walau disebut populer tapi belum tentu gaya komunikasi tersebut benar. Elly malah menyebutnya sebagai GKM alias gaya komunikasi menyimpang. Ia memberi contoh kasus, seorang ibu yang melarang anaknya bermain di ruang tamu karena baru membeli guci yang harganya “selangit”. “Coba, ya Kakak sama Adik jangan main-main di situ. Tahu enggak, guci Mama itu baru. Harganya mahal banget. Nanti kalau kesenggol kan bisa pecah. Sana, mainnya di tempat lain. ”

Namun, namanya anak-anak, maklum saja kalau mereka tetap bermain di situ. Sampai tiba-tiba si Kakak terdengar menangis keras. Si ibu pun berlari tergopoh-gopoh. Ia menghela napas lega kala gucinya masih aman-aman saja di tempatnya. Namun, ia terperanjat saat kaki anaknya terluka karena terjatuh. Lalu mulailah sang ibu mengeluarkan 12 GKM tadi, yaitu:

1. “Tuh, kan tadi Mama bilang juga apa. Enggak denger, sih!” (Menyalahkan)

2. “Sudah, diam, jangan nangis!” (Memerintah)

3. “Katanya jagoan tapi kok nangis.” (Mengeritik)

4. “Benar, kan. Ini akibat kamu enggak mendengarkan mama. Lain kali kalau Mama bilang, nurut ya.” (Menasehati)

5. “Nakal, sih, enggak bisa diam.” (Melabel/Mencap)

6. “Coba sini Mama lihat lukanya. Ah, kayak begini aja masa sakit.” (Meremehkan)

7. “Adik aja waktu lukanya menganga enggak sampai nangis begitu.” (Membandingkan)

8. “Ya, sudah, besok pasti sembuh.” (padahal umumnya 3 hari baru sembuh) (Membohongi)

9. “Sudahlah, jangan dirasa-rasain. Nonton TV atau baca buku sajalah sana.” (Menghibur)

10. “Awas, ya kalau lain kali Mama bilang enggak nurut.” (Mengancam)

11. “Coba pikir, kenapa sampai terjatuh? Kan kamu enggak dengerin Mama? Kamu dorong-dorongan sama adik?” (Menganalisa), sambil terus mencecar kesalahan anak.

12. “Lain kali main dorong-dorongan lagi saja. Kan enak…!” (menyindir)


DAMPAK GKM

Padahal jika 12 GKM tadi terus-menerus dilakukan, menurut Elly, tak sedikit dampak yang diakibatkan. Di antaranya kepercayaan diri anak bisa hilang, anak merasa tidak punya harga diri, perasaan anak selalu tertekan, emosinya tak tersalurkan, dan komunikasi antara anak dan orang tua sesungguhnya tak pernah berjalan. Jelas saja jika akhirnya anak akhirnya frustrasi terhadap orang tua. Bahkan beberapa kasus salah komunikasi seperti itu, bisa berakibat fatal karena anak memutuskan menghabisi dirinya sendiri, seperti yang kini banyak terjadi.

Elly melanjutkan, 12 GKM tak hanya akan
berdampak pada sisi kejiwaan anak, tapi juga akan mempengaruhi perkembangan otaknya. Menurutnya, komunikasi-komunikasi menyimpang tadi, yang berlangsung terus-menerus akan mengganggu sirkuit otak anak. Pasalnya, anak yang selalu dalam keadaan terancam tidak akan pernah bisa berpikir panjang apalagi belajar memecahkan masalah yang dihadapinya. Ini berkaitan dengan bagian otak yang bernama korteks yang merupakan pusat logika. Berarti di korteks inilah pusat kemampuan berpikir, kemampuan menganalisa, kemampuan memecahkan masalah hingga kemampuan mengambil keputusan.

Namun, korteks hanya dapat “dijalankan” kalau emosi anak dalam keadaan tenang. Bila tidak, atau saat anak dalam keadaan tertekan karena kerap dimarahi, tidak disayang, merasa tidak dibutuhkan, maka segala stimulus yang masuk hanya sampai di batang otak saja. Kalau sudah begitu, cara berpikir anak tak berbeda dengan cara berpikir binatang yang hanya menggunakan instink. Ya, seperti dikatakan tadi anak jadi tidak bisa berpikir panjang. “Tak heran kalau ada anak yang tidak dibelikan duren oleh orang tuanya lantas bunuh diri karena dia tidak bisa berpikir panjang,” tambah Elly.

