Mempererat Bonding antara Bayi dan Ayahnya

Proses kehamilan, kelahiran dan ikatan emosi awal yang kuat sangat bergantung pada peran ayah. Pada kenyataannya, dukungan emosional dari suami selama kehamilan memberikan kontribusi yang kuat terhadap keberhasilan pasangannya beradaptasi dengan kehamilannya. Tak hanya itu, menurut R Parke dalam bukunya “Fathers”, kehadiran suami selama proses kelahiran juga terbukti dapat mengurangi rasa sakit yang dialami calon ibu saat persalinan.
Baca lebih lanjut

7 Mitos Anak Manja

7 Mitos Tentang Anak Manja
Kamis, 24 April 2008 | 15:24 WIB
Sebelum terlanjur mencap anak Anda anak yang manja, sebaiknya simak dulu mitos-mitos tentang anak manja dan penjelasan dari mitos-mitos tersebut.

Mitos 1: Terlalu sering digendong akan membuat anak jadi manja. Kadang-kadang anak harus dibiarkan menangis.

Kenyataannya:
Bayi butuh digendong, bila perlu sesering Anda bisa. Bayi menangis karena mereka lapar, sakit, buang air kecil, atau karena ingin diperhatikan.

Mitos 2: Anak-anak tidak boleh memiliki perasaan bahwa mereka selalu bisa mendapatkan apa pun yang mereka inginkan.

Kenyataannya:
Diperlukan contoh yang efektif dari orang tua dalam mengajarkan anak-anak bahwa mereka tidak selalu bisa mendapatkan apa pun yang mereka inginkan. Misalnya jika anak ingin sesuatu, tanyakan padanya apa yang bisa dia lakukan untuk mendapatkan keinginan tersebut. Mereka akan belajar dan memahami, keinginan bisa terwujud jika berusaha.

Mitos 3: Memang ada anak yang manja dari “sono”nya.

Kenyataannya:
Tidak ada anak yang terlahir manja. Manja merupakan kesimpulan dan penilaian yang dibuat oleh orang terhadap pengamatan suatu perilaku.
Anak yang merengek dan baru diam sesudah orangtuanya mengabulkan permintaannya, bukan berarti mereka manja. Mereka hanya berusaha mendapatkan apa yang mereka inginkan dengan berperilaku “mengancam” agar permintaannya dikabulkan. Perilaku mereka inilah yang harus diarahkan dan diubah.

Mitos 4: Bagi sebagian anak, manja merupakan gambaran yang baik.

Kenyataannya:
Manja tidak pernah merupakan gambaran yang akurat bagi anak-anak. Jangan memberikan label manja pada anak. Bila Anda memberinya label manja, maka anak cenderung menjadi manja betulan.

Mitos 5: Sangat penting untuk menegur anak bila mereka bersikap manja.

Kenyataannya:
Bila Anda menyebut si kecil manja, yang mereka dengar bukanlah manja melainkan sebagai manja yang merusak. Tanyakan pada diri Anda, perilaku yang mana yang membuat Anda menilai anak Anda manja? Bila anak Anda merengek meminta sesuatu, ajarkan anak Anda cara meminta dengan menggunakan bahasa yang baik.

Mitos 6: Anak-anak yang memiliki mainan yang berlimpah cenderung dimanja.

Kenyataannya:
Mitos tersebut tidak benar. Kita harus melihat bagaimana benda tersebut diperoleh, kegunaannya, dan bagaimana sikap anak tersebut terhadap benda-benda yang dimilikinya.

Mitos 7: Anak yang manja perlu diubah perilakunya.

Kenyataannya:
Yang perlu diubah adalah perilaku orang tuanya dalam menghadapi anak yang mengancam karena keinginannya tidak dikabulkan.

Sumber : Kompas

Mencetak Anak Sehat

Kiat Mencetak Anak Sehat

Mengajarkan anak untuk memiliki kebiasaan hidup sehat tak cukup hanya lewat nasehat. Lebih dari itu, Anda perlu menjadi teladan bagi si kecil.

1. Menjadi contoh positif
Jika Anda tidak ingin anak Anda merokok, tunjukkan pada mereka Anda tidak punya kebiasaan itu. Bila tak ingin punya anak obesitas kurangilah kebiasaan mengonsumsi makanan berlemak di rumah. Anak selalu meniru kebiasaan dan tingkah laku orang di sekitarnya.

2. Stop mengeluh
Hindari mengeluh di depan si kecil soal susahnya menurunkan berat badan atau menghentikan kebiasaan merokok. Keluhan-keluhan yang selalu Anda lontarkan akan membuat mereka menganggap hidup sehat itu sulit.

3. Tetapkan tujuan
Libatkan anak dalam membuat rencana kegiatan sehat yang akan dilakukan bersama, misalnya acara bersepeda sekeluarga atau mencoba resep makanan sehat.

4. Biarkan Anak mencoba
Kenalkan anak pada berbagai jenis kegiatan olahraga sejak dini dengan cara menyediakan alat-alat olahraga di rumah, misalnya raket atau bola basket.

5. Seimbangkan kebiasaan buruk dan baik
Tunjukkan pada mereka Anda tetap bisa menonton acara favorit di tivi sambil berlari di treadmill atau selalu menyikat gigi setelah makan makanan manis.

6. Hindari memberi makanan sebagai hadiah
Banyak ibu-ibu yang merayu anaknya untuk makan sayuran dengan memberi es krim atau kue sebagai hadiah. Kebiasaan itu akan membuat anak menilai es krim sebagai sesuatu yang baik dan sayuran hal yang buruk.

7. Biarkan mereka paham
Sampaikan pada si kecil pentingnya hidup sehat. Bila anak telah memiliki pemahaman akan kesehatan tak sulit untuk mengajaknya berolahraga atau makan makanan sehat.

Minta Maaf Pada Anak

9 Kiat Minta Maaf Pada Anak

Menjadi orangtua bukan berarti selalu benar dalam bersikap. Tak jarang, orangtua juga melakukan kesalahan pada anak, sehingga membuat hubungan terganggu. Inilah cara meminta maaf pada anak tanpa membuat Anda harus kehilangan wibawa di depannya.

1. Mengaku bersalah
Sadari bahwa Anda telah membuat kesalahan, dan akui itu padanya. Inilah salah satu faktor penting dalam meminta maaf. Tak jarang ini sulit dilakukan, karena orangtua merasa gengsi. Lupakan gengsi, kalau memang tak ingin masalah terus berlarut.

2. Tulus
Ketika meminta maaf, Anda harus tulus. Anak akan gampang mengetahui ketika Anda membohonginya tentang hal ini.

3. Tenang
Meminta maaf dalam keadaan emosi akan percuma. Kalau Anda belum bisa bersikap tenang, katakan padanya bahwa Anda butuh waktu untuk sendiri, sebelum melanjutkan pembicaraan dengannya. Kemudian, pikirkan apa yang terjadi dan apa penyebabnya agar pikiran jadi tenang.

4. Tepat sasaran
Katakan permintaan maaf Anda secara langsung dan dalam kalimat yang tidak berbelit-belit. Ingat, yang dimintakan maaf adalah sikap Anda yang baru saja terjadi, bukan kepribadian Anda. Misalnya, mintalah maaf atas kemarahan dan ucapan Anda yang kasar, bukan atas kepribadian Anda yang emosional.

5. Jangan menyalahkan
Jangan balik menyalahkan anak hanya untuk membenarkan sikap Anda. Misalnya, dengan mengatakan bahwa seandainya ia tidak malas, Anda tidak akan marah terus padanya. Ini sama saja Anda tidak meminta maaf, melainkan justru menyalahkannya.

6. Meminta maaf
Mengatakan bahwa Anda bersalah dan bertanya apakah ia mau memaafkannya akan mempermudah Anda mengungkapkan penyesalan, sekaligus membuat anak belajar memahami cara memperbaiki hubungan.

7. Evaluasi
Bersama anak, lihat kembali bagaimana Anda bisa menyelesaikan masalah itu dengan baik, dan sepakati cara yang akan dilakukan bila masalah yang sama terjadi lagi nanti.

8. Lupakan
Bagaimanapun juga, Anda hanya seorang manusia, yang tentu tidak sempurna dan bisa berbuat salah. Namun, jangan terus berkutat pada rasa bersalah Anda. Setelah meminta maaf, lupakan masalah tersebut dan berusahalah untuk tidak mengulanginya lagi, sama seperti ketika Anda memintanya tidak mengulang kesalahan.

9. Jangan berlebihan
Berlebihan dan selalu meminta maaf, bahkan untuk hal-hal yang sangat sepele, justru akan membuat Anda kehilangan wibawa. Mintalah maaf karena Anda memang bersalah, bukan karena Anda berusaha menerapkan disiplin atau hukuman yang terbilang wajar, atas kesalahannya

http://www.kompas.com

Asah Asih Asuh

Asah Asih Asuh Pola Pembentuk Karakter

Orangtua mana yang tak senang melihat buah hati yang dinantikan sembilan bulan lamanya, tumbuh sempurna.Tak hanya asupan nutrisi, pola asuh yang baik turut menentukan perkembangan fisik dan mentalnya di kemudian hari.ASAH, asih, asuh. Para ibu mungkin familier dengan istilah ini. Namun, apakah Ibu yakin sudah menerapkannya kepada putra-putri Ibu? Cinta dan kasih sayang disebut juga dengan asih; berbagai stimulasi yang ibu berikan dikategorikan sebagai asah; sedangkan pemenuhan kebutuhan dasar pangan, sandang, papan, dan kesehatan merupakan bagian dari asuh.

Setiap anak membutuhkan cinta, perhatian dan kasih sayang yang akan berdampak terhadap perkembangan fisik, mental, dan emosionalnya. ”Kasih sayang dari kedua orangtuanya ini merupakan fondasi kehidupan bagi si anak dan menjadi modal utama rasa aman,terlebih ketika dia mengeksplor dunianya,” kata spesialis anak dari Yayasan Orangtua Peduli dr Purnamawati S Pujiarto Sp A(K).

Orangtua bisa mengungkapkan rasa cinta kasih melalui pelukan, sentuhan, belaian, senyuman, dukungan,mendengar keluh kesah dan celotehnya, serta meluangkan waktu bermain dengan si kecil. ”Bahkan, selama 6 bulan pertama, respons segera ketika bayi menangis, sangat besar artinya bagi perkembangan kepribadian dan emosionalnya,”ungkapnya.

Untuk menunjang tumbuh kembang dan proses belajar, anak harus terpenuhi kebutuhan dasarnya (asuh). Bawa bayi ke posyandu secara teratur untuk diperiksa kesehatannya dan dipantau tumbuh kembangnya. Lindungi mereka dengan imunisasi tepat waktu dan berikan ASI selama enam bulan. Pemberian stimulasi seperti berbicara, berkomunikasi, dan membaca juga tak kalah penting.