Oleh karena itu, dalam berkomunikasi dengan anak, orang tua harus memperhatikan pula cara sirkuit otak bekerja. Apa pun kondisi orang tua, apakah sedang capek, letih lesu, sakit, tetaplah berusaha menjaga komunikasi yang tidak menyimpang dengan anak.

Dalam contoh kasus tadi, saat orang tua tahu anaknya terjatuh padahal sudah dilarang bermain di tempat itu, yang pertama mesti dilakukan adalah kendalikan diri jangan langsung bereaksi. Ini juga berlaku pada semua kasus.

Jika orang tua bisa mengendalikan diri berarti dia juga bisa mengendalikan emosinya sehingga otaknya memiliki waktu untuk berpikir, apakah perkataan yang dikeluarkan akan menyakitkan anak atau tidak. Dengan emosi yang terkendali sangat mungkin orang tua akan berkata, “Jatuh ya sayang. Sini Mama obatin. Lain kali enggak usah main dorong-dorongan lagi ya!”

Tipe Pola Asuh

4 TIPE POLA ASUH ORANG TUA

Menjadi orang tua memang tidak gampang. Sekolahnya pun tidak ada. Namun begitu, bagaimanapun Anda bersikap terhadap anak, implementasinya bisa digolongkan dalam 4 tipe pola asuh. Termasuk orang tua bagaimanakah Anda?

Semalam Irma terlambat tidur, karena sepupunya berkunjung dan baru pulang jam 22.00. Hari ini si kecil yang masih duduk di kelas 2 SD itu bangun kesiangan. Akibatnya, ia jadi angot, enggak mau berangkat ke sekolah dengan alasan malu kalau terlambat. Setelah semua penghuni rumah membujuknya, bukannya segera mandi dan bergegas ke sekolah, Irma malah makin menjadi-jadi amukannya.

Kalau Irma adalah anak Anda, bagaimana menyikapinya? Memaksanya untuk segera berangkat sekolah? Membiarkannya tidak masuk sekolah? Atau bagaimana? “Sikap yang diambil orang tua terkait erat dengan pola asuh yang diterapkan pada anaknya,” ujar Dra. Clara Istiwidarum Kriswanto, MA, CPBC., dari Jagadnita Consulting.

Pada dasarnya orang tua menginginkan anaknya untuk tumbuh menjadi orang yang matang dan dewasa secara sosial. Sehingga apa pun jenis pengasuhan yang diterapkan orang tua pada dasarnya dimaksudkan untuk mencapai hal tersebut. Namun, kadang orang tua tidak menyadari bahwa pola pengasuhan tertentu dapat membawa dampak merugikan bagi anak. Menurut seorang pakar psikologi, Diana Baumrind, ada empat jenis pola pengasuhan, yaitu otoriter, authoritative, neglectful dan indulgent. Kalau Anda ingin tahu termasuk yang mana, simak penjelasannya berikut.

Marfuah Panji Astuti. Foto Ferdi/nakita

OTORITER YANG MEMAKSA

BILA orang tua Irma termasuk tipe otoriter, maka dia akan mengambil sikap memaksa tanpa kompromi sama sekali. Pokoknya, sekolah wajib hukumnya dan anak tidak boleh membolos dengan alasan apa pun. Mau terlambat, harus menanggung malu, atau kena hukum dari guru, orang tua tidak mau tahu. Yang penting anak tetap berangkat sekolah yang memang menjadi kewajibannya. “Pokoknya Mama-Papa enggak mau tahu. Kamu harus segera mandi dan berangkat sekolah. Jangan membantah!” Kata-kata seperti itulah yang akan diucapkan oleh orang tua otoritarian bila menghadapi keadaan ini.

Pola otoriter adalah pengasuhan yang kaku, diktator dan memaksa anak untuk selalu mengikuti perintah orang tua tanpa banyak alasan. Dalam pola asuh ini biasa ditemukan penerapan hukuman fisik dan aturan-aturan tanpa merasa perlu menjelaskan kepada anak apa guna dan alasan di balik aturan tersebut.

Orang tua mungkin berpendapat bahwa anak memang harus mengikuti aturan yang ditetapkannya. Toh, apa pun peraturan yang ditetapkan orang tua semata-mata demi kebaikan anak. Orang tua tak mau repot-repot berpikir bahwa peraturan yang kaku seperti itu justru akan menimbulkan serangkaian efek.

Pola asuh otoriter biasanya berdampak buruk pada anak, seperti ia merasa tidak bahagia, ketakutan, tidak terlatih untuk berinisiatif, selalu tegang, tidak mampu menyelesaikan masalah (kemampuan problem solving-nya buruk), begitu juga kemampuan komunikasinya yang buruk.