Beri stimulasi pada semua indra anak dan ajaklah bayi berbicara sesering mungkin,seperti ketika mengganti popok, menyusui dan memandikan sehingga otaknya senantiasa aktif. Penelitian membuktikan, anak yang kerap diajak bicara dan berkomunikasi secara intensif akan memiliki IQ lebih tinggi dan perbendaharaan kata yang lebih kaya. ”Stimulasi tidak harus mahal atau dalam bentuk sekolah. Daily life adalah sekolah yang ”sesungguhnya” di rumah. Misalkan saat ada kucing berkejaran,ibu berseru di depan anak: ’Lihat, ada kucing kejar-kejaran! Kenapa ya? Oh ternyata sedang rebutan makanan’,” sebut Purnamawati, mencontohkan.

Ketika anak ingin bermain, berikan mainan atau objek dari berbagai jenis, bentuk, warna, bunyi, tekstur, dan berat. Kegiatan interaktif seperti bermain ciluk ba, jalan-jalan keliling kompleks, bernyanyi, belanja, dan menyiram bunga bersama merupakan upaya stimulasi yang sangat baik. Selain itu, membaca juga penting untuk membentuk perbendaharaan kata, menstimulasi imajinasi, dan meningkatkan kemampuan bahasa si anak.

”Stimulasi hendaknya disesuaikan perkembangan usia. Ketika anak mulai belajar merangkak misalnya, jangan terlalu banyak dilarang sebab mereka juga butuh ruang untuk mengembangkan kekuatan ototnya, merangkak, merambat, dan berjalan. Kalau serbadilarang akibatnya dia menjadi anak yang tidak berani mencoba,” tuturnya. Contoh lainnya adalah ketika anak ingin membuka suatu kotak, tapi tampak kesulitan sering kali ibu tergerak ingin membantu.Jangan lakukan dan biarkan anak mencoba sendiri.

Kalau masih kesulitan,perlihatkan bagaimana cara membuka kotak itu lalu kembalikan kotak dalam keadaan tertutup agar anak bisa membukanya sendiri. Hal ini dapat melatih kemampuannya dalam berpikir dan menyelesaikan masalah. Ketiga unsur (asah, asih, dan asuh) yang dipaparkan di atas mungkin memiliki definisi dan kategori berbeda. Namun, dalam praktiknya ketiga unsur tersebut tidak berjalan sendirisendiri tapi saling berhubungan.

”Dalam pola pengasuhan, asah, asih, dan asuh itu saling terkait. Ketika menstimulasi, kita juga memberikan kasih sayang. Jadi, ketiganya ada dalam satu paket,” tandas Purnamawati. Sementara itu, psikolog dari Lembaga Psikologi Terapan UI Erfianne Cicilia Psi mengungkapkan, pola asuh orangtua juga tidak lepas dari pola asuh lingkungan, seperti pengasuh, kakek-nenek, dan saudara terdekat. Hal ini juga akan memengaruhi pembentukan karakter si anak.

Karakter setiap anak sebetulnya terbentuk sesuai genetik orangtuanya dan bersifat menetap sehingga harus diterima apa adanya. ”Perubahan karakter anak pada dasarnya bukan ’berubah’,melainkan ’melemah’ atau ’menguat’. Dalam hal ini lingkungan dan pola asuh orangtua memegang peranan penting. Karenanya, terapkan pola asuh sesuai karakter anak, berikan stimulasi, dan jadilah sahabat bagi anak,”ujarnya.

Kebiasaan yang Diturunkan

KULTUR dan latar belakang orangtua turut berpengaruh pada pola asuh yang diterapkan dalam keluarga. Orangtua juga perlu berhati-hati, sebab segala tindak tanduk dan perilakunya bisa dicontoh oleh si anak. Artinya, pola asuh sifatnya bisa menurun (intergenerational transmission).

”Kalau kita biasa diasuh dengan kehalusan, diajak ngomong dan diberi pemahaman secara baik-baik pasti akan menurun pada anak kita. Sebaliknya, kalau orangtua sudah terbiasa dengan kekerasan seperti main tampar, cubit dan pecut tanpa sadar anak juga akan berbuat seperti itu,” kata psikiater dari Klinik Mutiara Hatiku Ika Widyawati MD. Dia mencontohkan,ada anak yang bercerita pada neneknya bahwa ayahnya suka memukul, lalu si anak berkata, ’Kapankapan aku ingin memukul ayah kalau dia lagi tidur’.”Itu adalah suatu bentuk dendam dan seharusnya tidak terjadi, apalagi kalau dendamnya terbawa sampai besar,”ujarnya.

Dia menambahkan bahwa pola asuh itu sifatnya prinsipiil. Jadi sebenarnya tidak ada pola asuh yang salah, sebab pada dasarnya tidak ada orangtua yang ingin menjerumuskan anaknya. Hanya, cara mengasuhnya itu yang terkadang salah,misalkan dengan kekerasan.

”Dalam mendidik anak, orangtua harus tegas dan konsisten.Pastikan tidak melakukan abusive atau kekerasan, baik secara fisik maupun verbal, apalagi kekerasan seksual,” tegas wanita yang juga mengepalai Infant Mental Health di FKUI/RSCM ini. Sebagai orangtua harus sadar dalam mengajar anak karena sering kali terlalu emosi.Ada yang mengatakan bahwa orangtua itu bukan guru yang baik bagi anaknya sendiri.

Artinya, kalau mengajar anak orang lain sampai ratusan pun masih bisa diasuhnya, tapi saat mengajar anak sendiri kadang bisa sampai naik darah. Kenapa demikian? Sebab,orangtua penuh harapan terhadap si anak dan terkadang berlebihan. ”Sejak dalam kandungan, orangtua sudah punya bayangan tentang ’the fantastic child’ dan kenyataannya sering kali tidak sama dengan ’the real child’- nya.