NEGLECTFUL SI CUEK

BILA masalah Irma ini dihadapi oleh orang tua yang mempunyai pola asuh neglectful, maka apa pun yang terjadi, terjadilah tanpa orang tua menaruh peduli sama sekali. Anak mau sekolah terserah, tidak sekolah juga terserah. Apa saja yang ingin dilakukan anak, orang tua membolehkannya. Kalau ia harus berangkat kerja saat itu, ya ia tetap berangkat ke kantor, tanpa peduli anak akan menentukan pilihan yang mana. Dalam bahasa sederhananya tipe ini adalah tipe orang tua yang permisif alias serba membolehkan.

Pola neglectful adalah pola dimana orang tua tidak mau terlibat dan tidak mau pula pusing-pusing memedulikan kehidupan anaknya. Jangan salahkan bila anak menganggap bahwa aspek-aspek lain dalam kehidupan orang tuanya lebih penting daripada keberadaan dirinya. Walaupun tinggal di bawah atap yang sama, bisa jadi orang tua tidak begitu tahu perkembangan anaknya.

Pola asuh seperti ini tentu akan menimbulkan serangkaian dampak buruk. Di antaranya anak akan mempunyai harga diri yang rendah, tidak punya kontrol diri yang baik, kemampuan sosialnya buruk, dan merasa bukan bagian yang penting untuk orang tuanya. Bukan tidak mungkin serangkaian dampak buruk ini akan terbawa sampai ia dewasa. Tidak tertutup kemungkinan pula anak akan melakukan hal yang sama terhadap anaknya kelak. Akibatnya, masalah menyerupai lingkaran setan yang tidak pernah putus.

INDULGENT TIDAK PUNYA POSISI TAWAR

KIRA-KIRA seperti ini yang akan dikatakan orang tua yang tidak punya posisi tawar, “Ya sudah, Irma boleh enggak sekolah. Kamu lagi malas sekolah ya?” Kalau Irma mau menonton televisi saja di rumah, orang tua akan berkata, “Ya sudah, daripada menangis terus, kamu nonton teve saja deh.” Begitu seterusnya. Kata-kata seperti itu akan sering diucapkan oleh orang tua yang mempunyai pola asuh indulgent.

Pola indulgent sebetulnya menjadi istilah bagi pola asuh orang tua yang selalu terlibat dalam semua aspek kehidupan anak. Namun di situ tidak ada tuntutan dan kontrol dari orang tua terhadap anak. Mereka cenderung membiarkan anaknya melakukan apa saja sesuai dengan keinginan mereka. Dalam bahasa sederhananya, orang tua akan selalu menuruti keinginan anak, apa pun keinginan tersebut. Bahkan orang tua jadi tidak punya posisi tawar sama sekali di depan anak karena semua keinginannya akan dituruti, tanpa mempertimbangkan apakah itu baik atau buruk bagi si anak,” tandas Clara.

Banyak orang tua yang menerapkan pola asuh ini berkilah bahwa sikap yang diambilnya didasari rasa sayangnya terhadap anak. “Cinta saya pada si kecil kan cinta yang tidak bersyarat. Jadi, apa pun yang diminta anak akan saya turuti.” Padahal yang namanya cinta, pada siapa pun, termasuk pada anak, tidak identik dengan keharusan menuruti semua keinginannya.

Akibat buruk yang harus diterima anak sehubungan dengan pola asuh orang tua yang seperti ini jelas tidak sedikit. Di antaranya anak jadi sama sekali tidak belajar mengontrol diri. Ia selalu menuntut orang lain untuk menuruti keinginannya tapi tidak berusaha belajar menghormati orang lain. Anak pun cenderung mendominasi orang lain, sehingga punya kesulitan dalam berteman.

AUTHORITATIVE MEMBERIKAN PILIHAN

APAKAH Anda termasuk orang tua yang akan memilih langkah seperti ini? “Jadi Irma maunya gimana? Kalau mau makan es krim dulu, oke Mama kasih waktu 5 menit, tapi setelah itu kamu harus segera mandi dan berangkat sekolah.” Anak boleh memilih melakukan apa yang menurutnya baik, tetapi tetap harus ada batasan apa yang seharusnya dilakukan. Pola asuh seperti ini dikategorikan sebagai pola asuh authoritative.