Karena itu ketika anak jadi ’biang kerok’ belum apa-apa orangtua sudah mengamuk duluan. Anak pulang membawa hasil ulangan yang jeblok, orangtua sudah nyolot saja. Padahal, seharusnya ditanya dan diteliti dulu kenapa si anak mendapat nilai jelek,siapa tahu dia sedang sakit,”saran Ika. Reward positif dan konsistensi dalam mendidik juga diperlukan, antara lain untuk mendisiplinkan dan memacu anak berbuat lebih baik lagi.

Jadi, bukan hukuman (punishment) yang ditonjolkan,melainkan rewardatau hadiahnya,baik berupa pujian, makanan kecil atau kue. ”Yang penting anak dibiasakan bahwa kalau dia berusaha, maka dia akan mendapatkan sesuatu,tapi bukan berarti kalau dia tidak bisa, dia akan dihukum,”tandasnya.

Adu Pendapat Bukan Berantem

ARTIS Soraya Haque berpendapat bahwa pola asah asih asuh itu sifatnya sangat psikologis dan ini diterapkan antara lain dengan mengasah potensi anak melalui orangtua sebagai role model.

”Modelling atau percontohan itu dasar bentukannya dari rumah dan itu adalah tugas orangtua yang paling penting, yaitu memberi contoh yang baik,” ungkap wanita yang biasa disapa Aya ini. Dalam mengasuh ketiga putra-putrinya, kakak kandung artis Marissa Haque ini mengatakan bahwa prinsipnya adalah kasih sayang yang menjembatani pola pengasuhan itu.

Contoh sederhananya adalah mengajarkan anak bersahabat dengan alam dengan tidak merusak alam dan tidak menyakiti binatang. Cara orangtua melihat dan memandang masalah serta bagaimana mengambil keputusan juga kerap dicontoh anak. Aya tidak mempermasalahkan ketika dirinya dan sang suami (musisi Eki Soekarno) beradu pendapat atau berargumen di depan anakanaknya.

”Beradu pendapat tidak berarti berantem. Ini juga sebagai bentuk pembelajaran bagi anakanak bahwa berbeda pendapat itu adalah hal wajar. Kadang kami juga minta pendapat mereka apa sekiranya ada yang salah? Dan mereka pun mengemukakan pandangannya, misalkan ’mama kurang ini’ atau ’papa seharusnya gini’,” ungkap ibunda dari Valerie, Nadia dan Dalmiro ini.

Sebagai pasangan seniman, Aya dan Eki menginginkan anak-anaknya bisa berkecimpung atau setidaknya memiliki keterampilan di bidang seni, antara lain bermain piano. ”Hingga mereka berusia 12 tahun peraturan ditentukan oleh kami orangtuanya, antara lain mereka harus bisa bermain piano. Setelah itu di atas usia 12 tahun mereka sudah bisa berpikir dan menentukan sendiri apakah akan terus bermusik,” tutur Aya seraya menambahkan bahwa anakanaknya juga mempelajari bela diri dengan tujuan untuk menjaga diri m a u p u n berkompetisi. (inda susanti)

Sumber : Seputar Indonesia

Pola Asuh Yang Tepat

POLA ASUH TEPAT UNTUK SEMUA TIPE ANAK

Tipe kepribadian anak dapat juga dikenali dari ciri lainnya yaitu anak sulit, mudah, dan slow to warm up. Ciri ini melengkapi penggolongan kepribadian berdasarkan temperamen yang dikemukakan Hipocrates (460-375 SM), yakni phelgmatic, sanguine, choleric dan melankolis. Untuk itu dituntut kejelian orang tua agar pola asuh yang tepat bisa diterapkan tanpa hambatan berarti.

Semua orang tua mengharapkan anaknya kelak tumbuh menjadi manusia yang cerdas, bahagia, dan memiliki kepribadian yang baik. Namun, untuk mewujudkan harapan itu, tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Orang tua dituntut untuk jeli mengamati perkembangan anak dan tentunya menerapkan pola asuh yang tepat.

Sebagai langkah awal, Dra. Mayke S. Tedjasaputra, M.Si., dari Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia, menekankan pula perlunya mengenali kepribadian atau karakter anak. Agak berbeda dari teori sebelumnya yang mengatakan bahwa kepribadian anak dipengaruhi temperamen phelgmatic, sanguine, choleric dan melankolis, Mayke mengetengahkan penggolongan temperamen yang bersifat lebih umum. Orang tua diminta mengamati apakah anaknya tergolong berkepribadian sulit, mudah, atau slow to warm up. Ciri-ciri ketiga tipe temperamen tersebut menurut Mayke biasanya telah dapat
diamati semenjak anak masih bayi.

1. Tipe mudah

Ciri-cirinya:

* Memiliki suasana hati yang positif, cenderung tidak rewel.

* Dengan cepat dapat membentuk kebiasaan rutin yang teratur dan mudah menyesuaikan diri dengan pengalaman, situasi dan orang-orang baru.

* Memasuki usia prasekolah atau balita, anak tipe ini umumnya lebih mudah memahami penjelasan tentang perilaku yang diharapkan dari mereka.

2. Tipe sulit

Ciri-cirinya:

* Cenderung bereaksi secara negatif dan sering sekali menangis.

* Cenderung bereaksi negatif terhadap kegiatan rutin, sehingga memberikan kesan sangat sulit untuk hidup secara teratur (misalnya keteraturan dalam hal makan, tidur, mandi dan lainnya).