Pola authoritative mendorong anak untuk mandiri, tapi orang tua tetap menetapkan batas dan kontrol. Orang tua biasanya bersikap hangat, dan penuh welas asih kepada anak, bisa menerima alasan dari semua tindakan anak, mendukung tindakan anak yang konstruktif. “Jadi pada kasus anak terlambat sekolah, orang tua tetap mendengarkan dulu apa keinginan anak, dalam hal ini adalah makan es krim dulu. Bisa jadi hal itu dilakukan anak untuk meredakan ketegangannya karena akan terlambat masuk kelas. Tapi setelah itu, orang tua tetap mengarahkan anak untuk melakukan apa yang seharusnya dilakukan, yaitu tetap harus segera mandi dan kemudian berangkat sekolah,” kata Clara.

Anak yang terbiasa dengan pola asuh authoritative akan membawa dampak menguntungkan. Di antaranya anak akan merasa bahagia, mempunyai kontrol diri dan rasa percaya dirinya terpupuk, bisa mengatasi stres, punya keinginan untuk berprestasi dan bisa berkomunikasi baik dengan teman-teman dan orang dewasa.

Dengan adanya dampak positif tersebut, pola asuh authoritative adalah pola asuh yang bisa dijadikan pilihan bagi orang tua. “Beri anak kesempatan bicara tetapi kontrol sepenuhnya tetap di tangan orang tua,” tambahnya.

TIPS MENJADI ORANG TUA IDEAL

SEHUBUNGAN dengan pola asuh yang baik, Clara menyarankan beberapa hal berikut yang dapat digunakan orang tua untuk mempererat hubungannya dengan anak.

* Menyediakan waktu untuk anak

Komunikasi yang baik memerlukan waktu yang berkualitas dan ini yang kadang tidak dipikirkan oleh orang tua. Tak sedikit orang tua yang meyakini bahwa yang penting adalah kualitas bukan kuantitas. Padahal dalam hal komunikasi, kuantitas juga diperlukan. Bila orang tua bisa memberikan waktu yang berkualitas bagi anaknya, maka itu berarti ia sudah mengasihi dan memperhatikan anaknya.

* Berkomunikasi secara pribadi

Jangan tunggu sampai anak bermasalah. Setiap kali ada kesempatan, manfaatkan momen tersebut untuk mengajak anak bicara. Bicara di sini tidak sekadar basa-basi menanyakan apa kabarnya hari ini. Akan tetapi sebaiknya orang tua juga bisa menyelami perasaan senang, sedih, marah maupun keluh kesah anak.

* Menghargai anak

Hargai keberadaan anak. Jangan hanya menganggapnya sebagai anak kecil. Kalaupun sedang bicara dengan anak, posisikan dirinya sebagai sosok yang dihargai dan sederajat. Dalam beberapa hal tertentu ada yang lebih diketahui anak ketimbang orang tua. Jadi ada baiknya orang tua pun belajar untuk menghargai dan mendengarkan pendapat anaknya.

* Mengerti anak

Dalam berkomunikasi dengan anak, orang tua sebaiknya berusaha untuk mengerti dunia anak, memandang posisi mereka, mendengarkan apa ceritanya dan apa dalihnya. Mengenali apa yang menjadi suka dan duka, kegemaran, kesulitan, kelebihan, serta kekurangan mereka.

* Menciptakan hubungan yang baik

Hubungan yang erat dapat mempersempit jurang pemisah antara orang tua dan anak. Dengan demikian anak mau bersikap terbuka dengan menceritakan seluruh isi hatinya tanpa ada yang ditutup-tutupi di hadapan orang tua.

* Berikan sentuhan/kedekatan fisik dan kontak mata

Usahakan setiap hari untuk menyentuh, melakukan kontak mata dan kedekatan fisik dengan anak. Anak akan merasakan kasih sayang dan kehangatan orang tua bila ayah atau ibu mau melakukan hal-hal tersebut.

* Dengarkan anak

Orang tua sebaiknya belajar untuk menjadi pendengar aktif bagi anaknya. Dengan demikian anak akan tahu bahwa orang tua mampu memahaminya seperti yang mereka rasakan. Bukan seperti yang dilihat atau disangka orang tuanya. Cara ini akan membuat anak merasa penting dan berharga. Selain itu anak akan belajar untuk mengenali, menerima, dan mengerti perasaan mereka sendiri, serta menemukan cara untuk mengatasi masalahnya.

Pola Asuh Penuh Cinta

POLA ASUH PENUH CINTA

Pola asuh sangat menentukan pertumbuhan anak, jadi hati-hati dalam menerapkannya.

Apa, sih, pola asuh itu? Teorinya, menurut Theresia Indira Shanti, Psi.,Msi., pola asuh merupakan pola interaksi antara orang tua dan anak. Lebih jelasnya, yaitu bagaimana sikap atau perilaku orang tua saat berinteraksi dengan anak. Termasuk caranya menerapkan aturan, mengajarkan nilai/norma, memberikan perhatian dan kasih sayang serta menunjukkan sikap dan perilaku yang baik sehingga dijadikan contoh/panutan bagi anaknya.

Sayangnya pola asuh yang diterapkan orang tua tak selamanya efektif Malah terkadang dampaknya bagi si kecil bukannya baik tapi buruk. Pola asuh yang terlalu protektif atau memanjakan anak tentu menyebabkan anak menjadi tidak kreatif atau jadi selalu tergantung pada orang lain. Makanya perlu berhati-hati menerapkan pola asuh. Perlu diingat pula pola asuh sangat menentukan pertumbuhan anak, baik dalam potensi sosial, psikomotorik, dan kemampuan afektifnya.

SYARAT POLA ASUH EFEKTIF

Jadi bagaimana pola asuh yang efektif itu? Menurut Shanti, pola asuh yang efektif bisa dilihat dari hasilnya. “Anak jadi paham kenapa harus begini atau begitu. Kenapa tak boleh ini-itu. Kelak, anak akan mampu memahami aturan-aturan di masyarakat secara lebih luas lagi. Misalnya, kalau ketemu orang harus menyapa atau bersalaman, ” ujar psikolog dari Unika Atmajaya, Jakarta ini.

Nah, syarat paling utama pola asuh yang efektif adalah landasan cinta dan kasih sayang. Tapi bagaimana bentuknya? Berikut hal-hal yang bisa dilakukan orang tua demi menuju pola asuh efektif.

1. Pola asuh harus dinamis

Kenapa? Karena pola asuh harus sejalan dengan meningkatnya pertumbuhan dan perkembangan anak. Sebagai contoh, penerapan pola asuh untuk anak batita tentu berbeda dari pola asuh untuk anak usia sekolah. Pasalnya, kemampuan berpikir batita kan masih sederhana, jadi pola asuh harus disertai komunikasi yang tidak bertele-tele dengan bahasa yang mudah dimengerti. “Adek enggak boleh memukul Eki, karena kalau dipukul itu sakit!”

Tapi anak usia SD pastilah tak mau lagi dianggap anak kecil yang bisa dilarang-larang. Jadi apa pun nilai-nilai yang ingin kita tanamkan mesti disertai dialog terbuka karena mereka sudah tak mudah didikte. Berikan alasan konkret.

“Kakak, kok, nonton teve terus?

“Lagi asyik nih Ma!’”

“Iya, Mama tahu, tapi kalau Kakak nonton terus, nanti PR-nya enggak selesai. Terus besok di sekolah bagaimana dong?”

2. Pola asuh harus Sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan anak

Ini perlu dilakukan karena setiap anak memiliki minat dan bakat yang berbeda. Shanti memperkirakan saat usia satu tahun, potensi anak sudah mulai dapat terlihat. Umpamanya, kala si kecil mendengarkan alunan musik, dia kok tampak lebih tertarik ketimbang anak seusianya. Bisa jadi, ia memang memiliki potensi kecerdasan musikal. Nah, kalau orang tua sudah memiliki gambaran potensi anak, maka ia perlu diarahkan dan difasilitasi.

Selain pemenuhan kebutuhan fisik, orang tua pun mesti memenuhi kebutuhan psikis anak. Sentuhan-sentuhan fisik seperti merangkul, mencium pipi, mendekap dengan penuh kasih sayang, akan membuat anak bahagia sehingga dapat membuat pribadinya berkembang dengan matang. “Kebanyakan anak yang tumbuh menjadi pribadi yang dewasa dan matang, ternyata sewaktu kecil, ia mendapatkan kasih sayang dan cinta yang utuh dari orang tuanya. Artinya, kalau pola asuh orang tua membuat anak senang, tentu anak bisa berkembang secara optimal,” ujar Shanti.

3. Ayah-ibu mesti kompak

Ayah dan ibu sebaiknya menerapkan pola asuh yang sama. Dalam hal ini, kedua orang tua sebaiknya “berkompromi” dalam menetapkan nilai-nilai yang boleh dan tidak. Jangan sampai orang tua saling bersebrangan karena hanya akan membuat anak bingung.