* Lamban dalam menerima pengalaman-pengalaman baru, sehingga penyesuaian diri dengan lingkungan, situasi, serta orang-orang di sekitarnya, dan makanan baru pun sulit.

* Memasuki usia prasekolah atau balita, si anak sangat sulit sekali bila diberi pengertian atau diberi penjelasan tentang perilaku apa yang tidak diharapkan dari mereka.

3. Tipe slow to warm up

Ciri-ciri:

* Memiliki ciri antara tipe sulit dan mudah.

* Tingkat aktivitasnya rendah.

* Cenderung menunjukkan suasana hati yang negatif (tetapi sedikit lebih baik daripada tipe sulit).

* Penyesuaian dirinya juga lamban dan suasana hati anak tipe ini cenderung rendah intensitasnya. Semasa bayi ia tidak terlalu rewel bila dibandingkan dengan tipe anak sulit. Lewat bujukan-bujukan akhirnya ia dapat ditenangkan.

* Memasuki usia prasekolah atau balita, anak tidak terlalu mudah saat diberi pengertian atau diberi penjelasan tentang apa yang diharapkan dari mereka dalam bertingkah laku. Dibutuhkan usaha yang cukup kuat dan sikap sabar dari orang tua dalam rangka mengajak anak bekerja sama.

JANGAN TERKECOH

Namun, Mayke mengingatkan, orang tua hendaknya jangan sampai terkecoh. Bisa jadi anak yang tenang dan jarang menangis disebabkan perkembangannya yang terlambat, misalnya pada anak yang mengalami keterbelakangan mental. Anak autis pun ada yang berpembawaan tenang. Namun harus diwaspadai, bisa jadi “ketenangan” anak disebabkan keasyikannya yang berlebihan dalam dunianya sendiri sehingga orang tua merasa tidak terganggu.

Bisa juga, ciri-ciri tipe sulit pada seorang anak sebetulnya merupakan bentuk dari gangguan perkembangan hiperaktif. Di usia bayi, anak-anak hiperaktif mempunyai ciri-ciri ketidakteraturan dalam hal tidur, makan, dan eliminasi (buang air) sehingga sulit untuk membiasakan suatu rutinitas pada mereka. Terkadang saat masih berada dalam kandungan, si bayi sudah menunjukkan hiperaktivitasnya dengan kerap melakukan gerakan berputar dan menendang keras-keras.

Bukan hanya kewaspadaan saja yang dibutuhkan dalam mengamati ciri-ciri anak, tetapi juga kepekaan orang tua. Orang tua yang tanggap akan segera memberikan respons ketika anaknya membutuhkan bantuan atau perhatiannya dan tidak akan menunggu sampai anaknya mengamuk atau menangis. Misalnya kebutuhan untuk didekap, untuk ditemani, dan untuk ditenangkan di kala ia merasa takut.

POLA ASUH YANG TEPAT

Pada prinsipnya untuk ketiga tipe anak yang telah disebutkan di atas, pola pengasuhan yang tepat adalah authoritative (demokratis). Yang dimaksud dengan pengasuhan authoritative adalah pola pengasuhan di mana orang tua mendorong anak untuk menjadi mandiri, tetapi tetap memberikan batasan-batasan (aturan) serta mengontrol perilaku anak. Orang tua bersikap hangat, mengasuh dengan penuh kasih sayang serta penuh perhatian. Orang tua juga mem-berikan ruang kepada anak untuk membicarakan apa yang mereka inginkan atau harapkan dari orang tuanya.

Jadi, orang tua tidak secara sepihak memutuskan berdasarkan keinginannya sendiri. Sebaliknya, orang tua juga tidak begitu saja menyerah pada keinginan anak. Ada negosiasi antara orang tua dengan anak sehingga dapat dicapai kesepakatan bersama. Misalnya, bila anak batita memaksakan keinginannya untuk menggunting baju yang masih bisa dipakai. Orang tua dapat mengambil sikap dengan tetap tidak mengizinkannya menggunting baju yang masih terpakai, tetapi memberikan kain perca atau baju lain yang sudah tidak layak pakai. Oleh karena itu, dibutuhkan kepekaan, kesabaran, dan kreativitas orang tua.

Menurut Mayke, dalam pengasuhan authoritative tetap harus ditegakkan aturan main mengenai apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh anak. Bila anak balita tidak diberikan batasan ini, maka dia tidak tahu peraturan yang berlaku dan tidak memiliki rambu-rambu yang bisa membatasi perilakunya. Kontrol orang tua juga diperlukan, bila aturan telah ditetapkan, maka orang tua tetap harus memantau sejauh mana aturan itu bisa berjalan. Jangan sampai tanpa sepengetahuan orang tua, anak berhasil melanggar aturan main (misalnya karena dia diasuh oleh orang lain).

Dengan meningkatnya usia anak ke tahap sekolah dasar, maka peraturan tidak sepenuhnya ditetapkan oleh orang tua, melainkan dibicarakan bersama anak. Pemantauan (kontrol) tetap diperlukan, sekalipun tidak dalam jarak dekat seperti sebelumnya. Misalnya, orang tua selalu memantau dengan siapa anak bermain, apa saja kegiatan yang dia lakukan bersama dengan teman-temannya di luar rumah. Tentu saja semua itu bukan dengan maksud untuk memata-matai aktivitas mereka.

Utami Sri Rahayu. Foto: Ferdi/nakita

KONDISI YANG TAK DAPAT DIHINDARI

POLA pengasuhan authoritative memang yang paling ideal, tetapi mungkin adakalanya orang tua tak mampu menerapkan pola ini dengan sepenuhnya. Terutama pada saat emosi orang tua sedang tidak stabil. Saat mengalami kondisi emosi negatif, orang tua cenderung bersikap lebih otoriter terhadap anak. Atau, bisa jadi saat sedang merasa senang karena bisnisnya berhasil, orang tua cenderung bersikap agak permisif terhadap anaknya.

Kondisi ini, menurut Mayke, masih manusiawi karena memang emosi manusia cenderung naik turun. “Yang penting, sikap orang tua masih dalam situasi terkontrol, maksudnya segera menyadari dan kembali pada rambu-rambu yang telah ditetapkan,” tambahnya.

Namun, ada kemungkinan dalam kondisi tertentu orang tua memang harus bersikap tegas bila berhubungan dengan keselamatan jiwa anak atau orang lain. Misalnya ketika anak ingin bermain kabel yang dialiri listrik. Bila hal ini didiamkan, tentu dapat membahayakan jiwanya. Mau tidak mau orang tua harus bersikap otoriter. Katakan, tidak kepada si anak bahwa hal itu tidak boleh dilakukannya.

Selanjutnya, untuk tidak mematahkan semangat atau keinginan anak bereksplorasi, carikan alternatif. Misalnya, berikan kabel lain yang tidak berhubungan dengan listrik. Jangan lupa, berikan alasan kenapa bermain kabel yang tertancap ke stop kontak dilarang.

Pada saat anak sedang sakit pun, pola pengasuhan demokratis tidak dapat diterapkan sepenuhnya. Pertimbangan kesehatan anak menjadi yang utama. Untuk itu, orang tua hendaknya memperhatikan seberapa berat dampak yang bakal ditimbulkan bila tetap menerapkan pola pengasuhan seperti biasa.

Khusus untuk anak bertipe sulit dan slow to warm up, memang dibutuhkan ketahanan fisik, kesiiapan mental dan kedewasaan orang tua. Selama mengasuh anak-anak dengan temperamen yang cenderung menyulitkan itu. Berarti orang tua harus lebih keras dalam berupaya.

SYARAT POLA ASUH AUTHORITATIVE

INILAH beberapa hal yang patut mendapat perhatian dalam menerapkan pola asuh authoritative:

1. Utamakan kehangatan atau kasih sayang yang mendalam. Kehangatan menjadi sangat penting karena tanpa adanya hal itu penerapan pola asuh authoritative semakin tidak gampang, terutama pada anak-anak yang tergolong sulit dan slow to warm up. Kehangatan akan lebih menenangkan hati anak dengan kedua tipe temperamen ini sehingga kadar emosi negatifnya menurun. Wujud kehangatan pada anak usia batita dapat dilakukan melalui pelukan yang erat, sering mengajaknya bermain, bercerita, dan berbicara dengan lemah lembut.

2. Saat memberlakukan batasan, orang tua harus tegas dan tegar (konsisten), sehingga anak akhirnya belajar bahwa orang tuanya tidak main-main dengan aturan yang sudah ditetapkan.

3. Orang tua tidak boleh memaksakan kehendaknya. Ada rambu-rambu yang harus ditaati oleh orang tua dan anak. Selama masih menginjak usia batita, bila anak menolak rambu-rambu yang ditetapkan, maka ia jangan dipaksa mematuhinya. Cobalah cari alternatifnya dengan memakai penjelasan berbeda.

Namun anak-anak usia sekolah umumnya sudah dapat diajak berbicara atau berdiskusi tentang rambu-rambu ini, sehingga penerapannya menjadi lebih mudah. Hendaknya orang tua sudah mempersiapkan alasan-alasan yang dapat diterima anak, yaitu alasan yang tidak terlalu mengada-ada.

4. Dalam mengasuh dan membesarkan anak yang termasuk mudah, Mayke mengingatkan agar jangan sampai orang tua malah mengabaikannya. Hal ini umumnya sering terjadi pada orang tua yang memiliki anak-anak dengan dua tipe berbeda, misalnya yang satu termasuk tipe sulit dan yang lain mudah. Ayah atau ibu lantas lebih memperhatikan anak yang sulit dan selalu berusaha “memenangkannya”.

Tindakan ini, tidak hanya akan membahayakan anak dengan tipe mudah, tapi juga yang bertipe sulit. Anak tipe mudah akan mengalami frustrasi karena merasa selalu dikalahkan dan beralih menjadi anak yang bermasalah. Sedangkan, anak dengan tipe sulit juga menjadi anak yang tidak mampu mengelola rasa frustrasi atau rasa kecewanya kala tidak mendapatkan sesuatu karena selalu dilindungi.

Lingkungan Tidak Mendukung

JIKA LINGKUNGAN TIDAK MENDUKUNG

Pola asuh yang baik sulit berjalan efektif bila tidak didukung lingkungan. Namun, kelekatan anak-orang tua dapat meminimalkan pengaruh negatif lingkungan.

Pola asuh yang baik tak hanya datang dari orang tua. Lingkungan sekitar, seperti pengasuh, kakek-nenek, kerabat dekat, tetangga, dan juga sekolah, semua harus sejalan. Soalnya, seperti yang diutarakan Dra. Psi. Tisna Chandra, pola asuh yang berbeda satu sama lain akan membuat hasil yang dicapai tidak maksimal, bahkan bisa berantakan.