4. Pola asuh mesti disertai perilaku positif dari orang tua

Penerapan pola asuh juga membutuhkan sikap-sikap positif dari orang tua sehingga bisa dijadikan contoh/panutan bagi anaknya. Tanamkan nilai-nilai kebaikan dengan disertai penjelasan yang mudah dipahami. Kelak diharapkan anak bisa menjadi manusia yang memiliki aturan dan norma yang baik, berbakti dan menjadi panutan bagi temannya dan orang lain.

5. Komunikasi Efektif

Bisa dikatakan komunikasi efektif merupakan sub-bagian dari pola asuh efektif. Syarat untuk berkomunikasi efektif sederhana kok, yaitu luang waktu untuk berbincang-bincang dengan anak. Jadilah pendengar yang baik dan jangan meremehkan pendapat anak. Bukalah selalu lahan diskusi tentang berbagai hal yang ingin diketahui anak. Jangan menganggap usianya yang masih belia membuatnya jadi tak tahu apa-apa. Dalam setiap diskusi, orang tua dapat memberikan saran, masukan, atau meluruskan pendapat anak yang keliru sehingga anak lebih terarah dan dapat mengembangkan potensinya dengan maksimal.

6. Disiplin

Penerapan disiplin juga menjadi bagian pola asuh. Mulailah dari hal-hal kecil dan sederhana. Misalnya, membereskan kamar sebelum berangkat sekolah atau menyimpan sesuatu pada tempatnya dengan rapi. Lantaran itu, anak pun perlu diajarkan membuat jadwal harian sehingga bisa lebih teratur dan efektif mengelola kegiatannya. Namun, penerapan disiplin mesti fleksibel dan disesuaikan dengan kebutuhan/kondisi anak. Anak dengan kondisi lelah, umpamanya, jangan lantas diminta mengerjakan tugas sekolah hanya karena saat itu merupakan waktunya untuk belajar.

7. Orang tua Konsisten

Orang tua juga bisa menerapkan konsistensi sikap, misalnya anak tak boleh minum air dingin kalau sedang terserang batuk. Tapi kalau anak dalam keadaan sehat ya boleh-boleh saja. Dari situ ia belajar untuk konsisten terhadap sesuatu. Yang penting setiap aturan mesti disertai penjelasan yang bisa dipahami anak, kenapa ini tak boleh, kenapa itu boleh. Lama-lama, anak akan mengerti atau terbiasa mana yang boleh dan tidak. Orang tua juga sebaiknya konsisten. Jangan sampai lain kata dengan perbuatan. Misalnya, ayah atau ibu malah minum air dingin saat sakit batuk.

Hilman Hilmansyah. Ferdi/nakita

POLA ASUH DAN KECERDASAN

SALAH satu syarat pola asuh efektif adalah menyesuaikan pola asuh tersebut dengan kebutuhan dan kemampuan anak. Untuk itulah Shanti menjabarkan delapan tipe kecerdasan dari Howard Gardner yang bertajuk Multiple Intelligences (MI), agar orang tua dapat mereka-reka di mana sebenarnya kemampuan si kecil berada. Secara singkat 8 tipe kecerdasan manusia dibagi menjadi berikut:

Kecerdasan matematika-logika, kemampuan berpikir secara induktif (dari kaidah khusus ke umum) dan deduktif (dari kaidah umum ke khusus), menurut aturan logika, memahami dan menganalisa pola angka, serta mampu memecahkan masalah dengan menggunakan kemampuan berpikir.

Kecerdasan bahasa, kemampuan menggunakan bahasa dan kata-kata secara lisan maupun tulisan untuk mengekspresikan gagasan atau ide-ide.

Kecerdasan musikal, kemampuan untuk peka terhadap suara-suara nonverbal di sekelilingnya, termasuk nada irama.

Kecerdasan visual spasial, kemampuan memahami lebih mendalam hubungan antara objek dan ruang. Kemampuan berimajinasi, menciptakan bentuk tiga dimensi, membayangkan bentuk nyata.

Kecerdasan Kinestetik, kemampuan menggunakan bagian atau seluruh tubuhnya untuk berkomunikasi atau memecahkan masalah. Misalnya, unggul dalam olahraga, seni tari, atau akrobat.

Kecerdasan interpersonal, kemampuan untuk peka terhadap perasaan orang lain. Mampu memahami dan berinteraksi dengan orang lain sehingga mudah bersosialisasi dengan lingkungan.