Beberapa faktor yang dapat membuat pola asuh tidak maksimal datang dari lingkungan yang sangat dekat dengan anak. Berikut yang djabarkan psikolog dari Spectrum Treatment and Education Center, Bintaro, Banten:

PENGASUH

Pengasuh sebetulnya bisa menjadi “kepanjangan tangan” orang tua yang cukup efektif, tetapi karena misi orang tua dan pengasuh pada dasarnya berbeda yang terjadi justru bisa sebaliknya. Misi orang tua dalam mengasuh adalah mengoptimalkan tumbuh kembang anak, sedangkan pengasuh bisa saja bekerja semata-mata untuk mendapatkan gaji.

Pola asuh menjadi terganggu jika pengasuh menunjukkan
sikap:

* Inkonsistensi

Sikap tidak konsisten terjadi kala pengasuh melakukan penyimpangan terhadap aturan atau disiplin yang sudah diterapkan orang tua. Misalnya, orang tua melarang anak keseringan nonton teve tetapi pengasuh membiarkan hal itu terjadi karena ia sendiri gemar nonton teve. Akhirnya anak ikut-ikutan menyaksikan berbagai tayangan teve dan lupa beristirahat. Ketidakkonsistenan ini akan membuat anak berpikir, kenapa orang tua melarangnya menonton teve sedangkan pengasuh membolehkannya.

Anak pun bisa beranggapan orang tuanya tidak adil karena ia merasa pengasuhnya diizinkan menonton sedangkan dia tidak. “Di usia ini, pola pikir anak cenderung memilih mana yang lebih enak untuknya. Bila nonton teve sepanjang hari merupakan hal yang menyenangkan maka anak akan memilih hal itu meski pada dasarnya dia tahu kalau hal itu dilarang oleh orang tuanya,” kata Tisna. Bila dibiarkan, lama-lama anak ketagihan sampai akhirnya hal itu menjadi kebiasaan yang sulit dihilangkan.

Begitu juga dengan aturan lain. Umpamanya, anak harus makan di meja makan, cuci tangan sebelum makan, atau tidak jajan sembarangan. Ketika pengasuh kerap menunjukkan ketidakkonsistenan maka anak cenderung tidak mematuhi pola asuh orang tua yang seharusnya diterapkan.

* Otoritas Kurang

Ada anak yang merasa dirinya lebih berkuasa di rumah dibandingkan orang lain, termasuk pengasuhnya. Bila ia menyadari bahwa pengasuh hanya orang suruhan, tak mustahil dia akan membangkang terhadapnya. Malah, bisa-bisa anak merasa bahwa dialah “tuan atau nona” yang berhak memberi perintah. Contoh bisa datang dari orang tua yang sering memperlakukan pengasuh jauh dari sikap santun. Hal inilah yang membuat anak ikut-ikut tidak menaruh hormat dan patuh pada pengasuhnya.

* Ketidaksiapan Pengasuh

Bila anak menghabiskan hampir seluruh waktunya dengan pengasuh, sangat mungkin pengasuh tersebut akan menjadi model panutannya. Perilaku pengasuhnya yang suka membentak, mencubit, atau berkata tidak senonoh akan ditiru.

Belum lagi bila pengasuh sering meminta anak melakukan sesuatu dengan disertai ancaman. “Awas, kalau tidak mau makan nanti ditangkap polisi!” Pola asuh seperti ini jelas tidak mendidik karena anak akan melakukan perintah semata-mata karena didorong rasa takut. Akibatnya anak berkembang menjadi orang yang penakut. Untuk itulah perlunya menyeleksi pengasuh. Mana yang bisa diarahkan, mana yang mengetahui perkembangan anak, dan mana yang punya tata krama yang baik.

* Beda Budaya

Beda budaya bisa mendatangkan ketidakefektifan pola asuh. Anak yang berasal dari keluarga yang berbudaya santun dengan tutur kata halus, tentu bisa terpengaruh dengan perilaku pengasuhnya yang berasal dari daerah yang gaya bicaranya blak-blakan dan ceplas-ceplos. Namun, hal ini bukan faktor utama hanya dalam kasus-kasus tertentu saja.

* Overprotektif

Ada pengasuh yang menerima aturan dari orang tua sebagaimana adanya. Bahkan sangat berhati-hati karena takut jika menyimpang akan disalahkan. Kalau sudah begitu, yang muncul bukan pola asuh yang efektif, tapi malah overprotektif karena membuat anak jadi terkekang.

KAKEK-NENEK

Kakek dan nenek bisa saja membuat pola asuh menjadi tidak efektif, misalnya:

* Inkonsistensi

Berbeda dari pengasuh, sikap inkonsitensi kakek-nenek biasanya disebabkan rasa sayang mereka yang besar terhadap cucu. “Ada kan orang tua yang punya aturan bahwa anak sebaiknya tidak akan diberi mainan berupa games elektronik, tapi ketika anak berulang tahun kakek neneknya malah memberikan mainan tersebut,” cerita Tisna. Bukan berarti perhatian besar yang diberikan kakek dan nenek tadi salah lo. Namun perilaku tersebut bisa membuat penerapan pola asuh menjadi terganggu.

Kasus lain yang hampir sama sebenarnya cukup banyak ditemukan. Misalnya, karena tidak mendapat apa yang diinginkan dari orang tuanya, anak mendatangi kakek atau neneknya. Ia tahu kakek dan nenek pasti akan menuruti kemauannya berdasarkan pengalaman yang lalu.

* Hukuman Tidak Efektif

Seringkali, hukuman yang diberikan oleh kakek nenek tidak cukup efektif sehingga membuat pola asuh terganggu. Ketika si kecil belum mengerjakan PR misalnya, orang tua menghukum dengan tidak memberikan izin nonton teve. Namun kakek nenek, malah memberikan keleluasaan kepada anak untuk melakukan kesenangannya hanya agar si cucu tidak kesal.

PAMAN, TANTE

Di satu sisi, hidup berdampingan dengan keluarga besar, seperti paman, tante, dan kerabat lain, bisa membuat anak lebih mengenal banyak karakter manusia. Namun di sisi lain, ada pula hal negatif yang dapat mempengaruhi pola asuh orang tua terhadap anaknya, misalnya:

* Tidak Disiplin

Ketidakdisiplinan terkadang datang dari kerabat lain, misalnya om atau tante yang sering mengajak pergi anak tanpa seizin orang tuanya. Padahal di saat bersamaan anak harus melakukan kewajiban belajar, misalnya. Selain membuat kedisiplinan terganggu, “intervensi” om dan tante akan memberikan pemahaman kepada anak bahwa segala sesuatu bisa dilakukan sendiri tanpa harus minta izin orang tuanya. Tentu hal ini akan merusak tatanan pola asuh yang semestinya terpantau oleh orang tua.

* Inkonsistensi

Ketidakdisiplinan berhubungan erat dengan inkonsistensi pola asuh. Bila om atau tante sering membiarkan keponakannya melanggar aturan yang telah disepakati bersama kedua orang tuanya, kemungkinan anak pun akan melakukan hal lain yang sebenarnya tidak boleh dilakukan. “Enggak apa-apa minum es, Mama enggak tahu ini,” misalnya. Padahal, larangan minum es diberlakukan karena bisa memunculkan alerginya. Kemungkinan lain, anak akan tidak sepatuh sebelumnya terhadap berbagai aturan yang diterapkan padanya.

* Contoh Negatif

Hidup serumah bersama dengan kerabat lain terkadang memudahkan anak mendapat berbagai contoh perilaku. Nah, bila yang dicontoh adalah perilaku negatif, tentu jadinya merepotkan. Misalnya kalau ada sepupu yang suka berkata kasar, tak mustahil anak mengikutinya. Demikian pula dengan om atau tante yang kerap melontarkan kata-kata tidak senonoh. Meski mereka sekadar bercanda, tetap saja akan mengganggu pola asuh yang sudah dirintis oleh orang tua.

LINGKUNGAN RUMAH

Dari lingkungan sekitar rumah seperti tetangga, anak pun bisa mendapatkan pengalaman negatif yang sedikit banyak akan mempengaruhi keberlangsungan pola asuh orang tua terhadapnya.

* Membandingkan

Ketika anak menemukan perbedaan pola asuh, anak akan membandingkan, “Kok, temanku boleh minum es sedangkan aku tidak?” Bisa saja anak terpengaruh lalu protes kepada orang tua.

* Inkonsistensi

Jika anak mendapati toleransi yang berbeda di rumah temannya dari apa yang ditemuinya di rumah sendiri, tak mustahil ia akan kerap melanggar. Ia tahu bahwa ada keleluasaan lebih di rumah tetangganya, jadi mengapa di rumah ia tidak bisa seperti itu?

* Ikut-ikutan Berbohong

Banyak kan anak yang semula sangat santun dan jujur jadi sering berbohong, mencerca, berkata kasar, dan sebagainya karena mencontoh perilaku negatif teman. Betapapun baiknya pola asuh yang dilakukan, jika anak sering mendapat contoh yang tidak baik tentu akan membuat pola asuh menjadi kurang efektif.

LINGKUNGAN SEKOLAH

Sekolah umumnya tidak terlalu berpengaruh, tapi bisa jadi pola asuh menjadi berantakan karena faktor:

* Beda Peraturan

Sebaiknya rumah mengacu pada pola asuh yang diterapkan di sekolah karena umumnya sekolah mengajarkan kebaikan pada anak. Misalnya, guru di sekolah bilang bahwa anak tidak boleh berbicara selagi mengunyah makanan. Nah, kalau orang tua di rumah malah makan sambil berbicara, anak bisa bingung. “Di sekolah kok dilarang tapi mama dan papa melakukan,” contoh Tisna. Hal inilah yang membuat pola asuh menjadi tidak efektif.

* Pengaruh Teman Sekolah

Di sekolah, anak juga mengenal beragam perilaku negatif lain yang umumnya datang dari kalangan teman. Ketika anak melihat temannya suka menyontek, mencuri, usil, berbohong, dan sebagainya, tak mustahil anak akan meniru. Apalagi, pengaruh peer group di usia sekolah dasar mulai sangat kuat. Sehingga terkadang aturan-aturan orang tua bisa hilang begitu saja.

Kesimpulannya, memang sulit membentengi anak dari pengaruh lingkungan yang tidak mendukung pola asuh orang tua. Apa boleh buat, anak memang tidak mungkin dijaga agar selalu steril karena ia tetap butuh berinteraksi dengan lingkungannya. Lagi pula tak ada lingkungan yang bisa secara murni mendukung pola asuh orang tua.

Oleh karena itu, satu hal yang dapat kita lakukan agar anak dapat berkembang sesuai harapan orang tua yaitu menjaga kedekatan dengan anak. Lakukan dengan komunikasi yang tepat agar pola asuh yang kita terapkan mendapat tempat di hatinya. Kedekatan akan mendorong anak untuk lebih mengutamakan harapan orang tua dan memperbaiki perilakunya jika bertentangan dengan nilai-nilai yang diajarkan ayah dan ibunya.

Irfan Hasuki. Ilustrator: Pugoeh

sumber : NAKITA