Kecerdasan intrapersonal, kemampuan peka terhadap perasaan diri sendiri, mengenal kekuatan dan kelebihan diri, introspeksi dan evaluasi diri.

Kecerdasan naturalis, kemampuan peka terhadap lingkungan alam. Misalnya senang berada di lingkungan pantai, gunung, atau hutan. Mengobservasi lingkungan alam.

Pertanyaan Orang Tua

Pertanyaan yang paling sering ditanyakan anak ke orangtua

Oleh sukarto | July 3, 2007

Sebagai orangtua, tahukah Anda, apa pertanyaan yang terus menerus ditanyakan anak sepanjang waktu di dalam pikirannya ? Baik dia lagi bermain, belajar, ngobrol dengan orangtua, lagi rewel dan waktu-waktu lain, kecuali waktu tidur kali ya, pertanyaan ini selalu ada dalam benak anak, baik secara sadar maupun secara tidak sadar.

Tahukah Anda apa pertanyaan itu ? Inilah pertanyaan yang selalu muncul di pikiran anak “Apakah orangtuaku mencintaiku ?” Anak secara konstan mencari jawaban pertanyaan ini dalam perilakunya. Saat anak rewel, dia sedang bertanya “Apakah orangtuaku mencintaiku ?” Saat anak lagi bermain dan melirik ke orangtuanya, dia juga sedang bertanya “Apakah orangtuaku mencintaiku ?”

Dan anak mendapat jawaban dari pertanyaan itu dari ucapan dan perilaku orangtua terhadap dirinya. Suatu saat anak yang merasa dicintai orangtuanya, sedang bermain dan tidak sengaja gelas kesayangan mamanya dijatuhkan dan pecah. Mamanya begitu marah pada anak ini dan memukul atau mencubit tangannya. Setelah kejadian itu, anak jadi kembali ragu dan bertanya apakah orangtuaku mencintaiku ? Dia mungkin jadi tambah rewel dan itulah cara seorang anak untuk mendapat jawaban dari orangtua.

Sebagai orangtua yang memang mencintai anaknya dan mengerti tentang hal ini, kita perlu belajar memberikan jawaban ke anak “YA, Saya Mencintaimu” dengan ucapan dan perilaku kita. Cinta yang kita perlu berikan adalah adalah suatu cinta tanpa syarat.

Bagi yang belum mengerti apa itu cinta tanpa syarat, saya jelaskan lebih dulu, cinta dengan syarat. Cinta dengan syarat ke anak adalah Anda hanya mencintai anak Anda saat dia berperilaku baik atau sesuai dengan yang Anda inginkan. Bila tidak, Anda memarahinya, Anda membentaknya atau dengan kata lain Anda tidak mencintainya.

Cinta tanpa syarat adalah cinta yang diberikan ke anak “apapun yang terjadi”. Tidak ada kondisi “nak, kamu harus begini begitu, baru papa/mama sayang sama kamu”. Cinta tanpa syarat adalah kita mencintai atau sayang dengan anak kita saat dia berperilaku baik, berperilaku buruk, ada kekurangan atau tidak. Cinta tanpa syarat tidak berarti kita setuju atau menyukai semua perilakunya. Juga tidak berarti kita membiarkannya melakukan hal-hal yang melanggar tata krama atau peraturan di masyarakat.

Banyak orangtua khawatir kalau sikap ini akan mengarah ke memanjakan anak. Pemikiran seperti ini keliru karena tidak ada cinta tanpa syarat yang terlalu banyak bagi seorang anak. Seorang anak mungkin “menjadi manja” karena ia dibesarkan dengan perilaku / cinta yang tidak pada tempatnya, tetapi tidak pernah karena cinta tanpa syarat.

Pendapat sebagian orangtua bahwa kalau anak berperilaku buruk harus saya marahi atau saya pukul agar dia tidak mengulangi lagi, itu tidaklah benar. Kalau cara seperti itu bagus, semestinya anak-anak yang nakal dan suka berkelahi, saat salah dipukuli atau dimarahi saja, mustinya beres kan ? Tetapi kalau kita mau melihat lebih dalam, anak-anak yang suka berkelahi di sekolah, seringkali adalah anak yang dirumah sering dimarahi atau dipukul orangtuanya. Jadi apakah efektif cara ini ?

Cinta tanpa syarat adalah cinta yang dibutuhkan anak agar dia merasa aman dan merasa nyaman di hatinya karena dia tahu orangtuanya mencintainya apa adanya sehingga dia mampu percaya diri dan anak malah semakin menurut dan mendengarkan orangtuanya. Anak akan semakin mengikuti aturan-aturan yang ditentukan orangtua. Anak tidak akan merasa perlu menentang orangtua untuk mendapat jawaban “Apakah orangtuaku mencintaiku”. Karena kunci dari pendidikan atau pendisiplinan baru dapat dilakukan secara efektif apabila anak merasa dicintai. Anak yang tangki cintanya penuh, mampu menanggapi bimbingan orangtuanya tanpa rasa permusuhan.

Tidaklah mudah memang mencintai anak tanpa syarat, menahan emosi dan kejengkelan adalah bagian dari kehidupan orangtua. Saya harus akui hal itu, saya tidak 100% selalu dalam kontrol saat menghadapi situasi tersebut, tetapi saya berusaha menjadi semakin baik.

Bila Anda termasuk orangtua yang tidak mudah menahan emosi atau kejengkelan saat anak berperilaku tidak sesuai dengan keinginan Anda, untuk meningkatkan kesadaran diri orangtua atau renungkan hal berikut ini :

  1. Ia masih anak-anak.
  2. Karena itu ia akan cenderung bertindak seperti anak-anak.
  3. Kebanyakan perilaku kekanak-kanakan memang tidak menyenangkan.
  4. Apabila saya melakukan tugas saya sebagai orangtua untuk mencintainya, meski perilakunya saat ini kekanak-kanakan, ia akan tumbuh dewasa dan meninggalkan semua cara yang kekanak-kanakan tadi.
  5. Apabila saya hanya mencintainya saat ia menyenangkan saya (cinta bersyarat), ia akan merasa tidak dicintai secara tulus. Hal ini akan merusak citra dirinya serta membuatnya merasa tidak aman, bahkan menghalangi tumbuh untuk memiliki perilaku yang lebih dewasa. Oleh sebab itu, saya bertanggungjawab atas perkembangan serta perilakunya sebagaimana halnya ia juga bertanggung-jawab tentang hal itu.
  6. Apabila saya hanya mencintai anak ketika ia memenuhi semua persyaratan atau harapan saya, maka ia akan selalu dihantui perasaan tidak aman, cemas, kurang menghargai diri sendiri serta memiliki rasa marah di dalam hati.
  7. Apabila saya mencintainya tanpa syarat, ia akan merasa nyaman terhadap diri sendiri dan akan mampu mengendalikan kecemasan serta perilakunya saat tumbuh dewasa.

Jadi sudahkan Anda memutuskan jawaban apa yang Anda berikan ke anak Anda ?

Saya percaya Anda akan mendapat manfaat dari pengetahuan ini. Selamat menjadi orangtua yang terbaik bagi anak Anda.

Mengajar Disiplin Pada Anak

  1. Mengajarkan disiplin kepada anak, atau meminta anak menuruti apa yg kita inginkan, adalah dengan menerapkan SIGNAL AWAL.
  2. Mengkondisikan anak bahwa ia sudah besar
  3. Yang perlu DIINGAT dalam hal menghentikan dot ini, jika anak menjadi rewel, itu adalah hal yang SANGAT WAJAR.
  4. Seperti halnya kita orangtua juga, anak awalnya pasti akan menjadi tidak nyaman dengan perubahan ‘negatif’ yang dialaminya. Tugas kita untuk mencari alternatif kegiatan sehingga rasa tidak nyaman itu bisa dikurangi dan akhirnya bisa ditinggalkan.
  5. Begitu kita memutuskan untuk melakukan penghentian dot, lakukan dengan tegas (BUKAN berarti sambil marah loh!). Jangan sampai kita menyerah begitu melihat anak menangis meminta dotnya. Jika hal ini dilakukan berulang kali, kita akan menjadi sangat kesulitan melakukannya lagi, karena anak merasa bahwa dia bisa merubah apa yang telah menjadi keputusan rangtuanya.

    Jadi, untuk menghentikan suatu kebiasaan anak,
    faktor PENTING dan EFEKTIF yang bisa dilakukan adalah:

    1. Pemberian SIGNAL AWAL kepada anak tentang
    perubahan yang akan terjadi pda dirinya.

    2. Tindakan TEGAS tapi tetap dengan menunjukkan
    KASIH SAYANG sehingga anak memahami bahwa apa
    yang kita lakukan memang akan terjadi.

    3. KERJASAMA orangtua dan pihak lain sehingga
    tidak terjadi perbedaan dalam memperlakukan anak.

    Selamat Mencoba.. dan ditunggu cerita pengalaman anda.